alkemis
April 27, 2003, 10:24
SAJAK UAP NAFAS*
dada ini keranjang yang mencoba menangguk air
tetapi bulan belum penuh, maka bersabarlah
setiap malam kita begitu lepuh, rebus dalam marah
ringas yang kerontang. lalu telah diperkenalkan
kembali danau di tanduk-tanduk kepala kita
setiap kesumat telah dijudulkan dalam sajak
tetapi ada yang meringkuk di sudut sel, menolak
menjadi musuh bagi matahari yang mencuri masuk
dari kisi-kisi. pintu telah lama ingkar terkuak
wajah yang tengadah telah mengelupas, mengerak
kita terkutuk sebagai saudara rahasia. membagi
aliran darah dalam bibir cangkir minuman kita
begitu pula lingkaran doa, malam tetap harus didada
dengan kemarahan sekali masa, isak tangis seketika
tetapi selalu ada yang bersembunyi di balik tirai
ketika cermin terbalik dan cahaya menusuk lubang
hidung. mata kita telah rabun, cekung melumpang
oleh derap hari-hari yang meninggalkan, melayang
kadang-kadang tangan ini rindu menggambar kembang
dan sayap kupu-kupu yang mulai cabik dan berlubang
ketika usia terkuak dan topeng kita telah luntur
bedaknya. tinggal debu yang tersisa di klilip mata
lalu pedas yang kita rasakan itu kita ingkari sia-sia
di mana genggaman tangan itu akan kita simpan
bila setelah perjamuan kita akan kembali tidur
dalam kandung ibu yang selamanya tak pernah kita
tinggalkan. seperti denting piano yang selalu terbaca
sebagai sobekan foto tua warna sephia: emulsi doa
mungkin waktu telah menipu selama ini, mungkin saja
pelukan kita tak akan mudah dipahami, kecuali oleh puisi
tetapi sudahlah. dada ini memang keranjang berjala
renggang. dan air biarlah tetap mengalir, atau melinang
dan seperti gembala piatu yang telah kauceritakan
semalam, bocah itu akan kembali menekur dirinya dalam
ringkuk di sudut sel. mencoba menepis matahari yang mencuri
masuk lewat kisi-kisi. menghangatkan bola mata yang pucat
hingga terbasuh semua kisah riang, semua kisah luka
lalu himne akan terdengar dari kuntum-kuntum bibir
sambil jemari kita mengurai benang-benang, menggulungnya
kembali dalam jentera yang telah kita kenali iramanya
April 15, 2003
*CATATAN: puisi di atas dijuduli oleh Cecil Mariani (http://cecil_mariani.blogspot.com)
LOMBA MENGGAMBAR
: shiela aspahani
lihatlah Shiela dan meja pikniknya
ada kertas di atas meja itu. Shiela sedang menggambar
Shiela menggambar pohon. daunnya biru. ia tak suka menggambar api. Shiela suka menggambar matahari kuning oranye. Shiela menggambar perahu di dalam akuarium, dan putri duyung berwarna ungu. "dia sedang flu," kata Shiela malu-malu
Shiela menggambar balon warna maron. "warna merahku telah habis, " kata Shiela. kemarin ia memang menggambar perang. Shiela menggambar mega. ia tampak ragu mewarnainya
Shiela menggambar petak sudahmanda. merah, kuning, hijau muda. seorang anak duduk di pinggirnya. "kakinya luka," kata Shiela. mungkin kena pecahan kaca. Shiela menggambar laut, ada gawang sepak bola di sana. "lapangannya terbakar bom," Shiela tersenyum simpul
Shiela menggambar langit
senyumnya menguap seketika
April 06, 2003
dada ini keranjang yang mencoba menangguk air
tetapi bulan belum penuh, maka bersabarlah
setiap malam kita begitu lepuh, rebus dalam marah
ringas yang kerontang. lalu telah diperkenalkan
kembali danau di tanduk-tanduk kepala kita
setiap kesumat telah dijudulkan dalam sajak
tetapi ada yang meringkuk di sudut sel, menolak
menjadi musuh bagi matahari yang mencuri masuk
dari kisi-kisi. pintu telah lama ingkar terkuak
wajah yang tengadah telah mengelupas, mengerak
kita terkutuk sebagai saudara rahasia. membagi
aliran darah dalam bibir cangkir minuman kita
begitu pula lingkaran doa, malam tetap harus didada
dengan kemarahan sekali masa, isak tangis seketika
tetapi selalu ada yang bersembunyi di balik tirai
ketika cermin terbalik dan cahaya menusuk lubang
hidung. mata kita telah rabun, cekung melumpang
oleh derap hari-hari yang meninggalkan, melayang
kadang-kadang tangan ini rindu menggambar kembang
dan sayap kupu-kupu yang mulai cabik dan berlubang
ketika usia terkuak dan topeng kita telah luntur
bedaknya. tinggal debu yang tersisa di klilip mata
lalu pedas yang kita rasakan itu kita ingkari sia-sia
di mana genggaman tangan itu akan kita simpan
bila setelah perjamuan kita akan kembali tidur
dalam kandung ibu yang selamanya tak pernah kita
tinggalkan. seperti denting piano yang selalu terbaca
sebagai sobekan foto tua warna sephia: emulsi doa
mungkin waktu telah menipu selama ini, mungkin saja
pelukan kita tak akan mudah dipahami, kecuali oleh puisi
tetapi sudahlah. dada ini memang keranjang berjala
renggang. dan air biarlah tetap mengalir, atau melinang
dan seperti gembala piatu yang telah kauceritakan
semalam, bocah itu akan kembali menekur dirinya dalam
ringkuk di sudut sel. mencoba menepis matahari yang mencuri
masuk lewat kisi-kisi. menghangatkan bola mata yang pucat
hingga terbasuh semua kisah riang, semua kisah luka
lalu himne akan terdengar dari kuntum-kuntum bibir
sambil jemari kita mengurai benang-benang, menggulungnya
kembali dalam jentera yang telah kita kenali iramanya
April 15, 2003
*CATATAN: puisi di atas dijuduli oleh Cecil Mariani (http://cecil_mariani.blogspot.com)
LOMBA MENGGAMBAR
: shiela aspahani
lihatlah Shiela dan meja pikniknya
ada kertas di atas meja itu. Shiela sedang menggambar
Shiela menggambar pohon. daunnya biru. ia tak suka menggambar api. Shiela suka menggambar matahari kuning oranye. Shiela menggambar perahu di dalam akuarium, dan putri duyung berwarna ungu. "dia sedang flu," kata Shiela malu-malu
Shiela menggambar balon warna maron. "warna merahku telah habis, " kata Shiela. kemarin ia memang menggambar perang. Shiela menggambar mega. ia tampak ragu mewarnainya
Shiela menggambar petak sudahmanda. merah, kuning, hijau muda. seorang anak duduk di pinggirnya. "kakinya luka," kata Shiela. mungkin kena pecahan kaca. Shiela menggambar laut, ada gawang sepak bola di sana. "lapangannya terbakar bom," Shiela tersenyum simpul
Shiela menggambar langit
senyumnya menguap seketika
April 06, 2003