max
August 14, 2003, 11:02
Cirebon, Kamis, 14 Agustus 2003 17:00
Kekeringan di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat ternyata berdampak serius, bahkan mengakibatkan banyak warga masyarakat yang tidak lagi mampu membeli beras sehingga warga miskin di Cirebon mulai mengonsumsi nasi sisa yang dikeringkan (sega aking).
Keterangan yang dikumpulkan Antara di lapangan, Kamis menyebutkan, sedikitnya seratus orang warga masyarakat Blok Dedali, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon sejak dua bulan terakhir mengkonsumsi sega aking sebagai salah satu alternatif pengganti beras.
Di Blok Dedali, terdapat empat Rukun Tetangga (RT) yang sebagian besar warganya mengkonsumsi nasi bekas yang dikeringkan. Bahkan terdapat 10 wanita lanjut usia yang tidak berdaya untuk membeli beras dengan alasan tidak ada uang.
Mereka adalah Ny Riyem, Ratih, Kartini, Sarinih, Watem, Wadasih, Kalsubi, Warim, Sardewi, dan Sardani. Menurut Ketua RT 19 Blok Dedali, Danu Wirgi, sejak dua bulan terakhir warganya sudah mengkonsumsi nasi yang dikeringkan.
"Berdasarkan data yang dimiliki, dari 125 orang terdapat 75 warga yang mengkonsumsi sega aking," paparnya.
Warganya, kata Danu, mengkonsumsi sega aking sehari hanya satu kali. Nasi yang dibeli dari pasar Singakerta Indramayu seharga Rp800 perkilogram dimakan dengan lauk berupa ikan asin atau terasi bakar. "Makan nasi aking sudah berlangsung dua bulan yang lalu," jelas Danu Wirgi.
Sementara itu, di RT 21, sebagian besar warganya juga mengkonsumsi sega aking sebagai pengganti beras. Menurut Ketua RT 21 Blok Dedali, Syair, dipilihnya sega aking karena harganya terjangkau oleh warganya.
Menurut Syair, sebelumnya warganya tidak pernah mengkonsumsi nasi kering tersebut. Ia menyontohkan, pada musim kemarau tahun lalu, warganya masih bisa membeli beras.
Untuk tahun ini, kata Syair, warga yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan buruh derep (panen) ini mengaku tidak memiliki penghasilan apa-apa karena sawah yang menjadi andalannya tidak menghasilkan.
"Saat ini yang dipanen tidak ada sehingga mereka tidak mendapatkan upah," jelas Syair.
Syair mengaku sampai saat ini bantuan dari pemerintah desa atau pemerintah Kabupaten Cirebon belum diterimanya, padahal warganya sangat membutuhkan bantuan tersebut.
"Sampai saat ini bantuan pemerintah belum pernah kami terima, bilapun ada kami sangat membutuhkan," ujarnya.
Kekeringan di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat ternyata berdampak serius, bahkan mengakibatkan banyak warga masyarakat yang tidak lagi mampu membeli beras sehingga warga miskin di Cirebon mulai mengonsumsi nasi sisa yang dikeringkan (sega aking).
Keterangan yang dikumpulkan Antara di lapangan, Kamis menyebutkan, sedikitnya seratus orang warga masyarakat Blok Dedali, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon sejak dua bulan terakhir mengkonsumsi sega aking sebagai salah satu alternatif pengganti beras.
Di Blok Dedali, terdapat empat Rukun Tetangga (RT) yang sebagian besar warganya mengkonsumsi nasi bekas yang dikeringkan. Bahkan terdapat 10 wanita lanjut usia yang tidak berdaya untuk membeli beras dengan alasan tidak ada uang.
Mereka adalah Ny Riyem, Ratih, Kartini, Sarinih, Watem, Wadasih, Kalsubi, Warim, Sardewi, dan Sardani. Menurut Ketua RT 19 Blok Dedali, Danu Wirgi, sejak dua bulan terakhir warganya sudah mengkonsumsi nasi yang dikeringkan.
"Berdasarkan data yang dimiliki, dari 125 orang terdapat 75 warga yang mengkonsumsi sega aking," paparnya.
Warganya, kata Danu, mengkonsumsi sega aking sehari hanya satu kali. Nasi yang dibeli dari pasar Singakerta Indramayu seharga Rp800 perkilogram dimakan dengan lauk berupa ikan asin atau terasi bakar. "Makan nasi aking sudah berlangsung dua bulan yang lalu," jelas Danu Wirgi.
Sementara itu, di RT 21, sebagian besar warganya juga mengkonsumsi sega aking sebagai pengganti beras. Menurut Ketua RT 21 Blok Dedali, Syair, dipilihnya sega aking karena harganya terjangkau oleh warganya.
Menurut Syair, sebelumnya warganya tidak pernah mengkonsumsi nasi kering tersebut. Ia menyontohkan, pada musim kemarau tahun lalu, warganya masih bisa membeli beras.
Untuk tahun ini, kata Syair, warga yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan buruh derep (panen) ini mengaku tidak memiliki penghasilan apa-apa karena sawah yang menjadi andalannya tidak menghasilkan.
"Saat ini yang dipanen tidak ada sehingga mereka tidak mendapatkan upah," jelas Syair.
Syair mengaku sampai saat ini bantuan dari pemerintah desa atau pemerintah Kabupaten Cirebon belum diterimanya, padahal warganya sangat membutuhkan bantuan tersebut.
"Sampai saat ini bantuan pemerintah belum pernah kami terima, bilapun ada kami sangat membutuhkan," ujarnya.