View Full Version : Awal Tanpa Akhir: Cerita2 Lepas







lygia
August 24, 2003, 13:43
Satu malam, Gabriel…

Semalam aku memimpikanmu. Aneh rasanya. Setelah sekian tahun aku mengenalmu tak pernah sekalipun aku memimpikanmu dalam hitungan malam di genap bulan.Kemudian kau datang lagi esok malamnya didalam bunga tidurku. Begitu aneh terasa. Sebab engkau tak sepantasnya berada disana, dalam alam sekedar impian, karena tempatmu sekian tahun lamanya adalah di relung tersembunyi ruang hatiku, dikedalaman palung alam pikiranku, menggelak dalam magma debur jantungku, mengaliri aorta denyut nadiku, bergumul di rumitnya kabel sel2 otakku. Aku menguncimu didalam diriku dan kutelan kuncinya kubuang kedalam labirin dimana cinta disemaikan sebelum dipersembahkan untuk dijadikan tumbal dosa sembari tetap kupanjatkan doa-doa semoga kelak kau kan menemukannya.
Apakah artinya aku memimpikanmu?
Adakah engkau tengah memikirkanku?
Tengah sendirikah kamu?
Teringatkah engkau padaku?
Aku tertegun diatas pembaringanku. Memikirkan mimpiku mencoba mengulang setiap detil impianku. Kututup mataku, merekam ulang wajahmu, merenda kejadian dalam mimpiku. Kata-katamu, sorot matamu, tatapanmu, senyummu dan gadis itu... kemudian kereta yang pergi membawa gadis itu dan engkau yang tetap tinggal ... didekatku. Untukkukah kau tinggal, lelakiku?
Lelakiku?
Kurasakan gerakan pelan disebelahku.
Lelakiku?
Sentuhan tak sadar sebuah lengan yang terkulai diatas pahaku.
Lelakiku?
Hembusan nafas samar2 yang beraturan.
Lelakiku !?
Kubuka mataku. Kesadaran mencelikkanku dan kenyataan menyeringai padaku.
Mendadak aku begitu merindukanmu. Teramat sangat rindu.
Sepelan mungkin aku bangkit dari pembaringan dan berjalan ke ruang studioku. Kunyalakan laptopku dan sementara windows memanggil bala tentaranya aku mengambil agendaku. Dari sudut terdalam kuambil kumpulan email-email kita yang bisa dihitung dengan jemari dari satu tangan saja. Membaca kertas2 lusuh itu satu persatu, meresapi pesan2mu, mencoba mencari makna di balik setiap tulisanmu, menyelusuri setiap abjad serasa menyelusuri permukaan wajahmu, tersenyum sendiri dan seperti merasakan kehadiranmu didekatku. Laptopku siap. Kubuka dokumen tersembunyi dalam harddisk yang kujaga dengan password teramat sulit dan beritme aneh. Satu persatu thumbnails gambarmu bermunculan. Cuma ada 3. Tetapi itu sudah merupakan harta karun yang tak ternilai bagi seorang yang jatuh cinta tanpa pernah diketahui oleh yang dijatuhi cinta. Tahukah kamu aku pernah jatuh cinta padamu dan sekarang aku cinta padamu? Kuklik satu persatu fotomu, kuperbesar, kupandangi kemudian kuciumi satu demi satu.
Telah berapa tahun lamanya-kah kita tak lagi pernah bertemu? Aku tak pernah menghitungnya sebab dengan menghitungnya akan semakin terasa betapa jauh sebenarnya jarak antara kita dan akan semakin terlihat jelas kemungkinan yang tak pernah ada.
Kemungkinan yang tak pernah ada?
Ataukah kita yang tak pernah berusaha?
Adakah kita masing2 tahu bahwa ada perasaan yang tumbuh diantara kita?
Ataukah kita berusaha mengingkarinya karena... karena kita tahu, kita melihat dan kita menyadari sebab dan akibat bila kita buahi perasaan kita?
Lalu aku memutar ulang kenangan2 yang ada.

begawan
August 24, 2003, 14:35
huaaaaaaaa cerpen baru euy :hehe

shella
August 26, 2003, 06:06
yg banyakan dong lyg :rock

surfergirl
August 26, 2003, 11:23
weish... welcome to the melancholy land... ^____^
tulisan-nya keren bgt maa....

lygia
August 27, 2003, 12:06
Lanzut ya...

lygia
August 27, 2003, 12:08
Aku tak pernah mencoba membunuh perasaanku terhadapmu, entah denganmu. Tahukah kamu bahwa perasaan itulah yang membantuku untuk bisa bertahan terus tinggal bersamanya?
Absurd kedengarannya. Tetapi aku adalah manusia teramat absurd yang mungkin pernah diciptakan Yang Maha kedalam dunia ini. Dia kerap berkata dengan nada sinis tentunya bahwa aku punya cara berpikir dibawah normal. Sementara kau pernah mengatakan - dengan senyum yang menawan - betapa kompleksnya diriku. Entahlah, mungkin kalian berdua sebenarnya berpikiran sama bahwa betapa sebenarnya aku bodoh. Tetapi aku menyukai caramu menyampaikan pendapatmu. Begitu mantap tetapi menyenangkan. Dan aku menyukai caramu memandang diriku – bukan secara teoritis dan objektif – tetapi dari sudut perasaan. Aku memuja ketenanganmu meski kau bukan orang yang bijak seperti sang nabi Johannes tetapi engkau punya kesabaran seperti seorang beriman layaknya Abraham.
Aku tak tahu siapa yang lebih dulu jatuh cinta kepada siapa. Yang aku tahu – bagiku - aku jatuh cinta - pelan-pelan - kepadamu. Lewat caramu mengajariku sebagai mentorku pada tahun pertama pekerjaanku lalu kemudian dari caramu memandangku hingga pada akhirnya kau menyentuhku dimana kau alirkan sesuatu yang menjerat otakku dan membuatku tak pernah lagi lepas memikirkanmu. Lalu perlahan-lahan hatiku dilumpuhi gangren2 cinta. Maka kemudian aku mulai memandangmu dengan cara yang lain meski secara tersamar karena aku ingin engkau tahu aku jatuh cinta padamu tetapi aku ingin jarak itu tetap terjaga. Sebab ada gadis itu dan lelaki ini.
Aku mengambil metode yang salah.
Hingga kini aku tak pernah mengerti adakah kau tahu apa yang kurasakan untukmu dan apakah kau juga jatuh cinta padaku.
Kucolokan kabel tipis headphone dan menggantungkannya di daun telingaku. Kubuka winamp versi terbaruku dan dengan cepat kutemukan mp3 yang sekali itu kau download untukku sebab kau mendapati bahwa itulah satu2nya hymne Mozart yang mampu aku mainkan diatas tuts piano disudut restoran saat malam natal itu tetapi tidak kutahu liriknya.
Natal terakhir kita bersama.
Ave Maria...

surya
August 28, 2003, 08:27
Lygia emang yahud... :salut:

lygia
August 28, 2003, 09:49
eh, ada si Akang sur... kemenong aje kang? dah lama kagak ngeliat anda berseliweran :D
ngga ikut selametan Mahar's newborn baby?

surya
August 29, 2003, 06:10
Mahar?? Mahar Sembiring??

lygia
August 29, 2003, 07:28
yoa'i bang.
kan anaknya baru lahir...
ngga pernah kontak lagi ma mantan2 kita ya?

begawan
August 29, 2003, 08:07
weks, ini reuni yak :hehe

lygia
August 29, 2003, 09:05
begetolah, beg ... reuni alam maya.
habis dimana lagi bisa ketangkep dan nangkep surya klo bukan di forum cerpen? :hehe

surya
August 29, 2003, 19:36
wah....baru tau gue anaknya dah lahir. Semoga aje seganteng si Mahar yang cakep abis itu.. :D
Gue udah jarang kontak ke sono, terakhir gue call si Sitorus kawan kita itu laa...sebelom dia ke Jerman. :D
Lo masih di negeri pizza Lyg?? :hmmm

Anyway.....lanjutin dong cerpennya.. :p

lygia
September 07, 2003, 14:40
Kamala dalam bab pertama.

‘’Tu sei Kamala, e nient’altro, e in te c’è un silenzio, un riparo nel quale puoi rifugiarti in ogni momento e rimanervi a tuo agio; ... ‘’

Cuma ada satu wanita yang pernah kusimpan dalam hatiku. Dulu, bertahun2 yang lampau. Kini dia sudah mati. Mati. Sebenar-benarnya. Telah begitu lama.
Kucoba mencari figur2 wanita lain yang mampu mengisi sudut gelap didalam salah satu rongga yang dinamakan hati meskipun aku tak tahu dengan pasti dimana sebenarnya tempat hati tahta sang cinta. Yang kudapati selalu kehampaan yang tiada bertara dalam balairung hatiku sementara yang terisi hanya kekosongan sisi maskulinitasku. Kadang aku mencoba membohongi hatiku dengan mencoba menjatuhkan diriku kedalam cinta sang wanita yang tengah kudekati atau kukencani sebab aku lelah dengan kehampaan ini. Tetapi hati sendiri tidak pernah membohongi sang tuan tempat ia berdiam diri. Sungguh hati adalah budak teramat setia dalam kisah hidup seorang manusia. Tiada pernah berdusta, tiada pernah mengeluh, tiada pernah membangkang, tiada pernah membalas meski berkali2 disakiti dan berdarah. Semua hanya untuk membuat manusia bahagia dan bertujuan menjaga kemurnian sang cinta. Cinta? Rasa itukah yang sebenarnya harus dipuaskan? Sementara hati adalah jembatan yang terentang antara ego dan cinta? Sayangnya tak lagi kutemukan cinta sesudah kehilangannya yang begitu menyedihkan saat masa mudaku beranjak dewasa - hingga pada saat aku melihat dirimu untuk pertama kalinya - dimana pada akhirnya aku mampu berdamai dengan hatiku dan mengisi singgasana sang dewi cinta - dirimu.
Dalam pandanganku sang cinta menampakkan dirimu sebagai wanita tercantik yang pernah menghias indera penglihatanku yang makin tahun berganti semakin bertambah kadar minusnya (ini juga adalah salahmu) meski kau bukanlah satu2nya wanita asing yang pernah kukenal tetapi yang paling menawan bahkan dari yang kerap melintas di layar gelas maupun layar lebar. Satu hari itu tanpa jeda aku kerap mencuri pandanganku terhadapmu, atas panjangnya rambutmu yang ikal, atas senyummu diatas bibir penuh yang tak tersaput senyawa kimia, atas indah bola mata coklat yang memandangku dengan binar kecerdasan seorang wanita terpelajar, atas rasa percaya diri yang auranya terpancar teramat kuat dari suara dan gayamu dan atas segala aspek kecantikan alam yang dihibahkan Tuhan kepada ciptaanNya sang Hawa. Tetapi cinta adalah juga jujur dalam hal2 selain kesenangan dan kebahagiaan sebab ia juga kemudian – di hari2 kedepan - menampakkan kepada diriku hal2 yang tersembunyi dibalik pancaran wibawa serta pendiamnya dirimu. Kegelisahanmu, kesedihanmu, kelabilanmu (hal yang amat mengejutkanku) dan yang terutama adalah kesepianmu yang kudapati kemudian dari beberapa email yang kau kirimkan kepadaku setelah kita berpisah. Tak pernah kusangka bahwa ternyata kita berdua adalah manusia manusia sahabat sepi. Maka kesepianmu jugalah yang membuatku tetap dan akan selalu menempatkanmu didalam hatiku sebab itu membantuku membangun kembali harapan yang kian pupus sejak kita tak lagi bertemu.
Harapan... sejauh ini memang aku hanya membangun harapan karena aku tak tahu apakah kau juga merasakan rasa yang sama seperti yang aku rasakan. Sebab apabila kau merasakan cinta yang sama aku tak mengerti mengapa kau tetap bersamanya - meski lelaki itu kerap melukaimu dengan kesepian yang kau rasakan selama bertahun2 kau hidup dengannya. Betapa kuatnya dirimu, betapa teguhnya cintamu, betapa besarnya kesabaranmu, sementara aku melampiaskan rasa sepiku pribadi dan ketidakmengertianku akan dirimu dengan mencari cinta yang lain dari wanita lain. Tetapi aku tak pernah mendapatkannya. Sebab sejujurnya - aku begitu mencintai perasaan cintaku padamu hingga aku tak ingin kehilangannya lagi meski sekarang yang kurasakan ini hanyalah sekedar rasa cinta tanpa balas. Tetapi harapan itu ada... sayangku, Cintaku... C i n t a k u , tahukah kau betapa besarnya keinginanku untuk dapat membisikkan ini ditelingamu dimana kemudian seperti caramu yang selalu terekam dalam penglihatanku perlahan2 akan kau angkat pandanganmu dan menatapku dengan mata indahmu diiringi senyummu yang mengembang samar-samar sebelum pada akhirnya kukecup bibirmu... seperti yang kulakukan saat ini diatas fotomu yang selalu menghias desktop di monitor flat Sony STYLEPRO 19’’ didalam kamar tidurku yang dengan resolusi maksimum 1280 x 1204 membuat kecantikanmu terbias bagai sinar mentari pagi. Ciumanku berakhir saat kudengar dering bel rumahku berbunyi dan di kamera sirkuit terpampang wajah seorang wanita yang tengah menenteng kantong2 belanja.

shella
October 10, 2003, 02:12
bikin cerita baru lagi dong lyg :D:D

thing``
October 10, 2003, 03:23
woww... :bravo:
gaya tulisnya bagus

terkesan puitis
::love::

lygia
October 10, 2003, 06:39
thanx shella.
Daku kasih cium yaaa... **muach**

Itu makanya dikasih judul begeto sebab daku mo nulis lagi cuma isinya cerita2 lepas gitu - kadang tamat kadang enggak :D
Daripada tiap bikin cerpen bikin thread baru molo - menuh2in server WG - ntar collaps lagi kayak KG jadinya daku rappel semua disini :D

I'll be back!

lygia
October 10, 2003, 06:42
Originally posted by thing``
woww... :bravo:
gaya tulisnya bagus

terkesan puitis
::love::
Sering2 kesini lah! bukan cuma kubuai kamu dengan tulisan2 yang puitis tapi kan ku-doktrin kamu dengan pemikiran2 feminis realis.

begawan
October 10, 2003, 07:07
wakakakaka....yang cowok nggak usah kesini ah ::jinjit::

lygia
October 10, 2003, 09:11
lho, kenafa?
Open Mind, Open Soul and Open Person dounk, Mas! :P

surfergirl
October 10, 2003, 11:37
hehehe, jgn pake english oma, he's javanese abis...

thing``
October 11, 2003, 02:58
Originally posted by lygia
Sering2 kesini lah! bukan cuma kubuai kamu dengan tulisan2 yang puitis tapi kan ku-doktrin kamu dengan pemikiran2 feminis realis.

:haha paling sering mangkirnya di sini koQ :P

lygia
October 11, 2003, 12:38
Awal suatu Akhir.

Aku menunggu waktu. Menunggu - sembari menyaput jemariku dengan kutex berwarna Miel Rose No 122 keluaran Guerlain. Usai menata jari jemariku, ketika agar cepat mengering tengah kutiup2 senyawa Ethyl acetate diatas kukuku pikiranku tiba2 tertuju kepada lelaki itu dan jantungku tiba2 berdetak lebih cepat dari hitungan normal.
Kualihkan pandanganku ke atas meja tepat ketika telepon genggamku diatasnya bergetar diikuti beberapa detik kemudian dering melody yang telah kuprogram agar selalu berbunyi bila lelaki itu yang menghubungiku. Tak segera kujawab. Kutatap layar yang berkedip2 intens menunjukkan nama sang penghubung.
‘’Pronto?’’
‘’Hallo? Aku Lorenzo. Apa aku menganggu?’’
‘’Oh! Hallo, Lory! Tidak, kau tidak menganggu.’’ Kuharap dia tidak menangkap keterkejutan pura-pura dari suaraku. Shit! Kenapa pula aku harus berpura-pura?
‘’Dimana kau saat ini?’’
‘’Aku ada di rumah. Di Parma.’’ Oh no, kenapa terlontar nama kota yang lain? Sial! Sial!
‘’Di rumah??? Di Parma?’’. Keterkejutan lelaki diujung sana bukan pura2 seperti sikapku. ‘’Bukankah kau ada di pameran saat ini? Aku pikir kau sudah berada di Bologna.’’
‘’Tidak Lory! Sudah kukatakan, aku tidak mesti berada di pameran. Aku bisa pergi - bisa tidak,’’ jawabku sambil berjalan kearah kamar tidurku kemudian menjatuhkan pantatku diatas kasur. ‘’Kemarin kau bilang bahwa kau selesai bekerja pukul 14, jadi menurutku tidak ada gunanya datang lebih cepat dari jam 14 bila kau belum ada disana.’’ Ahiya, kupukul keningku. Bodohnya pernyataan itu. Keterusterangan bahwa aku menunggunya. Memalukan!
‘’Oh! Begitu... Jadi kalau begitu jam berapa kau akan tiba?’’.
‘’Aku akan berangkat dengan kereta. Kurang lebih dalam 1 jam aku akan ada disana.’’
‘’Hm... baik sekali. Kau tahu, tadinya kupikir kau sudah berada di pameran di Bologna sejak pagi ini oleh karena itu aku cepat2 keluar dari klinik...,’’ Ah! Jujurnya lelaki ini. Keterusteranganku beberapa menit yang lalu sepertinya terimpaskan sekarang. ‘’... dan sekarang kalau kau berangkat dengan kereta, bagaimana menurutmu bila kita bertemu di stasiun saja. Akan lebih mudah bagiku - sebab bila harus menemuimu di pameran akan makan waktu lebih lama,’’ terusnya.
‘’Terserah kau saja.’’
‘’Baik kalau begitu. Jam 13.30 aku akan berada disana.’’
‘’Ok! 13.30!’’ Terdengar deru kendaraan dan bunyi klakson mobil diujung telepon.
‘’Maaf!? Apa katamu?’’
‘’Aku bilang, Ok! Jam 13.30 aku akan berada disana.’’
‘’Oh! Ok!,’’ Lelaki itu diam sebentar sementara latar belakang deru kendaraan mulai menghilang. Aku baru hendak bertanya, ‘kau ada dimana’ ketika kudengar lagi suaranya.
‘’Jadi, apa rencanamu?’’. Aku tersenyum - lelaki ini sama gugupnya seperti diriku.
‘’Seperti kemarin kukatakan, mungkin kita bisa makan siang bersama lalu kemudian mungkin kau bisa menunjukkan kotamu padaku.’’
‘’Ah, ya! Begitu ya rencana kita?’’. Rencana kita!?!? Itu rencanamu! Aku tidak punya gambaran pasti tentangmu apalagi rencana untuk hari ini.
‘’Hey! Kau Boss-nya. Itu kotamu,’’ ujarku mencoba bercanda lalu mengeluarkan suara tawa kecil. Disana kau ikut tertawa.
‘’Yeah! I’m the Boss. Baiklah, kalau begitu jam 13.30. Telepon aku begitu kau sampai, ok!?’’
‘’Ok! Sampai bertemu kalau begitu. Ciao!’’
‘’Ciao, Lilith!’’
Hubungan selular selesai. Senyumku masih terkembang. Pukul 11.45. Aku masih punya banyak waktu sampai pukul 13.30. Sebab aku bukan berada di Parma dan aku butuh kurang dari satu jam untuk sampai di Bologna. Kalkulasiku sekitar 30 menit dengan kereta aku bisa berada di kota pelajar yang kuno itu. Dari rumahku ke stasiun hanya ditempuh dalam waktu 10 menit dengan Honda Metropolitan II - 4 silinderku. Jadi bila aku berangkat jam 12.45 masih tersisa 1 jam untuk menetapkan baju apa yang hendak kukenakan.
Kutex-ku sudah mengering sepertinya jadi dengan amat hati2 kukenakan jeans Jean Paul Gaultier-ku yang sudah mulai menyempit di bagian pinggang. Benar saja, kutex-ku rontok di jari tengahku kena gesek kancing jeans. Masih untung bukan diatas bahan. Kuhela napas panjang. Kupakai jas hitam Occhi Neri-ku yang berkerah tinggi, mengancingkan sepatu Sachs-ku yang bertumit 7 senti, mengaitkan dikedua daun telingaku kacamata Versaceku yang bersepuh 0,09 emas, mengepit tas hitam kecil Christian Dior kebanggaanku lalu mematut diri di cermin. Dio cant’! Kemana kau akan pergi Lilith!? Bila kau diculik orang2 arab atau begajul2 hitam di stasiun, apa yang kau kenakan saja sudah cukup untuk mereka makan sekeluarga sebulan.
Atau kupacu saja mobilku ke Bologna? Ah, tidak! Kutepiskan pikiran itu dan terduduk diatas kursi. Apa yang hendak kau tunjukkan Lilith? Apa yang hendak kau tunjukkan kepada lelaki itu? Lelaki asing itu, yang belum pernah sekalipun kau temui dan hanya kau kenali dari email, dari suaranya dan dari sebentuk foto ukuran 100x90 pixels yang dikirimkannya padamu. Kemakmuranmukah? Gaya hidupmukah? Statusmukah? Harga dirimukah?
Pelan aku kemudian menangis.

sashacantik
December 28, 2003, 15:03

Ma®™
December 28, 2003, 23:17
Yeap katanya lagi d bikin buku ;D

4 thumbs up for u lyg :)

thing``
December 29, 2003, 04:36
sini tempat kumpul novelis2 ??? ;D
ooo my.. ::malu2::

set mode +minder on

:haha

sashacantik
December 30, 2003, 07:05
wah kamu thing...bukan novelis-novelis... tapi nagita lagi bikin novel...

lygia
January 14, 2004, 19:51
gaya cerita koe mirip nagita dimana-nya jeng sha??? ::bingung::

nagita itu kan barbara cartland banged deh! :D

thing``
January 16, 2004, 07:58
anak2 cerpen sini pada nulis novel :haha

bener2 salut da :D

lygia
January 16, 2004, 12:58
kayaknya lagi pada mumpung dikasih kebebasan berkarya sama NEGARA - ya bikin sebanyak2nya.
Many ... maybe much - but is it worth to read?

kamu sendiri ngga bikin?

eLiZa
January 19, 2004, 04:53
duh.. kerennn... :bravo:
cerpennya anak2 WG top2 abis deh.... cerpen di majalah lewatttt :haha
kadang2 pengen bikin tapi minder duluan baca2 yang di WG :D

thing``
January 19, 2004, 12:07
Originally posted by lygia
kayaknya lagi pada mumpung dikasih kebebasan berkarya sama NEGARA - ya bikin sebanyak2nya.
Many ... maybe much - but is it worth to read?

kamu sendiri ngga bikin?

daku bukan tidak maooo.. daku dikekang oleh waktu.. diikat oleh inspirasi :P

:haha