View Full Version : missing time







thing``
September 29, 2003, 08:47
coba2.. posting cerpen ::v::
--------------------------------------------------------------------------------
PROLOG
---------------------------------------------------------------------------------
Udara malam yang dingin merayap diantara sela-sela malam. Hujan masih enggan juga berhenti. Tetesan gerimis menjatuhkan diri ke tanah. Dua sosok muncul.

¡§Brrr..hujan lagi Dav, masakkan kita harus bekerja?¡¨ ƒ¼
Yang dipanggil Dave menoleh, lalu tersenyum simpul. ƒº ¡§Dengan kondisi kita¡K apakah hujan dan dingin berarti bagimu?¡¨
Skak mat!! :sst: Wajahnya yang putih pucat cemberut. [sigh] ƒ¼ Kalah lagi, pikirnya. ::malu::

Nel berjalan mendekati Dave yang bergerak cepat. ¡§Dav, berapa detik lagi?¡¨ Nel berupaya menjejeri langkah kaki Dave yang lebar. Dengan tubuh jangkungnya yang lebih tinggi 10 centi dari Nel, Dave tampak lebih kokoh dan dewasa. Dave hanya mengangkat jari tangannya dan membentuk suatu angka sambil terus berjalan.

Tiba-tiba Dave berhenti. Dia memandang di kejauhan seberang jalan.
Nel melihat di kejauhan ada kecelakaan. :shock: Seorang pria berlutut menopang tubuh seorang gadis yang bersimbah darah. Roknya yang putih cream kini berwarna merah kontras dipenuhi darah yang mengalir dari batok kepalanya. Pria itu terus meraung menjerit-jerit. ::cry:: Tak kuasa menghadapi ini semua? [???]

Di samping mereka truk supir berdiri gemetaran. Penuh ketakutan dan dosa. Semuanya tampak dari wajahnya yang pucat pasi dan dahinya yang penuh keringat dingin meski udara malam begitu dingin. :maaf:

***

¡§Laa..bangunn¡K¡¨ dielus-elusnya tangannya yang kotor ke pipi yang merah itu. Tapi si cewek tidak juga bangun. ¡§Laaa.. lihat aku¡K¡¨, butiran air matanya menetes, mengalir¡K siapa yang peduli di keheningan. :sedih:

***

¡§Empat, ¡K tiga¡K duaa¡K work time!!¡¨ :321 Dave melangkah mendekati TKP. Tapi langkahnya terhenti. ¡§Bro¡K¡¨ suara Nel terdengar memelas, tangannya mencekat lengan Dave.

¡§Nel??¡¨ Dave memandang heran. [???] Nel tak menjawab. Mata coklatnya menatap manik mata Dave mencari pengertian darinya. :sedih: Keduanya terdiam.
¡§My wish¡K¡¨ rintih Nel.
Mata Dave melebar menatap. :eek: ¡§Hngg¡K¡¨ Dave mendesah. Matanya kembali sayup. Lalu Dave kembali berbalik.
¡§Dia pasti tidak ingat¡¨ suara Nel menguat. Dave menghentikan langkahnya. Mengambil posisi tiga perempat menghadap Nel, ¡§Bro, ¡K okeh!! Sampai dia mengetahuinya.¡¨ [sigh] Dave tersenyum simpul. ¡§Common!! Kita harus cepat sebelum mereka.¡¨ ƒº
----------------------------------------------------------------------------------

Ma®™
September 29, 2003, 08:53
kQ ada tulisan2 aneh? Jadi ga ngerti bacanya :haha

thing``
September 29, 2003, 08:59
::v:: maaf yaa.. krn dipaste dari word jadinya gini ::cry::
kenapa begini.. [???] .. ngulank dech..

thing``
September 29, 2003, 09:01
test kirim lagi ahh :p
---------------------------------------------------------------------------------
PROLOG

---------------------------------------------------------------------------------
Udara malam yang dingin merayap diantara sela-sela malam. Hujan masih enggan juga berhenti. Tetesan gerimis menjatuhkan diri ke tanah. Dua sosok muncul.

“Brrr..hujan lagi Dav, masakkan kita harus bekerja?”
Yang dipanggil Dave menoleh, lalu tersenyum simpul. “Dengan kondisi kita… apakah hujan dan dingin berarti bagimu?”
Skak mat!! :sst: Wajahnya yang putih pucat cemberut. [sigh] Kalah lagi, pikirnya. ::malu::

Nel berjalan mendekati Dave yang bergerak cepat. “Dav, berapa detik lagi?” Nel berupaya menjejeri langkah kaki Dave yang lebar. Dengan tubuh jangkungnya yang lebih tinggi 10 centi dari Nel, Dave tampak lebih kokoh dan dewasa. Dave hanya mengangkat jari tangannya dan membentuk suatu angka sambil terus berjalan.

Tiba-tiba Dave berhenti. Dia memandang di kejauhan seberang jalan.
Nel melihat di kejauhan ada kecelakaan. :shock: Seorang pria berlutut menopang tubuh seorang gadis yang bersimbah darah. Roknya yang putih cream kini berwarna merah kontras dipenuhi darah yang mengalir dari batok kepalanya. Pria itu terus meraung menjerit-jerit. ::cry:: Tak kuasa menghadapi ini semua? [???]

Di samping mereka truk supir berdiri gemetaran. Penuh ketakutan dan dosa. Semuanya tampak dari wajahnya yang pucat pasi dan dahinya yang penuh keringat dingin meski udara malam begitu dingin. :maaf:

***

“Laa..bangunn…” dielus-elusnya tangannya yang kotor ke pipi yang merah itu. Tapi si cewek tidak juga bangun. “Laaa.. lihat aku…”, butiran air matanya menetes, mengalir… siapa yang peduli di keheningan. :sedih:

***

“Empat, … tiga… duaa… work time!!” :321 Dave melangkah mendekati TKP. Tapi langkahnya terhenti. “Bro…” suara Nel terdengar memelas, tangannya mencekat lengan Dave.

“Nel??” Dave memandang heran. [???] Nel tak menjawab. Mata coklatnya menatap manik mata Dave mencari pengertian darinya. :sedih: Keduanya terdiam.
“My wish…” rintih Nel.
Mata Dave melebar menatap. :eek: “Hngg…” Dave mendesah. Matanya kembali sayup. Lalu Dave kembali berbalik.
“Dia pasti tidak ingat” suara Nel menguat. Dave menghentikan langkahnya. Mengambil posisi tiga perempat menghadap Nel, “Bro, … okeh!! Sampai dia mengetahuinya.” [sigh] Dave tersenyum simpul. “Common!! Kita harus cepat sebelum mereka.”
-----------------------------------------------------------------------------------

thing``
September 29, 2003, 09:02
nahh.. klo gini dah ngerti kan :cool:

delfira_daffa
September 29, 2003, 09:57
Yup yup... dah ngerti


He he.. tadi juga gw sempet binun gitu baca yang pertama... kirain lagi ngomongin soal2 matematika apa ya? :bingung: :haha

Chiller
September 29, 2003, 10:01
Lanjutan-nya mana :p

thing``
September 30, 2003, 01:43
Originally posted by delfira_daffa
Yup yup... dah ngerti


He he.. tadi juga gw sempet binun gitu baca yang pertama... kirain lagi ngomongin soal2 matematika apa ya? :bingung: :haha

:D yang namanya matematika itu membunuh. sebaiknya tidak dech :p

thing``
September 30, 2003, 02:11
----------------------------------------------------------------------------------
“Di.. sudah donk. Udah larut malam gini masih saja bekerja.” :( Leila berdiri membungkuk. Mendekati pacarnya yang asik bekerja. Pacar? Bukan! Cowok itu tunangannya. Mereka akan segera menikah. ::kawin:: Leila mencoba tersenyum. “Di.. ,” ujarnya lembut. “Sudah ya? Kamu dari tadi belum makan.” Leila mencoba membujuk. :) Tapi pria itu hanya diam. Terus dan terus bekerja. Sebentar-sebentar tangannya mengetik di atas keyboard. ::type:: Di saat lain matanya menelusuri laporan-laporan dan kelihatannya sama sekali tidak menghiraukan Leila.

Di atas meja kerjanya terpampang foto mesra mereka berdua. Leila mengenakan kaos kuning sambil merangkul leher Dimas. Keduanya tertawa bahagia. “”Di.. “ Leila duduk di hadapan Dimas. Dimas mendesah nafas panjang. [sigh] Dia melakukan pijat kecil-kecilan di antara tulang hidung dan matanya. Pijatan itu memberinya suatu kenyamanan. “Nah.. begini kan baik” Leila tersenyum puas. :) Dimas mulai menghentikan kesibukannya. Dimas mencoba mengambil posisi nyaman dengan menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi. Diraihnya foto berbingkai emas itu. Jari telunjuknya mengelus gambaran wanita dengan kaos kuning. Lama mata Dimas menatap wajah ayu gadis pujaannya. Pelan-pelan dia tersenyum. :) Mengenang yang lalu. Tapi matanya tidak gembira. Kesedihana yang mendalam terpancar dari sudut matanya. Senyumnya buyar. Wajahnya kian murung. :(

“Di.., jangan gitu donk” Leila merasakan kesedihan yang menusuk-nusuk. Mata sang kekasih mulai berkaca-kaca. :nangis: “Di…” Leila benar-benar kebingungan. [???] Bingung apa yang harus dilakukannya agar tidak ada pantulan tangisan di mata pria yang dicintainya. “Di…” Leila makin mendekat. Menatap dengan cinta dan keperihan yang mendalam. ::love:: Tapi Dimas tidak menoleh. Tidak sedikitpun!

thing``
September 30, 2003, 02:11
“Tidakkah kau piker berbicara seorang diri dan tidak mendapatkan reaksi itu sangat membosankan? Hm??!!” Suara yang menjengkelkan itu muncul lagi.Ugh! Menyebalkan. :hmph: Leila membuang desahan nafas kesalnya. Sebelll..!!! Sebelll…!!! Bagaimana makhluk yang satu ini selalu berada di dekatnya 24 jam 3600 menit. Untung saja bukan 216.000 detik. Bisa-bisa Leila mati kuku. :hmmm:

“Bukan urusanmu!!” hardik Leila. :mad2: Meskipun sudah menunjukkan wajah bengis tapi kecantikannya tetap mempesona.

“Well Angel.. tidak baik untuk terlalu mempercayai seorang pria” Si pemilik suara menyentuh dagu Leila sambil tersenyum. ;) Manis. Bukan-bukan. ::malu2:: Leila cepat-cepat menggeleng membuang semua pikiran itu dan menepis tangannya.

“Minggir Leo. Tidak perlu kau untuk mencampuri semua urusanku.” Leila berbalik. Langkahnya terhenti dan dia berbalik sejenak memplototin Leo, “Dan jangan pernah kau lupakan satu hal, nama saya Leila. L-E-I-L-A! Bukan Angel. Dasar bego! Huh..!!” ::bwekk:: Leo menatap geli aksi Leila.

“Bye Dimas sayang. Istirahatlah.”
Dimas hanya diam tidak mendengarkannya. Leila mengangkat tangannya dan menyentuh lembut pipi Dimas. Tapi dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Tangannya tembus melewati pipi Dimas begitu saja. Wajah Leila menjadi murung. Sedih. :( Dengan lemah dia berbalik berjalan setapak demi setapak hingga hilang menembus dinding tembok.
------------------------------------------------------------------------------------

thing``
September 30, 2003, 02:15
hizk ::cry:: belom juga mahir make smiliesnya ::malu2::

delfira_daffa
September 30, 2003, 02:21
Yup Yup gpp...

Sambil mosting mbil tyuss blajar make smilies.. ntar juga kebiasa ::banana::


lanjut njut.... :hehe

shella
September 30, 2003, 02:24
akhirnya think bikin cerpen juga ::v::

gue masukin ke index dulu ahhh :D

thing``
September 30, 2003, 02:32
Originally posted by delfira_daffa
Yup Yup gpp...

Sambil mosting mbil tyuss blajar make smilies.. ntar juga kebiasa ::banana::


lanjut njut.... :hehe

:D ::malu2:: ok ok [thanks] :) oh ya gimana make quote ganda dalam satu post reply ya?? [???]

dari kemaren asik mikir [ale]

thing``
September 30, 2003, 02:35
Originally posted by shella
akhirnya think bikin cerpen juga ::v::

gue masukin ke index dulu ahhh :D

:o ooo ooo.... ::malu2:: kabur akh :kabur:

delfira_daffa
September 30, 2003, 03:12
Originally posted by thing``
:D ::malu2:: ok ok [thanks] :) oh ya gimana make quote ganda dalam satu post reply ya?? [???]

dari kemaren asik mikir [ale]



kalo itu mungkin si modi bisa kasi penjelasan :hehe

[nunjuk] shella

thing``
September 30, 2003, 04:06
lohh.. modi tu shella? [???] big sis...? hehehe :D okay okay... ::v::

shella
September 30, 2003, 04:30
Originally posted by thing``
:D ::malu2:: ok ok [thanks] :) oh ya gimana make quote ganda dalam satu post reply ya?? [???]

dari kemaren asik mikir [ale]

tanya ma delfi aja thing, dia kan pakarnya nge-quote postingan orang *nyindir* :kakaka:

delfira_daffa
September 30, 2003, 05:13
Ya kan gw belajar dari elo juga sih shell ::bwekk::



Itu tuh, diujung kanan ada tulisan quote en kotak putih, nah klik aja postingan mana yg mo di reply abis itu klik balas nah.. silahklan quote deh :)








ngerti gaQ lo? :hmmm: :haha

thing``
September 30, 2003, 07:35
Originally posted by shella
tanya ma delfi aja thing, dia kan pakarnya nge-quote postingan orang *nyindir* :kakaka:

hohoho :D kenak dech... hihiih ::v::

Originally posted by delfira_daffa
Ya kan gw belajar dari elo juga sih shell ::bwekk::



Itu tuh, diujung kanan ada tulisan quote en kotak putih, nah klik aja postingan mana yg mo di reply abis itu klik balas nah.. silahklan quote deh :)








ngerti gaQ lo? :hmmm: :haha

ini test... ::wow:: sepertinya ngerti hahaha :cool:

thing``
September 30, 2003, 07:47
----------------------------------------------------------------------------
Begitu melihat Leila kabur, mata Leo berubah. Keceriaan itu menghilang. Lenyap entah kemana. Dia melirik sinis ke arah Dimas. :marah: Jerk. Kamu pria brengsek . Yang ditatap cuman diam sambil asyik meneruskan kegiatannya. Tidak terganggu sama sekali. Menyadari itu Leo hanya bisa menghembus nafas kesal [sigh]. Dan menghilang bagaikan asap.

***

“Maniz, merasa agak baikan?”
“Mm m..” Leila menggerak-gerakkan kepalanya sedikit. Mata Leila masih sembab. Habis menangis ::cry:: uda banjir kalik. Tapi Leila sungguh-sungguh merasa lebih tenang setelah menceritakan semuanya pada Dave. Bagi Leila saat ini hanya Dave yang mengerti dirinya. Tempat dia dapat mencurahkan segala kekesalannya, keperihannya dan amarahnya pada Leo. ::bahagia:

Leila merasa hanyut dibelai lembut oleh Dave.
“Maniz.. tidakkah kau mengingat sesuatu sebelum terjadi??”
Leila bangkit dari pangkuan Dave. Menatap ke dalam mata Dave dan menggeleng pelan. Leila diam. Tapi matanya menutut pemberitahuan. Kenapa pertanyaan itu berulang kali dipertanyakan padanya. [???]

“Saya akan membantumu mengingatnya kembali. Mau?”
Leila tidak bersuara. Hanya anggukan kecil yang menjawab.
“Tidak sakit Leila…. Sedikit sajaa.. tenangkan dirimu…” tangan Dave memegang kiri kanan sisi pipi Leila. Dave tersenyum :)
“Sekarang… tutupkan matamu…” Leila menurut. Matanya dipejamkan. Cukup rapat. Hati Leila berdebar-debar menantikan kejadian selanjutnya.

“STOPPPpp..!!!”

Oh.. Goshh..!!! suara menyebalkan itu lagi , pikir Leila. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Ugh!! ::hmph::

Leo mendadak muncul. Dave segera menurunkan tangannya. Situasi menjadi tegang. Udara sekitar menjadi panas membara. Leo datang dengan penuh amarah. Entah apa yang terjadi dengannya. Salah makan obat kalik :D

Dave dan Leo saling menatap. Rahang Leo dikatupnya rapat-rapat. Baru kali ini Leila melihat Leo sebegini marah. Ada ketakutan yang dirasakan Leila.

“Pergilah maniz. Tinggalkan kami berdua. Ada yang perlu kami bicarakan”
Meski hatinya menolak untuk pergi. Tapi Leila menurut saja. Dalam benaknya dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

-----------------------------------------------------------------------------------

delfira_daffa
September 30, 2003, 09:31
Yup. Akhirnya ngerti juga yakk sis :D

thing``
October 01, 2003, 04:31
--------------------------------------------------------------------------------
“Kenapa kau lakukan itu?”
“Seharusnya saya tidak perlu lagi menjelaskannya. Kita berdua sama-sama tau. Kita kehabisan waktu.”
Keduanya bersitegang. Mempertahankan pendapat mereka masing-masing. Mata keduanya berapi-api. Menatap penuh emosi.

Akhirnya Leo sadar kesalahannya.
“Sori bro. Gue cuman ga pengen dia merasakan sakit karena dipaksa mengetahui.”
Dave menggeleng.
“Tidak. Kau tak bersalah.”
Dia menepuk pelan bahu Leo.
“Pilihanmu cuma dua. Membawanya sekarang atau membuatnya tahu. “
Leo hanya diam membisu mendengarkan semua celoteh Dave.
“Dari awal kau sudah memilih untuk membuatnya tahu. Lalu apa bedanya dia kupaksa tau dengan tahu sendiri. Toh pada akhirnya dia harus tahu juga.”
Leo mendesah. Dia merasa lemas. Apa yang Dave katakan itu ada benarnya.
“Bro.. berilah dia sedikit waktu untuk mengetahuinya sendiri. Dengan memakai kekuatan hanya akan menyiksanya”
Leo mengatakan dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dave merasakannya. Dave merasa serba salah. Dia terjepit dengan tugas dan permintaan sahabatnya.
Cukup lama Dave berpikir. Lalu dengan memaksakan senyum di atas wajah murungnya dia berkata,”Baiklah bro, sedikit lagi sebelum mereka menemukan kita. Kau tau akibatnya jika kita tertangkap.” Dave berlalu meninggalkan Leo.
Leo tak menjawab.
Tapi jelas dia tahu apa yang akan terjadi.
Roh mereka akan dimusnahkan.

***

Leila sedang menatap seorang wanita tua yang berbaring di kamar rumah sakit. Wanita itu sedang terlelap dalam sakitnya. Keriput-keriput wajahnya menghias. Rona wajahnya pucat kehitaman seperti menderita sakit yang cukup parah. Leila menatap dari balik kaca. Ada kasih, ada kesedihan dan keperihan di matanya.
“Stss…jangan keras-keras Dave. Mama akan terbangun.” Leila sama sekali tidak menoleh ke arah datangnya Dave.
Dave diam tidak menjawab, tapi langkahnya pelan-pelan mendekati Leila. Mata Leila masih asik menatap ketika Dave berkata pelan, setengah berbisik ,”Beliau tidak akan terganggu maniz. Sebagai hantu harusnya kau tau itu.”
Leila menatap Dave dengan pasrah. Lama Leila menatap. Lalu dia menoleh, berpaling melihat ibundanya.
“Aku hanya tak terbiasa,” bisiknya lirih.
Dave melihat wanita tua yang berbaring di depan matanya.
Wanita malang.

“Kau tau Dave, … banyak hal yang ga pernah kita pikirin, ga pernah kita pedulikan sampai saatnya kita tidak dapat lagi melakukan.. dan kita menyesali semuanya.” Tatapan Leila penuh penyesalan. Sadar bahwa dia belum sempat berbuat sesuatu untuk membahagiakan ibunya. Semakin dewasa dirinya hanya semakin membawa pertengkaran dalam keluarganya. Leila mengingat jelas bagaimana pertengkaran terhebat antara dia dan keluarganya. Bagaimana papanya menentang keras hubungannya dengan Dimas. Tak urung adu mulut terjadi. Dan hanya tangis ibunyalah yang menghentikan pertengkaran itu sehingga tidak lebih buruk lagi. Walau pada akhirnya dia mendapat restu dia merasa berat. Dan sekarang,.. Leila malah membuat ibunya jatuh sakit.

“Mama is the best..” Leila mengucapkannya dengan suara nyaris putus. Parau dengan isakan tangisnya yang hampir meledak.
“.. terbaik..”.

Leila membayangkan Papanya yang galak dengan tongkat tua untuk menyanggah badannya yang lumayan berat bertekak dengan dirinya. Kacamatanya yang besar menambah efek pada mata bundarnya sehingga terlihat lebih seram.

Adiknya yang baru saja duduk di kelas satu SMU membutuhkan banyak biaya sekolah dan Leila adalah satu-satunya harapan mereka ketika ayahnya harus pensiun.

“Kenapa saya harus mati Dave?” Leila menolehkan wajahnya menatap dalam-dalam mata Dave. Mencari jawaban atas ketidakpuasannya. Usianya masih muda. Baru 27 tahun. Punya calon suami yang penyayang dan karir yang menjanjikan sebagai seorang suster rumah sakit popular di kotanya. Dan harus mati dengan cara tidak nyaman begitu??

“Saya tidak tau kenapa kau harus mati.” Dave meremas bahu Leila pelan.
“Tapi kau tau bagaimana kau mati.”

Leila terpana.
“Aku??”
“TApi aku ti…” Leila mengajukan protes keras.
“Tidak tahu…” jawab Leila akhirnya. Penuh dengan nada putus asa atas kematiannya sendiri.

Dave menggeleng pelan. Dia menggigit bibir bawahnya sedikit. Leonel tidak akan suka ini , pikirnya.
“Kau tau.” Jawabnya singkat.
Leila terbengong. aku??? Bagaimana bisa??? Yang kuingat hanya terakhir aku ke tempat Dimas,… lalu.. lalu aku …. Berlari???
Leila menatap Dave. Tatapan matanya penuh kebinggungan. Pasrah. Dia tak mampu mengingat. Lama keduanya diam membisu. Keheningan tercipta.
Leila memutar otaknya.

apa yang terjadi kemudian?? Apa???? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?? Aku…

Dave menanti.

Bibir bawah Leila terbuka sedikit. Secara perlahan dia gerakkan ,”Lalu aku telah menjadi hantu?” tanyanya tak percaya.

Dave tersenyum kecut.
well, Nel. Kau benar sepenuhnya dia tidak ingat sama sekali. Jika kau melarangku dengan cara memakai kekuatan, maaf bro… mungkin saya harus memaksanya mengingat dengan cara lain atas permintaanmu agar dia jangan mati penasaran. Dave mendesah. Menggeleng dua kali.

“Mari.. kubawa ke suatu tempat”

Leila menyambut uluran tangan Dave. Dave menuntunya ke suatu tempat.

Hati Leila berdebar. Apa sebenarnya telah terjadi. Tiba-tiba saja dia tertabrak dan meninggal. Tapi kejadian sebelumnya??? Mengapa dia berlari?? Dari apa??
Leila merasakan ketakutan ketika dia berlari. Bayangan-bayangan itu terus hadir, berputar dan menari di benaknya.

Apa yang akan ditunjukkan Dave?? Leila takut. Dia takut secara tiba-tiba. Dia merasakan sesuatu yang lain. Ada sensasi aneh menjalar di tubuhnya. Membuatnya sedikit bergetar.

thing``
October 01, 2003, 04:38
Originally posted by delfira_daffa
Yup. Akhirnya ngerti juga yakk sis :D

:hehe ya ngerti donk.. :) khan yang ngajarin ini dua [nunjuk] sheila en delfi :D

delfira_daffa
October 01, 2003, 08:28
Dave juga ya? :hehe

Ini Dave yang dicerita 1st love si MaR, bukan? :haha

thing``
October 01, 2003, 09:14
;D ga dunk... yg ini kan antu :p Mar bisa ngeleg2 klo baca.. ;)abis dech g dijitak [timpuk]

Chiller
October 01, 2003, 09:34
ceritanya belum selesai yah?

thing``
October 01, 2003, 09:51
[joget] lom sampe setengah ;D
maci mayan dech.. :haha

Chiller
October 01, 2003, 09:54
Yak, yg semangat ;)

thing``
October 01, 2003, 09:58
[thanks] chil chil.. lanjutan cerita elo mana?? *debar2* :hehe nungguin crime story neh ::v::

Chiller
October 01, 2003, 10:01
lanjutan cerita? cerita yg itu mah sudah selesai, sampai situ saja.
cerita berikutnya, tinggal tunggu waktu saja ;) soalnya sibuk banget nih ;D
plus, Chiller ikut lomba debat ;)
cerpen di sini saja belum semua bisa dibaca ;D ;D
makanya, sekarang lagi copy-paste ke word, di print, biar bisa baca dgn santai ;)

thing``
October 01, 2003, 10:08
wak.. :shock: singkat banget... padahal g masih penasaran gimana caranya dia membuat jebakan supaya dapat dialihkan pekerjaan pembunuhan itu ke org lain ::mikir::

loe ikutan debat apaan?? :hmmm:

Chiller
October 01, 2003, 10:16
:hehe disitulah dibutuhkan daya imaginasi dr sang pembaca ;)
the key is that three words. waktu lagi bikin cerita itu, Chiller tahu sih what that 3 words, tapi sekarang lupa ;D yah, pake imaginasi deh ;D

ikut debat WG ;D info lebih lanjut, di forum curhat kehidupan, sub-forum debat kehidupan ;)
Chiller tim A, tuh di signature-ku kan ada :p

thing``
October 02, 2003, 01:34
wholapss.... :haha berarti thing harus meras otak lage cari tau apa 3 kata itu ;D

thing``
October 02, 2003, 09:17
---------------------------------------------------------------------------------
Dave membawaku ke suatu ruangan. Besar. Lampu-lampunya bersinar terang. Di depan pintu ada beberapa pembaringan dari besi, mikroskop, tabung-tabung, sederetan pisau beraneka ragam dan wastafel. Di sisi kanan ada sederetan lemari box berjejer rapi dengan ukuran lebih kurang 75 x 60 cm. Ada aroma yang tidak sedap. Menusuk-nusuk hidung. Begitu kuatnya.

Leila meneguk ludahnya.Mendadak dia merasakan suatu ketakutan.
“Bawa aku pergi, Dave” rengeknya.
Dave tidak menjawab, sebaliknya dia malah masuk ke dalam. Menarik nafas yang sangat dalam.
“Mungkin bau ini sudah tidak mengganggu kamu lagi, maniz. Tapi jelasnya dulu kau tidak suka bau formalin ini kan?” Dave mengambangkan senyum kecil.

Tapi aku tidak dapat senyum lagi. Berkali-kali aku menelan ludah.melirik ke kanan kiri. Bola mataku berputar terus. Aku takut!

“Pulang Dave,” isakku. Hidungku terasa mulai sesak. Berat di ujungnya. Mataku mulai berkaca-kaca. Tubuhku mengigil secara mendadak. Ada apa dengan aku ini..??

“Maniz..” Dave menyentuh pelan pipiku.
“Kenapa harus takut? Bukankah kau telah terbiasa dengan ruangan ini?”
tidakk.. tidakkk!!
“Bawa aku pergi!” Kurasakan sekujur tubuhku melemas. Sesuatu.. sesuatu…membuatku merasa aneh, takut, bimbang dan cemas.

Ketika kuputuskan untuk berbalik dan keluar, Dave mencekalku.
“Ada apa di sana??”

Aku berpaling. Keringatku mulai muncul. Kutatap wajahnya yang dingin. Matanya seperti singa buas yang siap menerkamku. Kami saling menatap.

“Aku tak tau!!! Lepaskan…” Aku berontak. TApi tangan Dave terlalu kuat. Kurasakan lenganku yang memerah merasakan sakit.

“Kenapa harus pergi, hah??? ADa apa di sana?? Sesuatu atau seseorang???!!” Dave membentakku. Keras. Nyaring dan hampir memecahkan gendang telingaku. Aku terhenyak. Larii…Oh tidak,.. cekalannya begitu kuat.

jangan.. jangan paksa aku… air mata menetas dari mataku. Panas. Mengalir pelan menelusuri lekuk wajahku. Hidungku kembang kempis. Kutolehkan wajah memandangi sekeliling ruangan. aku merasa menemukan jawaban yang kucari. Sesuatu berputar di benakku. Sesuatu….


“Sus,… tolong catatkan bahwa bagian lehernya mengalami sedikit cedera. Batok kepala yang mendekati urat besar di tengkorak mengalami keretakan parah.”

“Sus.. kau dengar aku???”


Kepalaku pusink. Mual. Perutku terasa mulai. Badanku seolah-olah melayang-layang di udara. Otakku berhenti bekerja. Aku tak dapat berpikir dengan sehat lagi.


“Tinggi semampai,.. lebih kurang 165 cm, rambut hitam dicat kemerahan dengan bola mata coklat muda yang jernih..” suara dave mengiang..


”Sus.. kamu baik2 saja??”

Dokter HAndoko memegang dahiku. Aku tak menjawab. Peluh bercucuran. Dan dahiku penuh dengan keringat dingin. Tenggorakanku terasa kering kelontang. Mataku terasa panas nanar memandang sesosok tubuh yang berbaring telanjang di atas pembaringan. Aku merasa ingin muntah.

Tubuh itu putih mulus. Dengan sedikit gelembung di bagian perutnya. Matanya terbuka indah. Penuh ketidak-relaan.

Aku terhenyak.

”Sus.. perlu istirahatkah?? Maaf jika sampai merepotkan gini. Harusnya dokter Didi yang menemani. Tapi karena rapat, saya terpaksa harus menyeret sus.”

“Sus.. kau dengar aku???”

“Suss…”

Aku tak mendengar lagii.. suara-suara mengitari benakku. Sesak. Membuatku sulit bernafas. SEmuanya berputar. Berputar dengan cepat…tidak memberiku sedikit kesempatan untuk mengikuti alur…semuanyaa…


Tangan Dave bergerak pelan. Menyentuh jemariku. Menatapku meminta respon.
Aku hanya bisa diam. Diam tanpa bicara. Aku merasa pening. MEmbinggungkan. dinginnn..

Dave menyentuh perutku.

hak…!! Leila merasa seperti baru saja disambar petir. Tubuhnya bergetar hebat.. Dia terengah-rengah.. Mengalami kesulitan nafas.. Tiba-tiba dirasakan tubuhnya melemah. Hilang sudah semua tenaganya.Mendadak dia jatuh terkulai.
Dave buru-buru menangkapnya.
DAlam pangkuan dave, Leila menatapnya dengan wajah pucat pasi. Dahinya masih penuh dengan keringat dingin. Dia tampak lemas tak berdaya.
Setengah berbisik, berupaya menghimpun semua sisa kekuatan yang ada....

”Perempuan itu …
----------------------------------------------------------------------------------

Chiller
October 02, 2003, 11:16
:D cerpen berikut dr thing``.
judulnya apa ini? ;)
lanjut :)

thing``
October 03, 2003, 05:11
Leonel duduk termenung sendirian di bangku taman. Udara dingin membeku menyelimuti malam. Jangkrik-jangkrik malam mengoceh rebut. Tapi tak mengganggu Leonel. Dia masih terpaku dalam kesendiriannya.

Leonel tidak bergeming. Matanya menerawang menjelajahi masa kelam yang telah lama berlalu.

Ada seorang pemuda masih tergolong muda usia berbaring di atas ranjang pesakit. Tubuhnya kurus dan pucat lemah. Matanya bersinar redup penuh keputusasaan. Tidak ada lagi cahaya hidup di matanya. Yang tergambar di depan hanyalah jurang kematian yang menganga. Matanya menatap keluar jendela. Di sana mentari bersinar terang. Ada burung-burung yang berkicau. Biru lazuardi menghias indah alam. Semua itu tidak akan dinikmati lagi. Berapa lama waktu yang dia punya untuk memandang semuanya?
Sunyi senyap. Tidak ada jawaban.

Sebentar-bentar dia terbatuk. Dan dia benci untuk mengeluarkan sapu tangan dan menahan batuknya. Darah lagi. Ogh! Betapa bencinya dia melihat bercak merah di atas sapu tangannya. Mengapa harus menyiksa secara perlahan? Tidak ada seorang pun di sisinya menghibur. Semua terlalu sibuk dengan kerja masing-masing. Terlalu gila akan uang dan bisnis. Dia hampir tertidur ketika seorang suster masuk dengan mengetuk pelan di pintu depan.

“PAgi… bagaimana kabarmu hari ini?”
Suster itu tersenyum. Manis dan ramah.
Tapi dia tidak menjawab. Untuk apa?

“Saya akan menggantikan suster Maria sementara. Hmm… Leonel Wibisono. Umur 22 tahun.. sakit….” Dia tidak melanjutkan kata-katanya.. diam sambil menelusuri papan yang tergeletak di ujung ranjang kaki Leonel. Membacanya dengan hati-hati.

Leukimia! Umpet Leonel. Sakit yang diderita dan merenggut semua kebahagiaan yang dimiliki. Berapa kata dokter sisa waktunya?? Setengah tahun?? Atau 3 bulan?? Entahlah, .. dia sudah capek menghitung-hitung berapa sisa waktunya. Toh semuanya akan sia-sia.

Suster itu mendekat. Meraba kening dan pipinya. Lalu dengan manisnya dia duduk di samping Leonel. Mengenggam lembut jarinya ,”Kau akan baik-baik saja.”

Leonel menatap makhluk di depannya. Matanya indah. Jernih dan penuh kesungguhan. Tapi itu bohong!

Leonel memejamkan matanya.. dia marasakan hangat tangan suster itu. Menepuk perlahan punggung tangannya dan menyelimutinya dengan selimut.

Ah… sudah berapa lama tidak ada yg memperhatikannya sedemikian rupa? Bahkan di saat-saat menjelang kematiannya orang tuanya masih saja sibuk dengan kegiatan material mereka. Hanya telepon yang datang. Telepon dan telepon lagi. Wajah orangtuanya hanya muncul seminggu sekali. Itupun tidak lebih dari 10 menit. Sialan! Rasanya ingin berlari dengan kencang dan pergi jauh dari mereka semua.

Leonel tidak dapat memejamkan matanya. Dia merasa tersiksa dengan kesendiriannya. Dalam ruang VIP menanti kematian. Lucu! Orangtuanya sendiri jarang menampakkan batang hidungnya mengapa seorang suster harus berbaik hati? Menjalankan tugasnya barangkali. Dia merasa dibuang. Anak yang tidak diinginkan. Kurang akan kasih sayang dan perhatian. Leonel mengingat jelas bagaimana sinisnya tatapan teman-temannya ketika mengetahui dia menderita penyakit kanker. Ocehan-ocehan dan bisikan di belakangnya begitu mengganggu. Ruang kelas yang terasa sesak seakan hanya untuk dia. Semuanya entah hilang kemana.

Berapa lama dia sudah berjuang? 3 tahun. 2 tahun dia berdiri dalam bisik-bisik yang tidak menyedapkan itu. Dan ketika akhirnya dia lulus, sesuatu menghantuinya. Untuk apa dia lulus? Untuk apa? Hidupnya tidak bertahan lebih lama lagi.

Suster itu menangis. Meneteskan air matanya. Berbulir-bulir mengalir.
“Sus.. mengapa menangis?”
Suster itu tidak menjawab. Dia hanya bisa mengisak mendengarkan cerita Leonel.

Leonel berpikir, seseorang.. baru mengenalnya beberapa hari, mengapa dia sanggup mencurahkan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini dengan orang asing?

Mengapa harus meneteskan air mata untukku?
Kasihan?
Jangan!

“Jangan menangis. Saya benci untuk ditangisi!”

Suster itu mendongakkan kepalanya menatap Leonel. Matanya masih sembab.

“Jangan lihat aku dengan cara seperti itu.”
Leonel memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia merasa pipinya panas.

“SAya menangis karena kau terlalu pasrah. Tidak menikmati sisa hidupmu dengan gembira. Padahal itulah sisa waktu yang kau punya. Mengapa kau mengisinya dengan kesedihan?”
Leonel terhenyak. Suster yang terasa asing itu menjadi kian dekat. Dia menginginkan Leonel bergembira dan bahagia.

“Sus..”
Mengapa selama ini tidak terpikirkan olehku untuk bergembira? Karena hanya demikian sedikitnya waktu yang kupunya. Mengapa tidak saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya?

“Sus.. siapa namanya?”
Suatu itikad baik membuat persahabatan.

“namaku…”

thing``
October 03, 2003, 05:20
Originally posted by Chiller
:D cerpen berikut dr thing``.
judulnya apa ini? ;)
lanjut :)

:hehe rahasia ya ... ;)
:D

delfira_daffa
October 03, 2003, 09:21
Originally posted by thing``
;D ga dunk... yg ini kan antu :p Mar bisa ngeleg2 klo baca.. ;)abis dech g dijitak [timpuk]


Aduhh.. Hantu koQ namanya Dave siih?? Bikin gemes aja, terlalu keren soalnya siih ;D


Sebelom si MaR ngejitak lo mending gw jitak duluan tuh anak :o Abis, cerita lagi seru2nya malah dibiarin mengambang gitu dia ::mikir::

thing``
October 03, 2003, 09:27
klo ga kerenz.. ntar ga ada yg mo baca ;D

supaya Mar ga macem2.. mbak delfi iketin aja Mar di atas tiang listrik :hehe *kompor* :D

delfira_daffa
October 03, 2003, 10:23
Udh KoQ.. makanya dia ari ini ga nongol2 khan.. :hehe

delfira_daffa
October 03, 2003, 10:29
Hmm... suster itu ada hubungannya ama dave yach? ::mikir::

Ma®™
October 03, 2003, 14:00
Originally posted by delfira_daffa
Dave juga ya? :hehe

Ini Dave yang dicerita 1st love si MaR, bukan? :haha

Pertama gua kira juga geto, ternyata :kakaka: Dave ku menjadi hantu :eek:

Originally posted by thing``
;D ga dunk... yg ini kan antu :p Mar bisa ngeleg2 klo baca.. ;)abis dech g dijitak [timpuk]

[timpuk]

Kena gaQ? :haha

thing``
October 04, 2003, 05:23
“Apa yang terjadi maniz..?”

Suara Dave terdengar begitu dalam. Mencekam dalam ubun-ubunku. Dan potongan-potongan kisah menari-nari dalam keremangan benakku.


“Lepaskan!!!.. apa-apaan ini???”
Kuhentakkan tanganku. Kurasakan mataku nanar menatap.
Dia berbeda. Lain. Aku tak mengenal sosok itu.
“Justru itu yang saya tanyakan, La. Apa yang sedang kau lakukan???”
Dia berbalik menatap penuh amarah. Matanya menyala-nyala. Cekalan tangannya pada lenganku begitu kuat. Seolah hendak menelan keseluruhan diriku. Padahal lengannya terluka.

Dia menatap sekeliling. Berantakan. Diobrak-abrik.
Dia menjadi asing bagiku

“Harusnya itu yang kupertanyakan, Di!!”

Bola matanya kian melebar. Takjub melihatku? Atau tidak biasanya aku bersikap demikian? Entahlah, terlalu sulit dijabarkan. Pria yang beberapa tahun ini disisiku bagaikan orang lain. Liar matanya, cara tatapnya, cara dia memperlakukanku. Aku tak mengenalnya

“Apa maksudmu?”
“Kau membongkar keseluruhan rumah seperti maling, La,” tegasnya.

Tapi aku tak peduli. Karena aku perlu ketegasan. Kepastian. Sebab..
aku takut, takut kehilangan dirinya, takut mengungkapkan segalanya . Kupandangin mata hitamnya. Kucoba mencari kejujuran di matanya.

“Di,.. apa yang kau lakukan dengan Margareth…” suaraku bergetar ketika mengucapkannya. Tenggorakanku rasanya terlalu kering. Begitu sulit mengucapkan kata terakhir. Rasanya sama aja dengan membunuh diriku sendiri.

“Ap.. Apa.. apaan ini?? Siapa Margareth??” Dimas keblabakan. Dia terhuyung dan cekalannya melonggar. Bola matanya berputar-putar, tidak menyangka.
Kutangkap ada boong di situ.

Kuraba lenganku yang sakit. “Jangan bilang kau ga kenal sama dia, Di. Itu dustaa!!”

Dimas mengatup rahangnya rapat-rapat. Barangkali otaknya berputar dengan kencang. Lalu buru-buru dia mengguncang bahuku, “Dengar!”
Kurasakan deru nafasnya yang memburu di telingaku.
“Aku tidak ada apa-apa dengannya.Titik!”
Kurasakan hentakannya. iblis. Dimas bukan dirinya yg dulu.

“Tidak ada apa-apa??” tanyaku tak percaya.
“Lalu kenapa wanita malang itu bisa sampai berbaring di atas kamar mayat?!! Hah?!”

Dimas meneguk ludahnya. Kurasa dia mengerti benar aku berada dalam emosi yang sangat tinggi. Teriakan itu jelas diterima dengan baik oleh syaraf-syarafnya. Parasnya menjadi merah padam. Dia tidak menyangka jika semuanya kuketahui. Emosi tertahan.

Berkali-kali dia mengangkat tangan kirinya membuka mulutnya tapi kemudian terkulai dan tak ada sepatah katapun terucap.

aku sayang kamu.
Katakanlah itu semua tidak benar.
Tidak.

Kugelengkan pelan kepalaku.
Kaca-kaca air mata mulai menghias bola mataku. Ada sesak di hidungku. Begitu sulit rasanya bernafas saat itu. Duri-duri tajam menusuk hatiku. Sedikit ... dia telah mengakuinya.

Kuingat wanita ayu itu mendatangiku. Meminta, memohon dan merengek agar aku melepaskan Dimas. Demi seonggok darah yang ada di perutnya.
Hasil benih Dimas!! Aku benci kata itu. Benci.

Mengapa di saat menjelang kebahagiaan yang seharusnya kudapatkan, malah datang sebuah kejutan. Bukan. Keperihan, tepatnya.

Mulanya aku ragu mempertanyakannya. Kusimpan semua yang terjadi. Lalu kuamati gelagatnya. Dan benar. Akhir-akhir ini dia banyak berubah. Tingkahnya selalu serba salah. Gagap bila ditanya. Ketika kuputuskan untuk berterus terang tapi yang kudapat malah lebih mengejutkan.

Sesosok mayat wanita yang wajahnya tidak pernah kulupakan sejak detik pertemuanku dengannya, hadir. Aku kaget. Panik!

Bayangan-bayangan negatif segera berputar dengan cepat dalam benakku. Menguasai pemikiranku. Dan memaksaku untuk mencari kebenaran atas apa yang terjadi.

Jangan teruskan lagi.Kumohon. Katakan saja semuanya tidak benar. Aku hanya bermimpi

Tapi jika itu benar??
Dimana naluriku?
Haruskah kuketepikan wanita malang itu untuk suatu kejahatan yang seharusnya ditanggung?

Lama hati dan naluriku bertengkar. Memperdebatkan apa yang harus saya lakukan. Dan itu terjadi. Naluriku menang. Aku tak sanggup hidup dengan bayangan dosa.

“Laa.. dia.. aku.. bukan.!”
“Ee.. eh…. Dia terjatuh.. dia jatuh… dia jatuh ketika kami bertengkar.”

oh tuhann…bangunkan aku dari mimpi burukku

“Dia memaksa. Dia berupaya memisahkan kita. Ak… “

“Aku sayang kamu, La.. Aku tak bisa klo ga ada kamu.”

Kututup mataku. Kurasakan bumi sedang berjalan terbalik. Sesuatu yang hangat mengalir menelusuri lekuk pipiku. Hatiku perih bukan main. Bagitu sakitnya. Ribuan duri menusuk pada saat yang bersamaan. Jantung ini seperti berhenti berdetak. Ragaku mati. Pikiranku hampa total saat itu. dia mengakuinya!!

Dimas mendekat. Dia mencoba merangkulku dalam peluknya. Seperti terhipnotis, kubiarkan diriku jatuh dalam pelukan seorang pembunuh!!

“Kamu sudah membunuhnya,” bisikku.

Dimas melepaskan pelukkannya. “Aku tidak!”

Ya, ampun.. jangan teruskan semua kebohongan ini..!!
Kukumpulkan segenap kekuatanku, kugigit bibirku perlahan. Sakit. Sekurangnya itu membuatku sedikit sadar.

“Dia memang terjatuh dalam posisi kepala menghantam pojok sudut ranjang. Tapi lukanya disebabkan paksaan dihantam pada sudut ranjang besi.”

Dimas terkejut. Dia menatapku tak bergeming. “Kau…”

“Pada kukunya terdapat potongan kulit bekas cakaran. Kukira itu menjelaskan kenapa lenganmu terluka, Di”

help me god.. lov and fact really hurt..

“Itu tidak membuktikan aku sebagai pelakunya, La. Bagaimana teganya kau menuduh tunanganmu sebagai pelaku pembunuh” Dimas bertahan. Masih enggan juga mengatakan kesalahannya.

“Tidak..” kugelengkan palaku.

“Kau bilang tadi dia terjatuh. Kenapa??”

sudah banjirkah air mataku? Sudah habiskah? Mengapa menjadi kering ketika kuungkapkan semua kenyataan pahit ini??

“Dia hanya terjatuh sebelum.. saya…” Tiba-tiba Dimas menjadi sadar kesalahannya sendiri. Dia menjadi panik.

“La.. hanya kau yang tahu. Jika kau diam semuanya akan baik-baik saja. Kita akan menikah. Dan persetan dengan semuanya. Hanya kau dan aku”

Kukerutkan keningku. Bagaimana teganya dia ucapkan semua kata-katanya. Dimana iman dan solehnya?

“Potongan kulit lenganmu telah kucocokan dengan DNA. Kau tidak akan terlepas begitu saja. Menyerahlah Di.”

"Bagaimana bisa?? baga...i..."
Dimas jelas-jelas panik setengah mampus.

"Aku bersama Dokter Handoko, mengadakan visum."

Kukira semuanya cukup jelas. Darimana kuketahui semuanya.
Tiba-tiba aku merasa kasihan. Dimas tidak seperti Dimas. Kondisinya memprihatikan. Dan terlalu sedih untuk melukiskan semuanya.

“La… laa. Kau tidak akan bicara kan?? Saat ini hanya kau yg tahu kan?? Jika tidak polisi pasti sudah kemari. Apa yang kau cari di rumah ini La?”

Astaga… matanya menjadi buas.. aku takut.. dia .. seperti singa siap menerkam mangsanya.

“Bukti hubunganmu dengan Margareth…”
Dimas melangkah kian mendekat. Naluri pemburunya muncul. Tiba-tiba aku merasa terpojok. Begitu kecil. Dan….

thing``
October 04, 2003, 05:31
Originally posted by delfira_daffa
Hmm... suster itu ada hubungannya ama dave yach? ::mikir::

:hehe mbak delfi mikirnya koq asik dave aja :p

Originally posted by ¨°Ma®«ea»¬H°¨
Pertama gua kira juga geto, ternyata :kakaka: Dave ku menjadi hantu :eek:

[timpuk]

Kena gaQ? :haha
ehh... adog.. kecian dech mbak delfi soalnya dari kemaren g ngumpet di belakang mbak delfi tuch :D :hehe
[nunjuk] mbak delfi.. sakit gak??

Ma®™
October 04, 2003, 13:30
Damn! Jadi begitu toh ceritanya.. Dasar Dimas :marah:

*cuekkin yang laen mo ngoceh apa, EGP :o

delfira_daffa
October 06, 2003, 08:12
Originally posted by thing``
:hehe mbak delfi mikirnya koq asik dave aja :p

He He He :hehe
Abisan psst pssst siiih ::malu2::


ehh... adog.. kecian dech mbak delfi soalnya dari kemaren g ngumpet di belakang mbak delfi tuch :D :hehe
[nunjuk] mbak delfi.. sakit gak??

Ah moso seh lo sembunyi dibelakang gw, thing :P Lha wong gw aja lagi dibed gini koQ :haha

Lo sembunyi di belakang siapa tuh?? :hehe

delfira_daffa
October 06, 2003, 08:15
Originally posted by ¨°Ma®«ea»¬H°¨
Damn! Jadi begitu toh ceritanya.. Dasar Dimas :marah:

*cuekkin yang laen mo ngoceh apa, EGP :o


Weiiii..... Dimas... sial loe ah :o

Padahal gw demen banget nama Dimas ::sedih::


dd thing pinter bikin cerita juga yach ;)

Chiller
October 06, 2003, 09:51
Yah... kirain dah selesai, ternyata belum yah.
Nice story. ;)

thing``
October 07, 2003, 02:02
Leonel duduk termenung. Dibayangkannya kisah-kisah masa lalu yang merupakan detik kebahagian yang cukup berarti. Sebentar-bentar wajahnya tersenyum sendiri. Mendadak wajahnya murung. Hatinya perih untuk membayangkan kelanjutan kisah yang menyedihkan.

Malangnya nasibmu. Tapi cuman ini yang dapat kuperbuat untuk menepati janjiku. Aku tidak dapat membahayakan Dave lebih lama lagi.

Di kejauhan Leonel melihat ada dua sinar cahaya putih terbentuk. Makin lama sinar itu kian membentuk sosok tubuh manusia. Keduanya saling menatap. Seolah mata dapat berbicara keduanya saling diam tapi kelihatannya keduanya dapat mengerti satu sama lain.

Pengawas roh!! Gawat..mereka menemukan kita. Dave dan Leila dalam bahaya.

Dave tau jelas bahwa mereka telah terlambat membawa roh Leila ke siding pengadilan. Wajar jika kemudian pengawas roh ditugaskan untuk membawa mereka ke pengadilan, dan jika mereka dengan sengaja menyimpan roh mereka akan dipersalahkan atas kesalahan mengganggu keseimbangan takdir yang telah dilukiskan dan sebagai hukuman arwah mereka akan dimusnahkan.

[i]aku harus segera memberitahu dave dan Leila[i/]

Setelah lama keduanya berbicara dalam bisunya, kedua pengawas mengangguk
Dan berjalan pada satu arah…menuju Leonel!!

thing``
October 07, 2003, 03:01
Originally posted by ¨°Ma®«ea»¬H°¨
Damn! Jadi begitu toh ceritanya.. Dasar Dimas :marah:

*cuekkin yang laen mo ngoceh apa, EGP :o
awas kebakaran :kakaka:


Originally posted by delfira_daffa
He He He :hehe
Abisan psst pssst siiih ::malu2::
apa tuch mbakk.. [???] *pur2 ga tau..padahal emank ga tau* :hehe



Originally posted by delfira_daffa
Ah moso seh lo sembunyi dibelakang gw, thing :P Lha wong gw aja lagi dibed gini koQ :haha

Lo sembunyi di belakang siapa tuh?? :hehe
pantesan g jadi gepeng gini [timpuk]


chiller en mbak delfi
g jadi jatuh dari kursi denger pujiannya :nangis: *sakittt*
:hehe

thing``
October 07, 2003, 04:47
“La… “
“JANGANnn!!!! Aku tak tahu…tak tahu.. jangan paksa aku. Aku tidak ingin tahu..aku tak ingin tahu lagi...”
Peluh membasahi tubuhku. Aku gemetaran. Aku tidak ingin tahu. Bibirku bergetar. Kurasakan bulu kudukku merinding. Suara Dave mendesak. Mengiang terus di telingaku.

“Bawa aku pergi Dave.. aku tak ingin mengingat lagi. Aku tak mau tahu lagi”
Tetes air mataku berbaur dengan keringat. Entah apa jadinya. Yang kutau air mata it uterus mengalir memberi kehangatan pada daerah yang dilaluinya. Tapi Dave tidak mengabulkan permohonanku. Dia menatapku dengan tatapan aneh. Semacam kesedihan yang dipenuhi dengan kekosongan.

Oh.. kepalaku pening.. potongan kisah hidupku berputar lagi seperti bioskop yang menayangkan filem layer lebarnya.

[color=blue]
Dimas kian mendekat…

“La.. kau bisa hidup bahagia denganku. Tidak ada lagi yang akan memisahkan kita. Tidak orangtuamu, tidak juga Margareth… tidak ada siapapun..” Dimas meyakinkanku. Dia bergerak hendak merangkulku. aku terpojok. Kuberanikan diriku berkata, “Kau salah, Di. Kau sudah dirasuki setan. Kenapa MArgareth harus kau bunuh??”

Aku kian memojok.. kian ke belakang.. semakin takut melihat mata liarnya yang mencekam. Tanpa kusadari reflek tubuhku bergerak makin menjauh.. ke belakang.. mencari perlindungan..

“Dia ..Dia bermaksud memisahkan kita. Tidakkah kau tahu itu???”
Dimas mengambil tiang gantung jas pada sisi samping sofa. Menghantamnya menyilang. oh my god…he got craz… Ayunannya begitu kuat seperti hendak mengenyahkan segala sesuatu yang menghalanginya.

“Masih saja memihaknya?? Untuk apamu?? Hahh..!!!?”
Dimas masih saja marah-marah. Mengoceh semuanya. Mengayun-ayunkan tiang gantungan itu berkali-kali di kelibat mataku. Aku terpana.. kemana Dimasku yang dulu??

“Dia ingin merusak cinta kita yang tulus. Dia bahkan mengugat akan mengajukan ke pengadilan jika saya tidak mengawininya. Apa saya harus menanggung segala resiko yang merusak karir saya???”
Dimas semakin mendekat, dengan ganasnya di menjambak rambutku. Sakittt… dan aku tidak dapat melakukan pembangkangan apapun. Rasanya sia-sia. Dimas terlalu kuat. Ditariknya kepalaku mendekat ke wajahnya yang penuh dengan keringat dosa. Matanya mendelik lebar…

“Dia terjatuh ketika kami bertengkar… hanya dengan menghantam kepalanya 3 kali di sudut ranjang besi.. dan darahnya mengalir.. indah.. merah yang begitu indah.. “

Jesuss…. Dia benar2 gilakk…batinku menjerit kerass..

“Dan kau tahu apa yang dia lakukan ketika itu???”

Dia kembali mendekat.
Singkirkan mukamu. Najiss….
Kupalingkan wajahku sedapat mungkin. Meski cengkraman tangannya dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Dia menggapai.. menggapai… bermaksud meraihku.. “ Dimas tertawa terkekeh…

Aku merasa muak.. jijik dan akan muntah melihat gelagatnya. Dia benar2 bukan Dimas!

“Dia mencakar lenganku.. tapi sayang.. itu terlambat… Kau tau bagaimana cara dia menggapaiku??Begini… begini laa…”
Dimas melepaskan tangannya, mundur beberapa langkah lalu mempraktekkan gapaian terakhir Margareth menjelang ajalnya…
Dimas tertawa penuh nafsu iblis.. berdirinya sempoyongan seperti orang mabuk saja. Barangkali. Mabuk dengan kejahatan iblis.

Aku bergeser mundur… dalam ketakutanku aku merasa muak.. aku terus bergerak menjauh sampai tanganku yang di belakang menyentuh sesuatu…
Pintu..!!!

delfira_daffa
October 07, 2003, 08:09
Originally posted by thing``
apa tuch mbakk.. [???] *pur2 ga tau..padahal emank ga tau* :hehe


Itu lho thing..................:D::malu::


pantesan g jadi gepeng gini [timpuk]

Itu belom seberapa :D Rencananya sih mau gw jadiin dendeng sekalian :rotfl:


chiller en mbak delfi
g jadi jatuh dari kursi denger pujiannya :nangis: *sakittt*
:hehe

Emang bener koQ ::muach::

Chiller
October 07, 2003, 09:09
Originally posted by thing``
chiller en mbak delfi
g jadi jatuh dari kursi denger pujiannya :nangis: *sakittt*


:kakaka:

lanjut ;)

thing``
October 07, 2003, 09:36
Originally posted by delfira_daffa
Itu belom seberapa :D Rencananya sih mau gw jadiin dendeng sekalian :rotfl:


adohh.. tega...

kabur akh.. ::car:: mbak delfi kaniball..

Originally posted by Chiller
:kakaka:

lanjut ;)

idii.. diketawain [timpuk] kena ga loe ::bwekk::
:haha

Chiller
October 07, 2003, 09:56
Aduh!!!! sakit tau!!! ::ergg:: :p kidding ;)
Sebagai balasannya, lanjutannya mana :D

thing``
October 07, 2003, 10:24
sabar yaa.. :D besok dech..
ikutin gaya mbak delfi
:hehe

thing``
October 08, 2003, 05:09
Dimas terus mengoceh. Entah apa yang dibicarakannya. Aku tidak lagi mendengar. Yang kutahu tanganku berkonsentrasi mencari gagang pintu. Keringatku menetes.. was-was jika Dimas sampai tahu maksudku. Tiba-tiba Dimas menyeruak. Mendekatiku dan bermaksud menangkapku.

Reflek otakku berkerja. Dengan sigap aku langsung bangkit dari simpuhku dan membuka handle pintu. Lariii!!!

“La.. kemana kauu…” Dimas mengejar.. suara terdengar sedikit keras di kawasan yang sunyi itu.

“Kau tidak boleh pergii.. tidakk..”

Dimas mengejarku. Ya ampun..langkahnya begitu cepat
Sebentar-bentar dalam lariku kupalingkan wajahku kebelakang melihat jarak yang tersisa antara kami. Tidak lagi kuhiraukan jalanan aspal yang basah juga hujan yang mengguyur.

Kemana aku harus pergii…
Kulihat di depan ada tambah yang bisa diterobos ke jalan utama. Cepat-cepat kuarahkan lariku kea rah sana. Semoga Dimas tidak berhasil menangkapku bisik batinku.

Aku terus menerobos gelapnya semak-semak. Tidak kuperdulikan lagi kaki yang menghantam potongan ranting-ranting yang menghalang. Aku binggung. Harus kemana??

Dimas masih mengejar. Oh God.. please.. bless mee…

Di kejauhan kulihat ada cahaya temerang lampu jalanan menyinari. Aku sudah sampai di ujung jalan utama. Hatiku bersorak gembira. Di sana aku bisa mendapatkan pertolongan.

Kulanjutkan lariku. Sedikit lagii… Tinggal 5 meter lagi. Aku siapkan diriku untuk melambai minta pertolongan.

Mendadak ..

“Oukh..” Kakiku mengait akar pohon yang muncul di permukaan tanah. Aku terjatuh. Lututku mulai berdarah. Aku menyeringai. Sakit

Dimas mendekat. Tidakk.. Dia menangkap lenganku.

“Lepaskan!!!”

“Kau tidak akan pergi tanpaku. Tidak untuk meninggalkanku ataupun untuk tujuan lain” Dimas menyeret tanganku dan memaksaku berdiri di atas sakit lukaku. Sakit.

“Lepaskan aku dasar brengsek!!” Berulangkali kugerakkan tanganku dengan paksa. Mati-matian berusaha melepaskan cengkraman mautnya.

Dimas tertawa. Terkekeh-kekeh. Sinting!

“Kau pikir semudah itu??” Dia menatapku dengan ganas. Matanya mendelik lebar. Aku jadi gugup.

Dengan spontan aku ditolaknya. Aku mudur beberapa langkah. Dimas kian mendekat kembali.

Di kelibat matanya dia menangkap luka di lututku. Tanpa pamit dia menyepaknya.

“Arghh…” sakitnya menjadi-jadi.. luka itu ga hanya merah darah. Tapi dipenuhi dengan tanah berlumpur dari tapak sepatu Dimas.

Kupandangi Dimas dengan penuh kebencian. Waktu itu tidak terpikirkan lagi rasa cinta kami. Entah lenyap kemana. Kupenuhi ubun-ubun kepalaku dengan tatapan nyali tidak menyangka.

Kuacungkan tinjuku ke kepalanya. Sayang.. Dimas terlalu kuat bagi wanita lemah seperti aku. Kepalan tanganku ditangkap. No..no…

Dia meliriku dengan cara yang meremehkan.
Kumanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tubuhnya dengan tanganku yang satu lagi. Dan..Sial.. dia berhasil menangkap kedua tanganku. Kakiku menyepak-nyepak. Tapi Dimas berhasil menghindar.

“Kau berulah…” ujarnya dingin.

Hampir 5 menit lebih kami berkelahi. Hampir habis tenagaku kucurahkan. Ketika akhirnya aku berhasil meloloskan diri dan mencapai penghujung jalan, kulihat ada seberkas cahaya truk yang datang. Aku selamat!

Dua tapak menyentuh punggung belakangku dengan cepat ..

Dave mendekatiku. Menatapku lekat-lekat. Tetes air mataku jatuh dengan sempurna membentuk tetesan yang paling indah. Aku mengerjapkan mataku. Bulu mata itu membantu membersihkan penglihatanku.

Kami saling menatap beberapa lama. Dave tidak bicara. Akupun tidak perlu melanjutkan lagi.

Dia mendorongku. For God sake..!! Kukatupkan bibirku rapat-rapat. Ada gemuruh di dada. He really killed me..


Terakhir yang kuingat begitu kurasakan hantaman keras dari truk, tubuhku melayang. Sejenak aku menjadi superman seperti yang ditayangkan di filem-filem. Jatuh dan mendarat dengan sempurna di atas jalanan aspal yang dingin dan kokoh.

Sesuatu yang hangat mengalir.. deg..deg…deg..
banyak.. jantungku kian lemah
entah dari mana aja.

Dimas mendekat.. dan pandanganku gelap hitam pekat. Jantungku total berhenti

Dave menyentuh pundakku.
“Bersuaralah jika itu lebih membantu”

Aku menggeleng pelan. Apa yang dapat kuucapkan?? Aku sekarang adalah hantu. Dan setelah menjadi hantu masih berbaik hati untuk menyayanginya? Whot happen to me??!!

“Thanks Dav. Karena membuatku mengingat. Karena membuatku sadar siapa pelakunya. Membuatku mati tidak penasaran?” Kuraih ujung jubahnya pelan. Dan tersenyum pahit.

Dave mengengam tanganku. Mata indahnya menatap. Aku terdiam. Kecewa? Bersyukur? I dunno..

“Bukan saya. Nel yang harus menerima ucapan demikian.” Sentuhan jemari Dave di pipi terasa hangat.

“Nell???” Aku tak percaya. Makhluk menyebalkan itu??? How come??? Ga masuk di akal dech..

“Tap..”

Mendadak Leonel muncul.
“Cepat.. mereka menemukan kita…”

Kami masih diam di tempat. Saling memandang.

“Lho.. apa-apaan sich..?? mereka sudah menemukan kita..Ayoo.. cepat! Kita harus bersembunyi..” Leonel rupanya binggung melihat kami hanya diam saja. Dia meraih tangan kami berdua. Berupaya menarik kami pergi.

“Ga perlu Nel. Dia sudah ga jadi hantu penasaran lagi.”

“Eh?”

Leonel menatap binggung.

“Dia sudah tahu?” bisiknya di telinga Dave. Dave menggangguk.

Leonel meneguk ludahnya. Menatapku sedemikian rupa. Dan aku pikir.. its funny. (hehe)

“Eh.. emm.. e..” Leonel tidak tau harus mengatakan apa lagi. Dia tampak sangat gugup.

“Your wish. Dah gue tolongin. Ok bro?” Dave menepuk bahu Leonel.

“Mari.. kita harus kepengadilan.” Dave tersenyum. Dia menjemputku.

“Eng.. bisakah saya ..”
Aduh.. bagaimana memulai pembicaraan.

“Apa La?”

Tenggorokanku tercekat. Hampir punah kata-kata yang ada dalam otakku. Dengan susah payah kuucapkan, “Saya ingin melihat Dimas untuk terakhir kalinya.”

Dave dan Leonel langsung saling menatap.
“Pengawas sudah sangat dekat.” Leonel membuka suara.

“Pergilah bro, bawa dia. Biar disini saya yang menangani”
Heroo, Dudt..

Dengan berat hati Leonel mengangguk. Tidak enak rasanya meninggalkan rekannya begitu saja. Apalagi untuk menerima hukuman. Kebayang semuanya di benakku. Sori Dave.. tapi aku harus ketemu Dimas

shella
October 08, 2003, 08:33
gue baru baca semuanya... pertama2 gue agak2 gak mudeng ma nih cerita :D *walau sampe sekarangpun gue masih agak2 bingung* :hehe

thing``
October 09, 2003, 06:21
pantesan mami shella ga pernah g liat komennya ;D ternyata binggung toh :hehe

pas pertama mikir jalan ceritanya thing dah wanti2.. jangan2 kebinggungan semua.. ternyata emank bener :haha yang ngerti cuman yg buat cerita..

sori yach sis, soalnya dalam ceritanya ini byk alurnya yg maju mundur trus plot ceritanya harus dipisahin biar lebih.. gimana ya.. bergaya kalik :haha

ntar klo dah abis ceritanya g pm kasih intinya dech :o
sekarang sis shella jadiin PR yach.. dibaca2.. biar ngerti :kakaka:

Chiller
October 09, 2003, 06:27
Pas baca awal-awal sih bingung, tapi sekarang makin jelas ;)

thing``
October 09, 2003, 07:11
:haha

oh ya.. chiller loe debatnya tinggal 3 mg lage yach *sukses yah* ::v::

delfira_daffa
October 09, 2003, 10:26
Originally posted by thing``
sabar yaa.. :D besok dech..
ikutin gaya mbak delfi
:hehe


Dan siap siaplah diomelin ama shella :kakaka: :P

delfira_daffa
October 09, 2003, 10:29
Originally posted by thing``
pas pertama mikir jalan ceritanya thing dah wanti2.. jangan2 kebinggungan semua.. ternyata emank bener :haha yang ngerti cuman yg buat cerita..

sori yach sis, soalnya dalam ceritanya ini byk alurnya yg maju mundur trus plot ceritanya harus dipisahin biar lebih.. gimana ya.. bergaya kalik :haha

gpp koQ pake alur maju mundur. Kan lebi bervariasi jadinya :)

princess
October 09, 2003, 13:41
gua baru selesai baca semuanya. Iya ya...awalnya bingungin banget, apalagi page pertamanya. Tapi lama kelamaan semuanya jadi jelas. Ceritanya bagus! Kapan nih ada lanjutannya?

thing``
October 10, 2003, 03:28
Originally posted by delfira_daffa
Dan siap siaplah diomelin ama shella :kakaka: :P
loh.. kok sama sis shella?? [???]
bukannya mbak delfi :P

Originally posted by delfira_daffa
gpp koQ pake alur maju mundur. Kan lebi bervariasi jadinya :)

:haha hobinya maju mundur seh ;)

Originally posted by princess
gua baru selesai baca semuanya. Iya ya...awalnya bingungin banget, apalagi page pertamanya. Tapi lama kelamaan semuanya jadi jelas. Ceritanya bagus! Kapan nih ada lanjutannya?

wahh... akhirnyaa.... ::cry:: ada juga yang ngerti :haha
ntar dech.. :( g lagi dikejar2 ama bos.. report g belom kelar.. :nangis:

Ma®™
October 10, 2003, 04:00
:haha Sama lah gua jg pas pertama baca bingung, mana ada Dave gua pula ;D Tapi skr uda jelas, ternyata begeto kisah arwah gentayangan :hehe

princess
October 10, 2003, 05:44
arwah penasaran.........

Chiller
October 11, 2003, 02:45
;D ;D
tapi thing sering banget ke WG yah.

thing``
October 11, 2003, 03:25
Originally posted by Chiller
;D ;D
tapi thing sering banget ke WG yah.
nangkring setiap hari :haha

thing``
October 11, 2003, 03:29
Originally posted by ¨°Ma®«ea»¬H°¨
:haha Sama lah gua jg pas pertama baca bingung, mana ada Dave gua pula ;D Tapi skr uda jelas, ternyata begeto kisah arwah gentayangan :hehe


Originally posted by princess
arwah penasaran.........


:hehe ceritanya agak ga logika :haha sedikit mistik ;D

g lanjutin ajah dech.. uda mo weekend. biar tuntas

thing``
October 11, 2003, 04:58
---------------------------------------------------------------------------------
Aku tak tahu bagaimana caranya. Tapi dalam hitungan detik Leonel berhasil membawaku ke tempat Dimas berada. Seperti menghilang bagaikan asap.

Malam itu sepi. Sunyi. Tidak ada suara jangkrik yang menghias. Mungkin sedang beristirahat. Entahlah. Bulan saja tidak menampakkan diri. Bersembunyi di balik gelapnya awan malam.

Dimas bersandar di atas kursi rotan. Dia tidak dapat tidur terlelap. Sebentar-bentar badannya bergerak miring ke kanan dan ke kiri. Ada yang mengusik tidurnya. Mungkin sedang dalam perenungan dosa.

Leila mendekat. Begitu dekatnya hingga dia dapat merasakan hembusan nafas Dimas di permukaan wajahnya. Di sana berbaring pria yang dicintainya. Yang membunuhnya atas klaim nama cinta. Hatinya teriris. Leila merasakan panas kebencian membakar. Tapi dia tidak cukup kuat untuk mengalahkan perasaan yang telah lama ada di hatinya.

Leonel ikut mendekat. Dengan pelan disentuhnya bahu Leila dan Leila merasakan suatu panas aneh menjalar. Hangat dan damai. Kemudian sinar. Ketika dia memalingkan wajahnya, Leonel telah berdiri jauh di sudut.

Kembali Leila mengamati Dimas. Ingin dia menyentuhnya. Kebencian dalam dadanya tidak dapat berkutik. Rasa cintanya lebih kuat. Leila mencoba menyentuhnya, walau Leila yakin tangannya akan kembali menembusi tubuh Dimas.

Astaga…!!
Tiba-tiba aku dapat menyentuhnya.. kupandangi Leo di sudut sana. Dia tersenyum. Rupanya ini akibat sesuatu yang terasa panas tadi. Aku membalas senyumnya.

Dimas mengigil. Kusentuh sekujur lengannya dengan perlahan. Dimas merinding. Dia mencoba membuka matanya. Was-was.

“Akh..!!!!”

Spontan Dimas jatuh dari kursi rotan pembaringan tua itu. Dia tersungkur. Matanya membelalak tidak percaya. Dia mengambil posisi sigap di balik kursi. Mencoba melindungi dirinya dari sesuatu. Mungkin aku.

“Kauu.. u.. han…an.. t..uu..” Giginya gemeltuk mengucapkan kalimat singkat itu.
Telunjuknya bahkan gemetaran tidak karuan mengacung pada diriku. Aku berdiri.

“Jangann mendekatt!!!.. kau.. mana kitab suciku.. “

Mata Dimas dengan liar mencari-cari pertolongan. Persis seperti saat itu!!!!
Sama seperti aku yang ketakutan dan mencari bantuan. Begitulah Dimas sekarang. Tapi sayang. Untuk seseorang yang terlalu sibuk dengan bisnis dan kurang peduli pada agama, bagaimana bisa kitab suci ada?

“Dosamu terlalu banyak. Sekalipun kitab suci atau apapun tidak akan membantu”

Dimas mulai keringat dingin. Peluh membasahi kaos yang dipakainya. Dia semakin merunduk. Begitu ciutnya dirinya. Dimas mendengarkan perkataanku seolah-olah itu adalah kata terakhir yang didengarnya.

“Ak.. aku.. maafkan aku.. aku tidak sengajaa.. aku .. aku tidak bermaksud..”

Tidak sengaja??? Bahkan detik terakhirpun kau enggan berbicara jujur

Kulangkahkan kakiku makin mendekat. Dimas merasa malaikat kematian datang menjemput. Dia tersendat-sendat. Ngos-ngosan dan menjauh ke belakang. Bersimpuh-simpuh minta ampun.

“Aku.. aku sayang kamu… aku tidak tega… aku.. aku juga tidak mauuuu….ampunnn….ampun aku Leilaa….”

Dimas meraung-raung. Menjerit dan menangis. Tetesan air matanya membaur dengan keringat. Tidak jelas lagi. Dia berdiri dengan gemetaran. Mendekap lengannya sebagai perlindungan. Melihatku dengan penuh ketakutan akan balas dendamku.

Aku tertegun. Kulihat celananya membasah. Dimas… dia.. Perlahan-lahan potongan celananya membasah. Diantara celah kakinya yang gemetaran …

Kututup perlahan mataku. Antara rasa sakit, perih, benci dan cinta… ribuan jarum serasa menusuk bersamaan. Perihnya tidak terkatakan.

What is forgive?

Selalu berakhir begini. Aku benci!!! Tapi lebih tak sanggup melihatnya terkencing-kencing bagai anak TK yang tidak tahu apa-apa. Melihatnya penuh sorot mata ketakutan. Oh.. ingin kudekap saat itu juga. Memberinya segala perlindungan yg kupunya. TApi apa yang telah dia perbuat padaku. Lihatlah!!!
Tangan ini tidak dapat menyentuh lagi. Meski bibir ini berbicara jutaan kata, tidak akan ada manusia yang dapat mendengarnya. Dia… diaa.. memberiku kado “kematian”.

Kututup mataku sejenak. Merasakan buliran air mataku mengalir di sela bulu mataku. Kurasakan hangatnya di antara isak perih hatiku.

Kuingat di rumah ini kami bersama-sama berjanji untuk hari esok bersama. Di kamar ini Dimas melamarku. Di kamar ini ada canda, ada senyum dan ada tawa. Kepingan-kepingan memori berputar. Di rumah ini juga puncak segalanya.
Aku mengingat jelas bagaimana bibir Dimas menyentuh bibirku tiap kali. Bagaimana dia membelai rambutku. Bagaimana sentuhannya terasa.

Dan sakitnyaa???
Di rumah ini kulihat kegilaannya. Di rumah ini kuterima pengakuan hubungannya dengan MArgareth. Di rumah ini juga dia memperlakukanku dengan kasar.

Semuanya di rumah ini!!!!!


”My Lord.. give me the strength to forgive”

Kubuka mataku.
Dimas terduduk di atas kencingnya. Mengibas tangannya ke kanan dan ke kiri seperti menghalauku. Dia sepertinya sudah mulai gila. Menjerit-jerit. Bola matanya terus berputar. Tidak lagi tertuju padaku.

Aku berbalik. Menuju Leonel. Untuk terakhirnya kuberpaling dan Dimas masih bertingkah seperti itu. Kukira dia sudah kehilangan akal sehatnya. Sakit… Tapi mungkin ini ganjaran yang paling pantas diterimanya.

Ketika aku semakin mendekat, Leonel menjulurkan tangannya dan tersenyum.
Tangannya kusambut hangat.

“U always be an angel” bisiknya.

Ada senyum pahit mengukir bibirku.

---------------------------------------------------------------------------

“Dave!!” sorakku…
Dave di sana. Masih aman-aman saja dengan 2 pengawas. Entah apa yang telah dibicarakan Dave dengan mereka. Tapi pastinya keduanya tidak bersikap kasar dengan Dave. Keduanya sedang menantiku. Akan membawaku pergi ke pengadilan.

“TErima kasih banyak Dave.. untuk semuanya”
Kupeluk tubuh Dave dengan erat.

Kami saling tersenyum menatap. Dave meraih tapak tanganku,”Kado kecil”
Ada bola putih bersinar. Dan aku melihat sesuatu di sana.

Leonel di duduk dengan tubuh setengah berbaring di atas ranjang. Di sampingnya duduk seorang suster. Suster itu menangis. Meneteskan air matanya. Berbulir-bulir mengalir.

“Sus.. mengapa menangis?”

“Jangan menangis. Saya benci untuk ditangisi!”

….

“Sus..”

“Kamu satu-satunya org yang paling peduli padaku. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu.” Leonel menatap sungguh-sungguh. Digengamnya tangan suster itu kuat-kuat. Keduanya saling menatap begitu lama.

“Sus.. katakan padaku..”

“Sus.. siapa namanya?”

“namaku…Leila!!”

Aku kaget. Kulihat Dave dengan tatapan tak percaya. Jadi Leonel itu…
Dave tersenyum dan mengangguk tanpa dikomando. Sulit dipercaya… Leo mengingat jelas janjinya… sementara aku sudah melupakannya.

“Terima kasih Dave untuk kado terindah”
Satu senyum tulus kuberikan pada Dave orang yang berjasa.

Aku melangkah dengan mantap ke arah Leonel. Tanpa sepatah kata kupeluk tubuhnya yang tinggi dengan erat. Lama tidak kulepaskan. Maafkan aku untuk tidak mengingatmu. Dan bersikap kasar padamu selama ini
Leonel membalas pelukanku. Erat hingga rasanya tulang rusukku hampir patah semuanya.

“Aku mengingat semuanya. Terima kasih untuk menepati janjimu.” Bisikku tepat di daun telinga Leo.

Leo melepaskan pelukkannya. Para pengawas sudah tidak sabar menanti kami menyudahi acara perpisahan kami. Berat rasanya melepaskan mereka.

“Leo.. katakana padaku… suatu saat, dimana pun … akankah kita bertemu lagi??”

“Pasti!”

END

princess
October 11, 2003, 05:13
Tamaaaatttttttt sudah......

ceritanya bagus loh, thing. Dari awal aja gua uda suka ama Leonel itu :D Yang namanya Dimas kayak sissy banget ya? :P

Chiller
October 12, 2003, 03:40
:hehe akhirnya..... tamat juga.
:bravo:

delfira_daffa
October 13, 2003, 03:58
Mau deh gw... dijagain ama antu Dave :hehe

thing``
October 13, 2003, 07:59
Originally posted by princess
Tamaaaatttttttt sudah......

ceritanya bagus loh, thing. Dari awal aja gua uda suka ama Leonel itu :D Yang namanya Dimas kayak sissy banget ya? :P
:kakaka: maklum.. peran antagonis :hehe

Originally posted by Chiller
:hehe akhirnya..... tamat juga.
:bravo:

tQ
Originally posted by delfira_daffa
Mau deh gw... dijagain ama antu Dave :hehe
gimana klo mbak delfi thing yg jaga aja ::brow::

delfira_daffa
October 13, 2003, 08:39
Originally posted by thing``

gimana klo mbak delfi thing yg jaga aja ::brow::



Beneran lo jagain gw, thing? :haha

jagain gw musti nonstop 24 jam loh!! :kakaka: :P

shella
October 13, 2003, 08:52
Originally posted by thing``
pantesan mami shella ga pernah g liat komennya ;D ternyata binggung toh :hehe

pas pertama mikir jalan ceritanya thing dah wanti2.. jangan2 kebinggungan semua.. ternyata emank bener :haha yang ngerti cuman yg buat cerita..

sori yach sis, soalnya dalam ceritanya ini byk alurnya yg maju mundur trus plot ceritanya harus dipisahin biar lebih.. gimana ya.. bergaya kalik :haha

ntar klo dah abis ceritanya g pm kasih intinya dech :o
sekarang sis shella jadiin PR yach.. dibaca2.. biar ngerti :kakaka:

Bener loe ya.. :hehe
btw ini kisah nyata ya? :D:D:D

thing``
October 13, 2003, 09:03
Originally posted by delfira_daffa
Beneran lo jagain gw, thing? :haha

jagain gw musti nonstop 24 jam loh!! :kakaka: :P
:haha no problem.. kan ada doggy g ::brow::


Originally posted by shella
Bener loe ya.. :hehe
btw ini kisah nyata ya? :D:D:D
;D emank thing dah ke alam situ cek yach ;D
mami shellaa!!!!!

shella
October 13, 2003, 09:46
Kali aja.. sebenernya loe itu... :eek:








HANTUUUUUUU!........ :kabur: :haha

delfira_daffa
October 14, 2003, 03:14
Originally posted by thing``
:haha no problem.. kan ada doggy g ::brow::


Loh.. yang bener yang mau jagain gw itu elo apa si doogy seh ;D

thing``
October 14, 2003, 05:21
Originally posted by shella
Kali aja.. sebenernya loe itu... :eek:

HANTUUUUUUU!........ :kabur: :haha
:o hantu yg bae :P

Originally posted by delfira_daffa
Loh.. yang bener yang mau jagain gw itu elo apa si doogy seh ;D
cuman alih tugas mbak :hehe