View Full Version : PRIA DIATAS TIMBA : saduran karya KAFKA







begawan
June 06, 2003, 20:27
Batu bara di rumahku telah benar-benar habis; timba kosong; sekop terdiam; kompor mengeluarkan nafas dingin; kamar membeku; dedaunan di luar jendela membeku, tertutup embun beku. Langit telah berubah menjadi perisai berwarna perak. Aku harus memiliki batu bara; aku tidak boleh mati membeku. Kompor yang merana itu berdiri di belakangku, sedangkan di depanku terbentang langit yang merana pula, aku harus berjalan di antara mereka untuk mendapatkan bantuan dari penjual batu bara. Tetapi penjual batu bara itu sekarang telah menjadi tuli. Aku harus berusaha keras untuk membuat dia percaya bahwa batu bara di rumahku benar-benar habis, seperti dia percaya kepada matahari yang terbit di cakrawala setiap hari. Aku harus meyakinkan dia seperti seorang pengemis dengan ular berbisa melingkari lehernya, yang sekarat di depan pintu masuk, seperti orang-orang yang mendapatkan ampas kopi dari koki-koki orang besar. Hingga akhirnya penjual batu bara itu akan melemparkan satu sekop penuh batu bara ke dalam timbaku sambil berkata :"berjanjilah bahwa kamu tidak akan membunuh"

Gaya kedatanganku harus bisa menjelaskan permasalahan ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengendarai timba itu. Aku duduk di atas timba, tanganku berpegang erat di tangkainya, bentuk yang paling sederhana dari sebuah pengekangan. Aku bergerak menuruni tangga dengan kesulitan, tetapi begitu tiba di bawah, timbaku bergerak naik, dengan gagahnya, seperti unta-unta yang sedang berjongkok di tanah menggoyang-goyangkan tubuh mereka di bawah tongkat majikan mereka. Kami bergerak melalui jalanan yang membeku seperti kuda yang melaju. Aku tidak pernah bergerak sejajar dengan pintu rumah, tetapi selalu paling tidak melayang hingga sejajar dengan lantai pertama rumah. Akhirnya aku melayang pada ketinggian yang luar biasa di atas gudang bawah tanah rumah penjual batu bara itu. Aku bisa melihat dia sedang membuka pintu gudang untuk mengeluarkan hawa panas batu baranya.

"Permisi !" teriakku keras-keras dengan suara membakar "permisi, saya ingin membeli batu bara. Timba ini begitu ringan hingga aku dapat menaikinya. Saya akan segera membayarmu !".

Penjual batu bara itu kelihatan terkejut dan menempelkan tangannya di telinga. "Suara apa itu?" katanya. Dia kemudian bertanya pada istrinya. "Sayang, aku mendengar sesuatu, sepertinya seorang pelanggan".

"Aku tidak mendengar apa-apa" balas istrinya sambil terus menyulam, punggungnya terlihat hangat dari atas sini.

"Kamu benar! Itu tadi suaraku!" Aku berteriak keras-keras. "Ini aku! pelangganmu yang setia dan jujur".

Penjual batu bara itu masih saja kebingungan dan bertanya kepada istrinya "Itu tadi suara seseorang, pelangganku, telingaku tidak akan menipu separah tadi. Dia pasti adalah pelanggan yang sudah sangat tua".

"Ada apa denganmu?" ujar istrinya sambil menghentikan pekerjaannya dan menempelkan sulamannya di dadanya.

"Tidak ada siapa-siapa di luar sana sayang, jalanan terlihat sepi. Semua pelanggan kita sudah memiliki persediaan batu bara, kita harus segera menutup toko untuk beberapa hari untuk istirahat".

"Tetapi aku berdiri di atas sini sambil membawa timba" teriakku sambil meneteskan air mata yang membuat wajahku semakin suram. "Lihatlah ke atas sini sekali saja dan kalian akan melihatku dengan jelas. Tolonglah, satu sekop saja dan jika kalian memberiku aku akan sangat bahagia sampai-sampai aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua pelanggan sudah memiliki persediaan yang cukup, sementara aku? Oh, seandainya saja aku dapat mendengar batu bara itu bergemerincing di dalam timbaku!".

"Baiklah, aku ke sana" kata penjual batu bara itu, dengan kakinya yang pendek dia berjalan menaiki tangga, tetapi kemudian istrinya memegang lengannya dan berkata :"Tidak, kamu harus tetap di sini, apalagi jika kamu tetap berkhayal seperti itu, lagipula batukmu masih belum sembuh sejak tadi malam. Dan ingat, setiap kali kamu mulai mengkhayalkan satu hal saja, maka kamu akan mulai melupakan istri dan anakmu, dan mengorbankan paru-parumu. Kamu tunggu di sini saja, aku yang akan mendatangi pelanggan itu".

"Kalau begitu tolong beritahukan semua jenis batu bara yang kita miliki kepada pelanggan itu, aku akan memberitahu harga setiap jenisnya kepadamu dengan berteriak" balas sang suami.

"Baiklah!" kata istrinya sambil berjalan keluar. Dia melihatku, dan aku segera berteriak "Nyonya!, tolonglah saya, satu sekop saja, saya akan langsung membawanya pulang. Satu sekop batu bara yang burukpun tidak jadi masalah, saya akan membayarmu penuh, tapi saya mohon, jangan untuk sekali ini saja, jangan untuk sekali ini saja". Ucapanku tadi seperti bunyi lonceng, yang berbunyi berulang kali. Suara lonceng itu akan terdengar membingungkan apabila bercampur dengan suara genta-genta Gereja terdekat yang dibunyikan setiap sore hari.

"Apa yang dia inginkan?" teriak suaminya dari bawah, "Tidak, aku tidak melihat apa-apa" balas sang istri "aku juga tidak mendengar apa-apa selain suara lonceng sebanyak enam kali. Dan sepertinya kita harus menutup toko, hawanya semakin dingin, lagipula masih banyak yang harus kita lakukan besok".

Dia tidak melihat dan mendengar apa-apa, tetapi dia kemudian melonggarkan rok kerjanya dan melemparkannya untuk mengusirku, dan berhasil. Timbaku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan, hal ini membuat timbaku menjadi sangat ringan, rok kerja perempuan itu membuat timbaku membubung tinggi.

"Perempuan jahat!" teriakku, tetapi dia malah memalingkan mukanya dan berjalan masuk ke tokonya sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya kepadaku seolah-olah sedang berusaha menentramkan hatiku dan merendahkan diriku dalam waktu yang bersamaan. "Dasar perempuan jahat!, aku sudah memohon-mohon untuk satu sekop batu bara, bahkan batu bara yang paling buruk sekalipun tapi kamu tetap tidak mau memberiku". Dan sejak saat itu aku membubung tinggi bersama timbaku ke daerah gunung es dan hilang untuk selamanya.

Disadur oleh : L. Onny Wiranda

diambil dari situs www.bumimanusia.or.id