AlfaOmega
November 05, 2003, 17:24
Kata temen guwe yang disana.
Assalamu alaikum wr wb
Sedih saya mendengar berita ini, apalagi daerah ini (Bukit Lawang/ Bahorok) dekat kampung halaman saya. Semoga ini bukan hukuman dari Allah. Sebab saya tahu persis daerah ini penuh dengan kema'siyatan. Di satu tempat di daerah ini pada sabtu malam biasanya para bule nudis + turis lokal berpesta hingga ahad pagi. Saya dapat info dari teman-teman yang turun membantu, sudah 72 orang yang ditemukan tewas. Semua rumah hancur, hanya ada satu bangunan masjid (satu-satunya masjid di daerah Bukit Lawang/ Bahorok) yang masih utuh, dan sekarang dijadikan tempat berteduh mereka yang selamat dari musibah banjir ini.
Wassalam,
Gion Franklin
November 06, 2003, 04:03
Kemarahan Allah?? Wallahualam deh...
Tapi Subhanallah ada mesjid yang survive...
Channie
November 08, 2003, 14:18
turut berduka cita :nangis:
AlfaOmega
November 17, 2003, 11:09
Waspada, 16 Nov 03 02:33 WIB
Kampung Neraka Dan Kampung Thailand Yang Lenyap Di Bohorok
Bencana di Bohorok telah menelan banyak korban. Melenyapkan keindahan Bukit Lawang dan segalanya. Berjuta kepala tertunduk haru atas tragedi memilukan itu. Soal penebangan liar dan bencana alam masih terus diperdebatkan. Sebelumnya, keberadaan 'Kampung Neraka' dan 'Kampung Thailand' yang telah lenyap itu juga dinilai sebagai penyebab kemurkaan alam.
Berwisata ke Bukit Lawang, Bohorok, Kabupaten Langkat cukup mengesankan. Udaranya yang nyaman adalah hentangan alam perawan. Pohon rindang kukuh di pinggiran aliran Sungai Wampu yang bening membuat daerah wisata ini masih tampak perkasa. Gemercik air dan suara unggas yang saling sahut menegas pesona sekaligus tantangan.
Betapa tidak. Untuk menikmati keindahan Bukit Lawang memang penuh tantangan. Untuk melihat rehabilitasi orang hutan saja, harus menempuh jarak lumayan jauh dengan jalan yang mendaki. Objek rehabilitasi orang hutan ini setiap hari boleh dimasuki dua kali, yaitu pagi dan sore, saat pemberian makan. Konon, alam perawan dan tantangan inilah yang memang disukai para turis manca negara.
Toh, gambaran tadi hanya milik masa lalu. Kini Bukit Lawang menjadi lubang luka yang teramat dalam bagi bangsa ini. Di sini tragedi memilukan telah singgah. Meninggalkan banyak korban dan kengiluan hati. Seiring dengan itu, beragam pendapatpun berseliweran . Namun yang pasti, sebelum petaka menghampiri dan ratusan keluarga meneguk duka, objek wisata ini pernah bergerak dan berubah seiring perjalanan waktu.
Bersama waktu Bukit Lawang bertambah meriah. Turis asing dan lokal senantiasa berdatangan. Hotel, wisma, di pinggir sungai dan di lokasi alam mulai tegak menyambut ramai.
Banyak turis asing menyukai alam Bukit Lawang. Kadangkala turis asing sampai sampai satu bulan berada di Bukit Lawang. Mereka menyelusuri liku-liku daerah Bukit Lawang yang masih ditumbuhi pohon kayu yang besar. Di sana banyak pula tumbuhan aneh, sehingga banyak turis melakukan riset. Kemeriahaan objek wisata di Bukit Lawang yang terus bertambah, sampai ada lokasi yang dinamakan Kampung Neraka dan Kampung Thailand.
" Sebuah kehidupan yang penuh warna akhirnya tak bisa ditampik. Secara perlahan membangun budaya yang baru bersama komunitasnya. Ditambah, tak hanya setiap jengkal tanah berharga, tapi tiap batang pohon memberi janji dan mimpi. Bahorok dan sekitarnya berkembang," terang seorang tokoh budaya di Kabupaten Langkat memberi ilustrasi soal perubahan yang kompleks itu.
Di tengah keceriaan para turis, di tengah keseriuasan para ilmuan meriset, di saat itu pula beragam lapisan masyarakat memiliki banyak tuntutan. Kebutuhan ekonomi adalah salah satunya. Maka, lokasi wisata yang alami inipun akhirnya "berubah paras". Di hulunya orang-orang menebang pohon tanpa takut ditangkap, menghanyutkan batang kayu itu seenaknya di sungai Wampu. Dan di dua tempat, perobahan ikut menghampiri.
Aktivitas yang "membutuhi" para turis dan pelancong tampaknya harus dipenuhi. Kampung Neraka dan sebuah Kampung Thailand hadir dengan sendirinya.
Dari mana asal muasal nama itu, dan kenapa dinamakan Kampung Neraka, dan Kampung Thailand ? Tidak seorangpun yang bisa memberikan jawaban secara pasti . Toh, sebagai sebuah kenyataan, kehadiran ( nama kampung ) ini merupakan sebuah proses dari waktu. Sebab nama hanya istilah. Dam sebuah kegiatan di kampung memang merupakan peristiwa yang mau tak mau melahirkan opini atau sikap.
Syahdan, nama Kampung Neraka dan Kampung Thailand di masyarakat Bukit Lawang, menjadi sesuatu yang tidak asing, menjadi sesuatu yang tanpa beban untuk terucapkan, walau awalnya ada " benturan" yang kemudian teredam demi sebuah hasrat: turis dan uang.
Drastis atau tidak perubahan "Kampung Nangka" menjadi" Kamung Neraka" merupakan kenyataan. Orang-orang yang pernah di Kampung Neraka yang tahu bagaimana proses dan akhir dari perubahan itu. Yang pasti, kampung ini telah lenyap di sapu banjir bandang. Salah seorang penduduk yang mengaku pernah tinggal di kampung itu, ketika ditanyakan SMW tentang lenyapnya kampung tersebut, hanya menjawab sambil tersenyum," Saya tak berduka. Karena saya sudah lama meninggalkan kampung itu. saya melihat isyarat yang membahayakan. Dan inilah buktinya. Bencana," tutur sumber ini.
Kampung Neraka terletak di bagian belakang goa. Setiap yang ingin ke Kampung Neraka harus melewati goa ini. Goa ini dulu merupakan sarana lintas menuju objek rehabilitasi orang hutan. Namun beberapa oknum "menyulap" gua itu atas nama "seni". Dengan mepersetankan makna kesejarahan, goa tadi disentuh dengan berbagai seni . Maka yang terjadi ? Di goa ini kita bisa melihat perempuan-perempuan berpakaian seenaknya(setengah telanjang) sambil mencari lelaki hidung belang. Melenggok mengikuti irama disko. Ingat. di goa yang dulu dinilai angker ini sudah ada diskotik dan cafe. Bila transaksi cocok dengan lelaki (asing atau lokal), mereka ke luar Goa untuk melampiaskan syahwat di berbagai penginapan yang ada di kampung itu.
Bagaimana pula kemunculan Kampung Thailand? Di kampung ini memang tidak ada penduduk Thai tinggal. Kemunculan orang Thai hanya sebagai turis.Tak jelas mengapa turis Thailand sering ke mari . Yang pasti, menurut sumber SMW , di tahun 80-an ada beberapa turis perempuan asal Thailand bertamasya ke Bahorok. Dan, secara kebetulan beberapa perempuan itu melakukan transaksi seks di kampung itu untuk mendapat uang agar bisa kembali ke negaranya. Sejak itulah "prilaku" itu tersebar dari mulut ke mulut, termasuk ke negara Thailand sendiri.
" Perempuan Thai juga ada yang cari mangsa dan para hidung belang juga terkadang ada yang memang cari perempuan Thai" terang sumber ini.
Apakah di lokasi itu terdapat hiburan seperti di Thailand, menghadirkan penari-penari wanita yang bugil atau beratraksi ala hiburan Thailand ? Yang pasti, di Kampung Thailand hampir mirip dengan Kampung Neraka. Banyak wanita penghibur atau lebih dikenal sebagai PSK. Hal ini tidak dibantah. "Maklum saja, namanya tempat rekreasi, apalagi di hotel dan wisma, semua orang bebas menginap,orang asing datang dengan budayanya sembari membawa uang," ujar seorang penduduk.
Peristiwa banjir bandang yang menewaskan ratusan orang di Bukit Lawang Minggu (2/11) diantaranya enam turis asing, wisma dan hotel sebanyak 35 unit serta fasilitas lain, sebagai sebuah peringatan besar dari Yang Maha Kuasa. Yang tersisa memanglah tangis dan luka mendalam. Semantara perdebatan soal "penebangan liar" dan " bencana alam" terus bergema. Yang belum terpikirkan barangkali, bagaimana kita belajar jujur dari setiap bencana yang datang melanda. Memang pada dasarnya duka dan luka adalah bencana. Namun seringkali bencana kita percepat dan permudah datangnya, karena ulah kita . Karena kita tak peka melihat isyarat. Tak jujur melihat kebenaran.
* Jabir/Riswan R am