View Full Version : Cerpen Arwan Maulana
Arwan
December 25, 2002, 14:55
Terdampar Dalam Kerinduan Hampa
Kerinduan itu begitu menohok, teranyam detik demi detik hanya untuk menunggu saat memugar rindu bersama. Cipto berangan Asih masih menunggunya dirumah kecil dengan taman bunga seribu janji tempat mereka menuangkan anggur dalam cawan cinta. Bergelas-gelas kemilau dunia mimpi yang menyilaukan pandangan nanar mengusik kegamangan akan sebuah cita dan cinta. Cipto ketakutan bahwa dia tak lagi dapat berkuasa atas mimpi-mimpinya. Dalam rangkaian hari yang mengendapkan rasa sepi hingga membatu. Dan kenapa sepi itu membongkar angan akan sejuta haru ? Setiap debu yang diayun manja angin siang, di setiap tingkat dan lembaran langit, di setiap gumpalan awan memerah saat matahari mencium mesra cakrawala, dan di setiap catatan dihelai malam. Cipto mersakan bagai terkapar di bawah kubah langit, berhari-hari bahkan hingga detik ini. Sungguh, sunyi membuat kalbunya kelu, kelu yang melahirkan derai airmata. Airmata yang tertumpah membuat telaga-telaga baru di lantai kamar. Sebuah kamar yang bercat warna pucat dan sebuah jendela kecil yang tak menawarkan apa-apa. Bulan sabit seolah celurit liar yang siap menghabisi siapa saja yang berani beranjak lampaui pintu.
Seperti saat ini tiba-tiba saja Cipto merasa terlempar dimalam yang tak bernama, tak berbulan, tak berbintang, yang tak terdapati secercah pun cahaya. Yang tak pernah dia hinggap sebelumnya, yang tak pernah dia jelang dalam khayal waktu terduduk menghadap jendela menantang malam. Malam yang tak pernah dia kenal sebelumnya, di gerakkan hembusan angin dia menarikan daun-daun dan belajar terbang merasakan angin yang membalut sekujur tubuhnya seperti juga rembulan senja yang menyirami asin keringat tubuhnya yang terdampar di bumi kering. Kecemasan macam apakah yang memberangus dirinya? ketakutan macam apakah yang menumpulkan kejeniusannya.
Sementara di sebuah rumah kecil berpagar bunga yang menawarkan wangi tiap hari terduduk seorang wanita muda ayu menggenggam sebuah tangkai mawar mekar merekah ditangan kiri yang membuat iri karena tiap hari selalu kau ciumi mawar itu. Mawar dari kembang yang ditanam kasihmu di halaman rumahmu. Tangan kananmu menari-nari diatas selembar kertas wangi yang tak lagi perawan oleh tinta rindumu. Kau tuliskan rangkaian kata rindu untuk kekasihmu, dan kau semburkan do’a lewat mulut diam dalam sembahyangmu, pun tak lupa kau sebut nama kekasihmu. “Aku kangen kamu mas Cipto,” kata itu tak pernah terlewat disetiap suratmu.
Cipto mencoba melongokkan kepala keluar jendela, tapi bulan sabit masih mengintip dan siap menebas batang lehernya. Dia merasa seperti orang buta yang meraba-raba dalam kegelapan kelam yang kadang tak mau bersulang. Cipto mengendap-endap pelan disisi tipis telinga bulan yang masih terjaga dengan celurit liarnya. Namun dia urungkan niat, kembali dia terduduk menghadap jendela kecil yang tak menawarkan apa-apa. Cipto membalikkan tubuh lemahnya menghadap rak buku dekil yang terdapat beberapa sarang laba-laba dan mengambil tebal buku harian lusuh yang penuh dengan kotoran-kotoran tinta jalangnya. Empat tahun sudah dia setia menemani walau hampir tiap hari Cipto selalu membuang kotoran-kotoran tangan dalam garis helainya. Kau tak pernah marah walau Cipto mengumpat lewat tinta jalangnya, kaupun tak menjerit sakit saat dia lempar tubuh lusuhmu dalam rak dekil peraduanmu. Disela-sela helaimu kau jepit beberapa lembar kertas putih bertuliskan kata cinta dari Asih. Cipto mengambil dan membaca satu surat dari Asih;
Yogyakarta 5 Juni 1992
Mas Cipto, kados pundi kabar panjenengan wonten Padang? kula memuji mugi-mugi tansah pikantuk rahmat saking Gusti ingkang maha welas. Kula ing mriki sehat-sehat kemawon, semanten ugi keluarga mas Cipto. Dhereng dangu anggen panjenengan ninggalaken ndeso kula sampun kangen sanget kaliyan panjenengan. Mas Cipto, kembang mawar ingkang panjenengan tanem kula sirami saben sonten sakmeniko sampun kuncup lan mekar. Semanten ugi tresno kula dateng panjenengan tansah mekar kados mawar. Mas, kula tansah nenggo rawuh panjenengan.
Cekap semanten mas wonten kirang langkungipun nyuwun agunging sih samodra pangaksami.
Saking kula,
Asih.
Arwan
December 30, 2002, 13:38
Alam menerawang ketika tiga tahun yang lalu saat Cipto pergi meninggalkan kampung halaman. Ketika dia rasakan sejuk tetes air mata kasih dalam pelukan ibu, ketika dia rasakan restu saat dia cium tangan kedua orang tua, ketika dia rasakan ketidak relaan dalam pelukan erat adhiknya, dan ketika dia merasakan kehilangan dalam mesra dan peluk tangis kekasihnya. Tak terasa bening air kasih menggenang dimatanya. Teringat saat mereka bersandar duduk di tepi danau yang bergelimangan warna hijau biru, dingin sepoi anginnya membelai wajah cinta mereka, deru lembut angin senja mengibarkan lembut rambut panjang Asih menerpa wajah Cipto. Cipto memetik bunga seribu janji, dia bawakan untuk Asih, wanginya yang memabukkan menawarkan alunan nada kasih setia.
Terdengar gelegar petir menyadarkan lamunan, segera Cipto menutup jendela yang telah basah oleh semburan belalai hujan. Kembali dia membuka surat dalam himpitan buku hariannya;
Yogyakarta 5 Juli 1996
Mas Cipto, sampun tigang tahun panjenengan ninggalaken Asih, menopo panjenengan mboten kangen? Mas, kembang mawar ingkang panjenengan tanem sakmenika sampun ngremboko, lan wonten ing sakcedhakipun kula tanem kembang melati, lan ugi sampun ngremboko. Mas Cipto, Asih tansah nenggo rawuh panjenengan wonten mriki. Asih kangen sanget kaliyan mas Cipto. Mas Cipto ampun kesupen sembahyang gangsal wekdal.
Saking kula,
Asih.
Kembali teringat tatapan mata sayu ayu penuh kasih keibuan Asih. Langkah kaki Cipto gontai menyapa peraduan suratkan janji yang telah lama pergi bersama hari yang melukis kebisuan di ujung malam. Pandangan menerawang sang malam kabarkan kerinduan pada sang bulan hingga perlahan mata terpejam menghunjam kelam. Seorang perempuan dengan wajah layu , rambut panjang bergelombang, dan dengan suara yang menyerupai desah nafas, seorang perempuan yang hadir dalam mimpi yang kelam, seorang perempuan yang bahkan harus menata nafas agar tidak merobohkannya saat dia datang menjumpai. Tersenyum penuh makna mendekat namun tak pernah dapat menyentuh. Mencoba menelanjangi malam palsu dengan jubah nina bobo berharap gelap yang bergerigi membelai tidurnya.
Nun jauh disana seorang wanita muda ayu pucat terbaring, terkukung dalam ruang yang penuh dengan aroma obat sambil memeluk potret lusuh ukuran 3R gambar kekasihnya dan secarik kertas bertuliskan tarian tangannya. Terlihat berat membuka mata saat beberapa orang menjenguknya. Wanita ayu itu memaksakan diri tersenyum dalam raungan tangis hatinya. Namun tak terlihat senyum kasih pujaan hati yang lama di rindukannya. Kembali dia memeluk potret lusuh dan secarik kertas bertuliskan tarian tangannya. Tak sepatah katapun terucap dari bibir mungilnya, dia terpejam tenang dan tak dapat membuka lagi indah kelopak matanya. Wanita muda ayu pucat terbaring itu adalah Asih, Kismiasih kekasih Cipto.
Sesaat Cipto terjaga, terdengar sayup bersahutan bunyi terompet berarak dijalan-jalan besar. Dia berjalan lesu ke jendela kaca hotel Sahid Jakarta memandang sambil mengucek mata. Terlihat beratus mungkin juga beribu muda-mudi memakai topi kerucut dari kertas yang mengkilat berjalan sepanjang jalan sudirman - thamrin. Mobil dan motor berjalan pelan, sesaat kemudian mereka serentak berhenti seperti di komando. Ada apa gerangan? oh,… baru ingat kalau hari ini mereka merayakan tahun baru 1999. Sejurus kemudian terlihat mereka meniup terompet keras-keras kemudian melemparkannya ke udara, mereka bersalaman, berpelukan satu sama lain di iring dentuman puluhan mungkin juga ratusan suara petasan dan kilauan indah kembang api menelanjangi langit cerah bertabur senyum bulan dan bintang. Beberapa saat Cipto menikmati pemandangan indah yang hanya setahun sekali dan belum tentu bisa dia nikmati. Sejak Cipto selalu memikirkan kariernya sebagai penulis, dia jarang berpikir tentang apa yang dia lihat saat ini. Tapi dia bersyukur bahwa cita-cita kini telah dia gapai.
Arwan
January 01, 2003, 00:44
Cipto menjadi pimpinan redaksi di sebuah tabloid terkenal di Jakarta. Cipto berbalik saat terdengar telephon genggamnya berbunyi. Nomer telphon yang sudah sangat dia kenal.
“Ada apa Har?”
“Kamu diminta pulang ke Jogja secepatnya, tadi ada telegram buat kamu dikantor”
Cipto tak dapat berbicara sepatah katapun, ada sejuta tanya dalam benak yang menanti jawab pasti. Tanpa pikir panjang Cipto kemudian memesan tiket pesawat ke Jogja. Sesampai di Jogja dia segera memacu mobil yang sempat dia sewa disalah satu penyewaan mobil di Jogja. Terlihat rumahnya telah berubah, Cipto bersyukur ternyata uang yang dia kirimkan tiap bulan kepada kedua orang tuanya digunakan untuk memperbaiki rumah yang terlihat begitu besar dan megah. Dan dia juga gembira adhiknya masih bisa kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Tapi kenapa rumah sepi? Perlahan Cipto membuka pintu mobil, dia tebarkan pandangan namun tak dia temui satupun penghuni rumah. Sesaat dia lihat Bi Inah berlari-lari kecil ke arahnya.
“Den Cipto, bapak sama ibu kepemakaman”
“Pemakaman? siapa yang meninggal Bi?”
Cipto mengernyitkan dahi masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Sementara Bi Inah tak kuasa memberitahukan siapa sebenarnya yang meninggal.
“Eyang meninggal Bi?” tanya Cipto kepada Bi Inah.
Namun pembantu yang telah lama ikut dengan keluarganya itu hanya menunduk diam seribu kata, hanya terlihat titik-titik bening di matanya. Sejak dia kecil, baru kali ini Cipto melihat Bi Inah meneteskan airmata. Cipto kembali bertanya, namun tetap saja Bi Inah membisu. Cipto semakin bingung tak mengerti. Dia masih terpaku menatapi pohon cemara di depan rumahnya yang terayun sedih seolah berduka kemarau kan tiba. Terlihat kembang mawar layu dan rontok menghunjam bumi yang basah oleh cubitan gerimis kecil hari ini.
“Den Cipto ke pemakaman saja sekarang, nanti Den Cipto akan tahu siapa yang meninggal” kata Bi Inah kemudian berlalu sambil menyeka air mata dipipinya.
Cipto bergegas ke mobil dan memacunya ke pemakaman yang hanya dua kilometer saja dari rumahnya. Terlihat masih banyak orang berkerumun dan terdengar sayup gema kalimat Illahi. Cipto berjalan mendekat dan ibunya menyambut kedatangannya dengan tangis kesedihan. Hujan airmata membasahi kemeja hitam yang dia kenakan.
“Bu, siapa yang meninggal? Cipto bertanya seperti orang dungu yang tak tahu harus berkata apalagi selain bertanya seperti itu.
Ibunya hanya menjawab dengan isak sambil melepas pelukannya. Cipto berjalan pelan kearah nisan dan gundukan tanah merah yang masih basah bertabur bunga. Beberapa orang menyingkir memberi jalan. Dan betapa terkejutnya Cipto ketika membaca tulisan diatas batu nisan yang masih baru itu.
Telah wafat
Kismiasih binti Margono
1 Juni 1972 – 1 Januari 1999
Jari-jari merunduk pilu, lemas tungkai-tungkai tak mampu lagi menopang tubuhnya, Cipto terduduk bersimpuh di tanah merah bertabur bunga wangi, sewangi kesetiaan Asih. Tak terasa bening-bening air kasih menggenang dalam kelopak mata memerah. Tak satupun kata mampu dia rangkai tuk berkata, mata telah basah oleh bening kasih, pipi pun menjadi alur alirnya. Sejuta kata takkan mampu lagi menterjemahkan perasaannya, deras hujan desember pun tak mampu basahi kerinduannya yang telah kering.
Arwan
February 18, 2003, 12:00
Seribu anak panah bersalah menghujani tubuh, sakit, namun tak terlihat luka. Jantung terasa terlepas, hatinya terbakar dan jiwapun menggelepar meratapi gundukan keperihan. Lagi-lagi tanah merah kuburan menyapa, terik mentari menggigit keterpatungan. Angin bertiup membawa wangi kamboja mengiris perih sembilu.
Dalam hati Cipto berkata; “Kenapa aku datang saat kau telah pergi berkafan? kenapa air kasihku mengalir saat kepergianmu? Kematian telah merampas endapan rinduku”.
Di lembar terakhir buku hariannya Cipto kembali membuang kotoran-kotoran tangannya yang dia anggap adalah yang paling kotor diantara kotoran-kotoran tinta jalangnya, tetesan air mata membasahi lembaran yang tak lagi perawan. Aku ambil dan aku baca kotoran yang terkotor dari temanku Cipto.
Untuk Duniaku;
Asih kau tinggalkan dunia dan segala yang kau cintai karena penyakit yang tak terobati dan tak satupun orang mengetahui, termasuk aku kekasihmu. Kau juga merana karena penantian panjangmu menunggu hadirku dalam kesetiaaan. Semua itu telah merenggut asa dan hidupmu. Asih, kau hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan; “Mas Cipto, kamu kejam, tapi aku tetap merindukanmu, mencintaimu dan setia hingga akhir hidupku”. Aku terus membacanya berharap lama-lama kata itu tentu kehilangan makna, tapi tidak. Rasa sakit dan pedih yang di goreskan huruf-huruf itu tak pernah menjadi usang. Oh Cinta, bagaimana aku akan memenuhi cawanmu jika engkau tak memberi kesempatan untuk menuangkan anggur dalam kendiku.
Asih, telah lama wangimu menjadi undakan jejak dalam nafas dan sajakku dan kini telah berakhir semua. Keagungan cintamu tak ada lagi yang mengerti, pengorbananmu pun telah berakhir dalam tidur panjangmu. Namun pengorbananmu tak sia-sia Asih, wangimu telah terpahat dalam dinding-dinding hatiku, telah terbaca oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata manusia. Disana dalam ruang gelap tak berdinding kau terbaring sendiri menanti titik dalam koma yang panjang. Dengan jerih payah aku gapai kepuasan yang akhirnya kini menelanjangiku, dari diri, dari Tuhan, dari buku tempat aku membuang kotoran-kotoran tinta jalangku dengan kedalaman bahasa alam.
Asih, aku tak ingin terdampar dalam hampa kerinduan sendiri, aku tak ingin kau menggigil dingin sendiri dalam gelap, Aku ingin menjumpaimu disana, aku ingin memelukmu, aku ingin menyatu dalam harum nafas kematianmu. Aku tak ingin terperangkap dalam kerinduan yang hampa. Aku akan menyusulmu Asih. Sekarang, bukan nanti atau kapan.
Cipto Raharjo
10 Juni 2000
Aku sebagai teman dekatnya baru berani membuka buku hariannya setelah dia pergi menyusul Asih kekasihnya.
Jakarta, 21 Desember 2001
delfira_daffa
February 19, 2003, 02:22
wawawawa....
Bagusssss......
shella
February 27, 2003, 09:14
bagussss bagussss dannnn!!
cheers BMW
February 28, 2003, 07:23
seyem juga....anyway :bravo:
Arwan
March 01, 2003, 09:29
Surat Cinta Terakhir
Entahlah, malam ini yang ada di benakku adalah engkau yang dedauan kering disungkur angin, diam membisu, pasrah terbelah, membusuk menjadi kompos bagi tumbuhku. Berlembarlembar memori yang setiap ujungnya hangus terbakar karena emosi jiwa kembali mengotori telapak tanganku. Masih saja lembarlembar ini menyisakan abu, lembarlembar diary yang setiapnya ada namamu, ada kisah tentang kita.
Entahlah, malam ini ingin sekali aku membacanya, mewujudkannya dalam imaji fragmen cinta yang setiap adegannya adalah engkau dan aku. Ada kekeh panjang, ada bahak lebar, ada senyum manjamu, ada cemburu kita, ada cumbuan kita, ada segala tentang kisah kita. Kubaca dengan senyum hingga sampai imajiku pada adegan terakhir fragmen cinta,… oh… aku urung membacanya, aku tak sanggup mewujudkan dalam imaji fragmen cinta karena aku belum menyiapkan pincukpincuk daun untuk menampung airmata.
Entahlah, malam ini aku enggan menyelesaikan fragmen ini, mungkin esok pagi saja kala bisa ku petik dedaun yang berembun agar saat airmata mulai berloncatan keluar ada teman bermain dalam pincukpincuk daun.
Lalu mata ini berlarian ke rakrak buku, ke laci almari dan mejaku, merabaraba, tak ada yang tertangkap dalam kepekaan. Kemudian mata ini terpaku pada sebuah kotak berwarna merah jambu, kotak yang sangat jelas ku ingat adalah kotak suratsuratku. Ada jutaan katakata saling tindih disana, mungkun juga saling bercanda dan bercerita tentang waktu berpijak mereka yang tak sama.
Ku buka kotak merah jambu dengan senyum, ku ambil segepok suratsurat bertulis namamu, benar… ini surat cinta darimu. Surat cinta yang telah lusuh usang berlumur lumpur jaman, berurutan ia dari terawal. Kemudian ku ambil yang terakhir dan kuselipkan pada diary halaman terakhir.
Entahlah, malam ini aku ingin membaca semua suratsurat cinta darimu yang berpuluhpuluh lembar itu, yang enam tahun berjalan dan terhenti itu. Kita telah menelorkan jutaan ukiran kata pada puluhan surat cinta yang tercipta, berlipatlipat suka dan duka disana, adakala hurufhuruf itu menonjoknonjok bibirku hingga ‘mecucu’,* adakala katakata itu menggelitik bibirku hingga tersenyumku, adakala kalimatkalimat itu mengerutkan dahiku. Betapa kita telah mencipta suatu kisah cinta yang terhebat untuk kita, mungkin dunia. [aku tersenyum].
Aku yakin, engkau tak akan pernah bisa melupakan kisah cinta yang dahsyat ini, karna disana kita telah menikmati segala apa pada cinta. Kita telah merubuhkan pagarpagar, kita telah tumbangkan pohonpohon, kita telah taklukkan gununggunung, kita telah sebrangi lautanlautan, kita telah susuri sungaisungai, kita telah selami palung dan selat, kita bisa benarbenar tertawa, kita bisa benarbenar menangis. Peta Cinta hampir selesai tercipta, telah jelas selatan dan utara.
Namun entahlah, fragmen ini kembali terhenti pada halaman terakhir diary dan pada sepucuk surat terakhir. Aku ragu tuk menyelesaikan fragmen imaji ini, tapi.. fragmen ini harus berakhir. Degup jantung kian cepat, poripori muntah, mata memerah, tangan gemetar saat buku harian ini telah berada dalam genggaman, dan aku harus menyelesaikan fragmen cinta imaji ini, saat ini.
:: pada buku harianku ::
“dia menghilang bagai embun takut kan teriknya siang, entah kemana embunembun itu, meresap ke tanahkah? Atau terpencar di bebatuan?
dia terbang bagai awan di ketinggian, kapankah dia berhenti kepakkan sayap yang tak kasat itu? Ataukah aku harus menunggu hingga bumi berhenti berputar dan langit turun tepati janji?
Kini anginpun hanya berbisikbisik lirih pada dedauan bercerita tentang dia, dan kala aku menyeruak diantaranya, daundaun itu diam membisu”.
Sejenak hening menyapa keterpakuan.
:: Surat cinta terakhirmu untukku ::
“percintaan kita adalah yang terhebat di dunia sayangku, takkan lagi bisa kutemui lelaki sepertimu yang mampu membuatku tahu tentang tingginya gunung dan dalamnya lautan hingga takkan pernah ada kata selamat tinggal dariku untukmu”.
Aku terdiam beberapa jurus merenung setelah membaca surat cinta terakhirmu. Engkau benar sayangku, mungkin lebih baik tak pernah ada kata “selamat tinggal Cinta” bagi kita, karena kita juga tak pernah mengucap “selamat datang cinta" saat cinta menyapa. Dan saat kau tak lagi di sisi, aku hanya bisa mengucapkan “selamat jalan Cinta”
Jakarta, 25 Februari 2003
*mecucu = Cemberut banget
Arwan
March 05, 2003, 13:28
Sosok Bayangan
Cerpen Arwan
Kembali arus deras sungai merampas setiap kata yang terucap dalam hati. batu yang ia duduki pun bergoyang-goyang seolah-olah lelah dan berteriak. sosok yang terduduk perlahan berdiri dan melompat ketepian sungai yang tak lagi mau menerima hening jiwanya. sambil membetulkan kancing bajunya yang tak lagi genap dia meninggalkan sungai tak bermuara.
Sosok bayangan menceburkan diri ketelaga berharap bening air telaga melunturkan setiap coreng ditubuhnya yang legam segar. lama bermanja dengan air telaga yang perlahan menghitam karena legam tubuhnya. Semilir semakin kencang membentuk pusara mengancam sosok bayangan legam segar. Sepertinya telaga tak mau menerima tubuh yang mencemarkan isinya, mengusir semua ikan indahnya.
Sosok bayangan kembali berjalan, dan sampailah dia disumur Jala tunda. merenung sebentar kemudian memandang sumur yang terlihat dalam namun terang. luas seluas padang rumput membentang didasarnya tanpa tepi hingga matapun tak kuasa membatas. Dia berpikir, 'mungkin disinilah harus kutikami anak-anak otak biar memerah seluruh sabana'.
Dengan bertelanjang dada sosok bayangan menceburkan diri ke sumur yang saat menyambut tubuhnya mengepulkan asap dan beraroma anyir. rumput-rumput yang terlihat membentang berubah cairan merah menggumpal-gumpal menelan separuh tubuh sosok bayangan yang merintih lirih.
Sosok bayangan yang kekar bersila menghadap matahari terbenam dengan setarik sutroh dia bentangkan. Tersembur doa-doa meminta pada Sang Maha Pencipta. Berhari-hari tanpa sebulirpun mengisi perut yang semakin menglengkit, tanpa setetespun air membasahi rongga. Ada yang terpatri yang ingin dia kaji. detik jarum jam terhenti saat sosok bayangan kekar menghirup udara yang dia anggap paling bersih didalam sumur tempat dia menyerahkan tubuhnya. Air yang meronta-ronta bak didih yang melepuhkan menjilati tubuh legam sosok bayangan yang tak pernah terdengar mangaduh, ataupun terlihat menahan perih sakit. Yang dia rasakan adalah denyut nadinya sendiri, bahkan air itupun tak terasakan walau sebenarnya intinya merasuki tubuhnya lewat pori-pori yang membisu. Dia pun tak mendengarkan apa-apa selain detak jantungnya yang sangat teratur memompa darah keseluruh tubuhnya, bahkan kelepuk-kelepuk air yang menggema dalam sumurpun tak mampu ditangkap telinga kasatnya.
Namun dalam hatinya terlihat pintu terbuka menganga lebar, jendela-jendala hatinya pun terbuka mengundang bisik-bisik bernada teratur yang dulu jauh dari telinga batinnya. Fatamorgana yang dulu selalu menjebaknya, menunduk memohon apura. Sosok-sosok mengerikan berteriak histeris lintang pukang meninggalkannya, sosok-sosok mengerikan yang pernah menjahit jubahnya, sosok-sosok mengerikan yang pernah mengganti kacamatanya.
Sejenak keheningan menyeruak diantara kelepuk-kelepuk didih yang melonjak-lonjak. Gagah terlihat sang hening berdiri menyerukan harapan-harapan tentang masa yang belum tergambar, tentang hari yang belum terlewati langkah-langkah detik jarum jam, tentang pepohonan yang menghijau yang masih berupa bebijian. Dengan lantang pula dia menyerukan akan datangnya hari yang dihiasi mentari tersenyum lebar diwaktu siang dan purnama penuh diwaktu malam saat tajam-tajam sinarnya menghunjam sisi-sisi bumi yang lapang. Dan dengan lembut membuaikan dia bisikan yang belum terdengar dan dia gambarkan yang belum tergambar pada sosok bayangan yang telah berubah kulit legamnya menjadi bersinar menyilaukan. Tangan-tangan lembut keluar dari tiap sisi sumur Jalatunda mengangkat sosok bayangan yang masih bersila memejamkan mata. Angin yang pernah menyelimuti menghambur memeluk sosok bayangan bercahaya. Kicau burung riang menyanyikan lagu dunia, rumput-rumput ikhlas menerima tumpuan tubuhnya yang taklagi legam. Hanya sang kelamlah yang sinis mencibir menghina tanpa kata.
Perlahan sosok bayangan membuka mata menggerakkan jemari yang lama tertelikung kesadaran. Dingin tanpa kata, tanpa senyum, tanpa sapa, hanya desah berat lega. Sejenak sosok bayangan menyapu sekeliling dengan mata bersinar, hingga malam yang hendak datang mengurungkan niatnya. Berdiri dengan tegap mengangkat tangan bersyukur pada Yang Kuasa.
Angin berhenti berhembus, burung berhenti berkicau, daun-daun berhenti bergoyang, awan memaku tanpa nahkoda, saat gelegar doa membahana memenuhi angkasa. Tersembur dari sosok bayangan masa lalu.
Hari ini telah lahir kembali sosok bayangan yang pernah terdampar saat mengarungi samudra. Dan sosok bayangan itupun kembali pada tuannya yang terbujur diruang putih tanpa sesiapa. Saat membuka mata kasatnya, diapun kembali kedunia dengan sejuta asa yang tersimpan dilumbung hatinya. Senyum bahagia menyapa matanya, usapan kasih menyentuh tubuhnya, dan beserta itu tertitipkan harapan yang pernah tertunda.
pernah dimuat di harian Malang Post 21 September 2002
Arwan
March 05, 2003, 14:06
dia ada disini..
dia disini (http://fotografer.net/images/karya/42/besar/4292.jpg)
Arwan
March 08, 2003, 03:45
Dalam Pelukan Kesedihan
Cerpen Arwan
Pilar-pilar hati meretak terlanda suara menggema menggelegar diiringi hujan airmata. Kemudian runtuh perlahan menimpa jiwa yang melungkrung meratapi keringkihan yang lama bersemayam di kedalaman kalbu. Langkah terhenti saat persimpangan menyapa dengan tanda tanya menggelinding menerjang kaki hingga terlonjak menggetarkan seluruh tubuh.
Terasa ada yang terjatuh ikut menggelinding bersama tanda tanya yang mengelilingi tubuh. Jawab yang berbaris dalam akal dan kesadaran masih enggan keluar untuk menghalau tanda tanya yang menatap tajam bak mata serigala. Ada ketakutan yang menelusup, ketakutan akan kesalahan dan kegagalan yang pernah singgah, yang melayang-layang di depan mata.
Potret-potret masa lalu terbuka oleh angin waktu nampak close up di depan mata hati bagai slide-slide film berputar menampakkan adegan-adegan yang terekam.
Hati bergetar jiwa gemetar meresapi tiap slide-slide yang berputar. Inikah yang selama ini memberangus jiwa, menelikung hati terbelenggu oleh waktu. Penyesalan hadir menyapa sendu dengan nyanyian yang mengundang sedu sedan. Kesadaran duduk bersimpuh memeluk lutut yang memandang dengan ketakutan.
Mata hati memandang kosong langit yang membisu tanpa memberikan kesaksian akan kesetiaan bumi. Kenyataan melenggang tanpa memperdulikan satu jiwa yang menatap iba. Kasihan.
Masa indah yang pernah menaungi hati bak kubah istana raja runtuh oleh sapaan malaikat maut yang datang menjemput roh terkasih. Desah nafas yang menandakan kehidupan pada tubuh yang bernyawa tiada dapat menahan kematian sang jiwa yang hidup. Hidup dalam kematian.
Kehidupan macam apa yang dapat menghidupkan jiwa yang yang berhati kesedihan mendalam. Kematian macam apa yang dapat mengambil kehidupan yang ada dalam jiwa nelangsa.
Jiwa yang terombang-ambing oleh ombak lautan memeluk buih hingga menghilang di pantai pandan. Kemudian terseret kembali dan terhempaskan ke karang hitam di tengah lautan. Sungguh indah kesedihan, sungguh nikmat kepedihan, sungguh hangat dan menyenangkan ada dalam pelukan kesedihan. Jiwa nelangsa bicara;
”Kenyataan, engkau telah merampas segala keindahan dan kebahagiaan, engkau telah memenggal harapan yang tumbuh subur berkembang, kau hanya sisakan akar tunggang kering yang menancap kejam jantung hatiku, kemudian kau tinggalkan aku.”
Keutuhan tiada lagi, terkeping-keping menjadi puzzle yang menempuruk menjadi sampah jiwa yang terbuang dalam lorong gelap kalbu. Entah kapan puzzle asa ‘kan ditemukan oleh hati yang sadar nanti dan tergambar utuh kembali. Waktu ‘kan memberi arti sebuah perjalanan jiwa yang masih tenggelam dalam telaga airmata. Bertapa brata di kedalaman telaga airmata mengharapkan tirta amerta tersiramkan keseluruh jiwa dan raga. Dan bila tiba saatnya akal dan kesadaran bertakhta puzzle asa yang tersimpan dalam lorong gelap kalbu kan tersusun utuh kembali. Entah kapan.
***
Sept. 26
Arwan
March 12, 2003, 14:12
bebek adus kali
Arwan
July 08, 2003, 19:16
Mencari Makna Sendiri
Debur ombak dan dinginnya angin pantai semakin membuat Fava terhanyut dalam lamunan di saat sang raja kegelapan ingin kembali berkuasa. Menerawang pandang sejauh cakrawala jiwa sunyi menanti jawab. Surya telah beranjak ke peraduan dan Dewi bulan pun enggan keluar kala melihat arak-arakan awan hitam bak tentara kan pergi berperang. Sebentar tersenyum sebentar berkaca-kaca, anginpun bertanya, “Hei kamu sudah gila ya?”. Senyuman getir Fava seolah dia tahu bahasa angin yang menerpa dan menemaninya sejak pertama kali tangisnya terdengar dan jejak kaki lemahnya belum mampu menopang tubuh mungilnya. Beribu tanya dalam hati Fava tak tahu kepada siapa, hanya jawab jujur yang selalu dia harap. Fava berdiri memandang jauh lepas ombak yang semakin malam semakin berani mendekatinya. Tersenyum seolah puas menikmati panjang hari, dia berbalik sambil menjinjing sandal jepit swallow biru usang dengan peniti pengganti kaitnya.
Belum genap sebulan dia datang dari Australia untuk menuntut ilmu. Gelitik rasa kangenpun memaksa dirinya menengok tanah tempat pernah dulu dia kencingi, pernah dulu dia bermain bola plastik bersama teman kecilnya, mandi dalam deras guyuran hujan, dan pertama kali dia nakal mencium pipi Tuti teman sekelasnya waktu di Sekolah Dasar. Fava tersenyum saat ingat masa kecilnya dan sempat terbersit tanya, “pada kemana mereka sekarang?”.
Kembali dia tersenyum sambil berjalan tanpa alas kaki dengan celana jeans di lipat sedengkul. Sejurus kemudian Fava menjalankan mobilnya pelan menikmati gelapnya sekitar jalan yang berbelok-belok, naik turun dan terlihat gundukan tanah-tanah seperti gunung tapi kecil dan gersang, hanya rumput yang kering itupun jarang-jarang. Pohon-pohon jati kurus tak terurus dengan beberapa daun dirantingnya dan tegalan-tegalan kering membentang separo perjalanan. Beberapa tahun yang lalu dia melintasi jalan ini juga, “masih sama saja” bisiknya dalam hati. Namun disaat bersamaan dia merasakan ada sesuatu yang mengiris perih, kembali dia bertanya, “apakah yang kurasa perih ini?” diapun bingung.
Sesampai di rumah peninggalan orang tuanya Fava tampak mengerutkan dahi seperti berpikir dan mencari tahu suatu tanda tanya. Sebenarnya apa yang dia rasa, sesungguhnya siapa yang gundah gulana. Dia merasa tersentil dengan beberapa tanya. Apakah memang hidup itu selalu penuh tanya.
Semakin bertanya semakin dia merasa seperti orang gila. Ketika dia merasa bukan dirinya, ketika dia merasa menang resah gelisah dan kebingungan mencari-cari, entah diri sendiri entah orang lain. Duduk di teras belakang rumah sambil membawa secangkir kopi dan rokok Lucky Strike kesukaannya Fava menikmati hijau asri dan sejuknya taman dan sayup terdengar lagu Love me do dari Beatles kesukaannya. Fava teringat beberapa tahun yang lalu saat dia duduk pula disini mengkhayal dan berpikir tentang suatu kemenangan, suatu kesenangan. Suatu kemenangan dan kesenangan yang absurd.
Suatu kemenangan dan kesenangan yang membuat orang senang dan tenang untuk sementara waktu sambil berbangga-bangga dan bahkan pesta pora. Kemenangan dan kesenangan yang membuat orang mempersiapkan diri mempertahankan semua itu sekaligus berencana untuk meraih kemenangan dan kesenangan selanjutnya.
“Bengong terus kamu Va!” ada suara menegur menyadarkan lamunan Fava.
Fava menengok kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia adalah Wahyu sahabatnya yang dulu pun duduk disini berdiskusi tentang semuanya.
“Kamu jahat ya, pulang diam-diam aja ndak ngasih tahu temen“
“Sorry teman, belum sempet, mo ngopi nih“
“Boleh lah, jangan manis-manis yah”
Sebentar kemudian Fava datang membawa secangkir kopi yang wanginya membuat wahyu buru-buru meminumnya. Aroma khas kopi Tugu Luwak kesukaannya. Seperti biasa saat mereka berdua duduk di teras belakang rumah Fava, mereka berdiskusi tentang hal yang menggelitik jiwa muda mereka.
“Kalau ada yang menang ya senang, kalau yang kalah ya sedih, kecewa” kata Wahyu di sela-sela isapan rokoknya.
“Aku ini termasuk salah satu orang yang kalah Yu, dan aku masih kalah dalam game yang aku mainkan saat ini” Fava berkata sambil menghela nafas panjang.
“Suatu pengakuan yang terlalu lugu dan jujur,” batin Wahyu, dan Wahyu pun sangat menghargai apa yang dikatakan Fava.
“Sebaiknya jangan terlalu gegabah menilai diri dalam suatu perangkap kekalahan, Va,… jangan buru-buru menjerumuskan diri dalam liang kekalahan ataupun menyamakan semua itu dengan kematian“ kata Wahyu.
“Aku tak menyamakan itu dengan kematian Yu, walau kadang terlintas bahwa kematian menjadi salah satu jawaban, kadang pula keputusasaan menggelayuti harapanku, dan kuberusaha menepis semua”.
Sejak pulang dari Australia, Fava memang terlihat agak berbeda dengan dia sebelumnya yang selalu optimis dengan masa depan dan berpikir positif. Mungkin kesendirian yang di alami Fava membuat dia jadi sentimentil dan sensitif. Wahyu yang memang sudah tahu dengan sifat-sifat Fava, tahu kalau sahabatnya itu sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Tak jelas pasti, apakah krisis kepercayaan diri atau memang ingin menikmati kesendirian. Alasan klasik yang selalu terucap dari mulut Fava hanyalah ingin bebas tanpa ada yang memiliki dan mengatur dirinya. Sejak putus pacaran dengan Linda seorang wanita Aussie dua tahun yang lalu, sampai saat ini Fava belum juga menemukan gantinya. Kalau di tanya temannya, jawabannya ya, “ ingin menikmati kesendirian”.
“Fava,… jangan mengidentifikasikan kesendirian itu dengan kekalahan, dan jangan terlalu mudah menilai berdua atau beberapa itu dengan kemenangan”
“Kita tahu manusia itu hanya sendiri saat masuk liang lahat, dan juga akan sendiri juga menghadap sang Khalik”.
“Pernah terjadi orang mo mati ngajak-ngajak?” kata Wahyu tanpa berniat mau melucu.
Fava terdiam mencoba mencari makna kata-kata sahabatnya. Fava mengakui bahwa kegagalan cinta membuatnya seperti orang gila. Cinta dapat menciptakan suka, duka ataupun kedua-duanya hanya dalam satu peristiwa. Fava merenungi bahwa Cinta adalah candu, dan kecanduan inilah yang telah menohoknya.
“Va,… jangan sedih dan nelangsa karena kesendirian, dan jangan pula merasa kalah dengan kesendirian itu” kata Wahyu.
“Ada saatnya nanti setiap kita berpasang-pasangan sampai kakek-nenek, ada saatnya seorang manajer menyiapkan sarapan pagi buat seorang assistent, ada masa dimana kita asik dengan tanggung jawab dan mencari nafkah. Namun semua itu kelak, ketika memang kita sudah waktunya untuk itu. Janganlah kamu terburu-buru dan juga jangan mengulur waktu.
Optimalisasi tetap menjadi standard pribadi, sebab maksimalisasi hanya akan meningkatkan derajat stress manusia”.
Fava terdiam melemparkan pandangan ke pohon cemara yang bergoyang seolah mengiyakan kata-kata Wahyu. Tak tahu apa yang menggeliat dalam tempurung kepalanya, tak tahu apa yang memberangus kejeniusannya.
“Va,… bukan hanya kamu yang sendiri, aku juga merasakannya,… tapi aku berpikir bahwa semua itu belum berakhir. Kita masih punya pertandingan yang belum kita mainkan dan saat inipun kita belum menyelesaikan pertandingan ini.
Kemenangan menjadi suatu pilihan utama, walau kekalahan sering kali menari-nari dan menggoda dalam kegamangan” kata Wahyu sambil menepuk pundak sahabatnya.
Wahyu memandang lekat Fava seolah ingin menembus masuk kedalam suatu dimensi lain dalam diri Fava. Fava yang selama ini belum juga bisa menikmati kesendirian. Fava yang tidak memburu dan mengais-ngais cinta wanita yang mungkin tercecer dipinggir jalan, di keramaian, atau bahkan dalam tong sampah yang kadang di bakar dan ditendang. Fava tidak berusaha untuk meluluhkan hati dan meruntuhkan cinta wanita-wanita ayu, sexy nan elok parasnya, walau sebenarnya dia sangat bisa melakukan hal itu. Dengan kelebihan yang dia miliki Fava akan dengan mudah mendapatkan wanita cantik.
Tapi Fava percaya bahwa persahabatan karib kelak dapat menjembatani suatu hubungan yang istimewa, itupun kalau tak keduluan dan di serobot orang lain.
Mungkin itu yang baru di mengerti oleh Wahyu tentang kesendirian Fava. Dalam hati Fava sebenarnya menyadari bahwa siapapun tak dapat berjalan sendiri, kekasih, tidak juga engkau dan mereka. Semuanya di ciptakan berpasang-pasangan, jantan dengan betina, laki-laki dengan wanita, malam dengan siang. Semuanya itu hukum alam.
Tenggelamkanlah diri agar laut menjadi kesadaran, agar langit menjadi harapan. Sungguh masih sulit bagi Fava untuk membuka pintu hari bersama kekasih, tapi Fava pun tak ingin semua begitu mudah berlalu.
Wahyu akhirnya pulang saat terlihat gerimis turun mencubit helai daun-daun, membasahi kerinduan, membasahi kesendirian, membasahi malam dan membiarkan genteng mengalur alirnya. Fava menatap kepergian teman karibnya masih dengan tanda tanya. Tak terasa mereka menghabiskan separuh malam mencari makna kesendirian. Fava merasa seperti mendapatkan setetes dingin sejuk zam-zam di tengah gurun. Fava bersyukur bahwa hari ini dia masih bisa menghirup udara segar pagi, menyaksikan sang surya tersenyum memberikan harapan terang dunia, dan menjadi saksi keserasian Merapi dan Merbabu hingga akhir jaman.
shella
July 09, 2003, 02:39
duhhh Yayang Arwan... cerita2nya bagus2 banget sih... bikin gue tenggelam bacanya
lonely_girl
September 03, 2003, 02:29
tenggelem ampe brapa dalem shel ? :bingung: :kakaka:
sky
September 03, 2003, 02:42
Arwan = Dana di KG bukan? :D
shella
September 03, 2003, 04:56
Sky...Yup bener.... Arwan = Dana = Yayang :) :hehe
LG... tenggelam dalam lautan asmara :D:D:D
surfergirl
September 12, 2003, 10:04
maheaehaeuaheuahua.... shella... shella... ;D
begawan
September 22, 2003, 06:27
ck...ck...ck... shella :o
:kakaka:
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.