View Full Version : Kisah-kisah menawan Hati
Preman_Cakung
February 05, 2008, 15:47
numpang lewat aaahh...... ::jinjit::
yang punya forum dateng neh.....Brownis dah ngilang datang lagi...[bisik]
cobalt_6982
February 05, 2008, 15:52
numpang lewat aaahh......
yang punya forum dateng neh.....Brownis dah ngilang datang lagi...
BAHQ....AQ LAGE LAPER GINI MALAH NGOMONGIN BROWNIS...MAKIN TAMBAH LAPER
T.T
tega nian kaw
Preman_Cakung
February 05, 2008, 15:55
Gimana Balt....gayung bersambut gak sama si anu...... [bisik]
cobalt_6982
February 05, 2008, 15:57
swt...................
maksud mu apa naQ???
zzzzzzzzzzzzz
Preman_Cakung
February 05, 2008, 16:26
swt...................
maksud mu apa naQ???
zzzzzzzzzzzzz
Kura-kura dalam perahu.....
ada edy "cobalt" wibawa pura-pura gak tahu....
padahal dah kelihatan dari jempol ane [rokok]
AlfaOmega
February 05, 2008, 20:08
guwe tambahin ya...
Al Qur'an adalah firman atau perkataan Allah SWT yang disampaikan oleh nabi MUhammad SAW, dan oleh nabi Muhammad SAW disandarkan kepada Allah SWT. Lafadz dan redaksi nya dari Allah SWT.
misalkan aja kayak begini: Rasulullah SAW mengatakan: Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah Ta`ala......................................
Hadits Nabi: segala yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, sifat, dan lain-2.
Contoh berupa perkataan:
Sesungguhnya sahnya amal itu disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya.
Contoh perbuatan:
Shalatlah seperti kamu melihat aku melakukan shalat.
Ambilah dari padaku manasik hajimu.
Contoh persetujuan beliau:
beliau menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan atau pun perbuatan, baik dilakukan di hadapan beliau atau tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya.
Misalnya mengenai makanan biawak yang dihidangkan kepadanya, di mana beliau dalam sebuah riwayat telah mendiamkannya yang berarti menunjukkan bahwa daging biawak itu tidak haram dimakan.
Hadits Nabi adalah suatu bentuk wahyu juga..., yang redaksinya dari Nabi Muhammad SAW.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS An-Najm:3-4).
filsufsufi
February 06, 2008, 02:43
santai tapi serius neh thread....khususnya mr. Cobalt ?!
N-K_Person
February 06, 2008, 05:34
biawak apa iguana sih?
cobalt_6982
February 06, 2008, 11:01
santai tapi serius neh thread....khususnya mr. Cobalt ?!
wew
koQ bawa2 aq...aq kan orang yang nyantai~~~~~
GYahahahhahaha
Preman_Cakung
February 06, 2008, 12:22
wew
koQ bawa2 aq...aq kan orang yang nyantai~~~~~
GYahahahhahaha
ente gak ngerti maksud tersiratnya si filsuf ya Balt? :hehe
Maksudnya ente punya tendensi tertentu......sama si "anu"
masak gitu aja gak ngerti seh.... [bisik]
badboyZzz
February 06, 2008, 12:25
Walah, kok skrg malah ngomongin si anu :bingung:
Kenalin dong ama si anu ::malu::
AlfaOmega
February 06, 2008, 13:12
biawak apa iguana sih?
guwe gak tahu terjemahan pastinya... :haha
binatang nya kyk gimana, juga guwe gak tahu
terjemahan orang awam, mungkin biawak...
terjemahan orang yg lebih paham flora dan fauna, katanya ipguana... :D
makna yg berusaha disampaikan dari hadits adalah...
yang didiamkan / dibiarkan oleh Rasulullah itu berarti persetujuan / pembolehan beliau atas suatu kejadian yg sampai kepada beliau.
cobalt_6982
February 07, 2008, 09:33
ente gak ngerti maksud tersiratnya si filsuf ya Balt?
Maksudnya ente punya tendensi tertentu......sama si "anu"
masak gitu aja gak ngerti seh....
zzzzzzzzzzzzzzz
si anu sapa???
ckckckck
Gyahahahaha
letung
February 11, 2008, 01:25
PEDAGANG RAHASIA
Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.
Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.
Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.
"Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian dan jalan kaum mistik," berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.
Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan didalam wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk menyelesaikan perjalanan.
Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan memberkahi terang ke dalam hatinya.
Khaidir berkata:
"Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah kerja kasar yang disuruhnya".
Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:
"Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini?"
Khaidir menjawab:
"Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat ditenggelamkan oleh pengikut-pengikutnya. Maka ia memberi pengajaran dengan diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang pedagang biasa."
Vanilla_milk
February 11, 2008, 09:38
Kemarin aku ke walisongo lagi, cari buku kutubus sittah, tapi orang penjaga tokonya bilang gak ada, trus saya cari ke gramedia juga gak ada, cari ke toko buku islam2 lain juga gak ada,
Kok susah bgt ya bukunya?
Ada referensi nggak kemana harus membeli?
Btw Hadits ini terdiri dari 6 buku atau terdiri dari satu buku aja sih?
filsufsufi
February 11, 2008, 10:12
sabarya...Nenk...ntar mr. Cobalt pasti datang membantu....
AlfaOmega
February 11, 2008, 15:35
Kemarin aku ke walisongo lagi, cari buku kutubus sittah, tapi orang penjaga tokonya bilang gak ada, trus saya cari ke gramedia juga gak ada, cari ke toko buku islam2 lain juga gak ada,
Kok susah bgt ya bukunya?
Ada referensi nggak kemana harus membeli?
Btw Hadits ini terdiri dari 6 buku atau terdiri dari satu buku aja sih?
kyk nya, itu buku bahasa Arab friend...
kalo mo beli, beli di toko buku di kampung Arab, dimungkinkan ada...
kalo mau mendalami Islam,
saran saya, lebih baik ikut rutin ke pengajian-2, friend.. (Aa Gym, Arifin Ilham, dll) :)
kemudian dilengkapi dgn membaca buku-2 Islam sendiri
Belajar Islam dgn mengikutin pengajian, biasanya sisi Akhlaq cukup terbina. karna, kita melihat sendiri bagaimana akhlaq sang ustadz,
dan biasanya mereka juga memberikan contoh berupa pengalaman-2 hidup mrk...
kalo hanya dari membaca buku
pada umumnya, ilmu islam nya saja yg tinggi
tapi akhlaq nya gak terbina
sehingga menjadikan sosok muslim yg ujub atas Ilmu Islam nya, sosok yang egois, sosok yang memandang rendah muslim lain, de el el.
filsufsufi
February 12, 2008, 01:54
Ilmu Islam bukan untuk ilmu semata, tapi untuk di praktek kan ada praktek Jasmani dan ada praktek Ruhani
Intinya mengerti Islam itu "ilmu dengan amal", teori dengan praktek, latihan jasmani dan latihan ruhani
anda tau ilmu tentang 'sabar', yaitu : "bla bla bla", tapi ketika dalam prakteknya, saat anda sedang marah, kesal, dll apakah anda bisa sabar?.....jangan dibilang orang: "ya situ mah teori doank !"
Vanilla_milk
February 12, 2008, 02:00
kyk nya, itu buku bahasa Arab friend...
kalo mo beli, beli di toko buku di kampung Arab, dimungkinkan ada...
Waduh...bahasa arab? baru aja ngapalin alif ba ta sa, belum bisa bacanya akang...
kalo mau mendalami Islam,
saran saya, lebih baik ikut rutin ke pengajian-2, friend.. (Aa Gym, Arifin Ilham, dll) :)
kemudian dilengkapi dgn membaca buku-2 Islam sendiri
Kalo kita mau tau info2 tentang pengajian gitu dimana ya?
Biasanya pengajian Aa'Gym, Arifin ilham itu adanya di mana n kapan waktunya?
Saya pengen bgt ikut ke acara pengajian spt itu, tapi nggak ada informasi.
Belajar Islam dgn mengikutin pengajian, biasanya sisi Akhlaq cukup terbina. karna, kita melihat sendiri bagaimana akhlaq sang ustadz,
dan biasanya mereka juga memberikan contoh berupa pengalaman-2 hidup mrk...
kalo hanya dari membaca buku
pada umumnya, ilmu islam nya saja yg tinggi
tapi akhlaq nya gak terbina
sehingga menjadikan sosok muslim yg ujub atas Ilmu Islam nya, sosok yang egois, sosok yang memandang rendah muslim lain, de el el.
Oke...oke...harusnya sih gitu, sebab saya masih belajar mengandalkan buku.
Kalo di Kristen kan hari minggu ada kebaktian, kalo Islam ada pengajian yah?
Hehe.....
badboyZzz
February 12, 2008, 15:06
Bs jg ikut kelompok pengajian mualaf. Soalnya mrk paling tau cara menuntun org2 yg br kembali dlm Islam. Search aja di internet, byk. Nah mungkin bs cari info di situ soal pengajian mrk.
Preman_Cakung
February 12, 2008, 15:28
kalo hanya dari membaca buku
pada umumnya, ilmu islam nya saja yg tinggi
tapi akhlaq nya gak terbina
sehingga menjadikan sosok muslim yg ujub atas Ilmu Islam nya, sosok yang egois, sosok yang memandang rendah muslim lain, de el el.
Aduh.............. spertinya kok pemahamannya menunjuk ke arah ana neh....
terima kasih atas petunjuknya Kang Alfa.....
Yah maklumlah Kang Alfa...ana masih amatiran..... ::malu::
letung
February 12, 2008, 16:09
xixixixixixixixi....:hehe da yang ketembak rupanya.
Preman_Cakung
February 12, 2008, 17:41
sabarya...Nenk...ntar mr. Cobalt pasti datang membantu....
Ya...ya...ya...betul..betul...
Cobalt itu orangnya baik hati....apalagi sama si eneng..... :kakaka: :rock
Preman_Cakung
February 12, 2008, 17:43
xixixixixixixixi....:hehe da yang ketembak rupanya.
Ya gimana lage Tung....jauhlah tingkatnya klo ana dibanding ente apalagi Kang Alfa...::malu::
AlfaOmega
February 12, 2008, 21:38
itu utk ngingetin guwe sendiri, koq ::malu::
gak usah Ge eR dech :o
AlfaOmega
February 12, 2008, 21:39
Bs jg ikut kelompok pengajian mualaf. Soalnya mrk paling tau cara menuntun org2 yg br kembali dlm Islam. Search aja di internet, byk. Nah mungkin bs cari info di situ soal pengajian mrk.
kalau di sekitar JKT,
seingat gw, Irene Handono (*tulisannya, bener gak ?*) memiliki muallaf centre...
Vanilla_milk
February 13, 2008, 01:45
Bs jg ikut kelompok pengajian mualaf. Soalnya mrk paling tau cara menuntun org2 yg br kembali dlm Islam. Search aja di internet, byk. Nah mungkin bs cari info di situ soal pengajian mrk.
Yupe...found it...www.ujecentre.com
thanks for the advise.....
Preman_Cakung
February 13, 2008, 12:23
Muslim itu saling mengingatkan Kang Alfa......
bukankah bisa jadi peringatan Kang Alfa untuk saya juga dan mungkin yang lainnya.....
GR sih gak......tapi berasa juga....hehehe.....
maklum kang.....::malu::
cobalt_6982
February 23, 2008, 04:22
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr wb
Segala puji bagi Allah,Tuhan ku dan Tuhan mu
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW
Gyahahahahah
waduh2...sry aq dah lama ndak OL
habis terbaring^^
Kemarin aku ke walisongo lagi, cari buku kutubus sittah, tapi orang penjaga tokonya bilang gak ada, trus saya cari ke gramedia juga gak ada, cari ke toko buku islam2 lain juga gak ada,
Kok susah bgt ya bukunya?
Ada referensi nggak kemana harus membeli?
Btw Hadits ini terdiri dari 6 buku atau terdiri dari satu buku aja sih?
weleh........
kutubus sittah itu 6 kitab hadist...semuanya ada 6 kitab....jadi bukan satu kitab doang....
kutubus sittah itu terdiri atas...shahih bukhari...shahih muslim...sunan abu dawud...sunan an nasa'i...sunan tirmizi...sunan ibnu majah....
nah...ke enam kitab di atas disebut kutubus sittah...
jadi...kalo maw cari bukunya...cari satu2....
sabarya...Nenk...ntar mr. Cobalt pasti datang membantu....
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
kalo mau mendalami Islam,
saran saya, lebih baik ikut rutin ke pengajian-2, friend.. (Aa Gym, Arifin Ilham, dll)
kemudian dilengkapi dgn membaca buku-2 Islam sendiri
Belajar Islam dgn mengikutin pengajian, biasanya sisi Akhlaq cukup terbina. karna, kita melihat sendiri bagaimana akhlaq sang ustadz,
dan biasanya mereka juga memberikan contoh berupa pengalaman-2 hidup mrk...
kalo hanya dari membaca buku
pada umumnya, ilmu islam nya saja yg tinggi
tapi akhlaq nya gak terbina
sehingga menjadikan sosok muslim yg ujub atas Ilmu Islam nya, sosok yang egois, sosok yang memandang rendah muslim lain, de el el.
yupz betul....kalo maw belajar agama...saya sarankan bukan cuma dari buku doang...dikhawatirkan bisa salah tafsir nantinya....jadi harus belajar dengan guru jg...
Waduh...bahasa arab? baru aja ngapalin alif ba ta sa, belum bisa bacanya akang...
ada terjemahannya jg...
Kalo kita mau tau info2 tentang pengajian gitu dimana ya?
Biasanya pengajian Aa'Gym, Arifin ilham itu adanya di mana n kapan waktunya?
Saya pengen bgt ikut ke acara pengajian spt itu, tapi nggak ada informasi.
pengajian sekitar rumah memangnya ndak ada???
saran buat vanilla milk...kalo maw membeli kitab hadist...sebaiknya shahih bukhari atau shahih muslim terlebih dahulu....oh iy...buat meningkatkan ilmu u tentang aqidah Islam...coba beli majalah judulnya As Sunnah....Insya Allah banyak ilmu baru yang bisa u pelajari....
Ya...ya...ya...betul..betul...
Cobalt itu orangnya baik hati....apalagi sama si eneng.....
zzzzzzzzzzzzz
Preman_Cakung
February 25, 2008, 00:49
Si cobalt.....walaupun tepar tapi klo nanggapin postingannya si eneng cepat sekali..... :kakaka:
Wogh.............. :kabur:
cobalt_6982
February 25, 2008, 02:31
bahQ....tuan preman cakung swt dah..........
Preman_Cakung
February 25, 2008, 02:36
Balt......si eneng lagi OL lho! [rokok]
Wogh....... :kabur:
cobalt_6982
February 25, 2008, 03:22
dah tau....lagepula perasaan nama dia bukan si eneng...tapi vanilla_milk...swt dah
Preman_Cakung
February 25, 2008, 11:35
Syet dah dia jujur amat......pake nyebut nama lagi......
hih......hih......hih.......[tabok]
cobalt_6982
February 25, 2008, 12:58
jah....dasar preman...wkwkkw
susah dah ngalahin preman
AlfaOmega
March 03, 2008, 17:41
Kisah Keislaman Saad bin Abi Waqqash (http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=6)
Di zaman Rasulullah tersebutlah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Suatu hari pemuda itu berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."
Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.
Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seadainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."
Tatkala sang ibu melihat keteguhan hati anaknya, dia pun menyerah lalu kembali makan dan minum meskipun tidak suka. Allah kemudian menurunkan ayat tentang mereka yang artinya, "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kaum mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqmaan: 15)
Maha Benar Allah yang Maha Agung.
Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
Preman_Cakung
March 04, 2008, 13:46
Subhanallah......kisah yang teramat bagus
AlfaOmega
March 04, 2008, 20:11
Bertani di Syurga
Pada suatu hari Rasulullah SAW berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Beliau SAW menceritakan bahwa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah untuk bercocok tanam, kemudian Allah bertanya kepadanya bukankah Allah telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanamn itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".
"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar karena mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah SAW tertawa mendengar kata-kata orang badui itu.
sumber: 1001 Kisah Teladan
AlfaOmega
March 06, 2008, 20:28
Kambing dan alat tenun
Imam Ahmad telah memberitakan dari Humaid bin Hilal, dia berkata: Ada seorang lelaki yang sering berulang-alik di kampung kami, lalu dia membawa cerita yang aneh-aneh kepada orang-orang kampung. Dia bercerita: Suatu ketika aku datang ke Madinah dalam rombongan dagang, lalu aku menjual semua barang-barang yang aku bawa. Aku berkata kepada diriku: Mengapa aku tidak pergi kepada orang lelaki yang membawa ajaran baru itu, barangkali aku dapat mendengar berita-berita yang aneh untuk aku bawa kembali bersamaku?! Aku pun pergi kepada Rasulullah SAW untuk bertanya sesuatu, lalu Beliau menunjuki arah sebuah rumah, katanya: Ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu . Pernah dia mengikut tentera Islam berjihad, dan ditinggalkannya 12 ekor kambingnya dan sebuah alat tenunan yang digunakannya untuk menenun pakaian. Apabila dia kembali dari berjihad, didapati kambingnya hilang seekor, dan alat tenunannya pun hilang. Dia merasa sedih atas kehilangannya itu. Maka dia pun mengangkat kedua belah tangan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan, katanya:
"Ya Tuhanku! Engkau telah berikan jaminan bahwa siapa yang keluar berjihad pada jalanmu, Engkau akan pelihara harta bendanya, dan sekarang aku telah kehilangan seekor kambing, dan alat tenunanku. jadi aku minta ganti kambing yang hilang dan alat tenunanku itu!"
Rasulullah SAW terus menceritakan betapa sungguh-sungguhnya dia berdoa dan memohon kepada Tuhannya, sehingga pada esok harinya dia mendapati di pintu rumahnya kambingnya yang hilang itu dengan seekor kambing lagi bersamanya. Begitu juga dia melihat alat tenunannya ada di situ dengan satu alat tenun yang lain. Itulah ceritanya, kata Rasulullah SAW dan jika engkau mau, pergilah kepadanya di rumah itu, dan tanyalah dia cerita itu! "Tidak", jawabku, "akan tetapi aku percaya semua yang engkau katakan itu!"
(Majma'uz-Zawaid 5:277)
sumber: kisah 1001 malam
AlfaOmega
March 07, 2008, 13:29
Imam Ahmad meriwayatkan dari Jarir bin Adullah dia berkata, "Kami pergi bersama Rasulullah saw.. Setelah kami meninggalkan Madinah, tiba-tiba ada seorang penunggang menuju ke arah kami. Rasulullah saw. bersabda, Sepertinya penunggang itu ada keperluan kepadamu.? Akhirnya, tibalah penunggang itu pada kami seraya memberi salam. Kami pun menjawab salamnya. Rasulullah saw. Bertanya kepadanya, Dari mana engkau? Dia menjawab, "Dari istriku, anakku, dan keluargaku. Beliau bertanya, Hendak ke mana kamu? Dia menjawab, Hendak menemui Rasulullah. Beliau bersabda, Kamu telah menjumpainya. Dia berkata, Ajarkanlah kepadaku apakah iman itu? Beliau bersabda, Hendaklah kmau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, bahwa Muhammad merupakan Rasul Allah, kamu pun harus mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan beribadah haji ke Baitullah. Dia berkata, Sungguh aku mengakui "
Jarir melanjutkan, "Kemudian kaki depan unta orang itu masuk ke dalam lubang tikus yang besar sehingga unta pun terperosok, demikia pula orang itu terjatuh dengan kepala terbentur hingga ia mati. Maka Rasulullah bersabda, Saya harus menolong orang itu! Maka Amar bin Yasir dan Hudzaifah bin al-Yaman meloncat untuk memburu Nabi saw. Lalu keduanya mendudukkan beliau seraya berkata, Ya Rasulullah, orang itu sudah meninggal. "
Jarir berkata, "Maka Rasulullah berpaling dari kedua sahabat itu, lalu bersabda kepada keduanya, Apakah kamu berdua tidak melihat keberpalinganku dari orang itu? Sungguh saya melihat dua malaikat menyuapkan buah surga ke mulut orang itu sehingga tahulah saya bahwa dia mati dalam keadaan lapar! Kemudian Rasulullah saw. Bersabda, Orang ini termasuk orang-orang yang disifati Allah dalam firman-Nya, "
Orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampurkan keimanannya dengan kezaliman. Kemudian beliau melanjutkan, Bawalah saudaramu itu! Maka kami pun membawanya ke air, memandikannya, melumurinya dengan obat, mengafaninya, dan membawanya ke kubur.
Lalu, datanglah Rasulullah saw. Kemudian beliau duduk di pinggir kubur dan bersabda, Buatlah lahad (relung di lubang kubur) dan jangan membuat galian di tengah-tengah, sebab lahad itu untuk umat Islam sedang lubang di tengah untuk agama lain."
sumber (http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=98)
AlfaOmega
March 15, 2008, 18:00
Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya danjuga ada yang miskin.
Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.
Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT.
Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya.
Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.
sumber: 1001 kisah teladan
AlfaOmega
March 18, 2008, 21:03
Kebal Api Karena Jatuh Cinta... (http://www.acehforum.or.id/kisah-dan-hikmah-t2584.html?)
Hudzaifah.org - Seorang yang terkenal arif pernah bercerita, bahwa ia pernah menemui seorang pandai besi yang sangat ajaib. Ia mengerjakan pekerjaannya tanpa pernah menggunakan alat anti api atau lain-lainnya. Hanya dengan tangan kosong, ia mampu memegang besi yang sedang membara.
Ketika si arif menanyakan penyebab kekebalannya, pandai besi tadi menceritakan peristiwa yang pernah ia alami. Beberapa tahun yang lalu, aku mempunyai tetangga seorang wanita yang sangat cantik. Aku jatuh cinta kepadanya, tetapi ia hanya biasa-biasa saja dan tak membalas cintaku.
Setelah lama menanti, akhirnya kesempatan datang juga. Pada musim paceklik, ia datang ke rumahku dan berkata, Berilah aku makan karena Allah.
Aku tidak akan memberimu makan, kecuali kalau kau menerima cintaku. Astaghfirullah, tidak ada jalan bagiku untuk melakukan kemaksiatan, jawabnya seraya ketakutan. Karena ia menolak permintaanku, aku tetap tidak memberinya makan, dan kubiarkan saja ia berlalu pulang.
Karena saat itu sedang kemarau panjang, penduduk banyak yang mengalami kelaparan. Mungkin karena terpaksa, pada hari kedua ia datang lagi ke rumahku. Ia meminta seperti ucapannya kemarin dan aku tetap menolak untuk memberinya makan, sampai ia mau membalas rasa cintaku yang semakin menggelora.
Pada hari ketiga ia datang lagi dan meminta dengan berkata, Berilah aku makan karena Allah. Sungguh aku akan binasa karena menahan lapar. Aku tetap bertahan dengan memberinya syarat agar mau menerima cintaku. Mulanya ia akan pulang, tetapi akhirnya kembali dan masuk ke dalam rumahku.
Setelah kusediakan makanan di hadapannya, sambil menangis ia bertanya,
Kamu memberiku makan karena Allah?
Tidak! jawabku cepat.
Benar-benar diluar dugaanku. Dalam keadaan lapar, ia tak menjamah makanan yang telah tersedia di meja, tetapi segera keluar meninggalkanku yang kebingungan.
Pada hari keempat, iapun datang lagi dan meminta seperti biasa. Aku tetap bertahan dengan mengatakan memberinya karena cinta, bukan karena Allah. Akhirnya ia masuk ke rumahku, dan aku segera menyediakan makan seperti kemarin.
Sewaktu menyediakan makan, secara tiba-tiba aku menjadi sadar dan kagum dengan ketabahannya. Tiga hari wanita ini bertahan demi untuk tidak mendekati kemaksiatan, padahal ia akan binasa karena lapar, mengapa aku justru bersikap sebaliknya? Aku bertaubat ya Allah, semua ini karena aku telah terbakar oleh api cinta.
Setelah berucap dalam hati, saat itu juga aku segera berkata kepadanya,
Minum dan makanlah, jangan takut-takut, sekarang aku memberimu karena Allah. Mendengar ucapanku ini ia segera berkata,
Ya Allah, apabila yang ia katakan benar, maka haramkanlah api kepadanya baik di dunia ini maupun di akherat kelak.
Ternyata doanya telah dikabulkan oleh Allah, karena semenjak itu aku tak pernah merasakan panas lagi walaupun tanganku memegang api.
Setelah mendengar semua cerita penyebab kekebalan pandai besi ini, orang arif tadipun menyambung, Maha Suci Allah, aku juga pernah mendengar sebuah hadits, bahwa siapa yang berkuasa untuk berzina, tetapi ia tidak melakukannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi keamanan pada hari Kiamat kelak, diharamkannya api baginya, dan akan dimasukkan orang itu ke dalam surga.
AlfaOmega
March 19, 2008, 13:33
UWAIS AL-QORNY
(Sebuah Pelajaran Berharga untuk Kita yang Terjebak Atribut Kehidupan)
Oleh : MZ. Abduh
Dari Abu Hurairah ra.. : Telah bersabda Rasulullah saw :
"Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla mencintai makhluk-Nya yang
bersifat :
(i) al-asfiyaa` (yaitu orang-orang yang mempunyai hati dan ruhani yang
bersih, suci, jernih dan tulus dan benar-benar dekat dengan Allah swt
(ii) al-akhfiyaa`(yaitu orang-orang yang mengasingkan diri dari orang
ramai, yang diam-diam, yang sembunyi-sembunyi, karena Allah swt)
(iii) al-abriyaa` (yaitu berdebu/kumuh, maksudnya orang-orang yang
kehidupannya sangat miskin, penuh pengorbanan dan kesabaran di atas
kesusahan dan keperihan hidup yang mereka lalui karena Allah swt)
(iv) asy-sya'ithah ruusuhum (yaitu orang-orang yang rambut mereka
kusut, tidak teratur, mungkin karena sibuk dengan urusan-urusan
ukhrowi dan juga menghadapi liku-liku kemiskinan hidup dan juga
pengorbanan atas agama Allah swt)
(v) al-mughobbaroh wujuuhuhum (yaitu orang-orang yang wajah mereka
penuh berlumuran debu, lantaran liku-liku kesusahan yang dihadapi
dalam hidup mereka yang serba sederhana dan kekurangan karena Allah swt)
(vi) al-khomsoh butuunuhum (yaitu orang-orang yang sangat kempis
perut-perut mereka karena kelaparan dan kurang makan
(vii) Orang-orang yang bila mengajukan usul kepada pemimpin-pemimpin
mereka tidak diperkenankan
(viii) Jika mereka meminang wanita-wanita yang berharta atau
berkedudukan, maka pinangan mereka ditolak.
(ix) Jika mereka pergi dari suatu majlis atau tempat, maka mereka
tidak akan dicari oleh orang lain (yaitu orang ramai tidak peduli
dengan keperrgian mereka)
(x) Jika mereka hadir dalam suatu majlis, maka orang ramai tidak
gembira atas kemunculannya
(xi) Jika mereka jatuh sakit, mereka tidak dijenguk
(xii) Jika mereka meninggal, mereka tidak dilayat
Setelah mendengar sabda Rasulullah saw, maka para sahabat bertanya :
Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami bisa menemui orang-orang yang
dicintai Allah swt yang mempunyai sifat-sifat tersebut di atas ?
Rasul saw bersabda : Itulah Uwais Al-Qorniy. Para sahabat bertanya
lagi : Bagaimanakah ciri-cirinya ?
Sabda Nabi saw : Dia mempunyai mata yang agak kebiru-biruan dan juga
rambut berwarna kemerah-merahan/pirang, bidang dadanya, badannya
lurus tegak seimbang bila berdiri, mempunyai warna kulit sawo matang,
senantiasa dagunya menempel ke dadanya (menundukkan kepalanya karena
tawadhu' dan banyak berzikir), pandangan matanya selalu terarah pada
tempat sujudnya, selalu meletakkan tangan kanannya di atas yang
tangan kirinya, selalu tilawah Al-Quran, selalu menangisi dirinya,
mempunyai dua helai kain usang/lusuh, tidak diperhatikan dan
dipedulikan orang ramai, selalu memakai kain yang dibuat dari suuf
(bulu) dan selalu memakai selendang yang juga dibuat dari suuf (bulu),
tidak dikenal (majhuul) oleh penduduk bumi, sangat dikenal (ma'ruuf)
oleh ahli langit, seandainya dia bersungguh-sungguh memohon kepada
Allah swt pastilah Allah swt akan memperkenankannya, ketahuilah bahwa
sesungguhnya di bawah bahunya yang kiri terdapat bintik putih,
ketahuilah bahwa bila datang hari kiamat nanti dikatakan kepada
hamba-hamba: Masuklah kalian ke dalam syurga!, dan dikatakan kepada
Uwais : Berhenti, dan mintalah syafaa'at ! Maka Allah `Azza wa Jalla
pun menerima syafaa'atnya seperti Robii'ah dan Mudhor.
Wahai `Umar! Wahai `Ali, apabila kalian berdua berjumpa dengannya
maka mohonlah kalian berdua kepadanya supaya dia memohon istighfar
kepada Allah swt untuk kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni
kalian berdua.
Perawi melanjutkan : Maka mereka berdua (yaitu `Umar dan `Ali r.huma)
terus menanti dan mencari Uwais rah.a. selama sepuluh tahun, tetapi
mereka berdua tidak mampu untuk bertemu dengannya. Tetapi pada akhir
tahun kewafatan `Umar r.a,. `Umar .r.a. terus naik ke Bukit Abu
Qubais yang berdekatan dengan Masjidil Haram, lalu Beliau menyeru
dengan suara yang kuat: Wahai jama`ah haji dari Yaman ! Adakah Uwais
di kalangan kalian ?
Lalu berdirilah seorang tua yang berjanggut panjang dan menjawab:
Sesungguhnya kami tidak tahu siapa itu Uwais. Akan tetapi, saya ada
seorang anak dari saudara saya yang dipanggil Uwais, namanya tidak
dikenal orang, lagi pula dia sangat miskin, dia mengembala unta kami,
dan pada pandangan kami dia adalah orang yang tidak dipandang orang
Dari penjelasan itu, `Umar r.a. masih belum jelas, seolah beliau tidak
menduga. Kemudian `Umar r.a. pun bertanya lagi: Anak saudara kamu
itu, adakah dia berada di Haram saat ini ?
Jawab orang tua yang berjanggut panjang itu : ya, ada
Tanya `Umar lagi: Di manakah ia bisa saya temui ?
Jawab orang tua itu: dia akan memperlihatkan dirinya pada tuan di
`Arafah.
Perawi melanjutkan ceritanya lagi: Maka `Umar dan `Ali r.huma pun
dengan segera menuju ke `Arafah, maka disana mereka berdua mendapati
seorang yang sedang berdiri solat, ke arah sebatang tiang, dan ada
unta di sekelilingnya yang sedang merumput. Maka mereka berdua r.a.
pun menambat kedua ekor himar mereka kemudian mendekati lelaki itu
sambil mengucapkan : Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah!
Uwais rah.a. memendekkan shalatnya kemudian menjawab :
Assalaamu'alaikumaa warohmatullaah!
Mereka berdua r.a. bertanya: siapa Anda
Jawab Uwais rah.a.: Saya adalah seorang pengembala unta dan juga
seorang pelayan
Mereka berdua r.huma membalas: kami tidak bertanya tentang pekerjaan
Anda. Siapa nama Anda ?
Jawab Uwais rah.a: `Abdullah (hamba Allah).
Balas mereka berdua r.huma. lagi: Sesungguhnya kami sudah mengetahui
bahwa semua ahli langit dan ahli bumi adalah `Abiidullah. Siapakah
nama Anda yang telah diberi oleh ibu Anda ?
Jawab Uwais rah.a: Oh tuan berdua ini ! Sebenarnya apakah yang tuan
berdua kehendaki dari saya ?
Jawab mereka berdua: Telah menjelaskan kepada kami Nabi Muhammmad saw
akan sifat-sifat Uwais Al-Qorniy, maka sesungguhnya kami telah kenal
akan kemerah-merahan dan kebiru-biruan (matanya), dan baginda saw
telah mengkhabarkan kepada kami bahwa di bawah bahunya yang kiri ada
bintik putih maka terangkanlah kepada kami berdua, apa sekiranya
tanda-tanda itu ada pada Anda ?
Maka Uwais rah.a. pun menunjukkan tanda di bawah bahunya, maka memang
benar terdapat bintik yang disebut, kemudian mereka berdua r.huma
saling berebut-rebut untuk mengecup keningnya. Keduanya berkata: Kami
naik saksi bahwa saudaralah Uwais Al-Qorniy. Maka beristighfarlah,
mohonlah ampunan kepada Allah untuk kami berdua, semoga Allah swt
memberikan maghfiroh untuk Anda !
Jawab Uwais rah.a.: Tidak aku khususkan dengan istighfarku itu hanya
untuk diriku sendiri, akan tetapi saya hanya merangkum semua
mu`minin dan mu`minat, muslimin dan muslimat, di daratan dan di
lautan. Oh tuan berdua bagaimana sampai Allah swt menyingkapkan
keadaan saya kepada tuan berdua, dan Allah swt telah memperkenalkan
urusan saya kepada tuan berdua ! Maka sebenarnya siapakah tuan berdua
ini ?
Lalu `Ali r.a. menjawab: Ini adalah `Umar, Amiirul Mu`miniin, dan
saya `Ali bin Abi Tholib.
(Setelah mendengar penerangan `Ali r.a.) maka berdirilah Uwais rah.a.
sambil berkata: Assalaamu'alaika Yaa Amiirol Mu`miniin,
Warohmatullaahi Wa Barokaatuh! Dan tuan, Ya `Ali bin Abi Tholib,
semoga Allah membalas tuan berdua (karena berkhidmat) kepada ummat ini
dengan penuh kebaikan!
Lalu membalaslah mereka berdua r.huma: Semoga Allah membalas Anda
dengan kebaikan.
Maka berkatalah `Umar r.a. kepada Uwais rah.a.: saya akan beri nafkah
Anda dan sedikit pakaian untuk dipakai dan juga tempat
Kemudian Uwais rah.a. membalas: Waktu yang telah ditentukan diantara
saya dan tuan, saya mungkin tidak akan melihat atau bertemu tuan lagi
selepas hari ini, maka beritahu saya apa yang saya harus perbuat
dengan nafkah itu dan dengan kain pakaian itu? Bukankah tuan melihat
bahwa saya masih sedang memakai kain sarung dan juga kain selendang
ini? Tuan juga melihat sarung dan selendang ini tidak robek ? Juga
saya masih pakai sandal ? Apa yang saya pakai semua masih layak untuk
dipakai? Saya telah mengambil empat dirham sebagai upah
penggembalaan, maka bilakah tuan melihat saya makan dengan uang itu)?
Wahai Amirul Mu`miniin, sesungguhnya di hadapan saya dan di hadapan
tuan ada suatu rintangan yang tersangat sulit untuk diatasi, di mana
seorang pun tidak akan dapat melepaskan diri dari rintangan sulit itu
kecuali seorang yang sangat kurus kering badannya lagi ringan bebannya
(ya'nii sedikit sekali hartanya / miskin), maka ringanlah, semoga
Allaah swt merahmati tuan!
Tatkala telah mendengar `Umar r.a. akan nasihat Uwais rah.a. itu maka
terdiamlah ia dan tidak bergerak sedikitpun, kemudian beliau r.a.
menjerit dengan suara kuat : Alangkah baiknya sekiranya ibu `Umar
tidak melahirkan `Umar! Alangkah baiknya sekiranya ibu `Umar seorang
perempuan yang mandul yang tidak merawat kandungannya!
Kemudian Uwais rah.a. berkata: Wahai Amirul Mu`miniin, mulailah tuan
untuk bertindak sewajarnya di sini. Dan saya pun akan memulai
bertindak sewajarnya di sini juga.
Maka (dengan haru dan lemas) `Umar r.a. pun bergerak meninggalkan
tempat itu menuju ke arah Makkah dan Uwais Al-Qorniy rah.a. pula terus
menggiringkan untanya. Dan dengan tiba-tiba kaumnya ( kaum Uwais)
telah datang dengan unta-unta mereka. Dan (dengan persetujuan bersama)
akhirnya Uwais Al-Qorniy rah.a. berhenti kerja penggembalaan dan
beliau rah.a. pun sepenuhnya beribadah sampai beliau rah.a. menemui
Allah `Azza wa Jalla.
Terjemahan Kitab Sifah As-Sofwah, susunan Al-Imam Al-'Aalim
Jamaaluddiin Abil Faroj Ibnu Al-Jauziyy rah.a, jilid 3, halaman 45,
46, 47 dan 48. Daarul Ma'rifah, Beirut, Lebanon.
AlfaOmega
March 21, 2008, 22:14
Tangisan Abdullah bin Marzuq (http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=259)
Abu Sa'id meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Abdullah bin Marzuq pernah bersama al-Mahdi di tengah dunia yang luas. Suatu hari ia minum dengan diiringi senda gurau dan sima' (nyanyian dan musik), sehingga tidak shalat Zhuhur, Ashar dan Maghrib. Sebenarnya sahaya wanitanya sudah mengingat-kan tentang semua itu. Ketika datang waktu Isya', sahaya wa-nita tersebut datang dengan membawa bara api lalu diletakkan di atas kakinya. Dia terperanjat seraya berkata, "Apa ini?" Sahaya wanita itu berkata, "Ini bara api dunia, lalu bagaimana halnya dengan api neraka?" Maka ia pun menangis dengan tangisan yang keras. Kemudian ia menunaikan shalat sambil menangis.
Apa yang dikatakan sahaya wanita tersebut sangat ber-kesan dalam jiwanya. Ia tidak melihat sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali berpisah dengan hartanya yang selama ini dinikmatinya. Ia lalu memerdekakan para sahaya wanitanya, meminta maaf kepada semua pihak yang pernah berinteraksi dengannya, dan menyedekahkan hartanya yang masih tersisa. Akhirnya ia menjadi penjual sayur, dan sahaya-nya tadi selalu mengikutinya. Suatu kali Sufyan bin Uyainah dan al-Fudhail bin Iyadh menjenguknya, ternyata keduanya menjumpai batu bata di bawah kepalanya dan tidak ada sesuatu pun di bawahnya. Melihat hal itu, Sufyan bin Uyainah berko-mentar untuknya, "Tidaklah seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah menggantikan untuknya dengan suatu ganti. Apakah yang Allah gantikan kepadamu dari segala yang engkau tinggalkan karenaNya?" Ia menjawab, "Ridha de-ngan apa yang aku jalani."
Yakni, ridha dengan kemuliaan zuhud dari dunia yang hina dina ini dengan segala kerusakan dan godaannya yang disifati oleh orang bijak dengan pernyataannya, "Jika datang, ia menjatuhkan. Jika tampak, ia membuat ketakutan. Jika matang, ia menjadi busuk. Betapa banyak orang sakit yang kita jenguk namun kita sendiri tidak mau kembali. Betapa banyak kubur yang dibangun namun kita tidak mau bertaubat. Betapa banyak raja yang memiliki banyak monumen, namun setelah mencapai puncaknya, ia mati."
sumber : http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=148
AlfaOmega
April 09, 2008, 11:56
Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh, namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah disebutkan al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam Kitab Fadha'il Shahabat.
1) Beliau Adalah Sahabat RasululIah saw di Gua Dan Ketika Hijrah
Allah berfirman,
"Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita' ." (At-Taubah: 40).
'Aisyah, Abu Sa'id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, "Abu Bakarlah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut."
Diriwayatkan dari aI-Barra' bin 'Azib, ia berkata, "Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar berkata kepada 'Azib, "Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut." Maka 'Azib berkata, "Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian."
Abu Bakar berkata, "Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi saw, kemudian kukatakan padanya, "Istirahatlah wahai Nabi Allah." Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengintai.
Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, "Siapa tuannmu wahai budak?" Dia menjawab, "Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy." Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, "Apakah kambingmu memiliki susu?" Dia menjawab, "Ya!" lantas kukatakan, "Maukah engkau memeras untuk kami?" Dia menjawab, "Ya!" Maka dia mengambil salah satu
dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar membersihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, "Minumlah wahai Rasulullah." Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya, "Bukankah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya!" Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah, "Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah," namun beliau menjawab, "Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita."
Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, "Kukatakan kepada Nabi saw ketika kami berada dalam gua, 'Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.'
Rasul menjawab, "Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga."
2) Abu Bakar Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya
Abu Sa'id al-Khudri berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw berkhutbah di hadapan manusia dan berkata,
"Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah."
Abu Sa'id berkata, "Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah saw hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba
tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah saw sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami.
Kemudian Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu. Bakar, Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku seIain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-lslam dan kecintaan karenanya, Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakayr saja."
Diriwayatkan dari 'Aisyah istri Rasulullah. ia berkata, "Ketika Rasulullah saw wafat Abu Bakar sedang berada di suatu tempat yang bernama Sunuh, maka Umar berdiri dan berpidato, "Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw tidak meninggal. 'Aisyah melanjutkan, Kemudian Umar berkata, "Demi Allah tidak terdapat dalam hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akan membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangan mereka (yang mengatakan beliau telah mati). Kemudian datanglah Abu Bakar menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah saw serta menciumnya sambil berkata, "Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku, alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi Allah yang diriku berada ditanganNya mustahil Allah akan menimpakan padamu dua kali kematian selama-Iamanya." Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, "Wahai orang yang telah bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!" Ketika Abu Bakar mulai berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata, "Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad, maka beliau sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah akan tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau membacakan ayat,
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30).
Dan ayat, "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali-Imran: 144).
"Maka manusia mulai menangis terisak-isak, kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Salad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa'idah dan mereka berpendapat, "Dari kami seorang amir (pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir." Maka segera Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya untuk diam, Umar
berkata, "Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar."
Kemudian Abu Bakar bepidato dan perkataannya sungguh mengena, beliau berkata, "Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir." Maka Hubab bin Munzir berkata, "Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi
dari kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula." Abu Bakar menjawab, "Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia kedudukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka silahkan kalian membai'at Umar ataupun Abu Ubaidah." Maka spontan Umar menjawab, "Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai'at engkaulah pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw daripada kami" Maka Umar segera meraih tangan Abu Bakar dan membai'atnya akhirnya orang-orangpun turut membaiatnya pula.
Diriwayatkan dari 'Aisyah, ia berkata, "Pandangan Nabi menengadah ke atas dan berkata, "Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul A'Ia (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. 'Aisyah melanjutkan, "Tidaklah perkataan mereka
berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat takut padanya, dengan kepribadiannya Allah menolak kemunafikan. Adapun Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya Rasulullah setelah membacakan ayat,
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (mllrtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudlwrat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran :144).
AlfaOmega
April 09, 2008, 12:02
3) Abu Bakar Adalah Sahabat Yang Paling utama
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, "Kami selalu membanding-bandingkan para sahabat di masa Rasulullah saw maka kami sepakat memilih Abu bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Usman."
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dia berkata, "Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah saw?" Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa
setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar" Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, "Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin."
4) Kedudukan Abu Bakar di Sisi Rasulullah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw beliau bersabda, "Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku."
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Malikah ia berkata, "Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek, maka dia berkata, "Ikutilah pendapat Abu
Bakar. Bukankah Rasulullah pernah menyebutkan perihal dirinya, "Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya." Abu Bakar mengatakan, "Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika bapak tidak ada)."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi saw, "Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar."
Dari Muhammad bin Jubair bin Muthlim dari bapaknya dia berkata, "Pernah seorang wanita mendatangi Nabi saw, kemudian beliau menyuruhnya kembali datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, "Bagaimana
jika kelak aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia mengisyaratkan setelah rasul wafat- maka Rasulullah saw berkata, "Jika engkau tidak menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar."
Diriwayatkan dari Abu Darda', "Aku sedang duduk bersama Nabi saw tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya, maka Nabi saw berkata, "Sesungguhnya teman kalian
ini sedang kesal maka berilah salam atasnya." Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan menerima permohonanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang." Rasulullah saw menjawab, "Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar." sebanyak tiga kali. Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, "Apakah di dalam ada Abu Bakar?" Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah saw sementara wajah Rasulullah terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, "Wahai Rasulullah
Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-," Maka Rasulullah saw berkata, "Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan, "Engkau pendusta!" Sementara Abu Bakar berkata, "Engkau benar!" Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?" Setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti."
5) Abu Bakar Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi Rasulullah SAW
Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dati Hammam dia berkata, Aku mendengar Ammar berkata, "Aku melihat Rasulullah pada waktu itu tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan
Abu Bakar."
6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah SAW
Diriwayatkan dari Abu Utsman dia berkata, 'Telah berkata kepadaku Amru bin aI-Ash bahwa Rasulullah pernah mengutusnya dalam peperangan Dzatus Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya, "Siapakah
orang yang paling kau cintai? Maka Rasulullah menjawab, "'Aisyah!" Kemudian kutanyakan lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Rasul menjawab, "Bapaknya." Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelah itu?" Dia menjawab, "Umar!" Kemudian Rasulullah menyebutkan beberapa orang lelaki".
AlfaOmega
April 09, 2008, 12:09
7) Iman dan Keyakinannya yang Kuat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata, "Ketika seorang pengembala sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan berkata, 'Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa, yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku?' Dan ketika seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika sapi itu menoleh padanya dan berkata, 'Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk membajak. 'Orang-orang berkata, 'Subhanallah!' Maka Nabi bersabda, 'Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula'.
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar, dia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Maka Abu bakar berkata, "Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkannya, maka Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan."
8) Kemauannya yang Tinggi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah saw berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, Wahai Hamba Allah inilah kebaikan. Maka barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu
shalat, barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad, dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan." Maka Abu Bakar berkata, "Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka."
9) Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Keluarganya
Diriwayatkan dari 'Aisyah, dia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak mendapati air dan tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar
dan berkata, 'Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh 'Aisyah? Dia telah membuat Rasulullah berhenti dan manusia pun berhenti bersamanya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya." Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah berbaring meletakkan kepalanya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan berkata, "Engkau telah menahan Rasulullah dan manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya." 'Aisyah berkata, "Maka ayahku
mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangannya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah terganggu tidurnya, sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum, "Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)." (An-Nisa': 43).
Usa'id bin Hudhair berkata, "Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar." Maka 'Aisyah berkata, "Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya."
10) Berita Gembira Untuknya Sebagai Penghuni Surga
Diriwayatkan dari Sa'id bin Musayyab dia berkata, "Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy'ari bahwa suatu hari dia berwudhu' di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, "Aku harus mengiringi Rasulullah
hari ini." Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di mana Nabi saw, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka aku segera pergi berusaha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, "Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, "Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakar!" Maka kukatakan padanya, "Tunggu sebentar!" Aku segera datang kepada Rasulullah saw dan bertanya padanya, "Wahai Rasulullah, ada Abu Bakar datang dan minta izin masuk!" Rasulullah saw berkata, "Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanyn bahwa dia adalah penghuni surga."
Maka aku berangkat menujunya dan berkata, "Masuklah sesungguhnya Rasulullah memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga." Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan dia menyingkap kedua betisnya......hingga akhir kisah."
Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik, dia pernah bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan Rasulullah saw langsung
berkata, "Diamlah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq dan dua syahid."
11) Sepak Terjangnya dalam Membela Rasulullah SAW
Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan Rasulullah saw, maka dia berkata, "Aku pernah melihat Utbah bin Abi Mu'ith mendatangi Nabi saw yang sedang shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit Ieher Nabi dengan serban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepaskan ikatan tersebut sambil berkata, "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-Iaki karena ia menyatakan, "Rabbku ialah Allah" padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu." (AI-Mukmin: 28).
lendhy
April 15, 2008, 17:16
sangan menarik
AlfaOmega
April 22, 2008, 20:49
Imam Hanbali
"Ia murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad. Sikapnya menghadapi sidang pengadilan dan menanggung petaka akibat tekanan khalifah Abbasiyyah selama 15 tahun karena menolak doktrin resmi Mu'tazilah merupakan saksi hidup watak agung dan kegigihan yang mengabdikannya sebagai tokoh besar sepanjang masa."
Penilaian itu diungkapkan Imam Syafi'i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali. Menurut Syafi'i, perjuangan mempertahankan keyakinan yang tak sesuai dengan pemikiran seseorang, selalu menghadapi risiko antara hidup dan mati. Dan Imam Hanbali membuktikan hal itu.
Imam Hanbali yang dikenal ahli dan pakar hadits ini memang sangat memberikan perhatian besar pada ilmu yang satu ini. Kegigihan dan kesungguhannya telah melahirkan banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya. Karya-karya mereka seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim atau Sunan Abu Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya.
Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala.
Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat, sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.
Kepandaian Imam Hanbali dalam ilmu hadits, bukan datang begitu saja. Tokoh kelahiran Baghdad, 780 M (wafat 855 M) ini, dikenal sebagai ulama yang gigih mendalami ilmu. Lahir dengan nama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam Hanbali dibesarkan oleh ibunya, karena sang ayah meninggal dalam usia muda. Hingga usia 16 tahun, Hanbali belajar Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama lain kepada ulama-ulama Baghdad.
Setelah itu, ia mengunjungi para ulama terkenal di berbagai tempat seperti Kufah, Basra, Syam, Yaman, Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya antara lain Hammad bin Khalid, Ismail bil Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walin bin Muslim, dan Musa bin Tariq. Dari merekalah Hanbali muda mendalami fikih, hadits, tafsir, kalam, dan bahasa. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Hanbali dapat menyerap semua pelajaran dengan baik.
Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan Hanbali rela tak menikah dalam usia muda. Ia baru menikah setelah usia 40 tahun.
AlfaOmega
April 22, 2008, 20:52
Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said.
Tak hanya pandai, Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan. Imam Ibrahim bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya menjadi saksi akan kezuhudan Imam Hanbali. ''Hampir setiap hari ia berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali di waktu malam. Ia lebih banyak shalat malam dan witir hingga Shubuh tiba,'' katanya.
Mengenai kedermawanannya, Imam Yahya bin Hilal, salah seorang ulama ahli fikih, berkata, ''Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang sebanyak empat dirham sambil berkata, ini adalah rezeki yang kuperoleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.''
Imam Hanbali juga dikenal teguh memegang pendirian. Di masa hidupnya, aliran Mu'tazilah tengah berjaya. Dukungan Khalifah Al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah yang menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi negara membuat kalangan ulama berang. Salah satu ajaran yang dipaksakan penganut Mu'tazilah adalah paham Al-Qur'an merupakan makhluk atau ciptaan Tuhan. Banyak umat Islam yang menolak pandangan itu.
Imam Hanbali termasuk yang menentang paham tersebut. Akibatnya, ia pun dipenjara dan disiksa oleh Mu'tasim, putra Al Ma'mun. Setiap hari ia didera dan dipukul. Siksaan ini berlangsung hingga Al Wasiq menggantikan ayahnya, Mu'tasim. Siksaan tersebut makin meneguhkan sikap Hanbali menentang paham sesat itu. Sikapnya itu membuat umat makin bersimpati kepadanya sehingga pengikutnya makin banyak kendati ia mendekam dalam penjara.
Sepeninggal Al Wasiq, Imam Hanbali menghirup udara kebebasan. Al Mutawakkil, sang pengganti, membebaskan Imam Hanbali dan memuliakannya. Namanya pun makin terkenal dan banyaklah ulama dari berbagai pelosok belajar kepadanya. Para ulama yang belajar kepadanya antara lain Imam Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, Imam Abu Zuhrah, Imam Ibnu Abi, dan Imam Abu Bakar Al Asram.
Sebagaimana ketiga Imam lainnya; Syafi'i, Hanafi dan Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Ahmad ibn Hanbali dijadikan patokan dalam amaliyah (praktik) ritual, khususnya dalam masalah fikih. Sebagai pendiri madzhab tersebut, Imam Hanbali memberikan perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber pada Sunnah.
Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa madzhab Hanbali. Pertama, nash (Al-Qur'an dan Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya. Kedua, fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya.
Ketiga, jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Jika ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya.
Keempat, mengambil hadits mursal (hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan nama perawinya), dan hadits dhaif (hadits yang lemah, namun bukan 'maudu', atau hadits lemah). Dalam hal ini, hadits dhaif didahulukan daripada qias. Dan kelima adalah qias, atau analogi. Qias digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas.
Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fikih madzhab Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah.
Hasil karya Imam Hanbali tersebar luas di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Beberapa kitab yang sampai kini jadi kajian antara lain Tafsir Al-Qur'an, An Nasikh wal Mansukh, Jawaban Al-Qur'an, At Tarikh, Taat ar Rasul, dan Al Wara. Kitabnya yang paling terkenal adalah Musnad Ahmad bin Hanbal. (her)[republika.co.id]
sumber (http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174)
AlfaOmega
April 25, 2008, 20:08
Kekuatan Iman (http://www.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=524)
Penulis : Abu Luthfi Ar-Rasyid
KotaSantri.com : Amirul Mukminin 'Umar bin Khaththab tetap ber-amar ma'ruf dan ber-nahi mungkar sekalipun dalam sekaratul mautnya. Ini merupakan suatu bab yang dibuat oleh kaum ahli sunnah dalam kitab-kitab mereka. Mereka mengatakan, "Umar ber-amar ma'ruf dan ber-nahi mungkar, sedang dia dalam sakaratul mautnya." Amirul Mukminin Umar ditikam, karena sesungguhnya para pahlawan itu mati dalam keadaan syahid. Darahnya mengalir deras bagaikan air mengalir. Akan tetapi, apa yang dikatakannya? Air matanya bercucuran dan ia mengatakan, "Aduhai, sekiranya ibuku tidak melahirkanku. Aduhai, sekiranya aku tidak mengenal kehidupan. Aduhai, sekiranya aku tidak menjabat khalifahl"
Beruntunglah engkau, wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, seandainya saja hari-harimu berulang kembali.
Wahai Umar Al-Faruq, kiranya engkau dapat kembali
karena sesungguhnya pasukan Romawi
malang-melintang dengan seenaknya
Teman-temanmu di perbatasan
telah mengikat pelana kuda-kuda mereka
dan pasukanmu di markasnya bertakbir dan mengerjakan shalat
Seluruh dunia bernyanyi mendendangkanmu
seakan-akan engkau orang yang beroleh kemenangan
karena berkah Allah saat berlabuh dan melautmu
Darahnya mengucur dan air matanya mengalir deras, tetapi dia bertanya, "Apakah aku sudah shalat?" Karena dia ditikam pada raka'at pertama dan belum menuntaskan shalatnya. Adalah yang menjadi pikirannya saat itu, hanyalah ingin menghadap Allah dengan shalatnya. Dia tidak menanyakan istrinya, kedudukannya, rumah*nya, gedungnya, kekhalifahannya, dan tidak pula kerajaannya. Akan tetapi, dia mengatakan, "Apakah aku sudah menyelesaikan shalatku?"
Mereka yang hadir menjawab, "Allah membantumu untuk menyelesaikan shalatmu." Allah pun membantunya dan dia dapat menyelesaikan shalatnya. Dalam sekaratul mautnya, dia mengatakan, "Shalat! Shalat!" Takutlah kepada Allah! Janganlah sampai shalat ditinggalkan, karena tiada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. Barang siapa yang memelihara shalatnya, maka Allah akan memeliharanya; dan barang siapa yang menyia-nyiakan shalat, maka Allah akan menyia-nyiakannya.
Seorang pemuda datang kepada Umar saat beliau berada di menit-menit terakhir dari hidupnya, lalu pemuda itu mengucapkan salam kepadanya. Setelah pemuda itu berpaling darinya, beliau melihat kain pemuda itu turun di bawah kedua mata kakinya, lalu beliau berkata, "Hai anak saudaraku, kemarilah!" Semoga Allah meridhaimu, hai 'Umar, hingga saat-saat terakhirmu engkau masih tetap ber-amar ma'ruf. Saat seseorang lupa kepada kekasihnya, istrinya, dan anaknya, engkau tetap ber-amar ma'ruf.
Umar berkata kepada pemuda itu, "Hai anak saudaraku, kemarilah! Naikkanlah kainmu! Naikkanlah kainmu, karena sesungguhnya sikap ini lebih memelihara ketaqwaan kepada Tuhanmu dan lebih bersih bagi kainmu." Si anak muda itu pun berkata, "Demi Allah, semoga Allah membalas jasamu kepada Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya."
Ali berkata di hadapan jenazah 'Umar yang saat itu telah dikafani dan dishalatkan, "Demi Allah, aku tidak ingin menghadap Allah dengan membawa amal seperti yang dibawa oleh siapa pun, kecuali amal seperti yang dilakukan oleh Umar. Sesungguhnya kebahagiaan Islam telah dikafankan dalam kafan Umar." Sesungguhnya yang menjadi bukti dalam hal ini tiada lain hanyalah bahwa dia tetap ber-amar ma'ruf dan ber-nahi mungkar, sekalipun dalam detik-detik terakhir dari hidupnya.
Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau pernah bersabda, "Barang siapa yang melihat perkara mungkar, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika masih tidak mampu, maka dengan kalbunya, maka hal yang terakhir ini sebagai pertanda melemahnya iman." (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan lain-lainnya).
Oleh karena itu, iman seperti apa yang masih tersisa pada diri seseorang yang kegemarannya mengelilingi pasar-pasar (mal-mal), tempat-tempat rekreasi, dan pantai-pantai seraya menyaksikan pemandangan-pemandangannya, kemudian kalbunya tidak mengingkari? Demi Allah, sesungguhnya manusia merasa sakit dan menyesal yang amat sangat, sedang hatinya serasa tercabik*-cabik karena kecewa melihat keadaan umat ini.
*) Dari Cambuk Hati
Versi Cetak
Kamenrider
April 26, 2008, 15:16
Malik Asytar adalah seorang yang bertubuh gemuk dan berperawakan tinggi. Berkali – kali dia diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan perang. Peperangan demi peperangan telah membuktikan kepahlawanannya.
Pada suatu hari ia berjalan melewati pasar Kufah dengan berpakaian baju gamis dan surban. Seorang penduduk Kufah memperhatikan langkahnya. Melihat sosok tubuh dengan pakaian yang begitu asing baginya, tiba – tiba terlintas pada diri orang itu suatu rencana busuk yang langsung dia laksanakan. Ia melempar sesuatu kepada Malik dengan tujuan untuk memperolok – olokkan. Namun Malik terus berjalan tanpa menggubris perlakuannya, sampai akhirnya lenyap dari pandangan matanya.
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan kelakuan orang Kufah tadi, maka ia pun bertanya kepadanya : “Apakah Kau tidak kenal orang yang Kau lempar tadi?”
“Tidak, dia adalah seorang pejalan kaki yang lewat, seperti halnya orang – orang lain.”
“Ketahuilah, dia adalah Malik Asytar an-Nakha'i, sahabat Amirul Mukminin dan panglima perangnya.”
“Diakah Malik yang apabila singa melihatnya jadi gemetar ketakutan, dan apabila musuhnya mendengar namanya disebut orang, maka berdiri bulu kuduknya?”
“Tepat apa yang kau katakan.”
Menyadari kelakuannya yang kurang senonoh segera orang Kufah itu lari mengejar Malik untuk meminta maaf. Akan tetapi, ia mendapati Malik telah masuk ke sebuah masjid, dan ketika ia sampai di masjid itu, Malik telah mulai melakukan shalat. Ia pun menunggunya sampai selesai. Begitu Malik salam, langsung ia merangkul kedua kakinya seraya menciumnya. Malik pun bertanya,”Apa – apaan ini?”
“Maaf beribu maaf wahai Tuan, atas kekurang ajaranku. Akulah yang tadi mempermainkan Tuan.”
Dengan tenang Malik menjawab, “Oh tidak apa – apa. Demi Allah , saya masuk ke dalam masjid ini justru untuk memintakan ampun bagimu.”
Sumber Utama : Safinah al-Bihar Madah Syatar, hlm 686
AlfaOmega
May 10, 2008, 12:45
Sudut pandang nyamuk.
Sahabat anggota milist dan tim moderator yang budiman,
Semoga di akhir pekan yang membahagiakan ini, sahabat berada dalam kesehatan
yang prima dan kebahagiaan bersama keluarga tercinta yang merona.
.....
Menilai orang lain adalah keniscayaan. Setiap saat, serta untuk berbagai
kepentingan, kita selalu menilai orang. Larangan atau himbauan untuk tidak
menilai orang lain, selain tidak berguna, juga melepaskan diri dari keniscayaan
kehidupan. Mungkin yang seharusnya kita hindari adalah merendahkan orang lain.
Dan seperti dengan mudah kita amati, menilai tidak sama dengan merendahkan.
Menyampaikan hasil penilaian buruk atas sebuah pribadi dengan santun dan penuh
kasih sayang, bisa jadi merupakan sebaik-baiknya nasihat.
Kita memilih telur dari kulitnya; seperti kita memilih orang - dari yang bisa
kita saksikan. Maka berhati-hatilah dengan penampilan Anda. Dunia ini tidak
memiliki cara lain yang lebih cepat dalam membangun penilaian terhadap dan
mengenai Anda, kecuali melalui yang dapat mereka lihat dari luar (Mario Teguh).
....
Tiga hari terakhir ini, saya pulang-pergi kerja menggunakan jasa angkutan umum.
Ternyata begitu banyak pelajaran selama 3 x 2 x 120 menit perjalanan menempuh
jarak 3 x 2 x 35 km. Salah satunya, saya kisahkan untuk kita semua, berikut ini.
Dalam pergaulan di jalan, saya menyaksikan dari jarak yang dekat, ada sebuah
pribadi dengan gambaran seperti ini. Mukanya lusuh, kuyu dan kotor; hampir tidak
berhenti menghisap rokok di tengah kepengapan metro mini; badannya bau;
pakaiannya kotor dan merupakan seragam tidur; jari tangan kanannya kerempeng
(seperti pernah terkena lepra); bicaranya kasar merendahkan orang lain;
umpatannya hina dan kotor; menerobos lampu merah; memotong jalur kendaraan lain
seenaknya; memakai sendal jepit; mukanya (maaf) jelek; rambutnya kotor; kumisnya
panjang tidak teratur; membuang gelas plastik bekas minumnya di jalan raya;
meludah di ruang kemudi; menghardik polisi. Dia adalah seorang supir metro mini.
Saya telah meminta beberapa kawan dekat untuk menilai pribadi ini, sisi baik
apa yang dapat dinisbahkan kepada supir malang ini? Dari 4 orang kawan yang
diminta pendapatnya, tidak ada yang mampu mengungkapkan sudut pandang sisi baik
dari sang supir! Saya dan juga kawan-kawan merasa bahwa ongkos Rp. 3000 yang
dibayarkan, telah membayar lunas peran dia mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan, mengapa 'apes' naik metromini yang
dikemudikan dia?
Mengapa ada sebuah pribadi yang sangat tidak menghormati (apatah mensyukuri)
dirinya sendiri serta orang lain?
......
Sebenarnya, kita memiliki teknik sudut pandang yang mumpuni, untuk melihat sisi
baik sesuatu yang buruk. Keyakinan pada wahyu bahwa tidak ada yang diciptakan
sia-sia (sepenuhnya buruk), adalah latar belakangnya. Teknik ini populer dikenal
sebagai sudut pandang nyamuk!
Dalam kegelisahan atas serangan nyamuk, kita senantiasa dapat melihat sisi
baiknya yaitu : sangat banyak pribadi yang hajat hidupnya bergantung pada
industri pengusir dan pembunuh nyamuk (teknik bakar, teknik semprot, teknik
fogging, lotion, teknik penguapan elektrik dll). Belum lagi jaringan distrbusi
dan penjualannya, penanganan sakit akibat nyamuk (poliklinik, rumah sakit dll)
dan pemimpin atau lembaga yang menangani bidang kesehatan masyarakat.
Dengan teknik sudut pandang nyamuk ini, saya berhasil menemukan sisi baik sang
supir. Eureka!
......
Sebuah koin pasti terdiri dari dua sisi. Menghilangkan salah satunya berarti
pula menghilangkan koin tersebut. Seperti malam dan siang, meniadakan malam
harus dengan menambahkan sebuah matahari yang sama pada posisi yang
berseberangan. Dan bagi manusia, ini adalah hal yang mustahil - tidak mungkin.
Meniadakan matahari, jauh lebih musykil karena akan membunuh kehidupan itu
sendiri.
Jika kita, Anda dan saya, telah memilih kebaikan sebagai pilihan sisi
kehidupan; maka siapakah yang telah berkenan memilih sisi kehidupan pasangannya,
yaitu keburukan? Benar sekali! Sang supir beserta rekan-rekannya!
Memang tidak logis pilihan mereka, jika yang dipakai adalah sudut pandang kita.
Mungkin pula, mereka memandang pilihan-pilihan kita tidak logis pula. Who knows!
Sekarang kita menemukan alasan yang paling hakiki, mengapa kita harus tetap
hormat dan berkasih sayang kepada supir metromini dan rekan-rekannya itu. Karena
tanpa mereka, kita tidak ada. Tanpa keburukan, kebaikan tidak ada. Tanpa
pengikut keburukan, tidak ada pengikut kebaikan. Tanpa kualitas hina, tidak akan
pernah ada kualitas mulia.
Jika keberadaan (eksistensi) manusia adalah rahmat terbesar dari Allah Swt,
maka keberadaan mereka pada sisi keburukan adalah hal terbaik yang mereka
sumbangkan bagi kita pada sisi kebaikan.
Untuk itu, saya mengundang diri saya dan Anda untuk :
Memberikan hormat terbaik kita pada mereka.
Senantiasa berkasih sayang pada mereka.
Menaruh harapan baik, bahwa siapa tahu mereka (atau keturunannya) akan merubah
pilihannya
Memohonkan pada Allah Swt, semoga mereka mendapat petunjuk.
Senantiasa berupaya keras untuk tidak mengikuti pilihan-pilihan buruk mereka.
.....
Sahabat anggota milis yang budiman,
Terima kasih atas kesediaan Anda menerima sudut pandang yang sederhana ini.
Semoga layak berdamping dengan sudut pandang Anda yang super lainnya.
Wassalam
Syarif Niskala
syarifniskala.wordpress.com
AlfaOmega
May 12, 2008, 19:03
Imam Abu Hanifah
Selama hidupnya beliau berhasil melaksanakan tawazzun (keseimbangan). Di samping sebagai seorang faqih dengan kemampuan intelektual yang cemerlang, beliau juga mengkhususkan waktu untuk mencari nafkah dengan berdagang, dan beliau juga ahli ibadah. Beliau dikenal amat pemurah, berbudi pekerti luhur dan suka memuliakan orang lain, tanpa pandang bulu siapa orang tersebut. Disamping itu beliau lebih suka memberi daripada menerima.
Saat Khalifah al-Manshur akan mengangkat hakim agung dengan memiliki salah satu diantara 4 orang ulama besar: Abu Hanifah, Sofyan Tsauri, Mis'ar bin Kidam, dan Syuraih. Sementara mereka berjalan bersama menemui Khalifah, Abu Hanifah bekata kepada para sahabat-sahabatnya: "Aku akan menolak jabatan ini dengan cara tertentu. Mis'ar hendak menolaknya dengan berpura -pura menjadi gila, Safyan Tsauri akan lari ke negeri lain dan Syuraih agar dapat menerima jabatan ini." Sofyan lalu kabur pergi ke pelabuhan untuk naik kapal menuju negeri lain. Yang lain melanjutkan dan bertemu kalifah dalam sebuah pertemuan resmi.
Khalifah berkata kepada Abu Hanifah: "Engkau harus bersedia menjadi hakim agung." Abu Hanifah menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, aku bukan orang Arab dan pemimpin-pemimpin Arab tidak akan menerima keputusan-keputusanku. Karena itu aku merasa bahwa aku tidak cocok untuk jabatan ini." Khalifah berkata: "Jabatan ini tidak ada kaitannya dengan masalah keturunan melainkan berkaitan dengan keahlian. Dan engkau adalah seorang ulama terkemuka di masa ini." Abu Hanifah berkata: "Wahai Khalifah, apa yang baru kukatakan menunjukkan bukti bagaimana keberadaan saya. Jika telah kukatakan aku tidak cocok, dan apabila ini adalah sebuah kebohongan tentu aku tidak cocok dan juga tentu tidak dibenarkan seorang pendusta menjadi hakim atas kaum muslim dan tidak dibenarkan pula engkau mempercayai kepada kehidupan kekayaan dan kehormatan yang engkau miliki."
Lalu Mis'ar tampil ke muka dengan menjabat tangan khalifah dan bertanya macam-macam yang tidak layak hingga khalifah marah dan menyatakan gila dan khalifah meminta Syuraih untuk menjadi hakim agung tersebut, dan menolaknya setiap alasan yang dikemukakannya.
Suatu kali Khalifah Abu Ja'far al Manshur, yang terkenal jarang memberi sedekah kepada orang lain, menawarkan harta sebanyak 10.000 dirham kepada Abu Hanifah, namun beliau menolaknya sembari mengatakan, "Wahai Khalifah, aku orang asing di Baghdad, aku tak memiliki tempat yang aman untuk menyimpan harta tersebut. Simpanlah harta itu di Baitul Maal, sehingga jika kelak aku membutuhkannya aku dapat memintanya darimu." Seorang sahabatnya berkata kepadanya: "Kepada anda diberikan dunia anda menolaknya padahal anda berkeluarga." Abu Hanifah menjawab: "Keluargaku kuserahkan kepada Allah, sedang makananku sebulan cukup dua dirham saja."
Di Kufah, Abu Hanifah dikenal sebagai pedagang yang sangat dipercaya karena sikap amanahnya, kemurahan hati dan kejujuran yang beliau miliki.
Sikap-sikap inilah yang senantiasa menjadikan dagangan beliau laku keras. Dan lewat usahanya ini, Allah menganugerahkan rizki yang melimpah kepada Abu Hanifah. Setiap akhir tahun disisihkannya sebagian dari keuntungannya untuk dizakatkan, dan disumbangkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Abu Hanifah punya mitra dagang bernama Hafs Abdurrahman. Dia inilah yang menjalankan dagangan Abu Hanifah ke para konsumen. Suatu ketika Abu Hanifah menyiapkan dagangan untuknya dengan memberikan wanti-wanti bahwa pada barang dagangannya yang tertentu ada cacatnya. "Jika engkau ingin menjualnya, jangan lupa jelaskan pada para pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut", pesan Abu Hanifah.
Semua barang tersebut akhirnya terjual habis, namun Hafs lupa memberikan penjelasan kepada para pembeli tentang cacat yang ada pada beberapa barang seperti yang dipesankan Abu Hanifah. Setelah menyadari kesalahannya, Hafs berusaha untuk mencari para pembeli barang tersebut, tapi usahanya itu sia-sia.
Akhirnya masalah tersebut diketahui Abu Hanifah, sehingga beliau juga berusaha mencari para pembelinya. Namun usaha tersebut juga tidak membawa hasil. Sejak saat itu Abu Hanifah selalu gelisah dan murung. Akhirnya untuk menebus kesalahannya tersebut, segera bersedekah sebanyak 30.000 dirham.
Dalam kehidupan, disamping memiliki akhlak dan tingkah laku mulia, ia selalu menjaga kesucian diri dan harta, disamping ia selalu dalam peribadahan selama 40 tahun Abu Hanifah memenuhi malam malamnya dengan shalat dan selama itu shalatnya Subuh dilaksanakan dengan wudhu pada waktu Isya. Dan dalam shalatnya itu dibacanya Al-Quran dan konon ketika ia meninggal ia telah menghatamkan al-Quran 7000 kali.
Ilmu yang dimiliki oleh Abu Hanifah demikian luas terutama temuan-temuannya dibidang hukum dan memecahkan masalah-masalahnya sejumlah 60.000 masalah hingga di digelar dengan Imam al-A'zdam dan kuluasan ilmunya itu diakui oleh Imam Syafi'i beliau berkata: "Manusia dalam bidang hukum adalah orang yang berpegang kepada Abu Hanifah."
Tampak ilmu Abu Hanifah bukan hanya bidang hukum tetapi juga meliputi bidang lainnya termasuk tasawuf. Menurut Yahya bin Mu'azd al-Razi dalam suatu mimpi ia bertemu dengan Rasulullah dan bertanya: "Wahai Rasulullah di mana akan aku cari engkau?" Rasulullah menjawab: "Di dalam ilmu Abu Hanifah," demikian Rasulullah.
Ketika Daud al-Tha'i telah beroleh ilmu yang luas dan sudah mencapai popularitas yang tinggi dia berkunjung menemui Abu Hanifah seraya berkata: "Saya mohon diberikan wejangan dan petujuk." Abu Hanifah berkata: "Amalkan apa yang telah engkau pelajari, karena teori tanpa praktek ibarat tubuh tanpa roh." Petunjuk ini menghendaki adanya mujahadah dan dengan mujahadah akan didapat musyahadah.
AlfaOmega
May 15, 2008, 20:32
Ibnu Battuta, Kisah Sang Pengembara (http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=340)
''Aku tinggalkan Tangier, kampung halamanku, pada Kamis 2 Rajab 725 H/ 14 Juni 1325 M. Saat itu usiaku baru 21 tahun empat bulan. Tujuanku adalah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Makkah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah,'' kisah Ibnu Battuta - pengembara dan penjelajah Muslim terhebat di dunia -- membuka pengalaman perjalanan panjangnya dalam buku catatannya, Rihla.
Dengan penuh kesedihan, ia meninggalkan orangtua serta sahabat sahabatnya di Tangier. Tekadnya sudah bulat untuk menunaikan rukun iman kelima. Perjalananya menuju ke Baitullah telah membawanya bertualang dan menjelajahi dunia. Seorang diri, dia mengarungi samudera dan menjelajah daratan demi sebuah tujuan mulia.
''Kehebatan Ibnu Battuta hanya dapat dibandingkan dengan pelancong terkemuka Eropa, Marcopolo (1254 M -1324 M),'' ujar Sejarawan Brockelmann mengagumi ketangguhan sang pengembara Muslim itu.
Selama hampir 30 tahun, dia telah mengunjungi tiga benua mulai dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia engah, Asia Tenggara, dan Cina.
Perjalanan panjang dan pengembaraannya mengelilingi dunia itu mencapai 73 ribu mil atau sejauh 117 ribu kilometer. Tak heran, bila kehebatannya mampu melampaui sejumlah penjelajah Eropa yang diagung-agungkan Barat seperti Christopher Columbus, Vasco de Gama, dan Magellan yang mulai berlayar 125 setelah Ibnu Battuta.
Sejarawan Barat, George Sarton, mencatat jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu Battuta melebihi capaian Marco Polo. Tak heran, bila Sarton geleng-geleng kepala dan mengagumi ketangguhan seorang Ibnu Battuta yang mampu mengarungi lauatan dan menjelajahi daratan sepanjang 73 ribu mil itu. Sebuah pencapaian yang tak ada duanya di masa itu.
Lalu siapakah sebenarnya pengembara tangguh bernama Ibnu Battuta itu? Pria kelahiran Tangier 17 Rajab 703 H/ 25 Februari 1304 itu bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Tanji, bergelar Syamsuddin bin Battutah. Sejak kecil, Ibnu Battuta dibesarkan dalam keluarga yang taat menjaga tradisi Islam. Ibnu Battuta begitu tertarik untuk mendalami ilmu-ilmu fikih dan sastra dan syair Arab.
Kelak, ilmu yang dipelajarinya semasa kecil hingga dewasa itu banyak membantunya dalam melalui perjalanan panjangnya. Ketika Ibnu Battuta tumbuh menjadi seorang pemuda, dunia Islam terbagi-bagi atas kerajaan-kerajaan dan dinasti. Ia sempat mengalami kejayaan Bani Marrin yang berkuasa di Maroko pada abad ke-13 dan 14 M.
Latar belakang Ibnu Battuta begitu jauh berbeda bila dibandingkan Marco Polo yang seorang pedagang dan Columbus yang benar-benar seorang petualang sejati. Meski Ibnu Battuta adalah seorang teologis, sastrawan puis,i dan cendekiawan, serta humanis, namun ketangguhannya mampu mengalahkan keduanya.
Meski hatinya berat untuk meninggalkan orang-orang yang dicintainya, Ibnu Battuta tetap meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah yang berjarak 3.000 mil ke arah Timur. Dari Tangier, Afrika Utara dia menuju Iskandariah. Lalu kembali bergerak ke Dimyath dan Kaherah.
Setelah itu, dia menginjakkan kakinya di Palestina dan selanjutnya menuju Damaskus. Ia lalu berjalan kaki ke Ladzikiyah hingga sampai di Allepo. Pintu menuju Makkah terbuka dihadapannya setelah dia melihat satu kafilah sedang bergerak untuk menunaikan ibadat haji ke Tanah Suci. Ia pun bergabung dengan rombongan itu. Beliau menetap di Makkah selama dua tahun.
Setelah cita-citanya tercapai, Ibnu Battuta, ternyata tak langsung pulang ke Tangier, Maroko. Ia lebih memilih untuk meneruskan pengembaraannya ke Yaman melalui jalan laut dan melawat ke Aden, Mombosa, Timur Afrika dan menuju ke Kulwa. Ia kembali ke Oman dan kembali lagi ke Makkah untuk menunaikan Haji pada tahun 1332 M, melaui Hormuz, Siraf, Bahrin dan Yamama.
Itulah putaran pertama perjalanan yang tempuh Ibnu Battuta. Pengembaraan putara kedua, dilalu Ibnu Battuta dengan menjelajahi Syam dan Laut Hitam. I lalumeneruskan pengembaraannya ke Bulgaria, Roma, Rusia, Turki serta pelabuhan terpenting di Laut Hitam yaitu Odesia, kemudian menyusuri sepanjang Sungai Danube.
Ia lalu berlayar menyeberangi Laut Hitam ke Semenanjung Crimea dan mengunjungi Rusia Selatan dan seterusnya ke India. Di India, ia pernah diangkat menjadi kadi. Dia lalu bergerak lagi ke Sri Langka, Indonesia, dan Canton. Kemudian Ibnu Battuta mengembara pula ke Sumatera, Indonesia dan melanjutkan perjalanan melalui laut Amman dan akhirnya eneruskan perjalanan darat ke Iran, Irak, Palestina, dan Mesir.
Beliau lalu kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah hajinya yang ke tujuh pada bulan November 1348 M. Perjalanan putaran ketiga kembali dimulai pada 753 H. Ia terdampar di Mali di tengah Afrika Barat dan akhirnya kembali ke Fez, Maroko pada 1355 M.
Ia mengakhiri cerita perjalannya dengan sebuah kalimat, ''Akhirnya aku sampai juga di kota Fez.'' Di situ dia menuliskan hasil pengembaraannya. Salah seorang penulis bernama Mohad Ibnu Juza menuliskan kisah perjalanannya dengan gaya bahasa yang renyah. Dalam waktu tiga bulan, buku berjudul Persembahan Seorang pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumka, diselesaikannya pada 9 Desember 1355 M.
Secara detail, setiap kali mengunjungi sebuah negeri atau negara, Ibnu Battuta mencatat mengenai penduduk, pemerintah, dan ulama. Ia juga mengisahkan kedukaan yang pernah dialaminya seperti ketika berhadapa dengan penjahat, hampir pingsan bersama kapal yang karam dan nyaris dihukum penggal oleh pemerintah yang zalim. Ia meninggal dunia di Maroko pada pada tahun 1377 M.
Kisah pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu, konon dirampas dan disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika. Buktinya, Barat baru mengetahui kehebatannya setelah tiga abad meninggalnya sang pengembara.
Dari Tangier ke Samudera Pasai
Petualangan dan perjalanan panjang yang ditempuh Ibnu Battuta sempat membuatnya terdampar di Samudera Pasai - kerajaan Islam pertama di Nusantara pada abad ke-13 M. Ia menginjakkan kakinya di Aceh pada tahun 1345. Sang pengembara itu singgah di bumi Serambi Makkah selama 15 hari.
Dalam catatan perjalanannya, Ibnu Battuta melukiskan Samudera Pasai dengan begitu indah. ''Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,'' tutur sang pengembara berdecak kagum. Kedatangan penjelajah kondang asal Maroko itu mendapat sambutan hangat dari para ulama dan pejabat Samudera Pasai.
Ia disambut oleh pemimpin Daulasah, Qadi Syarif Amir Sayyir al-Syirazi, Tajudin al-Ashbahani dan ahli fiqih kesultanan. Menurut Ibnu Battuta, kala itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Penjelajah termasyhur itu juga mengagumi Sultan Mahmud Malik Al-Zahir -- penguasa Samudera Pasai.
''Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat, sultan dan rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya,'' kisah Ibnu Battuta.
Menurut Ibnu Battuta, penguasa Samudera Pasai itu memiliki ghirah belajar yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama. Dia juga mencatat, pusat studi Islam yang dibangun dii lingkungan kerajaan menjadi tempat diskusi antara ulama dan elit kerajaan.
Selama berpetualang mengelilingi dunia dan menjejakkan kakinya di 44 negara, dalam kitab yang berjudul Tuhfat al-Nazhar, Ibnu Battuta menuturkan telah bertemu dengan tujuh raja yang memiliki kelebihan yang luar biasa.
Ketujuh raja yang dikagumi Ibnu Battuta itu antara lain; raja Iraq yang dinilainya berbudi bahasa; raja Hindustani yang disebutnya sangat ramah; raja Yaman yang dianggapnya berakhlak mulia; raja Turki dikaguminya karena gagah perkasa; Raja Romawi yang sangat pemaaf; Raja Melayu Malik Al-Zahir yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, serta raja Turkistan.
Setelah berkelana dan mengembara di Samudera Pasai selama dua pekan, Ibnu Battuta akhirnya melanjutkan perjalannnya menuju Negeri Tirai Bambu Cina. Catatan perjalanan Ibnu Battuta itu menggambarkan pada abad pertengahan, peradaban telah tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara.
Abadi di Kawah Bulan
Nama besar dan kehebatan Ibnu Battuta dalam menjelajahi dunia di abad pertengahan hingga kini tetap dikenang. Bukan hanya umat Islam saja yang mengakui kehebatannya, Barat pun mengagumi sosok Ibnu Battuta. Tak heran, karya-karyanya disimpan Barat.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union (IAU) mengabadikan Ibnu Battuta menjadi nama salah satu kawah bulan. Bagi orang Astronomi, Ibnu Battuta bukan hanya seorang pengembara dan penjelajah paling termasyhur, namun juga sebuah kawah kecil di bulan yang berada di Mare Fecunditas.
Kawah Ibnu Battuta terletak di Baratdaya kawah Lindenbergh dan Timurlaut kawah bulan terkenal Goclenius. Di sekitar kawah Ibnu Battuta tersebar beberapa formasi kawah hantu. Kawah Ibnu Battuta berbentuk bundar dan simetris.
Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battuta terbilang luas. Diameter kawah itu mencapai 11 kilometer. Dasar kawah bagian dalamnya terbilang gelap, segelap luarnya. Kawah Ibnu Battuta awalnya bernama Goclenius A. Namun, IAU kemudian memberinya nama Ibnu Battuta.
Selain dijadikan nama kawah di bulan, Ibnu Battuta juga diabadikan dan dikenang masyarakat Dubai lewat sebuah mal atau pusat perbelanjaan bernama Ibnu Battuta Mall. Di sepanjang koridor mal itu dipajangkan hasil penelitian dan penemuan Ibnu Battuta. Meski petualangan dan pengembaraannya telah berlalu enam abad silam, namun kebesaran dan kehebatannya hingga kini tetap dikenang.
Republika
( heri ruslan )
AlfaOmega
May 17, 2008, 20:51
Aku Rela Bayi Itu Untuknya (http://www.dakwatuna.com/2008/aku-rela-bayi-itu-untuknya/)
Oleh: Mochamad Bugi
dakwatuna.com - Tidak banyak orang yang tahu jika di tepi hutan itu tinggal dua orang keluarga. Para suami di keluarga itu adalah teman akrab yang sudah lama menjalin persahabatan. Tidak heran jika mereka masing-masing berkeluarga dalam waktu yang bersamaan. Mereka mempunyai bayi dalam waktu yang hampir sama pula. Hari ini, keduanya bepergian ke luar daerah untuk beberapa minggu karena sebuah urusan. Mereka tidak terlalu khawatir meninggalkan istri-istrinya karena satu sama lain sudah seperti saudara saja layaknya.
Satu ketika ada seekor serigala buas menerkam dan memakan salah seorang anak mereka tatkala kedua perempuan itu tengah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mereka berdua memang terbiasa meninggalkan bayi-bayi itu di ayunan di pinggir hutan di waktu siang.
Keduanya ketakutan. Sebenarnya sudah jelas sekali bahwa yang dimangsa adalah bayi si wanita yang tubuhnya gemuk. Sedangkan bayi dari perempuan yang agak kurus hanya menderita luka akibat cakaran serigala itu.
Akan tetapi, karena sangat takut dimarahi oleh suaminya, perempuan yang gemuk bersikeras bahwa yang selamat adalah anaknya. Akibatnya kedua perempuan itu bertengkar hebat memperebutkan bayi yang lolos dari maut tersebut .
Karena sama-sama ngototnya dan tidak ada penyelesaian, maka keduanya menghadap Nabi Sulaiman a.s. untuk meminta keputusan-siapa gerangan yang berhak memiliki bayi itu.
Menghadapi persoalan itu, Nabi Sulaiman berpikir keras. Ia tidak mengetahui latar belakang keduanya karena tempat tinggal mereka berdua yang cukup terpencil. “Jadi, anak siapa bayi ini?” tanya Nabi Sulaiman.
Perempuan yang gemuk menjawab lantang, “Anakku. Sungguh mati dia anakku. Lihatlah wajahnya mirip dengan suamiku.”
Belum selesai si perempuan gemuk berbicara, perempuan satunya laig menukas dengan keras. “Bukan, wahai Nabi yang bijaksana. Bayi itu betul-betul anakku.”
Nabi Sulaiman berkali-kali memperingatkan agar mereka berkata jujur, jangan bohong. Namun tetap saja kedua perempuan itu tidak ada yang mengalah. Malah semakin sengit. Lagi-lagi hal ini semakin membingungkan Nabi yang mempunyai paras tampan itu.
Nabi Sulaiman terdiam sejenak. Ia memandangi wajah keduanya. Keduanya sama-sama begitu meyakinkan. Tapi jelas, hanya ada satu ibu untuk bayi yang kini di hadapannya itu. Setelah berpikir dalam wkatu yang sangat lama, akhirnya Nabi Sulaiman memanggil seorang algojo untuk membawa golok yang tajam.
Nabi Sulaiman berkata kepada keduanya, “Mengingat kalian berdua sama-sama mengakui anak ini sebagai milik kalian, maka aku memutuskan bayi ini dibelah menjadi dua oleh algojo kerajaan. Bukankah itu adil? Dan tiap bagian akan diberikan kepada kalian berdua….”
Kedua perempuan itu sama-sama terperangah. Mereka sama-sama tidak mempercayai apa yang barusan mereka dengar dari Nabi yang kaya raya namun sangat bijaksana itu. Jika dibelah, tentulah bayi itu akan mati juga. Bagaimana ini? Mereka menunggu dengan berdebar-debar. Apakah benar seperti itu yang bakal dilakukan oleh Nabi Sulaiman?
Tatkala algojo sudah membaringkan bayi tersebut di altar untuk dibelah, dan ia mulai mengangkat goloknya, Nabi Sulaiman mengangkat tangannya menyuruh si algojo untuk berhenti sejenak. Kemudian Nabi Sulaiman kembali berkata kepada kedua perempuan itu, “Masih juga tidak ada yang mau mengalah? Atau mengakui keberadaan yang sebenarnya, siapakah di antara kalian yang betul-betul ibu dari anak ini?”
Mereka berdua tetap pada pendirian masing-masing. Melihat itu Nabi Sulaiman segera mengeluarkan titah agar algojo tidak usah ragu-ragu untuk membelah bayi tidak berdoa itu dengan goloknya yang telah banyak memenggal leher para durjana.
Begitu algojo siap hendak mengayunkan genggamannya, perempuan yang gemuk berteriak bahwa keputusan itu sangat adil dan ia setuju agar bayi itu benar-benar dibelah.
Namun tatkala golok itu hampir menimpa tubuh si bayi, wanita yang agak kurus menjerit, “Jangan! Jangan dibunuh anak itu! Biarkan aku relakan bayi itu untuk dipelihara oleh tetanggaku ini. Daripada dia dibunuh di depan mataku sendiri….”
Nabi Sulaiman pun buru-buru memberi isyarat supaya algojo mengurungkan pelaksanaan keputusan tersebut. Nabi memandangi keduanya lagi. Kemudian beliau berkata kepada perempuan yang kurus, “Wahai ibu yang tulus ikhlas, bayi ini adalah anakmu. Bawalah dia pulang dan rawatlah baik-baik. Dan engkau, hai perempuan!” ujarnya, “Jangan kau ulangi lagi melakukan bohong dan sumpah palsu, sebab engkau bukan ibu bayi itu. Anakmulah yang mati dilahap serigala.”
Betapa gembiranya ibu yang kurus. Dan alangkah malunya wanita yang lebih gemuk karena kecurangannya diketahui oleh Nabi Sulaiman.
Setelah keduanya berlalu, kepada para punggawa Nabi yang juga menjadi raja itu berkata menjelaskan, “Tahukah kalian mengapa aku berpendapat bahwa wanita yang kurus itu ibu bayi yang asli?”
Mereka menggeleng, “Hanya Nabi Allah yang tahu jawabannya.”
Nabi Sulaiman menukas, “Seorang ibu yang asli, bagaimana pun juga tak akan tega hatinya menyaksikan darah dagingnya dibunuh di hadapan matanya sendiri.”
Semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari itu mereka belajar, bahwa kebohongan, serapat dan sekecil apapun akan tetap terungkap.
AlfaOmega
May 26, 2008, 12:22
Bulu Ayam (http://www.miisonline.org/2006/12/17/ghibah/)
Seorang wanita mengulang sepotong berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui ceritanya. Dan, orang yang diceritakan itu merasa sakit hati dan terpukul.
Kemudian si wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui
bahwa berita itu betul-betul salah. Dia menyesal dan mendatangi seorang orang tua yang bijak untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.
“Pergilah ke pasar,” kata orang tua bijak itu, “dan belilah seekor ayam. Sembelihlah. Kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulunya dan buang satu persatu di sepanjang jalan.”
Meski kaget mendengarkan itu, si wanita melakukan apa yang disarankan kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya menyebarluaskan berita bohong itu pada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan persoalannya kembali.
Si orang bijak itu berkata, “Hmm, kalau begitu, sekarang pergilah dan kumpulkan semua bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku.”
Si wanita itu pun menyusuri jalan yang sama dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang telah dicabutinya kemarin. Namun, angin telah menerbangkan semua bulu-bulu itu kemana-mana sehingga mustahillah ia bisa mengumpulkannya semua. Setelah mencari-cari selama berjam- jam, ia kembali hanya bisa mengumpulkan sebanyak tiga potong bulu saja. Si wanita itu kembali menemui orang tua bijak.
“Lihatlah!” kata si orang bijak, “sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya. Namun sangat tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan gosip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarluaskan rumor, namun sekali terlempar, anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda.”
“Hai orang2 yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah DOSA dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang”. (Qs.49:12)
Dikutip dari: http://muslimdelft.nl/kolom/khairul_hadits/ghibah.php
AlfaOmega
May 29, 2008, 18:29
Muhammad, Pemimpin Ikut Turun Bekerja (http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=14)
''Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.'' (QS Al-Ahzab [33]: 21).
Salah satu situasi paling berat yang dihadapi kaum Muslimin pada masa Rasulullah SAW adalah ketika membuat persiapan menghadapi perang Ahzab saat kaum musyrikin dan Yahudi berkomplot untuk menyerbu Madinah. Salah seorang sahabat Nabi SAW, Salman al-Farisi, mengusulkan sebuah strategi yang kemudian disetujui dan digunakan untuk menghadapi musuh, yaitu dengan membuat parit (khandaq) mengelilingi kota Madinah. Para sahabat kemudian menggali parit.
Dalam buku sejarah Islam dikisahkan para sahabat menggali parit dalam keadaan lapar dan letih. Pada situasi dan kondisi seperti itu Rasulullah SAW menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin teladan. Beliau turut serta menggali parit dan turut pula menahan lapar hingga diriwayatkan bahwa beliau mengikatkan beberapa batu ke perutnya untuk mengganjal rasa lapar.
Mengenai sikap beliau ini Dr Said Ramadhan al-Buthiy dalam bukunya Fiqh as-Sirah menulis, ''Beliau tidaklah memerintah kaum Muslimin untuk menggali parit sedangkan Rasul mengawasi mereka dari istana yang tinggi sambil bersantai. Beliau juga tidak mendatangi kaum Muslimin dalam pesta yang ramai untuk menerima cangkul dari mereka lalu memukulkan cangkul tersebut ke tanah sebagai tanda dimulainya pekerjaan serta sebagai simbol bahwa beliau telah turut bekerja bersama mereka lalu setelah itu cangkul dilemparkan, debu yang melekat di baju dibersihkan kemudian pergi meninggalkan mereka.
Namun, Nabi SAW turut bekerja bersama mereka. Baju beliau bersimbah debu. Saat kaum Muslimin letih dan lapar beliaulah orang yang pertama kali keletihan dan kelaparan.'' Kebersamaan Rasulullah dengan para sahabat dalam bekerja dan menahan derita bukan terjadi kali itu saja. Pada saat kali pertama membangun Masjid Nabawi beliau pun turut serta memanggul dan membangun masjid tersebut.
Kecintaan dan kebersamaan beliau selaku pemimpin kepada rakyatnya akan selalu kita temui dalam rentang sejarah hidupnya. Tampaknya kecintaan ini telah begitu berurat akar dalam perasaan dan pikiran beliau sehingga menjelang akhir hayatnya salah satu ungkapan yang keluar dari lisan beliau adalah ''Umatku ... umatku ... umatku ....''
Dengan akhlak kepemimpinan beliau yang seperti itu maka tidaklah mengherankan jika kepercayaan rakyat begitu tinggi. Mereka yakin tidak akan pernah dikhianati dan merasa bahwa sang pemimpin tetap turut bersama-sama mereka justru pada saat-saat yang sulit. Semoga kita diberi kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT agar dapat mewarisi keteladanan Rasulullah. Wallahu a'lam bish-shawab.
AlfaOmega
June 03, 2008, 17:18
Bapak Kucing Kecil (http://www.hudzaifah.org/Article275.phtml)
Hudzaifah.org - Tokoh kita ini biasa berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam penanggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan salat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, dia sering mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar. Dalam sejarah ia dikenal paling banyak meriwayatkan hadis. Dialah Bapak Kucing Kecil (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.
"Aku sudah dengar pergunjingan kalian. Kata kalian, Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis Nabi. Padahal, para sahabat muhajirin dan anshar sendiri tak ada yang meriwayatkan hadis Nabi sebanyak yang dituturkan Abu Hurairah. Ketahuilah, saudara-saudaraku dari kaum muhajirin disibukkan dengan perniagaan mereka di pasar. Sementara saudara-saudaraku dari anshar disibukkan dengan kegiatan pertanian mereka. Dan aku seorang papa, termasuk golongan kaum miskin shuffah (yang tinggal di pondokan masjid). Aku tinggal dekat Nabi untuk mengisi perutku. Aku hadir (di samping Nabi) ketika mereka tidak ada, dan aku selalu mengingat-ingat ketika mereka melupakan."
Abu Hurairah adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang papa yang tinggal di pondokan masjid (pondokan ini juga diperuntukkan buat para musafir yang kemalaman). Begitu dekatnya dengan Nabi, sehingga beliau selalu memanggil Abu Hurairah untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.
Karena kedekatannya itu, Nabi pernah mempercayainya menjaga gudang penyimpan hasil zakat. Suatu malam seseorang mengendap-endap hendak mencuri, tertangkap basah oleh Abu Hurairah. Orang itu sudah hendak dibawa ke Rasulullah. "Ampun tuan, kasihani saya," pencuri itu memelas. "Saya mencuri ini untuk menghidupi keluarga saya yangkelaparan."
Abu Hurairah tersentuh hatinya, maka dilepasnya pencuri itu. "Baik, tapi jangan kamu ulangi perbuatanmu ini." Esoknya hal ini dilaporkan kepada Nabi. Nabi tersenyum. "Lihat saja, nanti malam pasti ia kembali." Benar pula, malam harinya pencuri itu datang lagi. "Nah, sekarang kamu tidak akan kulepas lagi." Sekali lagi, orang itu memelas, hingga Abu Hurairah tersentuh hatinya. Tapi, ketika hal itu dilaporkan kepada Nabi, kembali beliau mengatakan hal yang sama. "Lihat saja, orang itu akan kembali nanti malam." Ternyata pencuri sialan itu benar-benar kembali. "Apa pun yang kamu katakan, jangan harap kamu bisa bebas. Sudah dua kali kulepas, kamu tak kapok-kapok juga." Eh, pencuri itu malah menggurui. "Abu Hurairah, sebelum kamu tidur, bacalah ayat kursi agar setan tidak menyatroni kamu." Merasa mendapat pelajaran berharga, Abu Hurairah terharu. Ah, ternyata orang baik-baik, pikirnya. "Apa yang dikatakan orang itu memang benar," sabda Nabi ketika dilapori pagi harinya. "Tapi orang itu bukan orang baik-baik. Dia adalah setan. Dia katakan itu supaya dia kamu bebaskan."
MENGIKATKAN BATU KE PERUT
Abu Hurairah adalah salah seorang tokoh kaum fakir miskin. Abu Hurairah sering lapar ketimbang kenyang. Ia sosok yang teguh berpegang pada sunah Nabi. Ia kerap menasihati orang agar jangan larut dengan kehidupan dunia dan hawa nafsu. Ia tak membedakan antara kaum kaya dan kaum miskin, petinggi negeri atau rakyat jelata dalam menyampaikan kebenaran. Ia pun selalu bersyukur kepada Allah dalam keadaan susah dan senang.
Orang yang nama lengkapnya Abdur Rahman (versi lain: Abdu Syams) ibn Shakhr Ad-Dausi ini adalah sosok humoris. Banyak anekdot yang berasal darinya. Ia pun suka menghibur anak-anak kecil. Ia pecinta kucing kecil. Ke mana-mana dibawanya binatang ini, sehingga julukan Abu Hurairah (bapak kucing kecil) pun melekat padanya. Dibanding Nabi, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.
Dia masuk Islam tak lama setelah pindah ke Madinah pada tahun ketujuh hijriah, bersamaan dengan rencana keberangkatan Nabi ke Perang Khaibar. Tapi ibundanya belum mau masuk Islam. Malah sang ibu pernah menghina Nabi. Ini membuatnya sedih. Untuk itu, ia memohon Nabi berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah kembali menemui ibunya, mengajaknya masuk Islam. Ternyata sang ibu telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.
AlfaOmega
June 03, 2008, 17:19
BURUH KASAR
Akan halnya kepindahannya ke Madinah adalah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja serabutan, menjadi buruh kasar bagi siapa pun yang membutuhkan tenaganya. Acap kali dia harus mengikatkan batu ke perutnya, guna menahan lapar yang amat sangat. Menurut shahibul hikayat, ia pernah kedapatan berbaring di dekat mimbar masjid. Gara-gara perbuatan aneh itu, orang mengiranya agak kurang waras. Mendengar kasak-kusuk di kalangan sahabat ini, Nabi segera menemui Abu Hurairah. Abu Hurairah bilang, ia tidak gila, hanya ia lapar. Nabi pun segera memberinya makanan.
Suatu kali, dengan masih mengikatkan batu ke perutnya, dia duduk di pinggir jalan, tempat orang biasanya berlalu lalang. Dilihatnya Abu Bakar melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Al-Quran. "Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan," tutur Abu Hurairah. Tapi Abu Bakar cuma membacakan ayat, lantas berlalu.
Dilihatnya Umar ibn Khattab. "Tolong ajari aku ayat Al-Quran," kata Abu Hurairah. Kembali ia harus menelan ludah kekecewaan karena Umar berbuat hal yang sama. Tak lama kemudian Nabi lewat. Nabi tersenyum. "Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau bisa membaca raut muka saya secara tepat," tutur Abu Hurairah. "Ya Abu Hurairah!" panggil Nabi. "Labbaik, ya Rasulullah!""Ikutlah aku!" Beliau mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. Di dalam rumah didapati sebaskom susu. "Dari mana susu ini?" tanya Rasulullah. Beliau diberi tahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu. "Ya Abu Hurairah!""Labbaik, Ya Rasulullah!" "Tolong panggilkan ahli shuffah," kata Nabi. Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah, termasuk Abu Hurairah. Sejak itulah, Abu Hurairah mengabdi kepada Rasulullah, bergabung dengan ahli shuffah di pondokan masjid.
Sepulang dari Perang Khaibar, Nabi melakukan perluasan terhadap Masjid Nabawi, yaitu ke arah barat dengan menambah tiga pilar lagi. Abu Hurairah terlibat pula dalam renovasi ini. Ketika dilihatnya Nabi turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Nabi menolak seraya bersabda, "Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat."
Abu Hurairah sangat mencintai Nabi. Sampai-sampai dia memilih dipukul Nabi karena melakukan kekeliruan ketimbang mendapatkan makanan yang enak. "Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya secara sengaja atau tidak," katanya. Begitu cintanya kepada Rasulullah sehingga siapa pun yang dicintai Nabi, ia ikut mencintainya. Misalnya, ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah mencium kedua cucunya itu.
Ada cerita menarik menyangkut kehidupan Abu Hurairah dan masyarakat Islam zaman itu. Meski Abu Hurairah seorang papa, boleh dibilang tuna wisma, salah seorang majikannya yang lumayan kaya menikahkan putrinya, Bisrah binti Gazwan, dengan lelaki itu. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah persepsi orang dari membedakan kelas kepada persamaan. Abu Hurairah dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Sejak menikah, Abu Hurairah membagi malamnya atas tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya meskipun kemudian menjadi orang berada tetap hidup sederhana. Ia suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan menyedekahkan rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya. Tugas penting pernah diembannya dari Rasulullah. Yaitu ketika ia bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami diutus berdakwah ke Bahrain. Belakangan, ia juga bersama Quddamah diutus menarik jizyah (pajak) ke Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.
MENOLAK JABATAN
Mungkin karena itu, ketika Umar menjadi amirul mukminin, Abu Hurairah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Tapi pada 23 Hijri Umar memecatnya gara-gara sang gubernur kedapatan menyimpan banyak uang (menurut satu versi, sampai 10.000 dinar). Dalam proses pengusutan, ia mengemukakan upaya pembuktian terbalik, bahwa harta itu diperolehnya dari beternak kuda dan pemberian orang. Khalifah menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu ia diminta menduduki jabatan gubernur lagi, tapi ia menolak. Penolakan itu diiringi lima alasan.
1. aku takut berkata tanpa pengetahuan
2. aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama)
3. aku ogah dicambuk
4. aku tak mau harta benda hasil jerih payahku disita
5. dan aku takut nama baikku tercemar, kilahnya. Ia memilih tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.
Tatkala kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (bencana besar), Abu Hurairah bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam posisi siap tempur, Khalifah melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.
Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah ditawari menjadi gubernur di Madinah. Ia menolak. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap netral dan menghindari fitnah. Sampai kemudian Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah bersedia menjadi gubernur di Madinah. Tapi versi lain mengatakan, Marwan ibn Hakamlah yang menunjuk Abu Hurairah sebagai pembantunya di kantor gebernuran Madinah. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Meninggalkan warisan yang sangat berharga, yakni hadis-hadis Nabi, bak butiran-butiran ratna mutu manikam, yang jumlahnya 5.374 hadis.
AlfaOmega
June 11, 2008, 22:12
Benteng Terakhir Barshisha (http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=123)
Seribu satu cara untuk menggoda manusia. Itulah sumpah Iblis terlaknat dalam memburu anggota. Pantang mundur sebelum menang, siapa pun dihadapi. Semakin teguh yang dibujuk rayu, semakin canggih pula cara yang ditempuh. Dengan keuletan Iblis ini, jatuh pula Imam Barshisha, manusia alim tiada tara.
Siapa Barshisha, seorang ulama yang dikisahkan bahwa selama 200 tahun hayatnya tidak pernah berbuat maksiat, walau hanya sekejap. Diceritakan pula, berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya bisa berjalan di atas bumi. Sampai-sampai malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.
Tetapi, apa kata Allah atas kekaguman malaikat kepada Barshisha, “Apa yang kamu herankan darinya ? Sesungguhnya aku lebih mengetahhui dari apa yang tidak pernah kamu ketahui. Dan, sesungguhnya Barshisha dalam pengetahuanku,” kata Allah. Pada akhir hidupnya, Barshisha yang terkenal alim itu, berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya, hanya sebab minum khamr (minuman keras). Mendengar perkataan Allah ini, Iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Maka datanglah Iblis ke biara Barshisha dengan menyamar sebagai orang yang alim, dengan mengenakan kain zuhudnya berupa kain tenun.
“Siapa engkau ini, dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu, dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab Iblis.
Dengan hati yang tegar Barshisha berkata, “Siapa yang hendak mengabdi kepada Allah, cukuplah Allah sendiri yang menolongnya dan bukan engkau.”
Kulihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, Iblis melangkahkan jurusnya yang lain, selama tiga hari tiga malam Iblis beribadah tanpa makan, minum, dan tidur.
Melihat tamunya beribadah dengan khusyu, hati Barshisha mulai goyah. Ia kagum atas kekhusyuan tamunya yang terus-menerus beribadah kepada Allah tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, dan tidur. Padahal, yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah.
Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia bisa beribadah semacam itu. Iblis mengatakan bahwa ia pernah berbuat dosa, sehingga apabila dia teringat dosanya dia tidak bisa makan dan tidur.
“Bagaimana agar aku bisa beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik Iblis. Kemudian Iblis menyarankan agar sekali waktu Barshisha berbuat maksiat kepada Allah, kemudian bertobat kepadanya. Dengan demikian Barshisha akan bisa merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.
Kiat Iblis ini ternyata mampu menggoyahkan Barshisha. Dia bertanya kepada Iblis, “Apa yang harus aku kerjakan ?”
“Berzina,” jawab Iblis.
“Tidak mungkin, aku tidak akan melakukan dosa besar itu,” bantah Barshisha.
Iblis berkata, “Jika tidak mau berzina, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan.”
“Aku memilih minum khamr, tetapi di mana aku bisa mendapatkannya ?” sahut Barshisha.
“Pergilah ke desa ini,” ujar Iblis sambil menunjukkan nama desa yang dimaksud.
Atas saran Iblis, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjualan khamr. Ia langsung membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak terbiasa, maka Barshisha langsung mabuk hingga kehilangan kontrol. Kemudian dengan nafsunya, ia memaksa perempuan penjual khamr itu untuk diajak berzina. Malangnya, saat dia memperkosa perempuan tersebut, ia kepergok suaminya, maka dipukullah dia hingga hampir mati.
Saat korbannya dalam kepayahan, Iblis yang menyamar sebagai seorang alim itu berubah menjadi manusia biasa. Ia melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali, sebagai hukuman minum khamr. Ditambah cambukan 100 kali atas hukuman zina, dan hakim memutuskan Barshisha dihukum gantung sebagai ganti darah.
Saat Barshisha digantung itu, Iblis datang menghampirinya dan berkata, “Bagaimana keadaanmu Barshisha ?”
Barshisha menjawab, “Siapa yang mengikuti orang jahat, inilah akibatnya,” jawab Barshisha.
Iblis berkata, “Aku sudah berupaya 200 tahun menggodamu sampai berhasil hari ini engkau digantung. Jika engkau ingin turun, aku dapat menolongmu tetapi ada syaratnya. Sujudlah kepadaku,” ujar Iblis yang masih berupaya menjebloskan mangsanya.
Barshisha, yang sudah kehilangan benteng imannya berkata, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu sedang tubuhku berada dalam gantungan ?” “Tidak perlu cukup engkau bersujud dan beriman dalam hati kepadaku,” kata Iblis menegaskan. Maka, bersujudlah Barshisha dalam hatinya menuruti saran Iblis. Matilah ia dalam kekafiran menyembah Iblis.
[Sumber : Buku 1001 Kisah-Kisah Nyata oleh Achmad Sunarto telah diterbitkan oleh penerbit CV Firdaus, Jln. Kramat Sentiong Masjid, No. E 105, Telp. (021) 3144738, Jakarta Pusat]
http://www.alislam.or.id/comments.php?id=1391_0_11_0_C
AlfaOmega
June 22, 2008, 21:56
Malu dilihat Anjing (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=197)
Sabili No. 8 Th. XI
Suatu hari, bersama beberapa temannya, Husain bin Ali berangkat ke kebunnya yang dijaga seorang budak bernama Shafi. Husain sengaja datang ke kebun itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu sebelumnya.
Ketika tiba di kebun, Husain melihat budaknya sedang duduk istirahat di bawah sebatang pohon sambil makan roti. Ia juga melihat seekor anjing sedang duduk di hadapan Shafi sedang menikmati makannya juga. Husain melihat Shafi membelah rotinya menjadi 2. Yang separuh dimakannya sendiri, sedang separuhnya diberikan kepada anjing. Setelah selesai menghabiskan bagian roti masing-masing, Shafi berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, "Alhamdulillah robbil 'alamin. Ya Allah, berikanlah maaf dan ampun-Mu kepadaku dan kepada tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telah memberkati ayah dan bundanya dengan rahmat yang luas dan belas kasih-Mu ya Rabbal 'Alamin."
Husain menyaksikan semua itu. Mendengar kata-kata dan melihat perbuatan Shafi, Husain tidak dapat menahan dirinya. Ia memanggil, "Ya, Shafi..." Shafi kaget mendengar panggilan tuannya. Sambil meloncat gugup ia menjawab, "Aduh tuanku! Maafkan aku. Sungguh, aku benar-benar tidak melihatmu." Shafi merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan tuannya. Tetapi sambil mendekati Shafi Husain berkata, "Sudahlah, sebenarnya aku yang bersalah dan minta maaf padamu. Sebab aku memasuki kebunmu tanpa izin lebih dahulu."
"Kenapa tuan mengatakan demikian," kata Shafi dengan rikuh.
"Sudahlah, jangan kita persoalkan lagi masalah itu. Hanya aku ingin mengapa anjing itu tadi engkau beri separuh dari rotimu?" tanya Husain penuh penasaran.
Dengan malu Shafi menjawab, "Maklumlah tuan, aku merasa malu dipandangi terus oleh anjing itu ketika aku hendak makan tadi. Sedang anjing itu milik tuan dan dia turut menjaga kebun ini dari gangguan orang. Sedang aku hanya mengerjakan kebun tuan ini. Karena itu, rezeki dari tuan sudah selayaknya kubagi dengan anjing ini."
Mendengar penjelasan Shafi, Husain terharu dan meneteskan air mata. Orang yang berderajat budak ternyata memiliki budi yang tinggi. Dengan suara parau, Husain berkata, "Wahai Shafi, saat ini juga engkau bebas dari perbudakan. Terimalah dua ribu dinar sebagai pemberian dariku dengan penuh keikhlasan."
"Lama Shafi tertegun melihat Husain dan uang dua ribu dinar tersebut. Ia seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Namun Husain menganggukkan kepalanya dengan senyuman sambil menyerahkan uang tersebut.
AlfaOmega
June 23, 2008, 12:04
Imam Syafi’i (http://blog.unisa81.net/2006/07/05/imam-syafii/)
Ditulis Oleh: Abu Auf Abdurrahman Attamimi
sumber: mailing list Muslimah_Sholihah ·
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris. Beliau dilahirkan di Gaza, Palestina, tahun 150 H, dan ayahnya meninggal ketika masih bayi, sehingga beliau hanya dipelihara oleh ibunya yang berasal dari Qabilah Azad dari Yaman. Diwaktu kecil Imam Syafii hidup dalam kemiskinan dan penderitaan sebagai anak yatim dalam “dekapan” ibundanya . Oleh karena itu ibunya berpendapat agar sebaiknya beliau (yang ketika itu masih kecil) dipindahkan saja ke Makkah (untuk hidup bersama keluarga beliau disana). Maka ketika berusia 2 tahun beliau dibawa ibundanya pindah ke Makkah.
Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah oleh karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal Imam dan lahirlah Imam”. Pada usia 7 tahun beliau telah menghafal Al Qur’an. Dan suatu sifat dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat temannya diberi pelajaran oleh gurunya, maka pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat beliau pahami. Demikian pula jika ada orang yang membacakan buku dihadapan Imam Syafi’i, lalu beliau mendengarkannya, secara spontan beliau dapat menghafalnya. Sehingga kata gurunya : “Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran kecerdasan dan kemampuan beliau untuk menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya mendengarkan saja)”.
Setelah beberapa tahun di Makkah, Imam Syafi’i pergi ke tempat Bani Hudzail dengan tujuan untuk belajar kepada mereka. Bani Hudzail adalah Kabilah yang paling fasih dalam berbahasa Arab. Beliau tinggal di tempat Bani Hudzail selama 17 tahun. Ditempat ini beliau beliau banyak menghafal sya’ir-sya’ir, memahami secara mendalam sastra Arab dan berita-berita tentang peristiwa yang dialami oleh orang-orang Arab dahulu.
Pada suatu hari beliau bertemu dengan Mas’ab bin Abdullah bin Zubair yang masih ada hubungan famili dengan beliau.
Mas’ab bin Abdullah berkata : “Wahai Abu Abdullah (yaitu Imam Syafi’i), sungguh aku menyayangkanmu, engkau sungguh fasih dalam berbahasa Arab, otakmu juga cerdas, alangkah baiknya seandainya engkau menguasai ilmu Fiqih sebagai kepandaianmu.”
Imam Syafi’i : “Dimana aku harus belajar?”
Mas’ab bin Abdullah pun menjawab : “Pergilah ke Malik bin Anas”.
Maka beliau pergi ke Madinah untuk menemui Imam Malik. Sesampainya di Madinah Imam Malik bertanya : “Siapa namamu?”. “Muhammad” jawabku. Imam Malik Berkata lagi : “Wahai Muhammad bertaqwalah kepada Allah
dan jauhilah laranganNya maka engkau akan menjadi orang yang disegani di kemudian hari”. Esoknya beliau membaca al Muwaththa’ bersama Imam
Malik tanpa melihat buku yang dipegangnya, maka beliau disuruh melanjutkan membaca, karena Imam Malik merasa kagum akan kefasihan beliau dalam membacanya.
Al Muwaththa’ adalah kitab karangan Imam Malik yang dibawa beliau dari seorang temannya di Mekkah. Kitab tersebut beliau baca dan dalam waktu 9 hari, dan beliau telah menghafalnya.Beliau tinggal di Madinah sampai Imam Malik meninggal dunia, kemudian beliau pergi ke Yaman.
Kunjungan Imam Syafi’i Keberbagai Tempat
Sudah menjadi kebiasaan ulama’-ulama’ pada masa Imam Syafi’i yaitu berkunjung ke berbagai negeri untuk menimba ilmu di tempat tersebut. Mereka tidak perduli terhadap rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi. Demikian pula Imam Syafi’i berkunjung ke berbagai tempat untuk menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan memperoleh manfaatnya. Sebagaimana yang telah diketahui tentang perjalanannya dari Mekkah ke Bani Hudzail, kemudian kembali ke Mekkah dan perjuangannya untuk menemui Imam Malik, dan setelah meninggalnya Imam Malik beliau pergi keYaman dan selanjutnya pergi ke Baghdad dan kembali ke Madinah , dan setelah itu kembali lagi ke Baghdad kemudian ke Mesir.
Kunjungan-kunjungan itu menghasilkan banyak ilmu dan pengalaman baginya serta membuatnya gigih dalam menghadapi berbagai rintangan dalam membela kebenaran dan membela Sunnah Rasulullah saw. Sehingga namanya menjadi terkenal dan disegani umat Islam di zamannya.
Imam Ahmad Bin Hambal berkata tentang gurunya Imam Syafi’i rahimahullah telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Inna Allaha yub’astu lihadzihil ummah ‘ala ra’si kulla miati sanatin man yujaddidu laha diinaha”
“Sesungguhnya Allah swt mengutus (mengirim) seseorang kepada umat ini setiap seratus tahun untuk memperbarui urusan agamanya”. (shahih sunan Abu daud hadits no : 4291)
Kemudian Imam Ahmad bin Hambal menambahkan dengan berkata : “Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang pertama dan mudah-mudahan Imam Syafi’i adalah yang kedua”.
AlfaOmega
June 23, 2008, 12:08
Ilmu Yang Dimiliki Oleh Imam Syafi’i rahimahullah
Imam Syafii rahimahullah memiliki ilmu yang luas seperti yang dikatakan Ar Rabbii bin Sulaiman : “Setiap selesai shalat shubuh Imam Syafi’i selalu duduk dikelilingi orang-orang yang ingin bertanya tentang tafsir Al Qur’an. Dan seandainya matahari telah terbit, barulah orang-orang itu berdiri dan bergantian dengan orang-orang lain yang ingin bertanya juga tentang hadits, serta tafsirnya. Beberapa jam kemudian ganti orang-orang lain untuk bertanya-jawab. Dan sebelum waktu dhuhur mereka pergi disusul oleh orang-orang yang bertanya tentang nahwu, urudh dan syai’r sampai waktu dhuhur”.
Mas’ab bin Abdullah Az Zubairi berkata : “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui peristiwa tentang orang-orang Arab dahulu seperti Imam Syafi’i”. Abu Isma’il At Tarmudzi juga berkata : “Aku perna mendengar Ishak bin Rahawih berceritra : “ketika kami berada di Makkah Imam Bin Hambal rahimahullah, berkata kepadaku : “Wahai abu Ya’kub belajarlah kepada orang ini “Seraya memandang Imam Syafi’i”".
Kemudian aku berkata : “Apa yang akan aku peroleh dari orang ini, sementara usianya hampir sama dengan kita? Apakah aku tidak merugi seandainya meninggalkan Ibnu Uyainah dan Mugni?”. Imam Ahmad pun menjawab : “Celaka engkau! Ilmu orang-orang itu dapat engaku tinggalkan tapi Ilmu orang ini tidak dapat”. Lalu aku belajar padanya.
Imam Ahmad bin hambal menambahkan tentang Imam Syafi’I, adalah beliau orang yang paling paham (pengetahuannya) tentang Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Kesederhanaan Dan ketaatan Imam Syafi’i Pada Kebenaran
Al Imam Syafi’i rahimahullah terkenal akan kesederhanaan dan (ketaatan) dalam menerima kebenaran. Hal ini telah dibuktikan dalam diskusi-diskusi dan tadarus-tadarusnya serta pergaulan murid-murid, teman-teman dan orang umum. Banyak orang yang telah meriwayatkan sifat-sifat yang telah dimilikioleh Imam Syafi’i yang seolah-olah sifat itu hanya dimiliki oleh beliau saja.
Al Hasan bin Abdul Aziz Al Jarwi Al Masri (dia adalah Abu Ali Al Judzami, guru Syeikh Al Bukhari yang meninggal di Baghdad pada tahun 257 H) berkata : “As Syafi’i mengatakan : “tidak pernah terbesit dalam hatiku agar seseorang bersalah bila berdiskusi denganku, malah aku menginginkan agar semua ilmu yang kumiliki juga dimiliki oleh semua orang tanpa menyebut namaku”".
Dan Ar Rabii berkata : “Ketika aku mengunjungi As Syafi’i sakit, beliau masih sempat menyebutkan buku-buku yang telah ditulisnya dan berkata : “Aku ingin semua orang membacanya tanpa mengkaitkanya dengan namaku”".
Harmalah bin Yahya juga mengatakan : “Aku pernah mendengar As Syafi’i berkata : “Aku ingin setiap ilmu yang kumiliki, dimiliki oleh semua orang dan aku mendapatkan pahalanya tanpa ucapan terima kasih dari orang-orang itu”.” Beliau juga mengatakan demikian :
“Idza wajadtum fii kitaabii khilafa sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam, fakuuluu sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam, wa da’uu ma kultu”
“jika kalian mendapati dalam kitabku (suatu tulisan) yang menyelisihi sunnah Rasulullah saw , maka ambillah sunnah Rasulullah saw dan tinggalkan perkataanku.
Dan beliau juga berkata :
“Idza sohhal hadits fahuwa madzhabii”
“jika hadits Nabi saw (derajatnya) shahih, maka itulah madhabku”
“Kullu haditsin ‘anin nabi saw fahuwa kaulii, wain lam tasma’uu minni”
“setiap hadits dari Nabi saw adalah pendapatku, walaupun kalian tidak pernah mendengarkan dariku”
“Kullu maa kultu, fakaana ‘aninnabiyyi khilafu kaulii mimma yashihhu, fahadtsun nabiyyi awlaa, falaa tukalliduunii”
“segala pendapat yang aku katakan ,sedangkan hadits Nabi saw yang shahih menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi saw lebih utama (untuk diikuti) , dan janganlah kalian taklid kepadaku”.
Imam Syafi’i rahimahullah sendiri berkata : “Demi Allah aku belum pernah berdiskusi dengan seseorang kecuali dengan tujuan nasihat”. Seandainya aku menyampaikan tentang kebenaran kepada seseorang dengan bukti-bukti yang tepat, lalu diterima dengan baik, maka aku akan menjadi sayang dan akrab dengan orang tersebut. Sebaliknya jika orang tersebut sombong dan membantah bukti-bukti tadi, maka seketika itu juga orang tersebut jatuh dalam pandanganku”.
Dan beliau juga berkata : “ketahuilah bahwa perbuatan yang terberat itu ada tiga : “Memiliki harta sedikit tetapi dermawan. Takut kepada Allah swt dalam kedaaan sepi, dan mengatakan kebenaran kepada orang yang diharapkan serta ditakuti banyak orang”.
Ketaatannya Dan Ibadahnya Kepada Allah swt.
Tentang ketaatan Imam Syafii dan ibadahnya kepada Allah, semua orang yang bergaul dengannya, guru maupun murid, tetangga maupun teman, semuanya mengakuinya.
Ar Rabii bin Sulaiman mengatakan : “Imam Syafii telah mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan yang kesemuanya itu terbaca dalam shalatnya”. Dan Imam Syafii pernah berkata kepadaku : “Semenjak usia 16 tahun aku belum pernah merasa kenyang, kecuali hanya sekali saja. Karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati dan dapat menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa kantuk serta membuat malas seseorang untuk beribadah”.
Rabii juga mengatakan bahwa Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk menulis, bagian kedua untuk shalat dan bagian ketiga untuk tidur.
Kedermawanannya
Imam Syafi’i rahimahullah terkenal dengan kedermawanannya. Hal ini tidak bisa dipungkiri atau diragukan lagi. Muhammad bin Abdullah Al Misri berkata : “Imam Syafii adalah orang yang paling dermawan terhadap apa yang dimilikinya”.
Dan Amr bin Sawwad As Sarji berkata : “Imam Syafii adalah orang yang paling dermawan dalam hal keduniaan. Beliau pernah berkata kepadaku : “Aku pernah bangkrut sebanyak tiga kali dalam hidupku, sampai aku menjual semua barang-barang yang aku miliki, baik yang mahal maupun yang murah, juga perhiasan anak dan istriku tetapi aku belum pernah menggadaikannya”".
Muhammad Al Busti As Sajastani juga mengatakan : “Imam Syafi’i rahimahullah belum pernah menyimpan sesuatu karena kedermawanannya”. Al Humaidi juga berkata tentang Syafi’i ketika beliau datang dari Makkah, Imam Syafii membawa uang sebanyak 10.000 dinar, kemudian bermukim di pinggiran kota Makkah, dan dibagi-bagikan uang itu kepada orang yang mengunjunginya. Dan ketika beliau meninggalkan tempat itu uangnya sudah habis.
Ar Rabbii’ menambahkan tentang hal ini : “Seandainya Imam Syafi’i didatangi oleh seseorang untuk meminta kepadanya, maka wajahnya merah karena malu kepada orang tersebut, lalu dengan cepat dia akan memberinya”.
Bukti-bukti tentang kedermawanan Imam Syafi’i rahimahullah banyak sekali dan tidak mungkin untuk mengungkapkannya di dalam lembaran yang pendek ini.
Wafatnya Imam Syafi’i rahimahullah Di Mesir (Di Fisthath) Tahun 204 H Al Muzni berkata ketika aku mengunjungi beliau yang sakit yang tidak lama kemudian beliau meninggal, aku bertanya kepadanya bagaimana keadaanmu? Beliau menjawab : “Tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, meninggalkan saudara-saudaraku dan akan menjumpai Allah swt. Aku tidak tahu apakah aku masuk surga atau neraka”. Kemudian beliau menangis dan mengucapkan sebuah sya’ir
“Falamma kosaa kalbii wa dookot madzahidii ja’altu rajaai nahwa ‘afwika sullamaa”
“ketika hatiku membeku dan menyempit semua jalan bagiku, aku jadikan harapanku sebagai tangga untuk menuju ampunanMu”.
Rabii’ bin Sulaiman berkata : “Al Imam Syafi’i meninggal dunia pada malam jum’at, sehabis isya’ akhir bulan Rajab. Kami menguburkannya pada hari jum’at, dan ketika kami meninggalkan pemakaman itu kami melihat bulan (hilal) Sya’ban 204″.
Ar Rabbii’ bercerita : “Beberapa hari setelah berpulangnya Imam Syafi’i rahimahullah ke Rahmatullah dan ketika itu kami sedang duduk berkeliling seperti tatkala Imam Syafi’i masih hidup, datang seorang badui dan bertanya : “Dimana matahari dan bulan (yaitu Imam Syafi’i) yang selalu hadir di tengah-tengah kalian?” kami menjawab : “Beliau telah wafat” kemudian orang itu menangis tersedu-sedu seraya berkata : “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, sesungguhnya beliau dengan kata-kata yang indah telah membuka bukti-bukti yang dahulu tidak pernah kita ketahui. Dan mampu membuat bungkam musuh-musuhnya dengan bukti yang benar. Serta telah mencuci besih wajah-wajah yang menghitam karena aib dan membuka pintu-pintu yang dulu tertutup dengan pendapat-pendapatnya”. Setelah berucap kata-kata itu dia meninggalkan tempat itu”.
Ibnu Khollikan (penulis buku Wafiati A’yan) berkata : “Seluruh ulama’ hadits, fiqhi, usul, lughah, nahwu dan lain-lain sepakat bahwa Al Imam Syafi’i rahimahullah adalah orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, amanatnya, adilnya, zuhudnya, taatnya, akhlaqnya, kedermawannya dan kewibawaannya dikalangan para ulama’”.
Abu Hasan Al Razi berkata : “Aku belum pernah melihat Muhammad Al Hasan mengagungkan seorang ulama’ seperti dia mengagungkan Al Imam Syafi’i rahimahullah.”.
Abdullah din Ahmad bin Hambal betanya kepada ayahnya : “Ayah, bagaimana Imam Syafi’i itu? Aku sering kali melihatmu mendoakannya”.
Imam Ahmad bin hambal menjawab : “ketahuilah anakku, bahwa Imam Syafi’i itu ibarat matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia. Seandainya keduanya itu tidak ada, bagaimana mungkin dapat digantikannya dengan yang lain?”.
Maraji’:
- Diwan Asy Syafi’i.
- Tarikh Al Mudzahib Al Islamiyyah oleh Asy Syaikh Muhammad Abu Zuhroh.
- Sifat Shalat Nabi saw karya Syaikh Muhammad Nashirudin Albani.
AlfaOmega
June 25, 2008, 14:05
Apakah mereka lebih khusyu' daripada Abu Bakar dan Umar? (http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=377&Itemid=145)
www.perpustakaan-islam.com
Pada suatu hari Amir terlambat pulang ke rumah lalu ayahnya bertanya: Ke mana saja kamu, wahai Amir? Ia menjawab: Saya melihat suatu kaum yang tidak ada yang lebih baik daripada mereka, mereka berdzikir kepada Allah Ta'ala, salah satu di antara mereka gemetar kemudian pingsan karena takutnya kepada Allah! Apakah mereka lebih khusyu dari Abu Bakar dan Umar?
Seorang tabi'in yang agung bernama Amir bin Abdillah bin Zubair belajar dari ayahnya Abdullah bin Zubair ra.
Pada suatu hari Amir terlambat pulang ke rumah lalu ayahnya bertanya: Ke mana saja kamu, wahai Amir? Ia menjawab: Saya melihat suatu kaum yang tidak ada yang lebih baik daripada mereka, mereka berdzikir kepada Allah Ta'ala, salah satu di antara mereka gemetar kemudian pingsan karena takutnya kepada Allah!
Lalu ayahnya berkata: Janganlah kamu duduk bersama mereka lagi, wahai Amir! Kemudian Amir bertanya: Mengapa? Bukankah mereka adalah suatu kaum yang takut kepada Allah? Bapaknya menjawab: Sungguh saya telah melihat bagaimana Rasulullah saw membaca Al-Quran, dan aku melihat pula Abu Bakar 'dan Umar ra membaca Al-Qur'an, namun tidak sampai mengalami sebagaimana orang-orang yang kamu ceritakan itu, lalu apakah kau kira mereka lebih khusyu' dari pada Abu Bakar dan Umar?
Penulis mendapatkan kisah tersebut dalam biografi tabi'in yang zuhud dan ahli ibadah ini. Beliau belajar kepada ayahnya, seorang sahabat yang agung dan putra sahabat yang agung pula, yakni Abdulullah bin Zubair bin Awwam maka petunjuknya sesuai dengan petunjuk Nabi saw. Dalam riwayat ini terdapat solusi dari problem berupa ghuluw (melampaui batas) dan sikap ektsrim yang banyak menimpa kaum muda yang tengah bersemangat, sekalipun dengan niat yang baik dan menginginkan kebaikan, akan tetapi mereka salah dalam menempuh cara. Sehingga mereka tidak mendapatkan tujuan yang mereka kehendaki.
Abdullah bin Zubair bertanya kepada anaknya Amir atas keterlambatan pulang kerumah itu adalah merupakan hak baginya dan bahkan kewajiban bapak terhadap anaknya. Bukan berarti beliau merampas kemerdekaan anak atau mengekangnya, bahkan hal itu merupakan wujud penjagaan dan perhatian seorang ayah dan bagian dari tarbiyah yang baik.
Sungguh buruk sekali pendidikan yang mengklaim memberikan kemerdekaan kepada anak sepenuhnya tanpa adanya pengawasan dari orang tua terhadap prilaku mereka. Itu adalah kemerdekaan semu dan kebebasan yang merusak. Menganggap anak memiliki kedewasaan seperti dirinya, hingga mereka terjerat pergaulan dengan anak-anak berandalan, sementara mereka masih pendek nalarnya dan masih sempit pengalamannya, sehingga begitu mudah dijerumuskan dan dipengaruhi oleh teman-teman yang buruk, sementara bapaknya hanya menyaksikan dan bersikap netral tanpa komentar. Dengan dalih memberikan kemerdekaan bagi anaknya dan tidak ikut campur tangan dalam urusannya.
Inilah faedah pertama dari riwayat ini, yakni memberikan gambaran tentang konsep pendidikan Islam yang lurus semenjak awal tarikh hijriyah. (Amir tidak mempersoalkan pertanyaan ayahnya yakni tidak menyanggah ayahnya mengapa ia menanyakan urusannya), namun beliau memberikan alasan yang menyebabkan keterlambatannya. Beliau memberitahukan tentang keadaan kaum yang beliau lihat, mereka berdzikir kepada Allah dengan khusyu' dan takut hingga salah satu di antara mereka gemetaran lalu pingsan karena takut kepada Allah.
Akan tetapi Abdullah bin Zubair tidak simpati dengan kondisi orang yang diceritakan tersebut, tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tidak terperdaya oleh sikap lahir mereka. Bahkan dia meminta agar anaknya tidak bergaul dengan orang yang dikatakan khusyu tersebut, dan agar anaknya menjauhi mereka. Larangan tersebut membuat Amir keheranan mengapa ayahnya melarang berkumpul dengan kaum yang pingsan saking takutnya kepada Allah maka ia bertanya pada bapaknya: Mengapa, wahai ayah, padahal mereka adalah kaum yang takut kepada Rabb mereka?
Seharusnya ayahnya menganjurkan dia untuk bergaul dengan mereka dan memberikan motivasi untuk mengikuti mereka. Mengapa dia melarangnya padahal rasa takut itu telah bersemayam di hati dan menguasai perasaan mereka? (begitulah pikir Amir ketika itu)
Lalu muncullah jawaban dari sahabat yang agung tersebut, menjelaskan manhaj ittiba' dan jauh dari bid'ah, serta menerangkan tidak adanya kebaikan dalam ghuluw (berlebih-lebihan) atau melampaui dari apa' yang telah dikerjakan oleh Nabi dan para shahabatnya. Lalu beliau katakan bahwa beliau melihat Nabi ketika membaca Al-Qur'an (Al-Qur'an adalah sebaik-baik dzikir), begitupula halnya dengan kedua sahabat beliau yakni Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'Anhuma, namun tidaklah mengalami kondisi sebagaimana kondisi orang yang dilihat anaknya yakni orang yang pingsan karena khusyu'nya. Apakah mereka lebih khusyu' kepada Allah dari Rasul-Nya yang mulia padahal beliau telah menyebutkan nikmat yang Allah karuniakan kepada beliau dengan sabdanya:
Sesungguhnya orang yang paling bertakwa kepada Allah dan yang paling takut kepada-Nya adalah aku.
Dan apakah mereka lebih khusyu' pula daripada dua sahabat yang mulia, yakni Abu Bakar dan Umar? Padahal Abu Bakar 'lebih bagus keimanannya daripada iman seluruh umat ini, sebagaimana pernah disebutkan dalam sebuah hadits. Sedangkan Umar Syetan lari darinya sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw.
Jika demikian, mereka adalah orang-orang yang mengada-ada dan mutakallifun (memperberat diri) atau dari ahli meditasi dan filsafat yang jauh dari petunjuk salaf yang berada di tengah-tengah dan lurus. Sehingga tidak ada baiknya berteman dan meneladani mereka maka camkanlah nasihat ini wahai para pemuda.
Diambil dari Haakadza..Tahaddatsas Salaf edisi bahasa Indonesia Potret Kehidupan Para Salaf karya Dr. Musthafa Abdul Wahid. Penerbit : At-Tibyan
AlfaOmega
June 26, 2008, 16:11
Balasan Sesuai Dengan Perbuatan (http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=176&Itemid=145)
www.alsofwah.or.id
Jumat, 11 Juni 04
Salah seorang pemuda mengisahkan cerita dirinya yang dapat dikata ‘aneh tapi nyata’. Cerita ini menyangkut setiap anak yang menyia-nyiakan hak orangtuanya dan setiap orangtua yang hanya mendapatkan kedurhakaan dari anak-anaknya.
Pemuda ini bertutur,
“Aku tidak tahu darimana harus memulai cerita yang mengenaskan dan sekarang aku alami ini sementara usiaku sekarang sudah mencapai 70 tahun. Apakah zaman kembali terulang bersamaku sehingga ibarat senjata makan tuan berbalik kepada diriku dan aku meneguk air dalam cangkir yang dulu pernah aku suguhkan kepada ibundaku saat aku masih muda?. Agar anda memahami kisahku ini, baiklah kiranya aku ajak anda kembali ke masa 50 tahunan yang lalu. Ketika itu, aku terpukul karena ayahandaku yang seorang Bisnisman kaya meninggal dunia. Karena aku merupakan anak tunggal, maka semua harta peninggalannya beralih ke tanganku; uang sekian banyak, emas dan tiga kios dagang yang menjual model furniture yang paling baik.
Ibundaku –rahimahallah- kala itu menyetujui peralihan kekayaan ayahku ke tanganku karena beliau seorang yang amat zuhud terhadap gemerlap dunia. Yang diperlukannya hanyalah sedikit makanan dan minuman yang dapat menyumbal perutnya. Aku hidup bersama ibundaku itu untuk beberapa masa hingga akhirnya beliau memilihkan seorang isteri untukku dari kalangan kerabatku sendiri. Pada awal mulanya, aku merasakan betapa baik dan mulia akhlaknya akan tetapi nampaknya ibundaku tersebut tidak menyadari bahwa di balik sikap baiknya yang berlebih-lebihan itu terdapat rencana jahat dan kebusukan di dalam hatinya. Maka, begitu anak pertamaku lahir, dia sudah menuntut agar dibelikan rumah tersendiri buat kami, jauh dari ibundaku. Alasannya, dia ingin bisa lebih bebas di dalam mengatur kehidupannya sehingga bisa menjadi ibu rumah tangga di rumahnya sendiri.
Pada mulanya, aku berusaha menentang keinginan itu namun dia tetap ngotot dengan klaim bahwa ibundaku selalu ikut campur dalam urusan pribadinya sehingga akhirnya aku setuju untuk membangun rumah baru buat kami, jauh beberapa mil dari rumah ibundaku. Ketika itu, aku tidak menggubris keberatan ibundaku yang sudah tua renta dan dengan memelas menyatakan bahwa dirinya butuh sekali orang yang bisa merawat dan melayani keperluannya serta secara kontinyu bersamanya di rumah. Aku malah menuruti saja keinginan isteriku agar bisa mandiri di rumahnya.
Pada awal-awal perpindahanku, aku rajin mengunjungi ibundaku itu tiap pekan guna membelikan keperluan makan dan minumnya namun di bawah tekanan isteriku dan kengototannya, aku akhirnya mengurangi frekuensi kunjunganku itu menjadi sebulan sekali saja mengingat jarak yang cukup jauh antara rumah baru kami dan rumah ibundaku, disamping waktu itu alat transportasi cepat belum ada, yang ada hanya onta dan tunggangan lainnya.
Rupanya ibundaku menderita sakit parah. Maka, waktu itu aku tawarkan kepada isteriku akan pentingnya kami kembali pulang dan hidup bersama ibunda lagi guna menyiapkan makanan untuknya dan mengontrol perawatan medisnya. Ternyata dia menolaknya dengan alasan bahwa dia bukan pembantu ibundaku ataupun alasan lainnya. Demikianlah, sehingga aku kembali tidak menggubris lagi keinginan dan keluhan ibundaku agar kami tetap tinggal bersamanya. Aku hanya cukup dengan menitip pesan kepada para tetangganya agar memperhatikan kondisinya. Dan pada beberapa hari berikutnya, telah sampai berita kepadaku dari salah seorang tentangga ibundaku bahwa ibundaku itu telah wafat.
Setelah itu, hari demi hari dan tahun demi tahun pun berlangsung tanpa terasa sehingga kejadian yang menimpa ibundaku itu seolah terlupakan dan aku meneruskan kehidupan keluargaku bersama isteriku dan anakku dengan bahagia. Namun setelah wafatnya isteriku dua tahun lalu, aku kembali merasakan kesendirian.
Aku kemudian berterus terang kepada kedua anakku agar mengizinkanku menikah lagi dengan wanita lain, namun keduanya menolak. Sekalipun penolakan mereka itu, aku tetap bertekad ingin menikah namun betapa kagetnya aku dengan perubahan sikap keduanya terhadapku. Perubahan sikap yang tidak pernah terbayang di benakku. Aku rupanya sudah lupa bahwa diriku telah menyerahkan pengurusan manajemen dan pengelolaan yayasan yang aku miliki dalam hidupku itu kepada keduanya. Begitu melihat perubahan sikap keduanya tersebut, aku mengancam akan mencabut perwakilan yang telah aku serahkan kepada mereka, namun lagi-lagi aku dikagetkan dengan sikap keduanya yang malah semakin tidak baik terhadapku bahkan sampai kepada batas memutus hubungan denganku dan tidak lagi mengirimkan sejumlah uang yang biasanya cukup untuk menghidupi kebutuhanku sehari-hari sebagaimana yang mereka lakukan sebelum itu.
Setiap kali aku mengingat apa yang dulu pernah aku lakukan terhadap ibundaku, berlinanglah air mataku. Kejadian yang mengenaskan di dalam kehidupanku yang dulu pernah aku lakukan terhadap ibundaku, kini terulang kembali dan menimpa diriku. Aku takut bila di saat kematianku sama dengan kondisi ibundaku dulu, tanpa kehadiran anak-anakku di sisiku. Yang aku harapkan sekarang hanyalah keluasan rahmat Allah padaku dan ampunan-Nya terhadap dosa-dosaku sehingga aku tidak mati dalam kesendirian sebagaimana yang terjadi terhadap ibundaku dulu…”
(SUMBER: Qashash Wa Mawâqif Dzât ‘Ibar, disusun oleh ‘Adil bin Muhammad ‘Ali ‘Abdil ‘Aly, h.37-40, sebagai dinukil dari Harian ‘Okâzh, Vol.31)
AlfaOmega
June 27, 2008, 16:59
Sikapi Ujian dengan Sabar dan Tawakal (http://www.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=551)
Penulis : Ahmad Dimyati
KotaSantri.com : Pada masa Rasulullah SAW, ada seorang istri shalihah yang memiliki anak kecil yang sakit. Ketika suaminya bekerja di tempat jauh, anaknya itu wafat. Istri itu duduk dan menangisi kepergian anaknya itu. Tiba-tiba ia berhenti menangis dan sadar bahwa sebentar lagi suaminya pulang ke rumah.
Ia bergumam, jika saya menangis terus di samping jenazah anakku ini, kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan akan melukai perasaan suamiku. Padahal ia pulang dalam keadaan lelah. Ia cepat-cepat meletakkan anaknya yang wafat itu pada suatu tempat.
Datanglah suaminya itu dari tempat kerjanya. Sang istri pun menyambutnya dengan senyum dan penuh kasih sayang. Ia sediakan makanan kesukaannya dan membasuh kaki suaminya itu.
"Mana anak kita yang sakit?" tanya suami.
Istrinya menjawab, "Alhamdulillah ia sudah lebih baik."
Sang istri mengajak suaminya untuk tidur hingga terbangun menjelang waktu subuh. Sang suami bangun, mandi, dan shalat sunnah. Saat suami akan berangkat ke mesjid untuk shalat shubuh berjama'ah, istrinya berkata dengan tenang, "Suamiku, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Silahkan, sebutkan," kata suaminya.
Sang istri pun berkata, "Jika ada yang menitipkan amanat kepada kita, lalu pada saatnya diambil dari kita, bagaimana pendapatmu jika amanat itu kita tahan dan kita tidak mau memberikan kepadanya?"
"Itu perbuatan akhlak yang buruk dan bisa disebut khianat dalam beramal. Itu merupakan perbuatan yang sangat tercela. Kita wajib mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya bila dminta," jawab suaminya.
"Sudah tiga tahun, Allah menitipkan amanat kepada kita. Hari kemarin, dengan kehendakNya, Allah mengambil amanat itu dari kita. Anak kita sekarang wafat. Ia ada di kamar sebelah. Sekarang berangkatlah engkau dan lakukanlah shalat," timpah sang Istri.
Suami itu melihat anaknya dan kemudian pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah di masjid Nabi. Seusai suami itu mengkabarkan kematian anaknya. Nabi Muhammad SAW langsung mendekatinya seraya berkata, "Diberkatilah malam kamu yang tadi itu. Malam ketika suami istri bersabar dalam menghadapi musibah."
Begitulah seharusnya menyikapi ujian. Yakni dengan bersabar dan tawakal kepada Allah. Namun tidak semua orang bisa memiliki kecerdasan emosional yang tinggi seperti pasangan tersebut.
Sumber : "Jihad Al-Nafs" karya Ayatullah Mazhahiri (Beirut : Al-Mahijjah Al-Baidha, 1993, halaman 69-70). [Swadaya-062008]
AlfaOmega
July 09, 2008, 12:29
Hasan al Bashri dan Penyembah Api (http://kawansejati.ee.itb.ac.id/hasan-al-bashri-dan-penyembah-api)
Wed, 2008-03-26 12:06 — admin
Hasan mempunyai tetangga yang bernama Simeon, seorang penyembah api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat meminta agar Hasan sudi mengunjunginya. Akhirnya Hasan pun pergi mendapatkan Simeon yang terbaring di atas tempat tidur dan badannya telah kelam karena api dan asap.
"Takutlah kepada Allah", Hasan menasehatkan, "Engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap".
"Ada tiga hal yang telah mencegahku untuk menjadi seorang Muslim", jawab Simeon penyembah api. "Yang pertama adalah kenyataan bahwa walaupun kalian membenci keduniawian, tapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan. Yang kedua, kalian mengatakan bahwa mati adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi, namun kalian tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Yang ketiga, kalian mengatakan bahwa wajah Allah akan terlihat, namun hingga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak diridhai-Nya".
"Inilah ucapan dari manusia-manusia yang sungguh-sungguh mengetahui", jawab Hasan. "Jika orang-orang Muslim berbuat seperti yang engkau katakan, apa pulakah yang hendak engkau katakan? Mereka mengakui keesaan Allah sedangkan engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tak pernah berbuat seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke dalam neraka, api neraka akan membakar dirimu dan diriku, tetapi jika diizinkan Allah. Api tidak akan berani menghanguskan sehelai rambut pun pada tubuhku. Hal ini adalah karena api diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya. Walaupun engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah kita bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesungguhnya tak berdaya dan betapa Allah itu Maha Kuasa".
Setelah berkata demikian Hasan memasukkan tangannya ke dalam api. Namun sedikit pun ia tidak cedera atau terbakar. Menyaksikan hal ini Simeon terheran-heran. Fajar pengetahuan terlihat olehnya.
"Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api" mengeluh Simeon, "kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas saja yang tersisa, apakah yang harus kulakukan?"
"Jadilah seorang Muslim", jawab Hasan.
"Jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak akan menghukum diriku", kata Simeon, "barulah aku menjadi Muslim. Tanpa jaminan itu aku tidak sudi memeluk agama Islam".
Hasan segera membuat sebuah surat jaminan.
"Kini susullah orang-orang yang jujur di kota Bashrah untuk memberikan kesaksian mereka di atas surat jaminan tersebut. Simeon mencucurkan air mata dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Kepada Hasan ia sampaikan wasiatnya yang terakhir, "Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang Muslim".
Setelah berwasiat demikian ia mengucap dua kalimah syahadat dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka memandikan mayat Simeon, menshalatkannya dan menguburkannya dengan sebuah surat jaminan di tangannya.
Malam harinya Hasan pergi tidur sambil merenungi apa yang telah dilakukannya itu. "Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam sedang aku sendiri dalam keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani memastikan apa yang akan dilakukan oleh Allah?"
Dengan pikiran-pikiran seperti inilah Hasan terlena. la bermimpi bertemu dengan Simeon, wajah Simeon cerah dan bercahaya seperti sebuah pelita, di kepalanya terlihat sebuah mahkota. Ia mengenakan sebuah jubah yang indah dan sedang berjalan jalan di taman surgawi.
"Bagaimana keadaanmu Simeon ?" tanya Hasan kepadanya.
"Mengapakah engkau bertanya padahal kau menyaksikan sendiri ?" jawab Simeon. "Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya telah menghampirkan diriku kepada-Nya dan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadaku. Karunia yang dilimpahkanNya kepadaku melebihi segala kata-kata. Engkau telah memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak membutuhkannya lagi".
Ketika Hasan terbangun ia mendapatkan surat jaminan itu telah berada di tangannya. "Ya Allah", Hasan berseru, "aku menyadari bahwa segala sesuatu yang Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu semata. Siapakah yang akan tersesat di pintu-Mu? Engkau telah mengizinkan seseorang yang telah menyembah api tujuh puluh tahun lamanya untuk menghampiri-Mu, semata-mata karena sebuah ucapan. Betapakah Engkau akan menolak seseorang yang telah beriman selama tujuh puluh tahun ?".
AlfaOmega
July 21, 2008, 12:28
Kisah Seorang Pemuda Kader Ahli Sihir (http://www.dakwatuna.com/2008/kisah-seorang-pemuda-kader-ahli-sihir/)
Oleh: Mochamad Bugi
--------------------------------------------------------------------------------
dakwatuna.com - Dahulu ada ada seorang Raja mempunyai seorang Ahli Sihir. Setelah Ahli Sihir itu tua, ia meminta kepada Raja agar mengirimkan orang pemuda untuk dikader menjadi ahli sihir. Maka dikirimlah kepadanya seorang pemuda -menurut riwayat Ibnu Ishak di Sirah Ibnu Hisyam, nama pemuda ini Abdullah bin Tsamir–.
Di tengah perjalanan untuk belajar ilmu sihir, Pemuda itu berjumpa dengan seorang Rahib. Lalu duduk sejenak dan mendengarkan kata-kata sang Rahib hingga ia tertarik. Maka sejak itu setiap hari ia akan ke tempat Ahli Sihir, ia singgah terlebih dahulu ke tempat sang Rahib untuk mendengarkan ilmu yang diberikannya. Akibatnya, si Pemuda selalu terlambat tiba di tempat Ahli Sihir. Gurunya, si Ahli Sihir, menghukum pukul si Pemuda atas keterlambatannya.
Si Pemuda menceritakan kepada sang Rahib bahwa ia selalu dihukum guru sihirnya karena selalu terlambat. Sang Rahib menyarankan, “Bilang kepadanya, engkau menyelesaikan pekerjaan rumah dahulu. Kalau kamu takut dimarahi keluargamu karena pulang terlambat, katakan kepada mereka ada pekerjaan dari guru sihirmu.”
Suatu ketika dalam perjalanan si Pemuda bertemu dengan binatang yang sangat besar dan membuat orang-orang takut. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Sekarang saatnya aku mencoba, siapakah yang lebih baik: Rahib atau Ahli Sihir.” Lalu ia mengambil sebuah batu dan berucap, “Ya Allah, jika yang benar bagimu adalah Rahib dan bukan Ahli Sihir, maka bunuhlah binatang itu agar orang-orang tidak terganggu.” Ia lempar batu itu. Kena. Binatang itu mati.
Segera si Pemuda menemui Rahib. Ia ceritakan semua peristiwa yang baru terjadi. Sang Rahib berkata, “Anakku, hari ini engkau lebih baik dari aku. Engkau akan mendapat cobaan. Janganlah engkau beritahu tentang aku.”
Bersamaan dengan berjalannya waktu, si Pemuda memiliki keistimewaan. Ia mampu menyembuhkan orang buta, mengobati penyakit kulit, dan berbagai penyakit lainnya. Keahliannya ini sampai ke telinga seorang Pengawal Raja yang buta. Pengawal Raja ini datang sambil membawa banyak hadiah. “Jika engkau mampu menyembuhkanku, engkau mendapat hadiah yang istimewa,” katanya.
Si Pemuda menjawab, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah swt. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah swt. menyembuhkanmu.”
Si Pengawal pun beriman. Allah swt. menyembuhkan matanya. Pulanglah ia ke istana dan kembali bertugas mendampingin Raja seperti biasa. Tentu saja Raja kaget. Pengawalnya sudah tidak buta lagi.
“Siapa yang menyembuhkanmu?” tanya Raja.
“Tuhanku,” jawab si Pengawal.
“Apakah ada Tuhan selain aku?” tanya Raja lagi.
“Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah,” jawab si Pengawal.
Raja marah. Ia memerintahkan pengawal-pengawalnya yang lain untuk menyiksa si Pengawal beriman itu. Raja ingin tahu siapa orang di balik perubahan akidah Pengawalnya itu. Maka tersebutlah nama si Pemuda.
Raja luar biasa murka. Si pemuda dipanggil untuk menghadap. Raja berkata, “Wahai anak muda, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta dan orang yang terkena penyakit kulit. Engkau juga mampu melakukan yang tak dapat diperbuat orang lain.”
Si Pemuda berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang dapat menyembuhkan hanya Allah swt.”
Mendengar jawaban itu Raja murka. Ia menyiksa Pemuda itu. Raja menyiksanya terus menerus hingga tersebutlah nama sang Rahib sebagai guru si Pemuda. Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk menangkap sang Rahib. Setelah sang Rahib berhasil di hadirkan, Raja berkata, “Keluarlah dari agamamu!” Sang rahib menolak. Ia dihukum gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua dari kepala hingga tubuh bagian bawah.
Raja juga memerintahkan Pengawalnya yang telah beriman untuk keluar dari keyakinan barunya, “Keluarlah dari agamamu!’ Si Pengawal menolak. Ia pun dihukum gergaji. Tubuhnya terbelah menjadi dua, dari kepala hingga ke tubuh bagian bawah.
Lalu Raja memanggil si pemuda. “Keluarlah kamu dari agamamu!” Si Pemuda menolak. Raja menyuruh beberapa pengawalnya membawa Pemuda itu ke atas gunung. “Jatuhkan dia dari puncak gunung kalau dia tidak mau keluar dari keyakinannya.”
AlfaOmega
July 21, 2008, 12:30
Setelah sampai di puncak gunung si Pemuda berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku dari mereka.” Gunung pun bergoyang. Para pengawal yang akan mengeksekusi si pemuda itu jatuh. Mati.
Si Pemuda yang selamat datang kepada Raja. Raja heran, “Apa yang mereka perbuat kepadamu?” “Aku telah diselamatkan oleh Allah swt.,” tegas si Pemuda.
Maka Raja memerintahkan pengawalnya yang lain untuk membawa si Pemuda ke tengah laut. Lemparkan jika ia tidak keluar dari agamanya, begitu perintah Raja. Ketika sampai di tengah laut, si Pemuda berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku dari mereka.” Tiba-tiba perahu oleng. Terbalik. Semua tewas tenggelam, kecuali si Pemuda.
Sekali lagi si Pemuda menghadap Raja. Raja terkejut, “Apa yang terjadi?” Dengan tegas si Pemuda berkata, “Allah membinasakan mereka dan menolong aku.” Lalu ia menambahkan, “Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali engkau mengikuti saranku.”
“Apa itu?” tanya Raja.
“Kumpulkan rakyatmu di sebuah lapangan luas dan engkau salib aku di sebatang kayu. Lalu panah aku dengan busur milikku sambil kau ucapkan bismillah Rabb ghulam, dengan nama Allah Tuham pemuda ini. Jika engkau lakukan itu, engkau akan berhasil membunuhku.”
Raja pun melakukan apa yang disarankan si Pemuda. “Bismillah Rabb ghulam,” ucap Raja. Panah pun meluncur. Tepat menembus pelipis si pemuda. Si pemuda meletakkan tangannya di pelipis yang terkena anak panah. Ia pun menghembuskan nafas terakhir. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu berkata, “Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini.”
Seseorang berkata kepada Raja, “Tidakkah engkau saksikan apa yang engkau khawatirkan? Orang-orang telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu.”
Raja murka luar biasa. Ia memerintahkah tentaranya membuat parit lalu mengisi parit itu dengan api yang membakar. “Yang tetap beriman kepada Tuhannya pemuda itu, ceburkan ke dalam parit itu!” titah Raja terucap. Maka, satu per satu orang-orang yang beriman kepada Tuhannya si Pemuda diceburkan ke dalam parit berapi itu. Sampai giliran seorang wanita yang menggendong anaknya. Ia ragu untuk mencebut ke dalam kobaran api. Anaknya berkata, “Wahai ibu, sabarlah. Lakukan, engkau berada dalam kebenaran.”
Begitulah, kisah orang-orang yang beriman sebelum kita. Rasulullah saw. menceritakannya kepada kita seperti yang diriwayatkan Muslim (3005), Tirmidzi (3340), Ahmad (6/17, 18), Nasa’i (11661), Ibnu Hibban (873), Tharani (7319), Ibnu Abi Ashim (287). Mereka telah membuktikan kebenaran iman mereka. Dan pasti akan tiba giliran kita untuk diuji? Semoga Allah swt. mengokohkan iman di hati kita apa pun yang terjadi. Amin.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam, Tafsir Ibnu Katsir, dan Mu’jam Al-Buldan disebutkan, jenazah Pemuda ini ditemukan di zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Jari si Pemuda tetap berada di pelipisnya seperti ketika ia dibunuh. Penemuan ini terjadi saat seorang penduduk Najran menggali lobang untuk suatu keperluan. Ketika tangan si Pemuda ditarik dan dijauhkan dari pelipisnya, darah memancar dari luka panas. Jika tangannya dikembalikan ke posisi semula, darah itu berhenti mengalir. Di tangan si Pemuda tertulis kata-kata Rabbku adalah Allah. Mendengar kabar itu, Umar bin Khaththab memerintahkan agar jasad di Pemuda dibiarkan seperti semula.
Ibnu Katsir berkata, “Kisah itu terjadi antara masa Isa bin Maryam a.s. dengan Rasul Muhammad saw., dan ini lebih mendekati. Wallahu a’lam.”
AlfaOmega
July 22, 2008, 16:13
Hai Nil, Mengalirlah! (http://www.dakwatuna.com/2008/hai-nil-mengalirlah/)
Oleh: Mochamad Bugi
dakwatuna.com - Mesir jatuh ke dalam pelukan Islam. Amru bin ‘Ash r.a. ditetapkan Khalifah Umar bin Khaththab sebagai Gubernur di sana. Suatu hari di hari pertama di bulan dalam sistem penanggalan masyarakat setempat, orang-orang datang menemui Amru bin ‘Ash.
Juru bicara mereka berkata, “Wahai Amirul mukminin, Sungai Nil di tempat kami punya kebiasaan tidak mau mengalirkan air kecuali permintaannya dipenuhi.”
“Apa permintaannya?” tanya Amru bin ‘Ash.
“Kalau sudah tanggal 11 bulan ini, kami biasa mencari seorang anak gadis. Setelah kami menjadikan kedua orang tuanya senang dan ridha, maka kami menyuruh gadis itu berdandan dan berhias seelok mungkin. Lalu kami melemparnya ke Sungai Nil sebagai tumbal,” papar mereka.
Amru bin ‘Ash memotong, “perbuatan itu dilarang oleh Islam dan Islam melenyapkan ajaran buruk sebelumnya.”
Karena tidak ada solusi, para penduduk Mesir yang menetap di sekitar Sungai Nil memutuskan untuk menetap sementara seperti biasa. Bila air Sungai Nil tidak mengalir, mereka berencana pindah ke wilayah lain.
Melihat keadaan itu, Amru bin ‘Ash berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah. Amru melaporkan peristiwa yang dihadapinya dan meminta nasihat kepada Umar apa yang mesti ia lakukan.
Umar membalas surat Amru. Dalam suratnya Umar menulis, “Tindakanmu benar. Islam memang menghapus kebiasaan buruk sebelumnya. Aku telah mengirim kertas khusus untuk engkau lempar ke Sungai Nil.”
Surat Umar sampai ke tangan Amru. Amru membaca isi surat khusus yang ditulis Umar untuk Sungai Nil. “Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin untuk Nil penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi bila engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku meminta kepada Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.”
Kertas itu dilempar Amru bin ‘Ash ke Sungai Nil sehari sebelum hari raya X. Saat itu penduduk Mesir tengah bersiap-siap pindah ke negeri lain karena Sungai Nil yang menjadi sumber penghidupan mereka berhenti mengalirkan air.
Setelah surat Umar dilempar, keesokan harinya, di pagi hari di hari raya X, air Sungai Nil telah mengalir dengan ketinggian 7 meter lebih hanya dalam waktu semalam. Sejak itu adat buruk masyarakat Mesir melempar tumbal seorang gadis hidup-hidup ke tengah Sungai Nil berhenti.
Peristiwa ini tercatat dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/480), Tafsir Al-Qurthubi (13/70-71), Tafsir Fakhrur Razi (21/74-75), Tarikh Al-Khulafa karya Asy-Syuyuti, Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra karya As-Subkiy, dan kitab-kitab masyhur lainnya.
AlfaOmega
July 23, 2008, 20:55
Toleransi Seorang Shalahuddin al-Ayubi (http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=163)
Pada suatu hari, Shalahudin al-Ayubi sedang duduk di dalam perkemahan. Di saat dia sedang serius memberikan wejangan, tiba-tiba ada seorang perempuan kafir berdiri di depan perkemahannya. Perempuan berwajah muram ini berteriak dengan suara yang memekakkan telinga, sehingga suasana menjadi gaduh.
Melihat kejadian tersebut, para prajurit segera bertindak menjauhkan perempuan itu dari perkemahan. Namun, Shalahudin mencegah dan memerintahkan para prajurit agar membawa masuk perempuan itu. Begitu perempuan itu menghadap, pimpinan umat yang berhasil merebut kembali Jerusalem ini segera menanyakan hal yang menyebabkan perempuan itu bersedih. Ia menjawab, ''Anakku diculik dan suamiku disandera sebagai tawanan perang. Padahal, suamikulah yang memberikan nafkah buatku.''
Pernyataan perempuan tersebut membuat Shalahudin terharu. Seketika itu juga dia memerintahkan para prajurit agar segera melepaskan suami perempuan itu. Dia juga memerintahkan para prajurit, agar mencari anak yang hilang diculik.
Mendapatkan perintah tersebut, secepat kilat para prajurit melaksanakannya. Sampai akhirnya berhasil mendapatkan anak yang diculik itu. Dan dengan segera pula, si anak diserahkan kepada ibunya. Betapa bahagianya perempuan itu mendapatkan suami dan anaknya kembali ke pangkuannya.
Perempuan tersebut sangat berterima kasih serta memuji Shalahudin. Mendengar pernyataan dari perempuan itu, Shalahudin berkata, ''Kami tidak melakukan sesuatu apa pun, kecuali apa yang telah diperitahkan oleh agama kami.''
Mendengar ungkapan Shalahudin, perempuan itu lantas bertanya, ''Apakah agama tuan memerintahkan kasih sayang terhadap para musuh, serta membantu orang-orang yang lemah?'' ''Benar bunda,'' jawab Shalahudin. ''Islam adalah agama Allah di dunia ini. Agama-Nyalah yang senantiasa memberikan rahmat serta menjadi penyelamat bagi seluruh umat.''
Mendapat jawaban ini, perempuan itu tergugah benaknya. Ia pun bersyahadat bersama suaminya. ''Saya mencintai agama yang senantiasa bertoleransi dan mulia itu, seperti yang tecermin dari sifat-sifat dan akhlak tuan.''
Begitulah dakwah yang diajarkan Shalahudin. Ia menunjukkan dua hal sekaligus, Islam adalah agama yang santun dan mengajarkan toleransi. Dialah pemimpin Islam yang disebut dengan nada hormat, bahkan di kalangan pembesar lawan. Shalahudin menunjukkan, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam membawa perasaan nyaman terhadap pemeluknya, juga membuat orang lain simpati.
(Muhammad Zaidun Khadliri, Hikmah , Republika)
AlfaOmega
September 02, 2008, 11:58
Cara Rasul Hadapi Islamofobia (http://www.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=584)
Penulis : Rifqi Fauzi
KotaSantri.com : Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih buruk dari Perang Uhud?"
Rasulullah menjawab, "Suatu hari, aku pernah menemui kaum yang sangat kejam yang belum pernah aku temui, yaitu hari di mana aku menemui kaum kampung aqabah (di Thaif). Ketika aku ingin menemui (untuk meminta perlindungan, sekaligus menyebarkan Islam) Ibnu Abi Yalil bin Abdi Kulal (salah satu pembesar di Thaif), tetapi dia tidak memenuhi keinginanku, lalu aku pulang dalam keadaan wajahku berdarah karena perlakuan warganya yang melempariku dengan batu.
Ketika aku berhenti di Qarnul Tsa'alib (Miqat Qarnul Manajil), aku melihat ke atas dan awan memayungiku sehingga aku merasa teduh. Lalu, aku melihat Jibril memanggilku, seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan (hinaan) kaummu dan penolakan mereka kepadamu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung terhadapmu."
"Ya Muhammad," sahut malaikat penjaga gunung, "Jika engkau mau supaya aku melipatkan Akhsyabain (dua gunung di Makkah, yaitu gunung Abi Qubaisy dan gunung yang menghadapnya ini di atas mereka, niscaya akan aku lakukan."
Namun, aku berdo'a dan tidak ada sedikit pun keinginan untuk membalasnya. Aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah yang Esa dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun." (HR. Bukhari Muslim).
Dalam kisah lain, salah seorang dari kaum Quraisy biasa melempari kotoran jika Rasulullah SAW lewat di depan rumahnya. Ketika orang Quraisy itu tidak terlihat lagi, Rasulullah pun menanyakan tentang kabarnya. Ketika ada kabar bahwa orang itu sakit, Rasulullah langsung menjenguknya tanpa ada dendam sedikit pun. Akhirnya, orang itu pun masuk Islam karena melihat akhlak mulia Rasulullah SAW.
Dari kisah di atas, banyak pelajaran yang bisa kita renungkan. Pertama, ketika cacian dan perlakuan tidak manusiawi datang menghadapi Rasulullah, maka yang dikedepankan oleh beliau bukan dengan kembali mencaci, tapi dengan menunjukkan sikap baik. Secara tidak langsung, ini adalah dakwah terhadap mereka yang membenci Islam. Terbukti, akhlak baik Rasulullah dan sahabatnya telah mengantarkan Islam bisa tersebar luas dengan waktu yang singkat. Dengan ini, maka umat Islam dituntut lebih memperbaiki lagi akhlaknya sehingga yang membenci tahu akan keagungan umat Islam.
Kedua, umat Islam harus senantiasa introspeksi, apakah kita pernah menjelaskan tentang Islam kepada orang-orang yang menghina Islam? Boleh jadi mereka membenci Islam karena belum tahu tentang hakikat Islam. Jika belum, maka kita harus memberikan penjelasan tentang Islam dengan berbagai pendekatan. Kalau Rasulullah dahulu suka memberikan surat-surat yang ditujukan kepada para raja, maka sekarang pun kita bisa berdakwah lewat buku, dengan menerjemahkan karya-karya Islam ke dalam bahasa yang dipakai Barat. Atau bisa dengan pendekatan seni dan budaya yang lebih bisa diterima oleh mereka.
Ketiga, mungkin ini yang luput dari kita selama ini, yaitu mendo'akan mereka untuk mendapatkan pintu hidayah. Rasulullah SAW tahu bahwa berdakwah saja tidak cukup. Hidayah adalah urusan Allah, maka jalan terbaik untuk memintanya adalah dengan do'a. Maka, jika yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha akan Islam, maka biarkanlah Allah SWT yang membalikkan hatinya menjadi mencintai Islam. Tentunya, tujuan penulis bukan untuk melarang berdemo. Demonstrasi saja tidak cukup untuk menghilangkan Islamofobia, apalagi jika berdemo dengan cara brutal dan merusak. Maka, yang timbul bukan Islamofobia hilang, tapi mungkin akan semakin menjadi-jadi. [RoL]
AlfaOmega
September 03, 2008, 03:14
Menanggung Cobaan Berat (http://www.eramuslim.com/atk/bps/8902160353-menanggung-cobaan-berat.htm)
3 Sep 08 06:38 WIB
Oleh Mashadi
Begitu rindu. Rasanya ingin segera menjumpainya. Rindu dengan orang yang sangat dicintai. Perjalanan panjang ditempuhnya. Tak mempedulikan badai gurun. Tak peduli sengatan terik matahari yang membakar. Dahaga tak tertanggung. Perlahan-lahan ia terus menjejaki perjalanan dengan onta. Sampai menjelang tujuan. Langit sudah mulai temaram. Menjelang malam. Ia ingin segera berjumpa dengan sang kekasih Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam.
Justru sampai di kota suci Madinah keinginannya pupus. Dadanya sesak. Nafasnya seakan berhenti. Di masjid Nabawi ia terduduk lesu. Sedih. Tak terperikan. Rona wajahnya pucat. Karena perasaannya yang bercampur dengan sedih. Perjalanan panjang yang telah ditempuhnya, bagaikan sebuah kisah yang sia-sia. Ia menjadi pasrah. Ketika sampai di Madinah mendengar kabar Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam wafat. Orang yang ia cintai wafat. Seakan ia tak percaya. Di masjid Nabawi ia bermunajat. Do’a-do’a panjang ia ucapkan. “Ya Rabb. Semoga kepergian Baginda Rasullullah shallallahu alaihi wa salam, tak menggoyahkan imanku”, pintanya.
Bukan hanya ia yang tak percaya Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam wafat, juga Umar Ibn Khaththab tak percaya. “Siapa yang mengatakan Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam wafat akan berhadapan denganku”, tegas Umar. Sampai datang sahabat Abu Bakar yang mengingatkan Umar: “Barangsiapa yang beribadah kepada Muhammad, sesungguhnya ia telah meninggal. Dan, barangsiapa yang beribadah kepada Allah, maka Allah hidup selama-lamanya”, kata Abu Bakar. Itulah ucapan yang mengakhiri berbagai kegalauan dilingkungan kaum muslimin.
Tak sedikit yang murtad. Tak sedikit yang menjadi ingkar. Meninggalkan agama Islam. Mereka terlalu mencintai Baginda Rasululllah shallallahu alaihi wa salam. Betapa. Kehidupan yang penuh dengan tipu daya. Orang-orang yang dulunya menerima Islam, meninggalkan Islam. Karena mereka ‘beriman’ dan ‘beribadah’ kepada manusia. Bukan yang menciptakan manusia. Dua pertiga penduduk jazirah Arab murtad, ketika Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam wafat. Khalifah Abu Bakar As-Shidiq, yang menggantikan Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, pertama yang dilakukan adalah memerangi orang-orang yang murtad. Mereka yang memusuh Islam, ketika Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam wafat. Orang-orang yang murtad itu harus dipunahkan. Mereka akan menjadi bibit penyakit yang merusak. Merusak aqidah. Merusak ikatan aqidah dan iman umat. Mereka akan menjadi musuh-musuh, yang memerangi barisan Islam. Langkah Abu Bakar ra memerangi orang-orang yang murtad adalah sebuah keniscayaan.
Orang yang menempuh perjalanan panjang dari Syam, ke Madinah, tak lain adalah Abu Muslim Abdullah bin Tsaub al-Khaulani ad-Darani rahimahullah.Ia seorang mu’min yang mukhlis. Ia seorang imam yang berilmu dan zuhud. Ia menempuh perjalanan panjang ingin berjumpa dengan Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam untuk mendampinginya. Ia ingin belajar adab-adab dari Rasulullah. Segala kesulitan ia lewati. Demi memenuhi keinginannya bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wa salam. Kehidupan Nabi yang mulia menjadi tujuannya. Niat itu tak terwujud. Karena, Baginda Rasululllah shallallahu alaihi wa salam wafat.
Abu Muslim mendapat cobaan lebih berat. Ada orang yang mengaku nabi. Mengaku sebagai pemimpin umat. Mengaku orang yang menerima wahyu. Laki-laki yang mengaku nabi adalah Aswad al-Anasi. Aswad benar-benar menjadi bencana bagi orang-orang yang beriman.Aswad tidak membiarkan orang-orang yang tidak mau mengakuinya sebagai nabi. Maka, Aswad memanggil Abu Muslim, agar imam yang mukhlis itu menghadapnya. Aswad lupa dan tidak mengira bahwamasih ada mereka yang beriman yang tidak mengakui ada Nabi selain Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Imam yang jujur itu, Abu Muslim, memberikan pelajaran yang berharga kepada Aswad. Memolak Aswad permintaannya sebagai nabi.
“Apakah engkau bersaksi bahwa sesungguhnya Muahmmad adalah Rasulullah?”, tanya Aswad, yang mengadili Abu Muslim. “Ya”, jawab Abu Muslim. “Kalau begitu, engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”, tanya Aswad. Dengan nada mengejek Abu Muslim menjawab: “Aku tidak mendengar”, jawabnya. Aswad mengulangi lagi pertanyaannya: “Apakah engkau bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?”, tanyanya. “Ya”, jawab Abu Muslim. “Kalau begitu, engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”, tanyanya lagi. Abu Muslim kembali menjawab dengan nada yang mengejek: “Aku tidak mendengar”, tandasnya. Aswad marah. Memerintahkan orang-orangnya mengumpulkan kayu bakar, dan membakar. Di tengah kobaran api yang menyala-nyala itu, dilemparkan Abu Muslim ke dalam kobaran api. Keanehan terjadi. Abu Muslim badannya tak tersentuh oleh api. Aswad terbelalak. Tak percaya melihat kejadian itu. Ini karomah yang membuat orang-orang disekelilingnya bingung.
Suatu ketika Abu Muslim bersama dengan Abu Bakar, dan duduk di tengah-tengah mereka dan berkata: “Segenap puji hanya Allah yang belum mematikan aku, sehingga aku sempat menyaksikan seseorang umat Rasulullah shallallahu alaihi wa salam yang mengalami seperti yang dialami oleh Ibrahim khalilullah alaihi wa salam”. Karamah yang dimiliki Abu Muslim mirip dengan Nabi Ibrahim.
Abu Muslim tak mau bergaul dengan para pencari dan pencinta dunia. Bila ia duduk dengan seseorang yang membicarakan dunia, lalu Abu Muslim al-Khaulani rahimahullah segera mengalihkan pembicaraannya. Ia tak mau terlibat dalam pembicaraan masalah-masalah dunia. Hati Imam Abu Muslim selalu tertambat dengan dzikir kepada Rabbnya Azza wa jalla. Hatinya selalu berusaha mencari ketaatan dan keridhaan kepadaNya. Ia suka mengumandangkan kalimat takbir. Sekalipun hanya dengan anak-anak yang belum dewasa.
Abu Muslim rahimahullah berpesan: “Berdzikirlah kepada Allah sampai orang-orang dungu memandangmu sebagai orang gila”. Begitulah sepenggal kisah kehidupan Abu Muslim yang penuh dengan karamah. Ia selalu ingat dan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Bukan meninggalkan Rabbnya, hanya tertipu germerlap kehdupan dunia, yang tak seberapa. Hanya orang-orang yang mukhlisin yang dapat memahaminya atas kehidupan ini. Wallahu ‘alam
AlfaOmega
September 04, 2008, 15:26
Masihkah Percaya Akhirat? (http://www.eramuslim.com/atk/bps/8815105811-masihkah-percaya-akhirat.htm?other)
15 Agu 08 12:54 WIB
Oleh Mashadi
Mengapa manusia menyimpang dari agamanya? Mengapa manusia berbuat dosa dan ma’siat? Mengapa manusia menjadi lupa, sombong, angkuh, melampui batas dan durhaka terhadap Rabbnya? Mengapa manusia terperdaya, serta hanya mengikuti hawa nafsurnya? Tidakkah cukup semua peristiwa di alam semesta ini menjadi pelajaran?
Tidakkah orang-orang Islam menyakini yaumul jaza’ (hari pembalasan)? Tidakkah orang-orang Islam menyakini janji dari Rabbnya tentang adanya surga dan neraka? Masihkah orang-orang Islam menyakini adanya hari akhirat? Karena, kenyataannya banyak di antara mereka yang terkena penyakit ‘wahn’, yaitu hubbudunnya wa karohiyatul maut (cinta dunia dan takut mati).
Surga dan neraka tidak dapat divisualisasikan dengan nyata. Tidak nampak. Tidak konkrit. Tidak dapat dirasakan secara indera. Kehidupan di akhirat, adanya surga dan neraka, hanya dapat diyakini. Di sinilah manusia yang telah beriman dan mengucapkan dua kalimah syahadat – asyhadu alla ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah – akan diuji kebenaran pernyataannya itu. Apakah ia tulus dengan pilihan hidupanya menjadi muslim, atau pernyataannya itu, tidak mempunyai arti apa-apa dalam kehidupan.
Rasulullah Saw seringkali berbicara tentang kehidupan akhirat, dan surga. Dan, yang dimaksud oleh Rasulullah Saw, adalah keridhaan Allah Ta’ala. Sebagian di antara orang-orang yang pernah bertemu dengan beliau meminta kekuasaan. Tapi, Rasulullah Saw bersabda: “Surga”. Orang-orang yang datang di antaranya adalah para sahabat bertanya: “Wahai Rasul apa yang ingin kami lakukan?”. “Kalian jual diri kalian kepada Allah”, jawab Rasulullah Saw. “Lalu apa yang akan kami dapat?”, tanya mereka. “Surga”, jawa Rasul Saw.
Rasulullah Saw tidak menjanjikan kepada mereka istana yang megah, emas, perak, atau kedudukan, tapi semata-mata hanya menjanjikan surga. Karena itu, orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan Rasul, memiliki kekuatan, yang bersumber dari keyakinan, yang tak ada batasnya. Keyakinan yang mutlak dari mereka itu, yang membuat hidup mereka lebih bermakna, baik di mata manusia, atau di sisi Rabbnya. Maka, mereka memiliki kesanggupan yang sangat luar biasa. Mereka sanggup ditempa terik matahari, panasnya gurun pasir, berjalan ribuan kilometer, dan hanya menggunakan onta, sebagai wasilah, yang mereka tumpangi. Mereka sanggup menghadapi kelaparan, dan dahaga, yang mencekik, tapi mereka tak pernah menyerah. Mereka menghadapi siksaan, yang amat kejam, tak sedikit mereka yang gugur, akibat siksaan itu. Mereka dipenjara, diusir, dicerai-beraikan, dan bahkan ada di antara mereka ada yang cacad seumur hidup. Di antara mereka ada pula yang mengorbankan dirinya (nyawanya), dan dengan penuh kegembiraan, tanpa ada rasa takut. Mereka hanya membayangkan janji dari Rabbnya, yaitu surga.
Imam Bukhari dalam shahihnya, bahwa Ali ra pernah berkata: “Dunia pergi menjauh, dan akhirat mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia”. Ali bin Abi Thalib adalah guru bagi orang-orang yang mencintai akhirat. Dalam riwayat yang shahih, suatu malam Ali ra mengelus-ngelus janggutnya, sambil menangis, “Wahai dunia, wahai yang hina, kujatuhkan talak tiga kepadamu tanpa rujuk lagi”, gumam Ali ra.
Abdullah bin Hudzaifah, ketika menjadi tawanan, dibawa menghadap Raja Persia. Sang Raja berkata kepada Hudzaifah: “Hai Abdullah bin Hudzaifah! Apakah kamu besedia keluar dari agama Muhammad dengan imbalan kuberi separuh kerajaanku?”. “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sekedip matapun aku tidak akan mundur dari agama Muhammad walau engkau memberiku seluruh kerajaanmu dan kerajaan bapak dan kakekmu!?
Mereka lebih mencintai kehidupan akhirat, dibandingkan dengan kelezatan dan kenikmatan kehidupan dunia, yang pasti akan sirna. Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
September 07, 2008, 19:40
Al Baihaqi (384 - 458 H)
Ahmad bin Husein bin ‘Ali bin Abdullah bin Musa, Abu Bakar al Baihaqi an Nisaburi, demikian nama lengkap beliau, dilahirkan di sebuah desa kecil Khusraujirdi di negeri Baihaqi (Nisaburi) pada tahun 384 H.
Beliau adalah seorang Ulama Hadits yang terkenal, juga seorang penganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah dari Asy’ari dan juga terkenal dalam ilmu Fiqih […]
An Nasai (215 - 303 H)
Nama lengkap beliau Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’ib bin Ali bin Bahar bin Sinan bin Dinar an Nasai, lahir di satu desa yang bernama Nasa’ di daerah Khurasan pada tahun 215 H.
Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal, yang mana kitabnya termasuk kitab hadits yang enam, yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasai. Ke enam kitab hadits ini dikenal yang paling sahih di dunia islam.
Guru-guru beliau di antaranya adalah Ishaq Ibnu Rahuyah, Yunus bin Abdul Ja’la (sahabat/murid Imam Syafi’i Rhl), Quthaibah bin Said Hasan bin Muhammad Za’farani, Abu Daud as Sijistani, dan lain-lain.
Tersebut dalam kitab Sunan Nasai di bahagian terjemahan pengarang bahwa beliau adalah seorang yang berpegang teguh kepada Madzhab Syafi’i dan mengarang sebuah kitab “Manasik haji” atas dasar Madzhab Syafi’i.
Di antara kirab-kitab yang dikarang beliau adalah:
1. Kitab hadits Sunan Nasai, 4 jilid besar.
2. Kitab Manasik.
3. Kitab Sunan Al Kubra.
4. Dan lain-lain.
Riwayat beliau sedikit menyedihkan. Pada tahun 302 H. beliau datang ke Damaskus, di mana ketika itu yang berkuasa adalah pengikut-pengikut Saidina Mu’awiyah yang membenci Saidina ‘Ali Rda.
Banyak orang ketika itu yang menghina Saidina ‘Ali. Imam Nasai bukan kaum Syi’ah, tetapi beliau mencintai Ahli Bait, khususnya Saidina’Ali Kw. Beliau mengarang sebuah kitab untuk menerangkan kelebihan-kelebihan Saidina ‘Ali Kw.
Dengan keluar dan beredarnya kitab ini menjadikan penguasa di Damaskus marah kepada beliau. Akhirnya beliau diusir dari Damaskus, sampai-sampai kabarnya dipukuli sehingga beliau wafat di suatu tempat yang bernama Ramlah di Syria.
Ada orang mengatakan bahwa jenazahnya dibawa ke Mekkah dimakamkan antara Shafa dan Marwa.
Berkata Imam Daruquthni, bahwa Nasai adalah seorang Ulama yang terkenal di zamannya.
Berkata Abu Ja’far Thahawi bahwa Nasai adalah Imam ummat Islam seluruhnya.
Berkata Abu ‘Ali Naisaburi bahwa Nasai adalah Imam Hadits, tidak ada yang membantah keimamannya itu.
Al Daruquthni (wafat 385 H)
Ahli Hadits yang terkenal Imam Daruquthni yang mengarang kitab Sunan Daruquthni adalah penganut faham Syafi’iyah dalam Fiqih.
Hal ini ternyata dalam kitab yang dikarang beliau, yaitu kitab “As Sunan”.
Sumber: Sejarah dan Keagungan Madzab Syafi’i, karangan KH. Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah, 1994
sumber (http://alkisah.web.id/2008_03_01_archive.html)
AlfaOmega
September 09, 2008, 09:54
Penggundulan Sang Badui (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=542)
Kota Bashrah yang ramai dengan penduduknya yang beragam, masa itu dipimpin oleh Walikota Abu Musa al Asyari. Ia mempunyai prajurit yang gagah berani, salah satunya yang cukup luar biasa sebutlah si fulan dari suku Badui, yang terkenal polos, terbuka, dan impulsive. Fulan adalah prajurit yang gagah berani, di senangi dan disegani kawan, apalagi di tengah medan pertempuran.
Suatu hari, usai suatu pertempuran, tidak seperti biasanya, fulan langsung menghadap Abu Musa. Entah karena ada dorongan apa, ia datang untuk meminta ghanimah hasil peperangan yang menjadi hak miliknya. Dengan tepat, seperti yang diingatnya, fulan menyebutkan jumlah ghanimah haknya. Jumlah yang diminta nya cukup besar dan membuat kaget Abu Musa.
Setengah percaya dan tidak Abu Musa merenung. Bagaimana membuktikan kebenaran jumlah itu? Dan, bagaimana kalau seluruh prajurit terprovokasi menuntut hal yang sama? Akhirnya, Abu Musa memanggil si Badui dan menyerahkan hanya separo dari yang diminta. Namun, di luar dugaan Abu Musa, si fulan marah. Dengan nada kasar, ia mendesak Abu Musa agar memberikan glianimah haknya sesuai dengan jumlah yang disebutkan.
Maka ketegangan pun tak terhindarkan. Suasana menjadi panas. Abu Musa merasa keputusannya sudah tepat, sementara si Badui merasa yakin dengan hitungannya. Dengan marah ia menolak keputusan sang walikota. Sebagai walikota yang bertanggung jawab atas ketenteraman kota, Abu Musa khawatir kalau penentangan si Badui akan dicontoh prajurit lain, sehingga sulit diatur. Kalau itu terjadi, celakalah kota Bashrah. Keamanan kota menjadi lemah. Bila jadi, yang akan susah adalah kaum muslimin juga. Hal ini tak boleh terjadi, menurut Abu Musa.
Maka Abu Musa mengambil keputusan untuk menghukum si fulan karena penentangannya atas ketetapan walikota dan sebagai pelajaran bagi prajurit lain agar tidak menentang pemimpin mereka. Hukumannya adalah 20 kali cambuk dan cukur gundul.
Hari eksekusi pun tiba. Dengan marah si Badui menerima hukuman itu. la merasa ini adalah ketidakadilan. Mengapa orang yang menuntut haknya malah harus menerima hukuman 20 kali cambuk dan kepala diplontos? Padahal Islam mengajarkan keadilan dan bukan penghinaan. Islam mengajarkan pemenuhan hak bukan keangkuhan.
Si Badui sungguh merasa terhina. Apalagi banyak prajurit yang mentertawai ketika penggundulan kepala itu dilakukan. Mereka sepertinya memandang lucu kepada dirinya. Panas membara di hati si Badui. Dengan wajah merah padam dipunguti rambutnya di tengah suara tawa prajurit yang lain. Dia bertekad akan melaporkan ketidakadilan ini kepada Amirul Mukminin, Umar ibnul Khaththab.
Maka pergilah ia menemui Amirul Mukminin ke Madinah dan langsung masuk ke majelis Umar ibnul Khaththab. Dengan marah dia masuk sambil melempar potongan rambut ke hadapan Umar. Tampak kemarahan yang sangat dari wajah dan gerakan si Badui. Hadirin majelis tampak kaget. ”Betapa beraninya orang ini. Seorang rakyat biasa berbuat tidak sopan di hadapan Umar dengan melemparkan potongan rambut"' kata hati mereka. Mereka cemas dengan apa yang akan terjadi karena mereka mengetahui ketegasan Umar ibnul Khaththab.
Tapi nampaknya Umar tetap tersenyum ramah kepada si Badui. Sementara itu, dengan lantang dan marah si Badui berteriak,"kalau aku tidak takut......”, dan Umar langsung menyambutnya dengan bij aksana, "Ya benar, kalau. kau tidak takut akan api neraka, lalu kenapa?" Akhirnya berceritalah si Badui tentang apa yang dialaminya di Bashrah.
Umar mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, ia menulis surat kepada Abu Musa yang intinya, "Seorang rakyatmu telah datang menghadapku di Madinah. Bersiaplah menerima pembalasan kalau engkau melaksanakannya di depan umum, begitu pula kalau kau melaksanakannya secara tersembunyi."
Membaca surat Umar, Abu Musa terkesiap dan menyadari kesalahannya, yakni tidak memenuhi hak si Badui dan malah menghukumnya. Kesadaran dan kesalehan Abu Musa mendorongnya untuk segera melaksanakan perintah Umar. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menunda, apalagi menyembunyikannya. "Biarlah hancur kewibawaanku di hadapan rakyat, yang penting aku telah menebus kesalahanku, dan memenuhi hak orang lain. Apa artinya rasa malu di dunia, ketimbang pertanyaan Allah swt. kelak di akhirat," Abu Musa membatin.
Berbeda dengan Abu Musa, sejak kepulangan dari Madinah, si Badui tampak ceria. Kegusarannya hilang tanpa bekas karena telah diterima dengan baik oleh Amirul Mukminin dan sekarang ia dapat membalas perbuatan walikota serta membersihkan kehormatannya.
Keceriaan dan kebijaksanaan Khalifah Umar membuat si Badui kagum. Dalam hatinya muncul perasaan bersalah. "Mengapa saya harus balas dendam, kepada walikota, padahal keputusan walikota itu tentu atas pertimbangan cermat dalam rangka mengatur prajurit serta harta pampasan perang? Bagaimana kalau seluruh prajurit bertindak seperti dirinya, apakah tidak menimbulkan kekacauan? Bagaimana pula kalau seluruh prajurit menentang perintah walikota, apa yang akan terjadi dengan keamanan kaum muslimin Bashrah?" batin si Badui. Tetap terselip dalam hati si Badui bahwa ada unsur kebenaran dalam tindakan sang walikota.
Hari pembalasan pun tiba. Abu Musa tertunduk lesu. Pejabat kota dan rakyat pada umumnya merasa marah dengan si Badui dan iba terhadap Abu Musa. "Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seorang walikota yang saleh, terhormat, dan sahabat Rasulullah saw. diperlakukan seperti ini oleh seorang rakyat jelata." keluh mereka. Mereka membujuk agar si Badui memaafkan sang Walikota.
Namun, sebagian rakyat berpendapat, ini adalah hal yang baik. Pembalasan ini menunjukkan keadilan Islam. Siapapun tidak boleh melanggar hak orang lain, meskipun ia seorang walikota. Hak rakyat harus dipenuhi dan keangkuhan harus dihancurkan. Islam mengajarkan, pemimpin adalah pengayom rakyat bukan algojo yang mengeksekusi terhukum.
Aba aba sudah diberikan. Abu Musa duduk terdiam pasrah. Rakyat memejamkan mata. Iba melihat pemimpinnya diperlakukan demikian. Ada yang berteriak histeris agar si Badui membatalkan pembalasannya. Si Badui berjalan perlahan tapi pasti dengan cambuk ditangan menuju sang walikota. Suasana semakin tegang. Pertempuran terjadi di dalam hati si Badui, "Kenapa aku harus membalas dendam, bukankah detik ini kehormatanku sudah pulih? Orang sudah tahu akan kebenaranku, bahkan Amirul Mukminin juga sudah memahami semua ini. Apakah aku harus mencambuk clan menggunduli Abu Musa, yang baik pada semua orang, yang saleh dan sahabat Rasulullah saw.. Bukankahjuga dia menghukumku atas pertimbangan kemaslahatan penduduk kota? Bukan sekadar untuk mengikuti hawa nafsu¬nya. Rambutku juga sebentar lagi akan tumbuh, orang tetap akan hormat kepadaku karena keberanianku menghadap Amirul."
Dipandanginya Abu Musa yang tertunduk lesu. "Detik ini tak ada lagi yang akan menghalangiku untuk membalas sakit hati. Namun, kalau aku memaafkannya, bukankah lebih baik bagiku dan Allah swt. ridha kepadaku?" batinnya kembali. Berbagai perasaan kembali berkecamuk di dalam hati si Badui. Suasana hening. Si Badui menundukkan kepala, berpikir. Akhirnya, dengan mantap si Badui melangkah mendekati Abu Musa dan dihempaskannya cambuk dari tangannya. Dengan haru dia berkata, "Ya Allah, aku maafkan... aku maafkan. " Hatinya lega dan wajahnya pun menjadi cerah.
Maka suasana pun menjadi ramai, masyarakat bertakbir gembira. Ada yang berloncatan dan saling berpelukan, ada yang menangis gembira, dan banyak yang memuji kelembutan hati si Badui. Abu Musa segera memeluk erat si Badui, mengucapkan terima kasih. Air matanya mengalir basah. Air mata ketulusan hati dan rasa terima kasih kepada si Badui yang pernah dianiayanya. Air mata penyesalan dan tobat kepada Allah swt..
Berbuatlah adil meskipun kepada mereka yang lemah. Ruh keadilan itu akan terasa bila orang merasakan keadilan itu dari kita.
[Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga, Dr. Mulyanto]
AlfaOmega
September 29, 2008, 11:24
Adakah Amalmu Bermakna? (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/adakah-amalmu-bermakna.htm)
oleh Mashadi
Kamis, 25 Sep 2008 15:19
Engkau telah menggapai kemuliaan dunia yang hakiki. Tak ada orang lain. Tak ada orang yang dapat mencapai derajat tertinggi itu. Engkau telah mencapai derajat yang paling puncak yang tidak dapat didaki, kecuali hanya oleh orang-orang yang ikhlas. Orang-orang banyak beribadah, bercita-cita luhur, dan meninggalkan dunia beserta kesenangannya.
Ia adalah orang yang paling dekat dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Ia adalah orang yang paling wara’. Ia adalah seorang pria yang hatinya sangat lembut.Suka menumpahkan air mata. Apabila shalat ia lupa akan segala hal. Tak ingat lagi kehidupan dunia. Ia sangat mencintai Rabbnya. Ibadahnya tak pernah henti. Ada seorang pria ‘Aslam, yang memberikan kesaksian, ketika melihat orang itu sedang shalat, yang ia tak pernah melihat dilakukan oleh orang lain. “Apabila ia sujud, ia laksana kain yang dilempar dan dihinggapi oleh burung-burung”, ujar ‘Aslam.
Saat menjelang malam Ia jarang tidur. Ia tak memejamkan matanya. Saat orang lain sedang asyik dibuai mimpi-mimpi. Keluarganya pun kasihan kepadanya.Sampai seorang putrinya menegurnya. “Wahai ayah!. Mengapa selalu terjaga? Padahal orang-orang sedang asyik tidur?”. Orang itu menjawab pertanyaan putrinya. “Sesungguhnya neraka janaham terbayang di mataku!, ucap ayahnya. Suatu ketika. Orang itu berkata kepada putrinya yan ia cintai itu, dan berkata : “Aku sangat takut. Takut aku tergelincir ke dalam neraka”, kata ayahnya.
Para sahabat lainnya, ingin mengetahui, bagaimana lamanya shalat tahajud di malam hari. Salah seorang sahabat, lalu menuturkan : “Mereka menaruh tanda di rambutnya, karena rambut orang itu tebal, untuk mengetahui orang itu tidak atau tidak? Ternyata tanda yang mereka taruh itu tidak berubah. Dari peristiwa itu, diketahui ia tidak membaringkan tubuhnya di malam hari”.
Bila pagi tiba. Ia berkata :”Selamat datang, wahai para malaikat Allah. Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmanaanir-Rahim, subhanallah, wal-hamdulillah, laa Ilahaa illallaah wallaahu Akbar!”. Ia sangat meresapi makna all-Qur’an, bila membacanya. Mengetahui apa yang diperintah dan larangannya. Mengenal betul janji dan ancamanNya. Suatu kali, ia melakukan shalat tahajud, dan membaca ayat : “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaiu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (al-Qur’an : 45:21) Ayat itu merasuk ke dalam pikirannya. Sampai tidak dapat melanjutkannya. Ayat itu diulang-ulang sampai pagi hari. Ia merasakan lezatnya, ketika membaca al-Qur’anul Karim.
Siapa orang itu? Ia tak lain adalah Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz rahimahullah. Ia adalah murid Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi pewaris ilmunya, peneladan akhlaknya, imam dalam ibadah, zuhud, dan wara’.
Rabi’ tak suka memperlihatkan amal ibadahnya. Ia bahkan berupaya menyembunyikan ibadahnya. Ketika ada orang menemuinya sedang ia sedang memegang mush’af al-Qur’an, ia menutupinya dengan kain agar tak terlihat. Rabi’ tidak melakukan shalat sunnah di masjid jami’. Ia hanya satu kali orang-orang melihatnya mengerjakan shalat sunnah. Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah telah mencapai tingakt rasa takut kepada Allah Azza Wa Jalla yang sangat tinggi. Hatinya selalu dipenuhi oleh khasyatillah (takut kepada Allah). Orang yang keadaan seperti itu, pasti akan ringan bagi dari segala musibah dan ujian dunia.
Suatu kali. Rabi’ pergi bersama dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berdua melihat tukang besi. Mereka berdua melihat besi yang sedang menyala dan ditempa. Lalu, Ibnu Mas’ud melanjutkan ke tempat lain. Sampai ditepian sungai Eufrat. Ditepian sungai yang membelah kota Bagdad itu, mereka bertemu dengan seorang pandai besi yang mengerjakan pembuatan perkakas. Saat melihat api yang menyala-nyala itu, Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat al-Qur’an : “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan, apabila mereka dilemparkan ketempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan”. (al-Furqan :25:12-13). Saat itu, tiba-tiba Rabi’ pingsan, dan digotong ke rumahnya. Abdullah bin Mas’ud menunggui sampai dhuhur. Belum juga siuman. Sampai ashar belum juga siuman. Dilanjutkan sampai magrib. Belum juga siuman. Baru sesudah itu, Rabi’ siuman, kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkannya. Itulah kondisi orang-orang yang bertaqwa.
Seorang dari Bani Taymillah bercerita, dan pernah mendampingi Rabi’ selama dua tahun. Selama dua tahun itu, orang menceritakan, bahwa Rabi’, hanya berbicara satu kali, yang berkaitan dengan dunia, dan dalam bentuk pertanyaan. “Apakah ibumu masih hidup? Berapa masjid dilingkunganmu?”. Orang yang hatinya sibuk dengan zikrullah, tak memiliki kesempatan menyebut-nyebut dunia.
Pernah Rabi’ terkena penyakit lumpuh dalam waktu yang lama. Suatu ketika ia ingin makan daging ayam. Namun, ia menahan keinginannya itu selama empat puluh hari. Baru, ia berkata kepada istrinya : “Aku ingin makan daging ayam sejak empat puluh hari yang lalu, agar keinginanku dapat diredam”, ucapnya. “Subhanllah.Mengapa itu tidak engkau lakukan?”, sahut istrinya. Maka, istrinya menyuruh seseorang pergi ke pasar membeli ayam. Lalu, disembelihnya ayam itu. Usai menyembelih ayamnya, lalu memasak ayam itu, dan dicampur dengan roti, kemudian istrinya menghidangkan masakan itu kepada suaminya.
Betapa. Saat Rabi’ akan makan hidangan ayam beserta roti, di depan pintu datanglah seorang pengemis dan meminta- “Berikanlah ini kepadanya. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi”, kata Rabi’ kepada istrinya. “Subhanallah”, sahut istrinya. “Sudahlah. Berikan kepada dia”, kata Rabi’. Isterinya lalu berkata : “Kalau begitu aku akan melakukan hal-hal yang lebih baik”, tukas istrinya. “Apa?”, tanya Rabi’ kepada istrinya. “Aku akan memberikan uang seharga makanan ini”, jawab isterinya. Setelah isterinya menyerahkan uang itu kepada pengemis itu, lalu Rabi’ berkata :”Berikanlah uang berikut makanan itu seluruhnya”.
Suatu hari datang seoran laki-laki ke rumahnya meminta nasehat. Rabi’ rahimahullah mengambil kertas lalu menulsikan kata-kata : “Katakanlah, marilah kebucakan apa yang diharamkan Tuhanmu,yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu (ibu-bapak), dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberi rezeki kepada kamu dan mereka,dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan sebab yang benar”.
Rabi’ bin Khutsaim telah memberikan teladan. Memberikan pelajaran. Memberikan arahan. Semua menjadi jalan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza Wa Jalla. Tak ingin mendapatkan murkaNya, kelak di akherat nanti. Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
September 30, 2008, 13:06
Masihkan Engkau Berharap (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/masihkan-engkau-berharap.htm)
oleh Mashadi
Ia tertunduk menangis. Air matanya tiada henti. Bathinnya terus dipenuhi kegelisahan. Gelisah atas nasibnya. Di mana harapan tercurah kepada Rabbnya. Ungkapannya tak pernah berhenti. Ia selalu menanyakan hakekat dirinya. Masih adakah maghfirah? Masih adakah kasih sayang? Masih adakah tempat yang layak bagi dirinya di akhirat nanti? Masih adakah kemuliaan yang akan menyertainya nanti?
Uwais al-Qarni adalah tokoh para ahli ibadah. Ia adalah pemimpin para ahli zuhud. Hidupnya hanya disibukkan dengan ibadah. Perhatiannya hanya tercurah kepada Khaliqnya. Uwais beruntung dapat bertemu dengan al-Faruq, Umar Ibn Khaththab. Bahkan, suatu ketika Umar meminta agar didoakan oleh Uwais. “Apakah orang sepertiku berhak memohonkan ampunan orang semisal dirimu, wahai Amirul Mu’minin?”, ucap Uwais. “Sekarang, mohonkanlah ampunan untukku”, sambut Umar.
Di tengah terik padang pasir yang terasa, Uwais pergi ke Kufah. “Engkau hendak ke mana?”, tanya Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. “Aku hendak ke Kufah”, jawab Uwais. “Tidakkah aku terlebih dahulu menulis surat kepada gubernur Kufah tentang dirimu”, sela Umar. “Aku lebih senang berada di tengah-tengah rakyat jelata”, tegas Uwais.
Lelaki shaleh itu menempuh perjalanan panjang ke Kufah. Di tengah panasnya gurun pasir. Tanpa ditemani siapapun. Kecuali seekor unta. Perjalanan panjang. Menambah kuat hatinya. Menepiskan semua kecintaan kepada dunia. Di tengah-tengah padang pasir, yang sangat luas, dan terpaan angin yang keras, menyebabkan ia menjadi orang sangat bertawakal. Sampailah di Kufah. Sebuah kota yang sejuk dengan lebatnya tanaman kurma. Di sepanjang mata memandang, di sela-selanya hanya melihat pemandangan pohon kurma, yang lebat. Sungguh indah.
Hari demi hari yang indah. Ia menjalani kehidupan bersama-sama dengan rakyat di sekitarnya. Ia mengajar dan mendidik orang di sekitar Kufah. Nasihat-nasihatnya mendapatkan perhatian. Ucapannya lembut, penuh kejujuran dan keikhlasan. Di tengah majelisnya itu ada seorang yang bernama Asir bin Jabir. Ia sangat tersentuh dengan ucapan Uwais, sehingga ia sangat mencintainya. Dan, Asir selalu hadhir setiap majelis yang dihadiri oleh Uwais rahimahullah.
Suatu ketika Uwais tak nampak. Orang-orang yang ada di majelis itu menjadi bertanya-tanya. Asir ikut gelisah. Di mana Uwais hari itu tak hadhir. Lalu, ia menanyakan kepada orang-orang yang ada di majelis itu. “Tahukah anda laki-laki yang suka ceramah?, tanya Asir. Kemudian, yang ditanya menjawab: “Ya. Aku tahu. Dia adalah Uwais al-Qarni”, jawab orang itu. “Engkau tahu rumahnya?”, tanya Asir. “Ya”, jawab orang itu. “Kalau begitu aku antarkan ke rumah Uwais”, tambah Asir kepada mereka. Maka, Asir disertai orang-orang yang ada di majelis itu, bergegas menuju rumah Uwais.
Di saat mereka datang. Uwais menyambut mereka. Lelaki shaleh itu keluar dari rumahnya dan menyambut para tamu. “Wahai saudaraku! Mengapa engkau tidak datang ke majelis kita?”, tanya Asir dan orang-orang itu. “Aku tidak ada baju”, jawab Uwais. “Kalau begitu, ambillah pakaian ini!”, ujar Asir. “Jangan! Nanti mereka mencemoohku”, jawab Uwais. Memang, orang yang tidak tahu, suka menghina dan mencelanya. Namun, Uwais keluar dengan pakaian itu.
Orang-orang yang melihat Uwais memakai pakaian itu, berkata: “Siapakah orang yang bisa kamu tipu itu!”. Mendengar ucapan itu, Uwais mendatangi Asir seraya berkata: “Benar kan kataku!”, ujar Uwais. Menyaksikan peristiwa itu, Asir marah kepada orang-orang itu. Di tenggah kemarahan itu Asir berkata: “Apakah yang kalian inginkan dari pria ini. Kalian telah menghinanya! Seorang laki-laki yang kadang punya pakaian, dan kadang tidak punya pakaian”, cetus Asir. Begitulah orang yang dihina itu, tak lain, adalah Uwais, yang ahli zuhud, dan pemimpin para ahli ibadah, bahkan Umar radhillahu ‘anhu meminta didoakannya.
Kala sendirian, Uwais al-Qarni rahimahullah terus beribadah kepada Allah Ta’ala. Sehingga, memperlihatkan suatu keajaiban. Ibadahnya sangat kuat dan khusyu’, tunduk dan ikhlas. Manakala sore datang menjelang malam, Uwais bin Amir al–Qarni berkata: “Ini adalah malam ruku’ku”. Ia pun lalu ruku’ sampai subuh. Pada malam yang lain, ia berkata: “Ini adalah malam untuk sujudku”. Ia pun lalu sujud sampai subuh. Bila petang datang Uwais rahimahullah menyedekahkan makanan, pakaian, dan berkata: “Ya Allah. Barangsiapa yang mati karena kelaparan, janganlah Engkau menyiksaku karenanya. Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak memiliki pakaian, janganlah Engkau menghukum aku karenanya”, ungkap Uwais.
Kemurahan Uwais bukanlah karena ia kaya atau banyak memiliki harta, melainkan kemurahan orang yang miskin. Sungguh, suatu kemurahan yang indah. Kemuruhan yang tinggi, dari seorang ahli zuhud, yaitu Uwais al-Qarni. Dan, kezuhudan itu bertingkat-tingkat. Al-Qamah bin Martsad, berkata: “Kezuhudan itu berakhir sampai delapan (orang). Di antaranya adalah Uwais al-Qarni”, ujar Al-Qamah.
Uwais telah menthalak dunia dengan thalak yang tidak dapat ruju kembali.Uwais rahimahullah adalah seorang imam dalam zuhud, imam dalam wara’, imam dalam ibadah, imam dalam hikmah, dan imam dalam delapan ketaqwaan. Ia mencapai derajad yang luhur dengan ilmu dan amalnya.
Kezuhudannya dan kewara’an sang imam ini sampai membuatnya tidak pernah segan mengambil makanan dari tempat sampah, lalu ia membersihkannya, sebagian dimakan atau disedekahkannya. Apabila, ia mendatangi tempat sampah, lalu anjing menggonggong, ia berkata: “Makanlah yang ada didekatmu dan aku akan menyantap yang ada didepanku! Jika aku berhasil melintasi jembatan ‘shirat’ (di hari kiamat), berarti aku lebih baik darimu. Sebaliknya, manakala aku gagal melaluinya, engkau lebih baik dari diriku”, gumam Uwais.
Uwais sebagai hamba tetap gelisah. Menangis. Tertunduk dihadapan Rabbnya. Takut tidak mendapat tempat yang layak. Takut tidak mendapat manghfirah-Nya. Takut tidak dapat menemui Rabbnya dengan amal shaleh dan dihinakan-Nya. Padahal, Uwais seorang ahli ibadah, imam para orang-orang yang zuhud dan wara’.
Bagaimana orang-orang yang hidupnya penuh dengan gelimang dosa. Tapi, tak pernah merasa berdosa. Bahkan terus menumpuk-numpuk perbuatan dosa, yang tak terhitung. Bagaimana mereka ketika dihadapan Rabbnya kelak?
Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
October 02, 2008, 10:48
Ibnu Qayyim al-Jauziyah (http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=45)
"Lihatlah dirimu, lihatlah apa yang berada di sekitarmu. Niscaya engkau akan mengenal Allah."
Gnothi Seathon! kenalilah dirimu!, itulah motto Socrates, seorang filsuf besar Yunani. Ia telah mengundang perhatian manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri. Dengan kata lain, segala yang dipermasalahkan manusia dimulai dari manusia itu sendiri sebagai masalah. Dari masa ke masa, masalah yang dihadapi manusia tak jauh berbeda. Gus Dur menghadapi masalah yang sama dengan yang dihadapi Soeharto, Soekarno, Hitler, bahkan Aristoteles sekalipun.
Al Qur’an telah menuliskan motto tersebut ratusan tahun lalu, dan prinsip itu melandasi Al Imam Al Jalil Al Hafizh Muhammmad bin Abu Bakar Bin Sa’ad bin Jarir Az-Zar’i, yang lebih populer dengan sebutan Ibn Qoyyim Al Jauziyah, untuk menggali kebenaran Al Qur’an dan mengenal keagungan Rabb-nya. Beliau dilahirkan tanggal 7 Bulan Shafar tahun ke-691 dari hijrahnya Rasul atau bertepatan dengan 1292 Masehi.
Ibn Qoyyim adalah seorang yang haus ilmu. Ia selalu mengkaji berbagai disiplin ilmu. Hari-harinya dihabiskan untuk "melahap" isi puluhan kitab, sehingga sulit dihitung berapa jumlah kitab yang terkumpul di perpustakaan pribadi yang dimilikinya. Karena sifatnya yang kutu buku dan wawasannya yang sangat luas, beliau kerapkali mendapat julukan "Ensiklopedia Hidup".
Guru beliau di antaranya Ibn Maktum, Ani Nashar , Ibn Taimiyah, dan Isa Al Muth’im. Dari sekian banyak guru tersebut, Ibn Taimiyahlah yang paling berpengaruh terhadap jalan pikirannya, sehingga beliau sangat gigih dalam memerangi penyimpangan aqidah Islam. Berkat usahanya, ajaran-ajaran Ibn Taimiyah tersebar luas di penjuru bumi. Tetapi, menyerap ajaran guru bukan berarti harus selalu mengekor dan hilang daya kritis. Beliau sering berbeda pendapat dengan gurunya, terutama bila beliau melihat pendapatnya memiliki dalil yang lebih jelas dan benar.
Aqidah beliau jernih, laksana kain putih yang tak tercampur kotoran sedikitpun. Hal tersebut disebabkan oleh prinsip berpikir dengan sistem fitrah, perasaan sehat, serta pandangan yang benar dan lurus (istiqamah). Sesungguhnya aqidah yang jernih inilah yang menjadikan penyelamat baginya dari bencana yang menimpa para pakar ilmu kalam. Tak sedikit para pakar yang cuci tangan terhadap apa yang telah mereka tulis akibat tidak menerapkan prinsip aqidah yang terhindar dari segala noda dan dosa.
Dia memperlihatkan diri sebagai figur yang memiliki acuan untuk kembali kepada madzhab salaf, bahkan Fazlurrahman menyebutnya sebagai perintis neo sufisme. Sebuah aliran tasawuf yang memiliki ciri utama berupa penekanan terhadap motif moral dan penerapan metode dzikir dan muraqabah atau konsentrasi kerohanian dalam upaya mendekati Tuhan. Gejala ini berupaya menghidupkan kembali doktrin salafi dan menanamkan kembali sikap positif terhadap dunia.
Di antara ciri-ciri aliran salafi yang dikembangkan oleh Ibn Qoyyim, adalah sebagai berikut,
1. Memberi ruang dan peluang ijtihad di dalam berbagai kajian keagamaan.
2. Tidak terikat secara mutlak dengan pendapat ulama-ulama terdahulu.
3. Memerangi orang-orang yang menyimpang dari aqidah kaum salaf.
4. Kembali kepada Al Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama ajaran Islam.
Ibn Qoyyim selalu teguh berpedoman pada kitab suci Al Qur’an dan As-Sunah. Beliau memiliki target mengembalikan syari’at Islam kepada sumber yang jernih, yakni sebagai sumber agama yang lurus, bersih, tidak keruh oleh pendapat ahli bid’ah, dan tidak tercampur oleh pendapat orang-orang yang merusak agama.
Memang, mereka (tokoh salafi) tidak mewarisi umatnya dengan segunung emas ataupun segudang dirham. Namun, mereka meninggalkan hal yang lebih penting dari itu semua, ilmu. Beliau selalu menghindarkan taqlid buta, bahkan menyalahkannya. Prinsipnya adalah berijtihad dan melemparkan taqlid jauh-jauh dari pemikiran umat Islam. Beliau jugalah yang memelopori kemerdekaan berpikir pada saat masyarakat terbelenggu dalam pemikiran dogmatis.
Jalan yang ditempuh Ibn Qoyyim tidaklah mulus. Karena masalah sepele, melarang seseorang pergi berziarah dengan kendaraan, beliau bersama gurunya, Ibn Taimiyah ditangkap, disiksa, dipermalukan dengan dikelilingkan ke seluruh kampung (di atas onta) sembari dicambuki, dan kemudian dijebloskan ke dalam sel yang gelap. Beliau keluar dari penjara setelah gurunya meninggal dunia.
Cobaan tersebut tidak membuat goyah pendiriannya. Tak heran bila ia banyak mendapat pujian dari para ulama. Ibn Hajjar berkata, "Beliau (Ibn Qoyyim) adalah orang yang memiliki keberanian tinggi, ilmunya luas, dan menguasai madzhab ulama salaf."
Imam Asy-Syaukani memberikan komentar, "Ibn Qoyyim adalah figur yang memiliki landasan dalil yang shahih, selalu menegakkan kebenaran, dan tidak mau bertoleransi dengan kebatilan, sikap inilah yang jarang dijumpai."
Ibn Qoyyim Menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah shalat isya, pada malam kamis, 13 rajab tahun 751 Hijriah atau bertepatan dengan 1350 M dalam usia 60 tahun. Umat telah kehilangan salah seorang tokoh salaf terbaik, tetapi pemikiran dan semangat juangnya akan tetap eksis di mata kaum muslimin.
(Sumber : Majalah Percikan Iman No. 6 Tahun II Desember 2000)
militiaman
October 15, 2008, 07:50
Sebuah Kisah Bocah Misterius
Posted on September 23, 2008 - Filed Under Hikmah, Critone Simbah, Mutiara
Entahlah cerita ini benar atau tidak, saya baru saja mendapatkannya di sebuah milis, semoga bisa diambil makna positifnya terutama yang sedang berpuasa.
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa!
Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar Luqman. “Bismillah.. . .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..” Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya…?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?” Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…” ************ ********* * Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
InsyaAllah Memberi Hikmah bagi yg membacanya
sumber: bulbo fs
militiaman
October 16, 2008, 02:46
Kisah Jenderal Adolf Roberto
Posted on October 15, 2008 - Filed Under Hikmah, Rahasia Ilahi, Critone Simbah
Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara‘ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel‘ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
“Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…! ” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.
Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.
Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana’abduka.. . Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara‘ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.
“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.
Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini.
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami. ”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin.
Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah.
Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk?
Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”
Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya.
Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh,
meluncur sebuah ‘buku kecil‘. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.
“Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. ”Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!“ucap sang ustadz
dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.
Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara‘ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh.
Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu… Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu.
Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.
Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
next >
militiaman
October 16, 2008, 02:47
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.
Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…”
Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya.
Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya “Abi…Abi.. .Abi…“. Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.
“Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih.
“Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka.
“Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
Tiba-tiba “plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu.
Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz.
Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam‘ ia berteriak histeris, ”Abi…Abi.. .Abi…“ . Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.
Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam‘ pada bagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…”
Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya. Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya.
Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.
“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas.
Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini.
Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Alloh. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir.
Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdulloh Fattah Ismail Al-Andalusy.
Belajarlah engkau di negeri itu,“ Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu alla Illaaha ilAlloh, wa asyahadu anna Muhammad ar-Rasullulloh. ..“.
Beliau pergi dengan menemui Rabbi-nya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang ‘alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah… ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30)
Sumber: Majalah Sabili tahun 1988
AlfaOmega
October 16, 2008, 19:58
Sebuah Kisah Bocah Misterius
Sebuah Kisah Bocah Misterius
Posted on September 23, 2008 - Filed Under Hikmah, Critone Simbah, Mutiara
Entahlah cerita ini benar atau tidak, saya baru saja mendapatkannya di
sebuah milis, semoga bisa diambil makna positifnya terutama yang
sedang berpuasa.
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini
ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya,
menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal
ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak
menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil
tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan
air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung
melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah
hari pada bulan puasa!
Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan
roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan
itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari
semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari
biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai
bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu
menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia
mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang
melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus
keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan
memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang
akan melarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang
kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul
secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan
roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu
datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.
Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin
meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu
tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar Luqman. "Bismillah.. . ." ucap Luqman
dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia
berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek
keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah
beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana
sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi
mendadak menuruti tarikan tangan Luqman.
Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan
membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda
tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya
meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini
kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.
Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. "Maaf ya, itu karena
kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi
kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut
menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu
itu.." Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya,
mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman
selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua!
Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya…?!
Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah
garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan,
dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang
sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit
menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan
hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi
kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu,
ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman
untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara
lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa
berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada
makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.
Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan
lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa
mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan `Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan
makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas
kalian menyebutnya denga istilah menyambut Ramadhan dan `Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis,
bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami,
dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini.
Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah
kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling
Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya
diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan
bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat..
Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi.
Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan
pangan `tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak…"
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi
kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa
dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah
benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini
bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti
itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya
terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang
bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian
jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut
yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru
nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi
semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu
penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar
dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia
malah menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah.
Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.. Meski peristiwa tadi
irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk
akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah
misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa
kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka
yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak
memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka
yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah,
jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita
terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang
membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah
yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati
mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang
dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran
bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada
sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang
menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang
terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan
tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan
kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya
ketika ia salah.
InsyaAllah Memberi Hikmah bagi yg membacanya
sumber: bulbo fs
mantab.. mantab...
tirms
militiaman
October 17, 2008, 03:50
Akhirnya Dia Mati seperti Keledai
Ditulis pada Juni 9, 2008 oleh Muhammad Yasrif
Kisah ini terjadi di Universitas ‘Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, “Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.” Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, “Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?.”
Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, “Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu.” Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil ‘aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke ‘Wastapel’ di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.
Mengenai hal ini, Dr.’Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, “Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.”
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?!!!.
(Sumber: Majalah “al-Majallah”, volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya “Nihâyah azh-Zhâlimîn”, Seri ke-9, h.73-74)
http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/06/09/akhirnya-dia-mati-seperti-keledai/
militiaman
October 17, 2008, 03:51
Allah SWT Itu Tidak Pernah Tidak Baik pada Hamba-Nya
Ditulis pada Juni 4, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Ada dua orang bepergian bersama. Mereka membawa seekor keledai untuk membawa barang-barangnya, obor untuk menerangi jalan di malam hari, dan seekor ayam yang merupakan kawan si keledai.
Satu dari pria itu sangat beriman, sedang yang satunya seorang atheis. Sepanjang jalan mereka berbicara mengenai Tuhan. “Allah itu baik”, kata si pria beriman itu. “Oke kita lihat apakah selama perjalanan ini kau masih dapat berpikir seperti itu”, jawab si pria atheis.
Ketika malam tiba, mereka sampai di sebuah desa kecil dan mencari suatu tempat untuk tidur. Mereka mencari ke semua tempat, ternyata tidak seorangpun yang mengijinkan mereka untuk bermalam di rumahnya. Jadi, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya keluar dari desa, dan memutuskan untuk tidur di luar desa.
“Aku berpikir kau akan berkata bahwa Tuhan itu baik”, kata si pria atheis sinis.
“Allah membuat hal tersebut, karena tempat ini adalah tempat terbaik untuk kita tidur”, si pria beriman menjelaskan.
Mereka membangun tenda di sebuah pohon besar, di samping jalan masuk menuju desa dan mengikat keledai mereka dengan jarak sekitar 5 meter dari tenda mereka. Ketika mereka mulai menyalakan obor, mereka mendengar sebuah suara. Seekor singa menyerang keledai mereka, mencabik dan memakannya, lalu mereka memanjat pohon untuk berlindung.
“Kau masih berpikir Tuhan itu baik ?”, tanya si pria atheis dengan marah.
“Jika singa itu tidak membunuh keledai, kita yang akan dimakan oleh singa itu. Allah Ta’ala itu baik”, jawab pria beriman.
Kemudian mereka mendengar suara ayam mereka. Dari atas pohon, mereka dapat melihat seekor kucing besar menyerang ayam mereka dan mencabiknya. Sebelum pria atheis itu berkata, pria beriman itu berkata, “ayam itu menyelematkan kita sekali lagi, Tuhan itu baik”.
Beberapa menit kemudian, angin besar membuat obor mereka mati, obor satu-satunya yang dapat menghangatkan mereka. Sekali lagi, pria atheis itu mengejek sahabatnya, “rupanya kebaikan Tuhan bekerja untuk kita sepanjang malam”, pria beriman tidak berkata apa-apa.
Pagi berikutnya, mereka sampai ke desa untuk membeli makanan. Sesampainya di sana, segera mereka mengetahui bahwa pada kemarin malam segerombolan perampok menyerang desa tersebut dan merampok semua yang ada di desa itu.
Mengetahui hal tersebut, pria beriman berkata, “sekarang sudah jelas. Allah Ta’ala itu sungguh baik. Jika kita bermalam di sini, kita akan dirampok seperti orang desa lainnya. Jika angin tidak memadamkan obor kita, gerombolan perampok yang berjalan di dekat kita akan melihat kita dan merampok kita juga. Sangat jelas bukan, bahwa Allah Ta’ala itu baik”.
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/06/04/allah-taala-itu-tidak-pernah-tidak-baik-pada-hamba-nya/
militiaman
October 17, 2008, 03:52
BAHKAN KEPADA PEMABUK SEKALIPUN, ALLAH TAK MENGECUALIKAN KASIH-NYA
Ditulis pada Nopember 2, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Peristiwa ini dialami oleh Dzunun Al Misri. Suatu hari pakaian Dzunun Al Misri kotor dan ingin segera mencucinya. Maka pergilah ia kesungai Nil untuk maksudnya itu.
Tengah asyik-asyiknya ia mengucek ( mencucui ) pakaian, ia melihat ada seekor kalajengking besar dibatu-batu, dekat dengan tempat diamana ia duduk. Kalajengking ini telah siap menyengat daging tubuhnya, membuat Dzunun makin panik ketakutan.
Ditengah rasa cemasnya itu, berdoa`lah Dzunun kepada Allah. Ia memohon kiranya Allah S.W.T mau melindungi dirinya dari sengatan hewan itu.Doa`nya didengar Allah S.W.T. Tiba-tiba sang kalajengking tersebut berbalik dan menjauhi dirinya.
Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai. Dzunun tertarik perilaku hewan ini. Maka diikutilah kemana perginya kalajengking oleh Dzunun.
Kalajengking bergerak mendekati pepohonan rindang. Waktu Dzunun berada dekat tempat itu, ia terkejut karena disana, dibawah pohon tersebut, sedang terbaring seorang pemuda.
Dari posisi dan cara berbaringnya pemuda itu, tidak sulit untuk ditebak, ia adalah pemuda yang sedang mabuk berat. Sepertinya saja ia memerlukan untuk berbaring seperti itu saking beratnya mabuk yang ia alami. Kalajengking telah berada sangat dekat dengan pemuda itu. Melihat itu Dzunun jadi merasa amat khawatir, jangan-jangan sikalajengking akan menyengat sipemuda. Kalau itu terjadi, maka ia akan mati karena racun hewan ini.
Ditengah kecemasannya, Dzunun lebih terperanjat lagi. Betapa tidak, dekat sipemuda mabuk itu malah terdapat seekor ular yang tidak kalah besar dan berbahayanya dengan sikalajengking. Ular itu juga tengah siap untuk mematuk sipemuda.
Bagaimana kejadian selanjutnya ? Matikah pemuda itu dipatuk oleh ular dan disengat oleh kalajengking itu ? Peristiwa luar biasa terjadi. Ternyata sikalajengking dengan merayap perlahan-lahan mendekati kepala ular. Setelah dekat, melompatlah ia mendapati kepala ular dan seketika itu pula ular tersebut disengatnya, sehingga terkapar dan sesaat kemudian mati karena racun ganas sikalajengking.
Selesai menyengat ular, kalajengking berjalan menjauh, meninggalkan bangkai ular beserta tubuh sang pemuda yang sedang terbaring karena mabuk itu. Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai kembali dan Dzunun terus mengikutinya juga dari belakang. Setelah kalajengking jauh, Dzunun kembali ketempat sipemuda mabuk terbaring tadi. Kemudian bersyairlah ia ;
Wahai orang yang sedang kelelapan.
Yang Maha Agung selalu menjagakan.
Dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan, mengapa sampai sipemilik mata ketiduran ?
Padahal, mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan.
Syair Dzunun ternyata membuat sipemuda mabuk terjaga.Setelah sipemuda sadar, maka Dzunun menceritakan kepadanya peristiwa yang ia saksikan tadi.
Pemuda itu mendengarkan penjelasan Dzunun dengan cermat. Ia merenungkan kejadian itu dalam-dalam. Kalbunya tersadar dan bertaubatlah ia kepada Allah S.W.T. Sipemuda menyadari, bahwa betapa Pengasihnya Allah kepada setiap hamba-Nya. Bahkan itu tak terkecuali kepada pemabuk seperti dirinya, Allah masih memberikan perlindungan dan memberi kesempatan baginya untuk bertaubat.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/11/02/bahkan-kepada-pemabuk-sekalipun-allah-tak-mengecualikan-kasih-nya/
militiaman
October 17, 2008, 03:53
Beginilah Allah Menjaganya
Ditulis pada Juli 11, 2007 oleh Muhammad Yasrif
milis DT - Dikedua masjid yang berada ditanah suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, akan kita temukan halaqah-halaqah (kelompok) belajar, kelompok ini dihadiri oleh para dâris (pelajar) yang dibimbing oleh seorang Syeikh. Mereka mempelajari berbagai hal, ada yang membahas sebuah kitab, menuliskan tanda baca pada tulisan “Arab gundul” atau menghafalkan al-Qur’an.
Halaqah-halaqah ini terdiri dari pemuda-pemuda berseragam khas Arab, baju gamis putih dengan kafiyeh merah. Kalau ditilik dari wajahnya mereka datang dari berbagai negara, seperti Negara-negara Arab, Afrika, India/Pakistan, bahkan ada yang berwajah bule, kemungkinan mereka memperoleh bea siswa dari Kerajaan Arab Saudi.
Salah satu halaqah yang diadakan Masjid Nabawi di Madinah adalah hafidz al-Qur’an, halaqah ini terdiri 10-15 orang yang dibimbing oleh seorang Syeikh, ada beberapa halaqah dalam masjid dan mungkin tergantung tingkat senioritasnya. Para dâris ini menghafal al-Qur’an dengan duduk bersila, sambil menggerakkan badannya kedepan dan kebelakang secara terus menerus. Cara ritme seperti ini, kelihatannya dapat membantu mempercepat dâris dalam menghafal al-Qur’an.
Bagi dâris yang telah mampu menghafal, akan maju kedepan Syeikh untuk membacakan hafalannya. Mereka membacakan hafalannya 4-5 orang berbarengan sekaligus didepan Syeikh, dengan surah dan ayat yang berbeda.
Ketika salah seorang daaris salah bacaannya, Syeikh segera menggeleng dan dâris berusaha memperbaiki bacaannya. Jika daaris masih belum mampu menemukan lanjutan ayat dari bacaannya, Syeikh akan membantu mengejanya. Jika sang daaris masih tersendat, maka Syeikh memberikan isyarat untuk mundur dan dâris menghafal kembali.
Subhanallah, Syeikh bisa mendengarkan bacaan al-Qur’an 4-5 orang dâris sekaligus dengan surah dan ayat yang berbeda, Syeikh tahu saat salah satu dâris salah bacaannya, dan Syeikh juga tahu persis apa kelanjutan ayat tersebut.
Sungguh Allah SWT menjaga keaslian al-Qur’an dengan orang-orang seperti ini:Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya. (Qs. al-Hijr [15]: 9).
Kalau kita telaah lebih jauh sejarah dunia, betapa banyak pemimpin yang tampil kemudian tenggelam bersama ajarannya. Betapa banyak nabi-nabi yang diutus, tetapi sedikit sekali yang mengikutinya atau malah dibunuh oleh umatnya. Betapa banyak kitab-kitab suci, kemudian diubah seenaknya oleh manusia yang mengaku atas persetujuan tuhan mereka (lihat 1, hal 54).
Nabi Muhammad Saw ditengah kerasnya pertentangan kafir Quraisy, sedikitnya pengikut yang diperoleh selama periode 13 tahun di Mekah. Tetapi akhirnya mampu menguasai Persi dan Rumawi. Ditengah maju-mundurnya peradaban Islam, pemusnahan kaum muslimin, pembakaran al-Qur’an dan penghancuran masjid oleh bangsa Mongol di Baghdad, pasukan salibis di Andalusia (Spanyol), Bosnia, Mindanao (Filipina), Afghanistan dan Iraq, pasukan komunis di Chechnya, Uzbekistan dan Afghanistan, kaum Yahudi laknatullah di Palestina, kaum musyrik Budha di Thailand, dan diberbagai tempat didunia. Semua itu tidak mampu memusnahkan kaum muslimin dan ajarannya. Saat ini Islam dianut lebih dari 1 milyar orang didunia dan al-Qur’an masih terjaga keasliannya hingga kini.
Tangan Siapakah yang ikut campur, sehingga terjaganya kelangsungan ajaran mulia yang dibawa oleh Rasulullah Saw? Tangan Siapakah yang ikut campur, sehingga terjaganya keaslian al-Qur’an? Siapa lagi kalau Yang mengutus Muhammad Saw dan Yang mewahyukan al-Qur’an itu sendiri, Allah SWT.
Dialah Tuhan Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas seluruh agama yang ada, meskipun orang-orang musyrik membencinya. (Qs. ash-Shaff [61]: 9).
Janji untuk menjaga al-Qur’an ini dibuat oleh Penguasa langit dan bumi, mustahil tidak akan ditepati-Nya. Salah satunya dengan menghadirkan orang-orang seperti Syeikh ditengah kaum muslimin. Wallahua’lam.
Azhari
Maraji’:
Nubuwwah (tanda-tanda kenabian), Abdul Malik Ali Al-Kulaib
hayatulislam.net
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/07/11/beginilah-allah-menjaganya/
militiaman
October 17, 2008, 03:55
Bersyukurlah terhadap sesuatu yang Allah berikan kepadamu , sebelum TERLAMBAT
Ditulis pada Agustus 24, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Mandikan Aku Bunda
Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya …..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
next >
militiaman
October 17, 2008, 03:55
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
– Pelajaran yang sangat menyedihkan.
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/08/24/bersyukurlah-terhadap-sesuatu-yang-allah-berikan-kepadamu-sebelum-terlambat/
militiaman
October 17, 2008, 03:56
Biarlah Yang Miskin, Berkata “Aku Kaya!”
Ditulis pada Mei 28, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.
Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,”Bagaimana perjalanan tadi?” “Sungguh luar biasa, Pa.” “Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.
“Iya, Pa,” jawabnya. “Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi. Si anak menjawab, “Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.
Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya.
Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.
Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.
Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, “Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.” Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki.
Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.
Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Allah atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.
“Sungguh, jikalau engkau bersyukur, akan Aku tambahkan nikmatku, akan tetapi, jika kamu kufur, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih…” Ibrahim : 7
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/05/28/biarlah-yang-miskin-berkata-aku-kaya/
militiaman
October 17, 2008, 03:58
Mr Jacques Yves Costeau (air asin dan air laut bertemu-kebenaran Al-Qur’an)
Ditulis pada April 4, 2008 oleh Muhammad Yasrif
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi “Discovery” pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau. Ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis.
Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al-Qur’an tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahrayni yaltaqiyaan, baynahumaa barzakhun laa yabghiyaan…” artinya “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tidak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhumaa lu’lu`u wal marjaan” artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al-Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al-Qur’an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika ia pun memeluk Islam. Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallaahul `Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al-Qur’an.”
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/04/04/mrjacques-yves-costeau-air-asin-dan-air-laut-bertemu-kebenaran-al-quran/
militiaman
October 17, 2008, 03:59
Buta Tidak Berarti Tidak Bisa Melihat
Ditulis pada Maret 22, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Subhanallah…
Itulah lafadz yang saat itu coba kulantunkan dengan lidah yang mungkin sering berbicara hal-hal yang kurang bermanfaat. Lafadz itu kuucap, hatipun menyusul lirih dan sendu merasakan kebesaran Allah yang ditampakkan di bumi-Nya ini.
Saat itu, ku melihat seorang anak laki-laki, kurang lebih berumur 12 tahun , yang memiliki kekurang sempurnaan dalam melihat, buta. Ia buta, namun keceriaan, canda dan tawanya, keriangannya seperti anak normal seusianya. Namanya Ismail, seorang anak yang lahir kembar dari rahim sang ibu yang tercinta, ia menapaki dunia ini bersama dengan saudaranya serahim, Ibrahim. Saudaranya ibrahim lahir dalam keadaan sehat dan normal, akan tetapi Allah berkehendak lain pada Ismail, Allah memberikan kebijakan lain terhadapnya, ia buta, buta karena malpraktek dari sebuah instansi kesehatan yang saat itu tidak mampu untuk melakukan perawatan secara intensif terhadap dirinya. Sehingga ia mengalamai kebutaan hingga sekarang, saat tulisan ini ditorehkan di dunia jejaring ini.
Ismail lahir di tengah-tengah keluarga yang kurang mampu. Namun, perhatian kedua orang tuanya terhadap pendidikan dan agama adalah terpenting bagi mereka. Bagi mereka, anak yang shalih adalah cita-cita mulia yang mereka impikan. Sehingga tak heran, jika mereka terus mengingatkan kedua putranya itu untuk selalu dekat dengan Allah di setiap saat.
Senin, 19 Maret 2007, adalah hari yang memberikan kesan mendalam bagi hati dan jiwaku. saat itu, baru pertama kalinya Allah memberikan kesempatan padaku untuk mengajarkan tata cara baca Al-Qur’an bagi tuna netra , tentunya dengan menggunakan Arab Braille yang baru aq pelajari 2 hari sebelumnya.
Kumulai bina ukhuwah ku di keluarga yang sederhana itu dengan perkenalan, perkenalan dengan sang ibu yang penuh kesabaran itu. Setelah panjang lebar kami berbicara, dengan lembut ia memanggil putranya yang sangat ia sayangi itu, Ismail.
Subhanallah, … saat ku menjatuhkan pandanganku ke arah Ismail, hatiku lirih bergetar lembut, getarannya seolah menggoncangkan simpanan air mata ku yang sudah lama tidak jatuh membasahi pipi ini. Allahu Akbar! … dalam ketidak sempurnaan itu , ku melihat wajah yang bersinar, hati yang masih bersih, anak yang berbakti, serta kebahagiaan tersembunyi dalam dirinya. Dengan penuh senyum dan keceriaan dia memulai perkenalanku dengannya, “Assalamu’alaykum mas,…namanya mas siapa?”tanya dia.
“wa’alaykumsalam, nama mas …. Salim , Salim imani.” jawabku
kemudian percakapan panjang pun lebih mengakrabkan aq dengannya…
Dengan persiapan yang mungkin belum optimal , aq mulai membuka lembaran - lembaran kertas manila bertuliskan arab braille yang sudah menjadi keinginanku untuk mengajarkannya.
Subhanallah, …
sekali lagi, ku melihat kebesaran Allah nampak sangat dekat dengan diriku…
Ismail membaca huruf demi huruf, baris demi baris itu dengan sangat lancar, selancara anak yang sudah pandai membaca Al-Qur’an. Dengan tenang ia meraba tulisan-tulisan yang timbul itu sembari melantunkan apa yang ia baca.
” Ka Ta Ba Ba Ka Ta …..
Tsa Fa Ra Fa Tsa Ra, …”
Allahu Akbar! semakin besar kurasakan keagungan Allah tatkala aq mengiringi pelajaran membaca Al-Qur’an Braille itu dengan sharing-sharing ringan dengannya.
Di akhir pembicaraan, dia mengatakan , “Mas , dengan baca Al-Qur’an…itu bisa menguatkan hati lho..”
“Allahu akbar!!”
Secercah kalimat yang mengguncang relung qolbuq yang selama ini terus bergelimang dengan maksiat, baca Al-Qur’an ya…tapi seolah hanya menjadi pemanis lisan saja, tidak mampu menguatkan hati seperti apa yang dikatakan oleh Ismail itu. “Allah, ampunilah kelalaianku selama ini…, Astaghfirullah”.
Di sela-sela kita saling berbagi cerita, ia mengatakan, “Mas, saya hapal lho..jalan-jalan di daerah ini, ke masjid, ke pasar kambing, bahkan saya juga sering naik sepeda ke sana kemari”, cerita ia secara singkat.
“lho, dik .. pernah nggak waktu sepedaan terus nabrak orang yang lagi jalan”
“Alhamdulillah, ndak mas, setiap ada orang atau mobil atau gundukan jalan, tikungan, saya merasa harus hati-hati… kayak gini mas” , sambil dia memeragakan cara dia menghindari orang atau mobil yang melintas di sampingnya atau bahkan di depannya….
Subhanallah…
“dia memang tidak melihat dengan kedua matanya, namun AllahYang MahaAdil telah menganugerahi “mata” yang lain untuk bisa berjalan di bumi Allah ini sebagai tanda kasih sayang-Nya terhadap hambaNya”
Saudaraku…
kita punya mata, tapi sudahkah kita syukuri nikmat mata itu?
dengan tilawah Al-Qur’an, dengan melihat dan merenungi kebesaran Allah,
dengan menangis merenungi kelalalaian-kelalaian kita…
Saudaraku…
dia , Ismail, adalah salah satu pelajaran dari Allah untuk kita semua…
dia, Ismail, mempunyai semangat yang begitu menggelora untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan baik…
dia, Ismail, selalu memberikan keceriaan dan senyum yang tulus ketika bertemu dengan siapapun , walaupun tidak jarang orang-orang sering mengejeknya dengan sebutan “anak buta”… dia tidak sedih, “tidak saya hiraukan mas”, jawab dia dengan semangat…
Sedangkan kita…
manusia-manusia yang Allah berikan kesempurnaan penglihatan, pendengaran, indera , kaki, tangan, jasad yang masih sehat, Namun kita masih sering bermaksiat dengan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Sungguh tak tahu malu…
“Allahumma A’innii ‘Alaa Dzikrika Wa Syukrika Wa Husni ‘Ibaadatika”
(Ya Allah, Bantulah hamba ini untuk senantiasa mengingat-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)
Semoga bermanfaat
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/03/22/buta-tidak-berarti-tidak-bisa-melihat/
militiaman
October 17, 2008, 04:00
Datang tak diundang pulang diantar Malaikat… itulah MAUT
Ditulis pada September 12, 2008 oleh Muhammad Yasrif
Bismillah… udah kah kita siap ?? menghadapi kematian yang tak tahu kapan datang ?? , at least, kita bisa prepare lah, siapa tahu besok hari terakhir kita, hari terakhir kita bertemu dengan orang-orang yang kita cinta, hari terakhir kita bisa beramal shalih dan berbekal sebanyak-banyaknya untuk akhir perjalanan nanti, hari terakhir kita bisa belajar dan bekerja,atau bahkan bukan besok waktu kita… tapi setelah ini, atau nanti malam….
itulah Maut, datang tak diundang, pulang diantar malaikat…
pencabut nyawa , yaitu Malaikat Maut , Allahu Akbar… semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada Allah dalam keadaan bahagia bertemu dengan Allah, sang pencipta kita….
1. Janganlah seorang mati kecuali dia dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah … (HR.Muslim).
2. Janganlah ada orang yang mengingkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata , ” Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku” (HR.Bukhari).
3. Tuntulah orang yang menjelang wafat dengan ucapan Laailaaha illallah (maksudnya, agar dia mau meniru mengucapkannya) HR.Muslim.
4. Tidak dibolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung atas suatu kematian lebih dari tiga malam, kecuali terhadap kematian suaminya, maka masa berkabungnya empat bulan dan sepuluh hari . (Hr.Bukhari Muslim)
5. Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya , hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. (Hr.Bukhari Muslim)
6. Percepatlah menghantar jenazah ke kuburnya. Bila dia seorang yang shalih maka kebaikanlah yang kamu hantarkan kepadanya. dan bila kebalikannya, maka sesuatu keburukan yang kamu tanggalkan dari beban lehermu (Hr. Bukhari)
saudara-saudariku yang seiman dan seislam. yuk berbekal sebanyak-banyaknya … untuk hari nanti, hari ketika kita tidak lagi mengelak, segala hal yang dikatakan oleh jasad kita tentang diri kita, tentang apa yang kita pandang, tentang yang kita katakan, tentang yang kita perbuat, tentang segala hal yang kita jalani selama hidup kita. Astaghfirullah, sudah berapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kita lakukan pada Allah… apakah kita siap menanggungnya di yaumul hisab (di hari perhitungan nanti) ….
Allah, berikanlah kami kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi hamba yang lebih dekat dengan Mu, menjadi hamba yang menghadap-Mu dengan penuh kerelaan dan kebahagiaan…
bukan menjadi hamba yang menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang ada ini hanya untuk bersenang-senang di dunia yang sementara ini…
Duhai Allah yang Maha Menghidupkan dan Mematikan…
Jikalau sudah waktunya kami menghadap-Mu…
Maka matikanlah kami dalam keadaan iman, islam, dan dengan khusnul khotimah kami Menghadap-Mu…
pertemukanlah kami, dengan keluarga kami, bapak ,ibu, saudara, teman, seiman dan seislam dalam jannah-Mu, surga-Mu yang penuh dengan kenikmatan yang telah Engkau janjikan kepada kami…
saudara dan saudariku yang kucintai karena Allah, tidak ada kata yang lain.. kecuali beramal shalih sekarang juga, dari hal-hal yang sederhana , berbekal sebanyak-banyaknya , berbakti pada kedua orang tua, ajak yang lain untuk menghadap Allah nanti…sehingga senyuman bahagia menghiasai wajah kita saat mata ini menutup , nafas ini berhenti, gerak teratur tubuh kita berhenti… saat ruh ini kembali pada Allah ‘Azza Wa Jalla … Amiin
semoga bermanfaat
buat sy sendiri khususnya, dan buat pembaca untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran
untuk lebih dekat dengan Allah, di setiap saat setiap waktu …
http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/09/12/datang-tak-diundang-pulang-diantar-malaikat-itulah-maut/
militiaman
October 17, 2008, 04:01
Delapan Dirham
Ditulis pada Nopember 2, 2007 oleh Muhammad Yasrif
Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat. Baju satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang. Baju yang setia menutup aurat beliau. meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang tidak pernah beristirahat.
Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang, beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga. Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa. siapakah yang akan menjadi teladan jika bukan beliau..?
Contoh untuk menahan derita, menahan lapar dan dahaga, menahan segala coba dan uji Allah dengan kesabaran. Selalu mensyukuri nikmat Allah berapa pun besarnya. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menyertai umatnya dalam menjalani iradat yang telah ditentukan Allah. Yaitu kehidupan dalam jurang kedukaan dan kemiskinan. Siapa pula yang harus menghibur mereka agar selalu bersabar dan rela dengan yang ada selain beliau? Juga siapa pula yang harus menanamkan keyakinan akan pahala Allah kelak di akhirat jika bukan beliau?
Yah,…hanya beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas. benar,…baliaulah satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah untuk semua umat manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan berlian serta butiran emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih indah dari segala keindahan yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah dari segala kedudukan dan derajad kehidupan manusia yang katanya sudah megah.
“Semua itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah yang paling baik dan sebaik-baik tempat kembali”
Perjuangan itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan yang hak hanya dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam menghadapi setiap malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan hati bersih. dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka, bersyukur dan keimanan harus selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang dibawa Rasulullah saw.
Allah Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan. Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau melangkah ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan apa. Apakah cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan? Oleh sebab itu, bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad saw telah memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita miliki. Tetapi nabi kita ini, dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk berbelanja. Meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. Beliau belum ingin mati meski kemiskinan menjerat setiap hari.
Di tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu.
Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata. Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham. beliau segera pulang. Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.
Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah. Rasulullah saw mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti. Rasulullah saw langsung menyatakan akan mengantarkannya.
Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah saw dari belakang. Hatinya tenang karena Rasulullah saw pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para isteri mereka.
“Assalamu’alaikum warahmatullah”, sapa Rasulullah saw keras. Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah saw sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah saw memberi salam lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah saw mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang, Assalamu’alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.
Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, ” Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak”. Rasulullah melanjutkan, “Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya”. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka. Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, “Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata”. Budak itu tak terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan kebebasannya karena dari Rasulullah saw.
Rasulullah saw pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt semata. Akhirnya beliau berujar dengan, “Belum pernah kutemui berkah angka delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak”. Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
http://bungakehidupan.wordpress.com/2007/11/02/delapan-dirham/
militiaman
October 22, 2008, 08:10
Dan Pendeta Yahudi itupun Bersyahadat
oleh Muhammad Yasrif
Awalnya, kedatangan Shimon, seorang Rabbi Yahudi di Islamic Forum membuat curiga. Siapa sangka, Shimon justru tertarik Islam dan mengucapkan syahadat
Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu ingin lebih mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku kenali sama sekali.
Salah satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut pendek yang terurus rapih. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak memperhatikan dengan seksama tapi terlihat cuwek. Aku sangka bahwa orang ini adalah seorang Muslim karena wajahnya mengekspresikan persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan siang itu. Tapi, nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik dengan penjelasan saya itu.
Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum terdahulu. Merujuk pada kata-kata “kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum” (sebagaimana telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), saya kemudian merujuk kepada beberapa fakta sejarah puasa umat-umat terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat saya intens menjelaskan ayat ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.
“Yes Brother!” sapa saya. “Can I say something?” tanyanya. Tentu dengan senang saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena tiba-tiba masuk ke kelas ini tanpa permisi. “I feel I did some thing impolite”, katanya. “Oh no, this forum is open for every person, and doesn’t require any registration. You are in the right place on the right time”, jawabku.
“What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is your name?”, tanyaku. “Sorry, I am Shimon!”, jawabnya.
Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat lancar dan seolah berceramah dia bersungguh-sungguh menjelaskan sejarah dan makna puasa dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan penjelasan itu, hampir semua yang hadir terkejut. Melihat situasi itu, sayapun bertanya: “Sorry Brother, are you a Muslim or not? And why do you know a lot about Judaism?”.
Sedikit gugup dia kemudian mengatakan: “Imam, actually I am a Rabbi. I was ordained Rabbi two years ago”. Mendengarkan penjelasannya itu rupanya membuat banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the Forum for non Muslims ini ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). Apalagi dalam penjelasannya tentang puasa itu seperti mendakwahkan ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga kalau-kalau dia datang untuk sebuah misi.
Saya kemudian menyapah dengan ramah dan mengatakan: “Welcome to our class sir!”. Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan kepadanya bahwa saya sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-pendeta Yahudi, seraya menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New York . Mendengarkan nama-nama itu, rupanya cukup mengagetkan bagi dia. “All those are very respectful Rabbis!” katanya. “Yes, I am fortunate to have known them and be known by them!” kataku.
Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelas annya mengenai puasa di agama Yahudi. “It’s almost similar to ours. The only thing that you guys keep changing it throughout the history”. Mendengar itu, nampaknya dia setuju dan hanya mengangguk.
Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang ingin tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, penjelasan mengenai puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya tiba sesi tanya jawab.
Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan waktu masih ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan untuk menjelaskan agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Quran dan sejarah. Bahwa memang Al-Quran menyinggung secara gamblang sikap orang-orang Yahudi terdahulu, mulai sejak nabi Ya’kub hingga nabi-nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat nabi Musa A.S.
Sejarah pergulatan politik, agama, kultur dan budaya antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah S.A.W di Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum Kristen. Bagaiman penguasa Islam di Spanyol memberikan “kesetaraan” (equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian Yahudi dari pengusiran dan “inquisasi Spanyol” kaum Kristen di Spanyol.
Penjelasan-penjelas an saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh Shimon. Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan sebenarnya kebanyakan buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat Yahudi itu justeru ditulis oleh mereka yang non Muslim dan bahkan mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya bahkan mengutip pernyataan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara interfaith di PBB tahun lalu.
Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-tiba Shimon sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, mengangkat tangan. “Yes Brother, any comment?”, pancingku. “Yes, I think what you just said, for us Jews, are well known”, katanya. Dia kemudian berbicara panjang lebar mengenai upaya penyembunyian fakta-fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui bahwa bagi mereka yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya kepada risalah terakhir dan nabinya.
Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda: “If so, do you consider yourself a genuine Jew or not”. Dia sepertinya tertawa, tapi nampaknya karena kepribadian dia yang memang kurang tersenyum dan nampak seperti cuwek, dia menjawab: “To be honest with you, I believe that this is the religion of Moses”. He came with the same mission that Mohamed brought around 15 centuries ago”, tegasnya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi: “So you believe that Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is the true teaching of God?”, tanya saya. Dengan tenang dia menjawab: “I am sure about that. But I really don’t know what to do”.
“Brother Shimon”, basically you are a Muslim. What you need to do is simply you need to formalize your faith with the presence of witnesses”, jelasku.
Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum tapi melihat raut wajahnya dia sepertinya cuwek. Tapi karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti tidak serius, tapi memang itulah kepribadiannya. Tiba-tiba dia bertanya: “And how to do that?”. Saya menengok pada peserta lainnya yang juga ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab: “Brother, it’s very easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and Messenger. Are you ready?” tanyaku.
Setelah dengan mantap menjawab “yes”, saya kemudian mengatakan kepada peserta lainnya yang hampir semuanya muallaf, “be witnesses for Allah!”. Maka, dengan suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi mengucapkan “Syahadaaten”, diikuti kemudian oleh pekikan takbir para peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita itu. Dan Ramadan kemarin adalah awal Ramadan baginya dengan puasa penuh secara Islam.
Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon mendekati dan berbisik: “I don’t know if this is an appropriate question to ask”, katanya. “What is that?”, tanyaku. “Who was that lady sitting to your right side, and is she married?”, tanyanya. “Why is the question?” tanyaku lagi. “I think it is the time for me to be serious in my life. I need a wife”, katanya serius.
“Ok Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. But let me know next week”, jawabku. “Sorry Imam if that is considered inappropriate to ask”. “Oh not at all. It is in fact an important thing to ask. And believe me, it is also my responsibility to help you in this regard. We will talk next Saturday about it”, kataku sambil meninggalkan kelas.
Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan dijadikan da’I yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin!
New York , 29 Oktober 2007
• Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com
http://bungakehidupan.wordpress.com/2008/03/10/dan-pendeta-yahudi-itupun-bersyahadat/
militiaman
October 23, 2008, 06:42
Iblis Sekali Membangkang, Kita Berkali-kali
Namun, tak selamanya kedudukan manusia lebih mulia dari iblis. Kadang, ia bahkan setara hinanya. Bahkan, lebih hina lagi.
Ada sebuah kisah yang menarik. Namun, tak jelas apakah kisah ini bersumber dari penuturan hadis ataupun sekadar kisah semata. Tetapi, kandungannya sangat menarik untuk menggugah semangat untuk kembali meninggikan derajat melebihi iblis, setan dan para pengikutnya.
Alkisah, ada seseorang yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Tak jelas bagaimana asal usulnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan.
Baru saja keduanya bersahabat, waktu subuh pun berakhir. Setan itu melihat manusia yang menjadi sahabatnya itu tidak mengerjakan salat. Maka setan pun tersenyum.
“Orang ini memang pantas menjadi sahabatku !” gumamnya.
Persahabatan pun berlanjut dengan mesranya. Tetapi, sebagaimana ‘teori’ persahabatan dengan setan, selalu saja setan yang mendominasi pengaruh. Manusia sahabat setan itu mulai memiliki sifat-sifat setan. Sementara, setan sahabat manusia itu sama sekali tidak bertambah sifat kemanusiaannya.
Ketika azan Dhuhur bergema, setan membisikkan kepada sahabatnya ini untuk tidak mengerjakan salat. Ia pun tersenyum lebar lantaran sahabatnya ini memang tidak menunaikan salat Dhuhur.
“ Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti !” kata setan dalam hati, andai ia memang punya hati.
Setan makin gembira. Manusia yang satu ini memang menyenangkan untuk menjadi sahabatnya. Ketika waktu Ashar berlalu, temannya itu dilihatnya masih juga asyik dengan kegiatannya. Kali ini, setan mulai terdiam.
Begitu pula ketika datang waktu Magrib. Temannya itu ternyata tidak juga menunaikan salat. Aneh, bukannya gembira, si setan malah tampak mulai gelisah. Senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat- ingat sesuatu.
Akhirnya, ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan salat Isya, setan itu terlihat sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi. Dihampirinya manusia yang menjadi sahabatnya itu.
“Hai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !” katanya dengan nada ketakutan.
Manusia yang menjadi sahabatnya ini keheranan.
“Kenapa kamu ingkar janji ? Bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?” katanya.
“Aku takut !” jawab setan dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja, dulu dilaknat Allah hanya karena sekali membangkang perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada Adam. Nah, hari ini saja kusaksikan kamu telah lima kali membangkang perintah untuk bersujud kepada-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !” jelas setan sambil pergi meninggalkannya. (KM)
http://www.metrogaib.com./?liatdong=beritanya&newsid=280
militiaman
October 23, 2008, 06:45
MENGAPA IBU MENANGIS
Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu,mengapa ibu menangis ?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita." Saya tidak mengerti," kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tidak akan mengerti......"
Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya. "Ayah,mengapa ibu menangis ?"
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayahnya. Lama kemudian, si anak itu menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis. Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting. Allah ciptakan bahunya,agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.
Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri......Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.
Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih,sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah. Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.
Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan. Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita ?
Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya. Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.
Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya...
Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata!
" Ini airmata kehidupan."
http://melasayang.4t.com/MengapaIbuMenangis.htm
militiaman
October 23, 2008, 06:46
Renungan 6 Pertanyaan
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.
Lalu Imam Al Ghozali bertanya....
Pertama,
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab \"orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu BENAR. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran 185)
Kedua....
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah BENAR. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Ketiga....
"Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU" (Al A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
keempat
"Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Kelima
"Apa yang paling ringan di dunia ini?"... Ada yang menjawab \"kapas, angin,debu dan daun-daunan". Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermesyuarat, kita meninggalkan sholat.
keenam
"Apakah yang paling tajam di dunia ini?"... Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
http://melasayang.4t.com/Renungan6pertanyaan.htm
militiaman
October 24, 2008, 05:41
Maaf bagi yang anti kejawen, ini hanya sebagai info saja :
Wejangan Sunan Kalijaga
Menyandingkan Islam dan Kejawen
Sunan Kalijaga adalah anggota “Wali Songo” yang terkenal sakti, cerdas dan bijaksana. Beliau adalah satu-satunya anggota “Wali Songo” yang asli keturunan Jawa. Maka didalam setiap misi dakwahnya beliau selalu menggunakan cara-cara “Kejawen” yang mudah dimbengerti oleh setiap golongan orang Jawa, baik dikalangan awam maupun kalangan ningrat. Hal yang demikian itulah menjadikan beliau dikenal oleh kaum muslim yang fanatik sebagai pemimpin “Islam abangan” maksud “abangan” disini adalah tidak seperti Islam aslinya di negeri Arab khususnya didalam hal kebudayaannya.
Dalam hal kebudayaan, beliau memang mengambil kebijaksanaan tersendiri. Bangsa Jawa (waktu itu) tetaplah menjadi bangsa Jawa, yang berkebudayaan Jawa, tidak perlu diganti dengan kebudayaan bangsa Arab. Hanya dalam diganti dengan kebudayaan sajalah yang harus diganti dengan kepercayaabn Islam, dalam pengertian yang dalam.
Maka oleh Sunan Kalijaga seni dan kebudayaan Jawa tidak dihapus. Cuma diberi warna Islam upacara ritual seperti selamatan do’anya diganti dengan do’a Islam. Wayang kulit bentuknya dirubah sedemikian rupa, sehingga tidak menyalahi hukum Islam. Selain itu Sunan Kalijaga menciptakan beberapa “tembang” seperti : Dandang Gula dan Ilir-ilir.
Sudah barang tentu tembang-tembang tersebut dimaksudkan untuk dakwah. Tembang yang terkenai hingga sekarang yang bersyairkan dakwah adalah Ilir-Ilir. Tembang ini sekalipun bentuknya terfmasuk jenis “tembang dolanan” namun mengandung nilai yang tinggi.
Syair tembang-tembang terseut adalah seperti berikut :
“Ilir-ilir. Lir-ilir,
Tandure Wus Sumilier,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon-cah angon
Peneken blimbing kuwi
Lunyu-lunyu ya peneken
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomana jlumatana
Kango seba mengok sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo surake, surak hayo”
Sekalipun sederhana namun bila direnungkan secara dalam syair tersebut sangat indah dan mengadung nilai dakwah Islamiyah yang tinggi nilainya.
Tembang “ilir-ilir seperti bab pertama mengandung wejangan untuk menjadi orang Muslim yang baik. Suatu ajakan untuk menjadi orang Islam yang baik.
Bila kita renungkan secara mendalam apa yang tersirat dari suratan tembang “illir-ilir’tersebut secara globalnya adalah sebagai berikut :
- Bait pertama, mulai bangkitnya Imam Islam.
- Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima Rukun Islam.
- Bait ketiga bertobat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kesemuanya bekal kelak bila mati.
- Dan bait selanjutnya punya arti yang menyimpulkan “mumpung” ada kesempatan baik.
Untuk lebih jelasnya uraian tiap-tiap baris dari tembang tersebut akan kami coba menguraikan secara rinci.
Maksud “ilir-ilir tandure wis sumilir”.
Kata “ilir-ilir berasal dari “Ngilir(bahasa jawa) yang maksudnya terjaga atau “bangun” dari tidur. Lir-ilir juga bisa diartikan sadar kembali Sadar kembali dari “tidur”.
Disini dimaksudkan, orang yang belum masuk (memeluk agama Islam) masih “tidur” belum sadar. Sedang yang sudah Islam, sudah sadar. Sudah bangun dari tidurnya. Pada tembang di atas, kata “Lir-ilir” diulang “bangun-bangun” bangun ke alam pemikiran yang baru yaitu agama islam.
Sedang kata : “tandure wis sumilir”, maksudnya :
- “tandure” itu artinya : “benah” yang ditanam.
- Wis sumilir “artinya : sudah tumbuh.
Jadi “tandure wis sumilir” mengandung maksud : benih yang ditanam sudah mulai tumbuh. Yang dimaksud “benih barang adalah benih “Imam”.
Semua manusia yang terlahir di muka bumi ini telah diberi “benih” yang berupa “Imam” oleh Allah SWT hal ini baik disadari atau tidak oleh orang yang bersangkutan.
Bila orang yang bersangkutan mau “sadar” akan adanya “benih” tersebut dan mau merawat baik-baik setiap harinya, maka benih itu akan tumbuh subur. Dan bila terus dirawat maka menghasilkan buah yang baik Bila benih iman tadi dirawat dengan ikhlas, dengan selalu ingat akan Allah Tuhannya, dan dipupuk dengan makanan-makanan rohaniah yang berupa :
- Membaca Al-Qura’an atau bacaan-bacaan Islam lainnya.
- Menghadiri pengajian
- Mendengarkan khutbah mimbar agama Islam dan lain sebagainya.
Maka akan tumbuh subur, berkembang dengan baik. Kalau tidak dirawat, sudah tentu benih iman tadi, akan merana dan bisa mati.
Maksud tak ijo royo-royo, tak sengg uh penganten anyar.
Kata “tak ijo Royo-royo” itu mengandung arti : dibuat tumbuh subur, daunnya hijau segar. Maksud diatas nampaknya menekankan “penampilan” tentang pribadi Muslim yang menyenangkan. Menjadi manusia yang sehat dirawat dengan baik, maka tumbuh “Imam” yang baik pula “Ijo Royo-royo” itu lambang tanaman yang subur, karena dirawat baik.
Kata “ Tak sengguh penganten anyar” ini berarti disebut pengantin adalah pasangan mempelai yang ndimaksud dengan pasangan mempelai disini adalah “Manusia” yang bersangkutan dengan “keyakinan iman” yang baru bertemu menjadi pengantin.
Orang yang jadi penganten baru adalah orang yang sangat berbahagia hidupnya. Begitu juga halnya dengan “tak sengguh penganten anyar” orang yang telah “bersanding” dengan “Keyakinan iman menjadi orang Muslim yang baik, yang kelak berhak menempati sorga.
Jadi : “Taka ijo Royo-royo tak sengguh pengnaten anyar mengandung maksud anyar mengandung maksud : benih iman seseorang yang dirawat dengan baik akan menghasilkan seorang Muslim yang baik pula, seorang Muslim yang hidupnya berbahagia, ibarat “pengantin baru”.
Sudah barang tentu iman yang baik seperti yang digambarkan dengan “tak ijo royo-royo”, tadi, harus selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Seperti tumbuhan yang subur, “hijau royo-royo” itu merupakan hasil rawatan yang baik, menghalau semua hama-hama tanaman. Tumbuhan yang dimakan hama (seperti ulat, beralang, wereng, dan sebagainya) bisa mati menjadi tidak “tak ijo royo-royo lagi” Begitu juga halnya dengan “Iman” pribadi muslim, yang harus dijaga baik-baik.
Untuk menjaga iman agar tetap baik, harus bisa menghalau hama-hamanya yang berupa tindakakan seperti berzina, mencuri, minum-minum keras dan sebangsanya itu merupakan “hama” iman yang harus segera diberantas. Agar iman kita “tak ijo royo-royo” sehingga kita menjadi seorang Muslim yang berbahagia (“tak sengguh penganten anyar”)
Maksud “Cah Angon-Cah Angon Penek En Blimbing Kuwi.
Kata “cah angon” mempunyai arti “anak gembala” Kata “cah angon” disebut dua kali (“cah angon-cah angon ) itu berarti mengandung unsur penekanan dengan adanya “perintah” yang penting. Perintah apa ?
Perintah “penekan blimbing kuwi”. Yang diperintah adalah si “cah angon”, ya si “gembala”. Karena itu merupakan perintah, maka yang biasa diperintah adalah bawahan atau kedudukannya lebih rendah dari yang memerintah, maka disini tua, memerintah “Penekan blimbing kuwi” pada “anak”nya.
Mengapa yang menjadi sasaran perintah adalah “Cah angon” atau gembala koq bukan yang lainnya ? Nah, itu ternyata mengandung makna yang falsafi. Disebut gembala, pasti ada yang digembalakannya. Yang dimaskud “cah angon” disini adalah “manusia”, manusia sebagai gembala mengendalikan nafsu-nafsunya sendiri. Setiap orang pasti punya nafsu. Nafsu nafsu ini kalau tidak di Gembalakan” bisa merusak aturan, sekehendak sendiri bisa melakukan maksiat dengan bebas karena tidak ada yang “angon”, tidak ada yang mengembala. Maka “pribadi” manusia itu sendiri harus bisa berperan sebagai gembala yang baik agar nafsu-nafsu diarahkan ke hal-hal yang baik sesuai dengan perintah ajaran agama.
Jasi “cah angon disini merupakan sebuah untuk seorang Muslim yang menjadi gembala dari nafsu-nafsunya sendiri.
Sekarang mengenai perintah “penekan blimbing nafsunya sendiri.
”Sekarang mengenai perintah “penekan blimbing Kuwi”, maksudnya adalah sebagai berikut :
Penek-ablimbing kuwi, artinya Panjatlah blimbing kuwi. Menjadi kebiasaan orang Jawa sejak dahulu kalau ada kata “panjatlah blimbing itu” bukan berarti harus memanjat “buah belimbingnya, melainkan “panjatlah pohon belimbing itu” Seperti halnya kata = “nggodong wedang”, bukan berarti “Wedang atau minuman yang sudah jadi (siap diminum itu digodog” (direbus) melainkan :nggodog banyu kanggo gawe wedang (= merebus air itu dibuat minuman). Begitu pula halnya dengan “penekan blimbing kuwi”, bukan koq harus memanjat buah belimbingnya, melainkan “panjatlah pohon belimbing itu” jadi disini perintah yang di panjat adalah “pohon belimbingnya, bukan memanjat buah belimbingnya. Maksudnya memanjat pohon belimbing untuk memperoleh buah belimbingnya.
Disini yang diperintahkan untuk dipanjat adalah pohon buah “belimbing”. Karena buah belimbing mempunyai 5 sisi. Nah, lima sisi inilah digambarkan sebagai 5 rukun Islam, yaitu : Syahadatain, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. (Jaka Kelana/ sumber terpilih)
http://www.metrogaib.com./?liatdong=beritanya&newsid=295
militiaman
October 27, 2008, 05:55
KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]
Berdakwah Dengan Cara Menginfakkan Hartanya
Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz
MENDAFTARKAN DIRI MENJADI RELAWAN
Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da'wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu. menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan neneknya menunggu di mobilnya.
Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan : "Saya ingin menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan agama Islam".
Saya dibuat kagum dengannya. Saya sambut dengan baik dan saya katakan : "Kirakira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?"
Dia katakan, "Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa lnggris."
Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris; maka saya minta rekan saya untuk berbicara dengannya dengan bahasa Inggris. Setelah terjadi komunikasi antara teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya : "Bagus sekali anak ini bahasa Inggrisnya".
Saya katakan, "Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis, kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah," lalu saya minta nomor teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya. Lalu saya katakan : "Saya sendiri, insya Altah ada acara dakwah untuk jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan membagikan kaset atau buku di air port haji di madinatu( hujjaj (asrama haji) di Jeddah, bagaimana?"
Anak itu menjawab, "Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu."
Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami mencari saya dan menanyakan : "Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke air port haji untuk berdakwah?"
Saya katakan, "Betul, kalau dia berminat."
Orang tuanya mengatakan : "Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia ikut bergembira jika umat Islam bergembira; ikut sedih jika umat Islam sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak membedakan orang menurut suku dan kebangsaannya, karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?"
Saya katakan,"Itu lebih baik..
Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya. Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: "Apa yang memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?" Dia menjawab, "Ajru ‘Indallaah" Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.
Kemudian saya tanya lagi : "Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?"
Dia menjawab,"Saya hafal."
"Coba saya mau mendengar," tanya saya lagi.
Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai kami pulang dari air port.
Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum'at saat sekolah libur.
MUDAH MENERIMA NASIHAT
Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap, dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.
Suatu hari, pada hari Jum'at, saat kami dan Ahmad berada di kantor, datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang dibicarakan.
Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan, karena belum izin orang tuanya. Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepadanya : "Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?" Ahmad menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu : "Ingin menjadi pedagang".
Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.
=>
militiaman
October 27, 2008, 05:56
Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Di antara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum'at yang lalu -saat itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Ada di antara rekan yang masih muda merasa jengkel kepada Ahmad.
Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad, tetapi belum bisa secara langsung.
Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat sesama muslim. Di antaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah, setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa terasa suka memotong pembicaraan orang lain.
BERDAKWAH DENGAN CARA MENGINFAKKAN HARTANYA
Pada Jum'at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang istikbal (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti : bahasa Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah), lalu ia mengatakan kepada kami": "Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah".
Saya menjawab,"Kami percaya, bahwa Anda adatah orang yang jujur."
Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi. Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9 real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.
Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis "Untuk Non Muslim", maka saya tanya kepada pengunjung tersebut : "Anda membeli buku bebahasa Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?" Saya khawatir ia salah beli.
Dia menjawab,"Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!"
Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor. Saya katakan, "Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman sekerjanya yang kafir?"
Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan, jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba, secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan kepada sekretaris sambil berkata: "Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real saja".
Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang membayar 5 real, Ahmad cukup 4 real saja. Dia bilang,"Ustadz saja yang 4 real, saya yang 5 real," kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1real. Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis, dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.
.
MEMBERIKAN CERAMAH DI DEPAN JAMAAH HAJI INDONESIA
Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di hadapan jamaah haji Indonesia di madinatu( hujjaj di air port lama, Jeddah. Dia pun menyanggupi: Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak ukhuwah.
Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya : "Bagaimana Ustadz, kalau saya sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah sebelum ini".
Saya katakan, "Tidak apa-apa, walaupun kalau bisa tidak dengan teks itu lebih bagus."
Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan ibunya berangkat ke madinatul hujjaj untuk berceramah di hadapan jamaah haji Indonesia. Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula Ahmad berkeberatan dengan mengatakan:"Saya tidak mempunyai wewenang untuk berfatwa". Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta'aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.
Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da'wah Center mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana. Saya ceritakan tentang perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris. Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab (keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat memperkuat ukhuwah Istamiyah, seperti : menyebarkan salam, saling mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun. Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti : ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), menyebar luaskan rahasia.
Di antara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad menjawab pertanyaan dengan lancar. Jamaah haji itu bertanya, "Mungkin Anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?" Ahmad menjawab,"Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia, dan tidak pernah pergi ke luar negeri." Jamaah haji bertanya,"Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?" Ahmad menjawab,"Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun." Ahmad juga sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
http://www.almanhaj.or.id/content/2441/slash/0
militiaman
October 27, 2008, 05:56
KISAH RELAWAN CILIK [DIA BERUSIA 12 TAHUN]
Ahmad Dan Bencana Tsunami
Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz
AHMAD DAN BENCANA TSUNAMI
Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004M, ia pun membaca berita berita tentang para korban dari koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Di antara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum'at adalah tentang bencana Tsunami. Dia sangat interes untuk mendengar berita dari saya, dan juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.
Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah, selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.
Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Balik Musibah, saya mendapat sedikit kesulitan dalam penutisan hadits-hadits Nabi. Saat itu kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya untuk membantu saya mengetik haditshadits Nabi berkenaan dengan musibah. Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga seperti berenang; menunggang kuda dan bela diri, maka Ahmad akhirnya minta bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya. Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor, ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : "Ustadz, saya mengetiknya sekian halaman, dan adik saya sekian halaman".
Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya sebutkan saat perpisahan.
BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG YANG BAIK
Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan yang ti.dak baik.
Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan silaturahmi mengunjungi adik-adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan, sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya. Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat berangkat atau tidak.
Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : "Saya rasa kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menumbuhkan minat anak".
PERPISAHAN
Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H, atau akhir Maret 2005M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.
Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan : "Seharusnya kami yang mengundang Anda makan di rumah, karena anda adatah tamu. Tetapi karena suami saya sedang keluar kota, maka Ahmadlah yang akan mentraktir Anda makan di rumah makan". Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di sana selama dua bulan di Jeddah.
Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.
Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad, meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk mengunjungi universitasuniversitas di Malaysia guna mengetahui sistem pendidikannya, dan yang kedua . untuk melihat kemegahan bangunan dan arsitektur di Malaysia.
=>
militiaman
October 27, 2008, 05:57
Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan mendatangi pameranpameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah, bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.
Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.
Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya pancing Ahmad dengan pertanyaan : "Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke Malaysia?" Ahmad menjawab dengan mantap : "Saya tidak kecewa". Saya tanya,"Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana." Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang tuanya untuk pihak sekolah.
Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad mengatakan kepada saya : "Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh". Saya katakan kepadanya, yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa? Dia menjawab,"Saya pilih air putih saja." Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.
Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya:"Apakah Anda sudah membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?" Ahmad menjawab,"Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur."
Setetah kami selesai makan, ada di antara pelayan restoran yang berasal dari Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak, dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepadaAhmad untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.
Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata : "Ustadz akan pulang ke Indonesia, ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh." Terharu saya mendengar ucapannya yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut saya terima, dan saya katakan : "Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini kepada orang yang berhak menerimanya".
Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan, bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan mengantarkan saya ke air port. "Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda".
Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ahmad dan keluarganya.
Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-anak kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih.
Rabbana laatuzikhquluubanaa ba’da idzhadaitanaa wahablanaa milladunkarahmah innaka antalwahhab.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
http://www.almanhaj.or.id/content/2442/slash/0
AlfaOmega
October 28, 2008, 17:11
Apakah Akhirnya Kita Seperti Burung Beo Itu (http://www.eramuslim.com/oase-iman/apakah-akhirnya-kita-seperti-burung-beo-itu.htm)
oleh Yayan Supardjo
Selasa, 28 Okt 2008 13:42
Sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah memberikan cerita hikmah untuk kita semua. Ceritanya dimulai beberapa tahun yang lalu saat pengurus pesantren tersebut tepatnya pemilik pondokan (sebutan sebuah pesantren) memelihara seekor burung beo.
Beo merupakan jenis burung yang paling cerdas menirukan suara-suara manusia selain burung kakak tua. Bertahun-tahun Kiai mengajarkan sebuah kalimat kepada beo itu. Kalimat yang sering kita baca dalam sholat. kalimat tauhid, ”Laillahaillallah Muhammadarrasulullah” terus diajarkan kepada beo. Hingga begitu lancarnya di lafadzkan oleh burung beo.
Selama beberapa lama pondokan diramaikan kalimat tauhid di ucapkan si burung beo. Memberikan suasana dzikir para santri semakin berwarna. Ada kebanggaaan sendiri melihat seekor burung bersuara kalimat tauhid.
Tahun berganti tahun. Suatu pagi kiai memberikan makan seperti biasa untuk beo kebanggaan itu. Ada yang aneh dari beo yang tak seperti biasanya. Lincah, berputar-putar 360 derajat, makan minum dan mengucapkan kalimat tuhid. Kali ini beo begitu lunglai. Diperhatikannya beo oleh Pak Kiai yang semain lama semakin menunduk. Tak berapa lama beo terjatuh dari tenggerannya. ”Plak”. Burung beo terjatuh di dasar sangkar luas itu. Kontan Kiai sedih dan menangis. Sejak saat itu beliau selalu menangis, bahkan saat mengajar.
Beberapa hari tak reda sedihnya. Hal ini membuat santri khawatir akan kondisi Pak Kiai. Suatu hari seluruh santri berkumpul untuk membicarakan solusi agar Kiai tidak lagi bersedih. Mereka sepakat untuk mengumpulkan sebagian uang jajan untuk membelikan seekor beo untuk Pak Kiai. Mereka benar-benar mengira kesedihan Pak Kiai disebabkan matinya beo terdahulu yang sangat di banggakan oleh seluruh seantero pondokan.
Pada suatu pagi seusai sholat subuh berjamaah sebelum kuliah subuh. Perwakilan salah satu santri memberanikan diri untuk berbicara mengutarakan rencana santri se pondokan yang akan mengganti beo yang meninggal dan memberikan uang yang telah terkumpul dan dikira cukup membeli seekor beo.
"Assalamu’alaykum Wr Wb., Afwan Kiai, ana mohon izin berbicara sebelum kuliah subuh dimulai", kata santri itu.
"Silahkan. Apa yang akan kau sampaikan", sambut Kiai.
"Kemarin kami semua berkumpul dan bermusyawarah, bagaiamana mencari solusi agar Kiai tak bersedih lagi, karena beo yang telah mati. Kita bisa menggantinya insya Allah", tambah sang santri.
"Alhamdulillah. Hari ini saya melihat persaudaraan antar santri yang semakin erat. Walaupun kalian dari berbagai suku, tetapi dapat disatukan menjadi saudara dengan balutan Iman kepada Allah. Tidak ada lagi sekat lagi karena golongan darah atau saudara sedarah. Kalian telah menunjukkan persaudaraan kalian didasarkan karena cinta Pada Allah. Subhanallah. Jaga itu", jawab Kiai.
Santri: ????
Santri semakin bingung. Kiai meneruskan ceritanya kenapa dia bersedih.
"Kalian tahu kenapa aku bersedih. Kalian menyaksikan aku mengajarkan kalimat Tauhid (Laillahaillallah....) kepada beo itu bertahun-tahun, dan dia lancar mengucapkannya selama beberapa tahun juga. Tahukah yang sangat membuat sedih hingga kini? Aku sedih karena burung Beo yang telah kuajarkan kalimat tadi ternyata ketika sakaratul maut hanya berbunyi, “Kheeeeek”. Ya itu saja yang di suarakan beo itu", ungkap Kiai.
Padahal aku mengajarkannya bertahun-tahun mengucapkan kalimat tauhid. Inilah yang membuat aku bersedih dan melakukan instropeksi diri. Apakah nanti di penghujung sakaratul maut aku juga akan seperti beo itu. Aku selalu mengajarkan kalimat tauhid dan selalu ber ibadah. "Hari ini aku berpesan kepada kalian semua untuk terus meningkatkan ibadah kita secara sungguh-sungguh. Dan jangan ada penyakit dalam hati kita", tegas Kiai.
Serentak pondokan hening. Seluruhnya menunduk dan menangis tersedu. Beberapa santri berpelukkan dan saling meminta maaf kepada saudara lainnya. Dalam kondisi seperti ini ada satu pertanyaan, “Bagaimana dengan kita semua?”......
http://ya2nya2n.multiply.com
militiaman
November 13, 2008, 08:40
KEMAMPUAN MANUSIA DALAM MENERIMA KELEBIHAN ALLAH
Asal Kejadian Manusia
Sudah tidak dapat dipungkiri bahwa asal penciptaan manusia adalah dari tanah, baik secara langsung seperti penciptaan Nabi Adam atau melalui proses penciptaan secara ilmiah seperti anak cucu Adam. Firman Allah :
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah".
(QS. Al Mu'minun: 12)
Ayat tersebut menjelaskan tentang asal penciptaan manusia yaitu dari saripati tanah. Ada beberapa riwayat yang menceritakan tentang proses penciptaan Nabi Adam :
Riwayat Ibnu Abbas: " Nabi Adam diciptakan dari tanah yang diambil dari daerah tertentu antara lain kepala diambil dari tanah Ka'bah, dada diambil dari belahan bumi, perut diambil dari tanah India, tangan diambil dari tanah bagian timur dan kaki diambil dari tanah bagian barat ".
Riwayat Wahab bin Munabbih: " Nabi Adam diciptakan dari tujuh macam tanah, kepalanya dari tanah pertama, lehernya dari tanah kedua, dadanya dari tanah ketiga, tangannya dari tanah keempat, punggungnya dari tanah kelima, perutnya dari tanah keenam dan paha dan anusnya dari tanah ketujuh ".
Riwayat lain: " Nabi Adam diciptakan dari tanah yang diambil dari tanah tertentu antara lain: kepala dari tanah Baitul Maqdis, wajah dari tanah syurga, telinga dari tanah bukit Tursina, dahi dan punggung dari tanah Irak, gigi dari tanah Kawtsar, tangan kanan dari tanah Ka'bah, tangan kiri dari tanah Persia, kaki dari tanah India, tulang dari tanah gunung, kemaluan dari tanah Babil, perut dari tanah Khurasan, hati dari tanah syurga Firdaus, lidah dari tanah Thaif dan mata dari tanah Telaga Nabi ".
Riwayat lain: " Allah memerintahkan malaikat untuk membuat bentuk tubuh Adam dengan tanah yang dicampur dengan empat macam air yaitu air tawar untuk liurnya, air asin untuk air mata dan keringatnya, air manis untuk ingusnya dan air pahit untuk kotoran telinga. Setelah bentuk selesai maka dibuatkan sembilan lubang: Dua lubang hidung, dua lubang telinga, dua lubang mata, lubang anus dan lubang kemaluan dan lubang mulut. Setelah sempurna maka ditiupkan ruh kedalam jasad ".
Firman Allah: " Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur " (QS. Addahr: 2), Ayat ini menjelaskan penciptaan manusia secara proses ilmiah yaitu bercampurnya sperma laki-laki dengan ovum wanita. Air mani yang dihasilkan manusia berasal dari makanan atau minuman yang dikonsumsi sedangkan makanan atau minuman dihasilkan oleh bumi / tanah sebagai sumber kehidupan manusia.
Proses Kejadian Manusia Menurut Petunjuk Al-Quran dan Sunah
" Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari tanah, kemudian kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara (rahim) kemudian kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging kami jadikan tulang-tulang, maka kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha suci Allah sebaik-baik pencipta ".(QS. Al Mu'minun: 12-15)
Proses kejadian manusia berawal dari dalam kandungan selama lebih kurang sembilan bulan lamanya. Selama didalam kandungan kejadian manusia mengalami beberapa proses:
Pertama dari setetes air mani setelah beberapa lama menjadi segumpal darah, kemudian setelah beberapa lama menjadi segumpal daging, kemudian dari segumpal daging tadi dijadikan tulang-tulang yang dibungkus oleh daging-daging tersebut kemudian dijadikanlah bentuk rupa yang sempurna. Didalam hadits Bukhari Muslim masa tiap-tiap perubahan adalah 40 hari dan setelah sempurna maka Allah mengutus malaikat untuk menulis empat ketentuan:
Menuliskan amal perbuatannya selama hidupnya
Menuliskan rizkinya kaya atau miskin
Menuliskan nasibnya baik atau buruk
Menuliskan ajalnya kapan, dimana dan bagaimana ia mati
Setelah itu barulah ditiupkan ruh kedalam jasadnya. Dalam satu riwayat Allah memerintahkan malaikat untuk mengambil ruh dari tempatnya kemudian dibawa kedalam syurga untuk disucikan kemudian Allah memerintahkan ruh untuk masuk kedalam tubuh manusia, dengan rasa tunduk kepada Allah ruh itu menolak masuk kedalam jasad manusia karena ruh adalah unsur yang halus dan suci titisan dari manusia yang sempurna yaitu Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat masuk kedalam tempat yang penuh dengan dosa dan kegelapan. Allah berfirman: "Kau Saya paksa masuk kedalam jasad manusia dan untuk mengeluarkannyapun Aku paksa". Ruh mulanya masuk melalui hidung pada masa 40 th kemudian naik ke otak, kemudian mengisi kepala dan leher, kemudian turun ke dada dan pusat, kedua tangan dan kaki sampai tersebar keseluruh tubuh membentuk darah.
Allah menciptakan manusia dengan sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai power untuk menghidupkan seluruh anggota badan, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal yang irasional, anggota tubuh seperti panca indra yang hanya dapat merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan pernghalangnya. Dari semua anggota tubuh manusia hanya Hati yang dapat menerima sesuatu yang mutlak dari Allah yang maha kuasa karena hati adalah sebagai tuan dari anggota tubuh, semua aktivitas anggota tubuh digerakkan oleh hati dan hati adalah Allah yang menggerakkan.
Kelebihan Allah yang diberikan kepada Manusia
" Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya " (QS.Al Bayyinah:4-6).
" Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi manusia kebanyakan tidak bersyukur " (QS.Al Baqarah:243), (Al Mu'min:61), (Yunus:60).
" Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hamba Nya " (QS.Al Baqarah:90).
Allah telah menyediakan dan memberikan beberapa kelebihan untuk manusia sehingga manusia yang asal mulanya sama diciptakan dari tanah kemudian mempunyai tingkat kelebihan yang berbeda disisi Allah karena ketaqwaan dan usaha mereka untuk mencapai kehadhirat-Nya. Kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia diluar adat kebisaan manusia biasa (Khariqul Adat) dan diluar akal manusia, sehingga manusia yang mendapat kelebihan dapat berbuat diluar adat dan akal manusia.
- Para Rasul mendapat kelebihan Mu'jizat dengan jalan mendapat Wahyu dari Allah untuk bekal da'wah menegakkan agama Tauhid dan memberantas kemusyrikan.
Katakanlah: " Sesunggguhnya aku ini ( asalnya ) hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku. Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa " (QS. Al Kahfi:110 ).
" Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan Dia) dan sebagian- sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa Mu'jizat serta kami perkuat mereka dengan Ruhul Qudus " (QS. Al Baqarah:253)
- Para Nabi mendapat kelebihan Irhash dengan jalan mendapat Ilham dari Allah untuk bekal da'wah menegakkan kebenaran dan menghapuskan kejahatan.
" Dan sesungguhnya telah kami lebihkan sebagian Nabi-nabi itu diatas sebagian ( yang lain ) dan kami berikan Zabur kepada Daud " (QS. Al Isra:55).
- Para wali mendapat Karomah dengan jalan Mujahadah dan Riyadhoh yang tinggi dalam menjalankan pengetahuan tasauf hingga mencapai Ma'rifat kepada Allah. Hubungan para wali dengan Allah sudah sangat harmonis sehingga segala kelakuan mereka dalam ketentuan Allah tanpa ada pengaruh syaitan, hawa Nafsu dan keduniaan. Banyak kita temui Karomah para wali dijagat raya ini yang diluar kemampuan akal dan fisik manusia biasa untuk membuktikan keagungan dan kebenaran Allah.
" Ingatlah,sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa " (QS. Yunus:62-63)
- Para shalihin (orang-orang yang salih) mendapat Ma'unah karena ketaqwaan mereka kepada Allah dan Istiqomah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhkan laranganNya.
" Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu " (QS. Al Hujarat:13).
" Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan " (QS.Al Mujadilah:11).
" Dan Allah mempunyai kelebihan ( yang dicurahkan ) atas orang-orang yang beriman " (QS. Ali Imran:152).
- Orang-orang yang Kafir atau Fasik mendapat Istidroj yaitu kelebihan yang luar biasa yang menyalahi adat kebisaan manusia dengan jalan bersekutu dengan syaitan atau Jin kafir sebagai uluran azab Allah karena kekafiran atau kefasikan mereka.
" Dan kami lebihkan mereka (Bani Israil) atas yang lain didunia ini " (QS. al Jatsiyah:16)
=>
militiaman
November 13, 2008, 08:41
Perintah mencari kelebihan Allah
" Tetapi Allah mempunyai karunia ( yang dicurahkan ) atas semesta alam " (QS. Al Baqarah:251).
" Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari kelebihanNya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu " (QS. Annisa:32).
" Dia akan memberi pada tiap-tiap orang yang mempunyai kelebihan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari qiamat " (QS. Huud:2).
Ada dua cara untuk memperoleh Kelebihan Allah:
1. Wahbi atau Ladunni : yaitu kelebihan Allah yang diperoleh dengan jalan wahyu atau ilham tanpa ada usaha, mudah dan cepat mendapatkannya karena langsung dari Allah. Seperti, para Rasul dengan wahyu, Nabi dengan ilham.
2. Kasbi atau Ikhtiyari : yaitu kelebihan Allah yang diperoleh dengan usaha yang keras, sulit mendapatkannya dan dalam waktu yang relatif lama. Seperti, kelebihan orang shalih yang diperoleh dengan istiqomah beribadah atau menjalankan tasauf dengan Mujahadah dan Riyadhoh yang tinggi.
Setiap manusia dapat memperoleh kelebihan yang Allah sediakan untuknya asalkan mereka mampu menjalannya dengan baik dan hati yang bersih atau Allah memberikan langsung dengan mudah tanpa usaha melalui wahyu atau ilham. Dalam usaha memperoleh kelebihan Allah, ada beberapa tingkat perbedaan manusia sesuai dengan akal dan kebisaan mereka.
1. Hati anak kecil yang belum sempurna menerima petunjuk Allah, ia dapat mengalami keajaiban Tuhan tetapi tidak dapat mengimpretasikan apa-apa yang dialaminya.
2. Hati yang kotor karena berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu sehingga tidak dapat menerima kelebihan Allah sebelum dibersihkan terlebih dahulu.
3. Hati yang labil masih bimbang mencari sesuatu keduniaan walaupun selalu beribadah belum dapat menerima hakikat ke-Tuhanan kecuali ia meninggalkan kesibukan dunia.
4. Hati yang bodoh terhadap hakikat ke-Tuhanan ia beribadah tetapi tidak mempelajari tentang hakikat ke-Tuhanan Allah yang sebenarnya atau ia tidak mencari hakikat ke-Tuhanan Allah.
5. Hati yang terhijab karena pengaruh pengetahuan atau mengikuti sesuatu ajaran / dogma yang dapat menutup hatinya dari hakikat ke-Tuhanan Allah.
Hati sebagai Wadah Perwujudan Kelebihan Allah
Definisi :
Hati menurut ilmu kedokteran adalah darah hitam yang beku mempunyai bentuk tersendiri letaknya disebelah kiri dada (Heart) berfungsi sebagai penetral darah. Tetapi Imam Al Gazali tidak berbicara tentang bentuk dan fungsinya menurut ilmu kedokteran hanya berbicara menurut pandangan ilmu kebathinan (Tasauf). Hati menurut pandangan Tasauf adalah unsur halus yang bersifat ke-Tuhanan dan metafisik yang berada pada bentuk hati yang bersifat jasmani.
Lima Pokok Fungsi Hati
1. Allah Mengetahui Hati Manusia
" Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada didalam hati mereka " (QS. Annisa:62).
" Dia mengetahui ( pandangan ) mata yang khianat dan apa yang tersembunyikan oleh hati mereka " (QS.Al Mu'min:19).
Manusia hanya dapat memandang sesuatu secara zhahir (nyata) saja tidak dapat menembus apa yang ada dalam hati, maka manusia sering kali tertipu dengan penampilan atau fatamorgana yang sebenarnya menurut pandangan Allah adalah berlainan. Niat dan Prasangka (Zhon) yang menjadi Barometer Allah dalam menilai baik dan buruknya manusia.
Sabda Nabi: " Amal itu hanya tergantung dengan niat " (HR. Bukhari-Muslim).
" Niat seorang mu'min untuk nilai amalnya " (HR. Abu Daud).
" Aku tergantung prasangka hambaKu kepadaKu dan Aku beserta hambaKu apabila ia berzikir kepadaKu " (HR. Bukhari).
2. Tempat Pemandangan Allah
"Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupa dan tubuh kamu dan tidak pada harta kamu, tetapi Allah memandang hati dan amal kamu" (HR.Muslim).
Al Gazali berkata: "Saya heran manusia sangat mengutamakan kebersihan dan keindahan tubuh sedangkan hatinya tidak mereka bersihkan dari kotoran-kotoran bathin dan maksiat, padahal Allah hanya memandang hati mereka sebagaimana firman Allah " (QS. Asy-Syams:7-10).
3. Hati Sebagai Penggerak Jiwa dan Semua Anggota Tubuh
Hati di ibaratkan sebagai tuan dan jasad adalah budaknya atau sebagai pemimpin yang mengatur rakyatnya atau sebagai pemilik sesuatu yang dapat melakukan apa saja terhadap yang dimilikinya. Jadi hati adalah pemula yang mengatur dan menggerakkan semua aktivitas anggota tubuh. Jika hati baik maka akan baik pula kelakuan anggota tubuhnya sebaliknya jika hati buruk maka buruk pula kelakuan anggota tubuh dan gerakan hati atas Irodat Allah.
Sabda Nabi: " Sesungguhnya didalam jasad manusia ada segumpal darah apabila segumpal darah itu baik maka baik pula sekalian anggota tubuh sebaliknya, apabila buruk maka buruk pula anggotanya, ketahuilah yaitu hati " (HR. Bukhari-Muslim).
4. Hati adalah Wadah untuk Menampung Keistemewaan Allah
Kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia tertampung dalam wadah yang mulia yaitu hati. Kelebihan Allah yang ada pada hati manusia adalah akal, Bashiroh (Mata bathin), Niat, Pengetahuan Ilahi / Hikmah dan yang tertinggi adalah Ma'rifat.
> Keutamaan Akal
Akal adalah anggota tubuh yang dapat mengetahui segala hakikat sesuatu secara Rasional dan dapat mempertimbangkan sesuatu yang benar dan yang salah, akal hanya dapat mengetahui hal-hal yang Empiris dan rasional, akal berfungsi berdasarkan gerakan hati. Keputusan akal sering bertentangan dengan kemauan hawa nafsu, karena hawa nafsu selalu mengajak kepada hal yang buruk, akal mempertimbangkan akibat baik atau buruknya.
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui " (QS. Al Baqarah:216)
> Keutamaan Bashiroh
Bashiroh lebih dikenal dengan istilah mata Bathin atau indra keenam dari indra manusia yang lima. Bashiroh menurut ahli tasauf adalah kekuatan yang ada pada hati dengan cahaya Allah yang dapat melihat sesuatu yang zhahir dan yang bathin. Setiap manusia mempunyai Bashiroh yang dapat difungsikan dengan mempelajari ilmu kebatinan dan dilatih untuk melihat sesuatu yang metafisik dengan cara gaib. Misalnya mendeteksi penyakit yang ada dalam tubuh manusia atau meneropong sesuatu yang telah lalu hilang tanpa diketahui keberadaannya.
" Barangsiapa melihat kebenaran maka ( manfaatnya ) bagi dirinya sendiri dan barangsiapa buta maka kemudharatannya kembali kepadanya " (QS. Al An'am:104)
> Keutamaan Niat
Niat adalah maksud mengerjakan sesuatu disertai dengan pekerjaan, seperti, Niat shalat disertai dengan Takbiratul ihram. Tempat niat adalah di dalam hati oleh karenanya niat mempunyai fungsi utama didalam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak sah ibadah yang tidak disertai dengan niat.
" Amal itu hanya tergantung dengan niat dan sesungguhnya amal setiap orang sesuai dengan apa yang diniatkannya " (HR. Bukhari-Muslim)
> Keutamaan Hikmah
" Allah menganugerahkan al Hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahkan al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran " (QS. al Baqarah:269). Al Hikmah adalah kesempurnaan jiwa seorang dalam pengetahuan sesuatu rahasia dan hukum Allah. Seseorang yang diberikan Allah Hikmah maka ia adalah manusia yang luar biasa karena dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah.
> Keutamaan Ma'rifat
Ma'rifat adalah mengenal yang hak pada segala Asma dan sifatNya dengan sebenar-benarnya. Ma'rifat adalah keistimewaan yang tertinggi yang ada pada hati, karena seseorang yang sudah ma'rifat hubungan antaranya dan Allah sudah sangat dekat dan harmonis hingga dirinya menyatu dengan Allah, sifatnya adalah sifat Allah dan semua aktivitasnya adalah qudrat Allah.
" Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya " (al Hadits). Abu Ali Addaqaq berkata: " Kehidupan orang yang Arif selalu tenang tidak ada rasa takut atau bersedih hati dan tingkah lakunya menunjukkan kehebatan Allah ".
5. Hati Mempunyai Lima Kelebihan Yang Tidak Ada Pada Anggota Tubuh yang lain
a. Tempat persaingan iman dan syaitan untuk menguasai
b. Pengendali gerakan akal dan hawa nafsu
c. Penggerak anggota tubuh
d. Obat untuk memperbaiki hati sangat sulit
e. Banyak penyakit hati
Pengetahuan hati lebih utama dibanding pengetahuan akal atau panca indra, karena pengetahuan akal atau indra obyeknya terbatas hanya bersifat Empiris dan Rasional dan sering tertipu oleh obyek yang sedang diamati atau bersifat Spekulatif yang sering mengundang kontradiksi diantara para ilmuwan. Pengetahuan hati mempunyai tiga kelebihan:
Pengetahuan hati tidak terbatas pada sesuatu yang bersifat Empiris dan Rasional tetapi dapat mengetahui sesuatu yang Metafisik dan yang maha Muthlak.
Pengetahuan hati dibimbing oleh Ilahi dengan Wahyu, Intuisi dan Hidayah.
Hati tempat penilaian Tuhan untuk semua amal manusia.
Penghalang Dalam Menerima Kelebihan Allah
Syaitan selalu berusaha untuk menghalangi usaha manusia dalam mencapai kelebihan Allah dengan bermacam halangan agar manusia tidak dipandang oleh Allah dan jauh dari rahmatNya. "Syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan" (QS.Al Baqarah:268). Ada beberapa penghalang yang menghalangi manusia untuk mencapai kelebihan Allah :
Perbuatan Maksiat
Mengikuti Hawa nafsu
Cinta pada dunia
Mengikuti dogma / ajaran yang dilarang agama.
Oleh: Al Ustadz Achmad Yani, SAg.
Yayasan NurSyifa'
militiaman
November 21, 2008, 02:09
Siapa yang masuk syurga lebih dahulu?
Dikisahkan ada 3 orang yang mengantri dipintu syurga, mereka adalah Ulama, Mujahid dan Orang Kaya. Mereka saling mempersilahkan satu dengan lainnya untuk masuk kedalam indahnya syurga.
Siorang kaya dan ulama mempersilahkan kepada Mujahid untuk masuk terlebih dahulu, "Hai, Sayed, silahkanlah masuk terlebih dahulu, karena Allah telah menjanjikan syurga untukmu atas syahidmu kepadaNya."
Tetapi simujahid menolaknya dengan halus, "Maaf, silahkanlah tuan Ulama yang terhormat masuk dahulu, karena saya tidak akan tahu keutamaan dari berjihad tanpa pengetahuan darinya."
Akhirnya mereka mempersilahkan untuk sang ulama untuk memasuki pintu syurga. Tetapi ketika siulama tadi akan masuk dan melangkahkan kakinya kepintu syurga, tiba-tiba ia kembali mundur dan berkata kepada siorang kaya, "Hai Fulan, rasanya engkaulah yang paling pantas untuk masuk kesyurga terlebih dahulu, karena berkat bantuanmulah dengan membangun rumah-rumah ibadah, sehingga saya memiliki peranan dalam syiar agama. Dan akhirnya siSayed mau berjihad karena Allah. Itu juga berkatmu."
Akhirnya, jadilah siorang kaya yang masuk kedalam syurga indah terlebih dahulu. Subhanalloh.
http://www.paranormal.or.id/article.php?sid=184&mode=thread&order=0
militiaman
November 21, 2008, 02:13
Tiga Kyai Pelacur
Perjalanan sufistik 3 orang Kyai dalam mendapatkan petunjukNya melalui kemerdekaan sufistik. Subhanalloh.
Kyai Kota Surabaya
Kyai Khoiron, sudah populer sebagai kiainya para pelacur di Surabaya. Sehari-hari ia menjadi guru ngaji, konsultasn psikhologi dan bapak, kakak, sahabat yang sangat akrab dengan gemuruh jiwa para pelacur yang bergolak. Dua puluh tahun silam, diam-diam ia dirikan sebuah pesantren di komplek pelacuran terbesar di Surabaya. Dan saat ini ada tujuh ratus anak-anak pelacur itu nyantri di pesantrennya.
Jika senja mulai tiba, gincu-gincu mengoles bibir para pelacur itu, dengan segala sapaan manja pada hidung belang, sementara suara musik keras mendentang memenuhi komplek pelacuran itu, di sudut komplek pelacuran itu terdengar suara bocah-bocah mengaji, meneriakkan halawat Nabi dan berzanji. Keduanya berjalan damai.
“Saya tidak pernah melarang mereka melacur. Saya juga tidak memarahi mereka. Saya hanya menyiapkan ruang jiwa mereka. Sebab mereka melacur paling lama sepuluh tahun. Setelah? Mereka pasti berhenti. Mereka perlu kesiapan mental, keimanan dan sikap optimis kepada Tuhan,” katanya.
“Pesantren anda ini?”
“Memang, pesantren ini saya konsentrasikan untuk membina anak-anak mereka yang tak berdosa. Mereka harus tumbuh dengan jiwa yang merdeka, tanpa konflik, tanpa masa lalu dan trauma-trauma.”
***
>>>
militiaman
November 21, 2008, 02:13
Kyai Kota Malang
Lain lagi dengan seorang Kiai di dekat kota Malang. Kiai Mulana, sudah dikenal sebagai seorang kiai Thariqat dengan jama’ah ribuan. Suatu hari ia tertimpa gejala psikhologi yang begitu aneh: Rasa takut mati yang berlebihan. Selama enam bulan ia terus menerus menangis, seakan-akan Malaikat Maut membuntutinya. Ia juga heran kenapa harus takut mati?
Saking takutnya, Kiai Mulana mendatangi guru Mursyidnya. Dengan serta merta gurunya menyambut dengan sambutan yang cukup kontroversial. “Soal penyakitmu itu gampang obatnya. Mulai besok kamu pergi saja setiap hari ke komplek pelacuran!”
“Bagaimana pak Kiai ini, kok saya malah harus main-main dengan pelacur. Apakah ini tidak bertentangan dengan syari’at?” kata Kiai Mulana dalam hatinya. Belum sempat ia meneruskan fantasinya, gurunya sudah memotong:
“Dun!, Lihatlah mulutku ini!”
Begitu melihat mulut gurunya, yang tampak adalah lautan luas tak bertepi. Kyai Mulana hanya terperangah. Diam-diam ia menyesal. Kenapa soal-soal hakikat kehidupan harus ia pertanyakan lewat syariat kepada gurunya? Diam-diam pula hatinya menangis. Tapi juga muncul rasa ngeri, kenapa harus main-main dengan pelacur?
Tapi Kyai Mulana tidak mau membantah perintah gurunya. Pagi-pagi Kiai ini sudah menghilang dari rumahnya. Ia cari komplek pelacuran yang jauh dari daerahnya. “Jalan penyembuhan” ini ia lakukan hampir setiap hari, sampai pelacur seluruh komplek itu kenal benar dengan Kyai Mulana. Bahkan kadang, seharian penuh ia berada di tengah para perempuan penghibur itu, sambil mengingat-ingat, apakah rahasia dibalik perintah gurunya itu.
Suatu pagi, ketika ia datang ke komplek langganannya, tiba-tiba ada kakek-kakek tua, baru saja keluar dari sebuah kamar pelacur. Ia sangat kaget, melihat kakek yang sudah uzur, dan mendekati ajal itu, masih sempat ke komplek pelacuran. Bahkan dengan wajah berseri, riang gembira, layaknya anak muda, sang kakek penuh percaya diri layaknya anak muda.
“Iya, ya. Kakek ini sudah tua renta, kok tidak takut mati. Bahkan ia jalani kehidupan tanpa beban. Saya yang masih muda kok takut mati. Kualitas iman macam apa yang saya miliki ini?” katanya Kiai Mulana dalalam hati.
Dengan wajah terangguk-angguk, Kiai Mulana merasa mendapat pelajaran dari Kakek tua renta itu. Dan seketika pula rasa takut matinya hilang begitu saja. Sembuh!
***
>>>
militiaman
November 21, 2008, 02:14
Kyai Kota Nganjuk
Lain lagi dengan Kyai Marwan, dari Nganjuk. Kiai ini sudah hampir mendekati lima puluh tahun usianya, tetapi masih membujang. Keinginan untuk konsentrasi sebagai Kyai tanpa menghiraukan urusan dunia termasuk wanita, membuatnya menjadi bujang lapuk. Tapi soal kebutuhan penyaluran syahwat, tetap saja mengusik setiap hari. Apalagi kalau ia berfikir, siapa nanti yang mneneruskan pesantrennya kalau ia tidak punya putra?
Dengan segala kejengkelan pada diri sendiri dan gemuruh jiwanya, akhirnya Kiai Marwan istikhoroh, mohon petunjuk kepada Allah, siapa sesungguhnya wanita yang menjadi jodohnya?
Petunjuk yang muncul dalam istikhoroh, adalah agar Kyai Marwan mendatangi sebuah komplek pelacuran terkenal di daerahnya. “Disanalah jodoh anda nanti…” kata suara dalam istikhoroh itu.
Tentu saja Kyai Marwan menangis tak habis-habisnya, setengah memprotes Tuhannya. Kenapa ia harus berjodoh dengan seorang pelacur? Bagaimana kata para santri dan masyarakat sekitar nanti, kalau Ibu Nyainya justru seorang pelacur? “Ya Allah…! Apakah tidak ada perempuan lain di dunia ini?”
Dengan tubuh yang gontai, layaknya seorang yang sedang mambuk, Kyai Marwan nekad pergi ke komplek pelacuran itu. Peluhnya membasahi eluruh tubuhnya, dan jantungnya berdetak keras, ketika memasuki sebuah warung dari salah satu komplek itu. Dengan kecemasan luar biasa, ia memandang seluruh wajah pelacur di sana, sembari menduga-duga, siapa diantara mereka yang menjadi jodohnya.
Dalam keadaan tak menentu, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang cantik, berjilbab, menenteng kopor besar, memasuki warung yang sama, dan duduk di dekat Kyai Marwan. “Masya Allah, apa tidak salah perempuan cantik ini masuk ke warung ini?” kata benaknya.
“Mbak, maaf, Mbak. Mbak dari mana, kok datang kemari? Apa Mbak tidak salah alamat?” tanya Kyai Marwan pada perempuan itu.
Perempuan itu hanya menundukkan mudanya. Lama-lama butiran airmatanya mulai mengembang dan menggores pipinya. Sambil menatap dengan mata kosong, perempuan itu mulai mengisahkan perjalanannya, hingga ke tempat pelacuran ini. Singkat cerita, perempuan itu minggat dari rumah orang tuanya, memang sengaja ingin menjadi pelacur, gara-gara ia dijodohkan paksa dengan pria yang tidak dicintainya.
“Masya Allah….Masya Allah…Mbak.. Begini saja Mbak, Mbak ikut saya saja. …” kata Kiai Marwan, sambil mengisahkan dirinya sendiri, kenapa ia pun juga sampai ke tempat pelacuran itu. Dan tanpa mereka sadari, kedua makhluk itu sepakat untuk berjodoh.
Tiga Kiai tersebut, sesungguhnya merupakan refleksi dari rahasia Allah yang hanya bisa difahami lebih terbuka dari dunia Sufi. Kiai Khoiron yang menjadi kiai para pelacur, sesungguhnya wujud dari kemerdekaan Sufistik pada kepribadian seseorang yang berani menerobos dinding-dinding verbalisme kultur agama, sebagaimana misteri Kyai Mulana, yang harus sembuh di komplek pelacuran. Juga nasib bidadari yang ditemukan Kiai Marwan di komplek pelacuran itu. Semuanya menggambarkan bagaimana dunia jiwa, dunia moral, dunia keindahan dan kebesaran Ilahi, harus direspon tanpa harus ditimbang oleh fakta-fakta normatif sosial yang terkadang malah menjebak moral seorang hamba Allah.
Sebab tidak jarang, seorang Kiai, sering mempertaruhkan harga dirinya di depan pendukungnya, ketimbang mempertaruhkan harga dirinya di depan Allah. Dan begitulah cara Allah menyindir para Kiai, dengan menampilkan tiga Kiai Pelacur itu.
http://www.paranormal.or.id/article.php?sid=278&mode=thread&order=0
militiaman
December 03, 2008, 07:37
IKHTIAR DAN DO’A
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahrirrijal.”
(Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang).
***
Al-Imam Al-Syahid Hassan Al-Banna seorang aktifis pergerakan Ikhwanul Muslimin dan tokoh ulama Mesir mencantumkan untaian do’a di atas dalam kitabnya “Al-Matsurat” yang berisi kumpulan dzikir dan do’a bagi kaum muslimin terutama yang bergerak langsung dalam bidang da’wah, karena mereka akan banyak me-ngalami tantangan dari berbagai arah, bahkan dijelaskan dalam “Al-Wazhifat Al-Kubra” (Ke arah memahami Al-Matsurat) bahwa dengan mengamalkan wirid qurani, wirid matsurat dan do’a rabithah, jiwa, akal, emosi dan jasad para pengemban da’-wah akan memperoleh curahan rahmat dan berkah serta akan meneguhkan ikatan ukhuwah Islamiah dengan pemahaman dan pengamalan kandungannya.32
Ketika manusia lahir ke dunia ini semuanya sama lemah tidak berdaya dan hanya berbekal harapan hidup. Kemudian jalan hidup pun kita jalani dengan kompetisi menuju satu maksud dan tujuan yaitu meraih kebahagiaan, sehingga satu sama lain mempunyai pengalaman yang berbeda, status sosial yang tidak sama serta tingkat kehidupan yang beragam.
Sering kita saksikan suasana kehidupan yang sangat mencolok, namun hal ini jangan dijadikan kecemburuan sosial yang menimbulkan pertenta-ngan kelas di masyarakat. Tapi juga jangan dibiarkan menjadi sebuah kewajaran yang tidak teratasi. Status hidup sangat ditentukan oleh besar tidaknya usaha manusia ke arah perubahan yang lebih baik, sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.” 33 Namun seberapa besar upaya manusia merubahnya, tidak bisa lepas dari keputusan yang Maha Kuasa. Karenanya, ikh-tiar manusia tidak cukup dengan ikhtiar badani saja, tapi harus dibarengi dengan permohonan ke-kuatan mencapai apa yang diharapkan. Jadi, ikh-tiar dalam kasab dan ikhtiar dalam do’a mutlak harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mengu-bah keadaan hidupnya.
Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi dijelaskan peran ibadah (baca: do’a) sangat besar dalam kehidupan seorang manusia. Firman Allah: “Wahai anak cucu Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku pasti hatimu akan kucurahkan ketenteraman dan lebar dada serta aku akan menutupi keadaanmu. Tapi jika kamu tidak beribadah ke-pada-Ku,
>
militiaman
December 03, 2008, 07:37
Aku akan bebankan kepadamu kesibukan-kesibukan dan tidak pernah Kututupi kebutuhanmu.” 34
Manusia kerap mengalami ketegangan dalam berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat sekelilingnya, baik secara langsung atau akibat lain yang membebani langkahnya. Karena itu Allah SWT dengan kemurahan-Nya membekali manusia dengan akal dan bimbingan wahyu yang secara lengkap diberikan contoh figur Rasulullah SAW.
Tapi setelah mengalami perjalanan hidupnya, banyak manusia yang tergoda oleh sampah duniawi dan terjerumus dalam perangkap Iblis la’natullah, sehingga menyimpang dari tujuan pokok yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi manusia sesat yang kehilangan pegangan. Sebab itu hubungan dengan Allah perlu diperkuat agar mendapat kemantapan dalam jiwanya. Manusia disuruh agar senatiasa berdo’a dan bermunajat kepada-Nya dengan memohon petunjuk-Nya setiap saat.
Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid, dilihatnya seorang shahabat duduk tepekur berdzikir, terlihat khusyu’ dengan mata dibasahi air mata kebimbangan. Setelah didekati, ternyata dia adalah Abi Umamah Al-Bahily salah seorang shahabat yang dikenal tegar memperjuangkan dan membela Islam. Rasul pun bertanya: “Apa gera-ngan yang menyebabkan kedukaan ini ?” Diapun berkisah: ”Wahai Rasulullah, aku ini seorang yang terlilit hutang teramat banyak sehingga aku tidak mampu melunasinya.” Rasulullah tertegun, kemudian bersabda; “Maukah kau kuajarkan sebuah do’a yang bisa membuat hatimu tenteram dan menghilangkan kegelisahanmu ?” Abu Umamah mengangguk, maka Rasulullah membacakan do’anya: “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahririjal.” (Ya Allah, aku ber-lindung kepada-Mu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang).
Ternyata do’a pendek itu mampu membangkitkan gairah hidup Abu Umamah yang hampir terperosok dalam jurang keputusasaan dan rasa stress yang kronis. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyingsingkan lengan bajunya untuk meng-aplikasikan do’a yang telah dia terima dari seorang utusan yang agung. Dia memahami betul makna dan maksud do’a yang sarat hikmah dan nasehat yang tinggi nilainya. Akhirnya dia menjadi seorang shahabat yang selalu optimis menghadapi kehidupan dan tidak pesimis atau putus asa dengan keadaan yang telah menimpanya, sehingga ia termasuk salah seorang yang disebutkan dalam Al-Quran “Yaitu mereka yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami memberi petunjuk kepada mereka dan sesungguhnya Allah bersama orang yang berbuat baik.” 35
Al-hammi dalam do’a di atas adalah rasa khawatir dan resah menghadapi kejadian yang akan menimpa sebelum terjadi. Pepatah mengatakan “kalah sebelum bertanding”, akibatnya selalu meng-ganggu pikiran dan menjadi beban hidup. Seharusnya seorang mu’min tidak gelisah menghadapi masa depan dan selalu berkeyakinan Al-ghadd biyadillah (masa depan di tangan Allah), sehingga tetap optimis menghadapi masa depan dengan usaha semaksimal mungkin.
>>
militiaman
December 03, 2008, 07:38
Al-Hazan adalah kebingungan atas apa yang telah terjadi, terus larut dalam kesedihan yang ber-kepanjangan. Akibatnya jalan hidup tertutup dan hidup hanya berandai-andai dalam lamunan ham-pa. Sebuah sya’ir Arab menyebutkan:”Yang lalu biarlahlah berlalu, masa depan belumlah tahu, yang ada hanyalah sekarang yang sedang kau jalani.”
Al-’Ajzi ialah perasaan lemah tidak berdaya. Melihat orang lain maju tidak jadi pemicu gairah kerja, tetapi menimbulkan rasa rendah diri dan ketidakmampuan. Padahal setiap manusia diberi kelebihan dari yang lainnya.
Al-Kasal artinya tidak punya kemauan atau sifat malas yang tanpa alasan. Rasa malas ini lahir ketika melihat pekerjaan yang dia pandang tidak sanggup melaksanakannya. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan kerja sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, sehingga semangat kerja tetap stabil dan bergairah selalu.
Al-Bukhli berarti kikir, di mana seseorang telah meraih apa yang dicita-citakan, dia lupa daratan dan tidak ingat kejadian asalnya serta melupakan jasa orang kecil yang membantunya mencapai kesuksesan.
Al-Jubn adalah sifat rakus dan pengecut akibat rasa takut hilangnya harta atau jabatan yang ada dalam genggamannya. Berat rasanya dia tinggalkan kekayaan yang dia raih. Akibatnya menjadi seorang manusia yang diliputi rasa takut dan muncul sifat sombong dengan hasil usahanya tersebut.
Ghalabatu dain ialah terlilit hutang seperti yang terjadi pada Abu Umamah. Dengan menghindari diri dan berlindung kepada-Nya dari sifat Al-Hamm, Al-Hujn, Al-’Ajzi, Al-Kasal, Al-Bukhl dan Al-Jubn akan mudahlah dia menyelesaikan masa-lahnya serta bisa melunasi hutang-hutangnya.
Yang terakhir ialah Qahr ar-Rijal yaitu mohon perlindungan dari penindasan manusia disebabkan menurunnya martabat karena berhutang, menge-mis dan lain-lain. Dengan permohonan ini, ia akan menjadi manusia yang terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia.
Demikianlah, apabila manusia dapat menjauhi sifat-sifat di atas dan mengamalkannya baik dalam do’a maupun ikhtiar, pastilah akan tercapai kebahagiaan yang diharapkan serta hilanglah rasa tertekan atau stress yang menjadi penyakit masyarakat modern sekarang ini dan menjadi manusia yang selalu optimis menghadapi masa depan. Insyaallah.
http://oryza.blogsome.com/2006/01/13/ikhtiar-dan-do’a/
AlfaOmega
December 04, 2008, 03:16
Mengapa Engkau Menjual Jabatanmu? (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/mengapa-engkau-mengeksploitasi-jabatanmu.htm)
oleh Mashadi
Jumat, 28/11/2008 13:39 WIB
Waktu terus berjalan. Pergantian waktu yang tak pernah berhenti. Orang-orang yang pagi itu datang ke Masjid Kufah, bertemu dengan Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, satu persatu , mereka pergi meninggalkan tempat yang mulia itu. Masjid Kufah, masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah, ketika Beliau pertama berada di Madinah.
Mereka yang telah datang, dan bertemu dengan pujaannya itu, pergi, dan entah kemana? Mereka merasa sangat bersyukur, saat bertemu dengan orang yang mereka muliakan, Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam. Hari-hari yang ada, tak pernah sepi, silih berganti orang-orang yang berkunjung ke masjid Kufah. Sebuah pemandangan yang indah, ketika awal da’wah itu di mulai.
Rasa mahabbah (cinta) yang tak berujung. Kerinduan yang selalu menyapa diantara mereka. Kesatuan hati yang tak pernah pupus oleh waktu dan peristiwa. Mereka selalu berpaut dalam satu ikatan tali ‘buhul’ yang kokoh, yaitu aqidah. Mereka saling tolong menolong. Mereka saling berkorban. Mereka berlomba-lomba dalam kebajikan. Mereka hanya ingin mendapat pujian dari Rasulullah, atas sikap taqwanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Semua itu, bukanlah sebuah dongeng. Pernah terjadi dalam kehidupan orang-orang mukmin. Benar-benar sebuah fakta kehidupan. Pernah terjadi dalam sejarah, yang dibingkai oleh mereka yang bersama Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam, mereka yang disebut para ‘assabiqunal awwalun’.
Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam adalah orang yang dipercaya, mempunyai sifat sidq, mempunyai sifat amanah, tidak pernah berkhianat dalam kehidupannya, tidak pernah mengurangi dan menambah ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah Azza Wa Jalla, lewat Malaikat Jibril, maka memiliki sifatnya tabligh, dan memiliki sifat fatonah, cerdas dalam arti yang sesungguhnya. Ketaatan dan keikhlasan, bersifat total terhadap semua yang diperintahkan oleh Rabbnya, tak pernah sedikitkan mengingkari atau berusaha meninggalkannya.
Tak pernah berkeinginan ‘menjual’ atau ‘mengeksploitasi’, gelar yang disandangnya. Semua kehidupan dijalani dengan tulus. Arah hidupnya jelas. Karena, memang Rasulullah adalah utusan Allah Azza Wa Jalla, agar mengarahkan manusia, hidup dibawah naungan Islam. Maka, ketika awal dakwah ini berjalan, dan orang-orang kafir dan munafik, tidak menyukai dakwahnya, dan berusaha menghalang-halanginya, tak pernah dihiraukannya. Sampai mereka orang-orang kafir dan manufik, menawarkan segala yang menjadi keinginan manusia berupa jabatan, harta, dan wanita, yang palign cantik diantara kaum kafir Qurays, dan sangat tegas Rasulullah, tak pernah mau menerima.
Sangat terkenal dalam sejarah, sikap Rasulullah, ketika menerima tawaran dari orang-orang kafir dan munafiq Qurays, agar Rasulullah meninggalkan dakwah, dan dengan imbalan jabatan, harta dan wanita. Rasulullah menjawab : “Sekiranya mereka meletakkan matahari ditangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan misi dakwahku, tidak pernah akan aku tinggalkan dakwah ini, atau aku hancur bersamanya”, ujarnya. Rasulullah Shallahu alaihi wa salam adalah tauladan dalam memegang teguh amanah risalah yang diterimanya dari Allah Rabbul Alamin. Tak pernah tergoda oleh kehidupan dunia, yang tidak seberapa,dibandingkan dengan kehidupan akhirat, yang kekal abadi.
Maka, suatu ketika, ada seorang sahabat yang bernama Abu Hamid Abdurrahman bin Sa’ad as-Saa’idy, yang menceritakan, bahwa Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, menugaskan seorang dari kabilah al-Azd yang bernama Ibnu al-Latiiban untuk mengumpulkan zakat. Ketika, ia datang membawa hasil zakat yang dikumpulkannya, ia berkata : “Ini untuk kalian, dan yang ini hadiah milikku”, ujarnya. Mendengar hal itu, Rasulullah, bangkit berdiri dan menyampaikan khotbah diatas mimbar : “Amma ba’du… Aku menugaskan salah seorang diantara kalian untuk menjalankan pekerjaan yang dibebankan oleh Allah kepadaku. Ia lalu datang dan berkata : “Ini untuk kalian, sedang yang ini hadiah milikku”. Jika ia benar, mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak atau ibunya, sehingga ia diberi hadiah? Demi Allah, tidak ada seorangpun dari kalian yang mengambil sesuatu tanpa hak, kecuali ia bertemu Allah sambil membawa ‘korupsinya’ itu dihari kiamat. Aku tidak ingin melihat seseorang dari kalian bertemu Allah membawa unta yang bersuara, sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembek”.
Dari khotbah diatas, Rasulullah telah menetapkan sebuah hukum yang harus diterapkan, yaitu hukum : “Dari mana kamu dapatkan ini”, yang harus dijadikan sebagai asas dalam seluruh ‘muhasabah’ (menghitung), yaitu perlu ada kejelasan setiap penerimaan harta yang diperoleh, sehingga tidak ada kekayaan dari hasil penyelewengan atau kekayaan yang didapat sifatnya illegal dari jabatan yang dimiliknya. Orang yang merenungkan masalah ini akan memperhatikan sabda Rasulullah : “Jika ia benar, mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak atau ibunya, sehingga ia diberi hadiah”. Tentu, jika ia tidak mempunyai jabatan atau kekuasaan apa-apa, siapa yang akan memberinya hadiah? Maka, jika ia hanya duduk di rumah, dan tidak memiliki jabatan dan kedudukan, niscaya ia selamanya tidak akan menjadi orang kaya dengan cara yang tidak jelas. Hendaknya, orang seperti ini, yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, memperhatikan sabda Rasulullah : “Tidak ada seorangpun dari kalian yang mengambil sesuatu, tanpa hak kecuali ia bertemu Allah sambil membawa korupsinya itu pada hari kiamat”.
Pernah, Abu Hurairah, yang ahli hadist, dan menjadi Gubernur Bahrain, pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khaththab, saat datang ia ke Madinah membawa 10.000 dirham, lalu Umar bertanya : “Kamu simpan harta sebanyak ini untuk dirimu sendiri, wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya”. “Kalau begitu, dari mana kamu mendapatkan semua ini?”, Tanya Umar. Abu Hurairah menjawab :”Itu adalah hasil unta yang berkembang biak, hasil penjualan budakku, dan pemberian gaji dari negara yang aku kumpulkan”, jawab Abu Hurairah. Namun, Umar tidak begitu saja percaya, maka ia memeriksa kejelasan kekayaan yang dimiliki Abu Hurairah.
Suatu ketika, Abu Dzar al-Gifari melihat Mu’awiyah mengeluarkan yang banyak. Abu Dzar berkata : “Jika uang itu kamu ambil dai baitul-mal, berarti kamu seorang pengkhianat”. “…Dan, bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat”. (Yusuf : 52). Tetapi, jika uang ini dari harta pribadimu, berarti kamu pemboros. Dan, “… Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (al-An’am :141).
Bagaimana di zaman sekarang, banyak orang yang dengan jabatan dan kewenangannya, yang digunakan untuk menipu, dan bahkan menjual aqidahnya, yang tujuannya mengejar kenikmatan dunia? Bagaimana kehidupan mereka kelak di akhirat nanti? Wallahu ‘alam
militiaman
December 18, 2008, 06:28
AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
militiaman
December 18, 2008, 06:29
KISAH LIMA PERKARA ANEH
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
militiaman
December 18, 2008, 06:30
ANJING-ANJING NERAKA
Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :
· Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.
· Bacalah Al-Qur'an
· tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain.
· Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain.
· Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka.
· Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat.
· Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik.
· Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain.
· Jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain.
· Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu.
Nescaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud, "Demi (bintang-bintang) yang berpindah dari satu buruj kepada buruj yang lain."
Sabda Rasulullah S.A.W., "Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itupun merobek serta menggigit tulangnya."
Kata Mu'adz, " Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamat daripadanya?"
Sabda Rasulullah S.A.W., "Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah S.W.T."
militiaman
December 18, 2008, 06:32
KISAH PEMUDA BERIBU-BAPAKAN BABI
Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".
Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.
Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.
"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.
"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."
Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.
Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.
Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.
Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL
militiaman
December 18, 2008, 06:34
KISAH BERKAT DI SEBALIK MEMBACA BISMILLAH
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.
Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.
militiaman
December 18, 2008, 06:35
KISAH BUMI DAN LANGIT
Adapun terjadinya peristiwa Israk dan Mikraj adalah kerana bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, "Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah S.W.T. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-anaman, beberapa gunung dan lain-lain."
Berkata langit, "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu kerana matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'arasy, kursi dan syurga ada padaku."
Berkata bumi, "Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik)."
Bumi berkata lagi, "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari'atnya juga di tempatku."
Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah S.W.T dengan berkata, "Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab soalan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga."
Lalu Allah S.W.T mengabulkan permintaan langit, kemudian Allah S.W.T memberi wahyu kepada Jibrail A.S pada malam tanggal 27 Rejab, "Janganlah engkau (Jibrail) bertasbih pada malam ini dan engkau 'Izrail jangan engkau mencabut nyawa pada malam ini."
Jibrail A.S. bertanya, " Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?"
Allah S.W.T berfirman, maksudnya, "Tidak, wahai Jibrail. Tetapi pergilah engkau ke Syurga dan ambillah buraq dan terus pergi kepada Muhammad dengan buraq itu."
Kemudian Jibrail A.S. pun pergi dan dia melihat 40,000 buraq sedang bersenang-lenang di taman Syurga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad. Di antara 40,000 buraq itu, Jibrail A.S. terpandang pada seekor buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibrail A.S. menghampiri buraq itu lalu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya buraq?"
Berkata buraq, "Ya Jibrail, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun, maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mahu makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan."
Berkata Jibrail A.S., "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu."
Kemudian Jibrail A.S. memakaikan pelana dan kekang kepada buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad S.A.W. Wallahu'alam.
Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah S.A.W dalam perjalanan Israk dan Mikraj.
militiaman
December 18, 2008, 06:36
KISAH NERAKA JAHANNAM
Dikisahkan dalam sebuah hadis bahwa sesungguhnya neraka Jahannam itu adalah hiam gelap, tidak ada cahaya dan tidak pula ia menyala. Dan ianya memiliki 7 buah pintu dan pada setiap pintu itu terdapat 70,000 gunung, pada setiap gunung itu terdapat 70,000 lereng dari api dan pada setiap lereng itu terdapat 70,000 belahan tanah yang terdiri dari api, pada setiap belahannya pula terdapat 70,000 lembah dari api.
Dikisahkan dalam hadis tersebut bahwa pada setiap lembah itu terdapat 70,000 gudang dari api, dan pada setiap gudang itu pula terdapat 70,000 kamar dari api, pada setiap kamar itu pula terdapat 70,000 ular dan 70,000 kala, dan dikisahkan dalam hadis tersebut bahwa setiap kala itu mempunyai 70,000 ekor dan setiap ekor pula memiliki 70,000 ruas. Pada setiap ruas kala tersebut ianya mempunyai 70,000 qullah bisa.
Dalam hadis yang sama menerangkan bahwa pada hari kiamat nanti akan dibuka penutup neraka Jahannam, maka sebaik saja pintu neraka Jahannam itu terbuka, akan keluarlah asap datang mengepung mereka di sebelah kiri, lalu datang pula sebuah kumpulan asap mengepung mereka disebelah hadapan muka mereka, serta datang kumpulan asap mengepung di atas kepala dan di belakang mereka. Dan mereka (Jin dan Mausia) apabila terpandang akan asap tersebut maka bergetarlah dan mereka berlutut dan memanggil-manggil, "Ya Tuhan kami, selamatkanlah."
Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu mempunyai 70,000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70,000 malaikat, dan berkenaan dengan malaikat penjaga neraka itu besarnya ada diterangkan oleh Allah S.W.T dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang bermaksud : "Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras."
Setiap malaikat apa yang ada di antara pundaknya adalah jarak perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau dia memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka nescaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan dengan sekali pukulan saja ia akan membenamkan 70,000 ke dalam neraka Jahannam.
militiaman
December 18, 2008, 06:37
TUJUH MACAM PAHALA YANG DAPAT DINIKMATINYA SELEPAS MENINGGAL
Dari Anas r.a. berkata bahwa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.
1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.
2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.
3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.
4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.
5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.
6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.
7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya
8. yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.
Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :
1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)
2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.
3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.
militiaman
December 18, 2008, 06:38
KISAH KELEBIHAN BERPUASA PADA 10 MUHARRAM DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG BERLAKU PADA HARITERSEBUT
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : " Sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka."
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : " Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?". Maka berkata Rasulullah S.A.W : " Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !".
militiaman
December 18, 2008, 06:41
KISAH NAFSU YANG MEMBANTAH PADA PERINTAH ALLAH
Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."
Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."
Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."
Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."
Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."
Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.
Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahwa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.
AlfaOmega
February 25, 2009, 22:38
Umar bin Abdul Aziz: Pemimpin yang Kita Rindukan (http://www.republika.co.id/berita/33163/Umar_bin_Abdul_Aziz_Pemimpin_yang_Kita_Rindukan)
"Saya tidak begitu heran melihat petapa yang meninggalkan kesenagan duniawi agar hanya dapat menyembah Tuhan. Tapi saya sungguh kagum menyaksikan seorang pemilik kesenangan duniawi yang tinggal meraih dari telapak kakinya, tapi ia malah menutup matanya rapat-rapat dan hidup di dalam kesalehan, Setelah X, jika ada orang yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dia itulah orangnya."
Itulah kira-kira komentar Raja Bizantium (Romawi Timur) dalam suasana duka saat menerima kabar wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 719 M.
Bisa jadi komentar tersebut terasa belebihan, apalagi jika diucapkan oleh seseorang yang baru ditinggal mati sahabatnya. Yang jelas, Umar hanya meninggalkan 17 dinar saat ia wafat. itu pun dengan wasiat agar sebagiannya digunakan untuk membayar sewa rumah tempatnya meninggal, dan sebagian lagi untuk membeli tanah pemakamannya. Umar wafat pada usia 36 di Darus SIman, dekat Hims.
Namanya adalah Umar Bin Abdul Aziz atau Umar II (Umar I adalah kakek buyutnya sendiri dari pihak ibunya, Umar bin Khattab), lahir di Halwan, Mesir tahun 63 Hijriah atau 682 Masehi dan wafat bulan Februari 720 M. Anak dari Gubernur Mesir, Abdul Aziz, ini selain dikenal kesalehanya, juga masyhur lantaran kesederhanaannya. Makanannya tak lebih baik dari manakan rakyat jelata. Ia tak membangun rumah pribadi dan hanya membelanjakan 2 dirham sehari. Ia juga menyerahkan istana untuk ditinggali keluarga Sulaiman bin Abdul Malik khalifah sebelumnya. Ia juga menolak pengawalan, dengan membubarkan 600 pengawal pribadi khalifah. Sebelum menjabat khalifah, harta pribadinya menghasilkan pendapatan 50.000 per tahun. Namaun segera ia lelang dan ia serahkan ke Baitul Mal saat ia terpilih menjadi Khalifah. AKibatnya pendapatanya merosot menjadi 200 dinar pertahun.
Umar dikenal paling anti dengan hadiah. Suatu hari seseorang menghadiahkan sekeranjang apel ke padanya. Umar menolaknya. Orang tersebut lalu memberikan contoh Nabi yang mau menerima hadiah., Namun kata Umar," Tidak diragukan lagi, hadiah itu memang untuk Nabi. kalau diberikan kepadaku itu namanya suap."
Keluarga kerajaan , yang biasanya hidup mewah atas biaya rakyat, sudah tentu tidak suka dengan kebijkan Umar. Meraka protes atas pengembalian harta yang telah mereka kuasai kepada negara, atau kepada yang berhak, yang dahulu diambil secra paksa. Mereka juga protes , karena Umar memecat anggota keluarga Umaiyah yang terbukti tidak pecus jadi aparat negara.
Dalam salah satu suratnya yang dialamatkan kepada Gubernur Kufah, Umar mendesaknya agar menghapus semua peraturan tidak adil, Ia menulis:
"Anda harus mengetahui, agama dapat terpelihara baik, jika terdapat keadilan dan kebajikan. jangan remehkan segala dosa; jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat; jangan paksakan rakyat melakukan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. Ambilah dari mereka apa yang dapat mereka berikan. Lakukan apa saja untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Jangan menerima hadiah pada hari-hari besar..."
Dalam kisah lain diceritakan, Umar juga tampak kaget ketika menerima kabar bahwa salah satu putranya membeli permata yang mahal sekali, Umar pun segera menulis surat: "Aku dengar kamu membeli sebutir permata seharga 1.000 dirham. Jika surat ini sampai, juallah cincin itu dan beri makanlah 1.000 orang miskin. Lalu buatlah cincin dari besi China, lalu tulis di situ: "Allah mengasihi orang yang tahu harga dirinya yang sebenarnya."
Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini. Kisah-kisah yang semakin kita baca semakin kita sedih akan kerinduan kita terhadap pemimpin sepertinya yang tak kunjung terobati. Di tengah-tengah ramainya orang mempromosikan dirinya layak sebagai pengusa dan pemangku jabatan menjelang Pemilu April nanti. Kebijakan Umar merupakan penegasan apa yang kita sebut sekarang dengan Good governace & clean government. Adakah dari sekian banyak orang yang memajang foto dirinya untuk dipilih sebagai pengusa memberikan impian dan mengobati kerinduan ini?taq/ass
AlfaOmega
March 09, 2009, 23:15
Masihkah Mempunyai Malu Dihadapan Allah? (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/masihkah-mempunyai-malu-dihadapan-allah.htm)
oleh Mashadi
Jumat, 06/03/2009 16:33 WIB
Ia dapat merubah tradisi Daulah Bani Ummaiyah yang rendah, yang telah berlaku lebih dari 60 tahun, menjadi masa kehidupan yang indah, baik, adil, dan sejahtera, yang mirip dengan masa Rasulullah Shallahu alaihi wa salam.
Lelaki itu dahulu sebelum menjadi penguasa, mengenakan wangi-wangian dari jenis yang terbaik, duduk diatas singgasana yang megah, memakai pakaian yang paling mahal dan mewah, menikmati makanan yang paling lezat, menunggang kuda yang paling elok, serta penghasilannya setiap tahunnya mencapai 40.000 dinar.
Namun dengan kehendaknya sendiri, dan waktu yang singkat, kehidupannya berubah. Kehidupan yang memakau di mata rakyat biasa, dan segalanya ia tinggalkan dan ia pupus.
Wewangian yang sangat harum yang biasa dikenakannya, berganti dengan peluh dan keringat yang bercucuran. Kuda tunggangannya yang elok, berganti dengan telapaknya. Sehingga, kakinya menjadi kasar dan keras. Pakaiannya yang paling indah dan mewah berganti dengan yang paling murah. Makannya yang melimpah dan lezat menjadi sangat sederhana. Dan, ia sudah tidak memiliki penghasilan tahunan lagi. Betapa, ia tinggalkan semua kemewahan hidup, yang serba menakjubkan dimata manusia, dan ia jalani kehidupan, yang sejauh-jauhnya dari kehidupan dunia.
Diangkutnya seluruh kekayaan pribadi yang dimilikinya, dan ia masukkan ke dalam Baitul Mal.
Istananya yang dahulu serba megah dan sangat mengagumkan itu, kemudian berubah menjadi rumah sangat sederhana, dan terbuat dari tanah. Adapun, singgasanya .. adalah singgasana yang paling hebat, sebab terbuat dari potongan batang kayu bulat yang diletakkan begitu saja diatas tanah.
Dan, yang sangat menggugah bahwa perubahan itu terjadi bukan pada diri rakyat yang awam … tetapi justru pada diri seorang raja .. bahkan raja diraja, pemilik istana dan kekayaan, kebangsawanan, dan seluruh keistimewaan, yang tiada bandingnya.
Adakah peristiwa ini pada diri seorang kakek yang sudah tua renta, dan sedang mendekati kematiannya? Tidak. Ia bukan seorang kakek tua. Tetapi, ia adalah orang masih sangat muda, yang sedang berangkat dewasa, dalam usia 35 tahun.
Semenjak ia diangkat menjadi seorang khalifah, di relung hatinya yang paling dalam, selalu galau, dan diliputi dengan pertanyaan : “Siapakah yang dapat membebaskan diriku pada hari kebangkitan nanti, dari tuntutan fakir miskin yang kelaparan … dari orang-orang yang merintih kesakitan dan penderitaan, dari orang yang teraniaya dan yang ditinggal mati suaminya, dan dari anak yatim serta tawanan ..”
Majulah wahai pemimpin umat, yang mencintai, dan selalu mencintai Allah Azza Wa Jalla, dalam setiap gerak langkahmu, biarlah kami tahu, bagiamana engkau mencuci pakaianmu itu sendiri, dan engkau menunggunya hingga kering untuk engkau kenakan lagi, lantaran engkau tidak memiliki pakaian selain itu.
Biarlah, engkau tunjukkan kepada kami, istana engkau yang terletak jauh di ujung sana … sehingga, ketika seorang wanita mengunjunginya untuk meminta tambahan tunjangan, dengan rasa getir ia mengatakan : “Mana mungkin saya mengharapkan bantuan membangun rumah saya dari orang yang rumahnya bobrok dan berantakan ini …” Dan, berbagahagialah engkau, sekiranya istrimu Fatimah itu .. dengan amat tepat menjawab wanita itu tadi : “Yah, yang menyebabkan rumah ini bobrok dan berantkan, tiada lain disebabkan pembangunan rumah orang seperti anda ini”, ujarnya. Begitu indah kehidupan waktu itu.
Lelaki itu, tak pernah lupa, apa yang diucapkan Aisyah, yang mengatakan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam, berkata : “Wahai manusia, malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”. Kemudian, Beliau berkata lagi : “Barangsiapa diantara kalian malu, hendaknya tidak beranjak tidur kecuali ajalnya terbayang dipelupuk matanya. Hendaknya ia juga menjaga perutnya dan isinya. Kepala dan isinya. Ia mengingat mati dan kehancuran dan hendaknya ia meninggalkan perhiasan dunia”. (HR.Ath-Tabrani)
Ia membayangkan kematian ada dihadapannya seolah-olah ia menyaksikannya didepan mata. Kematian adalah sesuatu yang pasti dan harus ada di depan mata, agar mendorong beramal sebagai persiapan menghadapi kematian dan masa setelahnya.
Ketika masih kanak-kanak ibunya pernah menjumpai di kamarnya … dilihat anaknya sedang berurai air mata. Kemudian, anaknya yang masih kecil dipeluk oleh ibunya, dan ditanyakan kepadanya apa yang menyebabkan bersedih seperti itu .. Kemudian, apa jawabnya? “Tiada sesuatu pun wahai ibuku, hanya saja ananda takut dan teringat akan kematian ..”
Lelaki itu, tak lain, adalah Umar bin Abdul Aziz, yang mendapatkan julukan khalifah kelima, karena sangat masyhur, dan memberikan suri tauladan, yang tak pernah habis-habis bagi kehidupan,hingga kini. Lekaki itu, memiliki rasa takut dan malu yang luar biasa kepada Rabbnya, sehingga segala kenikmatan dunia ia tinggalkan, dan hidup dengan penuh zuhud dan wara’.
Ia memahami arti kehidupan ini. Umar bin Abdul Aziz, tak terbelenggu dengan kenikmatan dunia, yang terkadang membawa bencana bagi manusia, yang lalai dan lalim. Maka, ia lebih memilih kehidupan, yang akan menjamin dirinya mendapatkan kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla. Ketika, ia wafat hanya meninggalkan terompah dan jubah serta karpet yang digunakan menerima tamunya. Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
March 11, 2009, 23:09
Peringatan_Maulid_Nabi_SAW (http://www.republika.co.id/berita/36274/Peringatan_Maulid_Nabi_SAW)
Tingginya sedang-sedang saja, agak kurus tapi bahunya lebar, dadanya bidang, ototnya kekar. Kepalanya sedikit besar, rambutnya hitam gelap, sedikit ikal, terurai sampai ke pundaknya dan selalu tersisir rapi. Dalam usianya yang lanjut, hanya sekitar 20 lembar ubannya, akibat ketegangannya menerima surah Hud yang mengandung ancaman. Mukanya bulat, menarik bagai purnama. Matanya hitam cemerlang bersinar dengan bulu mata hitam, panjang, dan tebal. Hidungnya mancung, giginya tersusun rapi dan diurusnya tidak kurang dari sepuluh kali sehari dengan menggunakan siwak (semacam sikat gigi terbuat dari dahan kayu). Kulitnya bersih, lembut, warnanya campuran merah dan putih. Tangannya laksana sutra melebihi kelembutan tangan wanita. Langkahnya cepat dan luwes, bagai seorang yang turun dari ketinggian.
Bahasanya jelas namun indah terdengar, berbicara sambil menggelengkan kepala atau menepuk telapak tangannya dengan jari telunjuk dan menggigit bibirnya. Menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya. Gagah, penuh wibawa, tapi simpatik, selalu tersenyum walau tawanya jarang dan gelaknya tidak terdengar.
Hartanya yang dihargai sepasang alas kaki berwarna kuning, hadiah Negus dari Abisiniah. Sangat menyukai wewangian: tanpa melihatnya pun diketahui beliau ada karena keharumannya. Sangat sederhana, tinggal di sebuah pondok kecil teratap jerami, kamar-kamarnya disekat dengan batang pohon palma dan direkat dengan lumpur. Menyalakan api, memerah susu, menjahit pakaiannya yang robek. Madu dan susu adalah makanan mewah yang beliau sukai, sayang tidak sering dapat disuguhkan walaupun ketika beliau telah menguasai Jazirah Arabia.
Tidak pernah memukul siapa pun, makiannya yang paling buruk adalah: ''Apa yang terjadi padanya? '' Kata pembantunya, Anas bin Malik, ''Sepuluh tahun aku bekerja padanya, tidak sekali pun ia berkata 'cis' padaku.'' Ketika ada yang memintanya mengutuk, beliau menjawab, ''Aku diutus bukan untuk mengutuk, tetapi untuk mengajar.''
Kemenangan militernya tidak membuatnya angkuh. Beliau memasuki Kota Mekah -- yang penduduknya pernah mengusirnya -- dengan menundukkan kepala sambil menamai bekas yang memusuhinya dengan ''Saudara yang mulia atau putra saudara yang mulia''.
Demikian sedikit tentang Nabi SAW yang sedang diperingati kelahirannya oleh ratusan juta manusia, namun sebanyak apa pun uraian ia tetap sedikit. Karenanya, jari telunjuk lebih memuaskan menunjuk ke gunung yang tinggi ketimbang lengan jika bermaksud merangkulnya. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada beliau. - ahi
AlfaOmega
April 18, 2009, 23:54
Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin (http://eramuslim.com/nasihat-ulama/dr-daud-rasyid-nafsu-ingin-jadi-pemimpin.htm)
Oleh Dr. Daud Rasyid
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah
penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam
Bukhori).
Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah
satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling
bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.
Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan
Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena
Umar adalah seorang yang kuat.
Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan
keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh
sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.
Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu,
memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk
menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah
berubah jauh.
Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan
hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta
oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang
meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi
ambisi menjadi pemimpin.
Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka
mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar
hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat.
"Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung
jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung
jawabannya atas kepemimpinannya...".
Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman
soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda
seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah
penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam
Bukhori).
Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari
tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk
kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah
kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan
keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu
Daud).
Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang
menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin,
melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan
kemiskinannya.”
Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin
ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan
kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap
dari keberatan mereka.
Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar
adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka
lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan
bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.
Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau
kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental;
mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu
dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.
Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak
bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja,
asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang
itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah
didapat.
Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka
ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan
menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan
beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini
memang indah kedengaran.
Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik
dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika
ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.
Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi
setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya
mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat
serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.
Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo
menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa
merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim
sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.
Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah
sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh
hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.
Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa
memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak
mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik
dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem,
harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke
dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu
membersihkan, justru ikut terkena kotoran.
Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu
berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan
bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak
tersingkir, dimusuhi atau makan hati.
Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi
oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan
Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak
berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal
politik.
Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan
dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi
agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah
pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal
dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli
besi.
AlfaOmega
April 18, 2009, 23:57
Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam
gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk
memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan
oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul
‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.
Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung
pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi
biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat
yang mempunyai kualitas lokal.
Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan
kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada,
pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak
sekapasitas dengannya.
Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih
strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman,
mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami
degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun
ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.
Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri
induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal
itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan
untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi
untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.
Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan
masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks
dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis,
moral dan perasaan.
Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi,
ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan
kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan
Tuhan-tuhan lainnya.. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil
Ibaad).
AlfaOmega
April 20, 2009, 23:55
Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja (http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=16862)
30/03/2009
Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:
Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:
Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).
Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:
Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)
Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)
Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:
Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)
Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir'aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir'aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah". (Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, juz III hal 206).
AlfaOmega
June 10, 2009, 23:39
Tobatnya Khalifah al-Makmun (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/tobatnya-khalifah-al-makmun.htm)
oleh Mashadi
Rabu, 10/06/2009 17:44 WIB
Udara panas menyengat. Angin gurun disertai badai samun. Terasa sangat mendera. Debu-debu berterbangan. Membuat dinding-dinding tembok menjad kusam. Terkena debu. Jalan lengang di siang hari. Hanya satu dua orang yang pergi. Karena sangat perlu. Tak tahan menghadapi udara gurun yang panas. Menyengat. Kala itu, putra Khalifah al-Makmun, yang bernama Pangeran Ali sedang berada di tangsi militer.
Tiba-tiba seorang pelayan datang. “Tuanku Amirul Mukminin memanggil. Ia memanggil untuk jamuan makan, dan sekarang menunggu tuan”, ujar pelayan itu. Mendengar panggilan itu, Pangeran Ali, lalu berkata: “Sungguh. Cuaca sangat panas dan terasa gerah, membuat diriku malas keluar. Maka, kembalilah dan beritahukan kepada Amirul Mukminin, bahwa kamu mendapatkanku sedang tidur”, ucap Pangeran Ali. Tapi, pelayan itu kembali lagi, dan mengatakan : “Amirul Mukminin memerintahkan untuk membangunkan. Beliau sudah tidak sabar lagi walau sekejap saja”, tambah pelayah itu.
Mendengar perintaha itu, Pangeran Ali segera bangun, dan menghadiri jamuan makan dengan perasaan tidak senang. Disaat itu, Amiru Mukminin duduk-duduk, sambil minum-minum bersama teman-temannya. Melihat suasana seperti itu, Pangeran Ali meninggalkan jamuan, tanpa minum sedikitpun.Ia kembali ke istananya, dan memerintahkan agar digelarnya permadani di balkonnya yang berada di pinggiran sungai Tigris, lalu disiram dengan es. Kemudian Pangeran Ali duduk diatas pembaringan beratap kain sambil memandang orang-orang, dan sungai yang terus mengalir.
Dari kejauhan Pangeran Ali melihat seorang kuli datang. Kuli itu menggunakan baju dari bulu putih yang sudah kumal. Ia membungkus kedua kakinya dengan kain perca untu menahan sengatan panas yang membakar. Dilihatnya, kuli itu mengeluarkan bungkusan, yang berisi makanan, yang tidak seberapa, hanya sekedar menahan laparnya. Roti yang ditaburi garam, dan diberi sejenis bahan tumbuhan yang berbau harum. Lalu, dari kejauhan Pangeran Ali melihat kuli sedang makan makanannya yang ada. Dan, ketika usai makan, kuli membungkus kembli barang makanan yang ia bawa. Lalu, kuli menggelar kain, dan melaksanakan shalat Dhuhur.
Pangeran Ali berkata kepada pengawal yang berdiri didekatnya. “Bawalah dia kemari, dan perlakukanlah dengan lembut”, ucapnya. Pengawal itu berkata, ‘Bangun, dan ikut saya’, tegasnya kepada kuli. Tapi, kuli menolak, karena ia sudah merasa letih. “Carilah orang lain, badanku sudah sangat letih”, ujarnya. “Tempatnya dekat”, sahut pengawal. Tetapi, kuli tetap menolak, dan tidak mau ikut pengawal, yang ingin membawanya kepada Pangeran Ali. Dan, pengawal Pangeran Ali terus menekannya, dan akhirnya kuli itu ikut ke istana Pangeran Ali.
Ketika bertemu dua manusia yang berlainan status itu, tapi tak menghalangi keduanya menjadi dekat. Pangeran Ali, kemudian menggandeng tangan kuli itu, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, tanpa disertai orang lain. Lalu, Pangeran Ali bekata : “Lihat ini, kamu telah mengetahui keadaan, dan kedudukanku. Namun, apa artinya kerajaan ini dengan segala kenikmatan dunia itu bagiku. Maka, berdoalah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar aku bisa hidup bersahaja di dunia serta senang di akhirat”, pinta Pangeran Ali.
Kuli itupun berkata : “Wahai saudaraku tercinta, saya tidak punya kedudukan disisi Allah untuk bisa aku panjatkan doa, hanya saja sebahagian orang bijak berkata, ‘Barangsiapa takut terhadap sesuatu, maka ia akan bangun sepanjang malam. Karenanya, wajibkanlah terhadap dirimu setiap hari walaupun hanya sejenak untuk melakukan yang jelas bagi-Nya.Jika kamu mendahulukan yang demikian itu, maka dengan pertolongan Allah akan timbul suatu tekad yang kuat, dan akan selalu melakukannya. Kamu harus bertaqwa kepada Allah, mentaati dan menjauhi larangan-Nya”, ucap kuli itu.
Kemudia kuli itu mengangkat tangannya, dan sambil menengadahkan wajahnya, ‘Wahai Zat yang mengangkat langit dengan kekuatan-Nya, yang membentangkan bumi dengan kehendak-Nya, yang menciptakan makhluk dengan kemauan-Nya, yang bersemayam di Arsy dengan kekuasaan-Nya. Wahai raja di raja, yang Maha Perkasa, Tuhan bagi alam semesta, dan penguasa hari kiamat, aku memohon kepada-Mu dengan limpahan rahmat-Mu, kedermawanan-Mu dan kekuasaan-Mu,agar sudilah Engkau mengeluarkan rasa cinta duniawi dari hati hambamu, Abdullah Ali, berilah dia taufiq untuk dapat berbakti kepada-Mu dengan melakukan amal-amal yang Engkau tetapkan dapat memperoleh keridhaan-Mu, jauhkanlah dia dari maksiat-Mu, akhirilah kami dan dia dengan kerelaan-Mu, dan maaf-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih”, tambah kuli itu.
Mendengar untaian kata-kata kuli itu, Pangeran Ali berlinang air matanya, dan menangis sejadi-jadinya, lalu berkata kepada kuli itu. “Seandainya kamu menerima sesuatu pemberian sesuatu dariku”. Lalu, dijawab oleh kuli itu, ‘Saya tidak menginginkannya, yang saya inginkan hanyalah agar anda melapaskan saya’. Dan, kuli itu dibiarkan pergi, meninggalkan istana.
Kuli itu bekerja dari pagi hingga, sore hari, menafkahi ibunya yang sudah lumpuh, dan selalu menyertainya, di waktu malam hari, dan menggendongnya ketika ingin keluar melihat matahari. Kuli hidup sangat bersahaja dipedalaman Iraq. Dan, setiap hari berjalan kaki, mencari pekerjaan untuk menghidupi ibunya yang sudah lumpuh.
Pangeran Ali membandingkan makanan yang dimakan kuli, yang hanya roti kering, yang ditaburi dengan garam serta bumbu wewangian, dan tulang-tulang yang dagingnya sedikit, dan sudah kering, itulah yang dimakan kuli itu. Sedangkan yang dimakan Amirul Mukminin, Al-Makmun, hidangan yang bermacam-macam, hidangan roti yang sangat putih, bersih dan halus, yang disaring kain, dan yang tersisa hanya tinggal sarinya. Dan, roti itu dibakar dan diasapi dengan kayu qomary, yang baunya sangat harum, disertai beraneka daging, yang sangat lezat, tak ada bandingannya.
Di kemudian hari, suatu pagi, Pangeran Ali pergi meninggalkan istana, naik perahu pergi ke Basrah, dan pengawalnya disuruh pulang. Sejak itu, Pangeran Ali hidup layaknya gelandangan. Ia mengenakan pakaian yang kasar guna menutupi kulitnya yang bersih, lalu membeli talam yang bentuknya seperti kuli itu, dan meletakkan diatas pundaknya. Dia bekerja sesuai dengan kemampuannya, dan membawa tulang belulang, yang dimakannya setiap hari, dan roti kering, yang sudah lama.
Pangeran Ali disiang hari ia berpuasa, sambil berpuasa, dan tidak pernah meninggalkan shalat saatnya tiba. Putra Khalifah al-Makmun, yang paling disayangi itu, hidup dan tidur dari masjid ke masjid, berjalan tanpa alas kaki, meskipun terik matahari, yang membakar, dan kakinya pecah-pecah. Hal ini berlangsung bertahun-tahun, sampai ia jatuh sakit. Disaat ia merasa ajalnya akan tiba, maka ia tinggal disebuah penginapan. Sebelum meninggal, ia memanggil pemilik penginapan itu.
‘Berikan cincin ini kepada gubernurmu, kalau ia sedang lewat’. Tak lama, Pangeran Ali meninggal, saat itulah gubernur Basrah lewat, dan diberikan cincin dari Pangeran Ali itu. Dan, Gubernur Basrah itu, mengetahui bahwa cincin itu, milik Pangeran Ali.
Disertai iringan para pengawal jasad Pangeran Ali dibawa ke Istana, kemudian dimandikan, serta dikafankan kembali. Ketika dimakamkan Khalifah al-Makmun, berkata dengan lirih : “Wahai anakku, semoga Allah mengasihimu dan mengabulkan harapan dan cita-citamu. Sesungguhnya aku sangat berharap, semoga Allah memberikan kebahagiaan kepadamu”, ucap Khalifah al-Makmun. Lalu, Khalifah al-Makmun memerintahkan menutup kuburnya dengan tanah.
Sesudah peristiwa itu, Amirul Mukminin setiap mengingatnya pasti menangis, dia senantiasa gelisah, dan tidak tertarik lagi dengn kelezatan dan nafsu dunia. Para ulama fiqh bergantian datang ke majelisnya untuk memberikan fatwa sekaligusnya menasehatinya. Sampai al-Makmun meniggal.
Sebelum meninggal Khalifah al-Makmun bersedekah sebanyak seribu dirham, memerintahkan untuk melepas para narapidana, menulis surat kepada semua gubernur dan pejabatnya, agar berbuat adil kepada rakyat, dan menghentikan kezaliman. Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
June 22, 2009, 23:43
Kenikmatan Dunia (http://www.warnaislam.com/rubrik/catatan/2009/6/18/3600/Kenikmatan_Dunia.htm)
Kamis, 18 Juni 2009 01:00
Penulis: Syamsul Arifin
"Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -nilainya- dengan selembar
sayap nyamuk, niscayalah Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada
orang kafir daripadanya." (Riwayat Turmidzi)
Maksudnya: Andaikata dunia ini bagi Allah dianggap masih ada nilainya sekalipun
amat rendah, tentu orang kafir tidak akan diberi kenikmatan yang
sekecil-kecilnya pun di dunia ini. Tetapi oleh sebab dianggap oleh Allah tidak
berharga sama sekali, maka banyak saja orang kafir yang berlebih-lebihan
rezekinya. [Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi]
"Tidaklah dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu
yang seseorang di antara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan,
maka cobalah lihat dengan apa ia kembali -yakni, seberapa banyak air yang
melekat di jarinya itu. Jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti
air yang melekat di jari tadi banyaknya." (Riwayat Muslim)
Kenikmatan-kemewahan dunia bukanlah suatu hal yang terlarang, apalagi kalau
didapat melalui cara-cara yang benar, telah ditunaikan hak-hak-nya, dan
dipergunakan untuk hal-hal yang baik.
Saya hanya ingin mengingatkan, kepada diri saya sendiri khususnya, agar jangan
tertipu oleh segala macam kenikmatan dunia, hingga akhirnya berani melewati
batas-batas yang telah Allah SWT tetapkan. Pesona harta, jabatan, dan wanita,
jangan sampai memperdayai kita, karena tiadalah semua
kenikmatan-kebahagiaan-kesenangan dunia ini ada artinya, jika dibandingkan
dengan akhirat kelak.
Dari Anas RA. pula, katanya: "Rasulullah SAW. bersabda: "Akan didatangkanlah
orang yang ter-enak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka
pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan, lalu
dikatakan: "Hai anak Adam -yakni manusia, adakah engkau dapat merasakan sesuatu
kebaikan –keenakan sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah
menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak.demi Allah, ya Tuhanku"
-yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka, maka kenikmatan-kenikmatan dan
keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali.
Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan
ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga, lalu
dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu
kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah
menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah
ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu
kesengsaraan pun sama sekali." Artinya, setelah merasakan kenikmatan syurga,
maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah
lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim)
Bersabarlah selama di dunia, bersabar saat menerima musibah, bersabar dalam
mengerjakan kebaikan (dan teruslah istiqomah di dalamnya), dan bersabar dalam
menahan diri dari perbuatan kemaksiatan.
Raihlah kemenangan dunia melalui cara-cara yang diridhoi-Nya, dan persiapkanlah
kemenangan di akhirat nanti dengan amal ibadah terbaik kita.
AlfaOmega
August 10, 2009, 15:08
Dakwah Itu Visioner (http://www.dakwatuna.com/2009/dakwah-itu-visioner/)
Oleh: Ridwan
dakwatuna.com - “Dakwah itu adalah sebuah kebaikan…namun terkadang kalah oleh karena kita tak berfikir visioner”
Visioner adalah padanan kata yang tepat itu menempatkan gerakan dakwah di berbagai ranah kehidupan. Mengapa? Karena tanpa pemikiran yang visioner, gerakan dakwah itu hanya akan bertahan sebentar sekali dalam area yang dimasukinya. Apakah itu yang kita inginkan? tentu sama sekali tidak.
Pagi tadi ketika sedang berkunjung ke sebuah sekolah umum dan berbincang-bincang dengan guru-guru, di tengah perbincangan kami salah satu guru tersebut mengatakan:
“Aneh tetangga saya yang baru lulus kemarin, sekarang sedang kuliah kemarin menikah.” Guru lain menanggapi: Pacaran tidak?
Ibu itu menjawab: “Tidak!! Langsung nikah.” Kemudian ibu tadi bicara: “Hm…Jelas itu mah masuk “aliran” yang gak mau pacaran, oh yang perempuannya pake jilbab yang lebar ya? Hmm..ya kayaknya aliran itu tuh.” Jawab guru yang pertama menimpali.
Wahai saudara/i…ku pejuang dakwah dan mencintai Allah swt. dan Rasul saw. dengan ikhlas..itulah gambaran jelas yang terjadi di masyarkat…
Dalam hiruk pikuk film-film Islam, novel-novel Islami dan juga buku-buku Islami ternyata belum mampu mensibghoh masyarakat dengan utuh.. baru sebatas ada “alternatif”.
Inilah sebenarnya tugas da’i dan da’iyah di belahan bumi manapun, karena masyarakat itu butuh sentuhan langsung. Maka akan salah sekali jika para da’i dan da’iyah itu menjadikan indikator keberhasilan itu ketika yang terlihat adalah kuantitas yang begitu banyak tanpa kemudian melupakan tugas selanjutnya bagaimana agar menjadi berkualitas.
Yang sering terjadi di tataran grass root adalah para punggawa dakwah itu menjadi semakin elitis, sehingga objek dakwah kita hanyalah menjadi sekedar kue biasa yang dimakan kemudian tidak berbekas dalam ingatan mereka.
Padahal seharusnya analogi kue itu jika ada pengemasan yang baik seperti distribusi yang rapi dan mendekat dan juga kemasan kue yang diberikan dalam bentuk baik, kemudian senyum-senyum yang manis dari sang pengantar kue maka akan lain ceritanya.
Sekali lagi, objek dakwah itu butuh sentuhan langsung bukan bersikap elitis.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Hasyr:18
Ayat ini mengingatkan bahwa strategi kemenangan itu letaknya pada sebuah perencanaan yang visioner dengan balutan taqwa dalam setiap langkah pencapaian. Maka tak ada lagi logika retorika, semua yang harus ada adalah ketika retorika berbanding lurus dengan perbuatan.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” As-Shaff:2-3
Jangan menyerah saudara-saudariku… Lanjutkan perjuangan para Nabi, dengan perencaaan visioner.
AlfaOmega
August 11, 2009, 15:17
Kesalahan Fatwa Abu Hurairah, Tentang Wanita Berzina
oleh Mashadi (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/kesalahan-fatwa-abu-hurairah-tentang-wanita-berzina.htm)
Sedih. Sampai jatuh pingsan. Tak kuasa mendengar ucapan ulama itu. Betapa beratnya menanggung beban dosa besar. Dalam kitab ‘Tanbighul Ghafilin’, bahwa Abu Hurairah rahdiyallahu anhu berkata : ”Di suatu malam saya bertemu seorang wanita memakai cadar sedang berdiri di jalan". Tampaknya sangat aneh.
Lalu wanita itu berkata : “Wahai Abu Hurairah, saya telah berbuat dosa besar. Apakah saya ada kesempatan bertobat”, ucap wanita itu. “Apa dosamu?”, tanya Hurairah. “Sungguh aku telah berbuat zina dan anak hasil zina ini telah saya bunuh”, jawab wanita itu. “Engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobat untukmu”, jawab ulama itu.
Maka, wanita itu, ketika ia mendengar fatwa Abu Hurairah itu, menjerit dan langsung pingsan, ketika sadar lalu ia pergi. Ketika wanita itu pergi, Abu Hurairah menjadi gundah. Kegundahan itu, tak pelak membuat ulama yang terkenal itu, menangisi dirinya sendiri. Abu Hurairah menanyakan kepada dirinya sendiri : ”Bagaimana saya memberi fatwa, sedangkan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam masih hidup?”, tukasnya.
Keesokan harinya Abu Hurairah datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi was salam, dan menyampaikan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita tadi malam meminta fatwa, bahwa dirinya telah berbuat zina, kemudian membunuh bayinya dari hasil perbuatannya itu. Dan, saya mengatakan engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobatmu”, ucap Hurairah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, demi Allah kamu telah celaka dan mencelakakan orang lain, tidakkah kamu memahami ayat ini”, jawab Rasulullah.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain berserta Allah tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dlam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal sholih, maka kejahatan mreka diganti Allah dengan kebajikan. Dan, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-Qur’an, al-Furqan : 68-70).
Selanjutnya, Abu Hurairah bekata, "Maka saya keluar dari kediaman Rasulullah shallahu alaihi was salam, dan sambil berlari-lari dari gang ke gang lain di kota Madinah, sambil saya bertanya : “Siapakah yang dapat menunjukkan saya pada seorang wanita yang meminta fatwa pada saya tadi malam?”, tanya Hurairah. Tapi, anak-anak kecil yang melihat Abu Hurairah itu, menganggap dia sudah gila. Karena, melihat perilaku Hurairah, yang lari kesana kemari, tanpa tentu arah, dan selalu menanyakan seorang wanita.
Kemudian, malam harinya, Hurairah menemukan wanita itu, dan berada di tempatnya semula. Maka, Hurairah memberitahukan pada wanita itu perihal sabda Rasulullah shallahu alaihi was salam, bahwa ia ada kesempatan untuk bertobat. Wanita yang malang itu, berteriak gembira, dan berkata : “Saya mempunyai sebuah kebun, akan saya sedekahkan kepada fakir miskin untuk menebus dosaku”, ucap wanita itu. Padahal, kebun itu, menghasilkan seribu kwintal korma, sedangkan dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
Sejak itu, wanita yang sangat berbahagia itu, terus bertobat siang malam, tanpa henti, sampai saat senja menjelang Isya’, ia menemui ajalnya, sambil wajahnya nampak tersenyum. Karena telah terbebas dari dosa. Wallahu ‘alam.
militiaman
August 12, 2009, 01:49
UWAIS AL QARNY, Sang Penduduk Langit
Keutamaan Uwais al-Qarny
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Biografi
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.
>>
militiaman
August 12, 2009, 01:50
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
>>
militiaman
August 12, 2009, 01:52
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.
Mungkinkah kita bisa bersikap seperti dia ?
putra virgo
August 15, 2009, 16:51
ISMUL A’DZAM YANG DIAMALKAN ‘ULAA BIN HADLRAMI
YAA-HALIIMU YAA-‘ALIIMU YAA-‘ALIYYU YAA-‘ADHIIM
Artinya :
Ya Allah Tuhan yang Maha Kasih Sayang, Tuhan Yang Maha Tahu, Maha Tinggi dan Maha Besar.
( Ayat berupa rangkaian dari ASMAUL HUSNA )
Keterangan :
Terdapat dalam sebuah Kitab Do’a yang dikarang oleh salah seorang ulama besar yang sangat WARA’ dan baik-budi, yaitu Al-‘Allaamah Abi Bakrin Muhammad Al-Waliid. Yaitu suatu keterangan yang sangat menarik hati, antara lain seperti yang tersebut dibawah ini.
Muthrib Ibnu Abdullah Ibnu Mash’ab L Madahi menerangkan bahwa dia pada suatu hari datang berkunjung kerumah Khalifah Amirul Mukminiin Al- Mansuur. Muthrib melihat wajah Khalifah penuh dengan kedukaan, mungkin ada suatu musibah yang menimpa diri beliau.
Khalifah berkata : “wahai saudaraku Muthrib, telah ditimpakan Tuhan kepada diriku suatu ujian, yaitu perasaan sedih dan duka dalam masa beberapa hari ini, aku tidak dapat menghilangkannya. Berilah aku ucapan-ucapan dan do’a semoga dengan itu ALLAH menghilangkannya dengan segera”.
Muthrib berkata : “ Yaa amirul mukminiin, Muhammad Bin Tsabit pernah bercerita kepada, bahwa salah seorang penduduk Basshrah telah ditimpa musibah derita sakit telinga beberapa hari lamanya, menyebabkan dia tidak dapat tidur. Hasan Al-Basri berkata kepada si Penderita itu : Bacalah do’a yang selalu dibaca dan diamalkan oleh “Ulaa Bin Khadhrami. Ia pernah berada dalam kesempitan yaitu kehabisan air ditengah-tengah padang pasir, dan pernah ia hendak menyebrangi laut Bahrain bersama kudanya ketika dalam peperangan, sedang kapal alat menyeberang tidak ada, dan ketika itu ia bersama-sama dengan Abi Hurairah r.a.
Khalifah berkata : “teruskanlah ceritamu itu hai Muthrib”. Muthrib meneruskan dengan berkata: “ketika ‘Ulaa Bin Khadhrami sedang dalam perjalanan ditengah-tengah padang pasir, ia kehabisan air, hampir saja ia binasa kehausan. Lalu ia sembahyang dua rakaat, kemudian dibacanya beberapa kali do’a tersebut diatas yang memang sudah menjadi bacaan dan amalannya beberapa lama sebelum itu.Tidak lama kemudian awan pun mendung dan mencurahkan air hujan dari langit sangat lebat.
Muthrib melanjutkan ceritanya melanjutkan ceritanya, begitu juga ketika ‘Ulaa Bin Khadhrami pada suatu kali peristiwa hendak menyeberangi laut Bahrain bersama kudanya sedang alat penyebrangnya tidak ada, ia sembahyang dua rakaat, kemudian membaca do’a tersebut diatas beberapa kali. Ia mengendarai kudanya dan dengan tidak ragu-ragu lalu menyeberangi laut yang luas itu dengan tidak terkena basah dan selamat sampai keseberang..”
Khalifah mendengar ceritanya ini sangat tertarik lalu bertanya : “Bagaimana dengan laki-laki yang menderita sakit telinga tadi?”.
Muthrib menjawab : “ Lelaki itu membaca dan mengamalkan terus menerus dengan tidak henti-hentinya dengan penuh pengharapan semoga kiranya Allah menyembuhkan penyakit itu. Maka pada suatu hari terasa oleh lelaki itu seolah-olah ada sesuatu yang keluar dari dalam telinganya. Kemudian terbang, dan dia merasa sembuh dari penyakitnya”.
Adapun Khalifah setelah mendengar cerita itu lalu meminta dirinya kepada Muthrib masuk kekamar ibadahnya. Tidak lama kemudian Khalifah keluar dengan muka tersenyum dan wajah gembira lalu berkata : “ Hai Muthrib, Tuhan telah menghilangkan kedukaanku dengan do’a ‘Ulaa Bin Khadhrami itu”.
KemudianKhalifah meminta kepada pelayan Istana supaya disiapkan makanan dan minuman untuk disantap bersama dengan Muthrib sebagai ucapan syukur kepada Allah dengan lenyapnya musibah kedukaan yang diderita Khalifah beberapa hari lamanya.
( kalau kalian suka tentang AYAT ISMUL A’ZHOM Insya ALLAH akan saya POST LAGI )...::malu::
LAA HAULAA WALAA QUWWATAA ILLAA BILLAAH.
putra virgo
August 15, 2009, 17:05
KISAH BENAR PEMUDA ARAB BELAJAR DI USA
Asallammualaikum
Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampong tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Mula-mula ia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.
Di saat itu, si pendeta agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang pendeta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun, pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan ugamanya. Pemuda muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.
Pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat."Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silakan!
Sang pendeta pun mulai bertanya, "
1.Sebutkan satu yang tiada duanya,
2.dua yang tiada tiganya,
3.tiga yang tiada empatnya,
4.empat yang tiada limanya,
5.lima yang tiada enamnya,
6.enam yang tiada tujuhnya,
7.tujuh yang tiada delapannya,
8.delapan yang tiada sembilannya,
9.sembilan yang tiada sepuluhnya,
10.sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11.sebelas yang tiada dua belasnya,
12.dua belas yang tiada tiga belasnya,
13.tiga belas yang tiada empat belasnya.
14.Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15.Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16.Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19.Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20.Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22.Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca bismalah ia berkata,
1.Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2.Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
3.Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4.Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
5.Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
6.Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
7.Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
8.Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
9.Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*
10.Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
11.Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .
12.Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
13.Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
14.Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).
15.Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16.Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:98)
17.Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).
18.Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
19.Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya':69).
20.Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21.Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
22.Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pun mula hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh pendeta. Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
Mendengar pertanyaan itu lidah pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia cuba mengelak.
Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapan nya, namun aku takut kalian marah."
Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. " Pendeta pun berkata, "Jawabannya ialah: Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**
* Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah.
AlfaOmega
August 30, 2009, 13:07
Imam Hanbali, Pemegang Teguh Hadis Nabi (http://www.republika.co.id/berita/72482/Imam_Hanbali_Pemegang_Teguh_Hadis_Nabi)
By Republika Newsroom
Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 12:01:00
Karyanya yang terkenal adalah Musnad Imam Ahmad.
''Ia murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad. Sikapnya menghadapi sidang pengadilan dan menanggung cobaan akibat tekanan khalifah Abbasiyah karena menolak doktrin resmi Muktazilah merupakan saksi hidup watak agung dan kegigihan yang mengabdikannya sebagai tokoh besar sepanjang masa.'' Penilaian ini diungkapkan oleh Imam Syafi'i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali.
Imam Hanbali yang bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah seorang ulama besar di bidang hadis dan fikih yang pernah dimiliki dunia Islam. Dilahirkan di Salam, Baghdad, pada 164 H, Imam Hanbali sudah menunjukkan kecerdasannya sejak usia dini. Ketika usianya relatif muda, ia sudah hafal Alquran.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Baghdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadis, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Perhatiannya sangat besar pada ilmu pengetahuan. Ia dengan tekun belajar hadis, bahasa, dan administrasi. Ia banyak menimba ilmu dari sejumlah ulama dan para fukaha besar, antara lain Abu Yusuf (seorang hakim dan murid Abu Hanifah) dan Hisyam bin Basyir bin Abi Kasim (ulama hadis di Baghdad). Ia juga berguru kepada Imam Syafi'i, dan mengikutinya sampai ke Baghdad. Suatu ketika seseorang menegurnya, ''Anda telah sampai ke tingkat mujtahid dan pantas menjadi imam. Mengapa masih menuntut ilmu?Apakah Anda akan membawa tinta ke kuburan?'' Imam Hanbali pun menjawab, ''Saya akan menuntut ilmu sampai saya masuk ke liang kubur.''
Disamping itu ia juga menaruh perhatian besar kepada hadis-hadis Nabi SAW. Karena perhatiannya yang besar, banyak ulama, seperti Ibnu Nadim, Ibnu Abd al-Bar, at-Tabari, dan Ibnu Qutaibah, menggolongkan Imam Hanbali ke dalam golongan ahli hadis, bukan golongan mujtahid. Namun inilah sebenarnya karakteristik Mazhab Hanbali. Mazhab itu selalu berpedoman pada teks-teks hadis dan mempersempit ruang penggunaan kias dan akal.
Begitu besar perhatiannya kepada hadis, sehingga ia pergi melawat ke berbagai kota untuk mendapatkan hadis, antara lain ia pernah ke Hedzjaz, Kufah, dan Basra. Atas usahanya itu, akhirnya ia dapat menghimpun ribuan hadis yang dimuat dalam karyanya Musnad Ahmad ibn Hanba. Beliau menyusun kitabnya yang terkenal itu dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun.
Kitab ini menghimpun 40.000 hadis yang diseleksi dari sekitar 700.000 hadis yang dihapalnya. Namun Imam Abdul Aziz al-Khuli (seorang ulama yang menulis banyak biografi tokoh-tokoh sahabat dan tabiin) berpendapat bahwa ada 10.000 hadis yang berulang dalam kitab itu. Jadi menurutnya, kitab itu hanya mengandung 30.000 hadis. Sebagian besar ulama menganggap hadis dalam kitab ini sahih, tetapi ada juga ulama yang menyatakan beberapa hadis dalam kitab itu lemah.
Disamping Musnad Ahmad Ibn Hanbal, Imam Hanbali juga menyusun kitab Tafsir Alquran dan kitab an-Nasikh wa al-Mansukh (kitab mengenai ayat-ayat yang menghapuskan dan dihapuskan hukumnya). Beliau juga menyusun kitab al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-Zindiqah (bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.
Tak hanya pandai, Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan. Imam Ibrahim bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya menjadi saksi akan kezuhudan Imam Hanbali. ''Hampir setiap hari ia berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali di waktu malam. Ia lebih banyak shalat malam dan witir hingga Subuh tiba,'' katanya.
Mengenai kedermawanannya, Imam Yahya bin Hilal, salah seorang ulama ahli fikih, berkata, ''Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang sebanyak empat dirham sambil berkata, ''Ini adalah rezeki yang kuperoleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.''
Pujian dan Penghormatan
Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut, agar mengangkat Imam Hanbali menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Hanbali menolaknya dan berkata kepada Imam Syafi‘i, ''Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.'' Setelah itu pada tahun 195 H, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Hanbali menolaknya.
Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, ''Engkau lebih tahu tentang hadis dan perawi-perawinya. Jika ada hadis shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.'' Imam Syafi‘i juga berkata, ''Aku keluar (meninggalkan) Baghdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.''
Abdul Wahhab al-Warraq berkata, ''Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal''. Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?'' Al-Warraq menjawab, ''Dia seorang yang jika ditanya tentang 60 ribu masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, 'Telah disampaikan hadis kepada kami’.''
Sementara Ahmad bin Syaiban berkata, ''Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya.'' Padahal seperti diketahui bahwa Yazid bin Harun adalah salah seorang guru beliau.
Perlawanan Terhadap Muktazilah
Imam Hanbali juga dikenal teguh memegang pendirian. Mazhab yang didirikan oleh Imam Hanbali dan mucul paling akhir adalah Mazhab Hanbali. Mazhab itu berpegang kepada hadis Nabi SAW dan tradisi para sahabat. Para pengamat menganggap mazhab itu merupakan kristalisasi paling nyata dari mazhab para sahabat karena Hanbali menaruh perhatian besar terhadap fatwa para sahabat.
Kemunculan mazhab Hanbali merupakan reaksi terhadap sikap yang berlebihan dari beberapa aliran Islam, seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Kadariah, dan Murji'ah. Aliran Muktazilah, misalnya, yang di masa hidup Imam Hanbali tengah berjaya. Dukungan Khalifah Al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah yang menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi negara. Salah satu ajaran yang diyakini penganut Muktazilah adalah bahwa Alquran merupakan makhluk atau ciptaan Tuhan. Banyak umat Islam yang menolak pandangan itu.
Imam Hanbali termasuk yang menentang paham tersebut. Akibatnya, ia pun dipenjara dan disiksa oleh Khalifah al-Mu'tasim, putra Al Ma'mun. Siksaan ini berlangsung hingga kepemimpinan Dinasti Abbasiyah dipegang oleh al-Wasiq yang menggantikan ayahnya, al-Mu'tasim. Siksaan tersebut makin meneguhkan sikap Hanbali menentang paham Muktazilah. Sikapnya itu membuat umat makin bersimpati kepadanya sehingga pengikutnya makin banyak kendati ia mendekam dalam penjara.
Sepeninggal Khalifah al-Wasiq, Imam Hanbali menghirup udara kebebasan. Khalifah al-Mutawakkil, sang pengganti, membebaskan Imam Hanbali dan memuliakannya. Namanya pun makin terkenal dan banyaklah ulama dari berbagai pelosok belajar kepadanya. Diantara para ulama yang belajar kepadanya adalah Imam Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, Imam Abu Zuhrah, Imam Ibnu Abi, dan Imam Abu Bakar Al Asram.
Pada awalnya mazhab Hanbali hanya berkembang di wilayah Irak. Baru pada abad ke-6 H, mazhab ini berkembang hingga ke Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) dan Ibnu Qayyim (wafat 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fikih Imam Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, mazhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah.
Sebagaimana ketiga Imam lainnya, Syafi'i, Hanafi dan Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Hanbali dijadikan patokan dalam praktik ritual keagamaan, khususnya dalam masalah fikih. Sebagai pendiri mazhab tersebut, Imam Hanbali memberikan perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber pada sunah Nabi SAW.
Menurut Ibnu Qayyim, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa mazhab Hanbali. Pertama, Alquran dan Hadis. Jika pada keduanya tidak ditemukan jawaban, ia melakukan langkah kedua, yaitu merujuk kepada fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya.
Adapun yang ketiga adalah menggunakan pendapat sahabat yang lebih sesuai dengan Alquran dan Sunah Nabi SAW. Jika tidak ditemukan juga jawabannya, ia melakukan langkah keempat, yaitu menggunakan hadis mursal (hadis yang tidak menyebutkan nama sahabat yang meriwayatkannya) dan daif (lemah).
Terakhir, apabila ia tidak menemukan penjelasan pada kedua hadis itu, ia menggunakan metode kias. Namun metode ini hanya dilakukan dalam keadaan darurat. dia/taq/berbagai sumber
Tomica
August 30, 2009, 14:01
Dia Yang Mahakuasa telah memberikan kasih sayangNya kepada seluruh anak cucu dari Adam as, dan kita pernah membenarkan dan menjawabNya dengan perkataan , " Kami bersungguh kepadaMu , duhai Tuhan kami " Yang Mahakuasa kemudian berkata :
" Saya akan memberikan ujian kepada kalian, untuk melihat siapa di antara kalian yang sungguh sungguh dalam pernyataan Cintanya kepadaKu " .
Ada berbagai ujian dalam segala kehidupan kita, dan dengan bersabar dalam menghadapinya, kita akan mendapatkan Cinta Tuhan yang tidak berbatas.
AlfaOmega
August 31, 2009, 04:00
Sebuah kisah yang sangat mengharukan. Mengharukan bagi siapa saja, yang masih memiliki setetes iman. Hanya setetes iman, itu sudah cukup untuk memahami perubahan kehidupan yang terjadi. Peristiwa yang penuh dengan keniscayaan.
Adalah Abdul Hamid bin Muhammad mendengar Muhammad bin As-Sammak berkisah, “Sesungguhnya Musa bin Sulaiman Al-Hasyimi adalah anak muda paling kaya, dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya. Dia selalu mengikuti hawa nafsunya untuk menikmati berbagai macam kelezatan, dalam makanan, minuman, pakaian, wewangian, dan dayang-dayang yang cantik. Sulaiman, tak pernah lepas dari pikirannya, bagaimana menikmati kelezatan hidup.
Musa merupakan pemuda yang tampan, wajahnya bulat seperti rembulan, jernih, putih kemerah-merehan, dan rambutnya hitam legam, hidungnya mancung, matanya bercelak sangat hitam dan lebar, seperti mata kijang, dan mampu menyihir orang yang memandangnya. Kelopaknya tinggi, kedua alisnya sejajar, bagaikan dilukis dengan pensil alis, mulutnya mungil, kedua bibirnya tipis, gigi seri putih cemerlang, lisahnnya fasih, bicaranya manis, suaranya lembut, dan memang dia mendapatkan nikmat dari Allah yang sempurna.
Penghasilannya dari perkebunan dan ladangnya setiap tahunnya berkisar tiga juga dirham. Semua kinikmatan ini berlanjut, tanpa pernah putus, sehingga membuatnya terpesona akan dirinya sendiri. Masa mudanya dan dunianya yang dapat memenuhi semua yang yang diinginkannya.
Musa mempuyai balkon yang tinggi tempat dia duduk di waktu sore sambil mengawasi orang-orang dibawahnya. Balkon itu mempunyai beberapa pintu yang menghubungkan jalan raya dan beberapa pintu yang menghubungkan ke perkebunannya. Selain itu, dipasang kubah gading gajah yang dibubut dan dilapisi dengan perak dan emas, lalu ditutup dengan kain tenun berwarna hijau dan dilapisi dengan kain sutera yang halus.
Dari atas kubah itu, digantungkan rantai yang diuntai dari permata dan intan, serta disinari dengan batu yakut merah, batu zabarjad (sejenis zamrud) hijau dan batu akik berwarna kuning. Masing-masing permata itu sebesar buah kenari. Pada masing-masing pintu diberi tenda yang ditenun dengn benang emas, dan di sekitar kubah itu diletakkan tiga puluh lilin yang dipasang di tiga puluh tempat lilin yang terbuat dari perak.
Sedangkan berat masing-masing lilin perak itu senilai seribu dirham,dan di setiap lima tempat lilin perak terdapat seorang pelayan yang berdiri memegang pemotong dari emas seberat seratus miskal. Para pelayan itu memakai pakaian warna-warni dan ikat pinggang yang ditaburi dengan batu permata. Di setiap pintu bagianlluar dari jendela digantungkan lampu-lampu yang diikat dengan rantai dari perak dan minyaknya terbuat dari air raksa murni.
Musa berada diatas tempat tidur memakai pakaian dalam yang ditenun garis-garis, kepalanya dihiasi dengan mahkota. Dia ditemani oleh beberapa orang kerabatnya, dan tempat pembakar dupa dipasang untuk mendatangkan asap yang harum. Di dekat kepala berdiri para pelayan yang memegang kipas dan tempat air, para penyanyi wanita berada di depannya, sambil menyanyikan lagu-lagu, yang meninakbobokkannya.
Tak pernah ketinggal dayang-dayang yang sangat cantik, tak beranjak dari tempat tidurnya. Dia terus bermain dengan teman-temannya, tak pernah melaksanakan shalat. Menikmati permainannya dengan dadu, dan minum-minum, tak sedikitpun mengingat kamatian, dan sepanjang hari, siang dan malam, hanyalah tertawa-tawa, penuh dengan kegembiraan, sambil mendengarkan cerita-cerita yang lucu, terkadang konyol.
Suatu ketika Musa ditengah malam, dia mendengarkan suara yang aneh, lalu menyuruh pembantunya mencari suara itu. Suara itu mampu menggelitik hatinya. Diatas kubahnya itu, Musa melihat keluar, dan ingin mendengarkan suara-suara yang menyentuh hatinya itu. Ternyata suara itu datang dari pemuda yang kumal, bernama Kamal, yang badannya kurus, berleher kecil, berkaki kuning, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan, perutnya menempel ke punggungnya kempis kurang makan, memakai dua helai pakaian yang sudah usang dan tidak memakai alas kaki.
Pemuda kumal itu berdiri pada salah satu sisi masjid sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka para pelajan Musa mengeluarkan dari masjid, dan membawanya pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya sampai dihadapan Musa. Maka, Musa memandangnya, seraya berakata, ‘Siapa ini?”, tanyanya. “Pemilik alunan suara yang anda dengar tadi”, jawab pelayan. “Di mana kalian menemukannya?”, tanya Musa “Di masjid sedang berdiri bersembahyang dan membaca do’a”, jawab pelayan itu. Kemudian, Musa bertanya kepada pemuda itu, “Wahai pemuda, apa yang kau baca?”, tanya Musa. “Perdengarkan aku dengan suara alunanmu”, kata Musa.
Maka pemuda itu mengalunkan suaranya, “Sesungguhnya, orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) diatas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minuman khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi, danuntuk yang demikian itu hendaknya orangt berlomba-lomba. Dan, campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah”. (Al-Qur’an :88 ;22-28)
Kemudian, pemuda yang kurus dan lusuh itu berkata, “Wahai orang yang terlena, sesungguhnya kenikmatan surga itu berbeda dengan kediaman, balkon dan pembaringanmu itu. Sesungguhnya pembaringan di surga itu adalah dipan-dipan yan digelari dengan permadani yang terangkat tinggi terbang”, ucap pemuda itu. Selanjutnya, pemuda itu menambahkannya, “Wali (kekasih) allah akan memperoleh kehormatan dari surga itu atas dua mata air yang mengalir dari dua surga”, tambahnya.
Mendengar alunan suara (ayat-ayat al-Qur’an) itu, lalu Musa memeluk pemuda yang kurus dan lusuh itu, sambil terus menangis yang tiada henti-hentinya. Besok paginya ia melaksanakan tobatnya. Musa al-Hasyimi terus di masjid, sambil beribadah, tiada putus menangis, menyesali dirinya yang penuh dengan dosa dan maksiat, serta tak pernah mengingat Rabbnya. “Wahai Tuhanku, aku tidak pernah mempertahikan-Mu dalam kesunyianku. Wahai Tuhanku, syahwatku telah tiada dan tinggallah kini pertanggungjawabanku. Mak neraka Wail bagiku pada hari aku bertemu dengan Mu, nereka Wail karena hari-hari ku penuh dengan kejahatan dan kesalah-salahan”, tangisnya.
Keesokan harinya seluruh harta bendanya, yang dia miliki dijual, berupa emas, perak, permata, pakaiannya, perkebunan, ladang, serta budak-budaknya yang cantik-cantik, semuanya dijualnya, dan hasilnya disedekahkan seluruhnya kepada fakir miskin.
Lalu, diakhir hidupnya yang sudah miskin itu, ia pergi haji dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki, berjalan kaki menelusuri padang pasir yang panas terik, sebagai bagian dari penebus dosanya. Ia pergi ke Makkah, hanya berjalan kaki, tanpa alas. Sungguh, tak ada bandingnya penyesalan atas dosanya itu. Sampailah Musa di kota Makkah. Dan, setiap hari ia hanya beribadah dan memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla, sambil mengilingi Ka’bah. Di waktu malam ia terus mengelilingi Ka'bah, dan masuk ke Ijir Ismail, seraya mengucapkan tobatnya :
“Ya Rabb, Engkau mengetahui segala perbuatanku. Ya Rabb, kepada siapakah aku lari, kecuali hanya kepada Mu. Dan, kepada siapakah aku berlindung, kecuali hanya kepada Mu. Ya Rabb, sesungguhnya aku memang tidak layak mendapatkan surga Mu, namun aku memohon dengan kedermawanan Mu dan kemuliaan Mu, agar sudilah Engkau mengasihiku dan memaafkanku”, tangis Musa. Sambil ia terduduk di depan Ka’bah.
Wajahnya penuh dengan kerut, seakan sudah sangat tua, dan hidupnya selalu dipenuhi dengan kepedihan mengingat dosa di waktu muda itu. Di saat munajatnya, yang dengan hati yang tulus itu, Musa al-Hasyimi kembali kepada Rabbnya. Wallahu ‘alam.
AlfaOmega
August 31, 2009, 04:00
Dia Berhaji Dengan Berjalan Kaki
oleh Mashadi (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/dia-berhari-dengan.htm)
Sebuah kisah yang sangat mengharukan. Mengharukan bagi siapa saja, yang masih memiliki setetes iman. Hanya setetes iman, itu sudah cukup untuk memahami perubahan kehidupan yang terjadi. Peristiwa yang penuh dengan keniscayaan.
Adalah Abdul Hamid bin Muhammad mendengar Muhammad bin As-Sammak berkisah, “Sesungguhnya Musa bin Sulaiman Al-Hasyimi adalah anak muda paling kaya, dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya. Dia selalu mengikuti hawa nafsunya untuk menikmati berbagai macam kelezatan, dalam makanan, minuman, pakaian, wewangian, dan dayang-dayang yang cantik. Sulaiman, tak pernah lepas dari pikirannya, bagaimana menikmati kelezatan hidup.
Musa merupakan pemuda yang tampan, wajahnya bulat seperti rembulan, jernih, putih kemerah-merehan, dan rambutnya hitam legam, hidungnya mancung, matanya bercelak sangat hitam dan lebar, seperti mata kijang, dan mampu menyihir orang yang memandangnya. Kelopaknya tinggi, kedua alisnya sejajar, bagaikan dilukis dengan pensil alis, mulutnya mungil, kedua bibirnya tipis, gigi seri putih cemerlang, lisahnnya fasih, bicaranya manis, suaranya lembut, dan memang dia mendapatkan nikmat dari Allah yang sempurna.
Penghasilannya dari perkebunan dan ladangnya setiap tahunnya berkisar tiga juga dirham. Semua kinikmatan ini berlanjut, tanpa pernah putus, sehingga membuatnya terpesona akan dirinya sendiri. Masa mudanya dan dunianya yang dapat memenuhi semua yang yang diinginkannya.
Musa mempuyai balkon yang tinggi tempat dia duduk di waktu sore sambil mengawasi orang-orang dibawahnya. Balkon itu mempunyai beberapa pintu yang menghubungkan jalan raya dan beberapa pintu yang menghubungkan ke perkebunannya. Selain itu, dipasang kubah gading gajah yang dibubut dan dilapisi dengan perak dan emas, lalu ditutup dengan kain tenun berwarna hijau dan dilapisi dengan kain sutera yang halus.
Dari atas kubah itu, digantungkan rantai yang diuntai dari permata dan intan, serta disinari dengan batu yakut merah, batu zabarjad (sejenis zamrud) hijau dan batu akik berwarna kuning. Masing-masing permata itu sebesar buah kenari. Pada masing-masing pintu diberi tenda yang ditenun dengn benang emas, dan di sekitar kubah itu diletakkan tiga puluh lilin yang dipasang di tiga puluh tempat lilin yang terbuat dari perak.
Sedangkan berat masing-masing lilin perak itu senilai seribu dirham,dan di setiap lima tempat lilin perak terdapat seorang pelayan yang berdiri memegang pemotong dari emas seberat seratus miskal. Para pelayan itu memakai pakaian warna-warni dan ikat pinggang yang ditaburi dengan batu permata. Di setiap pintu bagianlluar dari jendela digantungkan lampu-lampu yang diikat dengan rantai dari perak dan minyaknya terbuat dari air raksa murni.
Musa berada diatas tempat tidur memakai pakaian dalam yang ditenun garis-garis, kepalanya dihiasi dengan mahkota. Dia ditemani oleh beberapa orang kerabatnya, dan tempat pembakar dupa dipasang untuk mendatangkan asap yang harum. Di dekat kepala berdiri para pelayan yang memegang kipas dan tempat air, para penyanyi wanita berada di depannya, sambil menyanyikan lagu-lagu, yang meninakbobokkannya.
Tak pernah ketinggal dayang-dayang yang sangat cantik, tak beranjak dari tempat tidurnya. Dia terus bermain dengan teman-temannya, tak pernah melaksanakan shalat. Menikmati permainannya dengan dadu, dan minum-minum, tak sedikitpun mengingat kamatian, dan sepanjang hari, siang dan malam, hanyalah tertawa-tawa, penuh dengan kegembiraan, sambil mendengarkan cerita-cerita yang lucu, terkadang konyol.
Suatu ketika Musa ditengah malam, dia mendengarkan suara yang aneh, lalu menyuruh pembantunya mencari suara itu. Suara itu mampu menggelitik hatinya. Diatas kubahnya itu, Musa melihat keluar, dan ingin mendengarkan suara-suara yang menyentuh hatinya itu. Ternyata suara itu datang dari pemuda yang kumal, bernama Kamal, yang badannya kurus, berleher kecil, berkaki kuning, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan, perutnya menempel ke punggungnya kempis kurang makan, memakai dua helai pakaian yang sudah usang dan tidak memakai alas kaki.
Pemuda kumal itu berdiri pada salah satu sisi masjid sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka para pelajan Musa mengeluarkan dari masjid, dan membawanya pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya sampai dihadapan Musa. Maka, Musa memandangnya, seraya berakata, ‘Siapa ini?”, tanyanya. “Pemilik alunan suara yang anda dengar tadi”, jawab pelayan. “Di mana kalian menemukannya?”, tanya Musa “Di masjid sedang berdiri bersembahyang dan membaca do’a”, jawab pelayan itu. Kemudian, Musa bertanya kepada pemuda itu, “Wahai pemuda, apa yang kau baca?”, tanya Musa. “Perdengarkan aku dengan suara alunanmu”, kata Musa.
Maka pemuda itu mengalunkan suaranya, “Sesungguhnya, orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) diatas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minuman khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi, danuntuk yang demikian itu hendaknya orangt berlomba-lomba. Dan, campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah”. (Al-Qur’an :88 ;22-28)
Kemudian, pemuda yang kurus dan lusuh itu berkata, “Wahai orang yang terlena, sesungguhnya kenikmatan surga itu berbeda dengan kediaman, balkon dan pembaringanmu itu. Sesungguhnya pembaringan di surga itu adalah dipan-dipan yan digelari dengan permadani yang terangkat tinggi terbang”, ucap pemuda itu. Selanjutnya, pemuda itu menambahkannya, “Wali (kekasih) allah akan memperoleh kehormatan dari surga itu atas dua mata air yang mengalir dari dua surga”, tambahnya.
Mendengar alunan suara (ayat-ayat al-Qur’an) itu, lalu Musa memeluk pemuda yang kurus dan lusuh itu, sambil terus menangis yang tiada henti-hentinya. Besok paginya ia melaksanakan tobatnya. Musa al-Hasyimi terus di masjid, sambil beribadah, tiada putus menangis, menyesali dirinya yang penuh dengan dosa dan maksiat, serta tak pernah mengingat Rabbnya. “Wahai Tuhanku, aku tidak pernah mempertahikan-Mu dalam kesunyianku. Wahai Tuhanku, syahwatku telah tiada dan tinggallah kini pertanggungjawabanku. Mak neraka Wail bagiku pada hari aku bertemu dengan Mu, nereka Wail karena hari-hari ku penuh dengan kejahatan dan kesalah-salahan”, tangisnya.
Keesokan harinya seluruh harta bendanya, yang dia miliki dijual, berupa emas, perak, permata, pakaiannya, perkebunan, ladang, serta budak-budaknya yang cantik-cantik, semuanya dijualnya, dan hasilnya disedekahkan seluruhnya kepada fakir miskin.
Lalu, diakhir hidupnya yang sudah miskin itu, ia pergi haji dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki, berjalan kaki menelusuri padang pasir yang panas terik, sebagai bagian dari penebus dosanya. Ia pergi ke Makkah, hanya berjalan kaki, tanpa alas. Sungguh, tak ada bandingnya penyesalan atas dosanya itu. Sampailah Musa di kota Makkah. Dan, setiap hari ia hanya beribadah dan memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla, sambil mengilingi Ka’bah. Di waktu malam ia terus mengelilingi Ka'bah, dan masuk ke Ijir Ismail, seraya mengucapkan tobatnya :
“Ya Rabb, Engkau mengetahui segala perbuatanku.
Ya Rabb, kepada siapakah aku lari, kecuali hanya kepada Mu.
Dan, kepada siapakah aku berlindung, kecuali hanya kepada Mu.
Ya Rabb, sesungguhnya aku memang tidak layak mendapatkan surga Mu,
namun aku memohon dengan kedermawanan Mu dan kemuliaan Mu,
agar sudilah Engkau mengasihiku dan memaafkanku”, tangis Musa. Sambil ia terduduk di depan Ka’bah.
Wajahnya penuh dengan kerut, seakan sudah sangat tua, dan hidupnya selalu dipenuhi dengan kepedihan mengingat dosa di waktu muda itu. Di saat munajatnya, yang dengan hati yang tulus itu, Musa al-Hasyimi kembali kepada Rabbnya. Wallahu ‘alam.
misscuex
August 31, 2009, 04:20
KISAH BENAR PEMUDA ARAB BELAJAR DI USA
Asallammualaikum
Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampong tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Mula-mula ia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.
Di saat itu, si pendeta agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.
Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang pendeta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun, pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan ugamanya. Pemuda muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.
Pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat."Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silakan!
Sang pendeta pun mulai bertanya, "
1.Sebutkan satu yang tiada duanya,
2.dua yang tiada tiganya,
3.tiga yang tiada empatnya,
4.empat yang tiada limanya,
5.lima yang tiada enamnya,
6.enam yang tiada tujuhnya,
7.tujuh yang tiada delapannya,
8.delapan yang tiada sembilannya,
9.sembilan yang tiada sepuluhnya,
10.sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11.sebelas yang tiada dua belasnya,
12.dua belas yang tiada tiga belasnya,
13.tiga belas yang tiada empat belasnya.
14.Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15.Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16.Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19.Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20.Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21.Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22.Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca bismalah ia berkata,
1.Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2.Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
3.Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4.Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
5.Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
6.Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
7.Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
8.Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
9.Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*
10.Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
11.Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .
12.Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
13.Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
14.Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).
15.Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16.Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:98)
17.Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).
18.Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
19.Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya':69).
20.Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21.Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
22.Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pun mula hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh pendeta. Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
Mendengar pertanyaan itu lidah pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia cuba mengelak.
Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapan nya, namun aku takut kalian marah."
Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. " Pendeta pun berkata, "Jawabannya ialah: Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."
Lantas pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**
* Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah.
keep posting ya.. cari cerita yang lain2 lagi :D
misscuex
August 31, 2009, 04:21
Dia Yang Mahakuasa telah memberikan kasih sayangNya kepada seluruh anak cucu dari Adam as, dan kita pernah membenarkan dan menjawabNya dengan perkataan , " Kami bersungguh kepadaMu , duhai Tuhan kami " Yang Mahakuasa kemudian berkata :
" Saya akan memberikan ujian kepada kalian, untuk melihat siapa di antara kalian yang sungguh sungguh dalam pernyataan Cintanya kepadaKu " .
Ada berbagai ujian dalam segala kehidupan kita, dan dengan bersabar dalam menghadapinya, kita akan mendapatkan Cinta Tuhan yang tidak berbatas.
wah.. ceritanya dikit tapi maknanya dalam....
Tomica
September 01, 2009, 10:07
Kesadaran semu akan diri kita. Kesadaran akan identitas yg menyangkut Tuhan adalah diri kita yg sebenarnya, sementara kesadaran akan identitas menyangkut pribadi kita, termasuk dalam ego.
Dikatakan bahwa Allah swt bertanya kepada ego dan puasa : " Siapakah dirimu?" Ia menjawab " Aku adalah aku, dan kau adalah kau ". Maka Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan dia dimasukkan ke dalam neraka selama seribu tahun. Lalu ia dikeluarkan dan diajukan pertanyaan yg sama. Ego menjawab " Kau adalah kau dan aku adalah yang satu". Maka dia diperintahkan untuk dimasukkan kedalam neraka yg dingin selama seribu tahun, lalu dia ditanya, " Siapakah dirimu?" dan dia memberikan jawaban yg sama seperti sebelumnya. Maka dia diperintahkan untuk dimasukkan kedalam lembah kelaparan selama seribu tahun, lalu kembali dia dipanggil dan ditanya. Dia menjawab " Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu. Maka Nabi membawa perintah berpuasa dari Allah swt. Ego menjadi kalah dan berkata, " Aku tak lagi menganggap diri sebagai Tuhan dihadapan-Mu, aku hamba-Mu yg lemah, dan Engkau adalah Tuhanku". Orang yg tak dapat mengendalikan diri adalah buruk dan berbahaya. Puasa memberi kemampuan untuk mengendalikan ego.
Ego bukan ditujukan untuk menyusahkan kita. Tidak !
Ego kita adalah anugerah yg sangat besar dari Allah Yang maha Kuasa. Nabi mengatakan bahwa ego adalah kuda yg dapat kita kendarai, kemanapun kita ingin menuju. Allah Yang Maha Kuasa bersabda,
" Manfaatkan egomu dan datanglah kepada-Ku.," tapi saat anda diminta memasuki Hadirat Allah swt, Ia akan mengatakan, " Tinggalkan kudamu diluar, lalu masuklah." Kudamu adalah ego. Tak ada makhluk yg lebih kuat daripada ego kita, juga tak ada makhluk yg lebih berguna daripadanya. Dia dapat membawa kita dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. Dia amat berbahaya dan kuat, dan fungsinya juga sangat penting. Tak ada lagi sarana yg dapat membawa umat manusia dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. Tak ada yg bisa memahami. Tunggangan yg penting itu tak diberikan kepada anda hanya agar dia makan, minum dan menikmati. Allah swt mengharapkan anda menungganginya dan datang kepada-Nya ( Mawlana Shayk Nazim ha ).
Tomica
September 02, 2009, 13:23
Pada suatu hari ikan2 di samudera berkumpul di hadapan pemimpin mereka. Mereka berkata, " Ya Fulan, kami bermaksud menghadap lautan. Bukanlah karena ia kami berada dan tanpa ia kami tiada. Tunjukan kepada kami arahnya dan ajari kami jalan untuk menuju dan mencapainya. Sudah lama kami tidak tahu di mana tempatnya dan dimana arahnya."
Pemimpin berkata, "Kawan kawan, saudara-saudara, ucapan ini tidak layak bagi kalian dan orang orang seperti kalian. Lautan terlalu luas untuk kalian capai. Ini bukan urusanmu. Ini juga bukan posisimu. Diamlah. Janganlah berbicara dengan pembicaraan seperti ini. Cukuplah kalian yakini bahwa kalian berada karena adanya dan tidak akan ada tanpa keberadaanya."
Mereka berkata, " Jawaban ini tidak akan ada gunanya bagi kami. Larangan tidak akan menahan kami. Kami harus menujunya. Anda harus menunjuki kami untuk mengenalnya dan membimbing kami ke dalam wujudnya."
Ketika sang pemimpin melihat gelagat ini dan larangannya tidak digubris, ia mulai menjelaskan, "Saudara-saudara, lautan yg kalian cari, yg kalian ingin temui, ada bersamamu dan kalian bersamanya. Ia meliputi kamu dan kalian meliputinya. Yang meliputi tidak terpisah dari yg diliputi. Lautan itu adalah yg di situ kalian berada. Ke manapun kamu menghadap, disitu ada Lautan. Lautan bersama kamu dan kamu bersama lautan. Kamu pada lautan dan lautan pada kamu. Ia tidak gaib darimu, kalian juga tidak gaib darinya. Ia lebih dekat darimu daripada urat lehermu.
Ketika mendengar ucapan itu, mereka semua bangkit untuk membunuh sang pemimpin. Sang pemimpin lalu berkata kepada mereka, "Apa salahku sehingga kalian mau membunuhku."
Mereka berkata, "Karena, menurutmu, lautan yg kami cari adalah lautan yg di situ kami berada. Bukankah kami berada di dalam air. Apa hubungannya air dengan lautan ? Kamu hanya ingin menyesatkan kami dari jalannya. Kamu hanya memperdayakan kami."
Sang pemimpin berkata, "Demi Allah, bukan begitu. Aku hanya mengatakan yg sebenarnya. Sebetulnya lautan dan air itu satu dalam hakikat. Diantara keduanya tidak ada perbedaan. Air adalah nama lautan dari segi hakikat dan wujud. Lautan adalah nama baginya dari segi kesempurnaan, kekhususan, keluasan, dan kebesaran diatas semua fenomena."
Sayyid Haydar Amuli, sufi besar abad ke 14, menukil cerita di atas untuk menggambarkan hubungan makhluk dengan Tuhan seolah olah hubungan antara penghuni lautan dengan lautan. Perbandingan ini tentu saja tidak tepat. Ia hanyalah upaya untuk menyederhanakan hakikat yg sangat jauh dari ruang lingkup pengalaman kita. Walaupun begitu, kebanyakan orang tidak juga memahaminya. Alih-alih berterimakasih , dalam sejarah, seperti ikan-ikan itu, kita menolak penjelasan itu, mengafirkan mufasirnya, dan tidak jarang membunuhnya. Yang jarang adalah sikap merendah menghadapi sesuatu yg tidak kita pahami. Lebih jarang lagi adalah kesediaan untuk memahami dan menerima penjelasannya.
by Jalalludin Rakhmat
AlfaOmega
September 05, 2009, 02:51
Delapan Tanda Orang Ikhlas (http://www.dakwatuna.com/2009/delapan-tanda-orang-ikhlas/)
Tazkiyatun Nufus
25/8/2009 | 04 Ramadhan 1430 H | Hits: 3,634
Oleh: Mochamad Bugi
Dua Syarat Amal
dakwatuna.com – Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.
Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).
Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)
Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.
Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.
Delapan Tanda Keikhlasan
Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:
1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”
Meski demikian, ucapan para ulama tersebut bukan menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengarungi kehidupan kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia. Apalagi, para nabi dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang popular. Yang dilarang adalah meminta nama kita dipopulerkan, meminta jabatan, dan sikap rakus pada kedudukan. Jika tanpa ambisi dan tanpa meminta kita menjadi dikenal orang, itu tidak mengapa. Meskipun itu bisa menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak siap menghadapinya.
2. Ikhlah ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlomba.” (Ahmad).
3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.
Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)
AlfaOmega
September 05, 2009, 02:53
4. Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit
Rasulullah saw. melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan, “Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya. Dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya.”
Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.
5. Keikhalasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia
Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah swt. Di sinilah keikhlasan kita diuji. Memilih keridhaan Allah swt. atau keridhaan manusia yang mendominasi diri kita? Pilihan kita seharusnya seperti pilihan Masyithoh si tukang sisir anak Fir’aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.
6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah
Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda. Sebaliknya, Allah swt. mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu. “Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)
7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan
Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”
8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.
AlfaOmega
October 20, 2009, 06:08
Kota Madinah Menjadi Gempar? (http://www.eramuslim.com/dialog/kota-madinah-menjadi-gempar.htm)
Senin, 19/10/2009 10:45 WIB
Kota Madinah menjadi gempar dengan berita pengangkatannya, sebab kehidupan Umar bin Abdul Aziz sudah sangat masyhur dikalangan masyarakat, bahkan di seluruh penjuru negeri Islam. Kegemparan ini dimaklumi, sebab selain Umar sebagai pribadi yang istimewa, Umar menggantikan tokoh Hisyam bin Ismail, yang terkenal dengan kelaliman dan kekerasannya, hingga banyak menimbulkan kekacauan dan ketidak senangan masyarakatnya.
Pemimpin baru ini mengawali pemerintahannya dengan langkah-langkah yang sama sekali berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Apabila penguasa sebelumnya selalu dikelilingi para pembantu yang terdiri dari orang-orang jahat, para penjilat dan pengambil muka, yang kemudian terkenallah sebuah pameo, “Uang yang laku itu adalah uang yang palsu”. Tiba-tiba datanglah seorang pemimpin yang shaleh dan penuh dengan berkah, serta memberkahi kehidupan.
Mengawali pemerintahannya Umar bin Abdul Aziz dengan mengumumkan, bahwa ia melakukan pembaharuan dan perbaikan yang berkaitan berbagai aspek bidang kehidupan. Tidak dibenarkan selain yang benar, yang baik itu bukanlah yang buruk, kebenaran itu bukanlah kebohongan, adil itu bukan kesewang-wenangan, ujar Umar. “Inilah yang menjadi undang-undang dan system pemerintahanku”, tambah Umar.
Ketika itu, saat Umar menerima amanah memegang kekuasaan, sebagai pemimpin negara, maka dipilihlah sepuluh orang ulama yang shaleh dan terkemuka di Madinah, sebagai anggota majelis penasehatnya. Mereka adalah Ubaidallah bin Uthbah, Abu Bakar bin Salamah bin Abdurrahman, ‘Urwah bin ‘Uthbah, Abu Bakar bin Khaitsamah, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Sulaiman bin Yasar, Khariyah bin Ziad bin Tsabit, Qasim bin Muhammad bin Hazm, Salim bin Abdullah, dan Abdulah bin ‘Amir bin Rabi’aih. Itulah sepuluh ulama terkemuka, yang mendampingi Umar bin Abdul Aziz dalam mengelola negara.
Pada pertemuan majelis yang pertama, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pesan kepada mereka sebagai berikut :
“Saya ajak tuan-tuan berkumpul dalam majelis ini untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dijanjikan beroleh pahala dari Nya. Tuan-tuan akan menjadi pembantu saya dalam menegakkan kebenaran. Atas nama Allah, saya mengharap kepada tuan-tuan, seandainya tuan-tuan melihat tindakan saya nanti bertentangan dengan aturan dan hukukm Allah, ingatkanlah saya dan tunjukkan saya jalan yang benar”, ungkap Umar.
Dalam catatan sejarah yang ada, Umar berhasil menjadikan daerah yang dipimpinnya wilayah yang teladan dalam segala hal. Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz dipercaya memimpin seluruh wilayah Hejaz, seperti Makkah, Madihan, dan Thaif dan sekitarnya. Pengalaman ini menjadi perjalanan kehidupannya, yang kelak Umar bin Abdul Aziz akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar.
Putera Abdul Aziz ini selalu mengawasi setiap etika, norma hukum, dan pelaksanaan nilai-nilai Islam, khususnya dalam kehidupan masyarakat, sehingga kepemimpinannya bagaikan taman yang hijau, subur dan indah ditengah-tengah kobaran api kedurhakaan. Ia memimpin umatnya dan membangun kebesarannya, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kehalusan budi, sikap, kerendahan hati terhadap sesama manusia, yang disertai dengan keadilan, kebijaksanaan serta kasih sayang, tanpa memilih-milih. Seorang ulama ahli hadhist besar dan terkemuka, Said bin Musaiyib, berkali-kali datang ke balai pemerintahan guna menamui Umar. Padahal, sebelumnya Umar selalu menolak menemui seorang umara’, atau amir.
Sampai, Umar menerima tugas yang lebih besar lagi, diangkat menjadi pemimpin (khalifah), yang memiliki tanggungjawab yang lebih besar lagi. Isterinya, Fatimah binti Abdul Malik, mengisahkan suatu peristiwa yang dialaminya, yaitu, “Suatu hari aku masuk ke kamarnya, dan kulihat ia sedang duduk diatas tikar shalatnya. Pipinya ditempelkan diatas tangannya, dan airmatanya mengalir tanpa henti …
Lalu, Fatimah bertanya, “Mengapa engkau menangis seperti ini?”, tanya Fatimah. “Oh .. malangnya Fatimah, aku diberi tugas mengurus seperti ini… Yang menjadi buah pikiranku adalah nasib si miskin yang kelaparan, orang yang merintih kesakitan, orang yang terasing di negeri ini, orang-orang tua renta, janda yang sendirian, orang-orang yang mempunyai tanggungan keluarga yang besar dengan pengasilan yang sangat kecil, dan orang-orang yang senasib dengan mereka di ujung seluruh pelosok negeri, baik di timur maupun barat, di utara maupun selatan.
“Wahai isteriku, aku tahu, Allah Azza Wa Jalla akan meminta pertanggungjawaban kepadaku di hari kiamat kelak, sedangkan pembela mereka adalah Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam”, keluh Umar.
Itulah sekelumit kisah orang yang paling masyhur, diantara generasi shalafus shaleh. Dapatkah kita mengambil ibroh (pelajaran) dari peristiwa kehidupan di masa lalu itu, bagi kehidupan politik dan para politisi di masa kini, khususnya bagi menjejaki kehidupan mendatang.
AlfaOmega
October 29, 2009, 07:03
Engkau bersamaku di Surga (http://putriecantika.multiply.com/journal/item/71/engkau_bersamaku_di_Surga...)
Dimana di masa Rasulullah saw, ketika beliau berkunjung menyambangi suku arab badui, beliau di jamu dengan sangat ramah dan hangat oleh suku tersebut. Sudah menjadi adab dan kebiasaan yang sudah familiar sekali kita dengar dimana bangsa arab adalah bangsa yang sangat memuliakan ‘dhuyuf’ atau tamunya.
Maka tiba waktunya suku badui tersebut menyambangi Rasullah, seperti ketika ia mengunjungi suku tersebut Beliau pun melakukan hal serupa ketika menyambut tamunya.
Di sela-sela jamuan Rasulullah bertanya, “Apa gerangan yang ingin engkau sampaikan kepadaku wahai fulan?”
“Ya Rasulullah sesungguhnya aku ingin meminta sesuatu padamu” Jawabnya.
“Mintalah” Seru Rasullullah.
“Aku meminta padamu 1 ekor Onta dan Domba yang bersusu” pinta si fulan.
“Wahai fulan aku ini Nabiyullah, tidak kah kau menginginkan sesuatu ‘lebih’ seperti permintaan nenek pada jaman Nabiyullah Musa? “ Ujar Nabi.
Seperti kita telah kita ketahui do’a mana yang tidak terkabulkan dari apa yang di minta Rasulullah? kecuali Allah akan mengabulkannya, ketika seseorang meminta kekayaan kepada Rasulullah, walaupun dengan beberapa kali Beliau mendiamkan permintaan tersebut karena kekhawatiran beliau akan harta tersebut, namun akhirnya Rasullullah mengabulkan dan menjadikan orang tersebut kaya
“Apa yang di minta nenek tersebut ya Rasulullah” tanya si fulan penasaran.
Maka Rasulullah menceritakan; Sewaktu Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam dan kaumnya akan meninggalkan kota mesir pada masa itu pasukan fir’aun pun mengejar kaum nabi Musa AS, tiba-tiba langit menjadi gelap dan kaum bani israil yang di bawa Nabi Musa menjadi kehilangan arah. “Bagaimana ini, kenapa menjadi gelap dan kita tersesat tak tau arah di kota kita sendiri?” Ujar Nabi Musa.
Salah seorang dari bani israil mengingat sesuatu dan berkata “Wahai Nabi Musa, sesungguhnya kami dulu pernah berjanji tidak akan meninggalkan jasad Nabi Yusuf AS jika kami keluar dari negeri ini”.
“Dimanakah jasad Nabiyullah Yusuf di kebumikan wahai fulan? “ Tanya Nabi Musa AS.
“Hanya ada seorang nenek yang tau dimana Nabiyullah Yusuf di makamkan” Ujar Fulan.
Maka bergegaslah Musa AS kerumah nenek yang di sebutkan tadi. Bercakap-cakaplah Musa AS dengan nenek tersebut.
“Wahai Nenek bisa kah kau tunjukkan kepada kami di mana makam Nabi Yusuf berada? kami akan membawanya keluar dari mesir?” pinta Musa AS..
Namun nenek tersebut tidak mau menjawab pertanyaan Musa AS hingga mengulanginya sampai 3 kali, agak sedikit greget dan memaksa Musa AS mengulangi pertanyaannya. Lalu Nenek tersebut mengajukan syarat bila ia menunjukan dimana makamnya.
“Apa syarat permintaanmu, wahai Nenek?” Tanya Musa AS
“Aku ingin masuk surga bersama dengan mu?” demikian syarat nenek tersebut.
“Wahai nenek? Bagaimana aku dapat mengabulkan permintaanmu?” Jawab Musa AS Di sela-sela kebingungannya, Allah SWT mengilhamkan padanya “Aku mengabulkan permintaan nya Ya Musa”.
“Wahai Nenek, engkau bersamaku di surga” Jawab Nabi Musa
Nenek tersebut tersenyum bahagia lalu menujukan dimana jasad Nabi Yusuf lalu mereka menggali makam Nabi Yusuf dan langit pun kembali cerah, terang benderang seperti sedia kala. Nabiyullah Musa dan kaum nya melanjutkan perjalananya.
AlfaOmega
December 16, 2009, 05:11
Keutamaan Ilmu (http://arsip.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=642)
Penulis : Arda Dinata
KotaSantri.com : Ilmu itu mampu mengungkapkan hikmah-hikmah yang terjadi dari setiap kejadian hidup keseharian kita. Jadi, tidak setiap orang mampu memungut hikmah sebagai hak miliknya yang hilang. Nabi SAW bersabda, "Hikmah adalah milik yang hilang dari seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, maka dia adalah orang yang paling berhak (memungutnya)." (HR. At-Tirmidzi).
Berbicara ilmu, ada baiknya kita membaca kembali hikmah berikut ini. Berdasarkan cerita ahli hikmah, berkumpullah sepuluh pemuka kaum Khawarij dan menyatakan tidak mau menerima ketika mendengar sabda Nabi SAW, "Akulah kota ilmu. Ali adalah gerbangnya."
Dalam pertemuan itu, mereka mau mencoba untuk membuktikannya. Kaum Khawarij mengatakan, "Kita cukup melontarkan satu pertanyaan yang sama. Jika Ali memberikan alasan yang berbeda, maka benarlah apa yang disabdakan Nabi."
Kaum Khawarij kemudian mendatangi Ali secara bergilir satu persatu dan bertanya kepada Ali, "Lebih utama mana, ilmu atau harta?"
"Ilmu," jawab Ali.
"Apa alasannya?"
"Ilmu warisan para Nabi. Harta warisan Qarun, Syaddat Fir'aun, dan lainnya."
Orang pertama segera pergi. Lalu datang orang kedua dengan pertanyaan yang sama. Ali selalu menjawab bahwa ilmu lebih utama dari harta. Tetapi setiap pertanyaan selalu diberikan alasan yang berbeda.
"Ilmu menjagamu. Sedang harta, kamulah yang menjagamu," jawab Ali kepada orang kedua.
"Pemilik harta musuhnya banyak. Pemilik ilmu sahabatnya banyak," jawabnya kepada orang ketiga.
Kepada orang keempat, Ali menjawab, "Harta akan berkurang jika kau gunakan. Ilmu akan bertambah jika kau pergunakan."
Kepada orang kelima, Ali menjawab, "Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit. Pemilik ilmu selalu dihormati dan dimuliakan."
Kepada orang keenam, Ali menjawab, "Harta perlu dijaga dari tangan pencuri. Ilmu tidak perlu dijaga."
Kepada orang ketujuh, Ali menjawab, "Pemilik harta pada hari kiamat kelak akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan mendapat syafa'at."
Kepada orang yang kedelapan, Ali menjawab, "Manakala dibiarkan dalam waktu yang lama, harta akan rusak. Ilmu tak akan musnah dan lenyap."
Kepada orang kesembilan, Ali menjawab, "Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati."
Kepada orang kesepuluh, Ali menjawab, "Pemilik harta akan dipanggil tuan besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuwan. Andai kata kalian hidupkan banyak orang, maka aku akan menjawabnya dengan berbeda selagi aku masih hidup."
Mereka lalu kembali dalam pengakuan Islam. Sungguh indah dan beruntung bagi mereka yang memiliki anak-anak, ilmuwan (lebih-lebih ilmu agama Islam), sehingga dengan ilmunya, perilaku dirinya akan dibimbing ke jalan yang lurus dan benar.
AlfaOmega
January 02, 2010, 13:56
Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama Dua Tamunya (http://www.dakwatuna.com/2009/perjalanan-rasulullah-saw-ke-surga-bersama-dua-tamunya/)
Kisah-Kisah, Tarikh Islam
15/10/2009 | 25 Syawal 1430 H | Hits: 5.369
Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com – Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.
Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.
Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”
“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.
Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.
Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”
Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”
Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.
Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.
Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.
“Apa ini?!” tanya Rasulullah
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.
Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”
Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”
Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!
Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”
“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”
Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”
Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”
Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!” [1]
“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.
Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.
Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”
…
Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”
Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”
Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.
Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. []
Maraji’: Riyadhush Shalihin
_______________
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)
(hdn/hudzaifah)
AlfaOmega
January 04, 2010, 07:26
Al-Quran sebagai pembela (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/himpunankisahteladan2.htm)
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah s.a.w. telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Quran, setelah itu Rasulullah s.a.w. memberitahu tentang kelebihan Al-Quran." Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: "Belajarlah kamu akan Al-Quran, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. "Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, "Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Quran : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari." Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Quran itu: "Adakah kamu Al-Quran?" Lalu Al-Quran mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah s.w.t. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?" Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Quran."
AlfaOmega
January 09, 2010, 04:02
Kelebihan bersalawat (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/himpunankisahteladan2.htm)
Rasulullah s.a.w. telah bersabda bahawa, "Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku: Berkata Jibril a.s.. : "Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar."
Berkata pula Mikail a.s.: "Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."
Berkata pula Israfil a.s.: "Mereka yang berselawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah s.w.t. dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah s.w.t. mengampuni orang itu."
Malaikat Izrail a.s. pula berkata : "Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi." Apakah kita tidak cinta kepada Rasulullah s.a.w. .? Para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang berselawat ke atas Rasulullah s.a.w. Dengan kisah yang dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan melepaskan peluang untuk berselawat ke atas junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah s.w.t., Rasul dan para malaikat.
AlfaOmega
January 09, 2010, 04:03
Kelebihan bersalawat (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/himpunankisahteladan2.htm)
Rasulullah s.a.w. telah bersabda bahawa, "Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku: Berkata Jibril a.s.. : "Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar."
Berkata pula Mikail a.s.: "Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."
Berkata pula Israfil a.s.: "Mereka yang berselawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah s.w.t. dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah s.w.t. mengampuni orang itu."
Malaikat Izrail a.s. pula berkata : "Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi." Apakah kita tidak cinta kepada Rasulullah s.a.w. .? Para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang berselawat ke atas Rasulullah s.a.w. Dengan kisah yang dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan melepaskan peluang untuk berselawat ke atas junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah s.w.t., Rasul dan para malaikat.
AlfaOmega
January 11, 2010, 07:07
Abu Hanifah dan tetangganya (http://www.unissula.ac.id/hikmah/index_sufi.asp?mID={D162C427-50C7-48B0-874D-B65AB77009A1})
Di Kufah, Abu Hanifah mempunyai tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja, menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar.
Selesai makan, ia terus minum tiada henti-hentinya sambil bemyanyi, dan baru berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk sekali, kemudian tidur pulas.
Abu Hanifah yang sudah terbiasa melaksanakan salat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh suara nyanyian si tukang sepatu tersebut. Tetapi, ia diamkan saja.
Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.
Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya ke istana. Ia ingin menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat.
Sang Amir sendiri yang berkenan menemuinya. "Ada yang bisa aku bantu?" tanya sang Amir.
"Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir" jawab Abu Hanifah.
"Baiklah," kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya.
Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata, "Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?"
"Tidak, bahkan sebaliknya." Jawabnya Ia menambahkan, "Terima kasih. Semoga Allah memberimu balasan kebajikan."
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya yang bernyanyi dengan suara keras sampai larut malam, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih khusyu" dalam ibadahnya setiap malam.
Administrator , 9 Juli 2009
AlfaOmega
January 14, 2010, 04:17
Imam Abu Dawud, Ahli Hadis dengan Segudang Julukan (http://www.voa-islam.net/teenage/moslem-heroes/2009/08/11/628/imam-abu-dawudahli-hadis-dengan-segudang-julukan/)
Banyak ulama yang menempatkannya sebagai ahli hadis setelah Bukhari dan Muslim.
Selain Imam Bukhari dan Muslim, salah seorang tokoh hadis yang terkenal adalah Imam Abu Dawud. Kepakarannya dalam bidang hadis diakui banyak ulama, baik para ahli tafsir, fikih, maupun ahli hadis.
Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin al-Asy'ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amru bin Amir al-Azdi al-Sijistani. Biasanya, ia dipanggil dengan nama Abu Dawud.
Ia adalah seorang imam ahli hadis yang sangat teliti dan merupakan tokoh terkemuka para periwayat hadis. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan.
Menurut Syekh Muhammad Said Mursi, dalam buku Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Imam Abu Dawud, dikenal sebagai penghafal hadis yang sangat kuat. Ia menguasai sekitar 500 ribu hadis.
Sejak kecil, Abu Dawud sudah mencintai ilmu pengetahuan. Ia banyak bergaul dengan para ulama dan menimba ilmu dari mereka. Ia belajar hadis hingga ke berbagai negeri. Menurut salah satu riwayat, konon ia harus menjumpai para ulama penghafal hadis yang dikenalnya sangat ahli. Ia mengembara dari Sijistan, Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan negeri-negeri lainnya, hingga akhirnya menetap di Basrah.
Guru-gurunya adalah Ath-Thayalisi, Ibn Syuraih, Hisyam, Umar, Ibnu Rahawaih, Al-Farra, Al-Madini, Imam Ahmad bin Hambal, dan lainnya. Adapun murid-muridnya adalah At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Al-Kirmani, Ibn Abi Dunya, dan Abu Zur'ah.
Dari guru-gurunya itu, Abu Dawud menimba berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu hadis. Karena itu, pengetahuannya dalam bidang hadis ditempatkan pada urutan ketiga ahli hadis setelah Bukhari dan Muslim. Ia mengumpulkan, meneliti, menyaring, dan membukukan hadis-hadis yang diperolehnya. Dari ratusan ribu hadis yang didapatkannya itu, sekitar 4.800 hadis ia pilih menjadi hadis sahih yang dibukukan menjadi Sunan Abu Dawud.
Begitu dalamnya perhatian Abu Dawud pada hadis, banyak ulama yang memuji dan memberikan sejumlah julukan kepadanya. Ibnu Ishaq Shahani berkata, ''Abu Dawud menempa hadis sebagaimana layaknya Nabi Daud menempa besi.''
Sementara itu, An-Naisaburi berkata, ''Dia adalah imam hadis yang tidak ada tandingannya di masanya.'' Ibnu Mamduh menyatakan, ''Orang yang istimewa dalam hafalannya dan terhindar dari kesalahan ada empat, yaitu Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa'i.''
Al-Hafiz Musa bin Harun berkata, ''Abu Dawud diciptakan di dunia hanya untuk hadis dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat orang yang lebih utama melebihi dia.''
Konon, saking pandainya Abu Dawud meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW, Sahal bin Abdullah At-Tistari pernah meminta Abu Dawud untuk menjulurkan lidahnya dan menciumnya. Hal itu dilakukannya untuk mengambil hikmah dari apa yang didapatkan Abu Dawud mengenai hadis.
Ulama lainnya pun banyak yang memberikan ungkapan dan pujian serupa yang menggambarkan betapa tinggi dan luasnya pengetahuan Imam Abu Dawud dalam bidang hadis. Ketika kitab hadis yang ditulisnya ditunjukkan pada Imam Ahmad bin Hambali, gurunya itu berkata, ''Kitab ini sangat bagus dan indah.''
AlfaOmega
January 14, 2010, 04:29
Bahkan, kendati diakui sebagai gurunya, ternyata Imam Ahmad bin Hambal pernah meriwayatkan sebuah hadis yang diterimanya dari Abu Dawud. Ini menunjukkan kualitas dan keahlian Abu Dawud dalam ilmu hadis.
Seperti Imam Ahmad
Selain itu, Abu Dawud juga dikenal seorang ulama yang wara, saleh, dan patut menjadi teladan. Sifat-sifatnya sebagaimana diungkapkan para ahli hadis menyerupai Ahmad bin Hambal dalam hal perilaku, sikap, dan kepribadiannya.
Imam Ahmad bin Hambali dalam sifat-sifatnya menyerupai Waki' dan Waki' menyerupai Sufyan As-Sauri. Sufyan menyerupai Mansur dan Mansur menyerupai Ibrahim An-Nakha'i. Ibrahim menyerupai Alqamah dan ia menyerupai Ibn Mas'ud. Sedangkan, Ibn Mas'ud menyerupai Nabi SAW. Sifat dan kepribadian yang mulia ini menggambarkan kesempurnaan akhlak dan kepribadian Imam Abu Dawud.
Dalam hal berpakaian, sang pakar hadis ini juga punya pandangan dan falsafah tersendiri. Menurut sebuah riwayat, baju yang dipakainya tampak berbeda antara lengan baju yang kanan dengan yang kiri. Yang satu lebih lebar dan yang lain lebih sempit.
Seseorang yang melihatnya terkadang bertanya akan sikap nyentriknya Abu Dawud ini. Adapun alasan yang dikemukakannya, ''Lengan baju yang lebar dipergunakan untuk membawa kitab dan yang lain tidak diperlukan. Jadi, kalau keduanya sama lebar, itu hanyalah pemborosan dan berlebih-lebihan,'' ujarnya.
Abu Dawud juga dikenal sebagai seorang yang wara, sopan, dan hormat kepada yang tua dan santun pkeada yang muda. Sebagaimana dituturkan oleh Imam al-Khattabi dari Abu Bakar bin Jbir, pembantu Abu Dawud.
''Aku bersama Abu Dawud tinggal di Baghdad. Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang. Lalu, pintu aku buka dan seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon izin untuk masuk. Kemudian, aku melaporkan tamu ini kepada Abu Dawud dan ia pun mengizinkan. Sang Amir pun masuk lalu duduk. Tak lama kemudian, Abu Dawud menemuinya seraya berkata, ''Gerangan apakah yang membawa Anda datang ke sini pada saat seperti ini?''
Sang Amir menjawab, ''Ada tiga kepentingan. Pertama, hendaknya tuan berpindah ke Basrah dan menetap di sana supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan. Dengan demikian, Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahwa Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.''
''Kedua, hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku. Ketiga, hendaknya tuan mengadakan majelis tersendiri untuk mengajarkan hadis kepada putra-putra khalifah sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum.''
Abu Dawud menjawab, ''Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi. Manusia pada dasarnya adalah sama, baik pejabat maupun rakyat.'' Ibn Jabir menjelaskan, sejak saat itu putra-putra khalifah hadir dan duduk bersama di majelis taklim.
Abu Dawud berkata, ''Hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi mereka-lah yang harus datang kepada para ulama.''
Demikianlah riwayat dan kebesaran sang ulama hadis ini. Setelah mengalami masa kehidupan yang gemilang dengan keilmuan yang dimilikinya pada 16 Syawal 275 H/889M, Imam Abu Dawud berpulang ke rahmatullah, menghadap Sang Khalik. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.
AlfaOmega
January 14, 2010, 04:40
Sunan Abu Dawud: Karya Fenomenal Sang Ahli Hadis
Sepanjang hidupnya, sekitar 73 tiga tahun (202-275 H), Imam Abu Dawud banyak mengabdikan dirinya pada ilmu hadis. Sejak kecil, ia belajar, mengumpulkan, menghafal, meneliti, dan membukukan ratusan ribu hadis serta mengajarkan hadis kepada umat.
Dan, selama masa pendidikan hingga mengajarkan hadis, Abu Dawud banyak menulis kitab. Di antaranya Kitab Sunnan Abu Dawud, Al-Marasil, Kitab Al-Qadar, An-Nasikh wal-Mansukh, Fadla'il al-A'mal, Kitab Az-Zuhd, Dala'il an-Nubuwah, Ibtida' al-Wahyu, dan Alhbar al-Khawarij.
Karyanya yang termasyhur dan beredar luas di kalangan umat Islam adalah Kitab Sunan Abu Dawud.
Dalam kitab Sunan tersebut, Abu Dawud menyusunnya dengan metode yang sangat teliti dan terperinci. Awalnya, kitab tersebut memuat hadis-hadis hukum dan juga hadis yang berkenaan dengan amal-amal yang terpuji, kisah-kisah atau nasihat, serta adab dan tafsir. Namun, ia mengkhususkan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah hukum.
Ketika selesai menulis dan menyusunnya, kitab tersebut ia bawa kepada Imam Ahmad bin Hambal, kemudian Imam Ahmad bin Hambal memuji karya tersebut sebagai karya yang indah dan baik.
Dalam Sunan-nya tersebut, Abu Dawud tidak hanya mencantumkan hadis-hadis sahih semata sebagaimana yang telah dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia juga memasukkan hadis sahih, hadis hasan, dhaif, hingga dianggap paling lemah oleh para imam hadis yang tidak menggunakannya.
Namun, apabila ada hadis yang lemah, Abu Dawud menjelaskan kelemahannya. Hal itu diketahui ketika dirinya berkirim surat pada penduduk Makkah sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka mengenai kitabSunan-nya.
''Aku mendengar dan menulis hadis Rasulullah SAW sebanyak 500 ribu buah. Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadis yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut, aku himpun hadis-hadis sahih, semisahih, dan yang mendekati sahih. Dalam kitab itu, aku tidak mencantumkan sebuah hadis pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Mengenai hadis yang mengandung kelemahan, kujelaskan sebagai hadis macam ini, ada hadis yang tidak sahih sanadnya. Adapun hadis yang tidak kuberi penjelasan sedikit pun, hadis tersebut bernilai sahih. Dan, sebagian dari hadis yang sahih ini ada yang lebih sahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab sesudah Alquran yang harus dipelajari, selain daripada kitab ini. Empat buah hadis saja dari kitab ini sudah cukup menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang.''
Keempat hadis yang disebutkannya itu adalah pertama tentang niat, ''Sesungguhnya, segala amal itu tergantung pada niatnya...''
Kedua, ''Termasuk, kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yg tidak berguna baginya.''
Ketiga, ''Tidaklah seseorang beriman menjadi Mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya.''
Dan, keempat, ''Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat yg tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menghindari syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya. Barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang. Ketahuilah sesungguhnya tiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam tubuh ini terdapat sepotong daging. Jika ia baik, baik pulalah semua tubuh. Jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati.''
Demikianlah penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Ini menunjukkan sikap kehati-hatiannya dalam meneliti dan mengemukakan sebuah hadis serta menunjukkan betapa luasnya pengetahuan yang dimilikinya.
Imam Al-Ghazali berkata, ''Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadis-hadis ahkam.''
Demikian juga dua imam, An-Nawawi dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, yang memberikan pujian terhadap kitab Sunan ini. Bahkan, keduanya menjadi kitab yang disusun Abu Dawud sebagai pegangan utama dalam pengambilan hukum.
Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik beberapa hadis dalam kitab ini. Ia menyebutkan, setidaknya ada sembilan buah hadis yang masuk kategori maudlu (palsu). Ibnu al-Jauzi dikenal sebagai tokoh dan ulama yang sering memvonis pihak lain. Namun, kritik itu telah ditanggapi dan dibantah oleh sebagian ahli hadis, seperti dikemukakan Jalaluddin as-Suyuti.
''Andaikata kita menerima kritik yg dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, sebenarnya hadis-hadis yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya dan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap ribuan hadis yang terkandung dalam kitab Sunan Abu Dawud. Karena itu, kami melihat bahwa hadis-hadis yang dikritik tersebut tidak mengurangi sedikit pun nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya,'' jelas as-Suyuthi. sya/taq.republika
AlfaOmega
January 14, 2010, 04:40
Sunan Abu Dawud: Karya Fenomenal Sang Ahli Hadis
Sepanjang hidupnya, sekitar 73 tiga tahun (202-275 H), Imam Abu Dawud banyak mengabdikan dirinya pada ilmu hadis. Sejak kecil, ia belajar, mengumpulkan, menghafal, meneliti, dan membukukan ratusan ribu hadis serta mengajarkan hadis kepada umat.
Dan, selama masa pendidikan hingga mengajarkan hadis, Abu Dawud banyak menulis kitab. Di antaranya Kitab Sunnan Abu Dawud, Al-Marasil, Kitab Al-Qadar, An-Nasikh wal-Mansukh, Fadla'il al-A'mal, Kitab Az-Zuhd, Dala'il an-Nubuwah, Ibtida' al-Wahyu, dan Alhbar al-Khawarij.
Karyanya yang termasyhur dan beredar luas di kalangan umat Islam adalah Kitab Sunan Abu Dawud.
Dalam kitab Sunan tersebut, Abu Dawud menyusunnya dengan metode yang sangat teliti dan terperinci. Awalnya, kitab tersebut memuat hadis-hadis hukum dan juga hadis yang berkenaan dengan amal-amal yang terpuji, kisah-kisah atau nasihat, serta adab dan tafsir. Namun, ia mengkhususkan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah hukum.
Ketika selesai menulis dan menyusunnya, kitab tersebut ia bawa kepada Imam Ahmad bin Hambal, kemudian Imam Ahmad bin Hambal memuji karya tersebut sebagai karya yang indah dan baik.
Dalam Sunan-nya tersebut, Abu Dawud tidak hanya mencantumkan hadis-hadis sahih semata sebagaimana yang telah dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia juga memasukkan hadis sahih, hadis hasan, dhaif, hingga dianggap paling lemah oleh para imam hadis yang tidak menggunakannya.
Namun, apabila ada hadis yang lemah, Abu Dawud menjelaskan kelemahannya. Hal itu diketahui ketika dirinya berkirim surat pada penduduk Makkah sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka mengenai kitabSunan-nya.
''Aku mendengar dan menulis hadis Rasulullah SAW sebanyak 500 ribu buah. Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadis yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut, aku himpun hadis-hadis sahih, semisahih, dan yang mendekati sahih. Dalam kitab itu, aku tidak mencantumkan sebuah hadis pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Mengenai hadis yang mengandung kelemahan, kujelaskan sebagai hadis macam ini, ada hadis yang tidak sahih sanadnya. Adapun hadis yang tidak kuberi penjelasan sedikit pun, hadis tersebut bernilai sahih. Dan, sebagian dari hadis yang sahih ini ada yang lebih sahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab sesudah Alquran yang harus dipelajari, selain daripada kitab ini. Empat buah hadis saja dari kitab ini sudah cukup menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang.''
Keempat hadis yang disebutkannya itu adalah pertama tentang niat, ''Sesungguhnya, segala amal itu tergantung pada niatnya...''
Kedua, ''Termasuk, kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yg tidak berguna baginya.''
Ketiga, ''Tidaklah seseorang beriman menjadi Mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya.''
Dan, keempat, ''Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat yg tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menghindari syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya. Barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang. Ketahuilah sesungguhnya tiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam tubuh ini terdapat sepotong daging. Jika ia baik, baik pulalah semua tubuh. Jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati.''
Demikianlah penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Ini menunjukkan sikap kehati-hatiannya dalam meneliti dan mengemukakan sebuah hadis serta menunjukkan betapa luasnya pengetahuan yang dimilikinya.
Imam Al-Ghazali berkata, ''Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadis-hadis ahkam.''
Demikian juga dua imam, An-Nawawi dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, yang memberikan pujian terhadap kitab Sunan ini. Bahkan, keduanya menjadi kitab yang disusun Abu Dawud sebagai pegangan utama dalam pengambilan hukum.
Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik beberapa hadis dalam kitab ini. Ia menyebutkan, setidaknya ada sembilan buah hadis yang masuk kategori maudlu (palsu). Ibnu al-Jauzi dikenal sebagai tokoh dan ulama yang sering memvonis pihak lain. Namun, kritik itu telah ditanggapi dan dibantah oleh sebagian ahli hadis, seperti dikemukakan Jalaluddin as-Suyuti.
''Andaikata kita menerima kritik yg dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, sebenarnya hadis-hadis yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya dan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap ribuan hadis yang terkandung dalam kitab Sunan Abu Dawud. Karena itu, kami melihat bahwa hadis-hadis yang dikritik tersebut tidak mengurangi sedikit pun nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya,'' jelas as-Suyuthi. sya/taq.republika
Preman_Cakung
January 21, 2010, 22:51
Dimanakah Tsa'labah Sekarang
Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.
Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya".
Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun petenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari. Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah engurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!"
Nabi murka, dan Allah pun murka! Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78
"Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh."
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.
Tidaklah mereka tahu bahwasannya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasannya Allah amat mengetahui yang ghaib?"
Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, "Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu. Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan
zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.
Dimanakah Ts'alabah sekarang?
Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.
Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada "meeting penting" kita lupakan perintah untuk sholat Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta
yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras.
Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan "mazhab"-nya masih kita ikuti...
Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad SAW (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufiq Ismail),
"Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan 'kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu'!"
Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita!
Dikutip dari milis masyarakat-muslim, oleh mahatma@mec.com.sg
cerita ini dusta.....
ini sumbernya : http://www.almanhaj.or.id/content/2262/slash/0
AlfaOmega
February 08, 2010, 04:34
Masuk Surga Karena Seekor Lalat & Masuk Neraka Karena Seekor Lalat (http://www.voa-islam.com/news/hikmah/2009/07/14/277/masuk-surga-karena-seekor-lalat-masuk-neraka-karena-seekor-lalat/)
Rasulullah Shalallahu Alayhi Wa Salam Bersabda " ada seseorang masuk surga karena seekor lalat dan masuk neraka karena seekor lalat pula" Para Sahabat bertanya, "Bagaimana bisa terjadi demikian, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab " Terdapat dua orang yang berjalan melewati suatu kaumm yang mempunyai berhala, tak seeorangpun diperkenankan melewati berhala itu sebelum memberikan sesuatu. Mereka berkata kepada salah seorang dari kedua lelaki tersebut, "Berikanlah korban kepada berhala itu!" Dia menjawab, "Aku tidak mempunyai apa-apa untuk berkorban." Mereka berkata lagi, "Berikanlah korban sekalipun dengan seekor lalat." Kemudian dengan seekor lalat itu, ia memberikan sesaji dan oleh mereka diperkenankan ia meneruskan perjalanannya. Karena perbuatannya itu, ia kemudian masuk neraka!
Kemudian mereka berkata kepada yang seeorang lagi,"Berikanlah korban!" Orang yang kedua ini menjawab, "Aku tidak akan berkorban sedikitpun kecuali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian ia memenggal leher orang itu, dan ia masuk syurga." (Syaikh Shalih Al-Fauzan)
Sumber : 166 Kiat Menggapai Surga, Penulis Syaikh Shalih Al-Fauzan, Pustaka Darul Haq.
AlfaOmega
March 10, 2010, 07:45
Bungkus Godaan Setan (http://www.dakwatuna.com/2010/bungkus-godaan-setan/)
Tazkiyatun Nufus
2/3/2010 | 17 Rabiul Awwal 1431 H | Hits: 2.230
Oleh: Tim dakwatuna.com
DR. Musthafa As-Siba’i rahimahullah berkata:
Saya tidak mengkhawatirkan diriku digoda oleh setan melalui maksiat secara terbuka… akan tetapi saya khawatir setan datang kepadaku dengan membawa maksiat yang dibungkus dengan baju ketaatan..
Setan menggodamu dengan wanita dengan alasan kasihan kepadanya … dan menggodamu dengan dunia dengan alasan agar tidak menjadi korban gonjang-ganjingnya..
Dan menggodamu untuk berkawan dengan orang-orang buruk dengan alasan demi memberi petunjuk kepada mereka dan menggodamu untuk bersikap munafik kepada orang-orang zhalim dengan alasan ingin mengarahkan mereka..
Dan menggodamu untuk mempublikasi keburukan lawan-lawanmu dengan alasan demi melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan menggodamu untuk memecah belah jama’ah dengan alasan lantang menyuarakan kebenaran..
Dan menggodamu agar tidak memperbaiki orang lain dengan alasan sibuk memperbaiki diri sendiri dan menggodamu untuk tidak beramal dengan alasan ini sudah menjadi takdir..
Dan menggodamu untuk tidak menuntut ilmu dengan alasan sibuk beribadah dan menggodamu untuk meninggalkan sunnah dengan alasan mengikuti orang-orang shalih..
Dan menggodamu agar otoriter dengan alasan demi tanggung jawab di hadapan Allah dan sejarah dan menggodamu untuk berbuat zhalim dengan alasan demi memberikan kasih sayang kepada mereka yang terzhalimi..
Diterjemahkan oleh: Ust. Musyaffa A. R.
(hdn)
AlfaOmega
March 20, 2010, 05:12
Mereguk Mata Air Sabar 'Urwah bin Zubair
Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al-Awwam adalah di antara sederet tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Adik dari Abdullah bin Zubair ini memberikakan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.
Suatu hari cucu Abu Bakar Ash-shiddiq ini mendapat tugas untuk menemui khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik di ibukota kekhalifahan, yaitu Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, ‘Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.
Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap biasa lukanya. Ternyata, luka tersebut menanah dan terus menjalar ke bagian atas kaki Urwah.
Setibanya di istana Al-Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hingga betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dari Khalifah Al-Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dari Aisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi, agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh.
Urwah menerima keputusan tim dokter ini. Dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menolak dengan halus.
Beliau mengatakan, “Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akalku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun untuk sesaat.”
Mendengar itu, para dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan, “Silakan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sempat kurasakan.”
Mulailah tim dokter memotong kaki Urwah dengan gergaji. Selama proses operasi itu, tabiin yang bisa mengkhatamkan Alquran selama dua hari ini tampak khusyuk dan tegar. Tidak sedikit pun suara rintihan keluar dari mulut beliau.
Melihat pengalaman yang tidak mengenakkan dari seorang cucu sahabat terkenal itu, khalifah Al-Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba untuk menghibur.
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”
Mendengar itu, Khalifah Al-Walid bereaksi, “Belum pernah sekali pun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia.”
Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku itu ke arah kemaksiatan.”
Ujian yang Allah berikan kepada Urwah tidak sampai di situ. Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad -putra kesayangannya- meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan: ditendang oleh kuda sewaktu sedang bermain-main di dalam kandang kuda.
Dalam keheningan malam itu, Urwah berucap pada dirinya sendiri, “Segala puji hanya milik Allah, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Kau sisakan enam. Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini. Dan walaupun Engkau telah mengambil salah seorang anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan enam yang lain.”
Kedekatan Urwah bin Zubair dengan doa kepada Allah memang sudah menjadi karakter dalam kehidupnya. Suatu kali, ia pernah mendapati seorang yang shalat kemudian berdoa dengan tampak tergesa-gesa .
‘Urwah memberi nasihat kepada orang itu, “Wahai saudaraku, tidakkah engkau memiliki kebutuhan kepada Rabb-mu dalam shalatmu? Adapun aku, aku selalu meminta sesuatu kepada Allah, hingga jika aku menginginkan garam sekalipun.”
Selain doa, Urwah pun begitu dekat dengan Alquran. Sudah menjadi kebiasaan putera Asma bintu Abu Bakar ini membaca seperempat Alquran di siang hari, kemudian membaca seperempatnya lagi di saat shalat malam. Kebiasaan berlama-lama dalam shalat malam ini terus dilakukan hingga operasi amputasi yang ia alami. Karena sejak itu, ia tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya.
Walaupun ketika ia melakoni di antara kesibukannya di sebuah kebun, Urwah selalu dekat dengan Alquran. Setiap kali masuk kebun, ia selalu membaca surah Al-Kahfi ayat 39.
Allah berfirman,
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39)
Seperti itulah di anta hikmah yang diajarkan Urwah bin Zubair. Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, merupakan kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini. Sebuah kepemimpinan dalam mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. (mnh/berbagai sumber)
AlfaOmega
April 28, 2010, 08:24
Mimpi Yang Baik Dan Kenabian (http://nabimuhammad.info/2010/01/mimpi-yang-baik-dan-kenabian/)
January 15, 2010 Mimpi Mimpi Nabi
Dari lafazh sebuah hadist yang mulia dituturkan bahwa mimpi yagn baik adalah salah satu bagian dari sisi kenabian. Para ulama telah mengulas hadist ini secara baik.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
Mimpi baik dari seorang pria shalih adalah salah satu dari 40 bagian kenabian. (HR Bukhari dan Muslim)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululah bersabda:
Kalau zaman semakin mendekati (kiamat), maka mimpi seorang mukmin tidak ada lagi yagn berisi kedustaan. Mimpi yang paling tulus diantara kalian adalah mimpi orang yang paling jujurbicaranya. Mimpi seorang muslim adalah satu dari 45 bagian kenabian. (HR Muslim)
Terkait dengan persoalan ini, diriwayatkan banyak hadist, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath. Maka, dari riwayat riwayat itu kami berhasil merangkum 10 jalur riwayat.
Yang paling sedikit menyebutkan 26 bagian kenabian. Dan yang terbanyak menyebutkan 76 bagian.
Para ulama telah mengulas tentang makna bagaimana mimpi itu bisa menjadi bagian dari kenabian, padahal kenabian itu telah berakhir dengan wafatnya Rausululah? Mereka menjelaskan bahwa, memang rumit memahami bagaimana mimpi bisa menjadi bagian dari kenabian, sementara kenabian itu memang telah berakhir dengan wafatnya Nabi.
Ada yang mengatakan, kalau mimpi itu dialami oleh Nabi sendiri, maka itu secara mutlak bagian dari kenabian. Tapi, apabila dialami oleh selain Nabi, maka itu dianggap secara kiasan sebagai bagian dari kenabian.
Al-Khaththabi menjelaskan, “Ada yang mengatakan bahwa artinya adalah mimpi itu terjadi rekevan dengan kenabian. Hanya saja, ia merupakan sisi yang abadi dari kenabian. Ada yang berpendapat bahwa maknanya, mimpi adalah salah satu bagian dari ilmu kenabian. Karena, meski kenabian sudah berakhir, tetapi ilmu dari risalah kenabian itu tetap saja abadi.
Ibnu Abdil Barr pernah ditanya, “Apakah mimpi setiap orang bisa ditakwilkan?” Dan ia menjawabnya dengan pertanyaan pula: “Apakah kenabian itu bisa dipermainkan?”
“Mimpi itu adlaah salah satu bagian dari kenabian. Sementara kenabian itu tak mungkin dibuat permainan”
Maka yang benar adalah tidak ada riwayat yagn menunjukkan bahwa kenabian itu abadi. Namun, yang dimaksud adalah apabila kenabian pada sisi penyingkapan terhadap sebagian hal ghaib dengan mimpi seseorang, maka dengan sendirinya mimpi itu tidak boleh diulas tanpa dasar ilmu yang jelas.
Berkenaan dengan takwil mimpi ini, manusia dapat dikategorikan menjadi 3:
1. Para Nabi. Mimpi mereka seluruhnya benar. Terkadang, sebagian diantaranya membutuhkan penakwilan.
2. Orang orang shalih. KEbanyakan mimpi mereka juga benar. Terkadang, sebagian dari mimpi mereka tidak perlu ditakwilkan.
3. Mimpi selain para Nabi dan orang orang shalih. Diantara mimpi mereka ada yang benar dan ada yang hanya bunga tidur saja.
Dalam hal ini, mereka juga dikelompokkan menjadi 3.
Pertama, masturun (kaum biasa). Kelompok ini memiliki kondisi yang berimbang pada kebenaran mimpinya.
KEdua, fasaqah, (orang orang fasiq). Mimpi mereka kebanyakan hanya bunga tidur semata, hanya sedikit yang benar.
Ketiga, kuffar (orang orang kafir). Sangat jarang mimpi mereka benar. Terkadang ada juga mipi orang kafir yang benar, seperti mimpi 2 orang yang dipenjara bersama Nabi Yusuf, juga mimpi Raja Mesir kala itu.
Imam Al Qurthubi pernah mengulas tentang mimpi. Beliau menjelasakan, “Muslim yang jujur, shalih dan beriman, itulah yang kondisinya bisa selaras dengan para Nabi. Maka, mereka pun diberi kemuliaan dengna sejenis kemuliaan yang juga diberikan kepada para Nabi, yaitu tersingkapnya sebagian hal ghaib bagi mereka. Adapun orang kafir dan fasik yang masih tidak karuan, maka tidak mungkin demikian. Kalau pun terkadang sebagian diantara mimpi mereka ada yang benar, maka itu tak ubahnya pembohong yang terkadang juga bisa berkata jujur. Maka, tidak setiap orang yang berbicara tentang hal ghaib, maka berita yang ia khabarkan termasuk bagian dari kenabian. Seperti halnya peramal dna ahli nujum.
AlfaOmega
May 20, 2010, 04:41
Dakwah vs Menakut-nakuti (http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=1143)
21 April 2010
Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan keagamaan di kampungnya.
Keluhnya antara lain,“Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya. Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat pada takut. Bahkan, na’udzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana? Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?”
Kondisi yang dilaporkan kawan saya itu bukanlah satu-satunya laporan yang saya terima. Ya, akhir-akhir ini sikap perilaku keberagamaan yang keras model zaman Jahiliyah semakin merebak. Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.
Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.
روى البخاري عن أنس رضي الله عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم سبابا ولا لماما ولا فاحشا
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.
وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفاحشا ولا صخابا في الأسواق
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Ini sesuai dengan firman Allah sendiri kepada Rasulullah SAW di Q. 3: 159, “Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”
Jadi, kita tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.
Atau mungkin sikap mereka yang demikian itu merupakan reaksi belaka dari kezaliman Amerika dan Yahudi/Israel. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).
Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Karena itu, Rasulullah SAW sendiri budi pekertinya sangat luhur (Q. 68: 4). Mencontohkan dan mengajarkan keluhuran budi. Sehingga semua orang tertarik . Ini sekaligus merupakan pelaksanaan perintah Allah untuk berdakwah. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari. (Baca lagi Q. 3: 159!). Bagaimana orang tertarik dengan agama yang dai-dainya sangar dan bertindak kasar tidak berbudi?
Melihat perilaku mereka yang bicara kasar dan tengik, bertindak brutal sewenang-wenang sambil membawa-bawa simbol-simbol Islam, saya kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang ditugasi mencemarkan agama Islam dengan berkedok Islam. Kalau tidak, bagaimana ada orang Islam, apalagi sudah dipanggil ustadz, begitu bodoh: tidak bisa membedakan antara dakwah yang mengajak orang dengan menakut-nakuti yang membuat orang lari. Bagaimana mengajak orang mengikuti Rasulullah SAW dengan sikap dan kelakuan yang berlawanan dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW?
AlfaOmega
June 08, 2010, 06:32
ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Isa.html)
Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang
lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan
di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok
orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada
mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk
menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu
padamu, kau pasti menyalahgunakannya."
Mereka berkata, "Kami sudah siap dan sesuai untuk
pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan
menambah keyakinan kami."
"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya -tetapi
diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.
Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu
tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang
yang sudah memutih. "Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata
mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera
terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar
yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai
menjadi serpih-serpih daging.
Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang
nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.
AlfaOmega
June 09, 2010, 07:25
BATAS DOGMA (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Dogma.html)
Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di
Ghazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kuli
mengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukung
di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu,
Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:
"Jatuhkan batu itu, kuli."
Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada
di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin
lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga
memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu.
Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif,
terpaksa menjawab.
"Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak
bisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebab
kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja
hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu
itu di situ."
Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan
itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia
meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orang
masih menghormati perintah raja.
Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanya
berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masing
sesuai dengan kemampuannya.
Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisah
itu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusaha
mempertahankan kekuasaannya.
Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadap
perintah, betapapun tidak menyenangkannya.
Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisa
memahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkan
batu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakan
gangguan, dan kemudian membiarkannya berada disana, Mahmud
mengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi -dan sekaligus
menyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkan
dogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan.
Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencari
kebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran.
Catatan
Kisah ini muncul dalam karya klasik yang terkenal,
Akhlaq-i-Mohsini 'Akhlak Dermawan,' ciptaan Hasan Waiz
Kashifi; hanya saja tanpa tafsir seperti yang ada dalam
versi ini.
Versi ini merupakan bagian ajaran syeh Sufi Daud dari
Qandahar, yang meninggal tahun 1965. Kisah ini merupakan
pengungkapan yang bagus tentang pelbagai taraf pemahaman
terhadap tindakan; masing-masing orang akan menilainya
berdasarkan pendidikannya. Metode penggambaran tak langsung
yang dipergunakan Sultan Mahmud itu dianut pada Sufi, dan
bisa diringkaskan dalam ungkapan, "Bicaralah kepada dinding,
agar pintu bisa mendengar."
AlfaOmega
June 11, 2010, 01:28
KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Keperluan.html)
Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang
mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang
darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.
"Kidir," kata darwis itu, "datang kalau diperlukan.
Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan
menjadi milik Paduka,"
"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"
"Siapa pun bisa," kata darwis itu.
"Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang Raja; dan ia
pun mengedarkan pengumuman:
"Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,
akan kujadikan orang kaya."
Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba,
setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya
kepada istrinya,
"Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa
lama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab
kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."
Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia
akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja
bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisa
menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali
seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati,
dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun
yang akan mencoba mempermainkan rajanya."
Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan
uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa
hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya
untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.
Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia,"
katanya, "kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa
uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,
tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan
kerakusan."
Sang Raja sangat marah. "Orang celaka, kalau telah
mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri
keinginan seorang raja?"
Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu
Kidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya
apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Kidir akan
menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan
itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya."
"Cukup ocehan itu," kata Sang Raja, "sebab tak akan
memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri
yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang
cara yang terbaik untuk menghukummu."
Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana cara
orang itu mati?"
Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai
peringatan."
Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata,
"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."
Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu,
agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup
keluarganya."
Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana
yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang
mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi
dalam dirinya."
"Apa maksudmu?" tanya Raja.
"Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia
berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulu
tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong
daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu
kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.
Catat dua hal ini. Pertama, Kidir muncul melayani setiap
orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan
kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi nama
Baba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan
untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin
mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."
Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang
bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang
diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada
Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu
keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh
Bakhtiar dan istrinya.
Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi
antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib.
Catatan
Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yang
hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan,
sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.
Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syeh
Sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya
keinginan manusia dengan "makhluk" lain. Kidir merupakan
penghubung antara keduanya.
Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin
Rumi:
Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan
menuntutnya.
Karenanya, O manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak,
sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.
Versi ini diucapkan oleh seorang guru darwis dari
Afganistan.
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
AlfaOmega
June 16, 2010, 08:07
PARA PELAYAN DAN RUMAH (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Pelayan.html)
Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang
memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia
sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang
pergi, rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para
pelayan.
Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering
mereka lupa, mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah
mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang-ngulang
yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan
pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang
telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena
mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.
Konon, ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh,
muncullah sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah
yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu
terbatas pada dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada
dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah
mereka ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan
pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu
yang lain orang-orang datang bermaksud membeli rumah itu,
dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para
pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta,
dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.
Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan
bahwa persediaan untuk rumah senantiasa muncul "secara
rahasia," dan perbekalan itu tidak cocok dengan anggapan
bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.
Petunjuk-petunjuk untuk mengurus rumah itu telah
ditinggalkan dalam kamar si empunya rumah--dengan maksud
agar bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi,
kamar itu menjadi begitu keramat sehingga tak ada seorangpun
yang diperbolehkan memasukinya; dan kamar itu pun dianggap
sebagai rahasia yang tak tertembus. Malahan, beberapa
diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali
tak ada, meskipun mereka melihat pintunya. Namun, tentang
pintu itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan
dinding belaka.
Begitulah keadaan para pelayan rumah tersebut, yang tidak
mengambil alih rumah itu, tidak pula tetap setia kepada
petunjuk semula.
Catatan
Konon, kisah ini sering sekali dipergunakan oleh syuhada
Sufi Al-Hallaj, yang dihukum mati pada tahun 922 karena
diduga mengatakan, "Akulah Kebenaran."
Hallaj meninggalkan sejumlah besar mistik. Meskipun
mengandung bahaya, banyak Sufi dalam waktu seribu tahun
terakhir ini mengakui bahwa Hallaj adalah yang menerima
pencerahan.
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
AlfaOmega
June 18, 2010, 04:19
DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Wangi.html)
Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat
orang berjualan wangi-wangian, tiba-tiba terjatuh
seakan-akan mati. Orang-orang berusaha menghidupkannya
kembali dengan bau-bauan wangi, namun keadaannya malah
semakin parah.
Akhirnya seorang bekas pengorek sampah datang; ia mengetahui
keadaan itu. Ia mendekatkan sesuatu yang berbau busuk di
hidung orang itu, yang segera saja segar kembali, teriaknya,
"Nah, ini dia wangi-wangian!"
Kamu harus mempersiapkan dirimu bagi keadaan peralihan,
disana tidak ada apa pun yang sudah biasa kaukenal. Setelah
mati, dirimu akan harus memberikan tanggapan terhadap
rangsangan yang di dunia ini masih bisa kaucoba rasakan.
Kalau kau tetap terikat pada beberapa hal yang kau kenal
akrab, kau hanya akan sengsara, seperti halnya si pengorek
sampah yang keadaannya menjadi gawat ditempat para penjual
wangi-wangian.
Catatan
Kisah perumpamaan ini jelas sekali maknanya. Ghazali
mempergunakannya dalam Alkemia Kebahagiaan pada abad
kesebelas untuk menggarisbawahi ajaran Sufi, bahwa hanya
beberapa saja diantara benda-benda yang kita kenal ini yang
memiliki pertalian dengan "dimensi lain."
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
AlfaOmega
June 26, 2010, 04:25
PENYUSUNAN SEJARAH (http://media.isnet.org/sufi/Idries/Sejarah.html)
Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang
melihat matanya berlinang air mata. "Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!" teriak seseorang. Anak-anak yang di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.
Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah
mengupas bawang.
Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling
berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.
Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di
kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak
mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung
untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang
berucap, "Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana."
Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga
orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.
Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat
memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan
penghuninya.
Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa.
Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari
sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh
lampau.
Catatan
Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa
penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan
kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak
bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.
Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini
dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia 'Rahasia Para
Pertapa,' karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum
Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.
------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
AlfaOmega
July 28, 2010, 08:28
Berdalil atau berdalih (http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/07/berdalil-atau-berdalih/)
7 Juli 2010 oleh mutiarazuhud
Pada zaman modern ini, kita dapati firqah atau aliran Islam yang memilah-milah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang mana mereka sukai, atau berdasarkan kepentingan (pragmatis) aliran mereka, atau dengan kata lain memperturutkan hawa nafsu.
Sejak dahulu ketika kenal aliran Khawarij dan Murji’ah
Aliran Khawarij mengambil teks Alquran dan Hadis yang nadanya keras dan sempit. Sebaliknya, aliran Murji’ah hanya mengambil ayat-ayat Alquran dan Hadis yang bernada ringan dan amat mudah.
Sebagai contoh aliran khawarij, pemahaman mereka terhadap hadits-hadits berikut,
Sesungguhnya yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba adalah salat. Maka apabila salatnya baik, sungguh dia telah beruntung dan selamat. Dan apabila salatnya rusak, sungguh dia telah celaka. (H.R. Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Sesungguhnya perbedaan antara seorang pria mukmin dan kafir adalah meninggalkan salat. (H.R. Muslim)
Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah salat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah menjadi kafir. (H.R. Tirmidzi)
Hadis ini dipahami mereka secara harfiah, tekstual, atau dzahir.
Menurut mereka, bahwa orang yang meninggalkan shalat berarti telah menjadi kafir. Dengan demikian, berarti orang-orang yang meninggalkan shalat itu boleh diperangi.
Sedangkan aliran murji’ah berpegang pada hadits-hadits antara lain,
“Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan masuk neraka bagi seorang yang mengucapkan laa ilaaha illallah yang semata-mata mengharapkan ridha Allah”. (H.R. Bukhari)
Tidak ada seorang hamba pun yang sudah mengucapkan laa ilaaha illallah kemudian ia wafat kecuali orang tersebut masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Berkaitan dengan hadis ini, ketika itu Rasulullah ditanya oleh para sahabat, “Ya Rasulullah, apakah ia akan tetap masuk surga walaupun telah berbuat zina ataupun mencuri?”
Rasulullah menjawab, “Ya, meskipun ia berzina dan mencuri.”
Kemudian ditanya lagi oleh para sahabat dengan pertanyaan yang sama, lalu dijawab Rasulullah dengan jawaban yang sama pula, bahkan terulang hingga tiga kali.
Hadits lainnya
Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini disampaikan Rasulullah ketika mengadakan perjalanan ke luar kota bersama Mu’adz bin Jabal.
Lalu dengan penuh semangat Mu’adz mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah boleh berita ini aku sampaikan kepada semua orang, supaya mereka berbahagia?”
Rasulullah pun mengatakan, “Kalau begitu Mu’adz, nanti orang akan meremehkan agama.”
Maka sejak itu Mu’adz tidak berani menyampaikan hadis ini, sampai ia memasuki usia tua. Ketika rambutnya sudah memutih beruban, tulangnya sudah rapuh, pandangan matanya sudah agak kabur, dia khawatir kalau dia termasuk orang yang menyembunyikan hadis. Karena itulah, ia menyampaikan hadis ini kepada orang-orang yang bisa memegang amanah.
Hadits-hadits ini sangat disukai aliran mereka yang menyukai kebebasan (liberalis), dengan pemahaman mereka secara harfiah, tekstual atau dzahir.
Hadits-hadits yang disukai firqah murji’ah sebenarnya dapat menyadarkan firqah khawarij untuk tidak gemar tajrih, tahdzir, boikot, hajr, tabdi, takfir. Sesungguhnya hadist-hadist yang disukai khawarij dipergunakan sebagai intropeksi diri atau menghisab diri sendiri, tidak digunakan untuk menilai saudara muslim lainnya, “seolah-olah” mewakili Tuhan.
Dikhawatirkan secara tidak disadari malah timbul kesombongan dengan meremehkan saudara muslim lainnya. Kita ketahui kesombongan akan menghabiskan amal kita di dunia sehingga tidak masuk surga.
Hadist-hadist yang disampaikan oleh Khawarij dapat dipergunakan oleh Murji’ah sebagai peringatan bahwa kalau mereka hanya syahadat, tapi tidak shalat, maka berarti syahadatnya tidak betul dan juga bohong.
Syahadatnya tidak “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu), namun hanya sampai di bibir saja. Kalau syahadatnya betul, pasti dia melaksanakan shalat, karena syahadat merupakan pernyataan untuk tunduk dan patuh pada Allah yang konsekuensi logisnya harus mentaati perintah Allah, dan salah satu perintah Allah adalah salat. Demikian juga dengan perintah Allah yang lainnya, yaitu puasa, zakat, haji dll.
Untuk itulah, saya menyarankan untuk meninggalkan metode pemahaman secara harfiah, tekstual atau dzahir.
Kita harus berpemahaman secara mendalam (al-hikmah), menyeluruh (holistis) dan kaffah. Kita harus berserah diri dan bersandar hanya kepada Allah, bukannya memperturutkan hawa nafsu atau kepentingan.
Tujuan memperturutkan hawa nafsu atau kepentingan (pragmatis) sesuai dengan jawaban Saidina ‘Ali ra, ketika Beliau disampaikan semboyan orang khawarij “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Beliau menjawab: “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan/kalimat yang benar dengan tujuan yang salah)
Kita sebaiknya tidak hanya mengambil satu atau sebagian ayat, melainkan setiap ayat dikaitkan dengan ayat lain. Tidak hanya itu, juga dikaitkan dengan hadis, serta pandangan-pandangan para sahabat Rasulullah. Kita beriman pada seluruh ayat-ayat dan kita yakin seluruhnya datang dari sisi Allah.
Firman Allah, yang artinya
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.“ (QS al Mu’min 40 : 56)
Selain itu, kita juga harus bersikap tawazzun (seimbang), karena segala sesuatu yang seimbang itu baik. Selain itu, kita harus bersikap i’tidal (lurus).
Jangan sampai ada yang “menggunakan” ayat yang sesungguhnya hanya sebagai “pembenaran” aliran atau kaumnya, semata-mata bukan menegakkan kebenaran.
“Menggunakan” ayat untuk PEMBENARAN inilah yang disebut “BERDALIH”
Menyampaikan ayat untuk menegakkan KEBENARAN inilah yang disebut “BERDALIL”
AlfaOmega
August 05, 2010, 05:36
Kisah lima perkara aneh (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/himpunankisahteladan2.htm)
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah s.w.t. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua.
Ketiga jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berkata Allah s.w.t., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
AlfaOmega
August 07, 2010, 03:55
Jiwa Ksatria (http://arsip.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=641)
Penulis : Muhbib Abdul Wahab
KotaSantri.com : Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa suatu hari Rasul SAW didatangi oleh seseorang yang ingin berkonsultasi. Orang itu bertanya, "Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika ada orang yang hendak mengambil hartaku?"
"Jangan kau berikan hartamu kepadanya!"
"Bagaimana kalau orang itu akan membunuhku?"
"Lawanlah dia!"
"Bagaimana jika ia benar-benar membunuhku?"
"Engkau mati syahid."
"Bagaimana jika aku yang membunuhnya?"
"Dia akan masuk neraka," tegas Rasul.
Dialog konsultatif tersebut mengisyaratkan bahwa setiap muslim harus berjiwa ksatria demi kemuliaan diri (izzah). Berani karena benar, dan rela berkorban demi membela kebenaran.
Sifat ksatria adalah benteng kemuliaan diri. Menjadi mMuslim harus terhormat, bermartabat, tidak menjadi sasaran penghinaan dan penistaan. Karena itu, Muslim dilarang bersikap rendah dan lemah diri. "Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang paling tinggi (derajatnya), jika kamu beriman." (QS. Ali Imran [3] : 139).
Jiwa ksatria menempa muslim untuk tegar dalam menghadapi cobaan iman, tampil dengan etos kerja dan produktivitas yang tinggi, dan semangat bersaing yang kuat. Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan, "Dahulu (sebelum Islam), kami sungguh hina dan tidak bermartabat. Lalu Allah membuat kami mulia dengan berislam. Jika mencari kemuliaan di luar Islam, maka Allah akan membuat kita hina."
Nabi SAW adalah teladan ksatria dalam banyak hal. Beliau ksatria dalam mengakui kekhilafan dan kekurangannya dengan banyak beristighfar. Beliau ksatria dalam memimpin perang melawan musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya. Beliau ksatria dalam mengambil keputusan dengan cepat dan tepat di saat diperlukan. Beliau ksatria dalam membela kaum miskin dan tertindas.
Beliau ksatria dalam menegakkan keadilan hukum bagi siapa pun yang berperkara. Beliau ksatria dalam melindungi dan membahagiakan rumah tangganya. Beliau juga ksatria dalam berbisnis; bersikap jujur, terbuka, dan tidak curang. Beliau ksatria dalam membedakan antara urusan pribadi dan urusan umat, sehingga beliau selalu bertindak penuh kemuliaan, keadilan, dan kemanfaatan bagi semua. Sudah saatnya kita memperbaiki diri agar memiliki jiwa yang tangguh, sesuai tuntunan Islam.
AlfaOmega
August 12, 2010, 08:47
Thalhah bin Ubaidillah: Tetangga Rasulullah di Surga (http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/08/10/129460-thalhah-bin-ubaidillah-tetangga-rasulullah-di-dalam-surga)
Selasa, 10 Agustus 2010, 22:22 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTa--Ia adalah seorang sahabat Nabi yang berasal dari suku Quraisy. Nama lengkapnya adalah Thalhah bin Abdullah bin Usman bin Kaab bin Said.
Dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah disebutkan bahwa Thalhah termasuk orang bijak, ulama kaum Quraisy dan termasuk salah satu di antara delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia masuk Islam di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Karenanya ia dan Abu Bakar dijuluki Al-Qarinain (dua sahabat akrab).
Bersama dengan Rasulullah SAW, ia ikut dalam Perang Uhud, Perang Hunain, dan Perang Tabuk. Dalam Perang Uhud, Rasulullah menggelarinya Thalhah Al-Khair (orang baik). Sementara dalam Perang Hunain, Beliau menggelarinya Thalhah Al-Jud (orang yang dermawan). Sedangkan dalam Perang Tabuk digelari dengan Thalhah Al-Fayyadh dan Ash-Shubaih Al-Mulaih Al-Fushaih.
Dalam Perang Uhud, ia menderita luka parah yang luar biasa. Dia menggunakan dirinya menjadi perisai bagi Nabi Muhammad dan mengalihkan panah yang akan menancap diri Rasulullah SAW dengan tangannya sehingga semua jari-jarinya terputus. Kemudian ia menggendong Beliau dan membawanya naik ke puncak bukit. Ia tergolong sahabat yang kaya raya dan gemar berderma.
Tentang Thalhah, Rasulullah SAW mengatakan,''Thalhah dan Zubair, keduanya adalah tetanggaku di surga'' (Hadits Riwayat At-Tirmidzi). Beliau juga mengatakan,''Siapa yang ingin melihat seorang syahid berjalan di muka bumi, hendaklah ia melihat Thalhah ibn Ubaidillah'' (HR At-Tirmidzi).
AlfaOmega
August 24, 2010, 04:39
Rasulullah Mendengar Suara Langkah Bilal di Surga (http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/08/20/131159-rasulullah-mendengar-suara-langkah-bilal-di-surga)
Jumat, 20 Agustus 2010, 21:48 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Rasulullah mempunyai banyak sahabat yang turut serta dalam perjuangan menegakkan syariah Islam. Mereka bersama-sama dalam suka maupun duka. Para sahabat itu tak hanya berasal dari kalangan suku-suku Arab.
Mereka juga datang dari kalangan non-Arab, seperti halnya Bilal bin Rabah. Sebagai mana keturunan Afrika, Bilal memiliki postur tinggi, kurus, dan warna kulit hitam. Dia memiliki nama lengkap Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Habasyah merupakan Ethiopia saat ini.
Ibunya adalah sahaya milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka, hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Tanpa ada keraguan, ia menemui Nabi dan mengikrarkan diri masuk Islam.
Umayyah bin Khalaf pernah menyiksanya dan membiarkannya di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah.
Meski disiksa, keimanan Bilal tak pernah luntur. Saat dijemur di panas terik padang pasir, Bilal selalu mengucapkan ''Ahad-Ahad'' dan menolak mengucapkan kata kufur. Abu Bakar lalu memerdekakannya. Saat itu Umar bin Khattab berujar,''Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami, dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.''
Setelah hijrah, adzan disyariatkan. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ia adalah muadzin pertama dalam Islam, karena ia memiliki suara yang bagus. Pada saat pembebasan kota Makkah, Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan di belakang Ka'bah.
Adzan itu adalah adzan yang pertama dikumandangkan di Makkah. Pasca wafatnya Rasulullah, ia menolak untuk menjadi muadzdzin lagi karena tak sanggup menyebut nama Rasulullah dalam adzannya. Usai wafatnya Nabi, bahkan dia hanya sanggup melantunkan adzan selama tiga hari. Itu pun disertai tangisannya tatkala mengucapkan nama Rasulullah dalam adzan.
Ia juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di Bait Al-Mal. Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Tentang Bilal, Rasulullah SAW mengatakan,''Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah.'' (Hadits Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir)
Suatu ketika, selesai sholat Subuh, Rasulullah pernah bertanya kepada Bilal, ''Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkahmu di depanku di surga.''
Bilal menjawab, ''Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling bermanfaat setelah memeluk Islam selain aku selalu berwudhu dengan sempurna pada setiap malam dan siang, kemudian melakukan sholat sunat dengan wudhu itu sebanyak yang Allah kehendaki.'' (Hadist riwayat Abu Hurairah ra)
AlfaOmega
August 28, 2010, 05:36
Belajar dari puasanya kupu-kupu (http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/08/25/131749-belajar-dari-puasanya-kupukupu)
Oleh H Jatiman Karim
Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, menjadi daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.
Kupu-kupu tak hadir begitu saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik, geli, takut, penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya. Ia begitu identik dengan sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.
Namun, ketika seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun berusaha memilikinya dan bahkan mengaguminya. Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat. Itulah kupu-kupu. Hewan yang indah dan menarik. Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman.
Untuk menjadi kupu-kupu, ulat terlebih dahulu menjadi kepompong. Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Ia begitu mirip dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan, sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Itulah barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dandosa, hendaknya biasa belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa dan disayang Allah SWT.
Tipe manusia yang disayang Allah itu adalah; pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak sombong) dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS Al-Furqan [25]: 63).
Demikianlah gambaran orang mukmin yang berpuasa, senantiasa menyebarkan kelembutan dan keindahan, serta tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, di manapun dia berada. Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah dahan yang tak akan pernah ada yang patah sekecil apa pun dahan yang dihinggapinya.
Kedua, mereka yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari sebagai wujud syukur kepada Allah (Al-Furqan [25]: 64, 73). Seperti kupu-kupu, di manapun seorang mukmin berada, dia akan selalu melaksanakan perintah Allah, menebarkan kasih sayang, dan menolong orang lain. Sebab, ia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah seorang hamba yang juga tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa anugerah dari Allah SWT.
Ketiga, orang yang berhasil dalam pusanya, ia akan memilih makanannya dari yang halal dan yang baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan mukmin sejati, akan senantiasa menjauhkan diri dari yang haram, seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lainnya. (QS Al-Baqarah [2]: 168).
AlfaOmega
September 02, 2010, 04:59
Cermin Kedermawanan Abu Bakar Ashidiq (http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/09/01/133054-cermin-kedermawanan-abu-bakar-ashidiq)
Rabu, 01 September 2010, 20:31 WIB
Oleh Prof Nanat Fatah Nasir
Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. "Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?" tanya Umar. "Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar," jawab sang khalifah.
Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, "Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan." Abu Bakar lalu bertanya, "Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?" Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.
Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. "Wahai istriku, aku tak punya uang," kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.
Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. "Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya," ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. "Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari," tutur Abu Bakar.
Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. "Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan," ujarnya berwasiat.
Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. "Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal," kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, "Semoga Allah SWT merahmati ayahmu."
Kisah yang tertulis kitab fadhailul 'amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.
Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.
Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu 'alam.
michanz
September 02, 2010, 08:24
Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakainan dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,"Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?"
Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,'Ya rasullah, sebagau kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini."
Rasulullah bertanya kepada si fakir,"Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?"
Namun s fakir menjawab," tidak ya Rasulullah."
Rasulullah bertanya dengan nada heran," Mengapa?"
Dia menjawab," Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini."
::cry::::cry::
sering lupa dir n teelalu menuhankan uang y kita ini
AlfaOmega
January 18, 2011, 08:09
TAKUT JADI TUKANG BAKSO (http://dhitos.wordpress.com/2008/01/25/takut-jadi-tukang-bakso/#more-80)
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya. Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !” gerutu seseorang.
“Bukan sekali dua kali ini dia mengacau !” tambah lain-nya, dan disambung – “Ya, ya, betul !”
“Jangan marah, ikhwan….,” seseorang berusaha meredakan kegelisahan, “ia sekadar mencari makan …..”
“Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !” sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustad juga mengeras: “Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya…”
Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso ? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso ? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso ?
Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?
Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso ? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua.
Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
“Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,” Pak Ustadz melanjutkan,
“karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat . . . masyaallah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !..”(sumber : Emha Ainun Najib)
AlfaOmega
February 02, 2011, 06:34
Imam Ahmad bin Hambal, Ujian Sabar dari Empat Rezim (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/imam-ahmad-bin-hambal-ujian-sabar-dari-empat-rezim.htm)
Jumat, 12/11/2010 10:09 WIB | email | print | share
Nama asli beliau Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Panggilan akrab ulama yang lahir di Baghdad 164 Hijriyah ini adalah Abu Abdillah. Nama itu merupakan sandingan dengan nama salah seorang putera beliau yang bernama Abdullah.
Sejak belia Ahmad bin Hambal telah hidup yatim. Di usia tiga puluh tahun, ayahnya yang seorang walikota meninggal dunia. Sejak saat itu, kehidupan keluarga Ahmad kecil ini dalam keadaan yang sangat sederhana.
Ibu Ahmad bin Hambal sangat bersikeras anaknya kelak menjadi orang yang berilmu. Ia sengaja melahirkan dan membesarkan anaknya di Baghdad, bukan kota di mana suaminya pernah menjadi pejabat nomor satu, hanya untuk mengkondisikan puteranya menjadi dekat dengan para ulama dan jauh dari kehidupan glamour seperti umumnya anak-anak pejabat.
Kegigihan dan keseriusan Ahmad bin Hambal muda memang luar biasa dalam menuntut ilmu. Kerap kali, Ibu Ahmad bin Hambal menyampaikan usul agar anaknya bisa berangkat mencari ilmu setelah adzan Subuh. Tapi, Ahmad muda tetap menunjukkan keseriusan itu. Sebelum adzan Subuh, Ahmad bin Hambal sudah keluar rumah untuk mendatangi para ulama.
Beberapa kota yang ia datangi untuk menemui para ulama yang ia jadikan sebagai guru, di antaranya, Kufah, Hijaz, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, Tsaghur, Maroko, Al-Jazair, Al-Faratin, Persia, dan Khurasan.
Suatu kali, pernah Ahmad bin Hambal ingin belajar dari seorang ulama di Shan’a yang bernama Abdurrazaq. Sebelum ia berangkat ke Shan’a, sebuah daerah di Yaman yang menempuh sekitar satu bulan perjalanan dari Baghdad, ia bertemu sang guru itu di Mekah dalam ibadah haji.
Seorang teman beliau mengusulkan agar belajarnya di Mekah saja dan tak perlu lagi ke rumah beliau yang begitu jauh. Tapi, tetap saja, Ahmad bin Hambal berangkat ke rumah gurunya itu untuk mendapatkan ilmu.
Dalam sebuah perjalanan menuntut ilmu, ketika berada di sebuah rumah tempat ia menginap, semua perbekalan Ahmad bin Hambal dicuri orang. Si pemilik rumah menceritakan itu ke Ahmad bin Hambal.Tapi, Ahmad tidak menanyakan soal perbekalannya. Ia hanya bertanya, apakah buku catatannya masih ada.
Di rumah Abdurrazaq, Ahmad bin Hambal sudah kehabisan perbekalan. Abdurrazaq menghadiahkan uang dirham yang cukup untuk perbekalan ke tempat lain yang akan dituju Ahmad. Tapi, ia menolak. Ketika Abdurrazaq mengatakan bahwa uang itu sebagai pinjaman, Ahmad pun tetap menolak. Keesokannya, Abdurrazaq mendapati Ahmad bin Hambal mencari perbekalan dengan berkerja.
Imam Syafi’i yang hidup sezaman dengan Imam Ahmad bin Hambal sangat mengagumi sosok ulama ini. Ia mengatakan, aku belum pernah menemukan seorang pemuda seperti Ahmad bin Hambal yang begitu alim dan tsiqah.
Tidak kurang dari satu juta hadits telah dihafal Ahmad bin Hambal. Ia mendirikan sebuah sekolah yang bernama Al-Hanabilah. Setiap kali ada taklim, tidak kurang dari lima ribu orang hadir untuk menyimak apa yang disampaikan Imam Ahmad bin Hambal.
Selain soal keilmuan, orang mengenal Ahmad bin Hambal karena kezuhudannya yang luar biasa. Rumahnya sangat sederhana, walaupun begitu banyak orang yang ingin membantunya untuk memugar rumah yang dianggap sudah tidak lagi layak huni itu.
Seorang pejabat yang begitu menghormati beliau pernah menghadiahkan uang sebesar 3000 dinar atau senilai 4,2 milyar rupiah. Uang itu dimaksudkan sebagai bantuan untuk memugar rumah dan biaya kebutuhan sehari-hari untuk keluarga Ahmad bin Hambal.
Tapi, Imam Ahmad bin Hambal menolak. Ia mengatakan bahwa keluarga sudah sangat berkecukupan. Begitu pun ketika Khalifah Al-Mutawakkil memberinya uang bulanan sebesar 4000 dirham atau senilai 160 juta rupiah untuk mencukupi kebutuhan Imam Ahmad dan keluarga. Uang itu ia tolak.
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Wahai paman, berapa tahun lagi sisa umur kita? Kenapa kau lakukan ini? Sesungguhnya, anak-anak kami hanya makan bersama kami dalam masa yang sangat sebentar. Seandainya Allah membukakan tirai penglihatan manusia, maka ia akan tahu, mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka akan bersabar sebentar untuk mendapatkan balasan pahala yang panjang. Sesungguhnya, semua ini adalah fitnah.”
Ketika Ahmad bin Hambal menghadiri sebuah taklim, beberapa muridnya telah menyiapkan karpet dan bantal untuk beliau duduk. Imam Ahmad bertanya, ”Kenapa kalian perlakukan aku seperti ini? Singkirkan karpet dan bantal ini.” Dan, beliau merasa lebih nyaman duduk di atas tanah seperti hadirin yang lain.
Imam Ahmad bin Hambal pernah tidak mau masuk rumahnya. Hal itu setelah ia tahu kalau anaknya yang bernama Abdullah menerima bantuan dari pemerintah untuk memugar rumah beliau. Begitu pun ketika beliau sakit. Ulama penulis kitab Al-Musnad ini tidak mau mencicipi bubur dari anaknya yang bernama Shaleh, setelah ia tahu kalau anaknya menerima uang bantuan dari pemerintah.
Allah swt. menguji ulama yang luar biasa ini dengan empat rezim. Mereka adalah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Al-Makmun, Al-Watsiq, dan Al-Mutawakkil. (bersambung)
(Muhammadnuh@eramuslim.com/Min ’Alam As-Salaf
AlfaOmega
February 02, 2011, 06:38
Imam Ahmad bin Hambal, Ujian Sabar dari Empat Rezim (2) (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/imam-ahmad-bin-hambal-ujian-sabar-dari-empat-rezim-2.htm)
Selasa, 30/11/2010 10:23 WIB | email | print | share
Di masa Imam Ahmad bin Hambal, ada empat rezim kekhalifahan yang akhirnya menjadi batu ujian untuk perjalanan hidup beliau. Empat penguasa itu adalah Al-Makmun Abu Ja’far bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid, Al-Watsiq Abu Ja’far Harun bin Al-Mu’tashim, dan Al-Mutawakkil Abu Fadhl Ja’far bin Al-Mu’tashim. Mereka secara bergantian, memberikan berbagai ujian berat kepada Imam Ahmad.
Di masa kekhalifahan Al-Makmun, pengaruh Mu’tazilah mulai merasuk ke istana. Salah satu pengaruh yang menjadi fitnah besar dalam perkembangan Islam di Baghdad saat itu adalah ajaran yang menyatakan bahwa Alquran adalah makhluk, yang berarti bisa benar dan salah. Dengan masuknya beberapa tokoh Mu’tazilah ke jajaran pejabat tinggi istana, pemahaman buruk itu akhirnya dideklarasikan oleh Al-Makmun.
Al-Makmun pun menyerukan ajaran sesat itu ke seluruh negeri kekuasaannya. Ia memaksa seluruh ahli hadits, para ulama, dan tokoh umat untuk mengikuti ajaran itu. Tentu saja, mereka menolak. Tapi karena adanya teror, ancaman dan paksaan dari Khalifah, dengan sangat terpaksa sebagian besar mereka pun mengikuti seruan itu.
Imam Ahmad bin Hambal adalah di antara mereka yang menolak keras ajaran sesat yang dideklarasikan Khalifah. Walaupun, penolakan itu, punya konsekuensi yang tidak kecil bagi diri Imam Ahmad. Benar saja, sejumlah prajurit menangkap Imam Ahmad untuk dihadapkan ke Khalifah Al-Makmun.
Di tengah perjalanan, seorang sahabat Imam Ahmad berhasil mendekat dan berbincang dengan beliau. ”Apakah engkau masih mengkhawatirkan aku, sahabatku?” ucap Imam Ahmad dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
”Saudaraku,” ucap sahabat Imam Ahmad. Ia pun melanjutkan, ”Saat ini, engkau menjadi panutan begitu banyak manusia. Demi Allah, kalau engkau mengikuti pendapat mereka bahwa Alquran adalah makhluk, maka akan begitu banyak pula orang yang mengikuti pendapat sesat itu. Bertakwalah kepada Allah saudaraku, jangan kamu terima pendapat mereka!”
Saat itu juga, Imam Ahmad bin Hambal pun menangis. ’Apa yang dikehendaki Allah, pasti akan terjadi!“ ucap beliau kepada sang sahabat, lirih.
Pertemuan Imam Ahmad bin Hambal dengan Khalifah Al-Makmun tidak berlangsung lama. Al-Makmun menegaskan bahwa hukuman untuk Imam Ahmad adalah hukuman mati. Setelah itu, dalam penantian kapan hukuman mati itu dilaksanakan, Imam Ahmad dijebloskan ke penjara.
Dalam perjalanan menuju penjara itu, Imam Ahmad sempat berdoa kepada Allah. Beliau berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengan Al-Makmun. Dan doa itu langsung dikabul Allah swt. Sewaktu Imam Ahmad masih dalam penjara itu, tersiar kabar bahwa Al-Makmun meninggal dunia.
Rezim pun berganti. Kekhalifahan diteruskan oleh Al-Mu’tashim. Dan ujian untuk Imam Ahmad bukan lagi surut, justru tambah berat. Di masa Al-Mu’tashim, Imam Ahmad tidak sekadar dipenjara, tapi disiksa dengan hukuman cambuk. Dan itu dilakukan dihadapan khalifah Al-Mu’tashim.
Dalam pertemuan pertama antara Al-Mu’tashim dengan Imam Ahmad yang diperbolehkan untuk disaksikan banyak orang, Al-Mu’tashim berkata, “Wahai Ahmad! Bicaralah, dan jangan takut!“
Imam Ahmad pun menatap Al-Mu’tashim dengan tenang. “Demi Allah, sejak aku di sini, tidak ada rasa takut pun dalam hatiku kepadamu, walaupun sebesar biji kurma!“
Al-Mu’tashim mengatakan, “Apa pendapatmu tentang Alquran?“ Pertanyaan yang sudah diduga oleh Imam Ahmad itu langsung beliau jawab, “Alquran adalah firman Allah yang qadim, dan bukan makhluk!” Imam Ahmad pun menyebutkan beberapa dalil Alquran.
Al-Mu’tashim berkata lagi, “Apa kamu punya hujjah yang lain?” Beberapa ayat Alquran dan hadits pun akhirnya disampaikan Imam Ahmad. Setelah itu, Al-Mu’tashim kembali memerintahkan bawahannya untuk memasukkan Imam Ahmad ke penjara.
Beberapa hari kemudian, Al-Mu’tashim kembali memanggil Imam Ahmad. Setelah dikeluarkan dari penjara, Al-Mu’tashim kembali menanyakan soal pendapat Imam Ahmad tentang Alquran. Karena jawabannya tidak juga berubah, Al-Mu’tashim memerintahkan agar Imam Ahmad disidang oleh beberapa ahli fikih dan hakim istana.
Terjadilah sebuah peristiwa debat antara Imam Ahmad dengan para ahli fikih istana. Tidak tanggung-tanggung, debat ini berlangsung hingga tiga hari. Dan akhirnya, tidak sedikit pun hujah dari Imam Ahmad yang bisa ditangkis oleh pakar agama istana yang notabene tokoh Mu’tazilah ini. Imam Ahmad pun kembali dijebloskan ke penjara. (bersambung)
AlfaOmega
February 02, 2011, 06:42
Imam Ahmad bin Hambal, Ujian dari Empat Rezim (Habis) (http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/imam-ahmad-bin-hambal-ujian-dari-empat-rezim-habis.htm)
Selasa, 18/01/2011 14:20 WIB | email | print | share
Setelah ujian penyiksaan, fitnah, dan penjara dialami Imam Ahmad bin Hambal dari tiga khalifah secara berturut-turut sukses dilalui dengan kesabaran; ujian bentuk lain pun sudah menanti. Dan justru, ujian dari khalifah yang baru ini lebih berat dirasakan Imam Ahmad ketimbang ujian-ujian sebelumnya.
Setelah meninggalnya Al-Watsiq bin Al-Mu’tashim, kekhalifahan pun dipegang oleh Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim. Seorang khalifah yang pemahaman akidahnya sangat berbeda dengan para pendahulunya.
Al-Mutawakkil melarang seluruh penduduk, siapa pun mereka, untuk memperdebatkan atau membicarakan soal Alquran adalah makhluk. Beliau pun membebaskan seluruh ulama yang sempat masuk penjara karena fitnah dari para khalifah pendahulunya. Sebaliknya, mereka yang sebelumnya disebut sebagai ulama yang mengobarkan fitnah bahwa Alquran adalah makhluk, dipenjara seumur hidup. Dan, harta yang mereka dapatkan dari kekhalifahan sebelumnya disita tanpa syarat.
Para ulama ahlul hadits yang akhirnya mendapat pembebasan bukan saja dibebaskan tanpa syarat, tapi juga dipersilakan dan difasilitasi khalifah untuk melakukan dakwah dan taklim kepada seluruh warganya. Mereka yang pernah dipenjara pun mendapat permohonan maaf dan penghormatan secara khusus dari Khalifah. Termasuk Imam Ahmad bin Hambal.
Khalifah Al-Mutawakkil mengirim surat kepada Gubernur Baghdad untuk mengantar Imam Ahmad bin Hambal menemuinya di istana kekhalifahan.
Salah seorang putera Imam Ahmad, Abdullah, menceritakan bahwa utusan Al-Mutawakkil datang untuk menyampaikan surat undangan. Utusan itu memberitahukan bahwa khalifah sangat mengharapkan kedatangan Imam Ahmad dan doa restunya.
Kemudian, berangkatlah iring-iringan utusan Khalifah yang mengantarkan Imam Ahmad berserta keluarga ke istana Mutawakkil. Sambutan meriah pun diberikan kepada Imam Ahmad. Bahkan, Mutawakkil mengucapkan sebuah kalimat kepada ibunya di saat kedatangan Imam Ahmad. “Wahai Ibunda, saat ini, rumah kita menjadi sangat bercahaya dengan kedatangan Imam Ahmad.”
Selain sambutan yang begitu meriah, Al-Mutawakkil menghadiahkan Imam Ahmad dengan berbagai fasilitas. Mulai dari uang dirham, baju kebesaran, dan lain-lain.
Imam Ahmad tidak memberikan reaksi apa pun dengan sambutan dan berbagai hadiah itu. Lama ia terdiam. Kemudian, tiba-tiba ia menangis. Seluruh yang hadir pun terkejut mendapati reaksi di luar dugaan dari Imam Ahmad.
Imam Ahmad saat itu mengatakan, ”Enam puluh tahun aku diuji dengan berbagai penderitaan. Tapi kini, di penghujung usiaku, engkau uji aku dengan yang ini.” Tak satu pun dari hadiah-hadiah itu yang disentuh Imam Ahmad.
Beberapa waktu berlalu setelah pertemuan itu, Al-Mutawakkil mengirim tunjangan bulanan kepada Imam Ahmad. Tapi, setiap kali utusan khalifah menyampaikan itu, setiap kali itu pula hadiah ditolak Imam Ahmad. Hingga akhirnya, Al-Mutawakkil menulis surat.
Surat itu berbunyi, ”Jika hadiah uang ini tidak diterima oleh Imam Ahmad, biarlah uang ini disedekahkan Imam Ahmad kepada orang lain yang berhak, walaupun tidak bersisa sedikit pun untuk beliau.”
Selain uang, Al-Mutawakkil juga mengirimkan berbagai makanan istimewa termasuk buah-buahan yang dikhususkan buat Imam Ahmad. Tapi, tak sedikit pun dari kiriman itu yang disentuh Imam Ahmad.
Al-Mutawakkil tidak putus asa untuk memberikan hadiah kepada Imam Ahmad. Melalui anak beliau yang bernama Shaleh bin Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil memberikan rumah khusus yang dinilai layak untuk ditinggali Imam Ahmad.
Shaleh tidak berani menolak pemberian tulus seorang Khalifah. Dan justru, inilah konflik yang terjadi antara Shaleh dengan ayahnya. Setelah mengetahui anaknya menerima pemberian rumah, Imam Ahmad berkata kepada Shaleh, ”Kalau kamu menerima hadiah itu, maka putuslah hubungan antara aku dengan kamu.” Sejak itu, Imam Ahmad tidak pernah masuk ke rumah yang akhirnya ditinggali anaknya itu. Ia tetap tinggal di rumah lamanya yang sangat sederhana.
Begitu pun dengan anak Imam Ahmad yang lain, Abdullah. Melalui Abdullah, Al-Mutawakkil mengirimkan uang bulanan untuk dihadiahkan kepada Imam Ahmad, khususnya untuk membeli makanan-makanan yang layak dan bergizi. Tapi justru, sejak anaknya menerima hadiah dari Khalifah, Imam Ahmad tidak mau mencicipi makanan yang diberikan dari puteranya itu. Walaupun di saat beliau sedang sakit.
Namun, semua itu tidak membuat Imam Ahmad putus kontak dengan Khalifah. Beliau tetap memberikan jawaban dan pengarahan kepada Khalifah. Bahkan, hampir tidak satu pun kebijakan dari Al-Mutawakkil kecuali setelah mendapatkan persetujuan dan pengarahan dari Imam Ahmad.
Seorang murid beliau pernah meminta nasihat dari Imam Ahmad. Beliau mengatakan, ”Seorang ksatria adalah mereka yang berani meninggalkan tuntutan nafsu karena landasan takwa.”
Imam Ahmad pun pernah menyampaikan nasihat, ”Arahkanlah hidupmu untuk selalu mencari balasan akhirat. Sedikit yang kamu peroleh dari dunia, maka sedikit pula hisabmu di akhirat.”
Imam Ahmad bin Hambal meninggal dunia di usia 77 tahun. Beberapa karya besar yang beliau wariskan untuk umat ini begitu tidak ternilai. Di antaranya, Kitab Al-Musnad yang memuat 30 ribu hadits, Kitab At-Tafsir yang memuat 120 ribu hadits, An-Nasikh wal Mansukh, At-Tarikh, Hadits Syu’bah, Al-Muqaddam wal Mutaakhar fil Quran, dan lain-lain. (muhammadnuh@eramuslim.com)
AlfaOmega
March 04, 2011, 15:24
Nabi Isa a.s. Dengan Si Rakus (http://www.van.9f.com/kisah%20islam%20teladan/nabi_isa_dan_si_rakus.htm)
Dahulu ada seorang lelaki yang datang kepada nabi Isa a.s., ia ingin sekali bersahabat dengan beliau, kerana itu ia berkata : .... "Aku ingin sekali bersahabat denganmu kemana saja engkau pergi." Jawab Isa a.s.: "Baiklah kalau demikian."
Pada suatu hari berjalanlah keduanya di tepi sungai dan makanlah berdua tiga potong roti, Nabi Isa a.s. satu potong dan satu potong untuk orang itu, sisa satu potong. Kemudian ketika Nabi Isa a.s. pergi minum ke sungai, dan kembai roti yang sepotong itu tidak ada, lalu beliau bertanya kepada sahabatnya: "Siapakah yang telah mengabil sepotong roti ?" Jawab sahabat itu: "Aku tidak tahu."
Maka berjalanlah keduanya, tiba-tiba melihat rusa dengan kedua anaknya, maka dipanggillah salah satu dari anak rusa itu lalu disembelihnya dan dibakar. Kemudian dimakan berdua, lalu Nabi Isa a.s. menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali maka hiduplah ia dengan izin Allah, kemudian Nabi Isa a.s. bertanya: Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya itu siapakah yang mengambil sepotong roti itu ?" Jawab sahabatnya: "Aku tidak tahu."
Kemudian keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai ke tepi sungai, lalu Nabi Isa a.s. memegang tangan sahabatnya itu dan mengajaknya berjalan hingga sampai ke seberang, lalu ditanyalah sahabatnya itu sekali lagi: "Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti ini, siapakah yang mengambil sepotong roti itu ?" Sahabat itu menjawab: "Aku tidak tahu."
Kemudian berjalanlah keduanya ketika berada di hutan dan keduanya sedang duduk-duduk, Nabi Isa a.s. mengambil tanah dan kerikil/anak batu, lalu diperintahkan: "Jadilah emas dengan izin Allah." Maka dengan tiba-tiba tanah dan kerikil itu berubah menjadi emas, lalu dibagi menjadi tiga bahagian, kemudian beliau berkata: "Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti." Serentak sahabat itu menjawab: "Akulah yang mengambil roti itu."
Nabi Isa a.s. berkata: "Maka ambillah semua bahagian ini untukmu." Lalu keduanya berpisah. Kemudian orang itu didatangi oleh dua orang yang akan merampok harta itu dan membunuhnya lalu orang itu (sahabat Isa a.s.) berkata: "Lebih baik kita bagi tiga saja." Ketiga orang itu menjadi setuju, lalu menyuruh salah seorang pergi ke pasar berbelanja makanan, maka timbul perasaan orang yang berbelanja itu, dan berkata dalam hatinya: "Untuk apa kita membagi wang/harta, lebih baik makanan ini saya bubuh racun saja biar keduanya mati, dan ambil semua harta itu."
Lalu diberinya racun makanan itu. Sementara orang yang tinggal itu berkata: "Untuk apa kita membagi harta ini, lebih baik jika ia datang, kita bunuh saja, lalu harta itu kita bagi dua." Maka ketika datang orang yang berbelanja itu, segera dibunuh oleh keduanya, lalu hartanya dibagi menjadi dua, kemudian keduanya makan dari makanan yang telah diberi racun itu, maka matilah keduanya, dan tinggallah harta itu di hutan, sedang mereka mati di sekitar harta itu.
Kemudian ketika Nabi Isa a.s. berjalan di hutan dan menemukan (melihat) hal itu, maka iapun berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Inilah contohnya dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya."
AlfaOmega
March 10, 2011, 14:01
Si Abid yang Merasa Paling Suci (http://masjidjami.com/kisah-teladan/si-abid-yang-merasa-paling-suci.html)
Abdillah bin Mas'ud menerangkan, bahwa Rasulullah bersabda: "Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Abdillah bin Mas'ud kemudian bertanya: "Ya Rasulullah, aku sudah merasa malu kepada Allah. Adakah malu-ku itu belum memenuhi syarat?"
Jawab Rasulullah: "Yang dimaksud malu kepada Allah yang sebenarnya adalah menjaga telinga, mata, mulut, dan hidung dari perbuatan maksiat, serta menjaga perut dari makanan haram dan syubhat. Selalu ingat mati yang akan menimpa diri, dan bencana yang akan menghancurkan amal kebajikan. Barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat, hendaklah menjauhi kemewahan dunia, dan selalu mengutamakan berpikir tentang kehidupan akhirat. Siapapun yang dapat melaksanakan hal-hal tersebut, berarti dia telah memiliki perasaan malu kepada Allah yang sebenar-benarnya.
Dalam riwayat lain, Muadz bin Jabal menerangkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Allah telah berfirman: "Hai anak Adam, malulah kepada-Ku ketika engkau melakukan maksiat, tentu Aku akan merasa malu kepadamu untuk memberikan siksa pada hari kiamat. Hai anak Adam, bertaubatlah kepada-Ku, tentu Aku akan memuliakanmu sebagai mana Aku memuliakan para nabi. Hai anak Adam, janganlah engkau memalingkan hatimu dari keridhaan-Ku. Sungguh bila engkau memalingkan hatimu dari keridhaan-Ku, tentu Aku akan menyiksamu dan tidak akan pernah memberikan pertolongan kepadamu."
"Hai anak Adam, bila di hari kiamat engkau datang dengan membawa amal kebajikan sebanyak yang dilakukan penduduk bumi, Aku tidak akan pernah menerima sebelum engkau percaya dengan penuh keyakinan terhadap janji dan ancaman-Ku. Hai anak Adam, sungguh Aku adalah dzat yang memberi rizki, sedangkan engkau adalah hamba yang menerima rizki. Engkau mengetahui dengan pasti, bahwa Aku telah banyak mencurahkan rizki kepadamu. Karenanya, janganlah engkau ingkar kepada-Ku lantaran rizkimu yang melimpah. Sungguh bila engkau ingkar kepada-Ku lantaran rizkimu yang melimpah, tentu Aku akan menimpahkan adzab kepadamu."
"Hai anak Adam, peliharalah lima perkara yang telah Aku sebutkan. Bila engkau memeliharanya dengan baik, tentu Aku akan memasukkan dirimu ke dalam sorga yang penuh dengan keridhaan-Ku."
Pada suatu ketika Umar bin Khathab bercerita: "Pada zaman dahulu ada seorang Abid (ahli ibadah) yang selalu memaksakan diri dalam beribadah. Dia merasa dirinya paling suci, sedangkan orang lain dinilai bersimbah dosa lantaran maksiat yang mereka lakukan. Dalam hatinya selalu tertanam perasaan: "Rahmat Allah hanya akan dicurahkan kepada orang ahli ibadah, bukan kepada pelaku maksiat."
Perasaan itu membuat si Abid meninggalkan pergaulan umum, mengisolasi diri dalam peribadatan. Tidak lagi mengenal silaturrahim.
Ketika di Abid sudah berada di akhirat, dia mengajukan pertanyaan kepada Allah: "Ya Allah, apakah yang Engkau berikan kepadaku sebagai balasan ibadahku sewaktu didunia?"
Jawab Allah: "Balasan buatmu adalah siksa neraka." Dengan terperanjat si Abid meminta penjelasan: "Ya Allah, terus apa arti ibadah yang telah aku lakukan?"
Jawab Allah: "Sebab sewaktu di dunia kamu telah memutuskan silaturrahim, yang berarti telah memutuskan rahmat-Ku. Kamu tidak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarmu, dan kamu sombong dengan ibadahmu. Karena itu, pada hari ini Aku putuskan pula rahmat-Ku kepadamu, sehingga siksa neraka yang paling pantas menjadi imbalan ibadahmu sewaktu di dunia."
AlfaOmega
March 18, 2011, 14:28
Bersabarkah Terhadap Cobaan Dunia (http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/bersabarkah-terhadap-cobaan-dunia.htm)
Selasa, 15/03/2011 11:36 WIB | email | print
oleh Sheikh Yusuf al-Qardawi
Salah satu dari bentuk sabar adalah sabar atas cobaan dunia dan bencana zaman. Menyangkut hal ini, tak seorangpun yang luput darinya. Baik Muslim atau pun kafir, yang miskin atau pun yang kaya, penguasa ataupn rakyat biasa. Sebab hal ini merupakan tabiat kehidupan dan manusia.
Tidak ada seorangpun yang terbebas dari keresahan bathin, penyakit pisik, kehilangan orang yang dicintai, kerugian harta benda, gangguan orang, kesengseraan kehidupan dan peristiwa yang tiba-tiba terjadi yang tidak dapat diduga, seperti gempa dan tsunami.
Inilah yang pernah disumpahkan Allah tentang kepastian terjadinya, dalam firman-Nya :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sab ar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dn rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah yang mendapatkan petunjuk. (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157)
Bentuk sabarlah inilah yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Dalam al-Qur’an, sabar ini dicontohkan oleh sabarnya Nabi Ayyub AS atas penyakit da kematian kelaurganya, sabarnya Nabi Ya’kub AS atas kepergian anaknya, Yusuf AS, dan tipu daya anak-anaknya terhadapnya.
Sabar Terhadap Kinginan Nafsu
Ini merupakan salah satu medan kesabaran, yaitu sabar dari keinginan nafsu dan kecenderungan naluri, seperti kemewahan dunia, kesenangan dan pehiasannya yang selalu dicenderungi oleh hawa nafsu dan di dorong serta dihiasi oleh setan.
Pertama, apabila seseorang, sedang mendapatkan kemewahan dan kesenangan kehidupan dunia, maka sangat diperlukan kesabaran dari memperturutkan kesenangan dan kemewahan kehidupan dunia tersebut, sebab ini merupakan salah satu bentuk lain dari ibtila (cobaan), cobaan dengan kesenangan dan kemewahan, bukan dengan kesedihan dan kemiskinan. Firman Allah Ta’ala :
Kami akan menguji kamu dengna keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. (QS. Al-Anbiya [21] : 35)
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : “Rabbku telah memuliakanku.” Tetapi bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizki , maka dia berkata : “Rabbku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr [89] : 15-16)
Di sini Allah menjadikan kesenangan dan kemewahan sebagai ibtila (cobaan) seprti halnya kemiskinan dan kemewahan.
Setiap mukmin memerlukan kesabaran dari kesenangan dunia, agar tidak terlepas nafsunya mengikuti syahwat, syahwat kepada wanita, anak, kemewahan, kedudukan, dan seb againya. Sebab jjika dia idak dapat mengendalikan nafsunya maka pasti akan terseret kepada sikap sombong, menolak kebenaran dan melampui batas.
Oleh karena itu, sebagian kaum bijak bestari mengatakan, bala (kesengsaraan) itu masih bisa disabari oleh setiap Mukmin, tetapi kesenangan itu jarang sekali dapat disabari kecuali oleh orang yagn mempunyai tingkat shiddiq.
Bahkan dikatakan, sabar terhadap kesenangan itu lebih berat daripada sabar terhadap bala (kesengsaraan). Ketika pintu-pintu dunia dibubakan kepada para sahabat, sebagian mereka berkata, “Kami sudah dicoba dengan kesengsaraan lalu kami-pun bersabar, tetapi ketika kami dicoba dengna kesenangan dan kemewahan, maka kami tidak dapat bersabar”.
Imam al-Gazali berkata, “Sabar terhadap kesenangan itu lebih berat, karena disertai adanya kemampuan. Orang yang lapar ketika tidak ada makanan, lebih dapat bersabar ketimbang ketika terhidang dihadapannya makanan-makanan lezat dan mampu melakukannya. Oleh karena itu, cobaan kesenangan lebih berat”.
Karena nya Allah memperingatkan para hamba-Nya dari cobaan harta, anak, istri, dan semua kesenangan duna, seperti dalam firman-Nya:
Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). (QS. At-Taghabun [64] : 15)
Demikianlah manusia harus dapat bersabar macam bentuk cobaan, baik itu berupa kesenangan maupun kesulitan yang dihadapinya. Wallahu’alam.
AlfaOmega
March 20, 2011, 13:43
Tukang Sapu Masjid (http://masjidjami.com/kisah-teladan/tukang-sapu-masjid.html)
JANGAN pernah merasa keci hati atau kecewa meskipun tidak mendapat keberuntungan (materi) dalam hidup di dunia. Ketidakberuntungan itu akan diganti dengan keberuntungan lain yang lebih menenteramkan dan berdimensi masa depan yang hakiki. Tak apalah saat ini kita tidak berkecukupan materi, tapi dalam kehidupan kelak yang lebih abadi, kita harus merebut kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi alangkah indahnya, kalau kita bisa meraih keduanya, kecukupan di dunia dan di akhirat seperti doa sapu jagat yang selalu kita ucapkan. Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.
Suatu saat Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dibuat kaget ketika datang ke masjid, karena tidak menjumpai seorang jamaah yang tidak pernah absen salat lima waktu berjamaah. Dia adalah seorang perempuan berkulit gelap yang tentu saja tidak rupawan, tapi dia selalu datang ke masjid pada waktu salat. Bukan itu saja, perempuan keling ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masjid. Setiap datang dia selalu membersihkan bagian-bagian masjid yang dianggap kotor. Menyapu masjid adalah aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan, selain tentu saja salat jamaah lima waktu.
Rasulullah hafal betul dengan keberadaan perempuan ini sehingga ketika dia tidak kelihatan beliau menanyakannya. Kali ini beliau bertanya karena perempuan itu sudah beberapa hari tidak kelihatan di masjid. Ketika hal itu ditanyakan kepada para sahabat, mereka mengatakan mengapa menanyakan perempuan yang dianggap tidak penting itu. Mereka mengatakan, perempuan itu sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu.
Mendengar kabar itu, Kanjeng Nabi merasa kaget dan sedikit marah, mengapa kabar itu tidak disampaikan kepada beliau. Para sahabat itu mengatakan, apa pentingnya menyampaikan kabar kematian seorang perempuan biasa kepada Rasulullah. Perempuan itu dianggap tidak penting dalam komunitas mereka, mungkin karena datang dari suku yang berbeda dan kedudukan yang rendah. Kulitnya kelam dan bukan dari golongan elit. Maka ketika dia meninggal dunia, para sahabat menganggap Rasulullah tidak perlu diberi tahu, karena memang dia bukan orang penting, bukan golongan elit Arab.
Mendengar penjelasan itu Rasulullah minta diantar ke kuburan perempuan tersebut. Di makam perempuan tersebut Rasulullah salat dan mendoakan perempuan tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan perempuan tersebut masuk surga karena doa Rasulullah. Meski di dunia perempuan itu orang biasa, bahkan saking biasanya sampai tidak orang yang peduli padanya. Tapi Rasulullah punya pandangan lain, dengan statusnya yang biasa itulah yang membuat perempuan itu luar biasa. Dia selalu datang ke masjid untuk salat wajib berjamaah. Waktunya banyak digunakan untuk membersihkan rumah Allah itu.
Rasulullah ingin memberi pelajaran bahwa kasta atau derajad di dunia sama sekali bukan jaminan akan mendapat kedudukan yang sama di akhirat. Orang miskin ahli ibadah dan memiliki kegemaran menjaga dan membersihkan rumah Allah dia akan dimasukkan ke surganya Allah. Doa Rasulullah menjadi jaminan, karena doanya maqbul, pasti dikabulkan oleh Allah. Betapa beruntungnya perempuan itu, meskipun saat di dunia dia bisa jadi tidak dianggap bahkan diremehkan orang lain.
Ketika usai hisab, Rasulullah berdiri di dekat pintu surga, beliau melihat orang berbondong-bondong masuk ke surga. Hal itu ditanyakan kepada malaikat, siapakah mereka. Dijawab, mereka adalah orang-orang fuqara, orang miskin ahli ibadah yang tidak butuh waktu lama untuk menghisab, karena hartanya tidak ada. Ini berbeda dengan orang kaya yang masih harus menunggu waktu yang lama kaya yang butuh waktu sangat lama untuk menghisab hartanya. Tentu butuh waktu yang sangat lama untuk menghitung harta Carlos Slim, orang terkaya di dunia yang hartanya mencapai Rp 649,7 triliun, atau bos Microsoft Bill Gates yang punya Rp 491,7 triliun. Tapi Abdurrahman bin Auf, miliarder pada masa Rasulullah masuk surga bersama-sama Rasulullah. (***)
sumber : www.malang-post.com
AlfaOmega
March 24, 2011, 13:21
"Enam perkara (http://masjidjami.com/pelita-hati/enam-perkara-dianggap-asing.html) di bawah ini jadi asing bila diproporsikan pada enam tempat, diantaranya:
1. Masjid jadi asing, bila berada di lingkungan kaum yang tidak mau salat.
2. Mushhaf Al-Qur'an jadi asing, bila berada dalam rumah orang yang tidak mau membacanya.
3. Hafalan Al-Qur'an jadi asing, bila berada di dada orang fasik.
4. Wanita muslimah yang salih, jadi asing bila diperistri oleh pria dzalim yang berperangai buruk.
5. Pria muslim yang saleh jadi asing, bila berada dalam cengkraman wanita yang rusak dan beretika buruk.
6. Orang alim jadi asing, bila berada ditengah-tengah lingkungan kaum yang tidak mau mendengar petuahnya.
AlfaOmega
March 25, 2011, 11:49
Pelebur Dosa (http://masjidjami.com/pelita-hati/pelebur-dosa.html)
Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut. Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya.
Seorang murid bertanya, ''Lalu apa jalan keluarnya, wahai Guru?'' ''Perbanyaklah mukaffarat al-dzunub (pelebur dosa)!'' jawab sang guru singkat. Umumnya ulama membagi dosa menjadi dua: dosa besar (kaba-ir) dan dosa kecil (shaga-ir).
Dosa apapun, besar atau kecil, akan menumpulkan hati, sehingga pelakunya makin jauh dari sisi Tuhan dan terseret ke dalam murka-Nya. Memang setiap anak Adam berpotensi pendosa (khattha'). Tetapi sebaik-baik pendosa adalah yang mau tobat (tawwab). Demikian penjelasan oleh Nabi SAW.
Allah yang Maha Penyayang telah membentangkan jalan-jalan bagi penghapusan dosa. Dosa besar -- sepanjang tidak menyangkut hak-hak sesama manusia -- akan diampuni dengan syarat tobat. Seperti disabdakan Nabi SAW, ''Andaikan dosa-dosa seseorang menumpuk setinggi langit, lalu ia bertobat kepada Allah, niscaya akan diterima tobatnya.'' Malaikat pencatat amal konon dibuat lupa di hadapan Allah akan dosa-dosa orang yang bertobat.
Nabi Muhammad SAW memberi contoh bagaimana sebuah tindakan kebaikan dapat mengikis dosa. Beliau bertanya kepada para sahabatnya, ''Jika ada sungai mengalir di muka rumah, lalu penghuninya mandi lima kali sehari, masihkah tersisa sedikit kotoran dari tubuhnya?''
Mereka menjawab, ''Tak akan ada sedikit pun.'' Lalu kata Nabi SAW, ''Pula salat lima waktu dapat menghapus dosa-dosa.'' Sebagaimana salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat dan puasa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah pelebur dosa-dosa yang timbul antara keduanya. Apalagi bila selama Ramadhan, si hamba meramaikannya dengan salat, tadarus, dan sedekah.
Dengan lunturnya dosa-dosa itu, sebagai hasil positif puasa Ramadhan, fajar baru mesti menyingsing. Kita terlahir kembali sebagai 'manusia baru', yakni makhluk yang telah menghiaskan dirinya dengan sifat-sifat Tuhan Sang Mahamulia: adil, pemurah, penyayang, penegak kebenaran, dan seterusnya. (*)
naturalalam
April 04, 2011, 03:54
menyimak dipojokan
naturalalam
April 04, 2011, 03:55
Pelebur Dosa (http://masjidjami.com/pelita-hati/pelebur-dosa.html)
Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut. Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya.
Seorang murid bertanya, ''Lalu apa jalan keluarnya, wahai Guru?'' ''Perbanyaklah mukaffarat al-dzunub (pelebur dosa)!'' jawab sang guru singkat. Umumnya ulama membagi dosa menjadi dua: dosa besar (kaba-ir) dan dosa kecil (shaga-ir).
Dosa apapun, besar atau kecil, akan menumpulkan hati, sehingga pelakunya makin jauh dari sisi Tuhan dan terseret ke dalam murka-Nya. Memang setiap anak Adam berpotensi pendosa (khattha'). Tetapi sebaik-baik pendosa adalah yang mau tobat (tawwab). Demikian penjelasan oleh Nabi SAW.
Allah yang Maha Penyayang telah membentangkan jalan-jalan bagi penghapusan dosa. Dosa besar -- sepanjang tidak menyangkut hak-hak sesama manusia -- akan diampuni dengan syarat tobat. Seperti disabdakan Nabi SAW, ''Andaikan dosa-dosa seseorang menumpuk setinggi langit, lalu ia bertobat kepada Allah, niscaya akan diterima tobatnya.'' Malaikat pencatat amal konon dibuat lupa di hadapan Allah akan dosa-dosa orang yang bertobat.
Nabi Muhammad SAW memberi contoh bagaimana sebuah tindakan kebaikan dapat mengikis dosa. Beliau bertanya kepada para sahabatnya, ''Jika ada sungai mengalir di muka rumah, lalu penghuninya mandi lima kali sehari, masihkah tersisa sedikit kotoran dari tubuhnya?''
Mereka menjawab, ''Tak akan ada sedikit pun.'' Lalu kata Nabi SAW, ''Pula salat lima waktu dapat menghapus dosa-dosa.'' Sebagaimana salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat dan puasa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah pelebur dosa-dosa yang timbul antara keduanya. Apalagi bila selama Ramadhan, si hamba meramaikannya dengan salat, tadarus, dan sedekah.
Dengan lunturnya dosa-dosa itu, sebagai hasil positif puasa Ramadhan, fajar baru mesti menyingsing. Kita terlahir kembali sebagai 'manusia baru', yakni makhluk yang telah menghiaskan dirinya dengan sifat-sifat Tuhan Sang Mahamulia: adil, pemurah, penyayang, penegak kebenaran, dan seterusnya. (*)
terharuuuuuu::cry::
AlfaOmega
April 09, 2011, 15:21
Koreksi Diri Sendiri (http://masjidjami.com/pelita-hati/koreksi-diri-sendiri-.html)
Seorang ulama hikmah mengatakan: Ketika kebanyakan manusia disibukkan dengan enam perkara, maka sibukkanlah dirimu enam perkara.
Diantaranya:
1.Jika mereka sibuk memperbanyak amal, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakannya.
2.Apabila mereka sibuk melakukan sunnah-sunnah, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan yang wajib.
3.Kalau mereka sibuk dengan pembangunan (perbaikan) lahiriyah, maka sibukkanlah dirimu dengan memperbaiki batinmu.
4.Jika mereka sibuk mengoreksi diri orang lain, maka sibukkanlah dirimu dengan mengoreksi diri sendiri.
5.Apabila mereka sibuk membangun (demi kemakmuran) dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan membangun kemakmuran akhirat.
6.Kalau mereka sibuk mencari muka (pujian) manusia, maka sibukkanlah dirimu dengan mencari ridlo Allah SWT.
AlfaOmega
April 21, 2011, 15:37
Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats-Tsiqat” kisah ini. Dia adalah imam besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Berikut kisahnya :
Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdoa,
“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19).
Aku melihat orang yang berdoa tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan…
Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”
Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? (Anaknya inilah yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan)
Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini? Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam.
Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.
Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?”
Aku katakan, “Benar.”
Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?”
Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”
Dia menjawab, “Ya.”
Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?”
Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.”
Aku katakan, ”Bagaimana dia menyikapinya?”
Dia berkata, “Ayyub bersabar.”
Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?”
Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.”
Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”
Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?”
Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir.”
Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.”
Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.
Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku.
Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa yang telah terjadi. Mereka berkata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka aku membuka wajahnya, lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata, “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.”
Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Lalu, aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.” Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Dia berkata, “Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’” (QS. Ar-Ra’d: 24). “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul Jannatu Ridha fit Taslim Lima Qadarallah wa Qadha
sumber (http://kisahmuslim.com/sebuah-kisah-ujian-kesabaran/)
AlfaOmega
April 25, 2011, 15:13
Mencintai Orang-Orang Lemah (http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/mencintai-orang-orang-lemah.htm)
Senin, 25/04/2011 10:13 WIB | email | print
oleh Aidh Abdullah al-Qarni
Ibnul Qayyim dalam Raudahatul Muhibbin menceritakan tentang Abu Bakar ra bahwa ketika shahabat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, disebutkan setiap hari sesudah menunaikan shalat shubuhnya, dia selalu keluar. Kepergiannya ini diperhatikan oleh Umar Ibn Khattab.
Ternyata Abu Bakar pergi ke sebuah kemah yang ada di salah satu pekampungan kaum muslimin, dan Umar mengikutinya. Setelah Abu Bakar keluar dari kemah itu, kemudian Umar masuk ke dalam kemah itu, tanpa sepengetahuan Abu Bakar. Ternyata di dalamnya Umar mendapatkan seorang wanita yang tua renta, dan tidak memiliki keluarga lagi. Umar pun bertanya, "Wahai hamba perempuan Allah, siapakah engkau?". Wanita tua renta itu menjawab, "Aku seorang nenek yang tunanetra, lemah, lagi tak berdaya, serta tanpa keluarga", jawabnya. "Lalu apa keperluan orang yang selalu datang kepadamu ini?". Ia menjawab, "Aku tidak mengenalnya", ucapnya. Umar bertanya, "Mengapa dia datang kemari?". Wanita renta menjawabnya, "Dialah yang membuat makanan bagi kami, membersihkan rumah, dan memerah susu kambing buat kami", tambah wanita renta itu. Mendengaqr jawaban wanita itu, Umar menangis sejadi-jadinya, dan mengeluarkan kata-kata, "Wahai Abu Bakar, kalau demikian, engkau akan membaut mereka yang diangkat menjadi khalifah sesudahmu benar-benar kepayahan (untuk mengikuti langkahmu).
Demi Allah, hal ini benar-benar menggambarkan ketaqwaan yag sesungguhnya, yang tidak pernah akan lagi yang dapat menyamainya. Termasuk ketaqwaan dan memotivasi diri untuk mengamalkannya adaslah membaca perjalanan hidup kaum salaf yang ditinggikan kedudukannya oleh Allah Ta'ala. "Hai Jarir mereka itulah bapak moyangku,maka sebutkanlah kepadaku orang-orang yang semisal mereka, bila kita berada dalam pertemuan yang besar!".
Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, pernah bertanya, "Apakah ada seseorang diantara kalian yang puasa hari ini? Abu Bakar menjawab, "Saya!". Rasul bertanya, "Adakah seseorang diantara kalian lyang mengeluarkan shadaqah pada hari ini?".Abu Bakar menjawab, "Saya!". Rasul shallahu alaihi wa sallam, bertanya, "Adakah seseorang diantara kalian yang menjenguk orang sakit?". Abu Bakar kembali menjawab,"Saya!". Maka Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda, "Tidak lah sekali-kali semua pekerti ini terhimpun dalam diri seseorang dalam hari yang sama, melainkan dia pasti masuk surga". (HR.Muslim).
Ketaqwaan yang dilakukan Abu Bakar ra ini merupakan bentuk manifestasi dari interpretasi terhadap makna taqwa, bukan sekadar teori yang membuat mulut kita berbuih, dan menakutkan kita. Sekarang kita hanya bisa mengadu kepada Allah tentang realita yang oleh keadaan. Di mana kehidupan yang ada dipenuhi dengan berbagai bentuk kezaliman terhadap umat Islam.
Seorang tabi'in kepada Sufyan at-Tsauri, mengatakan, "Wahai Abu Sa'id, para shahabat telah pergi dengan mengendari kuda pilihan, sedang kita pergi dengan mengendarai keledai".
Sufyan Tsauri menjawab, "Demi Allah, kita benar-benar dapat bergabung dengan mereka selama kita menempuh jalanyang sama dengan mereka, meskipun kendaraan kita yang kita tunggangi adalah keledai, tetapi dengan syarat hendaknya kita tetap pada jalur, arah, dan jalan yang sama seperti yang ditempuh oleh mereka.
"Ketika Nabi shallahu alaihi wa sallam, sedang berbicara kepada para shahabatnya, tiba-tiba berdirilah seorang lelaki Arab pedalaman yang langsung bertanya, "Bilakah Kiamat terjadi?". Rasulullah balik bertanya, "Bekal apakah yang telah engkau persiapkan untuknya?". Lalu, lelaki itu menjawab, "Aku mempersiapkan untuknya dengan banyak shalat, banyak puasa, banyak shadaqah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Nabi shallahu alaihi wa sallam, bersabda, "Engkau akan dihimpunkan bersama dengan yang engkau cintai". (HR. Bukhari-Muslim).
Imam Syafi'i telah mengatakan dalam bait-bait syair, " Aku mencintai orang-orang yang shalih,meskipun diriku bukan dari kelangan mereka, mudah-mudahan aku mendapatkan syafa'at , karena mereka. Dan aku benci terhadap orang-orang yang perniagaannya hanyalah kedurhakaan, meskipun kita mempunyai barang dagangan yang sama".
Banyak kalangan orang yang berupaya melupakan kesalahan-kesalahannya, tetapi justru yang mereka rasakan adalah kepedihan, kecemasan, kekecewaan, keputusasaan, dan semakin jauh dari Yang Maha Esa, karena sesungguhnya orang yang makin mendekatkan dirinya kepada Allah, niscaya Allah mendekatkan dan memberi hadiah. Sebalikknya, barang siapa menjauh dari-Nya, Allah akan membuatnya sempit. Wallahu'alam.
AlfaOmega
May 11, 2011, 14:39
Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Abbas, Muda Usianya Luas Ilmunya (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/05/11/ll13wv-abdullah-bin-abbas-muda-usianya-luas-ilmunya)
Rabu, 11 Mei 2011 18:29 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, "Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. "Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."
Pemuda kecil itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan perhatian pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu. "Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis."
Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil, dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu. Bak kata pepatah, sekali dayung tiga empat pulau terlampaui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran akidah, ilmu dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.
Keakraban dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Keikhlasannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. Kasihnya seperti oase di tengah sahara.
Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.
Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.
Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. "Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.
Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya, Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat kecil lainnya.
Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.
Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat yang seusia dengannya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Mereka merasa tidak yakin, apakah para sahabat senior itu mau memerhatikan mereka yang masih anak-anak.
Walau demikian, Ibnu Abbas tak patah arang. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.
"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka.
"Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.
Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"
"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.
Karena ketinggian ilmunya itulah, ia kerap menjadi kawan dan lawan diskusi para sahabat senior. Umar bin Al-Kathab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberi julukan kepada Ibnu Abbas sebagai "pemuda tua".
Doa Rasulullah yang meminta kepada Allah agar menjadikan Ibnu Abbas sebagai seorang yang mengerti perkara agama telah terwujud kiranya. Ibnu Abbas adalah tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. Ibnu Abbas tempat mencari ilmu karena kegemarannya terhadap ilmu.
Di usianya yang ke-71 tahun, Allah SWT memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. "Hari ini telah wafat ulama umat," kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya.
AlfaOmega
May 22, 2011, 13:11
Halatnya Abu Bakar Shiddiq (http://kisahmuslim.com/beginilah-shalat-abu-bakar-ash-shiddiq/)
Beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk kalangan orang-orang shalih, sekaligus salah satu dari sahabat utama yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam yang utama dari sejumlah sahabat yang lainnya.
Beliau telah menghabiskan hidup dan segenap jiwa raganya, harta kekayaannya serta waktunya untuk diinfakkan dan berjihad di jalan Allah. Termasuk memberikan pelayanan dalam dakwah dan penyampaian wahyu.
Dialah sahabat Abu Bakar yang nama lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah Al Qurasyi At Tamimi yang terkenal dengan sebutan Abu Bakar Asy Syiddiq.
Beliau sangat mudah mencucurkan air mata saat membaca Al Quran dalam shalatnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengalaman hidup beliau bersama Al Quran. Sehingga beliau tidak mampu menahan perasaannya dari kejadian kejadian yang pernah dialaminya ketika membaca Al Quran.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang lainnya.” Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Wahai Rasulullah, sesungguhnyaAbu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air mata dari keduanya.” (HR Muslim)
Adapun kekhusyukan beliau serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya.Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Mekah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.
Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibnu Ad Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamana kepada Abu BakarAsh Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Ad Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabbnya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami.”
Ibnu Ad Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.
Kemudian Abu Bakar mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca Al Quran di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca AL Quran (Kisah ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Ibnu Hiban)
Sahl bin Sa’d dia berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
Mujahis menuturkan, “Keadaan Ibnu Az Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak).” Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, “Penduduk Mekah menuturkan bahwa Ibnu Zubair mencontohshalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
AlfaOmega
June 14, 2011, 14:31
Kisah Sahabat Nabi: Abu Hurairah Ad-Dausi, Sang Penghapal Hadits (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/14/lms10r-kisah-sahabat-nabi-abu-hurairah-addausi-sang-penghapal-hadits)
Selasa, 14 Juni 2011 17:55 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Tidak diragukan lagi, hampir semua kaum Muslimin pasti mengenal sahabat Nabi yang satu ini. Ia mempunyai bakat yang luar biasa dalam hal kemampuan dan kekuatan ingatan, ia mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya. Sedangkan daya ingatnya mempunyai keistimewaan dalam menghafal dan menyimpan.
Hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari semua yang pernah didengarnya. Ia telah mewakafkan hampir seluruh hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang paling banyak menerima dan menghapal hadis, serta meriwayatkannya.
Pada zaman Jahiliyah, orang memanggilnya Abu Syams. Ketika hendak memeluk Islam, Rasulullah bertanya kepadanya, "Siapa namamu?"
"Abdu Syams," jawabnya singkat.
"Bukannya Abdurrahman (Hamba Allah)?" tanya Rasulullah.
"Demi Allah, benar. Abdurrahman, ya Rasulullah," jawab Abu Hurairah setuju.
Diberi gelar Abu Hurairah, karena waktu kecil dia mempunyai seekor anak kucing betina dan selalu bermain-main dengannya. Maka gelar masa kecilnya lebih populer daripada nama aslinya. Setelah Rasulullah mengetahui gelar dan asal-usul namanya, maka beliau selalu memanggilnya "Abu Hirr" sebagai panggilan akrab. Dan Abu Hurairah lebih terkesan dengan panggilan "Abu Hirr" daripada "Abu Hurairah".
Abu Hurairah masuk Islam dengan perantaraan Thufail bin Amr Ad-Dausi. Islam masuk ke negeri Daus kira-kira awal tahun ke-7 Hijriyah, yaitu ketika dia menjadi utusan kaumnya menemui Rasulullah SAW di Madinah.
Setelah bertemu Rasulullah, pemuda Daus ini memutuskan untuk berkhidmat (menjadi pelayan) Nabi dan menemani beliau. Oleh karena itu, ia tinggal di masjid, di mana Rasulullah mengajar dan menjadi imam. Selama Rasulullah hidup, Abu Hurairah tidak menikah dan belum punya anak.
Namun ia mempunyai ibu yang sudah lanjut usia, dan masih tetap musyrik. Abu Hurairah tidak berhenti mengajak ibunya masuk Islam, karena dia sangat menyayanginya dan ingin berbakti. Tetapi ibunya malah menjauh dan menolak ajakannya. Ia pun meninggalkan ibunya dengan perasaan kacau dan hati yang terkoyak.
Dia pernah mengajak ibunya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun sang ibu menolak sambil mencela Rasulullah dengan kata-kata yang menyedihkan dan menyakitkan hati. Ia pun pergi menemui Nabi SAW.
"Mengapa kau menangis, wahai Abu Hurairah?" tanya Rasulullah.
"Aku tidak bosan-bosannya mengajak ibuku masuk Islam. Tetapi ia selalu menolak. Hari ini ia kuajak masuk Islam, tapi ia malah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas mengenai dirimu, wahai Rasulullah, yang tak sudi kudengar. Tolonglah doakan, ya Rasulullah, semoga ibuku tergugah masuk Islam," katanya.
Rasulullah pun mendoakan semoga hati ibu Abu Hurairah terbuka untuk masuk Islam. Pada suatu hari, ketika pulang ke rumahnya, Abu Hurairah mendapati pintu dalam keadaan tertutup. Di dalam terdengar bunyi gemercik air. Tatkala hendak masuk ke dalam, terdengar suara ibunya, "Tunggu di tempat!"
Agaknya sang ibu tengah berpakaian. Tak lama kemudian. "Masuklah!" kata ibunya. Begitu masuk ke dalam, ibunya berkata, "Aku bersaki bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Abu Hurairah kembali kepada Rasulullah sambil menangis gembira, sebagaimana sebelumnya ia menangis karena sedih. "Bergembiralah wahai Rasulullah, Allah mengabulkan doa anda. Ibuku telah masuk Islam," ujarnya.
Abu Hurairah mencintai Rasulullah hingga mendarah daging. Dia tak pernah bosan memandang wajah beliau. "Bagiku tidak ada yang lebih indah dan cemerlang selain wajah Rasulullah SAW. Dalam penglihatanku, seolah-olah matahari sedang memancar di wajah beliau," katanya suatu ketika.
Sebagaimana besar cintanya kepada Rasulullah SAW, maka begitu pula besar cintanya kepada ilmu. Sehingga ilmu menjadi kegiatan dan puncak cita-citanya.
Ketika kaum Muslimin memperoleh kesejahteraan dari limpahan rampasan perang. Abu Hurairah mendapat bagian, berupa sebuah rumah dan harta. Walaupun begitu, semua kenikmatan yang diperolehnya tidak sedikit pun merubah kepribadiannya yang mulia. Dia tidak pernah melupakan masa lalunya.
Dia kerap bercerita, "Aku dibesarkan ibuku dalam keadaan yatim. Kemudian aku hijrah dalam keadaan miskin. Aku pernah mengambil upah di perkebunan Binti Ghazwan, hanya untuk mendapatkan sesuap makanan. Aku juga pernah menjadi pelayan (khadam), menurunkan dan menaikkan keluarga itu dari dan ke atas kendaraannya. Kemudian aku dinikahkan Allah dengan anak perempuan mereka."
Abu Hurairah pernah menjadi Walikota Madinah lebih dari satu kali. Dia diangkat menjadi walikota oleh Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Kelembutan dan keluwesan pemerintahannya tidak ada yang menandingi.
Dalam pribadi Abu Hurairah terkumpul kekayaan akan ilmu, ketakwaan dan kewara'an. Siang hari dia puasa, malam dia beribadah. Kemudian dibangunkannya istrinya. Istrinya beribadah sepertiga malam, setelah itu membangunkan anak perempuannya. Maka anak gadis itu beribadah juga sepertiga malam terakhir. Karena itu dalam rumah tanggal Abu Hurairah tidak putus-putusnya orang beribadah sepanjang malam.
Sepanjang hidupnya, Abu Hurairah senantiasa bersikap dan berbuat baik terhadap ibunya. Bila dia keluar rumah, dia berdiri lebih dahulu di muka pintu kamar ibunya, untuk mengucapkan salam. Ia juga giat mengajak orang bersikap dan berbuat baik terhadap orang tua mereka, serta menyayangi mereka.
Ketika Abu Hurairah sakit dan akan meninggal dunia, dia menangis. Orang-orang bertanya padanya, "Mengapa anda menangis, wahai Abu Hurairah?"
Ia menjawab, "Aku menangis bukan karena sedih berpisah dengan dunia ini, bukan! Aku menangis karena perjalanan masih jauh, sedangkan perbekalanku hanya sedikit. Aku telah berada di ujung jalan yang akan membawaku ke surga atau neraka. Sedangkan aku tidak tahu di jalan mana aku berada."
Marwan bin Hakam datang berkunjung menengoknya. Kata Marwan, "Semoga Allah segera menyembuhkanmu, wahai Abu Hurairah!"
Mendengar doa Marwan tersebut, Abu Hurairah justru berdoa sebaliknya. "Ya Allah, aku sudah rindu bertemu dengan-Mu. Semoga Engkau juga begitu terhadapku. Segerakanlah bagiku pertemuan itu!"
Tidak lama setelah Marwan tiba di rumahnya, Abu Hurairah meninggal dunia dengan tenang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Ia telah menghapal tidak kurang dari 1.609 hadits Rasulullah SAW untuk kaum Muslimin.
AlfaOmega
June 24, 2011, 06:35
Nikmatnya Rasa Sakit (http://masjidjami.com/kisah-teladan/nikmatnya-rasa-sakit.html)
Abi Umamah Al Bahili menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Apabila seorang mukmin menderita sakit, Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis semua amal kebajikan yang dilakukan sewaktu sehat dan bahagia."
Dalam riwayat lain diterangkan, Rasulullah bersabda: "Apabila seseorang mukmin menderita sakit, Allah memerintahkan kepada empat malaikat, yang masing-masing dari mereka mendapat tugas sendiri-sendiri. Yang satu mendapat tugas mengambil kekuatan yang ada pada badannya, hingga dia menjadi lemas tak berdaya. Yang satu mendapat tugas mengambil kenikmatan yang ada pada mulutnya, hingga dia tidak merasakan nikmatnya makan dan minum. Yang satu mendapat tugas mengambil cahaya yang ada pada mukanya, hingga dia kelihatan pucat lesi. Dan, satu lagi mendapat tugas mengambil semua dosa yang telah dilakukan, hingga dia bersih dari segala dosa lantaran sakit.
Ketika Allah menghendaki dia sembuh dari sakitnya, maka diperintahkan kepada malaikat yang mengambil kekuatan dari badannya agar mengembalikannya, hingga dia memiliki kekuatan lagi. Kepada malaikat yang mengambil rasa nikmat dari mulutnya diperintahkan pula agar mengembalikannya, hingga dia bisa merasakan kembali kenikmatan makan dan minum. Kepada malaikat yang mengambil cahaya dari wajahnya diperintahkan agar mengembalikan cahayanya, hingga dia kelihatan berseri.
Dan kepada malaikat yang mengambil dosa-dosanya tidak diperintahkan untuk mengembalikan, hingga malaikat itu segera bersujud kepada Allah seraya berkata: "Ya Allah, sungguh Engkau telah menugaskan kepada empat malaikat untuk mengambil sesuatu dari hamba-Mu yang sakit. Setelah sembuh, Engkau perintahkan kepada para malaikat untuk mengembalikan apa yang telah dia ambil. Karena apakah hingga Engkau tidak memerintahkan kepadaku untuk mengembalikan dosa-dosa yang telah aku ambil dari dirinya?
Mendengar pengaduan malaikat, Allah segera berfirman: "Karena sifat keagungan-Ku, tidak pantas bila Aku memerintahkan kepadamu agar mengembalikan dosa-dosa hamba-Ku setelah dia merasakan penderitaan ketika sakit. "
Kemudian malaikat pengambil dosa berkata: "Ya Allah, kemudian akan aku gunakan untuk apakah dosa-dosa ini?" Jawab Allah: "Pergilah, dan buanglah dosa-dosa itu ke samudra."
Malaikat itupun segera pergi ke samudra, membuang semua dosa yang dia ambil dari si sakit. Lalu dosa-dosa itu oleh Allah dijadikan binatang berupa buaya di samudra. Bila dalam sakitnya dia meninggal, berarti dia keluar dari alam dunia dalam keadaan bersih dari segala dosa.
Suatu ketika Rasulullah pernah berwasiat kepada Salman Al-Farisi, "Sesungguhnya ada tiga hal yang menjadi kepunyaanmu di dalam sakit. Pertama, engkau sedang mendapat peringatan dari Allah SWT. Kedua, doamu diijabah oleh Allah. Dan ketiga, penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu. Semoga Dia menggembirakan kamu dengan kesehatan sampai ajalmu datang."
Ada doa Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah yang mulia, ketika dia sakit; "Ya Allah, saya tidak tahu mana yang harus aku syukuri di antara sehat dan sakitku? Mana di antara kedua waktu itu yang patut aku sampaikan pujian kepada-Mu? Apakah waktu sehat, ketika Engkau senangkan daku dengan rezeki-Mu yang baik, dan Engkau giatkan daku dengan rezeki itu untuk memperoleh ridha dan karunia-Mu, serta Engkau kuatkan daku untuk melaksanakan ketaatan pada-Mu? Atau waktu sakitku, ketika Engkau bersihkan dosaku, dan meringankan dosa-dosa yang memberati punggungku, menyucikan diriku dari liputan kesalahan, mengingatkan daku untuk bertobat kepada-Mu, dan menyadarkan daku untuk menghapuskan kekhilafan dalam melalaikan syukur atas nikmat-Mu."
Karenanya, ada orang-orang yang di ujung hayatnya sakit terus, tidak sembuh-sembuh. Hal itu merupakan suatu keberuntungan baginya. Apalagi jika dulu, ketika masih sehat, dia hampir tidak pernah berdzikir kepada Allah. Bahkan banyak orang yang waktu mudanya lebih banyak lupa kepada Allah. Kemudian sebelum meninggal, dia sakit agak lama. Itu merupakan kasih-sayang Allah kepadanya, seandainya dia memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbanyak dzikir kepada-Nya.
Jadi, sakit dapat dijadikan sebagai penebus dosa, bila si sakit sabar dan tabah menghadapi kenyataan hidup. Dalam hal ini, Rasulullah telah bersabda: "Sakit panas sehari semalam merupakan tebusan dosa (kecil) yang telah dilakukan selama satu tahun."
AlfaOmega
August 09, 2011, 13:45
Para Perawi Hadits: Imam Abu Dawud, Sang Pencinta Ilmu (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/09/lpno5t-para-perawi-hadits-imam-abu-dawud-sang-pencinta-ilmu)
Selasa, 09 Agustus 2011 17:08 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Nama lengkap Abu Dawud ialah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi As-Sijistani. Ia adalah imam dan tokoh ahli hadits, serta penulis kitab Sunan Abu Dawud. Abu Dawud dilahirkan tahun 202 H di Sijistan. Sejak kecil Abu Dawud sangat mencintai ilmu dan sudah bergaul dengan para ulama untuk menimba ilmunya.
Sebelum dewasa, dia sudah mempersiapkan diri untuk melanglang ke berbagai negeri. Dia belajar hadits dari para ulama yang ditemuinya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri lainnya. Pengembaraannya ke beberapa negeri itu menunjang dia untuk mendapatkan hadits sebanyak-banyaknya. Kemudian hadits itu disaring, lalu ditulis pada kitab Sunan.
Abu Dawud sudah berulang kali mengunjungi Baghdad. Di kota itu, dia mengajar hadits dan fiqih dengan menggunakan kitab Sunan sebagai buku pegangan. Kitab Sunan itu ditunjukkan kepada ulama hadits terkemuka, Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal pun memuji kitab tersebut. Sunan Abu Dawud adalah salah satu kitab hadits terkemuka yang disusun oleh Imam Abu Dawud. Kitab ini memuat 4.800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits.
Abu Dawud telah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, ia sudah berada di Baghdad, pusat dan metropolitan ilmu. Setelah itu, ia mengunjungi berbagai negeri untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya.
Abu Dawud menimba ilmu selama bertahun-tahun. Di antara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, Al-Qa’nabi, Abu Amr Adh-Dhariri, Abu Walid Ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, Ad-Darimi, Abu Ustman Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain.
Adapun murid-murid Imam Abu Dawud antara lain Abu Isa At-Tirmidzi, Abu Abdur Rahman An-Nasa’i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awana, Abu Sa’id Al-Arabi, Abu Ali Al-Lu’lu’i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa’id Al-Jaldawi dan lain-lain.
Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata, "Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu: "Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya"; "Termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat"; "Tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridha terhadap saudaranya apa yang ia ridha terhadap dirinya sendiri"; "Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas pula, sedangkan di antara keduanya adalah syubhat."
Abu Dawud menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushuluddin, tauhid dan terutama hadits. Kitab Sunan Abu Dawud adalah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu di antara kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini.
Tentang kualitasnya ini Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, "Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya. Di dalamnya banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum di antara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridha. Karena sesungguhnya ia telah mengumpulkan sejumlah hadits ahkam dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta mengaturnya dengan sebaik-baik aturan. Beliau bersikap hati-hati dengan membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka dan memberikannya pula atas para pelanjutnya."
Setelah hidup penuh dengan kegiatan ilmu, mengumpulkan dan menyebarluaskan hadits, Abu Dawud wafat di Basrah, pada tanggal 16 Syawal 275 H. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya.
Karya-karya Imam Abu Dawud antara lain: Kitab As-Sunan (Sunan Abu Dawud), Kitab Al-Marasil, Kitab Al-Qadar, An-Nasikh Wa Al-Mansukh, Fada'ilul A’mal, Kitab Az-Zuhud, Dalailun Nubuwah, Ibtida’ul Wahyu, dan Ahbarul Khawarij.
AlfaOmega
September 15, 2011, 08:30
Kesabaran Abdullah bin Hudzafah (http://an-naba.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/#more-2726)
Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.
Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata: “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab: “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab: “Silahkan saja!”
Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah: “Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.” Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (kuali) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja: “Sesungguhnya dia menangis.” Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata: “Bawa dia kemari!” Lalu berkata: “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya : “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Maka Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata : “Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?” Abdullah menjawab : “Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?” Ia menjawab: “Ya.” Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka berkatalah Umar: “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.” Kemudian Umar mencium keningnya.1
Ini adalah kedudukan yang agung lagi mulia karena Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya. Bersamaan dengan itu ia berharap jika nyawanya sejumlah rambut di kepalanya yang disiksa di jalan Allah karena Allah semata. Maka ketika ia melihat kemashlahatan umum yaitu dibebaskannnya para tawanan, ia pun mau untuk mencium kening raja tersebut. Hal ini adalah merupakan suatu kebijakan yang amat agung. Maka Allah pun ridha terhadap Abdullah bin Hudzafah dan iapun ridha kepadaNya.
Dikutip dari: “Indahnya Kesabaran” penulis: Said bin Ali Wahf al-Qahthany, Pustaka At-Tibyan, Solo
AlfaOmega
October 10, 2011, 13:41
To Be a Good Listener (http://www.mihrabqolbi.com/artikel/detail/7/34/to-be-a-good-listener)
Oleh : Mihrab Qolbi
Mengapa kita harus menjadi good listener? Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pendengar dan ingin didengar.
Saya sempat silau dengan istilah core values, good listener dan mencoba mengorek-ngorek substansi keluhuran dari istilah itu. Maklum, karena mungkin belum familiar bagi saya istilah-istilah canggih itu. Tetapi setelah menemukan substansinya, loh, ayah saya sejak bertahun-tahun telah menanamkan nilai-nilai itu dalam kehidupan kami di rumah.
“Dengerin baik-baik bacaan ayah, lalu ikutin”.
“Pasang telinga kamu. Tadi kan sudah ayah kasih contoh. Yang namanya nun sukun ketemu alif itu bacaannya jelas, idzhar namanya. Bukan dengung. Dengung itu ikhfa”.
“Kalu orang tua lagi ngomong, dengerin. Bagaimana kamu dihargai orang nantinya kalau sikap kamu begitu”. Dan banyak lagi.
Ternyata ayah saya yang orang kampung itu sudah paham core values dan good listener. Saya tidak menyangka.
Saya ada beberapa kali mengikuti workshop atau seminar. Ada orang asingnya di situ, bule dan mancung-mancung, baik sebagai pembicara maupun pengamat. Kesimpulan saya, mereka rata-rata adalah good listener dan good speaker. Sementara kita; muslim lagi, kebanyakan adalah good speaker tetapi bad listener. Banyak di antara kita berbicara dengan makhluk di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang di saat ada orang lain tengah menyampaikan haknya berbicara. Sehingga kita menjadi orang setengah hati, memberikan hak orang untuk berbicara tetapi tidak memberikan haknya untuk didengarkan. Ini sama saja memberikan separuh haknya, tetapi kita rampas separuh haknya yang lain. Kasian kan? Tega apa?
Menjadi good listener adalah cara mensyukuri nikmat Tuhan. Mestinya setiap kita yang muslim sampai pada sikap mental demikian. Sebab sering para kyai, ustadz atau guru ngaji menghimbau kita dengan kitab suci agar kita menjadi good listener. Hanya saja mereka tidak membawa-bawa istilah core values dan good listener, tetapi menyadarkan kita semua bahwa Islam juga menaruh perhatian yang sangat tinggi dalam soal ini. Oleh karena itu bagi saya, mari belajar good listener melalui Islam, meskipun tidak mengapa belajar Islam melalui core values dan good listener.
Allah pernah menghimbau setiap muslim untuk menjadi good listener, misalnya:
“Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(terjemah QS. Al-A’raaf [7] : 204).
Tuh, benar kan? Islam sejak lebih dari empat belas abad yang silam telah menyadarkan setiap manusia untuk menjadi good listener. Aduh saya jadi berpikir, mungkinkah segala macam bencana yang menimpa bangsa ini, menimpa bangunan moral bangsa ini, karena kita telah gagal menjadi good listener di mata Tuhan? Bagaimana kita akan disayang oleh-Nya, jika sekedar menjadi good listener saja kita enggan? Allah ya Rabb, ampuni kami.
Menjadi good listener adalah cara mensyukuri nikmat Tuhan. Mestinya setiap kita yang muslim sampai pada sikap mental demikian. Sebab, Al Qu’ran sempat memberi cap sangat hina bagi siapa saja yang diberi pendengaran tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan baik-baik segala kebesaran Tuhan dengan sebutan hewan ternak bahkan lebih buruk dari hewan ternak itu (QS. Al A’raaf [7] :179). Artinya menjadi good listener adalah mensyukuri nikmat pendengaran dari Yang Maha Mendengar. Lhaa, apa jadinya jika Yang Maha Mendengar tiba-tiba mencabut pendengaran ini? Iiih, ngeri jadinya.
Menjadi good listener bagi seorang muslim adalah "wajib". Sebab jika tidak, ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk mendapat kebajikan. Bayangkan, seorang muslim tidak berhak apa-apa dari pahala Jum’at, hanya karena dia gagal menjadi good listener saat khutbah disampaikan.
AbuHurairahmengabarkan,bahwaRasulullahshallallahu` alaihiwasallambersabda:"JikakamuberkatakepadatemanmupadahariJum`at`diamlah `,padahalImamsedangmemberikankhutbahmakasungguhkam usudahberbuatsia-sia(tidakmendapatpahala)."(HR.NukharidanMuslim).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang kaya dengan core values, sebab beliau sendiri adalah “core values” itu yang tidak pernah mati. Beliau adalah pribadi good listener dan good speaker. Sudah sewajarnya, cinta kepada beliau bukan sebatas menyebut-nyebut namanya dalam berbagai pujian dan qasidah. Tetapi menjadikannya model sebagai good speaker dan good listener dalam diri kita. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad.
“Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati”. (HR. Ad-Dailami)
Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai sales yang sedang antusias menjelaskan sebuah produk, sedangkan audiensnya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai dosen yang sedang antusias menjelaskan materi kuliah, sedangkan mahasiswanya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara kita sebagai ustadz yang sedang antusias menjelaskan tentang agama, sedangkan santrinya ngobrol sendiri-sendiri. Bayangkanlah jika ada di antara orang tua yang sedang teriak-teriak memanggil anaknya agar lekas pulang, sementara anaknya tetap asik bercanda dengan temannya dan mengacuhkan kita. Kalau begitu, bukankah menjadi good listener itu memuaskan orang? Membahagiakan speaker? Dan tentunya mengundang kasih sayang Allah yang Maha Mendengar.
Tapi mengapa di antara kita banyak yang tidak menyadari telah menjadi good listener untuk kasak-kusuk? Good listener untuk cela dan aib saudara sendiri? Good listener untuk ghibah, namimah dan gunjingan? Good listener untuk gosip murahan? Tetapi menjadi bad listener waktu Qur’an dibacakan, waktu ta’lim disajikan, waktu rapat dilangsungkan, waktu amanat upacara disampaikan, waktu adzan dikumandangkan, waktu isteri mengeluh, waktu suami meminta, waktu …. waktu … waktu …
Menjadi muslim berarti kerelaan menjadi good listener. Sederhana sekali, jika kita bersedia mendengarkan pembicaraan, tidak menyela pembicaraan, fokus pada pembicaraan dan tidak berbicara saat orang lain berbicara, sesungguhnya kita sudah menjadi good listener. Tentu pembicaraan dalam konteks kebajikan dan bermanfaat.
Let’s to be a good listener!
***Oleh: Abdul Muttaqin-EM
AlfaOmega
October 13, 2011, 12:38
MBAH DULLAH (http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2)
28 Juli 2011 04:27:39 | Share
Berkenaan dengan haul Simbah KH. Abdullah Salam Kajen, rahimahuLlah, aku turunkan kembali tulisanku saat itu. Saat kudengar kepulangan orang hebat ini ke hadirat Ilahi 25 Sya'ban 1422. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
MBAH DULLAH
Di Surabaya, dalam perjalanan pulang dari Jember, saya mendapat telpon dari anak saya bahwa Mbah Dullah, KH. Abdullah Salam Kajen, telah pulang ke rahamtuLlah. Innaa liLlahi wainnaa ilaiHi raaji’uun! Dikabarkan juga, berdasarkan wasiat almarhum walmaghfurlah, jenazah beliau akan langsung dikebumikan sore hari itu juga.
SubhanaLlah! Selalu saja setiap kali ada tokoh langka yang dicintai banyak orang meninggal, saya merasa seperti anak-anak yang terpukul, lalu hati kecil bicara yang tidak-tidak. Seperti kemarin itu ketika mendengar Mbah Dullah wafat, secara spontan hati kecil saya ‘gerundel’: “Mengapa bukan koruptor dan tokoh-tokoh jahat yang sibuk pamer gagah tanpa mempedulikan kepentingan orang banyak itu yang dicabut nyawanya? Mengapa justru orang baik yang dicintai masyarakat seperti mbah Dullah yang dipanggil?” Astaghfirullah!
Sepanjang perjalanan itu pun saya terus diam dengan pikiran mengembara. Kenangan demi kenangan tentang pribadi mulia mbah Dullah, kembali melela bagai gambar hidup.
Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.
Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan … semuanya disuguh makan.
Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari beliau menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
Ketika beliau masih menjadi pengurus (Syuriah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. Seingat saya, beliau tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang. Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia meminta beliau –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan beliau jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.
Semasa kondisi tubuh beliau masih kuat, beliau juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi beliau sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumah beliau. Saya pernah kebetulan sowan, agak kaget di rumah beliau ternyata banyak sekali orang. Belakangan saya ketahui bahwa Mbah Dullah sedang punya gawe. Menikahkan tiga pasang calon pengantin dari berbagai daerah.
Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, beliau termasuk kiai yang menyukai musyawarah. Beliau bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Beliau rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanan beliau yang sudah diketahui banyak orang.
Tawaduk atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.
Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatan beliau ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?
Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena beliau punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).
Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa-- merupakan salah satu pantangan utama beliau.
Beliau tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.
Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengan beliau sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” kata beliau. Konon orang kaya itu kemudian diajak beliau ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata beliau kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.
Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap beliau, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata. Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”
Kisah yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.
AlfaOmega
October 13, 2011, 12:39
Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.
Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiemis shaalih wal akhdzu bil jadiedil ashlah’, Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.
Agaknya mbah Dullah –rahimahuLlah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana beliau sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.
Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.
Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.
Waba’du; sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!
Ke-’wali’-an Mbah Dullah –waLlahu a’lam-- justru karena sepanjang hidupnya, beliau berusaha --dan membuktikan sejauh mungkin-- melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW, terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatan beliau; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.
Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Beliau sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya beliau, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.
Dan Ahad, 25 Sya’ban 1422 / 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatuLlah, wasiat beliau pun dilaksanakan. Beliau dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”
Selamat jalan, Mbah Dullah! AnnasakumuLlah ilaa yaumi yub’atsuun!
AlfaOmega
October 19, 2011, 21:39
Memilih Antara Umar Dengan Utsman (http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/memilih-antara-umar-dengan-utsman.htm)
Umar bin Khaththab sangat tinggi sekali komitmennya dalam meneladani sunnah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, dan mengikuti jejak sahabatnya Abu Bakar ra, sebagaimana ia juga amat serius serta menaruh perhatian yang besar untuk membawa umat diatas manhaj al-Qur'an.
Namun, ia tidak mampu melawan kekayaan dan kehidupan dunia. Sehingga pada zamannya, orang-orang Islam mengeluarkan harta pada hal yang patut dan hal yang tidak patut. Padahal, dunia menjadi salah satu pintu fitnah dan bencana.
Suatu hari Khalid bin Arfathah al Udzary datang kepada Umar. Umar bertanya kepadanya tentang orang-orang yang ada dibelakangnya. Ia menjawab :"Wahai Amirul Mukminin, orang-orang yang kutinggalkan itu memohon kepada Allah agar memanjangkan umur engkau.
Dan tidak ada seorang pun yang menginjakkan kakinya di bumi Qadisiah melainkan ia memperoleh pemberian sebanyak 2000 atau 1500 dirham, dan tidaklah setiap anak yang lahir melainkan dicatat dalam daftar pemberian sebanyak 120 jarib makanan setiap bulannya, baik anak laki-laki maupun perempuan.
Sedangkan laki-laki diberi dengan 500 sampai 600 dirham. Ini diluar ahli bait. Diantara mereka yang memakan (pemberian) makanan dan ada yang tidak, bagaimana mereka menurut engkau? Padahal, itu adalah pemberian infaq pada sesuatu yang layak dan yang tidak layak?".
Umar bin Khaththab menukasnya : "Allah adalah Dzat tempat untuk meminta tolong! Itu adalah hak mereka, maka harus dipenuhi. Saya lebih senang mereka diberi daripada dimintai (dibebani). Maka janganlah engkau memuji aku atas hal ini, karena bila itu menyangkut harta al-Khaththab, maka saya sungguh tidak akan memberikannya. Tetapi, saya tahu bahwa pada harta al-Khaththab ada kelebihan, maka tidak patut bagi saya untuk menahannya", jawab Umar.
Umar bin Khaththab ra telah membagi-bagikan sumber penghasilan negara tanpa menyimpannya sedikitpun di Baitul Mal, sekalipun ia melihat bahwa harta yang dibagikannya itu di luar kebutuhan kaum Muslimin. Padahal sudah pula dijelaskan padanya bahwa mereka telah menginfaqkannya kepada hal-hal yang layak dan yang tidak layak. Namun, Umar tetap melihat bahwa hal itu adalah hak orang-orang Islam dan ia takut menahannya dari mereka.
Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Salman al-Farisi ra : "Apakah aku raja atau khalifah?". Salman menjawab: "Jika engkau memunguti uang satu dirham, lebih sedikit atau lebih banyak, dari tanah kaum Muslimin. Lalu engkau menggunakannya pada yang bukan haknya, berarti engkau seorang raja, dan bukan khalifah", tegas Salman. Mendengar jawaban Salman, meneteslah air mata Umar. Kendati demikian, Umar ra kerapkali menangis, karena takut kepada Allah, manakala harta di tangan orang-orang Islam bertambah.
Ketika datang harta ghanimah "jalula" yang harganya jutaan, ia memandangnya sambil meneteskan air mata. Abdurrahman bin 'Auf menegurnya : "Mengapa engkau menangis? Demi Allah, ini adalah anugerah yang patut disyukuri". Jawab Umar bin Khaththab, "Demi Allah, tidaklah satu kaum mendapatkan harta seperti ini, melainkan mereka akan saling mendengki dan bermusuhan, dan tidaklah mereka saling mendengki melainkan akan timbul peperangan diantara mereka", tegas Umar.
Umar tidak suka berpenampilan seperti raja dihadapan para pejabatnya. Saat ia datang ke Syam, seorang pegawainya Mu'awiyah bin Abu Sufyan menyambutnya dengan upacara besar. Ketika Mu'awiyah berhadapan dengannya, maka ia turun dan mengucapkan salam kepada Umar dengan menyebut "Khalifah", tetapi Khalifah Umar terus berjalan dan tidak menjawab salamnya.
Maka Abdurrahman bin Auf berkata :"Engkau telah menyusahkan seseorang,wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau tidak berbicara dengannya?"
Kemudian Umar memandang Mu'awiyah, seraya bertanya : "Engkaukah yang menyelenggarakan upacaya penyambutan seperti yang kulihat ini?".
"Ya", jawab Mu'awiyah.
"Ketika engkau mengunci rapat-rapat, sehingga orang-orang yang punya hajat sering berdiri di depan pintumu?", tambah Umar.
"Ya" jawab Mu'awiyah.
"Mengapa?", tanya Umar.
"Karena kita berada di negeri yang banyak terdapat mata-mata musuh", kata Mu'awiyah. "Jika kami tidak menyelenggarakan perayaan upacaya seperti ini, kami diremehkan dan mungkin juga diserang. Mengenai kehadiran aparat keamanan, kami takut terhadap perbuatan rakyat yang tidak punya rasa malu, sementara saya adalah pegawaimu. Kalau engkau meminta aku untuk mengurangi, maka aku akan mengurangi", ujar Mu'awiyah. Bila engkau mengharapkan aku untuk menambah, akan aku tambah. Dan kalau engkau menginginkan untuk menghentikannya, maka aku akan menghentikannya.
Mendengar penuturan Mu'awiyah itu, Khalifah Umar berkata : "Tidaklah engkau kutanya tentang sesuatu melainkan engkau melenceng darinya. Jika engkau benar, maka itu adalah pendapat orang yang cerdas. Sebaliknya, jika engkau berdusta, maka itu adalah taktik orang yang cerdik. Aku tidak menyuruh dan tidak melarangmu", ungkap Umar.
Dihari-hari terakhir menjadi khalifah telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab ra berkata, "Jika ada perkara (urusan pemerintahan) aku yang tidak sempat datang, pasti aku akan mengambil kelebihan dari harta orng-orang kaya untuk aku bagi-bagikan kepada orang-orang fakir".
AlfaOmega
October 19, 2011, 21:46
Namun, di era Khalifah Utsman bin Affan, yang penuh dengan keberuntungan dan keberkahan, di mana Utsman menjalaninya seperti dua orang pendahulunya, yaitu Abu Bakar dan Umar, yang dalam suasana kelembutan. Sebagaimana dua pendahulunya, kekhalifahan Utsman sangat diridhai dan dicintai oleh kaum Muslimin.
Kesungguhan Utsman untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan umat, serta menjauhkan mereka dari benih-benih perpecahan dan perselisihan tidak lebih kecil dari kesungguhan Umar. Di masa Utsman sangat menonjol ketika ia menyatukan bacaan al-Qur'an ke dalam satu mush'af.
Ali bin Abi Thalib berpidato, "Wahai segenap manusia, takutlah kalian kepada Allah.Takutlah kalian kepada Allah. Janganlah kalian bertindak ekstrim kepada Utsman, dan hentikan ucapan kalian bahwa ia membakar banyak mush'af. Wallahi. Utsman tidak membakarnya melainkan didasari oleh hasil musyawarah dengan para shahabat", ucapnya.
Pada masa Khalifah Utsman kesejahteraan meningkat. Sementara daulah (negara) pun memberikan perhatian kepada urusan kaum Muslimin. Sehingga, kemewahan hidup banyak dibagi-bagi kepada mereka.
Imam Hasan Bashri bercerita : "Aku pernah menyaksikan Utsman berpidato, ketika itu usiaku menjelang dewasa. Tidak aku dapati seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan, yang lebih tampan dan wajahnya cerah daripada Utsman. Aku mendengar ia berbicara sebagai berikut :"Wahai segenap manusia, berikanlah hartamu untuk mereka dengan cukup. Wahai saudara-saudara, berikanlah pakaian dan perhiasanmu kepada mereka. Mereka akan mendatangimu untuk menerimanya..".
Kemudian, "Wahai manusia, bawalah wewangian, ambar, dan sejenisnya, dan bagi-bagikanlah kepada mereka. Permusuhan - wallahi - harus disingkirkan, maka anugerah pemberian pun melimpah, kebaikan berlebih di dalam kehidupan. Tidak ada seorang pun Mukmin pun yang takut kepada Mukmin yang lain di muka bumi ini, siapapun dan dari negara manapun, Mukmin yang dijumpainya adalah saudara, tutur Hasan al-Bashri.
Lebih lanjut, Hasan al-Bashri, mengisahkan, "Harta melimpah, sampai seorang budak wanita benar-benar dijual dengan perak seberat timbangannya, dan kuda dijual dengan 10 ribu dinar, unta dengan1000 dinar, dan satu pohon kurma seharga 1000 dinar.
Di era Khalifah Umar dan Utsman, wilayah Islam mengalami perkembangan yang luar biasa. Islam berkembang meliputi berbagai suku, bangsa, bahasa, tradisi, adat, dan kebudayaan. Islam meluas begitu cepat. Umar ketika itu, bertindak tegas terhadap orang-orang Qurayis.
Diriwayatkan oleh Asy-Sya'bi, "Umar bin Khaththab ra tidak wafat kecuali setelah orang-orang Quraiys bosan kepadanya. Ia telah membatasi mereka di Madinah. Umar berkata, "Perkara yang paling kutakuti menimpa umat ini adalah tersebarnya mereka (kaum Quraiys) ke berbagai negeri", ucapnya.
Maka, pada masa akhir kekhalifahannya Umar berdoa : "Ya Allah, mereka telah bosan kepadaku dan akupun bosan kepada mereka. Aku telah jenuh kepada diriku sendiri, dan mereka telah jenuh kepadaku, maka ambillah aku menuju ke hadirat-Mu", ucap Umar.
Utsman tidak mempunyai watak keras seperti Umar, sehingga ia tidak membawa seseorang kepada apa yang dikehendakinya. Ia tidak melarang para pejabat dan pegawainya seperti apa yang dilkukan oleh Umar. Ia lemah lembut dan sangat toleran. Ia memprioritaskan kemudahan dan pemaaafan dalam setiap urusan.
Sejak periode Madinah, umat Islam tetap berada di dalam suasana jihad, hingga memasuki era Utsman bin Affan. Mereka sibuk berjihad di berbagai lapangan. Setelah suasana reda, maka kaum Muslimin hidup santai dalam kesejahteraan dan mengecap kemewahan, karena melimpahnya harta kekayaan. Inilah yang menimbulkan fitnah.
Umar bin Khaththab ra telah membuat susah dirinya, keluarga dan orang-orang sesudahnya. Ia telah menjadikan diri dan keluarganya lapar, agar masyarakat kenyang. Ia tidur diatas tanah, mengenakan pakaian lusuh, meminyaki unta dengan tangannya sendiri, menaikkan pelayan untanya di belakang dirinya. Umar ra pernah berkata,"Aku telah melihat susah diriku dan keluargaku. Jika aku selamat dari dunia dalam keadaan miskin papa dengan tanpa membawa dosa dan pahala, aku sungguh bahagia", keluhnya.
Suatu hari Umar disodorkan sejumlah harta, maka ketika putrinya Hafsah ra mengetahuinya, ia berkata : "Wahai Amirul Mukminin, pada harta itu ada hak kerabatmu! Bukankah Allah Ta'ala teah berwasiat kerabat dekat? Umar pun menukas :"Hak kerabatku? Sedang dihadapanku ada harta fa'i (pajak dan ghanimah) orang-orang Islam. Engkau memperdaya ayahmu dengan menyatakan kecintaanmu terhadap kerabatmu? Pergilah!", tegas Umar. Hafshah pun beranjak pergi.
Periode Utsman, orang yang penuh dengan kasih sayang, kemurahan, dan kedermawanannya terhadap keluarga dan kerabatnya.
Utsman menyiapkan tentara pada perang Tabuk dengan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda, dan ia datang kepada Nabi dnegan 1000 dinar. Utsman membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi dengan harga 35.000 dirham. Sementara itu, si Yahudi itu menjual airnya, lantas Utsman menjadikan sumur itu menjadi sedekah.
Di masa Abu Bakar ra, orang-orang tertimpa kekeringan yang membuat mereka nyaris binasa. Datanglah kafilah dari negeri Syam milik Utsman ra, yang terdiri 1000 ekor unta dengan membwa gandum, minyak dan kismis. Utsman tidak menjual barang-barang dagangannya kepada tengkulak. "Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku jadikan barang daganganku ini sebagai sedekah karena Allah untuk fakir miskin", cetusnya.
Setelah menjadi Khalifah tidak mungkin lagi menghentikan sikap dermawannya itu. Ia memberi seseorang dari hartanya. Manakala hartanya habis, iapun memberinya dari Baitul Mal. Ketika Utsman ditegur : "Dulu, Umar telah membuat sengsara diri dan keluarganya, karena mencari ridho Allah, dan aku sekarang memberi mereka juga mencari ridho Allah", tambahnya.
Di era Utsman, harta kekayaan melimpah ruah ditangan para sahabat. Sehingga mereka berada dalam ujian, seperti yang dituturkan oleh Abdurrahman bin Auf ra :"Dahulu kita diuji dengan kepahitan, dan kita bisa bersabar. Sekarang kita diuji dengan kesenangan, dan kita tidak mampu bersabar", ucap Abdurrahman. "Kita sungguh amat takut kalau kebaikan-kebaikan kita dimusnahkan dengan segera", keluhnya.
Melihat harta yang melimpah ruah, Abu Dzar memberontak, dan berupaya menghentikan gaya hidup yang kejam itu. Karena ia gagal, maka Abu Dza beruzlah - di sebuah tempat Rabdzah - sebuah tempat dekat kota Madinah, sampai ia meninggal. Wallahu'aam.
AlfaOmega
October 29, 2011, 00:31
MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/1001kisahteladan2.htm)
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."
Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah s.w.t., maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah s.w.t., "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit. Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s." Kemudian Allah s.w.t. menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah s.w.t., tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.
Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
AlfaOmega
October 30, 2011, 00:22
KISAH LUQMAN AL-HAKIM DENGAN TELATAH MANUSIA
Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."
Sebaik sahaja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu." Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai." Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah s.w.t. sahaja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
AlfaOmega
November 01, 2011, 13:17
ketika-abu-hurairah-lapar (http://www.dakwatuna.com/2008/05/629/ketika-abu-hurairah-lapar/)
dakwatuna.com – Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku pernah menempelkan perutku ke tanah karena sangat lapar. Kadang aku menaruh batu di perutku karena lapar.
Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka lalui keluar, kemudian melintas Abu Bakar. Aku bertanya kepadanya tentang sebuah ayat dari Al-Qur’an dan aku tidak bertanya kepadanya kecuali karena mengharapkan dia memberiku makanan, akantetapi dia berlalu dan tidak memberiku.
Kemudian lewat di depanku Umar dan aku juga bertanya kepadanya tentang suatu ayat tentang Al-Qur’an, dan aku tidak bertanya kepadanya kecuali agar dia mau memberiku makanan, tetapi dia hanya berlalu dan tidak memberiku.
Kemudian Nabi saw. lewat di depanku dan tersenyum ketika beliau melihatku, dan beliau tahu apa yang aku rasakan dan ada apa di balik raut wajahku, kemudian beliau bersabda, “Hai Abu Hirr (bapak kucing).” Aku menyahut, “Labbaik, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Ikutlah.”
Kemudian beliau berjalan dan aku mengikuti beliau. Lalu beliau masuk dan aku meminta izin, dan beliau mengizinkan aku. Beliau masuk dan mendapatkan susu pada sebuah bejana, lalu beliau bertanya, “Dari mana susu ini?” Mereka menjawab, “Engkau dihadiahi oleh fulan.” Sabda beliau, “Abu Hirr.” Jawabku, “Labbaik, ya Rasulullah.”
Sabda beliau, “Pergilah ke Ahlus Shuffah dan panggil mereka untukku.”
Ahlus Shuffah adalah tamu-tamu Islam, yang tidak memiliki keluarga, tidak punya harta, dan tidak punya seorang pun (dan mereka tinggal di serambi belakang Masjid Nabi). Apabila Nabi dibawakan sedekah, beliau langsung mengirimkan kepada mereka dan tidak mengambil sedikitpun darinya. Dan, apabila beliau diberikan hadiah, beliau juga mengirimkannya kepada mereka dan mengambil sedikit darinya.
Perintah beliau untuk memanggil Ahlus Shuffah membuat aku tidak enak, maka aku berkata (kepada diriku sendiri), “Seberapa banyak susu mau dibagikan terhadap Ahlus Shuffah? Aku lebih berhak untuk mendapatkannya untuk memperkuat diriku. Dan bila beliau datang, beliau memerintahkan aku dan akulah yang membagikannya untuk mereka, dan tidak ada harapan bahwa aku akan mendapat bagian darinya, akantetapi mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah wajib.”
Maka aku mendatangi mereka dan mereka pun datang. Kemudian meminta izin dan mereka diizinkan lalu masing-masing mengambil tempat duduk di dalam rumah.
Sabda beliau, “Ya Abu Hirr.” Aku sahut, “Labbaik, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Ambillah dan berikan kepada mereka.”
Maka aku mengambil bejana itu, kemudian memberikan seorang lau minum sampai kenyang, kemudian mengembalikan bejana itu kepadamu. Lalu aku berikan kepada seorang lagi dan minum sampai kenyang, kemudian dia mengembalikan bejana itu kepadaku. Lantas aku berikan lagi kepada yang lain dan minum sampai kenyang dan mengembalikan bejana itu kepadaku, sampai selesai kepada Nabi saw. dan semua orang telah kenyang. Kemudian beliau mengambil bejana itu dan meletakkannya di tangan beliau, kemudian melirik kepadaku dan tersenyum sambil bersabda, “Abu Hirr.” Aku jawab, “Labbaik, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Tinggal aku dan kamu.” Aku jawab, “Engkau benar, wahai Rasulullah.” Sabda beliau, “Duduk dan minumlah.” Aku pun duduk dan minum.
Beliau bersabda lagi, “Minumlah.” Dan aku pun minum lagi, dan beliau bersabda, “Minumlah.” Sampai aku mengatakan, “Tidak, demi Zat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan tempat lagi (di perutku).” Sabda beliau, “Perlihatkan kepadaku.” Maka aku berikan bejana itu kepada beliau, dan kemudian beliau memanjatkan puji syukur kepada Allah dan meminum yang tersisa.
AlfaOmega
November 04, 2011, 13:02
ORANG YANG PALING BERANI (http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/1001kisahteladan2.htm)
Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, "Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, "Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?" Jawab mereka, "Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin." Kata Ali, "Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi Muhammad s.a.w. gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemankan Nabi Muhammad s.a.w. dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi Muhammad s.a.w. untuk membunuh siapa sahaja yang mendekati gubuk Nabi Muhammad s.a.w. Itulah orang yang paling berani."
"Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, "Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?" Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi Muhammad s.a.w. selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, "Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah?"
Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, "Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?" Semua jamaah diam sahaja tidak ada yang menjawab. Jawab Ali selanjutnya, "Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh dunia, kerana orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya."
AlfaOmega
November 15, 2011, 04:27
Nabi Yusha’ Mengemban Amanah sesudah Wafatnya Nabi Musa. (http://kisahmuslim.com/nabi-yusya/)
Yang dimaksudkan adalah nabi Yusya’ bin Nuun ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan namanya di dalam Alquran secara tidak jelas (tidak terang-terangan) dalam kisah Khidir, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yaitu dalam firman-Nya,
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ…
”Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya…..” (Q.s. Al-Kahfi: 60)
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا …
”Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah ke mari makanan kita…..” (Q.s. Al-Kahfi: 62)
Telah kami sampaikan pula sebelumnya tentang hadis shahih yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegaskan bahwa dia adalah Yusya’ bin Nuun.
Dan menurut Ahli Kitab (Kitab Perjanjian Lama), kenabian Yusya’ ini disepakati. Sekelompok dari mereka, yaitu kelompok Samirah, tidak mengakui kenabian seorang pun setelah Musa ‘alaihissalam kecuali Yusya’ bin Nuun, karena hal itu secara jelas disebutkan dalam Taurat. Tetapi mereka tidak mau mengakui kenabian para Nabi setelahnya, padahal mereka itu (para Nabi) benar dan dibenarkan pula oleh kitab-kitab yang ada pada mereka (kelompok Samirah). Semoga melaknat mereka secara bertubi-tubi sampai hari kiamat.
Sedangkan mengenai kisah yang disampaikan oleh Ibnu Jarir (dalam Tarikhnya) dan beberapa Ahli Tafsir lainnya dari Muhammad bin Ishaq, kenabian itu diserahkan oleh Musa kepada Yusya’ pada akhir hayatnya. Di mana Musa ‘alaihissalam menemui Yusya’ dan menanyakan kepadanya berbagai perintah dan larangan yang disampaikan Allah kepadanya (Musa). Hingga akhirnya Yusya’ menjawab,”Wahai Kalimullah (orang yang diajak berbicara langsung oleh Allah-ed), sesunguhnya aku tidak bertanya tentang apa yang diwahyukan Allah kepadamu sehingga engaku sendiri yang yang memberitahukannya kepadaku. ”Pada saat itu, Musa ‘alaihissalam tidak menyukai kehidupan dan lebih suka mati. Tetapi dalam hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena Musa ‘alaihissalam masih terus mendapatkan perintah, larangan, wahyu, syari’at dan firman Allah sampai dia meninggal dunia.
Dan dia masih terus memuliakan dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam hadits shahih sebelumnya tentang kisah Malaikat Maut yang ditampar sampai matanya keluar oleh Musa ‘alaihissalam. Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Malaikat Maut kepadanya; jika dia masih ingin hidup, maka hendaklah dia meletakkan tangannya di atas punggung sapi, dan setiap satu dari bulu-bulu yang tertutup tangannya, maka akan dihitung satu tahun masa hidupnya. Musa ‘alaihissalam bertanya, ”Setelah itu apa?” Dia menjawab, ”Kematian.” Maka Musa ‘alaihissalam berkata, ”Kalau begitu sekarang saja, wahai Rabb-ku.” Selanjutnya, Musa ‘alaihissalam meminta kepada-Nya agar didekatkan dengan Baitul Maqdis sejauh lemparan batu. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demkianlah yang disampaikan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa apa yang dikemukakannya itu bersumber dari kitab-kitab Ahlul Kitab. Dan, di dalam kitab mereka, Taurat, disebutkan bahwa wahyu masih terus turun kepada Musa ‘alaihissalam setiap saat Bani Israil membutuhkannya hingga akhir hayatnya, sebagaimana yang diketahui dari redaksi kitab mereka yang ada di tabut kesaksian di kubah Zaman.
Pada bagian bab ketiga dari kitab Taurat disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk mempersiapkan Bani Israil dengan mengelompokkan mereka dalam beberapa suku. Keduanya diperintahkan agar mengangkat seorang pemimpin untuk setiap suku yang terdiri dari dua belas orang. Hal itu dilakukan agar mereka siap untuk berperang, menghadapi orang-orang perkasa ketika hendak keluar dari padang pasir. Dan, itu terjadi setelah mendekati empat puluh tahun.
Oleh karena itu, sebagian mereka mengatakan, ”Musa ‘alaihissalam memukul Malaikat Maut karena dia tidak mengenalnya dengan penampilan seperti itu. Sedangkan dia telah diperintahkan dengan suatu perintah yang diharapkan terjadi pada zamannya, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan hal itu terjadi pada zaman muridnya, Yusya bin Nuun ‘alaihissalam.”
Sama halnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat hendak menyerang bangsa Romawi di Syam (Syiria). Ketika sampai di Tabuk, kemudian beliau kembali lagi pada tahun itu, yaitu tahun 9 Hijriyah. Setelah itu, beliau haji pada tahun ke 10 H., kemudian pulang kembali, untuk kemudian mempersiapkan pasukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma guna berangkat ke Syam, dan beliau ingin sekali keluar bersama mereka sebagai wujud ketaatan pada firman-Nya:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ (29)
”Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Q.s. At-Taubah: 29)
Di saat menyiapkan pasukan Usamah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, sedangkan pasukan Usamah berada di kemah-kemah mereka di lereng-lereng gunung. Lalu, misi itu diteruskan oleh Shahabat beliau dan Khalifah (pengganti) beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika Jazirah Arab bersatu kembali seperti sedia kala, dan kebenaran kembali tegak, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyiapkan tentara (untuk menyerang) -kanan dan kiri- menuju Iraq pengikut Kisra raja Persia, dan ke Syam pengikut Kaisar raja Romawi. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin, dan mengokohkan kedudukannya melalui pasukan mereka serta mereka menundukkan musuh-musuh mereka, sebagaimana yang akan kami sampaikan pada pembahasan tersendiri secara rinci, pada tempatnya nanti Insyaa Allah dengan pertolongan-Nya, Taufuq-Nya, dan bimbingan-Nya.
Demikianlah Musa ‘alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkannya untuk menyiapkan Bani Israil menjadi tentara dan untuk mengangkat untuk mereka pemimpin-pemimpin untuk masing-masing suku, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لأكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلأدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (12)
”Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.s. Al-Maa’idah: 12)
Dia berfirman kepada mereka, ”Jika kalian melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepada kalian dan tidak enggan berperang sebagaimana yang keengganan kalian pertama kali, niscaya Aku (Allah) akan menjadikan pahala semuanya itu sebagai penghapus hukuman atas pelanggaran yang telah kalian lakukan tersebut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang Badui yang tertinggal (tidak ikut) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam umrah Hudaibiyah.
قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الأعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ أَجْرًا حَسَنًا وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمً (16)
”Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Q.s. Al-Fath: 16)
Demikianlah yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Bani Israil:
… فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ(12)
”… Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.s. Al-Maa’idah: 12)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela mereka atas perbuatan buruk mereka dan pelanggaran yang mereka lakukan terhadap janji mereka, sebagaimana Dia juga mencela orang-orang Nashrani karena berbagai perbedaan dalam pemahaman agama mereka. Hal ini telah kami uraikan secara panjang lebar dalam kitab Tafsir (Tafsir Ibnu Katsir), Walillahul Hamd.
Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa ‘alaihissalam agar menuliskan nama-nama orang yang akan ikut berperang dari kalangan Bani Israil, yaitu mereka yang memanggul senjata dan ikut berperang. Dia juga diperintahkan agar mengangkat pemimpin untuk setiap suku.
Sumber: Kisah Shahih Para Nabi, Syaikh Salim Al-Hilali hafizhahullah, edisi Indonesia. Pustaka Imam asy-Syafi’i hal 335-340
Artikel www.KisahMuslim.com
AlfaOmega
December 12, 2011, 15:18
Sang Penjaga Rahasia (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/12/07/lvt48g-sang-penjaga-rahasia)
Rabu, 07 Desember 2011 07:05 WIB
Oleh: Yunahar Ilyas
Namanya Hudzaifah bin al-Yaman, terkenal dengan julukan Shahibu Sirri Rasulillah (penjaga rahasia yang dipercaya oleh Rasulullah). Orangnya sangat disiplin dan teguh memegang rahasia. Siapa pun tidak akan bisa membujuk atau memaksanya untuk membuka rahasia.
Salah satu problem besar yang dihadapi oleh umat Islam di Madinah adalah keberadaan kaum munafiqin, yang secara sengaja menyebarkan isu-isu yang tidak benar terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Mereka suka membuat intrik-intrik dan tipu muslihat yang menyulitkan kaum Muslimin.
Rasulullah SAW tahu siapa saja mereka dan siapa tokoh-tokohnya, tetapi beliau tidak bisa mengumumkannya karena sehari-hari mereka menampilkan diri sebaimana orang-orang beriman lainnya, bahkan juga datang shalat berjamaah di masjid bersama Nabi-kecuali shalat Subuh dan Isya yang berat bagi mereka melakukannya.
Nabi memberikan daftar nama-nama kaum munafiqin kepada Hudzaifah dan memintanya untuk merahasiakannya kepada siapa pun. Hudzaifah juga ditugasi mengawasi gerak-gerik dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mungkin akan mereka timpakan kepada kaum Muslimin. Rahasia itu dipegang sangat erat oleh Hudzaifah sampai Rasulullah SAW wafat.
Tatkala menjabat khalifah, Umar bin Khathab pernah bertanya kepada Hudzaifah apakah ada pegawainya yang munafik. Hudzaifah menjawab, ada satu orang, tapi dia tidak mau menyebutkan namanya. "Maaf wahai Amirul Mukminin, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."
Hudzaifah bukanlah berasal dari Yaman walaupun bapaknya bernama al-Yaman. Bapaknya orang Makkah, dari Bani 'Abbas. Oleh karena suatu utang darah dari kaumnya, al-Yaman terpaksa menyingkir ke Yatsrib-yang kemudian bernama Madinah. Di Yatsrib, al-Yaman berlindung dan bersumpah setia pada Bani 'Abd Asyhal, sampai kemudian menikah dengan perempuan dari suku tersebut. Dari perkawinan itulah lahir Hudzaifah. Walaupun sering bolak-balik ke Makkah, al-Yaman lebih banyak menetap di Madinah.
Dengan latar belakang orang tua seperti itu, tatkala pertama kali bertemu dengan Nabi di Makkah-sebelum beliau hijrah-Hudzaifah menanyakan apakah dia termasuk Muhajirin atau Anshar. Nabi menjawab: "Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan, jika ingin digologkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai." Sekalipun kedua-duanya disayangi oleh Rasulullah, ternyata Hudzaifah memilih digolongkan kepada Anshar.
Kedua orang tua Hudzaifah sudah masuk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Dan, Hudzaifah pun sudah masuk Islam sebelum bertemu dengan Nabi. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau, turut bersama Nabi dalam seluruh peperangan kecuali Perang Badar. Dalam Perang Khandaq, Hudzaifah mendapatkan tugas yang sangat berat dari Nabi. Tugas yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang cerdas, tangggap, dan berdisiplin tinggi.
Pada malam gelap gulita, Hudzaifah ditugaskan oleh Nabi masuk ke jantung pertahanan musuh, mengintai gerak-gerik mereka. "Hai Hudzaifah," kata Nabi. "Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku."
Hudzaifah sukses menjalankan tugas itu. Dia bahkan bisa berada sangat dekan dengan Abu Sufyan, panglima perang musuh. Kata Hudzaifah: "Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku." Demikianlah sekelumit tentang Hudzaifah bin al-Yaman RA, sang penjaga rahasia.
AlfaOmega
December 16, 2011, 12:44
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata:
1. Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya, beristighfarlah kepada Allah!
2. yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, beristighfarlah kepada Allah!
3. yang lain lagi berkata kepadanya, Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia... memberiku anak! maka beliau mengatakan kepadanya,beristighfarlah kepada Allah!
4. Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunya maka beliau mengatakan pula kepadanya, beristighfarlah kepada Allah!
Dan, kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama.
Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ar-Rabi bin Shabih berkata kepadanya:Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam perkara dan anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.
Maka Hasan Al-Bashri menjawab: Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat-Nya (Nuh ayat 10-12)
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
AlfaOmega
December 26, 2011, 14:21
Habib Sultan Maulana II
«RENUNGAN KEHIDUPAN»
Hidup di dunia bagaikan mimpi. Seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas
Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa,
Namun.
Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi. Sehelai benang pun tak bisa dimiliki.
Tuhan tidak akan bertanya jenis mobil apa yang dikendarai Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang tidak memiliki kendaraan yang Anda bawa.
Tuhan tidak akan bertanya seberapa lebar rumah Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang Anda sambut dirumah Anda.
Tuhan tidak akan bertanya tentang baju bagus di lemari Anda, tapi akan bertanya berapa banyak pakaian yang Anda bagi untuk membantu mereka yang memerlukan pakaian.
Tuhan tidak akan bertanya tentang status sosial, tapi akan menanyakan apakah kehidupan Anda menceritakan siapa Tuhan Anda.
Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak harta yang Anda miliki, akan tetapi Tuhan bertanya apakah harta itu mengendalikan hidup Anda.
Tuhan tidak akan bertanya apa jabatan Anda dalam pekerjaan, tapi akan bertanya apakah anda mengerjakan pekerjaan Anda dengan kemampuan terbaik Anda.
Tuhan tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu diri sendiri, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu orang lain.
Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak teman yang Anda miliki, tapi Dia akan bertanya Anda menjadi teman sejati bagi berapa banyak orang.
Tuhan tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak Anda, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak-hak orang lain.
Tuhan tidak akan menanyakan di lingkungan seperti apa Anda tinggal, tapi Dia akan bertanya bagaimana Anda memperlakukan tetangga di lingkungan Anda tinggal.
Jangan bangga dgn rumah mewah, karena rumah terakhir kita adalah KUBURAN
Jangan bangga dgn wajah yg ganteng/cantik, karena wajah kita yg terakhir adalah TENGKORAK
Jangan bangga dengan mobil mewah, karena mobil terakhir kita adalah AMBULANCE
Jangan bangga dgn handphone mahal/canggih, karena alat komunikasi yg bisa menyelamatkan kita adalah DOA.
Dengan demikian,
Apalagi yang mau diperebutkan?
Apalagi yang mau disombongkan?
AlfaOmega
January 14, 2012, 16:14
«WANITA BERTANGAN LUMPUH»
Pada suatu hari seorang wanita yang lumpuh tangan kanannya menghadap Nabi S.A.W seraya berkata : "Ya Rasulullah, kumohon sudilah kiranya baginda memohon kepada Allah SWT agar Dia menyembuhkan tangan kananku yang lumpuh ini!"
Nabi S.A.W bertanya kepadanya : "Apakah gerangan yang menjadikan tanganmu lumpuh?"
Maka wanita tadi menceritakan sebab kelumpuhannya :
"Ya, Nabiyallah, pada suatu malam aku bermimpi seakan-akan hari kiamat telah tiba. Dan Neraka Jahannam yang apinya menyala-nyala tergambar dengan jelas dalam Mimpiku, begitu juga surga. Namun betapa hati ini begitu sedih ketika aku melihat ibuku berada di neraka Jahannam.
Neraka yang memiliki Apiyang begitu besar. Ibuku memegang sepotong lemak dan selembar kain serbet. Dengan sepotong lemak dan selembar kain serbet itulah ibuku nampak bersusah payah menghalangi panasnya jilatan api neraka Jahannam. Maka aku segera menyapa ibuku : "Aduh ibu, mengapa ibu berada di jurang neraka Jahannam ini ? Padahal setahuku, ibu dulu rajin beribadah kepada Allah SWT, dan ayahpun nampaknya meridhai kebaktianmu ?"
Ibu : "Wahai anakkku, ketahuilah bahwa ibu dulu terlanjur bersifat kikir. Maka inilah tempat yang disediakan bagi orang-orang yang kikir!"
Anak : "Apakah arti sepotong lemak dan selembar serbet yang ibu pegang itu ?"
Ibu : "Anakku, hanya kedua benda itulah yang pernah kudermakan selama hidup! Selain itu tak ada lagi!"
Anak : "Lalu, sekarang ayah di mana?"
Ibu : "Wahai anakku, ayahmu dulu seorang yang dermawan. Maka beliau sekarang berada di surga bersama-sama dengan para dermawan lainnya."
Ya Rasulullah, setelah itu aku pun segera ke surga menghampiri ayahku. Ternyata ayah sedang berdiri di sisi telagamu Ya Rasulullah. Disana beliau membagi-bagikan air minum kepada orang banyak, tetapi ibuku justru dilupakan.
Lalu aku bertanya kepada ayah : "Wahai ayahku, ketahuilah bahwa ibuku yang juga istri ayah, meskipun dulu sama-sama taat beribadah kepada Allah dan ayahpun tampaknya meridhai kebaktian ibu, namun kini dia berada di neraka Jahannam! Sementara itu, ayah berada di tempat ini membagi-bagikan minuman dari telaga Rasulullah S.A.W kepada orang banyak. Dan ayah begitu tega melupakan ibu. Maka kumohon wahai ayah, berilah segelas air dari telaga ini untuk kuberikan kepada ibu!"
Ayah berkata : "Hai anakku, ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang kikir dan orang-orang yang berdosa meminum air telaga Rasulullah S.A.W ini!"
Ya Nabiyallah, mendengar jawaban ayah yang melarangku mengambil air dari telagamu, maka aku nekat mengambil segelas air dari telaga itu tanpa sepengetahuan ayahku. Lalu aku bermaksud memberikannya kepda ibu yang telah lama kehausan. Tiba-tiba terdengar suara: "Semoga Allah melumpuhkan tanganmu, karena kamu telah berani mencuri air dari telaga Rasulullah S.A.W ini untuk memberikan kepada orang yang kikir lagi berdosa!"
"Ya Nabiyallah, usai mendengar suara itu, aku terbangun dari tidurku. Dan ternyata tanganku menjadi lumpuh seperti ini. Inilah sebab kelumpuhan tangan kananku, ya Nabiyallah!"
Setelah Nabi S.A.W mendengarkan sebab-sebab kelumpuhan tangan kanan wanita tersebut, maka beliau S.A.W meletakkan tongkatnya pada tangan wanita itu lalu berdoa : "Ya Allah, ya Tuhanku, dengan kebenaran mimpi yang diceritakan oleh wanita ini, maka kumohon sudilah kiranya Engkau berkenan menyembuhkan tangan kanannya yang menderita kelumpuhan!"
Atas doa Nabi S.A.W itu, sembuhlah tangan kanan wanita itu dari kelumpuhannya dan pulih seperti sediakala.
Adapun hikmah yang dapat kita petik dari kisah hikmah Islam Diatas adalah, mari menjadi orang yang suka memberi kepada orang-orang yang membutuhkan.Terutama di bulan Ramadhan yang semakin dekat ini, Dan Orang-Orang kikir itu hidupnya tidak akan pernah tenang karna mereka memikirkan bagaimana mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
dari Habib Sultan Maulana
AlfaOmega
January 22, 2012, 14:57
Mimpi Bilal bin Rabah (http://majlisdzikrullahpekojan.org/mimpi-bertemu-rasulullah/mimpi-bilal-bin-rabah.html)
Jumat, 02 Oktober 2009 06:06
Beliau adalah Muazzin di zaman Rasulullah SAW, termasuk golongan sahabat yang ikut dalm perang Badar. Nabi SAW telah bersaksi atas penetapannya sebagai ahli surga. Setelah Rasulullah SAW wafat, karena tak kuat menanggung kesedihan hati akan ingatannya kepada Rasulullah SAW, Bilal pindah ke negeri Syam.
Bertahun kemudian Bilal melihat Rasulullah SAW di dalam mimpinya di negeri Syam. Rasulullah berkata, "Kenapa kamu berlaku tidak ramah, wahai Bilal? Bukankah kini telah datang waktunya bagimu untuk menziarahiku?" Maka Bilal bangun dalam keadaan bersedih dan langsung bergegas menuju kota Madinah. ia lalu mendatangi makam Rasulullah SAW dan disana ia menangis.
Sayyidina Hasan dan Husein datang menghampirinya, kemudian Bilal memeluk keduanya. Maka Sayyidina Hasandan Husein berkata, "Kami sangat menginginkan engkau untuk azan di waktu sahur." Maka demi takzimnya kepada kedua cucu Rasulullah SAW ia naik ke atap masjid. ketika ia menyerukan "Allahu Akbar Allahu Akbar" bergetarlah seluruh kota Madinah. Keluarlah para penduduknya berduyun-duyun ke masjid sambil menangis tersedu-sedu karena suara Bilal mengingatkan mereka pada kehidupan di zaman Rasul. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu.
Seminggu kemudian Bilal wafat.
(Asadul Ghabah, Ibnu Atsir).
AlfaOmega
April 16, 2012, 14:58
Kisah Abu Umamah, Sedekah 3 Dinar Mendapat Ganti 300 Dinar
Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir berkata, “Maula perempuan Abu Umamah menceritakan kepadaku, ‘Abu Umamah adalah orang yang suka bersedekah dan senang mengumpulkan sesuatu untuk kemudian disedekahkan. Dia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta sesuatu kepadanya, sekali pun ia hanya bisa memberi sesiung bawang merah atau sebutir kurma atau sesuap makanan.
Pada suatu hari datang seorang peminta-minta kepadanya padahal ia sudah tidak memiliki itu semua, selain uang sebanyak 3 dinar. Orang itu tetap meminta juga, maka Abu Umamah memberikannya 1 dinar. Kemudian datang orang lain untuk meminta. Abu Umamah memberinya 1 dinar. Datang lagi satu orang, Abu Umamah memberinya 1 dinar juga.
Sudah barang tentu aku marah. Kemudian aku berkata, ‘Wahai Abu Umamah, engkau tidak menyisakan untuk kami suatu pun!’
Kemudian Abu Umamah berbaring untuk tidur siang. Ketika adzan Ashar dikumandangkan aku membangunkannya. Lalu ia berangkat ke masjid. Setelah itu aku bercakap-cakap dengan dia kemudian aku meninggalkannya untuk mempersiapkan makan malam dan memasang pelana kudanya.
Ketika aku masuk kamar untuk merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba aku menemukan mata uang emas dan setelah aku hitung berjumlah 300 dinar.
Aku berkata dalam hatiku, ‘Tidak mungkin dia melakukan seperti apa yang dia perbuat kecuali sangat percaya dengan apa yang akan menjadi penggantinya.’
Setelah Isya’ dia masuk rumah. Dan ketika melihat makanan yang telah tersedia dan pelana kuda telah terpasang ia tersenyum lalu berkata, ‘Inilah kebaikan yang diberikan dari sisi-Nya.’
Aku berada di hadapannya sampai ia makan malam. Ketika itu aku berkata, ‘Semoga Allah senantiasa mengasihimu dengan infak yang engkau berikan itu sebenarnya engkau telah menyisihkan simpanan, tetapi mengapa engkau tidak memberitahu aku, sehingga aku dapat mengambilnya.’
Abu Umamah bertanya, ‘Simpanan yang mana? Aku tidak menyimpan apapun!’
Kemudian aku angkat kasurnya, tatkala Abu Umamah melihat dinar itu ia bergembira dan sangat heran.
Serta merta aku potong tali ikatku, sebuah tali yang menandakan aku seorang Majusi atau Nasrani, dan aku masuk Islam.”
Ibnu Jarir berkata, “Aku melihat wanita itu (bekas budak) menjadi guru kaum wanita di masjid Himsha yang mengajarkan Alquran, sunah dan ilmu faraidh.
AlfaOmega
May 02, 2012, 01:32
Pengakuan Abu Jahal (http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/pengakuan-abu-jahal.html)
Dalam penyebaran risalah Islam, Rasulullah banyak sekali menemui kendala sehingga untuk menghindari sikap orang-orang Quraisy yang menentang risalah Islam, Rasulullah melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal itu dilakukan Rasulullah dikarenakan belum ada petunjuk dari Allah untuk melaksanakan dakwah secara terang-terangan.
Akan tetapi, ketika turun perintah untuk dakwah secara terang-terangan, Rasulullah saw langsung keluar dari kediamannya dan mendaki bukit Shafa. Di atas sana, beliau berseru dengan lantang memanggil penduduk Mekah, "Wahai kaum Quraisy!" Seruan itu memancing masyarakat Mekah untuk berduyun-duyun mendekati beliau.
Setelah masyarakat Mekah berkumpul di bukit Shafa, Rasulullah bersabda, "Percayakah kalian jika kukabarkan kepada kalian bahwa seekor unta akan ketuar dari kaki gunung ini?"
Mereka menjawab, "Kami tidak pernah menemukan kebohongan darimu sebelumnya."
Rasulullah melanjutkan, "Ketahuilah, sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan adanya siksa yang sangat pedih!"
Mendengar hal itu, pamannya yang bernama Abu Lahab berdiri dan langsung meninggalkan beliau. Ketidakpedulian Abu Lahab terhadap ajakan Rasulullah saw diikuti oleh yang lainnya. Satu per satu dari mereka pergi meninggalkan beliau. Tidak ada yang tertarik dengan ajakannya.
Tradisi jahiliah begitu melekat dalam diri kaum Quraisy Mekah sehingga hampir mustahil untuk meninggalkan kebiasaan yang turun-menurun tersebut.
Meskipun demikian, Rasulullah saw tidak berhenti begitu saja. Pada suatu kesempatan, beliau bertemu dengan pamannya, Abu Jahal, di sebuah lorong kota Mekah. Pertemuan ini tidak disia-siakan oleh Rasulullah saw untuk mengajak pamannya menauhidkan Allah SWT. Beliau bersabda, "Wahai, Abu Hakam, marilah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah!"
Dengan ketus Abu Jahal menjawab, "Hai, Muhammad! Tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Jika engkau melakukan ini agar kami bersaksi di hadapan Allah bahwa kamu adalah penyampai risalah, akan kami lakukan jika kamu memang benar! Karena itu, biarkanlah kami mengurus diri kami sendiri!"
Mendengar pernyataan Abu Jahal, Rasulullah saw berlalu meninggalkannya. Mughirah bin Shu'bah yang saat itu sedang bersama Abu Jahal bertanya tentang kerasulan Nabi Muhammad.
Abu Jahal menjawab, "Aku tahu bahwa dia adalah seorang nabi dan apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Akan tetapi, kami bersaing dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah saw) di segala sesuatu. Mereka membanggakan diri karena menyediakan makanan dan minuman bagi para peziarah. Jika di antara mereka ada yang menjadi nabi, mereka pasti akan membangga-banggakannya di hadapan kami. Jika demikian, tentu saja kami tidak mampu menyainginya."
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Jahal pernah berkata, "Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa."
Pengakuan Abu Jahal terhadap kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi sahabat dekat Abu Jahal. Keduanya dipersatukan dalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar datang ke kota Mekah, ia selalu membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual melalui perantaraan Abu Jahal.
Alkisah diceritakan bahwa terjadi sesuatu di luar kebiasaan. Suatu ketika Abu Dzar datang ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, termasuk uang perniagaan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, "Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?"
Abu Dzar menjawab, "Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun."
"Apakah engkau membawa uang?" tanya Abu Jahal kembali.
"Tidak juga," jawab Abu Dzar singkat.
Melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal kembali bertanya, "Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?"
Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar mencoba menenangkannya dengan menjawab, "Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan."
"Lantas untuk apa?" tanya Abu Jahal yang makin penasaran.
"Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu."
Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun kembali bertanya, "Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?"
"Muhammad," jawab Abu Dzar singkat.
"Muhammad?" ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya. Kudengar dari beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu, sahabatku!" jelas Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.
Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya segera mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, "Sahabatku, dengarkanlah aku jika kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan pernah kau menemui kemenakanku itu!"
"Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.
Abu Jahal menjelaskan, "Kautahu, Muhammad itu sangat menarik. Ia sangat memesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kaupasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya sangat lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa."
Tentu saja jawaban Abu Jahal sangat berlawanan dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik tentang Rasulullah saw.
Abu Dzar mengungkap keheranannya seraya berkata, "Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?"
Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, "Jelas. Mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya sangat mulia. Satu hal lagi yang perlu kauketahui, ia sangat tabah menghadapi apa pun yang terjadi padanya. Ia mempunyai daya tarik yang hebat sekali."
"Aku tidak habis mengerti terhadapmu, Abu Jahal sahabatku," tandas Abu Dzar, "kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul."
"Yakin betul. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun," tegas Abu Jahal.
"Apakah kaupercaya bahwa ia benar?" tanya Abu Dzar kembali.
"Lebih dari sekadar percaya," Jawab Abu Jahal.
"Tapi engkau melarangku untuk menemuinya ...," tanya Abu Dzar masih dengan keheranan.
Abu Jahal menjawab "Begitulah ...."
"Lalu, apakah engkau mengikuti ajaran agamanya?"
Abu Jahal tersentak dengan pertanyaan sang sahabat. "Ulangi sekali lagi pertanyaanmu ...," pinta Abu Jahal.
"Apakah engkau mengikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?" Abu Dzar kembali mengulangi pertanyaannya seperti permintaan Abu Jahal.
Tidak bisa mengelak, Abu Jahal berkilah, "Sahabatku, sampai kapan pun aku tetap Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!"
Abu Jahal melanjutkan, "Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku."
"Apa sebabnya?" tanya Abu Dzar.
"Kautahu sahabatku, jika aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?"
Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan pemikiran sahabatnya, " Pendirianmu keliru, sahabatku."
"Aku tahu aku memang keliru," ujar Abu Jahal.
Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, "Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu."
"Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia walaupun di akhirat sana aku pasti dikalahkan," jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Abu Jahal tetap dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, "Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kita berdua dan tidak ada orang lain, ceritakanlah tentang diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?"
"Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak pernah berdusta!"
AlfaOmega
May 05, 2012, 00:26
Pengakuan Utbah bin Rabi'ah
Kamis, 08 April 2010 Label: Pengakuan musuh islam terhadap kejujuran Rasulullah (http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/pengakuan-utbah-bin-rabiah.html)
Dakwah Rasulullah saw makin gencar sehingga para pemimpin Quraisy berencana mencegah penyebaran Islam lebih luas lagi dengan mengirimkan Utbah bin Rabi'ah kepada Rasulullah saw. Misi Utbah adalah membujuk Rasulullah agar berhenti berdakwah.
Rasulullah saw menyambut kedatangan Utbah dengan sangat baik. Utbah membuka percakapan dengan bertanya kepada Rasulullah saw., "Siapakah yang lebih baik, wahai Muhammad? Kau atau ayahmu?"
Rasulullah diam. Mungkin beliau merasa tidak perlu menjawab pertanyaan seperti itu.
Utbah tidak menyerah dan melanjutkan, "Putra saudaraku, engkau adalah bagian dari diri kami sebab kami tahu persis silsilah keluargamu. Akan tetapi, engkau membawa kepada kaummu sesuatu yang sangat besar dan mencerai-beraikan mereka. Oleh karena itu, aku datang kepadamu untuk menawarkan beberapa hal yang bisa kau pertimbangkan untuk kau terima. Jika kau melakukan semua itu untuk harta, kami bersedia mengumpulkan seluruh harta kami untuk diberikan kepadamu agar kamu menjadi orang terkaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kedudukan, kami siap mengangkatmu menjadi penguasa kami, dan kami tidak akan memutuskan perkara sebelum kamu memutuskannya. Seandainya engkau ingin menjadi raja, kami akan menobatkanmu menjadi raja. Jika kamu melakukan hal itu karena keyakinanmu dan tidak mudah kau hilangkan dari dirimu, kami akan memanggil seorang tabib berapa pun biayanya untuk menghilangkan keyakinanmu itu sampai kau terbebas darinya."
Rasulullah tetap diam. Utbah mulai kehabisan kata-kata karena tawarannya tidak ditanggapi Rasulullah. Akhirnya, Utbah pun ikut terdiam. Melihat Utbah yang tampak kebingungan, Rasulullah bertanya kepadanya, "Ada lagi yang hendak kau katakan?"
Utbah menjawab, "Tidak ada."
Kemudian Rasulullah saw membacakan Surat Fushshilat [41]: 13, "Jika mereka berpaling maka katakanlah, "Aku telah memperingatkan kamu akan (bencana) petir seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud."
Ayat tersebut seolah menyambar Utbah bagai petir yang sangat dahsyat. Seluruh tubuh Utbah gemetar karena ketakutan yang luar biasa. Ia tahu Rasulullah tidak pernah berbohong sehingga ia khawatir ayat tersebut akan menjadi kenyataan. Secepat kilat ia berbalik arah meninggalkan Rasulullah saw dan kembali ke rumahnya.
Sementara itu, para pemimpin Quraisy menanti dengan gelisah. Mereka memperoleh laporan bahwa Muhammad menyambut kedatangan Utbah dengan baik. Mereka khawatir Utbah tidak berhasil menghentikan dakwah Rasulullah, tetapi tertarik untuk menerima Islam.
Melihat kedatangan Utbah, Abu Jahal langsung menuduhnya dengan penuh kecurigaan, "Aku dengar Muhammad memperlakukanmu dengan baik dan menjamumu. Sebagai imbalannya kau percaya kepadanya. Orang-orang berkata demikian!"
Tidak suka diperlakukan seperti itu, Utbah menjawab pula dengan emosi, "Kautahu aku tidak butuh apa pun darinya. Aku lebih kaya daripada kalian semua. Namun, apa yang ia katakan mengejutkanku! Kata-kata tersebut bukanlah syair, sihir, atau mantra. Dia orang yang jujur. Saat aku dengar ia membacanya, aku takut apa yang terjadi pada kaum Ad dan Tsamud akan menimpa kita juga!"
Utbah menyadari bahwa peringatan azab dari Rasulullah bukanlah main-main. Tidak pernah sekalipun Rasulullah saw berdusta. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya adalah kalam Allah SWT yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Tidak hanya sampai di situ, ketakutan Utbah terbawa hingga menjelang dimulainya Perang Badar. Utbah bin Rabi'ah membujuk kaumnya untuk meninggalkan peperangan dengan mengingatkan mereka akibat dan bahaya yang akan mereka hadapi.
Ia berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya kaum muslimin itu akan berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan!" Akan tetapi, Abu Jahal menanggapinya dengan sinis.
Utbah melanjutkan alasannya, "Sesama saudara akan membunuh satu sama lain. Sungguh hal itu akan meninggalkan kepahitan yang tak pernah hilang selamanya!"
Abu Jahal langsung menuduhnya sebagai penakut. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, ia langsung menantang saudara laki-laki dan putranya untuk bermain anggar melawan dirinya, satu lawan dua.
Ketika Utbah mengendarai unta merah, Rasulullah saw bersabda, "Jika ingin selamat, seharusnya mereka mengikuti perkataan si penunggang unta merah itu. Jika mereka mendengar perkataannya, niscaya mereka akan selamat."
Ahmad dalam Al-Fath Ar-Rabani menuturkan bahwa Allah SWT menciptakan perselisihan di antara pasukan musuh untuk melemahkan semangat mereka. Allah SWT juga menghendaki mereka tidak terpengaruh oleh bujukan Utbah. Mereka lebih mendukung Abu Jahal yang memiliki dendam kesumat kepada Rasulullah saw dan kaum muslimin.
Akhirnya, Utbah tewas di peperangan Badar. Mayatnya dilempar ke dalam sumur tua bersama mayat-mayat orang musyrik lainnya. Putra Utbah, Abu Hudzaifah, yang telah menjadi seorang muslim terlihat sedih ketika melihat ayahnya tewas dalam peperangan melawan kebenaran. Menyadari hal itu, Rasulullah saw yang sejak awal memerhatikan Abu Hudzaifah berkata, "Sepertinya, keadaan ayahmu telah mengusik hatimu."
Abu Hudzaifah mengelak, "Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah! Aku tidak ragu dengan keadaan ayahku dan kematiannya. Akan tetapi, aku tahu betul bahwa ayahku sebenarnya mempunyai pandangan, cita-cita, dan keutamaan yang sangat kuharapkan dapat ia persembahkan kepada Islam. Melihat apa yang menimpa ayahku, mati dalam keadaan kafir, sementara harapanku padanya masih menggebu, tentu saja aku bersedih karenanya," tutur Abu Hudzaifah.
Kemudian Rasulullah saw mendoakan yang baik-baik untuk Utbah dan menasihatkan kebaikan kepada putra Utbah tersebut.
AlfaOmega
May 10, 2012, 10:15
AL-FUDHAIL BIN IYADH: PERAMPOK JALANAN (http://kisahmuslim.com/perjalanan-fudhail-bin-iyadh/)
Dahulu, Fudhail bin Iyadh biasa merampok di jalan seorang diri. Suatu malam ia berniat untuk merampok. Benar, ia bertemu dengan satu kafilah yang pulang kemalaman. Di antara sesama pedagang dalam kafilah itu berkata, “Sebaiknya kita menginap di desa ini saja, karena di depan sana ada seorang perampok, orang biasa dipanggil Al-Fudhail.”
Seketika itu Fudhail mendengar pembicaraan mereka, maka gemetarlah ia. Lalu Fudhail berkata, “Wahai rombongan pedagang, aku inilah yang bernama Fudhail, silahkan Anda semua meneruskan perjalanan. Demi Allah, sejak saat ini aku berniat tidak akan lagi berbuat maksiat kepada Allah.” Lalu Fudhail kembali ke rumah urung melaksanakan niat jahatnya.
Menurut riwayat lain, pada malam itu serombongan tamu bermalam di rumah Fudhail. Sementara Fudhail berkata, “Sekarang kalian aman dari gangguan Fudhail.” Bahkan malam itu Fudhail berkali kali menemui mereka menghidangkan makanan. Tiba-tiba Fudhail mendengar seseorang membaca ayat,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)
Fudhail menjawab, “Benar, telah tiba waktunya.” Semenjak itulah dia bertaubat.
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan: 5 Shafar 1430/2009.
AlfaOmega
August 23, 2012, 11:32
Kematian Tragis Majikan Zalim (http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/kematian-tragis-majikan-zalim.html)
Bukhari dan Abu Daud menulis kisah Khabbab bin Arat r.a. Dia adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang memeluk Islam pada awal penyebarannya. Dia juga seorang hamba sahaya dari seorang perempuan zalim bernama Ummu Anmar Al-Khuza'iyyah.
Khabab sering mengunjungi Rasulullah saw untuk menuntut ilmu agama. Akan tetapi, malang baginya, berbagai macam penderitaan dan siksaan ia terima dari majikannya setelah diketahui sering mengunjungi Rasulullah saw.
Khabab sering dijemur di atas pasir panas di bawah teriknya matahari dengan mengenakan pakaian besi. Bukan hanya itu, ia pernah diletakkan di tempat pemanggangan hingga punggungnya terbakar dan luka itu terus membekas di punggungnya.
Tidak tahan dengan siksaan keji itu, Khabbab r.a mengadu kepada Rasulullah saw dengan harapan beliau mau menolongnya. Khabab berkata kepada Rasulullah saw yang sedang berselimutkan kain beludru di bawah Kakbah, "Tidakkan Anda menolong kami dan berdoa untuk kami?"
Rasulullah saw menatapnya sambil berkata, "Demi Allah, umat-umat sebelum ini menahan siksa yang lebih berat daripada siksaan yang telah kau alami. Mereka pernah dibuatkan lubang, kemudian disekap di dalamnya. Setelah itu, seseorang mendatanginya dengan membawa gergaji, meletakkan di kepalanya, lalu dengan sergaji itu membelah kepalanya menjadi dua.
Namun, semua itu tak pernah membuatnya berniat untuk meningsalkan agamanya. Seorang dari mereka ada yang pernah disisir kulitnya dengan sisir besi hingga dagingnya terkelupas dari tulang dan jaringan sarafnya. Akan tetapi, hal itu tidak membuatnya berpikir untuk meninggalkan agamanya.
Allah akan menyempurnakan agama ini, tetapi engkau tidak bersabar. Suatu hari, kelak akan tiba saatnya perempuan zalim itu (majikan Khabbab) akan berjalan sendiri dari San'a ke Hadramaut tanpa takut apa pun selain binatang buas. Namun, mengapa engkau tidak sabar?"
Ternyata Rasulullah saw telah mengetahui azab yang akan Allah SWT timpakan terhadap majikan zalim tersebut dengan mengabarkan bahwa majikan zalim itu akan mati diterkam binatang buas. Khabab r.a memberikan kesaksiannya, "Demi Allah, apa yang dikabarkan oleh Rasulullah saw benar! Aku melihatnya sendiri!"
Kebenaran pernyataan Rasulullah saw tentang azab yang akan menimpa majikan yang zalim benar adanya. Bukti kebenaran itu disaksikan oleh Khabab, budak milik majikan zalim, secara langsung. Dia melihat majikannya mati diterkam binatang buas sesuai dengan apa yang dikatakan Rasulullah saw.
AlfaOmega
October 25, 2012, 15:25
Kisah Umair bin Wahab (http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/kisah-umair-bin-wahab.html)
Kamis, 08 April 2010
Label: Bukti kebenaran ucapan Rasulullah
Perang Badar dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Rasa syukur pun selalu mereka panjatkan ke hadirat Allah SWT. Sebaliknya, kekalahan yang diterima kaum musyrikin Quraisy benar-benar membuat mereka makin geram.
Umair bin Wahab dan Shafwan bin Umayyah mengungkapkan kekesalan mereka atas kemenangan umat Islam. Umair berkata kepada Shafwan, "Ah, seandainya aku tidak sedang dililit utang dan keluargaku bisa kutinggalkan saat kesulitan sekarang, aku akan mencari Muhammad dan membunuhnya!"
Mendengar perkataan Umair tersebut, Shafwan menyambut ide Umair dan berkata, "Baiklah, jika kau berhasil membunuh Muhammad dan menyiksanya dengan keji, aku berjanji akan memberimu 100 ekor unta. Dengannya kamu bisa melunasi semua utang keluargamu, begitu pula keluargamu akan aku jadikan bagian dari keluargaku!"
Tawaran yang menggiurkan. Tanpa pikir panjang, Umair langsung menerima tawaran Shafwan dengan senang hati.
"Tapi ingat! Ini adalah rahasia kita berdua. Jangan sampai kauceritakan kepada yang lain!" pesan Shafwan kepada Umair.
Umair pun segera berangkat ke Medinah untuk melaksanakan rencana kejinya tersebut. Akan tetapi, malang baginya, di tengah perjalanan ia bertemu Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah saw yang sangat ditakuti kaum Quraisy karena keberanian dan pukulannya yang menyakitkan. Rasa takut menyergap Umair, apalagi ketika Umar menggiringnya untuk menghadap Rasulullah saw.
Interogasi terhadap Umair atas maksud kedatangannya ke Medinah dimulai di hadapan Rasulullah saw. Beliau bertanya, "Apa maksud kedatanganmu ke sini?"
Umair tidak mungkin menjawab dengan jujur niatnya untuk membunuh pemimpin umat Islam itu sendiri. Ia berkilah, "Sungguh kedatanganku ke sini untuk menebus putraku yang telah kalian tawan."
Rasulullah saw sebenarnya sudah mengetahui bahwa Umair berbohong. Beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT. Berkali-kali beliau bertanya kepada Umair, berkali-kali pula ia terus berbohong.
Akhirnya, Rasulullah saw mengakhiri kebohongan Umair dengan berkata, "Aku tahu engkau telah bersekongkol dengan Shafwan untuk membunuhku. Dengan melakukannya, Shafwan akan memberikanmu 100 ekor unta untuk melunasi seluruh utang keluargamu dan menjadikan keluargamu bagian dari keluarganya!"
Umair tersentak kaget mengetahui Rasulullah saw bisa membongkar niat busuknya. Dia sangat heran, "Benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Rasulullah bisa mengetahui rencana busukku, padahal tidak ada orang lain yang mendengarkan, hanya aku dan Shafwan. Lagi pula percakapan itu terjadi di Mekah, jauh dari Medinah tempat Rasulullah saw berada?"
Kebenaran berita yang disampaikan Rasulullah saw membuat Umair yakin bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ketundukannya pada Islam. Rasulullah saw menyambutnya dengan baik.
Tidak ada prasangka atau dendam sama sekali kepada Umair. Bahkan, beliau menyuruh para sahabat untuk mengajari Al-lslam kepada Umair, sampai ia memahaminya dengan baik. Ditambah lagi, semua tawanan yang diminta oleh Umair, beliau bebaskan tanpa keberatan sama sekali.
Waktu pun berlalu. Saat dirasa ilmu yang dimiliki Umair sudah cukup, Rasulullah saw mengizinkannya untuk kembali ke Mekah. Di sana ia menyiarkan Islam dan hasilnya hampir seluruh masyarakat Mekah masuk Islam berkat dakwahnya.
AlfaOmega
November 13, 2012, 03:06
Zulkarnain, Penguasa Timur dan Barat (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/12/mddleh-zulkarnain-penguasa-timur-dan-barat-1)
REPUBLIKA.CO.ID, Kisah penguasa pemberani ini mengemuka ketika kaum musyrikin Makkah meminta bantuan Yahudi Khaibar untuk mencari kelemahan Nabi Muhammad.
Yahudi Khaibar kemudian mengirim Nard dan Uqbah Ibn Abu Muit kepada rabi Yahudi di Madinah. Untuk membuktikan kenabian, rabi itu mengajukan tiga pertanyaan kepada Muhammad.
Pertanyaan tersebut adalah tentang beberapa anak muda di zaman dahulu yang ceritanya amat pelik dan menakjubkan, tentang seorang lelaki pengembara hebat yang telah sampai ke timur dan barat, dan sebuah pertanyaan tentang roh.
Nabi meminta waktu untuk menjawab pertanyaan mereka. Saat itulah, Allah menurunkan wahyu melalui surah al-Kahfi ayat 83 hingga 98. “Dan mereka bertanya kepadamu mengenai Zulkarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepada kamu sedikit tentang perihalnya’.”
Ibnu Jarir ath-Thabari mengisahkan dalam kitab tafsirnya bahwa Zulkarnain adalah seorang laki-laki Romawi, anak tunggal dari orang paling miskin di kotanya.
Namun, dalam pergaulan sehari-hari ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.
Hal ini juga dikisahkan Imam al-Qurtubi. Dia menceritakan bahwa sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Zulkarnain berakhlak mulia dan menjadi hamba yang saleh sehingga Allah telah memberikannya kekuasaan untuk memerintah di bumi.
“Wahai Zulkarnain, sesungguhnya Aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada di segala penjuru bumi, terbagi dalam beberapa golongan.”
AlfaOmega
November 13, 2012, 03:08
REPUBLIKA.CO.ID, Zulkarnain menjadi raja yang wilayah kekuasaannya membentang luas, menyatukan Dunia Barat dan Timur.
Dia melakukan banyak penjelajahan ke berbagai penjuru Bumi dan Allah memberinya hak untuk menghukum kaum yang ingkar terhadap Allah di setiap tempat yang dikunjunginya.
Dia juga membangun sebuah dinding pemisah yang sangat tinggi terbuat dari besi dan tembaga. Dinding itu dibangun di sebuah lembah atas permintaan sebuah kaum untuk menghindarkan diri dari kejahatan kaum Ya’juj dan Ma’juj atau Gog Magog.
Zulkarnain menolak bayaran yang ditawarkan kaum tertindas tersebut. “Kekuasaan dan kekayaan yang Tuhanku jadikan aku menguasainya, lebih baik dari bayaran kamu. Oleh karena itu, bantulah aku dengan tenaga kamu beramai-ramai, aku akan bangun antara kamu dan mereka sebuah tembok penutup yang kukuh.”
Selain bantuan tenaga, Zulkarnain juga meminta kaum tersebut membawa besi dan tembaga sebagai bahan baku pembuatan tembok tersebut. “Tiuplah dengan alat-alat kamu sehingga apabila ia merah menyala seperti api, bawalah tembaga cair supaya aku tuangkan atasnya,” ujarnya.
Namun, Zulkarnain mengingatkan bahwa tembok itu hanya bersifat sementara. Suatu saat kaum Ya’juj dan Ma’juj bakal mampu melewatinya ketika tembok itu runtuh.
“Ini ialah suatu rahmat dari Tuhanku. Apabila sampai janji Tuhanku, Dia akan menjadikan tembok itu hancur lebur dan adalah janji Tuhanku itu benar,” kata Zulkarnain.
Hingga kini, belum ada temuan arkeologis yang menunjukkan di mana tepatnya lokasi tembok itu dibangun. Namun, beberapa mufasir kontemporer berpendapat lokasi tembok itu berada di Ngarai Daria yang terletak di perbatasan Rusia dan Georgia.
2 (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/12/mddp4j-zulkarnain-penguasa-timur-dan-barat-2)
AlfaOmega
November 13, 2012, 03:11
Antara Zulkarnain dan Aleksander Agung
Banyak orang yang mengira bahwa Zulkarnain dan Aleksander Agung adalah sosok yang sama. Karena itulah bisa muncul nama Iskandar di depan nama Zulkarnain.
Mereka berdua sama-sama dikisahkan memiliki kekuasaan yang membentang dari barat ke timur. Aleksander dari Makedonia berhasil menguasai wilayah Mesir, Persia, sampai India.
Namun, sejumlah sejarawan menolak pendapat tersebut. Para ahli tafsir Alquran menyatakan, Aleksander yang hidup pada abad ketiga SM itu tidak diberitakan pernah membangun dinding besar.
Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir Alquran, Ibnu Katsir, dalam kitabnya “Al-Bidayah wan Nihayah”, juga menjelaskan, kedua orang itu adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2.000 tahun.
Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan bahwa nama Zulkarnain dalam Alquran merupakan sebuah gelar, bukan nama orang yang artinya ‘yang mempunyai dua tanduk’. Tanduk dalam hal ini adalah kekuasaan, bukan tanduk dalam arti fisik.
Sementara, nama Aleksander adalah nama yang disandang sejak lahir oleh raja Makedonia itu. Sifat mereka pun berbeda.
Zulkarnain dikenal sebagai raja saleh yang selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Ia diberi kewenangan oleh Tuhan untuk menghukum raja dari negeri yang dikunjunginya atau malah memberikan jabatan tertentu kepadanya. Sedangkan, Aleksander Agung adalah seorang politeis, penyembah dewa-dewi.
Bila Zulkarnain dikenal sebagai tokoh berwatak tegas, Aleksander dikisahkan sebagai pribadi yang lebih banyak dipengaruhi oleh ibunya. Sosok Aleksander juga digambarkan sebagai biseksual.
Aleksander diisukan menyukai teman laki-lakinya yang bernama Hepasthion. Ia wafat tak lama sesudah teman tercintanya itu meninggal karena sakit sepulang dari India.
3 (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/12/mddqiv-zulkarnain-penguasa-timur-dan-barat-3habis)
AlfaOmega
November 17, 2012, 04:53
Ashabul Ukhdud dan Kaum Beriman (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/15/mdj1bh-ashabul-ukhdud-dan-kaum-beriman-1)
REPUBLIKA.CO.ID, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut: 2).
Dari petikan ayat tersebut kita bisa tahu bahwa Allah akan senantiasa menguji keataatan umatnya, sejauhmana seorang manusia mampu mempertahankan keimanannya.
Sebagaimana dalam kisah Ashabul Ukhdud (para pembuat parit) yang terekam dalam Alquran surah al-Buruj.
Kisah ini terjadi pada kaum Bani Israil sepeninggal Nabi Musa, ketika kaum keturunan Nabi Ya’kub ibn Ishak itu masih me upakan umat yang hidup di bawah bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
Pada masa itu tersebutlah seorang raja. Dia memiliki seorang tukang sihir yang telah sangat tua. Suatu hari tukang sihir itu mengungkapkan nazarnya kepada raja. “Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir,” ujarnya.
Raja pun lantas mencarikan seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir. Seorang pemuda kemudian dipilih dan diminta datang ke istana untuk menemui tukang sihir.
Dalam perjalanan, sang pemuda singgah di tempat seorang rahib (ahli ibadah) yang sedang menggelar sebuah majelis. Dia lalu duduk dan mendengarkan ceramah yang disampaikan sang rahib yang membuatnya begitu tertarik.
Gara-gara mampir di majelis agama itu, si pemuda terlambat sampai ke tempat tukang sihir dan dia dipukuli. Celakanya, bila ia terlambat kembali ke rumahnya dia juga akan dipukuli oleh keluarganya.
Maka, ia mengadu tentang kejadian itu kepada rahib tersebut. “Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya, ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka, ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu,’” saran sang rahib.
REPUBLIKA.CO.ID (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/15/mdj24x-ashabul-ukhdud-dan-kaum-beriman-2), Keyakinannya terhadap tauhid membuat doa-doa pemuda tersebut mudah dikabulkan oleh Allah.
Suatu hari, ketika si pemuda berangkat untuk belajar ilmu sihir, mendadak di tengah jalan ada seekor binatang buas.
Binatang tersebut membuat orang-orang tidak berani untuk melintasi jalanan tersebut.
Maka, pemuda itu berkata. “Sekarang aku akan mengetahui yang mana yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran sang rahib atau ajaran ahli sihir,” ujarnya.
Dia lalu mengambil sebuah batu dan berdoa, “Ya Allah, jika ajaran rahib itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini.”
Batu itu kemudian dilemparkannya kepada binatang tersebut dan langsung membuatnya terbunuh.
Kemudian, pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan kejadian yang barusan dialaminya. Si rahib berkata kepadanya. “Hari ini engkau lebih utama daripadaku. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cobaan maka apabila engkau ditimpa satu cobaan, janganlah engkau menunjuk diriku.”
Keyakinannya terhadap tauhid membuat doa-doa pe muda tersebut mudah di ka bul kan oleh Allah. Si pemuda pun menggunakan kemuliaan tersebut untuk membantu orang lain. Dia mengobati ber macam-macam penyakit, bahkan mampu membuat orang buta kembali melihat.
Berita itu pun sampai ke telinga teman sang raja yang buta sejak lahir. Dia pun menemui si pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah.
Namun, si pemuda berkata dengan sangat rendah hati. “Sebetulnya, saya tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Tapi, yang menyembuhkan itu adalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, saya akan doakan engkau kepada Allah, tentu Dia sembuhkan engkau,” ujarnya.
REPUBLIKA (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/15/mdj2gl-ashabul-ukhdud-dan-kaum-beriman-3).CO.ID, Mendengar hal tersebut, laki-laki itu pun beriman kepada Allah.
Tak berapa lama berselang, laki-laki itu pun menemui sang raja. Raja terkejut melihat temannya bisa melihat. “Siapa yang sudah mengembalikan matamu?” tanyanya.
Dia pun menjawab, “Rabbku,” katanya singkat.
Raja pun berang. “Apa kamu punya tuhan selain aku?”
Laki-laki itu lalu kembali menjawab tanpa keraguan sedikit pun. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.”
Raja yang merasa terhina lalu memerintahkan pengawalnya untuk menangkap temannya itu dan menyiksanya. Sampai laki-laki itu menceritakan keberadaan si pemuda yang telah membantu mendapatkan kembali penglihatannya.
Si pemuda kemudian ditangkap dan dihadapkan ke depan raja. “Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu,” ujarnya.
Pemuda itu berkata, “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Tapi, yang menyembuhkan itu adalah Allah.”
Sang raja lalu menyiksanya sampai si pemuda menunjukkan tentang rahib yang mengajarkan tauhid.
Rahib pun ditangkap. Raja memerintahkannya agar keluar dari keyakinannya selama ini. Namun, rahib menolaknya. Raja itu lalu menyuruh pengawalnya untuk membawakan sebuah gergaji untuk membelah kepala sang rahib.
Sang raja lalu menyeret temannya dan memaksanya pula untuk murtad. Dia pun menolak dan mendapatkan takdir yang sama dengan si rahib.
AlfaOmega
November 17, 2012, 04:57
Ujian Bagi Sang Pemuda (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/15/mdj2iv-ashabul-ukhdud-dan-kaum-beriman-4)
Sang raja juga mengajukan permintaan yang sama kepada si pemuda. “Keluarlah kamu dari keyakinanmu,” pintanya.
Untuk ketiga kalinya, sang raja mendapatkan penolakan. Akhirnya raja itu memanggil para prajuritnya.
“Bawa dia ke gunung dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman bawa pulang. Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas,” perintahnya.
Mereka pun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemuda pun berdoa, “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”
Seketika gunung itu bergetar dan para prajurit itu pun terpelanting jatuh. Kemudian pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja.
Melihat hal tersebut, Raja pun terperangah. “Apa yang dilakukan para pengawalku itu?”
Si pemuda berkata, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Raja pun menyerahkan si pemuda kepada anak buahnya dan menyuruh mereka untuk pergi ke tengah laut dengan perahu. Seperti perintah pertama, bila pemuda itu tetap kukuh dengan keyakinannya, dia harus dilempar ke laut.
Di tengah pelayaran, si pemuda berdoa lagi. Perahu itu pun karam dan orang-orang suruhan raja tenggelam. Sedangkan, si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja kembali merasa bingung, bagaimana si pemuda tersebut dapat terhindar dari hukuman. Lalu si pemuda berkata kepada raja. “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.”
Pemuda itu menyuruh raja untuk mengumpulkan penduduk di satu tempat. Kemudian raja diminta menyalibnya di sebatang pohon. Setelah pemuda itu disalib, raja diminta mengambil sebatang anak panah dari kantong panah milik pemuda.
“Ucapkanlah ‘Bismillah Rabbil ghulam’ dan tembaklah aku dengan panah itu, niscaya engkau akan dapat membunuhku,” kata sang pemuda.
REPUBLIKA.CO.ID (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/15/mdj2le-ashabul-ukhdud-dan-kaum-beriman-5habis), Raja lalu mengumpulkan seluruh penduduk di satu tempat dan menyalib si pemuda. Sang raja lalu melakukan hal persis yang diperintahkan si pemuda.
Dan, ketika sang raja melepaskan panahnya dan mengenai pelipis si pemuda, darah mengucur dan ia tewas seketika. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata, “Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Demi melihat kejadian itu, raja itu pun didatangi pengikutnya. “Apakah Anda sudah melihat apa yang Anda khawatirkan sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman kepada Allah,” ujarnya.
Sang raja lalu memerintahkan agar penduduk menggali parit besar dan menyalakan api di dalamnya. “Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu!” perintah raja.
Satu per satu penduduk menceburkan diri ke dalam parit berapi untuk membuktikan keimanannya. Hingga diseretlah seorang perempuan yang menggendong bayi. Perempuan itu mundur melihat api yang menyala-nyala, khawatir dengan bayinya.
Seperti diceritakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan an-Nasa’i, tiba-tiba berkatalah sang bayi, “Wahai ibunda, bersabarlah karena sesungguhnya engkau di atas al-haq.”
Allah menceritakan kisah penduduk yang beriman itu dalam surah al-Buruj. “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit (ashabul ukhdud). Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman...”
AlfaOmega
November 20, 2012, 02:27
Kisah Penggembala Domba (http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/kisah-penggembala-domba.html)
Rabu, 07 April 2010 Label: Jujur dalam perniagaan dan pekerjaan
Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a mendengar ada seorang penggembala cilik yang jujur. Beliau pun tertarik untuk membuktikan kejujuran anak itu.
Suatu hari Amirul Mukminin menjumpainya ketika penggembala tersebut sedang menggiring domba-dombanya. Umar segera menegurnya, "Hai anak kecil! Kamu menggembalakan dombamu dengan sangat baik. Aku ingin membeli sebagian dari domba-dombamu yang sehat ini dengan harga dua kali lipat!"
Sang anak tidak mengetahui bahwa yang menegurnya itu adalah Amirul Mukminin karena pakaiannya sangat sederhana dan merakyat. Ia menjawab, "Maaf, Tuan, domba-domba ini bukan milikku! Aku tidak bisa menjualnya!"
Ternyata anak itu tidak tergiur dengan tingginya harga yang Umar tawarkan. Umar kembali membujuk, "Ia tidak akan tahu jika beberapa dombanya aku beli karena domba-domba peliharaannya begitu banyak!"
Dengan sifat kejujurannya itu, si penggembala cilik tidak bergeming. Ia berkata, "Tidak, ia akan tahu jika domba yang ia titipkan padaku berkurang jumlahnya!"
Umar tidak putus asa untuk menawarkan ide lain, "Katakan saja kepada majikanmu bahwa dombanya dimakan serigala!"
Sang penggembala cilik terdiam. Umar merasa bahwa kali ini ia berhasil meruntuhkan kejujuran sang penggembala cilik. Tiba-tiba anak itu berkata, "Mungkin majikanku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada domba-dombanya. Akan tetapi, Allah Maha tahu!" jawab penggembala cilik singkat.
Subhanallah, Umar begitu terharu melihat kejujuran seorang anak kecil penggembala domba tersebut. Amirul Mukminin segera menemui majikan anak itu dan membayar sejumlah uang untuk membebaskan penggembala jujur itu dari perbudakannya. Sang Amirul Mukminin pun melepasnya sebagai seorang hamba Allah yang merdeka.
vBulletin® v3.8.2, Copyright ©2000-2013, Jelsoft Enterprises Ltd.