aleks75012
July 20, 2003, 10:49
Menurut kamu-kamu, apakah sebuah langkah maju atau mundur bagi perdamaian di kawasan ASEAN? (sumber:kompas)
Mahathir tak Dukung Penuh Usul Pakta Keamanan ASEAN
Kuala Lumpur, Minggu
PM Malaysia Mahathir Mohammad menyatakan dukungannya bagi usul pembentukan sebuah pakta keamanan ASEAN yang diusulkan Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN terakhir walau tidak sepenuhnya.
Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, Minggu (20/7), pemimpin veteran di kawasan ASEAN ini mengatakan usul pembentukan Masyarakat Keamanan
ASEAN (ASC) itu bagaimanapun jangan sampai memasukkan pakta pertahanan dan perjanjian-perjanjian mengingat bagi 10 anggota ASEAN.
"Kalau hanya untuk memerangi terorisme, ya, tapi perjanjian keamanan seperti suatu pakta pertahanan atau sejenisnya, saya kira itu bukan sesuatu yang kami ingin terlibat," kata Mahathir.
Berbicara dengan kata-kata bersayap, Mahathir mengemukakan alasan masing-masing (anggota ASEAN) punya pemikiran berbeda-beda. Ada yang menginginkan armada besar yang mengawal kawasan ini, namun Malaysia ingin tetap independen.
Indonesia menyampaikan usul ASC itu dalam pertemuan menteri luar negerinya tahun ini, dengan dasar pertimbangan ancaman yang berkembang di kawasan ini semakin membuat masalah kedaulatan tidak lagi prioritas.
Indonesia menyampaikan gagasan itu juga berlandaskan pada peristiwa serangan teroris ke Bali yang menewaskan sekitar 200 orang, kebanyakan warga Barat, khususnya Australia.
Selain itu, serangan besar kaum teroris ke kota New York dan Washington pada 11 September 2001 yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. ASC yang diusulkan itu mencakup pusat-pusat untuk memerangi terorisme, pelatihan penjagaan perdamaian dan pusat kerjasama dalam isu-isu non-konvensional dan pertemuan-pertemuan reguler kepolisian dan menteri pertahanan ASEAN.
Selain Malaysia, Filipina juga telah menyuarakan sikap hati-hati terhadap usul tersebut walau secara umum gagasan ini telah mendapat dukungan kuat di kalangan ASEAN lainnya dan Amerika Serikat serta Australia.
Gagasan itu diperkirakan akan semakin luas memperoleh dukungan tahun depan saat Indonesia mengambilalih kepemimpinan ASEAN. (Ant/edj)
Mahathir tak Dukung Penuh Usul Pakta Keamanan ASEAN
Kuala Lumpur, Minggu
PM Malaysia Mahathir Mohammad menyatakan dukungannya bagi usul pembentukan sebuah pakta keamanan ASEAN yang diusulkan Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN terakhir walau tidak sepenuhnya.
Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, Minggu (20/7), pemimpin veteran di kawasan ASEAN ini mengatakan usul pembentukan Masyarakat Keamanan
ASEAN (ASC) itu bagaimanapun jangan sampai memasukkan pakta pertahanan dan perjanjian-perjanjian mengingat bagi 10 anggota ASEAN.
"Kalau hanya untuk memerangi terorisme, ya, tapi perjanjian keamanan seperti suatu pakta pertahanan atau sejenisnya, saya kira itu bukan sesuatu yang kami ingin terlibat," kata Mahathir.
Berbicara dengan kata-kata bersayap, Mahathir mengemukakan alasan masing-masing (anggota ASEAN) punya pemikiran berbeda-beda. Ada yang menginginkan armada besar yang mengawal kawasan ini, namun Malaysia ingin tetap independen.
Indonesia menyampaikan usul ASC itu dalam pertemuan menteri luar negerinya tahun ini, dengan dasar pertimbangan ancaman yang berkembang di kawasan ini semakin membuat masalah kedaulatan tidak lagi prioritas.
Indonesia menyampaikan gagasan itu juga berlandaskan pada peristiwa serangan teroris ke Bali yang menewaskan sekitar 200 orang, kebanyakan warga Barat, khususnya Australia.
Selain itu, serangan besar kaum teroris ke kota New York dan Washington pada 11 September 2001 yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. ASC yang diusulkan itu mencakup pusat-pusat untuk memerangi terorisme, pelatihan penjagaan perdamaian dan pusat kerjasama dalam isu-isu non-konvensional dan pertemuan-pertemuan reguler kepolisian dan menteri pertahanan ASEAN.
Selain Malaysia, Filipina juga telah menyuarakan sikap hati-hati terhadap usul tersebut walau secara umum gagasan ini telah mendapat dukungan kuat di kalangan ASEAN lainnya dan Amerika Serikat serta Australia.
Gagasan itu diperkirakan akan semakin luas memperoleh dukungan tahun depan saat Indonesia mengambilalih kepemimpinan ASEAN. (Ant/edj)