View Full Version : The Story Of Us







lygia
May 20, 2003, 11:47
THE STORY OF US

Percakapan Panjang

Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan diatas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘’Itu adalah Batsyeba binti Eliam, istri Uria orang Het itu.’’

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§


Kupikir ini akan menjadi makan malam terakhir. Dan pertemuan terakhir kita. Aku sudah datang lebih dahulu siap duduk di meja pesananku hanya ditemani dengan sebotol champagne putih dari merek chianti yang tak mampu menyamarkan kesedihan hatiku yang mungkin juga terlihat dari suramnya wajahku yang sejak tadi dilirik dengan sembunyi2 oleh sang Butler yang menunggu pesananku sejak 20 menit lalu. Bukan salahmu, sayangku, bila saat ini kau membuatku menunggu - kau tak pernah membuatku menunggu - aku yang selalu membuatmu membuang waktu - jadi 20 menit ku disini terpaku menatap pintu adalah pembayaran semu akan semua yang pernah kau lakukan untuk menungguku. Kulirik
detik di telepon genggamku. 8:40PM! 5 menit lagi adalah janji kita tuk bertemu, semoga sang pelayan masih punya cukup kesabaran hanya dengan sebotol anggur pesananku. Lagipula... aku tak lapar, tak ingin makan. Aku cuma ingin menunggumu, kembali menatap wajah tampanmu, menyelami kembali danau kecil hatimu lewat beningnya sorot matamu... lalu kemudian melupakanmu, untuk selamanya.
Aku menundukkan kepalaku yang pertama kali sejak 20 menit yang lalu kududuk-kan pantatku. Apa aku mampu melupakanmu?
Kurekam memoriku akan hari2 terakhir sebelum malam ini - keputusan sepihakku saat itu - pembicaraan kita lewat signal telecom - 2 emails yang kita kirim dan email terakhirku soal
ketetapan hatiku yang tak ada balasannya darimu - lalu kemudian undangan pertemuan ini yang kau tentukan sendiri lewat sebaris kalimat pendek di ujung line telepon: ‘’Devo parlare con te.’’ lalu kau sebut hari, jam dan tempat. Dan disinilah aku sekarang, menunggumu dengan debaran jantung tak karuan. Sekelebat gerakan yang datang dari arah pintu utama membuatku mengangkat kepalaku. Sesosok lelaki masuk
yang sayangnya bukan dirimu maka kembali kutundukkan kepalaku coba mengingat2 kembali detil2 lain yang mungkin terlupakan. Cukup 60 detik saja aku kembali terlempar dalam alam pikiranku saat kurasakan sesuatu mendekati mejaku. Kuangkat kepalaku refleks dan kulihat profil dewaku berdiri di
depan mejaku. Hatiku kembali berdebar lebih cepat dari debaran jantung pilot F1.
Kuberikan senyumku yang tak kutahu bagaimana rupanya dan kuucapkan salam dengan suara rendah. Kau, dewaku, membalas salamku dengan suara sama rendahnya dan kemudian membungkuk memberiku kecupan kecil di sudut bibirku. Bukan hanya sekedar kecupan kecil biasa tapi bila kupegang stop watch mungkin bibirmu bertahan disana lebih lama dari 5 detik. Inginkah kau memberikan satu pesan dari kecupanmu? Kuresapi bekasnya diatas ujung bibirku sendiri. Kau tarik kursi di sisi kananku. Kita duduk.

Lov3-ly
May 20, 2003, 11:56
lanjut... tapi please kalo boleh ngasih saran.. kasih spasi ya.. biar enak bacanya...

surfergirl
May 21, 2003, 07:02
deuh oma..... dulu pernah jadi pilot F1?? :)

lygia
May 21, 2003, 10:35
nangkring di atas Ferrari-nya Schummy yang taon 2000 sih pernah. klo ngendarainnya belon - pity...

surfergirl
May 22, 2003, 20:50
huemmm?? klo gw sih pengennya nangkring di MP4-18 mclaren yg anyar ma!
::cheer::

emang schummi dulu ngapain oma kok tega2nya dia kasih oma nangkring di atas ferrari-nya nan muluz itu??? :hmmm:

cancer_gal
May 23, 2003, 02:47
Iya, say...kasih spasi. Lanjut ya!

lygia
May 23, 2003, 11:32
Tuk menutupi kegugupanku kutopangkan tangan diatas daguku memandangimu sementara kau, dengan tenangnya, sebagaimana biasa, mengatur sikap dudukmu, meletakkan semua barang2 di tanganmu, cellular, kunci mobil, dompet bersamaan dengan sang pelayan yang tak sabaran itu kembali muncul mendekati meja kita dengan buku menu.
Haruskah kita makan? Ah, mungkin kau memang lapar dan demi untuk menjaga etika di restoran dan untuk menyenangkan hati si pelayan tak sabaran kupesan juga dengan semangat nihil sepiring pasta rendah kalori. Kau melirikku dari balik menumu bersamaan saat aku kembali memandangmu sambil tetap menopangkan daguku. Lalu kau memesan menu rendah kalori yang sama hanya dengan condimento yang berbeda.
'Tidak punya selera makan?', tanyamu setelah si pelayan berlalu.
'Aku bahkan tak ingin makan,' jawabku.
Kau menatapku dengan mata emasmu. Tepat kau hujamkan dalam2 kedalam bola mataku sampai2 rasanya mampu kurasakan tusukkan hingga ke jantungku. Berdarah. Mungkin... Aku masih dalam sikap yang sama. Berusaha tuk tetap tegar menatapmu, meski jantungku sudah tersayat2.
'Kau lapar?', tanyaku memecah acara saling tatap ini.
'Aku cuma makan roti tadi siang. Tak sempat pulang...,' jawabmu sambil meletakkan serbet diatas pangkuanmu.
Ah, betapa egoisnya aku. Ingin segala serba instant adanya meski aku tak yakin apakah dengan begitu hidupku akan berjalan sebagaimana biasanya? Sementara kau sepertinya ingin mengulur waktu sebisa mungkin. entah untuk meredam juga kegelisahan di hatimu atau ingin lebih lama berada bersamaku, untuk terakhir kalinya. Kuputuskan untuk mengikuti skema-mu. Kurubah sikap dudukku dan ikut meletakkan serbet di atas pangkuanku. Coba untuk bersikap setenang mungkin. Setenang dirimu. Malaikatku.

lygia
May 23, 2003, 11:36
cubak cancer en lov3-ly rubah areal layar kompie klian dari Control Panel masing2. I bet that's the problem of your fonts matter.

lygia
May 23, 2003, 11:39
eh, itu sapah yang kemudi ya? Raiko ato Coulthard?
Mbah tak gitu cune in dgn uptodate-itas McLaren's meski klo Kimi ketinggalan ato kecelakaan lomba sudah seperti laut tanpa garam rasanya :hehe

Ngga ada event apa2, daku bisa nangkring bentaran ya di Maranello ituw setelah lirik2an sejenak dgn yang jaga :D

YveTTe
May 23, 2003, 19:59
Lagi2...Maksudnya Cancer gal ama lovely itu tiap paragraf di kasih extra spasi lyg biar bacanya gampang...

Waiting for the next one :)

Ma®™
May 24, 2003, 03:53
Duh pusink bacanya, gaQ ada paragraph baru...

surfergirl
May 25, 2003, 06:02
Originally posted by lygia
eh, itu sapah yang kemudi ya? Raiko ato Coulthard?
Mbah tak gitu cune in dgn uptodate-itas McLaren's meski klo Kimi ketinggalan ato kecelakaan lomba sudah seperti laut tanpa garam rasanya :hehe

Ngga ada event apa2, daku bisa nangkring bentaran ya di Maranello ituw setelah lirik2an sejenak dgn yang jaga :D

yg brondong dong oummm.... masa pakde coulthard...? :hehe
gw ga gitu demen liat bule pirang, but he's the coolest blonde driver on earth... :D

huaa.... oma, kasih liat pic-nya disini dong kalow ada!! (yg nangkring ituh)

chr1sty
May 29, 2003, 07:39
ayo lagiiiiiii
terusssssss

sashacantik
May 29, 2003, 09:20
I love this story!

lygia
May 29, 2003, 11:06
besok aja dipost lagi yaa... thanx sudah pada mampir dan baca.
klo sudah the end silahkan dikasih comments, persepsi dan analisa masing2 ya. I need them for my future planning references.

xaVer..
May 29, 2003, 13:17
::mikir:: kOK aDa si daUd aMa betSyeba yaH..??

lygia
May 30, 2003, 11:13
Maka kita kemudian mulai membicarakan hari ini. bagaimana harimu bagaimana hariku. lebih banyak aku yang bercerita ttg hariku di tempat baruku. saat aku bercerita kau menatapku, seperti biasanya sikapmu yang selalu penuh perhatian mendengar setiap kata2ku, tetapi kali ini mampu menghentikan kata2 yang keluar dari mulutku dan membuatku terpaku seperti tersihir oleh sikapmu itu. Tuhanku, aku bersumpah aku akan merindukan selalu caramu mendengarkanku.
'You are saying...?', katamu membekukan retakan hatiku.
Aku menelan ludah. mengalihkan pandanganku ke lain arah. belum sempat kujawab saat pelayan datang dengan pesanan kita. kuteruskan ceritaku sambil berusaha menyantap makananku yang terasa seperti memakan tumbuh-tumbuhan mentah. kupaksa menelannya melewati lorong tenggorokanku dengan dorongan chianti. kau tertawa saat kuceritakan ttg kelakuan boss baruku dan aku menikmati tawamu, kekasihku, menghayati gerak tubuhmu, meresapi wajahmu, dan tersenyum dalam kepedihan hatiku yang mulai kembali merayap pelan-pelan membisikkan ke nuraniku bahwa sebentar lagi tak kan kudengar lagi tawamu - untuk selamanya.
mendadak aku merasa takut kehilangan dirimu.
takut.

lygia
May 30, 2003, 11:14
kusuap suapan terakhir pastaku dan menelannya kali ini seperti menelan kerikil.
hingga kopi dihidangkan kau tak sekalipun menyentuh masalah yang sedang kita hadapi. pembicaraan tetap berkisar soal hal2 yang sama sekali lain. haruskah tetap kuikuti skema-mu?
jawabannya keluar sendiri dari mulutku saat kami menemukan beberapa menit untuk saling terdiam.
'kenapa tak kau balas email terakhirku?', tanyaku sehati-hati mungkin. front sudah dibuka. aku tak ingin berlama-lama disiksa dikursi ini dengan segala pameran akan keberadaan dirimu yang demi surga kucinta dengan separuh hidupku. kalau kita tak juga bicara rasanya aku bisa meleleh pelan-pelan seperti di film Ameliè.
kau, lelakiku, tidak segera menjawabku. dengan gerakan pelan kau tanggalkan kacamatamu dan kau usap2 mata indahmu selama beberapa saat. aku berkonsentrasi memandangmu, menunggu, sembari meredam2 degup jantungku. kau letakkan kembali lensamu diatas hidung latinmu. menyilakan kedua tanganmu diatas meja dan memandangku dalam2. kutemukan kecewa... dan campuran rasa lainnya didalam kristal bola matamu. aku merasa seperti nemesis dengan belati terhunus siap menikam.
'apa benar-benar ini yang kau inginkan?', akhirnya terlontar juga suara beratmu menjawabku. berat dan terbeban.
'aku tak melihat jalan lain', sambil menundukkan kepalaku meski otakku memerintahkan lain untuk tetap memandang ke dalam matamu saat berbicara.
'kau telah memilih jalan lain. well, kau selalu memilih jalan tanpa mengundangku berjalan bersamamu,' diam sesaat. 'tetapi aku selalu mengikutimu dari belakang', sambungmu.
'aku tak ingin kauikuti!'.
'aku yang INGIN mengikutimu!'
'kau tak bisa terus mengikutiku sebab aku tak ingin kauikuti.'
'aku tahu. kau bisa menuntutku! tapi kau tak bisa menghalangiku untuk terus berada di belakangmu'.
'tetapi dengan begitu kau menggangguku'.
'kau merasa terganggu?'.
Tak kusadari sejak berbicara telah kembali kutatap dirimu. Kutelan ludah.
'kau merasa terganggu?', sekali lagi kau lemparkan pertanyaan itu. ya, apa aku merasa terganggu? tidakkah sebenarnya aku merasa lebih aman bila aku tahu bahwa kau selalu berada di belakangku? menjagaku?
'kau tahu, aku bukan hanya ingin mengganggumu - bila kau merasa terganggu. aku bahkan ingin MEMENJARAKANMU agar kau tak pernah lagi mencoba meninggalkanku,' ujarmu dengan penekanan pada kata memenjarakan.
'kau sakit'.
'Yep, aku memang sakit.'
Aku menatapmu berapi-api. Kau menatapku sedih.
'Aku sakit karena kau selalu menyakiti aku. sadarkah kamu? bila kesakitanku berkomplikasi menjadi obsesi, salahkah itu?'.
'tapi... tapi itu jahat sekali!'
'jahat? siapakah menurutmu yang jahat?'
Aku membelalakkan mataku.
'kau mau bilang aku yang jahat? begitu?'
'haruskah aku jawab?', kau balas menatapku tajam-tajam.
aku memang sadar bahwa aku jahat memperlakukanmu selama ini. egois. tapi bukan tanpa alasan.
alasan yang hanya aku yang tahu.
'maafkan aku...', bisikku pelan.
kau menggelengkan kepalamu dan memainkan sendok kopi.
'tidak ada yang perlu dimaafkan...'.
'Oh, c'mon! I hate those words!', suaraku kembali meninggi. kau serta merta menatapku, bingung.
'tapi bagiku tak ada yang perlu dimaafkan'.
'begitukah? setelah semua yang kulakukan terhadapmu?'
'setelah semua yang kau lakukan padaku...', mengambang di udara suaramu.
'dengar. kau bukan orang suci... hingga tak perlu kata maaf. mungkin kau simpan kemarahanmu di hatimu dan itu yang membangkitkan obsesimu hingga kau tak ingin melepaskan aku... hingga pada akhirnya kau mampu membalas sakit hatimu!', ujarku emosi.
kau memandangku dalam diam yang menghujam. membuatku berhati-hati.
'that's what you think? itukah yang kau pikirkan tentangku?', katamu dalam ketenangan suara yang mematikan. aku seperti menatap ular phyton. tak dapat bergerak tak dapat melawan hanya menunggu dengan napas naik turun. aku salah langkah. apa yang harus kujawab?

lygia
May 30, 2003, 11:16
'kau membuatku berpikir seperti itu', jawabanku yang kurasa cukup masuk akal dimuntahkan dengan suara yang kembali tenang. aku menatapmu dengan tatapan yang kubuat seperti seorang anak kecil menunggu jawaban. sepertinya aku berhasil. dingin sorot matamu mencair.
'bila kau pikir obsesiku adalah sesuatu yang jahat, mungkin kau ada benarnya. tapi sejauh ini aku tak pernah berpikir seperti jahatnya pikiranmu. aku tak punya satu dendam atau sakit hati yang terus kusimpan dalam hatiku...' Aku sudah membuka mulut hendak memotong petuahmu. kau mengangkat tanganmu ke udara, tanda jangan memotong perkataanmu, aku berhenti coba berbicara.
'aku bukan orang suci, seperti katamu. tapi aku tak perlu kata maaf bila pada akhirnya kau ulangi lagi. kau bukan hanya menyakitiku 2-3 kali. dan aku enggan menghitungnya atau mengingatnya... tapi aku merasakannya sebab ada saat lain dimana kau kembali melakukannya dan rasa yang sama terus kembali kurasakan. jelas?'. sepertinya ini saatnya aku bisa kembali bersuara.
'aku punya alasan untuk setiap hal yang kulakukan.'
'aku tahu. semua didunia ini beralasan. dan alasan adalah tameng yang tepat untuk mendapatkan pembenaran'.
'kau mau bilang kalau aku terlalu banyak memberikan alasan?', nada suaraku kembali naik beberapa tingkat. aku tak suka disalahkan secara tersamar. tetapi kau memberikanku senyum kecil di sudut bibirmu, mengerjapkan mata dibawah bulu mata coklatmu dibalik lensa minus 4 mu yang berbingkai armani.
'aku mau bilang kalau kau egois, sayangku. dan aku coba untuk mengerti semua pemikiran dari alasan2mu. tapi satu hal yang kuperhatikan, kau tak pernah memikirkan aku saat kau berikan alasanmu dan pemikiran2mu', ujarmu tenang meski kurasakan di dalam ketenangan suaramu ada pedih yang tersayat.
'itu... itu tidak benar', jawabku pelan sambil menggelengkan kepalaku dan menjatuhkan tatapanku ke atas cangkir kosong kopiku.
'aku memikirkanmu,' kuangkat kepalaku dan kembali menatapmu. 'karena aku memikirkanmu maka kubuat keputusan itu.'
'tidak, kau hanya memikirkan dirimu,' jawabmu. 'memikirkan semua yang terbaik bagi dirimu', sambungmu lagi. aku terdiam. dadaku sesak. seakan ada yang menekan napasku pelan-pelan. kata-katamu. kau mungkin benar, aku hanya memikirkan yang terbaik bagi diriku sebab bila aku terus membawamu dalam setiap rencanaku pada akhirnya kita tak akan kemana-mana. tetap berjalan di tempat yang sama. tetap menjalani jenis hubungan yang sama. lalu apa yang berubah? sedangkan aku menginginkan adanya perubahan, bagi kehidupanku terutama sebab aku lelah berada dalam jaring yang tak terlihat tetapi semakin lama semakin menjerat yang kutakutkan aku bahkan tak lagi dapat keluar dari sana. pada akhirnya aku memang harus menjadi seorang egois tiada tara yang cukup memikirkan kepentinganku lebih dahulu, entah apakah bila aku telah mampu keluar dari jerat itu akupun sanggup menarikmu. sepertinya tidak.
atau...
atau aku yang tak mau?

lygia
June 04, 2003, 06:55
Kuhela napasku panjang lalu dengan sedih menatapmu. hanya menatapmu. tanpa bicara. beri aku waktu untuk menikmati wajahmu, kekasihku sebelum kembali kucabik2 hatimu.
'kau benar. aku akui keegoisanku. sebab aku tak dapat membawamu dalam setiap keputusanku. tak kutemukan juga jalan lain untuk membuat kebersamaan kita menjadi lebih baik. setiap saat kucoba memikirkan satu jalan, pada akhirnya tetap pada satu keputusan untuk meninggalkanmu,' kutelan tangisku yang sudah mampir di ujung tenggorokan.
'kau telah beberapa kali mencoba untuk meninggalkanku... dengan segala caramu dan aku pun pernah berusaha untuk meninggalkanmu,' jawabmu lalu diam sesaat seakan hendak membuatku mengingat masa lalu itu.
'tetapi kau lihat pada akhirnya kita selalu bersama kembali, hingga saat ini. apakah artinya itu?', kau menggapai tanganku dan meletakkan tanganmu yang hangat diatasnya. kita saling bertatapan.
jawaban dari pertanyaanmu ada di dalam mata kita masing2 yang berkilau2 dari bias perasaan kita sendiri.
tak kusadari setitik air mengalir dari sudut mataku. genggaman tanganmu kau pererat.
'ssshh...', desismu pelan. aku berpura2 mengusap2 mataku.
'ayo kita keluar dari sini', ujarmu kemudian beranjak dan membantuku keluar dari kursiku. aku hanya menurut saja.
masih dalam genggaman tanganmu kau bawa aku menuju Audi A4 biru metalikmu. disana kembali kita teruskan pembicaraan kita yang belum punya hasil.
'dengarkan aku baik-baik, sayangku. aku tak ingin kehilangan kamu lagi. cukup bagiku kau tinggalkan aku pertama kali untuk pindah ke branch lain. dalam kurun waktu itu pun kau tetap berusaha mencari jalan untuk memisahkan diri dariku. tetapi ada hal lain yang membuat kita selalu kembali bersama. kedua, langkah besarmu untuk meninggalkanku yang akhirnya tercapai juga, keluar dari pekerjaan lama dan mendapat pekerjaan baru di kota lain. tetapi aku bersyukur bahwa masih ada kuasa lain yang lebih besar untuk membawamu kembali ke sisiku. meski waktu yang kita punya semakin lama semakin menipis. dan sekarang, mungkin ini langkah terbesarmu, kau putuskan untuk mengakhiri hubungan kita.' Aku hanya memandangmu dan mendengarkanmu dengan menyandarkan kepalaku keatas jok, seperti orang sakit yang menunggu obat.
'aku tak punya jalan lain. Dear God, sudah kukatakan ini berulangkali padamu. aku buntu. aku terhalang sesuatu', ujarku tak berdaya.
'kenapa tak kau minta aku untuk menghalau halanganmu? aku selalu ada disampingmu setiap saat kau membutuhkan aku...'
'aku tahu! aku tahu itu.'
'lalu?'
'aku hanya tak ingin kau bantu.'

lygia
June 04, 2003, 06:58
Sesaat kebisuan menyeruak di udara. Kemudian dengan kegeraman yang kentara kau starter mesin dan menekan gas kuat2 lalu melajukan mesin 1.6 TDCi-mu menerbangkan debu di belakang dashyatnya gelinding keempat ban. aku tak punya tenaga. kubiarkan tubuhku digoyang2 hebat saat mobil memutar, mendecit dan akhirnya dipacu secepat Merkurius.
tak ada dari kita berdua yang bersuara hingga beberapa saat lamanya. aku tak tahu mau kau bawa kemana aku. kita melewati jalan2 daerah pertanian yang lenggang dan lapang pada pukul 10.00 malam ini. kulempar pandanganku keluar jendela sebab tak sanggup aku memandangmu dalam keadaan seperti itu. padang gandum yang berwarna emas kekuningan tak juga mampu menyejukkan pikiranku bahkan barisan burung2 yang terbang mengikuti arah angin tak mampu meniupkan ketentraman bagi hatiku.
tiba2 kau belokkan arah mobilmu dan menghentikan perjalanan tak bertujuan ini disebuah jalan setapak yang mengarah ke arah luasnya sebuah padang pertanian gandum. di kejauhan kulihat pantulan kilau air dari sungai Po' - yang mengalir membelah kebesaran region Emilia-Romagna yang sayangnya airnya mulai kecoklatan meski tak bertimbun sampah seperti Ciliwung.
kau tak keluar dari mobil. begitupun aku. kausandarkan tubuh penatmu yang begitu mengenalnya aku akan dirimu hingga dapat kutahu seketika dari tegangnya otot2 di lenganmu dan dalamnya pikiranmu kutahu dari satu tanganmu yang kau tempatkan diatas bibirmu dengan satu tangan lagi tetap diatas steering sementara matamu memandang jauh ke depan. betapa indahnya dirimu, Lelakiku. tahukah kamu betapa kontrasnya profil dirimu dengan alam sekitarmu? kuningnya hamparan padang gandum senada dengan rambut tembagamu sementara tubuhmu bagai lukisan hidup dibawah sinar redup matahari yang menyemarakkan malam yang sudah jatuh sejak 5 jam lalu.
kuberanikan diri membuka suaraku.
'apa yang kau pikirkan sekarang?'
tubuhmu tetap tak bergerak tetapi di kokoh lehermu kulihat kau telan ludahmu. meski begitu tak ada suara yang keluar dari kerongkonganmu. aku tak tahu apa aku harus terus bertanya atau harus kubiarkan kamu. aku sadar lewat kalimat terakhirku sebelumnya telah kucabik dengan sukses hatimu. saat aku masih menunduk dan berpikir kau rupanya mendapatkan kembali nyawamu dengan bergerak keluar dari mobil. hentakkan pintu mobil membuatku keluar dari lorong pikiranku. kau bersandar di atas kap mobilmu sambil menyilangkan kedua tanganmu didada. aku ikut keluar dan bersandar disampingmu. sunyi memeluk kita berdua dan hening bersemayam di udara.
oh Tuhan aku sudah tak kuat lagi. aku tak bisa, tak pernah bisa, dibiarkan terlantar tanpa mendengar suaramu. aku tahu, aku menyakitimu dan ada sesuatu di dalam hatiku yang kerap menyiksa batinku yang mengatakan bahwa aku sejahat hawa di taman firdaus saat memaksa adam untuk ikut jatuh kedalam dosa. tetapi aku tak ingin terus membuat dosa dan bergelar si pendosa. maka kupanggil namamu pelan.

lygia
June 07, 2003, 18:49
'sayangku... bicaralah padaku. katakan apa yang ada di dalam pikiranmu', ujarku dalam senyap malam.
dimulai dengan helaan nafasmu akhirnya kudengar kembali suara beratmu, suara yang mampu membangkitkan sesuatu didalam diriku, menggetarkan kembali syaraf2 kehidupanku, seperti Lazarus - yang mendapatkan kembali nyawanya dari suara Sang Guru. Ah sayangku, begitu besar kuasamu atas diriku.

'Aku kerap bertanya, satu pertanyaan yang kurasa... kurasa aku tahu apa jawabannya. Seberapa besarkah arti keberadaanku bagi dirimu?', jawabmu tanpa memandangku.

'Keberadaanmu adalah sebagian dari hidupku!'. pandang aku Matahariku, pandang aku sekarang agar kau dapati betapa tulus dan dalamnya jawabanku atas pertanyaanmu. tetapi kau tak memandangku. aku r e t a k.

'Kau bohong. Hidup tak dapat kau bagikan.'

'Hidup memang satu dan hanya sekali tetapi jiwa yang adalah bagian dari hidup bisa mati sebagian.'

'Jika begitu maka engkau telah mati sebagian...'

'Benar'

'Dan aku mati seutuhnya. Dengan kekecewaan teramat besar. Sementara kau masih bisa melanjutkan sebagian dirimu itu dan mengobati hari demi hari kelumpuhanmu jiwamu. Apa yang kau pikirkan tentang aku?'.

aku menutup mataku. kau takkan pernah bisa mengerti, Cintaku. tak kan pernah bisa mengerti meski aku terus berusaha membuatmu untuk mengerti. ataukah, tiada orang yang mampu mengerti satu terhadap yang lain di dunia ini? meskipun kita telah bersetubuh, kita saling mencinta, kita selalu bersama dalam kurun waktu yang cukup lama? aku tak lagi bisa menangis. bibirku terkunci dalam kekeluan sementara lidahku dilekat kebisuan.

'jawab aku! bila kau punya jawaban untuk itu', kembali kudengar suaramu.

jangan, jangan lagi lakukan itu, menyiksaku untuk mendengar kekejaman dalam suaramu. tetapi aku tak mau jatuh dalam kesedihanku ataupun kelemahanku, maka kuangkat kepalaku dan balas memandang tajam matamu. Mata yang tetap indah bahkan disaat kau marah. Maafkan aku, sayangku bila aku berpikir kelak bila kau telah tiada hendak kucongkel mata itu dari rongganya dan kusimpan dalam kristal kaca untuk menerangi tidurku dalam pekatnya gelap malam.

‘kau takkan pernah mengerti. sampai kapanpun kau tak kan pernah bisa mengerti. atau kau yang TAK INGIN mengerti!.’ Yah, sepertinya memang begitu. Kau yang tak ingin mengerti.

Kau menggerakkan kepalamu tak setuju, menggertakkan gigimu dan membuang pandanganmu ke arah lain tetapi segera memandangku lagi.

‘Aku tak ingin mengerti?’, sambil menunjuk ke dadamu sendiri.

‘Ya! Kau tak ingin mengerti!’, jawabku tak kalah gertak.

‘Ok! Jelaskan padaku DIMANA ketidak mau mengertianku.’

Aku sudah hendak angkat bicara akan memetaliurkan semuanya tetapi terpotong oleh suaramu yang kembali mengudara.

‘Aku biarkan kau terus tinggal bersamanya - hingga detik ini. Aku biarkan kau pergi sesuka hatimu dan memutuskan sesuatu sekehendakmu tanpa persetujuanku. Aku biarkan kau perlakukan aku sebagai orang kedua yang harus menerima segala sesuatunya tanpa punya hak berbicara . Itu adalah hal2 terbesar yang kubiarkan kau melakukannya. Kenapa? Sebab aku mencoba mengerti dirimu! Meski untuk itu aku jadi kelihatan seperti lelaki bodoh tanpa daya. Di matanya terutama. Di mata lelaki ITU! God damn it!’

Kau membalikkan dirimu keatas kap mobil dan menyangga tubuhmu diatasnya dengan kedua lenganmu yang otot2nya terlihat membiru. Nafasmu memburu. Aku tetap terpaku dengan tatapan beku meski hatiku haru biru.

‘Dimana ketidak mengertianku? Katakan!’. Pandanganmu menuntut jawaban.

‘Bukan itu maksud perkataanku.’

‘Oh! Sekarang hendak kau bilang kalau aku salah pengertian?’, kau tersenyum sinis. ‘Kau pandai memainkan kata2 saat kau tersudut, bukan?’.

Senyummu terlihat bagai si ular. Amarahku meledak. Kau membangkitkan intaian si Iblis yang memang sejak dari awalnya penciptaan besar telah bersemayam di dalam hati masing2 manusia.

‘Porca Miseria!’, ekslamasi jelek yang baru pertama kalinya dalam hidupku kukeluarkan dari mulutku. ‘Kau jahat! Sungguh jahat! Kau sama saja seperti lelaki lainnya di negeri ini. Kau hanya senang mendengar suaramu sendiri. Kau hanya ingin mendengar pendapatmu sendiri. Kau tak peduli pada pemikiran orang lain yang tak sesuai dengan pemikiranmu!’, ujarku berapi-api.

Matamu melebar ada api juga didalamnya.

‘Itu katamu? Begitu katamu? Kalau begitu adanya kenapa aku ada disini bersamamu sekarang? Dan 2 tahun kita bersama? Kenapa?’.

‘Sebab kau tak mau melepaskan aku!’.

‘Sebab kau senang mempermainkan aku dan melihat kebodohanku!’

‘Aku tak sejahat dirimu!’

‘Kalau begitu kaulah si orang suci itu!’

‘Seandainya memang begitu. Aku ingin yang terbaik bagiku!’

‘Yeah. Dan jangan pernah peduli dengan orang lain sebab hanya menghabiskan waktumu! Sekarang kau sadar siapa yang TAK MAU mengerti. Aku atau kamu!’

‘Kau salah paham, bukan itu maksudku soal pengertian!’

‘Kau mau bilang kalau kau mengerti aku sekarang!?’

‘Aku harus jawab ya sebab memang begitu seperti kau coba mengerti aku!’

‘Kalau begitu kenapa kau harus tinggalkan AKU!?!? Kenapa bukan DIA yang kau tinggalkan? Kenapa harus selalu AKU!?!?’

Teriakan2 kita berdua merobek kesepian malam.

lygia
June 13, 2003, 10:55
Paginya Daud menulis surat kepada Yoab, panglima perangnya dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. Ditulisnya dalam surat itu, demikian; ‘’ Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri daripadanya, supaya ia terbunuh mati.’’

§§§§§§§§§§§§§

Jadi disitulah letak masalahmu. Dia. Dan itu menambah keyakinanku bahwa kau tidaklah seutuhnya mau mengerti aku. Kau mungkin mengerti daku sejauh mana kau mau mengerti aku, tetapi untuk hal lainnya kau tidak berusaha untuk menerimanya, meski, telah berkali-kali baik lewat ucapan ataupun perbuatan aku tunjukkan mengapa aku tak dapat meninggalkan dia dan aku memilih meninggalkan kamu, yang sebenarnya adalah lelaki yang kepadanya kuserahkan seluruh rasa teramat agung dalam hidup sebagai manusia yang dinamakan cinta.
Kupandang bersihnya langit biru malam. Kuatur perasaanku sebelum kumulai berkata-kata lagi. Aku ingin meredakan kemarahan ini, aku tak ingin lebih menyakitimu lagi. Untuk apakah sakit hati bila kita akan berpisah juga pada akhirnya? Sakit hati perlu untuk 2 anak manusia yang masih bertahan untuk saling bersama sebab dengan begitu cinta makin bermakna dan kehidupan akan terlihat lebih baik adanya. Lebih baik aku memelukmu dalam cintaku lalu pergi daripada aku meninggalkanmu dalam benci.
‘Aku akan meninggalkannya juga.’

‘Kapan?’.

‘Setelah kita selesai disini, setelah aku tinggalkan kamu.’

Kau menatapku dalam-dalam. Tak ada lagi amarah di mataku atau nada suaraku meski dalam matamu masih kulihat itu.
Aku l e l a h.

‘Sekarang katakan padaku, rencana apa yang ada di dalam kepalamu. Setidaknya untuk satu kali saja kau bisa kemukakan rencanamu kepadaku. Sebab kau mengejutkanku sekarang dengan rencanamu untuk meninggalkan dia juga,’ masih ada sinis disana, di dalam suaramu. Aku teramat l e l a h.
Aku berusaha untuk tak mempedulikan kesinisanmu dan mencoba membangun kembali semua kesabaranku untuk mengokohkan ketenangan dalam diriku.

‘Aku pikir aku punya batas waktu untuk segalanya. Terutama untuk hidupku disini. Aku pikir aku tak dapat terus hidup seperti ini. Aku menyakitimu, aku menyakitinya, dan aku menyakiti diriku sendiri. Aku hidup dalam labirin transparan dan kulihat kau disisi kananku dan dia di sisi kiriku. Kalian kerap mengikuti aku. Dulu aku suka itu. Sekarang aku tak suka itu setelah semakin terjalnya jalan yang kulalui. Aku tak ingin kalian jatuh bersamaku.’ Kutarik nafas sebentar. Kau tengah memandangiku. Apakah kulihat api itu sedikit meredup?

‘Dan aku pun tak ingin pula semakin jatuh’, kumainkan kakiku diatas tanah. Kau tetap diam.

‘Aku akan pergi. Secepat yang kubisa. Kuharap setahun lagi. Kenapa harus kutunggu setahun? Karena aku ingin membayar… dalam tanda kutip, apa yang telah dia lakukan untukku. Kau tahu betapa dekatnya kami, dia, orangtuanya… dan aku bukan hanya menyayangi dia tetapi juga orang tua dan keluarganya. Menurutku, setelah bertahun2, adalah tak pantas bila aku cukup mengatakan selamat tinggal lalu pergi dari kehidupan mereka seperti angin . Tidak! Aku akan berusaha sehalus mungkin menunjukkan bahwa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan diantara kita berdua. Lalu aku akan pergi.’
Api itu sudah padam dari matamu. Terima kasih Tuhanku. Kuteruskan kata2ku.

‘Aku tidak menyederhanakan hubunganku denganmu. Tetapi aku mau kau mengerti bahwa antara aku dan dia bukan hanya kami berdua yang terlibat. Bila mungkin aku tak ingin ada lagi sakit hati yang kubuat bagi orang lain.’ Aku tunggu reaksimu. Tak ada.

‘Sedang antara aku dan kamu - hanya ada aku, kamu... dan sang Cinta.’
Aku memandangmu dalam-dalam seperti caramu memandangku saat ini. Bisakah kau baca kesedihanku?

‘Aku akan kembali ke negeriku. Itu rencanaku. Bilapun aku tak kembali, aku telah siap pergi dari kehidupan kalian masing2 dan memulai kehidupan baruku… yang kuharap aku mampu.’
Sepertinya aku tak perlu menunggu respons darimu sebab sepertinya Sang Malam jatuh cinta padamu dan sambil mendekapmu mengelukan pula lidah dan menahan pikiranmu.

‘Jadi kau lihat, aku takkan lagi menduakanmu atau siapapun di dunia ini.’
Hening menggandeng kebisuan.

lygia
June 15, 2003, 12:41
‘Kau akan pergi?’, akhirnya terlontar juga suara dari bibirmu.

‘Aku akan pergi.’
Tuhan, betapa berat rasanya mengucapkan kata itu.

‘Dia tahu?’.

‘Kami telah berbicara dua minggu yang lalu.’
Dan aku butuh 2 minggu untuk mengatur serpihan2 hatiku agar dapat mengatakannya kepadamu malam ini.

‘Dia setuju?’.

‘Siapakah diantara kalian yang pernah setuju dengan pendapatku? Tapi aku yang punya hidupku.’

Kau membuang pandanganmu lagi. Kali ini kedalam mobil. Malam tidak begitu gelap dan beberapa puluh meter didepan ada rumah besar yang terang benderang. Mungkin ada pesta disana. Sinarnya membantuku mengamati raut wajahmu. Engkau tengah galau, kekasihku. Ah, ingin aku mendekapmu dan mengatakan betapa menyesalnya aku dengan keputusanku.

‘Mengapa kau harus pergi? Mengapa setelah kau tinggalkan dia – kau tak kembali padaku?’, tanyamu seperti berbicara dengan mobilmu.

‘Aku… aku tak yakin akan satu hubungan yang dijalani diatas kepedihan orang lain.’

‘Mengapa kau harus selalu memikirkan orang lain selain aku?’, kini kau menatapku tetapi ganti aku yang berbicara dengan tanah.

‘Sebab… sebab… sebab aku sendiri di sini. Aku tak ingin, bila mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini diantara kita bertiga, maka orang lain akan membenciku untuk yang kulakukan.’
Aku hampir menangis sebab mendadak aku merasa diselimuti selubung hantu kesendirian yang teramat besar. Telah berapa lamakah aku hidup sendirian? Sendiri dalam kehidupan adalah hal yang teramat menyedihkan. Aku teringat keluargaku di negaraku, teringat akan hubungan kami yang semakin lama semakin menjauh. Teringat masa-masa lalu. Isakanku pecah.
Ah, sialan, kenapa aku harus selalu mengeluarkan airmata pada akhirnya? Aku terisak karena tumpahan amarahku dan karena segunung kesedihanku. Diantara seduku kudengar kau sebut namaku pelan.

‘Sayangku… jangan menangis.’
Kurasakan kau bangkit dari dudukmu dan menghadapku. Lalu memelukku. Isakanku pecah menjadi tangisan sekarang.

lygia
June 18, 2003, 06:09
Untuk beberapa saat lamanya kau hanya memelukku erat hingga aku tenang kembali. Ketika tangisku berhenti, didalam dadamu aku mengucap syukur pada Tuhan yang memanjangkan tanganNya lewat lenganmu untuk memelukku dan memberiku ketenangan. Aku ingin tetap diam selamanya didalam pelukmu, Kekasihku.
‘Maafkan aku bila aku mengatakan engkau egois,’ diusapnya kedua belah pipiku untuk menghapus airmata yang tersisa. ‘Ada saat dimana kau amat sangat egois... dan ada saat dimana kau tidak dapat menyembunyikan lembut hatimu dibalik kekeraskepalaanmu.’ Dibelainya rambutku seperti seorang ayah membelai puteri kecilnya lalu tersenyum. Kemudian kau duduk sementara aku yang tetap berdiri kau bawa kehadapanmu. Kini kita sama tinggi.
‘Kau boleh berlaku sesuka hatimu atau bertindak semaumu, kau boleh tetap menjalankan rencana2mu, kau boleh terus bersikeras mencampakkan perasaanmu, kau boleh terus mengeraskan hatimu... tetapi kau tak dapat membuatku berhenti... mencintaimu.’ Kita bertatapan.
‘Aku tahu apa yang ada didalam hatimu,’ kau letakkan telapak tanganmu ke atas jantungku, ‘dan apa yang ada di pikiranmu’, kau letakkan lagi telapak tanganmu ke keningku. ‘Dan aku mencintaimu seperti apa adanya dirimu. Sebab aku tahu seperti apa sesungguhnya kamu... dibalik semua perbuatanmu. Aku –m e n g e r t i – dirimu’.
Aku tersentuh. Senyummu terhias indah di atas bibirmu yang merah tak pernah tersentuh nikotin. Ada sesuatu disana juga di matamu yang membuatku terpana sekaligus siaga.
‘Katakan yang sejujurnya. Kau mencintai aku?’. Pertanyaan jebakan, aku tahu. Dan aku tak bisa berbohong.
‘Aku mencintaimu,’ ujarku pelan. Tak tahu apa yang selanjutnya akan kau tanyakan.
‘Bila kau pergi, yakinkah kau bahwa aku akan membiarkanmu?’.
‘Apa maksudmu?’.
‘Aku tahu kau akan tetap pergi bahkan bila aku katakan kau tak boleh pergi.’
‘Ya,’ pernyataan tegas meski diliputi keraguan.
‘Bahkan bila aku katakan kalau aku akan ikut bersamamu ke negaramu?’. Aku tersentak saat itu juga. Aku tak mempercayai telingaku.
‘Tapi... tapi kau pernah katakan...takkan meninggalkan negeri ini demi apapun’, aku terbata2.
‘Kalau itu bisa membuatku untuk tetap bersamamu... kalau itu bisa menyakinkan dirimu... aku akan pergi bersamamu,’ ujarmu teguh.
Tuhanku, lelaki macam apakah ini? Tidak adakah sesuatu yang mampu menghentikannya mencintai aku? Atau haruskah aku melakukan sesuatu teramat dramatis hingga dia mau melepaskanku seutuhnya? Dengan bercinta dengan lelaki lain didepan matanya mungkin? Oh... aku menggeleng2kan kepalaku mengusir pemikiran itu.
‘Kau tak boleh melakukan hal itu’, kataku lagi.
‘Kenapa tidak?’.
‘Sebab disinilah tempatmu’.
‘Tempatku disisimu. Dan aku takkan bergerak dari situ.’
‘Kau... kau takkan sanggup hidup di negara lain yang 360° berbeda dengan negaramu.’
‘Kalau kau bisa kenapa aku tidak?’.
‘Keluargamu?’.
‘Aku akan membangun keluargaku sendiri’.
‘Keluargaku?’.
‘Bawa aku mengenal mereka.’
Sesuatu yang takkan kulakukan... setidaknya untuk beberapa tahun kedepan. Sebab akupun tak yakin aku akan kembali ke negaraku ataupun ke-keluargaku. Kucari alasan lain untuk menghentikan rencanamu.
‘Pekerjaanmu?’.
‘Aku punya segudang keahlian yang kuyakin dibutuhkan di negara berkembang seperti negaramu.’
‘ Kehidupanmu?’.
‘Menikahlah denganku... dan buat kehidupanku indah di negaramu.’
‘Kau... kau mau menggantungkan hidupmu di dalam tanganku?’.
‘Sejauh ini kau amat bertanggung jawab dengan pekerjaanmu. Aku percaya kau akan lebih bertanggung jawab lagi akan hidup seseorang di tanganmu.’
Apa lagi yang bisa kukatakan untuk menggoyahkan keinginanmu? Sejujurnya aku terharu mendengar kata2mu membuatku yakin akan besarnya kasihmu padaku hingga kau mau menempatkan dirimu dalam keadaan sama seperti diriku pada masa sekarang ini.
Dan aku membandingkan dirimu dengan dirinya.
Seperti daratan dan lautan yang adalah senyawa bumi.
Bumi itu adalah aku.

Teophania_star
June 18, 2003, 08:04
wow....................

surfergirl
June 22, 2003, 03:40
aheaehaehea
oma lyg, ada yang tercengang2 rupanya... ::brow::
eih jangan pernah hueran bin tuakjub kaluw baca cerpen lygia punya... ntar helemnya mengkerutt...

lygia
June 22, 2003, 13:57
euh, apaan tuh kamxud-na??? :bingung:

nih deh ta' posting lanjutannya biar otak2-nya skalian mengkisut zangan cuma helem-na doank :D

lygia
June 22, 2003, 14:08
‘Menurutmu, apa yang akan dilakukan dia bila dia tahu semua kata2mu barusan?’.
‘Apa aku harus peduli?’. Ada sebentuk senyum aneh di ujung bibirmu.
‘Aku peduli!’.
‘Itu urusanmu. Itu hakmu. Lalu apa yang akan kau lakukan untuk itu?’.
Kau tunggu jawabanku untuk beberapa saat lamanya. Aku tak punya jawaban.
‘Kau akan meninggalkannya juga bukan?’, desakan dalam pertanyaanmu, mungkin sekarang kau bimbang akan paparan rencanaku. Aku cukup mengangguk saja.
‘Jawab aku! Kau akan tinggalkan dia bukan?’, tak puas kau akan gerakkan kepalaku saja.
‘Ya!’, aku menegaskan. Kutatap matamu. Tajam dan dalam.
‘Jadi kenapa aku harus peduli?’.

Ya, kenapa kau harus peduli.

‘Kau akan kehilangan persahabatanmu dengannya.’
‘Tapi aku mendapatkanmu seluruhnya untuk-ku.’
‘Apabila dia berpikiran sama denganmu dan melakukan hal yang sama pula?’.
‘Aku mungkin akan membunuhnya.’ Dalam dan pasti.
Mataku terbuka lebar. Senyummu masih disitu. Masih sebentuk senyum - bukan seringai. Ah, sayangku, apakah kau benar2 bermaksud begitu?
‘Aku tak pernah berpikir sampai kesitu’, ingin kulihat sampai dimana keseriusanmu.
‘Tak juga aku. Tetapi bila kau minta... mungkin!’, dibalik deretan gigi putih rata yang membentuk senyum kulihat ada kilau kekejaman didalamnya. Aku merinding. Darahku berdesir.

lygia
June 22, 2003, 14:15
‘Jangan pernah berpikir begitu! Jangan pernah!’, ujarku dingin. Kau mengelus lenganku pelan-pelan dari pangkal pundak-ku hingga keujung2 jemariku.
‘Bila begitu maumu, Sayangku. Tetapi ingat, aku akan mempertahankan apa yang seharusnya jadi milikku’, ada keteguhan yang tak terelakan didalam kata2mu ditambah dengan bangkitnya dirimu dari posisi dudukmu sedari tadi yang membuatku kembali harus menengadahkan kepalaku untuk menatapmu yang menjulang diatasku.
‘Dia boleh berusaha mendapatkanmu kembali. Itu juga haknya seperti aku pun berhak merebutmu dari tangannya. Karena kau mencintaiku bukan?’, kaudekatkan wajahmu ke wajahku. Jantungku mulai berdegup tak beraturan.
‘Jadi segala cara akan kuusahakan untuk mempertahankanmu.’ Hidungmu telah menyentuh hidungku dan hangat nafasmu menyapu seluruh permukaan wajahku.
‘Meski untuk itu mungkin aku harus... menyakitinya...’, kau rengkuh aku dan menekanku dalam dadamu.
‘Agar dia juga merasakan... sakit hatiku.’
Kurasakan gejolak kemarahanmu dalam ciumanmu melalui desakan lidahmu didalam bibirku yang mencoba memenjarakannya.
Untuk sesaat aku terbawa bermacam2 arus perasaan, antara kemarahan-mu, cinta-ku akan dirimu, kekerasan-mu dan kebimbangan-ku. H a n y a s e s a a t.

surfergirl
June 24, 2003, 09:34
huduuhhh... lama2 koq critanya jadi aga2 ngeri gitu...
hihihi
daku kan masih dibawah umur...
dibawah umur oma lyg maksudnya... :D

lygia
June 24, 2003, 10:50
tighten your seatbelt, nak! :kakaka:

surfergirl
June 24, 2003, 14:16
eh oma tercintah... cucumu ini pan naek ojek so kaga pake seatbelt2an... :hehe
btw- anda mampir dong di forum puisi, baca thread 'kios baru/ jagal sajak'
lumayan menghibur :D

lygia
June 25, 2003, 07:17
klo begitu kencangkan ikatpinggang dan kancing celanamu, nak! :hehe

eh, hari gini maen jagal-menjagal. Hoiy ini bukan zaman manusia pithecantropuserectus.
lagian karya sastra kok dijagal segala?
itu kan tercipta dari deepest personality of someone. menjagal karyanya berarti ikut menyinggung sisi pribadi yang mencipta.
klo ngga demèn ya jangan teruskan baca karya tsb. kan cuma rugi di duid bukan rugi di amal.

surfergirl
June 25, 2003, 17:21
yah ouma...
zaman skarang entertainment memang zadis...
apalagi kaum adam itu kan hobi jagal menjagal, jadi gaya barbar gini justru ditanggapi antusias...

tp yg bikin malaz... sejauh ini komentatornya cuma satu
padahal sastra itu multi interpretasi, satu teori akan dan harus diserang teori lain. kaya crita siti nurbaya, dulu kan datuk maringgih kesannya tokoh jahat, tapi orang post-mo bakal bilang dia itu pahlawan karena berjuang melawan penjajah/belanda.

lho kok jadi nostalgila maza muda oma toh?? :hehe

lygia
June 29, 2003, 12:17
padahal sastra itu multi interpretasi
yupe, betol itu.
anyway, mbok ya pake judul yang senonoh dikit dounk. men-Jagal!!! lha kok daku jadi ingat si Djalal tokoh 1001 malam yang hobi membunuh 'ntu. hiiyy...

kenapa tdk bikin judul Interpretasi Puisi or Karya Sastra?
ini kan lebih memacu orang tuk mendiskusikan karya tsb secara apresiasive meskipun ada menyentuh sisi negative sebuah karya.

I passed there... a week ago, and I stopped. No intention to join. Berdosa rasanya :D

lygia
June 29, 2003, 12:25
Ketika akhirnya kesadaranku kemudian kembali ke relung otakku kulepaskan bibirku dari jeratmu yang kadarnya lebih dari 100gr morfin.
'Aku takkan pernah jadi milikmu bila begitu pemikiranmu', ujarku sedingin salju abadi di puncak Alpen. Aku merasakan ada satu ancaman menyeruak dari sikapmu. Aku tak suka itu. Untuk pertama kalinya terbersit rasa takut padamu.
'Kau tahu bahwa kau dapat meminta apa saja dariku dan akan kulakukan untukmu. Aku adalah lelaki teramat fleksibel yang bisa jadi apa saja untukmu. Kau menyadari itu bukan? Tetapi aku adalah juga lelaki yang punya harga diri dan rasa benci-sebab aku juga manusia pada akhirnya. Kau paham itu?', katamu diantara angin yang secara tiba2 semilir bertiup.
Aku paham. Dan aku tak perlu kata2 lagi darimu. Aku memang tak dapat merubah perasaanmu apalagi dirimu. Tiada manusia yang mampu merubah manusia lainnya. Aku sadar, untuk itu hanya aku yang mampu merubah cara dan jalan hidupku untuk dapat membantumu merubah cara berpikir dan perasaanmu. Tetapi mampukah aku merubah perasaanku kepadamu?
Kuhela nafas panjang dan membuangnya dari paru2ku kepada angin yang bergulung bersama udara malam. Tuhan, betapa besar tanggung jawabku dalam hubungan yang kujalani ini. Kini selain hidupku di tanganku - aku punya nyawa yang harus kujaga selain nyawaku tentunya. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa aku akan menjadi Pontius Pilatus dalam kehidupan seorang manusia.
'Kumohon, jangan berpikir seperti itu ataupun melakukan yang kau katakan itu. Bahkan bila kau terpaksa... Aku tak ingin ada lagi kepedihan yang kubuat bagi orang lain. Kumohon...', kutatap jauh kedalam matamu agar kau lihat juga beban yang kurasa menggantungi seluruh hidupku hingga mungkin selamanya dalam eksistensiku di dunia ini. Jari-jarimu menelusuri keseluruhan wajahku dan berhenti diatas bibirku.
'Cukup dengan jangan lagi pinta aku untuk melepaskanmu atau kau meninggalkanku', ujarmu lembut, selembut beludru.
Kini aku mendapatkan kembali lelaki yang kukenal selama 4 tahun ini. Sepertinya Sang Malam melepaskanmu dari kegelapan cengkramannya dan mengembalikan hayatmu lewat udara yang dihembuskannya. Maka kujatuhkan pula seluruh diriku kedalam hangat dirimu tepat keatas detak jantungmu agar bila mungkin roh kita menyatu dalam setiap impulse yang tercipta dari kehidupan kita.

surfergirl
June 29, 2003, 16:21
hueh, tadinya gw kira semacem review gitu
fifty2 lah antara positive-negative
rupanya betul2 zagall tanpa emosi
kayak hitler

weks yg bener aza ouma... ini mah dosa tiada ampun...
:D :D :D

lygia
July 05, 2003, 13:25
Sia-sialah semua rencanaku. Sia-sialah semua kata2 yang selama berhari2 telah kususun untuk kuutarakan padamu malam ini. Pada akhirnya kita bersama lagi. Karena ternyata aku masih mencintaimu dan kamu masih bertahan untuk selalu memiliki aku. Meski untuk itu aku berpikir bahwasanya aku adalah objek obsesimu. tetapi haruskah aku peduli itu? kalau ternyata cinta lebih berkuasa dari segala teori yang ada? Dan obsesimu adalah punggawa cintamu yang menyala-nyala? Aku yakin aku tak mampu memadamkan nyala itu sebab aku pun tak jua mampu memadamkan nyala yang sama di hatiku, meski aku berusaha untuk itu. Dihatiku aku membisikkan doa kepada Penciptaku - Allahku, adakah Engkau menciptakanku dari tulang rusuk lelaki yang tengah erat merangkulku saat ini?
Kubuka mataku saat kausentuhkan wajah belum bercukurmu yang mengusap lembut pipiku.

‘Maafkan aku, Kekasihku bila aku menakutkanmu akan kata2ku...’ kau kecup pipiku lembut beberapa saat lamanya seakan hendak kau hisap ketakutan yang membuat gemetar tubuhku sebelumnya kemudian kau bingkai wajahku dalam dua tanganmu kau bawa untuk menatap wajahmu.
‘Aku ingin menjaga dirimu karena kepadamu telah aku percayakan hatiku – juga hidupku. Untuk itu aku tak dapat memaafkan diriku bila membiarkanmu p e r g i dari hidupku’, kudapatkan satu selaput kepedihan yang sama yang pernah kulihat sebelumnya berkelebat di dalam sinar matamu. Kehilangan yang sama.
Dan a k u m e n g e r t i i t u.

‘Jika begitu, buat aku tak pernah lagi berpikir untuk pergi dari dirimu’, ada kerelaan yang dalam saat kuucapkan kata2 itu. Dan aku ingin kau, Pemilik Separuh Hidupku, terbebas dari rasa sakit itu. Ini adalah satu jalan. Kupikir aku takkan pernah s i a p tetapi aku tahu aku takkan pernah siap bila tak kubunuh rasa itu secepatnya.

‘Tidak cukupkah aku mencintaimu, Wanitaku?’

‘Aku menginginkan lebih dari cintamu’. Kumetakan keinginan terdalamku melalui sorot mataku kedalam keemasan sinar matamu.

‘Apa lagi yang kau minta dariku?’

‘Persembahkan untukku arti dari kehidupanmu’. Kususupkan perlahan jemariku kedalam busanamu.

‘Yakinkah kau akan hal itu?’. Jemarimu menahan tanganku tetapi matamu tak mampu menahan emosi jiwamu.

‘Jangan buat aku untuk mengulangi kesalahan yang sama’.

‘Kau sadar bahwa ini akan menjadi legitimasi bagiku untuk hak kepemilikanku atas dirimu seutuhnya – hanya UNTUK-KU!’

‘Kita tak butuh lembaga untuk mengatakan bahwa aku adalah Wanitamu dan kau adalah Lelakiku.’
Kudekatkan bibirku ke bibirmu dan meniupkan nafasku diatasnya. Tubuhmu bereaksi seketika.

‘Atau orang lain ... yang mengatakan bahwa aku adalah Daud dan kau adalah Batseyeba-ku yang hidup dalam dosa.’

Hawa hangat malam musim panas membelai punggungku yang telah terbuka bersamaan dengan sentuhan jemarimu diatasnya.

‘Dan ini akan menjadi kesaksian cinta kita berdua - s e l a m a n y a.’

‘Izinkan aku memperkosamu, Belahan Jiwaku’.

‘Cintamu kerap memperkosaku.’

Maka dibawah kesaksian langit malam ditengah hamparan padang gandum dan dibawah pantulan kilau bintang diatas air sungai Po’ yang maha besar kita bercinta - untuk memberi makna dari sakralnya cinta – anugerah Tuhan terhadap manusia – agungnya arti hidup itu sendiri dan untuk meleburkan seluruh ragam rasa yang ada hari ini.
Jikalau perpisahan itu ada maka dia telah meleleh diantara bara asa cinta kita yang tak pernah binasa.

- FIN -

surfergirl
July 05, 2003, 15:11
mbak lygia, selamat ya cerpennya tamat... :D
eh ouma lyg deng...

dosa itu emang beda tipis dengan kebahagiaan seseorang ya
dan kekuatan cinta itu melampaui norma2 sosial, bahkan religi
unfortunately, not many ppl got the courage to break these barriers
yah, i still have to learn more about that, definitely :hehe

ouma, kenapa dialog terakhirnya mirip2 saman ?

lygia
July 06, 2003, 12:38
dah capek ya bacanya? :D

somehow sins have to be made - to reach the happiness and to understand better the life itself.
klo adam tidak jatuh kedalam dosa, manusia tidak akan pernah belajar dari kesalahannya. Klo Daud tidak merebut Betseyeba dan membunuh Uria, Israel tidak akan pernah punya raja sebijaksana dan sehikmat Salomo.
But from those 2 examples above - what's the moral you've found? ;)
bisa jadi persepsi yang jamak sekali, tergantung darimana kamu melihat ''this matter''.

well, cinta itu sendiri kan sebenarnya adalah azas terdasar dari hukum kasih Tuhan. Cinta adalah nafas Tuhan yang dihembuskannya kedalam hayati (hayat dan hati) setiap manusia. Sementara agama adalah media yang diciptakan manusia untuk mencapaiNya. Sayangnya, bahkan kadang manusia yang religius sekalipun bisa melupakan dasar terdalam dari hukum yang mereka buat.

ouma, kenapa dialog terakhirnya mirip2 saman ?
Kata kerja memperkosa kayaknya universal banget deh dan boleh dipake setiap penulis diawal, tengah dan akhir tulisannya :D

Dimanakah kesamaan-nya? apa dalam pemakaian kata2 ''memperkosa'' atau dalam pemaham yang sebenarnya dari seluruh kalimat sejak awal cerita?
Im waiting...

Klo Wicak meminta Yasmin memperkosanya - imho - adalah erasing his past and penyerahan diri sepenuhnya dari seorang frater (which supposed to be pure as nuns) kepada duniawi. Wicak secara sadar membelokkan arah hidup yang dipercayainya kepada Tuhan ke jalan lain - seperti Adam karena cintanya pada Hawa membiarkan dirinya jatuh kedalam dosa.

In my story - he asked her permission to forced his love towards her body and soul to be able to create another human being who will be their testimonial of their love to defense themselves from the so called ''human rules'' and over someone else's cawls and shadows.

surfergirl
July 07, 2003, 04:50
well, capek sih engga, gw baca 1-2 postingan trus makan, nengok komputer sebelah, ato lari2 ngejar anak tetangga buat selingan.. :D

hmmppffhh... speechless dah klo ngomngin bible
tapi iya bener, bahkan seorang yg perfect seperti daud pun bisa 'tercoreng'. justru dari situ sosok manusia-nya daud jadi utuh
kalo enga, wah, malaikat!

gini ouma, dosa bisa jadi bagian dari proses pencerahan...
hihihi, sok bgt ya... tp liat aja yg kaya oma bilang, Wis (bukan mas Wicak eh!) dari seorang yg memuja kesucian tiba2 sadar bahwa cinta itu berarti keterlibatan--sepenanggungan, cinta itu membumi, dan membumi berarti tidak lepas dari dosa. bagi Wis, itulah inti kehidupan, sementara kesucian barangkali cuma kulit luarnya aja. klo dia tetep kukuh dgn kulit luarnya= barangkali dia tidak akan pernah seperti Yesus yg disiksa, disalib, demi manusia yg dicintainya. haiahiahiahia, ayu utami dapet idenya dari situ kali ya?

oi, yg sama cuma dari pilihan kata dan timing-nya kok...
isinya lain bgt lah... ermmm, aihaiahia gmn ya ngomongnya, for me in 'rape', violence is involved, ada pelaku ada victim. dlm konteks critanya kan ini sukarela, juga setara. apa mungkin ouma menempatkan cinta ini sebagai sesuatu yg bukan pilihan tapi lebih ke kekuatan yg ngga bisa ditolak... sama seperti, let's say, fate a.k.a. takdir?

lygia
July 09, 2003, 11:48
eh iya, Wisanggeni ya...
kok daku ingetnya Wicaksono :D
btw Wicak is my friend, a frater with Italian origin that I knew there in Jakarta... my inspirator of wrote LUKAS.

lygia
July 09, 2003, 12:07
gini ouma, dosa bisa jadi bagian dari proses pencerahan...
hihihi, sok bgt ya... tp liat aja yg kaya oma bilang, Wis (bukan mas Wicak eh!) dari seorang yg memuja kesucian tiba2 sadar bahwa cinta itu berarti keterlibatan--sepenanggungan, cinta itu membumi, dan membumi berarti tidak lepas dari dosa. bagi Wis, itulah inti kehidupan, sementara kesucian barangkali cuma kulit luarnya aja.
Itulah cinta dalam pemahaman sedikit banyaknya manusia.

Cinta Tuhan itu sendiri tidak mungkin dilampaui oleh manusia. Klo manusia bisa mencintai manusia lainnya seperti Yesus mencintai para manusia - daku rasa kita semua sudah berada di sorga.

Something that messed up here within the word Love for human being is - love have to be means also bodies intimacy. As for the first human found out and UNDERSTAND that they we're barely naked.
while God's love - NO.

Ini jugalah yang memerangkap Wis.

Question now : Are newborn children then are only the result of sin? or have part of sin?

One who said a newborn baby is purely pure (can't find other words more adaptable) I guess has the lowest idea of his/her belief.

klo dia tetep kukuh dgn kulit luarnya= barangkali dia tidak akan pernah seperti Yesus yg disiksa, disalib, demi manusia yg dicintainya. haiahiahiahia, ayu utami dapet idenya dari situ kali ya?
maybe Ayu wanted to say manusia harus kembali ke kodratnya sebagai manusia :D .... darah dan daging.
Tidak akan ada manusia yang mampu menyetarai Tuhan-nya.
And now he just have to livin' into the world infernos and try to live the best he can...


I dunno...
Disinilah GREAT-nya karya sastra.
Dimana orang bisa berinterpretasi sesuka mereka yang membaca.
Dan tidak seharusnya orang lain menjudge pemikiran orang yang tidak sesuai dengan pemahamannya lewat kritik2 atopun jagal2an.

surfergirl
July 09, 2003, 14:59
woalaahhh omaa.... omaa.... oom Wis lha kok malih Wicak...
priben... :D
btw jadi iseng nih, figur frater dan sejenisnya itu kan emang punya appeal yg hebat sekali... kesannya menyamai sosok Yesus yg innocent, idaman ce2 lah... bener nih tmen gw ada yg jatuh cinta sama Oded Fehr (maen di film Mummy) just bcoz he looks like Him! ahieaheiaheiahia... :D

deu, klo soal sin2an ga ngeh de ouma...
cuma logikanya semua manusia berdosa sejak kejatuhan adam-hawa. kpn hari ponakan gw yg masih bayi meninggal, dr pihak keluarga (moslem) minta maaf klo ada kesalahan alm. dll, pdhl sih masih bayi... brati ada juga konsep dosa asal

ei, ouma, dirimu pernah tidak berbuat 'dosa' yg tergolong berat trus lama sekali enga bisa pulih dr rasa ber'dosa' itu...?
krn prinsip 'wannabe perfect' itu tadi, orang cenderung menghukum diri sendiri sebagai kompensasi-nya... gitu.

mmrmmm, pas gw kecil dulu, pernah muncul pikiran:
kalo binatang mati, ke surga juga enga ya? (soalnya gw punya piaraan anjing waktu itu)
trus kata siapa gitu, engga. eh gw kecewa berat. pikir gw di surga juga ada anjing lucu2
hihihi dunia orang dewasa emang kurang imajinatif, cnederung cari satu pembenaran, satu sisi, ya setali tiga uang sama zagal menzagal itu lah

lygia
July 16, 2003, 11:35
btw jadi iseng nih, figur frater dan sejenisnya itu kan emang punya appeal yg hebat sekali... kesannya menyamai sosok Yesus yg innocent, idaman ce2 lah... bener nih tmen gw ada yg jatuh cinta sama Oded Fehr (maen di film Mummy) just bcoz he looks like Him! ahieaheiaheiahia...
Sapah itu Oded Fehr?
The Mummy - yang maen Brendan Fraser ntu kah?
Co innocent idaman ceweq2? hihihi... t0l0l aja ce yang mau sama co innocent. klo mau cari dan pacarin yang begini sudah jelas alamatnya jadi pedofil :D
hhm... jadi inagt beberapa waktu yang lalu daku pernah dapat liat kalender yang dibuat satu paroki disini, modelnya frater2 muda. ganteng2! ntar cubak kucari lagi dan kuattach dimari ... buwat hiburan hihihi...

lygia
July 16, 2003, 12:00
ei, ouma, dirimu pernah tidak berbuat 'dosa' yg tergolong berat trus lama sekali enga bisa pulih dr rasa ber'dosa' itu...?

Berat ringannya dosa sapa sih yang bisa bilang takarannya?
apakah antar sesama manusia?
bukankah takarannya berada di mata Tuhan adanya?
(refers to verse where the people brought to Jesus a whore...)


....

well, karena kita idup di bumi makanya sesama manusialah yang menjadi jury bagi manusia lainnya...
Menurut daku, dosa itu selain menghilangkan nyawa sesama (yang notabene nyawa bukanlah milik manusia) sebenarnya tidak perlu takaran dan judicion apalagi sampai diadili segala.
dibumi ini, maling ayam saja dijatuhi hukuman penjara. oalah...

Merujuk ke pertanyaanmoe - jawabannya ya itu diatas tadi :D

As for me, if I made a sin (whether they said what I did is a sin or I thought to myself I did a sin) I learnt from it and live with it. sebab daku percaya dosa dibuat ato terbuat secara tidak langsung dari campur tangan Tuhan. Tujuan Tuhan BUKAN untuk membuat manusia berdosa, tetapi hanya sebagai DAMPAK dari perbuatan dari pemikiran manusia yang terbatas dimana pada akhirnya sebenarnya Tuhan ingin manusia mempelajari dan memahami hidupnya (dan sesama manusia) dari dosa yang dibuatnya lebih jauh melihat kebesaran sang Maha dari dosa yang dibuatnya.

I know it is sounds weird... and hard to understand...
But I never placed Satan as a ''person'' that I have to hate and avoid but not to be loved anyhow. I treat him like an indisquised teacher of life, bcoz it's his fault that we're now carrying the so called sins but if the first human wasn't so ignorable to denied the voices of their hearts (where is the sacred place of God) we will never learnt.

krn prinsip 'wannabe perfect' itu tadi, orang cenderung menghukum diri sendiri sebagai kompensasi-nya... gitu.
I never tortured myself as a self compensation anyhow... myself is too precious and I live only once.

surfergirl
July 16, 2003, 14:32
whuaw oma, mau dong kalender-nya... (^_^)

ouma, bagemanapun riwayat, bentuk, dan sifatmu, cucumu tetap sayanggggg sama engkauuu... awiahwiawhiawhai...

cape ni, ayo men-dongeng seblum tidur lagi...
gw jadi inget nih alm. eyang putri... dulu gw diajarin nyanyi lagu belanda... trus dimasakin yg enak2... *ahiks*

Lady Synthesizer
December 09, 2003, 04:15
perasaan nya real banget... :hmmm: :eek:

Lady Synthesizer
December 09, 2003, 05:10
As for me, if I made a sin (whether they said what I did is a sin or I thought to myself I did a sin) I learnt from it and live with it. sebab daku percaya dosa dibuat ato terbuat secara tidak langsung dari campur tangan Tuhan. Tujuan Tuhan BUKAN untuk membuat manusia berdosa, tetapi hanya sebagai DAMPAK dari perbuatan dari pemikiran manusia yang terbatas dimana pada akhirnya sebenarnya Tuhan ingin manusia mempelajari dan memahami hidupnya (dan sesama manusia) dari dosa yang dibuatnya lebih jauh melihat kebesaran sang Maha dari dosa yang dibuatnya.


kalo simple nya sich, menurutku, dosa terjadi atas ijin Tuhan tp bukan atas kehendaknya tp free will.
dosa diampuni tapi dampak tetap/konsekuensi tetap diterima.

surya
December 09, 2003, 13:19
Lygia emang top deh.. ::up::
Gak nyangka lho...u ternyata penulis handal...kalo inget dulu satu kantor...gak tau ada penulis berbakat di depan mata.. :)

lygia
December 09, 2003, 13:40
wahai, bang sur nongol lagi!

ini kan cerpen lama, dah dipublikasiken jugak di KG, ente malah sudah berkomentar juga didalamnya kayaknya... ::bingung::
I'm old... start to forget things constantly...

lygia
December 09, 2003, 13:42
Originally posted by Lady Synthesizer
perasaan nya real banget... :hmmm: :eek:

Perasaan yang dimana, Jeng?

Ini cerpen jadi naik lagi gara2 kau angkat jemurannya ya...
Lagi mikiran daku ya? :hehe
Kok tiba2 bisa masuk kemari???

Lady Synthesizer
December 10, 2003, 06:47
Originally posted by lygia
wahai, bang sur nongol lagi!

ini kan cerpen lama, dah dipublikasiken jugak di KG, ente malah sudah berkomentar juga didalamnya kayaknya... ::bingung::
I'm old... start to forget things constantly...

ketahuan bang sur ngga konsen... :kakaka:

Lady Synthesizer
December 10, 2003, 06:50
Originally posted by lygia
Perasaan yang dimana, Jeng?

Ini cerpen jadi naik lagi gara2 kau angkat jemurannya ya...
Lagi mikiran daku ya? :hehe
Kok tiba2 bisa masuk kemari???

perasaan pas ce nya ngomong dia harus tinggalin 2-2 nya dan ngga bisa punya hubungan yg diberdiri di atas org yg disakiti..

kan daku masuk lewat signature nya jeng lygi.. :hehe
pikir² ketik-ketik jadi penasaran tulisan jeng kaya apa...... :D

sher
December 18, 2003, 07:31
hihihi.. baru tahu kalau lygia jago juga ngarang cerpen ;D
tapi termasuk cerpen berat tuh....... gw bacanya sampai melotot-satu-satu nggak bisa kelewatan.. ntar bisa binunnnn ;)

lygia
December 18, 2003, 12:27
Hope everyone who's entered and read my works like it.
Klo bukunya dah dipublished pada beli yaaa... :hehe

surya
December 18, 2003, 21:09
Originally posted by lygia
wahai, bang sur nongol lagi!

ini kan cerpen lama, dah dipublikasiken jugak di KG, ente malah sudah berkomentar juga didalamnya kayaknya... ::bingung::
I'm old... start to forget things constantly...
Pernah comment, toh?? ;D Udah kebanyakan kasih komentar kalle...jadi lupa.. :D
Btw, kabar Teddy gimana??
sorry mod, kalo OT ::maaf::

surya
December 18, 2003, 21:17
Originally posted by Lady Synthesizer
ketahuan bang sur ngga konsen... :kakaka:
:D Maklum deh Lady....di sono gue dah mosting lebih 22 ribu....mana mungkin ingat semua... :D
But I think Lygia is right....I'm too old .... and getting older .... and older..... :(
Kalau Story of Us menceritakan tentang diriku dan ketuaan yang yang terus datang dengan setia di setiap pagi ketika aku membuka mata.....Story of Us hanyalah tentang ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, ketidakpastian....
Pasti bukan itu yg dimaksud Lygia.. :D

surya
December 18, 2003, 21:20
Originally posted by sher
hihihi.. baru tahu kalau lygia jago juga ngarang cerpen ;D
tapi termasuk cerpen berat tuh....... gw bacanya sampai melotot-satu-satu nggak bisa kelewatan.. ntar bisa binunnnn ;)
Betul sekalle sher!! Cerpen Lygia berisi banget...berat....dewasa...penuh makna.....penuh perasaan.... :D

lygia
December 19, 2003, 08:34
kayaknya bang sur minta ditraktir nih klo daku mudik! :hehe

Hang on there! I'm comin'! just name it, man! place, date and time! bawa buntut jugak boleh!

Teddy? I have no idea of him. bukannya dia di jerman???

surya
December 19, 2003, 09:29
Di Jakarta ada restoran oriental taste yang baru...di lantai 47 Menara BNI....
Boleh juga sih ditraktir di sana...kapan mudiknya?? :D

lygia
December 19, 2003, 12:57
Rabu sore nyampe.
Memang kang sur sudah balik ke jakarta gituh?
bukannya kemaren2 itu ke seberang lautan?

Oriental taste?
Oriental dari belahan mana dulu nih?
Chinese? Thailandese? Malayasianese???

surya
December 20, 2003, 00:06
Kayaknya gak bisa ketemuan deh....gw barusan minggu lalu ke Jakarta, nggak ada schedule ke jakarta lagi sampe second week of january.....
Itu masakan jepang ade, thai ade, chinese ade....itu sih yg gue baca ...belom liat langsung :P

Lady Synthesizer
December 20, 2003, 16:20
err? bang Sur barusan ke Jkt? kok ngga ngajak gatheringan lage???

Lady Synthesizer
December 20, 2003, 16:23
Originally posted by surya
:D Maklum deh Lady....di sono gue dah mosting lebih 22 ribu....mana mungkin ingat semua... :D
But I think Lygia is right....I'm too old .... and getting older .... and older..... :(
Kalau Story of Us menceritakan tentang diriku dan ketuaan yang yang terus datang dengan setia di setiap pagi ketika aku membuka mata.....Story of Us hanyalah tentang ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, ketidakpastian....
Pasti bukan itu yg dimaksud Lygia.. :D

u r not that old lah.. :D merit jg blm 10 taon.. :hehe

surya
December 21, 2003, 01:19
Originally posted by Lady Synthesizer
err? bang Sur barusan ke Jkt? kok ngga ngajak gatheringan lage???
Gue sibuk banget , lagian cuman 2 hari doang, terus ke sing...gak ada waktu buat gath.. :D
Lain kali gw ke Jak gath lagi... :D

Lady Synthesizer
December 21, 2003, 09:20
'set dah! cuman 2 hari duank tokh? :eek: ya wes! later dateng lage gath ya.. :hehe

lygia
December 21, 2003, 10:44
mang kapan gath-nya???

sashacantik
December 21, 2003, 14:48
duh... kalian seru2 amat sih ceritanya ya... pen deh bisa nulis seperti lygia. ato mesti punya pengalaman pribadi begitu dulu kali ya?

sha.

Lady Synthesizer
December 22, 2003, 06:49
lyg, bbrp bulan lalu pan kang surya gath ama anak-anak.. ndak tau neh gath akhir taon bakalan ada apa ngga.. ;D

surya
December 22, 2003, 07:41
Pengen juga seh..ntar gath and ketemu sama Lady.. :D
Christmas di mana ntar nih??

Lady Synthesizer
December 24, 2003, 17:16
di Jawa.. (Gombong).. daku terseret ke pedalaman Jawa nich.. :D akhirnya ngga ngerayain Christmas di Jkt deh.. hehe.. ;D