Enche
August 04, 2003, 12:04
Chung Mon-Hun, Presiden direktur Hyundai Asian Co, bunuh diri
dengan menjatuhkan diri dari kantornya di lantai 12 di pusat kota
Seoul. Para pejabat Hyundai Asan hingga saat ini tak dapat
dihubungi untuk dimintai keterangannya.
---------------------------------------------------------------------------------
Alasan bunuh diri Chung sampai saat ini belum diketahui, namun
dikabarkan ia sempat meninggalkan surat wasiat.
Chung disebut-sebut terlibat dalam skandal yang menyangkut
mantan Presiden Kim Dae-Jung yang dikatakan telah mengirim
jutaan dolar AS untuk keamanan pertemuan puncak dua Korea.
Kasus itu tersorot dengan besaran jumlah uang sebanyak
US$500 juta yang ditransfer ke Pyongyang oleh Hyundai Group
sebelum pertemuan puncak 2000.
Pihak Hyundai mengatakan uang tersebut adalah pembayaran
bagi hak monopoli dunia pariwisata dan beberapa proyek lainnya
di negara yang terletak dibagian utara semenanjung Korea.
Namun hasil penyelidikan menemukan sejumlah bukti bahwa
uang yang ditransfer termasuk US$100 juta di antaranya yang
dikatakan berasal dari pemerintahan Seoul saat itu, digunakan
untuk penyelenggaraan pertemuan puncak pemimpin dua Korea
sebagai "uang sogokan
dengan menjatuhkan diri dari kantornya di lantai 12 di pusat kota
Seoul. Para pejabat Hyundai Asan hingga saat ini tak dapat
dihubungi untuk dimintai keterangannya.
---------------------------------------------------------------------------------
Alasan bunuh diri Chung sampai saat ini belum diketahui, namun
dikabarkan ia sempat meninggalkan surat wasiat.
Chung disebut-sebut terlibat dalam skandal yang menyangkut
mantan Presiden Kim Dae-Jung yang dikatakan telah mengirim
jutaan dolar AS untuk keamanan pertemuan puncak dua Korea.
Kasus itu tersorot dengan besaran jumlah uang sebanyak
US$500 juta yang ditransfer ke Pyongyang oleh Hyundai Group
sebelum pertemuan puncak 2000.
Pihak Hyundai mengatakan uang tersebut adalah pembayaran
bagi hak monopoli dunia pariwisata dan beberapa proyek lainnya
di negara yang terletak dibagian utara semenanjung Korea.
Namun hasil penyelidikan menemukan sejumlah bukti bahwa
uang yang ditransfer termasuk US$100 juta di antaranya yang
dikatakan berasal dari pemerintahan Seoul saat itu, digunakan
untuk penyelenggaraan pertemuan puncak pemimpin dua Korea
sebagai "uang sogokan