aleks75012
June 17, 2003, 17:28
Berita yg cukup menyedihkan.
Para Pekerja Seks Memulai Profesinya Sejak Usia 10 Tahun
Laporan : Lily Bertha Kartika
Jakarta,KCM
Kebanyakan perempuan pekerja seks yang berasal dari Indramayu, Banyuwangi dan Jepara sudah memulai profesinya sejak berusia 10 tahun. Selama melakukan pekerjaannya, 50,8 persen di antaranya pernah hamil diluar nikah.
Berdasarkan data dari Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKBM) Universitas Atma Jaya, Jakarta, Selasa (17/6), Banyuwangi menempati prosentase tertinggi banyaknya perempuan pekerja seks dalam rumah tangga yang berasal dari daerah itu.Sementara, Indramayu dan Jepara masing-masing sebanyak 64,8 persen dan 59,1 persen perempuan pekerja seks (PPS) dalam rumah tangga.
Kontribusi besar
Selain itu, penelitian yang dilakukan sejak akhir November 2002 sampai pertengahan Febuari 2003 menunjukkan, PPS seks memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan rumah tangga. Di Indramayu, misalnya, para pekerja seks itu memberikan kontribusi minimal Rp. 620.000,- setiap bulan bagi keluarganya. Sementara, pekerja seks di Banyuwangi dan Jepara masing-masing memberikan Rp. 595.000,- dan Rp. 551.000,- setiap bulannya. Namun demikian, dilihat dari prosentase keseluruhan, PPS di Banyuwangi berkontribusi paling tinggi dalam pendapatan ekonomi keluarga, yaitu 49,84 persen.
Penelitian ini memfokuskan pada tiga wilayah asal para pekerja seks, yaitu Kecamatan Gemerlap, Indramayu, Kecamatan Krisna, Desa Upik, Jepara dan Kecamatan Srikandi, Banyuwangi. Di daerah asal Indramayu, dari 59 di antara rumah tangga yang diteliti mempunyai PPS. Sementara di Jepara, 36 dari 100 rumah tangga mempunyai PPS. Di Banyuwangi, 28 dari 100 rumah tangga mempunyai PPS.
Para pekerja seks dari tiga wilayah ini mempunyai tempat kerja beragam di Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Dari 211 PPS yang bekerja di lokalisasi, 53 di antaranya di Jakarta, 57 di Bandung, 49 di Semarang dan 52 di Surabaya. Sementara, dari 41 orang yang bekerja di pub, karaoke, cafe atau bar, 17 di antaranya di Surabaya, sembilan di Semarang, delapan di Jakarta dan tujuh di Bandung.
Lalu, PPS yang bekerja di jalanan sebanyak 58 orang, yaitu 19 di Jakarta, 17 di Semarang, dan 11 masing-masing di Bandung dan Surabaya. Selain itu, 20 orang PPS bekerja di panti pijat di Jakarta, 25 di Semarang, 12 di Surabaya dan 21 Bandung.
Pernah hamil di luar nikah
Dari sisi kesehatan reproduksi , data penelitian ini menyebutkan 50,8 persen dari responden mengaku pernah hamil tanpa mereka inginkan. Hal ini salah satunya karena 61,1 persen di antara responden PPS tidak pernah menggunakan kondom.
Selain itu, PPS yang rata-rata telah menjalani profesinya sejak berusia sepuluh tahun itu ditengarai mengalami berbagai penyakit kelamin. Dari data PKBM terlihat, 4,80 persen PPS mengalami Gonorchea, 2,80 persen Herpes Genitalis, 2,80 persen Condiloma, 1,5 persen jengger ayam dan 1,30 persen Siphylis. Dilihat dari cara mereka mencegah penyakit itu, terdapat pernyataan beragam. mereka yang menderita Herpes, misalnya, 63,6 persen mengaku berobat ke klinik dan hanya 27,3 persen tidak melakukan tindakan apa pun. Sementara, semua responden yang menderita Syphilis mengaku berobat ke klinik.(lbk)
Para Pekerja Seks Memulai Profesinya Sejak Usia 10 Tahun
Laporan : Lily Bertha Kartika
Jakarta,KCM
Kebanyakan perempuan pekerja seks yang berasal dari Indramayu, Banyuwangi dan Jepara sudah memulai profesinya sejak berusia 10 tahun. Selama melakukan pekerjaannya, 50,8 persen di antaranya pernah hamil diluar nikah.
Berdasarkan data dari Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKBM) Universitas Atma Jaya, Jakarta, Selasa (17/6), Banyuwangi menempati prosentase tertinggi banyaknya perempuan pekerja seks dalam rumah tangga yang berasal dari daerah itu.Sementara, Indramayu dan Jepara masing-masing sebanyak 64,8 persen dan 59,1 persen perempuan pekerja seks (PPS) dalam rumah tangga.
Kontribusi besar
Selain itu, penelitian yang dilakukan sejak akhir November 2002 sampai pertengahan Febuari 2003 menunjukkan, PPS seks memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan rumah tangga. Di Indramayu, misalnya, para pekerja seks itu memberikan kontribusi minimal Rp. 620.000,- setiap bulan bagi keluarganya. Sementara, pekerja seks di Banyuwangi dan Jepara masing-masing memberikan Rp. 595.000,- dan Rp. 551.000,- setiap bulannya. Namun demikian, dilihat dari prosentase keseluruhan, PPS di Banyuwangi berkontribusi paling tinggi dalam pendapatan ekonomi keluarga, yaitu 49,84 persen.
Penelitian ini memfokuskan pada tiga wilayah asal para pekerja seks, yaitu Kecamatan Gemerlap, Indramayu, Kecamatan Krisna, Desa Upik, Jepara dan Kecamatan Srikandi, Banyuwangi. Di daerah asal Indramayu, dari 59 di antara rumah tangga yang diteliti mempunyai PPS. Sementara di Jepara, 36 dari 100 rumah tangga mempunyai PPS. Di Banyuwangi, 28 dari 100 rumah tangga mempunyai PPS.
Para pekerja seks dari tiga wilayah ini mempunyai tempat kerja beragam di Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Dari 211 PPS yang bekerja di lokalisasi, 53 di antaranya di Jakarta, 57 di Bandung, 49 di Semarang dan 52 di Surabaya. Sementara, dari 41 orang yang bekerja di pub, karaoke, cafe atau bar, 17 di antaranya di Surabaya, sembilan di Semarang, delapan di Jakarta dan tujuh di Bandung.
Lalu, PPS yang bekerja di jalanan sebanyak 58 orang, yaitu 19 di Jakarta, 17 di Semarang, dan 11 masing-masing di Bandung dan Surabaya. Selain itu, 20 orang PPS bekerja di panti pijat di Jakarta, 25 di Semarang, 12 di Surabaya dan 21 Bandung.
Pernah hamil di luar nikah
Dari sisi kesehatan reproduksi , data penelitian ini menyebutkan 50,8 persen dari responden mengaku pernah hamil tanpa mereka inginkan. Hal ini salah satunya karena 61,1 persen di antara responden PPS tidak pernah menggunakan kondom.
Selain itu, PPS yang rata-rata telah menjalani profesinya sejak berusia sepuluh tahun itu ditengarai mengalami berbagai penyakit kelamin. Dari data PKBM terlihat, 4,80 persen PPS mengalami Gonorchea, 2,80 persen Herpes Genitalis, 2,80 persen Condiloma, 1,5 persen jengger ayam dan 1,30 persen Siphylis. Dilihat dari cara mereka mencegah penyakit itu, terdapat pernyataan beragam. mereka yang menderita Herpes, misalnya, 63,6 persen mengaku berobat ke klinik dan hanya 27,3 persen tidak melakukan tindakan apa pun. Sementara, semua responden yang menderita Syphilis mengaku berobat ke klinik.(lbk)