View Full Version : Kisah-kisah menawan Hati
surya
April 26, 2003, 05:34
Gue buat thread ini , untuk share kisah-kisah menawan hati dari rasulullah, sahabat, orang-orang sholeh lainnya.
Kisah ini bukan kisah yang dibuat-buat ala cerpen
Selamat menikmati :)
surya
April 26, 2003, 05:40
Ma'rifat adalah modalku,
akal adalah asal muasal agamaku,
rasa cinta adalah alasku,
rindu adalah kendaraanku,
dzikrullah adalah kesenanganku,
percaya diri adalah perbendahaanku,
sedih adalah rekanku,
ilmu adalah senjataku,
sabar adalah pakaianku,
zuhud adalah pekerjaanku,
ridha adalah keuntunganku,
yakin adalah kekuatanku,
kejujuran adalah penolongku,
taat adalah kecintaanku,
jihad adalah akhlakku,
dan kebahagiaanku adalah shalat.
surya
April 26, 2003, 05:45
Dari ibnu Abbar Rs diriwayatkan, telah bersabda Rasulullah saw :
- Keimanan yang paling mulia adalah memberi keamanan kepada manusia dari perangaimu.
- Keislaman yang paling mulia ialah menyelamatkan manusia dari lidah dan tindakanmu
- Hijrah yang paling mulia adalah hijrah dari berbagai keburukan
- Jihad yang paling mulia adalah menewaskan kudamu di medan jihad.
- Zuhud yang paling mulia ialah jika kalbumu bisa ditenangkan oleh rezeki yang diberikan kepadamu.
- Permohonan yang paling mulia yang kamu panjatkan kepada Allah azza wa jalla ialah memohon afiyat dalam agama dan dunia.
begawan
April 26, 2003, 05:51
setiap gw dener kisah2 kayak gini, gw slalu iri sama org2 yg hidup pada jaman Rasulullah, Iriiiiiiii banget, knapa nggak gw juga ya :rolleyes:
surya
April 26, 2003, 05:51
Pada suatu ketika Bilal bin Rabah Ra pergi ke masjid Rsulullah saw untuk mengumandangkan adzan subuh. Tiba-tiba ia menemukan Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu di sana. melihat rasullah dalam keadaan demikian, Bilal bertanya,"Apa yang membuat baginda sedih, Ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab."Ya Bilal...pada malam ini telah diturunkan sebuah ayat kepadaku. Celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau memikirkannya. Firman Allah ta'ala adalah :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. Ali Imran 190)
surya
April 26, 2003, 06:02
Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakainan dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,"Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?"
Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,'Ya rasullah, sebagau kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini."
Rasulullah bertanya kepada si fakir,"Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?"
Namun s fakir menjawab," tidak ya Rasulullah."
Rasulullah bertanya dengan nada heran," Mengapa?"
Dia menjawab," Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini."
surya
April 26, 2003, 06:13
Pada suatu hari Umar bin Khattab pergi mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada rasulullah saw. Katanya ,"Ya Rasulullah, Ali tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..."
Mendengar pengaduan itu Rasulullah segera memanggil Ali Ra untuk datang. lalu Rasulullah bertanya kepadanya,"Ali, benarkah engkau tidak pernah memberikan salam terlebih dahulu kepada Umar?"
Ali bin Abi Thalib ra menjawab,"Ya rasulullah. Hal ini aku lakukan juga krena ucapan rasulullah yang mengatakan: "Siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di surya". Karena itulah rasulullah, aku selalu ingin Umar mendahuluiku mengucapkan salam supaya ia bisa mendapatkan istana di surga!"
YuaEviL
April 26, 2003, 06:34
2 Begawan......iya sama gw juga lho.....pasti enak klo kita ada di zaman Rasulullah......nanya masalah apapun .....jawabannya kyknya bener2 bijak n menyejukkan hati......tapi kita tetep kudu bersyukur bisa menikmati zaman ini....dengan hidup dan nikmat yg banyak......
pokerface
April 26, 2003, 11:50
Originally posted by begawan
setiap gw dener kisah2 kayak gini, gw slalu iri sama org2 yg hidup pada jaman Rasulullah, Iriiiiiiii banget, knapa nggak gw juga ya :rolleyes:
jadi inget kata2 gandalf dalam LOTR
All we have to decide is what to do with the time that is given to us
dragz
April 26, 2003, 12:09
Originally posted by YuaEviL
2 Begawan......iya sama gw juga lho.....pasti enak klo kita ada di zaman Rasulullah......nanya masalah apapun .....jawabannya kyknya bener2 bijak n menyejukkan hati......tapi kita tetep kudu bersyukur bisa menikmati zaman ini....dengan hidup dan nikmat yg banyak......
:bravo: tetep sukuri apa yg kita dapet sekarang. karena kita gak tau andaikata hidup jaman Rasul SAW kuat menghadapi segala rintangan dan tantangannya.
eudea
April 26, 2003, 12:11
semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung masih bisa mengikuti jejak Rasulullah SAW walaupun beliau sudah tiada. amien..
surya
April 26, 2003, 13:02
Ada disebutkan di salah satu hadits shahih...kalo Rasulullah bersabda bahwa orang yang beriman makin lama setelah beliau tiada (maksudnya seperti ikita yg hidup setelah sekitar 1500 thn beliauwafat), nilai ibadahnya lebih tinggi. Karena kita-kita ini tetap beriman kepada Allah dan Rasulullah, meskipun kita tidak melihat beliau langsung.
(Tolong kalo ada yg inget haditsnya bisa post di sini)
Jadi gue yakin, kita tetap bersyukur lah. jaman Rasul aja juga banyak yg kafir kok, meskipun sudah diajak hijrah oleh Rasul. Tapi dasar Hidayah Allah kan hanya diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki...so bersyukurlah kita hari ini masih dalam keadaan beriman meskipun hidup yang jauh di jaman sesudah Rasulullah.
choco`latte
April 26, 2003, 14:19
Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.
Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.
"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.
Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.
"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"
Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."
choco`latte
April 26, 2003, 14:39
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.
Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."
Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.
Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."
Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.
Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."
Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.
surya
April 26, 2003, 15:01
Pada suatu ketika ada seorang meminta nasihat kepada Ibrahim bin Adham Ra yang terkenal sebagai orang zahid. Kata orang itu,"Ya Ibrahim, erilah kami wasiat yang dengan itu menjadikan hidup kami bermanfaat."
Ibrahim bin Adham memberikan wasiatnya :
- Kalau engkau melihat orang sibuk dengan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan soal akhirat.
- Kalau engkau melihat orang sibuk memperindah lahirnya, maka sibukkanlah dirimu dengan memperindah batinmu.
- Kalau engkamu melihat orang sibuk memakmurkan perkebuna (kekayaan), maka sibukkanlah dirimu memakmurkan kuburan.
- kalau engkau melihat orang sibuk mengabdikan diri pada sesamanya, maka sibukkanlah dirimu dengan mengabdikan diri kepada Robbul'alamin.
- Kalau engkau melihat orang sibuk mempergunjinkan keburukan orang lain, maka sibukkanlah dirimu dengan melihat keburukan dirimu sendiri.
AlfaOmega
April 28, 2003, 12:22
Originally posted by choco`latte
Hikmah Diam pada Saat yang Tepat
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.
Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!."
Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.
Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi."
Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi. "Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.
Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya."
Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.
Lucu dan menarik juga tuch cerita :)
tetapi, menurut guwe ini susah dicari relevansinya dijaman sekarang (sistem peradilan sekarang) dikarenakan
1. sedikit hakim yang jujur
2. anggapan bahwa sikap diam adalah menerima / setuju
3. dalam peradilan, harus ada hakim, jaksa, penuntut, pembela, juri (kalau ada), terdakwa.
ANYWAY, bagus koq :)
eudea
April 30, 2003, 10:47
RENCANA ALLAH PASTI INDAH
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang
sedang bermain dilantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia
menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku
memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan
tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku,lanjutkanlah permainanmu,
sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil
dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.
"Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut
pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku,
mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "Waktu aku lakukan itu, aku heran dan
kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang
sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena
dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu
berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak
menyadari bahwa di atas kain
ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.
Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu
lakukan. Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada
Allah, "Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab : " Aku sedang menyulam
kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya
banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?
"Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan
Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu
ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang
indah dari sisiKu.
"Subhanallah...
Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di
dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam
hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet
apapun itu. Amin.
Subhanallah, tulisan ini benar-benar membuka pikiran kita bahwa Allah
adalah Dzat Yang maha pengatur segala sesuatu di alam ini. Tulisan ini
mengingatkan saya bahwa kendati pun manusia punya keinginan, tetapi Allah mempunyai
keputusan yang tak mungkin dapat kita ubah. Mari kita senantiasa bertawakkal kepada
Nya.
Wassalamualaikum wr wb
bubbles
May 02, 2003, 13:38
kalo ada yang punya crita tentang istri Rasulullah..bagi-bagi donk..cerita tentang Siti Aisyah, dll::star::
AlfaOmega
May 02, 2003, 14:02
ISTERI-ISTERI TELADAN DALAM ISLAM
1. Khadijah binti Khuwailid
---------------------------
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum
lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua
wanita itu berdiri di belakang da'wah Islamiah, mendukung dan bekerja
keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwa-
ilid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi
wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia
adalah Ummul Mu'minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi
mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW
sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung
di Gua Hira'. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya
ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah
sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga.
Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya
sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika
orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan
dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku
apa-apa."
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, pada-
hal di hadapan kita ada "wanita terbaik di dunia," Khadijah binti Khu-
wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik
dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat men-
jadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya,
dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga.
Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan se-
baik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam is-
tananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi-
dupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :"Wahai,
Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi
kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan
salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang
sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya
dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi
SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia,
hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung
dengan rombongan orang Mu'min yang orang pertama yang beriman kepada
Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama
Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia
habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang
suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan
tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW
sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama
kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-
ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian
dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak
menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu
dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika
Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian,
tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat
meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan
takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah
berkata :"Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah
mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah,
kemudian kembali kepadaku." Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya
kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :"Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera
pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau
menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe-
neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi
urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menye-
dihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau peng-
hindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan
kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendak-
nya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam
kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul
SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhan-
nya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Khadijah, ini Jibril menyam-
paikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab :"Allah
yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahte-
raan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)."
Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun
di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta
khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat
pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung
da'wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah
yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama
seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong-
nya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya,
ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong-
nya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-
orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan
dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-
apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari
selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia
berkata :"Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :"Wahai, Rasulullah,
ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau
minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-
nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari
mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan." [Shahih
Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
AlfaOmega
May 07, 2003, 08:57
2. Ummul Mu'minin Saudah binti Zam'ah
-------------------------------------
Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi SAW sesudah
Khadijah r.a. dan dia sendiri yang bersama Nabi SAW selama kurang
lebih 3 tahun sehingga beliau berumah tangga dengan 'Aisyah r.a.
Adalah para sahabat -radhiyallahu 'anhum- memperhatikan
kesendirian Nabi SAW sesudah Khadijah r.a. wafat dan berharap
kiranya beliau menikah, barangkali dalam pernikahan itu ada yang
menghibur kesendiriannya. Akan tetapi, siapa yang berani bicara
kepada beliau soal itu ?
Khaulah binti Hakim maju untuk melakukan tugas itu. Maka
dia berbicara kepada Rasul SAW dan menawarkan 'Aisyah binti Ash-
Shiddiq r.a. namun dia masih kecil. Maka biarlah dia dipinang,
kemudian ditunggu hingga dewasa. Akan tetapi, siapakah yang akan
memperhatikan urusan-urusan Nabi SAW dan melayani putri-putri
serta memenuhi rumah beliau ? Pernikahan dengan 'Aisyah tidak akan
berlangsung sebelum 2 atau 3 tahun lagi. Siapakah gerangan wanita
yang memimpin urusan-urusan Nabi SAW dan memelihara putri-putrinya ?
Dia adalah Saudah binti Zam'ah dari bani Ady bin Najjar.
Rasul SAW mengizinkan Khaulah meminang keduanya. Pertama
Khaulah datang ke rumah Abu Bakar r.a., lalu ke rumah Zam'ah. Dia
menemui puterinya, Saudah, dan berkata : "Kebaikan dan berkah apa
yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah ?" Saudah bertanya
karena tidak tahu maksudnya, "Apakah itu, wahai Khaulah ?" Khaulah
menjawab :"Rasulullah SAW mengutus aku untuk meminangmu." Saudah
berkata dengan suara gemetar, "Aku berharap engkau masuk kepada
ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya." Maka terjadi kesepakatan
dan berlangsunglah pernikahan.
Saudah mengalami situasi yang menyebabkan Rasulullah SAW
mengulurkan tangannya yang penyayang untuk menolong masa tua dan
meringankan kekerasan hidup yang dirasakan oleh Saudah. Saudah
telah hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama bersama suami,
putra pamannya. Kemudian suaminya meninggal sebagai muhajir dan
Saudah tinggal sendirian. Saudah menjadi janda yang hidup di tanah
perantauan sebelum tiba di Ummul Qura. Rasul SAW telah terkesan
oleh wanita muhajir yang mu'min dan janda itu. Ternyata, Saudah
setuju untuk menikah dengan Rasulullah SAW.
Saudah menjadi ibu rumah tangga di rumah suaminya, Rasul
SAW sampai 'Aisyah r.a. datang ke rumah kenabian. Dia mengetahui
kedudukan 'Aisyah terhadap hati Nabi SAW. Maka dia berikan harinya
kepada 'Aisyah dan melapangkan tempat pertama baginya di dalam
rumah. Saudah berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan keridhoan
pengantin yang masih muda dan menyenangkannya ('Aisyah). Setelah
menginjak masa tua yang dingin, Saudah sangat berharap untuk tetap
menjadi isteri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat serta tidak
diharamkan dari kemuliaan yang besar ini, sekalipun dia berikan
harinya kepada 'Aisyah setelah merasa dia tidak menginginkan apa
yang biasa diinginkan kaum wanita.
Saudah hidup bekerja keras dalam mengurusi rumah kenabian,
sementara hatinya sarat dengan keridhoan dan iman hingga Nabi SAW
pergi menghadap Tuhannya. Saudah wafat dalam masa khilafah Umar
ibnul Khaththab r.a. 'Aisyah r.a. sering menyebut kebaikan dan
memujinya atas kebaikan itu. Dia berkata, "Tidak seorang pun yang
lebih aku sukai dalam dirinya daripada Saudah binti Zam'ah, hanya
saja dia agak keras wataknya." [Al-Istii'aab 4/1867]
Ketika Saudah wafat, Ibnu Abbas sujud. Ditanyakan kepadanya
mengenai hal itu, maka dia menjawab, "Rasulullah SAW bersabda :
"Apabila kamu melihat suatu tanda, maka sujudlah." Dan tanda ketika
wafatnya isteri-isteri Nabi SAW itulah yang menyebabkan dia bersujud.
[Thabaqat Ibnu Sa'ad, Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar dan Usudul Ghaabah
oleh Ibnu Atsiir]
Saudah meriwayatkan lima hadits dari Rasulullah SAW. Di
antaranya satu hadits diriwayatkan dalam Sahihain [Ibnul Jauzil, Al-
Mujtanaa]. Dalam satu riwayat, bahwa Bukhari meriwayatkan dari Saudah
dua hadits. [Al-Maqdisi, Al-Kamaal bii Ma'rifatir Rijaal]
Semoga Allah SWT merahmatinya. Saudah menyukai sedekah dan
berbudi luhur. Dari 'Aisyah r.a. dia berkata : "Bahwa sebagian isteri-
isteri Nabi SAW berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah di antaraa kami
yang paling cepat menyusulmu ?" Nabi SAW menjawab, "Yang terpanjang
tangannya di antara kalian." Kemudian mereka mengambil tongkat untuk
mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang
tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud
dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi
sedekah dan dia yang paling cepat menyusulnya di antara kami." (H.R.
Syaikhain dan Nasai). Dalam suatu riwayat lain oleh Muslim :"Yang
paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang terpanjang
tangannya di antara kalian." 'Aisyah berkata, "Mereka saling mengukur
siapa di antara mereka yang terpanjang tangannya. Ternyata yang ter-
panjang tangannya di antara kami adalah Zainab, karena dia melakukan
pekerjaan tangan dan mengeluarkan sedekah."
AlfaOmega
May 13, 2003, 10:08
"BACALAH"
Banyak ayat Al-Quran yang menyuruh kita membaca alam raya ini dan memikirkan kejadian2 yang ada di sekitar kita. Inti dari semua ini adalah Tuhan menyuruh kita untuk belajar melihat apa yang tersirat, jangan hanya puas dengan yang tersurat saja. Kerugian yang dialami oleh orang yang tidak bisa membaca yang tersirat, mungkin dapat direnungkan dari pengalaman yang dialami seekor burung gereja berikut ini:
Ada seekor burung gereja yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, maka tiba2 lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badannya. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari mulut mungilnya !!!
Rupanya tanpa disadari oleh burung gereja itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya itu lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba munculah seekor kucing. Keruan saja buruk gereja ini panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya ternyata ia belum mampu, karena sayapnya rupanya masih agak membeku. Ia pun dengan dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun diluar dugaannya kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung gereja, kali ini bersifat sangat simpatik. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badannya seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung gereja itu.
Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung gereja itu untuk dapat terbang kembali. Namun demikian burung gereja ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.
Tetapi apa yang terjadi Melihat badan burung gereja itu sudah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!!!!
Burung gereja di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkannya selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkannya dianggap pasti baik. Orang yang mempunyai sikap seperti ini jelas berlawanan dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah 216, " Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung gereja itu sudah membuktikannya Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan bertemu dengan burung gereja itu.
" Dan orang-orang itu berkata; " seandainya kami mau mendengarkan (nasihat agama) dan kami menggunakan akal-akal kami, pasti kami tidak menjadi penghuni neraka Sair." [Al-Mulk ayat 10]. Wallahua'alam.
Wuller
May 15, 2003, 04:31
Bagus banget isinya Alhamdulillah..... gw banyak belajar dari ini.
thanks
gua suka bgt ...waktu Aa Gym cerita waktu nabi Muhammad mo meninggal..!
mendalam dan khidmat...!
AlfaOmega
May 29, 2003, 15:01
Kekuatan Supranatural Menurut Al-Quran
KH. Jalaluddin Rakhmat
Dengan nama Allah Mahakasih Mahasayang
Ya Allah, tundukkan kepadaku musuh-musuhku
seperti Kau tundukkan angin kepada Sulaiman bin Dawud as
Lunakkan mereka kepadaku
seperti Kau lunakkan besi kepada Dawud as
Hinakan mereka di hadapanku
seperti Kau rendahkan Fir’aun di hadapan Musa as
Kalahkan mereka untukku
seperti Kau kalahkan Abu Jahal kepada Muhammad saw.
Demi hak Kaf Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak kembali
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak melihat
Tuli, bisu, buta dan mereka tidak berfikir
Maka Allah akan melindungi kamu menghadapi mereka
Dan Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui
Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada makhluk utama-Nya
Muhammad dan semua keluarganya
Bismillahirrahmanirrahim.
Demi kehormatan Kaf Ha Ya ‘Ain Shad Ha Mim ‘Ain Sin Qaf
Tiada daya, tiada kekuatan kecuali karena Allah yang Maha Tinggi Maha
Agung.[i]
Doa di atas, yang saya kutip dari sebuah kitab lama, memohon agar
Tuhan menganugrahkan kekuatan supranatural. Dengan merujuk kepada
mukjizat para rasul, huruf-huruf muqaththa’ah, dan ayat-ayat Al-Quran,
pembaca doa ingin menaklukkan musuh-musuhnya. Kata “musuh” bisa saja
diganti dengan nama Fulan bin Fulan. Sebagaimana ia mempercayai adanya
kekuatan adikodrati pada para rasul, ia juga yakin Tuhan akan
memberinya “percikan” dari kekuatan itu. Siapa pun yang mengamalkannya
dan apa pun yang dibacanya, doa diyakini oleh kaum mukmin sebagai
senjata supranatural. Nabi Muhammad saw bersabda, “Takutilah olehmu
doa orang yang tertindas; karena antara mereka dengan Tuhan tidak ada
penghalangnya.” Ketika orang yang dizalimi dalam keadaan tidak berdaya
(dan seringkali juga tidak ada harapan), ia mencari kekuatan tambahan
di atas kekuatan alamiah yang dimilikinya dengan doa. Karena itu,
keyakinan pada kekuatan doa memperkokoh keyakinan akan adanya
kausalitas yang bersifat supranatural.
Kepercayaan akan mukjizat sebagai contoh kekuatan supranatural sudah
menjadi ijmak kaum muslimin. Tetapi, pada satu babakan dalam sejarah
pemikiran Islam, para ulama mufasir sering menolak hal-hal yang
supranatural. Mereka berusaha menyimpangkan arti ayat-ayat yang
berkenaan dengan mukjizat atau keramat. Mereka menjelaskan makna
ayat-ayat itu begitu rupa sehingga mukjizat sama sekali bukan
“miracle”, tetapi hal-hal yang alamiah saja. Muhammad Abduh,
sebagaimana dilaporkan Sayyid Rasyid Ridha, mengambil mazhab
penafsiran seperti ini. Ia dilanjutkan oleh mufasir modernis seperti
Al-Maraghi, Al-Qasimi, dan Al-Jawhari. Dengan semangat berlebihan
untuk menunjukkan betapa ilmiahnya Al-Quran, mufasir seperti Maulana
Muhammad Ali mengubah kata-kata yang menunjukkan kekuatan supranatural
menjadi metafora saja.
Sayyid Al-Thabathabai mengkritik tafsir modernis ini sebagai inhiraf:
“Belakangan ini sebagian peneliti telah melakukan inhiraf dengan
menjelaskan pengetahuan Ilahiyyah dan realitas keagamaan berdasarkan
ilmu-ilmu alamiah. Penjelasan itu didasarkan kepada teori
materialistik. Mereka berpendapat bahwa persepsi manusia bersifat
material dan berasal dari otak. Semua kesempurnaan baik bersifat
individual maupun sosial hanyalah perkembangan materi.
“Mereka menyebutkan bahwa kenabian hanyalah sejenis kekuatan
intelektual yang sangat tajam, jenius intelektual. Seorang jenius yang
bernama Nabi melihat pada kondisi sosial kaumnya. Ia ingin membebaskan
mereka dari tradisi yang primitif menuju peradaban yang lebih tinggi.
Ia mengubah kepercayaan dan pandangan kaumnya dan menyesuaikannya
dengan kebutuhan masa dan tempat dengan cara sebaik-baiknya. Dalam
hubungan inilah ia merumuskan prinsip-prinsip sosial dasar dan
menetapkan aturan-aturan praktis untuk meningkatkan standar kehidupan
mereka, mengangkat akhlak mereka, dan membuat mereka menjadi anggota
masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan pada teori ini mereka
menyatakan bahwa: (1) Nabi adalah manusia pemikir yang jenius, yang
menyeru kaumnya kepada reformasi kehidupan sosial; (2) Wahyu hanyalah
pikiran yang mulia di dalam otaknya; (3) Bahwa kitab Samawi hanyalah
kumpulan pikiran yang mulia ini, yang bersih dari kepentingan diri dan
tujuan-tujuan pribadi; (4) Malaikat yang menurut Nabi mendatanginya
hanyalah kekuatan alamiah yang mengatur peristiwa-peristiwa alam atau
kekuatan psikologis yang menggerakkan manusia menuju kesempurnaan. Ruh
kudus hanyalah salah satu tingkat dari ruh alamiah yang materialistis,
yang memasukkan pikiran suci pada jiwa nabi. Setan sebaliknya adalah
kekuatan material yang meracuni jiwa dan memasukkan pikiran-pikiran
rendah yang membawa manusia kepada perilaku buruk yang merusak
masyarakat. Dengan cara inilah mereka menafsirkan realitas yang
diberitakan para nabi seperti Loh, Kalam, ‘Arasy, Kursy, Kitab, Hisab,
Surga, Neraka; (5) Agama hanyalah produk zaman yang berubah dengan
perubahan waktu; (6) Mukjizat yang dinisbahkan kepada para nabi
hanyalah khurafat yang dibuat-buat untuk memperkuat keimanan rakyat
biasa atau untuk memelihara posisi para pemimpin agama di depan
pengikut-pengikutnya.
Inilah secara singkat penjelasan mereka. Kenabian dalam pandangan
mereka hanyalah alat politik dan bukan realitas ilahiyyah. Penting
untuk dicatat bahwa kitab-kitab samawi dan hadis-hadis Nabi yang
sampai kepada kami tidak bisa menerima penafsiran seperti ini. Yang
mendorong mereka mengambil tafsir seperti ini adalah ketundukkan
mereka kepada teori-teori materialistik, sehingga mereka menolak
hal-hal yang supranatural. Mereka menafsirkan realitas metafisik
dengan membawanya kepada penjelasan yang murni materi”[ii]
Kita akan memberikan beberapa contoh dari tafsir seperti ini dengan
mengutip Al-Manar dan Quran Suci: Terjemah dan Tafsir.
AlfaOmega
May 30, 2003, 09:04
Apa sih yang dimaui oleh umat Islam zaman ini?
Oke, umat Islam mempunyai zaman lampau yang begitu gemilang. Tetapi
firdaus yang kemilau di abad pertengahan itu sudah hilang. Umat Islam
juga mempunyai eksemplar sejarah yag sering diimpikan sebagai model
terbaik untuk ditiru pada zaman ini, yaitu pengalaman sejarah pada
masa Nabi di Madinah. Tetapi contoh itu sudah begitu jauhnya, sehingga
banyak orang Islam di zaman ini mulai berpikir-pikir ulang: apakah
praktis menjadikan contoh kehidupan di kota kecil di abad tujuh masehi
itu sebagai "matriks sosial" untuk membina kehidupan umat Islam di
abad 21 ini? Kalaulah model zaman Nabi itu mau dicontoh, apakah harus
sama persis, sesuai dengan pesan Nabi, "shallu kama ra'aitumuni
ushalli", shalatlah sebagaimana aku shalat? Apakah kita dikehendaki
untuk "persis" seperti Nabi dalam hal shalat saja, atau dalam seluruh
kehidupan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain?
Mungkinkah itu? Bagaimana caranya? Atau kita perlu "persis" dalam
semangat etiknya saja? Sekiranya model Nabi mau dimodifikasi,
bagaimana caranya? Sejauh mana modifikasi itu tidak terjatuh kepada
bid'ah yang dilarang oleh Nabi sendiri? Ataukah bid'ah justru perlu?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menghantui umat Islam zaman
sekarang. Tak ada jawaban tunggal pada pertanyaan semacam ini.
Masing-masing golongan dalam Islam mempunyai pemikiran
sendiri-sendiri. Bahkan satu golongan bisa membentak golongan yang
lain karena jawaban-jawaban yang berbeda atas pertanyaan itu.
Minggu yang lalu, saya membaca kolom pendek tulisan Thomas L Friedman
yang dimuat di New York Times edisi 5 Mei 2002, bertajuk "Listening to
the Future". Tom yang menulis buku laris berjudul Lexus and Olive Tree
itu menceritakan suatu "momen" kecil yang, bagi saya, menyimpulkan
dengan ringkas dan baik masalah pokok yang dihadapi oleh umat Islam
zaman ini. Di Pesantren Darun Najah, Ulujami, Jakarta Selatan, Tom
bertemu dengan seorang santri yang dengan baik mengkritik
kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama yang
berkaitan dengan masalah Palestina.
Amerika, kata santri itu, menirukan retorika yang sudah 'klise' di
mana-mana, dikendalikan oleh Yahudi, dan bla-bla-bla. Di ujung
komentar si santri itu, Tom bertanya nakal, "Kamu kepengin pergi ke
dan belajar di Amerika?" Saya kutip saja kata-kata santri itu
sebagaimana diriwayatkan oleh Tom, "Of course I would! Because if I go
there, I can understand how that world really thinks. Because until
now I only read about it in newspapers and only see it in TV."
Ada yang tak terungkap dalam jawaban si santri itu, tetapi implisit
bisa terbaca di sana, yaitu keinginan untuk mencicipi kehidupan modern
di negeri asalnya sendiri. Semua anak-anak Islam, dengan perkecualian
pada sejumlah kasus yang sangat terbatas, ingin pergi ke Barat, ke
negeri-negeri maju, belajar di sana, menyaksikan sendiri bagaimana
modernitas bekerja, dan mencontohnya --kalu bisa-- saat pulang kelak.
Tak ada anak Islam yang senang terperosok dalam tempurung
keterbelakangan sepanjang umur. Dan memang begitulah keadaannya:
jutaan anak-anak Islam melancong ke Barat, belajar cara mengkriya
sistem kehidupan modern di sana, dan mencoba memodifikasikannya untuk
negara mereka masing-masing. Mereka bisa berasal dari Mesir,
Palestina, Irak, Siria, Aljazair, Tunisia, Malaysia, Brunei, juga
Indonesia.
Tetapi, mereka juga tetap seorang muslim yang sadar bahwa mereka hidup
dalam dan menghidupi "pandangan dunia" yang sangat beda dengan yang
mereka jumpai di negeri-negeri tempat mereka belajar. Mereka tetap
ingin mempertahankan --katakan saja-- "otentisitas" berdasarkan
tradisi mereka sendiri. Seperti kalimat yang baik dari Samuel
Huntington dalam "The Clash of Civilization" ketika menggambarkan
orang-orang Jepang yang minum Coca Cola, tetapi hati mereka tetap
bertaut dengan Shintoisme, maka anak-anak Islam itu juga persis sama:
mereka belajar "keterampilan" di Barat, tetapi hati dan pikiran mereka
tetaplah bertaut pada Islam; mereka bisa dengan terampil menguasai
teknik mutakhir di negeri seberang itu, tetapi hati mereka tetap tidak
bisa tunduk pada semangat faustian dan prometean yang menjadi semangat
dasar perikehidupan ilmiah di sana.
Singkatnya, yang dimaui oleh umat Islam zaman ini, tampaknya, adalah
satu pokok soal ini: bagaimana menjadi modern, dengan tetap berpegang
pada nilai-nilai Islam. Dalam rumusan yang populer di Arab: bagaimana
mencapai al-hadatsah atau kemoderenan, dengan tetap mempertahankan
al-ashalah atau keaslian.
Kota Madinah adalah simbol keaslian bagi umat Islam: di sanalah, untuk
pertama kali, cita sosial-politik Islam yang indah-indah dari
"kayangan" itu diterjemahkan secara konkret oleh Nabi. Tetapi, Islam
setelah wafatnya Nabi terus berkembang dan meluas, serta menyerap
unsur-unsur baru dari luar dirinya, sehingga mencapai puncak "daya
kreatifnya" dalam sebuah kota bernama Cordova di Spanyol. Kota itu
bisa menjadi simbol komederenan Islam di masa klasik, dan bisa
dijadikan sebagai "pemandu" bagi orang-orang Islam di zaman ini untuk
mencapai cita-cita mereka agar menjadi "moderen dan otentik"
sekaligus.
Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa kemoderenan adalah
cita-cita universal setiap manusia. Hanya, mereka menghendaki suatu
komederenan yang tidak mencerabutkan mereka dari tradisi yang mereka
miliki. Kemoderenan yang terlalu "agresif" menyerang tradisi yang
berbeda-beda itu, pada akhirnya, seperti dicatat oleh Karen Armstrong
dalam "Battle for God", malah akan menimbulkan "backlash", serangan
balik, dalam bentuk fundamentalisme.
Yang menjadi masalah sekarang adalah: sebagian orang Islam lebih suka
menengok secara sepihak kepada contoh di Madinah saja, tetapi
melupakan contoh-contoh yang berkembang setelah sejarah Madinah itu
selesai. Ada semacam anggapan bahwa Islam sebagaimana berkembang di
kawasan-kawasan luar Madinah itu adalah kurang "asli", sedikit (atau
malah banyak) tercampur dengan kebudayaan-kebudayaan di luar Islam.
Contoh Cordova agaknya kurang diminati oleh umat Islam zaman ini.
Semboyan yang selalu diuarkan adalah "kembali kepada Quran dan Hadis".
Akan ditaruh di mana sejarah umat Islam yang empat belas abad itu?
Ataukah sejarah merupakan barang rongsokan yang tak berguna? Pada
akhirnya toh Quran dan Hadis itu sebuah teks yang harus diterjemahkan
ke dalam bumi yang nyata. Bumi tempat Quran dan Hadis itu
diterjemahkan, ya, tak lain adalah Madinah dan (jangan lupa) Cordova.
Kalau boleh mengenalkan suatu neologisme, saya akan menggunakan
istilah "Islam Mardova", yakni Islam sebagaimana diterjemahkan dalam
dua konteks sejarah yang saling memprasyarati, yaitu sejarah Madinah
dan Cordova; Islam yang otentik dan modern sekaligus, sebagaimana
dikehendaki oleh anak-anak Islam zaman ini
-------------
Minggu, 12 Mei 2002
Islam Mardova
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla
AlfaOmega
May 30, 2003, 09:06
Kekuatan Supranatural Menurut Al-Quran (2)
Tafsir Materialistik
Para mufasir modernis menolak adanya fenomena supranatural. Jika
kemudian dalam Al-Quran terdapat kisah-kisah yang gaib, yang tidak
dapat dijelaskan secara ilmiah, mereka melihat kata-kata dalam
Al-Quran sebagai metafora. Dalam Al-Quran beberapa kali dikisahkan
orang yang dimatikan kemudian dihidupkan kembali, atau dengan izin
Allah Ibrahim menghidupkan burung yang sudah dipotong-potong, Isa
menghidupkan burung yang dibuat dari tanah. Menghidupkan yang sudah
mati adalah hal yang sukar diterima dan tidak dapat dijelaskan secara
ilmiah. Karena itu, kata “menghidupkan” dan “mematikan” diberi makna
kiasan.
Ketika menjelaskan Al-Baqarah 243, “Apakah kamu tidak memperhatikan
orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka
beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada
mereka: ”Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka.
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi
kebanyakan manusia tidak bersyukur”, Sayyid Rasyid Ridha menulis:
“Tuhan ingin menjelaskan sunnahnya berkenaan dengan bangsa-bangsa yang
dilanda sifat pengecut sehingga tidak bisa melawan musuh yang
menyerang mereka. Makna kehidupan umat dan kematiannya cukup dipahami
oleh kebanyakan orang. Kematian kaum tersebut terjadi karena musuh
mengalahkan mereka dan menghilangkan kekuatan mereka, menghilangkan
kebebasan mereka sebagai bangsa. Jadilah mereka bangsa yang tidak
diperhitungkan karena kesatuannya sudah bercerai-berai.
Anggota-anggota bangsa itu sudah tunduk kepada penjajah mereka
sehingga mereka tidak lagi memiliki wujud, karena wujud mereka tunduk
pada wujud orang lain. Arti kehidupan bangsa adalah kembalinya lagi
kebebasan kepada bangsa itu. Salah satu dari kasih sayang Allah swt
kepada manusia adalah menurunkan musibah kepada mereka sebagai
pelajaran dan pensucian dari akhlak yang tercela. Allah menimbulkan
kesadaran kepada kaum itu akibat sifat pengecut mereka dan kepahitan
perpecahan di antara mereka. Setelah timbul kesadaran mereka
menghimpun kekuatan mereka, memperkokoh ikatan di antara mereka
sehingga mereka memperoleh kembali kekuatan dan kesatuan mereka yang
perkasa. Dengan begitu mereka berhasil keluar dari kehinaan
penghambaan kepada kemuliaan kemerdekaan. Inilah makna kehidupan dan
kematian bangsa. Satu bangsa mati ketika mereka menerima kezaliman
sehingga keadaan mereka seperti bangkai. Tidak keluar dari mereka
karya-karya dinamis...[iii]
Dengan cara yang hampir sama, Sayyid Rasyid Ridha menafsirkan
Al-Baqarah 260: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku,
perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah
berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah
meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).”
Allah berfirman: “(Kalau demikian) Ambillah empat ekor burung dan
cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman) Lalu letakkan di atas
tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian
panggilllah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera dan
ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Sayyid Rasyid Ridha mengutip pendapat jumhur mufasir bahwa Ibrahim
mencincang empat ekor burung menjadi beberapa potong. Setiap potong
diletakkan di bukit yang berbeda. Ibrahim memanggil burung-burung itu.
Mereka datang kepadanya. Dengan cara itulah Tuhan menunjukkan
bagaimana menghidupkan yang mati. Sayyid Rasyid Ridha segera mengutip
dan menyetujui pendapat Abu Muslim yang menolak penafsiran Jumhur.
Menurut Abu Muslim, kata “fa shurhunna” berarti “cenderungkanlah
mereka” atau “jinakkan mereka”, bukan “cincanglah mereka”. Nabi
Ibrahim as melatih burung-burung itu, menjinakkannya, lalu
menempatkannya pada bukit-bukit yang berjauhan. Kemudian ia
memanggilnya, dan burung-burung itu pun berdatangan, seperti
merpati-merpati pos. Seperti itulah nanti Allah membangkitkan
orang-orang yang mati. Dia cukup memanggilnya, “Hiduplah kamu semua.”
[iv]
Al-Fakhr Al-Razi mengemukakan kritik pada pendapat Abu Muslim. Salah
satu argumentasinya –yang menurut saya sangat kuat- ialah sekiranya
yang dilakukan Ibrahim itu seperti itu, maka apa kelebihan Ibrahim
dibandingkan dengan yang lain. Dengan cara itu, semua orang bisa
melakukannya. Mukjizat tidak lagi “mukjizat”, tetapi hal-hal biasa
yang sehari-hari kita temukan. Saya tidak akan mengutip pembelaan
Sayyid Rasyid Ridha pada Abu Muslim dalam hal ini.
Dalam peristiwa penyembelihan sapi untuk membongkar siapa yang
membunuh seseorang pada zaman Bani Israil, Sayyid Rasyid Ridha juga
menolak cerita hidupnya kembali orang yang terbunuh itu. Ia merujuk
pada syariat di kalangan Bani Israil bila terjadi pembunuhan
misterius. Mereka harus membasuh tangannya. Jika ada yang tidak mau
membasuhnya, jelaslah dia yang bersalah. Dengan begitu terpeliharalah
masyarakat dari perpecahan karena saling menuding. Inilah yang
dimaksud dengan “menghidupkan”; yakni memelihara agar darah tidak
tumpah akibat perpecahan.[v] Sayang sekali, Sayyid Rasyid Ridha tidak
menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan “pukullah dengan sebagian dari
daging sapi itu.” Lagi pula, syariat seperti yang disebutkannya tidak
terdapat di kalangan Bani Israil. Ia pun tidak menunjuk sumbernya.
Upaya untuk menundukkan peristiwa supranatural –seperti mukjizat- pada
penjelasan “ilmiah” seringkali tidak berhasil. Saya lihat Sayyid
Rasyid Ridha sangat kesulitan ketika menjelaskan –sehingga ia tidak
menjelaskan apa pun- tafsir Ali Imran ayat 49: Dan sebagai Rasul
kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku
telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari
Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung,
kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan kehendak
Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan
orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan
seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa
yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu
adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu
sungguh-sungguh beriman.” [vi]
Apa yang tidak dapat dijelaskan Sayyid Rasyid Ridha kemudian
diterangkan oleh Maulana Muhammad Ali:[vii]
Dengan penafsiran seperti itu, tentu saja fenomena supranatural
dinafikan. Para mufasir ini tampaknya “risih” untuk menerima fenomena
yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Generasi mufasir ini memang
lahir di tengah arus modernisasi yang ditandai dengan rasionalitas,
materialisme, dan positivisme sains. Perkembangan penelitian
mutakhir[viii] dan kelahiran pascamodernisme melihat penafsiran
seperti ini sebagai sangat naif.
AlfaOmega
May 30, 2003, 09:07
Tafsir Spiritual dari Peristiwa Supranatural
Al-Quran berulangkali menjelaskan kekuatan supranatural yang
dianugrahkan Tuhan kepada para rasul. Sulaiman as memahami bahasa
burung, menundukkan makhluk gaib seperti jin dan Ifrit, menaklukkan
angin sehingga angin bergerak sesuai dengan perintahnya. Dawud as
melunakkan besi dengan jari-jarinya. Ibrahim as mengubah panas api
menjadi dingin dan menghidupkan burung yang sudah dicincangnya. Musa
as mengalahkan tukang-tukang sihir, membelah lautan, dan mengeluarkan
air dari bebatuan semuanya dengan tongkatnya. Isa as menyembuhkan yang
sakit dan menghidupkan yang mati. Yusuf as menyembuhkan kebutaan
ayahnya dengan mengusapkan pakaiannya ke matanya. Muhammad saw
membelah bulan.
Di samping kekuatan supranatural, Al-Quran menceritakan juga
pengetahuan supranatural (ilmu gaib) yang dimiliki para Nabi as:
1. Nabi Adam as mengetahui nama-nama yang tidak diketahui oleh para
malaikat (QS. Al-Baqarah 31-33).
2. Nabi Nuh as mengetahui bahwa tidak akan bertambah orang yang
beriman kepadanya dan bahwa orang-orang kafir di tengah-tengah kaumnya
hanya akan melahirkan generasi yang durhaka saja (QS. Hud 36; QS. Nuh
26-27).
3. Nabi Ibrahim as melihat (diperlihatkan kepadanya) alam malakut di
langit dan bumi (QS. Al-An’am 75).
4. Nabi Ya’qub as mengetahui apa yang bakal terjadi pada putranya
Yusuf as dan kelak tahu bahwa Yusuf masih hidup (QS. Yusuf 4-6, 13,
18).
5. Nabi Luth as mengetahui bahwa kaumnya akan dibinasakan pada waktu
Subuh (QS. Hud 81).
6. Nabi Yusuf as mengetahui takwil mimpi dan meramalkan apa yang bakal
terjadi pada orang yang bermimpi itu (QS. Yusuf 101, 36-41, 43-49).
7. Nabi Shalih as menubuwat-kan bahwa kaumnya akan menerima azab
setelah tiga hari (QS. Hud 64-65; QS. Al-Dzariyyat 43-44).
8. Nabi Isa as mengetahui apa yang akan dimakan oleh kaumnya dan apa
yang mereka simpan (QS. Ali Imran 49).
9. Nabi Muhammad saw mengetahui bahwa istrinya menyebarkan rahasianya
(QS. Al-Tahrim 13)
10. Yang sangat terkenal, Nabi Khidhir mengetahui apa yang bakal
terjadi dan melakukan berbagai tindakan untuk menghindarkan kecelakaan
(QS. Al-Kahf 60-82).
Kekuatan dan pengetahuan supranatural juga dapat terjadi pada
orang-orang yang bukan Nabi. Sihir termasuk di antaranya. Kita tidak
membicarakan sihir pada kesempatan sekarang, karena kita telah
membicarakannya pada waktu yang lain.
Kisah Ashaf bin Burkhaya. Al-Quran bercerita tentang kisah Nabi
Sulaiman as dan ratu Bilqis: “Berkata Sulaiman: Hai pembesar-pembesar,
siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya
kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang
berserah diri. Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku
akan datangkan kepadamu singgasana itu sebelum kau berdiri dari tempat
dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat
dipercaya. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: Aku
akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.Maka
tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun
berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah aku
bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. Al-Naml 38-40.)
Di sini dikisahkan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh “seorang
yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab”. Para ahli tafsir berselisih
pendapat tentang orang ini. Sebagian mengatakan orang ini malaikat
Jibril atau malaikat lain yang ditugaskan untuk membantu Nabi Sulaiman
as. Menurut Ibn Abbas orang itu ialah Ashaf bin Burkhaya, wazir
Sulaiman. Ia mengetahui nama Allah yang agung, yang bila berdoa dengan
nama itu, Allah akan mengabulkannya. Yang lain berkata: Orang itu Nabi
Khidhir as. Dr. Al-Zuhaili menulis selanjutnya, “Yang benar adalah
pendapat Al-Razi. Orang itu Sulaiman as, karena ia lebih mengetahui
Al-Kitab daripada yang lain dan karena ia seorang Nabi.” Tetapi kata
Abu Hayyan, “Pendapat yang paling aneh ialah orang itu Nabi Sulaiman.
Seakan-akan ia berkata kepada dirinya: Aku akan datangkan kepadamu
sebelum matamu berkedip.”[ix]
Al-Fakhr Al-Razi memang lebih suka menisbatkan orang itu kepada Nabi
Sulaiman dengan alasan: (1) Kata alladzî menurut bahasa menunjukkan
orang tertentu; dan orang yang dikenal mengetahui ilmu Al-Kitab adalah
Sulaiman as. Ia lebih tahu tentang Al-Kitab karena ia nabi; (2)
Mendatangkan singgasana pada waktu yang begitu cepat menunjukkan
derajat yang tinggi. Sekiranya yang melakukannya Ashaf, bukan
Sulaiman, tentulah Ashaf lebih utama dari Sulaiman. Hal yang tidak
mungkin; (3) Sekiranya Sulaiman memerlukan bantuan Ashaf, berarti
kedudukan Sulaiman kurang di mata manusia; (4) Sulaiman berkata, “Ini
adalah karunia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau
kufur.” Ini menunjukkan bahwa peristiwa yang menakjubkan itu
dimunculkan Tuhan karena doa Sulaiman as.[x]
Seperti Abu Hayyan, saya kita menisbahkan orang itu kepada Nabi
Sulaiman as bertentangan dengan konteks kalimat. Bukankah Sulaiman
meminta kepada para pembesarnya untuk mendatangkan singgasana itu?
Jika orang itu Sulaiman, mata siapa yang berkedip itu? Sebagaimana
pendapat jumhur mufasirin, dan berdasarkan banyak hadis[xi], kita
harus menisbahkan orang itu kepada Ashaf bin Burkhaya. Ia itu orang
yang sangat berilmu, wazir Nabi Sulaiman, dan dalam satu riwayat
disebut-sebut sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjalankan
pemerintahan sepeninggalnya.
Terjadi juga ikhtilaf tentang apa yang dimaksud “ilmu dari Al-Kitab”.
Yang paling mashur di kalangan ‘urafa, Al-Kitab yang dimaksud adalah
Kitab Al-Ma’rifat Al-Rabbaniyyah, yang terdiri dari pengetahuan
tentang asma Allah. pengetahuan ini disebut juga sebagai pengetahuan
tentang 72 huruf dari 73 huruf kitab makrifat. Dr. Al-Shadiqi
menjelaskan tafsir ruhaniah dari ayat di atas sebagai berikut:[xii]
Satu huruf dari Nama yang Agung ini dikhususkan kepada Tuhan, yaitu
dimensi zat, sifat zat, dan hakikat sifat fi’liyah. Semua huruf yang
lain adalah dimensi-dimensi makrifat yang dibagikan kepada hamba-hamba
Allah yang mukhlis. Setiap kali bertambah huruf-huruf makrifat ini,
bertambahlah syariat yang dipikul oleh pemiliknya. Allah pun menambah
penampakkan (mazhar) pada ayat-ayat pengetahuan dan kekuasaan-Nya,
“Wahai hamba-Ku, taatilah Aku sehingga Aku jadikan kamu seperti Aku.
Aku berkata kepada sesuatu jadilah, maka ia pun menjadi.” Betapa pun
berbedanya “kun” takwiniyah dari Tuhan sendiri.
Ashaf bin Burkhaya adalah hamba Allah yang mukhlis. Dengan pensucian
dirinya, ia dianugrahi Allah pengenalan akan asma Allah yang Agung. Ia
menyerap sifat-sifat Tuhan, termasuk kalimat “kun”. Dengan itu ia
mengeluarkan kekuatan yang supranatural, karena ia sudah menjadi
mazhhar dari kekuasaan Tuhan. Ia menjadi tajalliyat dari Allah
sendiri. Dalam istilah Ibn ‘Arabi, ia menjadi insan kamil. Dengan
demikian, manusia selain Nabi, melalui proses pensucian diri dan
penyerapan asma Allah, akan sanggup melahirkan peristiwa-peristiwa
supranatural. Bukan mukjizat, tetapi keramat. Perbedaan istilah itu
juga menunjukkan hirarki kekuatan itu di alam semesta.
Contoh lain dalam Al-Quran tentang manusia biasa yang dianugrahi Allah
kekuatan supranatural adalh Maryam. Al-Quran melukiskan Maryam sebagai
perempuan yang saleh, yang menghabiskan waktunya dalam mihrab. Tuhan
menurunkan makanan dari langit ke mihrabnya (QS. Ali Imran 37). Ia
juga diberi kekuatan luar biasa untuk menjatuhkan buah kurma dengan
menggerakkan batang pohonnya ketika ia sedang dilanda sakit pada waktu
melahirkan. (QS. Maryam 23-26)
Kisah Samiri. Al-Quran juga bercerita tentang seseorang yang berhasil
membuat patung yang bisa berbicara. Dengan patung itu, ia membawa Bani
Israil yang ditinggalkan Musa as kepada kesesatan (QS. Thaha 88).
Ketika Musa as menyaksikan keajaiban patung emas yang dibuat Samiri,
berkata Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?”
Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak
mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku
melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha 95-96)
Dalam kisah ini, Al-Quran menceritakan manusia biasa, bahkan orang
yang fasik, berhasil melahirkan kekuatan supranatural, karena ia
memanfaatkan “segenggam dari jejak Rasul.” Para ahli tafsir
meriwayatkan berbagai keterangan tentang ini. Sebagian mengatakan
bahwa ketika Bani Israil menyeberangi Laut Merah, Samiri melihat
malaikat Jibril berjalan di hadapannya menunggang kuda. Rasul di situ
adalah Jibril. Ia mengambil tanah yang diinjak oleh malaikat. Tanah
itu dimasukan ke dalam adonan patung emas yang dibikinnya. Dengan
“berkat” tanah itu, patung itu mempunyai kekuatan gaib.
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasul di
situ adalah Nabi Musa as. Siapa saja yang dimaksud, Al-Quran
mengajarkan bahwa orang dapat memperoleh kekuatan gaib dengan
mengambil berkat dari jejak Rasul.
AlfaOmega
June 10, 2003, 13:57
Beberapa Pelajaran Berharga
1. Pelajaran Penting Pertama
Pada bulan ke-2 diawal kuliah, seorang Profesor yang mengajar mata
kuliah Discret Mathematic memberi quiz mendadak pada kami. Kebetulan aku cukup
menyimak semua kuliah-kuliahnya, jadi dengan cukup cepat aku
selesaikan soal-soal quiz, sampai akhirnya aku sampai pada soal yang terakhir
yang membuat aku agak kaget. Isi soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan
wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ? Aku yakin soal ini cuma
"bercanda". Aku sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan
berusia sekitar 50-an, tapi gimana aku bisa tahu nama depannya... ?
Akhirnya aku kumpulin kertas ujianku, tentu saja dengan jawaban soal
terakhir kosong. Sebelum kelas berakhir, seorang mahasiswa yang duduk
dua baris dibelakangku bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan
"dihitung" atau tidak. "Tentu saja dihitung !!" kata si Profesor. "Pada
perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang, semuanya penting! Semua
harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,
atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu,
bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".
Kemudian Profesor itu menceritakan sebuah cerita sebelum dia
keluar dari kelas, aku masih ingat cerita itu sampai sekarang, kurang lebih
begini ceritanya Beberapa belas tahun yang lalu, pukul setengah dua belas
malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi
jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras,
yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya sedang rusak, dan perempuan
ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba
menghentikan setiap mobil yang lewat. Dan kebanyakan mobil yang lewat,
dikendarai oleh orang-orang ras kulit putih American. Dan mungkin karena di
tahun 1960-an terjadi konflik etnis, pengemudi mobil-mobil tersebut bahkan
tidak mengacuhkan wanita negro tersebut.
Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda Amerika berambut
pirang,dia berhenti untuk menolong ibu ini. Pemuda ini sama sekali tidak peduli
akan konflik etnis tahun 1960-an. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro
selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si
ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya
tentang alamat si pemuda pirang itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih
pada si pemuda.
Tujuh hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda ini diketuk
seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah
televisi set besar berwarna (bahkan pada tahun 1960-an di Amerika,
barang ini masih merupakan barang mewah) khusus dikirim kerumahnya. Terselip
surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : "Terima kasih nak,
karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku,
tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya.
Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku
yang sedang sekarat... hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena
membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu" Tertanda Mrs. Nat
King Cole. (Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA).
Itulah cerita yang diceritakan profesor itu, dan sebelum dia keluar
dari kelas, dia melontarkan kata-kata yang memang sudah aku tebak
sebelumnya, kata-kata itu adalah... "Kalian tahu, pemuda itu adalah aku, dan
aku tidak akan pernah melupakan pelajaran berharga itu".
AlfaOmega
June 10, 2003, 13:58
2. Pelajaran Penting Kedua
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman
eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki
umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan
wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya.
Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,... harga satu ice cream sundae?"
katanya. "50 sen..." balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan
isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya....
"Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?" katanya lagi. Tetapi kali ini
orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak... dan pelayan ini
mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan.
Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi
dikantongnya. "Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..."
ujarnya.
Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas
kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini
kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita
ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis
terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin
10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak bisa
pesan Ice- ream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan
uang tip yang "layak" ......
3. Pelajaran Penting Ketiga
Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah
batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi,
untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.
Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk
berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian
memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.
Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu
itu.
Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur.
Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan
mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan
mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani
ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang
berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini
hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.
Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah
bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang
bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.
AlfaOmega
June 12, 2003, 12:17
>===== Original Message From "Pesantren Virtual" <pvisb@m...>
Tanya Jawab (425): Bagaimana Membuktikan Al-Qur'an Kalam Allah
-----
Tanya
-----
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya Mohamad dari Malaysia ingin menanyakan satu soalan yang agak memusykilkan
benak saya iaitu
bagaimanakah kita hendak membuktikan Al-Quran itu adalah kalam Allah?
Jika tidak keberatan silakan panel explain dengan detail..sekian terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatulullah
Mohamad
-----
Jawab
-----
Bagaimanakah kita membuktikan Al-Quran itu adalah Kalam Allah?
Pertama, Al-Qur’an merupakan mu’jizat ( tidak ada seorangpun yang bisa
mendatangkan sepertinya, atau seperti surah di antara surah-surahnya ).
Mu’jizat ini hanya diberikan oleh Allah, kepada seorang rasulNya, sebagai
bukti yang membenarkan bahwa ia benar-benar utusan Allah. Sebagai Mu'jizat
Al-Qur'an tentu dari Allah. Dan memang sampai sekarang tidak ada seorangpun
yang bisa mengarang sepertinya, sampai seperti surah yang paling pendek pun
masih belum ada yang bisa mendatangkannya. Pada waktu Al-Qur'an diturunkan,
orang-orang Arab berada di puncak kefasihan berbahasa.Tapi ternyata tidak
seorang pun dari mereka yang bisa membuat seperti Al-Qur'an. Berbagai usaha
telah dilakukan oleh sebagian penyair mereka. Tapi usaha mereka gagal. Bahkan
mereka sendiri mengakui bahwa Al-Qur'an memang bukan karangan manusia.
Imam Az Zarkasyi menyebutkan bahwa mukjizat Al-Qur'an nampak dari segala sisi
( lihat Al Burhan fi ulumil Qur'an, oleh Az Zarkasyi :Jilid:2,hal:237, Darul
Ma'rifah, Bairut1990) : dari rangkaian katanya yang indah " balaghah ",
susunan ayat-ayat dan surah-surahnya, kebenaran isinya, kesesuaian
informasinya dengan penemuan final ilmu pengetahuan.
Kedua, memang ada tuduhan bahwa Al-Qur'an karangan Nabi Muhammad SAW, namun
kemudian Imam Al-Baqillani dalam bukunya Ijazul Qur'an, mencoba membandingkan
antara hadits-hadits Nabi dan ayat-ayat Al-Qur'an, hasilnya sebuah kesimpulan
bahwa Al-Qur'an bukan karangan Nabi. Al-Qur'an kalam Allah. Sampai-sampai Al
Baqillani menantang. Kalau masih belum percaya silahkan kumpulkan
hadits-hadits Nabi – ujar Al Baqillani -, lalu susunlah sebagaimana susunan
Al-Qur'an, anda akan menemukan susunan yang tidak berkaitan antara satu hadits
dengan lainnya. Bandingkan dengan Al-Qur'an, teliti susunan ayatnya, sunan
surah-surahnya, anda akan menemukan suatu keterpaduan, saling berkaitan dari
awal sampai akhir. Padahal ia diturunkan secara berangsur-angsur. Para Ulama
sepanjang sejarah telah membuktikan hakikat kesatuan Al-Qur'an dengan
susunannya yang ada. Di tambah lagi bahwa di dalam Al-Qur'an banyak " khitab "
yang ditujukan kepada Rasulullah.
Bahkan ada yang berupa teguran seperti yang terdapat dalam surat " Al Tahrim
", Rasulullah ditegur langsung karena mengharamkan madu pada dirinya, untuk
menjaga perasaan istrinya yang tidak suka bau madu yang diminumnya. Di
permulaan surat " Abasa " juga teguran kepada Rasulullah kerena beliau bermuka
masam kepada Ibn Ummi Maktum yang pada waktu itu minta Rasulullah untuk
mengajarkannya Al-Qur'an, sementara Rasulullah sedang sibuk dalam sebuah
pertemuan dengan pemuka-pemuka Quraisy. Masuk akalkah seorang menegur dirinya
senidiri dalam buku yang dikarangnya? Kalau memang benar Al-Qur'an karangan
Muhammad SAW.
Ketiga, Al-Qur'an sendiri menyuruh Rasulullah SAW untuk menantang siapa saja
yang dari mahluk yang ada, jin dan manusia untuk membuat sepertinya. Dalam
(QS: Hud:13) perintah untuk Nabi agar menantang mereka supaya mendatangkan
sepuluh surah. Dalam (QS:Yunus:38) perintah agar menantang mereka untuk
mendatangkan satu surah. Pada (QS:Al Baqarah:23) juga demikian. Bahkan dalam
(QS:Al Isra':88) Al-Qur'an menegaskan bahwa sekalipun jin dan manusia
berkumpul untuk mengarang seperti Al-Qur'an tidak akan bisa. Dan sampai
sekarang Al-Qur'an masih terus menantang, tapi tidak ada seorangpun yang bisa
menjawab. Kalau memang karangan Nabi Muhammad SAW, mengapa pakai perintah? Dan
bentuk perintah kepada Nabi Muhammad SAW, di dalam Al-Qur'an begitu banyak.
Perhatikan saja tiga surah terkahir : Al Ikhalsh, Al Falaq dan An Nas.
Semuanya dimulai dengan perintah " qul " ( katakan hai Muhammad ). Ini semua
menunjukkan bahwa Al-Qur'an kalam Allah. Dan kalau Al-Qur'an karangan manusia,
tentu tidak akan sampai sejauh ini berani menantang. Sementara Al-Qur'an akan
terus menantang sampai hari Kiamat. Suatu bukti bahwa ia kalam Allah yang
mu'jiz.
Keempat, Silahakan anda bandingkan antara penemuan ilmu pengetahuan yang sudah
final ( bukan teori ), tentang alam, atau tentang tubuh manusia dan lain
sebagianya, lalu bandingkan dengan penegasan Al-Qur'an, anda pasti akan
mendapatkan hakikat yang sama. Mengapa, karena alam ini ciptaan Allah, dan
Al-Qur'an kalamNya. Sudah demikian banyak para ulama mengungkap hal ini dalam
pembahasan "al i'jazul ilmi lilqur'an". Adakah akal manusia sejak sekian abad
silam, bisa menjangkau penemuan ilmu yang baru saja didapatkan tanpa sebuah
penelitian?
Kelima, di dalam Al-Qur'an banyak informasi mengenai alam ghaib, seperti
adanya surga dengan segala keindahannya, dan neraka dengan segala
kepedihannya, adanya hari kiamat, dan seterusnya yang semuanya ini tidak
mungkin dijangkau oleh akal manusia. Suatu bukti bahwa yang mempunyai
informasi seperti ini hanya Dia yang menciptakan alam, dan yang menentukan
akhir hidup manusia, yang mengatur kehidupan setelah matinya semua mahluk, dan
yang membagi ada yang ke surga dan yeng ke neraka.
Semoga membantu, wassalam
Dr. Amir Faishol Fath
AlfaOmega
June 12, 2003, 12:25
>===== Original Message From "Pesantren Virtual" <pvisb@m...>
Tanya Jawab (425): Bagaimana Membuktikan Al-Qur'an Kalam Allah
-----
Tanya
-----
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya Mohamad dari Malaysia ingin menanyakan satu soalan yang agak memusykilkan
benak saya iaitu
bagaimanakah kita hendak membuktikan Al-Quran itu adalah kalam Allah?
Jika tidak keberatan silakan panel explain dengan detail..sekian terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatulullah
Mohamad
-----
Jawab
-----
Bagaimanakah kita membuktikan Al-Quran itu adalah Kalam Allah?
Pertama, Al-Qur’an merupakan mu’jizat ( tidak ada seorangpun yang bisa
mendatangkan sepertinya, atau seperti surah di antara surah-surahnya ).
Mu’jizat ini hanya diberikan oleh Allah, kepada seorang rasulNya, sebagai
bukti yang membenarkan bahwa ia benar-benar utusan Allah. Sebagai Mu'jizat
Al-Qur'an tentu dari Allah. Dan memang sampai sekarang tidak ada seorangpun
yang bisa mengarang sepertinya, sampai seperti surah yang paling pendek pun
masih belum ada yang bisa mendatangkannya. Pada waktu Al-Qur'an diturunkan,
orang-orang Arab berada di puncak kefasihan berbahasa.Tapi ternyata tidak
seorang pun dari mereka yang bisa membuat seperti Al-Qur'an. Berbagai usaha
telah dilakukan oleh sebagian penyair mereka. Tapi usaha mereka gagal. Bahkan
mereka sendiri mengakui bahwa Al-Qur'an memang bukan karangan manusia.
Imam Az Zarkasyi menyebutkan bahwa mukjizat Al-Qur'an nampak dari segala sisi
( lihat Al Burhan fi ulumil Qur'an, oleh Az Zarkasyi :Jilid:2,hal:237, Darul
Ma'rifah, Bairut1990) : dari rangkaian katanya yang indah " balaghah ",
susunan ayat-ayat dan surah-surahnya, kebenaran isinya, kesesuaian
informasinya dengan penemuan final ilmu pengetahuan.
Kedua, memang ada tuduhan bahwa Al-Qur'an karangan Nabi Muhammad SAW, namun
kemudian Imam Al-Baqillani dalam bukunya Ijazul Qur'an, mencoba membandingkan
antara hadits-hadits Nabi dan ayat-ayat Al-Qur'an, hasilnya sebuah kesimpulan
bahwa Al-Qur'an bukan karangan Nabi. Al-Qur'an kalam Allah. Sampai-sampai Al
Baqillani menantang. Kalau masih belum percaya silahkan kumpulkan
hadits-hadits Nabi – ujar Al Baqillani -, lalu susunlah sebagaimana susunan
Al-Qur'an, anda akan menemukan susunan yang tidak berkaitan antara satu hadits
dengan lainnya. Bandingkan dengan Al-Qur'an, teliti susunan ayatnya, sunan
surah-surahnya, anda akan menemukan suatu keterpaduan, saling berkaitan dari
awal sampai akhir. Padahal ia diturunkan secara berangsur-angsur. Para Ulama
sepanjang sejarah telah membuktikan hakikat kesatuan Al-Qur'an dengan
susunannya yang ada. Di tambah lagi bahwa di dalam Al-Qur'an banyak " khitab "
yang ditujukan kepada Rasulullah.
Bahkan ada yang berupa teguran seperti yang terdapat dalam surat " Al Tahrim
", Rasulullah ditegur langsung karena mengharamkan madu pada dirinya, untuk
menjaga perasaan istrinya yang tidak suka bau madu yang diminumnya. Di
permulaan surat " Abasa " juga teguran kepada Rasulullah kerena beliau bermuka
masam kepada Ibn Ummi Maktum yang pada waktu itu minta Rasulullah untuk
mengajarkannya Al-Qur'an, sementara Rasulullah sedang sibuk dalam sebuah
pertemuan dengan pemuka-pemuka Quraisy. Masuk akalkah seorang menegur dirinya
senidiri dalam buku yang dikarangnya? Kalau memang benar Al-Qur'an karangan
Muhammad SAW.
Ketiga, Al-Qur'an sendiri menyuruh Rasulullah SAW untuk menantang siapa saja
yang dari mahluk yang ada, jin dan manusia untuk membuat sepertinya. Dalam
(QS: Hud:13) perintah untuk Nabi agar menantang mereka supaya mendatangkan
sepuluh surah. Dalam (QS:Yunus:38) perintah agar menantang mereka untuk
mendatangkan satu surah. Pada (QS:Al Baqarah:23) juga demikian. Bahkan dalam
(QS:Al Isra':88) Al-Qur'an menegaskan bahwa sekalipun jin dan manusia
berkumpul untuk mengarang seperti Al-Qur'an tidak akan bisa. Dan sampai
sekarang Al-Qur'an masih terus menantang, tapi tidak ada seorangpun yang bisa
menjawab. Kalau memang karangan Nabi Muhammad SAW, mengapa pakai perintah? Dan
bentuk perintah kepada Nabi Muhammad SAW, di dalam Al-Qur'an begitu banyak.
Perhatikan saja tiga surah terkahir : Al Ikhalsh, Al Falaq dan An Nas.
Semuanya dimulai dengan perintah " qul " ( katakan hai Muhammad ). Ini semua
menunjukkan bahwa Al-Qur'an kalam Allah. Dan kalau Al-Qur'an karangan manusia,
tentu tidak akan sampai sejauh ini berani menantang. Sementara Al-Qur'an akan
terus menantang sampai hari Kiamat. Suatu bukti bahwa ia kalam Allah yang
mu'jiz.
Keempat, Silahakan anda bandingkan antara penemuan ilmu pengetahuan yang sudah
final ( bukan teori ), tentang alam, atau tentang tubuh manusia dan lain
sebagianya, lalu bandingkan dengan penegasan Al-Qur'an, anda pasti akan
mendapatkan hakikat yang sama. Mengapa, karena alam ini ciptaan Allah, dan
Al-Qur'an kalamNya. Sudah demikian banyak para ulama mengungkap hal ini dalam
pembahasan "al i'jazul ilmi lilqur'an". Adakah akal manusia sejak sekian abad
silam, bisa menjangkau penemuan ilmu yang baru saja didapatkan tanpa sebuah
penelitian?
Kelima, di dalam Al-Qur'an banyak informasi mengenai alam ghaib, seperti
adanya surga dengan segala keindahannya, dan neraka dengan segala
kepedihannya, adanya hari kiamat, dan seterusnya yang semuanya ini tidak
mungkin dijangkau oleh akal manusia. Suatu bukti bahwa yang mempunyai
informasi seperti ini hanya Dia yang menciptakan alam, dan yang menentukan
akhir hidup manusia, yang mengatur kehidupan setelah matinya semua mahluk, dan
yang membagi ada yang ke surga dan yeng ke neraka.
Semoga membantu, wassalam
Dr. Amir Faishol Fath
bon8nk
June 13, 2003, 02:46
Tangisan Umar
Suatu hari Umar bin Khattab r.a. berniat menenui Rasulullah saw. Maka, berangkatlah ia berkunjung ke rumah Rasulullah saw. Tetapi, sewaktu ia telah berada di rumah Nabi, Umar kaget seraya mengelus dada.
Betapa tidak, Rasulullah saw. yang kala itu adalah pemimpin umat dan panutan, didapatinya sedang istirahat tidur di atas tikar yang lusuh dan tampak sudah kumuh. Waktu Nabi bangkit, Umar melihat guratan-guratan kasar tikar itu membekas pada badan beliau. Dari sebuah lemari tidak jauh dari mereka tampak segantang gandum di dalamnya. Hanya itu saja yang terlihat. Melihat keadaan Nabi yang begitu, Umar menangis. Nabi kemudian menanyakannya mengapa ia menangis.
"Apa yang membuatmu menangis, hai Umar?"
Masih dalam tangisnya, Umar menjawab, "Aku melihat para kaisar Kisra dan raja-raja lain nikmat tisur di atas ranjang mewah beralaskan sutra. Tetapi, di sini engkau tidur beralaskan tikar seperti ini."
Mendengar uraian Umar ini, Nabi menyahut, "Wahai Umar! tidakkah engkau sependapat denganku? Kita lebih suka memilih kehidupan akhirat, sedangkan mereka memilih dunia."
Hanya itu jawaban Rasulullah saw. Singkat memang, tetapi justru penjelasan inilah yang membuat hati Umar menjadi luluh. Kekagumannya kepada Rasulullah saw. sebagai pemimpin dan panutan umat bertambah.
AlfaOmega
June 18, 2003, 09:05
Gola Gong :
Saya lahir dari keluarga yang bebas dalam hal berpikir. Ayah saya termasuk tipe orang tua yang demokratis, termasuk saat mengajarkan dasar-dasar ke-Islaman pada anak-anaknya. Ia sering mengajak kami pergi ke mesjid, tapi tidak pernah dengan bentuk paksaan. Bahkan, setelah itu beliau menyerahkan semua pilihan tentang agama kepada diri kami masing-masing. Beliau selalu mengatakan "Kamu tidak harus selalu ada di masjid, tapi laksanakanlah shalat di masjid. Setelah itu, berdakwahlah sesuai dengan keahlian yang kamu punya".
Oleh karena perkataannya itu, saya kemudian memilih menjadi seorang penulis. Menurut saya, seorang penulis tidak memer-lukan persyaratan apa-apa selain bisa menulis, apalagi dengan kondisi saya yang seperti ini. Bapak saya, seperti biasanya menyetujui apapun pilihan anak-anaknya. Beliau menyarankan agar saya selalu menulis hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi umat. Jadi dalam setiap tulisan saya, insya Allah terkandung juga nilai-nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.
Sejak kecil, saya termasuk anak yang suka berpetualang dan suka mencoba hal-hal yang belum pernah saya tahu. Mungkin karena sifat itulah, saat di bangku SMP saya sudah mulai mengenal apa yang disebut dengan pacaran yang tidak Islami dan minum minuman keras serta obat-obatan terlarang, tapi kalau melakukan tindak kriminal saya tidak pernah. Saya mengkonsumsi obat-obatan terlarang hanya untuk diri saya sendiri, tanpa ingin mengajak atau mencela-kakan orang lain. Bahkan, waktu itu saya masih melaksanakan shalat seperti biasa. Jadi, ada dua sisi yang bertolak belakang dalam masa remaja saya ketika itu.
Dulu, ketika saya terbiasa mengkonsumsi barang-barang haram tersebut, belum ada jenis putaw. Kalau saja barang tersebut sudah ada, mungkin saya mengkonsumsinya juga. Obat-obatan sudah menjadi keseharian dalam hidup saya, termasuk ganja, saya sudah pernah mencobanya. Sampai-sampai ketika saya di India, saya sempat meng-konsumsi coca (tumbuhan penghasil zat cocain-red) sehingga saya hampir mati dan saya kira saya ada di titik yang paling hina, bahkan anjing pun tidak akan mau mendekati saya. Andai bukan karena pertolongan Allah Yang Mahakasih, mungkin saat itu saya mati terhina di negeri orang yang jauh dari kampung halaman sendiri. Entah kenapa, waktu itu tiba-tiba saja ada seorang anak kecil beragama Hindu menolong dan membawa saya ke dokter yang kemudian bersedia memberikan pertolongannya pada saya.
Saya masih ingat, hampir saja saya diterkam Anjing ketika kembali ke hotel. Anjing di hotel itu ternyata sudah dilatih untuk mencium bau coca dan mendeteksi serta bereaksi terhadap orang-orang yang kedapatan mengkonsumsi coca. Karena kejadian ini, saya diusir dari hotel itu dan dipaksa untuk pindah. Dalam perjalanan itu, saya merenungkan semua hal yang pernah saya alamai. Saya sudah hampir mening-galkan shalat selama ini. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja saya diingatkan kembali untuk shalat dan berniat untuk memperbaiki diri. Dari situ, saya terus ke Pakistan, bahkan tadinya mau langsung ke Mekkah. Tapi suara hati saya menyuruh saya untuk pulang. Akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang ke Bandung.
Pada tahun 1996 di Bandung, saya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dan saya pikir itu merupakan peringatan dari Allah. Entah mengapa, saat itu rasanya saya seperti sudah meninggal. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kejadiannya waktu itu, mungkin kalau ditulis dalam bahasa puisi, saya seperti melihat setitik cahaya. Dengan segala kepolosan, saya merasa bahwa saat itu saya sudah bertemu malaikat. Mungkin malaikat maut, karena saya menjadi sangat ketakutan setelah melihatnya. Saya terus berjalan tanpa tahu tujuan dan saya merasa sangat takut akan kematian. Apalagi, ketika mengingat dosa-dosa dan kesalahan saya yang belum sempat saya perbaiki.
Setelah kejadian itu, saya semakin berniat dalam hati bahwa saya akan dan harus berubah. Sampai sekarang, saya selalu merasa bahwa Allah masih sayang pada saya. Bukti dari semua itu, Dia memberikan peringatan bagi saya. Semenjak itu, saya mulai berubah. Alhamdulillah, tidak ada hambatan yang berarti untuk mengubah diri. Saya kira, semua itu karena adanya niat yang kuat dalam hati saya untuk berubah. Saya mulai memikirkan tentang sebuah pernikahan yang akan membuat saya bisa hidup tentram dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Dahulu, saya tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Saya selalu saja berpikir harus punya rumah dahulu, ingin hidup mapan dahulu dan lain-lain. Tapi ternyata, setelah menikah semua itu jadi lebih mudah diraih. Saya selalu yakin kalau dalam rezeki saya, dititipkan juga rezeki anak-anak dan istri saya.
Sekarang setelah berhenti mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan meminum minuman keras, saya mulai hidup tenang dan merasakan hidup sehat, Insya Allah. Alhamdulillah, sekarang saya tidak ingin mencobanya lagi. [MQMedia.com]
AlfaOmega
June 23, 2003, 08:41
Inilah sebuah kisah kesaksian dari seorang Mantan Gembala Gereja &
Penginjil bernama Paulus F. Tengker yang bernama Islam Rachmat Hidayat,
yang oleh saya M. Donny Setiawan dikutip & dituliskan kembali, silahkan
baca dengan penuh ketulusan atas pengakuan jujur kisah Mantan Gembala
Gereja & penginjil ini, yang telah bertobat & menemukan kebenaran Ilahi
sesungguhnya.
Inilah Kisah Nyatanya:
Tadinya saya ragu untuk menuliskan kisah ini, karena saya takut terjebak
dalam rasa & sifat riya..Tetapi setelah membaca posting Kisah Kesaksian 4
Orang Gembala yang kembali ke agamanya masing-masing yang diposting di
Yesus.net & Kebenaran.net, ini merupakan sebuah pengungkapan secara jujur &
berani atas praktek rohani Gereja yang sebenarnya rahasia & tidak
diketahui oleh banyak pihak termasuk umat Kristiani sendiri. Karena saya
melihat ada upaya penyangkalan kebenaran oleh kalangan-kalangan tertentu
umat Kristiani
di forum diskusi agama tersebut. Demi tegaknya kebenaran & agar semakin
banyak domba-domba maupun gembala-gembala Kristus yang bisa menemukan jalan
kebenaran Ilahi sesungguhnya, maka saya beranikan diri menulis & menuturkan
kisah sejati ini. Saya berharap para domba & gembala Kristus yang membaca
kisah ini memahami & menghayati pengalaman rohani saya ini, agar bisa
menemukan kebenaran Ilahi yang sejati, Jalan Tuhan yang benar & tidak
sesat.
Oleh karena itu demi penghargaan kepada umat Kristiani & umat Islam, saya
tidak mengutip satu ayatpun dari Alkitab & Al-Qur'an. Kesaksian ini
betul-betul ungkapan hati & jiwa saya.
Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu, nama saya
Paulus F. Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen
yang fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita
saya tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik
untuk menjadi taat dalam beragama & direncanakan papa untuk menjadi penerus
tradisi keluarga, menjadi Gembala Tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA saya
melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Alkitab yang berlokasi di kawasan
Jl. Arjuno - Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke
Manado, juga merupakan salahsatu kota dengan umat Kristiani yang terkemuka,
banyak Gereja megah berdiri ditengah kota & pekabaran gembira Cinta Kasih
Tuhan Yesus mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat Jawa Timur
yang mayoritas beragama Islam fanatik. Selama kuliah saya juga bekerja
part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehemia & Gereja Pantekosta di
Indonesia Timur cabang Surabaya. Saya bekerja sebagai penyusun kisah
kesaksian dari hamba-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen. Karena
kebanyakan
orang-orang itu adalah orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa
diantaranya bahkan sepertinya sakit jiwa, atau para pemakai Narkoba yang
masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah kesaksian yang
hebat untuk mereka.
Saya biasa menulis cerita dengan tajuk: "Hamba Tuhan yang kembali, mantan
seorang Kyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen" dsb.
Kisah-kisah kesaksian palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali,
bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur'an & Hadist, saya juga
tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, pondok Pesantren
hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi
palsu, ijazah palsu & foto-foto palsu, untuk memberi kesan bahwa mereka itu
dulunya benar-benar bekas tokoh Islam walaupun sebenarnya bukan!. Bahkan
saya juga mengajari mereka membaca Al-Qur'an yang akan dipakai untuk
menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili & berusaha membantah
kami. Beberapa kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya
merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad itu
ada, tetapi mereka tidaklah sehebat kisah kesaksiannya, jika disebut mantan
Ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah di Mesir, maka yang
sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu
Narkoba, wanita nakal & para preman tak beragama, orang desa yang berKTP
Islam tapi berbudaya animisme didesa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya
Sukabumi & Blitar). Bahkan saya sering berjumpa orang-orang Islam yang
dibaptis itu ternyata seumur-hidupnya hampir tak pernah shalat & mengetahui
ajaran Islam yang paling dasar.tapi kami harus melaporkan keberhasilan ini
dengan cara yang gemilang kepada para jemaat yang telah berderma.maka kami
rekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat & canggih.Tentu
para domba di Gereja akan senang kalau mendengar mantan Ulama masuk
Kristen, walaupun yang bersangkutan sebenarnya Cuma bekas gelandangan buta
huruf misalnya. Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat kuliah &
akhirnya saya dinobatkan sebagai pendeta muda. Karena keahlian saya ini
terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga rajin
membeli tafsir Al-Qur'an, Hadist & buku-buku Islam untuk mencari kelemahan-
kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan
saya.
Saya menemukan bahwa sikap saling berbeda pendapat namun saling menghargai
sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan
saya juga pernah berpura-pura belajar mengaji & mengaku sebagai Islam
dengan mengundang seorang Guru Ngaji ke rumah dinas saya, saya belajar
ngaji hingga 1 tahun lebih & Ustad itu tak pernah menyadari sampai saya
tamat belajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen. Berkat pengajaran dia
itu saya bahkan bisa mengaji & hal ini ternyata berguna sekali untuk saya
sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar agama Islam.
Sayapun secara part time terkadang ikut misi penginjilan malam yang
Bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat
keremangan malam di seantero kota Surabaya, kami wartakan injil kepada para
pekerja seks, ABG, wanita nakal & kaum gay. Yang kami target untuk
dikristenkan biasanya adalah para pekerja seks independent, para pengunjung
diskotek & kafe yang menyambi, baik itu gadis belia maupun para lelaki muda
penjaja seks untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil
seleksi & pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami target,
biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan.
Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi
memimpin kebaktian dan lain acara rohani. Sebab kami tak mau citra Gereja
rusak di mata umat yang kebetulan bertemu dengan para penginjil di tempat
keremangan malam tersebut. Juga para penginjil itu tidak mengunakan seragam
resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik & kafe.
Selain itu juga para penginjil Gembala Tuhan di Malam Hari juga aktif
dalam jaringan pengedaran narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan
seorang umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka
tersesat & butuh pertolongan kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila
tidak terangkulpun, kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda
Islam yang sering ke diskotik atau kafe. Mungkin para pembaca posting
Ini sudah membaca artikel panjang tentang Jaringan Narkoba di Jakarta di
harian Kompas edisi hari Minggu tgl. 11 Maret 2001, disana diceritakan
dengan gamblang betapa penyebaran & mafia narkoba sudah menyebar sangat
pesat di Jakarta & sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI,
pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung & mafianya bekerja sama
begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu & ini sangat sulit mereka
telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam jaringan & sindikat narkoba!
Berbeda dengan para mafia & Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi,
Gereja terlibat
Semata untuk menjaring domba Kristus baru & menyesatkan generasi muda
Islam!
AlfaOmega
June 23, 2003, 08:43
Jujur saja, kisah kesaksian bahwa para gembala Tuhanpun banyak yang memakai
narkoba untuk menunjang performance mereka itu benar adanya. Narkoba itu
digunakan agar para Gembala Tuhan bisa tampil percaya diri &, kami sangat
yakin, bahwa kondisi fly & sakauw adalah kondisi dimana kami bisa kontak
langsung dengan Roh Kudus!. Kisah Kesaksian yang dituturkan 4 mantan
gembala itu benar adanya, sayapun tahu persis karena selaku anggota tidak
tetap penginjilan malam hari, sayalah yang memasok kebutuhan mereka, saya
kenal banyak dengan para Bandar Besar Narkoba di Surabaya. Bahkan beberapa
Bandar Besar itu adalah jemaat Gereja yang taat, donasinya bahkan ada yang
melebihi nilai persepuluhan mereka. Selain menyumbang uang untuk
penginjilan, merekajuga menjual Narkoba dengan harga khusus kepada Gereja
untuk memasok kebutuhan para Gembala yang membutuhkan & untuk diedarkan
guna merusak generasi muda Islam. saya juga terkadang memakai
ectassy/inneks, hanya saja saya pakai ketika menjamu para tamu Gembala
Tuhan dari luar kota. Kamipun biasa ketemu & ngobrol-ngobrol dibeberapa pub
malam terkenal yang pasti dikunjungi para Pelayan & Gembala Tuhan bila
berkunjung ke Surabaya. Kita punya private member di Kowloon, Club Deluxe &
Top Ten. Saya pernah menemani pendeta terkenal seperti; KAM Jusuf Roni
(yang mantan Mubaligh & tokoh Islam terkenal), Gilbert Lumoindang, & Suradi
Ben Abraham di pub-pub tersebut. Kami bahkan pernah melakukan pembaptisan
beberapa pekerja seks di private room salahsatu pub terkenal itu sambl
tripping!!, setelah itu kami "dating"dengan mereka, "mandi suci bersama"
istilahnya. Kalau masalah skandal seks antara jemaat & pendeta atau
penyanyi Gereja & Gembalanya, saya tak tahu persis, tapi yang saya tahu
memang sewaktu menemani para Gembala Tuhan mengunjungi pub malam, pernah
mereka diantaranya ditemani beberapa wanita yang dikatakannya sebagai
jemaat yang minta diurapi secara khusus.
Selain itu saya juga aktif dalam pembinaan domba-domba baru yang kebanyakan
berasal dari pedesaan & para pekerja malam. Seperti diuraikan di awal kisah
nyata ini. Sayalah terkadang mengajari mereka tentang Islam, tetapi
tentunya yang telah kami sortir bahwa ajaran Islam itu mengakui ketuhanan
Yesus misalnya. Saya juga mengajari mereka berakting untuk menunjang
penampilan mereka di acara KKR atau kesaksian di Gereja. Jangan sampai
mereka tidak hapal kisah nyata hasil rekaan saya sendiri lalu melenceng ke
kisah Nyata mereka sendiri, yang kalau ketahuan bisa berakibat fatal bagi
Gereja!. Khusus untuk KKR kami melatih orang-orang untuk berpura-pura
lumpuh, buta, bisu & berbagai penyakit lainnya, lalu pura-pura disembuhkan
para pengkhotbah & jemaatpun akan histeris & percaya itu mukjizat. Kamipun
harus menyiapkan upacara pemanggilan Roh Kudus di tempat-tempat keramat &
angker di Surabaya sebelum acara penyembuhan Ilahi dimulai. Terkadang ada
jemaat yang diluar kendali & skenario betul-betul minta diurapi, biasanya
kami akan segera menahan dia dengan mengatakan: maaf pendeta sibuk, dengan
kedatangan
umat yang luar biasa, lain kali saja?!, Biasanya para penginjil malamlah
yang bertugas untuk menahan orang-orang yang diluar skrenario acara, kami
tidak pernah melibatkan pemuda Gereja karena mereka diluar gugus kendali
komando kami.
Memang pengakuan 4 orang mantan Gembala itu terdengar spektakuler & sulit
dipercaya, tetapi saya beritahukan kepada anda semua: SEMUA PENGAKUAN
MEREKA ITU JUJUR & BENAR ADANYA, SEMUA PRAKTEK TERCELA ITU MEMANG
DIJALANKAN TERUTAMA OLEH:
GEREJA BETHEL
GEREJA BETHANY
GEREJA NEHEMIA
GEREJA SIDANG JEMAAT PANTEKOSTA
GEREJA ABDIEL
Bagi umat Kristiani atau para Gembala & pelayan Tuhanpun yang tidak pernah
ikut kegiatan ini akan terkejut & sulit mempercayai kenyataan ini, tetapi
saya beitahukan sekali lagi: SEMUA ITU BENAR-BENAR TERJADI!. Selain 4
mantan gemabala itu, sayalah juga saksi hidup lainnya.
Mengapa Saya Masuk Islam?
Ketertarikan saya kepada Islam bukan dari buku-buku yang saya baca, karena
buku-buku itu tak pernah saya baca dengan sepenuh hati & sampai tuntas,
saya hanya mencari point-point tertentu saja. Saya masuk Islam bukan
setelah bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu
menganggap & diajarkan oleh Gereja bahwa orang-orang Islam itu sebagai
orang-orang yang hina, kotor, bodoh, terbelakang, kasar, keji, penuh tipu
muslihat & penuh dosa. Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat &
umatnya kalau tidak kita hinakan harus kita insyafkan, hal-hal inilah yang
tertanam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini. Perlu semuanya
ketahui ajaran kebencian kepada ajaran Islam & umatnya ini merupakan
pelajaran pokok yang diberikan kepada kader-kader umat Kristiani sejak
kecil, materi ini mulai disampaikan di pengajaran sekolah minggu & jika
kita akan menjadi berminat menjadi penginjil atau Gembala Tuhan, pelajaran
ini akan semakin diperdalam kembali.
Saya akhirnya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi luar biasa &
beberapa kejadian dikeesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup
saya menuju kebenaran sejati.Bermula dari suatu Kamis malam, malam Jum'at
tanggal 11 Januari 2001, saya bermimpi sedang berdoa di hadapan gambar
Tuhan Yesus disuatu Gereja yang sangat megah, lalu datanglah Tuhan Yesus
menemui saya, dengan senyum- Nya yang agung!, saya bahagia sekali, ini
adalah mukjizat bagi saya!. Sayapun lalu memandangi Tuhan Yesus dari ujung
kaki hingga ujung rambut, sungguh mirip sekali bahkan lebih agung dibanding
foto & gambar Tuhan Yesus yang saya miliki. Tetapi sesaat kemudian datang
menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip orang Yahudi
atau Israel, dia berkata: "Kalian ini siapa?" Saya menjawab: "Saya seorang
domba yang sedang bertemu Tuhannya!"
Dia bertanya lagi : "Mana Tuhannya?"
Tuhan Yesus menyela : "Akulah Tuhan Yesus, Juru Selamat Umat Manusia &
Dunia!, siapakah engkau wahai pria asing?"
Pria Yahudi itu berkata : "Akulah Isa Al-Masih, & engkau bukanlah diriku!"
Saya menyela : "Wahai engkau orang Yahudi ataukah Arab, janganlah kamu
berbuat begitu dihadapan Tuhanku!"
Pria Yahudi itu berkata : "Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu adalah Yesus
atau Isa Al-Masih sebenarnya!"
Tuhan Yesus berkata : "Engkau akan kujadikan domba hina karena telah
menghina Tuhanmu!"
Lalu Tuhan Yesus memejamkan mata & sungguh ajaib! dari tangannya keluar
mukjizat sinar api & dia menyemburkannya kepada pria Yahudi itu, pikir saya
pria Yahudi itu akan binasa karena berani menghina Tuhan Yesus!. Keajaiban
keduapun terjadi!, pria Yahudi yang mengaku sebagai Nabi Isa Al-Masih itu
tak kurang apapun & dia lalu tersenyum, kemudian api itu kembali menyembur
kepada Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan & wujudnya
tiba-tiba berubah!, kedua telinganya memanjang..dari mulutnya keluar gigi
taring..& dari belakang tubuhnya keluar ekor, wajahnyapun berubah
mengerikan!...lalu salahsatu tangannya mendadak memegang sebuah tombak
seperti garpu!...TUHAN YESUS YANG SAYA LIHAT DALAM MIMPI INI BERUBAH
MENJADI IBLIS..!!!.
Sementara pria Yahudi itu lalu berdoa dalam bahasa seperti bahasa orang
Israel, Tuhan Yesus yang telah berubah wujud menjadi Iblis itu lalu lari
terbirit-birit!...Kemudian ada kejadian ajaib lainnya terjadi, Gereja Megah
tempat saya berdoa tiba-tiba menghilang, lalu berganti dengan pemandangan
seperti disebuah padang pasir yang sangat tandus. Saya yang kaget & tak
percaya melihat kejadian ini lalu dengan terbata-bata saya bertanya pada
pria Yahudi ini: "Siapakah engkau sebenarnya?" Pria itu menjawab : "Akulah
Isa Al-Masih, hamba Allah, Rasul-Nya yang ke 24, yang oleh engkau beserta
umat-umat lainnya dinyatakan sebagai Tuhan Yesus". Saya berkata : "Bukankah
engkau telah mati dikayu salib & telah berkorban demi menebus dosa umat
manusia?" Nabi Isa Al-Masih menjawab: "Bukan seperti itu kejadiannya,
engkau telah diperdaya oleh Iblis & para pengikutnya yang telah berusaha
mencelakakanku tadi & sekarang dia telah terlihat wujud aslinya"..Saya
berkata : "Maksud tuan, Iblis tadi itu..., jadi selama ini?.."Nabi Isa
Al-Masih menukas : "Sudahlah, maukah engkau tahu kebenaran Ilahi sejati?"
Saya menjawab : "Jika itu ada saya bersedia.." Nabi Isa Al-Masih menjawab :
"Tetapi untuk menemukan kebenaran sejati itu engkau harus berkorban banyak,
engkau akan kehilangan pekerjaanmu, hidup miskin, kehilangan teman-temanmu,
serta dibenci banyak orang?" Saya menjawab : "..emmmmm" (tak bisa
berkata-kata) Nabi Isa Al-Masih berkata : "Ketahuilah akulah Nabi Isa
Al-Masih
Sebagaimana yang telah aku katakan tadi, suatu saat nanti aku akan turun
kembali ke muka bumi untuk meluruskan segalanya yang salah tentang aku.
Janganlah engkau termasuk dalam golongan yang keliru itu, jika engkau ingin
menemukan kebenaran sejati, engkau sebenarnya telah memiliki
catatan-catatan kebenaran itu, tapi engkau tak membacanya dengan pikiran &
hatimu. Otakmu telah beku karena telah disesatkan orang-orang yang diilhami
Iblis & para pengikutnya. Kalau engkau mau mencari kebenaran, engkau akan
menemukannya di suatu tempat, tepat esok hari dimana kamu ditempat itu
mendapatkan suatu kesulitan!" Lalu pria yang mengaku dirinya sebagai Nabi
Isa Al-Masih itu mengucap salamnya orang Islam..kemudian pergi...sayapun
lalu terbangun....hari telah pagi...saya merenung mimpi apa itu tadi?,
kesulitan apa yang akan saya alami hari ini? Hari telah tiba kembali,
rupanya ini hari Jum'at tanggal 12 Januari 2001, saya pikir itu cuma sebuah
mimpi saja, saya lalu ingat
Cerita takhayul orang Jawa, kalau Malam Jum'at pasti setan-setan itu
gentayangan, mungkin saya mengalami itu barangkali..Kemudian saya buka-buka
buku-buku Islam yang saya miliki, tiba-tiba saja saya merasa menemukan
banyak hal yang selama ini tidak pernah saya
baca....betapa pikiran saya telah dibukakan..tapi saya belum yakin betul...
AlfaOmega
June 23, 2003, 12:58
Ketika perjalanan menuju kantor saya di sekretariat Gereja, mendadak mobil
saya mogok tepat di depan sebuah Mesjid di kawasan Jl. HR Muhammad - Jl.
Mayjend Sungkono, Surabaya, sayapun kaget, kok bisa-bisanya mogok di depan
sebuah Mesjid yang saya benci? Jangan-jangan mimpi itu betul?!. Akh saya
pikir ini cuma kebetulan saja jangan percaya takhayul!, namanya mogok itu
bisa terjadi kapan saja pikir saya, belum hilang kaget saya, tiba-tiba ada
seorang pria menghardik saya & meminta dengan kasar dompet & HP saya!, saya
kaget, panik campur takut, lalu saya berlari ke arah...Mesjid & masuk Ke
sana, minta tolong sama orang-orang di situ..orang yang mau menodong
sayapun lalu berlari menghindari massa, rupanya waktu itu jam
11.30..mendekati jamnya shalat Jum'at, saya perhatikan sekitar
saya...orang-orang berpeci, bersarung hendak shalat Jum'at..saya ini ada
di mesjid...mimpi saya...pesan orang Yahudi yang mengaku sebagai Nabi Isa
Al-Masih dalam mimpi itu....saya bingung lalu saya tak sadarkan diri....
Ketika tersadar..saya berada disebuah ruangan Mesjid rupanya..& ada seorang
Bapak tua berpeci yang mengatakan saya tadi itu pingsan...saya lalu
berdiri..tiba-tiba hati ini ingin menangis..menjerit.."Ya Tuhan!..Engkau
telah menunjukkan jalan bagiku!"...Pak Tua itu kaget & bertanya: "ada apa
nak?", lalu saya ceritakan semua mimpi saya tadi malam & kejadian yang
saya alami, juga siapa saya & apa pekerjaan saya..serta perbuatan-perbuatan
saya dalam usaha memerangi & memperdaya agama Islam beserta umatnya. Bapak
Tua itu berkata: "Itu suatu petunjuk dari Tuhan bagimu, boleh percaya apa
tidak, saya bukanlah seorang ahli agama yang baik....sekarang kamu teruskan
perjalanan atau pulang" Sayapun lalu pulang..menelpon Gereja bahwa saya
hari ini tidak enak badan, jadi nggak masuk kerja, tapi 3 jam kemudian,
sekitar jam 16.00 sore saya kembali lagi ke Mesjid itu, lalu saya melihat
ada pengajian, pak tua berpeci itu memimpinnya, saya beranikan diri masuk &
berkata: "pak tolong yakinkan saya!..saya ingin mengetahui tentang agama
Islam sebenarnya!". Disaksikan para jamaah mesjid itu, kemudian kami
berdiskusi panjang lebar hingga malam hari, saya lalu pamitan pulang &
menyatakan pada pak tua bahwa diskusi ini belum selesai & akan kami sambung
esok pagi. Proses diskusi ini memakan waktu seminggu lamanya, setiap pagi
sebelum berangkat kerja sekitar jam 06.00 hingga jam 08.00 pagi saya mampir
ke Mesjid tersebut & kami berdiskusi Islam - Kristen. Akhirnya setelah
yakin dengan seyakin-yakinnya, setelah mendapat penjelasan panjang lebar
dari pak tua, dimana setiap penjelasan balik dari saya yang sangat Ilahiah
& Alkitabiah menurut saya, ternyata dinyatakan tidak berargumen & berdasar
oleh pak tua & Beberapa jemaatnya yang ikut hadir dalam diskusi pagi kami,
terutama setelah saya mengetahui bahwa pak tua ternyata fasih & hapal
beberapa bagian dari Alkitab, mengetahui sejarah Gereja & penulisan
Alkitab, yang beliau tunjukkan dengan dokumen-dokumen Kristen asli yang dia
miliki yang menurut beliau pernah diberikan beberapa penginjil sekitar 30
tahun yang lalu, yang ketika saya baca, saya terkejut karena pemaparan
dibuku-buku para missionaris 30 tahun lalu itu ternyata berbeda sekali
dengan dokumen yang ada di Gereja sekarang yang pernah saya pelajari. Saya
jadi ragu & bimbang, kenapa literatur agama yang dianggap sakral oleh umat
Kristiani ini bisa berubah setelah 30 tahun?, terlebih setelah pak tua
menunjukkan & memperbandingkan versi Alkitab cetakan tahun 1960-an dengan
versi Alkitab yang saya miliki (cetakan tahun 1990-an), yang mana
diterbitkan oleh lembaga yang sama, kok bisa memiliki perbedaan & revisi di
sana-sini tanpa penjelasan di edisi baru bahwa telah dilakukan revisi?,
yang mana revisi itu ternyata bukan sekedar perubahan EYD atau tata bahasa
saja, akan tetapi juga merubah makna & arti ayat Alkitab itu sendiri?.
Akhirnya saya yakin bahwa agama lama saya ini, Kristen memiliki banyak
kelemahan & merupakan suatu kesalahan sejarah, Islamlah agama penutup &
penggenap itu. Yang menggembirakan saya adalah agama Islam itu ternyata
juga menghargai & menghormati Tuhan Yesus sebagai Nabi Allah yang
dimuliakan, mengakui keberadaan agama-agama terdahulu & kitab-kitab
sucinya. Persamaan kisah & sejarah agama dalam Alkitab & Al-Qur'an, yang
lalu disempurnakan oleh wahyu Allah kepada Muhammad dalam Al-Qur'an, dimana
semua ajaran Kristen yang dinyatakan menyimpang itu dijelaskan dengan baik
dimana menyimpangnya & direposisi kembali ajaran wahyu Ilahi itu secara
benar dalam Islam. Penjelasan Pak Tua & jemaatnya ini tentu tidak saya
percaya begitu saja, saya juga mencoba mengajak berdiskusi teman-teman
sesama Gembala
selama masa diskusi ini, tetapi jawaban rekan Gembala lain sungguh sangat
menyakitkan &
ketus sekali, bahkan ada yang bilang saya ini kena guna-guna dari bekas
Guru Ngaji saya berikut pembantu rumah dinas saya, juga pengaruh kekuatan
sihir yang tersembunyi dalam buku-buku Islam yang saya miliki. Beberapa
rekan dari Gereja Pantekosta bahkan menawarkan jasa untuk melakukan upacara
pengusiran roh Jahat Islam di rumah saya & akan mengurapi serta mensucikan
buku-buku Islam yang saya miliki agar kekuatan sihirnya hilang..!..Sikap
rekan-rekan Gembala ini terasa kontras & tidak sepadan dengan sikap Pak Tua
& jemaatnya di mesjid yang sederhana itu. Saya merasa bersalah karena telah
ikut dibesarkan & dibina oleh lingkungan agama yang sesat..saya harus
segera mengambil keputusan..setelah melalui berbagai pertimbangan yang
matang, menimbang segala resikonya... Akhirnya sudah mantap & sudah bulat
tekad saya, saya akan masuk Islam...
Di hari Minggu tgl. 21 Januari 2001, jam 10.00 pagi, saya berikrar DUA
KALIMAT SYAHADAT: ASYHADU ALLA ILAHA ILALLAH WA ASYHADU ALLA
MUHAMMADARRASULULLAH SAYA BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH
DAN SAYA BERSAKSI PULA BAHWA MUHAMMAD ITU UTUSAN ALLAH.
Saya telah menjadi Islam, saya mengganti nama menjadi Rachmat Hidayat, saya
tidak memakai nama keluarga Tengker lagi, karena ketika mengabarkan kepada
keluarga saya di Manado bahwa saya masuk Islam, mereka murka sekali, papa
menyatakan tidak akan mengakui saya sebagai anaknya, Oma bahkan mengutuk
saya melarat bersama para pendosa Islam & menyatakan bahwa saya telah
disihir orang Islam. Lalu saya juga memperoleh surat dari keluarga yang
diberikan oleh mantan pembantu saya di rumah dinas, bahwa keluarga saya
sekarang tidak mengakui saya lagi & menyatakan mencabut hak waris
dalammarga saya & saya tidak diperkenankan menyandang nama keluarga Tengker
lagi. Bahkan dalam surat itu papa menyatakan jikalau saya akhirnya dianiaya
atau dibunuh oleh pihak Gereja, mereka gembira karena itu merupakan sarana
penebus dosa saya kepada Tuhan Yesus.. Naudzubillah.!!!..Ya Allah..!!!
maafkan keluarga saya ini.mereka berkata begini karena mereka tidak
mengerti hakekat Ketuhananmu yang sesungguhnya...
Sekarang saya ikut bimbingan Islam dirumah pak tua berpeci yang kemudian
diketahui merupakan Ustad & Imam Mesjid itu. Maaf demi keamanan kami, nama
Ustad, alamat Mesjid, serta tempat kost saya rahasiakan..mohon maklum.Sejak
saya pindah dari rumah mewah berfasilitas lengkap plus mobil dll di kawasan
elit Darmo Satelit - Surabaya, yang merupakan fasilitas buat saya dari
Gereja, telah saya kembalikan ke Gereja, saya sekarang kost di sebelah
rumah pak tua itu sambil belajar agama Islam. Saya juga bekerja membantu
usaha kecil-kecilan milik keluarga pak tua ini, yaitu mencetak surat
undangan, kop surat & setting komputer. Insya Allah kalau ada modal
(sekarang saya berencana bersama salah seorang anak pak tua ini untuk
mengajukan kredit usaha kecil di BRI - Surabaya), mau buka usaha
percetakan yang lebih permanen. Sekarang saya sambil kerja belajar &
memperdalam agama Islam. Kalau pagi sampai sore saya ada di studio kecil
tempat saya bekerja, malamnya belajar ilmu agama & silat tradisional. Kata
pengajarnya saya perlu belajar ilmu bela diri karena tak mungkin para
pemuda kampung selalu mengawal saya. Saya mendengar dari bekas teman akrab
di Gereja & yayasan (namanya saya rahasiakan juga demi keselamatan diri
mereka), sangat solider dengan merahasiakan keberadaan saya, (walau pihak
Gereja terus-menerus mendesaknya), mereka bercerita tentang usaha Gereja
untuk melaporkan ke polisi bahkan memeja hijaukan saya, dengan tuduhan:
"Kasus Pencurian Mobil!", padahal semua orang di Gereja tahu & banyak
saksinya termasuk warga
kampung tempat saya kost yang mengantar saya ketemu dengan pihak Gereja
waktu serah terima itu, semua inventaris Gereja termasuk mobil sudah saya
kembalikan & ada tanda terimanya. Demikian juga urusan keuangan & kas
Gereja, semua sudah clear & pihak Gerejapun sudah tahu, tetapi entah
mengapa mereka berusaha menfitnah saya seperti ini?!. Tetapi saya tekadkan,
bila betul pihak Gereja akan melaporkan saya ke polisi, akan saya buka
semua fakta & data yang saya miliki & mungkin pihak Gereja akan saya tuntut
balik dengan tuduhan pencemaran nama baik, penghinaan & percobaan
penganiayaan.
AlfaOmega
June 23, 2003, 12:59
Supaya mereka memberikan sedikit pengertian kepada para pengurus Gereja
untuk mengikhlaskan diri saya yang masuk Islam. Janganlah mencari-cari
saya, karena segala urusan yang menyangkut asset Gereja yang pernah saya
pegang sudah diselesaikan dengan baik. Juga agar tak timbul konflik dengan
warga kampung atau umat Islam yang mengetahui kisah ini, saya takut ada
pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengacau. Sebab masalah
menyangkut agama itu sangat sensitif & riskan sekali.
Sekian penuturan saya, saya bahagia dalam keislaman saya, walau hidup
pas-pasan saya sangat mensyukurinya karena tidak ada kepalsuan dalam
keimanan Islam saya. Alhamdulillah Allah itu Maha Pengasih & Maha
Penyayang, Allah telah memberi rejeki kepada saya & keluarga pak tua, order
mulai banyak walau nilai penghasilannya mungkin cuma 10% dari nilai
pendapatan saya dulu di gereja. Tetapi saya sangat mensyukurinya.
Dikisahkan kembali oleh Rachmat Hidayat atau Paulus F. Tengker (nama
Kristennya)
Kisah ini dinyatakan oleh yang bersangkutan kepada M. Donny Setiawan,
ketika kami sedang berdiskusi & membahas kisah kesaksian 4 mantan Gembala
yang pernah diposting dikebenaran.net & yesus.net. Atas permintaan yang
bersangkutan dengan alasan keamanan dirinya & orang-orang yang dekat
dengannya, maka nama Mesjid, alamat Mesjid, nama persisnya Gereja tempat
beliau dulu bekerja, tempat kost sdr. Rachmat Hidayat (Paulus F. Tengker)
kami rahasiakan, mohon dimengerti & dimaklumi.
AlfaOmega
June 25, 2003, 09:44
SEPOTONG ROTI PENEBUS DOSA
Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang
wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya, "Wahai anakku, ingatlah
kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti."
Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun
beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang
tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali
pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia
digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan
bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang
dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, maka ia lalu
bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia
melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan
solat dan bersujud.
Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di
dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu
juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih
dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur
bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya di samping
kedai tersebut hidup seorang pendeta yang pada setiap malamnya selalu
mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di
pondok itu hinggasetiap orang mendapat sepotong roti.
Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti
kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut. Lelaki yang
sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, karena orang
menyangkanya sebagai orang miskin. Rupa-rupanya salah seorang di antara
orang-orang miskin itu ada yang tidak mendapat bagian roti tersebut,
sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata, "Mengapa kamu
tidak memberikan roti itu kepadaku." Orang yang membagikan roti itu
menjawab, "Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah
habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu potong roti."
Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki
yang sedang bertaubat itu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan
memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Keesokan
harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.
Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh
orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa
yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan
tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu
dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan
tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang
dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang
sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat
mengalahkan perbuatan dosanya yang telah dilakukannya selama tujuh malam.
Kepada anaknya Abu Musa berkata, "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang
yang memiliki sepotong roti!"
bon8nk
June 26, 2003, 05:53
CARA MEMBACA BUKU
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin
mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering
menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah
didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik,
dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri.
nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil
memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam
diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.
"Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil
karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
bon8nk
June 26, 2003, 05:55
PERUSUH RAKYAT
Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa
di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana.
Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
"Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nasrudin dikenali
sebagai mullah karena pakaiannya]
"Mengapa ?" tanya Nasrudin.
"Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang
berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"
"Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"
"Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak
ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"
"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di
dalam sana ?" kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.
bon8nk
June 26, 2003, 06:00
API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia
berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian
tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget,
menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
:haha
AlfaOmega
June 26, 2003, 08:43
Originally posted by bon8nk
API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia
berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian
tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget,
menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
:haha
:kakaka:
cara bagus untuk membangunkan jama'ah yang mendengarkan khutbah.
surya
June 27, 2003, 03:09
Originally posted by bon8nk
API !
Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia
berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian
tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget,
menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
:haha
:kakaka: Buahahahaha...wakakaka.. :kakaka: ;D
AlfaOmega
June 27, 2003, 15:56
ABDULLAH BIN ABBAS
Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna
Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang
ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka
dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada
para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya.
Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain,
bicara dan menasehati mereka.
AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini.
Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah
menunjukkan kecerdasan dan ke sungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah
mengetahui poten si besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau
melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan
sahabat-sahabat cilik lainnya.
RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL lah bin Abbas.
Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan
seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini:
"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna?
Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda patkanNya selalu
menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laran ganNya), maka engkau akan
mendapatkanNya selalu dekat di hadapan mu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka
ALlah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada
ALlah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua hal
(yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua
makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan ALlah
untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi
untuk mengha langi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka
juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan lah dengan
keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan
memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran;
dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu
tiba setelah kesulitan.
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]
Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil
tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang
penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan ALlah dan Rasul-Nya.
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara
RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul
mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun
tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk
berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah
berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele kan hal ini,
beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya ALlah,
faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."
Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri
beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang
RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit
berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi
kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper
tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak
pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan ALlah SWT. RasuluLlah
ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu
tadi.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau sangat merasa
kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya berse dih atau lemah. Dengan
segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada
sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan
ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat
masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan
informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau
sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh
rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat
senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.
Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang
diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau
menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau
sahabat tadi kebet ulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti
di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakai annya.
Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas terti dur di muka
rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja
yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas,
"sayalah yang harus datang menemui anda."
Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Beliau
katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu
bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu
Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu
berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat.
Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu
berada dalam kalangan sahabat senior.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga bung dengan pasukan
muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan AbduLlah bin
Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di
masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk
menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang
intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran
Islam yang benar.
AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun
68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga
ALlah SWT berkenan memberikan pengganti AbduLlah bin Abbas."
AlfaOmega
July 01, 2003, 09:07
Delapan Dirham
>
>Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. baju
>satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang. baju yang setia menutup aurat
>beliau. meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara.
>Baju yang tidak pernah beristirahat.
>Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus
>membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah
>sebenarnya dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini.
>Tapi sayang, beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau,
>Allah dalam sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas
>yang berharga. Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para
>fakir yang papa. siapakah yang akan menjadi teladan jika bukan beliau..?
>Contoh untuk menahan derita, menahan lapar dan dahaga, menahan segala coba
>dan uji Allah dengan kesabaran. Selalu mensyukuri nikmat Allah berapa pun
>besarnya. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menyertai umatnya dalam
>menjalani iradat yang telah ditentukan Allah. Yaitu kehidupan dalam jurang
>kedukaan dan kemiskinan. Siapa pula yang harus menghibur mereka agar selalu
>bersabar dan rela dengan yang ada selain beliau? Juga siapa pula yang harus
>menanamkan keyakinan akan pahala Allah kelak di akhirat jika bukan beliau?
>Yah,...hanya beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas.
>benar,...baliaulah satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah
>untuk semua umat manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan
>berlian serta butiran emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih
>indah dari segala keindahan yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah
>dari segala kedudukan dan derajad kehidupan manusia yang katanya sudah
>megah.
>"Semua itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah yang
>paling baik dan sebaik-baik tempat kembali"
>Perjuangan itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan yang
>hak hanya dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam
>menghadapi setiap malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan
>hati bersih. dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka,
>bersyukur dan keimanan harus selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang
>dibawa Rasulullah saw.
>Allah Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan.
>Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau
>melangkah ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan
>apa. Apakah cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan?
>Oleh sebab itu, bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad
>saw telah memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba
>kesayangan Allah pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita
>miliki. Tetapi nabi kita ini, hamba Allah yang di bumi bernama Ahmad, sedang
>dari langit bernama Muhammad dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang
>delapan dirham untuk berbelanja. Manusia penuh nur dan inayah Allah yang
>dilahirkan di makkah. meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup.
>beliau belum ingin mati meski kemiskinan menjerat setiap hari.
> Di tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang
>menangis. Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan
>uangnya sebanyak dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan
>wanita itu.
>Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong
>pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu
>menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata.
>Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya.
> Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham. beliau segera pulang. Di
>perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut
>dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang
>pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru
>dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk membeli baju lagi seharga dua dirham.
>Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham.
>dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.
>Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga
>angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin
>kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi
>wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah.
>Rasulullah saw mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan
>untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi
>majikannya jika pulang nanti. Rasulullah saw langsung menyatakan akan
>mengantarkannya.
>Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah saw dari belakang. Hatinya
>tenang karena Rasulullah saw pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin
>majikannya akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia
>paling mulia di dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang
>membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka
>terus berjalan hingga sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat
>itu yang ada hanyalah para isteri mereka.
>"Assalamu'alaikum warahmatullah", sapa Rasulullah saw keras. Mereka semuanya
>diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi
>kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah saw
>sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya
>lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah saw memberi salam lagi. Tetap
>tak terdengar jawaban. Rasulullah saw mengulang untuk yang ketiga kali
>dengan suara lantang, Assalamu'alaikum warahmatullah. Serentak mereka
>menjawab.
>Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa
>sebabnya. Mereka mengatakan, " Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar
>sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak".
>Rasulullah melanjutkan, "Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani
>pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan
>menerimanya". Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu
>murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka. Beliau
>menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang
>budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat
>pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka
>berkata, "Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari
>bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata". Budak itu tak
>terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan
>kebebasannya karena dari Rasulullah saw.
>Rasulullah saw pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan
>dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan
>para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta
>dan turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau
>sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia
>Allah swt semata. Akhirnya beliau berujar dengan, "Belum pernah kutemui
>berkah angka delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu
>mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta
>memerdekakan seorang budak". Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian
>pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih
>melekat.
>Oleh :
>Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
abdullah
July 02, 2003, 21:37
salam kenal buat semuanya... Assalamu'alaikum.
coba deh iseng2 search di yahoo dan google dg keyword "church for sale" dan "mosque for sale". silahkan bandingkan hasilnya.
Subhanallah... kira2 apa sih yg bisa kita pelajari(hikmah) dari hasil iseng2 meng-compare dua keyword itu?
Wassalam.
Originally posted by alfaromeo
Inilah sebuah kisah kesaksian dari seorang Mantan Gembala Gereja &
Penginjil bernama Paulus F. Tengker yang bernama Islam Rachmat Hidayat,
yang oleh saya M. Donny Setiawan dikutip & dituliskan kembali, silahkan
baca dengan penuh ketulusan atas pengakuan jujur kisah Mantan Gembala
Gereja & penginjil ini, yang telah bertobat & menemukan kebenaran Ilahi
sesungguhnya.
Inilah Kisah Nyatanya:
Tadinya saya ragu untuk menuliskan kisah ini, karena saya takut terjebak
dalam rasa & sifat riya..Tetapi setelah membaca posting Kisah Kesaksian 4
Orang Gembala yang kembali ke agamanya masing-masing yang diposting di
Yesus.net & Kebenaran.net, ini merupakan sebuah pengungkapan secara jujur &
berani atas praktek rohani Gereja yang sebenarnya rahasia & tidak
diketahui oleh banyak pihak termasuk umat Kristiani sendiri. Karena saya
melihat ada upaya penyangkalan kebenaran oleh kalangan-kalangan tertentu
umat Kristiani
di forum diskusi agama tersebut. Demi tegaknya kebenaran & agar semakin
banyak domba-domba maupun gembala-gembala Kristus yang bisa menemukan jalan
kebenaran Ilahi sesungguhnya, maka saya beranikan diri menulis & menuturkan
kisah sejati ini. Saya berharap para domba & gembala Kristus yang membaca
kisah ini memahami & menghayati pengalaman rohani saya ini, agar bisa
menemukan kebenaran Ilahi yang sejati, Jalan Tuhan yang benar & tidak
sesat.
Oleh karena itu demi penghargaan kepada umat Kristiani & umat Islam, saya
tidak mengutip satu ayatpun dari Alkitab & Al-Qur'an. Kesaksian ini
betul-betul ungkapan hati & jiwa saya.
Saya seorang pria, dilahirkan di Manado 27 tahun yang lalu, nama saya
Paulus F. Tengker, saya dilahirkan dalam tradisi keluarga penganut Kristen
yang fanatik. Ayah saya seorang Pendeta Gereja Pantekosta, kakak wanita
saya tertua menikah dengan seorang penginjil Nehemia terkenal. Saya dididik
untuk menjadi taat dalam beragama & direncanakan papa untuk menjadi penerus
tradisi keluarga, menjadi Gembala Tuhan. Itulah sebabnya setamat SMA saya
melanjutkan kuliah ke sebuah Sekolah Misi Alkitab yang berlokasi di kawasan
Jl. Arjuno - Surabaya. Kota Surabaya dipilih karena selain lebih dekat ke
Manado, juga merupakan salahsatu kota dengan umat Kristiani yang terkemuka,
banyak Gereja megah berdiri ditengah kota & pekabaran gembira Cinta Kasih
Tuhan Yesus mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat Jawa Timur
yang mayoritas beragama Islam fanatik. Selama kuliah saya juga bekerja
part-time sebagai pelayan Tuhan di Gereja Nehemia & Gereja Pantekosta di
Indonesia Timur cabang Surabaya. Saya bekerja sebagai penyusun kisah
kesaksian dari hamba-hamba Islam yang bertobat masuk Kristen. Karena
kebanyakan
orang-orang itu adalah orang dari desa, atau orang yang awam, beberapa
diantaranya bahkan sepertinya sakit jiwa, atau para pemakai Narkoba yang
masih kecanduan berat, maka saya harus menuliskan kisah kesaksian yang
hebat untuk mereka.
Saya biasa menulis cerita dengan tajuk: "Hamba Tuhan yang kembali, mantan
seorang Kyai masuk Kristen, Mantan Dosen IAIN masuk Kristen" dsb.
Kisah-kisah kesaksian palsu karangan saya itu sangat sempurna sekali,
bahkan hampir tak bercela, saya ahli mengutip Al-Qur'an & Hadist, saya juga
tahu urutan pendidikan Islam dari mulai sekolah Islam, pondok Pesantren
hingga IAIN. Saya juga sering ditugaskan untuk membuatkan dokumen asli tapi
palsu, ijazah palsu & foto-foto palsu, untuk memberi kesan bahwa mereka itu
dulunya benar-benar bekas tokoh Islam walaupun sebenarnya bukan!. Bahkan
saya juga mengajari mereka membaca Al-Qur'an yang akan dipakai untuk
menohok orang-orang Islam yang sedang kami injili & berusaha membantah
kami. Beberapa kisah kesaksian yang sudah dibukukan, beberapa diantaranya
merupakan hasil karangan saya. Memang betul orang Islam yang murtad itu
ada, tetapi mereka tidaklah sehebat kisah kesaksiannya, jika disebut mantan
Ulama atau Mahasiswa IAIN, atau Guru Ngaji yang sekolah di Mesir, maka yang
sebenarnya mereka itu adalah para pengemis, gelandangan, bekas pecandu
Narkoba, wanita nakal & para preman tak beragama, orang desa yang berKTP
Islam tapi berbudaya animisme didesa-desa pesisir selatan Jawa (misalnya
Sukabumi & Blitar). Bahkan saya sering berjumpa orang-orang Islam yang
dibaptis itu ternyata seumur-hidupnya hampir tak pernah shalat & mengetahui
ajaran Islam yang paling dasar.tapi kami harus melaporkan keberhasilan ini
dengan cara yang gemilang kepada para jemaat yang telah berderma.maka kami
rekayasa kisah kesaksian orang-orang lugu ini menjadi hebat & canggih.Tentu
para domba di Gereja akan senang kalau mendengar mantan Ulama masuk
Kristen, walaupun yang bersangkutan sebenarnya Cuma bekas gelandangan buta
huruf misalnya. Saya jalani terus pekerjaan ini hingga tamat kuliah &
akhirnya saya dinobatkan sebagai pendeta muda. Karena keahlian saya ini
terhitung langka, maka tugas ini tetap dipertahankan. Saya juga rajin
membeli tafsir Al-Qur'an, Hadist & buku-buku Islam untuk mencari kelemahan-
kelemahannya, Gereja mendanai setiap apapun yang berhubungan dengan kerjaan
saya.
Saya menemukan bahwa sikap saling berbeda pendapat namun saling menghargai
sebagai kelemahan Islam yang paling utama dalam pandangan Kristen. Bahkan
saya juga pernah berpura-pura belajar mengaji & mengaku sebagai Islam
dengan mengundang seorang Guru Ngaji ke rumah dinas saya, saya belajar
ngaji hingga 1 tahun lebih & Ustad itu tak pernah menyadari sampai saya
tamat belajar, bahwa saya sebenarnya seorang Kristen. Berkat pengajaran dia
itu saya bahkan bisa mengaji & hal ini ternyata berguna sekali untuk saya
sekarang ini, ketika kali ini saya dengan sesungguhnya belajar agama Islam.
Sayapun secara part time terkadang ikut misi penginjilan malam yang
Bertajuk Tuhan Berkabar di Malam Hari. Kami mendatangi tempat-tempat
keremangan malam di seantero kota Surabaya, kami wartakan injil kepada para
pekerja seks, ABG, wanita nakal & kaum gay. Yang kami target untuk
dikristenkan biasanya adalah para pekerja seks independent, para pengunjung
diskotek & kafe yang menyambi, baik itu gadis belia maupun para lelaki muda
penjaja seks untuk kaum gay. Setiap orang yang terpilih biasanya hasil
seleksi & pengamatan yang teliti, tidak sembarangan orang kami target,
biasanya kami telah mengawasi mereka selama kurang lebih 1 hingga 3 bulan.
Para penginjil yang aktif disini tidak aktif dalam kegiatan Gereja apalagi
memimpin kebaktian dan lain acara rohani. Sebab kami tak mau citra Gereja
rusak di mata umat yang kebetulan bertemu dengan para penginjil di tempat
keremangan malam tersebut. Juga para penginjil itu tidak mengunakan seragam
resmi, mereka berdandan seperti umumnya pengunjung diskotik & kafe.
Selain itu juga para penginjil Gembala Tuhan di Malam Hari juga aktif
dalam jaringan pengedaran narkoba, sebab inilah cara termudah menjerumuskan
seorang umat beragama lain dalam kesesatan hidup lalu setelah mereka
tersesat & butuh pertolongan kamilah yang akan merangkul mereka. Apabila
tidak terangkulpun, kami sudah berhasil merusak sebagian dari generasi muda
Islam yang sering ke diskotik atau kafe. Mungkin para pembaca posting
Ini sudah membaca artikel panjang tentang Jaringan Narkoba di Jakarta di
harian Kompas edisi hari Minggu tgl. 11 Maret 2001, disana diceritakan
dengan gamblang betapa penyebaran & mafia narkoba sudah menyebar sangat
pesat di Jakarta & sulit diberantas. Betapa aparat kepolisian, TNI,
pengelola tempat hiburan malam, para pengunjung & mafianya bekerja sama
begitu rapi. Tapi ada yang kurang dari cerita itu & ini sangat sulit mereka
telusuri, yaitu keterlibatan Gereja dalam jaringan & sindikat narkoba!
Berbeda dengan para mafia & Bandar yang ingin mengeruk keuntungan materi,
Gereja terlibat
Semata untuk menjaring domba Kristus baru & menyesatkan generasi muda
Islam!
ck..ck..ck.. ni warung isinya ginian ... huehuehue
mantaf dah ::up::
AlfaOmega
July 04, 2003, 09:21
Sumber: Eramuslim
Hal Bhakti kepada kedua ortu... adalah favorit guwe. Maksud gw, itu gw jadikan bekal utama dalam amal ibadah gw. Kata lugunya: Ujung tombak gw untuk menggapai surga :hehe
Isteri Disayang, Jangan Ibu Dibuang
Publikasi 01/07/2003 13:22 WIB
eramuslim - Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. ”Aku berbai’at kepada engkau untuk hijrah dan jihad, yang karenanya aku hendak mencari pahala dari Allah.”
Beliau bertanya; “Adakah salah seorang di antara kedua orangtuamu yang masih hidup?”
Dia menjawab; “Ya, bahkan kedua-duanya masih hidup!”
Rasulullah saw bersabda; “Benarkah engkau hendak mencari pahala dari Allah?”
Dia menjawab; “Ya!”
Beliau bersabda; “Kalau begitu, pulanglah kepada kedua orangtuamu dan hendaklah engkau mempergauli keduanya dengan baik.” (diriwayatkan Muslim).
Riwayat singkat di atas memaparkan kisah seorang lelaki yang dengan antusias menyatakan keinginannya kepada Rasulullah saw untuk berjihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Tapi di luar dugaan Rasul mulia menawarkan opsi jihad lain yang lebih utama pada lelaki tersebut, yakni mempergauli dan menjaga kedua orangtuanya dengan baik.
Ini tentunya jangan kita asumsikan soal pilihan yang lebih utama di antara 2 kebaikan, berjihad di jalan Allah atau menjaga kedua orangtua. Seakan kisah itu mengesankan jihad di jalan Allah lebih kecil bobotnya dibanding dengan menjaga orangtua. Namun sesungguhnya Rasul mulia mengajarkan pada kita, betapa keduanya memiliki nilai jihad yang sama bobotnya. Betapa menjaga orangtua sama urgennya dengan jihad fi sabilillah. Hanya saja, untuk si lelaki tersebut, Rasul mulia memerintahkannya agar ia lebih mendahulukan menjaga orangtuanya ketimbang berjihad (berperang) di jalan Allah. Ini masalah skala prioritas, yang Rasulullah tetapkan pada lelaki tersebut dalam situasi kondisi tertentu.
Lepas dari pembahasan itu, inti pesan Rasulullah saw dalam riwayat di atas adalah, jangan sekali-kali kita menomorduakan, apalagi menomortigakan kepentingan orangtua dari masalah lainnya. Ini artinya jangan sampai kecintaan kita pada sesuatu, membuat kita lalai dalam berbakti pada ayah-ibu kita. Termasuk dalam hal ini tentunya, janganlah kecintaan kita pada isteri kita misalnya, membuat kita tidak peduli dengan keadaan orangtua. Kita begitu care (peduli) dalam memenuhi keinginan-keinginan isteri, sementara ibu kita tak kita perhatikan keadaannya. Tidak peduli dengan perasaan ibu kita yang merasa sakit hati lantaran kita (putranya) lebih menumpahkan perhatian dan rasa cinta kita hanya untuk isteri kita. Na’udzubillah min dzalik.
Mencintai isteri bukan sesuatu yang terlarang. Hanya saja rasa cinta kita pada isteri, tidak harus memupuskan perhatian dan rasa cinta kita pada orang yang telah melahirkan, merawat, dan menjaga kita hingga kita dewasa. Betapapun kepentingan ibu, tetap harus kita tempatkan dalam urutan pertama tatkala kita dihadapkan pada dua pilihan: Antara mendahulukan kepentingan isteri, dan kepentingan ibu. Kalaulah Rasul mulia memerintahkan kita untuk mendahulukan menjaga orangtua dibanding perang di jalan Allah, apatah lagi ketimbang keinginan isteri.
Alangkah naif tentunya, bila lantaran paras isteri kita yang cantik misalnya, menimbulkan cinta berlebihan dan cenderung rasa takut kita pada isteri. Sehingga kita --sadar atau tidak-- akhirnya rela disetir (didominasi) oleh isteri. Bisa kita bayangkan bila ini terjadi pada diri kita, pasti akan rawan timbulnya konflik antara isteri dan ibu kita. Bila kondisi demikian berlangsung, biasanya orang cenderung akan lebih berpihak pada isteri ketimbang berpihak pada ibunya.
Orangtua, khususnya ibu (kaum wanita), begitu sangat dimuliakan oleh Islam. Bukan hanya ia diabadikan sebagai salah satu nama surat di dalam Al Qur’an (An-Nissa), tapi di banyak haditsnya Rasululllah saw selalu memerintahkan kita untuk memuliakan mereka. Sebuah hadits menyebutkan, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.”
Dalam riwayat masyhur lainnya disebutkan pertanyaan seorang sahabat kepada Nabi saw tentang orang yang paling layak dipergauli secara baik. Maka beliau saw menjawab tiga kali berturut-turut, pertama “ibu”, kedua “ibu”, ketiga “ibu”, dan baru keempat “ayah”. Ini menunjukkan tingkatan mendahulukan isteri berada di urutan ke-5, setelah mendahulukan kepentingan ibu (3 x) dan ayah (1 x).
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata; “Ada seorang lelaki menemui Rasulullah saw seraya berkata; ”Aku ingin sekali ikut berjihad, namun aku tidak mampu.”
Beliau bertanya; “Adakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?”
Dia menjawab; “Ibuku!”
Beliau saw bersabda; “Menghadaplah kepada Allah dengan cara berbuat baik kepada ibumu. Jika engkau melakukannya, engkau sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah, serta berjihad.” (diriwayatkan Abu Ya’la dan Ath-Thabrany).
Betapa penting dan utamanya kedudukan ibu sebagai kunci untuk menggapai ridho Allah ‘Azza wa Jalla, tentu harus diketahui oleh pasangan suami-istri (pasutri). Suami yang baik seyogyanya mengajarkan dan mendidik isterinya untuk memahami perihal ini. Agar sikap pasutri mendahulukan kepentingan orangtua masing-masing, tidak menimbulkan salah pengertian dari pasangannya. Selain tentunya, visi dan sikap pasutri yang sejalan dalam memperlakukan orangtua masing-masing, menjadi amat penting dan krusial dalam merajut kehidupan keluarga yang harmonis (sakinah).
Sungguh tak ada gunanya rumah mewah, isteri cantik, dan harta melimpah, bila hubungan kita dengan ibu kandung kita hambar. Apalagi bila ibu kita tidak ridho terhadap kehidupan rumah tangga kita, lantaran kita terlalu didominasi oleh isteri misalnya. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi pada kehidupan rumah tangga kita. Sebab ridho ibu adalah ridho Allah SWT. Sebaliknya murkanya ibu, adalah murkanya Allah ‘Azza wa Jalla.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda;
”Keridhoan Robb Ta’ala berada dalam keridhoan kedua orangtua. Kemurkaan Allah Tabaraka wa Ta’ala ada dalam kemurkaan kedua orangtua. (diriwayatkan Al-Bazzar) .
Ayo, benahi rumah tangga kita, perbaikilah silaturahim kita dengan orangtua kita, agar rumah tangga kita berkah dan diridhoi Allah SWT. (sulthoni)
AlfaOmega
July 08, 2003, 16:17
Dan Umar pun Menangis.....
Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin
Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan
konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan
dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun
menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir
ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat
Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa
yang menakjubkan.
Mengapa "singa padang pasir" ini sampai menangis?
Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang
berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di
atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan
salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.
Rasul yang mulia bertanya, "mengapa engkau menangis ya Umar?" Umar menjawab,
"bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh
engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang
aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas
dan berbantalkan sutera".
Nabi berkata, "mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah
kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan
kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia
seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di
bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya."
Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini
hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak,
untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
AlfaOmega
July 11, 2003, 09:44
Ini nich beberapa kisah masuknya seseorang ke dalam Islam.
Silakan buka link (http://www.kusza.edu.my/~hakim/Islam/cerita/cerita1.html) ini.
http://www.kusza.edu.my/~hakim/Islam/cerita/cerita1.html
AlfaOmega
July 11, 2003, 11:32
Khalid Bin Walid
"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.
Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.
Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.
Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.
Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.
Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.
Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.
Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.
Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.
Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya.
oleole
July 14, 2003, 11:21
ck..ck..ck.. ni warung isinya ginian ... huehuehue
mantaf dah
mantaf dalam pengertian faktanya bohong atau bener?
AlfaOmega
July 14, 2003, 11:46
Originally posted by oleole
mantaf dalam pengertian faktanya bohong atau bener?
Silakan lu cek + re-cek dech.
Ke anaknya jendral ato laksamana.
:bravo:
Yang bikin guwe cemburu itu, ada pendeta yang
1. ketemu nabi isa
2. ketemu nabi muhammad
3. ngelihat jembatan shirothol mustaqim
Padahal, gw yang muslim saja, nggak pernah bermimpi ketemu nabi. :argg
AlfaOmega
July 14, 2003, 14:02
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya ( Teka-Teki ) :
Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?"
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 " Guru
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan
kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti
akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan"
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah
MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak
akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga
hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang
sesuai dengan ajaran Agama".
Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah
HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan
nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."
Imam Ghazali = " Apa yang paling berat didunia
Murid 1 = " Baja"
Murid 2 = " Besi"
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali" Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG
AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan
malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."
Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan
sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita
atau urusan dunia, kita tinggalkan solat "
Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali didunia ini"
Murid- Murid dengan serentak menjawab = "Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini
adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan
mudahnyamenyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "
Originally posted by alfaromeo
Silakan lu cek + re-cek dech.
Ke anaknya jendral ato laksamana.
:bravo:
Yang bikin guwe cemburu itu, ada pendeta yang
1. ketemu nabi isa
2. ketemu nabi muhammad
3. ngelihat jembatan shirothol mustaqim
Padahal, gw yang muslim saja, nggak pernah bermimpi ketemu nabi. :argg
so ? mereka "hanya" manusia ..huheue kalo mereka berbohong itu urusan pribadi mereka dgn Tuhan ... why bother ??
i am only concern 'bout my relationship with God ... :D
oleole
July 16, 2003, 09:13
quote:
Originally posted by alfaromeo
Silakan lu cek + re-cek dech.
Ke anaknya jendral ato laksamana.
Yang bikin guwe cemburu itu, ada pendeta yang
1. ketemu nabi isa
2. ketemu nabi muhammad
3. ngelihat jembatan shirothol mustaqim
Padahal, gw yang muslim saja, nggak pernah bermimpi ketemu nabi.
so ? mereka "hanya" manusia ..huheue kalo mereka berbohong itu urusan pribadi mereka dgn Tuhan ... why bother ??
i am only concern 'bout my relationship with God ...
gwe udah baca Times, 22 Juni 2003, isinya lebih riil dan konkrit dan menegaskan apa yang sudah dilakukan para pekerja atas nama agama tertentu, dengan segala tipu daya yang mungkin memang dibolehkan agama mereka, untuk memurtadkan penganut Islam yang dengan segala kekurangan, kebodohan, kemiskinan bisa ditipu daya.
tapi seperti pernah gwe baca, menjadi Islam merupakan rahmat dan Allah memberikannya untuk orang yang dikasihi seperti Cat Stevens, yang selalu mendendangkan pencarian kebenaran sejati, the Truth, "morning has broken.........."
AlfaOmega
July 16, 2003, 09:23
Originally posted by oleole
gwe udah baca Times, 22 Juni 2003, isinya lebih riil dan konkrit dan menegaskan apa yang sudah dilakukan para pekerja atas nama agama tertentu, dengan segala tipu daya yang mungkin memang dibolehkan agama mereka, untuk memurtadkan penganut Islam yang dengan segala kekurangan, kebodohan, kemiskinan bisa ditipu daya.
tapi seperti pernah gwe baca, menjadi Islam merupakan rahmat dan Allah memberikannya untuk orang yang dikasihi seperti Cat Stevens, yang selalu mendendangkan pencarian kebenaran sejati, the Truth, "morning has broken.........."
:bravo:
guwe setuju dgn lu.
Tidak sedikit orang muslim yang convert menjadi non muslim. dengan berbagai cara telah dilakukan oleh mereka untuk cari pengikut.
Sedangkan orang non muslim yg masuk islam. Nggak ada yang mengajak mereka, kecuali kesadaran mereka sendiri. entah melalui mimpi, pemikiran, dll.
AlfaOmega
July 16, 2003, 09:25
AGAMA Kristian menurut kitab Injil yang asal jika dikaji sedalam-dalamnya
maka jawapan akhir yang akan ditemui adalah ISLAM. Hakikat ini
telah dibuktikan oleh ramai orang Kristian yang akhirnya mendapat
hidayah Allah dan kemudiannya memeluk agama Islam. Tetapi apa yang paling
menakjubkan kali ini, kita berpeluang berkongsi pengalaman hidup yang
tiada tolok bandingannya bersama USTAZ TAJUDDIN OTHMAN ABDULLAH, seorang
bekas pendeta besar di seluruh Sabah, yang belajar sebahagian besar
dalam hidupnya untuk menjadi pendeta.
Beliau yang selama ini berada di tahap paling tinggi dan mulia
sekali di Sabah kerana berkedudukan untuk mengampunkan segala dosa yang
dilakukan oleh orang-orang Kristian Sabah contohnya orang yang paling
berpengaruh ketika itu Pairin Kitingan. Pengalamannya sebagai Bekas
Pendeta di sekitar 80-an membuatkan beliau banyak mengetahui selok belok
agama termasuk agama Islam. Setelah puas mengkaji, akhirnya Allah
memberikan hidayah kepadanya dengan memilih Islam sebagai jalan hidup.
Beliau kini bertugas di Majlis Agama Islam Melaka di bahagian Unit
Kristianologi. Bersama seterusnya dengan JAMILAH AINI MOHD. RAFIEI, turut
hadir SUZILAWATI ROZAINOR ABBAS dengan jurufoto WAN ZAHARI WAN
MOHD.SALLEH yang berdialog dengan beliau di Masjid Al-Azim (Negeri), Air
Keroh, Melaka, baru-baru ini.
SEMASA Kristian saya dikenali sebagai Pendeta Thomas Laiden. Saya
berasal dari Sabah dan berketurunan Solok.Agama asal saya ialah Roman
Katholik. Saya mendapat pendidikan di Seminary Kependetaan Vantiken Itali
yaitu institusi kependetaan terulung di Itali dan dibiayai oleh
Persatuan Kristian Sabah. Saya tamat pengajian pada tahun 1985 seterusnya
bertugas sebagai pendeta di Vantiken. Seterusnya saya memohon untuk
kembali ke negara asal saya iaitu Sabah. Pada tahun 1988 saya ditukarkan ke
Sabah dan berkhidmat sebagai pendeta di sana.
Saya bertugas di Gereja St. Mary, Persatuan Gereja Roman Katholik
Sabah (seluruh Sabah) yang berpusat di Kota Kinabalu. Keluarga saya
terlalu kuat berpegang pada agama. Itulah sebabnya bapa menghantar saya ke
Vantiken, dengan harapan agar saya menjadi seorang pendeta yang dikira
jawatan yang terlalu mulia. Saya mempunyai ramai adik beradik tetapi
kesemuanya perempuan, saya adalah anak lelaki tunggal di dalam keluarga.
Semasa menjadi pendeta, saya banyak membuat kajian mengenai agama
Kristian, Buddha, Hindu dan Islam. Ketika itu saya tidak tahu langsung
tentang keindahan dan kecantikan Islam dan tidak pernah terlintas di
fikiran untuk ke situ. Tambahan pula saya dibesarkan di dalam keluarga yang
kuat mengamalkan agama Kristian. Saya aktif bergiat dalam dakyah
Kristianisasi yang cenderung kepada banyak buku-buku Islam. Setelah banyak
membuat kajian, saya terfikir apabila saya dilantik menjadi pendeta, saya
mendapat kesimpulan yang saya sudah mula meragui agama yang saya anuti.
Konflik Diri Yang Tak Terbendung Ianya ketara di sekitar 1988,
apabila sebagai seorang pendeta diberi tanggungjawab yang besar iaitu
untuk mengampunkan dosa manusia. Timbul di fikiran saya bagaimana saya
sebagai manusia biasa bisa mengampunkan dosa manusia lain sedangkan para
Nabi dan Rasul yang diutuskan Allah, mereka ini tidak sanggup mengampun
dosa manusia dan tidak mampu mengampunkan dosa manusia. Saya mula
serius membuat kajian mengenai Islam. Apabila saya diberi tanggungjawab
mengampun dosa orang-orang Kristian seluruh Sabah, jadi masa itu saya
rasakan seolah-olah agama ini sengaja direka-reka oleh manusia. Seterusnya
pada tahun 1989 saya kembali ke Vantiken untuk membuat Kursus
Kependetaan di sana selama tiga tahun.
Di sana saya telah berjumpa dengan ketua pendeta tertinggi seluruh
dunia iaitu Pope John Paul. Saya telah berdialog dengannya dan bertanya
akan perkara yang memusykilkan saya sepanjang saya menjadi pendeta.
Saya berkata kepadanya, "Paul, saya sekarang rasa ragu dengan agama
yang kita ini". Dia terkejut dan bertanya, "Apa yang kamu ragukan?" Saya
berkata, "Cuba John Paul fikirkan sendiri, kita ini seorang manusia biasa.
Di negeri saya Sabah, di negeri saya sendiri setiap malam Ahad saya
mengampunkan dosa orang Kristian yang beratus-ratus orang yang
datang mengaku dosa. Mereka harap saya yang mengampunkan dosa mereka
sedangkan para Nabi pun tidak pernah melakukannya." Beliau berkata, ",
Wahai Pendeta Thomas, kamu ini dilantik menjadi seorang pendeta, maka kamu ini
seorang yang suci dan tidak mempunyai sebarang dosa,"Saya katakan yang
saya merasakan diri saya mempunyai dosa. Beliau seterusnya menyambung,
"Memang kita manusia ini mempunyai dosa. Nabi Adam sendiri mempunyai dosa.
Apabila seseorang yang telah
dilantik menjadi pendeta bermakna kamu ini telah dilantik oleh Jesus
Christ. Jesus Christ tidak ada dosa maka kita sebagai pendeta ini tidak
mempunyai dosa".
Disitulah saya mula tidak percaya pada agama kristian yang
mengatakan ulamak-ulamak Kristian tidak mempunyai dosa. Saya katakan pada
Paul yang ulamak Kristian itu pembohong. Dia terkejut lalu berkata,"
Thomas, kamu telah dihantar hingga ke peringkat tertinggi untuk menjadi
pendeta, kenapa kamu berkata demikian. Cuba kamu jelaskan kenapa kamu kata
agama Kristian pembohong". Saya menyoalnya,"Jesus Christ itu Tuhan atau Nabi?"
Beliau menjawab, "Dia Tuhan". Saya bertanya kembali," Pernahkah orang
nampak Tuhan? Bagaimana wujudnya Tuhan? Siapa Tuhan kita sebenarnya,
Jesus Christ (Nabi Isa) atau Allah bapa? (Allah)." Beliau mengatakan Jesus
itu Tuhan.
Saya menyoal kembali, "Apa matlamat utama Jesus Christ diutus ke
dunia?" Beliau menjawab, "Untuk menebus dosa bangsa manusia, semua bangsa
dan agama." Jadi saya katakan padanya kenapa perlu ada pendeta tukang
ampun dosa jika Jesus Christ sudah menebus dosa semua manusia.
Di situ dia mula pening dan terpinga sambil berkata,"Pendeta
Thomas awak ini telah dimasuki iblis sehingga berani mempertikaikan
Kristian."
Saya katakan padanya, "Kita seorang pendeta yang suci, bagaimana iblis
boleh masuk?" Saya juga katakan padanya saya mempunyai ibu bapa dan
adik-beradik
apabila ibu bapa saya membuat dosa mereka mengaku di hadapan anak,
kerana kedudukan saya ketika itu sebagai seorang pendeta. Jadi saya
terfikir bagaimana saya seorang anak boleh mengampunkan dosa ibu bapa.
Sepatutnya seorang anak yang meminta ampun dari ibunya.
Selepas perdebatan itu Pope John Paul meninggalkan saya, sebagai
seorang pendeta beliau tidak boleh marah kerana marah merupakan satu
dosa. Di dalam Kristian mempunyai tujuh rukun iaitu:- Ekaristi Pembaptisan
- seseorang yang ingin memeluk Kristian mereka mesti dibaptiskan
dengan air suci Ekaristi Pengakuan - mengaku dosa di hadapan pendeta
Ekaristi
Maha Kudus - memakan tubuh Tuhan (Khusti kudus) Ekaristi Minyak Suci -
air suci Ekaristi Krisma ? penerima ekaristi Maha Kudus layak menerima
krisma Ekaristi Imaman ? menjadi pendeta Ekaristi Perkahwinan - hanya
untuk penganut awam (Pendeta tidak menerima ekaristi ini) Di dalam
Kristian air suci atau lebih dikenali sebagai Holy Water, adalah paling
bernilai sekali. Untuk menjadi seorang Kristian, seseorang perlu menjalani
Ekaristi Pembaptisan iaitu meminum air ini. Ia diperolehi dari proses uzlah
yang dijalani sebelum menjadi pendeta. Jika tidak mempunyai akidah yang
benar-benar kuat, akidah boleh rosak disebabkan air ini.
Contohnya ialah seperti apa yang berlaku ke atas seorang doktor
perempuan Melayu di Selangor. Setelah minum, beliau langsung tidak boleh
mengucap, hatinya telah tertutup. Menurutnya beliau sudah tidak yakin lagi
dengan agama lain kecuali Kristian sahaja kerana melalui Kristian beliau
boleh melihat Tuhan Jesus yang turun setiap malam. Itulah permainan
iblis.
Sesiapa yang meminum air tersebut dapat melihat apa sahaja. Sebaik
sahaja doktor tersebut meminumnya, akhirnya beliau memeluk Kristian. Saya
pergi menemuinya, dia katakan kepada saya Islam tidak benar, hanya
Kristian agama yang benar kerana umatnya boleh melihat Tuhan.
Apabila saya tunjukkan air itu kepadanya sambil bertanya pernahkah
beliau meminumnya. Beliau menjawab memang pernah meminumnya semasa beliau
belajar di Indonesia; apabila pergi ke gereja beliau akan diberi
minum air tersebut. Beliau menyatakan kepada saya beliau akan hidup dan
mati
di dalam Kristian. Saya membacakan kepadanya surah Kahfi di samping
memintanya mengamalkan surah tersebut setiap masa. Alhamdulillah
lama-kelamaan keadaannya semakin pulih. Inilah permainan sihir
sebenarnya. Tidak siapa dapat melawan ilmu Allah, hanya ilmu Allah sahaja
yang berkesan menghapuskan permainan sihir. Tidak lama kemudian beliau
kembali mengucap dan terus menangis. Saya katakan kepadanya saya sudah
terlalu berpengalaman dengan taktik Kristian. Itulah, cara memikat orang
untuk ke agama Kristian cukup mudah, tidak mengapa jika tidak percaya
kepada agama Kristian, tetapi apabila minum air itu segala-galanya akan
berubah.
Setelah saya mempelajari Islam barulah saya tahu rupanya iblis ini
boleh menyerupai bermacam rupa. Kekuatannya hanya pegangan akidah..
Tetapi Holy Water ini sekarang tidak boleh lagi diedarkan di Malaysia
kerana
orang yang membuatnya di biara Vantiken telah memeluk Islam dan
membongkar rahsia ini. Ramai orang sudah tahu mengenai air ini dan mula
berhati-hati dengan setiap apa yang meragukan.
Rukun yang kedua pula iaitu Ekaristi Maha Kudus bermaksud memakan
tubuh Tuhan. Saya pernah berhujah dengan John Paul mengenainya. Saya
katakan padanya sedangkan Firaun yang zalim itupun tidak pernah memakan
tubuh tuhan kenapa pula kita sebagai ulamak Kristian boleh makan tubuh
tuhan?.
AlfaOmega
July 16, 2003, 09:27
Saya jelaskan kepadanya, apabila semua pendeta memakan Khusti
Kudus (sejenis makanan yang diimport khas dari Itali) bermakna itu satu
penghinaan kerana tubuh tuhan boleh dimakan. Beliau itu memang
sudah menjadi rukun Kristian dan tidak boleh dipertikaikan agi. Apa yang
paling merbahaya ialah holy water. Khusti Kudus tidak mempunyai rahsia
apa-apa, ia seolah-olah seperti roti yang dicampur dengan bahan lain.
Berlainan dengan holy water yang kesannya cukup kuat. Bayi-bayi
yang baru dilahirkan pun dibaptiskan. Terdapat sesetengah klinik yang
membaptiskan bayi walaupun bayi tersebut Islam. Bagi kepercayaan Kristian
setiap bayi yang baru lahir wajib dibaptiskan kerana ia mempunyai dosa, ia
menyimpan dosa pusaka yang ditinggalkan datuk moyang mereka. Ia berlainan
dengan Islam, Islam meletakkan bayi yang baru lahir itu adalah dalam
keadaan fitrah (bersih).
Sebenarnya agama Kristian ini tidak salah. Di dalam semua kitab
tidak ada mengenai agama Kristian. Kristian ini baru sahaja berkembang oleh
seorang Paul yang pertama di zaman Julius kemudian beliau
mengembangkannya. Asal agama Kristian ialah dari agama Yahudi dan Nasara.
Tetapi di
Romawi ia dinamakan Kristianisasi. Jika kita meneliti di dalam kitab Nabi
Isa (Injil) tidak ada disebut Kristian.
Sebenarnya semua ulamak Kristian tahu mengenai kedudukan agama
Islam. Pernah terjadi dalam tahun 78, semasa itu saya terjumpa kitab yang
menyatakan kebenaran Nabi Muhammad.
Tetapi semasa itu saya tidak begitu memperdulikannya. Di dalam
kitab tersebut ada menyebut mengenai Ahmad iaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Ketika itu saya masih belajar di Vantiken, oleh kerana saya kurang sihat
saya
tidak dapat mengikut kelas pengajian. Saya diberi tugas oleh seorang
pendeta untuk menjaga sakristi (perpustakaan yang terdapat di gereja)
untuk menjaga kitab-kitab di situ. Pendeta tersebut mengatakan kepada
saya, "Thomas, kamu perlu menjaga kesemua kita-kitab di sakristi ini
tetapi kamu tidak boleh membuka almari." Beliau menunjukkan kepada saya
almari
yang dimaksudkan. Saya hairan kerana beliau melarang saya membuka
almari tersebutkan sedangkan kuncinya diserahkan kepada saya. Sifat
manusia, apabila dilarang maka itulah yang ingin dibuatnya. Ketika itu
semangat saya terlalu berkobar-kobar untuk mengetahui isi kandungan almari
tersebut. Setelah membuka almari tersebut dan terlihat sebuah
kitab dibalut dengan kain putih. Saya membuka balutan itu dan terpandang
sebuah kitab lama, setelah meneliti barulah saya mengetahui ia adalah
kitab Injil pertama (Old Testament) yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s.
Saya
mengambil kitab itu dan menyembunyikannya. Kitab tersebut ditulis
di dalam bahasa Hebron. Ia masih saya simpan hingga ke hari ini dan saya
dalam proses untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu. Ia menjadi
rujukan kepada saya, dan sebagai bukti untuk berdebat dengan orang-orang
Kristian.
Saya telah utarakan kepada Majlis Agama Islam Melaka, jika boleh
saya ingin menterjemahkannya dan sebarkan kepada orang ramai. Pihak
Majlis tidak berani melakukannya, menurut mereka ia akan mengancam nyawa
saya kerana dengan pendedahan kitab tersebut rahasia Kristian akan
tersebar.
Isi kitab tersebut sama dengan al-Quran. Rupa-rupanya barulah saya
mengetahui semasa upacara mengangkat sumpah dalam proses beruzlah
pada hari yang ke 39, setiap pendeta akan meletakkan tangan mereka ke
atas kitab yang dibalut dengan kain putih yang diletakkan di atas
bantal.
Tidak siapa dibenarkan membukanya dan isi kandungannya. Berbalik
kepada kisah saya mencuri kitab tersebut, selepas kehilangannya pendeta
yang menyerahkan kunci kepada saya dahulu memanggil saya dan bertanya
apakah saya ada mengambilnya.
Saya menafikan dengan mengatakan tidak pernah mengambil kitab
tersebut. Hati saya nekad untuk tidak mengaku dan menyerahkannya kerana
saya
ingin Mengkaji kitab tersebut. Disebabkan seseorang bakal pendeta tidak
boleh berbohong, beliau mempercayai pengakuan saya. Akhirnya pada
keesokannya iaitu pada hari mengangkat sumpah, disebabkan Injil tersebut
telah
hilang, mereka meletakkan kitab suci al-Quran (yang dibalut dan sentiasa
tersimpan di almari) sebagai ganti kitab yang hilang. Al-Quran digunakan
di
dalam upacara mengangkat sumpah. Semua pendeta tidak tahu hal ini
kecuali saya. Pada masa itu saya terfikir, apa gunanya jika kita bersumpah
di
atas kitab al-Quran tetapi masih tidak beriman dengannya? Bermakna semua
pendeta telah bersumpah di atas al-Quran tetapi kufur selepas itu.
Menyingkap saat saya di datangkan hidayah ialah ketika saya sudah
tamat belajar dan bertugas di Gereja St. Mary, Sabah. Pada suatu malam
Ahad pada tahun 1991, saya bersembahyang (dengan cara Kristian) di hadapan
tuhan-tuhan saya iaitu Tuhan Bapa, Ibu Tuhan (Mary) dan Anak
Tuhan (Jesus Christ). Ketika itu saya terfikir di dalam hati, patung-patung
ini
diukir oleh manusia, saya menyembahnya setiap hari di dalam
bilik.'Apabila saya selesai sembahyang saya meletakkannya di bawah tempat
tidur. Hati
saya berkata, alangkah hinanya tuhanku. Kenapa aku boleh meletakkannya
di bawah tempat tidur yang boleh aku baringkan dan letak sesuka hatiku?
Turunnya Hidayah Malam itu, selesai sembahyang saya mengambil
sehelai kertas dan saya tulis diatasnya, "Tuhan, diantara agama Islam,
Kristian, Hindu dan Buddha aku telah mengetahui semua agama ini. Malam ini
tolonglah tunjukkan kepadaku manakah di antara tiga agama ini yang benar
bagiku".
Setelah itu, tak tahulah saya katakan bagaimana mengantuknya mata
saya yang tak pernah-pernah saya alami rasa mengantuk yang lain macam,
mata saya langsung tidak boleh terangkat. Akhirnya saya tertidur. Pada
malam itu, pada saya mungkin bagi para Nabi boleh dianggap mimpi tetapi
menurut saya mungkin Tuhan ingin memberikan hidayah kepada saya. Di dalam
tidur, saya merasakan seolah-olah saya menaiki lif dari satu tingkat ke
tingkat lain sehingga tingkat tujuh, ketika itu mata saya tidak boleh
dibuka kerana di hadapan saya ada satu cahaya yang terang benderang
menyuluh.
Saya bertanya kepada seorang yang berdiri di hadapan saya,
orangnya Masya Allah terlalu tinggi. Jarak di antara kaki dan kepala umpama
langit dan bumi. Saya bertanya kepadanya, "Negeri apakah ini?" Beliau
berkata
kepada saya, "Awak tidak layak masuk ke negeri ini, ini negeri umat Nabi
Muhammad s.a.w." Saya meminta keizinannya sekali lagi untuk masuk tetapi
beliau tetap tidak membenarkan. Dari luar saya dapat lihat di dalamnya
ada satu jalan umpamanya titi yang halusnya seperti sehelai rambut. Saya
tak berani katakan ia Titian Sirat atau apa-apa kerana tidak mengetahui
apa-apa ketika itu. Saya hairan kenapa orang yang berjubah dan bertudung
mereka melintas jalan itu dengan mudah sedangkan saya langsung tidak
boleh mengangkat kaki. Penjaga itu berkata lagi, "Awak tidak boleh
masuk, tetapi awak lihatlah bagaimana keadaan mereka yang beragama Yahudi
dan
Nasara (Kristian)." Alangkah terkejutnya saya apabila melihat orang-orang
Kristian yang kepalanya dimasukkan ke dalam api umpama dijadikan
kayu api.
Saya terkejut dan sedar hanya Islam agama yang benar. Akhirnya
saya tersedar seelok sahaja azan subuh dilaungkan dari masjid
berhampiran. Saya bangun dan membersihkan badan saya. Saya menuju ke
kereta.
Pemandu telah bersedia membawa saya tetapi saya menolak pelawaannya dan
katakan kepadanya saya ingin pergi ke satu tempat yang orang lain tidak
boleh ikut serta. Saya memandu kereta menuju ke sebuah masjid di atas
bukit.
Ketika saya tiba, mereka sedang berjamaah menunaikan fardu Subuh,
saya menanti seketika sebagai menghormati agama mereka. Setelah
selesai, saya pergi menemui imam yang bertugas ketika itu. Saya katakan
kepadanya yang saya ingin memeluk Islam hari itu juga. Beliau terkejut dan
berkata kepada saya, "Awak ini di bawah Pairin Kitingan, Ketua Menteri
Sabah,
susah kami hendak Islamkan awak, tambahan pula awak pendeta besar seluruh
Sabah." Saya katakan padanya," Awak jangan bimbang sebab dosanya saya yang
ampun, hal dia tidak perlu dibincangkan. Apa yang saya mahu, hari ini
saya mahu peluk Islam." Seterusnya imam tersebut berkata lagi, "Awak tak
boleh masuk Islam sekarang sebab awak perlu mengisi borang, tandatangan
surat
akuan sumpah dahulu, baru awak boleh masuk Islam." Dengan agak kasar
saya katakan kepadanya, "Kalau beginilah caranya untuk memeluk Islam,
lebih baik orang masuk Kristian. Kalau masuk Kristian, hari ini terus
dibaptiskan dan menjadi Kristian. Untuk masuk Islam pun perlu isi borang
ke? Baiklah, jika hari ini saya turun ke bawah dan ditakdirkan tiba-tiba
saya dilanggar kereta dan
mati, maka apa akan jadi kepada saya dan siapa yang akan
bertanggungjawab?"
Akhirnya imam tersebut menyuruh saya mengucap dua kalimah
syahadah. Maka pada pagi Ahad itu saya telah sah sebagai seorang Islam.
AlfaOmega
July 16, 2003, 09:28
Kekuatan Diri
Setelah selesai mengucap, saya kembali ke rumah saya. Ketika saya
melalui kawasan gereja, orang ramai sudah penuh menunggu saya untuk
upacara pengampunan. Mereka melambai tangan ke arah saya. Saya membalas
kembali lambaian mereka. Ketika itu seakan ada satu kekuatan dalam diri
saya. Saya keluar dari kereta dan membuat pengumuman di hadapan mereka.
Saya katakan kepada mereka, "Kamu ini jika sembahyang pun berdosa
kalau tak sembahyang lagi bagus." Kemudian saya meninggalkan mereka yang
kelihatan seperti kehairanan. Saya meneruskan perjalanan menuju ke
rumah.
Di dalam rumah semua ahli keluarga sudah bersedia menanti saya
untuk ke gereja. Jubah saya sudah siap diseterika. Saya panggil semua ahli
keluarga sambil bertanya apakah mereka sudah makan atau belum.
Mereka katakan yang mereka sudah makan kecuali Khusti Kudus sahaja
yang belum dimakan. Saya katakan itu tidak payah dimakan pun tidak
mengapa kerana di kedai banyak roti untuk di makan. Saya membuat
pengumuman kepada mereka, saya berkata sambil memandang ke arah bapa saya,
"Saya hendak memberitahu kamu sesuatu perkara. Saya belajar di Vantiken
selama
12 tahun dan sudah terlalu banyak menghabiskan wang bapa.
Selama 12 tahun saya belajar, saya tahu bahawa agama yang saya
anut ini adalah agama yang salah, agama yang betul adalah Islam." Ketika
itu saya lihat tidak ada apa-apa riak di wajah bapa dan ahli keluarga saya,
tetapi mereka semua terdiam. Saya menyambung kembali, "Tadi saya telah
memeluk Islam di masjid bandar sana dan menyuruh saya mengucap. Bermakna
hari ini saya sudah menjadi orang Islam." Bapa saya berkata kepada saya,
"Oh! kamu sudah Islam! Tidak mengapa!" Seterusnya beliau menuju turun ke
dapur. Saya ingatkan tidak ada apa-apa ketika itu. Saya tidak sedar
rupa-rupanya beliau pergi mengambil parang panjang dan cuba menyerang saya.
Saya yang kebetulan duduk di tepi tingkat di tingkat satu terus terjun ke
bawah. Saya melompat dari tingkat atas dengan berkaki ayam.
Tuhan masih mahu memanjangkan umur saya. Saya turun dan terus
meninggalkan rumah sehelai sepinggang hingga ke hari ini. Dari
segi pengamalan kedua ibu bapa saya yang memang cukup kuat berpegang
pada agama, apabila seorang anak murtad (keluar Kristian) mereka tidak
lagi mengaku anak.
Hijrah untuk Keselamatan dan Belajar
Selepas itu saya pergi ke Jabatan Agama Islam Sabah. Demi
keselamatan diri saya, salah seorang pegawai di sana menasihatkan saya agar
pergi
belajar dan keluar dari Sabah. Akhirnya saya merantau ke Semenanjung dan
menyambung pengajian saya di Institut Dakwah Kelantan pada tahun
1992 dan seterusnya saya menyambung pula ke Nilam Puri sehingga tahun 1995.
Ketika itu saya adalah pelajar yang paling tua sekali. Setelah tamat
pengajian, saya menganggur sekejap. Tidak lama kemudian saya diterima
bertugas di Majlis Agama Islam Melaka hingga ke hari ini. Kemungkinan juga
selepas ini saya akan dipindahkan ke majlis Agama Islam Kelantan. Di sini
(Melaka) saya ingin menerbitkan buku mengenai kajian Kristian. Tetapi
terlalu banyak prosedur yang perlu dijalani. Kini setelah hampir sembilan
tahun saya memeluk Islam dan meninggalkan Sabah, saya masih diugut dan
dikecam.
Namun saya tidak khuatir kerana yakin Allah tetap melindungi
hamba-Nya dan yakin ajal maut itu tetap datang walaupun bersembunyi di
ceruk
mana sekalipun. Kini saya bahagia setelah mendirikan rumah tangga
bersama isteri yang cukup memahami jiwa saya. Dalam usia 49 tahun, saya
baru mempunyai seorang cahaya mata berusia satu tahun setengah. Islam
tidak menyusahkan penganutnya. Jika menjadi pendeta perkahwinan tidak
dibenarkan tetapi setelah Islam, baru saya tahu betapa indahnya perkawinan
dan zuriat yang merupakan rezeki dari Allah (SWT).
Di Vantiken, orang Kristian yang keluar agama kemudian masuk ke
negara tersebut, mereka akan bunuh. Bagi mereka seseorang yang murtad di
anggap kotor dan mencemarkan maruah agama. Tetapi adakalanya saya
terfikir, jika di sana orang Kristian murtad kenapa ianya tidak terjadi di
negara
yang pemerintah dan majoriti penduduknya beragama Islam. Itulah yang
susahya.
Saya membuat kajian hampir empat tahun baru mendapat nikmat Islam.
Terlalu sukar saya mengecapi nikmat Islam tetapi orang di sini yang memang
lahirnya dalam Islam dengan mudah mahu membuang Islam. Di sini
saya bertanggungjawab terhadap mereka yang murtad, jika yang tidak
berpengetahuan tidak mengapa tetapi yang sedihnya yang murtad ini
ialah mereka yang mempunyai pendidikan hingga ke peringkat tertinggi dan
mempunyai pendapatan yang melebihi dari keperluan bulanan.
Pernah saya katakan kepda seorang doktor, "Doktor, suatu ketika
dahulu saya menerima gaji bulanan sebanyak RM5,000 sebulan, dilengkapi
dengan pembantu rumah, pemandu dan rumah serba lengkap. Kehidupan saya
terlalu mewah di Sabah. Tetapi doktor, kenapa saya sanggup melepaskan itu
semua semata-mata kerana Islam? Gaji doktor sekarang terlalu mencukupi
tetapi mengapa perlu tinggalkan Islam?" Saya memang cukup marah dan
terkilan apabila mendengar orang yang ingin murtad.
Minta maaf jika saya katakan, mengapa terlalu bodoh sangat
sehingga sanggup menanggung dosa besar? Umat Islam dari segi ekonomi
sebenarnya terlalu mencukupi cuma cara pelaksanaannya yang agak longgar.
Kita
lihat Kristian, dari segi kerjasama dan ukhuwah mereka begitu kuat.
Semasa saya menjadi pendeta dahulu, apabila saya masuk ke sesebuah kampung
untuk berdakwah saya dibekalkan beberapa ribu wang. Ini kerana gereja di
seluruh dunia bersatu padu. Meskipun dari segi politik berbeza dan
bermusuh tetapi untuk menghancurkan Islam mereka mesti bersatu.
Mereka berkata jika di negara Barat, penduduk penganut Kristian
tidak bersembahyang pun tetapi mereka tetap kristian. Gereja di sana
setiap hari Ahad kosong kerana setiap hari Ahad diadakan acara perlawanan
bola
sepak di kalangan pendeta. Orang ramai pergi menyaksikan acara tersebut.
Itu yang mereka minat. Oleh sebab itu peruntukan untuk di sana sudah
tidak ada lagi.
Sebagai alternatifnya mereka akan mengalihkan peruntukan itu
untuk disalurkan ke negara Asia terutamanya ke Indonesia dan Malaysia.
Begitulah kuatnya kerjasama diantara mereka. Bagi mereka tidak perlu
berdakwah untuk orang Barat yang sudah sedia Kristian sebab untuk mereka
memeluk
Islam sukar. Yang lebih penting ialah misi mengkristiankan orang Islam.
Bagi pandangan saya, saya lihat orang Islam agak susah untuk
bersatu.
Masing-masing mempunyai fikrah yang berbeza dan hidup dalam
kelompok sendiri. Kadangkala di kalangan orang Islam sendiri bergaduh. Ini
berlainan dengan orang Kristian yang amat menitikberatkan soal
kebajikan. Namun bukan semua orang Islam begitu, masih ramai di kalangan
mereka yang bijak.
Semasa saya menjadi pendeta, saya memberikan tumpuan kepada orang
miskin. Pernah terjadi di Perak, saya telah menghabiskan beratus ribu
untuk mereka, mereka mengambil wang tersebut tetapi tidak memeluk
Kristian. Selepas saya Islam, saya pergi menemui mereka, senarai nama
mereka
masih ada dalam simpanan saya. Setelah saya periksa rupa-rupanya mereka
ini masih Islam walaupun pada awalnya mereka berjanji untuk memeluk
Kristian. Alhamdulillah mereka tidak berdendam pada saya sebaliknya mereka
membelanja saya makan setelah mengatahui saya telah memeluk Islam.
Masalah Kelemahan Pendakwah Islam.
Adakalanya saya terfikir kenapa ketika Barat menjajah kita, orang
Melayu tidak murtad sedangkan pada hari ini negara yang pemerintahnya
Islam tetapi orang Melayu boleh murtad dengan begitu mudah sekali.
Kelemahan kita ialah pendakwah Islam kadang-kadang boleh kalah dengan
pendakwah Kristian. Saya beri contoh seorang kawan saya yang pernah
sama-sama belajar dengan saya semasa di Vantiken dahulu. Beliau pernah
menyatakan kepada saya, orang Yahudi sekarang sedang memberi tumpuan kepada
kajian al-Quran dan Hadis. Dia mengatakan pada saya; "Wahai Thomas, (dia
tetap memanggil saya dengan nama Kristian walaupun saya telah Islam),
Allah ada mengatakan di dalam salah sebuah ayatnya yang bermaksud; "Tidak
akan masuk syurga melainkan orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasara."
Sekarang kami pendakwah Kristian mahu pandai membaca al-Quran, terjemahan
dan hadis.
Kami mempunyai kursus khusus mengkaji al-Quran dan Hadis. Awak
lihatlah apa yang telah dikatakan oleh Tuhan mu itu." Saya katakan
kepadanya, "Betul apa yang awak baca ini. Kami membaca al-Quran bukan
seperti
apa yang awak faham. Memang benar awak membaca ayat itu tetapi
al-Quran ini jika awak tafsir separuh-separuh itu tidak betul. Al-Quran
bukan
seperti Injil yang boleh ditafsir separuh-separuh. Saya dahulu apabila
belajar al-Quran mengambil masa sehingga tiga tahun baru khatam. Saya
ucapkan terima kasih pada awak kerana hanya enam bulan awak sudah boleh
membaca al-Quran." Saya katakan lagi padanya,"Sebenarnya awak tidak tahu
tafsir al-Quran. Maksud sebenar ayat tersebut ialah "Telah berkata
mereka (orang-orang Yahudi dan Nasara), tidak akan masuk syurga melainkan
orang Yahudi dan Nasara, sedangkan semua itu hanyalah merupakan
angan-angan kamu yang kosong." Itu bukan firman Allah, kata-kata itu adalah
keluar
dari mulut orang-orang Yahudi sendiri.
Pendeta tersebut masih belum faham lalu bertanya, "Apakah
angan-angan kosong itu?" Saya katakan," Setiap hari Ahad kamu makan tuhan
kamu. Apabila kau menghadap Khudsi Kudus sambil berdoa bermakna kamu
telah memakan tuhan kamu. Untuk apa kamu berbuat demikian?" Beliau tidak
boleh berkata apa-apa walaupun mukanya telah merah padam. Saya katakan
kepadanya, "Kamu tidak boleh marah. Kalau kamu marah, siapakah yang akan
mengampunkan dosa kamu?" Hal itu tidak mengapa jika diutarakan di hadapan
mereka yang faham, tetapi apa yang saya bimbangkan bagaimana jika ayat itu
dibacakan di hadapan mereka yang tidak faham dan rendah pengetahuan
agamanya?
AlfaOmega
July 16, 2003, 09:30
Siapakah Sasaran Kristian? Program mereka kini ialah berdakwah
kepada orang Islam yang menghabiskan masa di kaki-kaki lima terutamanya
golongan remaja yang bermain gitar. Mereka akan katakan, jika bermain di
kaki lima tidak mendapat apa-apa bayaran, lebih baik bermain lagu di gereja
setiap hari Ahad dengan pendapatan lumayan. Dari situ ramai yang
tertarik. Dari segi wanita Islam pula, yang saya perhatikan senarai namanya
terlalu ramai orang Melayu yang memohon menukar nama di Jabatan Pendaftaran
Negara (JPN). Itu yang menyedihkan saya. Di JPN, beratus nama sedang
menunggu, apabila pihak JPN meluluskan nama-nama tersebut, maka akan
murtadlah nama-nama itu. Itu kelemahan undang-udang negara, kami tidak
boleh
berbuat apa-apa kerana mereka ini berpegang pada peruntukan yang
mengatakan apabila seseorang yang berumur 18 tahun ke atas bebas beragama.
Apa ikhtiar kita? Ada seorang wanita berjumpa saya tetapi
keadaannya meragukan. Beliau memakai tudung. Saya menggunakan isteri saya
untuk memerhatikan wanita ini. Bila mereka tinggal berdua, barulah saya
tahu di dalam tudungnya itu ada salib. Isteri saya memberitahu saya. Saya
memanggilnya. Saya katakan kepadanya, "Kamu tidak sayangkan Islam
ke? Tolong buang benda yang ada didalam tudung kamu itu". Dia tidak
mengaku, tetapi saya yakin beliau memakainya. Sejurus kemudian beliau
mengeluarkan rantai salib di lehernya dan mengatakan beliau sengaja
memakainya
tanpa mempunyai niat apa-apa. Saya katakan padanya yang saya dahulu
memakai rantai yang lebih besar daripadanya. Akhirnya saya megambil rantai
tersebut dan menyimpannya di pejabat saya untuk dibawa ke pihak
atasan dan menerangkan bagaimana seriusnya penyakit ini di kalangan anak
remaja kita.
Wanita jika tidak kuat pegangan memang mudah dipengaruhi. Ada juga
taktik orang-orang Yahudi yang menjadikan perkahwinan sebagai langkah
paling mudah untuk memurtadkan gadis Islam. Untuk berkahwin, mereka
(lelaki Kristian) akan memeluk Islam, kemudian akan membawa isterinya ke
negara asalnya dan memurtadkan isterinya.
Apa yang penting pegangan agama dan iman perlu kuat. Jangan
ragu-ragu dengan Islam. Hanya Islam penyelamat ummah. Sejak dari zaman
dahulu lagi memang tugas utama Yahudi untuk menghancurkan umat Islam dengan
cara memurtadkan mereka. Sama-samalah kita berdoa agar Allah (SWT)
memperkukuhkan keimanan di hati kita. Insya Allah.
AlfaOmega
July 29, 2003, 11:29
Sesungguhnya penciptaan makhluk –termasuk di dalamnya manusia –selalu sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.
Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-ngiang di telinga saya.
“Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”
Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja –menurut saya-- hal ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses dalam pemikiran yang ilmiah.
Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat, berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana. Paginya, dia masuk Islam.
Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu Sunan Kalijaga –malah –secara wadag.
Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu Hitler... atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah... bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa Wisnu yang –walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu? Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.
Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-nimbang, mencari kebenaran... dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka –menurut saya –keislamannya tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.
Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco, apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok.... Karenanya, saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi, saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang –walaupun Islam –tidak shalat. Kalau shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan Ramadhan.
Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh, takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh, malaikat, jin... adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan memakai sorban.
Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik. Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga dengan masuk Islam?
Ooo... tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang F.X. Rusharyanto ini.
“Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.
Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh, ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?
“Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh. Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih, atau gadis cantik yang pakai jilbab.”
Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.
“Ayam ini bisa ngomong.”
Ooo... bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?
“Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.’”
Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi tertarik.
“Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,’ begitu bantah saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, ‘Tidakkah kauperhatikan perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu.’ Cukup lama saya memikirkan kalimat ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, ‘Lantas, apa yang diperintahkan pada manusia yang memiliki lutut di depan?’”
Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?
“Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan, ‘kepada manusia, Tuhan memerintahkan untuk rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk dan sujud.”
Subhanallah... betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah. Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang lemah ini?
Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta, dan satu laut lagi sebagai tinta, dan....
Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah kesombongan dan kelemahan kami. Amin.
bon8nk
July 30, 2003, 06:39
KISAH PEMUDA BERIBU-BAPAKAN BABI
Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh kehairanan.
Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.
"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.
"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."
Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.
Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.
Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
AlfaOmega
August 15, 2003, 10:36
> > -Assalamualaikum wr.wb.
> >
> > Renungkanlah WAHAI SAHABAT-SAHABATKU yang dirahmati ALLAH SWT,
> >
> > Mengapa lidah kelu disaat kematian? tetapi kematian itu pasti menjelma.
> > Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Cuba kita amati.
> > Mengapa kebanyakan orang yg nazak, hampir ajal tidak dapat berkata
> > apa-apa.. lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan
> > kesakitan 'sakaratul maut'.
> >
> > Diriwayatkan sebuah hadis yg bermaksud : "Hendaklah kamu mendiamkan diri
> > ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut
> > menghampirinya." Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan
> > diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan berkumandang. Sebagai orang
> > beragama Islam kita wajib menghormati azan. Banyak fadhilatnya.
> >
> > Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan diamkan diri.
> > Mengapa ketika azan kita tidak boleh mendiamkan diri? Lantas sesiapa
> > yang berkata-kata ketika azan, Allah akan kelukan lidahnya ketika nazak.
> > Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita
> > tidak dapat mengucap kalimah "Lailahaillallah.." yang mana sesiapa yang
> > dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Allah dgn
> > izinNya menjanjikan syurga untuk mereka. Dari itu marilah kita sama-sama
> > menghormati azan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu
> > semasa nyawa kita sedang dicabut. "Ya Allah! Anugerahkanlah kematian
> > kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap
> > kalimah "Lailahaillallah.." semasa sakaratul maut menghampiri kami.
> >
> > Amin.. amin.. amin Yarobbal a'lamin.."
> >
> > WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;
> >
> > Wahai Ali, bagi orang MUKMIN ada 3 tanda-tandanya:
> > 1) Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia.
> > 2) Tidak terpesona dengan pujuk rayu.
> > 3) Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia..
> >
> > Wahai Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda2nya:
> > 1) Jujur dalam berkata-kata.
> > 2) Menjauhi segala yg haram.
> > 3) Merendahkan diri.
> >
> > Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:
> > 1) Merahasiakan ibadahnya.
> > 2) Merahasiakan sedekahnya.
> > 3) Merahasiakan ujian yg menimpanya.
> >
> > Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya:
> > 1) Takut berlaku dusta dan keji.
> > 2) Menjauhi kejahatan.
> > 3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
> >
> > Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:
> > 1) Mengawasi dirinya.
> > 2) Menghisab dirinya.
> > 3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.
> >
> > Uang Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak
> > derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45
> > menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu
> > untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi
> > tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk
> > memasukinya.
> >
> > Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'surat berantai' melalui e-mail
> > tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir
> > 2 atau 3 kali. OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN
> > DARI KELUCUAN TERSEBUT, INSYA'ALLAH.
> >
> > Wassalamualaikum
AlfaOmega
August 19, 2003, 11:33
MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA
"Mengapa saya memilih Islam", Hj. Irena Handono
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang
mencari kebenaran, dimana pun hamba-Nya berada, di
biara sekalipun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono
yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan
Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan
keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling
berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang
Khalik.
Berikut ini penuturannya kepada Siwi Wulandari dari
Majalah Hidayah:
Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku
merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah
dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga
mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku
aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk
biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup
yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya
hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu
sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah
tujuan satu-satunya dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga
yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya
1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami
berasal dari etnis Tionghoa. Ayahku adalah seorang
pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu
donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan
perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.
Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan.
Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi
akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai
ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika
remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak
teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi favorit
bagi kawan-kawanku.
Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan,
bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam
semaraknya pergaulan muda-mudi, walaupun semua fasilitas
untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk
menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku
memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk
membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka.
Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya
mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakakku, mereka
justru bangga punya adik yang masuk biarawati.
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru
kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati,hanya ada
dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di
biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti
seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur.Salah satu
dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan
sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari,
dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion,
Jurusan Islamologi.
Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di
awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang
terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak
baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang
melarat itu siapa? Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang
tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal
setiap hari jum'at siapa? Yang berselisih paham tidak bisa
bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk
pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat
negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali,Irlandia,
negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah
amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah
seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai
terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu
tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku
jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta
ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya
sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan itu diterima,
tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku
bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang,
mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya,
aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang,
bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus
mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak
mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku
justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama
kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.
Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara
hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu,
Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu
pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan bisa
diterima!" pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan,
bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu
Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan
dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan
trinitas, atau tritunggal.
Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk
mengaji lagi surat al-Ihklas. "Allahu ahad, ini yang
benar," putusku pada akhirnya.
Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan
dosen-dosen saya. Aku katakan, "Pastur, saya belum
paham hakekat Tuhan."
"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur. Dia
maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi,
AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya
tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan
Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan
kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini
sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya
punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia
ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,"
tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, "Tidak bisa!"
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya
gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan
Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang
saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya
simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang,
tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak
mengerti.
"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin
gereja!" tegas Pastur.
Aku katakan, "kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?"
"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya
dosa!" tegas Pastur mengakhiri.
Walaupun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang
mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas.
Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya
kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi,
meja?" dia tidak mau jawab.
"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga.
Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.
"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun
lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja,
tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah
jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.
"Apa maksud Anda?" tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam
semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia
yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun
kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak
mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh
dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya,
aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya
ditertawakan. Mereka pikir, ini 'kok ada suster yang tidak
tahu siapa yang melantik RW?
"Sebetulnya saya tahu," ucapku.
"Kalau Anda tahu, mengapa Anda tanya? Coba jelaskan!"
tantang mereka.
"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di
atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW
dilantik RT jelas pelantikan itu tidak sah."
"Apa maksud Anda?" mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu
menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk
manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka
kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi
Tuhan, jelas pelantikan itu tidak sah."
AlfaOmega
August 19, 2003, 11:37
Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas.
Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya
bertanya mengenai sejarah gereja.
Menurut semua literatur yang saya pelajari, dan kuliah yang
saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan
sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325
Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang
melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien
Kaisar Romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau
muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus
berpredikat sebagai Tuhan.
Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan
mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius,
Markus, Lukas, Yohanes, mana ada
satu kalimat Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'?
Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati
yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam
al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu
menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada
manusia yang mampu.
Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai
saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu,
Islam. Subhanallah.
Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu
melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang
dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya
sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari
al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik,
Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak
ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada
Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah.
Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam
tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.
Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya
diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih,
senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus
meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu
bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke
Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang
Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi
terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah
menikah, ya selesai!
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku
adalah aktifis mahasiswa. Begitupun dengan diriku, kami
kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu
berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara
tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka
sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku
akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin
membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak
bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai
belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena
sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua.
Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan ustadz yang
bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.).
Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk
masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang
sama, "Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap
dengan konsekwensinya?"
"Siap!" jawabku.
"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.
"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk
Islam semakin kuat.
"Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda
pilih?" Tanya beliau lagi.
"Islam" jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian
mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau.
Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk
Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada
agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun,
dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan
dua laki-laki. Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi
muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku
sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum
ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung
melaksanakan shalat.
Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah
cukup besar. Banyak kamar terdapat di dalamnya. Kakakku
berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia
terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang
lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.
Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia
menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai
shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang
selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak
menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa
bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat
itulah terjadi keretakan diantara kami.
Agama baruku yang kupilih tak dapat mereka terima. Akhirnya
aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah
sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan
satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap
datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu
meninggal dunia. Setelah ibuku meninggal, tidak ada kontak
lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai
sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya
ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan
akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan
hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu
sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima.
Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan
ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku
selalu 'menggerutu' kepada Allah, "kalau Engkau, ya Allah,
menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa
Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam,
punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti
saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan
begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan
hidup saya harus berliku-liku seperti ini?" ungkapku
sedikit kesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan
dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk
dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat
iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah
Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan
Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam adalah agama
yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah
diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah
agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis
kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah,
"Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?"
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas
kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam
belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak
kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah
memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku
begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak
hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di
Jakarta.
Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku,
termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar
seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima
anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua
sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di
bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam
diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya
karena Allah.
**
surya
September 04, 2003, 04:30
Chinese moslem setahu gue cukup banyak... umumnya mereka cenderung tidak suka publikasi.
Gue inget dulu waktu kecil di Medan, sedang perbaiki sepeda di bengkel sepeda seorang tionghoa. Sedang nungguin sepeda diperbaiki, tau-tau masuk dua orang anak gadis ABG nya pake kerudung sambil peluk al Qur'an sambil mengucapkan salam. Gue surprise banget, padahal kalo dilihat dari luar, tidak ada sedikitpun tanda rumahnya ditempati orang chinese moslem.
Hidayah memang untuk siapa saja yang dirahmati Allah.. :)
sikhasep
September 06, 2003, 00:51
Menjadi Islam memang seperti memegang bara ;)
sikhasep
September 08, 2003, 06:25
KISAH DUA ORANG BERSAHABAT MUKMIN DAN KAFIR.
Pada zaman dahulu kala, yaitu pada zaman Bani Israil sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, hidup dua orang bersahabat yang seorang taat menjalankan agamanya sebagai seorang mukmin dan yang seorang lagi sahabatnya yaitu orang yang tidak beriman alias orang kafir, namun keduanya sangat baik dan jujur dalam berusaha dan berdagang. Keduanya melakukan usahanya dengan kejujuran, tidak mengurangi takaran dan ukuran, benar-benar menjalankan perniagaannya sesuai dengan dasar-dasar agama, meskipun salah satu dari keduanya tidak beriman; namun dalam usaha yang baik si Kafir mengikuti aturan sahabatnya. Setelah keduanya meraih sukses dan berhasil menjalankan usahanya, maka mereka berpisah, tidak meneruskan usahanya lagi dengan bekerjasama.Keduanya akan menjalankan usaha sendiri-sendiri. Hasil usaha mereka selama berdagang adalah berjumlah 6000 dinar emas, setelah dibagi rata di antara mereka berdua, maka masing-masing mendapatkan uang sebanyak 3000 dinar emas.
Akhirnya yang tidak beriman ( Kafir) berpindah tempat tingal di lain kota, sedangkan yang beriman ( Mukmin) tetap berada dikota mereka dulu sama-sama berniaga.
Pertemuan Pertama.
Pada suatu saat, setelah mereka itu berpisah sekian tahun lamanya , maka tak disangka-sangka mereka itu dengan kehendak Allah bertemu muka dan mereka saling bertukar pengalaman dan kabar di antara mereka apa yang telah mereka lakukan selama mereka tidak bertemu. Setelah mereka lama berbincang-bincang tentang keadaan pribadi mereka, keluarga dan perkembangan kota dan masyarakat masing-masing, maka sampailah mereka berdua berbincang-bincang tentang usaha mereka setelah mereka berpisah bertahun-tahun lamanya.
Maka terjadilah soal jawab di antara mereka berdua sekitar penggunaan uang masing-masing.
Temannya yang Kafir bertanya kepada si Mukmin: “ Apakah yang telah anda lakukan dengan uangmu sebanyak itu”?. Apakah kau lanjutkan usaha dagangmu ? Ataukah kau membuat usaha selainnya ?.
Jawab si Mukmin: “ Tidak ada, aku tidak membuat usaha apapun dengan uangku itu, baik untuk dagang atau untuk yang lainnya”, kalau engkau bagaimana ?, buat apa saja uang itu” ?.
Jawab sikafir: “Ooo kalau bagi saya uang sebanyak itu, rugi kalau didiamkan saja, tidak dikembangkan dan tidak dibuat usaha… sayang sekali uang dibiarkan saja…makanya saya gunakan yang 1000 dinar untuk membeli tanah pertanian dan perkebunan, saya tanami kebun itu dengan pohon kurma, sayur-mayur, buah-buahan yang lain dan kami gunakan untuk membuat saluran air atau irigasi guna mengairi sawah dan ladang”.
Bertanya lagi si Mukmin: Apakah sisa uang akan kau buat yang lain-lain “?.
Jawab si kafir: “ Oo yaa tentu, saya akan gunakan untuk yang lain-lain lagi proyek yang besar-besar”, dan semuanya itu telah aku laksanakan, bukan sekadar rencana atau angan-angan kosong”.
Mereka akhirnya sama-sama berpisah ke tempat mereka masing-masing dengan membawa perasaan mereka. Yang kafir tentu menyayangkan sahabatnya itu kenapa ia tidak melakukan usaha seperti yang ia lakukan. Sedangkan yang beriman juga sangat menyesalkan kenapa masih juga belum berubah menjadi orang beriman kepada akhirat seperti dirinya.
Setelah terjadi pertemuan itu dan setelah mendengar usaha sahabatnya yang sukses itu, maka si mukmin pulang ke rumahnya, sehingga pada suatu malam sesudah biasanya ia menjalankan shalat malam, ia segera mengambil uangnya 1000 dinar lalu diletakkan uang dihadapannya dan berdo’a: “ Yaa Allah sesungguhnya kawan sekutuku dalam usaha dahulu telah berhasil membeli tanah pertanian dan perkebunan lalu ditanami dengan kurma dan buah-buahan lainnya serta membuat saluran pengairan untuk tanah pertanian sawah dan ladangnya di dunia ini, padahal tidak lama lagi dia akan meninggal dunia menuju akhirat lalu ia meninggalkan harta kekayaannya semua dan pulang tidak membawa apapun, maka dengan uang 1000 dinar ini aku akan membeli tanah pertanian dan perkebunan, korma dan buah-buahan serta sungai-sungainya di dalam sorga di akhirat”.
Kemudian besuk paginya si Mukmin itu membagi-bagikan harta 1000 dinar itu kepada orang fakir, miskin anak yatim yang melarat serta mereka yang berhak menerimanya ikhlas karena Allah.Kemudian setelah peristiwa itu keduanya lama tak bertemu dengan kesibukan masing-masing.
Pertemuan Kedua.
Setelah lama sekali mereka berpisah hingga bertahun-tahun lamanya, maka dengan idzin Allah SWT mereka bertemu lagi di suatu tempat, dan terjadilah saling bicara tentang perkembangan terakhir dan tukar informasi tentang kegiatan mereka sehari-hari seperti biasanya, hingga sampailah mereka bertanya tentang usaha mereka, maka terjadilah tanya-jawab di antara mereka sebagai berikut ini:
Tanya si Kafir kepada si Mukmin: “Apakah yang kau lakukan terhadap hartamu, apakah kau gunakan untuk usaha dagang atau untuk lain-lain usaha” ?.
Jawab si Mukmin: “ Tidak ada sama sekali hartaku digunakan untuk yang kau tanyakan itu” ?, kalau kamu bagaimana ? untuk apa lagi hartamu yang semakin banyak itu”?.
Jawab si Kafir: “Kemarin usaha bisnisku semakin berkembang dan mendapatkan kepercayaan masyarakat, maka aku kembangkan usahaku dengan menambahkan modal yang 1000 dinar lagi untuk membeli beberapa orang hamba sahaya, mereka itu siap melayaniku dan bekerja dengan rajin sekali untukku di dalam perusahaanku, sehingga perusahaan tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk pekerja, karena karyawannya adalah hamba sahayaku sendiri yang aku beli dari pasar budak”.
Tanya si Mukmin: “ Apakah masih ada usaha yang lain-lain lagi “?.Dan apakah rencaana itu benar-benar telah anda lakukan ?.
Jawab si Kafir: “ Yaa tentu ! saya kembangkan lagi usaha dibidang macam-macam pokoknya setiap usaha yang mendatangkan keuangan tentu usahaku ada di situ”.
Setelah perjumpaan itu, maka si mukmin pulang ke rumah, sehingga ketika pada malam hari setelah ia tidur dan bangun di tengah malam, maka ia shalat malam bertahajjud, bermunajat kepada Allah dan berdo’a. Selesai menjalankan shalat malam itu, ia mengambil sisa uangnya 1000 dinar lagi lalu diletakkan didepan kedua tangannya dan bermunajat sebagai berikut:” Yaa Allah ! sesungguhnya mitra usahaku yang kafir dahulu telah mengembangkan usahanya dengan 1000 dinar lagi, dengan dinar itu ia telah memebeli beberapa orang hamba sahaya di dunia ini, padahal ia akan mati dan meninggalkan budak-budaknya itu, ataupun mereka akan mati lalu meninggalkannya sendirian, mereka bekerja untuk melayaninya dan bekerja untuknya sementara waktu saja, maka dengan uangku berjumlah 1000 dinar ini Yaa Allah ! aku akan membeli budak di sisiMu di sorga kelak.”
Ketika pagi-pagi setelah menjalankan shalat shubuh, si mukmin keluar dengan membawa uang 1000 dinar itu lalu ia membagi-bagikannya kepada fakir, miskin dan orang-orang yang memerlukan seperti untuk anak yatim piatu yang sangat kepayahan dan untuk jihad di jalan Allah.
Kemudian mereka berpisah lagi dan lama sekali keduanya tidak berjumpa dalam waktu bertahun-tahun lamanya. Mereka tentu sangat sibuk dengan pekerjaan sehari-hari seperti biasanya. Yang orang kafir menjadi tambah bingung dan heran setelah menjumpai mantan mitra usahanya yang mukmin itu, pikirannya semakin tak menentu dan tidak mengerti kenapa mitranya belum berubah sama sekali, padahal ia telah memberikan semangat agar mengembangkan usaha seperti dirinya, dalam pikiran siKafir berkata dalam hati: “Setelah mendengarkan temannya berhasil, bukannya mengikutinya, malah dihabiskannya hartanya 1000 dinar dibagi-bagi kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka. Itu benar-benar suatu kebodohannya”. Demikian pula dalam pikiran si Mukmin, ia membatin dalam hatinya: “Mengapa mantan mitraku belum juga berubah menjadi seorang yang beriman, malah sibuk dengan usahanya yang demikian hebat, padahal ia semakin tua dan semakin mendekati kematian, mengapa belum juga sadar juga padahal ia telah menyaksikan betapa banyak orang meninggal dunia setiap harinya, apakah ia tak mengerti sama sekali tentang hidup dan kehidupan di dunia ini yang sebenarnya ?, . …. bukankah hidup di
dunia ini merupakan ladang dan kebun bagi akhirat” ?.
sikhasep
September 08, 2003, 09:57
Pertemuan Ketiga
Kemudian setelah mereka dalam keadaan sibuk dalam kegiatannya sendiri-sendiri, tiba-tiba saja Allah mempertemukan keduanya dalam suatu tempat yang Allah kehendaki, dalam pertemuan yang ketiga kali ini, sebagaimana biasa bagi setiap mantan teman usaha, pasti keduanya terlibat pembicaraan dalam segala hal, mulai dari masalah pribadi, keluarga, masyarakat termasuk membicarakan masalah negara segala, sehingga akhirnya keduanya kembali bersoal jawab tentang diri mereka masing-masing untuk mengetahui perkembangan mereka. Terjadilah percakapan sebagai berikut:
Sikafir bertanya si Mukmin: “ Apa lagi yang kau lakukan dengan sisa hartamu yang tinggal 1000 dinar ?, tidakkah engkau gunakan untuk berdagang atau usaha lainnya” ?.
Jawab si Mukmin: “ Tidak ada tuh ! lalu bagaimana dengan hertamu, apakah kau gunakan untuk mengembangkan usahamu, agar semakin hebat dan semakin sibuk”?.
Jawabnya si Kafir kepada si Mukmin: “ Segalanya telah sempurna, hanya satu yang belum sempurna, yaitu tentang keluarga, si Polanah yang cantik itu telah ditinggal mati oleh suaminya, dari dulu aku naksir dan cinta padanya, maka setelah kematian suaminya itu aku akan melamarnya dan berniat menjadi suaminya, makanya kugunakan uangku yang 1000 dinar lagi itu untuk melamarnya dan aku akan menikahinya, dan ternyata setelah aku melamarnya dan hendak menikahinya, ia menerima lamaranku asalkan aku membayar maharnya 1000 dinar dan ditambah lagi sepertinya, jadi aku harus menyediakan uang 2000 dinar untuk menikahinya”.
Bertanya orang mukmin temannya itu: “ Apakah benar-benar telah kau laksanakan pernikahanmu itu dengannya” ?.
Jawabnya: Ya benar-benar telah aku laksanakan, semuanya telah beres, tak ada sesuatupun yang berkurang”.
Mendengarkan cerita mantan mitra kerjanya itu, maka orang mukmin itu pulang ke rumahnya, sehingga ketika malam telah tiba, dan sesudah ia tertidur lelap karena siangnya ia melakukan kegiatan seharian penuh, maka di tengah waktu malam, ia bangun dan menjalankan shalat malam sebagaimana malam-malam biasanya. Selesaia melaksanakan shalat witirnya iapun mengambil sisa uangnya yang masih 1000 dinar lalu ia letakkan didepannya, lalu berdo’a sbb.: “ Yaa Allah mantan mitra kerjaku dahulu telah menikahi wanita janda dengan mahar 1000 dinar ditambah lagi sebanyak itu di antara wanita-wanita dunia, padahal sebentar lagi ia akan meninggal dunia lalu ia pasti meninggalkannya buat orang lain lagi, atau wanita janda itu yang akan meninggal dunia lebih dulu, dan ia meninggalkannya, … Yaa Allah ! sesungguhnya aku dengan uang 1000 yang terakhir ini aku melamar bidadari-bidadari sorga yang berada di sisi Engkau , maka terimalah semua amal-amalku sekarang ini dan aamalku dimasa yang lalu”.
Keesokan harinya, masih pagi-pagi buta, orang mukmin itu membagi-bagikan hartanya yang terakhir kepada fakir miskin yang ia kenal maupun yang ia belum kenal, dibagikan kepada anak yatim yang susah dan bahkan untuk berjihad di jalan Allah.
Akhirnya orang mukmin itu tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini, semua harta hasil usahanya yang berjumlah 3000 dinar itu dihabiskannya untuk berusaha di sisi Allah Yang Maha Kaya Raya.
Pertemuan Keempat
Tak lama kemudian belum lagi ada setahun, terjadi lagi pertemuan yang keempat kalinya antara si mukmin dan sikafir, si Kafir keluar menjumpai mantan mitra kerjanya yang berada diluar kota dengan mengendarai kudanya yang paling bagus dan mahal, maka ketika si Kafir itu berjumpa orang Mukmin itu lantas ia turun dari kudanya dan berjabat tangan dengannya, kemudian dalam pertemuan yang ini langsung saja si Kafir terlibat dalam perbincangan yang serius karena melihat keadaan si Mukmin sangat memperihatikannya, karena disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri, bahwa mantan mitra kerjanya itu tidak memiliki apapun dari harta benda duniawi. Perbincangan diantara keduanya antara lain sbb.:
Si Kafir bertanya kepada si Mukmin sambil belum melepaskan jabat tangannya dengan si Mukmin:”Mengapakah engkau tidak menggunakan hartamu yang banyak itu”?.
Orang Mukmin itu menjawab: “ Yaa aku sebenarnya telah mengambil sel;uruh kekayaanku dan hartaku itu semuanya untuk usaha yang sukses melebihimu, demikian inilah keadaanku setelah mempergunakan seluruh harta kekayaanku, dan bagaimana dengan keadaanmu dengan harta itu”?
Berkata si Kafir kepadanya: “ Aku ingin mendengar cerita langsung dari dirimu , bagaimana kau menggunakan hartamu itu dengan maksimal “?.
Jawab orang Mukmin itu: “Caranya ya aku pinjamkan kepada yang memberikan keuntungan dengan berlipatganda kepada siapapun termasuk kepadamu, asalkan kau percaya dengannya.”
Tanya si Kafir: “ Siapa dia “.
Jawab si Mukmin: “Ya Kepada yang Kaya Raya, sempurna kayanya tiada kekurangan sedikitpun”.
Tanya si Kafir: “Coba terangkan, siapakah dia yang kaya raya itu”.
Jawab orang Mukmin: “ Siapa lagi kalau buka ALLAH TUHANKU DAN TUHANMU juga”.
Berkata si Kafir: “ Apakah kau termasuk yang berkata seperti perkataan orang-orang yang mengaku beriman dengan mengatakan demikian ini : ” Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang membenarkan hari kiamat dan hari pembalasan”
Berkata Orang Mukmin itu: “ Ya benar, aku seperti mereka “.
Bertanya si Kafir: “ Apakah bila kita-kita ini telah meninggal dunia dan telah menjadi tulang-belulang dan menjadi tanah akan dihidupkan kembali dan dibalas amal perbuatan kita “?.
Jawab orang Mukmin itu: “ Ya benar aku termasuk yang membenarkan hari pembalasan itu”.
Selesai soal-jawab antara keduanya dengan panjang lebar itu, maka si Kafir segera pergi meningalkan seorang Mukmin mantan mitra kerjanya dahulu seorang diri. Dan tatkala dia mengetahui bahwa sahabatnya itu tetap pada pendiriannya masing-masing, maka siKafir tidak lagi mau menjumpainya buat selamanya, hingga keduanya meninggal dunia alias mati menjumpai Khaliknya, karena dia pikir sia-sia saja mempengaruhi keyakinannya dan pikirannya.
Akhirnya orang mukmin itu menjalani sisa hidupnya yangb tinggal sebentar lagi dengan kesederhanaannya dan tidak terhormat di kalangan masyarakatnya. Sedangkan sikafir hidup serba mewah, tidak kurang segala sesuatu, terpandang mulia oleh masyarakatnya dan menjabat beberapa jabatan penting di masyarakatnya.
sikhasep
September 08, 2003, 09:57
Setelah Hari Kiamat
Maka ketika hari kiamat kelak, Allah memasukkan orang Mukmin ke dalam sorgaNya. Setelah si Mukmin memasukinya, ia berjalan-jalan di dalamnya dan ketika ia melewati sebidang tanah yang luas dengan perkebunan korma dan buah-buahan lainnya serta sungai-sungai, maka ia bertanya kepada Malaikat sorga: “ Kepunyaan siapa tanah dan kebun ini”?. Maka dijawabnya: “ Semua ini adalah milikmu”. Dengan heran orang Mukmin itu berkata:” Subhaanallah ( Maha Suci Allah ) benar-benar kelebihan amalku dahulu telah sampai kesini, sehingga aku diberi pahala sebanyak ini “ !.
Kemudian ia berjalan-jalan lagi di dalam sorga itu, dalam perjalanan ia menjumpai banyak sekali budak hamba sahaya yang tidak dapat dihitung lagi jumlah mereka. Dia bertanya kepada Malaikat yang menemaninya: “ Milik siapakah mereka itu” ?. Lalu dijawabnya pula: “ Mereka itu adalah milikmu semuanya”. Lalu ketika itu ia berkata: “ Subhaanallaah benar-benar amalku dahulu sewaktu di dunia telah sampai kemari, sehingga aku mendaptkan pahala yang demikian banyaknya”.
Kemudian ia keliling sorga, dalam perjalanan kelilingnya, ia melewati sebuah bangunan yang amat megah berupa bangunan berbentuk kubah terbuat dari permata Yaqut warna merah yang terukir indah mengagumkan setiap orang yang memandangnya, di dalamnya ada bidadari-bidadari bermata jelita. Ia bertanya Malaikat itu: “ Milik siapakah bangunan amat indah ini “ ?. Lalu dijawab: “ Ini semuanya adalah milikmu “. Iapun berucap: Yaa Subahaanallaah ! apakah benar-benar amalku di dunia dulu telah sampai balasannya di sini sehingga aku mendapatkannya ?.
Setelah orang mukmin itu menyaksikan kenyataan bahwa usahanya di dunia dulu membuahkan hasil yang sangat ia cinta dan ridoi serta memuaskan hatinya, ia teringat teman mitra kerjanya yang kafir dulu, maka ia berkata sebagai berikut: “ Sesungguhnya aku dahulu sewaktu di dunia mempunyai seorang teman yang berkata: “ Apakah kau ini sungguh-sungguh termasuk di antara orang-orang yang membenarkan hari berbangkit itu ?. Katanya lagi: “ Apakah bila kita telah mati dan kitra telah menjadi tulang belulang , apakah sesungguhnya kita benar-benar akan dibangkitkan untuk mendapat balasan ?. Maka orang mukmin itu meninjaunya , lalu ia melihat temannya itu berada di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala apinya.
Sorga itu memang tinggi, sedangkan neraka itu rendah dibawah, maka Allah memperlihatkan sahabatnya yang ada di dalam neraka sedang bergejolak apinya, maka orang mukmin itu berkata pula: “Demi Allah sesungguhnya kau hampir-hampir mencelakakan diriku, jika tidaklah karena ni’mat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka ini, maka apakah kita tidak akan mati ?. kecuali kematian kita yang pertama saja sewaktu di dunia, dan kita tidak akan disiksa di akhirat ini. Sesungguhnya ini adalah kemenangan yang amat besar. Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang beramal” ( Al-Qur’an surat 37:51 s/d 61).
Semenjak ia berada di dalam sorga itu, dan telah berlalu baginya semua penderitaannya sewaktu di dunia, tatkala ia menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah, maka ia tidak ingat lagi penderitaan itu, tapi yang ada kesenangan hidup serba mewah yang akan ia alami selama-lamanya dalam kehidupan nyang sebenar-benarnya.
Sebaliknya si kafir yang tinggal di dalam neraka, semenjak itu telah lewat pula segala kesenangan dan kemewaahan hidupnya di dunia, tatkala ia tidak mengingat perintah Allah dan senantiasa melanggar larangan-laranganNya, padahal hidup di dunia itu sementara saja, sehingga yang ia sesali saat dalam neraka adalah mengapa dahulu tidak mengikuti jejak temannya yang sering mengingatkan padanya agar bersiap-siap untuk kehidupan yang abadi dan sebenarnya kehidupan.
TAMMAT.
sikhasep
September 12, 2003, 09:06
Seruan dari Gedung Putih
Robert Dickson Crane
Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? (QS 95:8)
Crane adalah lulusan Harvard Law School. Dia pernah menjabat sebagai penasihat politik Luar negeri untuk Presiden Richard Nixon dari 1963 sampai 1968, dan untuk waktu yang sangat singkat menjabat wakil direktur Dewan Keamanan Nasional pada masa pemerintahan Nixon, serta menjadi duta besar Presiden Reagan untuk United Arab Emirates (UAE).
Sekarang, Crane memimpin Bagian Hukum di Dewan Muslim Amerika. Organisasi yang berpusat di Washington, D.C. ini mengkoordinnsi akfivitas yang tersebar di seluruh dunia untuk menentang dengan tegas diskriminasi terhadap kaum Muslimin, menimbulkan kesadaran politik orang-orang Muslim, dan membentuk konsensus tentang pokok persoalan yang ada dalam masyarakat Muslim. Dia mengembangkan suatu strategi baru untuk "menanamkan pemikiran Islami dalam bentuk yang sistematis dan profesional ke dalam bentuk kebijaksanaan masa kini" di Washington.
Dasar pemikirannya bersifat teologis: Islam tidak memisahkan hal-hal yang sakral dan religius dari hal-hal yang sekular. Dia dan para tradisionalis Islam lain berargumen bahwa orang Kristen menganggap penciptaan atau dunia sebagai "perbuatan dosa" dan "kejahatan" dan menggambarkan iman sebagai satu-satunya penyelamat; dan demikian pula ajaran Buddha menganggap penciptaan atau dunia itu "jahat" dan penyelamatan hanya datang melalui penolakan hawa nafsu. Dalam Islam, sebaliknya, penciptaan atau dunia dianggap sesuatu yang baik merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah, dan peran manusia adalah mengelola ciptaan tersebut dengan cara yang etis agar dapat melayani kebutuhan manusia.
Selama berjam-jam Crane berbicara tentang pohon silsilah keluarga Cherookeenya, akarnya berawal dari Inggris abad tujuh belas, juga tentang diplomasi "strategi kejiwaan", koridor kekuasaan, dan sebuah perjamuan makan di Bahrain yang mengubah pemikirannya tentang Islam.
Keluarga Crane datang ke New Haven, Connecticut, pada 1636. Beberapa di antara mereka menetap di Elizabethtown (sekarang Elizabeth), New Jersey.
Di pihak ibu saya, mengalir darah bangsa Eropa yang datang ke Amerika pada 1608 menumpang kapal kedua yang pergi ke Jamestown. Kapal itu penuh dengan tahanan. Keluarga ibu saya merupakan para pengutang yang dibebaskan dari penjara dengan syarat mereka harus bekerja selama tujuh tahun di negara jajahan. Ini hampir seperti sebuah hukuman mati.
Saya dilahirkan di Cambridge, Massachusetts. Ayah saya mengajar ekonomi di Harvard selama sepuluh tahun. Ayah dari ayah saya sendiri tidak berhasil lulus dari tingkat enam. Sebenarnya, dia adalah seorang gelandangan di tahun '80-an dan '90-an pada abad yang lalu. Dia meninggalkan rumah setelah tingkat enam dan mengembara selama dua belas tahun. Dia menikahi nenek saya yang berasal dari suku Indian. Nenek memutuskan bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik. Kedua anak lelakinya meraih gelar doktor, dan kedua putrinya meraih gelar sarjana. Mereka merupakan generasi pertama yang keluar dari pengembaraan dan tanah pertanian yang kotor di Indiana selatan-tengah.
Keluarga ibu saya sangat kaya. Ayah nenek saya adalah salah satu penyokong financial Universitas Northwestern. Ibu saya menyebut ayah seorang barbar. Mereka tidak dapat hidup bersama: dua orang yang mempunyai pandangan hidup yang sama sekali berbeda. Bagi yang seorang, satu-satunya yang menjadi masalah adalah uang; dan bagi yang lain, satu-satunya yang penting adalah menjalani hidup yang baik dan merasa puas dengan nasib.
Saya kuliah di Harvard, kemudian drop-out dan melanjutkan tingkat sarjana muda di Northwestern. Keluarga saya ingin saya menjadi presiden perusahaan perangkat keras keluarga. Saya bekerja di sana dua puluh jam seminggu. Saya mempelajari segala sesuatunya dari bawah. Kemudian keluarga meminta agar saya melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Harvard. Mereka memperhitungkan bahwa itu lebih baik daripada mendapatkan gelar sarjana muda. Lalu saya kuliah di jurusan Hukum Harvard. Tetapi saya berubah pikiran. Mereka menginginkan saya kuliah di sana agar mendapatkan latar belakang pendidikan yang memampukan saya mengendalikan perusahaan tersebut. Tetapi saya ke sana untuk mempelajari masalah keadilan.
Ketika masih di Cambridge saya menulis tentang strategi ruang angkasa Soviet. Ketika pecah Krisis Misil Kuba, saya menulis sebuah artikel panjang tentang strategi perang psikis. Saya sudah menduga bahwa Soviet akan memenangkan krisis misil itu. Setiap orang berpikir bahwa Amerika Serikat akan menundukkan mereka, tetapi bagi saya jelas bahwa tujuan Krushchev bukanlah mengintimidasi atau menggunakan misilnya untuk melawan Amerika Serikat. Tujuannya adalah mengkonsolidasi kekuatan Komunis di Kuba. Caranya adalah dengan memasang misil-misil tersebut, kemudian menariknya kembali dengan jaminan komitmen Amerika agar tidak mencampuri urusan Fidel Castro, itulah yang sebenarnya terjadi.
Yang harus diyakini Krushchev adalah bahwa Kennedy tidak akan meletakkan jarinya di tombol itu, dan itu tidak akan lepas dari pengamatannya. Krushchev benar-benar salah perhitungan, sebab Kennedy mengidap penyakit takut pada perang nuklir. Dia memperhitungkan bahwa jika dia tidak segera memindahkan misil-misil itu dari sana, situasinya akan semakin memanas dan mungkin akan terjadi perang nuklir. Apabila Anda sangat takut pada perang nuklir, Anda harus mengambil langkah yang tegas. Jadi dia bersedia menanggung risiko untuk menghindari konfrontasi selanjutnya. Jika mereka dapat meyakinkan orang-orang Amerika bahwa ada bahaya yang sebenarnya, maka mereka dapat memanipulasi kita. Dan kita tidak bisa membayangkan skenario pasca-perang nuklir. [Sedang] mereka bisa.
Saya mempelajari orkestrasi pemikiran Amerika oleh Soviet, dan Richard Nixon membacanya di atas pesawat dari California ke New York. Dia memanggil saya segera setelah mendarat, pada Januari 1963, dan bertanya apakah saya bersedia menjadi penasihatnya untuk politik luar negeri.
sikhasep
September 12, 2003, 09:06
Kami membagi dunia menjadi beberapa area dan pokok persoalan, lalu saya akan mempelajari majalah profesional untuk mendapatkan artikel-artikel terbaik pada setiap pokok persoalan. Kemudian saya secara teratur menggabungkan semua artikel itu menjadi buku ringkasan untuk dibacanya, sebab dia orang yang sangat gemar membaca.
Nixon tertarik untuk membaca tentang bermacam-macam agama. Dan dia ingin mengetahui tentang Islam. Saat itu saya telah membaca sedikit tentang Islam, sebab saya pikir Islam akan menjadi sekutu Amerika Serikat yang paling kuat dan tahan lama untuk melawan Komunisme --sebab kami berdua, saya dan Nixon, memandang Komunisme sebagai ancaman dunia.
Pada waktu itu, dari 1963 sampai 1966, saya mendesak Nixon untuk kembali memimpin. Saya juga menasihati Gerard Ford tentang berbagai majalah, dan saya juga menjadi penasihat untuk penimpin-pemimpin besar partai Republik.
Setelah pemilihan pada 1966, terpilihlah 10 anggota kongres baru, timbul rasa kepercayaan pada partai Republik. Saya diundang sebagai staf ahli pertahanan partai Republik untuk memberikan pengarahan tentang masalah-masalah pertahanan kepada seluruh anggota baru kongres dari partai Republik. Kami mengadakan sesi pengarahan itu selama tiga hari.
Segera setelah itu saya pergi ke kantor Nixon. Di situ ada Pat Nixon yang sedang sibuk menuliskan alamat pada kartu-kartu Natal. Biasanya dia mengirimnkan dua atau tiga ratus kartu, tetapi waktu itu kantornya penuh dengan ribuan kartu, dan saya berkata, "Ah, fantastic, boss akan mencalonkan diri lagi."
Pat berkata, "Ya, dan saya mendapat firasat yang mengerikan bahwa dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Saya berkata, "Hei, Anda pasti bergurau. Itu sama sekali tidak masuk akal."
Dia berkata, "Saya tahu, tetapi dia akan menghancurkan dirinya sendiri."
Dia begitu cemas dengan keinginan Nixon untuk mencalonkan diri. Kalau saya ingat-ingat kembali, saya pikir dia melihat dua kepribadian yang dimiliki Nixon: yang satu, kepribadiannya yang asli --Anda tidak akan dapat menemukan orang yang lebih baik dari Nixon; yang lain adalah kepribadiannya yang timbul jika dia sedang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan-- sebab dia berada di jalur yang salah, tapi ingin berhasil. Itulah sebabnya dia menarik Henry Kissinger --untuk mendapatkan kredibilitas dengan apa yang saya rebut sebagai pemerintahan sekular. Itulah penyebab kasus Watergate: Kepribadiannya yang salah timbul.
Ketika sedang memperjuangkan kekuasaannya, dia menjadi seorang petarung jalanan, dan Nixon yang baik lenyap begitu saja; dan saya pikir itulah yang diketahui oleh Pat Nixon --bahwa hal ini akan terjadi, sebagaimana kenyataannya, ketika dia mencapai Gedung Putih.
Kissinger menyingkirkan saya selama kampanye 1968. Dia menugaskan saya untuk menulis lima makalah tentang lima pokok persoalan politik luar negeri. Saya mengerjakannya masing-masing lima puluh halaman. Begitulah cara Kissinger menghindari lawan-lawannya. Dia akan membuat mereka sibuk. Kelima makalah tersebut saya jilid menjadi satu buku. Dan Gerard Ford menuliskan pendahuluan yang menarik. Ford memanggil saya, dan berkata, "Engkau dapat mempublikasikan bukumu dengan pendahuluan saya, tetapi saya ingin memberi komentar: Dalam setiap ulasan dari masing-masing pokok persoalan besar (yang tertulis dalam buku) ini, engkau dan Kissinger sama sekali tidak sependapat. Demi kebaikanmu sendiri, jangan publikasikan buku ini. Lupakan saja opini-opinimu. Lanjutkanlah dan lakukan apa yang telah diperintahkan kepadamu."
Tetapi saya masih tetap mengatakan apa yang saya pikirkan.
Nixon menunjuk saya menjadi wakil direktur perencanaan untuk Dewan Keamanan Nasional. Tetapi Direkturnya adalah Kissinger. Lalu saya datang untuk bekerja, mereka menunjukkan pada saya di mana posisi saya dalam jajaran staf. Pada hari berikutnya, saya datang lagi tapi ternyata saya telah disingkirkan. Saya dipecat oleh Kissinger setelah bekerja satu hari. Kissinger tidak punya pilihan. Anda harus bekerja dengan orang-orang yang akan mendukung Anda. Maka dia memecat saya.
***
Saya tidak pernah memikirkan Islam secara serius. Yang saya ketahui tentang Islam hanyalah bahwa orang Muslim yang baik harus membunuh orang Kristen dan surga orang Muslim seperti rumah pelacuran. Saya sangat muak. Saya tidak pernah berhasrat mempelajari agama ini. Agama ini sangat primitif. Dan saya menasihati Nixon untuk menggunakan Islam sebagai sekutu untuk melawan Komunis. Saya pikir Islam adalah agama yang menjijikkan, tetapi paling tidak, dapat digunakan untuk melawan Komunisme.
Tetapi kemudian pada musim panas tahun 1977, saya sedang berada di Bahrain, suhu jauh di atas 100 derajat. Istri saya ingin melihat Al-Muharraq, yang merupakan kota dagang tertua, yang hanya terdiri dari lorong-lorong sempit, seperti sebuah jaringan jalan yang semrawut dan sengaja dibuat untuk menjauhkan para pembajak agar tidak menyerbu. Kami ingin melihat istana-istana pangeran dagang di tengah kota Al-Muharraq. Kami tersesat di tengah keramaian itu, dan saya merasa akan pingsan. Saya mungkin tidak sadarkan diri selama dua atau tiga menit.
Ada orang tua lewat dan dia tahu saya dalam kesulitan. Dia mengajak kami ke rumahnya yang terletak di seberang jalan. Kami menghabiskan sisa hari itu di sana. Kami ngobrol sembari makan-makan. Kami berbicara tentang berbagai hal, dan dia mengatakan bahwa dia seorang Muslim. Saya sungguh terpesona karena dia benar-benar orang baik. Kami tidak pernah membicarakan tentang Islam. Kami berbincang tentang apa-apa yang baik di dunia, tentang hal-hal yang buruk di dunia, dan tentang apa yang penting di dunia. Juga tentang peran Tuhan di dunia, tetapi tidak mengenai agama Islam.
Saya pikir, ini sungguh aneh. Orang ini membicarakan segala sesuatu yang saya percaya. Tetapi dia bilang dia seorang Muslim. Pasti ada sesuatu yang salah. [Tertawa] Saya menyimpulkan sebaiknya saya mulai mempelajari agama Islam. Nyatalah bahwa saya telah dicuci otak.
sikhasep
September 12, 2003, 09:08
Saya mempelajari agama itu, dan menyadari bahwa segala sesuatu dalam Islam adalah benar-benar apa yang selama ini selalu saya yakini. Tetapi saya tidak menyukai aturan untuk membungkuk (ruku'). Bagi saya hal itu menjijikkan. Anda hanya membungkuk pada seorang raja atau seseorang yang terhormat, dan saya tidak akan membungkuk kepada siapa pun.
Saya menghadiri sebuah konferensi tentang gerakan Islam pada 1980 di New Hampshire. Seluruh pemikir besar dari gerakan Islam dunia hadir di sana. Ketika menjelang tengah hari, orang-orang Amerika yang lain turun untuk makan siang dan saya ingin makan siang bersama tamu-tamu asing, karena saya ingin belajar sebanyak mungkin dari mereka. Dan dalam perjalanan ke lantai bawah, kami masuk ke sebuah ruangan yang lantainya ditutupi permadani. Saya kira kami akan makan siang. Kemudian saya ingat bahwa hari itu adalah hari Jumat. Mereka akan melakukan shalat Jumat. Saya memutuskan sebaiknya saya meninggalkan mereka. Tetapi saya pikir itu akan menyinggung perasaan mereka. Lalu saya hanya duduk di bagian belakang ruangan.
Imamnya adalah Hasan Al-Turabi.1 Saat itu, dan sampai sekarang, dia merupakan orang Muslim yang terkemuka di dunia. Ketika dia sujud, pikiran saya terhenyak; dia bersujud kepada Allah. Saya belum benar-benar menghayatinya. Yang saya lihat hanyalah gerak membungkuk --menyembah, tetapi kemudian saya menyadari bahwa dia membungkuk kepada Allah, dan jika dia dapat bersujud kepada Allah maka itu artinya dia sepuluh kali lebih baik dari saya. Saya memutuskan bahwa saya juga harus bersujud. Saat itu juga. Nah, begitulah saya menjadi seorang Muslim. Saya mendapat teladan darinya.
Sabtu yang lalu saya terpilih sebagai Presiden untuk Muslim American Bar Association. Asosiasi ini sangat diperlukan. Saya ingin mengubahnya menjadi American Bar Association, untuk menyoroti berbagai pokok persoalan utama dalam perspektif Islami.
ABA melakukan segala sesuatu yang harus dilakukan orang Muslim, tetapi orang Muslim tidak berpartisipasi di dalamnya. Tidak ada paradigma yang menyeluruh untuk ABA. Kaum Muslimin mempunyai paradigma menyeluruh yang sama dengan paradigma yang dimiliki oleh Para Pendiri Amerika, dan tugas kami adalah menghidupkan kembali paradigma yang murni tersebut, yaitu bahwa kebenaran datang dari Tuhan --bukan diciptakan oleh manusia; dan bahwa kebenaran adalah satu-satunya sumber keadilan-- kebenaran yang datang dari sumber yang lebih tinggi, melalui membaca alam, melalui wahyu (tiga agama yang diwahyukan). Karena kebenaran berasal dari sumber tersebut, keadilan merupakan ekspresi dari kebenaran ini, dan keadilan diuraikan oleh Para ulama Islam dalam bentuk hak-hak manusia, atau pertanggungjawaban manusia. Enam hak utamanya adalah kehidupan, persamaan, pemilikan pribadi, kebebasan politik, martabat, serta kebebasan dan tugas untuk mencari ilmu. Dalam setiap unsur tersebut terdapat sub-sub bagian yang harus diikuti, dan berdasarkan itu kita dapat mengembangkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang spesifik pada bidang pendidikan, hukum, hak milik pribadi, pokok persoalan apa pun.
Kami telah mengidentifikasi lebih dari 100 pengacara Muslim di Amerika Serikat, tetapi saya yakin masih ada ratusan lagi. Para pengacara imigran yang berusia tiga puluhan atau lebih tidak ingin membela kaum Muslimin. Mereka tidak ingin menodai reputasi mereka. Mereka tidak ingin dikenal sebagai pengacara Muslim. Banyak generasi yang lebih muda berkeinginan menjadi pengacara, dan mereka ingin bergerak aktif secara social.
Sangat jelas bahwa terdapat banyak prasangka dalam sistem pengadilan kita terhadap kaum Muslimin. Sebagai contoh, di Alaska, seorang imam dipukuli sampai babak belur oleh penjaga keamanan di bandara Anchorage. Mereka membuat tangannya cacat seumur hidup, tulang iganya patah. Itu terjadi empat tahun yang lalu, dan dia masih dalam kondisi yang buruk. Dia mendapat seorang pembela, dan akhirnya memenangkan kasusnya setelah empat tahun. Mereka menghukum polisi itu karena salah menangkap dia dan membuktikan bahwa imam itu tidak bersalah, tetapi pembelanya sangat miskin, sehingga juri menolak untuk memberikan ganti rugi atas biaya pengobatannya. Jika dia mempunyai seorang pengacara yang baik untuk berkompromi, dia dapat memenangkan kasus ini dalam waktu enam bulan, bukan empat tahun, dan mungkin dia akan memperoleh sejuta dolar. Dan dia berkata dia akan memberikan uang itu kepada dana pembelaan hukum. Dia merupakan contoh yang khas di mana orang-orang Muslim hanya merupakan pecundang dalam sistem hukum Amerika, maka kami membentuk American Muslim Legal Defense Association untuk menangani kasus-kasus yang bersifat pribadi.
Kita membutuhkan suatu gerakan umum tradisionalis untuk menggalang kedua partai agar berpartisipasi dalam semua lembaga di Amerika. Saya tidak menganggap diri saya sebagai pendukung partai Republik atau Demokrat, sebab saya berpendapat bahwa kita harus bekerja dalam semua partai.
Pada dasarnya terdapat kekosongan religius dalam lembaga-lembaga kita. Di bidang media, pendidikan, pemerintahan, bahkan di bidang kehakiman. Semua ini telah disekularkan secara terus menerus sepanjang abad yang lalu, dalam pertentangan yang menyeluruh dengan Amandemen Pertama, yang dirancang tidak untuk menjauhkan agama dari kehidupan masyarakat, tetapi untuk menjauhkan pemerintah dari agama. Asumsi dari hampir seluruh pendiri Amerika adalah tak ada satu masyarakat pun yang dapat menjadi makmur kecuali jika masyarakat tersebut berdasarkan pada moralitas dan moralitas tersebut didasarkan pada sumber transenden. Orang-orang memperdebatkan bahwa Jefferson adalah seorang ateis. Mereka menyebutnya sebagai bapak sekular Amerika. Justru sebaliknya, dia bahkan tidak dapat membayangkan sebuah Amerika yang sekular. Dia berkata bahwa kunci demokrasi adalah pendidikan; esensi pendidikan adalah pendidikan moral, kebajikan, dan itu harus didasarkan pada sumber yang lebih tinggi daripada sekadar pemikiran manusia. Dia percaya pada demokrasi, dalam arti, bahwa orang yang memerintah merupakan subjek yang harus memiliki moralitas yang lebih tinggi berdasarkan sumber yang lebih tinggi. Lembaga-lembaga umum kita menganut paham sekular tapi masyarakatnya tidak. Dan ini merupakan persoalan Amerika yang sesungguhnya, karena kita tidak akan pernah mencapai konsensus selama masih ada jurang pemisah antara rakyat dan lembaga yang memerintah.
Asumsi semua pendiri Amerika adalah bahwa ini merupakan eksperimen yang hebat untuk mengetahui apakah suatu masyarakat dapat dipimpin oleh orang-orang yang dibimbing Tuhan. Dan sampai sekarang kita masih gagal dalam eksperimen tersebut.
--------------------------------
Catatan kaki:
1 Hasan Al-Turabi, seorang tokoh terkemuka gerakan Islam internasional dan pemikir yang berpengaruh. Dia kemudian diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Arab dan Islam pada bulan April 1991 oleh utusan dari 55 negara. Dia meraih gelar sarjana hukum dari University of Khartoum pada 1955, meraih gelar master di bidang hukum pada 1957 di London, dan mendapatkan gelar doktor dari Sorbonne pada 1964. Dia berusaha untuk mengimplementasikan syari'at di Sudan.
--------------------------------
Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa
Judul Asli: American Jihad, Islam After Malcolm X
Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York 1993
Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Jumada Al-Tsaniyah 1416/Oktober 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038
AlfaOmega
September 22, 2003, 11:41
ALLAH SEBAGAI SAKSI DAN PENJAMIN
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw.,
beliau bercerita, "Sesungguhnya ada seorang Bani Israel yang memohon
kepada Bani Israel lainnya untuk meminjaminya uang seribu dinar.
Orang yang meminjamkan berkata, 'Datangkanlah saksi-saksi. Aku ingin
mempersaksikan peminjaman ini kepada mereka.' Peminjam
berkata, 'Cukuplah Allah sebagai saksinya.' Orang yang meminjamkan
berkata, 'Datangkanlah seorang penjamin.' Peminjam berkata, 'Cukuplah
Allah sebagai penjamin.' Orang yang meminjamkan berkata, 'Kamu
benar.' Kemudian dia memberikan uang itu hingga tempo tertentu.
Peminjam uang pergi ke laut untuk memenuhi hajatnya. Kemudian dia
merasa sangat membutuhkan perahu untuk mengantarkan uang pinjamannya
yang sudah jatuh tempo pembayarannya. Namun, dia tidak menemukannya.
Kemudian dia mengambil kayu dan melubanginya. Lalu dia memasukkan ke
dalamnya uang seribu dinar berikut secarik tulisan yang ditujukan
kepada pemilik uang. Kemudian melapisinya agar tidak terkena air.
Lalu dia membawa kayu ke laut. Dia berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya
Engkau mengetahui bahwa saya telah meminjam uang seribu dinar kepada
si Fulan. Dia meminta penjamin dariku, kemudian kukatakan bahwa
cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia pun rela. Dia memintaku
mendatangkan saksi, lalu kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai
saksi, dan dia pun rela. Sesungguhnya aku telah berusaha untuk
mendapatkan perahu yang akan kugunakan untuk mengantarkan uangku
kepadanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kini, kutitipkan uang itu
kepada-Mu.' Kemudian dia melemparkan kayu itu hingga tenggelam. Dia
pun pergi. Walau demikian, dia tetap berusaha mencari perahu yang
menuju ke negeri orang yang meminjamkan.
Kini, orang yang meminjamkan uang pergi untuk menanti. Barangkali ada
perahu datang membawa piutangnya. Tiba-tiba dia menemukan kayu yang
berisi uang itu. Dia membawanya pulang sebagai kayu bakar untuk
istrinya. Tatkala dia membelahnya, dia menemukan uang dan secarik
pesan. Di lain pihak, si peminjam pun datang juga membawa seribu
dinar. Dia berkata, 'Demi Allah, sebelum aku datang sekarang, aku
senantiasa berusaha untuk mendapatkan perahu guna mengantarkan
pinjaman kepadamu.' Orang yang meminjamkan berkata, 'Apakah kamu
mengirimkan sesuatu kepadaku?' Peminjam berkata, 'Bukankah telah
kuceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan perahu, sebelum saya
mendapatkannya sekarang ini?' Orang yang meminjamkan
berkata, 'Sesungguhnya Allah telah mengantarkan pinjamanmu yang kau
taruh dalam kayu. Maka gunakanlah uangmu yang seribu dinar itu dengan
baik.'"
Sanad riwayat ini sahih. Al-Bukhari meriwayatkan pula kisah ini dalam
bentuk yang ketat.
AlfaOmega
September 25, 2003, 16:45
HIDANGAN
Abu Ja'far bin Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia
menceritakan tentang Isa. Isa berkata kepada Bani Israel, "Maukah
kamu berpuasa tiga hari karena Allah. Kemudian, jika kamu memohon
sesuatu kepada-Nya, niscaya Dia memberi apa yang kamu pinta, sebab
pahala orang yang beramal itu bagi orang yang beramal karena Dia."
Mereka pun melakukannya, lalu berkata, "Hai pengajar kebaikan, kamu
mengatakan kepada kami bahwa pahala orang yang beramal itu diberikan
kepada orang yang beramal karena Dia, kamu pun menyuruh kami berpuasa
selama tiga hari lalu kami melakukannya, dan tidaklah kami bekerja
pada seseorang selama 30 hari melainkan dia memberi kami makanan
tatkala persediaan makanan kami habis. Apakah Tuhanmu mampu
menurunkan hidangan dari langit?"
Maka Isa berkata, "Bertakwalah kepada Allah, jika kamu merupakan
orang-orang yang beriman." Mereka berkata, "Kami ingin memakannya
sehingga hati kami menjadi tenteram dan kami pun yakin bahwa kamu
telah berkata benar kepada kami, lalu kami akan menjadi orang-orang
yang menyaksikan hidangan itu."
Isa putra Maryam berdoa. "Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah suatu
hidangan dari langit yang akan menjadi tanda yang menunjukkan
kekuasaan-Mu; anugerahkanlah rezeki kepada kami dan Engkaulah pemberi
rezeki yang paling utama."
Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu
kepadamu. Barangsiapa diantara kamu kamu yang kafir sesudah itu, maka
sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan suatu azab yang belum pernah
Kutimpakan kepada seorang makhluk pun." Ibnu Abbas melanjutkan: maka
malaikat terbang membawa hidangan dari langit. Hidangan itu berisi
tujuh jenis ikan dan tujuh jenis roti. Malaikat meletakkannya di
hadapan mereka. Orang yang terakhir memakannya seperti halnya orang
yang pertama memakannya. Demikian pula kisah ini diriwayatkan oleh
Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ammar bin Yasir dari Nabi saw,
beliau bersabda, "Hidangan itu diturunkan dari langit. Ia berisikan
roti dan daging. Mereka diperintahkan supaya jangan berkhianat dan
menyisakan untuk esok. Lalu mereka berkhianat dan menyimpannya. Maka
mereka dialih rupakan menjadi kera dan babi."
*******
(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putra
Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada
kami?" Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu
orang yang beriman".
Mereka berkata; "kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram
hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada
kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".
Isa putra Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi
hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang
datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri
rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama".
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu
kepadamu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan
itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang
tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia".
( al-Maa-idah:112-115)
AlfaOmega
September 29, 2003, 10:49
Ali bin Abi Talib r.a berkata :
"Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar,
maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi, lalu
berkata: Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat yang
telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S.yang tidak diberikan kecuali
kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.'
Lalu Rasullullah S.A.W.bersabda: 'Silahkan bertanya.'
Berkata orang Yahudi:'Silahkan terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang
diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'
Sabda Rasullullah S.A.W.:'Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka
bertasbihlah segala sesuatu kepada TuhanNya,
Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi,
Sembahyang Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S.,maka
setiap mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa
meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.
Sembahyang Isya' itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul
sebelumku,
Sembahyang Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini kerana apabila matahari
terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap
orang kafir.'
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka
mereka berkata: 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, katakanlah
kepada kami apakah pahala yang akan di dapati oleh orang yang sembahyang.
Rasullullah S.A.W bersabda:
'Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sembahyang yang pertengahan,
Sembahyang Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam, orang mukimin yang
mengerjakan sembahyang pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya wap api
neraka Jahanam pada hari Kiamat.'
Sabda Rasullullah S.A.W. lagi: 'Manakala sembahyang Asar, adalah saat di
mana Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi. Orang mukmin yang mengerjakan
sembahyang Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'
Setelah itu Rasullullah S.A.W. membaca ayat yang bermaksud:'Jagalah
waktu-waktu sembahyang terutama sekali sembahyang yang pertengahan,
sembahyang Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S. diterima.
Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sembahyang Maghrib kemudian meminta
sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan.
'Sabda Rasullullah S.A.W. : 'Sembahyang Isya' (atamah). Katakan kubur itu
adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin
yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan sembahyang Isya'
berjamaah, Allah S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan
diberinya cahaya untuk menyeberangi titi sirath.'
Sabda Rasullullah S.A.W. seterusnya: 'Sembahyang Subuh pula, seorang mukmin
yang mengerjakan sembahyang subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberi
oleh Allah S.W.T. dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan dari api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka
mereka berkata: 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad
(S.A.W). Kini katakan pula kepada kami semua kenapakah Allah S.W.T.
mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?'.
Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon yang
dilarang,lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam A.S.selama 30
hari. Kemudian Allah S.W.T. mewajibkan ke atas keturunan Adam A.S. berlapar
selama 30 hari. Sementara izin makan diwaktu malam itu adalah sebagai kurnia
Allah S.W.T. kepada makhlukNya.'
Kata orang Yahudi: 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan
itu. Kini terangkan kepada kami ganjaran pahala yang diperolehi dari puasa
itu.'
Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan
dengan ikhlas kepada Allah S.W.T. dia akan diberi oleh Allah S.W.T. tujuh
perkara:
1. Akan dicairkan daging haram yg tumbuh dari badannya(daging yang tumbuh
dengan makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan dari merasa lapar dan haus.
5. Diringan baginya siksa kubur (siksa yang sangat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T. pada hari Kiamat untuk menyeberang
titian sirath.
7. Allah S.W.T. akan memberinya kemudian di syurga.'
Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada
kami kelebihanmu antara semua para nabi-nabi.'
Sabda Rasullullah S.A.W.:'Seorang nabi mengunakan doa mustajabnya untuk
membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya
gunakan memberi syafaat pada umat saya di hari kiamat).'
Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, kini kami
mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah
(kami percaya bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan Allah).'
"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan berilah berita
gembira kepada orang2 yang sabar." (Al-Baqarah : 155)
Disebutkan didalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk
dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing
masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK
MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.
Bertanya orang kepada Rasulullah saw : "Bagaimana kita dapat mengenali
ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?"
Maka jawabnya Rasulullah saw,"Umat dikenal kerana WAJAH mereka putih
disebabkan oleh WUDHU'."
Bila qiamat datang maka malaikat datang kekubur orang mukmin sambil
membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD
tidak dihilangkan. Maka memanggillah dari zat yang memanggil.
Bukanlah debu itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu.
KEIMANAN mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian
Siratul Mustaqim dan memasuki alam syurga, sehingga setiap orang melihat
para mukmin itu mengetahui bahwa mereka adalah pelayan Ku dan hamba-hambaKu.
Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya
TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :
1. Para Nabi
2. Para Ahli Jihad
3. Para Alim Ulama
4. Para Syuhada
5. Para Penghafal Al Quran
6. Imam atau Pemimpin yang Adil
7. Tukang Azan
8. Wanita yang mati kelahiran/beranak
9. Orang mati dibunuh atau dianiaya
10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka itu dari
kalangan orang yang beriman.
Didalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra sabda Rasulullah
saw:
Apabila datang hari qiamat dan orang orang yang berada di dalam kubur
dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan :
Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa
(ahli puasa) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka
ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah buahan
syurga.
Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekelian kawan-kawan dan semua
anak-anak yang belum baligh,lalu mereka semua datang dengan membawa dulang
dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh
dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat banyak
melebihi daun-daun kayu dibumi.
Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada
mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swt di dalam
Surah Al-Haqqah bermaksud :
"Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan
pada HARI yang telah LALU itu."
* Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu yang
bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya
meskipun dia sudah mati. "Dan (ingatlah) Allah sentiasa mengetahui dengan
mendalam akan apa jua yang kamu lakukan." (Surah Al-Baqarah : 237 )
sikhasep
September 29, 2003, 10:58
Mantan Juara Dunia Snooker Inggris Masuk Islam
Publikasi 29/09/2003 15:14 WIB
eramuslim - Satu lagi public figure dari Inggris di bidang olahraga bola-sodok, menyatakan diri masuk Islam. Dia adalah Ronnie O'Sullivan. Harian Inggris hari Ahad (28/9) ramai memuat berita yang cukup mengejutkan banyak pihak tentang masuk Islamnya Ronnie, seorang mantan juara snooker dunia terkenal. Menurut Ibunya, Maria, kepada harian The Sunday Times (ST), “Diri Ronnie sekarang jauh lebih baik sejak ia berpindah agama. Saya harap itu akan membuatnya stabil.”
Menurut penuturan Maria, petinju Inggris asal Yaman, Prince Naseem Hamed yang membantu anaknya untuk menerima Islam sebagai agama barunya. “Prince Naseem merupakan teman baik Ronnie,” ucap ibu Maria kepada harian ST. Sang Ibu mengatakan bahwa Naseem menjadi faktor utama dalam peng-Islaman Ronnie.
O’Sullivan, pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan Kristen Roma Katholik di Timur kota London, telah memutuskan untuk pindah memeluk agama Islam di Pusat Kebudayaan Islam di London dalam suatu upacaya singkat pada bulan lalu.
Menurut BBC online, O’Sullivan yang dijuluki “Rocket” karena kecepatan menghabisi bola snooker. Ia bersama Steve Davis, Stephen Hendry, John Parrott dan John Higgins sebagai satu-satunya pria yang memenangkan kejuaraan dunia dan Inggris di tahun yang sama. O’Sullivan dijuluki oleh Peter Ebdon dengan Mozart-nya permainan snooker. Dalam usia yang relatif muda 17 tahun, ia telah memenangkan peringkat turnamen dengan mengalahkan Stephen Hendry di tahun 1993 di kejuaraan snooker Inggris.
O’Sullivan bergabung dalam barisan olahragawan Barat yang masuk Islam seperti Muhammad Ali dan Mike Tyson. Namun seorang selebritis terkenal Inggris yang memeluk Islam jauh sebulum O’Sullivan adalah bintang penyanyi pop Cat Stevens yang sekarang dikenal dengan nama Yusuf Islam.
O’Sullivan dalam melalui ujian masa kecilnya, di mana bapaknya dipenjara karena kasus pembunuhan. Sementara ibunya ditahan karena pelanggaran pajak. Pada tahun 2001 ia berhasil menjuarai kejuaraan snooker dunia.
Menurut Agence France-Presse (AFP), walau talentanya O’Sullivan yang mengagumkan, ia yang kini berusia 27 tahun harus berperang dengan kecanduan minuman dan obat-obatan serta depresi.
Masyarakat Inggris menaruh harapan besar pada O’Sullivan untuk maju satu langkah lagi untuk mengangkat tropi snooker dunia. Ia memenangkan gelar juara di Inggris untuk kedua kalinya di tahun 1997, dan mencapai semi-final dalam Kejuaraan Kedutaan Internasional di tahun 1998 dan 1999.
O’Sullivan telah mengangkat dunia snooker dengan kemampuan alami dan penampilannya yang memikat penonton. (dim/iol)
AlfaOmega
October 01, 2003, 09:30
CINTA DAN MENCINTAI KERANA ALLAH
Sesungguhnya terdapat banyak hadith Rasulullah SAW yang menerangkan kedudukan dan darjat dua manusia yang saling cinta mencintai kerana Allah. Hadis-hadis ini menggambarkan kedudukan mereka yang mulia dan tinggi yang telah disediakan oleh Allah di dalam SyurgaNya. Di antara hadis-hadis itu ialah yang menceritakan kisah tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungannya ketika mana tidak ada lagi naungan yang lain kecuali naungan Allah sahaja.
Hadis yang bemaksud:
"Mereka itu ialah: Pemerintah yang adil, pemuda yang membesar di dalam beribadat kepada Allah, lelaki yang hatinya terikat kepada masjid-masjid, dua orang yang berkasih sayang kerana Allah, seorang lelaki yang diajak oleh seorang wanita jelita dan cantik rupawan lalu ia berkata "aku ini takut kepada Allah", seorang lelaki yang bersedekah melalui tangan kanannya lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengatahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seorang lelaki yang berzikir kerana Allah (yang mengingati Allah) bersunyi ( keseorangan) lalu mengalir air matanya" ( muttafaqun alaihi)
Ini adalah dalil dan nas yang jelas menggolongkan dia sebagai orang yang berkasih sayang kerana Allah di kalangan tujuh orang yang baik lagi terpilih untuk dinaungi dibawah naungan-Nya. Inilah penghormatan dan kemuliaan paling tinggi yang dikurniakan oleh Allah kepada mereka. Di manakah lagi kita akan dapati kemuliaan yang seperti itu ???
Sesungguhnya kemulian ialah hak bagi kedua-dua orang yang berkasih sayang kerana Allah S.W.T. Dimana pada hari tersebut (kiamat) Allah Taala Rabbul Izzah menyeru mereka dan mempersilakan mereka untuk menerima anugerah yang paling tinggi, iaitu pada hari berhimpunnya sekelian bani (anak) Adam di Padang Mahsyar yang maha luas itu.
Diriwiayatkan oleh Muslim didalam hadis Qudsi yang bermaksud:
"Dimanakah orang-orang yang berkasih sayang kerana kemuliaanku pada hari ini, Aku perlindungi mereka dibawah naungan Ku pada hari yang tiada lagi naungan kecuali nuangan-Ku"
Alangkah tingginya kemuliaan mereka. Alangkah sempurnannya ganjaran yang akan mereka dapati kerana mereka berkasih sayang kerana Allah.
Sesungguhnya cinta kerana Allah bukan kerana sesuatu yang lain sahaja yang ada dalam hidup ini. Hidup ini adalah hidup yang penuh dengan pelbagai kepentingan diri dan pelbagai perkara yang disukai oleh hawa nafsu. Jadi, cinta kerana Allah dalam suasana yang demikian sangat payah untuk dicapai dan dicari. Tiada siapa yang mampu mencapainya kecuali orang yang telah bersih jiwanya, tinggi semangatnya dan mereka mampu melihat betapa hinanya dunia ini berbanding keredhaan Allah. Tidak hairanlah kalau Allah telah menyediakan bagi mereka darjat yang tinggi sesuai dengan ketinggian mereka didunia dalam mengatasi segala kesibukan dunia yang serba mewah dan penuh dengan perhiasan ini.
Kita dapati keterangan demikian dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muaz dari Rasulullah S.A.W baginda bersabda:
"Allah Azzawajalla berfirman: orang-orang yang berkasih sayang kerana kemuliaanku, mereka mempunyai beberapa-beberapa mimbar dari cahaya, para nabi dan shuhada yang menyukai mereka " riwayat Attarmizi
Marilah sama-kita renung seketika hadis-hadis Abu Hurairah (R.A) maksudnya: " Bahawasanya ada seorang lelaki yang pergi menziarahi saudaranya (sahabat) di sebuah kampung yang lain, lalu Allah menyuruh malaikat memerhatikannya di atas jalannya. Maka tatkala dia sampai dia berkata :Engkau hendak ke mana ? Lelaki tersebut menjawab: Aku hendak menemui seorang saudara ku di kampung itu. Malaikat bertanya lagi " Adakah engkau telah berbudi kepadanya dan engkau mengharapkan balasannya?" Beliau menjawab " tidak, aku mencintainya kerana Allah" Maka malaikat itu berkata kepadanya "Bahawa sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada engkau, sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai dia kerana Allah.
Alangkah besarnya cinta yang sedemikian yang mengangkat manusia sampai ke darjat di mana Allah mencintai dan meredhainya.
Kesan Cinta Kepada Allah Di Dalam Kehidupan Orang Islam
Didalam hadis yang lain Rasulullah SAW menegaskan bahawa sesungguhnya Mahabbah (berkasih sayang) antara orang beriman adalah syarat-syarat iman yang memasukkan penganutnya kedalam syurga.
(("Demi yang diriku di dalam genggamannya , kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehungga kamu berkasih sayang. Mahukah kamu aku (nabi) tunjukkan sesuatu yang apabila kamu melakukannya maka akan lahirlah kasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu")) Riwayat Muslim dari Abu Hurairah
Sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui dengan pandangan tarbiah yang diperolehi dari Allah, bahawasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat mencabut hasad dengki dari dada, dan kekotoran jiwa kecuali persahabatan yang sejati. Satu nilai persahabatan yang tinggi yang menguasai kehidupan orang Islam yang dibangunkan atas dasar Mahabbah, nasihat menasihati, perpaduan, bebas dari segala tipu daya, hasad dengki, benci membenci dan sebagainya.
Dengan kasih sayang yang gemilang inilah, Rasulullah telah membangunkan generasi Islam yang pertama, satu generasi yang telah menyampaikan langit kebumi (rahmat yang melimpah ruah) dan membina mahligai Islam di alam sejagat. Inilah dia kasih sayang dan perpaduan yang tiada siapa sudi menanamnya didalam hati kecuali Islam. Kasih sayang yang suci lagi kukuh dan cinta yang setia di antara mereka jualah yang akan menjayakan perjuangan mereka.
Rasulullah SAW bersabda maksudnya:
(( Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya dan membantunya dengan berjaga malam dan demam. Riwayat Muslim
Sesunguhnya orang Islam yang menghayati ajaran agamanya akan mempunyai hati dan perasaan yang sentiasa berkobar-kobar untuk mencintai saudara dan sahabatnya. Dia akan menghadapi mereka dengan sepenuh hati dan perasaannya. Inilah asas-asas yang menjadi faktor perpaduan untuk mencapai cinta dan redha Allah di Akhirat kelak.
sikhasep
October 24, 2003, 03:02
Ketika Imanuel Menjadi Imanullah
TIDAK ada paksaan untuk orang memeluk Islam, demikian diungkapkan Ustaz Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, ketika tabligh akbar, sebelum pensyahadatan 45 mualaf di Mesjid Nurul Iman Sioban, Kecamatan Sipora, pada Pekan Muhktadin IV tahun lalu. Namun, kata Ristawardi, kalau sudah masuk Islam tidak boleh murtad atau keluar dari Islam, karena sudah terang mana yang benar dan salah.
Kalau keluar, berarti meneguk ludah yang telah dibuang. Sama dengan menumpang mobil, lanjutnya, apabila sudah naik, sekalipun tidak dapat tempat duduk, membayar tetap sesuai dengan tarif. Maka penumpang yang ingin selamat jangan coba-coba membayar tidak sesuai dengan tarif.
"Maka begitu juga memeluk Islam, kalau ingin selamat laksanakan perintah Islam dengan baik, jangan separoh-separoh, meskipun seorang yang baru masuk Islam. Karena dengan sungguh-sungguh itulah yang akan membawa keselamatan," ujar Ristawardi, konselor agama Islam, PT Semen Padang itu.
Apa yang disampaikan Ustaz Ristawardi itu, tersemat mati dan kokoh dalam hati Imanullah yang dulu bernama Imanuel, seorang mualaf paling tua dan juga mantan kepala Suku di Mentawai dia ntara mualaf yang disyahadatkan malam itu. "Saya berjanji akan bersungguh-sungguh melaksanakan agama Islam, meski umur saya sudah 70 tahun," ujar Imanullah saat itu, ketika ditanya tentang motivasinya masuk Islam.
Imanullah, 70, mengaku masuk Islam tanpa ada pengaruh dan rayuan siapapun. Dia sudah mempelajari Islam sejak zaman Belanda. Ketika itu ia masih remaja. Dan di Mentawai saat itu sudah ada yang Islam. Selama itu, baru sekarang niat hatinya terujud untuk masuk Islam.
Imanullah --sebelum disyahadatkan namanya Imanuel--, Islam adalah 'syurga' yang telah lama diimpikan. Di dalam Islam dia melihat banyak kemajuan dan ajaran yang memotivasi manusia untuk maju, yakni dengan ajaran jihad di jalan Allah Swt. Dia yakin dengan ajaran jihad, setiap yang dilakukan dalam kehidupan dinilai ibadah oleh Allah Swt.
Dengan itu pula dia optimis Mentawai bisa maju seperti tanah tepi, karena ada motivasi untuk membangun yang diimbali dengan pahala. Selain itu, nan lebih dipujikannya adalah rasa persau daraan ( Ukhuwwah-Red ) yang tinggi. Dalam Islam, kata
Imanullah, susah senang dirasakan secara bersama-sama. Kalau ada saudara seakidah yang miskin atau kekurangan harta, maka akan dibantu lewat zakat atau sedekah. Bahkan yang menarik, meski ada hak orang miskin dalam harta orang kaya, maka Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk meminta-minta. Malahan, kata Imanullah seraya mengutip hadist nabi, tangan yang diatas lebih baik dari tangan dibawah . "Artinya orang yang memberi lebih baik di mata Allah dari yang menerima," kata Imanullah mantan Kepala Suku di Matobek, Kecamatan Sipora.
Sebenarnya pada Pekan Muhtadin III, 1995, Imunullah sudah berniat mengingkrarkan diri masuk Islam. Namun karena malu dikhitan, dia masih ragu. Akhirnya, pada Pekan Muhtadin IV, perasaan malu itu telah dia buang. Setelah dikhitan oleh Tim Kesehatan BAZIS PT Semen Padang, di Puskesmas Kecamatan Sipora di Sioban, dia merasa lega, cita-citanya untuk bergabung dengan Islam tercapai sudah. "Rupanya khitan yang sebelumnya saya anggap sakit, ternyata tidak demikian," katanya gembira.
Dalam keluarganya, Imanullah yang memiliki tato, sebagai seorang ayah yang juga Kepala Suku, tidak bersikap keras terhadap anak- anaknya. Dia mempunyai lima orang anak, dua orang perempuan dan empat orang laki-laki. Satu orang diantaranya --anak ketiga-- sudah masuk Islam bulan Juli 1995.
Dengan, masuk Islam anak yang ketiga itu, dia bisa mempelajari perubahan yang terdapat dalam diri anaknya setelah masuk Islam. Karena itu pulalah semakin padat hatinya untuk mengucapkan kali mah syahadat.
"Terus terang, setahun saya melihat anak saya dalam 'pelukan' Islam, setahun itu saya merasa tersanjung sebagai ayah. Ada rasa kebanggaan bagi diri saya terhadap dirinya. Akhlaknya kepada saya sangat baik, " katanya.
Selain itu, anak Imanullah yang keempat merupakan sarjana beraa gama lain. Namun ketika dia menyampaikan akan memeluk Islam, dia mengucapkan selamat. Ketika ditanya, apakah dia berniat mengis lamkan seluruh anggota keluarganya? Imanullah menjawab tergantung hidayah Allah Swt kepadanya.
Melihat keikhlasan hati Imanullah masuk Islam, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Perwakilan Sumatera Barat Kantor Padang H. Masoed Abidin dan Ketua BAZIS PT Semen Padang Ir. Khairul Nasri meneteskan air mata haru. "Orang tua renta masih ingin masuk Islam, kita sudah dari kecil memeluk Islam kadang- kadang suka mengabaikannya," kata Masoed
AlfaOmega
October 31, 2003, 17:43
MENGAPA Engkau Menangis?
Penulis:Saad Saefullah
KETIKA mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, "Apakah
yang telah
terjadi di kota Madinah?"
"Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-
barang
dagangannya," seseorang menjawab.
Ummul Mukminin berkata lagi, "Kafilah yang telah menyebabkan semua
ini?"
"Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan."
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang
seolah-olah
hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya.
Kemudian ia
berkata, "Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat
Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan."
Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada
Abdurrahman
bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali
perniagaannya dilepaskan, ia segera melangkahkan kakiknya ke rumah
Aisyah.
"Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa."
Abdurrahman
bin Auf berkata lagi, "Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat
agar engkau
menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut
kendaraan dan
perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah."
Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua
penduduk Madinah
dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemipin yang mengendalikan
hartanya. Bukan
seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia
tidak mau
celaka dengan mengumpulkan harta kemudian menyimpannya. Ia
mengumpulkan harta
dengan jalan yang halal. Kemudian, harta itu tidak ia nikmati
sendirian.
Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut
juga menikmati
kekayaan Abdurrahman bin Auf.
Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah
berkata, "Seluruh penduduk
Madinah bersatu dengan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga hartanya
dipinjamkan
kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-
utang mereka.
Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka."
Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak
akan
mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia
pergunakan untuk
membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia
memikirkan
harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.
Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk
berbuka.
Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh
pada hidangan
tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia
malah
menangis dan berkata, "Mush'ab bin Umair telah gugur sebagai seorang
syahid. Ia
seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan
sehelai burdah;
jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika
ditutupkan kedua
kakinya, terbuka kepalanya."
Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian
melanjutkan, "Demikian pula
Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid,
dan di saat
akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah
dihamparkan bagi
kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil
sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala
kebaikan
kami."
Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya
akan
memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali,
akhirnya
menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta
yang haram
sedikitpun.
Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin
Auf
menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan
di hadapan
mereka, tiba-tiba ia kembali menangis. Sontak para sahabat terkejut.
Mereka pun
bertanya, "Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?"
Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-
sedu. Sahabat
benar-benar melihat bahwa betapa halusnya hati seorang Abdurrahman
bin Auf. Ia
mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang
diperbuatnya
di dunia ini. Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf
menjawab, "Rasulullah saw.
wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum
sampai
kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak
menambah
kebaikan?"
Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis,
para sahabat
pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah
tersentuh,
dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap rida Allah.
AlfaOmega
November 06, 2003, 17:46
Aisyah Binti Abu Bakar r.a
Istri - istri Rasulullah SAW
--------------------------------------------------------------------------------
Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah r.a yang
telah banyak dikenal. Ketika wahyu datang pada Rasulullah SAW, Jibril membawa
kabar bahwa Aisyah adalah istrinya didunia dan diakhirat, sebagaimana
diterangkan didalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah r.a,
"Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi SAW, lalu
berkata.' Ini adalah istrimu didunia dan di akhirat."
Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah SWT yang menerangkan
kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.
Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi SAW diutus menjadi Rasul. Semasa
kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah SAW usianya
belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa
Rasulullah SAW membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi SAW untuk
menikahi Aisyah r.a. Setelah itu Nabi SAW berkata kepada Aisyah, "Aku melihatmu
dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa
gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,' Ini adalah istrimu.' Ketika aku
membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,' Jika ini
benar dari Allah SWT , niscaya akan terlaksana."
Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika
Rasulullah SAW setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah
mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan
itu, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara
istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah. Setelah beliau menetap di Madinah,
beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk didalamnya Aisyah r.a.
Dengan izin Allah SWT menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham. Aisyah
tinggal dikamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Dikamar itulah wahyu
banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu.
Dihati Rasulullah SAW, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan tidak dialami oleh
istri-istri beliau yang lain. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin
Malik dikatakan, "Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya
Rasulullah SAW kepada Aisyah r.a."
Didalam riwayat Tirmidzi dikisahkan
"Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga
Ammar berseru kepadanya,' Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri
kecintaan Rasulullah SAW."
Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat
besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan
ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, 'Demi Allah SWT, dia adalah manusia
yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)'.
Di antara istri-istri Rasulullah SAW, Saudah bin Zum`ah sangat memahami
keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk
Aisyah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang
menjadikan Rasulullah SAW rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan
sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia
senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah
SAW. Menjelang wafat, Rasulullah SAW meminta izin kepada istri-istrinya untuk
beristirahat dirumah Aisyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini Aisyah
berkata, "Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah SAW wafat dipangkuanku."
Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah SAW selama sakit dikamarnya merupakan
kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat.
Rasulullah SAW dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal.
Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya.
Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, "Jika yang
engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling
mulia dimuka bumi."
Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, "Beliau adalah orang yang paling
mulia diantara ketiga bulanmu." Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur dirumah
Aisyah.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang
sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan
terhadap taqdir Allah SWT dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata
untuk taat kepada Allah SWT.
Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba
ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi SAW. Ketika istri-istri Nabi SAW hendak
mengutus Ustman menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi
SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, "Bukankah Rasulullah
SAW telah berkata, 'Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang
kami tinggalkan itu adalah sedekah."
Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang
melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah
binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah
mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan
menggantinya dengan kerudung yang tebal.
Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al
Qur`an dan Sunnah. Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW
sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki
kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW jika menemukan sesuatu
yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Aisyah termasuk wanita yang
banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW, sehingga para ahli hadits
menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu
Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.
Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th,
bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`. Kehidupan
Aisyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya
kepada Rasulullah SAW, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat
malam. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya
tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul,
"Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma."
(HR. Ahmad ).
Dikutip dari: Amru Yusuf/ Istri Rasulullah, contoh dan teladan.
AlfaOmega
November 07, 2003, 14:16
Pada suatu saat seorang perempuan tua menanyakan kepada Nabi apakah dia masuk
surga pada hari kiamat nanti. Nabi menjawab bahwa tidak ada seorang perempuan
tua pun masuk surga. Kemudian perempuan tua itu menangis tersedu-sedu. Nabi
menjawab sambil tersenyum bahwa di Surga tidak ada orang tua dan yang ada bahwa
orang orang tua akan dikembalikan menjadi muda kembali. Mendengar jawaban itu ,
perempuan kembali tersenyum.
Beberapa sahabat Nabi dalam perjalanan dan berhenti di sebuah perkampungan Arab
Gurun (badui). Orang orang arab gurun itu menolak menjamu mereka sehingga
sahahat sahabat Nabi itu pergi ke suatu tempat. Belum jauh mereka berjalan, tiba
tiba datang beberapa orang dari Badui meminta pertolongan mereka karena pemimpin
suku mereka digigit ular atau kalajengking. Orang orang itu berusaha
mengobatinya tidak berhasil sehingga meminta pertolongan dari sahabat sahabat
Nabi itu. Salah seorang sahabat Nabi berkata "Demi Allah, aku mungkin bisa
mengobatinya ,tapi demi Allah, kami telah menanyakan untuk dijamu dan kamu
menolaknya. Aku tidak akan mengobati kepala sukumu sampai kamu menawarkan
sesuatu pada kami". Orang orang badui itu akhirnya menawarkan sejumlah kambing
dan sahabat Nabi itu pergi ke kepala suku itu dan membacakan Al-fatihah
kepadanya.Seperti seekor onta baru saja lepas dari ikatan , kepala suku itupun
bangkit dan berjalan tanpa merasakan kesakitan apapun.Kemudian orang orang badui
itu memberikan sejumlah kambing yang telah dijanjikan. Beberapa sahabat lain
berkata "bagi-bagikan kambing itu". Tetapi salah seorang sahabat berkata "tidak,
tidak sampai kita berkonsultasi ke Nabi dan menunggu jawaban dari beliau". Pada
saat kembali, mereka pergi ke Nabi dan menceritakan apa yang telah mereka alami.
Nabi bertanya kepada sahabat yang telah menyembuhkan orang yang digigit binatang
berbisa itu dengan membacakan Al-fatihah, "bagaimana engkau tahu tahu kalau itu
bisa menyembuhkannya?". Kemudian sahabat itu menjawab,"Engkau telah mengerjakan
hal seperti itu juga". Nabipun menjawab "kamu telah mengerjakannya dengan benar
.Bagi-bagikan kambing itu dan jangan lupa bagian ku juga". Kemudian Nabi tertawa
atas kejadian itu.
Pada suatu saat Nabi dan Ali bin Abi Thalib (pada saat itu Ali masih
kanak-kanak) makan kurma bersama-ama. Setiap kali makan sebiji kurma mereka
menyisihkan di tempatnya masing masing. Beberapa saat kemudian Ali menyadari
kalau dia memakan terlalu banyak kurma di mana biji-biji kurma itu lebih
menumpuk kesisi Ali di banding di sisi Nabi. Maka Ali pun diam diam
memindahkankan biji-biji kurma itu ke sisi Nabi. Lantas Ali berkata "ya Nabi,
engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku, lihatlah biji biji kurma yang
menumpuk di tempatmu .Nabi pun tertawa dan sambil bercanda menjawab "nah Ali,
kamulah yang memakan lebih banyak kurma, karena aku memakan kurma dan masih
menyisakan biji-bijinya sedangkan engkau memakan kurma berikut biji-bijinya".
(disarikan dari Sirah Nabi)
AlfaOmega
November 10, 2003, 12:14
Sahabat saya, Syaikh Ahmad Gharib Ahmad Salim, al-Mab-uts dari Al-Azhar Mesir,
bertugas sebagai guru Dayah / Pesantren Jeumala Amal Luengputu Pidie, Aceh,
selama 4 tahun (1996-2000). Suatu kali beliau diundang berceramah pada sebuah
Mesjid di Sigli dalam rangka peringatan Nuzulul Quran. Ceramah disampaikan dalam
bahasa Arab, dan waktu itu saya bertindak sebagai translater. Dalam ceramah itu,
Syaikh Ahmad mengungkapkan sebuah kisah nyata dari Kairo. Secara singkat
ceritanya begini.
Suatu ketika, anak seorang konglomerat Mesir tiba-tiba mengucapkan dua kalimah
syahadah dan menjadi seorang Muslim. Ayahnya sangat marah, namun karena anak itu
merupakan anak semata wayang, ia mencoba menjadi ayah yang bijak. Artinya, ia
sembunyikan kemarahannya itu dan ia mengundang 10 orang Pator dalam sebuah acara
jamuan makan dengan tugas utama utk meyakinkan sang anak agar kembali menjadi
penganut Katolik. Lalu, terjadilah dialog berikut :
" Mengapa kamu berpindah agama dan menjadi Muslim?"
" Banyak ayat dalam Injil yang tidak rasional dan sulit saya terima."
" Tunjukkan ayat mana saja biar kami coret! "
Lalu, pemuda itu menunjukkan sejumlah ayat dalam Injil yang dinilainya tidak
rasional. Hanya dalam hitungan 5 menit para Pastor itu "berhasil" mencoret
sejumlah ayat Injil dengan harapan agar pemuda itu menjadi murtad. " Tunggu
sebentar, " ujar pemuda itu tiba-tiba. Lalu, ia menuju ke sebuah pemakaman umum.
Disana, ia menjumpai seorang pengemis dan diajak ke rumahnya . Uniknya, para
pengemis di Kairo pada umumnya bisa hafal Al-Quran. Pengemis itu pun diminta
membaca surat Ar-Rahman. Tibalah pada ayat ke-24 : "Walahul jawaril munsyaatu
fil bahri kal a'lam ". Sang pemuda bertanya : " Apa arti a'lam?"
" Jabal (gunung)," jawab pengemis.
"Kalau begitu gantilah kata-kata "a'lam" dengan kata-kata "jabal", Anda saya
bayar 1 juta dollar!"
" Maaf, saya tidak akan pernah melakukannya!"
" Bagaimana jika Anda saya bayar 10 juta dollar?"
Pengemis itu marah dan berkata : " Saya memang seorang pengemis dan hidup dengan
uang recehan. Andaikata Anda membayar saya 50 juta dollar sekalipun, saya tidak
akan pernah memenuhi keinginan Anda!." Lalu, pengemis itu pun dengan marah dan
merasa tersinggung.
" Lihatlah, Pak Pastor! Pengemis itu menolak jutaan dollar karena tidak ingin
mengganti sebuah kata dalam kitab suci Al-Quran. Sementara Anda tanpa saya
bayar, telah berani merubah sejumlah ayat Injil sesuai dengan selera saya. Maaf,
tuan-tuan! Saya semakin ragu dengan validitas kitab suci Anda!"
Ayah sang pemuda benar-benar murka. Anak itu "dipecat", tidak diakui lagi
sebagai anak, dan segera diusir dari rumah mewahnya di pusat kota Kairo. Sang
pemuda malam itu menuju ke sebuah mesjid. Mengetahui anak orang kaya itu diusir
dari rumahnya karena telah menjadi Muslim, banyak orang yang terharu dan
meneteskan air mata. Para jama'ah secara spontan ada yang ingin memberikan
check, uang, jam tangan, kalung, gelang, dan sebagainya. Tapi, sang pemuda
menolak semua pemberian itu. Katanya, yang ia butuhkan saat ini adalah
pekerjaan. Dengan bantuan seorang jamaah, akhirnya ia bekerja sebagai seorang
sopir truck di Arab Saudi. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Kairo dan
menikah dengan putri seorang bilal Mesjid. Ayahnya yang merana karena ditinggal
pergi oleh anak tunggalnya itu, akhirnya meninggal dunia. Ibunya mengharapkan
dengan sangat agar anaknya kembali ke rumah, namun sang pemuda menolaknya jika
ibunya belum menjadi muslim.
AlfaOmega
November 17, 2003, 14:25
Sahabat,
Tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan sifat-sifat
Allah karena dia pernah melihat-Nya. Tidak ada seorangpun
yang dapat menceritakan bagaimana Dia karena pernah
menjumpai-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan
dimana Allah karena pernah berhadapan dengan-Nya. Sungguh,
tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui bagaimana Dia,
baik lahir maupun bathin, melainkan sebagaimana yang
dikatakan oleh Allah yang maha agung itu sendiri. Demi
keagungan dan kekuasaan-Nya, Dia menghendaki agar setiap
dari kita mengetahui dan yakin akan kudrat-Nya.
Diceritakan-Nya kembali kepada kita kisah Ibunda Musa as
agar kita menjadi yakin dengan kekuasaan-Nya. Kekuasaan
Allah adalah hak, sedangkan kekuasaan selain-Nya adalah
bathil. Allah berkuasa mutlak, sedangkan makhluk tidak
berkuasa, kecuali pada batas2 yang telah ditentukan-Nya
sendiri. Allah berkuasa, sedangkan selain-Nya ada dalam
kekuasaan-Nya. Tidak ada kekuasaan apapun kecuali pasti ada
dalam kontrol-Nya.
Ada masanya ketika kebathilan se-olah2 berkuasa penuh. Ada
saat2 tertentu manakala yang bathil ada pada pihak yang
‘powerful’, super power, adidaya dan adikuasa. Akan tetapi
semua kekuatan, semua kedigdayaan adalah milik Allah. Dia
berbuat sekehendak-Nya sesuai dengan ilmu dan rencana-Nya.
Maka ketika Ibunda Musa tidak melihat lagi adanya harapan
untuk menyelamatkan bayi lelakinya, dia datang kepada
Allah. Dibujuk-rayunya Allah dengan rintihan dan
tangisannya agar Dia menyelamatkan bayinya. Lalu Allah
mendengar dan Dia ‘bersedia’ mengabulkannya dengan syarat,
‘Taati Aku, kelak Aku akan kembalikan bayimu kepadamu’.
Perintahpun datang kepadanya dari Allah yang maha kuasa.
‘Bila musuhmu mendekat, maka masukkan bayimu ke dalam kotak
(kayu).’ Keinginan sang ibu adalah menyelamatkannya, namun
ternyata Allah ‘memerintahkannya’ untuk memasukkannya dalam
kotak yang barangkali justru akan segera mematikannya.
Perintah Allah se-akan2 bertentangan dengan keinginannya,
namun demikian dia taat.
Perintah selanjutnya, ‘Letakkan bayimu di atas sungai.’
Keinginan sang ibu adalah menyelamatkannya, namun ternyata
Allah ‘memerintahkannya’ untuk meletakkannya dalam sungai
yang barangkali justru akan menghanyutkannya dan akn
mematikannya. Perintah Allah se-akan2 bertentangan dengan
keinginannya, namun demikian dia taat dan melaksanakannya.
Selanjutnya Allah memberi tahu, ‘Aku akan hanyutkan dia
kepada Fir’aun.’ Keinginan sang ibu adalah
menyelamatkannya, namun ternyata Allah justru
menyerahkannya kepada musuhnya. Dalam keadaan dan kondisi
tersebut siapapun akan menyangka se-akan2 tidak ada lagi
harapan bagi keselamtan sang bayi. Namun demikian, sang ibu
pasrah atas keputusan-Nya untuk menyerahkan makhluk lemah
tersebut kepada musuh-Nya.
Ketika sang bayi dibawa ke hadapan musuhnya, adalah Fir’aun
sadar dan yakin betul bahwa bayi tersebut adalah musuh yang
di-cari2-Nya. Lalu, siapakah yang berkuasa atas
keselamatannya, Fir’aun yang mengaku ‘ana robbukumul’ala’
dan menetapkan agar setiap bayi lelaki dibunuh atau Allah
robbul ‘alamin?
Untuk memenangkan pertarungan, Allah tidak memerlukan
bantuan apapun. Banyak keadaan dimana Dia tidak menurunkan
kekuatan2 fisik untuk menyelamatkannya. Sederhana saja,
Allah hanya menjadikan sang bayi tersenyum manis, lalu
luluhlah hati sang permaisuri. Kasih-sayang yang bersemi
bahkan meruntuhkan keangkuhan Fir’aun. Dia menjadi tidak
berdaya di depan istrinya. Allah berkuasa sedangkan yang
mengaku berkuasa justru tidak berdaya. Subhanallah.
***
AlfaOmega
November 17, 2003, 14:27
=Bismillaahir-rahmaanir-rahiim=
Sahabat,
Allah, sekali-kali Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya.
Bahkan, tidak ada suatu apapun yang menyerupai-Nya. Dia
maha besar, namun tidak ada sesuatu apapun yang besar untuk
dapat membandingkan kebesaran-Nya. Dia maha lembut, namun
tidak ada suatu apapun yang dapat dijadikan pembanding bagi
kelembutan-Nya. Dia maha pemelihara, namun tidak ada suatu
apapun yang dapat dijadikan pembanding bagi kehebatan
pemeliharaan-Nya.
Kisah Ibunda Musa as adalah satu contoh agar kita yakin
dengan janji2-Nya. Janji Allah adalah hak, sedangkan
manusia adakalanya amanah, adakalanya dusta. Allah pasti
akan menunaikan janji2-Nya, baik yang kita minta untuk
segera ditunaikan-Nya ataupun yang kita mohon agar Dia
dapat menyimpannya bagi kepentingan kita di akhirat kelak.
Dia yang maha memenuhi janji apa yang dijanjikan-Nya, pasti
mustahil berdusta. Lagipula tidak ada manfaat sedikitpun
bagi-Nya untuk me-nunda2 pemberian-Nya bila sudah tiba
masanya. Dia maha kaya lagi maha pemberi kekayaan. Dia
memelihara segala sesuatu dan Dia mengendalikannya.
Dialah yang berjanji kepada Ibunda musa untuk mengembalikan
bayinya bila dia taat kepada-Nya. Sebagaimana sifat-Nya,
Dia pasti punya rencana yang terbaik untuk memenuhi
janji-Nya. Suasana dan keadaan tidak akan pernah dapat
menangguhkan pelaksanaan bagi rencana-Nya. Tidak juga
pergantian musim dan zaman dapat mengubah rencana-Nya bila
Dia berkehendak. Dialah Allah yang mengendalikan suasana2,
keadaan2, musim dan zaman secara berterusan. Dan Dia tidak
merasa lemah untuk menanganinya sendiri.
Ketakutan kita kepada Allah pasti akan membimbing kita
untuk sungguh2 dalam mentaati-Nya, sedangkan ketakutan
kepada selain Allah tidak akan mendatangkan manfaat, bahkan
kita akan menjadi budak dari apa yang ditakutinya tersebut.
Ketaatan kepada Allah adalah satu keindahan yang seharusnya
menghiasi setiap manusia ciptaan-Nya.
Ketika Ibunda Musa as memutuskan untuk taat sepenuhnya
kepada Allah, diapun melaksanakan apa saja yang
diperintahkan Allah kepadanya, sampai akhirnya bayi
miliknya ada di pangkuan istri Fir’aun. Ketaatan tidak sama
dengan kebodohan. Derajat ketaatan kepada Allah justru
menunjukkan kualitasnya sebagai manusia. Sudah menjadi
sunnatullah, bahwa dalam mentaati-Nya, seringkali ada
ketakutan, kesulitan dan kesusahan, namun demikian di
dalamnya Dia selipkan kelapangan dan kemudahan.
Masalah timbul manakala Musa kecil yang lucu dan yang
sangat disayang oleh sang Ratu menangis karena lapar. Dalam
hal ini Allah menunjukkan kepada kita betapa Dia berkuasa
penuh dan mengatur se-gala2-nya. Dijadikan-Nya keadaan
sedemikian rupa sehingga sang bayi menolak setiap ibu yang
datang untuk menyusuinya. Sang bayi menangis, maka Ratu dan
Raja pun menjadi susah hati. Demi kasih sayang mereka
kepada sang bayi, maka Raja menjanjikan hadiah dan
kedudukan yang baik di istananya bagi siapa saja yang dapat
menenangkan sang bayi.
Allah kuasa, makhluk tak kuasa. Allah mengatur segala
sesuatu, sedangkan makhluk ada di bawah aturannya. Dia
berjanji dan pasti janji-Nya akan dipenuhinya dengan
cara-Nya sendiri. Sungguh, tidak ada kesulitan sedikitpun
bagi-Nya untuk menunaikan apa yang telah dijanjikan-Nya.
Lalu apa hasil ketaatan yang sempurna kepada Allah? Allah
memenuhi janji-Nya untuk mengembalikan Musa kepada ibunya.
Tidak hanya itu saja, selain bayi yang dikembalikan-Nya,
dia juga memperoleh kedudukan yang baik di istana. Maka,
bila seseorang taat kepada Allah, dia tidak saja mendapat
apa yang Allah janjikan, tetapi barakah dan kebaikan
lainnya akan mengikuti dia. Subhanallah.
***
AlfaOmega
November 19, 2003, 11:49
KAIRO--MIOL: Prof Dr Donald Cool, peneliti masalah sosial pada Universitas Amerika di Kairo (AUO/American University in Cairo), yang masuk Islam di hadapan Syeikh Agung Al-Azhar beberapa waktu lalu, mengatakan Islam memberi ketenangan batin kepadanya.
"Saya memeluk Islam karena batin saya menjadi tenang setelah 35 tahun mengembara," kata Prof Donlad yang telah mengganti namanya menjadi itu.
Prof Talib asal Texas, AS, kepada harian Al-Hayat, Selasa (18/11), menuturkan ihwal pengembaraannya, dan alasan-asalannya mengapa ia memeluk Islam dan melepaskan agama sebelumnya, Kristen.
Menurutnya, pengembaraan awal dimulai dari pelariannya untuk menghindari bergabung dalam Perang Vietnam, dan antara 1968-1970, melakukan penelitian sosial di Arab Saudi.
Ia menceritakan, selama di Riyadh, Arab Saudi, azan mengumandang setiap waktu salat senantiasa memberi ketutan tersendiri bagi kejiwaannya. "Saya menyaksikan orang berbondong-bondong salat jemaah di masjid, dan saya pun merenungi keyakinan bahwa Allah yang mereka sembah sama dengan Tuhan saya," paparnya.
Setelah kembali mengajar di Berkeley University, AS, dia menyaksikan pemandangan suasana masyarakat sangat berbeda dengan di Arab Saudi. Namun, saat mengajar di Berkeley, ungkapan pertama yang ia ucapkan adalah Islam merupakan agama yang indah.
Prof Talib bersyukur dapat kembali ke Timur Tengah, tepatnya di Mesir sebagai dosen tetap ada AUC. Ia mengisahkan, pada 1980-an, AUC terkenal sangat sekuler, tapi menginjak 1990-an, mulai terasa suasana Islam dengan adanya tempat salat di dalamnya gedung universitas.
*
Ditanya tentang bagaimana tanggapan Syeikh Al-Azhar mengenai keinginan masuk Islam, Prof Talib mengisahkan, pemimpin Universitas Islam tertua di dunia itu tampak terkejut.
"Saat saya menyampaikan keinginan masuk Islam, Syeikh Al-Azhar meminta saya untuk mengemukakan alasan-alasan saya masuk Islam, dan saya pun menceritakan pengembaraan panjang saya hingga masuk Islam," ujarnya dan menambahkan, seorang teman Mesir yang menyertainya, menangis saat mendengarkan cerita di hadapan Syeikh Al-Azhar itu.
Ditanya tentang reaksi keluarganya di AS mengenai dirinya yang memeluk Islam, Prof Talib mengungkapkan, keluarga semuanya berasal dari Eropa yang berhijrah ke Texas, AS, dan membangun suatu komunitas di sana. Mereka semuanya berpegang Kitab Injil, tapi tidak mengetahui Al-Quran. "Ada pun saya, mendalami Al-Quran, dan tugas saya sekarang adalah menyebarkan ajaran-ajaran Al-Quran tersebut, demikian Prof Abdullah Talib Donald Cool. (Ant/O-1)
bon8nk
December 12, 2003, 09:55
Dimanakah Tsa'labah Sekarang
Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.
Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya".
Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun petenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari. Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah engurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!"
Nabi murka, dan Allah pun murka! Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78
"Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh."
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.
Tidaklah mereka tahu bahwasannya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasannya Allah amat mengetahui yang ghaib?"
Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, "Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu. Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan
zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.
Dimanakah Ts'alabah sekarang?
Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.
Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada "meeting penting" kita lupakan perintah untuk sholat Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta
yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras.
Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan "mazhab"-nya masih kita ikuti...
Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad SAW (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufiq Ismail),
"Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan 'kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu'!"
Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita!
Dikutip dari milis masyarakat-muslim, oleh mahatma@mec.com.sg
nugie
December 15, 2003, 07:33
wah, kalo baca thread ini...kayaknya mata sampai perih tetap diterusin...
tapi hatiku tersenyum....
Gion Franklin
January 10, 2004, 04:30
Kalo mengenai Ibu Hajjah Irene Handoyo, gw pernah nonton VCD-nya saat ia memberikan ceramah di depan ibu² (majelis takwin??)...
Kurang lebih pengalaman hidupnya tuh yah kayak gitu...
Saffran
February 06, 2004, 08:32
yang Kisah Pemuda Cairo... :haha
itu orang Kristen tipe apa yak? tipe KTP kali yak (kalo jaman itu emang daw ada yang namanya KTP) :haha
poor guy... never judge the contents of a book from its reader!
Saffran
February 06, 2004, 08:49
oh ya.. kenapa yak gue ga pernah denger orang Kristen yang bener-bener merasakan ditolong sama Jesus (maxudku, seseorang yang bener-bener graceful banget krn hidupnya diubahkan dalam kuasa Tuhan Yesus!) masuk Islam?
Rasanya kalo hidup gue bener-bener daw terbeli lunas karena darah Yesus, teramat mahal bagi gue untuk menjualnya lagi ke orang laen.. dan kadang gue heran sama orang-orang yang ga ngerasain kedamaian di dalam Jesus (kan banyak yak ceritanya di thread ini :p)... pengen bertanya sesekali ke mereka, have Jesus ever touched you personally? Coz He really has done it to me and I'm so grateful for that.
And last (I usually save the best for last ;D), I'm sure that all my friends here don't really understand what I write above is about. Surely, you will understand it once you're touched as well. :)
Oh ya.. punten daw ngepost di sini..
AlfaOmega
February 06, 2004, 08:56
Originally posted by Amras Telrúnya
yang Kisah Pemuda Cairo... :haha
itu orang Kristen tipe apa yak? tipe KTP kali yak (kalo jaman itu emang daw ada yang namanya KTP) :haha
poor guy... never judge the contents of a book from its reader!
Koq malah tipe KTP.
Kalau muslim yang murtad, biasanya yang tipe KTP.
Sebaliknya, orang yang convert to Islam, biasanya malah yang ngerti seluk beluk agama dia sebelum Islam. Maksud guwe, orang-2 yang mau berpikir.
Radine
March 25, 2004, 02:21
udah, gak usah ditanggepin... dia cuman asal lewat kok...
tambah lagi dunks kisah-kisahnya ^___^
sweetnekogirl
March 25, 2004, 02:50
poor amras...
lucu bener nich org, sumpee.. http://www.webgaul.com/forum/smilies/embarassedlaugh.gif ngapain lg khotbah di sini...salah masuk oooii...http://www.webgaul.com/forum/smilies/bwekk.gif
mane pk avatar rini lg nggak rela gue..http://www.webgaul.com/forum/smilies/bash.gif
uups kok jd OT gue..forgive me guys..http://www.webgaul.com/forum/smilies/maapdech.gif
btw salam kenal smua...gue br bergb di thread..gue sk bc2 critanya definetely very inspiring for me...trusin yahh jd bs nguatin iman gue skalian...http://www.webgaul.com/forum/smilies/kaos04.gif
bon8nk
April 07, 2004, 02:24
NAMA saya Kwik Yong Thay. Lahir di Semarang 10 Maret 1947. Saya adalah anak nomor dua dari lima bersaudara dari pasangan Kwik A Tjoi dan Goe Kwi Nio. Kedua orangtua saya keturunan Tionghoa. Mereka memeluk agama yang berbeda di luar Islam.
Saya menikah dengan seorang gadis bernama Liang Lei Chian. Seperti Cina lainya, saya mencukupi kebutuhan hidup dengan cara berdagang. Pekerjaan ini menjadi aktivitas turun-temurun dari nenek moyang saya dulu.
Dengan susah-payah saya merintis usaha. Berkat keuletan dan ketekunan serta dorongan istri dan saudara-saudara, usaha saya berjalan lancar dan memuaskan.
Roda hidup berputar. Kesuksesan itu tidak bertahan lama. Kesuksesan mulai beranjak pada titik surut. Bahkan, pada akhirnya hancur, ambruk, dan berantakan. Mengenaskan. Saya tertipu.
Saya berusaha sabar dan tabah, menyadari bahwa hidup akan berputar bagaikan roda. Tapi, itu tidak menyebabkan usaha saya pulih, malah semakin ambruk dan hancur berantakan.
bon8nk
April 07, 2004, 02:25
Memohon Pertolongan Semua Tuhan
Dalam keadaan ekonomi keluarga yang hancur ini, timbul pertanyaan dalam diri saya, siapa yang mau menolong saya? Saudara rasanya tidak mungkin. Keyakinan saya saat itu hanya minta pertolongan pada Tuhan. Oleh karena itu, setiap hari saya selalu berdoa. Tapi semua doa yang kupanjatkan pada Tuhan tidak membuahkan hasil. Malah timbul perasaan jengkel dan frustrasi menghadapi permasalahan ekonomi yang hancur berantakan.
Meski begitu, saya terus berdoa, bahkan tambah menyebut nama-nama nabi yang pernah saya dengar. Mulai dari Nabi Adam, Nuh, Musa, Ibrahim hingga Sang Budha Gautama. Tapi cara ini tidak juga membuahkan hasil. Malah, keadaan ekonomi dan usaha saya makin tidak menentu.
Di tengah kegalauan dan kekacauan itu, saya tetap berdoa kepada Tuhan. Bahkan, saya berdoa kepada semua Tuhan berbagai agama, kecuali Islam. Saya benci Islam. Tapi bisnis saya tak kunjung pulih kembali.
Entah dari mana, tiba-tiba ada kekuatan yang mendorong saya berdoa cara Islam. Saya teringat nabinya orang Islam, Muhammad. Ia mengingatkan saya pada suatu ibadah yang sering dilakukan umat Islam, shalat. Rasanya tidak adil kalau agama yang lain sudah saya coba lakukan untuk bisa membantu memecahkan masalah saya, kenapa Islam tidak saya lakukan?
Saya mandi, keramas sampai bersih. Saya ambil sarung yang bersih dan masuk kamar. Saat itu, saya benar-benar mengerjakan shalat. Tentu tidak jelas apa yang saya baca saat itu. Saya hanya menirukan gerakan shalat yang pernah saya lihat pada orang Islam. Saya lakukan dengan bahasa saya sendiri. Saya mohon petunjuk kepada Tuhan agar diberi bimbingan dan kemudahan hingga bisa keluar dari kemelut yang melilit usaha saya.
Ajaib. Setelah saya mengerjakan shalat yang mungkin salah itu, seakan ada sebuah titik terang yang tergambar dari permasalahan hidup yang buntu dan menghantui kehidupan saya. Apakah ini?
Tidak lama setelah itu, saya membayangkan bagaimana selanjutnya mengatakan pengalaman saya ini kepada keluarga saya. Betapa marahnya keluarga saya karena saya telah menyimpang dari garis keturunan keluarga. Saya benar-benar merasa hidup dalam persimpangan jalan, antara memilih panggilan nurani atau keluarga.
Saya putuskan pindah rumah menjauh dari orangtua. Tujuan saya agar saya lebih leluasa dalam memenuhi panggilan nurani. Saya berpikir, dengan pindah rumah, saya bisa lebih tenang menjalankan ibadah dalam agama pilihan saya (Islam). Istri dan anak pun saya boyong ke sebuah rumah kontrakan yang baru di Kemetiran Kidul Yogyakarta.
Di rumah kontrakan yang baru itu, saya leluasa mengikuti gelora hati saya. Saya bahagia ketika keinginan saya pindah ke agama Islam tidak ditentang istri saya. Namun, ternyata tidak begitu mulus kepindahan saya ke Islam.
Dalam kegembiraan, hadir tantangan dari rekan-rekan dan keluarga besar Kwik yang telah mengetahui gelagat saya masuk Islam. Mereka menakut-nakuti beratnya menjadi orang Islam. Harus shalat dengan bacaan yang sulit, harus puasa, dan kuno karena tidak boleh makan daging babi!
Saya berusaha menepisnya. Di hadapan takmir Masjid Al-Hidayah Surowijan, Tamansari, Yogyakarta, bulan Pebruari 1992, saya menyatakan keislaman saya dan berganti nama menjadi Abdul Rahman. Tidak lama kemudian, istri saya mengikuti jejak saya masuk Islam.
bon8nk
April 07, 2004, 02:26
Keislaman Keluarga
Melihat saya dan istri masuk Islam, Andayani, anak perempuan pertama saya, marah. Ia menentang. Saya memilih diam dan mengalah, seraya terus berdoa semoga kelak anak saya dan keluarga yang lain diberi hidayah oleh Allah. Saya yakin bahwa hidayah itu pasti datang.
Alhamdulillah, pertentangan dengan anak saya pupus. Sebuah keajaiban. Tiba-tiba anak saya minta diantar ke sebuah toko busana Muslimah, meminta dibelikan busana muslimah. Seketika itu saya sujud syukur kepada Allah, terharu tiada tara hingga tak terasa pipi saya dan istri saya basah karena air mata. Hidayah menghampiri anak saya.
Setelah masuk Islam, hidup saya terasa mudah. Allah benar-benar memberi jalan kepada saya. Tiba-tiba saja ada orang yang menawarkan lahan tanah yang begitu murahnya di Jalan Glagahsari No. 43 Yogyakarta.
Setelah saya pindah dan membangun rumah baru di Glagahsari No. 43 itu, sejarah baru dalam keluarga saya kembali terukir. Udara kebahagiaan berhembus dalam kehidupan keluarga saya. Satu per satu keluarga saya mengikuti jejak saya menghampiri Islam. Bukan hanya istri dan kedua anak saya, tetapi juga keluarga dan saudara yang lain. Betapa indahnya skenario Allah
Setelah masuk Islam, saya merasakan mendapat banyak kemudahan dalam hidup. Bisnis saya yang dulu berantakan, kini pulih kembali. Tahun 1997, bersama istri saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji dengan biaya gratis dari kedutaan Arab Saudi.
Kini, apa pun yang telah saya peroleh saya sampaikan lagi kepada orang lain. Terutama pada teman-teman di lingkungan keturunan Cina. Saya jelaskan kepada mereka, sesungguhnya agama nenek moyang orang Cina itu adalah Islam. Dengan menunjukkan fakta sejarah yang sulit dibantah ini, banyak warga Cina bersimpati. Beberapa di antaranya sudah ada yang mengikuti jejak saya dan aktif di pengajian. Alhamdulillah. (Seperti dituturkan kepada Winarno)[MQMedia.com]
bon8nk
April 07, 2004, 02:35
Namaku Lim Pei Chuan, seorang keturunan Tiong hoa bersuku Han dan masih satu kampung dengan KhongCu sang pembawa agama Khong Hu Cu, Shan Tung. Dua puluh dua tahun lalu, nama itu aku sandang dari seorang ahli nujum keluarga. "Aliran Sungai besar dari Utara", nama yang tidak terlalu buruk aku kira.
Kehidupanku di negeri ini bermula dari terdamparnya kakekku, Lim Man Ie, di pesisir pantai Sumatera Utara tahun 1945. Saat itu, ia sedang melarikan diri dari negerinya, Tiongkok, karena peperangan besar yang terjadi di sana.
Di Sumatera, kakek mengenal seorang gadis desa yang manis lagi baik bernama Tan Gek Nai yang kemudian ia persunting jadi istrinya. Dari hasil pemikahan itu, lahirlah papa dan pamanku. Sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena nenekku meninggal setelah melahirkan pamanku, saat itu papa baru berumur tujuh tahun. Pada saat papa berumur delapan tahun, kakek pun menyusul isterinya karena sakit diabetes dan cidera pinggang yang dideritanya.
Dalam keadaan yatim piatu, papa harus berusaha menghidupi dirinya sendiri. Saat itu, ia numpang dengan pamannya di Simpang Tiga. Di sana ia diperkerjakan sebagai pembantu hingga menikah dengan seorang penjaga toko kelontongan.
Papa dan mamaku dibesarkan dengan pendidikan yang kurang. Papa seorang lulusan SMA dan mama hanya bersekolah sampai kelas tiga SD sekolah Cina, karena sekolah itu akan dibongkar paksa karena peristiwa GestOk (PKI-red).
bon8nk
April 07, 2004, 02:36
Aku dibesarkan dalam budaya TiongHoa yang cukup kental. Dari kecil, aku sudah diajak oleh papa untuk belajar berdagang dan diajarkan berbagai ilmu tentang dagang serta semua keahlian pendukungnya.
Papa seorang perokok dan peminum. Meski demikian, ia tidak pernah ngamuk-ngamuk seperti kebanyakan peminum. Jadi, sejak umur tujuh tahun aku sudah cukup sering minum bir bersama papa, atau pernah satu sempat aku diajak nonton tarian setengah bugil bersama-sama orang tua. Namun, semua itu tidak pernah aku lakukan tanpa orang tua. Hal yang paling dilarang saat itu oleh papa adalah berjudi, merokok dan main perempuan.
Saat kelas dua SLTP, ada kegundahan yang tak dapat kujelaskan tentang sesuatu yang mengganjal dalam dadaku. Prinsipnya, aku hanya ingin benar-benar meyakini bahwa my religion is the true way of life dan bukan seorang penganut agama keturunan.
Aku memulai perjalanan ruhaniku dari agama Buddha Theravada (Buddha Thailand), Mahayana (Buddha Tiongkok), Tantrayana (Buddha Tibet), Ekayana (Buddha campuran), Buddhayana, Tridharma (Perpaduan agama Buddha, Khonghucu, dan Taoism). Karena rasa yang mengganjal itu belum terlunaskan, maka aku mempelajari ilmu Taoism Tiongkok dan Taiwan, lalu Hindu Bali dan Hindu India. Masa pencaharian diwarnai suatu tragedi di keluargaku, mamaku menderita Hipertensi dan harus masuk rumah sakit.
Pada saat mama diperiksa, aku mulai putus asa dengan keadaannya. Saat itu aku hanya teringat, bahwa aku harus memohon kepada yang bernama Tuhan, agar mama disembuhkan. Selang beberapa saat, sakit mama mereda. Yang aku panggil saat keadaan terjepit itu adalah Tuhan, bukan nama dewa-dewi yang kukenal ataupun yesus. Fitrah asalku mengatakan bahwa aku butuh Tuhan, tempat aku memohon dan berlindung dalam setiap keadaan.
Sakit yang dialami mama sudah sekitar setengah tahun. Hampir sepuluh juta, uang yang terkuras demi pengobatan mama. Keadaan keluarga semakin morat-marit, tapi mama tak kunjung sembuh. Sejak mama di rumah sakit, akulah yang tinggal di rumah melayani papa dan adikku, dari mulai memasak, membereskan rumah, dan semua yang biasa dilakukan mama.
bon8nk
April 07, 2004, 02:36
Saat itu, datanglah tetanggaku yang beragama Nasrani menawarkan untuk refresh ke Gadog Puncak. Tawaran itu aku sambut dengan baik. Kami berangkat jam 4 sore dan sampai di sana sekitar jam 10 malam. Di sana, kami tidur dahulu sampai jam 00.00. Kemudian dibangunkan untuk mendengarkan kotbah malam seorang pendeta dari Sulawesi. Saat itu, kami yang tidak semuanya Kristen pun ikut kebaktian malam. Di villa itu ada yang beragama Khatolik, Buddha, Khonghucu, dan kalau tidak salah adapula yang beragama Islam.
Si pendeta memulai khotbahnya malam itu selama dua sesi. Sesi pertama adalah kesaksian, ia mengakui bahwa dia tadinya beragama Islam namun ia tidak menemukan kedamaian di sana. Anak dan Istrinya pun bergantian bicara tentang keadaan mereka yang buruk ketika beragama Islam. Sesi kedua, ia berusaha agar kami yang di sana berucap "haleluya" bersama-sama.
Setelah sekian lama mengikuti kegiatan mereka, termasuk mencoba untuk mengkristenkan kedua orang tua saya dengan dalil-dalil gerejawi, timbul sebuah pertanyaan yang paling mendasar dalam diri saya, mengapa aku semakin ragu terhadap Yesus. Keraguan itu aku tanyakan kepada gembala gereja, tapi yang kudapat hanyalah doktrin-doktrin gerejawi.
Aku semakin tidak percaya lagi dengan doktrin-doktrin gerejawi tentang Yesus. Aku berusaha menghilangkan gambaran Yesus dari pandanganku dengan mengatakan bahwa aku tidak mencintainya lagi. Di kemudian hari, aku baru sadar bahwa hampir saja aku menjadi korban Kristenisasi dengan metode hipnotis diri dan jin.
Setelah itu, aku kembali pada agama semula, Khonghucu. Lagi-lagi Allah memberikan hidayah kepadaku melalui pengalaman gaib.
Ketika itu aku sedang sembahyang di sebuah kelenteng, seperti biasanya, aku mulai mengambil Hio atau dupa panjang, menyalakannya dan mulai menancapkannya di setiap dewa-dewi yang telah ditentukan sambil berdoa. Ketika sampai di dewa terakhir, ada sebuah suara yang berbicara di telinga kananku. Dia bertanya tentang apa yang sedang aku sembah. Aku menjawab, bahwa yang aku sembah itu adalah Buddha. Lalu ia bertanya lagi tentang yang mana Buddha itu. Aku menunjuk patung Buddha untuk menjawab pertanyaan itu. Ia bertanya lagi tentang yang aku tunjuk itu. Dengan sedikit merasa salah aku mengatakan bahwa itu patung. Ia bertanya lagi tentang siapa yang menciptakan patung? Aku menjawab, manusia! Ia bertanya lagi siapa yang menciptakan manusia? Aku mengatakan Tuhan! Sayup tapi pasti, suara itu mengatakan. "Itulah yang kamu cari. Carilah Tuhanmu, TuhanYang Menciptakan kamu dan aku, Tuhan Pencipta semesta alam ini, Tuhan Yang Membuat semua yang tiada menjadi ada. Ia Yang Pertama dan Terakhir.
Ketika aku bekerja sebagai pencuci diesel, dari stasiun Poris, naik sekeluarga Muslim yang terlihat taat agamanya. Betapa harmonis dan hangatnya keluarga mereka. Semuanya itu membuatku penasaran, hingga aku memberanikan bertanya pada bapaknya tentang resep membina keluarga seperti itu. Jawabannya sangat menakjubkan, "Allahlah yang telah membentuk keluarga seperti ini".
Allah terus membimbingku untuk kembali kepada-Nya lewat berbagai peristiwa yang memberikan hikmah mendalam pada diriku. Semuanya membuatku semakin merasa perlu mencari obat kegelisahan hatiku. Hidayah terakhir yang terjadi padaku adalah sebuah perjalanan ruhani. Aku mengalami empat hal yang membuatku tidak lagi dapat berpaling dari kebenaran Islam dan kerinduanku untuk segera menghampiri agama Allah itu.
Perjalanan pertama adalah aku mati suri selama enam jam. Di perjalankan, rohku sampai di suatu tempat yang sangat putih bersih yang disana aku memakai sorban putih, gamis putih dan memegang tasbih putih serta mulai berjalan menuju sajadah yang berwarna putih. Sayup-sayup terdengar bacaan Yasin dari seorang laki-laki, ketika aku sudah mulai duduk di atas sajadah putih itu. Akupun mulai mengucapkan satu kata yang belum pernah aku ucapkan sebelumnya, "Subhanallah'', aku bertasbih terus sampai adzan subuh sayup-sayup berkumandang.
Perjalanan kedua, aku terbang di kegelapan malam. Aku melihat sebuah cahaya keemasan yang setelah aku dekati ternyata sebuah musholla kecil yang terbuat dari kayu cendana. Setelah aku masuk musaholla itu, aku mulai membaca Quran yang sebelumnya belum pemah aku mengerti.
Perjalanan ketiga, ketika mau tidur ada sebuah bayangan memakai gamis dan sorban putih masuk lewat jendelaku. Selama kurang lebih lima menit, ia mengatakan Laa Ilaaha illa Allah. Pada pertemuan selanjutnya, ia memakai sorban dan jubah hitam serta masih melafalkan kalimah Thayyibah.
Perjalanan keempat, aku diperjalankan melihat padang Mashyar, di mana aku melihat samudera manusia berkumpul. Akhwat di sebelah kananku dan yang ikhwan di sebelah kiriku. Mereka semua berpakaian jilbab putih-putih dan kebaya bagi yang akhwat dan sorban atau peci putih bagi yang ikhwan.
Aku berjalan menembus milyaran manusia itu dan sampai di sebuah masjid. Aku masuk ke dalamnya, dan di sana terlihat pula jutaan manusia. Ketika aku hendak berkumpul dengan orang-orang itu ada seorang nenek-nenek yang memanggil ke depan dan meminta aku membaca Yasin, tetapi aku tolak karena aku tidak dapat membacanya. Alhasil, aku dikurung di suatu tempat di dalam masjid itu. Tidak begitu lama, aku dikeluarkan dari tempat itu dan diminta untuk membaca Yasin sekali lagi. Aku menolaknya kembali. Setelah itu, nenek tersebut tertawa dan mengatakan "Sejak kamu dilahirkan di atas dunia ini, kamu telah ditidurkan di atas sajadah" seketika itu aku bangun dan langsung pergi ke musholla SMU-ku dan berwudhu sekedamya dan memohon kepada Allah, jikalau memang ini yang Allah inginkan maka aku memohonkan agar Dia mudahkan jalanku untuk memeluk Islam. Alhasil, beberapa hari setelah itu, tepatnya 28 Ramadhan 1420 H, di Masjid Lautze, pasar baru Jakarta, aku ber-Islam. [MQMedia.com]
elwing
April 12, 2004, 07:55
In 1922 I left my native country, Austria, to travel through Africa and Asia as a Special Correspondent to some of the leading Continental newspapers, and spent from that year onward nearly the whole of my time in the Islamic East. My interest in the nations with which I came into contact was in the beginning that of an outsider only. I saw before me a social order and an outlook on life fundamentally different from the European; and from the very first there grew in me a sympathy for the more tranquil -- I should rather say: more mechanised mode of living in Europe. This sympathy gradually led me to an investigation of the reasons for such a difference, and I became interested in the religious teachings of the Muslims. At the time in question, that interest was not strong enough to draw me into the fold of Islam, but it opened to me a new vista of a progressive human society, of real brotherly feeling. The reality, however, of presentday Muslim life appeared to be very far from the ideal possibilities given in the religious teachings of Islam. Whatever, in Islam, had been progress and movement, had turned, among the Muslims, into indolence and stagnation; whatever there had been of generosity and readiness for self-sacrifice, had become, among the present-day Muslims, perverted into narrow-mindedness and love of an easy life.
Prompted by this discovery and puzzled by the obvious incongruency between Once and Now, I tried to approach the problem before me from a more intimate point of view: that is, I tried to imagine myself as being within the circle of Islam. It was a purely intellectual experiment; and it revealed to me, within a very short time, the right solution. I realised that the one and only reason for the social and cultural decay of the Muslims consisted in the fact that they had gradually ceased to follow the teachings of Islam in spirit. Islam was still there; but it was a body without soul. The very element which once had stood for the strength of the Muslim world was now responsible for its weakness: Islamic society had been built, from the very outset, on religious foundations alone, and the weakening of the foundations has necessarily weakened the cultural structure -- and possibly might cause its ultimate disappearance.
The more I understood how concrete and how immensely practical the teachings of Islam are, the more eager became my questioning as to why the Muslims had abandoned their full application to real life. I discussed this problem with many thinking Mulsims in almost all the countries between the Libyan Desert and the Pamirs, between the Bosphorus and the Arabian Sea. It almost became an obsession which ultimately overshadowed all my other intellectual interests in the world of Islam. The questioning steadily grew in emphasis -- until I, a non-Muslim, talked to Muslims as if I were to defend Islam from their negligence and indolence. The progress was imperceptible to me, until one day -- it was in autumn 1925, in the mountains of Afghanistan -- a young provincial Governor said to me: "But you are a Muslim, only you don't know it yourself." I was struck by these words and remained silent. But when I came back to Europe once again, in 1926, I saw that the only logical consequence of my attitude was to embrace Islam.
So much about the circumstances of my becoming a Muslim. Since then I was asked, time and again: "Why did you embrace Islam ? What was it that attracted you particularly ?" -- and I must confess: I don't know of any satisfactory answer. It was not any particular teaching that attracted me, but the whole wonderful, inexplicably coherent structure of moral teaching and practical life programme. I could not say, even now, which aspect of it appeals to me more than any other. Islam appears to me like a perfect work of architecture. All its parts are harmoniously conceived to complement and support each other: nothing is superfluous and nothing lacking, with the result of an absolute balance and solid composure. Probably this feeling that everything in the teachings and postulates of Islam is "in its proper place," has created the strongest impression on me. There might have been, along with it, other impressions also which today it is difficult for me to analyse. After all, it was a matter of love; and love is composed of many things; of our desires and our loneliness, of our high aims and our shortcomings, of our strength and our weakness. So it was in my case. Islam came over me like a robber who enters a house by night; but, unlike a robber, it entered to remain for good.
Ever since then I endeavoured to learn as much as I could about Islam. I studied the Qur'an and the Traditions of the Prophet (peace and blessings be upon him); I studied the language of Islam and its history, and a good deal of what has been written about it and against it. I spent over five years in the Hijaz and Najd, mostly in al-Madinah, so that I might experience something of the original surroundings in which this religion was preached by the Arabian Prophet. As the Hijaz is the meeting centre of Muslims from many countries, I was able to compare most of the different religious and social views prevalent in the Islamic world in our days. Those studies and comparisons created in me the firm conviction that Islam, as a spiritual and social phenomenon, is still in spite of all the drawbacks caused by the deficiencies of the Muslims, by far the greatest driving force mankind has ever experienced; and all my interest became, since then, centred around the problem of its regeneration.
Muhammad Asad (1900-1992) a.k.a. Leopold Weiss
elwing
April 12, 2004, 08:02
kalo mau baca tentang kisah-kisah muallaf yang laen di sini (http://www.usc.edu/dept/MSA/newmuslims/) ada banyak banget ::wave::
tapi ya itu bacanya kudu sabar, soalnya all in english :D
AlfaOmega
May 07, 2004, 08:34
Satu waktu Kholid bin walid memenangkan satu pertempuran di sebuah desa..
kemudian dia mengajak mereka untuk mau masuk Islam...
Salah seorang dari orang2 kafir itu bertanya pada Kholid,
"Kholid, katanya Islam adalah agama yang benar, maka tunjukkan kebenarannya pada
kami"
Kholid berpikir, orang-orang seperti mereka tidak akan ada gunanya diberi
argumen quran hadits sebab mereka tidak mempercayainya..
dan orang-orang seperti mereka juga tidak ada gunanya diberi penjelasan logis
sebab mereka kemampuan berpikirnya rendah..
maka dia memilih untuk menunjukkan dengan kenyataan..
"Baiklah, Sekarang kumpulkan racun yang kalian punyai"
Para penduduk desa meski agak bingung, mengumpulkan juga racun sesuai perintah
Kholid. Dan mereka itu kemudian berhasil mengumpulkan racun2 yang biasanya
dipakai untuk ujung anak panah sebanyak setengah botol.
Dan kemudian diberikan ke Kholid,
Kholid berkata,"Islam adalah Salam, selamat....baik di dunia ini maupun di
akherat.Bismillahirrohmanirrohim. Ini bukan racun melainkan susu"
Kemudian racun tersebut diminum oleh Kholid dan ia selamat...Berbondong2
sebagian besar masuk Islam meski ada juga yang tetep gak mau masuk Islam.
Begitulah...
Ketika kita berdialog, berdiskusi ataupun berdebat dengan seseorang...lihatlah
siapa yang di ajak berbicara...
Kalau seseorang itu tidak terlalu mau untuk diberi hujjah quran hadits, maka
menjadi kurang bermanfaat bagi orang tersebut diberi argumen dari quran
hadits...
Kalau seseorang itu sudah yakin sebab percaya quran hadits, maka juga menjadi
hal yang kurang bermanfaat bila orang tersebut di beri hujjah logika meskipun
logika itu kuat..
Kalau seseorang itu sudah yakin meski gak tahu alasannya, maka di sinilah perlu
diberi tambahan dasar argumen baik dari quran hadits maupun dari logika..
Kalau seseorang itu memang berharap menerima kebenaran, maka lanjutkanlah dengan
dialog yang baik..dengan bijaksana kalau perlu bertukar pikiran
Kalau seseorang itu berharap mendapatkan pengetahuan, maka lanjutkanlah dengan
diskusi yang baik...beradu argumen yang sehat...
Kalau seseorang itu berharap menang kalah, maka berpikirlah..kalau ada waktu ya
dilayani dengan debat...
Kalau gak ada waktu ya lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih
bermanfaat...he..he..
Sesuatu yang di dasari dengan rasa tidak suka atau benci, apa saja yang keluar
dari orang yang tidak kita suka, pastilah kita anggap tidak benar
dan sesuatu yang didasari dengan rasa suka atau cinta, apa saja yang keluar dari
orang yang kita suka, pastilah kita anggap benar...
Agama Islam adalah agama bagi orang-orang yang berakal, sehingga apa2 yang
diajarkan di dalam agama Islam pastilah bisa dipahami oleh akal.
Yakni akal yang jernih yang tidak terkontaminasi dengan suka atau tidak suka
yakni aka yang jernih yang tidak terkontaminasi dengan statemen "sesuatu yang
berbeda dengan yang kita yakini pastilah salah"
bon8nk
May 14, 2004, 05:59
Cheng Ho Laksamana Muslim dari Dinasti Ming
Kota Quanzhou di Provinsi Fujian terkenal sebagai pelabuhan besar dan pusat penyebaran agama Islam di Tiongkok Selatan sejak Dinasti Tang (619-907). Di kota itu, menurut sejarawan Cina Prof Kong Yuanzhi, terdapat masjid-masjid tertua di Tiongkok dan pekuburan para pendahulu agama Islam. Terbukti dari batu nisannya, terukir huruf dan gambar Arab serta Persia.
Pada 31 Mei 1417, tulis Yuanzhi, di Quanzhou muncul sosok Muslim Tiong Hoa, seorang laksamana pada Dinasti Ming, bernama Cheng Ho. Ia merasa perlu datang untuk berziarah ke pekuburan para leluhur Islam Bukit Ling. Menurut Catatan Bukit Barat (Xi San Zha Ji), bahkan Cheng Ho pernah shalat di Masjid Bukit Jiu Ri yang berlokasi di Nan An, sebelum pelayarannya yang pertama.
Sedangkan pada tahun 1413, sepulang dari pelayaran ke mancanegara, Cheng Ho singgah di Masjid Qinging yang berarti bersih dan tenang, di kota Xian, Provinsi Shan Xi. Masjid ini dibangun pada tahun 684 di masa Dinasti Tang. Artinya, sangat mungkin, Islam masuk ke Tiongkok pada zaman Nabi Muhammad SAW melalui sahabat-sahabatnya. Barangkali, ini berkaitan dengan seruan Nabi agar umat Islam rajin menimba ilmu kendati harus sampai ke negeri Cina.
Oleh Cheng Ho, Masjid Qinging dipugar. Ia juga membangun kembali Masjid Jingjue setelah terbakar pada 1430 sebelum melakukan pelayaran ke-7. Nah, jika begitu, siapa sebenarnya Cheng Ho?
''Banyak orang yang tak mengenal Cheng Ho,'' kata Prof Dr HM Hembing Wijayakusumah, pakar obat-obatan tradisional di Indonesia. Karena itu, ia tergugah untuk menyunting catatan sejarah Yuanzhi ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul: Muslim Tionghoa Cheng Ho; Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara.
Maka, setelah Pustaka Populer Obor menerbitkan suntingan Hembing itu, sosok Cheng Ho yang hidup dalam kurun 1371-1433, mulai terpublikasikan secara luas. ''Kami ingin mengangkat kembali sejarah Cheng Ho yang telah tenggelam,'' ucap Hembing, yang berdarah Cina.
Bagi Hembing, Cheng Ho telah membuat sejarah yang cukup gemilang. Ia seorang pelaut tangguh pada zaman Dinasti Ming yang tak tertandingi sampai saat ini. Ironisnya, tak banyak catatan tentang asal usul Cheng Ho dalam sejarah Dinasti Ming.
Buku-buku ensiklopedia hanya mengutarakan catatan pendek tentang Cheng Ho. Namun sejarawan seperti Yuanzhi akhirnya cukup berhasil mengungkap misteri Cheng Ho dan kemuslimannya.
Pada akhir 1993, menurut Hembing, Tzeng Zhe Zhiang --keturunan ke-19 Cheng Ho yang bermukim di Nanjing, Tiongkok-- berhasil diwawancarai. Zhiang membeberkan cukup banyak keterangan tentang siapa sebenarnya Cheng Ho.
Cheng Ho dilahirkan dari marga Ma, suku Hui, yang mayoritas beragama Islam. Dan Cheng Ho lahir di Desa He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan. Ia memiliki nama lain, yakni Sam Po (Sam Poo atau San Po) dalam dialek Fujian atau San Bo dalam dialek bahasa nasional Tiongkok (Mandarin).
Menurut beberapa sarjana asal Tiongkok seperti Li Shohou dan Usman Effenddy dari Indonesia, Cheng Ho secara mengejutkan ternyata keturunan ke-37 Nabi Muhammad SAW. Namun Hembing sangat hati-hati mengenai hal ini. ''Masalah Cheng Ho keturunan Nabi Muhammad merupakan persoalan yang harus diselidiki dengan cermat dan sungguh-sungguh mengingat Nabi Muhammad sebagai Rasulallah amat dijunjung oleh umat Islam. Masalah ini cukup rumit karena berkaitan dengan sejarah agama Islam yang telah berlangsung 1400 tahun,'' kata Hembing.
Ayah Cheng Ho, Ma Haji (1344-1382), seorang Muslim taat dan telah menuaikan ibadah haji, begitu pun dengan kakek dan buyutnya. Sampai saat ini, keluarga besar marga Ma atau Cheng merupakan penganut Islam yang taat. Dengan demikian, keislaman Cheng Ho tidak perlu diragukan lagi.
Ma Haji, ayah Cheng Ho, adalah seorang pelaut. Ia mempunyai enam anak, dua laki-laki dan empat perempuan. Cheng Ho adalah anak ketiga. Ibu Cheng Ho bermarga Oen. Cheng Ho memiliki wajah lebar, hidung mancung, alis mata tegak, bermata jeli, bergigi putih bagaikan mutiara, dan bersuara lantang. ''Langkahnya gagah mirip harimau,'' tulis Hembing.
Sejak kecil Cheng Ho sering mendengar cerita ayahnya tentang perjalanan naik haji dengan kapal layar selama berminggu-minggu. Banyak rintangan yang dihadapi, seperti hujan badai, iklim yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, adat istiadat yang beraneka ragam. Pengalaman sang ayah menjadi cambuk dan acuan moril yang besar artinya bagi perjalanan hidup Cheng Ho.
Malapetaka
Pasukan Ming Thai Chu menyerang dan menaklukkan Yunnan. Mereka banyak menawan anak-anak, termasuk Cheng Ho. Ia dibawa ke Nanjing, dan dengan cara yang kejam dan keji, Cheng Ho dan anak-anak lainnya dikebiri.
Pada usia 12 tahun, Cheng Ho sudah menjadi sida-sida (orang kasim/pelayan) atau disebut pula Thai Chien. Lantas ia diserahkan oleh Zhu Yuanzhang, kaisar pertama Dinasti Ming, untuk menjadi pelayan putranya yang ke-4, Zhu Di.
Kedudukan kasim umumnya tidak begitu disukai dan tidak dihargai oleh masyarakat Tiongkok di masa silam. Para sejarawan dinasti feodal Tiongkok, termasuk yang memandang kasim dengan sebelah mata. Karena itu, sedikit sekali catatan sejarah tentang Cheng Ho versi Dinasti Ming.
Namun Cheng mengubah citra buruk seorang kasim. Selama mengabdi sebagai pelayan, Cheng Ho tidak menyia-nyiakan kesempatan dan fasilitas yang ada di hadapannya. Ia ikut membaca berbagai literatur dan ikut bertempur dalam peperangan antara pihak Zhu Di dan penguasa pusat Dinasti Ming.
Sukses menjadi kasim kesayangan, Cheng Ho diangkat sebagai kepala kasim intern. Tugasnya, membangun istana dengan menyediakan segala perlengkapannya.
Pada awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di memerintahkan supaya dilakukan pelayaran-pelayaran ke Samudera Hindia (Barat). Maksudnya, untuk menjalin dan meningkatkan persahabatan serta memelihara perdamaian antara Tiongkok dan negara-negara lain. Cheng Ho terpilih menjadi panglima misi pelayaran untuk diplomasi demi memperluas pengaruh politik kerajaan Ming.
Selama 28 tahun (1405-1433), Cheng Ho memimpin armada raksasa untuk mengunjungi --bukan menjajah seperti bangsa Barat-- lebih dari 30 negara dan kawasan. Yaitu, seperti ke Asia Tenggara, Samudera Hindia, Laut Merah, dan Afrika Timur. Di negeri yang disinggahi, Cheng Ho berhasil merajut persahabatan dan perdamaian yang ia transformasikan lewat seni, budaya, dan pendidikan. Ia juga menanamkan toleransi beragama. Muhibah Cheng Ho berbeda 180 derajat dengan misi pelayaran pelaut-pelau Barat --yang awalnya mencari rempah-rempah, tetap akhirnya menjadi agresor yang kejam.
Cheng Ho menjadi akrab dengan Indonesia karena jejak pelayarannya yang selalu singgah di negeri ini. Dalam tujuh kali pelayarannya, armada Cheng Ho tak pernah melewatkan untuk berkunjung ke Pulau Sumatera. Armadanya juga enam kali mampir di Pulau Jawa.
Banyak peninggalan yang membuktikan kedatangan Cheng Ho. Malah, di Semarang, terdapat Kelenteng Sam Po Kong, sebagai tanda terima kasih dan hormat Wang Jinghong, wakil Cheng Ho, yang telah disembuhkan dari sakit oleh ramuan obat yang dibuat sang laksamana. Jinghong menetap di pelabuhan Somongan (Mangkang), meminang wanita setempat, dan membangun komunitas dagang bersama 10 prajurit Cheng Ho. zam
AlfaOmega
May 24, 2004, 12:25
'Dear All, Saya Kini Muslim'
''Allah telah mengetuk pintu hati saya. Hingga saya memilih islam sebagai jalan
hidup. Saya merasakan kebahagiaan seperti orang yang sedang jatuh cinta.''
(Elizabeth L) Sepenggal kalimat di atas, terucapkan dari mulut Elizabeth L,
seorang ilmuwan dalam bidang politik, asal London. Sepulang pesiar ke Timur
Tengah dan Israel, ia menjadi seorang yang gelisah. Sesuatu dalam dadanya
menyentak-sentak, dan menuntunnya menuju Masjid Regent Park di Central London.
Di sini, ia nyantri, belajar tentang Islam. Tak lama setelah itu, ia
mengikrarkan diri sebagai seorang Muslimah. Hal yang sama terjadi pada Caroline
Bate (30), lulusan Universitas Cambridge yang kini bekerja di sebuah bank di
kota tersebut. Ia awalnya hanya membaca buku-buku tentang Islam. Itu pun, hanya
untuk melihat sekilas tentang Islam, karena karibnya yang telah ia kenal sejak
umur 11 tahun menikah dengan seorang Muslim asal Tunisia. Selama ini, ia
berpandangan negatif mengenai Islam. Dari membaca, pandangannya sedikit berubah.
Ia makin mendalaminya dengan nyantri di sebuah Islamic Center setempat.
Pengajaran Islam, dalam pandangan Caroline begitu sempurna dan masuk akal.
Karena, ajaran Islam dapat didekati melalui pendekatan intelektual. Dalam Islam,
akal dan keimanan tak saling bertentangan.
Caroline menyatakan bahwa persepsi bagaimana wanita diperlakukan dalam Islam,
tak benar seluruhnya. Bahkan wanita memiliki posisi yang fantastik dalam
masyarakat Islam. ''Hijab yang ditakutkan banyak orang, adalah upaya untuk
memuliakan wanita, dengan melindungi auratnya. Dan hanya akan diperlihatkan
kepada suami, keluarga, dan dirinya sendiri,'' ujarnya. Kini, Elizabeth dan
Caroline menjadi bagian dari elit Inggris yang mengganti keyakinan lamanya
dengan Islam. Mereka secara terang-terangan mengaku 'nyaman' dengan agama Islam.
Di Inggris, Islam memang telah menjadi daya tarik. Ia memesona banyak elit di
sana. Banyak nama yang kemudian berpaling ke Islam. Harian Sunday Time edisi 22
Februari 2004 mencatat sedikitnya 14.200 elit Inggris yang telah berganti
keyakinan dengan menganut Islam. Di antara mereka ada nama Jonathan Birt yang
merupakan putra Lord Birt, mantan Direktur Jenderal BBC.
Juga Emma Clark, cucu perempuan mantan Perdana Menteri Herbert Asquith. Menurut
Batool Al Toma yang mengepalai New Muslim Project, yang berbasis di Leicester,
sebagian besar elit Inggris yang berpindah ke Islam adalah kaum wanita.
Jumlahnya hampir dua kali lipat dibandingkan pria. ''Umumnya mereka merasa ngeri
pada awalnya mendengar kata Islam. Agama ini dianggap memperlakukan wanita
secara diskriminatif dan kejam,'' ujarnya. Namun pesona Islam lebih kuat. Justru
dari kengerian ini, mereka tertarik untuk lebih mengenal Islam. Bukannya semakin
membenci, mereka justru jatuh hati pada Islam. ''Ternyata Islam memberikan
penghormatan kepada wanita. Mereka merasa ditinggikan di dalam Islam. Dalam
hijab, kehormatan mereka juga terlindungi,'' ujarnya.
Takut ditolak keluarga
Cerita Eleanor Martin memeluk Islam lain lagi. Ia adalah aktris TV yang berperan
sebagai WPC Georgia Cudwort dalam acara Dangerfield yang disiarkan oleh BBC
sejak pertengahan 1990-an. Kala itu, ia menjalin persahabatan dengan artis
lainnya yang berperan dalam acara tersebut, Mo Sesay yang beragama Islam.
Eleanor semula hanya memandang Sesay seperti orang Inggris kebanyakan saat itu
memandang Islam. Namun Sesay beda dari pribadi Muslim yang dibingkainya.
Pandangannya tentang Islam adalah agama yang 'kejam' kepada kaum wanita luntus
saat ia berhadapan dengan sosok rekannya itu. Sesay telah membukakan pandangan
baru bagi Eleanor Martin.
Hingga akhirnya ia memeluk Islam pada 1996. Ia menyatakan bahwa dirinya tak
yakin hingga waktu mengucapkan syahadat. ''Saya merasakan seakan jatuh di suatu
tempat dan tak ada lagi pilihan lain,'' ujarnya. Semula ia menyembunyikan
keyakinan barunya itu. Karena takut akan reaksi baik dari teman maupun
keluarganya. Ia begitu khawatir akan reaksi aayahnya, seorang radioterapis yang
kemudian pensiun dini untuk bergelut dalam lingkungan kependetaan. Namun waktu
membuat Eleanor menyatakan dirinya sebagai Muslimah. Beberapa bulan setelah
memeluk Islam ia bertemu dengan aktor Muslim Afro-Amerika, Luqman Ali, dan
mereka memutuskan untuk menikah.
Ia pulang ke rumah dan mengabarkan berita tersebut, bahwa dirinya akan menikah
dengan seorang Muslim. Ia mengaku telah menjadi Muslim pula. Di luar dugaan,
sang ibu menyambut dengan gembira dan tak mempermasalahkan agama baru anaknya.
Namun ayahnya merasa tertekan dengan pernyataan putrinya tersebut. Ayahnya
kemudian berdiskusi dengan penasihat spiritual akan peristiwa yang menimpa
putrinya. Dan ternyata kakak ayah Eleanor juga telah berislam. Akhirnya ia dapat
menerima keadaan tersebut. Bahkan merasa senang, dan menyatakan bahwa Eleanor
telah menapaki jalan Tuhan.
Dicemooh karena jilbab
Karen Allen, 30 tahun, berasal dari Stoke Newington, merasakan Islam pertama
kali dengan cemoohan rekan-rekannya. Penata acara di Sky TV ini semula
menyembunyikan keislamannya. Namun saat ia memutuskan berjilbab, tantangan mulai
bermunculan. Reaksi pertama datang dari teman-temannya, yang mencapnya sebagai
'murid' wanita Afganistan yang terbelakang. Namun Karen bergeming. Ia tetap
berjilbab saat pergi ke kantor. Dan pada akhirnya, teman-teman sekerjanya tak
melakukan hal itu lagi.
Sebaliknya, mereka memuji bahwa jilbab yang ia kenakan merupakan pilihan yang
sesuai dengan dirinya. Ia terlihat rapi dan cantik. Dari sisi batin Karen, ia
mengaku lebih terjaga dan aman. Masing-masing figur menemukan Islam dengan cara
yang berbeda. Jonathan Birt memeluk Islam melalui pergulatan pemikiran yang lama
pula. Ia dibesarkan dalam keluarga besar yang terhormat (baca: ningrat-red) di
London, dengan tradisi Kristen yang ketat. Namun langkah berani ia lakukan. Ia
membandingkan antara Islam dengan kepercayaan yang ia peluk. Hingga ia
berkesimpulan bahwa Islam begitu mudah dan sederhana. Islam adalah sebuah
monoteisme. Dan juga merupakan sistem moral yang jelas. Tak ada kitab suci yang
secara jelas menyatakan tentang keesan Tuhan, selain Alquran. Didasari keyakinan
itulah kemudian Jonathan Birt memeluk Islam pada 1997.
Jonathan Birt, yang kini menyandang nama Yahya, juga melakukan survei yang sama
dengan Sunday Times mengenai melonjaknya jumlah pemeluk Islam di Inggris pasca
tragedi 11 September. Ia mengumpulkan data-data valid untuk mengungkap fenomena
yang agak sensitif tersebut. Melalui studinya ia menyimpulkan bahwa telah
terjadi gerakan yang masif dari orang-orang Kristen untuk mengubah keyakinannya
menjadi seorang Muslim. Menurut dia, seperti yang terjadi di AS, gelombang 'rasa
tertarik mengetahui Islam' juga melanda Inggris. Hal ini menjadi sesuatu yang
fenomenal, mengingat setelah tragedi itu, Islam justru tengah menjadi agama yang
disudutkan. Fenomena inilah yang diangkat dalam tesisnya untuk meraih gelar
doktor di Oxford University. Dalam laporannya, ia menfokuskan pada kehidupan
kaum muda Muslim Inggris.
Berawal dari kegelisahan, mereka menemukan Islam. Umumnya pandangan mereka
tentang agama ini sama, yaitu merupakan ajaran yang lengkap, seimbang, dan
integral. Menurutnya, Serangan 11 September 2001, telah memantik orang-orang
Inggris berpaling kepada Islam. Mereka terdorong ingin mengetahui lebih dalam
tentang Islam. ''Mereka ingin membuktikan pula kebenaran pandangan Barat selama
ini tentang Islam. Apakah memang Islam mengizinkan umatnya berlaku keji dengan
melakukan pembunuhan juga mengabaikan hak-hak wanita,'' ujarnya. Dan, mereka pun
tidak malu-malu lagi menutupi keislamannya. ''Dear all, kami kini menjadi
seorang pemeluk Islam,'' begitu situs suite1001 menuliskan tentang suara hati
mereka.
notebook486
May 29, 2004, 21:29
ALHAMMDULLILAH
tatoo
June 12, 2004, 14:19
wauw......ternyata ada jg bule yg tertarik mempelajari padahal tdnya gak suka
AlfaOmega
June 17, 2004, 11:59
Fatima Nama Anakku
Aku namakan anakku Fatima...
Agar dia bisa seperti Fatima Az Zahra putri Rasulullah
Aku namakan anakku Fatima
Agar dia dapat menjadi pintu surgaku kelak
Aku namakan Anakku Fatima
Agar dia dapat menjadi pelipur lara ayahnya Aku namakan anakku Fatima
Agar dia memikirkan kesulitan orang lain diatas kesulitan sendiri
Aku namakan anakku Fatima
Agar dia selalu mendo'akan orang lain lebih dahulu
Sebelum mendo'akan keluarganya dan dirinya sendiri
Aku namakan anakku Fatima
Agar dia tidak bermewah-mewah di tengah sekelilingnya yang miskin papa
Barangkali harapanku terlalu muluk-muluk
Dan aku berkaca terhadap diriku sendiri
Sudahkah aku sebagai ibunya bersikap seperti Sayidah Khodijah
Yang membenamkan dirinya hanya pada cintanya pada Allah
Sudahkah aku sebagai ibunya bersikap seperti Sayidah Khodijah
Yang mencintai Rasulullah lebih besar dari cintanya pada dirinya sendiri
Sudahkah aku sebagai ibunya bersikap seperti Sayidah Khodijah
Yang mengorbankan hartanya untuk membesarkan kebenaran agama Allah
Atau kalau aku tak punya harta seperti Sayidah Khodijah
Sudahkah aku bersikap seperti Sayidah Fatima
Yang selalu merindukan berkasih-kasihan dengan Allah Sang Penciptaku
Yang Setiap malam mendo'akan orang lain terlebih dahulu
Sudahkah aku bersikap seperti Sayidah Fatima
Yang memikirkan kesulitan orang lain meski hidupku sendiri dalam kesulitan
Yang tidak bermewah di tengah orang-orang yang miskin papa
Dan...
Sudahkah aku menghibur lara ayahku ketika ayahku masih hidup
Sudahkah aku bersedekah atas namanya agar penderitaannya dalam kubur terhapus
Ya Allah... Jadikan aku sebagai pelipur lara kuburnya
Ya Allah... Jadikan aku sebagai jubah ayahku untuk melindunginya dari api neraka
Ya Allah... Jadikan aku jembatan dari pintu surga ayahku
Ya Allah... Jadikah aku sebagai Fatima ayahku
Amin... Amin... Amin... Ya Robbal aalamin.
Ditulis oleh Tsabita
Dibacakan oleh Ratih Sang pada Peluncuran CD Puisi Kata, Mata dan Hati Ratih
Sang
Hotel Kemang, 23 Mei 2003
AlfaOmega
June 18, 2004, 13:49
Memakan Bangkai Saudara (http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=139515&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=283)
Penulis : Rudy Harahap
Siapakah kita yang gemar bergunjing? Kita seringkali tak menyadari jika diri ini seringkali tergoda untuk membicarakan orang lain. Kita, bahkan, kerap berbisik-bisik menyingkapkan kelemahan orang. Tapi, sadarkah kita ketika membeberkan aib orang, sesungguhnya, mengumbar buruk diri sendiri.
Tapi, kita seringkali lalai, sehingga gemar bergunjing. Tak mengherankan, kita pun bermukim di negeri gosip, negeri yang menjadikan pergunjingan menjadi komoditi. Kita, ironisnya, tak menyadari hal tersebut, bahkan, menjadi bahagian komoditas tersebut.
Tak percaya? Bukalah saluran televisi: di pagi hari, satu stasiun televisi swasta, menjadikan tayangan infotainment --- dengan kata kunci pemandu acara ''gosip... gosip... gosip'' --- sebagai pengantar pemirsa bekerja. Kita menjadikan gosip, misalkan, artis X berselingkuh dengan pengusaha Y, sebagai sarapan pagi. Ah, nikmatnya menjadi pengusaha yang memiliki kekuasaan uang, sehingga dapat berselingkuh dengan artis jelita.
Angan-angan demikian, akankah menawarkan keberkahan ketika pagi dijadikan-Nya sebagai awal mencari rezeki-Nya yang berserakan di muka bumi. Kita pun memulai pagi yang bersih dengan prasangka-prasangka. Prasangka senantiasa menepiskan keberkahan bekerja (jangan-jangan kita jadi lebih banyak bergunjing ketika bekerja).
Di petang hari, ketika keletihan bermuara di rumah, kita kembali disuguhkan tayangan gosip dari berbagai stasiun televisi swasta. Berbagai tayangan infotainment itu bersaing untuk menyuguhkan gosip selebritis. Pengusaha televisi dengan senang hati menyuguhkannya karena, ironisnya, kita menyukainya. Kesukaan publik berarti gemerincing uang di pundi-pundi mereka.
Tapi, siapakah gerangan kita yang gemar bergunjing? Maraknya tayangan semacam itu sesungguhnya menunjukkan siapa diri kita, bahkan, sebagai bangsa. Di luar tayangan infotainment, meloncati gosip kehidupan para selebritis, kita di hari-hari ini keranjingan berkasak-kusuk: pemimpin anu yang memiliki istri hingga sekian, pejabat polan kabar-kabarnya korupsi sekian milyar, atau pemimpin partai politik W diam-diam menggalang kekuatan untuk menjegal Z.
Kasak kusuk demikian seringkali melahirkan prasangka. Islam melarang pemeluknya berprasangka buruk. Mengapa? Prasangka buruk, tak sekadar membuat kegelisahan jiwa, juga menebar fitnah (perpecahan). Tak mengherankan, Allah mendudukkan prasangka demikian sebagai dosa, sekaligus bagi penggunjingnya laiknya memakan daging saudaranya. ...Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?... (QS 49:12)
Begitu berbahaya fitnah, Nabi SAW melukiskan, umatku ini dirahmati Allah dan tidak akan disiksa di akhirat, tetapi siksaan terhadap mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan dan musibah-musibah (HR. Abu Dawud). Tak sekadar mencerminkan zalimnya fitnah, Hadis tersebut pun menunjukkan betapa 'karib' kehidupan kita di dunia dengan siksaan fitnah.
Nabi SAW pun sempat merasakan perihnya fitnah. Fitnah itu bermula dari tertinggalnya Aisyah dari rombongan Nabi SAW, seusai berperang dengan Bani Musthaliq, pada Syaban 5 H. Istri Nabi SAW sendirian di gurun yang lengang. Sahabat Shafwan ibnu Mu'aththal yang melewati tempat itu menemukan Aisyah sendirian. Ia pun menyuruh ibu kaum Muslim ini menaiki unta dan menuntunnya ke Madinah.
Apa lacur? Tanpa mengetahui duduk perkara, orang-orang yang menyaksikannya, menggunjingkan Aisyah dan Shafwan. Seperti Hadis Nabi tadi, gunjingan itu sempat menggoncangkan, di kalangan kaum Muslim. Akibatnya, Allah menyesalkan kaum Muslim yang tak bersangka baik, bahkan, menganggap perkara yang tak diketahui duduk perkara itu, sebagai hal ringan. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS 24:15). Bahkan, menjanjikan azab yang pedih di dunia dan akhirat, bagi penyulut fitnah tersebut (QS 24:19).
Demi mencegah fitnah, Allah pun tegas memberikan hukum bagi mereka yang menuduh wanita berzina. Yaitu harus mendatangkan empat orang saksi. Bila tak dapat?/Deralah mereka delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik (QS 24:4). Begitu pun Hukum Li'an --- harus bersumpah dengan nama Allah sebanyak empat kali --- bagi suami yang menuduh istrinya serong tanpa bukti.
Dahsyatnya fitnah dan prasangka buruk tak hanya diisyaratkan Alquran. Psikologi di abad ini, mengadopsi kesempurnaan Alquran, mengajarkan prasangka buruk hanya akan melahirkan energi buruk. Jika seseorang senantiasa berpikir buruk, niscaya ia tak sekadar menciptakan energi buruk, tetapi menuai keburukan.
Tak mengherankan, pelatihan seperti Neuro Associative Conditioning (NAC) System, menekankan agar siswanya berpikir dan berprasangka baik. Dengan berpikir dan berprasangka baik, demikian ajaran NAC, akan menciptakan energi positif, bahkan, menciptakan kebaikan.
Dalam bahasa sufi, pendekatan mental demikian, seperti diungkapkan Rumi: perkataan yang baik bagaikan tanaman mawar yang tumbuh di pekarangan. Dengan berkata baik mengenai seseorang, sesungguhnya, perkataan baik itu menjadi pujian bagi orang yang mengucapkannya. Tak mengherankan, para pejalan ruhani memilih membisu, bila tak ada perkara kebaikan yang mesti dibicarakan. Membiasakan hati berdzikir justru menghindarkan perkataan yang buruk.
Bila ilmu psikologi modern seperti NAC, atau bahasa klasik kaum sufi, menganjurkan agar berprasangka baik, mengapa kita masih terlena menggunjingkan keburukan seseorang? Jangan-jangan tayangan infotainment yang menyerbu bilik rumah --- yang sebagian menyebabkan selebritis masygul karena digosipkan --- justru telah menyemprotkan energi buruk di rumah tangga. Kita menganggap ringan gunjingan, sebagaimana tayangan di layar kaca, padahal sesungguhnya masalah besar di sisi-Nya.
AwangZ
July 02, 2004, 11:01
Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat.
Seorang kolumnis majalah Al Manar
mengisahkannya...
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat.
Terutama bagi muslimah, untuk tetap
mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan
panas tak lantas menjadikannya menggadaikan
akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan
menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa
dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang,
Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada
seorang perempuan muda berpakaian kurang layak
untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat.
Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung
kursi dekat pintu keluar.
Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu
mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan
sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak
setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya
mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa
mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi
dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga
melanggar aturan agama dan norma kesopanan.
Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut?
Dengan ketersinggungan yang sangat ia
mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa
privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya
adalah hak prerogatif seseorang.
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong
pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!
Sebuah respon yang sangat frontal.
Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus
menggumamkan kalimat-kalimat Allah.
Detik-detik berikutnya suasanapun hening.
Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap
dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda
itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung
tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria.
Kini semua penumpang bersiap-siap untuk
turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan
muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia
berada didekat pintu keluar. "Bangunkan saja!"
begitu kira-kira permintaan para penumpang.
Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda
tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui
ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus
beristighfar, menggumamkan kalimat Allah
sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk
disampingnya.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan
menantang Tuhan. Seandainya tiap orang
mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa
berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan
Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan
Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih
terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang
dekat denganNYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera
sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada.
Sumber: Cerita dari Mesir "Pesankan Saya, Tempat
di Neraka!!"
AwangZ
July 02, 2004, 11:03
SANG RAJA SAKIT JANTUNG
Emha Ainun Nadjib
Pernah saya diusir keluar dari sebuah Warung Kopi di sebuah kota kecil Jerman Timur, gara-gara saya cekeran, tak pakai sandal maupun sepatu. Saya lari terbirit-birit pakai satu kaki, sementara kaki yang lain saya ceplesi dan saya maki-maki "Kamu ngisin-ngisini! Tidak berbudaya! Tidak tahu peraturan...."
Semua pengunjung warung terbengong. Baru beberapa saat kemudian ada yang 'tersadar' dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan betapa saya bersikap tegas kepada kaki saya yang loyalitas nasionalnya begitu rendah sehingga mengganggu ketertiban dan stabilitas.
Di Jerman Timur, apa saja berstatus 'negeri'. Juga warung kopi, kereta api, nyawa manusia, kehidupan dan kematian. Pelayan warung tinggal bekerja dan dapat gaji tetap. Kalau ia tidak tersenyum kepada pembeli, gajinya tidak disunat. Kalau pendapatan warung turun, gajinya juga tetap. Jadi ia tidak perlu menggenggam dalam hati dan otaknya slogan "Pembeli adalah Raja". Justru dialah raja kecil, dan karena itu tak ada resiko manajemen apa pun sehabis mengusir saya.
Berbeda dengan dunia kapitalisme Jerman Barat. Kalau pelayan sedikit saja tak sopan, saya langsung lapor sama Boss dan ia bisa juga langsung dipecat. Maka pelayan warung kopi Jerman Barat amat suka senyum, penuh kesabaran meladeni, sebab pelanggan adalah kapital nomer satu. Cuma, ia tersenyum tidak sebagai manusia, melainkan sebagai pelayan. Ia tersenyum kepada kita bukan karena hatinya memang hendak tersenyum kepada kita, melainkan demi proses kapitalisasi. Manusia - yang menyempitkan diri jadi pelayan itu - mengabdi kepada proses kapitalisasi, kepada kapitalisme, kepada tujuan kebendaan atau istilah popnya: berhala.
Lha, saya, sebagai pelayan Warung Kopi, terus terang ogah bersikap seperti pelayan Jertim itu maupun Jerbar.
Saya tidak mungkin merengut atau apalagi mengusir Anda, meskipun misalnya kopi yang saya suguhkan ini Anda guyurkan kembali ke wajah saya. Saya Insya Allah akan tetap tersenyum, tapi senyuman saya juga tidak demi supaya kopi saya laku. Kapitalisme belum pernah secara resmi meminta saya jadi budaknya, sehingga saya memang tidak akan pernah menjadi budak kapitalisme.
Saya tersenyum kepada Anda karena kita sama-sama berproses mencari kebenaran. Kita tahu bersama betapa susahnya menemukan kebenaran, yang jalan kepadanya begitu ruwet dan silang-sengkarut itu. Anda juga tahu betapa susah meracik "kopi yang benar dan sehat" untuk semua pelanggan. Benar bagi yang satu, tidak benar bagi lainnya. Sehat bagi yang satu, tak sehat bagi lainnya. Yang disebut benar itu ada seribu macam kriterianya, juga yang dinamakan sehat. Ada yang suka kopi nasgithel, panas-legi-kenthel. Lainnya kalau dikasih nasgithel malah sakit jantung, maka dia usul kasih nasgicer saja.
Atau saya bikin nasgideng, panas-legi-sedhengan? Nanti malah keduanya tidak puas, yang satu kurang mat-matan, lainnya gebres-gebres. Malah-malah dia bilang: "Ini kopi nasgideng, panas legi gendheng!"
Satu-satunya jalan hanyalah Islam: tawashau bilhaq tawashau bishshabr. Saling mewasiati kebenaran dan kesabaran. Artinya, terlebih dulu kita semua musti saling sabar, saling memperluas pengertian, toleransi, menyediakan ruang dalam hati dan pikiran masing-masing bagi orang lain yang berbeda-beda....
Quoted by Redaksi from :
"Secangkir Kopi Jon Pakir", Emha Ainun Nadjib, Mizan, Bandung, cetakan IV, 1994
Sumber : padhang-mbulan@yahoogroups.com
AlfaOmega
July 05, 2004, 15:38
KISAH PEMUDA YANG BERNAMA 'UZAIR
Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang menghijau dengan pokok-pokok tamar dan tiba-tiba hatinya telah terpesona serta tertarik untuk memikirkan rahsia keindahan dan keajaiban alam ini. Sesudah memetik buah-buahan dia pulang dengan keldainya sambil menikmati keindahan-keindahan alam sekitarnya sehingga keldai yang ditungganginya tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah dia sedar bahwa dia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali oleh beliau serta sudah jauh dari negerinya sendiri.
Sebaik saja dia sampai ke daerah itu dilihatnya kampung itu baru saja diserbu oleh musuh-musuh sehingga menjadi rosak-binasa sama sekali. Di tapak atau bekas runtuhan terdapat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan yang sudah busuk serta hancur. Melihatkan pemandangan yang mengerikan itu, dia pun turun dari keldainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Manakala keldainya itu ditambat di situ, kemudian dia pun duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh bagi melepaskan penatnya. Dalam pada itu, fikirannya mula memikirkan mayat manusia yang sudah busuk itu.
"Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan kembali di negeri akhirat?" begitulah pertanyaan yang datang bertalu-talu da tidak terjawab olehnya sehingga dia menjadi lemah-longlai dan kemudian terus tertidur. Dalam tidur itu, dia seakan-akan bertemu dengan semua arwah (roh-roh) orang-orang yang sudah meninggal itu. Tidurnya amat luar biasa sekali, bukan hanya sejam atau semalam, tetapi dia telah tidur terus-menerus tanpa bangun-bangun selama seratus tahun lamanya.
Dalam masa dia tertidur itu, keadaan di sekitarnya sudah ramai lapisan baru, rumah serta bangunan-bangunan banyak yang telah didirikan. Dalam masa seratus tahun itu, segala-galanya sudah berubah, manakal 'Uzair tetap terus tidur tersandar di dinding buruk itu menjadi jasad (tubuh) yang tidak bernyawa lagi. Dagingnya sudah hancur dan tulang belulangnya sudah hancur lebur berderai.
Kemudian jasad 'Uzair yang telah mati, daging dan tulangnya yang sudah hancur itu disusun kembali oleh Allah pada bahagiannya masing-masing lalu ditiupkan ruhnya. Dan ketika itu juga 'Uzair hidup kembali seperti dahulu. 'Uzair terus berdiri seperti orang yang bangun dari tidur lantas dia mencari keldai dan buah-buahannya di dalam keranjang dahulu.
Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, "Tahukah engkau ya 'Uzair berapa lama engkau tidur?"
Tanpa berfikir panjang 'Uzair menjawab, "Saya tertidur sehari dua ataupun setengah hari."
Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Bahwa engkau terdampar di sini genap seratus tahun lamanya. Disinilah engkau berbaring, berhujan dan berpanas matahari, kadang-kadang ditiup badai dan berhawa sejuk dan juga panas terik. Dalam masa yang begitu panjang, makanan engkau tetap baik keadaannya. Tetapi cuba lihat keadaan keldai itu, dia sendiri pun sudah hancur dan dagingnya sudah busuk."
Berkata malaikat lagi, "Lihatlah dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah. Allah dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur dan dengan semudah itu pulalah Tuhan akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati itu nanti di akhirat untuk diperiksa dan diadili segala perbuatannya. Hal ini diperlihatkan oleh Tuhan kepada engkau supaya iman engkau tetap dan engkau sendiri dapat menjadi bukti kepada manusia-manusia lain supaya engkau dan manusia-manusia lain tiada syak dan ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan Tuhan tentang akhirat itu."
Setelah 'Uzair melihat makanan dan keldainya yang sudah hancur itu, maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahwa Allah itu adalah berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu." Tiba-tiba keldai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi seperti sediakala iaitu hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahwa Allah berkuasa di atas segala-galanya." Lalu dia pun terus mengambil keldainya dahulu dan terus menunggangnya pulang ke rumahnya dahulu dengan mencari-cari jalan yang sukar untuk dikenali. Dilihatnya segala-gala telah berubah. Dia cuba mengingati apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dahulu. Setelah menempuhi berbagai kesukaran, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Sebaik saja dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah pun buruk di mana segala dinding rumahnya telah habis runtuh. Semasa dia memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia ternampak seorang perempuan tua, lantas dia pun bertanya, "Inikah rumah tuan 'Uzair?"
"Ya," jawab perempuan itu. "Inilah rumah 'Uzair dahulu, tetapi 'Uzair telah lama pergi dan tiada didengar berita tentangnya lagi sehingga semua orang pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain kali ini saja." Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata.
'Sayalah 'Uzair," jawab 'Uzair dengan pantas. "Saya telah dimatikan oleh Tuhan seratus tahun dahulu dan sekrang saya sudah dihidupkan oleh Allah kembali."
Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, "'Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh Tuhan dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit tenat." Sambunya lagi, "Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah tua dan lemah, mata saya telah pun buta kerana selalu menangis terkenangkan 'Uzair. Kalaulah tuan ini 'Uzair maka cubalah tuan doakan kepada Tuhan suaya mata saya terang kembali dan dapat melihat tuan."
"Uzair pun mendaha kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa ke hadrat Tuhan. Tiba-tiba mata orang rua itupun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah merenung wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar, tuanlah 'Uzair. Saya masih ingat." Hambanya itu terus mencium tangan 'Uzair lalu keduanya pergi mendapatkan orang ramai, bangsa Israil. 'Uzair memperkenalkan dirinya bahwa dialah 'Uzair yang pernah hidup di kampung itu lebih seratus tahun yang lalu.
Berita itu bukan saja mengejutkan bangsa Israil, tetapi ada juga meragukan dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran 'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, "Saya masih ingat bahwa bapa saya mempunyai tanda di punggungnya. Cubalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia 'Uzair."
Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu percayalah sebahagian daripada mereka. Akan tetapi sebahagian lagi mahukan bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahwa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke atas bangsa dan negara Israil dan setelah tentera tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tiadalah seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat kecuali 'Uzair saja. Kalau benarlah tuan Uzair, cubalah tuan sebutkan isi Taurat yang betul."
'Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahwa sungguh benar itulah 'Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil punpercaya bahwa dialah 'Uzair yang telah mati dan dihidupkan semual oleh Tuhan. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan 'Uzair serta meminta nasihat dan panduan daripadanya. Tetapi sebahagian daripada kaum Yahudi yang bodoh menganggap 'Uzair sebagai anak Tuhan pula. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak samada 'Uzair mahupun Isa kerana semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. Janganlah kita was-was tentang kekuasaan Allah, maka hendaklah dia fikir siapakah yang menciptakan dirinya itu. Adalah mustahil sesuatu benda itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Allah, ubatnya hanya satu saja, hendaklah dia membaca dan memahami al-Qur'an, was-was terhadap kekuasaan Allah itu hanya datangnya dari syaitan.
Allah S.W.T telah meletakkan komputer dalam kepala kita untuk berfikir, oleh itu gunakanlah akal kita untuk berfikir.
AlfaOmega
July 13, 2004, 16:50
5 Syarat Bermaksiat
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan Dia; Sedang cahaya Mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan Mereka, sambil Mereka mengatakan :”Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah Kami;Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QS.AT-TAHRIM: 8 )
Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi di Bagdad, dia berkata,'Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat.
Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata,“Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh saja kamu melakukan maksiat”
Lelaki itu dengan penasaran bertanya.”Apa saja syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?”Ibrahim bin Adham berkata,
”Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya”.
Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata,”Lalu aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? “Ya” tegas Ibrahim bin Adham.Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya,sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?”
“Yang kedua,” kata Ibrahim,”kalau mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya!”
Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya,”Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya?”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!”
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata,”Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?'' kata Ibrahim.
Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.Ibrahim melanjutkan,
”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya," Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh”.
Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar,“Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku?”Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?”
“Baiklah, apa syarat yang kelima?”Ibrahim pun menjawab,
“Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.”
Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar.Dia berkata,”Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak Kehendaknya”.Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim.Air matanya mengalir bercucuran.
“Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah dengan sebenar benarnya taubat”,katanya sambil terisak.
AwangZ
August 06, 2004, 10:25
:)Anak umur 10 tahun yg masuk Islam:)
By Waa’il Abdul Salaam
My story of becoming a Muslim at the age of ten years old might be unusual, but it was very real for me. I want to share my story in case other kids might be going through the same problems I went through. I was born into my birth family, with a mother who was Roman Catholic and a father who was Baptist. When I was born I had one sister who was a year and a half older than myself. When I was six weeks old, my birthfather took me from my crib and ran off with another woman. He left my birthmother alone with my sister. He hid me and was involved in drugs. I remember the first few years of being very hungry and alone. I remember how I was very angry and had a bad temper.
During those first few years, my birthmother’s friends got her a job as a bartender, so she could support herself and my sister. After awhile one of my birthfather’s friends went to her and told her where I was because he was afraid something bad was going to happen. My birthmother came right away and found my birthfather and his friends doing drugs. She saw me running around being neglected, so she picked me up and left with me. I didn’t really know her. I guess maybe I thought I was being kidnapped or something, so I threw temper tantrums every chance I got and became even more angry.
Eventually my birthmother finally got me to smile, learn how to hug, and even say I love you, all things I didn’t know how to do when she found me. My birthmother then had two of us kids to support and herself, so she wound up spending more time working at the bar, which meant we had to stay with different babysitters. One day my birthfather came to the house where we lived and took me back where he was living with another lady. By the end of that year, he tried to put me in school which did not work. I did everything I knew that was bad just to get into trouble.
The school called and said I couldn’t come back because of my behavior, so he took me back and dumped me at my birthmother’s doorstep. She was happy I was back and took me to my sister’s school. I thought I was getting left again, so I threw a fit, hit my teachers and other kids, and the school called my birthmother and said I couldn’t go to school there either. I was mad at everyone. I did the worst things I could think of to do every chance I got. This time my birthmother got on a plane with me and we flew to her mother’s house, (my grandma’s) far across the country, in another state. She was nice and loving to me, but she was very strict about my throwing fits. She didn’t yell at me or anything, but whenever I destroyed something or had a tantrum, she would take hold of my hand and walk me outside to a pile of small wooden blocks, on the side of the house. She would tell me to move all the little wood blocks from one side of the driveway to the other, and when I was done to come and let her know. Then she would go back inside and leave me there to do it by myself. At first I was so mad at her, but by the time I finished moving the little blocks, I wasn’t mad any more. It was kind of like a game.
By the end of the eight months I lived with my grandmother, I stopped throwing tantrums, and I used to sit on her lap and listen while she read bible stories and poems to me until I fell asleep. I learned all my school lessons, knew how to ride a horse, and I absolutely knew how to move blocks around. At the end of that time, it was time for me to go back home, and I was doing so well that I got to ride on a plane all by myself (with an escort of course). I felt very grown up and very happy. She told me that I was going to be just fine, and that whenever I got angry or sad or lonely, I should think about God. She said I should always remember how He took care of all the people in the Bible and if I would ask him she knew he would take care of me too. She told me whenever I got upset of angry that I should never hurt someone. Instead I should just pray to God until I wasn’t angry anymore.
After I got back home, my mother was happy because I wasn’t hurting people. I wasn’t throwing tantrums. I was eating well and not afraid to sleep. I was happy almost all of the time. Then, again my birthfather came one day. He saw how good I had turned out and just like before, he took me away again. He knew my birthmother had to work to take care of us kids but he would never give her even one penny to help. He even divorced her without telling her. She worked all the time, babysitters took care of my sister and a new brother that had born while I was away, and I was gone again. The new lady my birthfather was living with was so cruel. I lost a lot of weight and I am not sure how things happened, but it was during that time that I supposedly split my head open on monkey bars at the school, and supposedly was hit by a jeep in front of their home. I don’t remember those things too clearly, but I do remember his girlfriend picking up a two by four and hitting me with it in the front yard. I also remember my birthfather slamming my head into the kitchen table because I didn’t write fast enough. He and his lady friend would threaten me by convincing me that the devil would come out of my bedroom floor and take me to burn in hell if I got out of bed while they were having drug parties.
This went on until I was in fourth grade. My birthfather used to show me a big baggie filled with drugs he was then getting from a doctor and telling me how good they made him feel. His house was filled with dirty magazines and MTV movies and it all seemed normal because that was all I ever knew back then. I didn’t know there was any other way to live. I had long forgotten how my grandmother had taught me to pray and I couldn’t remember the wonderful days I spent with her, or riding the horses, or being hugged and read to, about God. All the bad stuff at that age seemed to push the good stuff away. When it was time to start fourth grade I became uncontrollable at school, figuring I would get sent back to my birthmother or grandmothers. I didn’t stop until I got what I wanted and it worked. I was taken back and left with my birthmother. By then, she was working around sixty hours a week, would come home tired, be yelling and screaming, expecting us to take care of ourselves, and not to give her anymore trouble. I wanted attention from her, so I went back to being a brat and being mean to my sister, and by then my new little brother who I resented even more.
By the end of the first month of that school year, I was the worst I had ever been. My birthmother couldn’t cope with me one minute longer. My birthfather had already made me go to doctors and they put me on five different kinds of medicine from Ritalin to even worse drugs, to try to control me and even that didn’t work. In fact, that stuff made me worse and none of it worked. I beat up other kids, started fights, accused them of doing things they didn’t do, stole things, lied, refused to obey the teachers, or do any work. School to me was a place I was going to play and do whatever I wanted to do. I knew they couldn’t do anything about it. I thought I was really something and all I thought about was me. They sent me to the hall, to the office, home, even put a box around me in class to keep me from bothering other kids, and I still didn’t give up.
Don’t get me wrong here, I am NOT saying all this to sound cool. I was an idiot to say the least. I know that now. I want other kids to know it doesn’t have to be that way, regardless of their family problems. So, if I don’t say how bad it had gotten they won’t be able to understand. I was only ten years old. I am thirteen, almost fourteen now, and I think back when I was ten and I cannot believe I was even the same person or that the kid I am telling you about above was for real. He was for real and he was me! Most people wouldn’t believe that a ten-year-old kid could be as bad and do as bad of things as I did, but this is true. It all finally came to the end for me, when I called another kids home, pretending to be another kid and saying the boy was missing. You can image how much trouble I was in then! That only got me put on more drugs from the doctor. All those drugs made me see things and hear things that weren’t there and made me angry enough to be dangerous. I don’t believe anyone should put their kids on those drugs even if the school insists. Adults just have no idea what those drugs do to kids or what they make kids think about. I am proof to tell you that kids are not going to admit to parents or doctors or anyone, when they have horrid thoughts, because of the drugs. Anyway, when the drugs weren’t helping and I was getting into even more trouble, it was at that point they threatened to put me out of the family forever. All of a sudden, my birthmother didn’t want to put up with it anymore and my birthfather didn’t want me either. I didn’t know what was going to happen to me.
lanjuut.....
AwangZ
August 06, 2004, 10:27
When I least expected it, there was someone who offered to take me into their home and try to help me. They didn’t have children living at home, so there would be no one for me to hurt and they would homeschool me, until my behavior got in check. Neither of them drank and they didn’t use drugs. They were not going to give me any drugs and promised I didn’t have to go to a bunch of doctors unless I was physically sick. It was my last chance. I said okay and I was put on a plane and sent to their home. They picked me up from the airport. It was Jumaana and her husband Waseem. All of a sudden I felt different. Here was a new couple. I thought I would get away with more stuff. The family back at my home already knew my routines, so they caught me right away everytime I did something wrong, but these two wouldn’t know how I operated. At first, I tried to be loud and a real brat. I did a good job for a few days, reminding them both that they said I didn’t have to take all those drugs. They looked like they didn’t know what to do with me exactly but they re-assured me that their promise was good.
They had a room all ready for me when I arrived. The walls were pale blues, my favorite color. It had a blue carpet and blue drapes and even a blue bedspread. There was a desk, just for me to use, and even a small fish tank with a light that stayed on all night and fish that swam in and out of the rocks. It was incredible. I had never had anything like that for myself. I used to sleep on the floors on a blanket or on a couch in the living room before. As the days passed, the drugs were draining out of my body. It made me tired and drowsy most of the first few weeks and I slept a lot. I was ten years old and weighed forty-eight pounds because the drugs make you too sick to eat. By the end of the first month, I gained several pounds and felt better than I had in a long time. I did NOT want to get put back on that stuff ever again. The second month, my homeschool box was delivered to the house and Jumaana began to teach me every day, when Waseem was at work.
I could see how different it was in Jumaana’s and Waseem’s house. Not just because it was in Denver, but it was lots of things. At certain times, Jumaana would leave the room to go to her room. I would pretend to keep working, but I couldn’t help but notice that she would put on a long scarf over her head and a small rug on the floor and I wasn’t sure what she was doing back then, but she would be praying. I watched her do that every day and finally one day, I asked about it. I think that was when I stopped being so bad and started wondering about other things. See the house there was different, quieter, more peaceful, something I wasn’t sure about, because for ten years I had only known people who were either drugged up or drunk, or just plain mean. This was like a different planet, I think you could say. I didn’t exactly know what to think about it, but I did start liking being there. I tried not to get too attached because I figured one day I would get sent away again, it always happened and I didn’t want to think about it. That’s why I would have a couple good days and then I would go back to my old ways, just in case I guess.
Every day I asked more and more questions. Jumaana or Waseem would do their best to answer them. I wanted to learn to pray too, so one day I asked if I could pray with her. She said I could and even opened her closet and gave me new blue velvety prayer rug. I followed everything she did and I listened to every word, but I still couldn’t seem to be still, always wiggling and moving around, but after a couple weeks I could be still, and I felt so peaceful inside. I never remember feeling that way before. One evening, after I had gotten settled into bed for the night, Jumaana came into my room and ask if I was doing okay. I told her yes and she said she thought I had become more quiet lately and wondered if there was anything I needed. Waseem and her always talked nice to each other, and I never heard them fight or anything like the people back in my old home did. I couldn’t believe they talked so nice to each other and they were talking to me that way now too. I couldn’t quite figure things out. I thought maybe it would be okay if I told her I wanted to be a Muslim too. I really did want to be and I didn’t know how to do it. So, I just came out and said it. “I want to be a Muslim”.
She smiled and asked if I knew what being a Muslim was. I told her I didn’t but I wanted to be one. She tucked me in, gave me a hug, left the room and came back with some children’s books on Islam. That night I read them until I fell asleep. The next day I finished the books and I couldn’t get enough to read. I read about saying Shahada and so I told her right away that I needed to say it, so that I could be a Muslim. They reminded me that I was only ten years old and so maybe I would need to study more first. I told them that I had already read all the books and I had to say the Shahada that very day. I know I was young, but it didn’t seem that way to me at the time, because all I knew was that I had to become a Muslim. It was right for me and I knew it, right from the beginning. Later that night, on December 29, 2000, I officially said the Shahada to Jumaana and Waseem, and I became a Muslim.
Jumaana continued to teach me at home and I passed the fourth grade and the fifth grade all in one year. I also was given privileges to read whatever books I wanted from the shelves of books Waseem and Jumaana had. They had books on all the religions, but I read every one they had on Islam. I asked lots of questions about the difference in religions because I didn’t know why everyone in the world wasn’t following Islam. I went to the little town library where we lived and got to know the librarian there. She ordered me lots more books on Islam and would ask me questions about it too. She said I knew a lot for my age and was surprised about how much I knew about Islam. Then after I read everything they had, I would go to the big public downtown library and find all kinds of books on Islam. I knew I could never be any other except a Muslim.
My birthparents did not want me to come back to live with them ever. They only remembered me the way I was when they sent me away. I really didn’t want to go back to live the way I had before or live with them with the drinking, drugs, fighting, and chaos either. They had not sent any money to take care of me the whole first year I lived with Jumaana and Waseem. Waseem was ready to retire but he kept on working just to take care of me, and Jumaana had given up her writing to teach me at home. They had done these things because they cared about what happened to me. I really didn’t want to ever leave them. So, after I lived with them for a year, the courts granted me a legal adoption. It would be the only way they could have the right to make decisions about my schooling and other legal issues that they couldn’t do, because they were not considered my parents. Because my birthparents hadn’t had contact with me and never sent any support for the whole year, the court could make me go into a home or foster care, if they wanted to. I was so afraid that if my birthparents all of a sudden wanted to take me back because I was so much better, that they would do the same things to me they had before and I also knew they would never let me stay a Muslim.
lanjuut lagi...
AwangZ
August 06, 2004, 10:27
I prayed so hard every day, five times a day and more, asking Allah to help me. Adoption in this country is the only way to assure legal rights and I wanted Waseem and Jumaana to adopt me more than anything. I was so happy when the courts felt it was the best thing for me too. The papers were filed and my birthparents were notified that adoption requests were filed. They didn’t even bother to contact the courts to contest it, in fact they quickly signed the papers to give me up. Actually I was happy about that. Then on the day of the adoption, the judge even told me I could change my name. I chose Waa’il because it meant ‘one who returns for shelter’ and I felt like I went to Jumaana’s and Waseem’s for shelter. Also I felt like I had returned to ‘Islam’ so that was a shelter for me inside. It was the best thing in my whole life that ever happened to me. Because of the delays in removing the parental rights of my birthparents, the date for my adoption was changed, making it fall on the first day of Ramadhan in 2001. It was like Allah was blessing me over and over again.
So, in these last three and a half years, my life is so incredibly different. Sometimes it is hard to think back what it used to be like before becoming a Muslim. Having had such a stubborn and defiant attitude those first ten years of my life still affects me sometimes, but I am really so different than I was back then. People don’t think I am only thirteen and a half when they meet me. Most of them think I am a lot older. I think it is probably because I had such a tough life from the time I was born until I came to live with my new parents. They encourage me to keep at least some kind of contact with my birthfamily, but it’s okay now because I know they cannot come and take me away or tell me I can’t be a Muslim. I know that I am safe and I believe Allah allowed all of this and made it all happen, which makes the bad parts I remember bearable now, because I found Islam and maybe I would never have found Allah if all that stuff hadn’t happened. Well, at least I think that way now.
My sister even came and spent a week during her school break this last December/January. I hadn’t seen her in over three years. She is fifteen now and flew here on her own to stay with us for the week. She was shocked at the change in me. I had grown to five foot ten inches in height from being half her size when I left, which made me tower over her by almost a foot. I also outweighed her by fifty pounds, after having last been seen a scrawny skeleton of a kid. When I left I was wearing a ‘rug rats’ hat and ‘harry potter’ clothes from television and cartoon shows. When she saw me this time, I was wearing a Kufi or one of my other kinds of Islamic caps and a Kurris. When I left I had been a loud, troublemaking, obnoxious brat, who had failed three out of five grades and who couldn’t even write a complete sentence. This time she saw me polite, quieter, having passed all my grades, skipping a whole grade which put me in the same grade as she was. She would see me stop whatever I was doing, to go to Prayer five times every day. She really hated me when I left home at age ten, and was expecting me to be the same. She told me after a couple days of being with us, that she could hardly believe I was the same person and she really liked me as her brother now. She found out I was a Muslim. Because I had changed so much, she asked a ton of questions about Islam, took back a bunch of Islamic books I gave her, and told everyone back there that they just wouldn’t believe how different I was. Now, every once in a while, my birthmother will let my brother and sister call, and she even talks to me a few minutes. I send books for them to read about Islam and I hope someday they will all become Muslims too. I know they would be so much happier if they did.
My life seems a hundred years away from the way it used to be. I have become a Muslim now going on four years, been blessed with new Muslim parents, had my adoption finalized on the very first day of my very first Ramadhan, learned my prayers in Arabic, read my new parent’s entire library of books on Islam, exhausted the public libraries of their Islamic books, been given a new name and a new life. I don’t know what else I could ask for. I am studying very hard to finish my high school in another two years. I will be sixteen, but I feel like I am a lot older. I know now that I didn’t need drugs to make me behave. I didn’t need anger to get me through all those years of chaos. I didn’t need to be so hurtful to others, just to get attention. I didn’t need to cause such chaos for others. What I needed all along was Islam. I needed Allah. The way I see it is, that instead of these schools and parents putting their kids on Ritalin and other junk, they should put their time and money in studying Islam and teaching their children about Allah. When nothing else worked, and believe me a lot of people tried to get me straightened out, Allah did it. Allah can do anything. He can do everything. When he does something for you, it is the way it is supposed to be.
I am Waa’il Abdul Salaam and this is my story. :)
Sumber (http://thetruereligion.org/modules/xfsection/article.php?articleid=374)
AlfaOmega
August 27, 2004, 10:00
Sahabat: Imran bin Hushain
Bismillahir rahmanir rahiem
Pada tahun terjadinya Perang Khaibar, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah saw dan sejak ia meletakkan tangannya di tangan Rasulullah saw, tangan kanannya itu memperoleh penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia pada dirinya untuk tidak akan menggunakannya, kecuali pada perbuatan baik dan mulia. Ini merupakan bukti yang nyata bahwa pemiliknya memiliki perasaan yang halus.
Imran bin Hushain ra. merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, zuhud, dan kesalehan dan dalam bersusah-payah mencintai Allah dan menaati-Nya. Walaupun ia memperoleh taufik dan petunjuk dari Allah yang tidak terkira, ia sering menangis mencucurkan air mata. Ia meratap, "Duhai, mengapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja."
Orang-orang merasa takut kepada Allah bukanlah karena banyak dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikatakan mereka sedikit melakukan dosa. Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah rukuk dan sujud, tetapi itu semua belum memadai dengan nikmat yang telah mereka terima.
Pada suatu saat beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, mengapa bila berada di sisimu, hati kami menjadi lunak sehingga tidak menginginkan dunia lagi, dan seolah-olah kami melihat akhirat dengan mata kepala. Tetapi, jika kami meninggalkanmu dan berada di lingkungan keluarga, anak-anak, dan dunia kami, kami jadi lupa diri."
"Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu. Tetapi, demikian itu hanya sewaktu-waktu," ujar Rasulullah saw.
Pembicaraan itu terdengar oleh Imran bin Hushain ra, maka timbullah keinginannya dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam sebelum mencapai tujuan mulia itu. Bahkan, walaupun nyawa taruhannya. Seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu, tetapi ia menginginkan kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti, memusatkan perhatian dan selalu berhubungan dengan Allah Rabbil Alamin.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khathtab ra, Imran ra. dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Di sanalah kemudian ia melabuhkan tirainya. Setelah penduduk mengenalnya, mereka berdatangan mengambil berkah dan meniru keteladanannya dalam ketakwaan.
Hasan Basri dan Ibnu Sirin berkata, "Tidak seorang pun diantara sahabat Rasulullah saw yang datang ke Bashrah yang lebih utama dari Imran bin Hushain."
Dalam beribadah dan hubungannya kepada Allah, Imran bin Hushain tidak sudi diganggu oleh sesuatupun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah ia tenggelam dalam ibadah. Dan, seakan-akan ia bukan lagi penduduk bumi. Sungguh seolah-olah ia adalah malaikat yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul, berbicara, dan bertemu muka dan bersalaman dengannya.
Tatkala terjadi pertentangan sengit antara kaum muslimin, yaitu antara kelompok Ali dan Muawiyah, selain tidak memihak, Imran juga menyeru kepada kaum muslimin untuk tidak terlibat dalam peperangan itu, dan agar membela dan mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Ia berkata, "Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal dunia daripada harus melepas anak panah ke salah satu pihak, baik meleset ataupun tidak."
Dia memberikan amanat kepada umat Islam yang ditemuinya, "Tetaplah tinggal di masjidmu, dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu. Dan, jika ada lagi yang hendak masuk merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah ia."
Keimanan Imran bin Hushain membuahkan hasil yang gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama 30 tahun, tidak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan, tidak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik pada waktu berdiri, duduk, maupun berbaring.
Ketika para sahabatnya dan orang-orang datang menjenguknya dan menghibur hatinya atas sakit yang dideritanya itu, ia tersenyum sambil berujar, "Sesungguhnya barang yang paling aku sukai adalah yang paling disukai Allah." Dan sewaktu meninggal, ia berwasiat kepada kerabat dan sahabatnya, "Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan."
Sudah sepatutnya mereka mengadakan jamuan. Karena, kematian seorang mukmin seperti Imran bin Hushain itu bukan kematian yang sesungguhnya. Itu tidak lain adalah pesta besar dan mulia, ketika suatu roh yang tinggi, yang rida dan diridai-Nya, diarak ke dalam surga yang besarnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid
Kocu
September 06, 2004, 17:38
Melihat perbedaan 2 orang yang mulai menginjak umur 90-an
Yang pertama :
Mantan pembantu eyang saya di jogja, beliau sehat wal afiat meskipun usia sudah 97 tahun, sempat menang lomba joged manula se jogja setahun sebelumnya, dan beliau masih memiliki memori yang hebat.
Apakah rahasianya :
beliau selalu berpikiran positif, bekerja adalah ladang amal bagi beliau (ngabekti), tidak pernah minum air es (dingin) dan yang paling di acungi jempol beliau selalu sholat 5 waktu di masjid (meskipun berjalan sedikit membungkuk), dan beliau terkadang masih mengunjungi/bersilaturahmi dengan keluarga kami (tante dan om di jogja), selalu tersenyum dengan orang disekitarnya.
Yang kedua :
Adalah Eyang saya (Budhe ibu saya), sekarang usia 94 tahun, dijantungnya terdapat sebuah alat pacu jantung namanya, beliau sekarang sakit keras di sebuah RS Pemerintah di Surabaya, beliau adalah anak angkat dari seorang tokoh nasional, beliau sangat cerdas dan anak-anaknya terdidik dengan baik tapi dalam dunia pendidikan akan tetapi dalam urusan agama agak kurang (Jarang sekali sholat).
Dari kedua perbandingan ini bisakah kita belajar sesuatu?
NB : Terima Kasih Bung Alfa mau mengingatkan orang yang khilaf seperti saya (penulis), Jazzakamullah.
AlfaOmega
September 21, 2004, 10:11
Saudara-saudaraku.....
Kita sering lalai dengan isyarat yang diberikan oleh Allah.
Begitu banyak Allah memerintahkan agar kita berusaha memahami isyarat-isyarat-Nya:
di alam semesta;
pada gunung-gunung;
pepohonan;
lautan luas;
angin yang bertiup kencang;
badai yang memporak-porandakan;
banjir yang merusak rumah, tanaman, dan menghanyutkan hewan bahkan manusia;
wabah penyakit, dan lain sebagainya.
Namun tetap saja sebahagian dari kita tidak peduli, lalai, lupa, dan tidak mencoba memahami makna dibalik semua peristiwa itu.
Kita begitu dekat dengan Allah ketika mengalami kesusahan, cobaan, atau ketika kita sakit.
Begitu kesusahan dan cobaan berlalu, kitapun kembali menjauh.....
Ketika rambut putih di kepala semakin bertambah,
ketika tenaga semakin melemah,
ketika melihat anak semakin tumbuh dewasa,
kitapun lupa bahwa
'Sang Malaikat Pencabut Nyawa' semakin dekat ke kita...
Kita lupa bahwa memutihnya rambut,
melemahnya tenaga,
berkurangnya daya ingat,
adalah ISYARAT bahwa SAKARATUL MAUT semakin mendekati kita.
Kelalaian memahami isyarat ini menyebabkan kita lalai mengingat kematian yang sudah pasti menjemput kita.
Kita lalai untuk sedikit meluangkan waktu berdialog dengan Sang Kholiq.
Ketika sang maut akan menjemput, barulah kebanyakan dari kita menyadari arti ISYARAT tadi.
Tapi itu semua sudah terlambat...
Naudzubillahi min dzalika!
Semoga kita tidak terlambat menyadari akan datangnya hari yang menentukan itu....
Hari dimana tidak ada lagi artinya harta, anak-anak, pangkat, jabatan, gelar master, doktor, dan profesor.
Hari dimana modal satu-satunya untuk menghadap-Nya adalah amal baik kita, 'ubudiah kita kepada-Nya selama hidup di dunia ini.
Semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua, agar kita tidak terjebak seperti Fir'aun, yang sadar dan tobat ketika Izroil akan mencabut nyawanya
Inna Lillahi wa innaa Ilaihi Roji'uun....
Selamat jalan saudara ku.
Aku pasti menyusulmu,
bila saat itu datang...
Buat cibeck
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah almarhum bokap cibeck,
mengampunkan dosa2nya, serta mengumpulkannya bersama-2 dengan orang-2 yang sholeh.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan dan kemudahan olehNya.
Amin... Amin... Amin... Ya Rabbal 'alamin
{)
AlfaOmega
September 30, 2004, 14:05
Siang itu setelah mengimami shalat Rasulullaoh berdiri dengan susah
payah lalu berkhutbah : Wahai sekalian manusia , aku adalah nabi
kalian, yang menasehati kalian untuk berbuat baik dan menjauhi
segala kemungkaran, aku adalah sahabat kalian. Barangsiapa yang
pernah aku sakiti dahulu, baik aku sengaja ataupun tidak, maka
sebelum aku meninggalkan kalian hendaklah ia mengambil qishash
dariku"
Setelah tiga kali beliau mengulang permintaannya itu, berdirilah
ukasyah bin Mihshan, ia berkata, " Saya ya Rasulllah. Ketika
peristiwa Badar, onta yang engkau tunggangi berjalan beriringan
dengan ontaku . Waktu itu engkau melecutkan cambukmu dan mengenai
perutku. Aku tidak tahu, apakah engau sengaja atau tidak"
Rasululloh menjawab," Tidak ada maksud ku kepadamu kecuali aku memang
sengaja melakukannya."Beliau lantas menyuruh bilal untuk
mengambilkan cambuknya di rumah putrinya Fatimah.
Raut muka Ukasyah yg menampakkan keseriusan, membuat para sahabat
merasa kesal dan marah melihat kelancangannya. Seketika , berdirilah
Abu Bakar dan Umar di susul Ali dan terakhir Hasan dan Husein. Semua
Berkata, " Wahai Ukasyah,kami tidak akan membiarkanmu menyakiti
tubuh Rasululloh sedikitpun. Jika Engkau berkehendak maka lakukanlah
qishash itu kepada kami"
Namun Rasululloh memberi isyarat agar mereka kembali ketempat
duduknya masing-masing. "Duduklah kalian. Allah telah mengetahui
keddukan kalian yang mulia di sisiNya"
Tak lama kemudian datanglah Bilal dengan membawa sebuah cambuk.
Cambuk itu langsung diserahkan Rasululloh kepada Ukasyah, "
Terimalah cambuk ini dan laksanakanlah keinginanmu."
"Wahai Rasululloh ketika engkau engkau mencambukku aku sedang tidak
mengenakan baju, Aku ingin agar engkau juga tidak mengenakan baju,"
pinta Ukasyah enteng.
"Baiklah" Kata beliau sambil melepaskan jubah yang menyelimuti tubuh
lemahnya.
Ulah Ukasyah membuat suasana semakin tegang. Sebagian sahabat bahkan
hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. Kalau saja Rasululoh tidak
mencegah mereka mungkin Ukasyah sudah mereka pukul.
Begitu Rasululloh melepas pakaiannya ukasyah segera melemparkan
cambuk dari tangannya dan melompat memeluk perut beliau erat-erat.
Menciumnya sambil menangis. Sahabat yang lainpun semakin heran
dengan kelakuan sahabat yang satu ini. " Apa yang engkau inginkan
wahai Ukasyah ?" Tanya Rasululloh.
Ukasyah menjawab "Wahai Rasululloh, jiwaku adalah tebusanmu jika ada
yg berani menyakitimu. Aku tahu bahwa hari ini adalah pertemuan kita
yg terkahir, karena sebentar lagi engkau akan meninggalkan kami.
Kalaupun nanti aku masuk syurga tentu sulit bagiku untuk bertemu
denganmu karena derajat kita yang jauh berbeda. Tetapi jika neraka
adalah tempatku maka inilah kesempatan terakhir bagiku menatap
wajahmu. Oleh karena itu, sebelum kita berpusah aku ingin kulitku yg
hina ini bersentuhan dengan kulitmu yg mulia.
Rasulullohpun menangis mendengar ucapan Ukasyah ini, lalu bersabda,
"Wahai sahabatku, jika kalian ingin melihat penduduk syurga maka
lihatlah Ukasyah, karena ketulusan cintanya kepadaku.
Para sahabat lantas berdiri dan memeluk Ukasyah mereka bergantian
menciumnya sebagai penghormatan atas dirinya yg telah dijamin masuk
syurga karena cintanya yg sangat tulus kepada Rasululloh SAW.
cheers BMW
October 01, 2004, 02:27
luar biasa ......... ::sedih::
AlfaOmega
October 01, 2004, 10:19
Menyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur
Jalaluddin Rakhmat
Sebagian kaum muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang, biasa
menyambut bulan Ramadhan dengan acara ziarah ke kubur. Orang Jawa
menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam
acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat
yang telah mendahului mereka menghadap Allah swt. Belakangan ada
sebagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai
perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diadopsi dari ajaran
leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah
yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid'ah, hal baru yang dibuat-buat
kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?.
Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam.
Kesatu, ziarah
orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang
telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama
lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang-
orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya
dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menurut hadis-hadis sahih yang
sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan
perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan
diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari
Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.
Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun
dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh
kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang
meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat
dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.
Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya,
disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan
Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah
mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan
beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia,
setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia
menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.
Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya
Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapa yang membuat marah
Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah,
ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa
tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan
akhlaknya, selain Fathimah. Saya mengutip hadis-hadis itu untuk
menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan
perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin
kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan
perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat
berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi
kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang
amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di
antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula
salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke
kuburan kaum muslimin.
Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh
para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah
ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat
dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada
salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal
dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut
pada salat subuh). Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat
indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni,
menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah
meninggal dunia.Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu
Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah
swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya.
Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan
para nabi atas perintah Jibril as.
Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah,
ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat
pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan
berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah
membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan
bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum
aku.
Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita
dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw
di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi-
Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis
menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa
itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari
kiamat.
AlfaOmega
October 01, 2004, 10:23
Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada
kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum
muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya
beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi
ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan
lil 'alamin.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah
saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, "Kedua ahli kubur ini
sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar."
Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah
kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian
berkata, "Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan
meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering." Dengan berkah
kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul Bâri, ketika membahas hadis ini
menulis: "Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin
melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah
ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang
kafir itu? Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah
menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma
Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu
bertasbih selama mereka dalam keadaan basah." Seluruh pepohonan dan
tanaman bertasbih kepada Allah swt". Kedua pelepah kurma itu disimpan
Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni
kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat
dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh
syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, "Syafaatku kukhususkan untuk orang-
orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku."
Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat
mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para
pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin
untuk memberikan penghormatan kepada mereka.
Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup
seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid.
Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan
menguburkannya pada malam hari. Suatu saat, ketika Rasulullah
mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi
harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci.
Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, "Kuburan
siapakah ini?" "Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering
membersihkan masjid," jawab para sahabat. Rasulullah lalu
bertanya, "Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian
menguburkannya?" Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan
perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya
lagi, "Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?" Para sahabat
menjawab, "Ia adalah perempuan yang baik." "Apa pekerjaan yang
dilakukannya?" Rasulullah masih bertanya. "Ia membersihkan masjid,"
jawab para sahabat.
Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam
itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan
dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan
menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan
perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang
menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.
Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahmân,
menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang-
orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah
para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat
keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan
kebaikan bagi para ahli kubur itu.
Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi
mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam,
orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan
para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia
mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia
menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah. Di
tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan
khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba
wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut
tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat
nyaring. Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk
disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi
lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun
menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria
gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan
peristiwa yang sama terulang kembali.
Orang salih yang melihat semua ini keheranan, "Apa yang terjadi
dengan dirimu?" tanyanya. "Dahulu, ketika aku masih hidup,
alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang-
orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari
yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat,
aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya namun
orang tuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel, kusebarkan
berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah
menikah diam-diam.Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang
perempuan itu tak menemukan jodohnya. Tak ada seorang pun yang
melamarnya. Aku lalu meninggal dunia.
Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan
mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon
kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa
aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu
memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati
dan tak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan
perantara Imam Ali kw. Imam Ali berkata, "Nanti akan datang kepadamu
seorang salih, sampaikan pesanmu kepadanya." Kini engkau telah
datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan
itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya.
Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini."
Orang yang salih itu berziarah sehingga Tuhan menyingkapkan tirai
malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang
diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke
kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah
kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan
kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang
biasa.
Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak
semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke
kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji
Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan
para syuhada Perang Uhud itu. Bahkan kepada Rasulullah pun mereka
tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang
mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku
hidup." Rasulullah juga bersabda, "Siapa yang naik haji, pergi ke
Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku."
Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, "Barang siapa yang
berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya."
Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan
sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam
Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli
kubur. Di waktu itu, sebagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan
dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang
beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan
Rasulullah saw.
AlfaOmega
October 01, 2004, 10:29
Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam
kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita
lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita.
Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang
diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, "Sering
berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada
akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi
dalam shahih-nya.
Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara
kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al-
Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah
mendahului kami dalam keimanan. (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah
Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu
meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.
Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan.
Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar,
maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka
kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak
memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum
lelaki saja.
Sebagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan
kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, "Allah
melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur." Bila
dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari
segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun
bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya
oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita
berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli
kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan
salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang
berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan
bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.
Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang
perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak
melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, "Penghuni
kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis." Hadis
ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena
tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw
meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, "Mayit itu
disiksa karena tangisan keluarganya." Aisyah lalu berkata, "Semoga
Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya
salah dengar."
Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi.
Rasulullah saw bersabda, "Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di
antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan.
Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang
tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka." (Bihârul
Anwâr, juz 10, hal. 97)
Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan:
Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, "Kalau ada seseorang berdoa di
kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya,
apakah itu ada manfaatnya?" Abu Abdillah menjawab, "Betul, itu
bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah
itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah
bagi sesama kalian."
Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah
meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari
mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud. Rasulullah mengajak
bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, "Apakah kalian telah
menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?"
Umar bin Khaththab berkata, "Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang
yang mati padahal dia tak mendengarmu." Rasulullah saw
menjawab, "Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka." Para
ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih
hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada
hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai
penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah,
kami akan menyusul kalian.
Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para
ahli kubur, "Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai,
penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang
debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka
yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami
dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah
dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah
menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi-
bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian
untuk kami?" Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan
berkata, "Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka
akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang
paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa."
Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah
mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di
kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat
Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali,
Ayat Kursi, serta membaca bagian awal dan akhir dari surat Al-
Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di
kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.
Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah,
Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja.
Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad dan
keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah swt.
Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah Jalaluddin Rakhmat pada
Pengajian Ahad, tanggal 19 Nopember 2000, di Masjid Al-Munawwarah,
Bandung.
citrabeckham
October 02, 2004, 06:11
ih pas banget. Thanks fa :)
Kocu
October 04, 2004, 17:05
Thanks Mr. Alfa atas Ilmunya :maaf:
AlfaOmega
October 05, 2004, 11:30
Kisah Pencurian Jasad Nabi Muhammad SAW
Setiap peziarah yang datang ke Masjid Nabawi di kota Madinah, pasti menghampiri makam Rasulullah yang diapit oleh makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Tapi satu peristiwa tragis nyaris menampar muka umat Islam sedunia sepanjang sejarah.
Suatu ketika, saat pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad semakin melemah dan berdiri beberapa kerajaan islam lain di beberapa daerah, diam-diam orang-orang X (non muslim) sepakat mencuri jasad Nabi Muhammad dari maqbarah di Masjid Nabawi.
Peristiwa yang tidak terlupakan itu dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz dalam kitab Fusul min Tarikhi Al-Madinah Al-Munawarah sebagai peristiwa paling memilukan danmemalukan. Sebagai umat Nabi SAW, mestinya upaya jahat sekecil apapun tidak boleh mendekati Nabi SAW.
Tersebutlah, pada tahun 1164 M atau 557 H, dua orang X (non muslim) diutus oleh penguasa Eropa untuk memasuki kota Madinah pada musim haji dengan menggunakan busana khas Maroko. Kedua spionase itu ditugaskan melakukan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW. Kedua orang tersebut menyamar menjadi jamaah haji dari Andalusia.
Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri menyewa rumah tinggal di sekitar masjid Nabi. Mereka membuat lubang dari dalam kamarnya menuju makam Rosulullah.
Namun ketika penggalian itu mendekati akhir, Allah SWT menyelamatkan nabi kesayangannya itu dari niat jahat orang X (non muslim) tersebut. Melalui seorang hambaNya rencana pencurian itu akhirnya diketahui. Disebutkan saat itu, Penguasa Islam Sultan Nuruddin Mahmud Bin Zanki mendapatkan petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah.
Sultan mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah sambil menunjuk dua orang lelaki berambut pirang sambil berujar : “ Wahai Mahmud, selamatkan jasadku dari maksud jahat kedua orang ini.” Sultan terbangun dalam keadaan gelisah lalu shalat malam dan kemudian tidur lagi. Namun, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah hingga tiga kali dalam semalam.
Malam itu juga sultan segera mempersiapkan diri. Perjalanan dari Damaskus ke Madinah memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda beserta 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi. Sultan termenung dan tafakkur dalam waktu yang lama di depan makam Nabi SAW. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu, “Apakah Baginda Sultan mengenal wajah kedua lelaki dalam mimpi itu? “iya”, jawab Sultan Mahmud.
Maka tidak lama kemudian Menteri Jamaluddin mengumpulkan seluruh penduduk Madinah. Kepada warga Madinah Sultan Mahmud membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil mencermati wajah orang yang ada di dalam mimpinya. Namun sultan tidak mendapati orang yand ada didalam mimpi itu diantara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu Menteri Jamaluddin menanyakan kepada penduduk yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi. “Apakah diantara kalian masih ada yang belum mendapatkan hadiah dari sultan?”
Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah dari sultan, hanya kedua orang Maroko saja yang tidak datang mengambil jatah sedikitpun. Keduanya orang shaleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi, “ujar seorang penduduk.
Lalu Sultan Mahmud memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Betapa terkejutnya sultan, ternyata kedua orang Maroko itulah orang berambut pirang yang ditunjuk Nabi dalam mimpinya. Setelah ditanya, keduanya mengaku sebagai jamaah haji dari Andalusia Spanyol. Meski Sultan Mahmud sudah mendesak bertanya tentang kegiatan mereka di Madinah, kedua lelaki itu tetap tidak mengakui perbuatannya. Lalu sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam keadaan penjagaan yang ketat.
Kemudian Sultan bersama menteri dan pengawal-pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu, yang ditemui sultan adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf Al-Quran. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberinya ilham, Sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah, ditemukan sebuah papan yang didalamnya menganga sebuah lorong panjang, dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad SAW.
Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja X (non muslim) di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi SAW. Kemudian Sultan Mahmud memerintahkan penggalian parit di sekitar makam Rasulullah dan mengisinya dengan timah. Setelah pembangunan parit timah itu selesai, Sultan Mahmud dan rombongannya pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.
AlfaOmega
October 06, 2004, 16:27
Antara Shalat Tarawaih, Witir, Tahajud
Assalamualikum Wr.Wb Sebenarnya saya suka sholat tarawih di mushola,
tetapi karena musholanya jauh , saya sholat dirumah saja, sendiri.
Apakah boleh ?? Bagaimana jumlah rakaatnya apabila saya memilih 11
rakaat, berapa kali salam apakah jmlh tsb sudah termasuk witir ? yaitu :
setiap 2 rakaat 1 salam jadi ada 4 kali sholat tarawih dan 3 rakaat
witir ? Apakah setelah sholat tarawih malamnya harus tahajud juga..atau
sama saja
Apakah setelah sholat tahajud (diluar bulan ramadhan) harus diikuti
sholat witir ?
Yulia
Jakarta
2004-10-04 13:29:11
Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.
Sunnah Berjamaah Dalam tarawih
Shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah mengikuti satu imam
adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalilnya adalah hadits
yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA:
Sesungguhnya Nabi SAW shalat di masjid lalu orang-orang ikut shalat
bersama mengikuti beliau, lalu pada malam kedua beliau shalat lagi dan
orang-orang sudah banyak (yang ikut), kemudian orang-orang berkumpul
pada malam ketiga atau keempat, tapi Rasulullah SAW tidak keluar menemui
mereka. Ketika sudah pagi beliau bersabda: “Saya sudah melihat apa yang
kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian
kecuali karena aku takut kalau (shalat tarawih) itu diwajibkan atas kamu
semua”. (Muttafaq ‘Alaih).
Dan para ulama sepakat bahwa kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan.
Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin ‘Abd Al-Qari,
beliau berkata:
Suatu ketika saya keluar bersama Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan
ke masjid ternyata orang-orang berpencar-pencar terpisah; Ada yang
shalat sendirian, ada yang shalat lalu diikuti oleh beberapa orang, lalu
Umar berkata: Saya punya pendapat seandainya saya dapat mengumpulkan
mereka dengan satu imam tentu akan lebih baik, kemudian beliau bertekad
untuk mengumpulkan mereka dengan imam Ubay bin Ka‘ab. Kemudian saya
keluar lagi brsama beliau pada malam yang lain, dan orang-orang sedang
shalat berjamaah dengan mengikuti satu imam. Lalu Umar berkata: “Inilah
bid‘ah yang bagus, dan orang-orang yang tidur lebih baik dari pada yang
ikut shalat malam ini (maksud beliau yang tidur di sore hari untuk
bangun shalat tarawih di akhir malam), dan orang-orang saat itu shalat
dipermulaan malam”. (HR. Bukhari).
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa shalat tarawih dari dahulu
dilakukan dengan berjamaah, yaitu sejak masa pemerintahan Umar bin
Khattab hingga sekarang ini. Shalawa tarawih berjamaah hanya sempat
berhenti selama akhir masa hayat Rasulullah dan masa khilafah Abu Bakar
yang hanya 2 tahunan itu.
Namun tidak apa-apa bagi anda untuk shalat tarawih di rumah karena
tarwih itu sunnah, tapi jika anda shalat bersama imam di masjid tentu
lebih utama sesuai dengan ajaran Nabi SAW kepada para sahabatnya ketika
beliau shalat bersama mereka beberapa malam hingga sepertiga malam, ada
salah satu sahabat yang mengusulkan kepada beliau:
“Seandainya engkau memberikan tuntunan shalat sunnah untuk sisa malam
kita ini?. Akhirnya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang shalat
bersama imam sehingga imam tersebut pergi (selesai shalat) maka Allah
akan menulis bagi (ma‘mum) tersebut shalat semalam suntuk”. (HR. Ahmad
dan Ashabus Sunan dengan sanad hasan, dari hadits Abu Dzar RA)
Pembagian Rakaat Tarawih
Yang paling masyhur adalah dengan mengerjakan dua rakaat dan salam.
Sedangkan hadits yang menyebutkan empat rakat itu banyak dipahami
sebagai empat rakat tapi diselingin salam. Jadi setelah melakukan shalat
empat rakaat dengan dua salam, ada jeda waktu untuk sekedar istirahat.
Baru kemudian diteruskan dengan empat rakaat lainnya tapi tetap dengan
dua salam.
Tapi memang ada sebagian yang melakukannya dengan 4 raka’at sekaligus
tanpa salam. Dalam hadits Bukhari riwayat ‘Asiyah ra dijelaskan bahwa
cara Rasulullah SAW menjalankannya shalat malam adalah dengan melakukan
tiga kali salam masing-masing terdiri dari 4 rakaat yang sangat panjang
ditambah dengan 4 rakat yang panjang pula ditambah 3 rakaat sebagai
penutup.
Namun untuk dua rakaat, dasarnya adalah hadits dari Ibnu Umar ra yang
menceritakan bahwa seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW
tentang cara Rasulullah SAW mendirikan shalat malam beliau menjawab :
‘Shalat malam didirikan dua rakaat-dua rakaat. Jika dia khawatir akan
tibanya waktu shubuh, mak hendaklah menutupnya dengan satu rakat.
(Muttafaq ‘alaih – Lihat Al-Lu‘lu‘ wal Marjan : 432).
Hal ini ditegaskan fi‘liyah Rasulullah SAW dalam hadits Muslim dan Malik
ra (Lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47;Allah SWT;-Muwaththa‘ dalam Tanwir
: 143-144).
Dengan demikian shalat malam termasuk tarawih dapat didirikan dengan dua
rakaat dan ditutup dengan satu raka’at atau tiga raka’at dua kali salam
atau empat rakaat empat raka’at dan ditutup dengan tiga rakaat.
Shalat Tarawih Dan Malamnya Tahajud
Umumnya para ulama membedakan shalat tawarih dan tahajjud. Namun
sebagian pendapat dari kalangan ulama memang ada yang menyamakan shalat
tahajjud dengan shalat tarawih. Yang membedakannya menurut mereka
hanyalah penamaannya saja. Yaitu bila di dalam bulan Ramadhan dinamakan
dengan tarawih dan bila di luar ramadhan dinamakan dengan tahajjud atau
qiyamullail.
Dasar pendapat mereka adalah keterangan dari hadits ‘Aisyah bahwa shalat
malamnya Rasulullah SAW itu tidak lebih dari 11 rakaat baik di dalam
ramadhan ataupun di luar ramadhan.
Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam
ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat. (HR. Bukhari).
Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, ada perbedaan antara shalat
tarawih dan shalat tahajjud dari segala sisinya. Tidak sebagaimana
kalangan yang kami sebutkan, jumhur ulama mengatakan bahwa shalat
tarawih memang sebuah jenis ibadah shalat sunnat khusus yang dilakukan
hanya di bulan ramadhan dan dikerjakan setelah selesai shalat Isya’
berjamaah di masjid.
Sedangkan tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan pada bulan
ramadhan dan juga di luar bulan ramadhan. Dilakukan setelah bangun
malam, artinya harus didahului dengan tidur sebelumnya. Melakukan shalat
tarawih setelah shalat Isya’ sebanyak 23 rakaat di masa Umar ra adalah
ijma’ para shahabat. Tidak ada seorang pun shahabat Rasulullah SAW yang
menolaknya sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah rakaat yang 23 itu
merupakan ijma‘ shahabat.
Dengan adanya kepastian riwayat tentang jumlah rakaat tarawih yang
dilakukan oleh semua shahabat, maka kebanyakan ulama mengatakan bahwa
rakaat tarawih itu adalah shalat khusus di bulan ramadhan selepas shalat
isya‘ dengan 23 rakaat.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa shalat bahwa shalat tarawih itu
dilakukan dengan 11 rakaat meski tetap dilakukan selepas shalat ‘Isya.
Dalilnya adalah hadits berikut ini
Dari Malik dari As-Saib bin Yazid berkata,”Umar memerintahkan kepada
Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dary untuk mengimami orang-orang shalat
tarawih dengan 11 rakaat. Terkadang imam membaca ratusan ayat sehingga
kami bertekan pada tongkat saking lamanya. Kami tidak selesai dari
shalat itu kecuali menjelang fajar.
Bahkan penduduk Madinah di masa lalu pernah mengerjakan shalat tarawih
lebih dari 23 rakat. Yaitu mereka mengerjakan 36 rakaat terutama di masa
Umat Bin Abdul Aziz.
Namun para ulama mengatakan bahwa 36 rakaat itu hanya berlaku buat
penduduk Madinah saja karena mereka punya hak bermunafasah (bersaing)
dengan penduduk Mekaah. Karena penduduk Mekkah menambah shalat mereka
yang 23 rakaat dengan tawaf sehingga pahalanya lebih banyak. Untuk itu,
khusus bagi penduduk Madinah, agar bisa menyaingi pahala orang Mekkah,
mereka menambah bilangan rakaat menjadi 36. Tapi ini hanya berlaku untuk
Madinah saja.
Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menambah dari 11
rakaat shalat malamnya di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan adalah
dalam pengertian shalat witir atau shalat malam. Tidak termasuk shalat
tarawih di bulan Ramadhan.
Tahajjud dan Witir
Witir adalah shalat sunnah penuutp shalat malam, baik pada bulan
ramadhan maupun di luar bulan ramadhan. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in,
Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
AlfaOmega
October 07, 2004, 09:31
Sang Guru
---------
Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam (Mesir, awal
abad 20) telah membuat Sang Guru dan murid-muridnya gelisah.
Bagaimana
tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang
sangat bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat.
Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk
menutup auratnya. Sebab secarafitrah, tiap manusia dilahirkan dalam
keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu
dilestarikan di tengah masyarakat.
Maka para murid yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan
dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka
mengutus salah seorang murid bernama Mahmoud yang merupakan penulis
artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Guru.
"Ya, Guru. Bagaimana pendapat anda?" tanya Mahmoud pada Sang Guru
yang
tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.
"Ananda..." Sang Guru menatap Mahmuod. "Artikelmu ini sangat bagus
dan
penuh argumentasi yang jitu. Tapi..."
"Tapi apa ya, Guru?" tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Guru yang teduh
itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di
tangnnya.
"Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika
ia
jadi dimuat," ujar Sang Guru pelan sambil kembali menatap Mahmoud.
"Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk
hati kita semua. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu
sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara
keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius."
Mahmoud menyimak uraian Sang Guru dengan hati bertanya-tanya. Ia
belum
paham maksud gurunya itu.
"Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan
timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos
artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum
membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing
untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah
memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja
mendatangkan ketidakbaikan bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau
artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam
dengan sendirinya," tutur Sang Guru pelan. Mahmoud masih tampak belum
puas dengan penjelasan itu,meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.
"Ananda, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN
MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia
menyadari
bahwa ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA
KESALAHANNYA. Ketahuilah, Anakku, si Fulan itu telah terpengaruh oleh
sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku
melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN
APA YANG MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN
DENGAN MENGHALALKAN SEGALA CARA."
Sang Guru diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya
masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.
"Ananda, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat
bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah
menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN
PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA
JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru
kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak
ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang
dari hidayah Tuhan. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu,
Anakku?" Sang Guru menutup penjelasannya.
Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini
semakin disadarinya betapa Sang Guru adalah manusia yang sangat
bijak.
Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah
perjuangan
secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan
hubungannya yang erat dengan Tuhan telah menjadikan pandangannya
demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke
depan. Ya,ia telah dianugerahi pandangan ke depan, sesuatu yang
jarang
dimiliki oleh orang biasa.
Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Guru
sambil tersenyum. "Anda benar sekaliya, Guru. Saya setuju dengan
pendapat anda."
Sang Guru pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada
dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di
tangannya saat itu.
Epilog
Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun
berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali.
Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian
yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di
masyarakat Mesir.
Ia telah tercatat sebagai salah seorang penulis yang gagah berani,
yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara
mengurung jasadnya. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan
menegakkan kebenaran di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai
seorang pejuang di tiang gantungan.
Dialah... Sayyid Quthb!
Sedangkan sang Guru adalah Imam Hasan Al Bana
AlfaOmega
October 11, 2004, 14:39
> > > BERAPA BESAR BOBOT SEBUAH DOA?
> > >
> > > Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam
> sebuah
> > > supermarket.Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia
> > > memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya
> > > sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja & memiliki tujuh anak
> yang
> > > sangat membutuhkan makan.
> > >
> > > John Longhouse, si pemilik supermarket,mengusir dia keluar. Sambil
terus
> > > menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang
> > > keluarganya. " Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah
> aku
> > > punya uang." John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan
tersebut.
> > > " Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,"
> > > alasannya.
> > >
> > > Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari
awal
> > > mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata:
> > > " Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini." Karena malu, si
> pemilik
> > > toko akhirnya mengatakan, " Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan
> > > memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar
> belanja?"
> > > " Ya, Pak. Ini," katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.
> > > " Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan
> > > memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat
timbangantersebut."
> > >
> > > Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan
> > > kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu
> > dengan
> > > kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan.
> > > Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat
> ke
> > > bawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil
> > berucap
> > > kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."
> > >
> > > Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum.Lalu, si ibu kumal tadi
> > mengambil
> > > barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati
> > tadi,
> > > si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang
> lain.
> > > Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehinggasi ibu terus
mengambil
> > > barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus menumpuknya pada
> > > timbangan, hingga tidak muat lagi.
> > >
> > > Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.
> > > Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas
> > > daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak.
> > > Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek: " Tuhan, Engkau
> tahu
> > > apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam
tanganMu."
> > Si
> > > Pemilik Toko terdiam.
> > >
> > > Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan
> > > belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar
> > uang
> > > 50 dollar kepadanya. Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan
> bahwa
> > > timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya
> > Tuhan
> > > yang tahu bobot sebuah doa.
> > >
AlfaOmega
October 15, 2004, 10:06
TIDAK TERLEBIH DULU AKU KESURGA
Aku tak tahu dimana berada.Meski sekian banyak manusia disekelilingku,namun
aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus
bertanya,tempat apa…. ini…?dan buat apa semua manusia
dikumpulkan.Mungkinkah…????..Ah…aku tidak mau mengira-ngira.
Rasa takutku makin menjadi-jadi,tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal
sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku.”Inilah yang disebut
Padang Masyar,”Suaranya begitu menggetarkan Jiwaku.”Bagaimana ia bisa tahu
pertanyaanku,” batinku. Aku menggigil,tubuhku terasa lemas.mataku tegang
mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal. Aku semakin takut.Namun
ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku
tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan Jangan….???
Aku dan seluruh manusia lainnya masih menunggu keputusan dari “Yang
Menguasai Hari Pembalasan”.Tak lama kemudian terdengan suara menggema yang
mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia yang akan
menemani Rasulullah SAW disurga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar,ada
keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu.mengingat banyak infag yang
aku sedekahkan.Terlebih lagi,sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru
dakwah.”kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga,Apalagi aku,”
Pikirku mantap. Dalam daftar itu Nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti
tercatum pada urutan teratas,sesuai janji Allah melalui Jibril,Bahwa tidak
satupun jiwa yang masuk surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu
tersebutlah para “Assabiquun awwaluun.’
Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran.Aku terperanjat begitu
melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera
menikmati kesegaran telaga Kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil
melambaikan tangannya kepadaku.Ya Allah,mereka anak anak yatim sebelah
rumahku yang tidak pernak kuperhatikan.Anak –anak yang selalu menangis
kelaparan dimalam hari,sementara kubuang sebagian makanan yang tak habis
kumakan.
“Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku,”Aku terperangah
melihatnya melenggang ke surga. Parmin pernah bercerita,bahwa sebagian besar
hasil dagangannya ia kirimkan untuk ibu dan biaya sekolah empat
adikya.Parmin yang rajin sholat itu,rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan
adiknya dikampung tidak kelaparan.Tiba-tiba orang yang sejak tadi
disampingku berkata lagi,”Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata
Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.”Sementara aku,semua hasil
keringatku semata untuk keperluanku.
Lalu berturut-turut lewat didepan mataku,Mbok Darmi penjual pecel yang
kehadirannya selalu kutolak,Pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan
selalu mendapatkan kata”Maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi
rumahku.Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku
meski tidak kulontarkan,”Mereka Ikhlas tidak sakit hati serta tidak memendam
kebencian meski kutolak.”
Masya Allah,Murid-murid pengajian yang aku bina,Mereka mendahuluiku
kesurga.Setelah itu berbondong-bondong jama’ah masjid tempat aku biasa
berceramah.”Mereka belajar kepadamu lalu mereka amalkan.Sedang kau,terlalu
banyak bicara dan sedikit mendengarkan.Padahal lebih banyak yang bisa
dipelajari dengan mendengar daripada berbicara,”Jelasnya lagi
Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliiranku dipanggil.Tapi sejauh
ini,belum juga namaku terpanggil.Aku mulai kesal aku ingin segera bertemu
Allah dan berkata,”Ya Allah didunia aku banyak melakukan ibadah,aku
bershodaqoh,banyak membantu orang lain,banyak berdakwah, Ijinkan aku
kesurga-Mu”.
Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi,aku ingin
menolaknya.tetapi tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara.”Ibadahmu
bukan untuk Allah,tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga
Allah,Shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial,dibalik bantuanmu
tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan dan dakwah yang kau lakukan
hanya berbekas untuk orang lain,tidak untukmu,”bergetar tubuhku
mendengarnya.
Anak-anak yatim,Parmin, mbok Darmi,Pengemis tua,Murid-murid pengajian
jama’ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih
baik dariku,mereka lebih dulu kesurga.Padahal aku sering beranggapan,Surga
adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan,infag yang
kuberikan,Ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya.Ternyata,aku tidak
ikhlas dalam beramal daripada mereka,sehingga aku tidak lebih dulu kesurga
dari mereka.
Jam dinding berdentang tiga kali.Aku tersentak bangun Dan
Asftaghfirullah…..???
Ternyata Allah telah menasehatiku lewat mimpi malam ini……
AlfaOmega
October 19, 2004, 10:12
Suatu hari, sahabat Umar bin Khaththab bertandang ke rumah
Rasulullah saw.. Ia mengelus dada ketika melihat Nabi
panutan dan pemimpin umat itu tidur berbaring di atas
tikar kumuh, tampak guratan tikar itu pada tubuhnya. Dia
melihat almari, tetapi tak mendapati sesuatu selain
segantang gandum kasar.
Melihat hal tersebut, Umar menangis di hadapan Nabi saw..
Nabi saw. berkata, "Apa yang menyebabkan engkau menangis
hai Umar?" Umar menjawab, "Aku melihat para kaisar, Kisra
dan raja-raja lain tidur enak di atas ranjang mewah
beralaskan sutera. Tetapi disini, aku melihat engkau tidur
beralaskan tikar seperti ini." "Wahai Umar, tidakkah
engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih
kehidupan akhirat, sedang mereka memilih dunia." Demikian
sahut Nabi. Mendengar jawaban itu, luluhlah hati Umar
melihat kesederhanaan Nabi sebagai pemimpin dan panutan.
Wallaahu a'lam.
Sumber:1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto
AlfaOmega
October 22, 2004, 09:35
MANGKUK dan RAMBUT.
Suatu kali Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ra. Umar bin Khthab ra.
Utsman bin Affan ra. bertamu ke rumah Ali bin Abi Thalib ra.
Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW yang merupakan isteri Ali,
menghidangkan madu dalam mangkuk. Ketika madu dihidangkan, sehelai
rambut terikut dalam mangkuk. Rasul lalu meminta semua mebuat
perbandingan terhadap mangkuk, madu, dan sehelai rambut itu.
Abu Bakar ra. memulai, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini.
Orang beriman lebih manis dari madu. Dan mempertahankan iman lebih susah
dari meniti sehelai rambut".
Umar ra. menyahut, "Kerajaan lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini.
Seorang raja lebih manis dari madu. Dan memerintah dengan adil lebih
sulit dari meniti sehelai rambut".
Utsman ra bertutur, "Ilmu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini.
Orang menuntut ilmu lebih manis dari madu. Dan beramal dengan ilmu yang
dimiliki lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Ali ra. menyahut, "Tamu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini.
Menjamu tamu lebih manis dari madu. Dan membuat tamu senang sampai
kembali pulang lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Fatimah Az-Zahra pun menimpali, "Seorang wanita lebih cantik dari
mangkuk yang cantik ini. Wanita yang berpurdah lebih manis dari madu.
Dan mendapatkan wanita yang tak pernah dilihat (auratnya) oleh orang
lain kecuali muhrimnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Rasulullah SAW pun tersenyum, kemudian beliau bersabda, " Seseorang yang
mendapatkan taufik (petunjuk) untuk beramal lebih cantik dari mangkuk
yang cantik. Beramal baik lebih manis dari madu. Dan berbuat amal dengan
hati ikhlas lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Jibril as. pun turut berkata, "Menegakkan pilar-pilar agama lebih cantik
dari mangkuk cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama
lebih manis dari madu. Dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih
sulit dari meniti sehelai rambut".
Kemudian Allah SWT berfirman, "Surga-Ku lebih cantik dari mangkuk yang
cantik. Nikmat Surga-Ku lebih manis dari madu. Dan jalan menuju Surga-Ku
lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Begitulah keseharian Rasulullah SAW dan para sahabatnya, senantiasa
mencari dan memberi yang terbaik di jalan yang di Ridhoi Allah SWT.
Bagaimana dengan kita ?.
Wallahualambisawab.
(dikutip dari kolom Hikmah - Republika).
AlfaOmega
October 25, 2004, 09:45
Keindahan Dalam Pasrah!
Oleh K.H JALALUDDIN RAKHMAT
"SA'AD bin Waqqash adalah sahabat Nabi saw. Telah bertahun-tahun ia
buta dan tinggal di Mekah. Ia dikelilingi orang yang ingin
didoakannya. Ia tidak mendoakan setiap orang, tetapi yang ia berkati
dengan doanya merasa hidupnya lebih baik, urusannya lebih lancar.
Abdullah bin Sa'ad melaporkan, "Aku datang menemuinya. Ia baik sekali
kepadaku dan mendoakanku. Waktu kecil, aku sering kali penasaran.
Jadi aku bertanya kepada ayahku, Doa ayah untuk orang lain selalui
diijabah/dikabulkan. Mengapa ayah tidak berdoa supaya disembuhkan dari kebutaan?
Sahabat itu berkata, "Kepasrahan kepada kehendak Allah lebih baik
dari kesenangan pribadi karena bisa melihat lagi."
Saya berusaha mencari sumber kisah ini dalam kitab-kitab berbahasa
Arab. Sampai sekarang belum juga saya temukan. Kisah itu saya baca
dalam buku tulisan ahli sejarah Ernest Kurtz dan penulis Katherine
Ketcham, The Spirituality of Imperfection. Di balik ketaksempurnaan,
di belakang sakit atau musibah yang berkepanjangan ada spiritualitas.
Orang Inggris punya peribahasa every cloud has a silver lining. Semua
awan kelabu selalu ada garis-garis peraknya. Semua kegelapan ada
titik cahayanya. Semua kekurangan ada makna rohaniahnya.
Karena itu, Sa'ad memilih untuk tidak berdoa buat kesembuhan matanya.
Ia menemukan dalam kebutaan itu kenikmatan kepasrahan kepada Allah.
Kepasrahan total. Ia tahu bahwa di balik semua peristiwa ada rencana
Ilahi yang tidak diketahuinya. Ia yakin bahwa kehendak Ilahi pasti
lebih baik dari kehendaknya. Boleh jadi ia juga sudah mencoba berdoa
agar matanya sembuh kembali. Tuhan tidak memenuhi doanya. Mungkin
mula-mula ia meradang, ingin memaksakan kehendaknya. Tetapi dalam
kesunyian dan perenungan, ia menemukan keindahan
kepasrahan. "Sesungguhnya kepatuhan sejati di sisi Allah adalah
kepasrahan." (Ali Imran 19).
Memang, betapa seringnya kita berdoa untuk memaksakan kehendak kita
kepada Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan sebagai pembantu kita. Kita
ingin Allah segera menyembuhkan penyakit kita, menyelamatkan anak
kita, membalas dendam kita, menaikkan penghasilan kita, membayarkan
utang-utang kita, mengisi jawaaban pada tes kita dan sebagainya. Bila
Tuhan lambat menjawab, kita marah.
"Ustaz, mengapa doa saya tak berjawab? Saya sudah melakukan puasa
sebaik-baiknya. Saya tidak pernah melewatkan salat malam. Saya sudah
menjalankan zikir dengan setia. Saya juga sudah menghindari
kemaksiatan dan dosa semampu saya. Saya sudah meninggalkan apa yang
sudah dijelaskan Ustaz sebagai penghalang diijabahnya doa. Saya juga
sudah berusaha berdoa pada saat dan tempat-tempat ijabah. Tapi saya
masih juga belum mendapat pekerjaan. Utang saya masih juga belum
terbayarkan. Dan anak saya masih juga sakit-sakitan," kawan saya
mengadu kepadaku.
Kepada kawanku itu, dan kepadamu, saya ingin bacakan kembali kisah
Sa'ad ini. Saya juga ingin mengingatkan kamu pada masa kecilmu.
Bukankah pernah kamu tidak henti-hentinya meradang, menangis, dan
marah kepada ibumu, karena dilarang bermain dan dipaksa belajar.
Kehendakmu bertentangan dengan kehendak ibumu. Sekarang setelah
dewasa, kita masih anak kecil di hadapan Tuhan. Kita masih kecewa dan
marah kepada Yang Mahakasih karena ia tidak memenuhi kehendak kita.
Seperti dahulu ketika kita meragukan apakah ibu betul sayang kepada
kita, sekarang kita juga meragukan apakah Tuhan betul Mahakasih dan
Mahasayang. Semuanya karena kehendak kita bertentangan dengan
kehendak Tuhan.
Kadang-kadang anak kecil lebih bijak dari kita. Pisahkan seorang bayi
dari ibunya. Ia pasti menangis, makin lama makin keras. Tangisnya
adalah panggilan agar ibunya datang. Jika tangisannya tidak berjawab,
tangisnya akan terhenti. Ia menderita kesedihan. Jika ibunya tidak
muncul juga, ia mulai menerima. Ia pasrah. Ia bukan saja berhenti
menangis. Ia juga berhenti sedih. Ia akan mengalihkan perhatiannya
kepada siapa saja yang bisa menjadi pengganti ibunya. Dan
kebahagiaannya pulih kembali.
Kearifan anak-anak itulah yang dihayati oleh Sa'ad. Seorang ibu
menceritakan kepada saya tentang anaknya yang autistik. Ia sudah
berobat ke mana-mana dan gagal. Ia tentu saja sudah berdoa dan
berdoa. Ia bertanya kepadaku, "Ustaz, apa yang harus saya lakukan?"
Saya menjawab, apa yang tidak bisa kita ubah harus kita terima. Ada
makna rohaniah di balik dunia yang tampak tidak sempurna seperti yang
kita inginkan. Ada spirituality di belakang imperfection. Ada
kehendak Tuhan yang lebih indah di atas kehendak kita. Pasrahkan
dirimu kepada keluasan kasih-Nya. Katakanlah, "Tidak akan menimpa
kita musibah kecuali yang sudah Allah tentukan bagi kita. Dialah
Pelindung kita dan kepada Allah jua orang-orang beriman pasrah
sepenuhnya (Al-Tawbah 51).***
*Kalau mau pasrah + bersabar, boleh saja. Asal jangan ngumpat-2, memaki-2, sebel, dll. :haha
AlfaOmega
October 26, 2004, 09:51
Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra. Bahwasanya
Rasulullah saw bersabda: Seandainya seseorang itu
mempunyai satu lembah dari emas niscaya ia ingin
mempunyai dua lembah, dan tidak ada yang dapat
memenuhi mulutnya kecuali tanah (ia tidak akan merasa
puas terhadap dunia ini sebelum mati) Dan Allah akan
senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat". HR.
Bukhari dan Muslim
Manusia dengan segala pernik-pernik di dunia ini mudah
sekali untuk tergoda, bahkan hingga pada taraf ingin
memiliki lebih dan lebih. Dalam benaknya terlintas
bagaimana keinginan itu tetap menjadikan realita dan
cita-cita. Pada diri manusia ada sifat tamak, rakus
dan qonaah (puas hati). Masing-masing diri manusia ada
kecenderungan untuk menjadi manusia rakus, tamak dan
ada juga manusia yang qonaah dengan apa yang diberikan
Allah kepadanya. Kita sama tahu bagaimana kisah Qorun,
dengan kekayaan yang dimiliki dan ingin selalu
memiliki. Hingga gudangnya penuh dengan kekayaan
melimpah ruah, sampai gembok dan kuncinyapun besarnya
alang kepala. Namun sang Qorun masih tetap tidak puas
(qonaah) atas pemberian Allah, harta yang banyak
sebagai amanah padanya. Bahkan karena terlalu kayanya
hingga timbul rasa kikir dan pelit. Takut hartanya
berkurang, darimana harus mendapatkannya lagi jika
harta itu berkurang. Demkianlah Qorun dengan tamaknya
pada harta hingga belum merasa puas jika tidak
memiliki dua, tiga gudang dan seterusnya. Timbul sifat
tamak, karena tidak menyadari bahwa harta hanya
merupakan titipan sementara. Tidak paham bahwa
kehidupan abadi ada di surga. Tidak tahu bahwa harta
bisa menyelamatkan dan mencelakakan dirinya. Jawaban
apa yang akan diberikan kepada Allah tat kala
ditanyakan tentang dua hal,
pertama : waktu yang diberikan dan dipergunakan untuk apa,
kedua : harta dari mana di dapatkan dan dibelanjakan kemana?
Harta banyak belum tentu menambah ketenangan, harus
memikirkan juga bagaimana mengurusi dan menjaganya.
Sehingga waktupun banyak tersita dengannya. Sehingga
menjadikan agenda pemikiran tiap hari dan menyita
waktu yang banyak. Lain halnya bila harta banyak tapi
tidak menggangu konsentrasinya, selalu Allah sebagai
agenda setiap harinya. Pemikirannya tertuju hanya
untuk Allah yang satu semua harta di belanjakan. Dalam
surat takatsur dijelaskan, ciri has manusia adalah
selalu mengumpulkan harta bermegah-megahan sehingga
melalaikannya. Asyik dengan hal dunia saja dengan
harta, pangkat, jabatan. Sehingga melalaikan Allah,
hingga ketika mulutnya di sumpal dengan tanah (mati)
maka baru menyadari bahwa dirinya telah dipanggil oleh
Allah dan baru merasa puas dan sadar. Tiada yang bisa
menghentikan ketamakkan diri manusia, kecuali mati
menjemputnya. Bila tujuan dan misi hidupnya hanya
untuk Allah semata, maka apapun yang diamanatkan oleh
Allah kepadanya, akan di pergunakan dengan
sebaik-baiknya. Tidak menghianati dan melalaikan apa
yang Allah titipkan kepada dirinya.
AlfaOmega
November 11, 2004, 10:26
Islam lebih Realistis
MALAM mulai turun di sebuah kamar kost di bilangan
Depok, Jawa Barat,
tahun 1993. Seorang perempuan cantik, hatinya
bergejolak. Malam itu,
seorang mahasiswi Sastra Belanda Universitas Indonesia
(UI), baru saja
berdiskusi antarteman, masing-masing mempertahankan
pendapatnya. Sharing
pendapat ini bukan hal baru dilakukan, tetapi sudah
sering berlangsung.
Hingga akhirnya, perdebatan itu menyisakan kepenasaran
dan melahirkan
sebuah pemikiran logis. Di suatu malam itulah, wanita
bersuara merdu itu
harus mengambil sebuah keputusan penting dalam
hidupnya. Perempuan yang
dimaksud adalah artis penyanyi terkenal, Iga Mawarni,
putri kelahiran
Bogor, tetapi berdarah Solo. Lagu ”Kasmaran” sempat
melambungkan nama
Iga Mawarni di tahun 1991. Tanpa dipengaruhi orang
ketiga, penyanyi
bersuara jezzi ini, akhirnya memutuskan meninggalkan
kepercayaan lamanya dan
memeluk Islam dengan pendekatan rasional. Ia
melakukannnya dengan
sepenuh hati, tanpa emosi sedikit pun.
”Tidak ada pengalaman khusus yang saya temui untuk
pindah keyakinan
ini, misalnya mendengarkan azan sayup-sayup lalu hati
saya bergetar. Bukan
peristiwa itu. Keyakinan mengkristal justru berangkat
dari lingkungan
di mana saya tinggal. Sebagai anak kost kami sering
berdebat, ketika
kami masih kuliah di UI,” cerita Iga Mawarni mengenang
masa lalunya,
ketika dihubungi ”PR”, Rabu (13/10), ia tengah
berlibur di Yogyakarta
bersama anaknya Rajasa (3.5).
Setelah berikrar memeluk Islam, persoalan pun muncul,
terutama dari
keluarganya. ”Tadinya saya tidak ingin mengatakannya
terus terang, tetapi
semakin saya tutupi, justru perasaan bersalah saya
muncul,” desahnya.
Keputusan untuk berterus terang kepada kedua orang
tuanya itu, bukan
tanpa risiko. ”Semua orang tua pasti tidak rela
anaknya berkhianat
terhadap agamanya. Saya memakluminya ketika ayah dan
ibu saya menjauhi saya.
Saya harus kuat, Allah sedang menguji kekuatan saya
saat itu. Dan saya
berhasil menerima ujian itu,” kata Iga sedikit
tersendat.
”Yang membuat saya terharu, ketika pikiran saya
mengingat mereka
sebagai orang tua yang telah melahirkan saya. Begitu
kuat rasa hormat itu
muncul, tetapi di sisi lain saya seperti memperoleh
kekuatan yang maha
dahsyat untuk tetap bersikukuh, berdiri berseberangan
dalam menegakkan
keyakinan. Tadinya ada keinginan, semoga apa yang
telah saya lakukan ini
ditiru lingkungan keluarga besarku di Solo, tetapi
tentu itu tidak
mudah, tetapi Alhamdulillah adik kandung saya, sejak
dua tahun silam telah
mengikuti jejak saya menjadi pengikut Muhammad saw.,”
kisah pengagum
tokoh B.J. Habibie ini bahagia.
Dianggap tersesat
Konsekuensi memeluk Islam secara sadar, adalah
perlakuan dari keluarga
di Solo yang tidak lagi ramah. Hubungan komunikasi pun
nyaris putus,
bahkan suplai dana untuk biaya hidup di Jakarta
dihentikan. ”Padahal saya
butuh biaya untuk kuliah, skripsi, biaya hidup. Tetapi
Tuhan selalu
memberi jalan pada umatnya. Saat itu saya terus
berdoa, semoga diberi
kekuatan. Maka timbul ide untuk bekerja secara part
time di Jakarta.
Tawaran nyanyi juga mengalir meski tidak gencar. Dari
sana saya semakin
meyakini kebenaran itu selalu ada,” tegas Iga.
Tujuh tahun, ia harus saling menjaga jarak dengan
keluarga. Jika tidak
dihadapi dengan kepala dingin, mungkin segalanya bisa
porak poranda.
Iga berhasil meredam semuanya dengan tanpa
gembar-gembor. ”Tujuh tahun
saya lewati hari-hari saling menjaga perasaan, tidak
pernah ada rasa
gentar, atau takut. Saya pernah dianggap sebagai anak
tersesat oleh
keluargaku di Solo. Saya tetap menikmatinya sambil
terus mempelajari kedalaman
keyakinan saya lewat Alquran, buku-buku penunjang
lainnya, sehingga
saya mengetahui mana yang menjadi larangan dan mana
yang dibolehkan,”
terang Iga.
Dalam pencarian memahami Islam itulah pada akhirnya ia
dipertemuakan
dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi
suaminya sekarang, Charlie
R. Arifin (pengusaha) yang satu ihwan. ”Saya bersyukur
Tuhan mengutus
laki-laki pendamping yang setia, saleh dan punya masa
depan. Saat itu
semakin teguh keyakinan saya memeluk Islam secara
tulus ihlas.”
Iga tak lagi sendiri mendirikan salat, atau berpuasa.
Ia sudah
menemukan imam dalam rumah tangganya. Bersama Charlie
dan Rajasa, buah kasih
mereka, terkadang melakukan salat berjamaah di rumah.
Bila bulan Ramadan
tiba, mereka melaksanakan salat tarawih di masjid
raya. Dipilihnya
Masjid At-Tien TMII Jakarta Timur, sebagai tempat
salat terdekat dari rumah
tinggalnya, di kawasan Jakarta Timur.
”Saat puasa tiba, sebenarnya bukan hal asing bagi
saya. Karena ketika
masih menganut Nasrani, ada juga instruksi mendirikan
puasa. Saya juga
suka melakukan puasa, hanya caranya yang berbeda,”
papar Iga yang
mengaku semoga tahun ini ia bisa melaksanakan puasa
dengan tanpa kekalahan
yang berarti dan mendapat ampunan dosa-dosa dari Allah
SWT. (Ratna Djuwita/”PR”)**
Predator
November 09, 2006, 09:58
Iga Mawarni : Alquran Adalah Nasihat Allah SWT
BANYAK cara yang dilakukan Iga Mawarni untuk memahami Islam. Penyanyi jazz ini kerap menonton tayangan TV yang bernuansa keislaman. "Saya juga mendengarkan ceramah," ujar kelahiran Bogor 24 Juni 1973 ini. Perkenalan dengan Islam dimulai ketika seorang teman menyarankan Istri Charles Rubiyan Afirin ini membaca tafsir Alquran. Lambat laun pelantun lagu Kasmaran ini terbuka hatinya. "Semua yang ada di Alquran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia," kata ibu seorang putra ini. Keputusan Iga berpindah keyakinan sempat ditentang sang ibu. Namun sebagai anak dia tetap berbakti dan mendoakan sang bunda. "Semoga suatu saat Allah membukakan hatinya," ujar dia.
Islam Lebih Realistis
Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda - baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas.Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.
Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.
Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. "Kenapa mesti Islam?" hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur'an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.
Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur'an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.
Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.
Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.
Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama "perang dingin" berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.
la_fleur
November 09, 2006, 19:17
Banyak kok yg kaya' gini...
Di kehidupan pribadi gw sendiri juga banyak.
Yg pasti semuanya punya identitas yg jelas... bukan siluman... atawa anonim atawa karangan2 doang :hehe
jkkk
November 10, 2006, 00:03
Originally posted by Predator
"Semua yang ada di Alquran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia," kata ibu seorang putra ini. Keputusan Iga berpindah keyakinan sempat ditentang sang ibu. Namun sebagai anak dia tetap berbakti dan mendoakan sang bunda. "Semoga suatu saat Allah membukakan hatinya," ujar dia.
kalau anda keyakinan bahwa Alquran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia maka anda hayatilah quran , dan ikutlah ajaran quran , karena quran itu sudah sepurna , adapun kitab selain daripada quran itu bukan firman tuhan yaitu firman manusia , bukti quran sudah sepurna sebagaiman firman tuhan :
http://www.dudung.net/images/quran/5/5_3.png
[5:3]. Diharamkan kepada kamu ialah bangkai, dan darah, dan daging babi, dan apa-apa yang disucikan kepada selain daripada Allah, dan yang dicekik, dan yang dipukul, dan binatang yang jatuh lalu mati, dan binatang yang ditanduk, dan apa yang dimakan binatang buas, kecuali kamu mengorbankannya dengan patut, dan apa yang dikorbankan untuk berhala, dan membahagi dengan ramalan anak-anak panah; itu ialah kefasiqan. Pada hari ini orang-orang yang tidak percaya berputus asa daripada agama kamu; maka janganlah takut pada mereka, tetapi takutilah Aku. PADA HARI INI, AKU MENYEMPURNAKAN AGAMA KAMU UNTUK KAMU, dan Aku mencukupkan rahmat-Ku ke atas kamu, dan Aku merelakan Islam sebagai agama untuk kamu. Maka sesiapa yang terpaksa, dalam kekosongan, dan tidak condong untuk bermaksud berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih.
Saya rasa apabila Rasulullah membaca ayat ini hanya Al-Quran telah lengkap..Hadith hanya ditulis 200 tahun selepas Rasulullah wafat.
dulu saya penganut ajaran agama ulamak ahlis sunnah /hadis , yaitu saya menurut ajaran dalam kitab-2 tulisan manusia juga , tapi sekarang saya beragama menurut ajaran quran saja , walaupun quran yang ada inipun ditulis oleh manusia , tapi semua orang-2 islam mengaku bahwa quran itu adalah firman allah ...ini adalah pendirian saya :D
Jaarbeurs
November 10, 2006, 16:06
Malah ada kan di Jakarta yang Mualaf chokin gitu, banyak banget
Malah mualaf itu menurut gw sih lebih belajar n lebih baik ke-Islam-annya dibanding kita, seoalnya lan mereka sebelum memeluk Islam harus memperdalam betul, baru deh masuk
Seperti bayi baru lahir tanpa dosa :haha
klikdoang
November 11, 2006, 02:58
gw sudah belajar agama islam, dan gw menemukan bahwa agama islam adalah agama yang aturannya paling banyak dan rumit. tapi untuk pengaturan dalam skala society, itu sangat bagus.
tapi, gw lebih suka menggabungkan ajaran islam yang udah gw dapatkan dengan nilai2 positif dari ajaran agama lain. bukankah agama berbeda2 untuk saling melengkapi? :D
LoveSexHedonism
November 11, 2006, 05:03
tapi, gw lebih suka menggabungkan ajaran islam yang udah gw dapatkan dengan nilai2 positif dari ajaran agama lain. bukankah agama berbeda2 untuk saling melengkapi?
Kaya sekte pimpinan Lia Aminuddin?::mikir:: Hmm..cool!
Gue suka ama lo "klikdoank". Pintar menyimpan pesan dalam statement2x lo...:bravo:
mz-pink
November 11, 2006, 10:16
setiap orang punya pandangan yang berbeda sesuai dengan keyakinannya.
jkkk
November 12, 2006, 00:58
Originally posted by mz-pink
setiap orang punya pandangan yang berbeda sesuai dengan keyakinannya.
bagus :bravo:
no what-what
March 16, 2007, 02:48
Laksamana TNI (Purn) Sudomo Merasa Terlahir Kembali
Lebih tenang dan khusyuk. Itulah yang dirasakan Laksamana TNI (Purn) Sudomo di hari tuanya. Di usianya yang sudah senja, mantan Pangkopkamtib di era Soeharto justru menemukan hidupnya.
''Kalau orang lain berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun,'' kata Sudomo saat ditemui di kediamannya yang sejuk di Pondok Indah, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bukan tanpa alasan bila penggemar olahraga golf ini berkata demikian. Dia mengaku hampir sebagian besar usianya dilalui dengan gundah dan gelisah. Salah satu penyebabnya karena sosok yang menghabiskan sebagian besar umurnya - 53 tahun di pemerintahan dengan berbagai jabatan -sebagai umaro ini pernah murtad. Itu semua menjadi penyebab jauhnya ketenangan dari hidupnya.
''Terus terang saja dan bukan rahasia umum, saya dulu kan murtad,'' kata Sudomo sambil tertawa. ''Dan celakanya semua itu saya lakukan tanpa pikir panjang dan memberi tahu orang tua,'' lanjutnya. Wajahnya berubah serius.
Seiring waktu, Sudomo pun merindukan ketenangan hati dan kembali pada keyakinannya semula. ''Kasih sayang Allah pada hamba-Nya lebih luas daripada murka-Nya.'' Sudomo merasakan betul makna ayat itu. Waktu membawanya ke kota kelahirannya, Malang. Saat itu, bertepatan 22 Agustus 1997, ia melihat Masjid Al Huda di kompleks Kostrad Malang. Hatinya tersentuh. Diapun memutuskan untuk kembali.
''Itu peristiwa luar biasa. Nama masjid itu sendiri berarti petunjuk. Dan di situ saya mendapat petunjuk. Mungkin ini hikmah dari doa orang tua saya yang selalu berdoa agar saya kembali,'' kenang Sudomo yang tampak lebih gemuk. Ia baru saja keliling Eropa sebulan penuh.
Peristiwa itu laiknya sebuah kelahiran bagi dirinya dan anugerah yang luar biasa dari Yang di Atas. ''Saya sangat senang diberi kesempatan bertobat. Bayangkan kalau saya meninggal sebelum bertobat bisa-bisa masuk neraka saya,'' ujarnya.
Sebagai rasa syukur, tahun itu juga Sudomo menunaikan umrah pertamanya. Ibadah haji dia lakukan tahun berikutnya. Sampai sekarang sudah lima kali ia berumrah. Tahun ini Sudomo kembali menjadi tamu Allah bersama jutaan umat yang lain.
Ia mengaku punya pengalaman aneh saat menjadi tamu Allah. Peristiwa tersebut dialami saat menunaikan ibadah haji 1998 dan 2002. Ketika tawaf Sudomo ingin berada sedekat mungkin dekat Ka'bah. Ia pun berdoa dan membaca Asmaul Husna. Tiba-tiba ia merasa Ka'bah sangat dekat dengan dirinya.
''Barisan orang yang sedang tawaf seperti terbuka begitu saja sampai-sampai ustadz saya mengikuti dari belakang mendekati Ka'bah. Alhamdulillah,'' kata Sudomo mengenang kejadian enam tahun silam. ''Doa di sana memang sangat mustajab,'' lanjut Sudomo.
Setelah semua yang dilalui, Sudomo yang tetap rutin menyelam tiga bulan sekali, mengaku lebih tenang dan bahagia. Shalat lima waktu pun selalu tepat waktu dijalankan. Ia melakukan shalat Shubuh di Masjid Al Ihsan Kebayoran Baru tiap hari. Di situ ia berjumpa guru spiritualnya Mawardi Labai.
Tentang hobi menyelamnya itu Sudomo mengaku membawanya semakin dekat dengan Allah. ''Saat kita di bawah, bersama dengan ikan warna-warni dan gugusan karang serta sinar matahari yang menembus ke bawah, Allah terasa semakin dekat,'' katanya puitis.
Kini sebagian besar waktunya praktis digunakan untuk mempelajari dan mendalami agama, beribadah, beramal, serta sesekali berdakwah untuk kalangan terbatas. Sebuah yayasan, Husnul Khotimah ia bangun pada 1998 untuk mewadahi semua kegiatan. Sebuah desa kecil di Bogor, Cijayanti, menjadi ladang persemaian pertobatannya.
Dengan selera humor yang tak pernah kering, Sudomo mengatakan bahwa apa yang ia lakukan kini tak lebih dari sebuah penanaman modal akhirat atau PMA. Semua kegiatan itu, menurutnya memberikan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan materi yang belum pernah didapat sebelumnya.
Terakhir, yang ingin dilakukan adalah menjadi ustadz. Saat ini apa yang dilakukan baru membawa dirinya seorang 'ulama' kependekan dari usia lanjut makin agresif. Dia mengatakan harus agresif dalam amal dan ibadah.
no what-what
March 16, 2007, 02:50
Dubes Italia untuk S. Arabia : Torquato Cardelli
Enam tahun yang lalu masyarakat Italia, termasuk kalangan teras pemerintahan Roma, dikejutkan oleh pengurnurnan seorang staf kedubesnya di Riyadh, Arab Saudi. Bos mereka, yakni Dubes Torquato Cardelli, yang selama beberapa minggu sebelumnya memperlihatkan gelagat yang mencurigakan dalam kaitan kepercayaan agama, menyatakan diri sebagai seorang Muslim.
Ini merupakan yang pertama kali dilakukan seorang dubes negara Barat. Ada dua dubes negara Barat sebelumnya juga masuk Islam. Yakni, Harald Hofmaan, Dubes Jerman untuk Maroko, dan Osman Siddique, Dubes Amerika Serikat untuk Fiji-Nauru-Tonga-Tuvalu. Namun mereka ini masuk Islam sebelum menjabat dubes.
Dubes Torquato Cardelli masuk Islam tepatnya pada tanggal 15 Nopember 2001, sehari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, atau tidak lama setelah mengikuti "Close reading of the Holy Qur'an" dan "Study of Islamic Culture". Demikian dikatakan Nouh bin Nasser, direktur The Batha Center, kepada kantor berita Perancis, AFP.
Ia datang ke Batha Centrer, instansi yang sudah lama menangani para calon mualaf. Di sana ia membaca dua kalimat syahadat dengan fasih karena memang sudah dikenalnya sejak lama.
Dalam 34 tahun karir politiknya, Cardelli yang fasih berbahasa Arab itu sudah ditugaskan sebagai diplomat untuk beberapa negara Timur Tengah, antara lain Sudan, Suriah, Irak, Libia, Tanzania, bahkan Albania, Ia menjadi Dubes untuk Arab Saudi berkedudukan di Riyadh sejak tahun 2000.
Cardelli, yang berusia 62 tahun, serta dikaruniai dua orang anak itu belum bersedia dimintai keterangan, kecuali ketika meninggalkan Riyadh ke Roma. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan kebahagiaannya setelah menjadi Muslim, Peralihan agama, katanya, ia putuskan dengan penuh keyakinan dan tanpa penekanan dari siapa pun. ia merasakan kesucian kandungan Al Quran.
Kabarnya di Roma, ia menjelaskan kepada perdana menteri, Silvio Berlusconi, mengapa ia memutuskan masuk Islam. Sebagian pihak di Italia mengharapkan keputusan sang dubes tidak sampai memberi angin kepada para teroris. Sementara pihak lainnya mengharapkan masyarakat Italia dapat menghargainya serta tidak mengaitkannya dengan tragedy WTC.
Yang menjadi sorotan bukan sekedar perpindahan keyakinan agama, tapi juga keputusannya yang berdekatan dengan peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, sementara di Italia sendiri muncul rasa sentimen terhadap umat Islam. Maka wajarlah ada pihak yang menganggapnya masuk Islam karena pengaruh tragedi tersebut.
Sebulan sebelumnya pun di Milan ada sebuah gerakan anti-orang Islam, menggulung tikar masjid dan merusak beberapa perlengkapan lain yang biasa digunakan jamaah untuk kegiatan ibadah.
Mungkin di tiga negara yang jumlah Muslimnya signifikan seperti Jerman, Inggris, dan Perancis, figur publik yang masuk Islam semakin biasa. Tetapi Italia mempunyai nilai kesensitifan tersendiri, terlebih karena di sana terdapat negara Vatikan, pusat Katolik dunia, sehingga wajarlah bila sejumlah pendeta mengkhawatirkannya akan menjadi preseden buruk.
no what-what
March 16, 2007, 02:53
Kesaksian Yvonne Ridley
London (ANTARA News) - Di bekas komplek bangunan Gereja Christian Priory yang kini menjadi Mesjid Sultan Selim, Yvonne Ridley (48), mantan wartawan Sunday Express yang pernah menjadi tawanan Taliban, menceritakan kisah perjalanan rohaninya dan akhirnya memutuskan memeluk Islam.
Pengalaman Yvonne Ridley disampaikan kepada peserta pertemuan silaturahmi musim gugur Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR) Gathering yang digelar di Mesjid Sultan Selim, dekat markas kesebelasan Spurs atau yang dikenal dengan Totenham Hotspur, selama dua hari Sabtu dan Minggu (4/5) November.
KIBAR Gathering yang menjadi ajang silaturahmi dan sekaligus acara halal bihalal keluarga Islam Indonesia yang berada di Britania Raya dan Skotlandia itu diikuti sekitar 200 peserta dan dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia, Dr Marty M Natalegawa.
Di bangunan bekas komplek gereja yang masih terdapat mimbar dan jendela tinggi khas dan besar yang berubah fungsi menjadi tempat ibadah umat Islam, Yvonne Ridley, yang mengenakan habaya warna hitam dan jelana panjang serta dipadu blus warna merah hati dilengkapi dengan jilbab modern yang diikat, berbagi pengalaman menjadi seorang Muslimah.
Bersama dua wanita muallaf lainnya, Bernadette dan Elizabeth, Yvonne Ridley yang wajahnya selalu terpancar keramahtamahan seorang Muslimah memutuskan untuk memeluk Islam setelah ia mendalami kitab suci Al-Quran.
Sebagai jurnalis dan aktivis perempuan yang tergabung dalam kelompok feminis, Yvone berharap akan menemukan perintah-perintah Tuhan yang memperlakukan wanita sebagai warga kelas dua, yang boleh saja disakiti, sehingga niqap atau jilbab dapat menutupi luka memar bekas kekerasan dalam rumah tangga.
Justru Yvonne merasa terkejut bahwa tidak ada satu pun ayat yang menyatakan tentang hal tersebut. Malah sebaliknya ia menemukan ajaran luhur bahwa sesungguhnya wanita diletakkan dalam derajat tertinggi di rumah tangga, ujar Yvonne yang senyuman selalu tersungging di bibirnya.
"Ternyata Islam memanjakan wanita untuk tak perlu dipaksa bekerja agar dapat memdidik anak-anaknya, agar terhindar dari minum-minuman keras, pornografi dan hal-hal lain yang dapat menghambat pertumbuhan remaja seperti yang tengah dikhawatirkan pemerintah Inggris," ujarnya.
Bahkan ditegaskan di dalam Islam, wanita merupakan tiang negara dan sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki ibu, ujar Yvonne yang kini aktif berdakwah.
Dalam diskusi yang dipandu Andrew Williams, muallaf yang berganti nama Waraqah, dua warga Inggris lainnya yang baru kembali kepada fitrah memeluk Agama Islam berbagi cerita mengenai pengalaman rohaninya sampai memutuskan pilihan terbesar dalam perjalanan hidup mereka dengan mengucapkan dua kalimah syahadah.
Seiring dengan perjalanan waktu, Yvonne berhasil meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa Islam bukanlah seperti yang digambarkan oleh media.
Pengalaman ibadah haji
Pengalaman cukup berkesan dari politisi Partai Respect ini, terjadi ketika dia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekkah beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika ia terlambat datang ke Masjidil Haram.
Mantan wartawan Al Jazeera ini akhirnya berlari menuruni bukit dari tempat ia menginap. Beberapa ratus meter dari halaman masjid ia bersama puluhan ribu jamaah lainnya dihambat Askar untuk tak melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram, dan kekacauan pun terjadi.
Keluh-kesah dalam beragam bahasa, memerotes keputusan Askar yang tak memperkenankan mereka menuju halaman utama Masjid, yang memang telah dipenuhi jutaan ummat manusia yang ingin menunaikan shalat wajib.
Namun betapa takjubnya ia, ketika suara takbir tanda dimulainya shalat Ashar, serentak kekisruhan itu pun lambat laun berubah menjadi keheningan. Masing-masing langsung membentangkan sajadahnya, membentuk barisan baru. Semua larut mendengarkan sang Imam mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran, dalam satu bahasa.
Yvonne pun mengambil pelajaran berharga sesungguhnya Allah telah mengajarkan shalat berjamaah sebagai suatu simbol agar umat tak mudah terpecah-belah bila ia mengikuti pemimpinnya yang shaleh dan alim.
no what-what
March 16, 2007, 02:54
Islamphobia
Wanita yang murah senyum itu berjuang membebaskan belenggu Islamophobia yang melanda dunia Barat melalu tulisan-tulisannya yang cukup berani. Ia berhasil memaksa petisi agar Blair segera lengser tahun depan, dan menuntut hengkangnya pasukan Inggris dari tanah-tanah Muslim di Irak dan Afganistan.
Yvonne juga mengajak warga Indonesia bergabung bersama warga Inggris lainnya, Muslim maupun non-Muslim secara aktif menuntut dihentikannya peperangan di berbagai belahan dunia.
Sementara itu Elizabeth (68) mengucapkan syahadah di usianya yang ke-62 tahun, setelah pencariannya yang panjang sampai ia pun pasrah kepada Tuhan untuk dicarikan pegangan hidup yang sesungguhnya.
Kedekatannya dengan keluarga Muslim mengantarkannya sebagai umat Islam dan selalu menyarankan agar sebagai seorang Muslim 'kita' harus terbuka terhadap warga non-Muslim.
Sementara itu, Bernadette asal Irlandia masuk Islam sejak bertemu dengan suaminya orang Indonesia di atas kapal pesiar di New Zealand. Setelah mengucapkan dua kalimah syahadah tantangan dari dalam keluarga dan teman-temannya cukup membuatnya khawatir.
Sebaiknya 'kita' harus menjelaskan tentang tata cara hidup 'kita' sebagai Muslim, dengan demikian mereka akan mengerti mengapa kita menjalankan ritual, kenapa tidak makan makanan yang diharamkan, katanya.
Pada kesempatan yang sama Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) London, Muslimin Anwar, menilai Yvonne Ridley sebagai motor penggerak perlawanan terhadap propaganda media Barat yang cenderung bias terhadap Islam dan para penganutnya.
Menurut Muslimin Anwar yang tengah menyelesaikan Phd di Brunel University, kemampuan jurnalistik Yvonne selama menjadi wartawan Sunday Express, BBC, CNN dan Al Jazeera sangat mencerahkan umat Islam di Eropa, untuk selalu secara kritis menanggapi setiap berita yang diusung oleh media Barat.
Dikatakannya umat Islam maupun mereka yang anti perang serta yang ingin mencari pembandingan segala kebijakan kelompok 'neo-conservative' dengan kehadiran Yvonne Ridley dapat dijadikan referensi yang tingkat kesahihannya cukup tinggi.
Sementara itu, Hamiyah Panama, wanita kelahiran Engrekang, Sulsel, yang bersuamikan muallaf Dominique Bodart asal Belgia mengatakan Yvonne Ridley mendapatkan hidayah justru dalam situasi sulit dan setelah memeluk Islam pun dia mendapat banyak tantangan dari keluarga dan kawan-kawannya.
Menurut wanita yang aktif dalam pengajian para muallaf, pelajaran bagi kita-kita yang Islam sejak lahir yang menganggap agama Islam hal biasa, sedangkan orang-orang semacam Yvonne, Bernadette dan Elizabeth banyak tantangan yang mereka hadapi sebelum cahaya Islam datang dan menerangi hati mereka.
"Harusnya kita patut cemburu karena mereka langsung melaksanakan kewajiban-kewajiban agama Islam secara serius, dan pengalaman mereka harus kita jadikan pelajaran bahwa memang Allah itu Maha Kuasa," demikian Miya.
Acara Kibar Gathering yang digelar setiap musim menjadi ajang silatutahmi umat Islam Indonesia yang berdomili di Kerajaan Inggris itu digelar acara diskusi dan telekonference dengan ustad Syamsi Ali, warga Indonesia yang menjadi Imam Mesjid di New York, mengetengahkan topik "Kembali kepada fitrah" dengan moderator Muslimin Anwar, Ketua ICMI-London. (Oleh Zeynita Gibbons) Copyright © 2006 LKBN ANTARA
no what-what
March 16, 2007, 02:57
Lee Djie Men : Mimpi Shalat Mengadarkan Diri Saya
SAYA dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Kami bertetangga dengan keluarga Bapak H. Harmoko, mantan Ketua DPR/MPR RI. Beliau adalah sahabat saya sejak kecil. Meskipun akhirnya jalan hidup kami berbeda, namun itu tak membuat jarak di antara kami. Kami tetap Akrab bila bertemu.
Saya terjun ke bidang bisnis dan industri tekstil. Kisah saya jadi industriawan dan pengusaha tekstil yang sukses saya mulai ketika menjadi pedagang tekstil kecil-kecilan di Pasar Klewer, Solo. Waktu itu saya wara-wiri menjual tekstil eceran. Lalu, meningkat sampai mempunyai sebuah kios tetap.
Rupanya, sava memang hoki berbisnis tekstil, sehingga lambat laun sava bahkan bisa membuka pabrik tekstil sederhana yang berlokasi di Jl. Kiai Maja di tepi Bengawan Solo. Dengan memiliki pabrik tekstil sendiri, usaha bisnis saya maju kian pesat. Lalu, bersama kakak kandung sava, kami mendirikan pabrik tekstil besar seluas 65 hektar dengan investasi 300 miliar rupiah. Pabrik tersebut kami beri nama PT Sri Rejeki Isman (Sritex), berlokasi di Desa Jetis, Sukoharjo. Karyawan yang berkerja di sini kurang lebih 20.000 orang.
Pada tanggal 3 Maret 1992, pabrik kami tersebut turut diresmikan oleh Bapak Soeharto bersama 275 pabrik aneka indusri lainnya di daerah Surakarta, Jawa Tengah. Bukan main bangganya kami ketika itu. Terutama saya tentunya. Cita-cita saya untuk menjadi orang kaya, tercapai sudah. Kini orang tak bisa lagi menghina diri saya seenaknya. Sebab, saya bukan lagi Lukminto yang dulu (miskin). Lukminto hari ini adalah Lukminto yang kaya raya, bahkan berhak menyandang gelar "Raja Tekstil".
Tapi benarkah saya bahagia? Secara lahiriah memang, saya tak kurang suatu apa pun. Punya rumah mewah, punya harta berlimpah, punya pabrik modem dengan ribuan karyawan, dan punya istri cantik yang setia. Kurang apa lagi? Tapi, ada satu hal yang tidak pernah saya rasakan: batin sava tak pernah tenang. Saya selalu diliputi kegelisahan, karena selalu berpacu mengejar materi.
Sebagaimana umumnya WNI keturunan Tionghoa, keluarga kami adalah penganut agama Budha Konghucu, yakni agama Budha yang telah bercampur dengan tradisi dan pandangan hidup leluhur kami. Tetapi, karena kami dari keluarga miskin maka pendidikan agama kurang mendapat perhatian. Kami iebih disibukkan untuk mencari uang. Sejak kecil saya telah diajar untuk berdagang.
Saya masih ingat, pulang sekolah, saya dan kakak langsung berdagang makanan-makanan kecil, seperti kacang goreng, permen, rokok, dan lain-lain. Kedua orang tua kami selalu menekankan kepada kami agar kelak harus menjadi orang kaya. Sebab jadi orang miskin itu tidak enak, selalu jadi cemoohan dan hinaan orang, begitu pesan mereka. Kami pun selalu dididik untuk tidak boleh puas terhadap perolehan yang kami dapat. Kalau perolehan yang kami dapat hari ini sama dengan yang kemarin, itu berarti rugi.
Karena dicambuk oleh hal-hal yang seperti itu, saya tumbuh menjadi anak yang mandiri dan ulet. Saya tak punya cita-cita yang muluk-muluk sebagaimana lazimnya teman teman seusia saya ketika itu -jadi pegawai negeri, ABRI, polisi, pilot, dokter, dan lain-lain. Saya cukup bercita-cita jadi orang kaya.
Mengapa begitu? Sebab, saya tahu diri. Sebagai WNI keturunan, nasib kami nyaris ditentukan oleh usaha dan keuletan kami sendiri. Setelah saya beranjak remaja, saya semakin sadar bahwa posisi kami "kurang beruntung" dibandingkan saudara-saudara kami lainnya. Kami tak bisa jadi ABRI, kami tak boleh jadi pegawai negeri. Padahal kami sudah lahir di negeri ini, dan mencintai negeri ini sama besarnya seperti saudara-saudara kami dari suku-suku lainnya di Nusatara ini. Tapi, itulah kenyataan.
Tak Punya Pegangan
Tak ada jalan lain bagi kami untuk dapat bertahan hidup, selain mengonsentrasikan seluruh daya dan kemampuan kami dalam bidang perdagangan. Itulah barangkali faktor yang membuat kami menjadi suku bangsa yang ulet berdagang. Tapi, risikonya, ya itu tadi, perhatian terhadap kehidupan beragama sangat kurang. Bahkan dalam soal yang satu ini, saya nyaris tak punya pegangan yang pasti. Di rumah, saya beragama Budha Konghucu, tapi di sekolah saya beragama Kristen.
Agama buat saya ketika itu, tak lebih hanya sebagai tempelan belaka. Sebagai penganut Budha, saya nyaris tak pernah ke wihara untuk bersembahyang. Begitu pun sebagai penganut Kristen, saya nyaris tak pernah ikut kebaktian di gereja. Karena terlalu dikejar obsesi untuk menjadi orang kaya, saya jadi lupa segalanya. Saya tak tahu lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Semua cara akan saya tempuh untuk memperoleh kekayaan. Termasuk dengan jalan "muja" ke Gunung Kawi. Di tempat yang dianggap keramat ini banyak orang yang datang untuk minta pasugihan (kekayaan). Melalui petunjuk yang diberikan kuncen, saya mulai nglakoni (menjalankan) beberapa persyaratan yang tak bisa saya ceritakan di sini.
Alhasil, dalam tempo singkat usaha dagang saya maju pesat. Yang semula saya hanya pedagang tekstil eceran, meningkat bisa membuka kios, lalu membuka pabrik tekstil sederhana, sampai akhirnya mendirikan pabrik tekstil raksasa seperti PT Sritex tersebut. Kendati sudah menjadi Raja Tekstil, namun batin saya kosong dari siraman rohani. Saya tak pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian, sebagaimana yang sering saya saksikan dari kehidupan kaum muslimin.
Sebagian besar karyawan saya beragama Islam. Sering saya saksikan, di sela-sela waktu istirahat makan siang, mereka tak lupa menunaikan sembahyang (belakangan saya tahu itu disebut shalat). Meskipun waktu itu di pabrik ada tempat khusus untuk shalat (mushala atau masjid), namun mereka tetap mendirikan shalat di beberapa tempat seperti di gudang dan di lorong-lorong pabrik.
Sering saya amati, usai shalat wajah mereka tampak begitu cerah. Seakan terpancar dari jiwa mereka yang tenang. Padahal saya tahu pasti, gaji mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang saya miliki. Suatu kali, secara iseng pernah saya tanyakan kepada salah seorang karyawan, mengapa mereka begitu disiplin melaksanakan shalat.
Apa jawabnya? Jawabannya sungguh membuat saya terkejut. "Kami shalat sernata-mata untuk mencari keridhaan Allah, sebab hidup di dunia hanya sementara. Ada kehidupan yang kekal di akhirat kelak, yang harus kami persiapkan sebelum mati," begitu jawab mereka.
Sungguh, selama itu saya tak pernah berpikir tentang mati. Yang saya tahu, kematian itu hanyalah akhir dari kehidupan. Sedangkan menurut karyawan saya yang muslim tadi, kematian adalah pintu atau jalan antara untuk menuju alam lain yang disebut akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan diperhitungkan sesuai baik-buruknya. Mengingat itu semua, bulu kuduk saya berdiri. Sungguh, saya amat takut menghadapi kematian dalam keadaan saya yang bergelimang dosa.
Mimpi Shalat
Sejak itu, saya jadi pendiam. Sava jadi lebih suka merenung dan berpikir tentang diri saya sendiri. Saya pun mulai suka mengikuti siaran Mimbar Agama Islam yang ditavangkan TVRI setiap Kamis malam. Begitu tenggelamnya saya dalam perenungan, sehingga pada suatu malam, tepatnva 10 Januari 1994 bertepatan malam 27 Rajab (Isra Mikraj), saya bermalam di vila kami yang sejuk di daerah Tawangmangu (Solo). Dalam tidur sava bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karib saya, lalu saya disuruh melaksanakan shalat.
"Saya nggak bisa shalat," jawab saya. Lalu, teman saya memberi contoh bagaimana caranya shalat. Setelah paham, saya pun disuruh mengulangi gerakan shalat yang ia peragakan. "Shalatlah kamu," katanya. Lalu, saya pun shalat. Tapi, baru separo jalan, saya pun terjaga. Temyata, itu hanya mimpi.
Sejak bermimpi seperti itu, saya jadi gelisah. Istri saya pun sempat bingung melihat diri sava. Tapi saya tak menceritakan mimpi itu kepadanya. Untuk beberapa waktu lamanya, mimpi itu hanya jadi rahasia diii saya seorang. Tapi lama-lama saya tak tahan juga untuk tidak bercerita.
Kebetulan, saya mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi. la seorang muslim yang taat. Ketika pada suatu malam sava minta dipijat olehnya, saya ceritakanlah mimpi itu kepadanya. Mendengar cerita mimpi saya itu, Pak Edi spontan bergumam, "Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan masuk Islam," katanya mantap. "Benarkah?" tanya Saya. "Insya Allah," jawabnya pasti.
Sejak itu, saya pun mulai dibimbingnya untuk melaksanakan shalat. Saya pun mengikuti sarannya untuk berkhitan. Tapi itu semua saya lakukan secara sembunyi-sembunyi. Saya bahkan dikhitan di Jakarta. Ketika masuk bulan suci Ramadhan, saya pun ikut melaksanakan ibadah puasa dan mengeluarkan zakat (mal).
Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hati saya itu, Pak Edi menyarankan agar keislaman saya itu harus segera diproklamirkan. Alasannya, agar semua orang tahu bahwa saya sudah muslim. Sarannya itu pun saya terima.
Singkat cerita, pada tanggal 11 Maret 1994 bertepatan dengan peringatan Supersemar, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan umat Islam dan karyawan PT Sritex, dibimbing oleh pimpinan Pondok Pesantren al-Mukmin, Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir, S.H.
Alhamdulillah, istri saya pun kini telah menjadi seorang muslimah. Bahkan pada tahun 1995 lalu, bersama istri dan 10 orang staf PT Sritex, kami berkesempatan menunaikan ibadah haji.
oleh Basit Adnan/Albaz dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com/
no what-what
March 16, 2007, 03:02
Lee Kang Hyun, Belajar Agama Melalui Korespondensi
Beragam alasan mualaf menemukan kebenaran Illahiah melalui Islam. Bagi Lee Kang Hyun, Direktur PT Samsung Elektronic Indonesia, Islam dipilih karena dinilai sebagai agama yang mengajarkan keramahan dan solidaritas kepada sesama. Sekitar 10 tahun pria kelahiran Seoul Korea Selatan ini telah menjadi Muslim. Dan sepanjang waktu itu pula, dia merasa dorongan untuk beramal kian membesar.
Di tengah kesibukan sebagai orang nomor satu di perusahaan elektronik papan atas ini, ia menyempatkan diri untuk mengajarkan Islam pada kedua anaknya. ''Kegiatan itu cukup menyita waktu. Namun dengan demikian, sekaligus akan berarti saya juga terus belajar tentang Islam,'' bilang Lee.
Mulai tertarik Islam sejak bersahabat dengan orang Indonesia pada penghujung 1980-an, Lee beruntung memiliki ayah mertua yang cukup banyak mengetahui Islam. Maka korespodensi hingga diskusi soal agama selalu mengisi waktunya bila dia bertemu mertua. Kesan Islam sebagai agama damai, menurut Lee, dia dapatkan saat mulai lebih banyak belajar tentang Indonesia. Semakin dia ingin mengetahui soal Indonesia, kian terasakan betapa bangsa ini merupakan komunitas yang beragam namun memiliki semangat bersama dan saling berbagi.
Lee menjadi lebih dalam memperhatikan Islam, setelah dia mengenal keluarga Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI, yang dilihatnya amat tekun beribadah. Yang dia ingat, bapak angkatnya itu selalu menjalankan shalat tepat waktu, dan membaca Alquran usai shalat. ''Selesai shalat atau membaca Quran, bapak itu rona mukanya terlihat amat segar dan tenang. Sepertinya membaca Alquran itu sebagai obat. Paling tidak obat stress karena pekerjaan,'' kenang Lee.
Sejak 1988, Lee memang sering bertandang ke Indonesia. Awalnya kedatangan itu karena korespondensi dengan tamannya yang kebetulan mahasiswa Universitas Indonesia. Dia bahkan sempat tinggal beberapa minggu di rumah karibnya itu, Novianto. Dari persahabatan itu, dan pengalamannya mendatangi sejumlah tempat di Indonesia, keramahan dan keakraban masyarakat Indonesia amat membekas di dalam hatinya.
Situasi ini diakuinya, seperti kondisi Korea Selatan pada era 1970-an, saat ia masih anak-anak. Ketertarikannya kepada kehidupan masyarakat Indonesia yang kemudian semakin membuatnya tertarik ingin lebih tahu agama paling besar di sini, Islam.
Lee tak menyangka jika di kemudian hari, kedekatan batinnya dengan Indonesia mengantarnya untuk menduduki posisinya sekarang. Usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Hankuk University Korea Selatan pada 1991, dia kemudian bergabung dengan perusahaan elektronik terbesar di negaranya, Samsung.
Dua tahun menekuni bidang ekspor, diapun mendapat promosi jabatan. Karena dinilai banyak mengetahui Indonesia, maka penugasan berikutnya yang membawanya kembali ke Indonesia pada 1993. ''Saat itu adalah kali kedelapan saya ke Indonesia. Walaupun senang tapi tak terlalu surprise,'' ujarnya.
Namun, lanjut pria ini, pada kesempatan ke Indonesia yang kedelapan itu dirinya memiliki beban psikologis lebih tinggi. Kalau sebelumnya, datang ke Indonesia karena berlibur dan belajar banyak hal, pada 1993 dia datang ke Indonesia dengan tanggung jawab lebih besar. Ini karena Lee ditunjuk sebagai Menejer Ekspor-Impor di PT Samsung Electronic Indonesia.
Walaupun berurusan dengan soal ekspor-impor, Lee juga mencoba dekat dengan para karyawannya. Terutama, ia ingin mendorong etos kerja buruh menjadi lebih baik. Ia pun menjadi 'pengamat'. Dilihatnya, terdapat korelasi signifikan antara agama dengan prestasi kerja. ''Mereka yang tekun dan disiplin shalat ternyata adalah karyawan yang bisa berprestasi,'' ujarnya.
Maka rasa ketertarikan kepada Islam pun kian menari dalam sanubarinya. Diakuinya pula, keinginan memeluk Agama Illahi yang paling sempurna itu juga karena keinginan lebih dekat dengan lebih 2.000 karyawan di pabrik Samsung di Cikarang Jawa Barat. ''Bukan karena unsur lain. Tapi memang kalau saja saya Islam, maka bila harus menyatukan diri dengan para karyawan, saya bakal lebih diterima. Namun intinya bukan karena mayoritas Islam terus saya jadi Islam. Bukan karena itu,'' tegasnya.
Pria kelahiran 16 Juli 1966 ini mengaku sempat gamang dalam perjalanan menemukan kebenaran Islam. Perasaan itu justru kian menjadi setelah keinginannya memeluk Islam kian besar.
Beruntung, ia mendapat teman diskusi yang mumpuni, salah satunya Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI yang berdarah Aceh. ''Pak Roshim tak pernah memaksakan kehendak. Dia malah lebih banyak hanya memberi contoh bagaimana bisa taat beragama dengan tetap bisa berkarya secara profesional,'' kenang Lee. Maka belum setahun berkarya di Indonesia keputusan berislam pun diputuskan. Pada tahun 1994, Lee Kang Hyun resmi memeluk Islam setelah bersyahadat di Masjid Sunda Kelapa Jakarta.
Sebagai Muslim, ia mengaku masih banyak 'bolong'-nya. Diakuinya, belum semua ketentuan waktu shalat diikutinya. ''Tapi setiap hari saya pasti shalat, walaupun memang belum lima waktu.'' Shubuh adalah waktu shalat yang paling sering terlewatkan. Soalnya kebiasan tidur menjelang fajar menjadikan sulitnya dia terbangun di pagi hari.
Soal larangan mengonsumsi daging babi, menurut Lee, amat mudah dia tinggalkan selekas masuk Islam. Namun soal minuman beralkohol, belum sepenuhnya ditinggalkan, terutama saat 'puulang kampung' ke Korea. ''Minum Soju itu identik dengan budaya Korea dan rasa penghormatan terhadap semasa manusia. Maka jujur saja, saya belum bisa mencari jalan keluar untuk meninggalkan budaya itu. Tapi suatu sat saya yakin bisa,'' ujarnya. Asal tahu saja, di Korea, Islam masih dianggap sebagai sekte aneh'.
Dua tahun ber-Islam, Lee mengaku mendapat berkah paling besar dengan menemukan jodohnya, wanita asal Sumedang, Jawa Barat. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki, Bonny Lee (7) dan Boran Lee (2). Seiring pertumbuhan buah hatinya, ia makin terketuk untuk makin mendalami Islam. ''Soalnya bagaimana saya bisa mendidik anak dalam soal agama dengan baik, kalau saya sendiri pengetahuan Islamnya masih perlu diperdalam,'' katanya.
Maka Allah pun memberi jalan mudah. Sang ayah mertua merelakan waktunya untuk berbagi pengetahuan Islam kepada menantunya yang masih berbangsa Korea ini. Sekarang, setiap Sabtu, dia selalu menerima surat dari ayah mertuanya yang berisikan topik bahasan Islam. ''Selain surat, ayah sering mengirimkan pula data-data dan dokumen lain soal Islam. Lalu saya selalu meluangkan waktu untuk mendiskusikannya dengan Bonny, yang sekarang mulai besar,'' ceritanya.
Seiring dengan perjalanan karier Lee yang terus menanjak, hingga sekarang dipercaya menempati posisi Direktur PT Samsung Eelectronic Indonesia, kebiasaan 'menyebar' uang dan berbagi rezeki kepada kaum dhuafa terus menjadi kesehariannya. Namun ia menolak membicarakan hal itu. ''Saya hanya ingin berbagi dan mendidik anak-anak supaya tahu kewajiban saling membantu sesama,'' tukasnya.
Satu lagi yang masih menjadi cita-citanya, pergi ke Tanah Suci untuk berhaji. ''Saya ingin ke Mekkah untuk berhaji. Tapi sampai sekarang belum mendapat izin cuti lebih sebulan,'' tuturnya.
no what-what
March 16, 2007, 03:11
Drs H Mulyadi MMA : Sedekah Menyelamatkan Saya
Dengan langkah gontai dan lemas, Mulyadi keluar dari kantor sebuah bank yang terletak di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat, Jumat sore di bulan September 2006. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pihak bank memintanya untuk kooperatif, karena Senin atau Selasa, kantor pelelangan akan menyita seluruh asetnya.
''Jumat itu, saya diminta pihak bank untuk segera kooperatif atas kedatangan kantor pelelangan bahwa Senin atau Selasa akan datang untuk menyita asset saya. Kantor pelelangan tersebut akan mencoba menyelesaikan masalah saya dengan konsep dilelang,'' tutur Mulyadi mengawali kisahnya kepada Republika akhir pekan lalu.
Selain bekerja di suatu perusahaan, suami dari Nurasiah Jamil ini membuka usaha sendiri. Posisi terakhir yang dijabatnya adalah Direktur Utama PT Zebra Nusantara TBk, perusahaan transportasi terbesar di kota Surabaya. ''Dari kesulitan-kesulitan makro berimbas kepada kesulitan termasuk perusahaan yang saya kelola. Akumulasi kesulitan itu berakibat terhadap terancamnya aset-aset yang saya miliki, ujarnya. Nilai aset itu hampir Rp 2 miliar, dan akumulasi utang hampir Rp 3 miliar.
Dan, untuk kali pertama dalam hidupnya, pria kelahiran Bogor 2 November 1970 yang pernah menjabat Direktur Utama PT Steady Safe Tbk ini menggunakan kendaraan umum untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Jujur saja, selama ini Mulyadi ke mana pun selalu menggunakan sopir. ''Akhirnya saya naik Busway karena itu kendaraan yang saya lihat berlalu lalang. Pertama kali saya naik bis ya itu dari depan hotel Mandarin menuju Al Azhar. Saya shalat Maghrib di situ saya lihat dan mendengar publikasi dari pengurus masjid tentang adanya tausiah.''
Ia pun beriktikaf di Masjid Agung Al Azhar hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya berjamaah Mulyadi mengikuti pengajian yang malam itu menampilkan dai muda Ustadz Yusuf Mansur sebagai penceramah. ''Saya terkejut, ketika dalam tausiyah mengatakan, 'Mungkin di antara jamaah yang hadir di sini adalah orang yang tidak sama sekali berniat untuk datang ke Al Azhar bahkan mendengarkan tausiyah dari saya. Tapi, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa','' ungkap Mulyadi menirukan.
Intinya, sang ustadz mengatakan bagaimana cara mengatasi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah. Caranya adalah dengan bersedekah, dan lebih utma adalah benda yang paling dicintainya.
Tanpa pikir panjang, Mulyadi pun mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari yang melingkar di tangannya seharga 3.000 dolar AS untuk disedekahkan. ''Waktu itu, yang paling berharga hanya jam tangan karena di dompet hanya ada uang Rp 110 ribu. ATM saldonya sudah sangat minimum, Kartu Kridit sudah over limit. Waktu itu saya pikir kalau saya sedekahkan Rp 100 ribu uang saya tinggal Rp 10 ribu.
Sejenak ada rasa berat. Jam tangan itu memang tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun ia segera menepisnya. Saat dilelang, jam itu dibeli seorang jamaah seharga Rp 200 ribu.
Ia merasa enteng sepulang dari masjid. Ia mengaku berada di puncak kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Ia siap untuk menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset yang dimilikinya.
Tak lama kemudian, teleponnya berdering. Jauh sebelum krisis mendera dirinya, ia pernah mengajukan sebuah proposal proyek kepada sebuah lembaga. Suara telepon di seberang sana menanyakan proposalnya dulu, apakah berminat untuk meneruskan atau tidak. Allah menggerakkan hatinya untuk mengakomodasi proposal saya, kisahnya penuh suka cita.
Senin, hanya berselang dua hari setelah mensedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekannya bersamaan dengan rencana eksekusi lelang. Mereka sepakat bekerja sama.
Tak sampai seminggu, ia sudah meneken surat perjanjian kerja sama. Uang muka honorarium segera dikirim ke rekening, begitu kata mereka. Di hari batas terakhir ia harus melunasi hutangnya, ia pergi ke bank. Subhanallah, sudah ada jumlah uang yang sangat-sangat cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban saya,ia berkisah dengan mata berbinar.
Ia tak akan pernah melupakan kisah itu. ''Inilah pengalaman batin yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Apa yang kita sangka, tak selalu seperti itu yang Allah kehendaki.
Ia pun teringat, boleh jadi, keajaiban itu datang karena sebelumnya ia berikhtiar, berdoa tanpa putus, ibadah puasa Senin-Kamis, shalat dhuha setiap hari, iktikaf di masjid, dan selalu mendoakan orang tua.
Mulyadi bersyukur Allah memberinya kesulitan hidup, karena itu adalah momentum untuk melihat keperkasaan Allah. Allah mengintervensi kehidupan manusia selama manusia berada di jalan Allah dan mengikhtiarkan sesuatu yang benar-benar mengharap ridha Allah total tidak berkehendak atau tidak tergantung selain Allah. ''Jika kita bersedekah, ternyata itu yang mengundang intervensi Allah lebih cepat lagi,'' tandas Mulyadi berfilosofi.
Drs H Mulyadi MMA
Tanggal Lahir : Bogor 2 November 1970
Istri : Nurasiah Jamil
Anak-anak :
Nurfajrina Sabila Putri Mulyadi
Muhammad Sultan Ramadhan Putra Mulyadi
Nursabrina Saskia Putri Mulyadi
Pendidikan :
Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar Bandung 1995
Pascasarjana Program Magister Management Agribisnis IPB 2004
Pekerjaan :
Direktur PT Infiniti Finance 1999-2003
Komisaris PT Steady Safe Tbk 1999-2003
Direktur Utama PT Steady Safe Tbk 2000-2001
Direktur Utama PT Zebra Nusantara Tbk 2003-Juni 2006
Ketua Bidang Transfortasi dan Telekomunikasi DPP HIPPI 2004
nadaegan
March 17, 2007, 04:54
gue juga seorang muallaf...
tapi yg gue bingungin gini.. apakah gue memang muallaf.. or..
soalnya.. waktu nyokap gue masuk Islam, gue umur empat tahun-an.. geto, d..
apakah gue juga termasuk Muallaf.. secara.. dulu pas bayi gue juga dibaptis, dan anak gereja geto, d.. gimana? can you help me explain about this?
AlfaOmega
March 20, 2007, 21:22
Insya Allah, lu seorang muallaf
muallaf adalah orang yang baru masuk Islam.
tetapi, ada pula yang menyebut muallaf itu adalah orang yang terlahir sebagai non muslim, tapi saat ini udah menjadi muslim.
sesama muslim pun, ada istilah muallaf.
misalkan aja: guwe adalah seorang muallaf. terlahir dari keluarga Islam, tapi gw sebelumnya adalah penganut Islam abang-an (asal-2 an, atau Islam KTP aja). Baru-2 ini saja, guwe berusaha menjalankan sholat 5 waktu (dan ajaran Islam lainnya) dgn serius. Jadi, guwe juga seorang muallaf.
:)
DenBagoes
March 21, 2007, 01:41
Insya Allah, lu seorang muallaf
muallaf adalah orang yang baru masuk Islam.
tetapi, ada pula yang menyebut muallaf itu adalah orang yang terlahir sebagai non muslim, tapi saat ini udah menjadi muslim.
sesama muslim pun, ada istilah muallaf.
misalkan aja: guwe adalah seorang muallaf. terlahir dari keluarga Islam, tapi gw sebelumnya adalah penganut Islam abang-an (asal-2 an, atau Islam KTP aja). Baru-2 ini saja, guwe berusaha menjalankan sholat 5 waktu (dan ajaran Islam lainnya) dgn serius. Jadi, guwe juga seorang muallaf.
:)
Seberapa lama seseorang bisa disebut muallaf, apakah ada batas waktu misalnya 1 tahun atau 1 bulan dsb? Thanks...
DAVIDSON
March 21, 2007, 07:43
untuk yang mualaf..........
bagaimana perasaan kalian saat pertama kali masuk islam ?
AlfaOmega
March 21, 2007, 21:17
Seberapa lama seseorang bisa disebut muallaf, apakah ada batas waktu misalnya 1 tahun atau 1 bulan dsb? Thanks...
susah banget jawabannya.... :kakaka:
kalau menurut guwe sich. sebutan seseorang sebagai muallaf adalah sebagai pengumuman bahwa dia udah menjadi muslim.
bisa jadi seseorang udah menjadi muslim selama 5 tahun. dan memang dia udah diketahui kemuslimannya oleh masyarakat sekitarnya.
ketika dia pergi haji.
dia mendapat masalah. sehingga diperlukan surat dari masjid tempat dia tinggal bahwa dia itu muslim.
kenapa ? karna nama dia (sesuai passport) adalah nama non muslim.
:)
nadaegan
March 22, 2007, 05:00
untuk yang mualaf..........
bagaimana perasaan kalian saat pertama kali masuk islam ?
alhamdulillah gue merasa lebih damai.. hati gue.. bener-bener lebih terarah.. kehidupan gue pun jauh lebih nyaman.. meskipun, pas masuk islam, gue masih usia yg relatif muda banget.. balita.. tapi, kesannya terasa sejak gue masuk usia baligh.
DAVIDSON
March 22, 2007, 08:13
=nadaegan;2856429]al[I]hamdulillah gue merasa lebih damai.. hati gue.. bener-bener lebih terarah.. kehidupan gue pun jauh lebih nyaman.. meskipun, pas masuk islam, gue masih usia yg relatif muda banget.. balita.. tapi, kesannya terasa sejak gue masuk usia baligh
bagi2 pengalaman dong............
Sikhasep Jr
March 24, 2007, 10:47
Seberapa lama seseorang bisa disebut muallaf, apakah ada batas waktu misalnya 1 tahun atau 1 bulan dsb? Thanks...
Secara bahasa, muallaf ini terambil dari kata allafa (bersatu/bergabung/berkumpul). CMIIW
Muallaf ini kan istilah dari non Muslim yang memeluk agama Islam. Jadi faktor ke-Islam-annya bukan dari keturunan :)
Anak yang lahir dari Muallaf bukan disebut muallaf lagi, tapi sudah muslim.
no what-what
March 26, 2007, 04:33
bagi2 pengalaman dong............
berhubung bukan mualaf, gue bagi cerita tentang pengalaman mualaf ya...
no what-what
March 26, 2007, 04:36
Majlis Taklim Al-Manthiq : Upayakan Kemandirian Para Muallaf
Jarum jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sejumlah dan wanita yang mengenakan busana muslim mulai mendatangi Masjid Namira (Al Manthiq) Jl Tebet Barat Dalam V, Tebet, Jakarta Selatan. Mereka adalah jamaah pengajian Majelis Taklim Al-Manthiq yang secara khusus melakukan pembinaan kepada para mualaf, mereka yang telah hijrah ke agama Islam. Dr H Bambang Sukamto, ketua yayasan, dan sejumlah pengurus penuh hangat menyambut setiap jamaah yang datang.
Menurut Sukamto, Al-Manthiq berdiri dari sebuah keprihatinan terhadap perjalanan hidup para mualaf. ''Mualaf itu mengalami berbagai macam masalah akibat masuk Islam di antaranya dikucilkan dari keluarga, kena embargo ekonomi, kehilangan pekerjaan, putus sekolah. Kalau mereka sudah masuk Islam sebenarnya siapa yang wajib mengayomi? Ya kita-kita ini sesama orang Islam yang katanya saudara,'' ungkap pria yang menyatakan keislamannya tahun 1971 ini.
Ia paham keluhan banyak saudara barunya itu. ''Sering kali dianggapnya kalau sudah mengucapkan syahadat selesai. Padahal masalah buat mereka tak cukup sampai di situ. Masalah justru timbul setelah mereka berikrar Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.''
Al-Manthiq sendiri, sambung Sukamto, sebenarnya berawal dari sebuah pengajian keluarga di rumah Sugiri, mantan duta besar di Inggris dan mantan sekmil kepresidenan, serta pernah menjadi dirjen perhubungan udara. Sebagai mualaf saat itu, ia bergabung ke dalam pengajian tersebut. Mualaf yang lain mengikuti jejaknya.
Di forum pengajian itulah, ia mengungkapkan masalah-masalah para mualaf. Keluhan mereka mendapat respons positif dari anggota pengajian lain. Mereka lalu sepakat mendirikan yayasan. Respons positif dari mereka dan tak lama setelah itu sepakat membentuk sebuah yayasan Al-Manthiq.''
Mengapa memilih nama Al Manthiq? Menurut pria yang hingga kini masih aktif berpraktik sebagai dokter itu, Al Manthiq artinya logika. ''Jadi, orang masuk Islam itu karena logika bukan karena ikut-ikutan, bukan karena keturunan.''Awal tahun 1994 ketika pengajian baru digelar, jamaahnya masih belasan orang. Sekarang, jumlah anggotanya ribuan, dan tersebar di wilayah Jakarta, berbagai kota di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, mbon, dan Papua.
Ia menyebutkan, sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan intelektual mulai dari mahasiswa, sarjana, akademisi, hingga profesional di berbagai bidang. Dokter yang aktif pada Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) milik Dompet Dhuafa Republika ini menjelaskan pembinaan menitikberatkan pada masalah akidah. ''Agar akidah mereka kokoh, tidak gampang goyah,'' ujarnya.
Untuk hal ini, ia menjalin kerja sama dengan Dewan Dakwah Islamiyah. Kebetulan, banyak pengurus lembaga itu yang menjadi pasiennya. Semula, ia mengaku kurang 'pe-de' (percaya diri) mengelola yayasan ini. ''Background saya bukan pesantren. Ada salah seorang pengurus DDI yang bilang kepada saya, 'Mas Sukamto, Umar Bin Khattab juga seorang mualaf, dulu beliau kafir. Masak baru disuruh memegang ini saja sudah tidak mau','' ujarnya mengenang. Akhirnya ia menerima amanah itu dan resmi masuk DDI tahun 1992.
Kegiatan Al Manthiq yang utama ini pengajian bulanan setiap hari Ahad minggu ketiga. Kalau bulan Ramadhan, mereka mengadakan shalat tarawih berjamaah. Sedang pembinaan secara perorangan dilakukan bagi mereka yang ingin mendalami Alquran. Bagi mereka disediakan kelas khusus dengan guru mengaji. Ada pelajaran metode Alquran secara cepat.
Yayasan ini juga memberi perlindungan bagi mualaf yang teraniaya setelah berpindah agama. Bagi mualaf muda usia sekolah yang kurang mampu juga diupayakan pemberian beasiswa. Wati, seorang mualaf yang diusir keluarganya, misalnya, mengikuti kursus komputer dan manajemen atas beasiswa seorang donatur yang dicarikan yayasan. Ia yang beberapa kali ditolak kerja karena tidak mau melepaskan jilbabnya. ''Ia sempat bekerja di tempat yang kondusif untuk agamanya, tapi kini berhenti setelah berkeluarga,'' tambahnya.
Yayasan Al-Manthiq juga mengelola penyaluran dana zakat anggotanya. Dana itu digunakan untuk memberdayakan mualaf di daerah yang hidupnya secara ekonomi kurang beruntung. Beberapa mualaf di Ambon dan Nusa Tenggara Timur, misalnya, kini menjadi peternak sapi dan kambing atas bantuan dana bergulir dari yayasan. Ia berharap para anggota Al-Manthiq terus menjadi 'calo' amal. ''Berbuat bukan karena riya' tapi betul-betul lillahi ta'ala untuk beramal,'' ujarnya. Harapan Sukamto agaknya betul-betul dilakukan anggota pengajian. Buktinya, makin banyak saja mualaf baru yang menjadi anggota pengajiannya.
no what-what
March 26, 2007, 04:41
Anton Medan (Tan Hok Liang) : Menemukan Hidayah di Penjara
NAMA saya Tan Hok Liang, tapi biasa dipanggil Kok Lien. Saya dilahirkan di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 1 Oktober 1957, sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara. Pada umur 8 tahun saya masuk SD Tebing Tinggi. Ketika saya sedang senang senangnya menikmati dunia pendidikan, tiba-tiba dunia sakolah terpaksa saya tinggalkan karena ibu menyuruh saya berhenti sekolah. Jadi, saya hanya tujuh bulan menikmati bangku SD. Mulai saat itulah saya menjadi tulang punggung keluarga. Saya sadar, mungkin inilah garis hidup saya. Saya terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari
Pada usia 12 tahun, saya mulai merantau dan menjadi anak jalanan di Terminal Tebing Tinggi. Sehari-hari saya menjadi calo, mencari penumpang bus. Suatu ketika, saya berhasil mencarikan banyak penumpang dari salah satu bus. Tapi entah mengapa, tidak seperti biasanya, saya tidak diberi upah.
Terbayang di mata saya wajah kedua orang tua, adik-adik, serta kakak saya yang senantiasa menunggu kiriman uang dari saya. Saya terlibat perang mulut dengan sopir bus tersebut. Tanpa sadar, saya ambil balok kayu dan saya pukulkan ke kepalanya. Akhirnya, saya berurusan dengan pihak yang berwajib. Di hadapan aparat kepolisian, saya tak mau mengaku bersalah. Saya menuntut hak saya yang tak diberikan oleh sopir bus itu.
Sebetulnya, saya tak ingin berurusan dengan pihak yang berwajib. Saya ingin hidup wajar-wajar saja. Tapi entah mengapa, kejadian di Terminal Tebing Tinggi itu terulang kembali di Terminal Medan. Dulu, selama di Terminal Tebing Tinggi, saya menjadi calo. Tapi, di Terminal Medan, saya beralih profesi menjadi pencuci bus.
Suatu ketika, tak saya sangka, tempat yang biasanya saya jadikan tempat menyimpan uang, ternyata robek. Uang saya pun ikut lenyap. Saya tahu siapa yang melakukan semua itu. Saya berusaha sabar untuk tak ribut dengannya. Saya peringatkan saja dia. Ternyata, mereka malah memukuli saya. Waktu itu saya berumur 13 tahun. Lawan saya orang yang sudah dewasa dan tinggi besar. Saya sakit hati, karena tak satu pun teman yang membantu saya. Tanpa pikir panjang, saya ambit parang bergerigi pembelah es yang tergeletak di antara kerumunan lalu saya bacok dia. Dia pun tewas. Lagi-lagi saya berurusan dengan polisi. Saat itu saya diganjar empat tahun hukuman di Penjara Jalan Tiang Listrik, Binjai. Masih saya ingat, ibu hanya menjenguk saya sekali saja.
Merantau ke Jakarta.
Setelah bebas dari penjara, saya pulang kampung. Tak pernah saya sangka, ternyata orang tua saya tak mau menerima saya kembali. Mereka malu mempunyai anak yang pernah masuk penjara. Hanya beberapa jam saya berada di rumah. Setelah itu, saya hengkang, mengembara ke Jakarta dengan menumpang KM Bogowonto.
Saya hanya mempunvai uang seribu rupiah. Tujuan utama saya ke Jakarta mencari alamat paman saya yang pernah menyayangi saga. Berbulan-bulan saga hidup menggelandang mencari alamat paman. Waktu itu alamat yang saya ingat hanyalah daerah Mangga Besar. Dengan susah payah, akhirnya saya temukan alamat paman. Sungguh tak saya sangka, paman yang dulu menyayangi saya, ternyata mengusir saya. Hilang sudah harapan saya untuk memperbaiki masa depan.
Tekad saya sudah bulat. Tak ada orang yang mau membantu saya untuk hidup secara wajar. Mulailah saya menjadi penjahat kecil-kecilan. Kejahatan pertama yang saya lakukan adalah menjambret tas dan perhiasan nenek-nenek yang akan melakukan sembahyang di klenteng.
Mulai saat itu saya telah berubah seratus persen. Keadaan mendorong saya untuk melakukan semua ini. Pelan-pelan dunia jambret saya tinggalkan. Saya beralih ke dunia rampok. Perdagangan obat-obat terlarang mulai saya rambah. Dan terakhir, saya beralih sebagai bandar judi. Saat-saat itulahsaya mengalami kejayaan. Masyarakat Jakarta menjuluki saya Si Anton Medan, penjahat kaliber kakap, penjahat kambuhan, yang hobinya keluar masuk penjara, dan lain-lain.
Proses mencari Tuhan
Tak terbilang berapa banyak LP (Lembaga Pemasyarakatan) dan rutan (rumah tahanan) yang sudah saya singgahi. Karena sudah terbiasa, saya tahu seluk-beluk rutan yang satu dengan rutan yang lain, baik itu sipirnya maupun fasilitas yang tersedia.
Di tembok penjara itulah saya sempat menemukan hidayah Tuhan. Ketika dilahirkan, saya memang beragama Budha. Kemudian saya berganti menjadi Kristen. Entah mengapa, tatkala bersentuhan dengan Islam, hati saya menjadi tenteram. Saya menemukan kesejukan di dalamnya.
Bayangkan, tujuh tahun saya mempelajari Islam. Pengembaraan saya mencari Tuhan, tak lepas dari peran teman-teman sesama tahanan. Misalnya, teman-teman yang terkena kasus Cicendo, dan sebagainya. Tanpa terasa, hukuman yang begitu panjang dapat saya lalui. Akhirnya saya menghirup udara segar kembali di tengah-tengah masyarakat. Tekad saya sudah bulat. Saya ingin berbuat kebaikan bagi sesama.
Masuk Islam
Tapi, kenyataannya ternyata berlainan. Begitu keluar dari penjara, saya dipaksa oleh aparat untuk membantu memberantas kejahatan. Terpaksa ini saga lakukan. Kalau tidak, saya bakal di 810-kan, alias didor. Dalam menjalankan tugas, saya selalu berhadapan dengan bandar-bandar judi kelas wahid. Sebutlah misalnya, Hong-lie atau Nyo Beng Seng. Akibat ulah Hong-lie, terpaksa saya bertindak keras kepadanya. Saya serahkan dia kepada pihak berwajib.
Dan akhirnya, saya menggantikan kedudukannya sebagai mafia judi. Sudah tak terhitung berapa banyak rumah-rurnah judi yang saya buka di Jakarta. Saya pun merambah dunia judi di luar negeri. Tapi, di situlah awal kejatuhan saya. Saya kalah judi bermiliar-miliar rupiah.
Ketidakberdayaan saya itulah akhimya yang membuat saya sadar. Mulailah saya hidup apa adanya. Saya tidak neko-neko lagi. Saya ingin mengabdikan hidup saya di tengah-tengah masyarakat. Untuk membuktikan kalau saya benar-benar bertobat, saya lalu masuk Islam dengan dituntun oleh KH. Zainuddin M.Z. Setelah itu, saya berganti nama menjadi Muhammad Ramdhan Effendi.
Kiprah saya untuk berbuat baik bukan hanya sebatas masuk Islam. Bersama-sama dengan K.H. Zainuddin M.Z., K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., dan Pangdam Jaya (waktu itu) Mayjen A.M. Hendro Prijono, 10 Juni 1994, kami mendirikan Majels Taklim Atta'ibin.
Sengaja saya mendirikan majelis taklim ini untuk menampung dan membina para mantan napi (narapidana) dan tunakarya (pengangguran) untuk kembali ke jalan Yang benar. Alhamdulillah, usaha ini tak sia-sia. Pada tahun 1996, Majels Taklim Atta'ibin mempunyai status sebagai yayasan berbadan hukum yang disahkan oleh Notaris Darbi S.H. yang bernomor 273 tahun 1996.
Kini, keinginan saya hanya satu. Saya ingin mewujudkan pangabdian saya pada masyarakat lebih jauh lagi. Saya ingin mendirikan pondok pesantren. Di pondok inilah nantinya, saya harapkan para mantan napi dan tunakarya dapat terbina denganbaik. Entah kapan pondok pesantren harapan saya itu bisa terwujud. Saya hanya berusaha. Saya yakin nur Ilahi yang selama ini memayungi langkah saya akan membimbing saya mewujudkan impian-impian itu. (Maulana/Albaz) (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ ).
nadaegan
March 26, 2007, 07:12
btw, no what-what.. elo muallaf juga, yah??
** COMY **
March 26, 2007, 15:42
Utk No What-what...
boleh-boleh saja anda menceritakan kisah ttg para Mualaf
asal tidak membandingkan agama mrk sebelumnya dgn Islam :o
Tolong hargai keyakinan orang lain..kalau keyakinan kita di banding-bandingkan orang lain.. pasti kita melihatnya gak enak kan
no what-what
April 02, 2007, 05:40
Utk No What-what...
boleh-boleh saja anda menceritakan kisah ttg para Mualaf
asal tidak membandingkan agama mrk sebelumnya dgn Islam :o
Tolong hargai keyakinan orang lain..kalau keyakinan kita di banding-bandingkan orang lain.. pasti kita melihatnya gak enak kan
mbak comy, namanya juga kisah mualaf, pasti adalah unsur perbandingannya. nggak mungkin tho mereka tiba2 aja memutuskan memeluk Agama Islam tanpa ada prosesnya. btw coba liat postingan tentang kerudung yang terkoyak di forum sebelah, nggak ada yang disensor tuch. nyante aja mbak, toh para warga WG udah pada dewasa tho ?
no what-what
April 02, 2007, 05:45
Bermimpi Bertemu Rasulullah SAW
Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku menceritakan tentang dirinya.
Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-'Alam al-Islami di sana.
Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat.
Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.
Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira.
Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."
Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!
Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi.
Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen.
Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.
Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!
Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam.
Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.
Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, 'Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku'."
Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.
Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.
Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.
Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.
Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa.
Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku... Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku... sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran... manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku... jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan... tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar..." lantas akupun tertidur.
Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki.
Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu.
Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim... kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.
Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.
no what-what
April 02, 2007, 05:46
Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada.
Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.
Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.
Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya.
Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan.
Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."
Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain.
Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat.
Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.
Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.
Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab."
Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.
Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."
Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.
Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.
Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit.
Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar'i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.
Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma'had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah.
Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."
Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah... medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah.
Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"
Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal... kami berjalan lamban... kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa'id berkorban, berjihad demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616 dan swaramuslim.net)
** COMY **
April 02, 2007, 06:06
mbak comy, namanya juga kisah mualaf, pasti adalah unsur perbandingannya. nggak mungkin tho mereka tiba2 aja memutuskan memeluk Agama Islam tanpa ada prosesnya. btw coba liat postingan tentang kerudung yang terkoyak di forum sebelah, nggak ada yang disensor tuch. nyante aja mbak, toh para warga WG udah pada dewasa tho ?
Nah..itu yg gue gak mau..kesannya kok kita kaya balas dendam sama mrk....kalau mrk begitu kenapa kita harus mengikutnya..toh kalau loe mau mengkaji lebih dalam ttg indahnya Islam gak usah dgn memperbandingkan agama lain masih banyak kan sisi baik yg bisa kita ambil.
Gue sih nyante aja..yg gak nyante yg selama ini adalah ulah dr oknum yg membikin forum agama ribut krn perbedaan keyakinan di besar-besarkan,bukankah salah satu ajaran dlm agama Islam adalah menghormati sesama dgn tdk memandang ras,agama dan suku.
Gee_Whiz
April 12, 2007, 05:53
sejauh kisah2 diatas sah dan benar (bukan karangan untuk menjelek2an agama lain atau untuk merekrut anggota baru) saya rasa sih okeh2 aja... toh bikinnya kan di forum agama masing2? klo ada yg tersinggung ya sapa suruh nenangga ke forum agama lain? :D
yg penting kisahnya BENAR2 TERJADI dan ADA SAKSI. Jika boong, berarti dosa ditanggung sendiri ya toh?
trus mengenai kerudung terkoyak, disana kan kami membahas sebuah buku. jadi yg membandingkan agama bukannya kami tapi si novelis donk.. ya gak choi :D
peace ya... peace!!
no what-what
April 24, 2007, 07:20
TJIO WIE TAY
Banyak yang mengira perubahan nama dari Tjio Wie Tay menjadi Masagung disengaja agar mirip nama perusahaannya, PT Gunung Agung. Padahal, nama itu pemberian Herlina, si Pending Emas, yang bertemu dengannya di Irian Barat (kini Irian Jaya) pada masa Trikora. Sulit memanggil nama aslinya, yang diingat Herlina adalah bahwa pria itu pemilik Gunung Agung. ''Ia memanggil saya Masagung, nama yang sudah lama saya cari-cari,'' Masagung mengungkapkan asal usul namanya.
Meskipun ayahnya seorang insinyur, Tjio Wie Tay hidup menderita. Hanya berbekal pendidikan sampai kelas V SD, ia berjualan rokok sepanjang jalan. Tay, bersama tiga orang kakak dan seorang adik, ditinggal mati ayahnya ketika ia baru berusia empat tahun.
Berdagang rokok pertama kali di Glodok, Jakarta, dengan modal 50 sen. Pindah ke emperan Senen dengan modal 75 sen. Di seberang emperan toko itu, ia mendirikan toko semipermanen, berukuran 3 .003 3 meter yang kemudian diberi nama Thaysan Kongsie. Ia memang berkongsi dengan Lie Thay San. ''Kebetulan istri saya dengan istri Lie Thay San bersaudara,'' tuturnya. Usaha itu membesar.
PT Gunung Agung di Jalan Kwitang 13 Jakarta Pusat didirikannya tahun 1953. Modal dasarnya Rp 500 ribu dengan 100 pemegang saham, di antaranya; Bung Hatta, Adinegoro, Sumanang, H.B. Jassin. Juga beberapa mitranya semasa Thaysan Kongsie.
Usahanya mula-mula dikenal dalam bidang toko buku dan penerbitan. Kemudian menjangkau keperluan kantor dan sekolah. Kini juga mengageni pena Parker, rokok Dunhill, dan Rothmans, majalah Time, sampai komputer Honeywell. Dengan modal Rp 250 juta, ia mendirikan PT Jaya Bali Agung, perusahaan pariwisata. Ia juga Direktur PT Jaya Mandarin Agung, pengelola Hotel Mandarin, Jakarta, sebuah usaha patungan dengan Hong Kong.
Apa kunci suksesnya? ''Kerja keras, berani, bercita-cita, percaya diri, dan menjaga nama,'' jawabnya tegas. Ia enggan menyebutkan jumlah kekayaannya. Tetapi, jumlah pajak yang harus dibayarnya secara grup mencapai Rp 200 juta. Untuk bea cukai sebesar Rp 2 milyar. Belum termasuk pajak pendapatan dari 2.000 lebih karyawannya.
Menjelang usia 50 tahun, Masagung masuk Islam. Alasannya? Sebagai orang dagang, sejak kecil hanya memikirkan uang, kedudukan, dan kehidupan yang nyaman. Ia takut tenggelam dalam dunia yang berlimpah dan bisa membawanya ke dunia maksiat. Mengapa memilih Islam? ''Itu soal Kun Faya Kun. Apa yang dikehendaki Allah, terjadilah,'' katanya tegas.
Istrinya, Cheng Hian, yang dinikahi 30 tahun lalu, mengubah namanya menjadi Ida Ayu Agung.
2hot4u
April 24, 2007, 16:06
Gw suka baca2 ttg mualaf.eh tu kok ga ada kisah ne pas mrk disunat.kan cowo semua.trs mana kisah yg cewe na.
Gion Franklin
April 24, 2007, 17:04
sejauh kisah2 diatas sah dan benar (bukan karangan untuk menjelek2an agama lain atau untuk merekrut anggota baru) saya rasa sih okeh2 aja... toh bikinnya kan di forum agama masing2? klo ada yg tersinggung ya sapa suruh nenangga ke forum agama lain? :D
Setuju kok gw soal ini. Kalo nggak mau 'keganggu' ya nggak usah masuk lah.
yg penting kisahnya BENAR2 TERJADI dan ADA SAKSI. Jika boong, berarti dosa ditanggung sendiri ya toh?
Yupe. Kalo ngarang2 sendiri juga ntar kena batunya sendiri.
trus mengenai kerudung terkoyak, disana kan kami membahas sebuah buku. jadi yg membandingkan agama bukannya kami tapi si novelis donk.. ya gak choi :D
I believe cerita2 di sini juga yang menuturkan perbandingan ya si orang yang jadi muallaf tersebut, bukan kami di sini. Tul choi? :D
peace ya... peace!!
Yo, yo... peace maann..!!
no what-what
April 25, 2007, 09:09
Nama saya Miranda Risang Ayu
Nama saya Miranda Risang Ayu. Saya lahir pada 10 Agustus 1968. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orang tua saya adalah penganut Kristen Protestan yang fanatik. Karena mereka penganut agama yang fanatik, saya pun sejak kecil sudah dididik dengan ajaran Kristen Protestan.
Didikan ajaran agama yang saya peroleh sejak kecil itu, sedikit-banyaknya membuat saya kritis terhadap berbagai hal. Untuk sesuatu yang tidak saya ketahui, saya tak segan bertanya pada ibu. Namun, karena kedua orang tua saya termasuk orang sibuk, saya lebih dekat dengan nenek. Nenek mendidik saya dengan keras, tetapi sangat memanjakan. Termasuk dalam soal agama.
Mulai Ragu
Menjelang usia remaja, ketika saya duduk di kelas dua SMA Taruna Bakti, saya mulai ragu dengan ajaran agama saya sendiri. Saya meragukan dan bingung pada konsep trinitas yang terdiri dan tiga oknum itu. Di samping itu, saya juga sering bertanya dalam hati, mengapa bila kita berdoa harus melalui Yesus Kristus, tidak langsung ke Tuhan saja ?
Untuk memperoleh jawaban itu, saya sering berdialog dengan pendeta. Tapi jawaban para pendeta itu tidak membuat saya paham dan mengerti. Terus terang, saya tidak puas.
Karena jawaban mereka,menurut saya, terlalu mengada-ada, tidak sesuai logika. Di tengah kegelisahan batin itu, saya terus mencari titik terang dengan mempelajari ajaran-ajaran Lao-Tze tentang Taoisme.
Tujuan saya mempelajari ajaran ini, dengan harapan bisa menemukan Tuhan. Namun, kembali saya mengalami kegagalan. Di sana saya malah menemukan banyak kelemahan dalam ajaran Cina kuno itu.
Dalam masa pencarian itu, suatu siang menjelang bulan Ramadhan 1985, saya bertandang ke perpustakaan sekolah Saat menikmati bacaan, tiba-tiba saya tertarik dengan buku yang sedang dipegang oleh seorang ternan. Setelah berbasabasi dengan teman itu, saya baru mengetahui bahwa buku yang dipegangnya itu adalah buku agama Islam yang berjudul, Wawasan Islam, karya Endang Saefuddin Anshari.
Karena tertarik dengan buku wajib pelajaran agama Islam itu, saya berusaha meminjamnya dan teman saya itu. “Tapi, ini buku agama Islam,” sahut teman saya itu.
Kata “tapi” itu menyiratkan bahwa ia sebenarnya kaget juga. Lalu, saya jawab, “lya, saya tahu. Tapi saya ingin baca.” Akhirnya teman itu memberi pinjam buku itu pada saya.
Namun sudah beberapa waktu buku itu banya tergeletak di meja kamar tanpa sempat saya sentuh, sampai teguran nenek yang bernada cuniga menyadarkan saya bahwa buku itu cukup riskan untuk kedamaian di rumah.
“Apa-apaan kamu, baca buku seperti itu?” sergah nenek tajam. “Hati-bati, nanti kamu masuk Islam...,” lanjutnya.
Ketajaman pertanyaan nenek itu dapat saya mengerti. Tetapi ketika itu saya hanya tersenyum saja dan saya tegaskan kepada nenek bahwa saya curna ingin tahu. Saya sendiri telah mendengar dan berusaha menghayati trauma keluarga saya terhadap orang-orang Islam yang begitu cepat merasa benar sendiri dan gampang mengkafirkan orang lain.
Masuk Islam
Sehabis teguran itu, buku Wawasan Islam itu justru rnembuat saya penasaran. Segera saya tinggalkan buku-buku pelajaran sekolah dan segera pula saya buka buku itu lembar demi lembar. Sampai pada pengertian “ketauhidan”, saya tertegun.
Saya merasa belum pernah menemukan kesimpulan yang begitu jernih tentang Tuhan. Dalam buku itu tertera bahwa Tuhan itu Maha Esa. Ia sama sekali otonom. Ia tidak beranak dan diperanakkan.
Hari itu di pertengahan bulan Ramadhan, ketika menjelang beduk magrib, di saat kaum muslirnin menanti berbuka puasa, hati saya mulai terharu. Ada perasaan lain yang hadir dalam lubuk hati saya. ini untuk pertama kalinya azan magrib datang menyentuh kalbu dan pendengaran saya dengan perasaan lain.
Keharuan ini terus menyelimuti hati saya. Sampai jauh malam, saya mulai menimbang-nimbang kemungkinan untuk masuk Islam. Malam itu saya tidak dapat tidur. Namun, niat itu kembali terusik oleh kenyataan bahwa citra Islam yang sampai kepada saya adalah citra yang sama sekali tidak menarik simpati.
Namun, gambaran itu, bagi saya sangat bergantung pada prasangka baik dan buruk. Untuk hal ini saya berprasangka baik saja tethadap agama Islam. Justru dalam agama Islam, saya menemukan bahwa Allah itu Esa dan ada di mana-mana.
Kita bisa berdoa langsung kepada-Nya, tidak perlu perantara. Dalam agama yang saya anut, setiap berdoa harus membayangkan wajah Yesus. Menurut ajaran Islam yang saya ketahui dari buku itu, Tuhan itu tidak bisa dijangkau Zat-Nya. Saya benar-benar yakin Allah telah menunjukkan jalan kepada saya. Rasanya saya tidak ingin menunda-munda lagi. Saya ingin segera menjadi seorang muslimah.
Esok harinya dengan tergesa-gesa saya menuju tempat pertemuan di kawasan Sangkuriang. Dengan sikap santai, saya ungkapkan keinginan itu kepada teman-teman. Mereka kaget dan langsung menanyakan apakah saya sudah piker piker. Saya jawab, Ya dengan yakin. Dan akhirya, di depan mereka untuk pertama kalinya saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.
Usai mengucapkan syahadat, meneka merangkul saya. Air mata segera berurai dari pipi-pipi kami. Esok harinya, dengan diantar oleh mereka, saya dibawa menghadap Pak Muhammad Sadali untuk dituntun kembali ber-syahadat. Pada 9J uni 1985 atau 20 Ramadhan 1405 H, saya kembali mengucapkan syahadat di Masjid Salman ITB.
Keputusan saya ini ternyata langsung disambut kemarahan keluarga, terutama ayah. Keluarga kurang setuju dengan pindahnya saya ke agama Islam. Keluarga saya memutuskan untuk tidak menerima saya lagi. Saya keluar dari rumab dan kemudian tinggal di rumah kos.
Allhamdulillah Allah selalu melindungi saya dengan berbagai kemudahan. Dari hasil menulis di berbagai media massa, saya dapat menyelesaikan sekolah dan melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
Setelah beberapa lama menganut agama Islam, keluarga saya kembali membujuk saya untuk kembali ke rumah. Mereka mendesak saya untuk melakukan sidi (pembaptisan kembali seorang Kristen yang telah beranjak dewasa atas kemauan sendiri). Ajakan itu saya tolak.
Tahun 1989, saya mulai mengenakan busana muslimah (Jilbab). Dalam beragama Islam ini, saya banyak menemukan pengalaman rohani. Dalam pengalaman rohani ini saya merasakan nikmatnya beragama Islam. Kemudian, saya menikah dan alhamdulillah kini telah dikarunia anak. Saya berjanji akan mendidik anak-anak saya dengan pola pendidikan agama.
Selain aktif dalam kegiatan keagamaan, saya juga aktif dalam bidang kesenian, yang telah saya tekuni sejak kecil. Kini, saya aktif dalam grup sanggar seni yang bemuansa islami yang bernama BarzaK
Untuk menambah wawasan dalam hal agama, saya dipercaya oleh sebuah televisi swasta, untuk menjadi pembawa acara, bertajuk Tasawuf.
no what-what
April 25, 2007, 09:12
Ignatius Vincsar Hadipraba : Bisa Musik Membawa Kepada Cahaya Islam
SEJAK kecil, saya sudah mengenal Islam. Ketika itu, saya sering melihat pembantu kami sedang melakukan shalat. Meskipun saya dan kedua orang tua saya beragama Kristen Katolik, namun kakek saya adalah seorang muslim. Harus saya akui, saat mendengar gema azan dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hati saya terasa damai. Pernah suatu ketika, seorang teman kuliah berkata kepada saya bahwa Tuhan itu satu, la tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Mendengar itu, saya acuh tak acuh saja. Hati saya belum tergerak untuk mencari kebenaran ajaran Islam
Semasa kuliah di Riau, saya aktif di gereja. Pernah, saya mengajukan permohonan kepada seorang pastur, agar saya bisa menjadi pengiring organ gereja. Tapi, apa yang terjadi? Permohonan saya itu ditolak mentah-mentah, bahkan pastur bertanya kepada saya, apakah saya punya sertifikat dari sekolah musik atau tidak? Tujuannya, untuk membuktikan saya bisa bermain organ dengan baik.
Karena memang tidak punya sertifikat, saya hanya menjawab apa adanya bahwa saya bisa bermain organ secara otodidak. Tapi, lagi-lagi, pastur malah berkata kasar, "Bila tidak punya sertifikat, bisa-bisa permainan musikmu malah bikin kacau dan suasana ibadah di gereja menjadi tidak khusyu" Akibat penolakan itu, saya kecewa berat, sekaligus benci kepada pastur itu. Sampai pada akhirya, saya mencari kegiatan lain di luar gereja.
Pada tahun 1996 saya pindah ke Jakarta. Di kota metropolitan inilah saya mendapat pekerjaan di McDonald. Pada akhir 1998, saya kos di gang H. Sairnin, Ciputat. Di lingkungan kos, saya sering nimbrung dengan teman-teman yang beragama Islam. Seorang pemuda bemama Hans adalah salah satu teman terdekat saya. Biasanya, saat kumpul kami selalu diskusi tentang agama. Selain ngobrol, kami berlatih bermain musik di sebuah garasi. Karena sering berlatih, kami membentuk grup musik yang diberi nama "Garasi".
Suatu hari, kami kedatangan H. Sofwan Muzamil, temannya Bang Hans tadi. Saat itu, saya nimbrung saat mereka berdiskusi tentang ajaran Islam. Entah mengapa, saya tiba-tiba mulai tertarik dengan Islam. Karena tertarik, saya berterus terang kepada Pak Haji (panggilan H. Sofwan) bahwa saya ingin masuk Islam.
Mendengar keterusterangan saya itu, Pak Haji malah mengatakan, "Sebelum masuk Islam, kamu harus mempelajari agama Islam lebih dulu. Lagi pula Islam itu bukan agama paksaan."
Beberapa hari kemudian, saya memutuskan untuk bertemu lagi dengan Pak Haji untuk berdiskusi soal Islam. Sebelum berdiskusi, saya memang sudah mempersiapkan diri. Melalui buku-buku agama Islam yang saya baca, ditambah dengan seringnya saya berdiskusi dengan Pak Haji, membuat keinginan saya masuk Islam begitu kuat.
Masuk Islam
Menjelang Lebaran, tepatnya pada 17 Januari 1999, di sebuah mushala di Ciputat, dengan dibimbing oleh H. Sofwan Muzamil, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa sepengatahuan keluarga, saya masuk Islam secara resmi. Nama baptis saya yang semula Ignatius diganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan.
Resmi menjadi muslim, saya menghadapi cobaan yang luar biasa. Saya ditolak habis-habisan oleh keluarga saya. Terutama sekali oleh ibu dan kakak. Ceritanya, begitu kakak saya melihat nama baptis di KIP saya sudah tidak ada lagi, karena telah saya ganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan, ia betul-betul terkejut.
Karena kaget, kakak menginterogasi saya secara kasar. "Mengapa namamu kau ganti?" hardiknya ketus. Dengan tenang saya hanya menjawab ringkas bahwa saya sudah masuk Islam. Sejak itulah, oleh kakak, diri saya dianggap tidak menghargai orang tua lagi. Padahal, tak sedikit pun saya bermaksud untuk menyakiti ibu.
Meski akidah kami kini berbeda, namun saya tetap menaruh hormat kepada mereka. Bukankah ajaran Islam mengajarkan demikian? Apa pun yang terjadi, saya pasrah Saya tetap dengan keislaman saya. Saya pun yakin, Allah akan menolong hamba-Nya. Saya senantiasa berdoa agar Allah meneguhkan pendirian dan kesabaran kepada saya. Setelah masuk Islam, saya bergabung dengan tim Nasyid Snada yang namanya lumayan populer bagi pecinta nasyid. (Adhes/Albaz)
(dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com/)
no what-what
April 25, 2007, 09:17
Ki Mantep Sudharsono : Sudah Mantap dalam Islam
Nama Ki Manteb agaknya identik dengan penampilannya yang mantap dalam memainkan wayang kulit. Ia termasuk dalang yang digandrungi dan laris. Jadwal pentasnya padat. Berikut ini kisah perjalanan spiritulanya dalam mencari kebahagiaan yang hakiki. Terus terang, saya mendapatkan dorongan untuk masuk Islam dari Gatot Tetuki, anak saya yang kedua dari istri kedua. Dahulu saya beragama Budha. Sebelumnya saya tidak mau masuk Islam, karena menurut saya agama itu berat. Saya tidak mau ikut-ikutan. Apakah untuk menjadi seorang muslim itu harus keturunan ? Menurut saya, menjadi muslim itu harus diusahakan.
Demikianlah, saya harus banyak menimbang. Barulah ketika usai menghitankan Gatot dan ia minta diberangkatkan umrah, hati saya mulai tersentuh. Itu saya anggap sebagai panggilan Allah. Saya seperti diingatkan dan dibangunkan dari tidur panjang. Langsung saja, ajakan Gatot saya terima. Sesudah itu, saya mempersiapkan diri untuk masuk Islam.
Pada hari yang telah ditetapkan, saya mengundang Kiai Ali Darokah (Ketua MUI Solo), H. Amir Ngruki, H. Alwi, dan kaum muslimin di sekitar tempat tinggal saya. Mereka saya minta menjadi saksi upacara pengislaman saya.
Kemudian sesuai ajakan Gatot, saya melaksanakan umrah pada September 1995. Alhamdulillah, pada bulan April/Mei 1996, saya berkesempatan menunaikan ibadah haji. Banyak manfaat yang saya peroleh dari pengalaman-pengalaman tersebut. Semua itu, menambahkan kedewasaan berpikir dan pengendalian diri.
Kejadian Aneh
Waktu beribadah haji, saya mengalami suatu kejadian sangat aneh. Sesampai di Mekah dan akan kembali ke Madinah, sesudah tawaf wada' saya ingin sekali mencium Hajar Aswad. Tetapi, mana mungkin? Padang Mina sudah menjadi lautan manusia yang tumplek menjadi satu.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian khas Arab ngawe-awe (mengajak sambil melambaikan tangan) kearah saya. Setelah saya hampiri, anak kecil itu mengucapkan, "Ahlan...ahlan..."(selamat datang, selamat datang, red.).
Seperti ada tarikan kuat, saya berjalan mengikutinya. Anak itu berjalan merunduk karena banyak orang. Oleh anak kecil itu, saya seperti ditunjukkan jalan. Belok kanan-kiri dan akhirnya pas tiba di Hajar Aswad. Alhamdulillah, saya dapat mencium Hajar Aswad sepuasnya. Saya menangis disitu. Saya bersyukur sekali atas pertolongan anak kecil itu.
Beberapa saat kemudian saya teringat pada anak itu. Saya ingat masih mengantongi uang 50 real. Saya berniat memeberikan uang tersebut kepada anak kecil tadi. Tetapi begitu saya tengok, anak kecil tadi sudah tidak ada. Kalau lari tidak mungkin. Sampai kini, siapa dan ke mana perginya anak kecil tadi masih menjadi misteri.
Setelah memeluk Islam dan beribadah haji, hubungan dengan siapa pun tetap baik. Demikian pula dengan para pengrawit (penabuh gamelan, red) rombongan wayang kulit. Sebagian besar pengrawit sudah beragama Islam. Tinggal 3 orang yang belum Islam. Dalah hal ini, saya mempersilahkan saja sesuai dengna keyakinan mereka. Sebab, dalam memeluk Islam tidak boleh ada paksaan.
Merasa Tenteram
Sebelum memeluk Islam, jika tidak mendalang seminggu saja, saya selalu merasa waswas. "Aku nek ra payu, piye?" Saya kalau sudah tidak laku lagi, bagaimana? Begitu perasaan saya ketika itu.
Alhamdulillah, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Saya berusaha taat shalat. Hasilnya, saya menjadi lebih dapat mengendalikan diri. Saya menjadi selalu berpikir positif ke pada Allah. Kalau memang sudah tidak ada rezeki lagi buat saya, tentu Allah sudah memanggil saya. Mengapa harus bingung? Intinya, pikiran sudah sumeleh. Alhamdulillah, keluarga saya sudah Islam semua.
Setelah masuk Islam, saya merasakan hasilnya. Keluarga semakin harmonis dan tenteram. Tidak suka bertengkar. Tidak ada suasana saling mencurigai. Itu yang saya rasakan dalam memeluk agama yang baru saya anut itu.
Beberapa kali saya diminta mengisi pengajian oleh masyarakat. Semampunya saya penuhi. Bukan bermaksud menggurui, tetapi itu kewajiban seorang muslim. Dalam pengajian, saya hanya menceritakan sejarah hidup saya yang dulu tidak karu-karuan, mbejujak.
Alhamdulillah, ada beberapa orang yang akhirnya mengikuti jejak saya, yaitu masuk Islam. Ketika berlangsung pengajian, ada jamaan yang bertanya, apa kalau ceramah saya mendapatkan uang saku? Dengan jujur saya jawab tidak. Sebab, kalau mau cari-cari uang, itu sudah saya dapatkan dari mendalang.
Setelah menjadi muslim, saya harus lebih banyak belajar dalam mendalami Islam. Dalam hal ini, dirumah saya di Karang anyar, setiap bulan sekali saya selalu mendatangkan mubalig, seperti Kiai Ali Darokah, H.Amir, H. Alwi dan yang lainnya, untuk memberikan pengajian kepada masyarakat. Setelah itu, saya teruskan dengan pentas wayang yang selalu saya sisipi dengan pesan-pesan dakwah. Saya memang terobsesi oleh metode dakwah Wali Songo yang menjadikan wayang kulit sebagai media dakwah. [M. Ali M.E/Albaz]
no what-what
May 04, 2007, 01:54
WS Rendra : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal
Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.
Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak--perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.
Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.
Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.
Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.
Pergi Haji
Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.
Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.
Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, "Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.
(Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press)
no what-what
May 04, 2007, 01:55
Iga Mawarni : Al Quran Adalah Nasihat Allah SWT
Banyak cara yang dilakukan Iga Mawarni untuk memahami Islam. Penyanyi jazz ini kerap menonton tayangan TV yang bernuansa keislaman. "Saya juga mendengarkan ceramah," ujar kelahiran Bogor 24 Juni 1973 ini. Perkenalan dengan Islam dimulai ketika seorang teman menyarankan Istri Charles Rubiyan Afirin ini membaca tafsir Al Quran. Lambat laun pelantun lagu Kasmaran ini terbuka hatinya. "Semua yang ada di Al Quran adalah nasihat Allah, bukan buatan manusia," kata ibu seorang putra ini. Keputusan Iga berpindah keyakinan sempat ditentang sang ibu. Namun sebagai anak dia tetap berbakti dan mendoakan sang bunda. "Semoga suatu saat Allah membukakan hatinya," ujar dia.
Islam Lebih Realistis
Sejak kecil aku dididik di lingkungan Katolik. Di mata teman-teman aku termasuk Katolik fanatik. Kemanapun aku pergi, senantiasa memperkenalkan keyakinanku. Setelah bersosialisasi di bangku kuliah, aku lebih fair. Di kampus aku senang diskusi sama teman-teman seangkatan yang latar belakangnya berbeda - baik suku maupun agama. Dengan diskusi wawasanku kian terbuka. Dan dari pola pikir yang cukup demokratis itu kami senantiasa menghindari debat kusir. Segala yang dibicarakan berdasar referensi jelas. Bagiku itu menambah semangat membuka Alkitab. Sekaligus bikin catatan kaki buat persiapan diskusi sama temen-temen di setiap kesempatan. Ternyata semakin aku cermat mengkaji Alkitab, sering kujumpai poin-poin yang meragukan. Akhirnya aku bertanya sama teman seiman yang lebih ngerti isi Alkitab. Bahkan sama beberapa pendeta. Setiap aku bertanya, aku berusaha memposisikan diri sebagai orang awam yang ingin belajar agama, bukan sebagai orang yang seiman dengannya. Ternyata jawaban mereka justru bikin hatiku nggak puas.Seiring dengan keraguanku aku pelan-pelan menutup Alkitab. Aku ingin belajar yang lainnya.
Tapi aku nggak langsung mempelajari Islam. Karena aku merasa ada jurang begitu dalam di antaranya (Islam-Kristen). Melalui sejumlah buku aku melanglang. Aku pelajari agama Hindu, lalu Budha. Namun hati nuraniku tetap ragu ketika sampai pada konsep ketuhanan. Sekalipun ajarannya bagus sekali. Eh, mentok-mentoknya aku pelajari juga ajaran Islam.
Sejujurnya aku gengsi. Antara ogah dan ingin tahu terus bergelora dalam diriku. "Kenapa mesti Islam?" hatiku memprotes. Langkah pertama aku baca cerita para nabi melalui buku-buku tafsir. Alasanku, Islam dan Kristen itu historinya sama. Kecuali tentang kerasulan Isa AS dan Muhammad SAW. Di Kristen Nabi Isa utusan terakhir. Tapi dalam Islam ada lagi nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa, aku melihat bahwa al Qur'an itu lebih manusiawi. Artinya segala pertanyaan ada jawabannya. Ada hukum sebab akibat. Kenapa dilarang begini? Karena bisa berakibat begini. Itu yang bikin aku tertarik masuk Islam.
Menurutku, landasan awal seseorang meyakini suatu kepercayaan itu karena buku besarnya (kitab). Melalui itu kita dapat bersentuhan langsung dengannya. Bagiku itu sudah jadi pegangan kuat. Sedangkan di agama lain, aku lihat banyak ayat yang ditulis oleh orang-orang pada masa itu. Dan aku lihat beberapa surat dalam Alkitab yang menceritakan kejadian sama tetapi versinya berbeda. Buatku hal semacam itu merupakan kasus besar. Karena kitab suci itu ternyata sudah disentuh oleh tangan manusia. Sedangkan ajaran Islam lebih realitis. Karena Al-Qur'an diwahyukan sebagai suatu keharusan. Sedangkan sunah Rasul lain lagi. Yaitu bersifat nggak mengikat. Ini lebih manusiawi.
Proses hijrahku menjadi muslim nggak begitu mulus. Apalagi keluargaku Nasrani aktif yang fanatik. Aku mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 23 Maret 1994 di Malang, Jawa Timur. Padahal aku kuliah di Jakarta. Memang semasa pencarian, aku punya sohib di kota apel itu. Dia nggak bersedia mengajari tentang Islam, melainkan hanya menunjukkan seseorang yang menurutnya lebih tepat. Yaitu Kiai Zulkifli dan Pak Amir.
Ternyata salah seorang dari mereka juga muallaf. Banyak pengalaman religiusnya yang bikin aku terkesan. Disamping memantapkan niatku masuk Islam. Cobaannya, ibuku aktivis kegiatan gereja. Karenanya aku mengupayakan agar keislamanku nggak diketahuinya dalam kurun waktu dua tahunan. Ternyata beliau tahu lebih awal dari yang aku rencanakan. Sebagai anak pertama pasti ibuku menaruh harapan besar terhadapku. Begitu tahu anaknya berbeda keyakinan, tentu batinnya terpukul. Itu cobaanku yang paling besar. Dimana aku merasa takut kalau ibu marah.
Tapi begitu semuanya sudah terbuka, aku pasrah sama Allah. Aku tetap menempatkan diri sebagai anak, yang harus senantiasa menghormatinya. Aku bersyukur karena akhirnya sikap mereka sudah lebih baik. Tapi selama "perang dingin" berlangsung aku nggak pernah mau menyinggung soal agama. Kalau hari besar agama baik natal atau lebaran aku sengaja nggak kumpul sama keluarga. Aku tahu, mereka kecewa terhadapku. Kalau aku hadir dalam hari besar mereka, tentu ada perasaan nggak enak. Namun komunikasi tetap jalan. Aku senantiasa mengunjungi orang tua. Alhamdulillah, pada lebaran beberapa tahun lalu, ibu menemuiku. Aku anggap ini blessing. Lebih dari itu, semua ini sudah diatur oleh Allah Swt. Aku yakin itu.
lampududuk
July 11, 2007, 14:01
aku mau nanya. Sekarang ini aku kepepet banget ama kuliahku. Aku gak tahu lagi mau ngelakuin apa. Belajar giat udah. doa udah juga. Pokoknya usaha deh. Tapi tetep aja ada yang ga lulus. Aku terancam DO pula. Cemas dan sedih banget deh. Trus aku ambil cara sebelum ujian sedekah yang banyak banget. Insyaallah aku ikhlas dan mengharap ridho Allah. trus aku tambahin nadzar pula.
Menurut kalian, usaha usaha rohani yang lain apa ya??? Seingetku kan sedekah itu menambah rezeqi dan mendahului bala. Tolong dong kasih masukan. Kalo bisa juga kasih doanya ya
la_fleur
July 12, 2007, 00:37
Gw udah pernah baca deh artikel ini... kalo ga salah di "Republika"... ??
anyway, buat Lampududuk...
Udah dievaluasi ga, kira2 kamu selalu gagal dlm kuliah krn apa???
Usaha2 kamu di atas udah oke (belajar+doa+sedekah)
Mungkin perlu juga deh baca2 buku motivasi, salah satu yg gw rekomen karya "Mario Teguh"...
Karya2nya salah satu yg berperan dlm pengembangan hidup gw...
Yg intinya gw sadar bhw sangat penting utk "bersahabat dgn diri sendiri" dan "bersyukur kpd Tuhan dlm setiap keadaan apa pun..."
Kata2nya yg gw inget sampe saat ini dan selalu jd bekal hidup gw:
"Berbuatlah sebaik-baik kebaikan dlm seburuk-buruk keadaan..."
Intinya, selalu hrs positif dlm menghadapi apapun, selalu ramah thdp kehidupan...
mudunpapat
July 12, 2007, 16:01
lha kok artikel ini dimunculkan lagi, perasaan udah ada di thread "kisah mualaf" yg bikin no what what juga.
** COMY **
July 12, 2007, 16:08
aduh...gue capek hati nih banyak banget user bikin thread gak cari dulu di halaman sebelumnya udah ada apa belum [sigh]
mudunpapat
July 12, 2007, 16:13
ini lebih payah lg budhe, karena dia ndiri yg dulu buat thread kaya gini. Mungkin sengaja kali ya, yg dulu kurang laku :D
** COMY **
July 12, 2007, 16:15
ini juga termasuk :hehe
besok deh gue merger lagi :nangis:
tiap hari pasti ada thread yg gue merger..apa gak dibaca ya peraturan yg udah di sticky :bingung:
AlfaOmega
July 12, 2007, 16:37
ini juga termasuk :hehe
besok deh gue merger lagi :nangis:
memberi kesempatan bagi momod utk beramal sholeh :o
agar momod nya ada kesibukan
[love]
** COMY **
July 13, 2007, 01:34
gile..memangnya kesibukan gue cuma disini doank :kakaka:
:toktok:
AlfaOmega
August 03, 2007, 22:09
Doa Buruk (http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=302341&kat_id=483)
Houtman Z Arifin
Dalam salah satu kesempatan memberikan Tausyiah, seorang ustad berpesan kepada majelis pengajian kami tentang rahasia dan teknik membuka peluang doa agar apa yang kita dambakan dikabulkan Allah SWT. Antara lain: tempat, waktu, tata-cara dan pihak-pihak yang diberi keistimewaan.
Dalam kesempatan yang membahagiaakan itu, sang ustad mengambil hikmah dari cerita zaman Rasulullah. Seorang sahabat mendatangi Nabi dengan berucap, ”Ya Rasulullah, alangkah beruntungkan sahabat kita itu. Allah pasti berkenan mengabulkan apapun yang diinginkannya. Aku menyaksikan betapa Ia berdoa demikian khusu”.
”Mengapa pula Engkau mengatakan demikian” tanya Rasulullah.
”Meski jarak kami berjauhan, isak tangisnya terdengar keras, air matanya deras, bukan saja janggutnya menjadi basah, melainkankan juga punguk onta yang ditungganginya.”
”Wahai sahabatku. Doa dikabulkan bukan karena isakan tangis, bukan pula derasnya airmata. Doa masih terhalang jika sahabat kita masih tidak mampu menjaga rongga mulut dan lambung perutnya dari barang yang haram dan diperoleh dari cara yang haram”.
Tiba-tiba, Seluruh yang hadir diam, hening dan senyap. Karib disamping saya menggamit pundak saya, sambil bergumam perlahan, ”Pantas selama ini doa lebih jarang dikabulkan, ketimbang diijabah. Memanjatkan doa jalan terus dengan serius, tanpa menghentikan perbuatan buruk. Doa rajin, dosa pun rajin”. Saya hanya menghela nafas panjang.
”Saudara-saudara hambah Allah yang mulia,” sambung ustad. Kita harus pahami bahwa Allah memberikan kemuliaan dan keistimewaan diantara hamba-hamba-Nya. Sebagai contoh, doa orang tua pada anaknya, demikian pula sebaliknya, yang sholeh dan sholehah untuk orang tuanya.
Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan, adalah doa dari orang-orang yang teraniaya. Terlepas apakah orang-orang tersebut tergolong sebagai orang-orang yang sholeh, atau sebaliknya justru kelompok orang yang jauh dari agama. Allah yang Maha Adil mendengar dan peduli pada derita dan tangisan makhluk-Nya. Doa mereka sangat diperhatikan, dan nyaris diijabah dalam waktu singkat. Termasuk diantaranya permohonan keadilan – pembalasan terhadap orang-orang yang telah membuat hidup mereka beserta keluarga tersiksa dan teraniaya.
Untuk kedua kalinya sahabat saya menggamit tubuh saya. Bagaimana dengan jeritan, umpatan, dan doa-doa buruk dari para korban lumpur Lapindo ? Bagaimana dengan supir pengangkut barang-barang sembako, yang harus membayar upeti pada aparat di jalanan, atau para pedagang kaki lima yang barang dagangannya disita trantib.
Saya terpaku, bisu. Sayup-sayup saya mendengar doa anak kecil penyemir sepatu selepas sekolah, yang ditangkap. Ibu yang sedang menyusui bayi kurus, ditarik dan digiring dengan kasar ke atas truk oleh Petugas Pamong Praja. Anak-anak jalanan, pengamen, diberangus dengan bengis, dan dimasukkan ke dalam program ”Pembinaan” dari satu departemen yang konon kabarnya sangat akrab dengan kata-kata peduli sosial.
Mereka, tidak sanggup membeli anak kunci seharga Rp 300 ribu, untuk melewati pintu keluar dari gedung pembinaan. Ruang yang tidak jauh beda dengan penjara. Mereka, meronta sampai kehabisan tenaga, menangis sampai tidak ada lagi tetesan airmata. Dalam keadaan lelah lahir batin mereka memanjatkan doa.
”Turunkan bala di negeri yang penuh dengan penguasa yang zalim, yang tega menyiksa kami dan siapapun penduduknya yang juga tidak peduli dengan jeritan dan penderitaan kami”. Doa mereka hanya pelan dan sayup-sayup, lemah. Namun, jumlah mereka banyak, bahkan teramat banyak, sehingga sangat layak untuk dikabulkan. astaghfirullah.
AlfaOmega
August 10, 2007, 13:59
Assalamualaikum wrwb,
cerita dibawah ini mungkin sudah pernah dibaca,
Insya Allah untuk mengekalkan kerinduan yang amat kepada junjungan kita Muhammad SAW.
Jangan lupa, bahwa hari ini, besuk atau lusa adalah isra' mi'raj beliau...
Hari-hari seblum Isro' Mi'roj adalah hari-hari duka cita beliau.
wassalam
Alfa
*Rasulullah SAW dan seorang pengemis yahudi buta*
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang
mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang
gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian
mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya". Namun, setiap pagi
Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan
tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang
dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui
bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW
melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang
membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu
hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke
rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri
Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,
"Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".
Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali
satu saja".
"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA."Setiap pagi Rasulullah SAW selalu
pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis
Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu
memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?".
Abubakar RA menjawab,"Aku orang yang biasa."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis
buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang
dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu
selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut
setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu.
Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah
tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis
itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
"Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia
tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa
makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar
RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
*Republika, Jumat 06 Mei 2005 buletin jumat MQ*
AlfaOmega
August 24, 2007, 16:54
KISAH SEBATANG BAMBU
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani.
Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu
lainnya.
Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi
sawahku?"
Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi
engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku
menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan
engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang
cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu
aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku
akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.
Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa
yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang
kutanam dapat tumbuh dengan subur."
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..... , kemudian dia
berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit
ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang
cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah
batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau
mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"
Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat
melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang
paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."
Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali
berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang
kau kehendaki."
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang
dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah
menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat
tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih
berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita
sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai
menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala
sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul.
Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas
berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna
bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Allah,
perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."
tangkaibunga
August 27, 2007, 03:37
Assalamualaikum wrwb,
cerita dibawah ini mungkin sudah pernah dibaca,
Insya Allah untuk mengekalkan kerinduan yang amat kepada junjungan kita Muhammad SAW.
Jangan lupa, bahwa hari ini, besuk atau lusa adalah isra' mi'raj beliau...
Hari-hari seblum Isro' Mi'roj adalah hari-hari duka cita beliau.
wassalam
Alfa
*Rasulullah SAW dan seorang pengemis yahudi buta*
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang
mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang
gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian
mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya". Namun, setiap pagi
Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan
tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang
dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui
bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW
melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang
membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu
hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke
rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri
Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,
"Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".
Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali
satu saja".
"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA."Setiap pagi Rasulullah SAW selalu
pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis
Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu
memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?".
Abubakar RA menjawab,"Aku orang yang biasa."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis
buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang
dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu
selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut
setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu.
Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah
tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis
itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
"Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia
tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa
makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar
RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
*Republika, Jumat 06 Mei 2005 buletin jumat MQ*
Subhanallah...terkadang sulittt banget mencontoh perilaku rasul. Kejahatan dibalas dengan kebaikan...
ok boy
August 27, 2007, 03:40
ga jadi d.............
thx
kakegaul
August 27, 2007, 04:51
Zuhudnya Abu Dzar
Suatu ketika seorang Sahabat masuk ke rumah Abu Dzar dan tidak menemukan sesuatu disana.
"Hai Abu Dzar", katanya, "Ya", Jawab Abu Dzar.
Sahabat tadi bertanya, "Mana barang-barangmu ?" - Abu Dzar tidak memiliki apapun, baik tempat tidur maupun kasur.
Abu Dzar menjawab, "Saya telah memindahkannya ke tempat tinggal yang kedua."
Namun Sahabat tadi memprotes seraya mengatakan, "Akan tetapi engkau hidup di suatu tempat tinggal yang mesti ada sesuatu di dalamnya."
Abu Dzar menjawab, "Akan tetapi pemilik tempat tinggal itu tidak menghendaki aku terus menetap di situ, dan Dia akan mengeluarkan Aku."
AlfaOmega
August 27, 2007, 16:23
Oleh Yon's Revolta
Cobalah jangan menjadi orang sukses,
Melainkan berusahalah
untuk menjadi orang yang berharga
(Einstein)
Di depan sebuah masjid...
Lelaki berjenggot itu nampak serius bekerja. Mengipas-ngipas bara arang
dengan beberapa biji jagung muda diatasnya. Dibolak-balik agar merata
sambil ditaburi bumbu sesuai pesanan pembeli. Bisa pedas, gurih atau
asin. Silakan tinggal memilih saja. Aroma bumbu taburnya bisa kita hirup
lezatnya dari dekat.
Saya kurang tahu tempat tinggal penjual jagung bakar itu di mana. Belum
sempat menyapa dan bercerita banyak dengannya. Kapan-kapan kalau diberi
kesempatan akan saya ceritakan. Yang saya tahu, sekira sudah sebulan dia
berjualan di situ.
Apa yang menarik dari pemandangan itu.
Mungkin biasa saja. Tapi mari kita selami lebih dalam lagi tentang
fenomena itu. Barangkali, ada keping-keping hikmah yang tersisa.
Keping-keping yang bisa kita petik sebagai renungan tentang kehidupan
yang kita jalani selama ini.
Di setiap tempat, apa yang kita lihat, semuanya ternyata bisa menjadi
bahan renungan kita. Asalkan kita bisa memandangnya dengan cara yang
berbeda. Menelisik lebih dalam atas apa yang kita kita lihat itu. Memang
melihatnya tak sekedar dengan dua mata kita, tetapi perlu dengan mata
jiwa, mata hati. Dengan begitu, kitapun akan bisa meresapi sampai ke
hati pula.
Hari ini, kita belajar tentang proses.
Ijinkan saya bertanya. Adakah yang bisa menjamin bahwa orang itu memang
punya cita-cita sebagai seorang penjual jagung bakar? Saya sendiri tak
yakin. Saya cenderung memandang apa yang dilakukannya sebagai bagian
dari proses. Mungkin dia punya cita-cita lebih dalam berbisnis. Hanya
saja, sebagai langkah awal, atau bisa juga keterpaksaan karena hanya
peluang itu yang ada, maka pekerjaan itu dilakukannya. Bisa jadi begitu.
Nah, anggap saja apa yang dilakukannya kini kita alami. Kita, mungkin
saat ini bekerja belum sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tentu,
langkah terindah yang bisa dilakukan adalah mencintai pekerjaan kita.
Anggap ini sebagai langkah awal kita untuk meniti karier yang lebih baik
dikemudian hari. Sebuah bagian dari proses pencapaian cita-cita dan
impian kita.
Sudah teramat banyak cerita orang-orang yang meniti karier dari awal.
Seperti orang yang awalnya penjual koran eceran kemudian menjadi "raja
media'. Ya, semua itu ada awalnya. Kata pepatah cinta, ribuan mil
dimulai dari satu langkah. Pertanyaannya sekarang, apakah langkah kaki
kita telah terayunkan. Ataukah kita masih saja terbayang-bayang akan
nikmatnya impian. Hari ini, kita coba untuk beranjak berjalan. Selangkah
demi selangkah.
Bagi yang sudah beranjak jauh, perlu sejenak menengok dan berevaluasi.
Saya agak sepakat dengan kata Einstein yang saya kutip di atas.
Tepatnya, jangan melulu untuk berambisi menjadi orang sukses. Tapi
berusaha untuk menjadi manusia yang berharga, manusia yang mempunyai
kemanfaatan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi orang lain.
Bagi seorang muslim, tentu paham di mana keberadaan manusia dimuka bumi
ini memang ditentukan sejauhmana dia bermanfaat bagi orang lain. Kalau
hanya mengejar sukses pribadi, tentu kurang afdhol.
Khusus bagi yang sedang melangkahkan sejengkal demi sejengkal kaki
meraih capaian puncak, ada baiknya kita ingat pesan Rasulullah Muhammad
SAW "Berharaplah dengan kebaikan, pasti kalian akan mendapatkannya".
Ya, ini awalan bagi kita untuk menggapai puncak yang baik, halal,
diridhoi Allah SWT, dan tentunya setelahnya tak hanya kita yang
menikmatinya. Tetapi juga bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Semoga, kita bisa melakukannya. (yr)
Rumah Kelana, 10 Juli 2007/ 21. 18.
AlfaOmega
August 28, 2007, 16:52
Kisah Sang Tukang Sepatu (http://www.mediamuslim.info/al-kisah/kisah-sang-tukang-sepatu.html)
Ada sebuah tiang di Masjid Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang biasa Muhammad bin Al-Muhandits gunakan untuk shalat dan belajar di malam hari. Pada waktu itu penduduk Madinah mengalami paceklik. Maka merekapun keluar menjalankan shalat Istisqa'. Namun hujan tidak juga turun. Pada malam harinya, seperti biasa beliau shalat Isya' di Masjid Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu Muhammad bin Al-Muhandits datang mendatangi tiang itu dan menyandarkan tubuhnya di sana (istirahat).
Muhammad bin Al-Muhandits melanjutkan kisahnya: Tiba-tiba datang seorang lelaki berkulit hitam kecoklat-coklatan, mengenakan kain sarung, dan pada lehernya tergantung kain yang lebih kecil lagi. Lelaki itu kemudian mendekati tiang di depanku, sementara (tanpa dia ketahui) aku berada di belakangnya. Kemudian dia shalat dua raka'at lalu duduk seraya berdo'a:"Wahai Rabb-ku. Para penduduk Madinah kota Nabi-Mu telah keluar meminta hujan, namun Engkau tidak juga mencurahkan hujan. Kini aku bersumpah atas nama-Mu, turunkanlah hujan." Ibnul Muhandits bergumam: "jangan-jangan ini orang gila."
Ia meneruskan: "Tatkala lelaki itu meletakkan tangannya, tiba-tiba aku mendengar suara guntur, diikuti dengan hujan yang turun dari langit yang menyebabkan diriku berkeinginan kembali ke rumah. Ketika ia mendengar suara hujan, ia segera memuji Alloh dengan berbagai pujian yang belum pernah kudengar yang semacam itu sebelumnya." Perawi melanjutkan : "Kemudian lelaki itu berkata : "Siapa saya, dan apa kedudukan saya, sehingga doa saya terkabul. Akan tetapi aku tetap berlindung denagn memuji diri-Mu dan berlindung dengan pertolongan-Mu." Lalu perawi melanjutkan: "kemudian lelaki itu mengenakan kain yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, lalu kain yang bergantung di punggungnyaia turunkan ke kakinya. Setelah itu ia shalat. Ia terus menjalankan shalatnya, sampai ia merasa akan datang Shubuh. Setelah itu ia melakukan shalat Witir dan shalat sunnah Fajar dua raka'at. Kemudian dikumandangkan iqamat Shubuh, ia turut shalat berjama'ah bersama orang banyak. Akupun turut shalat bersamanya . Setelah imam mengucapkan salam, ia (lelaki hitam) segera bangkit dan keluar masjid. Akupun mengikutinya dari belakang, hingga pintu masjid. Lalu dia mengangkat pakaiannya dan berjalan di air yang tergenang (karena hujan). Akupun ikut mengangkat pakaianku dan berjalan di genangan air. Namun kemudian aku kehilangan jejak.
Pada malam selanjutnya, aku kembali shalat Isya di Masjid Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu aku mendatangi tiang tersebut dan berbaring di sana. Tiba-tiba lelaki itu datang lagi dan berdiri di tempat biasa. Ia menyelimuti tubuhnya dengan kain, sementara kain lainnya yang berada di punggungnya ia selempangkan di kedua kakinya, kemudian melakukan shalat. Ia terus melakukan shalat, sampai ia khawatir kalau datang waktu Shubuh, baru ia melakukan Witir dan dua raka'at sunnah Fajar. Setelah itu iqamat berkumandang. Ia langsung shalat berjama'ah, akupun turut bersamanya. Ketika Imam telah mengucapkan salam, ia keluar. Aku juga keluar mengikutinya. Ia berjalan dengan cepat. Akupun mengikutinya hingga sampai ke salah satu rumah di kota Madinah yang kukenal. Akupun kembali ke masjid.
Setelah terbit matahari, dan aku telah menunaikan shalat (Dhuha). Aku segera keluar mendatangi rumah tersebut. Kudapati dirinya sedang duduk menjahit. Ternyata ia tukang sepatu. Ketika ia melihatku, ia segera mengenaliku. Ia berkata: "Wahai Abu Abdillah, selamat datang. Ada yang bisa kubantu? Anda ingin saya buatkan sepatu?" Aku segera duduk dan berkata : "Bukankah engkau yang menjadi temanku di malam pertama itu?" Rona wajahnya berubah menghitam dan berteriak sambil berkata: "Wahai ibnul Muhandits, apa urusanmu dengan kejadian itu ?" Perawi melanjutkan: "Lelaki itu marah dan akupun segera meninggalkannya." Aku mengatakan: "Sekarang juga aku keluar dari tempat ini."
Pada malam ketiga, aku kembali shalat Isya di akhir waktu di Masjid Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian menuju tempatku untuk berbaring. Namun lelaki itu tak kunjung datang. Ibnul Muhandits bergumam: "Inna lillahi, apa yang telah aku perbuat?" Pagi harinya, aku duduk di masjid hingga matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumah yang ditempati lelaki tersebut. Ternyata kudapati pintunya terbuka. Dan ternyata rumah itupun sudah tidak berpenghuni lagi. Pemiliki rumah yang ditinggali lelaki itu bertanya kepadaku: "Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara anda dengan dirinya kemarin?" Aku balik bertanya: "Apakah gerangan yang terjadi dengannya?" Orang-orang di situ berkata:"Ketika anda keluar dari rumahnya kemarin, lelaki itu segera membentangkan kainnya di tengah ruangan rumahnya. Kemudian ia tidak menyisakan selembar kulit ataupun sepatu. Semuanya dia letakkan dalam kainnya, lalu diangkut. Setelah itu kami tidak tahu lagi ke mana lagi dia pergi."
Muhammad bin Al-Muhandits berkata: "Setiap rumah yang ada di kota Madinah yang kuketahui pasti kusinggahi untuk mencarinya. Namun aku tidak menemukannya lagi. Semoga Alloh merahmatinya."
AlfaOmega
August 29, 2007, 19:35
Karna di eramuslim (http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/7828234352-jasad-para-nabi-apakah-masih-utuh.htm) disebutkan kayak begini
Di dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah jilid 2 halaman 40 karya Ibnu Katsir disebutkan kisah yang membuktikan hadits nabi di atas. Dikisahkan bahwa ketika membebaskan Persia dan memasuki rumah Hurmuzan, salah satu pembesar negeri itu, para prajurit Islam menemukan jasad seorang jenazah yang tidak membusuk dan di atasnya ada mushaf. Kemudian di dapat keterangan bahwa jasad itu adalah jasad seorang nabi di kalangan Bani Israil pada masa lalu.
Nabi itu bernama Nabi Danial. Konon di masa lalu, Kerajaan Persia yang berperang dengan Syam menangkap nabi Danial dan memenjarakannya. Namun hingga wafat dan sampai ratusan tahun kemudian, jasadnya masih ada. Utuh seluruh tubuhnya kecualirambut di bagian kepala belakangnya saja yang sudah punah. Padahal dalam catatan sejarah, usia jasad itu telah mencapai 800-an tahun.
Jadi, guwe penasaran ttg kisah nabi Danial.. akhirnya, ketemu juga kisah Nabi Danial as tersebut
Nabi Danial a.s. Dengan Singa (http://www.geocities.com/d14n_4r/teladan2.htm#process48)
Suatu saat, Raja Bukhatnezar datang ke Baitul Maqdis dari negeri Syam. Dia membunuh orang-orang Bani Israil dan merebut secara paksa kota Baitul Maqdis serta menawan ramai orang dari mereka. Di antara mereka yang ditawan adalah Nabi Danial a.s.
Sebelumnya, Raja ini didatangi oleh para ahli nujum (peramal) dan orang-orang cendekiawan saat itu. Mereka semua mengatakan, 'pada malam ini dan ini akan dilahirkan seorang bayi yang nantinya akan menghinakan dan menghancurkan kerajaanmu.' Maka Raja itu berjanji dan bersumpah, 'Demi Allah, tak ada seorang bayi pun yang lahir pada malam itu kecuali akan aku bunuh,' Di antara bayi-bayi yang lahir saat itu, hanya bayi Danial saja yang tidak dibunuh, tetapi dibuang ke hutan yang terdapat singa di dalamnya. Bayi Danial hanya sempat dijilat-jilat oleh seekor singa beserta anaknya dan tidak menyakitinya, sampai akhirnya datanglah ibunya. Saat dua binatang itu menjilatinya, maka Allah s.w.t. menyelamatkannya. Para cendekiawan daerah itu mengatakan, bahawa akhirnya Danial mengukir gambar dia beserta dua singa itu yang sedang menjilatinya, di atas batu cincinnya agar senantiasa tidak lupa akan nikmat Allah s.w.t. itu. (HR. Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan).
Dalam redaksi riwayat lain disebutkan:
Ada seorang Nabi pada masa Bani Israil, jauh setelah Nabi Musa a.s. meninggal dunia, namanya Danial a.s. Dia didustakan oleh kaumnya. Bahkan akhirnya dia diciduk oleh raja yang berkuasa saat itu dan dilemparkan ke kandang seekor singa yang sudah dilaparkan.
Setelah Allah s.w.t. melihat, betapa besar perasaan tawakkalnya, juga kesabarannya, hanya kerana mengharap keridhaanNya, maka Allah mencegah mulut-mulut singa itu untuk memakannya. Bahkan sampai Danial berdiri di atas kedua kakinya di hadapan singa yang sudah tunduk dan tidak lagi membahayakan. Kemudian Allah mengirim Irmiya dari Syam sehingga Danial dapat keluar dari masalah ini dan menumpas orang yang ingin membinasakannya'.
Dari Abdullah bin Abil Hudail, dia berkata: "Bukhtanashar telah melatih dua singa untuk berburu dan meletakkannya di dalam kandang. Kemudian dia menggiring Danial dan melemparkannya pada binatang tersebut. Tetapi singa itu tidak mengganggunya sama sekali. Danial pun, dengan izin Allah, untuk beberapa lama tinggal di dalam kandang. Tiba-tiba -suatu saat- dia ingin makan dan minum seperti lazimnya orang-orang. Maka Allah s.w.t. memerintahkan melalui wahyu kepada Irmiya yang saat itu berada di Syam, untuk menyediakan makanan dan minuman Danial. Maka dia berakta: "Ya Rabbi, aku sekarang berada di tanah suci (Baitul Maqdis), sementara Danial berada di kota Babilon di tanah Iraq." Lalu Allah mewahyukan lagi kepadanya: "Siapkanlah apa yang telah Aku perintahkan kepadamu. Aku akan kirim utusan yang akan membawamu ke sana beserta apa yang kau persiapkan." Akhirnya Irmiya melaksanakan perintah tersebut dan Allah mengirim utusan yang membawanya serta makanan yang dipersiapkannya. Sesampainya di depan gerbang kandang singa;
Danial berkata: "Siapa ini?"
Irmiya: "Aku Irmiya."
Danial: "Kenapa kau datang ke mari?"
Irmiya: "Aku diutus oleh Tuhanmu untuk menemuimu."
Danial: "Apakah Dia menyebut namaku?"
Irmiya: "Ya."
Danial: "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingatNya. Segala puji bagi Allah yang kalau ada orang bertawakkal padaNya, maka Dia akan berikan kecukupan padanya. Segala puji bagi Allah yang kalau ada orang yang percaya kepadaNya, tidak akan Dia pasrahkan urusannya pada yang lain. Segala puji bagi Allah yang memberikan keselamatan atas kesabaran. Segala puji bagi Allah yang telah menyingkap kesulitan kita setelah ditimpa musibah. Segala puji bagi Allah, Dialah tempat kepercayaan kami, ketika kami berprasangka buruk atas amalan-amalan kami. Segala puji bagi Allah, Dia tempat harapan kami, ketika semua cara tertutup di hadapan kami."
cukup menarik kisahnya...
[love]
Asagi
August 30, 2007, 07:02
Gw mau sharing kejadian yg dialami oleh sahabat nyokap gw yg beragama kristen
Menurut gw ini kejadian yang sangat istimewa
Yaitu dia bertemu dengan Lailatul Qadar
Ini terjadi pas bulan Ramadhan 2005
Waktu itu dia tinggal dirumah anak perempuannya di sebuah kecamatan di Sumbawa
Untuk informasi, anaknya ini masuk islam dan menikah dengan muslim
kejadiannya malam hari, gw lupa jam berapa, yg jelas malam hari
Waktu itu dia masuk dapur
dan dia melihat ada seseorang yang bergerak mendekati dia
sosoknya sangat tinggi besar, dan perlahan mendekati dia
Walaupun dia berhadapan langsung
tapi dia gak bisa tahu secara pasti apa yang ada didepannya
Selama beberapa lama dia Cuma bisa kaget dan diam gak bisa gerak
Akhirnya kemudian dia teriak sampe anaknya datang
Waktu itu bau wangi udah memenuhi dapur dan sosok tersebut udah hilang
Yang bikin nyokapnya kaget, si anak justru lari keluar rumah
Untuk ngejar sosok tersebut
Untuk kaum muslim sih itu wajar
tapi untuk sahabat nyokap gw yg non-muslim itu sangat aneh
karena dia gak tau apa2 tentang lailatul qadar
yang pertama kali ditanyakan orang2 (termasuk gw)
adalah: bagaimana Dia? (rupa/bentuknya)
seperti diatas, sosoknya tinggi besar untuk ukuran manusia
dia sih ngomongnya gini: tinggiiii…………
Tapi katanya juga, sosoknya gak jelas
dia menggambarkan seperti melihat kebalik tirai
Jd seolah2 dia tahu (karena berhadapan langsung)
Tapi gak benar2 tahu (ngerti kan?) ;D
Setelah kejadian tersebut, bau wanginya bertahan selama beberapa jam didesa tsb
Sahabat nyokap gw ini adalah orang yang sangat baik
Nyokap gw lebih nyaman berteman dengan dia, daripada orang lain
Yang kebanyakan malah ngomongin nyokap karena temenan ama non-muslim
*termasuk keluarga besar*
mereka udah berteman sejak gw gak bisa ingat :D
Yang bisa kami berikan untuk sahabat nyokap gw
Adalah gambaran bahwa dia sangat istimewa
Bayangkan saja, lailatul qadar adalah yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim sedunia
Tapi mendatangi sahabat nyokap gw yg non-muslim
Kami katakan bahwa dia sangat beruntung diingatkan dengan cara yang luar biasa
Artinya dia disayang oleh Allah
Sayangnya, kemudian dia berkonsultasi dengan pendeta
Kemudian memilih tetap beragama kristen
Gw cuma bisa berharap
Bahwa suatu hari nanti sahabat nyokap sempat menyadari istimewanya Lailatul Qadar
maap klo ini bukan kisah mualaf
tapi gw rasa kisah ini paling cocok masuk thread ini :)
AlfaOmega
August 30, 2007, 15:55
Kisah Nabi Musa dengan wanita penzina (http://www.geocities.com/d14n_4r/teladan2.htm#process35)
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahawa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut.
"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya... telah berzina.
"Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya... cekik lehernya sampai... mati," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya. Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik, "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku kerana perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata kerana jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah keluar. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tidak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tidak tahu mahu dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahawa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.
Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?"
"Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa a.s. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina."
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Nabi Musa memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahawa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Bererti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedang orang yang bertaubat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh bererti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahawa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mahu menerima kedatangannya.
Malah dalam satu hadis Nabi s.a.w. berkata "sesiapa yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja, maka ia kafir terang-terangan" (H.R. Atthabarani)
AlfaOmega
August 31, 2007, 16:02
Kisah Qarun Yang Binasa Dengan Hartanya (http://www.geocities.com/d14n_4r/teladan2.htm#process35)
Qarun adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir). Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir'aun dan Haman. Allah telah mengurniai Qarun harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi peti simpanan. Perbendaharaan harta dan peti-peti ini sangat berat untuk diangkat kerana beratnya isi kekayaan Qarun. Walaupun diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.
Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil. Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil terbahagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih mengutamakan apa yang ada di sisi-Nya. Kerana itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan dan kerusakannya serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain. Adapun kelompok kedua adalah yang terpukau dan tertipu oleh harta Qarun kerana mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan asas yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap bahawa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya. Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.
Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan. Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat harta kekayaan dan memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat, kabaikan dan hal yang halal kerana semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu kerana ilmu yang ada padaku"
Suatu hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkaknya. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." Akan tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati orang-orang yang tertipu seraya berkata, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh…."
Berlakulah sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya. Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah bumi, maka tenggelamlah ia beserta harta yang dimilikinya dengan disaksikan oleh orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya.
Tatkala Bani Israil melihat bencana yang menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan sabar. Adapun mereka yang telah tertipu dan pernah berangan-angan seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat yang sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah kerana tidak mengalami nasib seperti Qarun. Mereka berkata, "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi sesiapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita. benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)."
Penyebutan Qarun Dalam Quran
Nama Qarun diulang sebanyak empat kali dalam Al-Quran, dua kali dalam surah al-Qashash, satu kali dalam surah al-Ankabut, dan satu kali dalam surah al-Mu'min. Penyebutan dalam surah al-Ankabut pada pembahasan singkat tentang pendustaan oleh tiga orang oknum thagut, iaitu Qarun, Fir'aun, dan Haman, lalu Allah menghancurkan mereka.
"Dan (juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (al-Ankabut: 39-40)
Penyebutan dalam surah al-Mu'min (Ghafir) pada kisah pengutusan Musa a.s. kepada tiga orang thagut yang mendustakannya. "Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman, dan Qarun, maka mereka berkata, Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta." (al-Mu'min: 23-24)
AlfaOmega
September 02, 2007, 18:56
APA YANG TELAH AND PERSIAPKAN UTK RAMADHAN
Saudaraku muslim dan saudariku muslimah ...
Mungkin judul tulisan ini membuat tidak bersemangat untuk membacanya.
senantiasa setiap tahun, seiring semakin dekatnya bulan ramadhan para
penceramah dan ahli ilmu mulai berbicara seputar keutamaan bulan suci
Ramadhan dan kebaikan yang ada padanya, serta mereka mengajak kepada
sholat, sedekah, membaca AI-Qur'an dan lain sebagainya.
Masalah-masalah ini tidak menarik bagi kebanyakan kita untuk dibaca,
setiap kita tahu keutamaan Rarnadhan dan pahala yang terdapat padanya,
dan kebanyakan kita mengetahui apa itu perkara-perkara yang merusak
puasa serta perkara-perkara yang mengurangi pahala puasa. Akan tetapi,
izinkanlah saya mengajak anda untuk membaca apa yang saya tulis. Dan
saya berharap anda menundukkan nafsu ammaroh untuk mau membaca apa
yang saya tulis sehingga selesai, sesungguhnya peringatan bermanfaat
bagi orang-orang mukmin, dan barangkali itu akan menjadi cahaya yang
menerangi di dalam kubur setelah anda mati, atau menjadi keselamatan
bagi anda pada hari yang tidak ada perlindungan dari Allah kecuali
kepada-Nya !!!
Saudaraku tercinta .. saudariku yang mulia, apa yang telah anda
persiapkan untuk Ramadhan?
Apakah anda telah pergi kepasar dan membeli makanan-makanan dan
minuman-minuman yang akan anda nikmati dalam bulan ini? Ataukah anda
telah memilih dengan seksama serial, sinetron, dan komedi yang anda
sukai dan anda telah mengatur waktumu untuk menontonnya? Atau anda
telah bersiap untuk bergadang melewatkan malam Ramadhan
ditempat-tempat hiburan yang tersebar banyak dinegeri kita untuk
menghidupkan malam-malam Ramadhan? Ataukah anda telah sepakat dengan
teman-teman untuk menghabiskan malam dengan berbicara tidak menentu
sambil menghisap rokok dan bermain kartu atau sejenisnya?!I!
Jawablah wahai saudaraku .. apa yang telah anda siapkan untuk
Ramadhan? Apakah anda salah seorang dari mereka yang menghabiskan
Ramadhan dengan makan dan minum, bergadang dan bermain serta berbuat
kerusakan lalu tidur sepanjang siang?
Jawablah pertanyaanku dan tidak perlu malu, jangan berdusta, dan
jangan tipu dirimu sendiri .. jangan berpura-pura baik sehingga engkau
termasuk orang-orang yang dikatakan Allah Ta'ala :
"Katakanlah : apakah Kami beritakan kepada kalian tentang orang-orang
yang merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usaha mereka
dalam kehidupan dunia sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah
berbuat baik".
Apabila anda termasuk salah seorang dari mereka, maka ingatlah
saudaraku muslim, bahwasanya akan datang hari yang akan disingkapkan
keraguan dari matamu, dan ruhmu dicabut dari setiap urat nadimu tanpa
belas kasih. Ingatlah saat-saat mereka memandikanmu, mengkafankanmu
dan meletakkanmu dilubang yang sempit, lain mereka menimbunmu dengan
tanah dan berlalu pergi. Tinggallah engkau sendiri, menanti munculnya
kalajengking dan ular-ular karena kamu dahulunya menyia-nyiakan
sholat, lalu engkau melihat neraka jahannam menyala-nyala menyeru
Robb-nya agar didekatkan kepadamu. Engkau akan menangis, menangis dan
menangis meminta belas kasih .. akan tetapi tidak seorangpun yang akan
mendengarkanmu, inilah dulu yang telah engkau perbuat dengan tanganmu,
dan inilah yang dulu engkau tanam untuk dirimu .. petiklah buah dari
menyia-nyiakan malam-malam paling berharga dalam umurmu .. yaitu
malam-malam bulan Ramadhan yang penuh berkah, yang dulu engkau
rnelewatkannya dalam kerusakan, kekejian dan perbuatan dosa !!!
Apa yang akan engkau katakan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika
Dia bertanya kepadamu tentang Ramadhan? Bagaimana engkau akan
membantah kakimu yang bersaksi bahwa engkau berjalan untuk melakukan
yang haram? Apa yang akan engkau katakan pada lisanmu yang akan
berkata dihadapan Robbul 'Alamin bahwasanya dahulu anda suka
menggunjing, berdusta, mencela dan malam-malam Bulan yang utama ini?
Bagaimana engkau akan berbicara sedangkan amalanmu yang hitam hadir
untuk membongkar keburukanmu. Dan ingatlah pada hari itu tidak
bermanfaat lagi alasan-alasan serta kedustaan .. oohh .. bagaimana
keadaanmu nanti ketika bulan Ramadhan muncul untuk berbicara dan
Al-Qur'an berteriak pula bersamanya, lalu sholat menghadap kepada
Tuhannya .. semuanya berkata, "Semoga Allah menyia-nyiakanmu
sebagaimana engkau telah menyia-nyiakan kami! ! !?".
Saudaraku muslim dan saudariku muslimah ... Apa yang telah anda
persiapkan untuk Ramadhan? Pertanyaan yang anda mesti mendapatkan
jawabannya yang jujur, dan anda harus konsisten dengannya sebelum
Ramadhan ini berlalu seperti dahulu ia telah berlalu sementara engkau
mabuk dalam kemaksiatan dan dosa, meninggalkan sholat serta melakukan
dosa besar, dan bermaksiat kepada Allah Ta'ala secara
sembunyi-sembunyi atau terang-terangan !!!
Apakah engkau akan menjaga sholatmu dan melakukannya dengan berjama'ah
dimesjid?
Apakah anda akan berjalan dalam kegelapan malam untuk menunaikan
sholat subuh di mesjid?
Apakah anda akan mendapatkan kebaikan pada setiap langkah kakimu
menuju mesjid ataukah anda lebih memilih tetap ditempat tidur atau
didepan layar kaca terus-menerus, menyaksikan wanita-wanita yang
berpakaian tetapi telanjang dan kamu tertawa sendiri untuk menangis
nantinya ketika anda meninggalkan keluarga dan orang-orang yang
dicintai lalu menjadi orang-orang yang merugi pada hari kiamat !!!
Apakah anda akan membaca AI-Qur'an sepanjang hari-hari bulan Ramadhan?
Mungkin anda akan membacanya pada hari pertama, kedua dan ketiga ..
setelah itu anda tidak punya waktu lagi untuk membacanya bukankah ini
yang terjadi?!?
Setiap tahun anda berkata : bahwa anda akan membaca Al-Qur'an dan akan
membaca setiap harinya satu juz agar anda bisa mengkhatamkan Al-Qur'an
pada akhir Ramdhan, dan setelahnya anda membacanya pada hari-hari
pertama saja, kemudian membiarkan Al-Quran ditutupi debu sampai tahun
depan ... Bukankah ini benar?!?!
Apakah anda ingin termasuk golongan orang yang meninggalkan Al-QUr'an
dan menggantikannya dengan nyanyi-nyanyi dusta dan film-film rendah,
dan majalah-majalah vulgar yang masuk kesetiap rumah??!!
Apakah anda akan bersedekah kepada para fakir dan miskin yang mengetuk
pintu rumahmu? Ataukah anda akan menolak mereka, karena mereka
hanyalah sekelompok penipu yang memanfaatkan orang-orang dermawan
seperti kita ?!? apakah anda akan mendengarkan syetan dan nafsu
ammaroh atau orang-orang yang lemah jiwanya, yang pelit untuk
mengeluarkan satu rupiah dijalan Allah sementara mereka menghabiskan
ratusan dan ribuan rupiah dalam yang haram atau tidak berfaedah?! !
AlfaOmega
September 02, 2007, 18:57
Saudaraku yang mulia .. bangunlah .. anda berada didunia yang fana,
hina dan pasti lenyap. Ya, anda akan mati esok dan tidak akan
bermanfaat bagimu pertolongan dokter, dan tidak akan membantumu
tangisan orang-orang tercinta. Bangunlah wahai sahabatku .. anda tidak
akan membawa harta yang telah anda kumpulkan dan tidak akan bermanfaat
lagi bagimu istana yang telah anda bangun .. yang akan anda bawa
adalah kain kafan, dan anda akan beralih ke alam baru terbujur
diantara dinding-dinding kuburanmu. anda akan dapatkan segala
perbuatan yang anda lakukan ketika dunia menantimu .. Al-Qur'an yang
dulu anda tinggalkan, sholat yang dulu anda sia-siakan, dan orang
miskin yang dulu anda pelit terhadapnya, dan Ramadhan yang dulu engkau
berbuat fasik didalamnya .. dan segala sesuatu anda dapatkan hadir
dihadapanmu, serta anggota tubuhmu akan bersaksi tidak seorangpun yang
akan dizalimi oleh Tuhanmu!!
Ramadhan telah diambang pintu, manfaatkanlah kesempatan emas ini,
karena anda tidak pernah, tahu bisa jadi anda tidak hidup lagi sampai
Ramadhan tahun depan, bahkan mungkin saja anda tidak bisa
menyempurnakan ramadhan ini bersama kami karena ajal keburu
menjemputmu .. siapa yang akan tahu? Mungkin saja anda mati ketika
sedang membaca tulisan saya ini .. manfaatkanlah Ramadhan dan
berlomba-lombalah menuju ketaatan, kembalilah kepada Allah Ta'ala
janganlah anda termasuk orang yang diancam dengan neraka dan dibakar
padanya .. setiap kali kulit-kulit mereka masak diganti dengan kulit
yang baru agar mereka merasakan azab sebagaimana firmaan Allah :
"Dan siapakah yang lebih zalim dari orang yang diingatkan dengan
ayat-ayat Tuhannya lalu ia berpaling darinya dan melupakan apa yang
telah ia perbuat dengan kedua tangannya".
Apa yang telah engkau persiapkan untuk Ramadhan?
Jika engkau tidak mengetahui, maka persiapkanlah untuknya ketaatan dan
amal kebajikan, pintu-pintunya lebih luas dari yang dibayangkan.
Hadapilah Ramadhan dengan keta'atanmu dan jangan sambut ia dengan
keburukan maksiatmu .. bacalah Al-Qur'an dan jadikanlah ia cahaya yang
menerangi kuburanmu setelah kematian, dan saksi yang bersaksi untukmu
pada hari engkau menjumpai Allah.
Saudaraku muslim .. jagalah sholat berjama'ah dan carilah teman yang
baik, itulah yang akan meneguhkanmu diatas jalan yang benar .. jalan
surga yang engkau cari-cari. Jauhilah perkataan keji dan perbuatan
menyakiti orang lain, perbaikilah mu'amalahmu terhadap kedua orangtua,
tetangga dan saudara-saudaramu, jangan membebani pembantumu,
nasehatilah keluargamu, teman-temanmu dan ajaklah mereka kejalan yang
baik. Belilah Al-Qur'an dan hadiahkan untuk orang lain, engkau akan
terus mendapatkan pahalanya. Bersedekahlah kepada fakir dan miskin dan
janganlah pelit dijalan Allah walau hanya seperak. Sholatlah dua
rakaat ditengah malam, mudah-mudahan Allah yang Maha Hidup lagi tidak
tidur mengampunimu. Pergaulilah manusia dengan baik engkau pasti
dicintai. Sambunglah hubungan silaturrahim yang mungkin selama ini
sempat terputus, dan maafkanlah orang yang keliru terhadapmu, mohonlah
ampunan atas dosa-dosamu dan dosa seluruh kaum muslimin, jagalah
lisanmu dari berdusta, matamu dari yang haram, telingamu dari
mendengarkan nyanyian, hatimu dari iri hati dan dengki dan tanganmu
dari berbuat kesalahan dan kakimu dari berjalan ketempat sia-sia dan
rusak.
Saudaraku muslim dan saudariku muslimah ..
Pintu-pintu kebaikan itu luas, dan pintu-pintu kejelekan juga luas ..
maka manakah yang engkau pilih orang yang berakal??! Surga yang
luasnya seluas langit dan bumi ataukah neraka yang menyala-nyala yang
berkata, "Apakah masih ada tambahan?!?!?".
Terakhir, kembali saya ulangi dan katakan kepadamu hai saudara dan
saudariku ..
APA YANG TELAH ENGKAU PERSIAPKAN UNTUK RAMADHAN???
Dari Hamba Allah yang lemah saudaramu, Roni Harmas...
AlfaOmega
September 07, 2007, 15:32
Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin
Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya.
Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya
kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang
dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki
dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.
Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama
Hatim Al-Asam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama
gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?"
Berkata Hatim: "Apabila masuk waktu sembahyang, aku
berwuduk zahir dan batin."
Bertanya Isam: "Bagaimana wuduk batin itu?"
Berkata Hatim: "Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu
membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk
batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:
* Bertaubat.
* Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.
* Tidak tergila-gila dengan dunia.
* Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
* Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
* Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
* Meninggalkan sifat dengki."
Seterusnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid,
kukemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku
berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah
ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di
sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan
kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas
titian Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahwa
sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku
(kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini),
kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.
Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya,
kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina),
aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku
memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang
selama 30 tahun.
Apabila Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya
kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila
dibandingkan dengan Hatim.
AlfaOmega
September 10, 2007, 20:06
Si Pemilik Roti (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/si-pemilik-roti.html)
Diriwayatkan dari Abu Burdah, ia bercerita, "Menjelang wafatnya Abu Musa berpesan, 'Wahai anakku, ingatlah tentang kisah si pemilik roti'.
Dikisahkan ada seorang laki-*laki yang beribadah dalam padepokannya selama 70 tahun, tidak pernah turun (beranjak), kecuali satu hari saja. Ketika itu ada setan yang datang menyerupai seorang perempuan. Kemudian, ahli ibadah ini hidup bersama perempuan tersebut selama 7 hari 7 malam.
Setelah itu terbukalah tabirnya, dia pun keluar dan ber*taubat. Setiap kali dia melangkahkan kaki untuk melakukan sesuatu, ia selalu shalat dan bersujud.
Suatu malam ia berlindung ke sebuah toko, di sana terdapat 12 orang miskin. Karena merasa sangat lelah, ,akhirnya ber*istirahat di sela-sela antara dua orang lelaki miskin.
Tiba-tiba seorang rahib datang, dia diutus mendatangi orang-orang miskin ini setiap malam dengan membawa roti yang banyak, lalu memberikannya ke setiap orang di antara mereka itu satu roti besar. Rahib itu melewati laki-laki yang bertaubat tersebut, mengira bahwasanya dia juga orang miskin. Akhirnya dia pun memberinya satu roti besar pula.
Ada satu orang miskin yang belum kebagian roti, lalu bertanya kepada rahib, 'Mengapa Anda tidak memberi aku roti?' Rahib yang membagikan roti itu menjawab, 'Sungguh malam ini aku tidak memberimu sesuatu apa pun'.
Laki-laki yang bertaubat itu memperhatikan roti yang dipe*gangnya, lalu memberikannya kepada si miskin yang tidak kebagian dan sangat membutuhkan karena lapar dan lelah.
Keesokan harinya, laki-laki bertaubat itu meninggal ....
Kemudian, ibadahnya selama 70 tahun ditimbang dengan kemaksiatannya selama 7 malam. Ternyata lebih berat keburukan*nya yang 7 malam. Dan kebaikannya memberi sepotong roti ditimbang dengan kemaksiatannya selama 7 malam, dan lebih berat kebaikannya memberi roti.
Abu Musa berkata, 'Wahai anakku, ingat-ingatlah kisah si pemberi roti itu'."
Demikianlah, sesungguhnya sedekah itu dapat meredam*kan murka Allah. Oleh karena itu, bersegeralah untuk menginfak*kan harta kita di jalan Allah. Sadarilah bahwa dunia ini fana, tetapi segala sesualu yang kita sedekahkan akan kekal di sisi Allah Ta'ala. Suatu saat nanti, kita pasti akan memetiknya di sana, kita akan merasa puas dengan apa yang telah kita berikan. Akan tetapi, jika kita pelit, takut akan menjadi fakir dan kekurangan, lalu kita mengumpulkan harta tersebut karena tamak dan bakhil, maka kita akan menyesal dan celaka.
Sumber: Kama Tadinu Tudanu
AlfaOmega
September 11, 2007, 11:26
Orang-orang Quraisy (Makkah) mencoba cara yang lain dalam menghentikan dakwah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, yaitu sebuah cara yang terkumpul di dalamnya Targhieb (iming-iming) dan Tarhieb (ancaman). Diutuslah seorang utusan kepada beliau untuk menawarkan dunia yang beliau kehendaki (sebagai ganti kesediaan beliau meninggalkan dakwah Islamiyah), dan diutus pula seorang utusan kepada paman*nya yang selalu melindungi rasulullah dan dakwahnya untuk memberi peri*ngatan kepadanya agar melepas pembelaannya dan jaminan pertolongannya kepada keponakannya yaitu Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, dan meminta*nya agar menghentikan Muhammad dan agamanya.
Pada suatu hari para tokoh (pembesar) Quraisy mendatangi Abu Thalib, mereka berkata kepadanya: Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang yang kami tokohkan, dan engkau memiliki kemuliaan dan kedudukan di kaum kami, kami telah memintamu agar engkau melarang keponakanmu tetapi engkau tidak melarangnya, demi Allah, kami tidak sabar atas hal ini; nenek moyang kami dicela, kaum cerdik kami dibodohkan, dan tuhan-tuhan kami dicemoohkan. Engkau lakukan permintaan kami, ataukah kami yang akan mencegah perbuatan keponakanmu itu, atau bahkan kami umumkan perang sedang engkau masih tetap dalam kebisuanmu (tidak mau bertindak), hingga salah satu dari dua kubu itu menemui kehancuran.
Ancaman dan peringatan keras dari tokoh-tokoh Quraisy ini terasa berat membebani benak Abu Thalib, dia masih keberatan jika berpisah dengan kaumnya dan bermusuhan dengan mereka, sedang*kan dia juga tidak mau menyerahkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam keponakannya kepada mereka, dan dia juga tidak rela jika keponakannya dihinakan dan direndahkan. Akhirnya dia menemui Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, lalu berkata kepadanya: "Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah menda*tangiku dan memberitahukan kepadaku tentang hal ini dan itu, juga meminta kepadaku agar aku berbuat ini dan itu, maka sekarang cukuplah kita dengan apa yang selama ini aku dan dirimu meyakininya. Janganlah engkau membebaniku dengan perkara yang aku tidak kuat memikulnya begitu juga engkau, maka tariklah perkataanmu tentang kaummu yang mana hal itu sangat dibenci oleh mereka".
Tetapi Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam tetap kokoh di atas dakwahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak sedikitpun dipengaruhi oleh celaan orang yang mencela, karena beliau di atas kebenaran, dan beliau tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meno*long agama-Nya dan meninggikan agama-Nya.
“Demi Allah,
sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kiriku
dan bulan ditangan kananku,
aku tidak akan meninggalkan dakwah ini sebelum Allah memenangkannya atau aku terbunuh karenanya.”
Maka tatkala Abu Thalib melihat keteguhan keponakannya yang begitu kokoh, dan dia telah putus asa membujuknya agar memenuhi permintaan kaum Quraisy untuk meninggalkan dakwahnya mengajak manusia kepada tauhid, dia berkata: "Demi Allah, tidak akan mengenaimu makar-makar mereka hingga aku tertimbun tanah dan rata dengan debu. Maka teruskanlah urusan dakwahmu jangan sedikitpun merasa rendah diri. Berilah kabar gembira dan sejukkan dengan beritamu itu beberapa pandangan mata"
Sumber (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/kesabaran-rasulullah-terhadap-iming-iming-dan-ancaman.html): Muqawwimat ad-Da'iyat an-Najih Fi Dhau'i al-Kitab wa as-Sunnah Mafhumun wa Nadharun wa Tathbiqun
AlfaOmega
September 12, 2007, 16:05
Kaset itu berputar cepat. Aku mengikuti doa imam de*ngan penuh perhatian dan kecermatan. Aku mengulangi doa itu untuk kesekian kalinya. Sekali lagi, dan sekali lagi. Setiap doa yang diucapkannya.. Segala yang diucapkan dan menjadi doanya adalah benar adanya. Hidup kita memang akan berakhir....
Kita akan dimandikan, dikafani, kemudian diletakkan di liang lahat, di dalam tanah. Nama kita akan segera terlupa*kan...
Namun suara yang diiringi dengan kekhusyuan itu mem*buatku terdiam sesaat... Aku memutar kembali kaset itu untuk ketiga kalinya..
Saudariku adalah profil seorang wanita da'i yang ber*sungguh-sungguh. Ia telah berusaha mengubah diriku men*jadi orang yang selalu memelihara shalat, untuk selalu berbuat taat. Ia berusaha semaksimal mungkin, melalui kata-*kata, melalui kaset dan melalui buku-buku.
Suatu hari, ketika dia sedang mengendarai mobil bersa*maku, kami terlibat pembicaraan. Ketika kami hendak turun, saudariku itu meletakkan kaset ini ke dalam Tape Recorder.
Keesokan harinya, aku keluar rumah dengan santai, tanpa perasaan apa-apa. Dengan sembarangan aku menekan tom*bol tape, tanpa ingat kaset apa yang terdapat di dalamnya. Seperti biasanya, aku membayangkan suara lagu yang aku sukai. Akan tetapi sudah menjadi takdir Allah, yang ada dalam tape itu ternyata adalah kaset tersebut.
Aku mendengarkannya pada pagi hari, lalu kuulangi lagi pada sore harinya, dan juga sesudah Isya.
Aku bertanya: "Kaset apa yang engkau letakkan di sini?" Saudariku balik bertanya: "Apakah engkau tertarik?" "Tentu saja." Jawabku. Tak seperti biasanya, ia menyambut ucapan*ku dengan suka cita. Ia tampak begitu gembira. Di tangan*nya terdapat buku, lalu diletakkan di sampingnya. Ia kembali mengulangi pertanyaannya: "Apakah engkau betul-betul tertarik dengan suara dan bacaan imam itu?" "Sungguh, aku tertarik." Jawabku lagi.
Jawabanku itu menjadi pembuka percakapan kami yang panjang. Perbincangan semacam itu berulang beberapa kali. Namun kali ini, sungguh jauh berbeda. Di akhir perbin*cangan, saudariku berkata:
"Saya akan bacakan kepadamu yang barn saja kubaca: "Suatu hari, Hasan AI-Bashri lewat di hadapan seorang pe*muda yang tenggelam dalam tawanya, ketika ia duduk bersama teman-temannya. Hasan berkata kepadanya: "Wa*hai pemuda! Pernahkah engkau melewati Ash-Shiraat?" Sang pemuda menjawab: "Belum." Beliau bertanya lagi: "Apakah engkau tahu, sedang berjalan menuju Surga atau Neraka?" "Tidak." Jawab pemuda itu lagi. "Lalu apa arti tawamu itu?" Tanya beliau lagi.
Sejenak kami terdiam. Kemudian saudariku itu mene*ngok ke arahku, seraya berkata: "Sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlangsung?"
Sumber (http://kisahislam.com/index.php/kisah-nyata/kelalaian.html): Az-Zaman Al-Qaadim
AlfaOmega
September 13, 2007, 11:38
Ahli Taat Dan Ahli Maksiat
Diriwayatkan dari abu Hurairah Rodhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.
Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, "Berhentilah dari berbuat dosa."
Dia menjawab, "Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan."
Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, "Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah."
Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul 'Alamin. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, "Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu." Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu." Sementara ahli ibadah dikatakan, "Masukkan orang ini ke neraka."
Dari kisah diatas kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak menjadi seseorang yang memastikan orang, kelompok atau golongan lain sebagai penghuni neraka atau surga karena seseorang yang melakukannya berarti telah mengklaim dirinya memiliki sifat ketuhanan.
Sumber (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/ahli-taat-dan-ahli-maksiat.html): Sittuna qishshah rawaha an-Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam wash shahabah al-kiram.
*cukup sedih ketika ngebaca kisah ini :(
terkadang manusia ngerasa 'sombong' dgn amal ibadahnya, dan nge rendahkan yang lain....
AlfaOmega
September 14, 2007, 14:34
Udah sering denger/mbaca ini, ya.... :hehe
Insya Allah lumayan utk menyegarkan ingatan kembali :)
Taubat Nasuha
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khaththab Rodhiallahu ‘anhu berkata, “saya mendengar rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Dulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan kemudian mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka merekapun masuk kedalamnya. Kemudian tiba-tiba ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.
Salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebutkan amal-amal shalih yang pernah kalian perbuat.”
Salah seorang di antara mereka menimpali, “Wahai Allah saya mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta, saya biasa mendahulukan memberi susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya menemui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Karena saya mendapati mereka berdua telah tidur maka saya pun enggan untuk membangunkan mereka. Kemudian saya berjanji tidak akan memberi minum susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah bunda.
Saya menunggu ayah bunda, hingga terbit fajar barulah keduanya bangun sementara anak-anakku menangis, mereka mengelilingi kakiku. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman susu kepada keduanya. Wahai Allah jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan wajahMu maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.” Maka bergeserlah sedikit batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.
Yang lain berkata, ”Wahai Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai.” Pada riwayat yang lain dikatakan, “Saya sangat mencintainya sebagaimana lazimnya orang laki-laki mencintai seorang perempuan, kemudian saya ingin berbuat zina dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan kemudian datang kepada saya dan saya berikan kepadanya 120 dinar, dengan syarat ia harus mau bersebadan denganku, dan ia pun setuju.
Ketika saya menguasainya, pada riwayat lain dikatakan, kemudian ketika saya berada di antara kedua kakinya dia berkata, “Takutlah kamu kepada Allah dan jangan kau robekkan selaput daraku kecuali dengan cara yang benar.” Kemudian saya meninggalkannya, padahal dia adalah seseorang yang sangat saya cintai dan saya telah merelakan emas (dinar) yang saya berikan kepadanya. Wahai Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan ridhaMu, geserkanlah batu yang menutup gua ini.” Maka bergeserlah batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.
Orang yang ketiga berkata, “Wahai Allah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan semuanya saya gaji dengan sempurna kecuali ada seorang yang pergi, meninggalkan saya dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak.
Selang beberapa lama dia datang kepada saya dan berkata, “Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu.” Saya berkata, “Semua yang kamu lihat itu baik onta, sapi, kambing maupun budak yang menggembalakannya adalah gajimu.” Ia berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan saya.” Saya menjawab, “Saya tidak mempermainkan kamu.” Kemudian diapun mengambil semuanya dengan tidak meninggalkan sisa sedikitpun. Wahai Allah jika saya berbuat itu karena mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu itu.” Lalu batu itupun bergeser dan mereka bisa keluar dari dalam gua.”
(HR. Bukhari, no. 2272; Muslim, no. 2743; Ahmad, 2/116)
re_re
September 19, 2007, 07:06
Aqu senang bangen baca kisah2 istri rasulullah ini,
sebagai kaum hawa aku cemburu dan semapat menitikan air mata.
hu hu hu cukup terharu lo
AlfaOmega
September 19, 2007, 10:06
Semestinya, udah pernah nge baca dech :hehe
tapi asyik aja koq, utk menyegarkan ingatan + mengambil hikmah
SEBUAH CONTOH KETAATAN SEORANG MUSLIMAH TERHADAP KHALIFAH DIMASA KHALIFAH UMAR (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/sebuah-contoh-ketaatan-seorang-muslimah-terhadap-khalifah-dimasa-khalifah-umar.html)
Ibnul-Jauzy dalam bukunya Ahkamun-Nisa’ menuturkan, dari Abdullah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, “Saat aku bersama Umar bin Al-Khaththab Rodhiallahu ‘anhu yang saat itu sedang melakukan inspeksi di Madinah tiba-tiba dia merasakan kelelahan. Maka pada tengah malam itu, dia bersandar di samping sebuah dinding.
Tiba-tiba terdengar seorang wanita berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, ambillah susu itu dan campurilah ia dengan air biasa!”---Pada masa tersebut sebagian pedagang mencampur air susu dengan air, supaya mereka mendapat keuntungan yang lebih dari penjualan susu tersebut. Hal tersebut menyerupai pencampuran susu dengan air atau madu dengan air yang terjadi pada masa sekarang.---
Putrinya menjawab, “Wahai ibu, apakah ibu tidak tahu keputusan yang diambil Amirul-Mukminin pada hari ini?”
“Memangnya apa keputusan yang diambilnya wahai putriku?” tanya sang ibu.
“Dia memerintahkan seseorang untuk mengumumkan, bahwa air susu tidak boleh dicampur dengan air,” jawab putrinya.
“Wahai putriku, ambil saja susu itu dan campurilah ia dengan air. Toh saat ini kamu berada di suatu tempat yang tidak bisa dilihat Umar,” kata sang ibu.
Putrinya berkata, “Aku sama sekali tidak akan menaatinya saat ramai dan mendurhakainya saat sepi.”
Umar bisa mendengar itu semua. Setelah kembali kerumah, dia berkata, “Wahai Aslam, datangi lagi rumah itu dan selidikilah siapa wanita yang menjawab seperti itu dan siapa pula wanita tua yang menjadi lawan bicaranya. Adakah mereka mempunyai suami?”
Aslam menuturkan, “Lalu kudatangi rumah itu. Ternyata wanita yang memberikan jawaban seperti di atas masih gadis, dan wanita yang berbicara dengannya adalah ibunya, yang rumah itu tidak ada seorang laki-laki pun. Kudatangi Umar dan kukabarkan hal ini kepadanya.
Lalu dia memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka. Dia berkata, “Apakah diantara kalian ada yang membutuhkan seorang wanita untuk bisa kunikahkan dengannya? Andaikan ayah kalian ini masih berminat kepada seorang wanita, tentu kalian tidak akan bisa mendahuluinya untuk mendapatkan anak gadis ini.”
Abdullah berkata, “Aku sudah mempunyai seorang istri.”
Abdurrahman berkata, “Aku pun begitu.”
Ashim berkata, “Sedangkan aku belum memiliki istri, maka nikahkanlah aku dengannya!”
Umar mengirim utusan kepada gadis itu, lalu menikahkannya dengan ‘Ashim. Dari wanita itu lahir seorang putri yang bernama Ummu Ashim binti Ashim bin 'Umar bin 'l-Khothob. Kemudian Ummu 'Ashim dinikahi oleh 'Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam dan darinya lahirlah 'Umar bin Abdul Aziz.
Kisah ini memberikan kepada kita sebuah gambaran tentang sebuah ketakwaan yang lurus dan lapang. Baik saat terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, baik saat sendiri atau bersama dengan yang lain. Hal tersebut dikarenakan keyakinannya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersamanya, mendengar dan melihat setiap perbuatannya. Di antara pahala Allah yang langsung dirasakan wanita itu di dunia, Dia menganugerahi perkawinan yang penuh barakah, sehingga dari keturunannya lahir Al-Khulafa’ur-Rasyidin yang kelima, Umar bin Abdul Aziz.
Sumber: Syakhshiyyatul-Mar’ah Al-Muslimah Kama Yashughuhal-Islam Fil-Kitab Was-Sunnah
AlfaOmega
September 20, 2007, 15:39
KEJUJURAN MUBAROK (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/kejujuran-mubarok.html)
Dikisahkan dari Mubarok -ayahanda dari Abdulloh Ibnu al-Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar clari Hamdzan- datang kepadanya clan mengatakan, "Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis."
Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon clan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, "Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!"
Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, "Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam?"
Mubarok menjawab. "Tidak."
"Bagaimana bisa seperti itu?"
"Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya."
"Kenapa engkau tidak mau memakannya?" tanya majikannya lagi.
"Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini." Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu ..
Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?"
"Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putrid-*putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang X menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama." Jawab Mubarok.
Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, "Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok."
Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin 'Iyadh Rohimahullah mengatakan -seraya bersumpah dalam perkataannya-, "Demi pemilik Ka'bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok.
Hari ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan sebagian orang. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi dipercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu.
Kalau akibat dari sebuah, perbuatan maksiat itu sudah maklum dan pasti di akhirat kelak, maka tempat kembalinya ketika di dunia lebih dekat lagi.
AlfaOmega
September 21, 2007, 10:11
Berapa lama Kita dikubur?
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...
Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?
Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya
Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...
"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."
AlfaOmega
September 22, 2007, 15:01
Sifat malu Wanita di Masa Musa 'Alaihissalam (http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/sifat-malu-wanita-di-masa-musa-alaihissalam.html)
Pada kisah kali ini, kita akan membicarakan sifat malu yang ada pada diri wanita-wanita di masa nabi Musa 'alaihissalam. Semoga para akhwat (wanita) dapat belajar dengannya. Mari kita buka mushaf Al-Qur'an, QS. Al-Qashash [28]: 23-24. Didalamnya terkandung firman Allah yang artinya:
"Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambatnya. Musa berkata 'Apakah maksudmu dengan berbuat begitu?' Kedua wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumkan ternak kami, sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya, sedang bapak kami adalah orang tua yang sudah lanjut umurnya.' Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya."
Perhatikanlah! bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakkan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Lalu bagaimanakah dengan kaum wanita zaman sekarang?!
Tidak hanya sampai disitu kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut, lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa 'Alaihissalam; Lanjutkan membaca QS. Al-Qashash [28]:25, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, 'Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami."
Ayat ini menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiallahu 'anhu mengatakan terkait ayat diatas: "Gadis itu menemui Musa 'alaihissalam dengan pakaian yang tertutup rapat." (Tafsir Ibnu Katsir, 3/360)
AlfaOmega
September 24, 2007, 13:16
Sang murid menjawab "ini dia yang mulia".
Belah dualah itu
Sudah terbelah yang mulia
Apakah yang kamu lihat?
Saya melihat biji yang amat kecil
Belah dualah salah satu dari padanya
Dia sudah terbelah yang mulia
Apakah yang kamu lihat di dalamnya?
Tidak ada sesuatu apapun yang mulia
Sang guru berkata Yang halus, ialah Hidup
Yang tak tampak olehmu itulah yang sebenarnya lebih tampak
Dari yang halus itulah sebenarnya yang ada
Yang daripadanya sekalian ini terjadi
Itulah kenyataan yang sejati
Pandanglah dengan keheningan hakikat
Engkau akan melihat biji itu tumbuh bergerak menjadi besar.
Sel-sel tersusun
Menjadi akar
Menjadi batang
Menjadi ranting
Menjadi daun
Menjadi bunga
Menjadi buah
Lalu mati, terurai menjadi zat-zat yang tergabung dengan alam sekitarnya.
Itulah zarrah atau atom-atom yang bergerak mengikuti Yang Hidup dan Yang Abadi
Yang menggerakkan segala sesuatu, menumbuhkan dan mematikan.
Engkau akan melihat kenyataan sebenarnya, bahwa segala materi hanyalah mengikuti gerak, sehingga ia hidup.
Apabila engkau mengabaikan (menafikan) kenyataan alam ini, maka engkau telah melihat yang Bathin itu menjadi Zhahir. Yang Hidup itu Meliputi Segala Sesuatu.., Dia Lebih Nyata dari segala alam.
Sumber : Berguru Kepada Allah buah karya Abu Sangkan, hal. 168.
AlfaOmega
September 25, 2007, 13:03
Agar Wajah Mayat Kita Tidak Dipalingkan (http://www.mediamuslim.info/al-kisah/agar-wajah-mayat-kita-tidak-dipalingkan.html)
Ishaq Al-Fazary (wafat pada 188 H), seorang ulama besar yang pernah belajar pada Al-Auza'i, bercerita, " Dulu ada seorang laki-laki yang sering duduk bersamaku dengan sebagian wajahnya yang tertutup oleh cadar (penutup wajah dari kain yang sering digunakan oleh wanita muslimah untuk menutup wajahnya)
Kepada laki-laki itu aku lalu berkata, 'Kamu sering duduk bersamaku, tapi mengapa kamu masih tetap saja mengenakan cadar ? Tolong perlihatkan wajahmu itu padaku !'
'Bersediakah kamu memberikan jaminan keamanan kepadaku ?' pinta laki-laki itu.
'Ya,' jawabku singkat.
'Dulu aku adalah seorang penggali kubur, lalu ada seorang wanita yang dimakamkan di suatu pemakaman. Aku lalu datang ke pemakaman itu dan membongkarnya. Saat menggali makamnya, alat yang kupakai mengenai sebuah batu bata, lalu kuangkat dan kutaaruh di atas kain selendang. Selanjutnya batu bata itu kupindahkan ke atas kain kafan yang sudah kubentangkan sebelumnya. Aku kemudian membentangkan kain kafan itu lagi seraya berkata pada diri sendiri, 'Apakah kamu berpendapat, bahwa mayat wanita itu mampu mengalahkan dirimu ?' Setelah berkata demikian, aku pun berlutut dan menyelonjorkan kaki, kemudian kuangkat tangan mayat wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba mayat wanita itu menampar wajahku,' kata laki-laki itu kepadaku.
Sejenak kemudian dibukalah cadar penutup wahjahnya, dan ternyata di wajahnya terdapat bekas tamparan tangan mayat wanita yang telah diceritakannya kepadaku
Aku kemudian bertanya, 'Lalu, bagaimana cerita selanjutnya ?'
'Aku pun menutup kain sarung dan kafannya, juga mengembalikan tanah timbunannya kembali. Setelah itu, aku lantas bersumpah kepada diriku sendiri, bahwa selamanya aku tidak akan bekerja sebagai penggali kubur lagi,' kata si laki-laki tadi"
Salah satu periwayat kisah ini berkata, "Aku lalu berkirim surat kepada Al-Auza'i guna memberitahukan hal tersebut dan Al-Auza'i membalas suratku itu sebagai berikut: ' Tanyakan saja kepadanya tentang seorang ahli tauhid (maksudnya adalah orang-orang Islam-pen) yang telah wafat dan (ketika dimakamkan) mukanya menghadap ke kiblat, apakah mukanya dipalingkan atau dibiarkan menghadap kiblat?'
Kemudian seorang penulis datang kepadaku, dan aku pun bertanya kepadanya, 'Tolong ceritakan kepadaku tentang orang-orang Islam yang meninggal dunia. Adakah wajah mereka tetap seperti sediakala (menghadap ke kiblat) atau bagaimana ?'
'Mayoritas wajah mereka dipalingkan dari kiblat,' jawabnya singkat.
Mengenai hal itu aku pun berkirim surat kembali kepada Al-Auza'i dan beliau membalasnya, ' Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan sesungguhnya kepadaNyalah kita kembali )! (sebanyak 3 kali). Adapun orang yang wajahnya dipalingkan dari kiblat, maka dia meninggal dalam keadaan tidak berpegang teguh dengan sunnah Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam.'."
Dari kisah nyata di atas, dapat kita ambil suatu pelajaran, yaitu orang-orang Islam yang tidak berpegang teguh dengan sunnah Nabi Shallaallaahu 'alaihi wa sallam akan diberi hukuman di dalam kubur, yaitu wajahnya akan berpaling (menoleh) dari arah kiblat, padahal ketika dikubur wajah seorang muslim pasti dihadapkan ke kiblat dulu. Itu hukuman di dalam kubur yang bisa kita lihat, belum lagi yang tidak terlihat, belum lagi yang menanti di neraka nanti.
Lalu bagaimana agar hal itu tak terjadi pada kita? Lalu apakah sunnah Nabi itu? Apakah sunnah itu adalah suatu perkara agama yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa? Jika begitu, kenapa dikatakan oleh Imam Al-Auza'i bahwa orang yang meninggalkan sunnah Nabi mendapat hukuman dipalingkan wajahnya dari arah kiblat? Bukankah seharusnya tidak mendapatkan hukuman jika meninggalkan perkara sunnah ?
Sunnah yang dimaksudkan di sini adalah As-Sunnah yang biasa disebut-sebut oleh ulama hadits. Menurut ahli hadits, As-Sunnah adalah segala hal yang berasal dari Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam baik berupa ucapan, pekerjaan, keyakinan, persetujuan, atau sifat akhlak & jasmani beliau yang beliau bawa sebagai syari'at terhadap ummatnya. Dan hal tersebut (As-Sunnah) lebih kita kenal sebagai Al-Hadits.
Penamaan Al-Hadits dengan As-Sunnah pun telah diberikan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam, misalnya dalam hadits yang artinya: " Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnahku..." (HR: Hakim dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami':2937),
"Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidiin, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham..." (HR: At-Tirmidzy, Abu Daud, dan Ahmad dari 'Irbadl bin Sariyah)
Maka jika As-Sunnah dalam hadits-hadits tersebut diartikan sebagai amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa -sebagaimana rumusan ulama fiqh- akan tidak pas. Karena Nabi sendiri mewajibkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah tersebut, bukan hanya menganjurkan saja untuk kemudian jika dilakukan dapat pahala dan jika tidak dilakukan tidak berdosa. Jadi kesimpulannya berpegang teguh dengan As-Sunnah (Al-Hadits) adalah suatu kewajiban bagi kita yang tidak bisa diremehkan.
Alloh Ta a'la sendiri pun telah mewajibkan kita untuk selalu mengikuti segala hal pada diri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam, misalnya firman Alloh yang artinya: " Dan apa saja (segala hal) yang datang dari Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa saja (segala hal ) yang dia larang maka tinggalkanlah" (QS: Al-Hasyr: 7)
" Dan ta'atlah kalian kepada Allah dan kepada Rasul agar kalian dirahmati (olehNya)" (QS: Ali-'Imraan: 132).
Dan Alloh pun telah mengancam orang-orang yang menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam firmannya yang artinya: " Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyimpang dari perkaranya (Rasulullah), (bahwa mereka) akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang sangat pedih " (QS: An-Nuur : 63 ).
Maka marilah kita mulai sekarang untuk berpegang teguh dengan sunnah Rasululloh shallallaahu 'alaihi wa sallam, mulailah dari mempelajarinya, kemudian menerapkannya pada diri sendiri, keluarga, dan kemudian mendakwahkannya. Mulailah dari hal-hal yang bisa kita lakukan, misalnya dari cara makan beliau, cara tidur beliau, cara bergaul, cara berpakaian, cara wudhu, cara sholat hingga seluruh gerak kehidupan kita terwarnai oleh sunnah Rasululloh shallaallaahu 'alaihi wa sallam.
Dan jangan sampai kita menyimpang dari jalan hidup beliau, yang akhirnya kita akan mendapat cobaan atau azab yang sangat pedih, yang salah satu bentuk cobaan tersebut telah muncul pada zaman Imam Al-Auza'i, yaitu wajah mayat orang Islam yang tidak berpegang teguh dengan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dipalingkan dari arah kiblat. Na'uudzubillaahi min dzaalik (Kita berlindung kepada Alloh dari hal tersebut). Wallaahu a'lam.
Penulis: Al-Akhi Suparlin Abdurrahman
AlfaOmega
September 26, 2007, 12:34
Kisah Sesendok Madu
Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warga kotanya.
Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan
membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan
di puncak bukit di tengah kota.
Seluruh warga kota memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan
mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi, dalam pikiran seorang warga kota, Fulan; terlintas cara untuk mengelak
perintah tersebut.
"Aku akan membawa sesendok penuh, tapi bukan madu. Aku akan membawa air.
Kegelapan malam akan melindungiku dari pandangan mata orang lain. Sesendok air
tidak
akan mempengaruhi isi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga
kota."
Tibalah waktu yang ditetapkan. Apa kemudian yang terjadi?
Bejana itu ternyata seluruhnya berisi penuh dengan air!
Rupanya seluruh warga kota berpikiran sama dengan si Fulan.
Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri
dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini sering terjadi dalam berbagai kehidupan masyarakat.
Idealnya memang bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai
dengan
pembuktian yang nyata, baru kemudian melibatkan pengikut-pengikutnya.
Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai
dengan
pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS Yuusuf;
12:108)
Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu
sendiri,
dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS An
Nisaa'; 4:84)
Perhatikanlah kata-kata : "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri".
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian
susulkanlah keluargamu"
Setiap orang menurut Beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya. Berarti setiap orang harus harus tampil terlebih dulu.
Sikap mental yang seperti ini akan menyebabkan bejana sang raja akan penuh
dengan
madu, bukan air, apalagi racun.
( Sumber: Lentera Hati, M Quraish Shihab )
---------------------------------------------------------
dari milis DT
AlfaOmega
September 27, 2007, 11:09
Suatu hari, Nabi Muhammad saw didatangi Abdullah, putra Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah. Dengan wajah sedih, sahabat yang selalu bertentangan dengan ayahnya itu, menceritakan bahwa Abdulah bin Ubay sedang sakit keras. Sang ayah dan menginginkan Rasulullah saw supaya bersedia menjenguknya.
Rasulullah tidak keberatan. Beliau menjenguk rumah dedengkot para pengkhianat yang sangat licik itu. Tiba-tiba, melihat Nabi Muhammad saw berada di dekatnya, Abdullah bin Ubay memelas kepada Nabi Muhammad untuk melepas jubahnya dan menyelimutkannya ke tubuhnya yang tengah meregang menghadapi maut.
Umar bin Khaththab yang saat itu hadir menemani Nabi, memberi isyarat agar Rasulullah saw menolak dan tidak memenuhi keinginan Abdullah bin Ubay. Tapi Nabi Muhammad saw tidak menuruti apa yang diinginkan Umar. Nabi Muhammad saw segera melepas jubahnya dan menutupkannya ke tubuh Abdullah bin Ubay. Keinginan Abdullah bin Ubay terlaksana: meninggal dunia dengan berselimutkan jubah Nabi Muhammad saw.
Tentu saja Umar bin Khaththab merasa penasaran dan heran. Sepulang dari rumah Abdullah bin Ubay, Umar bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, saya tidak habis pikir dengan sikapmu. Saya betul-betul tidak mengerti. Bukankah Abdullah bin Ubay adalah musuh besarmu, dan juga musuh besar umat Islam?
Nabi mengangguk, “Ya betul.”
“Tapi alangkah beruntungnya Abdullah bin Ubay, dapat mati dengan berselimutkan jubahmu. Padahal kami para sahabatmu yang setia, yang senantiasa mendampingimu, belum tentu mendapatkan nasib sebaik itu?”.
Nabi tersenyum dan menjawab, “Sahabatku Umar. Engkau jangan berpikiran sempit. Memang Abdullah bin Ubay meninggal dunia dengan berselimutkan jubahku. Namun ketahuilah, Abdullah bin Ubay takkan selamat karena memakai jubahku. Sebab jubahku takkan menyelamatkan siapa-siapa. Manusia hanya akan selamat karena iman dan amal shalihnya.”
Mendengar penjelasan Nabi, Umar pun tersenyum.
sumber (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=503)
AlfaOmega
September 30, 2007, 10:30
Si Tuli
Di khurasan ada seorang ulama besar bernama Khatim bin Alwan. Muridnya banyak,
pengaruhnya luas & ilmunya tinggi. Tetapi, di tengah masyarakat ia memperoleh
julukan Al-Asham atau si tuli. Anehnya, julukan yg biasanya utk merendahkan itu
buat Imam Khatim bin Alwan justru merupakan gelar kehormatan yg mengabdikan
akhlak terpujinya shg ia dihargai oleh umat manusia sepanjang masa.
Gelar buruk namun terhormat itu didapatkan oleh beliau ketika pada suatu saat
seorang gadis cantik keturunan bangsawan datang ke tempat ia biasa memberikan
pelajaran yg juga merupakan tempat penyimpanan ratusan kitab-kitabnya. Gadis itu
bermaksud menyakan suatu masalah yg dibutuhkan jawabannya dng segera.
Ketika sudah dipersilakan masuk, tiba-tiba gadis itu terlepas kentutnya,
walaupun pelan tp terdengar nyaring. Imam Khatim terkejut. Baru sekali ini ia
mendengar orang kentut di mukanya, apalagi seorang gadis. Si gadis, begitu
mendengar kentutnya sendiri, betapapun pelan suaranya, mendadak merah padam
wajahnya lantaran malu sekali. Apalagi yg dihadapinya seorang ulama besar yg
dihormati oleh segenap lapisan masyarakat, termasuk raja & pembesar kerajaan.
Namun, alangkah leganya gadis itu tatkala Imam Khatim bertanya dng suara keras.
"Coba ulangi, apa keperluanmu?" Dengan lantang gadis itu menyakan suatu masalah
yg sedang dialaminya. Sudah keras sekali suaranya. Imam Khatim sebenarnya bukan
tidak mendengar. Bunyi jarum jatuhpun telinganya masih dpt menangkap. Tetapi
Imam Khatim masih juga berteriak nyaring, "Lebih keras lagi suaramu. Aku tdk
mendengar. Apa kamu tdk tahu, aku ini sejak seminggu yg lalu menjadi budek,
pekak, akibat demam panas?" Mendengar pengkuan Imam Khatim tsb, si gadis makin
bersinar wajahnya. Sebab ia berpikir, kalau suaranya yg sudah amat keras saja
Imam Khatim tdk bisa mendengarnya, apalagi bunyi kentutnya yg halus sekali,
pasti Imam Khatim juga tdk mendengarnya.
Maka sejak itu Imam Khatim terpaksa bersandiwara pura-pura tuli selama si gadis
masih hidup & tinggal di kota yg sama. Itulah sebabnya ia tersohor dengan gelar
kebesaran, Al-Asham atau si tuli.
AlfaOmega
October 01, 2007, 15:49
Sabili No. 8 Th. XI
Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin Ali berangkat ke kebunnya yang dijaga seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya.
Ketika tiba di kebun, Husain melihat budaknya sedang duduk istirahat di bawah sebatang pohon sambil makan roti. Ia juga melihat seekor anjing sedang duduk di hadapan Shafi sedang menikmati makannya juga. Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi 2. Yang separuh dimakannya sendiri, sedang separuhnya diberikan kepada anjing. Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing-masing, Shafi berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, "Alhamdulillah robbil 'alamin. Ya Allah, berikanlah maaf dan ampun-Mu kepadaku dan kepada tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat yang luas dan belas kasih-Mu ya Rabbal 'Alamin."
Husain menyaksikan semua itu. Mendengar kata-kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat menahan dirinya. Ia memanggil, "Ya, Shafi..." Shafi kaget mendengar panggilan tuannya. Sambil meloncat gugup ia menjawab, "Aduh tuanku! Maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar tidak melihatmu." Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan tuannya. Tetapi sambil mendekati Shafi Husain berkata, "Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf padamu. Sebab aku memasuki kebunmu tanpa izin lebih dahulu."
"Kenapa tuan mengatakan demikian," kata Shafi dengan rikuh.
"Sudahlah, jangan kita persoalkan lagi masalah itu. Hanya aku ingin mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu?" tanya Husain penuh penasaran.
Dengan malu Shafi menjawab, "Maklumlah tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan dan dia turut menjaga kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan ini. Karena itu, rezeki dari tuan sudah selayaknya kubagi dengan anjing ini."
Mendengar penjelasan Shafi, Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan suara parau, Husain berkata, "Wahai Shafi, saat ini juga engkau bebas dari perbudakan. Terimalah dua ribu dinar sebagai pemberian dariku dengan penuh keikhlasan."
"Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua ribu dinar tersebut. Ia seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Namun Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil menyerahkan uang tersebut.
sumber (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=197)
AlfaOmega
October 02, 2007, 13:48
Imam Ar Razi, ahli tafsir terkemuka (w.604), ketika menafsirkan ayat " al rahamaan al rahiim "(QS:1:3), menyebutkan dua kisah yang sangat mengesankan dan menunjukkan betapa Allah SWT, maha Pengasih dan maha Penyayang :
Kisah pertama, adalah pengalaman orang saleh bernama Ibrahim bin Adham.
Dikisahkan bahwa suatu hari Ibrahim bin Adham menamu pada suatu kaum. Kaum itu menyambutnya dengan senang hati. Kapadanya mereka menyuguhi makanan yang enak. Tapi ketika Ibrahim hendak mulai menikmatinya tiba-tiba datang seekor burung gagak mengambil makanan tersebut. Ibrahim segera melihat bahwa pasti ada suatu yang aneh dari tindakan burung itu. Ibrahim seketika bangkit dan mengikuti kemana arah burung itu terbang. Tak beberapa jauh dari pandangan Ibrahim, gagak itu nampak menjatuhkan makanan yang dibawanya ke suatu tempat. Ibrahim mendekati arah jatuhnya makanan. Setibanya di tempat yang ia tuju, Ibrahim ternyata menyaksikan seorang yang sedang diikat dalam keadaan telentang di bawah rindang sebuah pohon. Dan ternyata makanan yang dilemparkan burung gagak itu langsung jatuh tepat ke mulutnya. Ibrahim segera mengagungkan Allah, yang telah menyelamatkan hambanya, yang sangat tak berdaya, di mana secara akal ia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya.
Namun karena Allah menghendakinya, Allah kirimkan gagak sebagai salah satu tentaraNya utunk membantunya.
Kisah kedua, terjadi pada seorang saleh bernama Dzin Nun. Simaklah Dzin Nun bercerita : " Suatu hari saya gelisah diam di rumah. Saya mencoba keluar.
Entah kemana arah yang saya tuju. Saya ikuti gerak langkah kaki tanpa sebuah kepastian. Kok tiba-tiba saya terdampar di tepi sungai Niel. Di sana saya lalu menyaksikan seekor Kalajengking yang begitu besar dan kekar. Ia berjalan dengan cepat menuju sungai Niel. Saya ikuti arah jalannya. Dan ternyata di tepi sungai itu sudah ada seekor kodok yang nampak sedang menunggunya. Kalajengking tersebut langsung melompat ke punggung kodok itu.
Dan kodok segera membawanya ke arah tepi sungai yang lain. Saya segera mengambil perahau kecil dan berangkat menuju ke arah yang dituju kedua binatang itu. Setibanya di tepi sungai, Kalajengking segera melompat kedaratan dan bergerak menuju ke arah tertentu. Pandangan saya terus terkonsentrasi mengikutinya. Di arah yang sama saya melihat seorang anak muda yang sedang tidur di bawah pohon. Pun saya melihat seekor ular yang sedang mendekati untuk menyambarnya. Kelajengking nampaknya bergegas menuju ke sana. Tak lama kemudian saya melihat sebuah pertarungan yang sengit antara Kalajengking dan ular itu. Pertarungan yang cukup lama membuat keduanya sama-sama mati. Dan anak muda selamat dari sambaran ular".
(Mafaatiihul Ghaib, oleh Imam Ar Razi, Jilid:1,hal:237)
Maha suci Allah yang telah mengutus seekor Kalajengking dan seekor kodok untuk menyelamatkan hambaNya yang tak berdaya.
Dalam keseharian hidup - disadari atau tidak - kita sering mengalami pertolongan Allah, terutama saat kita berada dalam posisi yang sangat sulit.
Kita sering dimanja dengan kasih sayangNya. Tapi kita sering melupakannya.
Bahkan kita sering menganggap bahwa keberhasilan yang kita capai itu karena kehebatan kita. Akibatn ya kita sering sombong dengan nikmat-nikmat yang sebenarnya hanyalah karunia Allah SWT. Akibatnya lagi, kita begitu mudah melanggar hukum-hukumNya, dengan berbagai alasan yang kita bikin sendiri.
Dr. Amir Faishol Fath.
(sumber (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=179) = milist sabili)
AlfaOmega
October 03, 2007, 14:47
Tetangga di syurga (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=507)
Abu Yazid al-Bustami adalah orang yang dikenal rajin bermunajat pada Allah. Hatinya senang, pikirannya seolah-olah melayang sampai ke Arsy. “Aku berharap kelak menjadi tetangga Rasulullah saw di surga,” bisik hati kecilnya. Ketika ia tersadar dari khayalannya, tiba-tiba terdengar suara menyeru
“Ada seorang hamba yang kelak akan menjadi tetanggamu di surga. la tinggal di negeri ini,” kata suara itu.
Terdorong hatinya untuk mencari sahabatnya yang kelak menjadi tetangganya di surga itu. Ketika akan menjumpai orang itu, seorang lelaki menasihatinya, “Mengapa engkau mencari orang fasiq dan peminum arak itu. Padahal, dari tanda-tanda di dahimu kau orang shalih,” ujarnya.
Mendengar nasihat itu, Yazid jadi termangu. “Jika demikian, suara yang menyuruhku itu setan. Mengapa aku harus menurutinya?" bisik hatinya.
“Di mana tempat orang itu?” tanya Yazid
“Dia sekarang sedang mabuk-mabukan di tempat ini,” ujar lelaki itu seraya menunjuk ke sebuah tempat.
Abu Yazid menemui orang yang disebutkan itu. Benar. Di tempat itu ia melihat 40 orang laki-laki sedang mabuk-mabukan. Sementara yang dicarinya tampak duduk di antara mereka. Abu Yazid cepat membalikkan kaki hendak meninggalkan mereka. la merasa kesal dan putus asa. Tetapi seorang memanggilnya.
“Hai Abu Yazid, mengapa engkau tidak masuk rumah ini. Bukankah engkau jauh-jauh datang kemari karena ingin menemuiku?Bukankah kau mencari tetanggamu di surga?" tanya lelaki itu.
Mendengar ucapan orang itu, hati Abu Yazid jadi masygul. Ia tak habis pikir bagaimana orang itu bisa mengetahui maksud kedatangannya, padahal ia belum menyampaikan isi hatinya.
Dengan sedikit ragu Abu Yazid menurutinya masuk ke rumah dan duduk di antara mereka yang sedang mabuk-mabukkan. “Hai Abu Yazid, masuk surga jangan cuma ingin enak sendiri. Itu bukan sifat utama seorang lelaki sepertimu. Dulu ada 80 orang fasiq yang suka mabuk-mabukkan seperti yang engkau lihat saat ini. Kemudian aku berusaha mendekati mereka agar bisa menjadi tetanggaku di surga,”
Kemudian Abu Yazid diperkenalkan kepada 40 orang yang sedang mabuk-mabuk itu. Dengan dakwah dan pembinaan khusus, akhirnya 40 orang itu sadar dan bertaubat. Mereka itulah tetangga Abu Yazid di surga.
AlfaOmega
October 04, 2007, 15:48
Sabili No.25 Th.VIII
"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah.
"Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.
Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.
Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.
Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."
Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan.
"Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.
Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.
Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.
"Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.
Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir."
"Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?"
"Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."
Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."
Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.
sumber (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=80)
AlfaOmega
October 06, 2007, 18:28
Masrukhul Amri (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=223)
www.manajemenqolbu.com - Suatu ketika, Rasulullah saw kedatangan seorang tamu ibnu sabil yang kehabisan bekal. Karena di rumahnya tidak ada sesuatu yang layak untuk diberikan, maka nabi meminta tolong sahabat Bilal agar mengantar tamu itu ke rumah Fatimah.
Di rumah putri kesayangan nabi itu, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak
dimakan. Maka dengan hati tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah
pernikahannya dengan Ali. “Ambillah kalung ini dan juallah! Mudah-mudahan harganya cukup memenuhi keperluanmu!” kata Fatimah.
“Berapa hendak kamu jual kalung itu?” tanya Ammar bin Yasir.
“Aku akan menjualnya dengan tukaran roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku,” kata si tamu.
Ammar berkata, “Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar kamu dapat menemui istrimu.”
Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya, Asham. “Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. Katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga kamu kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi, tetapi budak Rasulullah.”
Ternyata Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.
Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekadar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari Allah swt, yaitu dengan ditambah seorang budak.
Lalu Fatimah berkata kepada Asham, “Wahai Asham, kamu sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena Allah swt semata.”
“Mengapa kamu tertawa seperti itu,” tanya Fatimah yang merasa heran melihat Asham tertawa terbahak-bahak.
“Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung yang beriwayat ini. Ia telah mengenyangkan orang yang lapar. Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang. Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak,” jawab Asham.
Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan, maka bantulah orang yang sedang kesulitan.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya)
AlfaOmega
October 08, 2007, 11:26
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya
Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan
Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.
Maka ketika Roh Meninggalkan
Jasad...Terdengarlah Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah
Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te rkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"
Ketika Mayat Siap Dikafan...Suara Dari Langit Terdengar Memekik,"Wahai Fulan
Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."
Ketika MayatDiusung.... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak
Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."
Ketika Mayat Siap Dishalatkan....Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai
Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."
Ketika MayatDibaringkan Di Liang Lahat....terdengar Suara Memekik Dari
Langit,"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang
Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."
Ketika SemuaManusia Meninggalkannya Sendirian....Allah Berkata Kepadanya, "Wahai
Hamba-Ku.....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku
Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".
Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan
dalam sebuah hadisthnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha",
artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!
Ali Iskandar
October 08, 2007, 16:42
Asalamualaikum...
Bagi ku, bermula fikir agama adalah dengan memikirkan hal mati. Hingga terkadang aku rasa, kita hidup adalah utk persiapan mati. Dan udh tentu persiapan mati jauh lebih buuunyak dari persiapan utk hidup, kerena selepas mati, kita akan di hidupkan kembali dan bakal hidup selama2nya. Jadi, kita butuh bekalan iman dan amal yg sangat banyak.
Fikir mati di dalam nya ada 3;
1. Cara mati (ini ditentukan oleh cara hidup. Sebab cara hidup sesorang lah yg menentukan cara matinya. Utk mati cara Islam, maka hiduplah cara Islam)
2. Saat Mati (Roh ada dlm badan. Kalau saatnya udh tiba dan roh dipanggil ama Allah, roh itu harus segera keluar dari tubuhnya menuju kehadrat Allah swt. Kalau nga juga keluar2 gara ga mau keluar atau ga ketemu jalan keluar, maka malaikat Izrael lah yg akan "bantu" keluariiin. Kalau sehingga hal ini terjadi, maka inilah episode hidup kita yg paling ga enak. Pencabutan nyawa kita akan berlaku secara paksa dgn begitu trajiiis sekali. Dengan sekali rengut, maka terpisahlah roh dari badan kita yg sakitnya ga bs di tulis atau di gmbarkan dgn apa pun di dunia ini).
3. Selepas mati (lalu dikuburlah. Kalau kuburnya itu salah satu dari taman2 syurga, maka berbahgialah dia utk selama2nya. Tetapi kalau kubur itu merupakan salah satu dari lobang2 neraka, maka celaka lah dia)
------
Jadi, artikel kiriman Alfa ini pas bgt utk dijadikan referensi fikir mati tersebut. Supaya dpt kita merencana dan berusaha menjauhi segala bentuk kejahatan dan keburukan selepas kita tinggalkan dunia ini menuju kubur dan akhirat yg kekal abadi.
Makasih alfa.
AlfaOmega
October 09, 2007, 16:33
Memberi Satu Dirham, Allah Memberinya ............... (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=404)
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, "Seorang laki-laki menceritakan kepadaku, 'Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang pun memberi tahunya bahwa mereka bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia memberikan uang satu dirham itu kepada keduanya, dan ia tidak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi istrinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang istri lalu mengumpulkan beberapa perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, 'Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang aku bawa. Apakah engkau mau menukarnya dengan barangku (daganganku)?' Ia pun mengiakan. Ikan itu lalu di bawa pulang. Kepada istrinya ia berkata, 'Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tidak berdaya karena lapar.' Maka, sang istri segera mengurus ikan tersebut. Lalu, dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.
Wanita itu pun dengan gembira berkata, 'Wahai suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil dari telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara'.
Suaminya berkata, 'Perlihatkan kepadaku,' maka ia sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada istrinya, 'Saya kira ini mutiara'. Istrinya menyahut, 'Tahukan engkau berapa nilai mutiara ini?' 'Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini,' jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepada kawannya, dan kawannya pun menjawab salamnya. Selanjutnya, ia berbicara kepadanya sambil mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. 'Tahukah Anda, berapa nilai ini?' tanyanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, 'Aku menghargainya 40 ribu, jika Anda mau uang itu, aku bayar kontan sekarang juga; jika Anda ingin harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku.'
Ia pun pergi kepada orang yang dimaksud. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, 'Aku hargai 80 ribu, jika Anda ingin harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku.'
Segera ia bergegas menuju kepada orang yang dimaksud. Orang itu berkata, 'Aku hargai barang itu 120 ribu, dan saya kira tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu.' 'Ya', ia pun setuju. Lalu, harta itu ditimbangnya. Maka, pada hari itu ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat sepuluh ribu dirham. Uang itu pun dibawa ke rumah untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, 'Saya punya kisah, karena itu masuklah.' Orang itu pun masuk. Ia berkata, 'Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, 'Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah SWT telah mengutusku kepadamu, yakni Zat yang telah mengganti satu dirhammu dengan dua puluh qirath. Dan, ini yang diberikan kepadamu baru satu Qirath dari padanya, dan Dia menyimpan untukmu sembilan belas qirath yang lain.
Sumber: "1001 Kisah-Kisah Nyata", Achmad Sunarto.
AlfaOmega
October 10, 2007, 16:28
Menikahi wanita jelata (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=356)
Suatu hari seorang gubernur di zaman Khalifah al-Mahdi mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar di hadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu, kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah buruk.
Dengan keheranan sang gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti mereka?” Janda bermuka buruk itu menjawab, “Yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bekal akhirat.”
“Maksudmu?” tanya sang gubernur tertarik. “Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu shalat, puasa, dan dzikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding pengembaraan di akhirat yang panjang.”
Dengan jawaban itu gubernur merasa disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan malaikat Izrail sudah mengintainya.
Akhirnya sang gubernur jatuh cinta dengan perempuan itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang tak habir pikir, bagaimana gubernur bisa menaruh hati pada perempuan jelata yang buruk rupa. Suatu ketika, gubernur mengundang mereka dalam sebuah pesta mewah. Kepada mereka diberikan gelas kristal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintahkan agar membanting gelas masing-masing. Semuanya terbengong dan tak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, pertanda ada yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan buruk rupa. Di kakinya pecahan gelas berhamburan. Semua orang tampak terkejut.
“Mengapa kau banting gelas itu?” tanya sang gubernur. Tanpa takut wanita itu menjawab, “Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkuranglah kekayaan tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa tuan berkurang lantaran perintah tuan tidak dipatuhi.”
Gubernur terkesima, para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.
“Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan tuan adalah penguasa. Dengan segala resikonya saya laksanakan perintah tuan.”
Gubernur kian takjub.
“Ketiga,” lanjut wanita itu, “Dengan memecah gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun itu lebih baik. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah gubernurnya, yang berarti saya telah berbuat durhaka.”
Ketika gubernur menikahi wanita itu, semua yang mendengar sangat gembira. Gubernur memperoleh jodoh wanita yang tak saja taat pada suami, tetapi taat juga kepada gubernurnya, kepada utusan-Nya, dan kepada Tuhannya.
[Sabili, No. 26 Th. XI]
AlfaOmega
October 11, 2007, 11:31
Di zaman Imam Ahmad, sekelompok orang penganut paham atheis berusaha mengacaukan keimanan umat perihal adanya tuhan. Dengan dukungan argumentasi dan logika yang kuat, mereka berhasil memutarbalikkan fakta. Kata mereka, alam semesta terjadi dengan proses sendirinya. Tanpa campur tangan Zat Maha Tinggi (Allah). Alhasil manusia tidak perlu menyembah Tuhan, sesuatu yang sebenarnya tidak ada, begitu nalar mereka
Sudah banyak ulama yang berusaha meluruskan dengan cara mendebatnya. Tapi pendapat kaum atheis ini belum jua terkalahkan. Bahkan mereka semakin congkak dengan keingkarannya.
Hingga datang tantangan berdebat dari seorang alim yang sangat sederhana yang tak lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Penampilannya sekilas tak menunjukkan bahwa ia seorang ulama yang berilmu tinggi, namun kaum atheis tetap bersedia menerima tantangan berdebat. Syaratnya harus diselenggarakan pada forum terbuka, dihadiri banyak orang. Dipilihlah waktu dan tempat yang disetujui bersama.
Pada hari H, Imam Ahmad datang terlambat. Tentu saja ia dicaci maki oleh kelompok atheis dan penonton yang kesal menunggu.
”Sabar, sabar beri aku kesempatan menjelaskan sebab keterlambatan ini,” ujarnya tenang.
Walau masih menggerutu, mereka menahan suara.
”Begini, perlu kalian ketahui bahwa saya tinggal di pinggiran kota. Antara kita dipisahkan sebuah sungai yang cukup lebar. Nah, ketika hendak kemari saya tidak mendapatkan kapal untuk menyeberang. Itu sebabnya saya terlambat datang.”
”Bagaimana Anda bisa tiba kemari kalau tidak mendapatkan perahu?” tanya mereka heran.
”Sungguh ajaib,” sahut Imam Ahmad.
”Tiba-tiba selembar papan hanyut terapung-apung dan dengan sendirinya berhenti persis di depanku. Kemudian disusul oleh papan-papan lain yang juga hanyut lalu bergabung dengan papan pertama. Lantas tiba-tiba saja ada seutas tali. Papan-papan dan tali itu merakit diri dengan sendirinya oleh arus air, sehingga menjadi sampan yang tahan dari kemasukan air. Nah sampan kecil itulah yang menyeberangkan saya hingga sampai ke tempat ini dengan selamat,” ungkapnya panjang lebar.
Kelompok atheis tertawa terbahak-bahak. Salah seorang di antara mereka berkata ketus, ”Ah, Anda membuat lelucon saja. Itu mustahil. Tidak masuk akal.”
Imam Ahmad menjawab santai, ”Nah, kalau kalian mengingkari sampan yang kecil itu bisa merakit sendirinya, maka apakah mungkin alam semesta yang besar dan rumit ini terjadi dengan sendirinya tanpa peranan Allah SWT?”
Mereka terdiam, bungkam seribu bahasa dan berkeringat. Karena tidak menemukan jawaban yang tepat mereka pergi begitu saja. Seketika penonton bersorak gembira, mengelukan Imam Ahmad yang sederhana tapi amat cerdas. Hanya dengan logika yang amat sederhana, kelompok atheis kalah sebelum bertanding. Agaknya orang-orang atheis itu harus segera memilih antara debat ataukah taubat.
Sabili No.14 Th.XI (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=245)
AlfaOmega
October 12, 2007, 14:26
Tersebutlah dua lelaki yang berkawan akrab. Mereka adalah Hasan dan Ismail. Keduanya orang shalih yang taat beribadah. Karena tempat mereka berjauhan, tidak mungkin keduanya selalu bertemu. Namun ada kebiasaan di antara mereka, setiap setahun sekali Hasan selalu datang ke rumah Ismail.
Suatu hari Hasan berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Tiba di rumah Ismail, ia mendapatkan pintu rumah temannya itu tertutup rapat. Stelah beberapa kali mengetuk pintu terdengar sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah, “Siapakah kamu yang mengetuk-ngetuk pintu?”
“Saya Hasan, sahabat suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya hanya karena Allah SWT,” jawab Hasan dari luar.
“Dia sedang pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali lagi!” jawab istri Ismail sambil memaki dan mencela suaminya sendiri.
Mendengar jawaban seperti itu, Hasan keheranan. Belum hilang keheranannya, tiba-tiba muncul Ismail. Ia datang sambil menuntun seekor harimau yang di punggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu melihat Hasan, Ismail langsung menghambur mendekat sambil mengucapkan salam kehangatan.
Setelah menurunkan kayu bakar dari punggung harimau, Ismail berkata kepada harimau itu, “Sekarang pergilah, mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!”
Ismail mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara mereka bercakap-cakap, istri Ismail masih terus bergumam memaki-maki suaminya. Ismail diam saja.
Hasan keheranan bercampur takjub melihat kesabaran sahabatnya itu meskipun istrinya terus memaki, ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Hasan pulang menyimpan rasa kagum terhadap Ismail yang sanggup menekan rasa marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang.
Satu tahun berlalu. Seperti kebiasaannya, Hasan kembali mengunjungi sahabatnya, Ismail. Ketika mengetuk pintu rumah Ismail, dari dalam terdengar langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian terlihatlah istri sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapanya, “Tuan ini siapa?”
“Aku sahabat suamimu. Kedatanganku semata untuk mengunjunginya karena Allah,” jawab Hasan.
“Oh, selamat datang Tuan!” Istri Ismail menyapa ramah, lalu mempersilakan tamunya duduk menunggu suaminya. Tak lama kemudian Ismail datang membawa seikat besar kayu bakar di atas pundaknya. Dua sahabat itu pun segera terlibat perbincangan serius. Hasan menanyakan beberapa hal yang membuatnya keheranan. Tentang keadaan istrinya yang sangat jauh berbeda dibanding setahun yang lalu. Ia juga menanyakan bagaimana Ismail mampu menaklukkan seekor harimau sehingga binatang buas itu mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan binatang itu lagi?
Ismail segera menjelaskan, “Ketahuilah sahabatku. Istriku yang dulu meninggal setelah sekian lama aku berusaha bersabar menghadapi perangai buruknya. Atas kesabaran itulah, Allah SWT memberi kemudahan bagiku untuk menundukkan seekor harimau seperti yang engkau lihat. Allah juga memberiku karunia berupa istri shalihah seperti yang engkau lihat sekarang. “Aku gembira mendapatkannya, maka harimau itu pun dijauhkan dariku. Aku memanggul sendiri kayu bakar.”
Sabili (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=101)
AlfaOmega
October 13, 2007, 19:01
Suatu ketika Abu Hanifah memasuki sebuah masjid, lalu duduk bertafakkur seraya melantunkan ayat-ayat Allah. Ia asyik tenggelam mentadabburi keindahan kalam Ilahi. Dengannya, kekuatan ruhiyahnya semakin subur. Tapi, tiba-tiba ia berhenti dari lantunannya. Karena beberapa orang Khawarij sekonyong-konyong menghampirinya. Kepada Abu Hanifah, mereka menghunuskan pedang. Dengan tatapan tajam mereka berkata, "Kami akan mengajukan dua pertanyaan kepada Anda. Bila Anda dapat menjawabnya dengan baik, tentu Anda akan selamat. Bila tidak leher Anda akan menjadi tebasan pedang ini."
Sejenak sedikit perasaan takut menyelimuti Abu Hanifah. Sembari menatap mata pedang mereka, Abu Hanifah berkata, "Saya akan menjawabnya. Akan tetapi, masukkanlah terlebih dahulu pedang kalian ke sarungnya."
Mereka menjawab, "Bagaimana mungkin itu kami lakukan? Sedangkan memenggal leher Anda ini bagi kami adalah sesuatu yang telah dijanjikan akan mendapat pahala yang besar. Karenanya kami semua mengharapkan keutamaan ini!"
Tanpa membuang-buang waktu, orang-orang Khawarij itu melontarkan pertanyaan kepadanya, "Bila ada dua jenazah, yang satu peminum khamr dan meninggal dunia dalam keadaan mabuk. Sedangkan yang satu lagi, wanita hamil akibat zina dan meninggal dunia saat melahirkan dan ia belum bertaubat. Mereka berdua ini kafir atau muslim?"
Mendengar pertanyaan ini, Abu Hanifah malah balik bertanya, "Dari kelompok manakah mereka itu? Apakah Yahudi?"
"Bukan", jawab mereka.
"Dari Nashara?"
"Bukan."
"Lalu dari kelompok mana?" tanya Abu Hanifah.
"Orang Islam," jawab mereka.
"Kalau begitu, jawabannya telah kalian sebutkan sendiri," tandas Abu Hanifah dengan tangkas, membuat para penanya itu terdiam seribu bahasa.
Tak lama kemudian, masih dalam keadaan menghunus pedang, mereka bertanya lagi, "Kedua-duanya di surga atau di neraka?"
"Bila kalian bertanya mengenai surga atau neraka, maka jawaban saya seperti ucapan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya,
'...Barangsiapa yang mengikutiku, ia termasuk golonganku. Dan barangsiapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,' (QS. Ibrahim: 36).
Atau jawabanku seperti Nabi Isa a.s., 'Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,' (QS. Al-Maidah: 118)."
Jawaban tangkas Imam Abu Hanifah membuat orang-orang Khawarij itu tidak berkutik. Mereka tidak mendapati celah kesalahan jawaban dari seorang ulama besar itu. Akhirnya, karena ketangkasan diplomasinya itu, selamatlah Abu Hanifah dari ancaman dan teror mereka. Kemudian, ia meneruskan tafakkurnya yang sempat terhenti sejenak.
Sabili No.14 Th.X (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=97)
AlfaOmega
October 15, 2007, 10:04
Sabili No.26 Th.IX
Seorang ibu datang kepada Imam Ahmad bin Hambal untuk meminta fatwa mengenai pengalaman yang baru saja dialaminya. Dengan wajah bimbang, ia bertanya,
"Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan tak punya. Saking melaratnya, sampai lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena pada siang hari saya harus mengurus pekerjaan rumah, maka saya mencari makan untuk kami sekeluarga pada malam hari.
Yang dapat saya lakukan untuk menopang kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang itu yang akan saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu, biasanya saya menunggu bulan purnama, karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang," ungkapnya kepada Imam Ahmad bin Hambal.
"Akan tetapi suatu ketika, lewatlah serombongan kafilah di depan rumah saya pada malam buta dengan membawa lampu yang sangat banyak. Maka, tidak saya sia-siakan kesempatan itu. Selagi mereka berdiri di tepi jalan pada saat lewatnya iring-iringan mereka, kesempatan itu saya gunakan untuk memintal beberapa lembar kapas," lanjut perempuan itu tertunduk.
"Adapun yang saya tanyakan adalah: apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal dalam cahaya lampu milik iring-iringan kafilah itu halal bagi saya?"
Dengan seksama Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan perkataan Sang Ibu tadi. Setelah sebuah pertanyaan dilontarkan si Ibu muslimah itu, dalam kekaguman yang tidak dapat disembunyikan, Imam Ahmad balik bertanya, "Siapakah Anda, yang menaruh perhatian terhadap perkara agama sedemikian besarnya di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kelalaian dan kekikiran terhadap harta?"
"Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah," jawab si ibu, masih dengan kerendahan hatinya.
Mendengar jawaban itu, spontan Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Itu tak lain karena yang baru saja disebut oleh si ibu tadi adalah nama seorang gubernur yang saleh dan mutashawwir yang lurus hati. Beberapa saat kemudian Imam Ahmad terdiam dan belum dapat menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya itu. Ia sibuk berdoa memohonkan rahmat atas gubernur yang shalih dan terus memujinya.
Beberapa saat kemudian, barulah beliau berkata, "Sesungguhnya kain penutup wajah yang anda kenakan adalah lebih baik daripada sorban-sorban yang kami pakai. Sesungguhnya kami ini tak patut jika dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita, ya Sayyidati. Sedangkan anda, ya Sayyidati, perempuan yang demikian luhur takwanya dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya, tanpa ijin rombongan kafilah itu, tidak halallah bagi anda uang hasil penjualan benang tersebut."
wara'nya seorang ibu (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=95)
AlfaOmega
October 16, 2007, 13:31
Sabili No.24 Th.IX
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.
Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya," ujar Pak Tua itu.
"Pahit...., pahit sekali," jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.
Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.
"Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!" ujar Pak Tua kemudian.
Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?"
"Segar!" sahut anak muda itu.
"Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.
Segenggam garam dan telaga (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=88)
AlfaOmega
October 18, 2007, 14:01
Suatu hari seorang salafushalih terkenal, Fudhail bin Iyadh, bertanya kepada seorang lelaki, " Berapa umurmu?" "Enam puluh tahun," jawab lelaki itu.
Lalu Fudhail berkata, "Sesungguhnya engkau telah enam puluh tahun menuju Rabb-mu dan kini kau hampir sampai." Lelaki itu berkata, "Inna lillahi wainna ilaihi raji'un. (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali)."
Mendengar ucapan lelaki itu, Fudhail kembali bertanya, "Tahukah engkau bagaimana tafsirnya?"
"Tafsirkan kepada kami wahai Abu Ali (panggilan Fudhail)," pinta lelaki itu.
"Jika engkau mengatakan, 'inna lillahi' berarti engkau mengikrarkan bahwa engkau adalah hamba Allah dan kepada Allah engkau akan kembali. Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah dan kepada Allah dia akan kembali, maka ketahuilah bahwa ia akan mati. Dan ketahuilah barangsiapa yang akan mati maka ia akan ditanya. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka bersiap-siaplah untuk menjawabnya."
"Lalu bagaimana cara kami mempersiapkannya?" tanya lelaki itu lagi.
"Penuhilah," jawab Fudhail bin Iyadh.
"Apa yang harus saya penuhi?" tanyanya.
Fudhail menjawab, "Perbaikilah amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan yang akan datang. Tetapi jika engkau memperjelek amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan menyiksamu lantaran dosa-dosamu yang telah engkau perbuat di masa lalu dan yang akan datang."
Sekecil apa pun kesempatan untuk berbuat baik maka harus dilakukan, untuk menabung amal-amal shalih. Melakukan hal-hal yang bermanfaat dan membuang jauh apa yang tidak berguna. Selagi umur masih ada. Selagi waktu masih tersedia. Seringkali kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya.
(Diambil dari Tarbawi (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=86) edisi 36)
AlfaOmega
October 19, 2007, 13:35
Dikisahkan, Al Halkhi adalah seorang yang terkenal dengan keshalihannya. Suatu hari ia berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tak lupa ia memohon diri kepada sahabat karibnya yang terkenal zuhud, yakni Ibrahim bin Adham.
Belum lama Al Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid lalu menghampiri Al Balkhi seraya bertanya, "Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"
Al Balkhi dengan tenang menjawab, anan aku melihat suatu keanehan. Hal itulah yang membuat diriku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Melihat itu, aku bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kiranya burung ini bisa bertahan hidup sementara ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya. Dengan matanya yang tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa. Tak lama kemudian ada seekor burung yang lain bersusah payah menghampirinya dengan membawa perbekalan makanan untuk burung yang cacat itu. Seharian penuh aku terus memperhatikan burung itu, ternyata ia tak pernah kekurangan makanan karena berulang kali dikirim makanan oleh temannya yang sehat.
Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa Sang pemberi rezeki telah memberi karunia kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya itu. Dan dengan kemurahan-Nya, Ia telah mencukupkan rezeki baginya. Kalau begitu dalam keyakinanku Ia tentu akan mencukupi rezekiku sekalipun aku tidak bekerja! Kemudian aku pun memutuskan untuk segera pulang saat itu juga."
Mendengar penuturan Al-Balkhi, Ibrahim bin Adham segera menanggapi. Wahai Al Balkhi sahabatku, mengapa serendah itu pemikiranmu? Mengapa kau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa engkau tidak mencontoh perilaku burung yang satu lagi, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja! Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah?"
Mendengar berondongan pertanyaan yang sangat mendasar itu sadarlah Al Balkhi akan kekhilafannya. Serta merta ia bangkit dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata, "Wahai Ibrahim, ternyata engkaulah guru kami yang baik." Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usaha dagangnya.
Sabili (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=82) No.19 Th.IX
AlfaOmega
October 20, 2007, 08:32
Suatu ketika, Syafiq Al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim Al-Asham, "Apakah pelajaran yang dapat engkau petik sejak menemaniku?"
Mendengar pertanyaan dari Sang Guru, Hatim menjawab, "Ada enam pelajaran yang dapat aku petik. Pertama, ketika aku melihat manusia selalu mencemaskan masalah rezeki sedangkan mereka bakhil dengan apa yang sudah mereka dapat dan tamak dengannya. Karena aku termasuk makhluk yang menjalar di muka bumi, maka aku tidak meresahkan hatiku apa yang telah dijamin Yang Maha Kuasa."
Syafiq mendengar dengan seksama, "Bagus", ujarnya.
"Yang kedua, karena aku melihat semua orang mempunyai teman yang menjadi tempat pengaduannya untuk mengatakan semua permasalahan dan rahasianya, sedangkan mereka tidak membelanya pada waktu temannya susah. Aku menjadikan amal shaleh sebagai temanku agar ia dapat membantuku pada waktu hisab dan membuatku dihadapkan kepada Allah."
"Bagus," kata Syafiq lagi, dengan terus menanti uraian kalimat berikutnya dari sang murid.
"Ketiga, aku melihat setiap orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan orang yang menzalimiku, bukan pula orang yang berbuat jahat kepadaku. Tapi orang-orang tersebut akan memberiku keuntungan dari kebaikan mereka dan akan menanggung dosa-dosaku. Musuhku adalah orang-orang yang apabila aku mentaati Allah, mereka menggodaku untuk melakukan kedurhakaan. Aku menganggap bahwa mereka itu adalah iblis, nafsu, dunia, dan hawa. Oleh karena itu aku menjadikan mereka sebagai musuhku. Aku akan berhati-hati dengan mereka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memerangi mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka mendekatiku."
Syafiq masih dengan ketekunannya memperhatikan ucapan muridnya itu. "Bagus," katanya lagi.
"Keempat, aku melihat setiap makhluk hidup dalam keadaan diburu, dan pemburu tersebut adalah malaikat maut. Maka aku mempersiapkan diri untuk menemuinya dan akan segera menyambutnya tanpa penghalang."
"Bagus," ungkap Syafiq lagi.
"Kelima, aku melihat semua manusia selalu dalam keadaan saling menyayangi dan saling membenci. Lalu aku mempelajari sebab dari sayang dan benci. Oleh karena itu aku membuang jauh-jauh dariku sifat hasad. Kemudian aku mencintai semua manusia sebagaimana aku mencintai diriku sendiri."
Syafiq berucap lagi menanggapi perkataan muridnya, "Bagus!"
"Keenam, aku melihat setiap orang yang bertempat pasti akan berpisah dengan tempatnya. Maka aku melihat bahwa tempat kembali semua orang yang menetap tersebut adalah kubur. Oleh karena itu, aku mempersiapkan untuknya segala persiapan berupa amal-amal shaleh untuk menetap di tempatku yang baru tersebut sedangkan tidak ada tempat di belakangku kecuali surga dan neraka."
Untuk kesekiankalinya, Syafiq berkata lagi, "Bagus," ujarnya seraya menutup pembicaraan.
Jawaban Sang Murid: Sabili (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=81) No.16 Th.IX
AlfaOmega
October 22, 2007, 16:46
Sabili No.14 Th.IX
Seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham ra, lalu berkata, "Waha Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat."
Setelah mendengar perkataan tersebut, Ibrahim ra berkata, "Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh saja kamu melakukan maksiat."
Lelaki itu dengan penasaran bertanya, "Apa saja syarat-syarat itu, wahau Aba Ishak?"
Ibrahim bin Adham berkata, "Syarat pertama, jika kamu mau bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya."
Ia mengernyitkan keningnya seraya berkata, "Lalu aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?"
"Ya," tegas Ibrahim bin Adham, "Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?"
"Baiklah," jawab lelaki itu menyerah, "Lalu apa lagi yang berikutnya?"
"Kalau mau bermaksiat jangan tinggal di bumi-Nya! Ibrahim bin Adham lebih tegas menjawabnya.
Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, "Wahai abdullah, pikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara kamu melanggar segala larangan-Nya?"
"Ya, Anda benar," kembali lelaki itu pasrah, "Lalu apa syarat ketiga?"
"Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!"
Syarat ini kembali membuat lelaki itu terperanjat, "Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?"
"Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?" Ucapan ini membuat lelaki itu kembali tak berkutik dan harus membenarkan semua ucapan sang imam.
"Baiklah, Aba Ishak, kini apa lagi berikutnya?"
"Kalau malaikat maut datang hendak mencabut ruh-mu, katakanlah kepadanya, mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertaubat dan melakuikan amal shalih."
Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, "Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku."
"Wahai abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?"
"Baiklah, apa syarat yang kelima?"
Ibrahim bin Adham ra sekali lagi berpetuah kepada lelaki itu, "Wahai abdullah, kalau malaikat Zabaniah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya."
Perkataan tersebut membuat lelaki itu sadar. Dia berkata, "Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya."
"Kalau begitu, bagaimana kamu dapat menyelamatkan diri, wahai abdullah?"
Ia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Dia menangis dan dengan wajah penyesalan berkata, "Ibrahim, cukup, jangan kamu teruskan lagi. Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah."
Sejak saat itu, ia benar-benar bertaubat kepada Allah. Semua ibadah ia tekuni dengan baik dan penuh kekhusyukan hingga menemui ajalnya.
cerdik dalam mendidik (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=78)
AlfaOmega
October 23, 2007, 16:29
Sabili No.18 Th.IX
Dikisahkan, Abdullah bin Mubarak mempunyai suatu kebiasaan yaitu melaksanakan ibadah haji pada suatu tahun dan kemudian berperang fi sabilillah pada tahun berikutnya. Pada suatu kali, aku pergi ke pasar unta Kufah untuk membeli unta dengan membawa 500 dinar uang emas. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang perempuan yang sedang membersihkan bulu itik, sedangkan aku yakin bahwa bulu itik itu berasal dari itik yang sudah mati alias bangkai. Aku terperanjat, kemudian mendekatinya dan berkata, "Mengapa engkau melakukan hal ini?"
Dengan sigap si perempuan menjawab, "Wahai hamba Allah, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang perkara yang tidak bermanfaat bagimu."
Dari jawabannya, aku dapat memahami bahwa sesuatu telah terjadi dengannya. Mesti ada 'apa-apanya' dengan perempuan itu. Tak puas dengan jawaban sederhana itu aku mendesaknya dengan satu kali lagi pertanyaan, "Mengapa engkau melakukan itu?"
Akhirnya perempuan itu menjawab, "Wahai hamba Allah, aku terpaksa mengatakan sebuah rahasia kepadamu. Semoga Allah merahmatimu. Aku memiliki empat orang anak sedangkan ayah dari anak-anakku itu telah berpulang ke rahmatullah beberapa waktu yang lalu. Hari ini adalah hari keempat kami tidak memakan apa-apa. Oleh karena itu, adalah halal bagi kami untuk memakan bangkai dalam keadaan darurat seperti ini. Kemudian aku mengambil bangkai itik ini. Seperti yang engkau lihat, saat ini aku sedang membersihkannya untuk kuberikan kepada anak-anakku."
Mendengar pengakuan polos itu aku bergumam pada diriku sendiri, "Celakalah engkau wahai Ibnu Mubarak, betapa senang keadaanmu dibanding orang itu." Kemudian aku berkata pada perempuan tersebut, "Bukalah kantongmu." Serta merta kumasukkan semua uang dinarku ke dalam kantong perempuan itu sedangkan ia terdiam dan tidak menoleh. Aku berujar lagi kepadanya, "Kembalilah ke rumahmu dengan uang ini dan perbaikilah kondisi keluargamu." Begitulah, Pada tahun itu Allah telah mencabut dari diriku keinginan untuk menunaikan ibadah haji dan aku segera kembali ke negeriku.
Tak lama setelah para jamaah haji pulang, aku menemui dan bertamu ke rumah beberapa orang kerabatku yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji. Sesama mereka saling berucap, "Semoga Allah menerima hajimu dan membalas segala usahamu." Namun sungguh aneh terdengar di telingaku ketika mereka juga mengatakan hal yang sama padaku, "Semoga Allah menerima hajimu dan membalas segala usahamu. Bukankah kami telah bertemu denganmu pada beberapa tempat ini dan itu pada waktu menunaikan ibadah haji itu ?"
Ya. Subhanallah, kebanyakan mereka mengatakan hal yang sama kepadaku. Aku semakin tertegun dengan kenyataan ini. Kemudian dalam mimpiku aku melihat Nabi Muhammad SAW seraya berkata kepadaku, "Wahai hamba Allah, janganlah engkau heran, sesungguhnya engkau telah menolong seorang yang sengsara dari kerabatku, maka aku meminta kepada Allah agar menciptakan aeorang malaikat yang serupa bentuknya denganmu untuk menghajikanmu."
Buah Keikhlasan (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=2)
AlfaOmega
October 24, 2007, 19:52
Ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang duduk-duduk dengan para sahabat, tiba-tiba datang dua orang laki-laki dengan seorang pemuda yang terikat kedua tangannya.
"Pemuda ini telah membunuh bapak kami wahai Amirul Mukminin," lapor kedua orang itu.
Pemuda yang terikat tangannya turut angkat bicara, "Saya harap Anda mau mendengar cerita saya dulu wahai Amirul Mukminin."
"Cerita? Huh, pokoknya kamu telah membunuh bapak kami dan bagus kami tidak langsung meng-qishas-mu, tapi kami bawa kamu ke Khalifah Umar," ucap kedua pemuda tadi dengan kemarahannya.
"Kalian berdua diamlah dulu, aku hendak mendengar cerita bagaimana kejadian sebenarnya," kata Umar.
Pemuda yang terikat tangannya itu segera bercerita, "Ketika saya tidur istirahat dalam suatu safar, saat saya bangun mendapati onta saya telah raib entah kemana kemudian saya mencarinya. Saya mendapatinya sedang makan tanaman di sebuah kebun. Saya langsung menghalaunya. Onta itu malah menderum.
Tak lama kemudian datanglah seorang syaikh dan langsung melempar onta saya dengan batu. Karena kerasnya lemparan batu itu dan tepat mengenai kepalanya, onta saya mati. Saya marah melihat hal itu. Saya ambil batu, dan saya lempar balik ke kepala syaikh itu hingga tersungkur tak bernyawa. Sungguh saat itu saya tidak bermaksud membunuhnya."
Setelah Umar mendengar cerita pemuda tadi, ia berkata, "Kalau begitu hukumannya adalah kamu dibunuh sebagai qishas."
Pemuda terhukum tadi mengajukan sebuah permintaan. "Aku tidak menolak hukuman itu, tapi aku mempunyai adik. Ayahku telah tiada, dan sebelum meninggalnya ia meninggalkan harta kepadaku. Aku menyimpannya di tempat yang tidak diketahui oleh adikku itu."
"Lantas apa maumu?" sergah Umar.
"Aku minta waktu tiga hari untuk pulang ke kotaku dan memberikan harta itu kepada adikku," jawab si pemuda.
"Siapa yang akan menjadi penjaminmu?" tanya Umar
Sambil menunjuk ke Abu Dzar Al-Ghifary, pemuda itu berkata, "Syaikh ini jaminannya."
Serta merta, Abu Dzar mengiyakan. "Ya saya bersedia."
* * *
Pada hari ketiganya, Khalifah Umar, para sahabat dan dua lelaki itu menunggu pemuda tadi. Ketika hari telah mulai terik dua lelaki tersebut mulai gelisah. "Hari sudah siang tapi pemuda itu belum datang. Kalau tidak datang, Abu Dzar-lah penggantinya," kata kedua lelaki itu.
Dari kejauhan tampak seseorang menunggang kuda, dan ternyata ia adalah pemuda itu.
"Terima kasih wahai Syaikh Pemberani," ucap pemuda itu kepada Abu Dzar. Terharu akan kehadiran si pemuda, kedua lelaki itu berkata serentak, "Kami cabut tuntutan kami wahai Amirul Mukminin, dan kami maafkan pemuda al-wafi (penepat janji) ini."
Mendengar itu, Umar berkata, "Kamu sungguh pemberani wahai Abu Dzar, dan kamu adalah al-wafi wahai pemuda. Dan kalian berdua, kalian adalah mulia. Bersalam-salamlah kalian dan kuatkan ukhuwah di antara kalian.
(Sabili No.03 Th.X)
Pemuda Al Wafi (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1)
AlfaOmega
October 25, 2007, 16:04
Jangankan untuk korupsi, mengambil sesuatu yang menjadi haknya sendiri saja, beliau enggan melakukannya. Itulah Khalifah Umar bin Khatthab, yang terkenal kezuhudannya. Meski beliau berposisi sebagai kepala negara atau amirul mukminin, beliau tak pernah tergiur dengan gemerlapnya harta benda.
Ketika menerima utusan dari negara-negara di jazirah Arab yang telah ditaklukkan, beliau menyambutnya dengan mengenakan satu- satunya jubah beliau yang penuh tambalan yang lusuh. Berapa tambalannya?. Tambalannya ada di 12 tempat.
Sebagai pengganti Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, mestinya beliau berhak mendapatkan gaji yang lebih banyak dari Khalifah Abu Bakar. Soalnya wilayah kekhilafahan Islam waktu itu semakin luas berlipat ganda, sehingga semakin banyak pula tugas dan kewajibannya. Kehidupan rakyat pun semakin makmur. Ternyata beliau lebih memilih menerima gaji yang sama dengan yang diterima oleh Khalifah Abu Bakar, pendahulunya.
Orang-orang terdekatnya merasa iba dan prihatin atas sikap kesederhanaannya itu. Beberapa kali mereka mengusulkan agar Khalifah Umar mau menerima gaji sesuai tanggung jawabnya. Tetapi usulan itu selalu beliau tolak.
"Mengapa kalian memaksaku untuk menerima gaji yang melebihi kebutuhanku. Ketahuilah, walaupun Rasulullah SAW diampunkan dosanya yang telah lalu dan yang kemudian, namun beliau tetap memilih hidup sederhana, tetapi tetap bersemangat dalam beribadah. Apalagi aku ini?," kata beliau.
Kezuhudan Sang Khalifah (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=180)
AlfaOmega
October 30, 2007, 15:33
Rengkuhlah Alam dgn Iman (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=570)
Sejarah Nabi Nuh adalah penggalan tentang kisah kengerian luar biasa. Terutama, ketika Allah membinasakan orang-orang kafir melalui alam yang sangat ganas. Langit menumpahkan bermiliar kubik air. Deras, dan sangat deras. Bahkan air juga memuncrat hebat dari dalam tanah. Tidak hanya itu, bahkan disertai topan yang sangat kencang. Tiba-tiba bumi berubah menjadi hamparan samudera yang luas. Segalanya begitu mencekam.
Di tengah gelombang yang bergulung-gulung setinggi gunung, bahtera Nabi Nuh berlayar. Dari atas kapal, Nabi Nuh mencoba memanggil Qan'an, anaknya yang memencil jauh. Agaria mau beriman dan ikut bersama di atas kapal.
"Anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir," panggil Nabi Nuh dengan penuh kasih.
"Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" sahut anaknya.
'Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang," kata Nabi Nuh, mencoba meyakinkan anaknya. Tetapi Qan'an tetap pada pendiriannya. "Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang ditenggelamkan." (QS. Hud: 43).
Gelombang yang ganas bisa bersahabat dengan Nabi Nuh dan orang-orang beriman. Tetapi ia menjadi adzab bagi yang tak beriman. Gunung yang menjulang tak peduli dengan nasib Qan’an dan orang-orang kafir lainnya.
Rahasianya adalah karena gelombang dan gunung itu sama-lama tentara Alah. Bahkan laut, hujan, angin topan, binatang buas, burung, hingga serangga kecil yang lambat adalah tentara Allah yangsangat perkasa. "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui Bijaksana." (QS. Al-Fath: 4). Para tentara patuh kepada Allah, bersahabat dengan orang-orang yang beriman, dan membenci orang-orang yang durhaka kepada-Nya.
Simaklah Al-Qur'an. Kita bisa bahwa alam semesta tidak saja tentang keindahan dan keselarasan. Tetapi pada saat yang sama, Al-Qur'an juga menjabarkan bagaimana alam menampakkan kehebatannya sebagai tentara Allah. Seperti bagaimana Allah menghukum Fir'aun dan kaumnya. "Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa." (Al-A'raf: 133). Para ahli tafsir menjelaskan, bahwa mengi¬rim mereka darah, maksudnya air minum mereka berubah menjadi darah.
Peradaban di zaman apapun selalu menjadikan alam sebagai mitranya. Bahkan sebagian masyarakat menyembah dewa-dewa yang diyakini menguasai alam. Memang, dalam pandangan aqidah Islam menuhankan alam adalah salah. Namun setidaknya, hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara Tuhan, fitrah manusia dan alam.
Apa yang dilakukan peradaban Barat jauh lebih buruk. Ketika mereka memulai zaman imperialisme dan kolonialisme, mereka mengekploitasi segala sumber alam secara besar-besaran dan nyaris tak beradab. Mereka yang menganggap dirinya orang-orang modern ternyata lebih primitif dalam memandang alam. Mereka memandang alam semata-mata obyek, yang bisa semaunya dieksploitasi, dijajah, diaduk-aduk sesuai seleranya.
Memahami alam tidak akan pernah utuh tanpa mendudukkan eksistensinya sebagai tentara Allah. Dalam sejarah orang-orang shalih, banyak kita temukan fakta bagaimana alam tunduk kepada perintah Allah untuk membela orang-orang yang beriman. Seperti api yang diperintah Allah untuk berubah dingin, ketika digunakan raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim. Atau Laut Merah, yang diperintah Allah untuk mengubah karakter¬nya, menjadi hamparan jalan yang nyaman bagi Nabi Musa dan Para pengikutnya.
Melalui tentara-Nya, Allah berkuasa melin¬dungi hamba-hamba-Nya yang mukmin dan memenangkan mereka atas orang-orang kafir. Allah berjanji akan membela orang-orang yang beriman. Janji itu berlaku sepanjang masa. Dan, Allah tidak pernah menyalahi janjinya. Sedang tentara Allah sendiri tidak terbatas jenis dan jumlahnya. "Dan tidak ada yang menge¬tahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri." (QS. Al-Muddatsir: 31).
Di Afghanistan misalnya, seperti dituturkan Asyahid Abdullah Azzam, banyak sekali bukti pembelaan Allah melalui tentara-Nya ketika kaum muslimin berjuang mengusir Soviet. Bahkan Abdullah Azzam menuliskan semua itu dalam satu buku khusus yang ia beri judul Ayaturrahman fi JihadilAfghan (Ayat-ayat Allah dalam jihad Afghan). Hal yang sama juga terjadi di Bosnia, Chechnya, Palestina, maupun di belahan bumi lainnya.
Maket kebersamaan manusia dengan alam telah ditetapkan Allah sejak kali pertama penciptaannya. Bumi dan seluruh isinya memang diciptakan untuk manusia. (QS. AI-Baqarah: 29). Sementara manusia sendiri, ditetapkan sebagai khalifah yang diperintahkan mengelola bumi itu. (QS. AI-Bagarah: 30). Maka, prinsip kebersamaan manusia dengan bumi dan alam semesta harus dibangun melalui poros tauhid. Artinya, manusia tidak boleh menyekutukan Allah, durhaka, apa lagi melawan-Nya. Sebagaimana alam semesta juga tunduk dan patuh kepada Allah. Dengan begitu, seorang mukmin bisa bertemu dengan alam dalam satu identitas yang sama: identitas keiman¬an. Lihatlah misalnya, penjelasan Allah, yang artinya. "Senantiasa bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.AI-Jumu'ah: 1)
Ayat di atas, sekali lagi menegaskan, bahwa poros pertemuan antara seorang mukmin dengan alam justru pada iman itu sendiri. Ini memang masalah keyakinan. Tetapi setiap orang sangat perlu kepada keyakinan itu. Kita harus bersahabat dengan alam. Tetapi kita hanya bisa benar-benar bersahabat dengan mereka dalam ikatan iman. Bersama alam kita mengagungkan Allah, memuji-Nya, menyembah-Nya, dan mengesakan-Nya.
Bersahabat dengan alam dalam ikatan iman memberi kita begitu banyak manfaat. Di antaranya, alam bisa menjadi pengingat kita setiap saat. Mengingatkan kita bagaimana menjalani hidup yang baik. Mengingatkan kita dari kesalahan dan dosa. Bila seluruh isi alam ini beriman dan selalu menyucikan Allah, alangkah malunya kita, bila dengan sengaja selalu melakukan dosa.
Ya. Semestinya kita malu kepada tanah yang kita injak, malu kepada udara yang kita hirup, malu kepada matahari yang menerangi kita. Malu kepada pohon-pohon yang berdiri tenang. Malusekitar kita. Malu kepada semut-semut yang merayap ketakutan. Bahkan kepada bayang¬bayang diri kita sendiri. "Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melak¬sanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." (QS. An-Nahl 48-50).
Mereka senantiasa menyucikan Allah. Se¬dang kita? Apa yang tengah kita lakukan? Tadi pagi? Tadi malam? Kemarin? Dulu? Hari ini?
Manfaat lain bersahabat dengan alam dalam ikatan iman, justru akan menambah iman itu sendiri. Alam dan seluruh isinya mampu memberi kita sumber inspirasi iman yang sangat kaya. Dari setiap jengkal daratan, dari setiap lereng gunung yang lebat, dari seluruh hamparan lautan luas, para tentara Allah itu tak pernah lelah memberi. Berapakah yang telah dinikmati manusia dari alam semesta ini. Maha Suci Allah, tidakkah semua itu mampu menambah cahaya iman di hati?
Lihatlah alam. Dalam diamnya, mereka tengah bersuara dengan bahasa yang lain. Seperti tengah menohok jantung kita, menya¬darkan tentang Allah. Tidak sulit memahami perspektif iman dalam bersahabat dengan alam. Hanya diperlukan sedikit penghayatan, pere¬nungan, dan juga sedikit waktu untuk berlatih jujur. Tetapi semua itu akan sulit bagi mereka yang dengan sengaja menutup mata hatinya. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190).
AlfaOmega
October 30, 2007, 15:34
Dalam konteks interaski sosial, bersahabat dengan alam dalam ikatan iman, akan menja¬dikan manusia mengerti etika pemanfaatan alam. Alam ini tertata dalam sebuah tekstur yang indah, harmonis, dan seimbang. Karenanya, manusia dilarang keras membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan alam, menga¬
prinsip keseimbangan itu. "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya." (QS.AI-A'raf.:56)
Manusia dan alam terikat dalam prinsip kesalingtergantungan. Tetapi alam bisa tetap eksis meski tanpa manusia. Sedang manusia, tidak akan bisa hidup tanpa alam. Karenanya, manusia dipersilakan mengelola alam dengan sarana ilmu dan akal yang bijak, dalam konteks "memakmurkan bumi" sebagaimana yang diamanahkan kepadanya. Maka, tatkala manu¬sia berbuat semena-mena terhadap alam, oto¬matis akan terjadi kekacauan. Alam akan murka. la bisa membinasakan dan melumat manusia menjadi tanpa bentuk dan tanpa bekas.
Dalam seluruh makna di atas itulah kita menghayati, bahwa alam semesta adalah tentara Allah yang beriman dan patuh kepada-Nya. Kare¬nanya, kita harus bersahabat dengan mereka, dalam ikatan iman dan ihsan. Bukan sebaliknya, malah membuat kerusakan, onar dan bangga menumpuk dosa di atasnya. Imam All bin Abi Thalib menasehati, "Tidaklah musibah itu turun, kecuali lantaran dosa. Dan tidaklah is bisa diangkat kecuali dengan taubat."
Kita tidak sedang mengajari siapa pun. Apalagi menggurui para korban hantaman banjir dan terjangan tanah longsor yang men¬cabik-cabik negeri ini. Kita sangat sadar, untuk tabah atas semua kepahitan ini saja tidak mudah. Tetapi setelah segala duka ini, tidak adakah umpan balik yang lebih bertenaga? Setelah segala kehilangan yang menyakitkan ini, haruskah kita kehilangan spirit untuk menghayati rahasia alam di balik semuanya?
Kita harus tetap seorang mukmin, dalam suka maupun duka. Kita harus tetap seorang mukmin, dalam susah maupun senang, dalam karunia maupun bencana. Allah, Yang Maha Suci lagi Maha Bijaksana, tidak akan salah mem¬bedakan, mana di antara kita yang sedang diadzab karena dosanya dan mana yang sedang diuji kenaikan imannya, meski semua kita tercebur dalam satu kubangan bencana yang lama rasanya. Kita memang harus tetap seorang mukmin, apapun yang terjadi. Ini memang sulit, tetapi pilihan lain jauh lebih meyakitkan.
Dikutip dari Tarbawi edisi 30 th3
Hal 6-8
AlfaOmega
November 01, 2007, 15:19
Jari dan Masalah
sumber : dudung.net
Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda. Usianya belumlah genap 20 tahun. Namun
sayang, kehidupannya sangat merana. Selalu saja ada banyak kesulitan yang
dihadapinya. Usahanya sering gagal. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain
merenungi nasib. Ia bertanya dalam hati, mengapa ada beribu masalah yang selalu
ada di sekitarnya. Suatu ketika, ia mendengar ada seorang bijak yang dapat
membantu mengatasi setiap persoalan. Kabarnya, orang tua ini selalu berhasil
menolong setiap orang yang datang kepadanya. Sang pemuda pun tertarik untuk
datang dan mencari jalan keluar bagi masalah yang di hadapinya. Segera saja di
persiapkan bekal untuk melakukan perjalanan menuju ke tempat orang bijak itu
berada. Seharian penuh ia berjalan, hingga sampailah di pinggir hutan. Hari
sudah malam, ketika akhirnya ia menemukan rumah yang dicarinya. Setelah
mengucapkan salam, masuklah sang pemuda dan bertemu dengan orang yang
di harapkan menjadi penolongnya. Mari masuk silahkan duduk, terdengar jawaban
dari dalam. Dengan penuh harap, pemuda itu pun mulai menceritakan masalah
yang dihadapinya. Ia berkisah tentang pekerjaannya yang gagal, kawan-kawannya
yang memusuhinya, juga semua masalah-masalah lainnya. Sang orang tua,
mendengarkan dengan seksama, bersungguh-sungguh untuk memahami pemuda itu.
Setelah beberapa lama, usailah ia menyampaikan semuanya. Lalu, apa yang harus
aku lakukan, tanya pemuda, ?apa yang sebenarnya aku hadapi, dan apa masalahku??
Anak muda, maaf, aku tak bisa sepenuhnya menolongmu. Aku hanya bisa
menunjukkanmu suatu hal. Orangtua itu kemudian menuju jendela, dan membukanya
lebar-lebat. Di luar sana, tampak langit yang gelap gulita. Lalu, diacungkannya
jari telunjuk, seperti menunjuk ke atas, ke arah jendela itu. Nak, lihatlah jari
telunjukku, ada berapa jari yang kau lihat?
Pemuda itu segera menjawab, tentu saja, hanya ada satu!.
Kemudian, orangtua itu berpindah, sambil menutup jendela, dan mengacungkan telunjukknya ke arah
dinding. Ia lalu bertanya, Sekarang, ada berapa jari yang kau lihat??
Sang pemuda, tampak memicingkan mata. Tampaklah tangan dan jari telunjuk yang
teracung, dengan latar belakang dinding yang putih. Ada bayang-bayang yang
tampak disana. ?Lihatlah lebih jelas, jatuhkan pandanganmu ke belakang, ada
berapa jari yang kau lihat.?
Sebentar, aku melihat,? ada satu?.eh, dua jari yang ku lihat.? Bagaimana ini bisa terjadi? Ternyata, dinding yang putih,
memberikan nuansa yang berbeda dalam pantulan benda. Ada fenomena lain yang
membuat jari itu tampak tak seperti aslinya.
Anak muda, itu hanya nuansa
bayangan dari jari ku saja. Setiap benda akan terlihat berbayang ganda jika
diletakkan pada dasar yang putih. Engkau pun akan melihatnya ganda jika
melayangkan pandanganmu jauh ke belakangnya, dan tidak terpaku pada benda itu
saja.
Dan sama halnya dengan semua masalahmu. Sesungguhnya, dalam setiap
masalah, kadang, bukan pemecahanlah yang harus kita cari. Tapi, kemampuan untuk
melihat masalah itulah yang kita perlukan. Kadang kita sering terpaku hanya
pada masalah itu-itu saja, tanpa pernah membiarkan kita melihat sisi lainnya.
Cobalah layangkan pandanganmu ke belakang, pada jarak yang berbeda pada setiap
masalah, engkau akan menemukan bukan hanya satu, tapi dua atau tiga hal yang
terlihat. ?Anggaplah jari telunjukku sebagai semua masalahmu. Dan dinding itu
sebagai pikiranmu. Maka, engkau akan dapat melihat sosok suatu masalah, dengan
jelas, pada dinding yang putih, pada pikiran yang jernih. Engkau akan mampu
melihat dengan lebih jelas apa yang kau hadapi pada pikiran yang tenang, bukan
pada latar yang gelap dan penuh amarah. Tataplah semua masalahmu itu dalam
pandangan jernih, tenang, dan bersih. Teliti setiap sisi persoalan hidupmu,
dengan hati yang suci. Susuri dan pahami setiap aral di depanmu, tidak dengan
pandangan yang gelap gulita. Pahami dan
maknai semuanya. Saat engkau memahami apa yang sedang kau hadapi, maka engkau
akan mudah mengatasinya.
Setiap persoalan, mungkin? terlihat seperti satu hal
saja, namun sesungguhnya hal itu mempunyai sisi lain yang tak terungkap, hingga
kita mampu melihatnya dengan pandangan yang jernih.? *** Teman, bisa jadi
kita mau mencoba hal ini. Acungkanlah jari kita ke dinding yang putih.
Pandanglah, dengan tatapan jauh ke belakang jari itu. Kita akan menemukan ada
pantulan yang berbeda dari jari-jari kita. Kita akan melihat, tak hanya ada satu
jari yang terlihat, tapi dua, atau bahkan lebih. Mungkin dalam teori optis, kita
akan menemukan penjelasan yang ilmiah dan akademis. Namun fenomena ini akan
mengajarkan kita satu hal: Suatu masalah, kadang akan tampak lebih jelas kita
menatapnya dengan pandangan jernih dan jauh ke belakang.
Allah memang Maha Pencipta. Allah selalu memberikan hikmah dan pelajaran dari
setiap apapun yang diciptakan-Nya. Tak terkecuali lewat jari dan pandangan tadi.
Kemampuan kita untuk melihat suatu masalah, akan sangat membantu kita dalam
memecahkan masalah itu. Walau kadang, pemecahan masalah itu, adalah berupa
kemampuan kita untuk melihat masalah dengan lebih jernih dan tenang. Serta
dengan memahami, apa sebenarnya masalah yang kita hadapi itu
AlfaOmega
November 05, 2007, 21:05
Tentara Muslim dan Gembala Yahudi (http://www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/HIKMAH/gembala_yahudi.htm)
Beberapa hari telah berlalu ketika Rasulullah terpaksa berperang dengan musuh Islam. Dalam perang kali ini, musuh Rasulullah ialah sekelompok kaum Yahudi yang mempunyai niat buruk terhadap Rasul sehingga memaksa Rasul untuk berperang dengan mereka. Tentara umat Islam pada saat itu berhadapan dengan kesulitan bahan pangan dan tengah merasakan kelaparan.
Dalam kondisi seperti ini, beberapa orang tentara muslim berbicang-bincang di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Semoga Rasul sedang memikirkan jalan keluar. Kelaparan ini bisa menyebabkan sebagian dari kita akan menyerah.”
Yang lain menjawab, “Kelaparan dan kehausan merupakan hal yang lumrah dalam perang. Tetapi benar seperti katamu, kali ini kondisi kita amatlah berbeda, sudah tentu Rasul memikirkan jalan keluar. Namun, alangkah baiknya kita bersabar dan tidak meninggalkan Rasul sendirian dalam masa yang amat genting ini.”
Di satu tempat yang tak jauh dari medan perang, di padang yang penuh dengan kehijauan dan keindahan, seorang penggembala Yahudi membawa kambing-kambingnya keluar untuk makan. Selama beberapa waktu, dia telah mendengar hakikat Islam yang membuat hati dan jiwa penggembala muda ini dipenuhi oleh panggilan Islam. Penggembala Yahudi itu berkata kepada dirinya sendiri, “Akhirnya sebagian orang yang keras kepala membuat perang ini terpaksa terjadi. Tetapi mungkin justru saat ini waktu yang tepat bagiku untuk menemui Rasul dan mendengarkan hakikat agama ini dari kata-katanya sendiri.”
Sejenak penggembala muda ragu-ragu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah masuk akal baginya jika dia pergi ke tengah-tengah pasukan Islam dan melakukan pertemuan dengan Rasul, ataukah sebaiknya dia tinggal saja di antara kabilahnya dengan menanggung kegelisahan jiwa. Setelah beberapa saat duduk berpikir, akhirnya dia bangun menjawab panggilan hatinya dan bergerak ke arah tentara muslim.
Tentera muslim yang sedang sibuk melakukan pengawasan, melihat sebuah sosok menghampiri dari kejauhan. Penggembala itu datang kian mendekat. Dia melangkah dengan hati-hati dan tangannya diangkat sebagai tanda menyerah. Dari kejauhan dia berteriak, “Wahai sahabat, bersabarlah. Aku hanyalah seorang penggembala. Aku telah meninggalkan kabilahku karena aku tertarik kepada agama kalian serta ingin bertemu dengan nabi kalian. Bawalah aku menemuinya.”
Salah seorang dari tentara muslim berkata, “Dapatkah kita percaya dengan kata-katanya?” Tentara yang lain menjawab, “Tampaknya dia bukan seorang penipu.” Akhirnya tentara muslim dengan penuh waspada menerima penggembala Yahudi itu dan berita mengenai kedatangannya sampai kepada Rasulullah. Penggembala Yahudi itu memperhatikan bahwa tentara muslim sedang berada dalam kekurangan makanan. Dia berpikir, bila ia menjadi muslim, ia akan membawakan kambing-kambingnya untuk tentara muslim.
Ketika bertemu dengan Rasulullah, penggembala itu amat terkesan dengan pandangan Rasulullah yang tajam namun penuh kelembutan. Rasulullah SAWW berkata kepadanya, “Apa yang ingin kausampaikan padaku, wahai anak muda?” Pengembala Yahudi menjawab, “telah lama aku memikirkan agama kalian ini. Tuhan yang kalian sembah, adalah Tuhan yang aku cari sejak kecil. Aku mendengar tentang agamamu sebagai agama persahabatan, kasih sayang, persaudaraan dan persamaan. Mereka mengatakan bahwa Anda adalah pembantu orang-orang mazlum dan musuh orang-orang zalim. Aku mendengar bahwa engkau sedemikian pengasihnya sehinggakan semua orang yang tertindas merasakan ketenangan dan ketenteraman dibawah naunganmu. Dari senyuman yang senantiasa mengiringi kata-katamu, seolah-olah pada masa yang singkat ini, semua hakikat itu telahku lihat dengan mataku sendiri.”
Ketika Rasulullah SAWW melihat semangat dan gelora penggembala Yahudi itu, beliau paham bahwa hati anak muda tersebut telah siap menerima rahmat Ilahi. Rasulullah menyampaikan hakikat Islam kepada anak muda Yahudi itu dengan kalimat yang menarik dan penuh kelemahlembutan. Saat itu juga, anak muda itu melafazkan dua kalimah syahadah dan menjadi seorang muslim.
Kemudian, penggembala itu berkata, “Wahai Rasulullah, tentaramu tidak mempunyai makanan yang cukup. Saat ini, aku sedang menggembala kambing-kambing tuanku di sebuah padang rumput yang tak jauh dari sini. Kini hubunganku dengan tuan pemilik kambing itu telah terputus. Aku ingin membawa kambing-kambing itu untuk tentaramu agar mereka tidak lagi kelaparan.” Rasulullah bangun berdiri dan dihadapan pandangan ratusan tentera yang kelaparan, beliau menjawab, “Wahai anak muda, ketahuilah bahwa dalam agama Islam khianat merupakan salah satu dari kesalahan yang besar. Pergilah engkau ke kabilahmu dan kembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya.” Si penggembala muda merasa sungguh terpesona terhadap kesetiaan Rasul kepada akhlak Islami. Dia menaati perintah Rasul itu dan kemudian bergabung dengan barisan umat Islam.
kisah di atas amat baik untuk kita teladani. Dan simaklah sebuah hadis Rasulullah, “Ada tiga hal yang tidak boleh dilanggar oleh seorang muslim. Pertama, menepati janji kepada orang lain, baik muslim atau kafir. Kedua, berbuat baik kepada ibu dan bapa, baik mereka itu muslim ataupun kafir. Ketiga, memelihara amanah, baik pemberi amanah itu muslim atau kafir.” Sampai berjumpa lagi. Wassalam wr wb.
AlfaOmega
November 07, 2007, 12:11
Diam Pada Saat Yang Tepat (http://kotasantri.com/beranda.php?aksi=Cetak&sid=100)
Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya
dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia
dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi
kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.
Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan
kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar
kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar.
Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan.
Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia
lalu berteriak, "Minggir... minggir! kayu bakar mau lewat!." Orang-orang
pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu.
Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang
bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan
saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu
bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan
itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si
penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki
itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.
Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya
serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu
berkata, "Mungkin ia tidak sengaja." Bangsawan itu membantah. Sementara si
lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa
kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim
mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu.
Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia
tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang
hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, "Mungkin orang ini bisu,
sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi." Bangsawan
itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, "Tidak
mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar
tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!" dengan nada sedikit emosi.
"Pokoknya saya tetap minta ganti," lanjutnya.
Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, "Kalau engkau
mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?" Jika ia sudah
memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan
peringatannya." Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa
diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang
baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun
pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya
diam.
AlfaOmega
November 08, 2007, 14:03
Pesan Rasulullah untuk Gubernur Mesir (http://www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/HIKMAH/gub_mesir.htm)
Hatib melewati jalan yang jauh. Saat ini dia telah tiba di Laut Merah dan sedang menanti sebuah kapal untuk membawanya ke seberang lautan. Hatib bermaksud pergi ke kota Iskandariah karena ia membawa sebuah surat penting dari Rasulullah saaw untuk Gubernur Mesir. Adakalanya rasa khawatir menyergap ke dalam jiwanya. Dia mengkhawatirkan kemampuannya sendiri untuk dapat menyempaikan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Gubernur Mesir. Dia berpikir sendirian tentang cara yang harus dilakukannya dalam menyampaikan surat Rasulullah kepada gubernur Mesir. Dia mereka-reka sendiri, ucapan apa yang pertama kali harus disampaikannya dan bagaimana caranya agar ia bisa menyampaikan pesan Rasulullah tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Hatib adalah seorang lelaki mukmin yang bijaksana dan penuh keimanan. Setiap kali dia merasa ragu dan bimbang, dia akan membaca ayat Al-Quran agar jiwanya menjadi tenteram. Akhirnya, sepanjang perjalanan, ia terus-menerus membaca Al-Quran hingga akhirnya dia tiba di Iskandariah, ibu kota Mesir. Hatib langsung pergi ke istana Gubernur Mesir dan meminta izin untuk bertemu dengannya. Gubernur Mesir yang bernama Muqauqis sebelumnya telah mendengar tentang munculnya seorang Rasul di bumi Hijaz. Saat mendengar bahwa seorang utusan Rasul telah datang untuk menemuinya, segera saja dia memerintahkan agar Hatib dibawa ke hadapannya. Hatib melangkah masuk dengan penuh ketenangan dan keyakinan. Ketika dia telah sampai ke hadapan Muqauqis, dengan penuh sopan, ia memberikan salam dan berkata:
“Aku diutus oleh Muhammad, rasulullah. Aku membawa sekeping surat untukmu”
Muqouqis mengambil surat itu, kemudia ia membuka dan membacanya:
“Bismillah rhn rhm, dari Muhammad, anak Abdullah kepada Muqouqis, pemimpin rakyat Mesir. Salam bagi para pengikut hidayah. Aku menyeru engkau kepada agama Islam. Engkau akan selamat dan aman jika engkau masuk Islam. Wahai ahli kitab, kami mengundang engkau untuk kembali kepada keyakinan asal di mana antara kami dan engkau adalah sama, bahwa kita tidak menyembah selain dari Tuhan dan kita tidak menyekutukannya. Sebagian dari kami tidak menuhankan sebagian yang lain. Oleh karena itu, jika Ahli Kitab tidak menerimanya, maka katakanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam.”
Selepas membaca surat itu, Gubernur Mesir tenggelam dalam pikirannya. Sebelumnya, dia telah membaca di dalam Injil dan kitab-kitab agama Kristen yang lain, bahwa Nabi Isa as telah memberitahu umatnya mengenai kedatangan nabi yang terakhir. Di sisi lain, dia juga telah mendengar berita mengenai kepribadian, perilaku, dan sifat Rasulullah, yang membuat dia menyadari bahwa bahwa Muhammad adalah nabi terakhir. Namun, kekuasaan dan kedudukan yang dimilikinya sebagai Gubernur Mesir, membuatnya enggan untuk mengakui hakikat ini. Setelah beberapa saat merenung dan berdiam diri, Muqauqis bertanya kepada Hatib:
“Jika Muhammad memang benar-benar utusan Tuhan, mengapa penentangnya berhasil mengusirnya keluar dari kota Mekah dan dia terpaksa tinggal di Madinah? Mengapa dia tidak melaknat mereka agar mereka hancur dan musnah? "
"Nabi Isa adalah seorang Nabi dan engkau adalah pengikut ajaran Isa. Mengapa ketika orang-orang Yahudi berencana untuk membunuhnya, Nabi Isa tidak melaknat mereka agar Tuhan menghancurleburkan mereka?”
Gubernur Mesir tercengang ketika mendapatkan jawaban yang sedemikian logis dan berani. Iapun memuji-muji Hatib:
“Bagus, bagus, engkau adalah seorang lelaki yang berpengetahuan luas dan sesungguhnya engkau memang datang dari seorang lelaki yang berpengetahuan.”
“Wahai Gubernur Mesir, sebelum engkau menjadi gubernur di sini, seseorang bernama Firaun telah menjadi pemimpin Mesir dan dia menganggap dirinya sebagai Tuhan. Lalu Tuhan telah menghancurkan mereka supaya kehidupan mereka dijadikan pelajaran buat kalian. Kini, berusahalah supaya kalian tidak menjadi contoh buruk kepada orang lain.”
Mendengar perkataan Hatib, Muqouqis kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia terlihat seperti orang yang bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya serta apa yang harus dikatakannya kepada Hatib. Muqouqis kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mata Hatib. Dari cahaya mata lelaki muslim itu, ia dapat merasakan dengan jelas keikhlasan dan kejujurannya. Kemudian, Hatib sekali lagi memecahkan kesunyian dengan berkata:
“Para pemimpin Mekah bersikap keras terhadap Muhammad dan memeranginya. Orang-orang Yahudi dengan sikap dengki memusuhinya. Tetapi, kelompok yang paling dekat dengan Muhammad ialah orang-orang Kristen, karena Isa al Masih telah menyampaikan berita tentang kedatangan nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad. Kini kami menyeru kalian untuk mematuhi Muhammad dan mengikuti Al-Quran. Setiap bangsa yang mendengarkan seruan Nabi haruslah mengikutinya.”
Perbincangan Hatib, utusan Rasulullah dengan pemimpin Mesir telah berakhir. Tetapi, Muqouqis tidak memberikan jawaban yang diinginkan. Hatib selama beberapa hari menanti jawaban surat dari Gubernur Mesir untuk dibawanya kepada Rasulullah saaw. Akhirnya, suatu hari Muqouqis meminta Hatib untuk menemuinya. Muqouqis berkata:
“Dari kata-katamu, aku memahami bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir, tetapi jika aku memeluk agamamu, rakyatku akan membenciku dan menolakku sebagai pemimpin. Aku berharap semoga rakyat Mesir dapat mengambil manfaat dari kedatangan Nabi Muhammad dan agama Islam. Oleh karena itu, rahasiakanlah perbincangan antara aku dan engkau.
Kemudian Muqouqis memerintahkan seseorang dari penulisnya yang memahami bahasa Arab untuk menulis surat buat Rasulullah saaw, yang isinya sebagai berikut:
“Kepada Nabi Muhammad putra Abdullah, dari Muqouqis gubernur Mesir. Salam bagimu. Aku telah membaca suratmu dan aku telah memahami maksudmu dan hakikat dari seruanmu. Aku menyambut baik kedatangan utusanmu.”
Muqouqis juga menulis tentang hadiah yang disertakan bersama surat tersebut dan mengakhiri surat tersebut dengan kalimat “Salam Bagimu”. Dengan demikian, Muqouqis dalam hatinya telah menerima seruan nabi, tetapi dia menghindar untuk mengungkapkannya secara terang-terangan. Hatib pun kemudian diantarkan ke Syam oleh sebagian pengawal Muqouqis. Dari Syam, Hatib melanjutkan perjalanan ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Hatib segera Hatib menyerahkan surat Muqouqis. Setelah membaca surat Muqouqis, Rasulullah saaw memandang ke kejauhan dan bersabda:
“Islam akan segera menyebar di bumi Mesir.”
AlfaOmega
November 09, 2007, 14:16
Ingin Mimpi Bertemu Rasulullah SAW (http://kotasantri.com/beranda.php?aksi=Cetak&sid=793)
Penulis : Riana Az-Zahra
KotaSantri.com : Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan syaikhnya. Sang syaikh dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya, "Apakah gerangan merisaukanmu?"
"Wahai syaikh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul," jelas si murid.
"Oo... Rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar..." Sang syaikh mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.
"Nih..., bacalah setiap hari seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu."
Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa catatan itu. Namun, setelah beberapa minggu, kembalilah si murid ke rumah syaikhnya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang syaikh segera memberikan bacaan lain. Namun, beberapa minggu kemudian muridnya kembali dengan lesu memberitahukan bahwa bacaan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.
Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang syaikh,
"Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya.
Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah sang syaikh untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat syaikhnya hanya menghidangkan ikan asin saja.
"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata sang syeikh kepada muridnya. Karena tergolong murid taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada.
Selesai makan, ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin yang ada di hadapannya. "Letakkan kembali gelas itu!" perintah sang syaikh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"
Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah syaikhnya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
Apa yang terjadi? Malam itu ia mimpi, syeikhnya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.
"Apa yang kau impikan?" tanya sang syeikh yang berdiri tak jauh darinya.
"Syaikh, aku tidak memimpikan Nabiku SAW, aku mimpi minum air."
Tersenyumlah sang syaikh mendengar jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata, "Jika cintamu pada Nabi SAW seperti cintamu pada air sejuk itu, niscaya kau akan memimpikannya."
Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunnahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Ia masih lebih mencintai air.
2hot4u
November 10, 2007, 10:57
(salah post sorry.....)
AlfaOmega
November 11, 2007, 20:30
Do'a Mustajab (http://www.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=335)
KotaSantri.com : "Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargaku, dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan." Doa itu keluar dari mulut 'Amru bin Jumuh, ketika ia bersiap-siap mengenakan baju perang dan bermaksud berangkat bersama kaum Muslimin ke medan Uhud. Ini adalah kali pertama bagi 'Amru terjun ke medan perang, karena dia kakinya pincang. Di dalam Al-Qur'an disebutkan : "Tiada dosa atas orang-orang buta, atas orang-orang pincang dan atas orang sakit untuk tidak ikut berperang." (QS. Al-Fath : 17).
Karena kepincangannya itu maka 'Amru tidak wajib ikut berperang, di samping keempat anaknya telah pergi ke medan perang. Tidak seorang pun menduga 'Amru dengan keadaannya yang seperti itu akan memanggul senjata dan bergabung dengan kaum Muslimin lainnya untuk berperang.
Sebenarnya, kaumnya telah mencegah dia dengan mengatakan, "Sadarilah hai 'Amru, bahwa engkau pincang. Tak usahlah ikut berperang bersama Nabi SAW."
Namun 'Amru menjawab, "Mereka semua pergi ke surga, apakah aku harus duduk-duduk bersama kalian?"
Meski 'Amru berkeras, kaumnya tetap mencegahnya pergi ke medan perang. Karena itu 'Amru kemudian menghadap Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah. Kaumku mencegahku pergi berperang bersama Tuan. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini."
"Engkau dimaafkan. Berperang tidak wajib atas dirimu." Kata Nabi mengingatkan.
"Aku tahu itu, wahai Rasulullah. Tetapi aku ingin berangkat ke sana." Kata 'Amru tetap berkeras.
Melihat semangat yang begitu kuat, Rasulullah kemudian bersabda kepada kaum 'Amru, "Biarlah dia pergi. Semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya."
Dengan terpincang-pincang 'Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak, "Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati." Sampai akhirnya ajal menemui mereka.
Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah 'Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu 'Aisyah melihat Hindun, istri 'Amru bin Jumuh sedang menuntun unta ke arah Madinah. 'Aisyah bertanya, "Bagaimana beritanya?"
"Baik-baik, Rasulullah selamat. Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan," jawab Hindun.
"Mayat siapakah di atas unta itu?"
"Saudaraku, anakku dan suamiku."
"Akan dibawa ke mana?"
"Akan dikubur di Madinah."
Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.
"Barangkali terlalu berat," kata 'Aisyah.
"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain." Jawab Hindun.
Ia kemudian memukul unta tersebut sampai berdiri dan berjalan kembali, namun binatang itu berjalan dengan cepat ke arah Uhud dan lagi-lagi merebah ketika di belokkan ke arah Madinah. Menyaksikan pemandangan aneh itu, Hindun kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya, "Hai Rasulullah. Jasad saudaraku, anakku dan suamiku akan kubawa dengan unta ini untuk dikuburkan di Madinah. Tapi binatang ini tak mau berjalan bahkan berbalik ke Uhud dengan cepat."
Rasulullah berkata kepada Hindun, "Sungguh unta ini sangat kuat. Apakah suamimu tidak berkata apa-apa ketika hendak ke Uhud?"
"Benar ya Rasulullah. Ketika hendak berangkat dia menghadap ke kiblat dan berdoa, "Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan aku ke keluargaku dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."
"Karena itulah unta ini tidak mau berangkat ke Madinah. Allah SWT tidak mau mengembalikan jasad ini ke Madinah." kata beliau lagi.
"Sesungguhnya diantara kamu sekalian ada orang-orang jika berdo'a kepada Allah benar-benar dikabulkan. Di antara mereka itu adalah suamimu, 'Amru bin Jumuh," sambung Nabi.
Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar ketiga jasad itu dikuburkan di Uhud. Selanjutnya beliau berkata kepada Hindun, "Mereka akan bertemu di surga. 'Amru bin Jumuh, suamimu; Khulad, anakmu; dan Abdullah, saudaramu."
"Ya Rasulullah. Do'akan aku agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka." kata Hindun memohon kepada Nabi. [Kisah-kisah_Islami]
AlfaOmega
November 13, 2007, 14:05
Utang-Piutang (http://www.eramuslim.com/atk/oim/7b13152405-utang-piutang.htm)
13 Nov 07 17:13 WIB
Oleh Sigit Indriyono
Kubuka kenangan masa lalu beberapa tahun berselang, yaitu suka-duka sebagai anak kos di kota Bandung. Gembira dirasakan saat kiriman uang dari orang tua telah sampai. Kebanyakan orangtua menggunakan sarana wesel pos atau transfer lewat bank untuk mengirim uang kepada anaknya. Kiriman uang baru bisa diterima beberapa hari setelah dilakukan pengiriman. Belum ada jaringan bank yang on line, ataupun wesel pos elektronik. Saat ini, dengan memanfaatkan teknologi informasi, kiriman uang bisa diterima dalam hitungan detik, dan pengambilannya bisa dilakukan setiap saat di ATM.
Keterlambatan kiriman uang dari orangtua akan menimbulkan masalah. Anggaran pengeluaran telah telah dibuat untuk memenuhi berbagai kewajiban sebagai mahasiswa. Tagihan uang kos dari induk semang terbayang di pelupuk mata. Belum lagi biaya hidup sehari-hari yang harus dikeluarkan. Untuk ongkos kendaraan umum dari tempat kos ke kampus pergi-pulang dan makan siang di kantin kampus. Belum lagi biaya untuk pembayaran uang praktikum. Atau untuk pembelian diktat dan buku teks kuliah. Kondisi demikian akan menyadarkan kita, sungguh besar pengorbanan orangtua mencari nafkah untuk keperluan keluarga. Sehingga, selayaknya bakti dan hormat kepada orangtua menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan. ''Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orangtua. '' (HR Hakim).
Kita butuh uang untuk pembayaran suatu keperluan yang penting dan sangat mendesak tetapi uang di tangan tidak mencukupi seperti kondisi di atas. Solusi yang bisa dilakukan adalah berutang kepada orang lain yang mempunyai kelebihan. Saling tolong menolong dalam bentuk perjanjian utang-piutang merupakan perwujudan hablum minannas. Utang-piutang harus dibuat secara tertulis sesuai perintah Allah SWT (QS Al-Baqarah[2]:282).
Aku terkenang saat masih duduk di bangku SMP di kota Malang. Pak Harno penjaga sekolah membuka warung di halaman sekolah. Macam-macam makanan dan minuman dijual di warungnya, dibantu oleh sang isteri. Mereka berdua dengan penuh keramahan melayani para siswa. Saat istirahat sekolah, warung yang rapi dan bersih itu ramai oleh para siswa, terlebih setelah pelajaran olahraga. Pak Harno tidak keberatan jika ada siswa yang berutang karena tidak membawa uang. Dicatatnya utang para siswa yang suka jajan di warungnya. Nama siswa, jumlah utangnya dan janji tanggal pelunasannya tertulis lengkap dan rapi dalam buku catatannya. Subhanallah, orang yang sangat sederhana itu telah melaksanakan perintah Allah dalam hal utang-piutang.
Fakta yang sering kita saksikan, masih banyak di antara kita yang belum bisa menjalankan amanat utang-piutang itu dengan benar, yakni membayar utang tepat waktu. Menunda pembayaran utang di saat kita lapang dan bisa membayarnya adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Melunasi utang sesuai kesepakatan yang telah dibuat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan seseorang yang berutang. Jika tidak dilaksanakan, akan timbul konflik antara kedua belah pihak yang mengadakan utang-piutang.
Jika seseorang berutang mengalami kesulitan untuk melunasi utang sesuai perjanjian yang dibuat dan meminta penangguhan untuk pelunasannya, maka pihak yang memberi pinjaman utang harus dengan penuh kerelaan memenuhinya. Kesepakatan baru antara kedua pihak dibuat dengan berbagai pertimbangan untuk kebaikan bersama. Bahkan, menyedekahkan sebagian atau semua utang adalah hal yang mulia. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]:280)
Pada saat melayat pada keluarga yang ditinggal wafat oleh anggotanya, biasanya ada pemberitahuan agar yang mempunyai urusan utang-piutang dengan orang yang wafat agar menghubungi ahli waris. Sehingga, utang-piutang bisa diselesaikan bersama ahli waris. Sesuai syariat, jika seseorang wafat dan meninggalkan utang, maka ahli waris berkewajiban untuk melunasinya. ''Sesungguhnya ruh seorang mukmin ditangguhkan (dari hisabnya) sampai utangnya dibayar. '' (HR Tirmidzi).
AlfaOmega
November 17, 2007, 04:45
TANGIS ABDURRAHMAN BIN AUF Radhiallahu 'Anhu (Masuk Surga Dengan Merangkak) (http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=229)
Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah. Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki. Ketika Ummul Mukminin Aisyah RHA mendengar suara gaduh kafilah, maka dia bertanya, "Apa yang sedang terjadi di Madinah?" Ada yang menjawab, "Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf RA yang baru datang dari Syam membawa barang dagangan miliknya." Aisyah bertanya, "Kafilah membuat kegaduhan seperti ini?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Ummul Mukminin, kafilah ini berjumlah 700 unta." Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak'." (al-Kanz, no. 33500)
Renungkanlah, wahai orang-orang yang punya akal pikiran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak!
Sebagian sahabatnya menyampaikan berita ini kepadanya. Ia teringat bahwa ia pernah mendengar hadits ini dari Nabi SAW lebih dari sekali, dan dengan lafazh yang berbeda-beda. Ia pun melangkahkan kakinya menuju rumah Ummul Mukminin Aisyah RHA dan berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah menyebutkan suatu hadits yang tidak akan pernah aku lupa-kan."
Kemudian ia berkata, "Aku bersaksi bahwa kafilah ini berikut muatan dan pelananya, aku infakkan di jalan Allah SWT."
Muatan 700 unta itu pun dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya dalam "pesta besar". Itulah Abdurrahman bin Auf, seorang pedagang sukses, orang kaya raya, mukmin yang mahir... yang menolak bila kekayaannya itu menjauhkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah salah seorang dari delapan orang yang telah lebih dahulu masuk Islam, dan termasuk salah seorang yang diberi kabar gembira dengan surga.
Ia adalah salah seorang dari enam anggota musyawarah yang ditunjuk oleh al-Faruq Umar RA untuk memilih khalifah di antara mereka sepeninggalnya seraya berkata, "Rasulullah SAW wafat dalam keadaan ridha kepada mereka."
Ia berhijrah ke Habasyah, kemudian kembali ke Makkah. Kemudian berhijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya. Kemudian berhijrah ke Madinah, dan mengikuti perang Badar, Uhud dan semua peperangan.
Ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, beliau mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi' RA. Mengenai hal itu, Anas bin Malik RA menuturkan, "Sa'd berkata kepada Abdurrahman, 'Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, lihatlah separuh hartaku lalu ambillah. Aku punya dua istri, lihatlah mana di antara keduanya yang paling engkau kagumi, maka aku akan menceraikannya untuk engkau nikahi.' Abdurrahman bin Auf menjawab, 'Semoga Allah memberkahimu berkenaan dengan keluargamu dan hartamu... Tunjukkanlah padaku letak pasar.' Lalu ia pergi ke pasar, lalu membeli dan menjual serta mendapatkan keuntungan."
Perdagangannya sukses lagi diberkahi, dia mencari yang halal dan menjauhi yang haram serta syubhat. Dalam perdagangannya terdapat bagian yang sempurna untuk Allah, yang disampaikan untuk keluarga dan saudara-saudaranya, serta untuk menyiapkan pasukan kaum muslimin.
Ia pernah mendengar Rasulullah a bersabda kepadanya pada suatu hari,
يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ، وَإِنَّكَ سَتَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا، فَأَقْرِضِ اللهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ
"Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya, dan kamu akan masuk surga dengan merangkak. Oleh karena itu, pinjamkanlah suatu pinjaman kepada Allah sehingga Allah membebaskan kedua telapak kakimu." (HR. al-Hakim, 3/ 311 dan al-Hilyah, 1/ 99)
Sejak saat itu, ia memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, sehingga Allah melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Suatu hari ia menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya untuk keluarganya yaitu Bani Zahrah, untuk Ummahatul Mukminin, dan kaum fakir dari kalangan kaum muslimin. Suatu hari ia memberikan untuk pasukan kaum muslimin se-banyak 500 kuda. Pada hari yang lain, ia memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika meninggal, ia mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar di jalan Allah. Ia mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari peserta perang Badar mendapat-kan 400 dinar di jalan Allah. Sampai-sampai Imam Syahid Utsman bin Affan RA mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata, "Harta Abdurrahman adalah halal dan bersih, dan menikmati harta tersebut menjadi kesembuhan dan keberkahan."
Karena itu dia berkata, "Penduduk Madinah semuanya adalah sekutu Ibnu Auf berkenaan dengan hartanya... karena sepertiganya ia pinjamkan kepada mereka, sepertiganya untuk membayarkan hutang mereka, dan sepertiganya lagi ia sampai-kan dan berikan kepada mereka."
Sekarang... mari kita lihat air mata orang shalih ini yang menjadikannya sebagai golongan orang-orang yang shalih, zuhud, dan jauh dari dunia berikut segala isinya.
Suatu hari ia dibawakan makanan untuk berbuka, karena ia berpuasa. Ketika kedua matanya melihat makanan itu dan mengundang seleranya, ia menangis seraya berkata, "Mush'ab bin Umair gugur syahid dan ia lebih baik daripada aku, lalu ia dikafani dengan selimut. Jika kepalanya ditutupi, maka kedua kakinya kelihatan dan jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya kelihatan. Hamzah gugur sebagai syahid dan ia lebih baik daripada aku. Ia tidak mendapatkan kain untuk mengkafaninya selain selimut. Kemudian dunia dibentangkan kepada kami, dan dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia."
Pada suatu hari sebagian sahabatnya berkumpul untuk me-nyantap makanan di kediamannya. Ketika makanan dihidangkan di hadapan mereka, maka ia menangis. Mereka bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?" Ia menjawab, "Rasulullah SAW telah meninggal dalam keadaan beliau berikut ahli baitnya belum pernah kenyang makan roti gandum... Aku tidak melihat kita diakhirkan, karena suatu yang lebih baik bagi kita."
Demikianlah Abdurrahman bin Auf, sampai-sampai dikatakan tentang dia, seandainya orang asing yang tidak mengenalnya melihatnya sedang duduk bersama para pelayannya, maka ia tidak bisa membedakan di antara mereka.
AlfaOmega
November 17, 2007, 04:46
Ketika al-Faruq Umar bin al-Khaththab RA akan melepas nyawanya yang suci, dan memilih enam orang dari sahabat Rasulullah SAW untuk memilih khalifah baru, di antara mereka ialah Abdurrahman bin Auf, maka pada saat itu banyak jari yang menunjuk ke arah Ibnu Auf. Ketika sebagian sahabat mendu-kungnya berkenaan dengan hal itu, maka ia berkata, "Demi Allah, mata anak panah diambil lalu diletakkan di kerongkonganku, kemudian diteruskan ke sisi lainnya, lebih aku sukai daripada menjadi khalifah."
Setelah itu, ia memberitahukan kepada kelima saudaranya bahwa dirinya mundur dari pencalonan. Tetapi mereka ber-pendapat agar dialah yang menjadi hakim dalam memilih khalifah. Dialah orang yang dinilai oleh Imam Ali bin Abi Thalib RA, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW menyifatimu sebagai orang kepercayaan di penduduk langit dan orang keper-cayaan di penduduk bumi."
Di sinilah terjadi pemilihan yang benar. Ia memilih Dzun Nurain, seorang yang dermawan dan pemalu, penggali sumur untuk kaum muslimin, orang yang menyiapkan pasukan penak-lukan Makkah, Imam Syahid Utsman bin Affan RA. Akhirnya, yang lainnya mengikuti pilihannya.
Pada tahun 32 H., Ibnu Auf menghembuskan nafas terakhirnya. Ummul mukminin Aisyah RHA ingin memberikan penghar-gaan khusus kepadanya yang tidak pernah diberikannya kepada selainnya. Aisyah menawarkan kepadanya, pada saat Ibnu Auf berbaring di atas ranjang kematiannya, untuk dikuburkan di kamarnya di sisi Rasul SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab RA. Tetapi ia seorang muslim yang terdidik dengan sangat baik oleh keislamannya, sehingga ia merasa malu mengangkat dirinya kepada derajat seperti ini. Apalagi ia punya perjanjian yang sangat kuat bersama Utsman bin Mazh'un RA, ketika keduanya mengadakan perjanjian pada suatu hari, bahwa siapa di antara keduanya yang mati belakangan, maka ia diku-burkan di dekat sahabatnya.
Ketika ruhnya siap untuk melakukan perjalanan baru, maka kedua matanya mengalirkan air mata, dan lisannya berucap, "Sesungguhnya aku takut tertahan untuk berjumpa sahabat-sahabatku karena banyaknya harta yang aku miliki."
Tetapi Allah SWT menurunkan ketentramanNya, dan wajahnya berbinar-binar dengan cahaya. Seolah-olah ia mendengar sesuatu yang menyejukkan yang dekat dengannya. Sepertinya ia mendengar suara sabda Rasul SAW di masa lalu, "Abdurrahman bin Auf masuk surga."
Sepertinya ia mendengar janji Allah dalam Kitab SuciNya, "Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemu-dian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 262).
AlfaOmega
November 20, 2007, 18:33
TANGISAN PENCURI YANG BERTAUBAT DARI DOSANYA (http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=225)
Seorang sahaya wanita Malik bin Hisyam bin Hassan menuturkan, "Atha' al-Azraq keluar menuju Jabban (tempat kosong) untuk mengerjakan shalat malam.
Tiba-tiba pencuri menghadangnya, maka Atha' berkata, 'Ya Allah, selamatkanlah aku darinya.'
Kedua tangan dan kaki pencuri pun seolah menjadi beku, lalu ia menangis dan berteriak, 'Demi Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi selamanya.'
Kemudian Atha' berdoa kepada Allah untuk melepaskannya.
Setelah itu pencuri tersebut mengikutinya, lalu bertanya kepadanya, 'Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, siapakah engkau?'
Ia menjawab, 'Aku Atha'.'
Pagi harinya, ia bertanya, 'Apakah kalian mengenal seorang shalih yang keluar tadi malam ke tanah lapang untuk shalat di sana?'
Mereka menjawab, 'Ya, Atha' as-Sulami.'
Ia lalu pergi kepada Atha' as-Sulami, di rumah yang sudah rusak, untuk menemuinya.
Ia berkata, 'Aku datang kepadamu untuk bertau-bat dari perbuatanku demikian dan demikian, maka berdoa-lah kepada Allah untukku.'
Atha' as-Sulami mengangkat kedua tangannya ke langit sambil menangis seraya berkata, 'Kasihan kamu! Bukan aku yang kau maksud. Itu adalah Atha' al-Azraq'."
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.