begawan
July 15, 2003, 15:21
+ Pantas saja senja itu menjadi pucat. Umurmu baru 19 tahun.
- Tidak. Senja itu pucat karena lampu-lampu jalan terlalu cepat dinyalakan, bahkan sebelum gelap benar-benar datang. Dan kau, perempuan tua yang masih perawan. Berapa umurmu?
+ Aku sudah terlahir sejak buyutnya nenekmu masih menetek, jadi jangan tanya umurku, sebab kau takkan mampu menghitungnya, sebagaimana kau takkan pernah mampu menghitung helai rambutku atau jumlah gerimis yang turun.
- Lalu mengapa kau masih perawan? Tidakkah kau menikah dan suamimu menyetubuhimu pada malam pertama yang menjadi impian itu.
+ Tidak ada pernikahan dalam benakku. Tidak ada nilai laki-laki bagiku, sebab manusia adalah sama adanya. Tidak ada persetubuhan yang konon kalian impikan itu. Ia tidak tumbuh dalam diriku sebagaimana menggelegak dalam diri kalian. Birahi. Kau tahu, nak. Terletak pada kelopak matamu, bukan selangkangan. Birahi, terletak pada sebongkah bagian tubuh yang kita sebut otak. Tidak pada payudara atau bokong. Birahi, seperti magma yang menggelegak dalam tubuh-tubuh remaja sepertimu. Tapi, sekali lagi, ia tak tumbuh dalam diriku.
- Bukankah kau juga manusia seperti kami? Jelas, seharusnya kau juga punya birahi. Ayolah, jangan main rahasia donk, sama aku. Kamu sudah tidak perawan, kan? Kamu hanya mengaku-ngaku masih perawan supaya kau dianggap suci serupa Maria bila nanti tiba-tiba punya anak. Padahal kau telah menyesah birahimu dengan lelaki-lelaki liar yang selalu lewat di depan rumahmu.
+ Aku tidak dilahirkan melalui vagina sebagaimana dirimu. Benihku tidak dibentuk oleh pertemuan sperma dan sel telur. Aku tidak terlahir dari birahi. Maka layak pula aku tidak punya birahi.
- Kau bercanda.
+ Aku dilahirkan oleh perselingkuhan angin, hujan dan panas. 3 unsur kehidupan yang kalian butuhkan. Kau bisa bayangkan betapa berharganya aku. Mengapa aku harus menyerahkan diriku diperkosa sedemikian rupa atas nama cinta yang kalian agung-agungkan itu?
- Jangan menipuku. Mana ada orang yang lahir dari air, angin dan panas.
+ Kau lahir dari berahi melalui persetubuhan. Tidakkah sperma itu air? Tidakkah Ibumu mengeluarkan cairan ketika orgasme? Tidakkah air kencing itu air? Bukankah liur itu air? Bibir-bibir yang berpagutan. Dan kentut itu angin. Ayahmu kadang-kadang menyesah dubur. Kentut keluar dari dubur. Kau hidup dari angin. Dan panas memberimu kehidupan. Mengapa kau mengingkarinya?
- Lalu berapa usiamu? Sebab kau tidak terlihat tua. Kalau kau lahir ketika buyut nenekku masih menetek, seharusnya kau sudah mati sebagaimana mereka juga sudah mati.
+ Sebab aku dilahirkan ketika bulan padam. Laut diam. Ketika tuhan menyadari bahwa ia salah telah membuang Adam dan Hawa ke Bumi, sebab Adam terus menangisi masa. Sampai sekarang. Sebab Adam adalah kekasih tuhan.
- Oh, tuhan itu homoseksual, ya?
+ Dia biseks. Dia juga menyukai Hawa, sebab itu ia menciptakannya. Dia sebenarnya cemburu sebab Hawa menyukai Adam. Kalian lahir dari kecemburuan itu. Kebencian purba terhadap persetubuhan, birahi dan selangkangan. Makanya dia melarang orang bersetubuh sesuka hati. Tololnya ia menciptakan selangkangan yang berpusat pada syaraf-syaraf yang sensitif. Ia menciptakan apa saja yang bisa memancing berahi. Tuhan itu mungkin masochis. Dia menikmati waktu-waktu, ketika malaikat bekerja mencatat kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan selangkangan. Bahkan mungkin sambil masturbasi. Membayangkan dia mencambuki kalian dalam keadaan telanjang. Tapi dia merasa terlalu suci untuk berlaku demikian. Malaikat-malaikat malang itulah yang akhirnya menjadi tameng. Dia menciptakan mereka tanpa kelamin, entah tanpa rupa. Tanpa birahi. Supaya tak tergoda bujukan perempuan-perempuan. Ibu, kakak, nenek kalian.
- Tapi mengapa kau tak menjadi tua? Apa kau juga
mengalami masa kanak-kanak.
+ Aku melewati semua masa sebagaimana kau, sampai payudaraku penuh dan bulu pubis mulai tumbuh di selangkangan. Sesudah itu waktu menjadi diam. Matahari tidak mampu memaksaku berotasi sebagaimana bumi. Tidak ada yang mampu membuatku lelah, apalagi tua.
- Berarti kau pernah puber donk. Siapa yang pernah jadi pacarmu.
+ Anak bodoh. Kan aku sudah katakan, aku tidak punya birahi. Sejak dilahirkan sampai sekarang. Angin, hujan dan panas tidak bercinta sebagaimana Ibu dan Bapakmu bersenggama. Mereka tidak mewarisi aku hal-hal yang sengaja diciptakan tuhan untuk menjebak manusia, sebagaimana kalian selalu terjebak berulang-ulang. Ibu Bapakmu terlena dengan impian akan tanggungjawab yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka. Kalian adalah kedok dari nafsu birahi mereka. Kalian korban yang menenaskan, menanggung dosa-dosa yang seharusnya ditanggung sendiri oleh tuhan.
- Tidak. Senja itu pucat karena lampu-lampu jalan terlalu cepat dinyalakan, bahkan sebelum gelap benar-benar datang. Dan kau, perempuan tua yang masih perawan. Berapa umurmu?
+ Aku sudah terlahir sejak buyutnya nenekmu masih menetek, jadi jangan tanya umurku, sebab kau takkan mampu menghitungnya, sebagaimana kau takkan pernah mampu menghitung helai rambutku atau jumlah gerimis yang turun.
- Lalu mengapa kau masih perawan? Tidakkah kau menikah dan suamimu menyetubuhimu pada malam pertama yang menjadi impian itu.
+ Tidak ada pernikahan dalam benakku. Tidak ada nilai laki-laki bagiku, sebab manusia adalah sama adanya. Tidak ada persetubuhan yang konon kalian impikan itu. Ia tidak tumbuh dalam diriku sebagaimana menggelegak dalam diri kalian. Birahi. Kau tahu, nak. Terletak pada kelopak matamu, bukan selangkangan. Birahi, terletak pada sebongkah bagian tubuh yang kita sebut otak. Tidak pada payudara atau bokong. Birahi, seperti magma yang menggelegak dalam tubuh-tubuh remaja sepertimu. Tapi, sekali lagi, ia tak tumbuh dalam diriku.
- Bukankah kau juga manusia seperti kami? Jelas, seharusnya kau juga punya birahi. Ayolah, jangan main rahasia donk, sama aku. Kamu sudah tidak perawan, kan? Kamu hanya mengaku-ngaku masih perawan supaya kau dianggap suci serupa Maria bila nanti tiba-tiba punya anak. Padahal kau telah menyesah birahimu dengan lelaki-lelaki liar yang selalu lewat di depan rumahmu.
+ Aku tidak dilahirkan melalui vagina sebagaimana dirimu. Benihku tidak dibentuk oleh pertemuan sperma dan sel telur. Aku tidak terlahir dari birahi. Maka layak pula aku tidak punya birahi.
- Kau bercanda.
+ Aku dilahirkan oleh perselingkuhan angin, hujan dan panas. 3 unsur kehidupan yang kalian butuhkan. Kau bisa bayangkan betapa berharganya aku. Mengapa aku harus menyerahkan diriku diperkosa sedemikian rupa atas nama cinta yang kalian agung-agungkan itu?
- Jangan menipuku. Mana ada orang yang lahir dari air, angin dan panas.
+ Kau lahir dari berahi melalui persetubuhan. Tidakkah sperma itu air? Tidakkah Ibumu mengeluarkan cairan ketika orgasme? Tidakkah air kencing itu air? Bukankah liur itu air? Bibir-bibir yang berpagutan. Dan kentut itu angin. Ayahmu kadang-kadang menyesah dubur. Kentut keluar dari dubur. Kau hidup dari angin. Dan panas memberimu kehidupan. Mengapa kau mengingkarinya?
- Lalu berapa usiamu? Sebab kau tidak terlihat tua. Kalau kau lahir ketika buyut nenekku masih menetek, seharusnya kau sudah mati sebagaimana mereka juga sudah mati.
+ Sebab aku dilahirkan ketika bulan padam. Laut diam. Ketika tuhan menyadari bahwa ia salah telah membuang Adam dan Hawa ke Bumi, sebab Adam terus menangisi masa. Sampai sekarang. Sebab Adam adalah kekasih tuhan.
- Oh, tuhan itu homoseksual, ya?
+ Dia biseks. Dia juga menyukai Hawa, sebab itu ia menciptakannya. Dia sebenarnya cemburu sebab Hawa menyukai Adam. Kalian lahir dari kecemburuan itu. Kebencian purba terhadap persetubuhan, birahi dan selangkangan. Makanya dia melarang orang bersetubuh sesuka hati. Tololnya ia menciptakan selangkangan yang berpusat pada syaraf-syaraf yang sensitif. Ia menciptakan apa saja yang bisa memancing berahi. Tuhan itu mungkin masochis. Dia menikmati waktu-waktu, ketika malaikat bekerja mencatat kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan selangkangan. Bahkan mungkin sambil masturbasi. Membayangkan dia mencambuki kalian dalam keadaan telanjang. Tapi dia merasa terlalu suci untuk berlaku demikian. Malaikat-malaikat malang itulah yang akhirnya menjadi tameng. Dia menciptakan mereka tanpa kelamin, entah tanpa rupa. Tanpa birahi. Supaya tak tergoda bujukan perempuan-perempuan. Ibu, kakak, nenek kalian.
- Tapi mengapa kau tak menjadi tua? Apa kau juga
mengalami masa kanak-kanak.
+ Aku melewati semua masa sebagaimana kau, sampai payudaraku penuh dan bulu pubis mulai tumbuh di selangkangan. Sesudah itu waktu menjadi diam. Matahari tidak mampu memaksaku berotasi sebagaimana bumi. Tidak ada yang mampu membuatku lelah, apalagi tua.
- Berarti kau pernah puber donk. Siapa yang pernah jadi pacarmu.
+ Anak bodoh. Kan aku sudah katakan, aku tidak punya birahi. Sejak dilahirkan sampai sekarang. Angin, hujan dan panas tidak bercinta sebagaimana Ibu dan Bapakmu bersenggama. Mereka tidak mewarisi aku hal-hal yang sengaja diciptakan tuhan untuk menjebak manusia, sebagaimana kalian selalu terjebak berulang-ulang. Ibu Bapakmu terlena dengan impian akan tanggungjawab yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka. Kalian adalah kedok dari nafsu birahi mereka. Kalian korban yang menenaskan, menanggung dosa-dosa yang seharusnya ditanggung sendiri oleh tuhan.