View Full Version : Puisi-puisi gue.... by mikebenjamin







Saffran
December 25, 2002, 12:35
Hati Seorang Wanita


Hati wanita itu bagai teriris

pisau dapur bekas pengiris bawang merah.

Pedih, lirih, ingin menjerit karena tak tenangnya arwah.



Ia menyusuri setiap petak sawah di dekat kampungmu.

Setiap hektar dihitungnya dengan teliti.

Detak jantungmu pengukurnya.

Satu, tiga, empat, lima… bahkan angka dua sudah dilupakannya.



Ia melewati setapak jalan di depan rumahmu.

Ia menoleh tanpa pernah mempunyai keberanian untuk masuk.

Atau bahkan untuk membesuk.

Ia terlalu kecing untuk membiarkan pintu oleh tangannya diketuk.



Namun, hatinya memanggil

untuk turut serta dalam pesta poramu yang kaubilang kecil?



Akhirnya, wanita itu mulai menapakkan kakinya di halamanmu,

mengayunkan setiap langkah walau dengan ragu-ragu,

berusaha hanya mengetuk pelan-pelan pintu itu.



Terlihat sekali, ia begitu takut.

Apa yang ia takutkan? Kau ‘kan tidak mempunyai apa-apa untuk ditakuti.

Tapi derap kakinya menceritakan segala hal tentang betapa dinginnya hati.



Lihat! Ia mengetuk lagi dan mulai berbicara.

Angin malam ikut bersiul menemaninya bersuara.

Bahkan, bulan yang tidak bermulut berusaha

memberinya sebuah sonata.

Ia terpecut.

Hatinya tidak lagi kecut.

Sudah bangun dari tidurnya yang penuh kemelut.



Ia lalu mengetuk lebih keras pintu rumahmu itu.

Sayang kau tidak mendengarnya karena musik terlalu keras mengalun di lantaimu.

Tidak seorang lain juga tergerak untuk membebaskan telinganya dari tegangmu.



Ah, terlalu lama baginya menunggu.

Sudah teramat lama baginya menunggu.

Ambang kesabaran juga ia punya.



Wanita itu lalu mendobrak pintumu.

Pergi ke arahmu, berlari dan berusaha mendekapmu.

Namun, apa yang kauherankan?

Kau seperti kehilangan peran.

Padahal ini pestamu.

Kau teriak, tidak!

“Aku jangan kausentuh karena aku seperti engkau? Tidak!”



Ia menangis.

Hatinya kembali teriris.

Luka lama terulang kembali tiris.

Makin besar, makin dalam, dalam benaknya makin miris.



Ia benci mengakui, sudah bukan kesayangannya lagi kau.

Ia menangis sehingga nada suaranya sengau.

Ia galau dan kacau balau.



Kau menuduhnya telah memorak-porandakan perayaan ini.

Kau tindih semua yang wanita itu punyai: harga diri.

Ke mana tempat ia kini akan tuju.

Kau telah meninjunya!



“Wahai, Wanita.

Ke mana kau akan pergi?

Rumah sudah tidak kaupunyai.

Gubuk pun sudah tidak kautempati.”



Ia tertunduk lesu.

Perasaannya bisu.

Jantungnya lugu.

Sawah yang tadi disusurinya lagi.

Dihitungnya setiap petak, setiap hektar, setiap segi.

Satu, tiga, lima… kini dua dan empat hilang dari ingatan.

Kampungmu juga… kini jauh dari pandangan.

Ia lenyap

ditelan kegelapan malam, membuat resah.

Sekarang senyap

hanya jeritan alam terdengar dari sang arwah.

Saffran
December 25, 2002, 12:37
Satu Empat Nimfa Ternista


Michael Benjamin – 26 Agustus 2001


Pernahkah terlintas

satu makna asa asap yang bergeming?

Satu per satu bara yang gahari berdecak?

Dua dua api yang marjik?

Satu empat nimfa yang ternista?



Ya, pernahkah kini

kartika cemerlang namun lasa?

Laskar mega di alam nova?

Nujum tak kuasa menujum?

Pati tak kuasa memati?



Aku rimas terhadap kartika.

Aku iba terhadap hujat.

Aku cemas terhadap onar.



Mungkin pernah

kartika cemerlang tiada lasa.

Laskar mega di alam nova.

Tiada geming asap dan asanya.

Dan tidak lagi ternista satu empat nimfa.

Stairs to V
January 03, 2003, 07:21
Eh, dimasukin toh ke sini juga. Hehe :D Baru tau gw. Aduh, Mike. Website lo kudu diupdate atuh!

Saffran
January 03, 2003, 15:32
Emang kenapa gitu? Btw, emang kamu ngerti yang empat nimfa ternista? :D *sori becanda, jangan marah*