View Full Version : Tentang pujian...
sky
August 29, 2003, 09:28
No offens sebelumnya dengan pertanyaan gw berikut ini...gw memang ga ngerti..:D , tolong di kasih masukkan yaa...:D
Gini , dakuw khan lahir dari ortu yang gerejanya HKBP - (Protestan khan) ,stelah gw smp gw sering di ajak temen2 kebatian di PD (persekutuan Doa) atau seperti Pantekosta gitu...
Ortu gw kayanya ga begitu suka dengan kebaktian ala pentakosta , yang nyanyinya tepuk-tepuk tangan gitu , yang berdoa pake disahut2in gitu,kaya..amin..amin...bahkan pendeta yang khotbah di HKBP juga menyindir cara kebaktian spt itu dalam khotbahnya.
Buat gw sih ga masyalah, gw masih mau bertepuk atau angkat tangan , tapi lidahku ga bisa menyahut2an dalam doa ...mungkin karena gw ga dibiasain sama keluarga dgn kebaktian spt itu.
Gw suka ikut PD atau khotbah di Pantekosta gitu,sbab kadang khotbahnya lebih kena ,bahasanya lebih sederhana dan lebih semarak...:D - tapi skg gw ga pernah lagi ke gereja Pantekosta,paling kalau Jumat di kantor ada PD - greja gw skg GPIB , yang juga ga boleh tepuk tangan dan doa bersahutan.
Pertanyakan sayah...apakah di alkitab ada larangan bertepuk tangan dalam gereja atau doa bersahutan begitu?
Trims sebelumnya..:)
bobo
August 29, 2003, 10:51
pertanyaannya adakah di alkitab larangan bertepuk tangan ?
baca kitab perjanjian lama ..
bangsa israel memuliakan Tuhan bersorak sorai dgn kecapi dan tambur ...
Juffrouw
August 29, 2003, 11:05
mengapa kita berdiri memuji Tuhan??
2 Tawarikh 20:19
mengapa kita bertepuk tangan memuji Tuhan??
Mazmur 47:2
mengapa kita mengangkat tangan memuji Tuhan??
Mazmur 63:5
Juffrouw
August 29, 2003, 11:09
Masalah sahut2an dalam doa gak usah dipusingkan...:p
Bila memang hati kita benar2 mengamini (mendukung banget) apa yang si pemimpin doa ucapkan atau si pengkhotbah katakan....otomatis hati kecil kita sudah menjawab..."Amin." "Ya benar Tuhan, aku percaya." "Halleluya terpuji namaMu." "Terima kasih Tuhan."
Dan bila kita buka mulut kita....apa yang ada di hati itu akan keluar otomatis. :)
Bila kita ada di gerej yang lebih "diem" gue sarankan kita ikuti gereja itu saja....biasanya mereka pake tata ibadah yang ketat (liturgi). Kecuali kalo suasananya dalam acara yang gak gitu resmi misal kebersamaan, ret reat, mungkin bisa kita coba jadi diri kita sendiri.....dalam arti bila hatimu ingin mengangkat tangan, angkatlah...bila ingin berkata Amin...ucapkanlah.
Tidak ada yang mengusir seorang jemaat karena ia mengangkat tangannya saat memuji Tuhan...;)
Karena Alkitab justru mendukungnya.
eLiZa
August 29, 2003, 13:38
kalau tepuk tangan justru boleh2 aj dunk..
qbiz
August 29, 2003, 14:34
apa aja dech, semua tergantung selera :)
ada juga kok aliran yang nggak mau NYANYI sama sekali, aliran quacker namanya. tetapi jangan dibilang mereka ini sesat hanya karena tidak mau MEMUJI TUHAN dalam NYANYIAN, mungkin saja mereka2 itu tidak bisa menyanyi atau apapun alasan mereka.
memuji dg nyanyi dengan serius dalam sikap hikmat silahkan
mau nyanyi sambil tepok tangan, silahkan
nyanyi sambil menari2, silahkan
yang penting melakukannya atas dasar KASIH dan HORMAT kepada Tuhan
kepikBIRU
August 29, 2003, 16:52
yah mesti liat tempatnya sky :) kepik juga suka tepok tangan dsb dsbnya, tapi kalo lagi ke tempat yang strict khusyuk yah jaga perasaan yang punya tempatnya dong :)
kan yang penting ada orderliness, bukan kekacauan ...
namanya juga tamu ... harus jaga perasaan dan ikutin peraturan yang punya rumah ... ngga kayak beberapa tamu disini
qbiz
August 29, 2003, 23:49
ADA TULISAN BAGUS DARI EKA :
"Memberhalakan" Tuhan
Oleh Eka Darmaputera
Saya harap Anda tidak terlampau cepat merasa aman dan bebas dari bahaya penyembahan berhala, hanya karena Anda tidak menyimpan satu patung pun di rumah Anda. Memang benar, titah Allah yang kedua itu "resmi"nya berbunyi, "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun . (dan) jangan sujud menyembah kepadanya". Namun demikian, ingatlah, "dosa besar" ini tidak terutama berkenaan dengan "ada-tidak"nya benda-benda tertentu di luar kita. Tidak!
Idolatri adalah bahaya serius, sebab ia merasuk, menusuk dan menyusup ke dalam jiwa. Secarik kain yang berlumur lumpur di luarnya, tak sulit untuk dibersihkan. Tapi bila tersiram tinta, dan tinta itu telah meresap sampai ke pori-porinya?
Penyembahan berhala lebih banyak menyangkut cara berpikir, cara menafsir, dan cara bersikap, yang bersumber jauh di "ruang kendali" yang ada dalam diri manusia. Dengan istilah yang lebih canggih, hal itu menyangkut "paradigma" kita, serta mewujud dalam "weltanschaung" kita.
Karena itu, tepat sekali kata William Barclay, bahwa "penyembahan berhala bukanlah sebuah relik antik dari masa silam, melainkan ancaman nyata (untuk) masa sekarang" "Idolatry is not an antiquarian relic of the past, it is a present threat". Saya malah ingin menambahkan, bahwa sekarang ada bahaya yang lebih nyata dan lebih berbahaya daripada "memper'Tuhan'kan berhala". Yaitu: kecenderungan "mem'berhala'kan Tuhan". Keduanya adalah dua sisi dari dosa idolatri.
* * *
POLA pikir dan sikap hidup yang bagaimanakah yang dapat dikategorikan sebagai penyembahan berhala? Barclay menyebutkan dua hal.
Pertama, ia mengatakan bahwa penyembahan berhala dimanifestasikan dalam bentuk sikap memperlakukan alat sebagai tujuan. Making means into ends. Benda yang awal mulanya, dengan tujuan baik, dimaksudkan untuk membantu manusia merasa dekat dengan Tuhan, eee, lambat laun berubah fungsi dan posisi menjadi "tuhan" itu sendiri. Tidak lagi sekadar "alat ibadah", tapi "pusat ibadah".
Karena itu penyembahan adalah "dosa besar". Ia tidak sekadar melenceng dari sasaran, melainkan 180 derajat berbalik arah ke tujuan yang berlawanan. Ia merupakan "kudeta" terang-terangan terhadap Allah. Tidak perlu kita heran, mengapa berulang-ulang Tuhan mengatakan, dosa ini sungguh melukai dan menyakiti hati-Nya.
Kalau "suami", Ia merasa diselingkuhi, dibelakangi, dan dikhianati, oleh sang istri. "Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya. Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya; dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan . lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik. Tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam" (Yesaya 5:1-2). Ada kekecewaan yang amat dalam.
Dan bila "bapak", Ia merasa ditikam tepat di "ulu-ati" oleh sang anak. "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan untuknya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya"' (Yesaya 1:2-3). Ada luka batin yang amat menyakitkan.
* * *
CELAKANYA, kecenderungan menjadikan "alat sebagai tujuan" adalah praktik yang amat lazim dan begitu sering kita lakukan. Bahkan dapat dikatakan, sesuatu yang nyaris secara terus-menerus dilakukan oleh gereja. Kadang-kadang ia tersentak sadar akan kesalahannya, namun tak lama. Setelah itu, ia lupa lagi . dan lagi dan lagi.
Setiap denominasi memiliki tradisi ibadahnya masing-masing. Gereja Roma Katolik dengan kekayaan dan kekhusyukan ritualnya. Gereja Protestan dengan intelekualitas dan kelugasannya. Gereja-gereja Pentakosta dengan letupan-letupan emosinya. Semua itu hanyalah alat atau sarana yang berbeda-beda untuk tujuan yang paling utama: beribadah kepada Allah. Tapi lambat laun, "cara" kemudian menjadi lebih penting ketimbang "tujuan". Ada yang percaya, bahwa ibadah tanpa bertepuk-tepuk itu kering - dijauhi Roh Kudus. Sebaliknya ada yang betul-betul merasa terganggu dengan ibadah yang hiruk pikuk - "Ini ibadah atau konser rock, sih?," tanya mereka -- berang.
Kemudian mengenai sistem bergereja. Gereja Katolik menekankan hirarki. Gereja Protestan lebih demokratis. Sedang gereja-gereja Pentakosta cenderung menafikan organisasi dan birokrasi. Semua ini adalah "alat" yang beraneka-ragam untuk maksud yang satu: mengatur kehidupan bergereja agar berjalan sebaik-baiknya. Tapi betapa sering, sistem itu diperlakukan sebagai wahyu yang diturunkan dari sorga. Cara bergereja menjadi lebih penting ketimbang bergereja.
Kata Barclay, "ketika di dalam kenyataan semua itu terjadi, itu berarti penyembahan berhala masih dengan tegar hadir sampai sekarang. Masih sama berbahayanya seperti masa-masa silam". Benar sekali, bukan?
* * *
BAHAYA kedua dari idolatri, menurut Barclay, adalah ketika orang menukar pribadi dengan materi; mengutamakan benda, bukan orang. Inti penyembahan berhala adalah, orang menyembah benda, bukan pribadi; beribadah kepada benda mati, bukan Allah yang hidup.
Berhala bisa berwujud apa saja. Pokoknya, apa saja - yang bukan Tuhan -- yang oleh seseorang dianggap sebagai yang paling penting dan paling utama dalam hidupnya, itulah "berhala"nya. Dan ini justru merupakan ciri paling mencolok dari modernisasi, dengan ciri utamanya "mekanisasi".
Setelah revolusi industri, mesin benar-benar menjadi lebih utama ketimbang manusia. Manusia dilihat sekadar sebagai penjaga atau operator mesin. Tugas utamanya adalah menjaga agar mesin tetap bekerja, dan laba meningkat terus. Manusia adalah alat. Di bank, misalnya manusia adalah angka. Nomor PIN lebih penting ketimbang Prapto atau Prapti.
Hal yang sama juga menyerang kehidupan keluarga. Konon ada pertanyaan dalam Teka-Teki Silang, yakni "Isi sebuah rumah". Anda tahu, jawabnya yang "benar"? "Perabot". Tapi memang begitulah yang ada dalam kenyataan sekarang. Itulah yang di dalam kenyataan memang menjadi isi sebuah rumah, dan seharusnya begitu. Menentukan gedung tempat resepsi, bisa lebih menguras pikiran ketimbang pernikahan itu sendiri. Memilih warna cat rumah, bisa lebih rumit ketimbang memilih cara membina hubungan antaranggota keluarga.
Sekali lagi, idolatri masih jauh dari mati. Ia masih bernapas dan bertenaga. Dan ia bukan cuma penyakit orang-orang "primitif". Ketika alat menjadi tujuan, dan ketika benda lebih penting dari Tuhan atau manusia, penyembahan berhala ada di situ.
* * *
TOH ada aspek lain dari idolatri yang sama berbahayanya. Bahwa di samping "memper'Tuhan'kan berhala", orang bisa "mem'berhala'kan Tuhan". Malinowsky, seorang antropolog terkenal, pernah menulis sebuah buku, berjudul "SCIENCE, MAGIC AND RELIGION". Karena sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, baik kita biarkan saja begitu. Dalam buku itu, penulis mengemukakan hasil pengamatannya kepada sebuah suku semi-primitif di daerah Pasifik, yang rata-rata penduduk laki-lakinya adalah nelayan.
Yang menarik perhatiannya adalah ini. Pada bulan-bulan tertentu, ketika cuaca bagus, para nelayan itu meluncur ke laut begitu saja. Tapi di bulan-bulan lainnya, ketika cuaca buruk dan berbahaya, para nelayan itu - sebelum melaut - selalu melakukan upacara keagamaan terlebih dahulu. Tujuannya tak sulit diterka. Mereka memohon pertolongan kepada "Yang Di Sana", agar melindungi mereka dari segala mala petaka.
Kesimpulannya, kata Malinowsky, ketika sesuatu sudah dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia, maka mereka tidak memerlukan bantuan dari "luar". "Science" sudah cukup. Tuhan belum perlu "ikutan". Baru tatkala keadaan bertambah buruk, tak bisa lagi dikendalikan oleh "science", manusia membutuhkan "magic".
Artinya, manusia membutuhkan "Tuhan". Tapi "Tuhan" dalam pengertian tertentu. Yaitu, Tuhan yang mau melayani kebutuhan serta kepentingan manusia! "Tuhan magic". "Tuhan" ini disembah dan dipuja, tapi ujung-ujungnya untuk apa dan untuk siapa? Untuk melayani manusia!
Inti penyembahan berhala adalah itu. Berhala disembah. Tapi apakah untuk kehormatan berhala itu sendiri? Tidak! Berhala itu disembah, sebagai suatu "metode penakluk" agar ia bersedia melayani si "penyembah"nya. Jadi, siapa menyembah siapa?
Saya ingin berbicara mengenai "memberhalakan Tuhan", karena ini sangat umum dilakukan tapi sedikit saja yang menyadari kesalahannya. Kita berdoa kepada Tuhan, tapi isinya? Sebuah "daftar belanja" yang panjang, semuanya kepentingan kita! Atau: "Tuhan saya akan melayani-Mu, tapi setelah Kau sembuhkan aku dari sakitku!" Mengapa "setelah"? Mengapa tidak dari sekarang? Mengapa ada "syarat"?
Allah yang disaksikan Alkitab, bukanlah Allah "berhala". Bukan "allah magic". Tapi Allah dari kategori ketiga yang disebut Malinowsky sebagai RELIGION. Yaitu, ketika manusia menyembah Tuhan semata-mata karena Ia Tuhan. Apa pun yang dilakukan-Nya. Terlepas dari apa pun yang diberikan-Nya. Tanpa syarat, tanpa pamrih. Ia adalah Allah yang maha kuasa yang memiliki kita. Dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Orang-orang yang di hadapan-Nya, hanya pantas berkata," JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU" (Lukas 1:38). Apa pun itu.
http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadmemb.html
hansel
August 29, 2003, 23:51
On the other hand, kalo ke tempat yg rame tepuk-tepuk tangan & sahut-sahutan sementara kita diam doang, itu menghargai yg punya tempat gak?
Soalnya gue pernah diajak datang ke Pentecostal service 'ma Mrs Nyo, but gue diam aja.
Juffrouw
August 30, 2003, 10:12
Originally posted by hansel
On the other hand, kalo ke tempat yg rame tepuk-tepuk tangan & sahut-sahutan sementara kita diam doang, itu menghargai yg punya tempat gak?
Soalnya gue pernah diajak datang ke Pentecostal service 'ma Mrs Nyo, but gue diam aja.
menurut gue sih ya gak masalah....
emang ada yang negur loe waktu loe gak ikut sahut2an doa...:D
sebenernya lucu juga sih....gue juga ke gereja pantekosta....tapi jarang sahut2an dalam doa....jaraaannggg banget....paling kalo khotbah....ditanya sama pendetanya..."Sodara percaya?" ya kita jawab..."Amin."
Tapi itu juga gak semua jemaat :p
Tapi pujian di gereja gue juga lain sama pantekosta lainnya....kadang2 kalo di pantekosta lainnya....setelah nyanyi lagu yang slow2 gitu....masuk ke penyembahan....worship leadernya langsung mulai bahasa Roh....
kalo di gue gak ada gituan....worship leadernya gak pernah memimpin bahasa Roh gitu....tapi jemaatnya bisa tiba2 berbahasa Roh sendiri, kalo emang dia merasa lagu itu sangat menyentuh hatinya. Jemaat yang lain ya terus aja nyanyi seperti biasa gak terpengaruh sama jemaat yang berbahasa Roh itu.
Dan biasanya penyembahan malah serempak terjadi (sepertinya disediakan waktu special emang) setelah perjamuan kudus...setelah penyembahan ditutup dengan satu lagu lalu doa berkat....pulang deh...:D
Cin Lan
August 30, 2003, 15:30
kalo gue sih available dimana aja...
kadang pengen yg rame juga.. soalnya di gereja gue musiknya klasik gitu.. en tenang.. en I like it.. tapi yah kalo pengen rame gampang tinggal nyambangin gereja lain.
soal music mah maslaah selera en kenikmatan di hadirat Tuhan aja. in all condition even tanpa lagu pun kalo dah masuk hadirat Tuhan dah ngalir aja..
eLiZa
August 31, 2003, 15:15
Originally posted by hansel
On the other hand, kalo ke tempat yg rame tepuk-tepuk tangan & sahut-sahutan sementara kita diam doang, itu menghargai yg punya tempat gak?
Soalnya gue pernah diajak datang ke Pentecostal service 'ma Mrs Nyo, but gue diam aja.
ga papa deh
tapi kalo elo ke gereja Katolik trus pas misa tiba2 elo tepuk2 tangan n angkat2 tangan.. kayaknya malah bakal semua mata memandang ke elo ngeliatin :hehe
hansel
August 31, 2003, 23:29
Originally posted by eLiZa
ga papa deh
tapi kalo elo ke gereja Katolik trus pas misa tiba2 elo tepuk2 tangan n angkat2 tangan.. kayaknya malah bakal semua mata memandang ke elo ngeliatin :hehe
Justru karena gue dah terbiasa yg seperti ini, jadi gue malas ke tempat yg hingar-bingar. Bukan berarti gue nganggap yg hingar bingar itu salah, but gue gak terbiasa & gak ngeliat perlunya membiasakan.
Pas ke Catholic Charismatic gue juga gak betah.
sky
September 01, 2003, 01:56
Trims untuk bantuan infonya...:)
At least itu membuat sayah untuk tidak ragu bertepuk tangan dalam kebaktian PD. tapi tentu aja gw ga akan nyanyi kidung jemaat di gereja sambil bertepuk tangan , bisa dianggap aneh kali yaa...::hehe
kepikBIRU
September 02, 2003, 00:44
menurut kepik sih gak masalah, sel :) enggak dipandang aneh sih rasanya kalo hansel cuman mau bernyanyi dengan tenang dan khusyuk :)
laen kalo misalnya yang laen tenang dan khusyuk satu orang jingkrak2 sendiri :)
daylight
September 03, 2003, 07:44
Uhm kalao gue sih tergantung kepribadian orang tersebut ya. Gue sih suka yg khidmat, karena dari TK samapi SMU (Methodist) jadi terbiasa dengan prosesinya. But i'm very enjoy with that condition, walaupun kadangkala bikin mengantuk ::bahagia: :zzz: :zzz: :zzz:
dmarthen
September 03, 2003, 17:22
hkbp mana? gua jg hkbp neh..
yah maklum lah kalau kurang sreg karena memang dari kecil udah hkbp... gua aja nga klop dan sedih kalau persekutuan di kampus atau bahkan di sma dulu didominasi oleh saudara2 dari karismatik.. gua sedih kenapa sih nga dibuat persekutuan yg lebih menyentuh khalayak banyak yg lebih umum...
mungkin ini saran buat saudara2 karismatik untuk lebih peka dan toleran dengan saudara2 lainnya yg cenderung konservatif dalam hal beribadah.. ada baiknya dibuat pola ibadah yg lebih elegan, tertib, dan efektif... persekutuan siswa maupun mahasiswa mungkin lebih ramai bila diadopsi dengan ibadah yg lebih katolik (universal) dan tidak sektarian...
eLiZa
September 03, 2003, 18:06
Originally posted by hansel
Justru karena gue dah terbiasa yg seperti ini, jadi gue malas ke tempat yg hingar-bingar. Bukan berarti gue nganggap yg hingar bingar itu salah, but gue gak terbiasa & gak ngeliat perlunya membiasakan.
Pas ke Catholic Charismatic gue juga gak betah.
gue sih betah2 aja di Charismatic ataupun kagak :D
sky
September 05, 2003, 03:56
Originally posted by dmarthen
hkbp mana? gua jg hkbp neh..
yah maklum lah kalau kurang sreg karena memang dari kecil udah hkbp... gua aja nga klop dan sedih kalau persekutuan di kampus atau bahkan di sma dulu didominasi oleh saudara2 dari karismatik.. gua sedih kenapa sih nga dibuat persekutuan yg lebih menyentuh khalayak banyak yg lebih umum...
mungkin ini saran buat saudara2 karismatik untuk lebih peka dan toleran dengan saudara2 lainnya yg cenderung konservatif dalam hal beribadah.. ada baiknya dibuat pola ibadah yg lebih elegan, tertib, dan efektif... persekutuan siswa maupun mahasiswa mungkin lebih ramai bila diadopsi dengan ibadah yg lebih katolik (universal) dan tidak sektarian... yach..bgitulah,marten...
orang mungkin cuma bisa bilang , yach..sudah tahu itu beraliran kharismatic - ngapain juga datang kesana kalau tidak sreg...padahal gw ga melihat kharismaticnya,tapi yang gw lihat bahwa itu salah satu ibadah .
Memang kalau hkbp ada gitu persekutuan do'anya?
gw yakin banyak juga amang-ina yang suka ikutan PD:D - ikutan bersorak sorai di kebaktian gitu, tapi duduk manis saat ikut kebaktian di hkbp.
bobo
September 05, 2003, 04:39
yg namanya persekutuan doa tuh bukan berasal dari satu aliran saja, melainkan dari berbagai macam latar belakang kristen, baik itu katolik, protestan, karismatik, advent ..... dan mereka bersekutu untuk beribadah .... biasanya di kantor2 atau sekolah dan kampus .... soalnya kalo dipisah2 biasanya umatnya cuma sedikit ... makanya disatukan dalam satu persekutuan doa ... di kantor gue ada persekutuan doa tiap hari jumat siang ...
sky
September 05, 2003, 04:57
sama dong,Bo...jangan-jangan lo satu kantor sama gw...:eek:...:Dyang jelas bukan satu kantor tapi satu gedung...
udah siang nich...ikutan PD dulu ach...:D
eNGi
September 05, 2003, 09:20
Originally posted by eLiZa
gue sih betah2 aja di Charismatic ataupun kagak :D
Ah.. elo mah setipe ama gw :D hi hi hi ...
gw juga enjoy2 aja kalau di PDKK *persekutuan doa karismatik katolik*
tapi itu bukan berarti terus gw menghindari kewajiban menggereja di hari minggu *biasanya PDKK di luar misa hari minggu*
Buat yang suka dalam keadaan khidmat dan khusyuk .... sempat ada pembicara yang ngutip ayat *kalau gak salah dari Wahyu*, bahwa di surga, suasana doa itu adalah seperti di gereja2 Katolik * I mean, gereja dalam suasana yang khusyuk*, bukan seperti di PD yang hingar bingar.
Eh, Liz, 2 minggu lagi gw ikut retret di Cikanyere nih .. he he he ... gak sabar rasanyaaaaa....
eLiZa
September 05, 2003, 15:11
retret apa tuh Gi?
Ga ikut di Tumpang?
Kalo ke Tumpang mampir di rumah gue dunk :hehe :p
kepikBIRU
September 05, 2003, 17:25
kayaknya sih Wahyu 19 itu menggambarkan something yahng bergemuruh dan megah dan hebat ... baca Wahyu 19:6 ...
Juffrouw
September 06, 2003, 11:55
Originally posted by daylight
Uhm kalao gue sih tergantung kepribadian orang tersebut ya. Gue sih suka yg khidmat, karena dari TK samapi SMU (Methodist) jadi terbiasa dengan prosesinya. But i'm very enjoy with that condition, walaupun kadangkala bikin mengantuk ::bahagia: :zzz: :zzz: :zzz:
yang penting bukan enjoy....;) tapi gimana pertumbuhan imannya??
kalo bertahun2 jadi anak Tuhan imannya begitu2 aja....gak ada pengalaman2 indah bersama Tuhan (dengan kata lain hambar). Pasti ada yang salah...bukan gerejanya yang salah...tapi pribadinya...
Dalam arti kalau gereja itu bertipe A dan iman kita hambar....mungkin kita gak cocok dengan tipe A itu...;)
Yang terpenting dalam memilih gereja adalah, yang bisa membuat iman kita bertumbuh....bukan yang bisa bikin kita enjoy :p
15d1
September 06, 2003, 14:44
banyak orang tua yang kurang sreg dengan aliran karismatik karena pujiannya itu.
tapi menurut saya... itu kembali ke pribadi masing2.
tetapi saya pribadi lebi menyukai puji2an di gereja karismatik.
karena ga kaku dan bisa lebi mengekspresikan apa yang saya rasakan ke Tuhan tanpa takut dipandang aneh oleh jemaat yang laen.
15d1
September 06, 2003, 14:47
Originally posted by dmarthen
hkbp mana? gua jg hkbp neh..
yah maklum lah kalau kurang sreg karena memang dari kecil udah hkbp... gua aja nga klop dan sedih kalau persekutuan di kampus atau bahkan di sma dulu didominasi oleh saudara2 dari karismatik.. gua sedih kenapa sih nga dibuat persekutuan yg lebih menyentuh khalayak banyak yg lebih umum...
mungkin ini saran buat saudara2 karismatik untuk lebih peka dan toleran dengan saudara2 lainnya yg cenderung konservatif dalam hal beribadah.. ada baiknya dibuat pola ibadah yg lebih elegan, tertib, dan efektif... persekutuan siswa maupun mahasiswa mungkin lebih ramai bila diadopsi dengan ibadah yg lebih katolik (universal) dan tidak sektarian...
kalo di smu saya dulu, setiap rabu pasti ada kebaktian.
dan setiap minggu itu yang pelayanan di mc, singer, dan pemusik selalu dibawakan oleh saudara2 dari aliran karismatik.
bahkan mereka pernah mengadakan Praise and Worship di sekolah kita dulu.
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.