View Full Version : Panglima GAM Membelot







Enche
May 14, 2003, 04:59
Panglima GAM untuk wilayah Tiro, dan juga anggota Komite
Keamanan Bersama, Teungku Amri bin Abdul Wahab
melakukan pembelotan. Dia memutuskan untuk mendukung
Indonesia.

Dia meminta ikut ke Jakarta dengan pengawalan ketat.
Awalnya sulit dipercaya Amri membelot karena selama ini
sangat militan dan dominan di lapangan. Bahkan dikuatirkan
ini jebakan dari GAM.

Kepada wartawan di Jakarta, Amri mengaku untuk mencapai
kemerdekaan bukan hal yang mudah bila tidak didukung
masyarakat internasional. Kini dia menilai otonomi khusus
adalah yang terbaik untuk Aceh.

dan mengungkap sisi buruk petinggi GAM yang makin jauh
dari rakyat. dan dia juga mengajak petinggi GAM lain
untuk mengikuti jejaknya.

Menurut Sofyan Daud (Jubir GAM), pembelotan itu ga banyak
pengaruhnya. Sebelyumnya juga ada anggota kami membelot.
Tapi hilang satu justru banyak yang bertambah.

Menurut Sofyan, Amri hanya anggota GAM junior yang bertugas
mengurus sipil, tapi karena kecakapannya dia dipercaya
menjadi Komite Keamanan Bersama. karena itu dia menyangkal
Amri adalah Panglima Operasi Komando Pusat GAM di Tiro.

Enche
May 14, 2003, 05:01
Sofyan lalu mengungkap kepengecutan Amri. Menurut dia
Amri pernah kabur ke Jakarta ketika rekan2nya terdesak
dan kembali setelah aman. Istri dan ke empat anaknya ditinggal
begitu saja, dan dia malah menikah di Jawa.

Pembelotan Amri menimbulkan gosip di Aceh, dikabarkan
pembelotan Amri karena dia diculik dan dipaksa memilih di
penjara 20 tahun dgn tuduhan terlibat aksi pengeboman
atau menyerah.

todiq
May 14, 2003, 06:09
ah.. mungkin siasat sajah..!
strategi sebelum menuju real pertempuran

Don Fabio
May 14, 2003, 07:32
semoga RI waspada atas semua taktik siasat yang mungkin dilakukan oleh GAM...

bunda naila
May 14, 2003, 08:14
eh si Amri ini cakep lho, wajah arab/india gitu :D

pokerface
May 14, 2003, 08:19
jangan2 si amri intelnya TNI ..... kan mo perang ... jadi diselamatkan dulu :)

Don Fabio
May 14, 2003, 08:51
bisa jadi....
tapi apa gunanya jadi intel di GAM, emang info apa yang dibutuhkan TNI ?? :eek:

Enche
May 14, 2003, 11:31
Originally posted by naila
eh si Amri ini cakep lho, wajah arab/india gitu :D

hahaa udah mo perang masi sempet2nya muji boob oo
btw gue setuju emang ca'em sih

obake
May 14, 2003, 12:57
,mungkin salah satu taktik GAM::mikir::

ila_cassanova
May 14, 2003, 22:36
mungkin, bisa jadi. tapi ,coba baca yang ini dulu...

GAM Beberkan Dosa Amri
oleh redaksi
Kamis, 15-Mei-2003, 02:57:02 WIB

BANDA ACEH (RP) - Pembelotan Panglima Komando Operasi GAM Tengku Amri bin Abdul Wahab (33) mendapat kecaman keras dari tubuh militer GAM. Selain dituduh telah berkhianat, GAM membeberkan sejumlah dosa dan rahasia bekas tokoh militer yang dikenal bergaris lunak itu.




Juru Bicara Militer GAM Tengku Sofyan Dawood menyebutkan membelotnya Amri merupakan sebuah realita yang tidak perlu disembunyikan. ‘’Pembelotan itu sarat dengan sebab musabab yang terjadi secara cepat,’’ katanya dalam siaran persnya yang disiarkan, Rabu (14/5).
Menurut Sofyan, Amri yang populer dipanggil dengan Tengku Am adalah personel GAM biasa. ‘’Meski dia menyandang jabatan Komandan Operasi Lapangan, namun jabatan itu pada hakekatnya jabatan pura-pura,’’ katanya.

Inilah kisah Juru Bicara Militer GAM itu tentang Tengku Amri. Jabatan itu berawal dari proses Jeda Kemanusiaan dulu. Pada saat RI-GAM sepakat menciptakan zona aman, disepakatilah untuk membentuk personil penghubung di lapangan. Tengku Am dipilih untuk menduduki posisi tersebut.

Pada saat itu antara TNI dan GAM saling tidak percaya. GAM khawatir prajuritnya akan dibunuh dan diculik oleh TNI kalau terekspos, karena itu Panglima GAM (Alm) Tengku Abdullah Syafii menunjuk personil yang tidak penting, untuk menduduki jabatan tersebut dan Tengku Am lah orangnya.

Amri lahir di Pusong, Lhokseumawe 33 tahun lalu. Sebelum masuk GAM dia menghabiskan waktunya di kampung sebagai anak nelayan. Setelah menikah Amri mendirikan sebuah pabrik jamu yang bertahan sampai tahun 2001, sebelum akhirnya dihancurkan oleh aparat keamanan Indonesia.

Riwayat dalam GAM

Pendidikan formal Amri setingkat SMU. Dia mulai bergabung dengan GAM awal tahun 1999. Ia memulai tugasnya sebagai penghubung antara jajaran GAM di kota dan di lapangan. Tugasnya antara lain mengantar logistik kepada pasukan. Karena Amri hidup di Kota Lhokseumawe. Ia banyak mengenal aparat RI baik kepolisian maupun TNI.

Pada akhir tahun 1999, Amri diberi tugas intelijen, khususnya untuk memantau pergerakan aparat Kodim Lhokseumawe yang mem-backing penebangan kayu balok. Atas informasi yang disampaikan oleh Amri, pasukan GAM berhasil menghadang prajurit TNI serta merampas 12 pucuk senjata laras panjang di Paya Bakong, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Amri meminta imbalan satu pucuk senjata, namun tidak diberikan, sebab Amri belum latihan militer.

Pada tahun 2000, terjadi kesepakatan antara GAM-RI yang menghasilkan Jeda Kemanusiaan (JK). Selama Jeda, ada kesepakatan untuk membentuk zona aman. GAM yang tidak sepenuhnya percaya dengan RI, mengirim Amri sebagai personil penghubung zona aman JK. Oleh karena ada kesepakatan bahwa yang dikirim itu adalah tentara senior, maka Amri diberi pangkat pura-pura sebagai Komandan Operasi Lapangan. Penempatannya di dalam JK juga merupakan terimakasih atas jasa-jasanya sewaktu membantu merebut 12 pucuk senjata TNI di Paya Bakong.

Setelah situasi Aceh semakin memanas, pada awal tahun 2002 Amri lari ke Pulau Jawa tanpa izin atasan. Di Jakarta ia menikah dengan seorang perempuan Jawa dan telah dikaruniai seorang anak. Menjelang penandatanganan CoHA Desember 2002, Amri kembali menghubungi Mabes TNA meminta agar dapat duduk di dalam JSC.

Dia mengatakan telah meningkatkan kualitas dirinya selama mengungsi di Jawa. Setelah penandatanganan CoHA, ia memang dipanggil oleh Mabes TNA (GAM) untuk mengisi salah satu posisi JSC lapangan. Namun kemudian entah bagaimana, Amri duduk di posisi subkomite operasional JSC di Banda Aceh.

Saat itu Amri masih menggunakan label Komandan Operasi dan kebetulan Mabes tidak keberatan, untuk menaikkan daya tawar Amri. Pada saat dia menduduki jabatan perunding inilah Amri A Wahab membuat suatu pelanggaran fatal terhadap hukum revolusioner GAM. Dalam upayanya menghindari punishment inilah Amri membelot ke pihak RI.

Apa kesalahan Amri A Wahab?

Satu minggu setelah Amri pulang dari tanah Jawa dan menduduki posisi negosiator, seorang rekan bisnis lama mendatangi rumah Amri di Lhokseumawe dan di tempat menginapnya di Hotel Kuala Tripa secara berulang-ulang. Menurut penuturan keluarga, yang bersangkutan terakhir menghubungi Amri pada bulan Februari 2003.

Tak lama kemudian, intelijen TNA terhenyak mendapat laporan bahwa orang tersebut telah mati tertembak di dekat Lhokseumawe. Pengusutan yang dilancarkan oleh Bentara (Polisi GAM) menunjukkan bahwa pelakunya, yang semula diduga Brimob, ternyata salah seorang anggota bantuan TNA yang sekampung dengan Amri.

Pelakunya kemudian diserahkan ke dalam tangan Bentara Militer (POM) GAM untuk meneruskan penyidikan. Pelaku mengakui bahwa dia diberi instruksi langsung oleh Amri A Wahab untuk menghabisi seseorang yang dikategorikannya sebagai cuwak (informan) berbahaya. Yang disebut oleh Amri sebagai cuwak ternyata adalah rekan bisnis lama yang sudah berulangkali menagih hutang pada Amri.

Waktu itu, pihak keluarga korban ada melapor kepada Bentara GAM tentang kematian korban. Namun investigasi berjalan lambat sebab Amri sendiri mencoba intervensi penyidikan. Sampai akhirnya pihak keluarga korban kembali melapor lagi dengan membawa data dan bukti-bukti, barulah penyidikan mencapai titik terang seperti disebutkan di atas.

Mabes TNA, mau tak mau, mengalami dilema yang luar biasa menyangkut kasus ini. Sebab merupakan kasus high profile. Pada awal bulan April 2003, Mabes TNA memutuskan untuk me-recall Amri guna memprosesnya secara hukum. Namun, akibat timbulnya kekisruhan JSC, proses recall ini ditunda dulu sampai suasana menjadi tenang.

Pemanggilan terhadap Amri semula direncanakan sebelum tanggal 20 April 2003. Posisinya di JSC siap digantikan oleh orang lain. Krisis CoHA yang semakin memuncak menyebabkan rencana ini harus ditunda lagi sampai selesai sidang JC yang gagal itu. Rencana penangkapan kembali diaktifkan setelah sidang JC gagal.

Namun oleh karena situasi keamanan terhadap anggota JSC semakin gawat dan HDC telah memberikan hak pengamanan JSC sepenuhnya ke dalam tangan Polri, rencana penangkapan menjadi semakin sulit direalisasikan tanpa konflik dengan Polri. Rencana penangkapan tersebut akhirnya diketahui oleh Amri A Wahab sendiri dan ia mulai kelihatan sibuk.

Kepanikannya terlihat bertambah menjelang berakhirnya ultimatum RI tanggal 12 Mei 2003. Pada tanggal 8 Mei 2003, Amri mengontak Ramli Ridwan (bekas pjs Gubernur Acheh) yang dikenalnya selama merantau di Jawa. Dia mengabarkan kegelisahannya tentang kemungkinan perang antara TNI-TNA yang mana negosiator GAM akan terjebak di Hotel Kuala Tripa.

Ramli Ridwan menganjurkan Amri agar berangkat saja ke Jakarta. Setelah berhasil mempengaruhi ketiga temannya yang lain, Amri akhirnya berangkat ke Jakarta namun dicegat oleh Polri di Sultan Iskandarmuda Airport karena perkara pelanggaran protokol keamanan CoHA.

Ketakutan yang menghantui Amri di kedua sisi, yaitu kemungkinan penangkapan oleh RI setelah tanggal 12 Mei dan rencana penangkapan dan pengadilan oleh GAM akibat aksi pembunuhan yang diotakinya, telah menyebabkan ia mengambil jalan pintas. Ia menyerahkan diri dan bersumpah setia kepada musuh.

Tindakannya itu bukan untuk menyelamatkan rakyat Aceh, tetapi justru untuk menghindar dari jangkauan hukum yang menantinya akibat tindak kriminal yang diotakinya. Anggota TNA tidak akan meratapi pengkhianatan Amri, tetapi justru mensyukurinya karena telah jelas mana pejuang yang berhati suci dan mana yang kriminal murni.

Dalam sejarah AGAM (TNA) setelah kemunculannya di tahun 1998, Panglima AGAM yang pertama adalah Abdullah Syafii, Wapang adalah Muzakkir Manaf, yang juga merangkap Komandan Operasi. Setelah Abdullah Syafii meninggal, Muzakkir Manaf promosi jadi Panglima AGAM (TNA), sedangkan jabatan Komandan Operasi dipegang oleh Kamaruddin Abubakar (Abu Razak). Hasil rapat komando tanggal 4 Januari 2003 mengukuhkan jabatan tersebut. Jadi Amri A Wahab secara resmi tidak pernah menduduki jabatan struktural dalam TNA.(nal/jpnn)

ila_cassanova
May 14, 2003, 22:37
setelah membaca tulisan di atas, kayaknya perlu diselidiki lagi nih apa motif penyerahan diri orang yang mengaku Komandan Operasi Lapangan ini...

;D

Bo Tat
May 14, 2003, 22:46
Mulai deh perang urat syaraf! :haha

Padawan
May 16, 2003, 01:11
tapi jangan lupa riwayat tgk sofyan dawood sendiri. dia adalah politikus kutu loncat. dia pernah mencoba menawarkan diri ke golkar aceh, ditolak. trus nyoba ke pdip, p3 dan pan. semuanya nolak. akhirnya dia ke GAM...

pokerface
May 16, 2003, 05:49
Originally posted by Don Fabio
bisa jadi....
tapi apa gunanya jadi intel di GAM, emang info apa yang dibutuhkan TNI ?? :eek:

info siapa aja pejabat GAM yang harus diculik Kopassus :D

Bo Tat
May 16, 2003, 07:06
Diculik apa dicekik dari belakang? (kasus Theys) :haha

Gion Franklin
May 16, 2003, 11:43
Dulu GAM kan berharap banget ama US buat dukung dia...

Tapi mana mungkin deh US mau dukung GAM!! Rasain dech!!

pokerface
May 17, 2003, 07:10
tapi tetep aja adayang dukung GAM ....cuman gak tau sapa ... kalo nggak dapat logistik darimana mereka

todiq
May 17, 2003, 15:22
yg aku kuatirkan nanti usa campur tangan dalam masalah aceh..! kan bisa kacau ..! nanti aceh jadi iraque seri II

Padawan
May 17, 2003, 22:24
US sulit buat ndukung GAM. pemimpin GAM banyak lulusan libya...

pokerface
May 18, 2003, 09:07
asal ada kepentingan US sih .... mungkin aja .... wong waktu perang irak iran US tuh bantu irak kok